I Always Here For You [part 1]

Author : hgks11

Main Cast  :

–       Lee Jinki – SHINee

–       Park Harin – OC

Support Cast  :

–       SHINee’s members

–       Park Minrin

Length : Twoshots

Genre  : AU, Romance

Rating   : T (Teens)

Warning!  : saya tidak menuliskan keterangan pov siapa di sini.. lagi males nulisnya, soalnya sering banget ganti-ganti pov di sini.. *mianhae* *bow*

A.N.                 : also published at blacksmiling.wordpress.com. maaf kalau ceritanya datar, hehe. Hope you’re enjoy it guys ;)

-oOo- 

Kulirik kursi di sebelahku, kosong. Kuedarkan pandanganku ke arah tempat fans. Mataku mencari-cari sosoknya. Namun nihil, aku tak menemukannya. Bahkan batang hidungnya pun tak terlihat! Aku menghela nafasku gusar. Dadaku terasa sesak, kekurangan oksigen. Tanpa sadar aku menggigit bibir bawahku.

“Onew hyung!” ujar seseorang menepuk pundakku.

Aku menengok ke kursi sebelahku, mengikuti gerakan orang yg menepuk pundakku itu.

“Eo, wae?” tanyaku tak bersemangat. Aku melirik malas pada Minho.

“Harin masih mendiamkanmu hyung?” ujarnya pelan. Aku menundukkan kepalaku, berusaha menyembunyikan ekspresi kecewaku dari netizen.

“Ne..” ujarku mengangguk lemah. Kudengar helaan nafas Minho.

“Menurutku.. Hyung sudah keterlaluan” ujarnya.

 

Flashback

Aku mendecak kesal, diabaikan oleh Harin. Sekarang aku benar-benar menyesal mengajaknya ke Kuil Bulguk ini. Semenjak dari Sokgyemun –gerbang masuk kuil– matanya tak lepas dari arsitektur kuil ini. Ia mengamati detail-detail yg terdapat di bangunan kuno ini. Matanya berbinar-binar saat melewati tangga batu menuju kuil, yang memiliki arsitektur unik yang merupakan salah satu harta nasional Korea Selatan. Ia berdecak kagum, saat melihat Dabotab yang merupakan pagoda satu-satunya di Korea yang memiliki arsitektur yang kaya ornamen.

Aku berkali-kali melemparkan death glareku padanya. Namun nihil. Ia masih asik meminum sodanya, dan memperhatikan setiap detail arsitektur kuil ini.

“Ya! Harin-a!” seruku akhirnya.

“Eo?” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Dabotab. Aku meremas rambutku frustasi. Melihat tanggapan yang diberikannya. Ia benar-benar mengacuhkanku!

“Tidak bisakah kau tidak mengacuhkanku, Nona Park Harin?” ujarku datar.

“Mwoya? Aish! Tuan Lee Jinki, kau menggangguku menganalisa arsitektur dari Dabotab ini!” ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari Dabotab (lagi).

“Arasseo, Nona Park Harin. Saya rasa, Anda tidak akan keberatan untuk pulang sendiri” ujarku meninggalkannya. Aku sengaja melambatkan langkahku. Berharap Harin akan mencegahku untuk pulang duluan, dan meminta maaf. Namun nihil. Aku tak mendengar suara derap kaki dari belakangku. Kutengokkan kepalaku ke belakang. Dan, di sanalah dia. Masih asik dengan arsitektur Dabotab itu. Aku segera melangkahkan kakiku dengan cepat, jengkel terhadap perilaku Harin yang mengacuhkanku. Padahal aku sudah bersusah payah mengosongkan jadwalku hari ini, hanya untuk mengajaknya pergi bersama, bersenang-senang bersama. Tapi apa yang aku dapatkan sekarang? Aku diacuhkan olehnya! Ia lebih peduli pada arsitektur-arsitektur itu. Sepertinya, posisiku telah digantikan oleh arsitektur-arsitektur itu.

