Trapped in Love with Game 8 / END

[PART 8] Trapped in Love with Game

 

Author                  : arsvio

Main cast             : Lee AdeLynn, Cho Kyuhyun

Genre                   : Romance, family, friendship

Length                  : Sequel

Rating                   : PG-13

Support cast       : member Super Junior

 

“Aku berikan waktu 48 jam untuk menyelesaikan kekacauan yang kau buat,” Seung Hyun menarik nafasnya dengan berat, mencoba menekan emosinya. “Kali ini kau sudah sangat melampaui batas Joon,”.

Joon mengusap setitik darah di sudut bibirnya akibat pukulan Seung Hyun. Menyeringai tipis untuk menanggapi ultimatum dari sahabatnya tersebut. “Kalau aku tidak bersedia, apa yang akan kau lakukan Hyung?”.

“Kau masih bersikeras Joon? Tidak cukupkah bermain-main?”. Lagi-lagi, Seung Hyun mengangkat sebelah alisnya, menjadikan wajah kharismatiknya terlihat sempurna. Dia menekuk lututnya untuk menatap Joon yang masih terduduk di lantai.

“Cish, kau tahu persis bagaimana aku, Hyung,” Joon membalas tatapan Seung Hyun tanpa sedikit pun rasa canggung.

“Tidak akan menyerah sebelum mendapat yang kau inginkan, begitu jugakah kali ini Joon?”. Nampak gurat kecewa di wajah Seung Hyun. Pria ini sudah hafal benar karakter Joon yang pantang menyerah untuk mendapatkan sesuatu.

“Lalu, kenapa kau ingin aku berhenti?”.

“Masih menanyakan pertanyaan bodoh? Apa kau tidak merasa telah merugikan banyak pihak?”.

“Mereka yang rugi, bukan aku,” Joon memalingkan pandangannya ke arah lain.

“Aku tahu benar apa yang kau inginkan Joon. Gadis itu, bahkan menanggung semua perbuatanmunya,”.

“Itulah tujuanku, Hyung,” geram Joon. “Jangan campuri urusanku ini. Setelah semua tercapai, aku pastikan Game House akan mencapai kestabilan lagi,”.

“Jangan main-main,” Seung Hyun kehilangan kesabarannya. Dia sudah mencengkeram kerah kaus Joon kembali. Memberikan tatapan mengintimidasi pada pria tersebut.

Joon melepaskan dengan paksa cengkeraman tersebut. “Aku tidak pernah main-main untuk mendapatkan apa yang ku inginkan, Hyung,”.

“Kutegaskan lagi, aku berikan waktu 48 jam. Jika kau menyelesaikannya sebelum itu, kuanggap kasus ini selesai. Jika tidak, terpaksa kugunakan jalur hukum untuk menghentikanmu,”. Seung Hyun menunpukan tangannya pada lutut untuk berdiri. Dia mendesah pelan kemudian menepuk kepala Joon pelan. Menyalurkan kasihnya pada sahabatnya. Menganggap bahwa kemarahannya merupakan rasa peduli seorang kakak pada adiknya.

“Di dunia ini, ada sesuatu yang tidak dapat kita jangkau. Matamu akan selalu terpejam karna silau akan sinarnya. Namun, ketika kau merelakannya, maka matamu akan terbuka dari silaunya. Dan ketika itu terjadi, kau akan menemukan sesuatu yang lebih indah,” ucap Seung Hyun sebelum dia beranjak dari apartemen Joon.

_@Arsvio_

Lynn mengusap kembali pipinya yang tanpa sadar telah basah oleh air matanya. Dia meletakkan sendoknya dan tak berminat untuk menyantap makan malamnya. Didongakkan kepalanya untuk menghalau air mata yang terus mendesak keluar. “Hah, why does it feel so pathetic?” keluhnya pada diri sendiri.

Lynn beranjak dari duduknya dan membawa makan malamnya yang masih utuh. Setelah membuang makanan tersebut ke tempat sampah, Lynn mencuci piringnya dengan kacau. Menekan dan menggosok piringnya dengan keras.

Sejenak kemudian Lynn memekik. “Arrghh,” dilepaskan piring tersebut di wastafel. Dia menutup kedua telinganya, seakan tidak ingin mendengar sedikit pun ucapan pilu yang masih terngiang di pikirannya. Tak peduli dengan sisa busa di tangannya yang mengotori telinganya.

Lynn memerosotkan tubuhnya hingga terduduk di lantai. Meringkuk dan menangis tersedu untuk mengurangi rasa perih di hatinya. Jikalaupun hal tersebut memang bisa mengurangi rasa kehilangannya.

_@Arsvio_

“Hentikan Kyunie,” Sungmin mencekal pergelangan tangan Kyuhyun untuk mencegahnya melempar dengan asal baju-bajunya ke koper. “Biarkan aku yang mempackingnya. Istirahatlah, kau terlihat kacau dari kemarin,” tawar Sungmin.

Kyuhyun menurut, kemudian menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Diangkat tangannya hingga menutup kening. Memejamkan mata, walaupun dia tahu benar dirinya tak akan jatuh tertidur.

Dua puluh menit kemudian, Sungmin telah selesai menata koper dongsaengnya tersebut. Perlahan, dia mendekat dan duduk di samping Kyuhyun. Diusapnya sekilas rambut Kyuhyun dan yakin bahwa dongsaeng kesayangannya tersebut belum tertidur. “Kau tahu bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi. Dan aku yakin benar, bahwa keputusan yang kau ambil telah kau pikirkan dengan matang. Jadi sekarang, mulailah belajar untuk menerima konsekuensi tersebut,”.

“Tapi mengapa terasa berat, Hyung?” ucap Kyuhyun dengan serak. Kerongkongannya terasa tercekat karena air mata yang ditahannya. “Rasanya seperti ada lubang besar di dadamu,” lanjutnya.

“Aku tahu, aku tahu,” Sungmin menepuk-nepuk pelan lengan atas Kyuhyun. Menyalurkan ketenangan dan kepercayaan bahwa semua masalah akan teratasi. “Istirahatlah, kita harus terbang ke Osaka besok jadi jangan membuat member lain khawatir dengan kondisimu,”.

_@Arsvio_

Joon terus menatapi Lynn yang sibuk berkutat dengan notebooknya. Gadis itu tidak banyak bicara seperti biasa dan berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya. Tapi, kali ini terasa berbeda. Tidak ada binar di pandangan Lynn. Tidak ada sorot penuh semangat di mata biru itu. Hanya sebuah tatapan sengit yang terus menghujam obyek di depannya.

“Kita hentikan dulu, break 30 menit,” ucap Joon pada stafnya yang disambut dengan kelegaan dari para karyawan. Kebanyakan dari mereka merenggangkan badannya kemudian beranjak untuk sekedar mencari soft drink dan sisanya segera menghambur entah kemana untuk sekedar merilekskan diri.

