Recursive [6]

Character/Pairing(s): Hyun Seung/HyunA(Trouble Maker)

Rating: R (warning: pembicaraan tentang Tuhan & agama)

Author: Ddanghobak

“All the world is made of faith, and trust, and pixie dust.” ― J.M. Barrie, Peter Pan

[0] [1] [2] [3] [4] [5] [6]

__________________________________________________________________

[Keep me sane]

From: HyunA

To: J.S.

Apa kau pernah berpikir bahwa Tuhan itu tidak adil? Dia menciptakan kekayaan, tapi juga kemiskinan. Dia menciptakan kebahagiaan, tapi juga menciptakan kesedihan. Kalau dia memang Mahaadil, aku tidak mengerti kenapa dia menciptakan nasib yang berbeda, beruntung dan tidak beruntung.

Apakah menurutmu dia gila pujian? Hingga hanya orang yang memuji namanya saja yang ia izinkan masuk ke surga-nya. Kalau dia menyayangi mahluknya, kenapa dia tidak membuat semuanya baik sehingga tidak ada yang masuk neraka? Mahaadil, Maha Penyayang, segala ke ‘Maha’-annya ini membuatku meragukannya. Tidakkah semua sifatNya akhirnya hanya jadi paradoks dan membuat dia sama saja seperti manusia pada umumnya?

Kenapa kita bisa percaya bahwa Yesus itu anak Tuhan? Injil? Yang direvisi tiap tahunnya oleh Vatikan? Bukankah itu berarti Injil tidak ada ubahnya seperti undang-undang yang dibuat oleh pemerintah? Lalu bukankah konsep Buddha jadi lebih masuk akal? Alam semesta ada karena proses sebab dan akibat yang disamarkan oleh waktu. Mereka tidak peduli pada penciptaan dan hanya ingin mencapai tahap aktualisasi diri.

Jelaskan agar aku mengerti. Siapa itu Tuhan?

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: J.S.

To: HyunA

Terus terang saja aku terkejut menerima e-mailmu ini. Kita selalu disatukan oleh perdebatan tentang Tuhan. Tapi biar aku coba menjawab pertanyaanmu, mungkin kali ini aku bisa meyakinkanmu.

Kalau Tuhan Mahaadil kenapa dia menciptakan nasib buruk dan nasib baik. Kenapa ada kaya, karena ada yang miskin. Kenapa kita tahu kebahagiaan, karena kita tahu kesedihan. Kenapa ada kebaikan, karena ada kejahatan. Kaya, bahagia, nasib baik, hanyalah sebuah ilusi yang didapatkan dari komparasi. Semuanya tergantung dari sisi mana kita melihat.

Tuhan tidak menciptakan kejahatan, hanya kebaikan yang diciptakan. Tapi kadarnya berbeda-beda. Semua orang bahagia, tapi dengan kadar yang berbeda-beda. Ketika dibandingkan inilah terbuat ilusi bahwa Tuhan menciptakan hal buruk. Tapi pada dasarnya, yang Dia ciptakan semuanya baik. Lawan dari baik bukan jahat, tapi tidak baik. Lawan dari kaya bukan miskin, tapi tidak kaya.

Apakah Tuhan gila pujian, hanya menerima orang yang memuji namanya? Bukan pujian yang diharapkannya, tapi kesadaran. Kesadaran bahwa semua mahluk adalah ciptaannya, sehingga kita sadar bahwa ada kewajiban yang kita miliki sebagai mahluk ciptaannya. Berbuat baik pada sesama misalnya, sulit dilakukan kalau kita tidak menyadari kewajiban kita sebagai mahluk Tuhan.

Masih banyak yang ingin kukatakan, tapi rasanya seperti membuat esai padahal sebenarnya ada yang ingin kutanyakan balik padamu. Kau—ada masalah apa?

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: HyunA

To: J.S.

Masalah…? Tidak ada yang seperti itu. Aku hanya tiba-tiba berpikir saja. Apa kau pernah merasa hampa? Kadang aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dalam hidup ini. Dan akhirnya jalan keluar yang ada hanyalah mabuk untuk melupakan semuanya, atau menyibukan diri.

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: J.S.

To: HyunA

Kehampaan itu—apa kau tidak pernah berpikir untuk mengisinya dengan Tuhan? Kau tahu, Dia bisa memberikan kedamaian untukmu. Aku bukan orang paling religious di dunia, tapi setidaknya untuk satu hal ini aku yakin.

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: HyunA

To: J.S.

Aku ini pendosa. Kalau pun Tuhan benar-benar ada, tidak akan pernah ada tempat untukku di sisinya.

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: J.S.

To: HyunA

Apa yang terjadi? Kau tidak apa-apa?