Aku duduk di balik kemudi mobilku dengan kasar. Kunyalakan mesin mobilku, tergesa-gesa. Kubanting setir ke arah kiri, melesat dengan kecepatan tinggi. Semakin lama, aku semakin menambah kecepatan laju mobilku. Aku mengemudi dengan brutal. Untung saja jalan di sekitar sini sepi, dan tak ada polisi. Jika ada polisi, sudah pasti aku akan terkena tilang. Pandanganku tak bisa sepenuhnya fokus ke jalan. Bayangan Harin yang mengacuhkanku tadi, masih berputar-putar di otakku. Aku mendecak kesal, teringat itu semua.

“Kupikir, dengan mengajaknya ke sana, kami bisa bersenang-senang. Tapi, ternyata ia malah mengacuhkanku” gumamku, mencoba memfokuskan pandanganku ke jalan.

Ciiit!!

Aku mengerem mobilku dengan mendadak, saat melihat seekor kucing melintas.

‘Fiuh.. hampir saja’ batinku lega, saat melihat kucing itu tidak terluka. Kulajukan lagi mobilku, tapi kini dengan kecepatan standar. Aku masih merasa kesal dengan Harin, sangat kesal. Tapi aku harus bisa mengontrol emosiku. Tiba-tiba ide itu terbesit di pikiranku.

“Bersiap-siaplah kau, Park Harin. Lihat saja, apa yang akan terjadi setelah ini” gumamku, menyeringai. Kurogoh handphoneku dari sakuku. Jari-jariku menari dengan lincah di atas layar sentuh handphoneku ini. Mengetikkan sebuah pesan.

To        : Vic Noona

Noona, apakah kau ada jadwal hari ini?

Jariku menekan tombol Send. Tak berapa lama, handphoneku berbunyi. Ada sebuah pesan yang masuk

From    : Vic Noona

Ani, hari ini aku kosong. Wae?

Seulas senyum terukir di wajahku. Jari-jariku kembali menari dengan lincahnya di layar sentuh handphoneku.

To        : Vic Noona

Bisa temui aku sekarang di XX café? Aku sedang dalam perjalanan ke sana sekarang.

 

From    : Vic Noona

Arasseo, aku akan ke sana. 15 menit lagi aku sudah di sana

 

Aku tersenyum membaca pesan dari Vic Noona.

“Just see, what’s your reaction with this, Miss Park” gumamku menyeringai.

***

@ XX Café

Klinong.. Klinong..

Terdengar suara lonceng dari arah pintu masuk, yang menandakan ada pelanggan yang masuk. Mataku beralih ke arah pintu masuk tersebut. Dan, di sanalah, kutemukan sosok yang kucari. Victoria noona. Aku melambaikan tanganku, saat melihat matanya mencari-cari keberadaanku. Ia tersenyum tipis, dan berjalan ke arahku.

“Annyeong Onew-ah!” ujarnya menarik kursi untuk duduk.

“Annyeong noonaaaa~” ujarku berusaha tersenyum.

“Sudah berapa lama sih kita berteman? Cepat ceritakan, apa masalahmu” ujar Vic noona to the point. Aku tersenyum tipis, menanggapi ucapannya.

“Noona, bisakah kau membantuku?” tanyaku mengecilkan jarakku dengannya.

“Mwoya?” tanyanya malas.

“Bantu aku buat Harin cemburu” ujarku, menunjukkan seringaiku. Ia hanya memutar bola matanya, menganggap ini konyol. Sebenarnya ini memang kedengar konyol. Orang lain pasti akan berusaha agar pasangannya tidak cemburu padanya. Tapi aku malah mengharapkan yeojachinguku cemburu padaku.

“Ayolah noonaaaaa~” ujarku dengan nada memelas.

“Ara, ara, arasseo. So, otte?” ujarnya. Lagi-lagi, aku menunjukkan seringaianku. Aku membuka penyamaranku dan Vic noona. Lalu aku mendekatkan wajahku padanya.

