Second Chance [part 1/2]

Author: Kei
Main cast: Lee Hyukjae, Hwang Jihee, Lee Sena
Support cast: Choi Siwon, Kim Heechul, Lee Donghae, Leeteuk, Yesung
Rating: U
Genre: Romance
Ps:
Kalau kalian merasa cerita ini mirip atau merupakan sambungan dr FF lain. Iya, emang. Ini sejenis bentuk protes diam-ku terhadap ending yang dikasih sama author aslinya. Namanya aku ganti demi menjaga kerahasian FF asal karena aku gak bilang sm authornya kalau aku gak suka sama ending yang dia bikin dan kalau kalian Tanya FFnya apa? Aku gak bakalan kasih tahu. hihihii. LOL

So, here it is ^^

 

Hmmm,,smells good.” Kata seorang laki-laki secara tiba-tiba dan mendekati seloyang chocolate chip cookies yang sudah matang di meja.

Tangannya yang sudah hampir mencomot sekeping cookie tersebut tiba-tiba ditampar oleh tangan perempuan yang membuatnya. “No,no,no. Tunggu sampai semuanya selesai dulu baru kau boleh mencobanya, oppa.”

“Tapi aku belum makan apapun sejak kemarin.” Katanya manja.

I don’t give a damn with it.” Jawab sang perempuan sambil berbalik dan memasukkan loyang terakhir cookiesnya itu. “Oppa, aku melihat tanganmu.”

Laki-laki itu hanya menyengir tanda bahwa dia tertangkap basah telah mengambil cookie tersebut. Tapi bukan Kim Heechul kalau dia mengembalikannya, dia malah mengambil lagi beberapa cookies dan mulai memakannya.

Sang perempuan hanya bisa menghembuskan nafas. “Terserah padamu sajalah.”

Kim Heechul berjalan ke arah kulkas dan membukanya. Dia mencari air mineral favoritnya diantara banyak botol di kulkas, “Dimana air mineralku?”

“Air mineralku? Ini kulkasku oppa. Itu berarti semua botol disitu adalah air mineralku.” Jawab sang perempuan tanpa mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya yaitu memindahkan cookies dari loyang ke toples.

“Maksudku air mineral favoritku. Sparkling mineral water.” Kata Heechul dengan kepala masih tertutup oleh pintu kulkas.

“Oh, itu. Aku rasa kami kehabisan stoknya minggu lalu. Sudahlah minum mineral water saja.”

“Aku tidak suka mineral water. Rasanya aneh itu bisa merusak kulit dan sistem pencernaanku.”

“Aku rasa kadar mineral mereka sama. Hanya yang satu memakai sparkling dan yang lain tidak.”

“Tidak!!Itu semua berbeda .”

Yeah, right! Why don’t you drink tap water then?

Tap,,tap,,tap water? You kidding me right, dear?” Tanya Heechul dengan pandangan tidak percaya dengan saran yang barusan didengarnya. “Perutku bisa sakit atau bahkan aku bisa mati keracunan nanti.”

Well, you give me no choice.” Jawab sang perempuan santai. Walaupun mereka sudah berteman sejak lama tapi dia masih saja tidak habis pikir dengan segala tingkah berlebihan seorang Kim Heechul.

Heechul menyerah dan membuka sebotol mineral water. Dia meminumnya dengan muka khawatir dan menelannya perlahan seolah-olah itu adalah racun. “By the way darl, I brought you someone.

Who?

Ya!! Keluarlah dari situ.” Teriak Heechul lantang dan sedikit menimbulkan gema di dapur.

Terdengar sepasang langkah sepatu berjalan perlahan dan tidak mantab. Kepala sang perempuan berputar 180° ke arah ambang batas dapur dan ruang keluarga menunggu seseorang yang dibawa oleh temannya itu. Senyumnya perlahan menghilang dan di gantikan dengan matanya yang menatap tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.

“Hai.” Sapa sang laki-laki kikuk. Dia berhenti dan berdiri tidak jauh dari meja counter tempat sang perempuan dan loyang-loyang kosong serta beberapa toples penuh chocolate chip cookies yang barusan dibuatnya itu.

