Hey, I’m Your Lady [part 1]

Author: Kei

 

Main Cast: Leeteuk, Eunhyuk

Rating: SU

Genre: Romance

Ps: Kei is back with new chaptered FF

With new format and hope that you’ll like it

So here it is…

Jieun:

Aku menundukkan kepalaku menahan pusing yang tiba-tiba datang menyerang. Mungkin karena benturan yang tadi terjadi, pikirku sambil memijat kening perlahan. Tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki yang bertempo cepat berjalan ke arahku. Dua orang kalau aku tidak salah menebak.

“Mana Yejin? Dia baik-baik saja kan?” Tanya seorang laki-laki yang memakai jas dan kemeja berwarna hitam kepadaku. Dari wajahnya terlihat kekhawatiran terhadap nasib orang tersebut.

Aku mendongakkan kepalaku. Memandangnya dan mencoba mencerna pertanyaannya. Oh, Yejin. Dia bertanya tentang keadaan Yejin. Aku pun menunjukkan sebuah ruangan yang berada tidak jauh dari tempatku duduk tanpa bisa berkata apa-apa.

Dia mengikuti arah jari telunjukku dan dengan cepat bergerak ke arah ruangan tersebut dan masuk. Sementara laki-laki yang berjalan bersamanya melihatku dan tersenyum sambil bertanya, “Kau tidak apa-apa?”

Aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Dia mengelus lembut rambutku sebelum akhirnya berjalan ke arah ruangan yang tadi kutunjukkan. Tidak sampai lima belas menit kemudian mereka bertiga, Yejin dan ke dua laki-laki yang tadi memasuki ruangan, keluar dari ruangan. Yejin berjalan di tengah sementara laki-laki yang datang pertama berjalan di sebelah kirinya dengan tangan yang dimasukkan ke saku dan laki-laki yang datang kedua memegangi tangan kiri Yejin yang tidak terbalut perban.

“Maaf membuatmu menunggu lama. Kau yakin tidak apa-apa?” Tanya Yejin padaku sambil tersenyum.

Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk.

“Ayo kita pulang.” Ajaknya. “Eunhyuk perhatikan istrimu. Dia juga terluka.”

Dia berjalan terlebih dahulu. Sementara laki-laki yang memakai kemeja hitam, yang datang ke ruangan itu pertama kali, memandangku dengan pandangan sebal.

“Cepat berdiri.” Katanya singkat. Dia berdiri di samping kursi yang kududuki dengan tangan yang masih berada di saku celana.

Aku menghela nafasku sebentar dan berusaha menahan sakit kepala yang tidak kunjung berhenti yang membuat pandanganku berputar-putar.

“Cepat!!” katanya sekali lagi. Sebal mungkin karena aku tidak segera bangun dan berdiri. Dengan satu gerakan cepat dia membantu atau lebih tepatnya memaksaku berdiri dengan menarik lengan kananku.

“Aw, sakit.” Responku.

“Jangan manja! Cepat berdiri. Aku tahu ini hanya bagian dari trikmu untuk memperingan kesalahanmu karena telah membuat Yejin terluka kan?” katanya sambil tersenyum mengejek dan tetap mencengkram lengan kananku.

“Aku tidak pernah sengaja ingin mencelakai Yejin. Aku hanya sedang fokus dengan ponselku sampai tidak tahu kalau ada mobil yang hampir menabrakku.” Kataku membela diri.

Yeah, right!” jawab Eunhyuk meremehkan semua pembelaan diriku.

Saat ini kami telah berada di parkiran rumah sakit. Sedari tadi Eunhyuk terus memegang lengan kananku sehingga dia bisa mengontrol langkahku agar berjalan sesuai dengan tempo jalannya. Baru setelah sampai mobil, dia menempatkanku di sisi mobil penumpang sedangkan dia berjalan memutar, melalui belakang, ke sisi mobil yang satunya. Sewaktu aku mau membuka pintu mobil, tiba-tiba saja sakit kepala yang sedari tadi menyerangku kembali datang dan membuat kepalaku serasa ingin pecah. Yang selanjutnya aku tahu adalah tiba-tiba saja semuanya menjadi gelap dan hening.

Aku mendengar suara-suara yang tidak jelas perlahan-lahan menjadi jelas. Ada suara dokter Chang dan Yejin yang sedang mengobrol.

“Kenapa dia tidak diberi infus dok?”

“Keadaannya stabil. Dia hanya butuh istirahat.” Jawab dokter Chang. “Lebih baik malam ini dia tetap tinggal disini.”