Flashback off

 

Aku mengacak rambutku frustasi. Karena ide konyolku waktu itu, kini Harin benar-benar marah padaku. Ia mendiamkanku semenjak 2 hari yang lalu. Ia tidak menghubungiku lagi. Ia juga tidak membalas pesanku, ataupun mengangkat telepon dariku. Bahkan nomornya tidak aktif!

“Kau tahu kan, Minho-ah.. aku tidak benar-benar berciuman dengan Vic noona! Itu hanya rekayasa saja” ujarku frustasi.

“Ne, aku tahu hyung. Tapi Harin tidak tahu. Kau harus menjelaskan baik-baik padanya. Ia sungguh menakutkan jika sudah seperti ini” ujar Minho bergidik ngeri. Aku melirik tajam ke arahnya. Menatapnya dengan tatapan kau—berani—menghina—yeojaku—huh?.

“Hehe, aku hanya bercanda hyung!” ujarnya menggaruk kepalanya. Aku kembali terlarut dalam pikiranku. Memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah ini.

“Ya, hyung! Sudah saatnya kita beraksi lagi di lapangan ini. Kajja!” seru Minho, mengajakku ke tengah lapangan. Aku mengikuti Minho dengan wajah datar. Kuedarkan lagi pandanganku ke arah fans. Namun, hasilnya tetap nihil. Aku tak menemukan sosoknya. Tapi mataku menangkap sesuatu. MVP, aku melihat mereka. Mereka yang selalu mendukungku. Aku harus tersenyum, untuk mereka. ‘Melupakan sejenak masalahku dengan Harin, dan tersenyum untuk para MVP. Ya, aku harus melakukan itu’ batinku. Aku kembali bersemangat, mengikuti langkah Minho di depanku.

-oOo-

 

Terlihat seorang yeoja sedang termenung. Ia menatap figura di samping tempat tidurnya dengan tatapan sayu. Air mata mengalir dari sudut matanya.

“Kenapa.. kau tega menyakitiku? Kenapa kau tidak memutuskanku saja, jika kau menyukai Victoria eonni? Itu lebih baik, daripada kau menusukku dari belakang seperti ini” lirihnya.

***

Flashback

Aku memandang takjub Dabotab di depanku. Sungguh indah sekali. Mataku sulit untuk berpaling darinya.

“Ya! Harin-a!” seru Jinki oppa.

“Eo?” jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari Dabotab.

“Tidak bisakah kau tidak mengacuhkanku, Nona Park Harin?” ujarnya datar.

“Mwoya? Aish! Tuan Lee Jinki, kau menggangguku menganalisa arsitektur dari Dabotab ini!” ujarku tanpa mengalihkan pandanganku dari Dabotab di depanku.

“Arasseo, Nona Park Harin. Saya rasa, Anda tidak akan keberatan untuk pulang sendiri” ujarnya. Aku menganggap ucapannya hanya angin lalu, karena aku berpikir ia tidak mungkin serius dengan ucapannya. ‘Masa sih? Ia rela kehilangan waktu bersamaku, disela-sela jadwalnya yang sibuk?’ batinku. Aku melanjutkan kembali aktifitasku, memperhatikan Dabotab di hadapanku.

“Habis?” gumamku saat merasa tak ada air yang mengalir lagi ke tenggorokkanku. Aku membalikkan badanku ke belakang, untuk bertanya pada Jinki, di mana tempat sampah. Namun yang kulihat hanyalah udara kosong. Aku tak menemukan sosoknya. Kepalaku menoleh ke kiri dan ke kanan, mencoba untuk menemukan sosoknya. Aku berjalan mengelilingi kuil Bulguk ini. Namun nihil. Sudah 2 jam aku berkeliling kuil ini, namun aku tak menemukan sosoknya.

“Oppa, ternyata kau serius dengan ucapanmu? Kau pergi meninggalkanku sendiri?” lirihku. Air mata sudah menggenang di pelupuk mataku. Aku segera mengambil handphoneku dari dalam tasku, mengetikkan nomor yang kuhapal di luar kepalaku.