Masih bergeming di tempat duduknya, Joon memiringkan kepalanya untuk melihat Lynn yang bahkan tak terusik dengan kegaduhan kecil para karyawan tadi. Dia memundurkan kursinya dan berjalan mendekati tempat duduk Lynn.

“Kubilang kau boleh break selama 30 menit, Lynn”. Joon mendudukan sedikit tubuhnya pada meja, melipat tangannya di depan dada, untuk menunjukkan kuasanya. “Do you notice me, Lynn?” ulang Joon karena tak mendapat respon.

“I don’t need a break, Sanjangnim,” sahut Lynn datar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar notebooknya.

Joon menelisik wajah Lynn. “Tapi sepertinya kau membutuhkan istirahat. Kau terlihat letih,” nasihatnya setelah mendapati kantung mata di bawah mata Lynn. Tetap mengagumi wajah ayu yang terlihat sayu tersebut.

“It’s no need to worry, Sanjangnim,”.

“Istirahat atau ku paksa kau istirahat,” tegas Joon.

Lynn mengerutkan alisnya sembari memandang Joon. Namun, dia segera berdiri dari duduknya untuk mengakhiri perdebatan dengan atasannya tersebut. Baru beberapa langkah, gadis itu limbung. Dan dengan cekatan Joon meraih lengannya untuk menyangga Lynn agar tak terjatuh.

“Are you Ok?” kali ini Joon benar-benar khawatir karena melihat wajah Lynn yang memucat.

Lynn memijit keningnya pelan. “I’m Ok. Thank you, Joon-ssi,” Lynn melepaskan tangan Joon yang berada di lengannya. Meskipun kepalanya masih terasa pening, Lynn memilih menahannya dan meneruskan langkahnya.

Joon tidak bisa berbuat apa-apa karena gadis itu menolak bantuannya. Dia hanya bisa memandangi punggung Lynn yang berjalan keluar dari ruang meeting. “Apakah pengaruh dirinya begitu besar padamu, Lynn? Bahkan sekarang kau terlihat lebih tak bernyawa,” monolog Joon pada setelah Lynn keluar.

_@Arsvio_

Lynn memandang gadis yang sedang berberes dengan heran. Dia sengaja tidak menyapa sang gadis lebih dahulu. Waktu istirahat yang diperolehnya hanya digunakan untuk kembali ke ruangannya guna mengambil beberapa berkas. Tapi, dia malah mendapati gadis yang dituntutnya sedang mengemasi meja kerja.

“Kau berkemas, seolah itu tak akan dibutuhkan lagi, Eun Jung-ssi?” setelah berdiam cukup lama, Lynn akhirnya membuka suara.

Eun Jung menolehkan kepalanya dan sedikit terkejut dengan kehadiran Lynn. Seseorang yang mungkin untuk saat ini sedang dihindarinya. “Yeah, setidaknya hanya bersiap,” sahut Eun Jung tak acuh.

“Wanna have a coffee break?” tawar Lynn.

_@Arsvio_

Eun Jung menatapi cappuccino-nya yang masih mengepulkan asap tipis. Entah dari mana datangnya keberanian dirinya untuk menerima ajakan Lynn. Tapi mungkin dengan seperti ini mereka menjadi punya waktu untuk bercakap.

“Aku hanya penasaran dengan alasanmu melakukan rentetan terror itu. Menilik dari segala gadget yang kau gunakan, yang tak satu pun berlabel super junior, menandakan kau bukanlah seorang Elf. Lalu apa motifmu, Eun Jung-ssi?” Lynn membuka percakapan mereka. Mengakhiri atmosfir canggung yang tercipta.

Eun Jung menarik sudut kanan bibirnya, membuat sebuah seringaian. Walaupun sebenarnya dialah yang berada pada pihak yang salah, Eun Jung tetap menjaga harga dirinya agar tak jatuh di depan Lynn. “Apakah itu penting bagimu, Lynn-ssi,”. Dia mulai menyerutup cappuccino-nya.

Lynn mengangkat sebelah alisnya. “Benar, itu tidak penting bagiku. Kasus tetap bergulir karna tuntutan telah kuajukan. Hanya saja aku sedikit terkejut kenapa orang itu adalah kau,”.

“Lalu apa gunanya kita di sini? Apakah untuk memamerkan kemenanganmu?”. Eun Jung meletakkan cangkirnya dan menatap Lynn dengan geram.

“Kemenangan atas apa, Eun Jung-ssi?”.

Eun Jung tersenyum miris. “Karir yang gemilang, pacar superstar, dan bahkan hati atasanmu. Tidakkah itu pantas disebut sebagai kemenangan,”.

Giliran Lynn yang tersenyum miris. Senyum kepedihan miliknya. “Jadi kau pikir aku mendapatkan semua itu? Kau salah besar Eun Jung-ssi,”.

“Lalu?” heran Eun Jung.

“Aku kehilangan semua,” ucap Lynn yang disambut dengan tatapan menyelidik Eun Jung. “Jangan menatapku seolah aku perlu dikasihani, Eun Jung-ssi,”.

“Karena masalah berita yang menghebohkan itu? tentang hubunganmu dengan Cho Kyuhyun dan pemberhentianmu dari Game House?” tanya Eun Jung yang tak mampu lagi menahan rasa penasarannya.

“Ya, kurang lebih,” ujar Lynn. Tanpa mereka sadari sedikit demi sedikit, suasana mencair. Menciptakan sedikit kenyamanan untuk saling bertukar cerita.

“Berita itu tidak benar bukan?” kali ini Eun Jung benar-benar tidak bisa menekan rasa penasaran. Perkataan dan raut wajahnya mulai melunak.

“Menurutmu?”.

“Yah, walaupun aku tidak menyukaimu, tapi kuakui kau wanita cerdas. Tidak mungkin memanfaatkan sebuah hubungan untuk meraih profit. Itu trik klise,” Eun Jung mengangkat bahunya.

“Terima kasih karena menilaiku seperti itu,” Lynn mengulas senyumnya tulus.

“Lalu, yang sebenarnya?”.

“Bertahanlah dengan penilaian tersebut, setidaknya aku masih lega ada orang yang percaya profesionalitasku,” Lynn mengusap wajahnya. merasa sedikit letih karena semalam matanya tak mau terpejam hingga pukul 4 dini hari. “Apakah yang kau lalukan ini semua tentang Lee Joon-ssi?”.

Eun Jung sedikit tersentak, namun detik berikutnya dia malah tersenyum. “Kau bahkan bisa menebaknya dengan benar, lalu mengapa masih menanyaiku?”.

“Hanya ingin memastikan, Eun Jung-ssi. Dan tentang Joon-ssi, kami hanya sekedar rekan kerja, tidak lebih. Dan aku juga tidak berniat untuk menjadikannya lebih dari sekedar rekan kerja. Buatlah dia menyadari keberadaanmu, aku yakin kalian memiliki ikatan lebih,”.