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: HyunA

To: J.S.

Bukan apa-apa… Hanya seorang temanku mengatakan sesuatu yang membuatku jadi banyak berpikir. Maaf, aku jadi membawamu terbawa emosiku :’3

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: J.S.

To: HyunA-

Kau sudah terlanjur membuatku penasaran, HyunA. Spill it out. Kau tahu, sebagai orang yang berwawasan luas dan bijaksana, mungkin aku bisa membantu memecahkan masalahmu. Kalau kau mau dibantu.

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: HyunA

To: J.S.

Baiklah—aku tidak ingin merepotkanmu, tapi hal ini sudah lama bercokol di kepalaku dan aku tidak tahu harus bicara pada siapa. Katanya dunia ini terbuat dari kepercayaan dan debu peri… jadi boleh aku mempercayaimu, Peter Pan?

Misalnya aku punya profesi sebagai, apa ya yang melanggar hukum, penjual narkoba mungkin? Seharusnya aku menerima tawaran pekerjaan yang lebih halal jika ada, bukan? Tapi bagaimana kalau aku takut untuk mencobanya?

Menjadi pengedar narkoba kan cepat kaya. Tapi misalkan aku memulai dari awal menjadi juru ketik misalnya, aku harus merangkak dari bawah. Untuk makan pun sudah harus berhemat, apalagi membayar sewa apartemen dan semacamnya. Misalnya begitu. Pilihan untuk mengubah jalur hidup jadi sulit bukan? Apalagi kalau ternyata boss yang baru cabul dan ingin mempermainkanku.

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: J.S.

To: HyunA

Seperti yang sudah kubilang sebelumnya—imajinasimu luar biasa. Dan apa alasan kau bisa mengaitkanku dengan Peter Pan itu lebih absurd lagi.

Kurasa kau harus memberanikan dirimu sendiri. Kau sendiri sadar bahwa melakukan pekerjaan yang kau tahu adalah salah menggerogotimu dari dalam bukan? Sekalipun dari luar kau bisa terlihat baik-baik saja, kau yang paling tahu dirimu sendiri. Apakah kau bahagia dengan apa yang kau lakukan, apakah rasa bersalah terus menerus mengambang di hatimu, hanya kau yang tahu.

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: HyunA

To: J.S.

Lucu sekali bahwa aku bercerita kepadamu. Peter Pan itu tokoh yang sombong dan selalu mencari masalah, agak mirip dengamu. Tapi cukup tentangku, apa yang kau lakukan untuk malam mingguan? Karena kau sepertinya tidak punya pasangan, tebakanku kau menonton dvd sendirian di rumahmu?

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: J.S.

To: HyunA

Pertama, kau yakin sekali kalau aku ini single, atau ini caramu untuk mencari tahu? Siapa yang tertarik pada siapa sekarang, eh? Kedua, aku tinggal di apartemen bukan di rumah. Ketiga, aku tidak menonton DVD. Keempat, caramu mengalihkan pembicaraan buruk sekali.

Tapi kali ini saja, kuikuti kemauanmu. Aku sudah mengatakan pendapatku mengenai masalah tadi, silahkan kau putuskan sendiri. Kau bisa cerita padaku lagi nanti.

Sebenarnya, tadi malam aku pergi ke sebuah klub di Choemdang-dong. Tempat yang mengerikan.

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: HyunA

To: J.S.

Wow, kebetulan sekali. Aku juga dari klub semalam dan cukup menyenangkan di sana. Kenapa kau bisa mengatakan tempat yang kau datangi mengerikan? Apakah J.S. yang hebat tidak ditolak oleh targetnya tadi malam? (Aku tidak bilang perempuan soalnya aku masih ragu pada orientasi seksualmu).

Omong-omong, apartemen! Akhirnya kita punya satu kesamaan, di zaman seperti ini tinggal di apartemen memang lebih mudah daripada di rumah. Dan apa maksudmu kau tidak menonton DVD—masa sih kau tak punya televisi?

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: J.S.

To: HyunA

Haha, lucu sekali, tapi aku tidak gay kalau itu yang kau implikasikan. Aku tidak begitu suka tempat ramai, kalau bukan karena teman baikku yang mengajak kurasa aku tidak akan pernah pergi ke tempat seperti itu. Aku tidak mengerti kenapa ada orang yang mau membayar untuk mendengarkan musik jelek yang seperti ingin memukul pecah gendang telinga.

Aku hanya menonton CNN.

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: HyunA

To: J.S.

Oh, J.S. ternyata kau ini manis sekali. Pergi ke tempat yang tidak kau suka hanya demi temanmu, kyaaaa. Hahahaha.