Sang perempuan berdeham untuk menutupi keterkejutannya itu sambil mengerjap-kerjapkan matanya.

Well then, I’ll leave you both.” Kata Heechul sambil berjalan menyebrangi dapur dan membawa botol air mineralnya.

Wait!!” kata sang perempuan. “Sebaiknya kau bawa dia pergi oppa. Aku tidak mau bertemu dengannya.”

Heechul berhenti dan memandang wajah laki-laki dan perempuan yang berdiri mematung itu. Dia menimbang-nimbang langkah apa yang harus dia lakukan. Apakah dia harus mengikuti permintaan sang perempuan untuk membawa sang laki-laki pergi atau tidak.

“Sebaiknya kalian pergi dari sini karena keluargaku akan datang tiga puluh menit.” Kata sang perempuan datar. “Kecuali kalau kau mau melihat dia mati dipukuli kakakku.”

“Ayo pulang, Hyukjae ah. Besok saja kita kemari lagi.” Kata Heechul mengalah.

“Tapi urusanku belum selesai.” Jawab laki-laki yang dipanggil Hyukjae.

“Kau masih punya banyak waktu besok, lusa, dan hari-hari berikutnya kalau sekarang kita pulang. Jangan bodoh.” Kata Heechul sambil menyeret lengan Hyukjae.

“Sampai jumpa, Jihee.”

Selepas bayangan mereka hilang dari sudut matanya, Jihee terlihat menutup matanya dan menghembuskan nafasnya perlahan. Dia mencengkram pinggiran meja sangat kencang sampai buku jarinya memutih. Dengan cepat dia mulai berpikir apa yang harus dilakukannya agar bisa menghindari laki-laki bernama Lee Hyukjae itu. Bahkan disini, New York, tempat hampir seluruh keluarga besarnya berkumpul dia berani datang apalagi tempat lain.

Damn it!

**

Daddy!!!” kata Jihee tersenyum lebar dari arah meja makan dan dengan segera menurunkan beberapa garpu dan pisau yang sedang ditatanya.

Hai, darling.” Kata sang ayah sambil memeluknya dan memberikan kecupan di kedua pipi anak perempuannya itu.

Missing you so much.

Don’t you missing your mommy too?” Tanya seorang perempuan separuh baya yang berdiri tepat di samping ayahnya.

No, I don’t because mommy don’t give me a present when went to England.” Jawab Jihee sambil mengerucutkan bibirnya.

Well, if the present that you want is prince Harry. I’m sorry dear but he’s on duty in middle east.” Jawabnya sambil menekan pipi putrinya itu dengan telunjuk. “Sebagai gantinya aku membelikanmu beberapa gaun dari runway.”

“Benarkah?” Tanya Jihee bersemangat. Dia melepas kaitan tangannya di lengan ayahnya dan mendekati ibunya.

“Akan kusuruh bibi Jung menaruhnya di kamarmu.”

Daddy membelikanmu Jimmy Choo dan Tiffany untuk melengkapi gaun cantik itu.” Kata sang ayah tidak mau kalah dari isitrinya.

Thanks mommy and daddy.” Kata Jihee sambil mencium pipi kedua orang tuanya itu.

“Aku?”

“Kau ikut mom and dad pulang?” Tanya Jihee dengan kening berkerut meilhat kakak laki-lakinya itu.

“Iya. Aku malas berlama-lama di Milan. Perempuan disana terlalu menggoda iman.” Katanya memasang wajah polosnya. “Aku sampai kewalahan menolak mereka.”

“Hahahaaa,,,terserah kau sajalah.” Kata Jihee meninggalkan kakak laki-lakinya itu dan segera membantu para pembantunya menyiapkan meja makan.

Daddy, masalah pembukaan hotel baru di Hawaii. Bisa aku saja yang menanganinya?” Tanya Jihee saat mereka sudah bersantai di ruang tengah.

“Tapi itu kan projektku.” Kata Yunho menyela perkataan adiknya.

“Kan yang menangani urusan pembukaan selalu aku, dad. Jadi biarkan aku saja yang menanganinya ya.” Pinta Jihee pada ayahnya. “Oppa hanya ingin melarikan diri dari perempuan-perempuan gila yang mengejarnya di Milan. Itulah mengapa dia ngotot mau ke Hawaii.”