“Yeoboseyo? Eonni, bias kau menjemputku sekarang di kuil Bulguk? Ne, arasseo.. aniya, gwenchana”

Aku memutuskan sambungan telponku dengan Minrin eonni. Aku berjalan keluar dari kuil Bulguk, dan menunggu Minrin eonnin di depan gerbang. Aku duduk di bangku dekat gerbang, menelungkupkan wajahku. Pikiranku melayang, wajah Jinki oppa terbayang-bayang di benakku. ‘Kenapa ia tega meninggalkanku sendirian? Ia, tidak pernah meninggalkanku seperti ini sebelumnya.. apakah kau sudah tak mencintaiku lagi, oppa?’ batinku sedih. Air mata yang sudah susah payah kutahan, kini tumpah. Aku tak sanggup lagi! Aku tak bisa, jika dia sudah tak mencintaiku lagi.

“Harin-a?” ujar seseorang menepuk pundakku. Aku mendongakkan kepalaku, melihat orang di hadapanku.

“Eonni..” lirihku. Aku langsung memeluknya, menangis di pelukannya. Air mataku bercucuran mengenai baju yang dikenakan Minrin eonni.

“Sshh.. uljimayo Harin-a” ujar Minrin eonni, mengeratkan pelukannya. Ia mengusap punggungku, berusaha membuatku tenang. Aku melepaskan pelukanku saat tangisku sudah mereda. Aku mengusap sisa-sisa air mata di wajahku, memaksakan senyum untuk Minrin eonni.

“Gomawo eonni” ujarku

“Cheonma.. kajja! Kita pergi jalan-jalan!” seru eonniku itu ceria. Aku menganggukkan kepalaku dan beranjak kea rah mobilnya.

“Kita mau kemana eon?” tanyaku, saat aku sudah duduk di jok depan mobilnya.

“Kita makan saja ya? Aku lapaaar” ujarnya cemberut. Aku tertawa melihat tingkah eonniku ini, ia seperti anak kecil! Aku jadi gemas ingin mencubit pipinya

“Haha, arasseo eonni” ujarku. Ia menoleh ke arahku dan tersenyum. Lalu memfokuskan pandangannya kembali pada jalanan di depan.

“Harin-a.. kenapa kau bisa ada di kuil Bulguk? Bukannya tadi kau pergi dengan Onew?” Tanya Minrin eonni hati-hati. Aku menghela nafas mendengar pertanyaannya. Sebenarnya aku malas untuk membicarakan ini, tapi kurasa Minrin eonni perlu tahu tentang ini. Aku tidak bisa menyimpan masalah sendirian, bukan? Jika aku menyimpan masalahku sendirian, bisa-bisa aku stress di buatnya, karena tidak bisa menemukan solusinya. Lebih baik aku menceritakannya pada Minrin eonni.

“Ne, aku tadi pergi bersama Jinki oppa. Tapi, tadi ia meninggalkanku sendirian di sana. Tanpa pamit padaku” ujarku

“Sepertinya.. ia tidak mencintaiku lagi eon..” lanjutku. Dapat kulihat, Minrin eonni kaget dengan ucapanku barusan.

“Ya! Harin-a! jangan berpikiran seperti itu dulu! Mungkin ia ada keperluan yang sangat mendadak sekali, sampai-sampai ia meninggalkanmu begitu saja. Jangan negative thinking dulu” nasihat Minrin eonni.

“Ne, ne.. arasseo eonni” ujarku mengiyakan ucapan eonniku ini.

“Nah, kita sudah sampai. Kajja! Aku lapar sekali Harin-a” ujarnya mematikan mesin mobilnya. Aku melepas seatbeltku dan beranjak keluar mobil, menyusul Minrin eonni. Aku segera menyamai langkah eonniku, dan berjalan di sampingnya.

“Ini di mana eon?” tanyaku

“Ini namanya XX café, kudengar dari seorang temanku, makanan di sini enak” ujarnya. Aku hanya ber-oh ria mendengar ucapan eonniku.