“Aku mau pulang.” Jawabku setelah akhirnya aku berhasil membuka mataku dan mengumpulkan tenaga.

“Kau sudah sadar?” Tanya dokter Chang sambil membuka paksa mataku dan menyorotkan cahaya melalui sebuah senter.

“Aku mau pulang.”

“Kau harus tinggal disini, Jieun ah.” Kata Yejin sambil mengelus tangan kiriku. “Kau pingsan dan kehilangan banyak darah. Semua ini salah Eunhyuk yang tidak bisa menjagamu dengan baik.”

Laki-laki yang menjadi topik pembicaraan itu berdiri tepat di depanku, menyenderkan badannya ke tembok sambil memandangku tajam. Aku tidak bisa mengartikan pandangan matanya. Mungkin dia sebal karena aku imagenya di depan Yejin menjadi buruk atau bahkan dia sedang menyelamatiku karena berhasil merebut perhatian semua orang sebagai sosok perempuan lemah.

“Aku baik-baik saja kok. Aku mau pulang. Aku tidak suka rumah sakit.” Jawabku sambil tersenyum dan berusaha keras agar Yejin percaya.

“Aku bisa pulang sekarang kan dokter Chang?”

Dokter Chang mengangguk menyetujui permintaanku walaupun tersirat kekhawatiran akan keadaanku. Tapi dokter yang telah merawatku dari kecil itu tahu bagaimana keadaan tubuhku sehingga dia memperbolehkanku pulang. “Tapi kau masih harus menemuiku lusa untuk kontrol.”

Aku berusaha untuk bangun dan mengumpulkan kesadaranku dibantu oleh Yejin yang masih saja menggerutu sebal karena dokter Chang yang memperbolehkanku pulang. “Kau itu bagaimana sih Eunhyuk? Masa istrimu mengeluarkan banyak darah seperti itu kau tidak sadar? Lengan bajunya memerah dan kau bilang tidak tahu?” tuduh Yejin sambil memandang Eunhyuk.

Eunhyuk hanya diam saja menerima setiap tuduhan yang dilemparkan Yejin padanya.

“Selain itu dia yang terluka lebih parah dariku. Kepalanya terbentur paving block dan lengannya tergores besi yang ada di jalur pedestrian.”

“Hei, sudahlah onnie. Kau membuatku semakin pusing dengan segala omonganmu itu.” Potongku cepat. Yejin hanya cemberut memandangku. Bukannya diam dia malah semakin memperpanjang omongannya. “Kau juga bersalah Jieun ah. Kalau kau merasa pusing kenapa kau tidak mengatakannya pada suamimu? Dia bukan dokter yang bisa menilai keadaan orang hanya dengan memandangnya.”

“Ayo biar kudorong kau ke mobil.” Kata Yejin sambil mendudukkan ku ke kursi roda. “Setidaknya akan kupastikan kau selamat sampai mobil.” Katanya sambil memandang Eunhyuk tajam.

Sesampainya di tempat parkir apartemen, Eunhyuk memaksa untuk menggendongku hanya karena Yejin yang memaksanya. Dia masih khawatir dengan keadaanku dan takut kalau aku bisa pingsan secara tiba-tiba kalau tidak digendong.

Yejin, saudara iparku yang manis. Dia onnieku hanya berbeda beberapa bulan. Dia menikahi Leeteuk oppa, kakak Eunhyuk, dua tahun sebelum aku menikah dengan Eunhyuk. Dia adalah tipe perempuan biasa, bukan tipe sosialita sepertiku, yang bekerja di sebuah majalah dan peduli terhadap lingkungan. Dia terlahir dari sebuah keluarga yang berkecukupan. Mempunyai dua kakak laki-laki membuatnya sedikit manja, kemanjaan khas anak bungsu, yang menyenangkan. Dia lebih suka memakai celana kargo dan kaus daripada blus dan rok bahan. Dia lebih suka berada di alam dan berpanas-panasan mengejar narasumber daripada duduk cantik di kantor berhadapan dengan laporan dan komputer. Mungkin kalau bukan karena ayahnya adalah sahabat dari ayah Leeteuk oppa, yang juga ayah mertuaku, tidak mungkin dia dan Leeteuk oppa menikah.