“Siapa bilang? Aku bisa menangani mereka semua.” Kilah Yunho.

“Pembukaan hotel yang kutangani selama ini selalu berjalan dengan baik kan dad? Jadi biarkan saja aku yang tangani. Lagipula aku bosan disini. Aku butuh matahari.”

“Kau kan bisa berlibur ke Brazil dan mencoklatkan kulitmu disana.”

“Aku tidak suka Brazil. Cuacanya tidak menentu seperti teenagers jaman sekarang.” Kata Jihee sambil bermanja-manja pada lengan ayahnya yang sedang menonton televisi. “Boleh kan dad?”

Ayahnya menatap mata Jihee sebentar dan menatap mata istrinya mencari tahu jawaban apa yang perlu diberikan pada putri tersayang mereka itu. Sang istri mengangguk dan tersenyum. Jihee mengikuti arah pandang ayahnya dan tersenyum juga melihat ayahnya yang menganggukkan kepalanya.

“Hawaii, here I come!!” teriak Jihee sambil menjulurkan lidahnya ke arah kakaknya yang sedang menggerutu memikirkan nasibnya.

**

Jihee sedang sibuk mengeluarkan baju-baju yang akan dibawanya ke Hawaii. Setelan kerja sudah, gaun runway yang baru kemarin dibeli oleh mommy-nya sudah, baju santai sudah, bikini? “Kenapa bikini ini terlihat tidak menarik?” pikir Jihee sambil mengeluarkan bikini berwarna biru tua dan mengangkatnya ke udara.

“Kau pasti terlihat cantik dengan itu.” Kata seseorang tiba-tiba dan sukses membuat Jihee menahan nafasnya. Tidak perlu memalingkan wajah mencari si pemilik suara, Jihee sudah tahu siapa tamu yang tidak diundang itu.

“Oh, benarkah?” Tanya Jihee sambil berjalan ke arah pintu dan melihat bikininya itu sekali lagi.

“Pasti.” Katanya mantab.

“Kalau begitu untukmu saja.” Kata Jihee sambil memberikan bikininya dan pergi meninggalkan laki-laki itu diambang pintu kamarnya.

“Tunggu. Kita harus bicara.” Katanya dibelakang Jihee sambil melemparkan bikini itu di kasur.

“Aku rasa tidak perlu.” Kata Jihee di tangga.

“Perlu Hwang Jihee.” Kata laki-laki itu memegang erat pergelangan tangan Jihee dan membuatnya berhenti.

Jihee mencoba melepaskan pegangan tangan laki-laki itu tapi terlihat sia-sia. “Terserah kau saja dan lepaskan tanganku.”

“Kau mau mengobrol dimana?”

“Ikut aku.” Jawab Jihee dingin dan berjalan mendahului laki-laki itu menuju gazebo di luar rumahnya.

“Ada apa?” Tanya Jihee sambil duduk di salah satu sofa. “Waktuku tidak banyak.”

“Aku mau minta maaf kepadamu.”

“Sudah? Hanya itu saja?” Tanya Jihee sambil memandang laki-laki yang bertingkah kikuk di depannya itu. “Kalau begitu. Aku sudah memaafkanmu. Jadi silakan pergi.”

Jihee berdiri dari sofa dan berjalan ke luar dari gazebo tapi sayang langkahnya terhenti oleh tangan laki-laki itu. “Aku benar-benar minta maaf, Jihee ah.”

“Iya. Sudah kumaafkan. Jadi cepatlah pergi!!”

“Kau masih marah padaku. Kau menghindariku.” Katanya putus asa.

“Aku kan hanya memaafkanmu bukannya mau jadi temanmu lagi atau tidak keberatan bertemu denganmu.” Jawab Jihee dingin. Dia memandang wajah laki-laki itu lekat-lekat seperti ingin memakannya.

What should I do for you to forgive me?

I’ve told you so. I have already forgiven you. Just go away. Stay away from my life.” Kata Jihee mulai frustasi.