Klinong.. klinong..

Lonceng berbunyi saat Minrin eonni membuka pintu café ini. Aku mengikuti langkah Minrin eonni, dan masuk ke dalam café.

“Harin-a, kau cari tempat duduk ya? Biar aku yang memesan makanan” perintah Minrin eonni. Aku menganggukkan kepalaku, dan mulai mencari tempat duduk. Ah! Kebetulan sekali, ada tempat duduk yang kosong di dekat jendela. Aku langsung beranjak ke sana, dan menunggu Minrin eonni. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling café ini. Ternyata banyak juga yang ke café ini. Aku dapat melihat ada segerombolan yeoja SMA yang sedang asik membicarakan sesuatu. Tapi, dapat kulihat di meja mereka, terdapat poster-poster SHINee. Aku tersenyum getir melihat itu. Bayangan wajah Jinki oppa muncul kembali di benakku. Aku segera mengalihkan pandanganku dari mereka, dan melihat ke arah lain. Aku melihat ada seorang namja dan yeoja sedang mengobrol. Tapi.. wait! Kenapa baju yang dikenakan namja itu sama dengan yang digunakan Jinki oppa tadi? Aku agak kesulitan melihat wajahnya, karena ia mengenakan kacamata hitam besar, dan wajahnya juga tertutupi oleh syal tebal. Pandanganku kini beralih ke yeoja yang berada di hadapannya. Yeoja itupun tidak jauh berbeda penampilannya dengan namja di depannya. Ia juga mengenakan kacamata hitam besar, dan ada masker yang menutupi wajahnya. Ia mengenakan hoodie berwarna hijau. Kenapa, aku berpikir bahwa yeoja itu Victoria eonni? Aish! Mana mungkin Harin-a! aku menepuk pelan kepalaku, menyadari pikiran konyolku. Mereka tidak mungkin Jinki oppa dan Victooria eonni kan?

“Harin-a? kau kenapa?” Tanya Minrin eonni duduk di hadapanku, setelah menaruh makanan yang dipesannya di atas meja.

“Aniya eonni.. aku hanya berpikir bahwa yeoja dan namja di sana adalah Jinki oppa dan Victoria eonni. Tapi itu tidak mungkin kan?” ujarku tersenyum pada Minrin eonni.

“Yeoja dan namja mana yang kau maksud?” tanya Minrin eonni heran. Aku menolehkan kepalaku dan mengarahkan telunjukku untuk menunjuk namja dan yeoja yang kumaksud. Dan JEGEEERR! Aku seperti tersambar petir saat melihat mereka. Ternyata mereka memang benar Jinki oppa dan Victoria eonni! Mereka melepas atribut yang menutupi wajah mereka. Dan mereka.. berciuman….?

Air mataku mengalir deras di pipiku. Aku tak percaya ini! Ternyata.. ia benar-benar sudah tak mencintaiku lagi

“Kajja eonni, kita pergi dari sini” ujarku mengusap air mataku, dan tersenyum getir. Aku sengaja berjalan melewati mereka, dan menghampiri mereka sebentar.

“Jadi, karena ini alasanmu meninggalkanku sendirian? Arasseo, sekarang aku mengerti Tuan Lee.” Ujarku tersenyum getir di hadapannya. Ia menatapku dengan pandangan tak percaya dan kaget. Ia menatapku dengan tatapan bagaimana—kau—bisa—berada—di—sini?

“Kajja eonni, kita pulang” ujarku menarik tangan Minrin eonni keluar dari café terkutuk itu. Lee Jinki, kau benar-benar sukses membuatku hancur berkeping-keping.