Eun Jung menghela nafas panjang. “Bahkan kau yang tidak terlalu mengenalku mengetahui bahwa hatiku terikat padanya. Tapi, bahkan dia sendiri tidak bisa melihatnya,”.

“Karena aku juga perempuan, mudah untuk membaca arti pandanganmu padanya. Dan aku rasa, dia hanya membutuhkan kesempatan untuk melihatmu,”. Lynn mengecek arloji yang melingkar di tangan kirinya. “Waktu istirahatku akan berakhir sebentar lagi,”.

Lynn mengulurkan tangannya untuk menjabat Eun Jung. “Aku tak tahu apakah dengan obrolan ini hubungan kita bisa membaik, walaupun aku mengharapkan seperti itu. Untuk sekarang yang bisa kukatakan adalah bahwa aku tidak membencimu atas perbuatanmu. Aku pernah merasakan mencintai, jadi aku tahu kau melakukannya hanya demi dirinya,”.

Eun Jung menerima uluran tangan Lynn dengan tersenyum. “Aku juga berharap hubungan kita membaik. Meski aku tak tahu apa yang terjadi padamu tapi raut sedihmu itu jelas terlihat. Dan apapun yang terjadi, aku yakin setiap masalah memiliki lebih dari satu penyelesaian,” tiru Eun Jung atas perkataan Joon dulu.

Lynn berdiri sembari merapikan roknya. “Tentang tuntutanku, aku sudah mencabutnya. Tapi, kurasa kau akan tetap mendapat hukuman kerja sosial,”.

Eun Jung memamerkan senyum menawannya. “Terima kasih. Hukuman itu tak seberapa, aku memang pantas mendapatkannya,”.

_@Arsvio_

Kyuhyun menimang pita rambut pink di tangannya. Dipandanginya pita tersebut seolah suatu benda berharga. Ingatannya melayang pada gurauan kecilnya dengan Lynn. “Kalau sekarang aku memakai ini, apakah secara ajaib kau bisa berada di sini, Lynn? Berada diantara ribuan Elf untuk meneriakkan namaku, hum?” ujarnya pada diri sendiri.

Kyuhyun memejamkan matanya dan mengerutkan kening. Setitik air mata merembes dan membasahi bulu matanya. “Semua telah berakhir, dan akulah yang mengakhirinya,” lirih Kyuhyun. Sebuah tepukan halus membuat Kyuhyun membuka matanya.

“Ayo, sebentar lagi kita harus ke panggung,”. Donghae merangkul bahu dongsaengnya tersebut untuk memberi support. Sebagai kakak Lynn, awalnya dia sangat marah pada Kyuhyun atas keputusannya, namun melihat keduanya yang terluka, Donghae menjadi berpikir untuk kesekian kali. Sampai saat ini pun, Donghae belum menemukan alasan logis mengapa Kyuhyun mengakhiri hubungannya di saat Lynn terpuruk. Tetapi, melihat polah dongsaengnya yang desperate, ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan Kyuhyun.

Tangan Kyuhyun terangkat untuk menyematkan pita di rambut depannya. “Ya, aku harus bertahan,”. Kyuhyun bangkit dan berjalan mengikuti para hyungnya untuk perform SS4 selanjutnya.

_@Arsvio_

Joon terus menjaga jaraknya dengan seorang gadis yang berjalan di depannya. Ia tahu jika mendekat, gadis itu akan selalu menolak bantuannya. Nafas Joon tercekat ketika untukk ketiga kalinya tubuh sang gadis limbung.

Dia mengikuti sang gadis dan merenungkan semua yang diperbuatnya. Pengakuan Eun Jung, perkataan Seung Hyun, dan kondisi Lynn berkelebat bergilir di pikirannya. Joon merapatkan mantelnya tatkala angin dingin menerpa tubuhnya.

Melihat gadis yang disukainya berjalan tanpa arah dengan keadaan seperti itu, mau tak mau diakui membuat hatinya terluka. Terlebih lagi, sang gadis terlihat kacau gara-gara lelaki lain. Bahkan saat sudah terlepas dari lelaki itu, gadis itu terihat lebih buruk ketimbang menerima perlakuan tak mengenakkan dari para media dan fans mantan kekasihnya.

_@Arsvio_

Lynn menyumpal telinganya dengan earphone untuk mendengarkan deretan playlist favoritnya. Suara berat itu, tak akan pernah bisa tergeser dari benaknya. Langkahnya tak tentu menyusuri jalan setapak yang dinaungi pepohonan rindang di sepanjangnya.

Dia bahkan tak mempedulikan kepalanya yang terus berdenyut dan menjadikan langkahnya sedikit terhuyung. Memilih menahannya dan melanjutkan bernostalgia dengan memeluk kehangatan yang diberikan suara dari earphonenya. Dan entah untuk keberapa kali, air mata itu sudah meluncur.

Lynn menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak, bahkan sebenarnya apa yang dilakukan hanya menambah kadar rindunya pada pemilik suara. Tapi, dia tidak bisa untuk tidak mendengarkannya, karena itu juga akan menyesakkan. Laksana morfin, kau akan kesakitan jika tak menghisapnya, namun ketika kau menghisapnya kau hanya akan menambah rasa sakit itu.

Sungguh, semuanya bahkan tidak membaik setelah hubungan itu berakhir. Gadis ini tidak bisa mengembalikan kehidupannya seperti sebelum mengenal lelaki itu. Ada tembok yang menjulang tinggi saat dia berlari berbalik untuk menemukan rutinitasnya. Ketika dadanya sesak, detik berikutnya yang dia ingat sebelum kesadarannya hilang adalah sebuah tangan kokoh yang menahannya.

_@Arsvio_

“Ah, mian,” Donghae beringsut pergi untuk mengangkat telphonnya. Menghindari seseorang yang mungkin akan sedikit tak nyaman jika dia memaksakan mengangkat telephon tersebut di tempat.

Sepuluh menit kemudian, Donghae kembali dengan wajah gusarnya. Segera dia merapikan beberapa barangnya tanpa menghiraukan tatapan heran para member yang sedang berkumpul untuk merayakan kesuksesan SS4 di Jepang kemarin.

“Waeyo, Hae-ya?” celetuk Eun Hyuk yang tak tahan melihat pasangan duetnya terlihat cemas.

“Oh, mian. Aku harus pergi. Seseorang membutuhkanku,” Donghae berpamitan sekilas pada semua member yang bahkan belum sempat membuka mulut mereka untuk menanyakan kegelisahan Donghae. Dan, yah, Donghae sekali lagi mengimplisitkan nama seseorang tersebut untuk menjaga perasaan dongsaengnya.