 

Eunhyuk:

Aku berjalan keluar kamar dan membiarkan Jieun sendirian di kamar. Aku tidak tahan kalau harus bersama perempuan licik sepertinya. Tipikal perempuan kota manja yang tidak mau ditolak keinginanya. Iya, setelah dia gagal menikahi hyung ku, Leeteuk, pasti sekarang dia mengincar Yejin karena dia tahu aku menyukai kakak iparku itu. Kasihan Yejin, perempuan itu tidak tahu apa-apa tentang perasaanku padanya. Yang tahu perasaanku ini awalnya hanya Leeteuk hyung. Itupun karena dulu Yejin pernah hilang saat peliputan di salah satu daerah pegunungan, yang malah menjadi titik balik bagi hubungan Leeteuk hyung dan Yejin.

Pernikahan Leeteuk hyung dan Yejin adalah hasil dari perjodohan orang tua ku karena melihat ketidak beresan hyung ku itu dalam kehidupan percintaannya. Pesona dan wajahnya yang tidak bisa ditolak oleh para perempuan, menurut pengakuannya tentu saja, membuatnya mempunyai banyak kekasih dan kebanyakan dari mereka hanya dianggap angin lalu. Sampai akhirnya appa menjodohkannya dengan Yejin, seorang perempuan yang tidak berasal dari lingkungan sosial yang sama dengan kami (Yejin tidak miskin hanya saja kehidupan keluarganya tidak seglamour kehidupan keluarga kami), dan akhirnya mereka menikah dua tahun yang lalu.

Hyungku yang dulunya mengabaikan Yejin dengan cara lebih senang bekerja mengurus perusahaan appa di luar negeri membuatku menaruh iba pada saudara iparku sehingga aku sering mengajaknya bepergian. Entah sekadar nongkrong di café ataupun pergi menemaninya liputan di pinggir kota. Sehingga lambat laun aku pun mencintainya. Sayang setelah kejadian hilangnya Yejin waktu itu malah membuat Leeteuk hyung menyadari bahwa dia mencintai Yejin dan mereka pun kembali dekat.

Enam bulan yang lalu, appa menjodohkanku dengan Jieun.

Jieun adalah salah seorang marketing manager di salah satu perusahaan appa. Dia adalah anak dari salah satu sahabat lama appa. Anehnya adalah dia tidak menolak perjodohan itu, padahal aku mati-matian menolak perjodohan itu. Bukan karena aku punya pacar, tapi aku tidak suka perempuan seperti Jieun. Perempuan yang hanya tahu barang bermerek, bodoh, suka berpesta, dan hanya tahu caranya menghabiskan uang. Tipe perempuan yang sangat aku benci. Tidak seperti Yejin, perempuan pekerja keras yang tidak suka pesta, nyaman dengan bajunya yang tidak bermerk, dan yang pasti tidak alergi dengan kendaraan umum.

Setelah seharian meninjau lokasi gedung baru aku dan hyung dikagetkan dengan telpon dari salah satu crew peliputan Yejin yang mengatakan bahwa dia mengalami kecelakaan. Kami berdua dengan tergesa-gesa pergi ke rumah sakit untuk mengetahui apa yang terjadi ditambah dengan kejadian ekstra, drama pingsannya Jieun, membuat baik badan dan pikiranku lelah. Lebih baik aku tidur karena besok pagi aku ada rapat dengan dewan direksi.

Jieun terlihat resah dalam tidurnya. Nafasnya memburu dan wajahnya terlihat tidak tenang. Ada apa lagi sih dengan perempuan ini? Tidak cukupkah drama yang dia buat di rumah sakit tadi? Aku berjalan mendekatinya dan memegang keningnya (Tadi dokter Chang memperingatkanku kalau malam ini kemungkinan besar Jieun akan demam tinggi karena lukanya yang sedikit terlambat ditangani tadi sehingga menyebabkan antibodinya berperang melawan kuman-kuman yang ada). Panas, tepat seperti dugaan dokter Chang, dan membuatku sebal karena aku harus mengompresnya.

Setelah selesai mengopresnya dengan air hangat, aku pun melihat perban yang ada di lengannya itu. Bagaimana mungkin aku tidak melihat perban itu tadi sewaktu menariknya berdiri dari kursi? Pasti aku bisa merasakan benda itu diantara tanganku dan lengannya. Sekarang perban itu kembali mengeluarkan warna merah karena pergesekan antara lengan Jieun dan kasur.