Tapi kau tidak menjawab pertanyaanku, apa kau ditolak seseorang? Sampai kau menyebut malammu ‘mengerikan’. Tapi kalau kau dingin begini, aku akan sangat heran jika ada perempuan yang terpikat olehmu. Tapi, kalau remaja SMA labil mungkin akan menganggapmu keren. Itu kalau kau pedofil, sih, pak. Kau tahu, hanya lansia yang menggunakan televisi hanya untuk menonton CNN. Jangan bilang kau bahkan tidak tahu tentang Hunger Games atau Battleship?

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: J.S.

To: HyunA

Lucu sekali, tapi aku masih 24 tahun. Dengan anak SMA pun aku belum setua itu untuk disebut pedofil, bukannya aku tertarik pada remaja labil yang kau sebut-sebut. Dan aku tidak ditolak. Seakan ada perempuan cantik yang menarik perhatianku di sana. Kebanyakan hanya tante-tante berlumur bedak untuk menyembunyikan usia mereka.

Dan apa yang salah dengan CNN? Tidak ada saluran yang memberikan ilmu lebih banyak daripada ini.

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: HyunA

To: J.S.

Kau benar-benar tipikal orang yang sangat serius, ya…

Dan menggunakan make-up bukan berarti menyembunyikan usia. Kau benar-benar tidak mengerti perempuan, deh. Pasti kau masih single. Terlihat cantik itu adalah keinginan semua perempuan normal, sedikit bantuan make-up tidak masalah kan?

__________________________________________________________________

[Re: Keep me sane]

From: J.S.

To: HyunA

Aku lebih suka perempuan dengan wajah natural. Aku tidak mengerti kenapa perempuan merasa lebih cantik ketika muka mereka dipulas macam-macam.

__________________________________________________________________

Hyunseung menekan tombol kirim secara reflek. Sebenarnya masih ada yang ingin ia tuliskan, tapi karena sudah terlanjur terkirim, ia mengangkat bahu dan mengalihkan perhatiannya dari layar netbook-nya. Ia terlampau—jujur kepada HyunA ini. Meskipun ia memang tidak bermaksud menyembunyikan apa-apa.

Ia mengerling layar sekali lagi, melihat pesan yang baru saja ia kirimkan. Yap, ia terlalu jujur. Di dunia nyata, jika bicara langsung dengannya, Hyunseung tidak mungkin mengatakan segala hal yang jelas-jelas menjatuhkan begitu. Profesinya sebagai jaksa membuatnya selalu memikirkan matang-matang ucapannya sebelum berbicara.

Tapi ia tidak sepenuhnya jujur juga.

Pikiran pemuda itu kembali ke malam sebelumnya ketika ia menemani Dojoon dalam penyelidikannya tentang suatu sindikat pengedar narkoba. Yang pada akhirnya hanya berujung pada jalan buntu. Ia sudah menduga bahwa hyung-nya itu akan lebih tertarik bersenang-senang dengan grup lama mereka dibandingkan serius menyelidiki kasusnya.

Ia hanya duduk di salah satu meja bersama Dongwoon dan Yoseob. Doojoon dan Gikwang sedang asik berbicara dengan beberapa orang perempuan dengan highheels dan wajah dibalur make-up tebal. Junhyung belum kelihatan batang hidungnya padahal ia dan dua orang lain di meja sudah menghabiskan gelas ketiga mereka.

Hyunseung sendiri sejak sepuluh menit yang lalu berhenti meminum tequila-nya. Ia ingat harus menyetir untuk pulang dan memilih untuk menyalakan rokok daripada mabuk dan terpaksa menginap di tempat siapapun di antara mereka yang cukup sadar. Ia menghembuskan asap rokok dari mulutnya, kemudian membuang abu di atas asbak. Matanya melirik malas ke sekeliling ruangan.

“Waa, kau keren sekali, Hyunseung,” ujar Doojoon yang tiba-tiba muncul bersama Gikwang, dengan seenaknya mengambil rokok dari tangan Hyunseung dan mengisapnya.

“Hyung, kau terdengar sangat gay.”

“Brengsek.”

Hyunseung tertawa mendengar gerutu seniornya itu. Ia menyunggingkan cengiran sinisnya kepada Dojoon dan berkata dengan nada mengejek, “Terima kasih pujiannya.”

Dojoon hanya membalasnya dengan cibiran.

“Jadi—penyelidikanmu bagaimana, hyung?” Tanya Yoseob sambil memutar-mutar gelasnya. Gelas keempatnya dan ia belum terlihat mabuk sama sekali.