Namun, ternyata sang dongsaeng bisa menebaknya, menjadikan alisnya mengkerut. Ingin rasanya dia mengejar hyungnya tersebut dan menawarkan untuk mengantarnya. Tapi, itu tidak mungkin. Dihempaskan punggungnya di sandaran kursi lalu mendesah kasar.

“Biar aku yang menyusulnya, Hyung,” Eun Hyuk menahan Leetuk yang ingin berdiri untuk menyusul Donghae.

_@Arsvio_

“Ah, jeongmal gomawoyo, Joon-ssi,” Donghae membungkukkan badannya sedikit pada lelaki yang telah menolong adiknya.

“Cheonman. Kurasa karena agashi sudah ada di sini, saya bisa tenang. Sampaikan salam saya untuk Lynn. Semoga dia cepat membaik,”.

“Saya pamit dulu,” Joon sekali lagi membungkuk hormat pada Donghae untuk berpamitan. Sebenarnya, dia ingin di sana dan memastikan keadaan Lynn, tapi ada urusan yang lebih crucial. Dia sudah memutuskan, dan kali ini, semoga keputusannya bisa menebus kesalahan yang telah dilakukan.

Donghae segera berbalik dan mendapati dokter tengah keluar dari kamar Lynn. Dia memang minta tolong pada Joon untuk membawa Lynn kembali ke apartemennya, dibanding membawanya ke rumah sakit. Apalagi alasannya kalau bukan karena tidak ingin media mengendusnya.

“Bagaimana keadaannya, dokter…,” Donghae menggantungkan ucapannya karena tak mengetahui nama sang dokter. Dahinya berkerut, kentara sekali sedang berpikir, mengingat sebuah nama yang pernah direkomendasikan padanya.

“Oh, Han Cheonsa-imida. Dokter Ahn sedang ada operasi sore ini, jadi dia melimpahkan tugas ini pada saya,” perkenalan singkat sang dokter. Menjelaskan bahwa dokter pribadi Donghae tidak bisa datang.

“Ah, ne,” Donghae menganggukkan kepalanya tatkala mengingat nama dokter muda kepercayaan dokter Ahn.

“Dia hanya kelelahan. Kondisinya memburuk karena depresi. Usahakan tetap menjaga kestabilan emosinya. Saya sekilas membaca catatan medisnya dari Dokter Ahn, saya rasa agashi juga tahu ketahanan tubuhnya. Akan saya tambahkan penenang di resep obatnya agar dia bisa istirahat,” ucap dokter Han.

“Gamsahammida, Dokter Han,” kata Donghae tatkala sang dokter mengangsurkan resep padanya. Sejenak Donghae terpesona dengan wajah ayu sang dokter. Kesan anggun dan cerdas berpadu di diri seorang Han Cheonsa. Gambaran diri wanita itu persis seperti namanya, laksana bidadari.

“Biar saya antar, Dokter,” Eun Hyuk tiba-tiba sudah menyela ketika pembicaraan telah berakhir. Tentu saja, dengan senang hati dia mengantarkan dokter cantik itu. Tidak peduli dengan tatapan jangan-macam-macam yang diberikan Donghae padanya.

_@Arsvio_

“Kyu, apakah kau sudah melihat ini?” tanya Sungmin setengah berteriak dari ruang makan. Disapuran jemarinya untuk men-swap touch screen ponselnya. Wajahnya menatap serius pada konten di layarnya.

“Kenapa sepagi ini sudah berteriak, Hyung?” Kyuhyun berjalan mendekati meja makan dorm mereka. Masih lengkap dengan piyama dan wajah bangun paginya.

“Pihak SM bersedia mengklarifikasi tentang gossip miringmu, lihat ini,” Sungmin memberikan ponselnya disambut dengan mata Kyuhyun yang langsung terbuka lebar. Dibacanya berita tersebut dengan sangat antusias.

“Baguslah, kau bisa tenang sekarang. Semoga keadaan berangsur membaik dengan awal ini,” Sungmin tersenyum dan menepuk bahu Kyuhyun pelan.

“Lalu, apakah ini bisa mengembalikan semua yang hilang, Hyung?” Kyuhyun meletakkan ponsel tersebut tanpa minat. Dia tersenyum miris antara bahagia dan sedih. Bahagia karena akhirnya masalah yang menimpa Lynn berakhir. Dan bersedih karena pada kenyataannya, itu tidak bisa mengembalikan Lynn ke sisinya.

“Maksudmu?”.

“Aku bersyukur masalah yang menimpanya telah tuntas. Tapi, aku ragu kami bisa mulai dari awal lagi,”. Kyuhyun menyeret langkahnya menjauh dari hyungnya tersebut. Menghindari interogasi Sungmin.

“Kyunie,” lirih Sungmin yang tak mengerti jalan pikiran dongsaengnya tersebut. Kyuhyun memang tidak pernah bercerita tentang alasan dia memutuskan hubungannya pada Sungmin atau siapa pun. Cukuplah dia sendiri yang menanggung semua perih tersebut, seperti yang Lynn lakukan dulu untuk melindunginya.

_@Arsvio_

Kelegaan terpancar dari wajah Seung Hyun. “Kau hebat, Joon,” ucapnya sembari memberikan tinju ringannya di dada Joon. “Aku rasa kau sudah belajar dengan baik,”.

Joon menghela nafasnya. “Yeah, kau benar Hyung. Gomapta,”.

“Tentang posisi Adelynn di Game House, serahkan saja padaku. Aku sudah mengaturnya,” ujar Seung Hyun karena melihat raut Joon yang penuh tanya.

“Sekali lagi gomawo, Hyung,”.

_@Arsvio_

Kyuhyun duduk sembari memainkan kaleng sodanya yang telah kosong. “Jadi, setelah semua kekacauan yang kau buat, inilah cara menebusmu?” Kyuhyun memandang sengit lawan bicaranya. “Tahukah kau, dia menderita karena ulahmu?” dia meninggikan nada bicaranya.

“Ya, aku tahu. Aku akui kebodohanku. Aku terlalu terobsesi untuk memilikinya,” pandangan Joon menerawang ke depan. Mengingat semua yang telah ia lakukan demi mendapatkan gadis idamannya. Joon berdeham mengurangi rasa enggannya untuk mengucapkan sesuatu. “Adelynn, dia mencintaimu. Jadi sekarang, setelah semua berangsur membaik, kau bisa kembali padanya,”.

“Apakah semudah itu bicara, Joon-ssi?” seringaian terbentuk di wajah Kyuhyun.

Joon mengerutkan alisnya, tanda tak mengerti. “Apa maksudmu?”.

“Semua sudah berakhir dan berubah. Kurasa karena apa yang kami alami, sekarang aku tahu, bahwa kami memang tidak bisa bersama,”.