Aku kembali ke kamar dengan menenteng sebuah kotak obat yang berisi perban, kapas, dan perekat. Pertama-tama aku melepas baju Jieun yang sudah penuh dengan darah dan juga kotor baru setelah itu aku mengganti perbannya dengan perban baru. Saat aku mau menyingkirkan perban lama, Jieun secara tidak sadar memegang tanganku erat dan tidak mau melepasnya. Entah apa yang sedang ada di mimpinya. Dia memegangnya sangat erat dan keningnya pun berkerut. Baiklah Jieun, ku turuti kemauanmu. Tapi ingat hanya malam ini dan hanya karena kau sedang sakit, yang entah itu benar-benar kecelakaan atau tidak.

 

Jieun:

Kalau tidak karena tenggorokanku yang terasa kering aku tidak akan memaksa membuka mataku. Aku merasa sakit di seluruh bagian tubuhku. Ah, memang sungguh sial aku kemarin. Mungkin kalau bukan karena pesan dari si bodoh Henry, sahabatku, aku pasti akan memperhatikan jalan dan tidak berakhir di rumah sakit seperti kemarin.

Aku mengerjap-kerjapkan mataku membiasakan dengan terangnya kamar oleh sinar matahari. Terlihat Eunhyuk yang sedang tidur di sebuah kursi yang disusun berhadapan tepat di sebelah kasurku. Dia masih memakai pakaiannya yang kemarin. Bedanya adalah jasnya sudah dibuka sehingga dia hanya memakai kemeja hitam yang kancing lehernya telah terbuka, lengan kemeja yang tergulung tidak rapi serta sepatu yang telah tergantikan oleh sandal rumah. Kotak obat terbuka dan perban yang sudah ada noda darahnya masih tergeletak di nakas samping tempat tidur.

Aku berusaha untuk bangun tapi sayang kepalaku masih pusing. Aku meraba keningku dan merasakan sebuah handuk kering berada disana. Jadi semalaman dia menjagaku? Wow, kenapa dia tiba-tiba menjadi sebaik ini? Ada apa? Apakah semalam Yejin datang dan memarahinya?

“Kau sudah bangun?” tanyanya sambil menggeliat dan menguap.

“Kau semalaman tidur disitu?” tanyaku balik.

Dia mengangguk dan memegang dahiku secara tiba-tiba. “Demammu sudah turun. Iya aku semalam tidur di kursi itu dan sekarang badanku sakit semuanya.”

“Kenapa kau tidak tidur di kasur saja?”

“Tanganmu yang menggegam tanganku erat sehingga aku tidak bisa melepaskannya. Kau mimpi apa sih semalam?”tanyanya sambil berjalan ke arah kamar mandi. “Oh ya, aku mengganti baju dan perbanmu semalam.”

Aku melihat bajuku yang memang telah tergantikan dengan piyama tidur berwarna pink. Aku ingat semalam aku masih memakai blus berwarna kuning gading dan celana bahan hitam. Dia mengganti bajuku? Itu berarti dia melihatku hanya dengan pakaian dalamku? Oh, tidak!! Tapi tunggu sebentar, dia tidak mungkin tergoda (well, dulu aku pernah memakai lingerie dan menggodanya untuk tidur denganku. Tapi apa yang terjadi? Dia hanya tertawa sinis sambil meninggalkanku begitu saja) dia kan setengah mati membenciku.

“Obatmu akan di antarkan nanti siang.” Katanya sebelum pergi ke kantor dan meninggalkanku sendirian di apartemen.

**

“Berhentilah mengaduk-aduknya Hyuk.” Kata Yejin yang sedang memotong daun bawang. Eunhyuk sengaja tidak mendengarkan kata-kata Yejin dan tetap mengaduk bubur tersebut dan membuat Yejin marah. Dia mencubit lengan Eunhyuk dan membuatnya berteriak kesakitan.

“Kau yakin aku tidak perlu membantumu, jagi?” Tanya Leeteuk oppa dari sofa di ruang tengah.

“Tidak perlu. Kau temani saja Jieun.” Jawab Yejin.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Leeteuk oppa padaku.

Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Sore ini Yejin dan Leeteuk oppa datang ke apartemen kami karena mereka khawatir dengan keadaanku. Yejin bilang dia akan membuatkanku bubur paling enak agar aku cepat sembuh. So here they are, Yejin di dapur dengan Eunhyuk dan aku di ruang tengah dan Leeteuk oppa.

Oppa aku minta maaf membuat Yejin terluka. Itu semua karena kecerobohanku.” Kataku pada Leeteuk oppa.