“Haruskah kau merusak malam yang menyenangkan ini, Yoseob?” gerutu Doojoon sebal, ia menghembuskan asap rokok yang dicurinya. Tangannya menggapai-gapai gelas milik Dongwoon yang cepat-cepat diamankan oleh magnae itu. Ia mendesah dan menggumamkan ‘dasar pelit’ yang hanya ditanggapi dengan senyuman sok tak bersalah dari Dongwoon.

“Sudah kuduga akan jadi begini,” ujar Hyunseung tenang, ia mengambil batangan rokok lain dari kantungnya, “aku jadi curiga kalau kasus yang kau katakan ini hanya alasan untuk membuat kita berkumpul.”

Cengiran di wajah Doojoon membuat Hyunseung hanya bisa menghela nafas.

Dongwoon menepuk-nepuk pundak laki-laki itu, juga dengan cengiran lebar di wajah. Yang dibalasnya hanya dengan lirikan tajam. Hyunseung tahu kalau di antara mereka berenam, ia yang paling gila kerja dan jarang mengiyakan ketika teman-temannya mengajaknya pergi. Tapi ia tidak main-main ketika menuliskan ‘menjadi jaksa terbaik di Seoul’ sebagai cita-citanya. Jika ia harus mencurahkan semua kehidupannya untuk itu, maka apa boleh buat.

“Eh, itu Junhyung bukan?”

“Mana?” Tanya Doojoon sambil menolehkan kepalanya ke kanan-kiri. Gikwang menunjuk ke arah salah satu meja berjarak beberapa meter dari mereka.

“Dasar womanizer,” gerutu Dongwoon.

Hyunseung hanya tersenyum kecil dan menyalakan rokoknya. Sekilas ia melirik ke arah yang ditunjuk Gikwang. Benar saja di sana ada Junhyung yang sedang berbicara dengan seorang perempuan dengan gaun pendek bewarna hitam yang dengan jelas memperlihatkan kakinya dan cukup ketat untuk memperlihatkan lekuk tubuhnya. Tipe perempuan yang paling tidak disukainya.

Terlihat murahan.

“Hyung!” panggil Dongwoon keras ke arah Junhyung.

Hyunseung menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Rasa menthol-nya kurang kuat.

13 thoughts on “Recursive [6]

  1. Yahhh jadi yg ngobrol sma HyunA di part 5 itu Junhyung.. Sayang sekali.. Dari komentar yg aku baca banyak yg mengira itu Hyunseung.
    Tapi benar juga, aku pikir Hyunseung baru saja membicarakan dirinya yang tidak suka wanita naugty likes Hyuna kn?
    Dan sepertinya ketidak sukaanya itu sbntar lg akan berubah (mungkin)…
    -Waiting next part-

    NB: Maaf saya tidak meninggalkan komentar di part sebelumnya…

  2. Aku tunggu lanjutan nya
    Mungkin harus sedikit di perbanyak adegan di nextchapternya
    Okee aku tunggu part selanjutnya

  3. Ehem, makin kesini kok aku jadi suka sama karakterisasinya Hyunseung, ya? Dan HyunA, senang rasanya memiliki teman senasib. Maksud saya, saya juga sering merasakan hal-hal semacam kehampaan itu.

    Dan untuk authornya, sungguh saya suka teori-teori yang ada di part ini. Lemme give both of my thumbs to you. ;)

  4. itu…itu…jangan2 cewek yang diajak ngobrol sama junhyung itu hyuna ya???
    berarti secara gag langsung hyunseung bilang kalo hyuna bukan tipe ceweknya gitu ???/ /plaak

    part selanjutnya aku tunggu… ^^

  5. astaga.. the hunger game! hahaha. kalo baca ff ini berasa jd mahasiswa jurusan filosofi ya. teori22 nya keren banget! aduh gila sampe lupa kan mau ngomong apa.
    oh pixie dust! haha, hebat bgt sih kamu thor sampe kepikiran ke situuu (tulus muji)
    next chapt nya jgn lama22 ya T__T keep on touch! ;)

  6. keren juga nih ff, jadi makin penasaran nih sm chapter selanjutnya..
    apakah msh menyinggung tentang Tuhan? tapi seriusan, keren lho, baru kali ini liat ff tapi isi materinya serius pisan :D

    btw, authornya emang Kristiani kan ya? sorry, just curious :)

  7. ckckck, sungguh sangat terlalu begitu berani ><
    kereen deh, eonni ^_^b
    bahasanmu itu sensitif banget sebenernya, aku yg baca aja rada waswas. takut2 nanti ada yg tersinggung.

    well, hyunseung ud liat hyuna. tapi kesannya, sungguh sangat disayangkan. aku malah jadi penasaran, cewek yg dianggepnya murahan itu adalah temen chat-nya. dan bakal se syok apa dia nanti *hehee xD

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s