“Kau ini bodoh atau apa?” sentak Joon yang kecewa dengan jawaban Kyuhyun. Dengan berat hati, Joon melepaskan gadis pujaannya, berharap lelaki yang dicintai sang gadis bisa memberikan kebahagiaan yang tak bisa diberikannya. Tapi, jawaban Kyuhyun benar-benar di luar nalarnya.

Joon sudah memperbaiki segala pemberitaan buruk mengenai Adelynn. Walaupun, dengan cara yang sama ketika dia menghack homepage SM-Ent. Tapi, itulah Joon, dia punya caranya sendiri untuk menghentikan tidakan cerobohnya.

“Kau pikir aku tak tahu ulah fansku,” Kyuhyun tak kalah untuk meninggikan nada bicaranya. “Kalaupun aku menyandingnya kembali, akan selalu ada yang mengusik kehidupannya. Mengganggunya dengan skandal-skandal yang media ciptakan. Menjebaknya kembali dengan gossip-gosip murahan,” Kyuhyun tersengal setelah berteriak mengutarakan hatinya.

“Jadi, apakah aku harus egois untuk memilikinya kembali?” lirihnya syarat dengan nada pilu.

Joon berdiri dari duduknya dan menghadap Kyuhyun. “Lalu apakah jika kau tak menyandingnya kembali, menjadi jaminan dia hidup tenang? Pikirkan kembali keputusanmu, Kyuhyun-ssi,” Joon berlalu setelah mengucapkan kata tersebut. Hanya inilah batas dia bisa membantu, selanjutnya semua tergantung pada keputusan Kyuhyun.

_@Arsvio_

Senyum indah terukir di wajah sumringah gadis yang tengah membantu para anak kecil menyeberang jalan. Diangkatnya bendera sebagai tanda pejalan kaki agar menyeberang. “Silakan,” teriaknya.

Gadis tersebut mendongakkan kepalanya menatap birunya langit dengan gumpalan awan-awan putih. Kembali tersenyum dan menghirup nafas panjang untuk memanjakan paru-parunya pada segarnya udara pagi.

Ketika dia mengangkat benderanya kembali, seseorang telah merebut bendera tersebut. Menjadikan gadis itu menoleh cepat dengan heran, karena seseorang tersebut menahan benderanya agar tegak. Membantunya untuk menyeberangkan para pejalan kaki.

“Joon-ssi?” heran sang gadis. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya.

Joon menoleh pada sang gadis, tersenyum, dan mengerlingkan matanya. “Memulai ceritaku, bersama seorang gadis manis yang tulus padaku,”.

“Ne?” Eun Jung, gadis yang dimaksud, hanya bisa melebarkan matanya.

_@Arsvio_

“Oppa, bisakah aku menunggu di sini saja,” Lynn menahan tangan Donghae saat mereka di depan pintu dorm Suju. “Aku-,”.

Donghae tersenyum, memahami kegelisahan Lynn. “Baiklah, tunggu sebentar. Aku hanya mengambil beberapa barang, Ok?” ucap Donghae yang dijawab dengan anggukan kepala Lynn. Mengingat cuaca yang lumayan cerah di awal musim dingin, Donghae memutuskan mengajak Lynn berjalan-jalan. Menghirup udara segar dan berbagi cerita selama mereka tidak bertemu.

Lynn memainkan renda di ujung lengan baju yang menyembul dari balik coat-nya. Memilih tidak mengikuti sang kakak untuk masuk ke dalam, apalagi alasannya jika bukan untuk menghindari Kyuhyun. Dia menoleh saat seseorang menyapanya, mengangkat kepalanya yang tadi menunduk dengan percaya karena suara yang baru saja di dengar bukanlah dari seseorang yang sedang dihindarinya.

“Lynn, sedang apa kau di sini? Kenapa tak masuk ke dalam? Kau datang untuk bertemu Donghae Hyung?” bombardier pertanyaan dari sang eternal magnae.

“Ah, hi, Wookie Oppa. Aku hanya menunggu Donghae Oppa yang sedang mengambil beberapa barangnya. Dia hanya sebentar,”.

“Meski begitu, ayo masuk. Masak kau menunggu di depan pintu seperti ini,”.

Lynn mengibas-ngibaskan tangannya di udara untuk menolak. “Ah, tak perlu, aku tak apa-apa,”.

“Jangan membantah, aku dengar kau baru saja sakit. Masuklah, kubuatkan kau bubur gingseng,” ujar Wookie semangat sembari menarik pergelangan tangan Lynn.

“Tak perlu repot, Oppa,” Lynn tetap bersikukuh dan menahan tubuhnya agar tak tertarik oleh Ryeowook.

Ryeowook memandang Lynn sejenak, dan mulai mengerti kegelisahan gadis tersebut. “Ayolah, dia tidak ada di dalam,” bujuknya lagi masih sambil menarik Lynn. Dan akhirnya berhasil membawa Lynn masuk ke dorm.

Dan tanpa mereka sadari, sepasang mata mengawasi semenjak tadi. Dia menahan langkahnya untuk mendekat, sibuk mengontrol emosinya yang membuncah. Siapa lagi kalau bukan sang evil magnae.

Kyuhyun memandang kejadian di hadapannya dengan mata berkilat. Rasa rindu yang teramat pada gadis itu menjadikan tangannya yang terkepal sempurna menahan luapan haru. “Oh God, aku benar-benar merindunya,” batinnya.

Melihat Ryeowook yang bisa gampang menyentuh gadisnya, dulu, membuatnya sangat iri. Jikalau dia masih memiliki sang gadis, pasti dengan sigap akan dijauhkan tangan hyungnya tersebut. Menegaskan bahwa hanya dirinya yang berhak atas gadis itu.

Dadanya tiba-tiba terasa panas. Kyuhyun sungguh merindukan bagaimana jemari Lynn menggenggam tangannya, bagaimana upaya  Lynn membujuknya ketika merajuk, bagaimana mata biru Lynn dengan manja menatapnya, dan bagaimana wajah cantik itu ketika terfokus pada sesuatu. Terlebih lagi, dia merindukan bagaimana dengan lugasnya dia dapat menyentuh gadis itu.

“Kumohon, bagaimana caranya agar aku bisa menatapnya lebih lama?” monolognya. Kyuhyun mendesah frustasi dan menyalurkannya dengan meninju tembok di sebelahnya.

_@Arsvio_

“Berhentilah menjadi orang bodoh, Kyunie,” Sungmin merangkul bahu Kyuhyun dan memposisikan duduk di sebelah dongsaengnya tersebut. “Kau membutuhkannya, demikian juga dengannya,”.

Kyuhyun tetap terfokus pada pandangan lurusnya. “Tidak, hyung. Jika kau kembali, maka aku hanya akan membawa masalah lagi baginya,”.

“Lalu kau pikir dengan seperti ini, kau tidak membawa masalah baginya,”.

“Kau tak mengerti, Hyung,”.