No, I can’t. I have to responsible for what I did to you.” Katanya memalingkan badannya menghadap sisi kiri badan Jihee.

With what? You already ruined mine once.” Kata Jihee datar. Dia mulai bisa mengendalikan amarahnya yang tiba-tiba saja menyeruak karena ingatannya tentang masa lalu itu tiba-tiba saja kembali.

Give me a second chance n I won’t ruin it again.

There will be no second chance for you, Mr.Lee.

Jihee berjalan keluar dari gazebo dan kembali ke rumah. Sesampainya di dalam rumah, dia mengerjap-kerjapkan matanya sambil mencoba untuk mengatur nafasnya yang tiba-tiba memburu seperti saat dia selesai berlari di atas treadmill. Dia berjalan ke arah perpustakaan keluarga. Tempat favoritnya melarikan diri dari segala masalah yang menghimpit. Sama seperti sekarang.

Jihee membuka pintu perpustakaan dan menemukan Heechul sedang berdiri di depan lukisan baru yang dibeli ayahnya dari sebuah galeri di Perancis bulan lalu.

“Apa sih menariknya dari lukisan ini?” tanyanya bingung.

“Tanya saja pada dad.” Jawab Jihee singkat. “Pergi sebelum aku mengusirmu. Moodku sedang buruk.”

“Kau itu membuat moodku jadi buruk.” Kata Heechul sambil menatap tajam Jihee. “Padahal tadi bibi Jung memberiku cream cheese soup yang sangat enak sekali.”

Jihee memberikan tatapan mematikan pada Heechul selama dua detik sampai akhirnya laki-laki itu berjalan keluar dari perpustakaan dengan menggerutu. Dia tahu sekarang bagaimana dua orang laki-laki itu bisa seenaknya masuk ke rumahnya tanpa ada seorangpun yang curiga.

**

Masih segar diingatan Jihee apa yang terjadi delapan bulan yang lalu. Well, sekitar sepuluh bulan kalau kau menghitung segalanya dari awal.

Berawal dari malam dimana Mrs.Lee –ibu dari Lee Hyukjae- menawarkan anaknya kepada Jihee. Well, pardon my words, tapi memang itu yang terjadi. Sewaktu Mrs.Lee mendatangi salah satu pembukaan hotel keluarganya, dia menanyakan apakah Jihee mau bertunangan dengan anaknya yang saat ini sedang ada di Korea. Mrs.Lee menjamin kalau anaknya itu tampan dan menyenangkan -akan menjadi pasangan yang tepat untuk Jihee- dan yang pasti single. Lalu Jihee yang saat itu sedang sedikit tipsy hanya bisa menyetujuinya sambil tersenyum manis. Sayang basa-basi Jihee dipegang oleh Mrs.Lee dan membawanya terbang ke Korea tiga minggu setelahnya.

Sesampainya di Korea, bukannya sambutan manis dari calon tunangannya itu, tapi dia mendapatkan sebuah kejutan yang bisa dibilang manis. Ternyata tunangannya itu sudah mempunyai pacar. Sayang status sosial mereka berbeda dan sayang sekali Mrs.Lee termasuk orang yang berpikiran kolot.

Jihee menyelinap mengikuti langkah beberapa orang yang terlihat khawatir dan berjalan terburu-buru menuju atas gedung ini. Dia tetap menjaga jaraknya agar tidak ketahuan agar dia bisa menyimpulkan sebenarnya apa yang sedang terjadi dan akan mengikatnya masuk.

 Dia berjalan perlahan dan memimalisasikan suara ketukan sepatunya di lantai dengan melangkah sangat perlahan seperti berjalan diatas es tipis. Thanks to her ballet lesson yang sering ditinggalkannya ituberhasil  membawanya dengan tenang dan damai ke atas gedung.

Jihee melihat Mrs.Lee yang berdiri di depan seorang perempuan yang memakai gaun simple berwarna biru muda. Dibelakang perempuan muda itu ada beberapa orang laki-laki dan perempuan. Man of the house, Choi Siwon bersama tunangan barunya, Kim Heena. Lalu seorang laki-laki bersama seorang perempuan bertubuh petit yang tadi dipanggil sebagai putri maskapai, dua orang laki-laki –yang satunya berpakaian elegan serba putih dan yang satunya lagi membawa kura-kura- , dan satu orang laki-laki yang menjadi centre of attention –selain perempuan muda bergaun biru tentunya- Lee Hyukjae.