Flashback off

 

-oOo-

 

Ini sudah hari ke-7 aku tidak membalas pesan ataupun mengangkat telepon dari Jinki oppa. Sudah seminggu ini aku mendiamkannya. ‘Aku tidak ingin peduli lagi padanya’ tekadku. Aku berjalan menyusuri lorong kampusku. Jam kuliahku sudah berakhir 5 menit yang lalu. Dan kini aku bergegas untuk pergi ke butik Appaku. Aku di suruh Minrin eonni untuk membantunya. Yah, paling ia hanya meminta pendapatku, lalu setelah itu memintaku untuk menjadi modelnya saat fashion shownya digelar. Tapi, aku menyukai hal ini. Setidaknya, ini bisa menyibukkanku untuk sementara waktu, dan berhenti memikirkan namja itu.

“Annyeong Harin-ssi” ujar orang-orang yang melewatiku.

“Annyeong” ujarku tersenyum kepada mereka dan melanjutkan jalanku.

“Annyeong sunbae” ujar segerombol yeoja—yang sepertinya masih semester pertama—menyapaku.

“Annyeong” ujarku—lagi lagi—tersenyum. Mereka tampak kegirangan saat aku membalas sapaan mereka. Aku tertawa kecil melihat tingkah mereka. ‘Kenapa mereka bisa sesenang itu?’ batinku heran. Aku hanya mengangkat kedua bahuku dan kembali melanjutkan langkahku ke tempat parkir, yang sempat tertunda tadi. Aku menekan tombol openlock otomatis di kunci mobilku. Aku duduk dengan tenang di jok mobil kesayanganku ini. Kunyalakan mesinnya, dan mulai mengendarainya dengan kecepatan sedang. Aku memasang headset di telingaku, dan membesarkan volumenya.

Drrt.. Drrt..

Aku segera merogoh handphoneku setelah ia bergetar barusan. Ternyata ada pesan dari Minrin eonni.

 

From    : Minrin eonni

Harin-a! palli~!! Aku benar-benar sangat membutuhkan bantuanmu sekarang! Palliwaaaaa~!! >;(

 

Aku mendecak kesal membaca pesan dari Minrin eonni.

 

To        : Minrin eonni

Arasseo, sabarlah sedikit! Aku sedang dalam perjalanan! 5 menit lagi aku sudah di sana

 

Sent!

Aku melempar pelan handphoneku ke jok di sebelahku, lalu kembali focus dengan jalanan. ‘Ah! Ini lagu favoritku!’ batinku senang, saat ipodku memutar lagu Jang Woohyuk – Time is [L]over. Aku mendengarkan dengan seksama lagu ini. Aku memejamkan mataku menikmati lagu ini. Aku benar-benar menyukai lagu ini. Apalagi saat aku melihat pertunjukkan livenya! Yang benar-benar membuatku jatuh hati pada Jang Woohyuk—mantan personel H.O.T itu!! Dancenya sungguh keren sekali! Membuatku benar-benar menyukai lagunya!

-oOo-

 

Telah terjadi kecelakaan lalu lintas beberapa saat yang lalu, sekitar 5 menit yang lalu. berikut merupakan kronologi kecelakaan tersebut. Sebuah mobil Hyundai Genesis Coupe berwarna putih tengah melintas dengan tenang di jalanan Seoul. Mobil tersebut melaju dengan kecepatan standar, mendekati perempatan lampu merah. Lampu lalu lintas berubah menjadi merah, saat mobil itu masih berjarak sekitar 5 meter dari batas lampu lalu lintas. Pengendara mobil tersebut—Park Harin—tidak memperhatikan jalan raya, dan terus melajukan mobilnya. Dan, kecelakaan pun tak dapat terhindari lagi. Mobil Hyundai Genesis Coupe berwarna putih itu, menabrak sebuah truk dan terpental 5 meter dari TKP. Saat ini, sang pengendara—Park Harin—sedang dilarikan ke Seoul Hospital oleh para saksi mata.

Tanganku mengepal mendengar berita di TV. Hatiku terasa tersayat oleh beribu-ribu pisau saat melihat mobil yeoja yang kucintai terguling dan mulai mengeluarkan asap.