“Jadi beri tahu aku supaya mengerti, Kyunie,” Sungmin menatap intens dongsaengnya, meski Kyuhyun bahkan tak membalas tatapan tersebut.

“Bukan tidak mungkin, masalah seperti ini terulang lagi,”.

“Kau pikir, kau bisa melindunginya dengan cara seperti ini?” Sungmin agak meninggikan suaranya. Dia tidak tahan dengan sikap Kyuhyun akhir-akhir ini. Emosi yang tak terkontrol, melamun, dan meledak tanpa alasan.

“Jangan keras kepala, kau bahkan tak tau keadaannya bukan?” bujuk Sungmin.

“Sudahlah, Hyung. Aku tak mungkin kembali,” Kyuhyun dengan kasar menghempaskan tangan Sungmin yang merangkulnya. Dia berdiri dan dengan cepat menyambar kunci mobilnya.

_@Arsvio_

Lynn menghempaskan tubuh mungilnya di sofa apartemennya. Seharian ini, dihabiskannya bersama Oppa kesayangannya. Melelahkan dan menyenangkan. Dia menggapai androidnya dan iseng membuka berita-berita yang menjadi top list akhir-akhir ini.

Senyum mengembang di bibirnya ketika membaca pemberitaan yang membaik tentang citra dirinya. Bahkan, banyak elf yang bersimpati padanya melalui dunia maya. Namun, senyumnya memudar ketika membaca bahwa super junior Eun Hyuk, Donghae, Sungmin, dan Kyuhyun akan mengikuti program We Got Married.

Kenapa hatinya masih juga merasakan kecemburuan yang sangat. Sekalipun beberapa kali meyakinkan dirinya untuk tegar, nyatanya pengaruh lelaki tersebut masih melekat. Lynn menaruh androidnya. Bibir tipisnya terkatup sempurna. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak. “Kumohon, kenapa aku harus seperti ini lagi,” keluhnya sembari menyisipkan jemari di rambutnya.

Lynn bangkit dari duduknya. “Ini akan menjadi yang terakhir aku menyesalinya. Ya, yang terakhir,”. Gadis itu keluar dari apartemennya. Tak wajar, karena hanya memakai kaus berbahan cotton dan hot pants di cuaca yang dingin seperti ini. Salju sudah mulai turun dan gadis ini tetap nekat.

Lynn berjalan menyusuri sepanjang jalan yang menjadi kenangannya. Ketika saat itu dirinya mengakui perasaannya pada Kyuhyun. Hanya dengan baju rumahan dan tanpa alas kaki, seperti yang kini dilakukannya. Mencoba membangkitkan memorinya, merasakan bahwa dia pernah melalui masa itu.

Menyusuri setiap jalan dengan senyum terulas, meski hatinya merasakan sakit yang teramat. Dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ini untuk terakhir kalinya sebelum dia membuka lembaran baru di hidupnya. Diusap lengan atasnya berkali-kali saat merasakan suhu yang sangat dingin.

Lynn terhenti di bangku yang dulu pernah didudukinya dengan Kyuhyun. Dia menatap bangku kosong itu dengan tersnyum, seolah ada seorang di hadapannya yang juga tersenyum padanya. Bergeming dengan posisi seperti itu, tanpa memedulikan bagaimana angin dingin menerpa tubuh rapuhnya.

_@Arsvio_

Kyuhyun melajukan mobilnya pelan saat melintasi taman yang pernah menjadi kenangannya. Sepi, karena ini sudah malam, hampir pukul 10. Siapa juga yang dengan gila mau keluar ke taman di jam semalam ini dan dengan cuaca sedingin ini.

Mata Kyuhyun menyipit saat menangkap siluet seorang gadis yang berdiri dekat bangku taman. Merasa sangat familiar dengan sosok tersebut, Kyuhyun memberhentikan mobilnya. “Damn, apa dia sudah gila,” Kyuhyun berteriak mengumpat saat mengenali sosok tersebut.

Dengan cepat dia membuka pintu mobilnya dan berlari menghampiri gadis tersebut. “HYAA, APA KAU INGIN MATI,” teriaknya semata karena rasa khawatir. Kyuhyun menelisik keadaan gadis itu dari ujung kaku sampai ujung rambut.

Lynn memutar tubuhnya karena mengenali suara yang berteriak kepadanya. Dia memiringkan kepalanya, menatap Kyuhyun. Memastikan bahwa yang di hadapannya kini bukanlah imajinasinya. Diangkat tangannya untuk menyentuh wajah Kyuhyun. “Kyu,”.

DEG. Kyuhyun seakan merasakan dejavu. Membuat dia membungkam mulutnya untuk berteriak lagi. Lidahnya kelu saat bertemu pandang dengan mata biru yang dirindukannya. Kyuhyun meringis merasakan jemari dingin Lynn yang menyentuh pipinya. Menjadikan rasa khawatirnya berlipat ganda. Segera dilepas mantelnya. Dan di saat ia menyelimutkan ke tubuh Lynn, gadis itu kembali kehilangan kesadarannya. Bodoh memang, tubuhnya yang belum pulih malah ditambah dengan tindakannya yang menambah buruk kondisi tubuhnya.

_@Arsvio_

Lynn mengerut-ngerutkan kelopak matanya. Sedikit demi sedikit matanya terbuka menyesuaikan sinar matahari yang menerobos masuk dan menghangatkan kamarnya. Lynn bangun dan menyenderkan punggungnya di sandaran ranjang. Tangannya memijit kening, mengingat kejadian semalam.

“Hanya mimpi,” desis Lynn setelah tidak menemukan petunjuk keberadaan lelaki itu. Merasa haus, reflek Lynn mengambil air putih di meja kecil di samping ranjangnya, kemudian menegaknya. Beberapa tegakkan, dia berhenti dan memandang heran gelas air putih tersebut. “Sejak kapan aku menaruhnya?”. Terheran, karena dia memang tak pernah memiliki kebiasaan menyanding air putih di samping ranjangnya.

“Kau sudah bangun,” sosok Kyuhyun masuk ke kamar Lynn, menjawab semua keraguan gadis tersebut pada kejadian semalam. Kyuhyun duduk di pinggir ranjang Lynn. Memandang Lynn dengan tajam.

“Apa maksudmu melakukannya, huh?”.

Lynn mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan pertanyaan Kyuhyun. “Pardon?”.

“JANGAN BERLAGAK TAK TAHU LYNN,” bentak Kyuhyun, menjadikan Lynn sedikit menjengit karena kaget. “Kau berhutang penjelasan padaku, Lynn. Apa maumu? Tindakan bodohmu,” perjelas Kyuhyun.

Lynn melengos. “It’s not your business, Mr. Cho,”.