Mereka membicarakan sesuatu yang Jihee sendiri tidak tahu apa. Mungkin dengan tetap mendengarkannya membuat Jihee sedikit mengerti dengan keadaan.

Jihee sedikit mengerutkan keningnya mendengar pembicaraan itu. Sedikit absorbs untuknya yang adalah seorang ‘alien’ atau penonton dadakan yang tidak mengetahui ujung pangkal dari masalah ini. Tapi satu hal yang dia tahu bahwa mereka, Siwon, Heena, putri maskapai, dan siapa-lagi-itu-yang-tidak-Jihee-tahu-siapa-namanya, mencoba membantu Hyukjae lepas dari control ibunya. Hmmm, menarik.

Mrs.Lee hanya berdeham kecil sebelum akhirnya dia berkata, “Kalian lebih baik belajar bagaimana cara mengancam dengan baik. Kau putri maskapai, aku kira ayahmu lebih senang membicarakan tentang lukisan yang ada di galeriku daripada mendengarkan permintaan konyolmu.”

“Kau tuan Choi, bukannya sahammu itu hanya 10% ya? Lebih baik jangan coba-coba melakukan hal yang bodoh dan Kim’s group? Aku kira hubunganku dan orang tua kalian lebih dari apa yang bisa kalian bayangkan.”

“So, Hyukjae. Ku beri kau waktu tiga hari sebelum aku yang harus membereskan kekacauan yang kau timbulkan. Leetuk susul aku tiga hari lagi dengan membawa kabar bagus.”

Mrs.Lee memandang orang-orang muda yang berada didepannya itu dengan tatapan dingin tak berbelas kasihan. Orang-orang yang tadinya berapi-api dan penuh percaya diri kalau usahanya akan berjalan dengan baik menjadi diam dan tertunduk termasuk laki-laki yang sedari tadi mengeluarkan perkataan penuh sarkastiknya.

“Kau telah membuatku malu, Hyukjae. Aku membuat tunanganmu, Jihee, melihat semua kekacauan ini.” Kata Mrs.Lee sambil memandang lurus ke arah Jihee yang saat ini sedang berdiri menyeder pada tembok pintu atap. “I’m sorry dear.”

Jihee yang merasa bahwa memang sudah saatnya dirinya keluar dan mendapatkan spotlight, berjalan dengan anggun ke arah Mrs.Lee sambil berkata, “I’m fine Mrs.Lee. I’m afraid that my presence will ruin something in here.”

Jihee yang memakai gaun selutut berwarna pink fuchia dengan aksen bunga di dadanya itu membuat pandangan semua orang terarah kepadanya. Well, selain kenyataan kalau memang warna gaunnya yang sedikit menyala di kegelapan dan juga peranannya disini yang menjadi penting.

“No darling. I owe you apologize for this one. This thing will be done in three days right, Leetuk?” Tanya Mrs.Lee pada Leetuk yang dibalas dengan pandangan datar. “You’ll be okay right?”

“Yes, I’ll be fine. Besides that I found that your boy is quite charming, Mrs.Lee. I’ll wait for him.” Jawab Jihee sambil tersenyum dan sedikit memutar kepalanya melihat ke arah Hyukjae yang saat ini sedang memandang ibunya dengan tatapan putus asa.

“Great. Beautiful.” Kata Mrs.Lee sambil berjalan ke arah Jihee dan memeluknya hangat. “Just call me if you need anything, okay.”

“I will, Mrs.Lee. Take care of you. Have a save flight.”

Sejurus dengan ucapan selamat tinggal dari Jihee. Mrs.Lee berjalan menuju satu-satunya pintu di atap meninggalkan delapan orang yang berwajah sedih dan satu orang yang tersenyum tidak sabar mengetahui apa yang akan terjadi setelahnya.

**

TBC

3 thoughts on “Second Chance [part 1/2]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s