Dia memandangku sambil tersenyum, “Dia tidak apa-apa kok. Kenapa malah kau menghawatirkannya? Lukamu lebih parah darinya.”

“Aku tidak apa-apa kok. Cuma sedikt tergores.” Kataku.

“Tergores dan membuatmu pingsan?” tanyanya dengan kening yang sedikit berkerut. “Aku harap dongsaengku itu merawatmu dengan baik.”

Oh, Leeteuk oppa. Kenapa kau tidak menikah dengaku saja sih? Kenapa harus dia yang menikah denganku?

Oppa?”

“Hmmm?”

“Kau tahu kenapa aku tidak menolak perjodohan yang dilakukan oleh appaku?”

“Tidak. Mengapa?”

“Karena aku kira kau yang akan menjadi suamiku.”

“Hah? Aku kira karena kau sudah menyukai Eunhyuk.”

“Tidak. Aku bahkan tidak tahu kalau makhluk menyebalkan itu adalah adikmu.” Jawabku sekenanya.

“Hahahaaa. Kau ini lucu sekali, Jieun ah.” Katanya tertawa lepas dan membuat cekungan tipis di pipinya tercetak dengan jelas. “Aku rasa masakan Yejin sudah jadi. Ayo kita makan.”

Meja makan telah terisi hampir penuh dengan segala hal yang dimasak oleh Yejin. Mungkin lebih dari tiga macam masakan dan semuanya sangat menggoda selera. Aku duduk di hadapan Leeteuk oppa dan Yejin pun duduk di samping Leeteuk oppa.

“Hmmm,, looks yummy,  Yejin ah.” Pujiku sambil memegang sumpit dan melihat ke beberapa piring yang ada di tengah meja.

“Makan yang banyak Jieun ah. Biar kau cepat sembuh.” Katanya sambil mengambilkan beberapa lauk dan menaruhnya di mangkuk nasiku.

“Benar-benar enak.” Kataku setelah mencobanya.

“Ini untukmu oppa.” Kata Yejin sambil memberikan beberapa potong daging ke mangkuk Leeteuk oppa.

“Ini untukmu.” Kata Eunhyuk sambil mengambilkan sayur dan menaruhnya di mangkuk Yejin.

“Kau itu seharusnya mengambilkan beberapa lauk dan sayur untuk istrimu bukan untukku.”

“Kau sudah mengambilkan untuknya dan untuk hyung. Lalu siapa yang mengambilkannya untukmu kalau bukan aku?” Tanya Eunhyuk dengan senyum penuh arti. Aku menangkap arti lebih dari perkataannya. Seolah-olah dia berkata bahwa hanya dia yang memperhatikan Yejin. Tapi kelihatannya Yejin dan Leeteuk oppa tidak menyadari maksud perkataan Eunhyuk dan mereka pun meneruskan makan.

**

 

Eunhyuk:

Here I am, in the middle of another boring party. Pesta tahunan yang diadakan oleh perusahaan appa. Sebagai putra pemilik perusahaan tentu saja aku harus datang. Tapi aku bukan laki-laki pecinta pesta, tidak seperti hyungku Leeteuk, sehingga aku tidak tahu apa enaknya tinggal lama di pesta yang penuh dengan basa-basi dan perjanjian bisnis terselubung.

Eh, itu kan Yejin. Lebih baik aku hampiri saja daripada aku sendirian disini.

“Yejin ah.” Panggilku. “Kau cantik sekali malam ini.”

“Eunhyuk ah, benarkah?” Tanyanya sambil melihat bagian bawah gaunnya.

“Iya. Aku jarang sekali melihatmu memakai gaun.”

Dia tersenyum malu dan membuat pipinya bersemu merah. Ah, aku suka melihat wajahnya yang seperti itu. Manis sekali.

“Mana hyungmu?” Tanyanya.

“Dia? Hmmmmm.” Kataku sambil mencarinya diantara kerumunan kecil di pojok dekat meja minuman. “Ah, dia disana.” Tunjukku ke arah appa dan beberapa relasi kerjanya yang berada di tengah ruangan. “Mau kesana?”

Dia hanya menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mau mengganggunya. Lebih baik nanti saja.”

“Omong-omong kau tidak bergabung dengan teman-temanmu?” Tanyanya memandangku bingung.

“Aku tidak punya teman disini. Hanya ada relasi bisnis dan hubungan kami tidak sedekat itu.” Jawabku malas. “Lebih baik aku mengobrol disini denganmu.”