“Bukan urusanku, Lynn?” Kyuhyun memanggut-manggutkan kepalanya, masih dengan ekspresi dingin penuh amarah. Dia berdiri dari duduknya dan mengusap wajahnya dengan gusar. “Kau pikir aku bodoh, Lynn?” desis Kyuhyun. “KALAU KAU INGIN MATI JANGAN MEMAKAI CARA SEPERTI SEMALAM. SETIDAKNYA JANGAN MEMBUATKU MENGINGAT KENANGAN ITU DENGAN KEMATIANMU,” nafas Kyuhyun memburu.

Telingga Lynn terasa memanas mendengar ucapan Kyuhyun. Awal paginya sudah rusak dengan teriakkan lelaki itu. “DAN KUTEGASKAN, ITU BUKAN URUSANMU,” Lynn tak kalah berteriak.

Dan dengan satu samparan, Kyuhyun melemparkan gelas yang dipegang Lynn ke lantai. Lynn menutup telinganya ketika gelas menghantam lantai. Menjadikan bunyi keras dari gelas yang bertransformasi menjadi keping-keping kaca yang berserakan. Kyuhyun marah, sangat marah jika mengingat kebodohan Lynn semalam.

Lynn dengan kasar menyingkap selimutnya dan turun dari ranjang. Dia terlalu cepat berdiri padahal tubuhnya belum siap, menjadikannya goyah. Dan karena jarak Kyuhyun yang agak jauh, dia tidak bisa dengan cepat menahan tubuh Lynn. Tangan Kyuhyun tertahan di udara, saat tubuh gadis itu sudah terduduk di lantai.

Lynn meringis ketika tangannya merasa perih, tertusuk pecahan gelas. Dilihatnya telapak tangan yang berdarah. Dia ingin membersihkan serpih gelas yang menusuknya, tapi Kyuhyun lebih dulu meraih tangannya.

Lynn menyentak untuk menarik tangannya. Namun, Kyuhyun tetap menahannya dan tak terganggu untuk membersihkan darah di luka Lynn dengan ujung lengan kemejanya. Tangannya sedikit gemetar tatkala mengusap tetes darah Lynn. “Aku melukaimu lagi,” lirih Kyuhyun, dan tanpa bisa ditahan, setetes air mata meluncur begitu saja.

“Kyu,” Lynn memandang Kyuhyun tanpa berkedip. Baru saja lelaki di hadapnya ini memaki-maki tak jelas, tapi sekarang malah menangis. Memberikan tatapan pilu pada telapak tangan Lynn, pegangannya mengendur. Sebelah tangan Lynn yang bebas terangkat untuk mengusap air mata tersebut.

Tatapan Lynn melembut. Hatinya juga merasakan perih. Dia mengalungkan tangannya pada leher Kyuhyun dan memeluknya, membuat Kyuhyun terdorong ke belakang sehingga terduduk. Sejenak kemudian, terdengar isakan Lynn.

Kyuhyun mencoba melepas pelukan tersebut, namun Lynn mengeratkannya. Semata karena Kyuhyun tidak ingin skinship itu mempengaruhi keputusannya untuk tak kembali. Sekokoh apa pun pendiriannya, faktanya setiap inchi tubuhnya memang merindukan Lynn. Pada akhirnya, Kyuhyun membalas juga pelukan tersebut. Dan semakin erat memeluk Lynn ketika semua rindunya meluap. “Maaf, maaf, maafkan aku,” ulang Kyuhyun.

“Kumohon, jangan bertindak bodoh seperti semalam. Kau membuatku sangat ketakutan, Lynn. Aku tak akan pernah bisa memaafkan diriku jika sampai sesuatu yang buruk menimpamu kembali,” bahu Kyuhyun bergetar. Inilah alasan dia meledak tadi. Dia sungguh berada di ujung kekhawatiran melihat kondisi Lynn. Dan semalaman, Kyuhyun terus terjaga untuk memantau keadaan Lynn. “Kumohon, jaga dirimu, Lynn. Hiduplah dengan baik,”.

Kyuhyun merasakan gelengan kepala Lynn di pundaknya. “Dan bisakah kau memberitahuku bagaimana caranya? Untuk kembali di kehidupanku semula, seperti sebelum mengenalmu,” balas Lynn.

Terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan Lynn karena Kyuhyun pun tak bisa mengembalikan hidupnya seperti sedia kala, sebelum mengenal gadis tersebut. Sekarang, dia membutuhkan gadis itu di sisinya, untuk menjalani hidup dengan baik.

“Please tell me, how can I get back my life?” Lynn tergugu dalam tangisnya. Dia memukul-mukul punggung Kyuhyun pelan.

Kyuhyun hanya diam tak menjawab, dia mempererat pelukannya, meski sudah tak ada jarak lagi yang bisa diperkecil antara tubuhnya dengan Lynn. Dibenamkan wajahnya di pundak kecil Lynn. Menikmati harum yang pernah hilang. Mencumbu setiap detik momen yang pernah terenggut.

_@Arsvio_

“Kyu-“

“Oppa,” sambung Kyuhyun kilat. “Kenapa sih, kau selalu lupa menambahkan di belakangnya?”.

Lynn terkekeh, “Ok-Ok, Captain,”. Lynn mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mengagumi maha karya Sang Pencipta. “Ini sangat indah, Oppa,”. Tak hentinya gadis itu berdecak kagum dengan pemandangan birunya danau, dipadu dengan jingga dedaunan, dan putihnya salju yang sporadic di tanah.

“Ya, sangat indah,” pandang Kyuhyun pada Lynn yang berdiri di sebelahnya. Kyuhyun memalingkan wajahnya ke arah danau. Mengangkat sebelah tangannya untuk merasakan hembusan angin di musim dingin. “I’m really sorry, Lynn. Kupikir dengan melepasmu, maka kau akan bahagia. Kupikir dengan tidak menyandingmu kembali, maka aku bisa melindungimu,”. Hening.

Lynn menghadapkan tubuhnya ke arah Kyuhyun. Menyimak segala beban yang lelaki itu sampaikan. Hatinya berdesir mengingat kepahitan yang pernah dijalaninya akibat kehilangan seorang yang berharga.

“Tapi, ternyata aku salah. Aku membutuhkanmu untuk menjalani hidupku dengan baik, juga sebaliknya. Kehilanganmu memberikan sebuah lubang besar di hidupku, dan aku tak tahu harus dengan apa aku menutupnya,” Kyuhyun meraba dadanya, nyeri kehilangan itu masih terasa.

Kyuhyun memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan Lynn. “Walaupun, aku sendiri tidak yakin tentang segala rintangan yang akan kita hadapi mendatang, namun hari ini kukatakan bahwa aku berharap kau tetap di sisiku untuk menghadapinya,” Kyuhyun menatap balik Lynn dan tersenyum. Dia meraih tangan kiri Lynn yang terbalut perban. Kemudian, dia mengecupnya. “Apakah masih sakit?” tanyanya.

Lynn menggeleng. “Tidak, kurasa akan segera membaik,”.