“Jjong, bilang pada yang lain aku pergi sebentar. Aku harus memastikan keadaan Harin” ujarku pada Jonghyun yang berada di sebelahku. Aku langsung bergegas keluar dari dorm dan melajukan mobilku ke Seoul Hospital. ‘Kuharap kau baik-baik saja chagiya’ batinku.

-oOo-

 

Seorang namja dengan kacamata hitam dan topi berlari tergesa-gesa ke resepsionis Seoul Hospital.

“Hosh.. Hosh.. Tolong beritahu aku di mana pasien bernama Park Harin—korban kecelakaan beberapa saat yang lalu di rawat!” ujarnya. Dari wajahnya, tampak sekali ia sedang mengkhawatirkan yeoja bernama Park Harin yang tadi di sebutnya.

“Dia sekarang berada di ruang operasi di lantai 5” ujar resepsionis tersebut, yang mampu membuat namja itu shock mendengarnya.

“Ruang operasi? Andwae..” ucapnya pelan, pelan sekali.

“Gamsahamnida” ujarnya bergegas menuju lift. Ia mengumpat saat sampai di depan pintu lift. Ia harus menunggu lift tersebut menuruni 10 lantai dulu, baru ia bisa naik menggunakan lift. Akhirnya ia memutuskan untuk menaikki tangga darurat. Ia menaikki tangga dengan tergesa-gesa. Terlihat peluh membasahi wajahnya, tapi ia tidak peduli dan terus menaikki tangga. Hingga ia sampai di lantai 5. Ia segera berlari menyusuri lorong di lantai 5 tersebut dan mencari ruang operasi. Matanya menangkap sosok seorang yeoja yang dikenalnya.

“Minrin!!!” serunya menghampiri Minrin yang tengah terduduk lesu di depan pintu ruang operasi.

“Minrin-ah! Apakah Harin ada di dalam?! Apa yang terjadi padanya?!! KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU?!!!” serunya panic. Ia mengguncang-guncangkan pundak Minrin, menuntut jawaban dari yeoja bernama Minrin itu.

“Harin.. dia kecelakaan!! Hiks.. hiks.. mianhae onew-ah, aku belum sempat memberitahumu. Aku benar-benar shock dengan kejadiaan ini” ujarnya dengan air mata yang mengalir deras di wajahnya. Onew—namja tadi—memukul dinding dengan keras. Air mata tampak mulai mengalir di wajahnya.

“Mianhae Harin-a.. mianhae.. jeongmal mianhaeyo..” lirihnya. Ia merasa benar-benar kehilangan oksigennya. Tubuhnya merosot ke lantai, kakinya tak mampu menahan bobot tubuhnya lagi. Bibirnya bergetar, menahan tangis yang sudah pecah. Ketegangan tampak kentara sekali di wajahnya.

‘Harin-a, mianhae.. aku menyesal’ batinnya.

Tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka lebar, dan keluarlah dokter Cha—dokter yang menangani Harin—dari ruang operasi tersebut. Beliau berjalan menghampiri Minrin dan Onew.

“Operasinya berhasil. Ia hanya mengalami benturan kecil di kepalanya. Masa kritisnya pun sudah lewat. Sekarang, kita hanya bisa menunggunya sadar, dan berdoa pada Tuhan, untuk yang terbaik baginya” ujar dokter Cha tersenyum hangat, memberikan semangat pada kami.

“Ia sudah dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Kalian bisa melihatnya” tutur dokter Cha

“Gamsahmnida Cha uisa” ujar Minrin dan Onew membungkukkan badan mereka.

“Cheonmayo.. saya pamit, masih ada pasien yang harus saya tangani. Annyeong” ujar dokter Cham, meninggalkan mereka.

“Annyeong” balas Minrin dan Onew. Mereka bergegas ke ruang perawatan Harin untuk melihat bagaimana keadaannya. Onew merasa seperti tersambar petir melihat pemandangan di depannya. Kini, yeoja yang sangat amat ia cintai itu, terlihat sangat rapuh dan lemah. Berbagai selang dan peralatan dokter terpasang di tubuhnya. Onew menatap miris melihat pemandangan di depannya. Hatinya terasa amat sangat sakit melihat keadaan yeojanya itu.