“Mana Jieun? Dia datang kan?” tanyanya dan saat ini sedang mencari Jieun di antara banyak kelompok kecil yang mengobrol.

“Dia sedang sibuk dengan teman-temannya.”

“Aku rasa kalau tidak ada kau aku tidak tahu harus melakukan apa.” Kata Yejin setelah beberapa saat kami mengobrol. “Aku baru menyadari kalau aku berasal dari dunia yang berbeda dengan kalian.”

“Maksudmu?”

“Lihatlah.” Katanya sambil menunjuk ke arah depan. “Leeteuk oppa dan Jieun yang sedari tadi sibuk berbicara dan berpindah-pindah dari kelompok satu ke kelompok lainnya. Beramah tamah kepada semua tamu undangan. Mengobrol dan tertawa ringan.” Dia memberhentikan kata-katanya sebentar untuk mengambil nafas. “Mungkin Leeteuk oppa seharusnya mendapatkan istri seperti Jieun.”

Aku melihatnya memandang nanar lurus ke depan. “Kau beruntung punya istri seperti Jieun. Pandai menempatkan diri dan cantik.”

Oh, Yejin ah. Andai saja aku bisa memutar waktu aku pasti mau bertukar Jieun denganmu. Aku tidak butuh perempuan seperti dia menjadi istriku. Aku mencintaimu dan menyukaimu apa adanya.

“Haruskah aku menjadi seperti Jieun, Eunhyuk ah?” tanyanya padaku. Kali ini pandangannya beralih dari Leeteuk hyung ke arahku yang berdiri disampingnya. “Eunhyuk ah. Eunhyuk ah!!”

“Hah?? Apa? Oh, tidak. Kau cantik apa adanya.” Jawabku sambil tersenyum.

“Dasar kau ini bermulut manis!”

“Tidak! Kau itu benar-benar cantik Yejin ah dan kau tidak perlu menjadi siapapun untuk membuatmu terlihat sempurna.”

Lagi, pipi Yejin bersemua merah. Dia tersenyum malu dan menundukkan wajahnya. Oh, Tuhan. Ini membuatku gila. Aku tahu tidak seharusnya aku menyukai kakak iparku sendiri. Tapi kenapa kau memberikanku rasa seperti ini?

“Oh, kalian disini?” kata Jieun secara tiba-tiba dan mengambil gelas minuman yang ada di tanganku. Ah, dasar pengganggu.

“Jieun ah.” Pekik Yejin kaget dengan kedatangan Jieun yang tiba-tiba. Dia tersenyum dan menyambut pelukan Jieun dengan senang.

“Sudah lama?”

“Lumayan.”

“Aku lelah. Berjalan kesana dan kemari.” Jawab Jieun sambil mengambil sebuah kue yang ada di piring milik Yejin dan memakannya.

Ya!!Ambil sendiri.” Kataku.

“Tidak apa-apa kan Yejin kalau aku mengambil ini?” Tanya Jieun sambil menunjukkan puppy eyesnya pada Yejin.

Tentu saja Yejin menjawab tidak apa-apa Jieun bodoh!

“Sudah lah Hyuk. Tidak apa-apa. Lagipula aku juga tidak memakannya.” Kata Yejin sambil memandangku dengan pandangan sok-marahnya. “Makan saja Jieun ah. Kau perlu energi yang banyak untuk menyapa semua orang.”

Jieun menjulurkan lidahnya ke arahku dan dengan rakusnya memakan kue itu bulat-bulat. Lihat tingkahnya sekarang. Seperti anak kecil. Apanya yang keren sih dari perempuan seperti itu?

-Tbc-

8 thoughts on “Hey, I’m Your Lady [part 1]

  1. Waduh eunhyuk oppa suka dgn kakak iparnya yaitu Yejin dan sebetulnya Jieun jg suka dgn Leeteuk oppa, like crossed love. Kasihan Yejin dan Jieun kecelakaan. Nice story.. ditunggu part selanjutnya author. Thanks

  2. sukaaaaaaa
    apalagi bias aku yang main cast nya haha
    suka deh beneran sama cara penyampaianmu kei
    aku suka deh kei :)
    kasihan yah jieun huhu
    pengen tw kelanjutannya :)

  3. hyuk tega bgt sih uistri y d cuekkin gt,,, walaupun tanpa cinta tp ada perhatian y ke dikit…..
    padahal di kecrlakaan itu yg parah jieun,,, ada simpatik y dikit walaupun benci n cuma nikah krn perjodohan…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s