Kyuhyun tersenyum evil. “Ah, Tentu saja. Ciuman seorang superstar Cho Kyuhyun yang tampan ini sudah pasti mampu menjadi mantra penyembuh,”.

Lynn hanya mencibir, jiwa setan kekasihnya nampak sudah kembali. Padahal baru saja dia mengagumi betapa manisnya ucapan Kyuhyun. “Kau terlalu percaya diri, Captain,”. Lynn menyurungkan telunjuk tangan kanannya ke bahu Kyuhyun. “Tampan itu milik Siwon Oppa,”.

“Hya, tapi suaraku jauh lebih merdu dari Siwon Hyung,”.

“Heeh, suara merdu itu milik Yesung Oppa,”.

Kyuhyun mengetuk-ngetukkan telunjuknya di pelipis. “Humm, kalau begitu aku adalah lelaki tampan bersuara merdu,” sombong Kyuhyun.

“Cish, kau benar-benar terlewat percaya diri, Mr. Cho,”.

“Ani,” Kyuhyun menggelengkan kepalanya. “Kau tahu, bahkan ciuman lelaki tampan yang bersuara merdu ini mampu memantrai jiwa yang sendu,” dia menggambar lingkaran besar di udara dengan telunjuknya.

“Cish sombong, dan permisalan macam apa itu? Belajarlah pada Donghae Oppa jika kau ingin bersikap romantis,”.

“Heh, Let me show how it works,” ucap Kyuhyun sembari meraih pinggang Lynn. Dipindahkan tangan Lynn yang dari genggamnya ke lehernya. Dia meraih dagu Lynn, menyeringai di depan bibir gadis itu, “I love you, My Adelynn,”. Dan detik berikutnya bibirnya telah bertaut dengan bibir gadis tersebut. Menyalurkan semua kehangatan dan kasihnya untuk Lynn. Menyunggingkan senyum samarnya saat Lynn membalas ciumannya. Dan dengan senang hati, Kyuhyun mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang Lynn menjadikan tubuh gadis tersebut sedikit terangkat.

“Breathe in,” Lynn mendorong dada Kyuhyun. Mengulas senyumnya, walaupun paru-parunya sedang bekerja ekstra untuk memperoleh oksigen. “Ok, I admit, it works properly, Mr. Cho,”.

Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan. Disapukan ibu jarinya di bibir Lynn yang masih basah. Selalu tak akan penat mengagumi keindahan samudera di balik birunya irish mata gadis itu. Perpaduan sempurna antara ketegasan dan pesona. “So, Lee Adelynn, would you please be mine in rest of your life?”.

Lynn hanya membulatkan matanya, semakin menampakkan keanggungan kreasi Sang Penguasa. Dia berjinjit dan menumpukan berat tubuhnya di ujung kaki untuk menjangkau lelaki tersebut. Mengecup dengan lembut bibir sang kekasih.

*THE END

 

Note: Whaa…akhirnya tamat juga. fuh…semoga gak kecewa dengan ending yang kubuat. Oh, ya, di atas tadi sengaja ku tampilan seorang cameo, karena aku ingin buat side story, tapi untuk Donghae Oppa.

Seorang dokter, putri kedua keluarga elit yang complicated, meminta Donghae menjadi pendamping hidupnya dengan alasan sedikit absurd. Dengan kuasa dan pengaruh dari sang kakak, dia mampu memaksa seorang Lee Donghae untuk terikat dalam sebuah ikatan suci. Sikap kenakanan Lee Donghae yang terus menguji kesabarannya malah membuatnya semakin jatuh hati pada pria tersebut. Namun, di tengah perjalanan cintanya, dia menemukan alasan pernikahannya. Bahwa semua hanyalah sebuah ilusi yang sengaja diciptakan sang ayah. Dan karena kesalahan sang ayah,  keutuhan keluarganya tinggal menunggu detik kehancuran. Bersama dengan adik laki-lakinya yang merupakan seorang pembalap nasional yang trouble maker, dia berjuang mempertahankan keluarganya juga pernikahannya.

Sorry, numpang ngiklan. Hehe… aku exicted untuk segera buat tuh ff. Gomawo dah selalu meriview ff “Trapped in Love with Game”. Bow and Bye.

20 thoughts on “Trapped in Love with Game 8 / END

  1. OMG keren banget author ceritanya.. senangnya berakhir dgn manis.. Akhirnya Lee Joon sadar juga dan tdk lebih jauh berbuat yg nantinya akan menyakiti Lyn. Chukkae kyu oppa yg sdh kembali lg bersama Lyn. Really love this fanfiction. Semuanya berimbang dr awal mulai dr percintaan, konflik, kasih sayang kakak terhadap adiknya, kecintaan terhadap game dan lainnya. Walaupun sempat sebal sama Lee Joon but he’s very brave to confess his trouble and realize Eunjeung love for his heart. Semua karakter di ff ini pny peran masing2 untuk menghidupkan cerita dan mgk para pembaca bs merasakan dlm hati bhw feels cerita ini dapat banget serta mengena di hati. Asik ada sekuel tapi dr sisi percintaan donghae oppa dgn dokter muda yg td memeriksa Lyn ya, kira2 eunhyuk oppa akan gangguin nggak ya.. ditunggu author kisahnya tsb. Big applaus for author.. Kamsahamnida

  2. author! Joha! Joha! Joha!*sodorin kembang*
    akhirnya lee joon insaf juga,
    huwa, bisa nyadar jga ntu orang kalo eun jung selalu menunggu.
    Semuanya dapet happy ending!
    Kyu-lynn, ada sequelnya kah dari ini?
    Aaaa! Daebak thor XD
    itu project ff.nya hae yah.
    Dipublish dsini kan?#eaaa
    aku tungguu!*thumbs up*

  3. happy………………
    suka neeh dengan bahasa nya yang terakhir………….
    hahaha.KYU emang bisa bikin hati rontok…ye………..

  4. akhirnya tamat juga hahaahaha keren aku baca dari part 1 tapi commentnya jarang2 hahaha makasih ya authornya, ceritanya keren ;)

  5. Daebak bgt
    Konfilknya bagus
    Bahasanya asik
    Alurnya pas
    Super duper kilo mega giga suka ma ni ff
    susah gambarin rasa suka aku ma ni ff
    Good job
    side story ditunggu

  6. semua masalah berakhir dgn bahagia. mereka emg gak bs d pisahkan, terikat satu sm lain hahaha
    nice ff. bener2 dpt feel buat mengoyak2 hati pembacanya X-(

  7. Aaaaaaaa
    neomu sweeeeeeeeet(?)
    kyaaaaaaaa#kecupaKyu
    #plaaak
    aaaaaa nice story
    huhuhuhuhu
    aku mauuuuuuuu
    kyuuuuuuu#gaksopan
    i wanna kissing with u#plakdor
    kkkkkk

    nice story chingu#10thumbs

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s