***

Aku tersenyum getir melihat keadaan Harin. Hatiku terasa sangat amat sakit, melihatnya terbaring lemah di atas kasur dengan berbagai peralatan dokter yang terpasang di tubuhnya. Minrin berjalan melewatiku dan menghampiri Harin.

“Harin-aaahh.. hiks.. hiks.. mianhae… hiks.. ini semua.. hiks.. pasti.. hiks.. karena eonnimu hiks.. yang pabo ini.. hils.. mianhaeeee..” ujarnya menangis.

“Seandainya.. hiks.. aku tak menyuruhmu.. hiks.. untuk dating cepat hiks.. hiks.. kau pasti.. hiks.. tidak berada di sini sekaraaaaang~ hiks.. hiks.. mianhaeee” lanjutnya. Aku terpaku melihatnya. Sungguh, aku merasa seperti pria tak berguna, karena tidak bisa melindungi yeojanya.

-oOo-

 

“Kibummie, aku tidak pulang malam ini. Aku harus menemani Harin di rumah sakit. Ne, arasseo. Ne, gomawo kibum-ah”

Aku memutuskan sambungan telponku dengan Kibum—Key. Aku menatap sedih wajah yeojaku ini. Ini sudah 5 jam sejak operasinya berlalu, tapi ia belum sadar juga. Minrin sudah terlelap di sofa yang tak jauh dari tempatku sekarang—di samping ranjang Harin. Sepertinya ia sangat kelelahan.

Kuraih tangan Harin yang tergeletak di dekatku. Kugenggam tangannya dengan kedua tanganku, dan menempelkannya di wajahku.

“Mianhae, Harin-ah.. mianhae, jeongmal mianhaeyo.. aku tidak pernah mencintai yeoja lain ataupun berhenti mencintaimu.. hanya ada kau di hatiku ini.. mianhae, kejadian yang kau lihat di café waktu itu hanya rekayasaku belaka.. mianhae, aku telah menyakitimu.. mianhae, jeongmal mianhaeyo..” ujarku, menahan tangis yang hendak pecah.

“Chagiyaaaa~ jebal.. sadarlah.. jebal, jangan pergi meninggalkanku.. aku tak bisa tanpamu.. jebal..” ujarku berlinang air mata.

“Saranghae Park Harin” ujarku.

“Eeenngghh..” aku tersentak melihat Harin yang mengerang kecil. Matanya mengerjap-ngerjap terbuka. Ia sadar? Sadar? IA SUDAH SADAR!!

“Harin??” tanyaku tak percaya. Ia menatapku dengan pandangan heran.

“Harin? Chagiyaaaa?? Kau sudah sadar?” ujarku senang, mengusap air mata di wajahku. Ia mengernyit mendengar ucapanku.

“Chagiya? Neo.. nuguya?”

 

TO BE CONTINUED

 

A.N. : Huwaaa~ akhirnya di publish juga ini ff, hehe.. hope you guys enjoy it! Don’t forget to RCL okay? ;)

3 thoughts on “I Always Here For You [part 1]

  1. huaaa…
    Jangan bilang harin kena amnesia…
    Aduhh… lagian Onew da2 ja deh, bikin Harin cemburu..
    Cepet sembuh ya Harin…
    Part 2 kpn di publish???
    Fighting,,

    Jia Jung

  2. tuh kan pasti Harin amnesia lagian sih sapa suruh Onew ninggalin Harin-ah d Kuil + ciuman ‘REKAYASA’*sengaja bagian rekayasa d tekan* bersana Vic eonnie -_-” malangnya nasibmu Onew oppa menerima batu yg kau lempar *maksudnya dapet yg gak enak gra2 ninggalin Harin +ciuman rekayasa ama Vic eonnie* -_-” malangnya dirimu Jinki , salahkan dirimu sendiri jika Harin amnesia -_-“

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s