Trapped in Love with Game 6

[PART 6] Trapped in Love with Game:

 

Author                  : arsvio

Main cast             : Lee AdeLynn, Cho Kyuhyun

Genre                   : Romance, family, friendship

Length                  : Sequel

Rating                   : PG-13

Support cast       : member Super Junior

“Kau terlihat terburu, Lynn,” Joon menyapanya dengan tak formal ketika di luar urusan pekerjaan. “Butuh tumpangan?,” Joon akhirnya menawari Lynn karena melihat gerak-gerik gelisah gadis tersebut.

“Ah, tidak perlu, Joon-ssi,” tolak Lynn. Dia tidak ingin merepotkan orang lain tentunya.

“Tapi sepertinya aku memaksa kali ini,” ucap Joon yang mendapat tatapan tajam dari Eun Jung. Bagaimana tidak, mereka bertiga berada dalam satu lift dan Joon mengatakan secara terang-terangan hal tersebut. Seakan mengisyaratkan bahwa Joon memiliki hubungan dekat dengan Lynn.

Lynn menyadari ketidaksukaan Eun Jung akan perkataan tersebut. Dia hanya menyeringai tipis menanggapi tatapan Eun Jung. “Mungkin Eun Jung-ssi lebih membutuhkan tumpangan darimu, Joon-ssi,”. Sebuah jawaban yang tidak terduga sebelumnya.

Ting. Bunyi pintu lift terbuka dan Lynn segera berlari kecil keluar karena tak ingin terjebak di tengah Joon dan Eun Jung. Sempat didengarnya Lee Joon yang memanggil-manggilnya, namun tidak dihiraukannya. Dia segera menuju shelter bus terdekat dengan kantornya. Dilihat kembali waktu di arlojinya yang membuatnya menambah kecepatan berjalannya, mungkin lebih tepatnya sedikit berlari.

Setelah dua puluh menit menaiki bus, Lynn tiba di shelter dekat dengan sebuah gedung theater. Terpampang jelas poster ukuran jumbo yang terpasang di depan gedung tersebut. The Three Musketeers. Lynn segera menyerahkan tiketnya pada petugas dan segera memasuki ruangan theater tempat pertunjukkan.

Dengan penerangan yang minim, Lynn menajamkan penglihatannya untuk mencari bangkunya. Dia menghela nafas lega setelah duduk di seat yang dipesannya. Pandangannya menatap ke arah panggung dan menemukan sosok Kyuhyun di sana.

Lynn mengikuti jalannya pementasan walaupun sedikit tidak mengerti karena sudah terlambat satu jam lebih. Dari arahnya dia dapat melihat dengan jelas bagaimana Kyuhyun berakting dengan bagus. Membuat Lynn menyunggingkan senyumnya. Beberapa kali pandangannya bersiborok dengan Kyuhyun dan senyumnya terulas tulus  untuk lelaki tersebut.

Lynn sungguh menikmati pertunjukkan musikal tersebut. Matanya birunya berbinar saat memandang Kyuhyun menjalani lakonnya di ‘Three Musketeers’. Dunianya sedang terkunci pada seorang dengan kostum romawi kuno di panggung sana.

Satu jam kemudian, pementasan berakhir dan semua pemain satu persatu muncul untuk memberikan penghormatan. Lynn kembali tersenyum lagi saat melihat keceriaan terpancar dari wajah  Kyuhyun. Sungguh, detik itu dia mengagumi senyum yang jarang diindahkannya. Senyum memukau seorang Cho Kyuhyun.

Lynn memiringkan kepalanya, tanda bahwa dia sedang memfokuskan pikirannya pada sesuatu. Bukankah, lelaki yang tertawa di panggung sana menyita seluruh perhatiannya. Bahkan ‘messy hair’ Kyuhyun malah menjadi daya tarik sendiri. Lengkungan senyum kembali terbentuk di wajah gadis tersebut untuk kesekian kalinya dalam satu jam terakhir.

_@Arsvio_

“I’m really sorry, Mr. Cho,” sudah tiga kali Lynn mengucapkannya, namun Kyuhyun masih saja memberangut. “Hey,” sentak Lynn dengan menepuk lengan Kyuhyun. “Do you really mad?”. [apa kamu sungguh marah?].

“Bukankah sudah kuingatkan harus datang on time. Dan kau bahkan datang saat pementasan berjalan sudah hampir separuhnya,” ucap Kyuhyun yang disambut dengan hela nafas Lynn. “Dan mana bunga untukku? Kau bahkan tidak membawanya,”.

Lynn baru akan membuka mulutnya tapi Kyuhyun sudah memotongnya kembali. “Urusan pekerjaan kan? Apalagi yang bisa menghalangi seorang Adelynn Lee jika bukan masalah pekerjaan,” Kyuhyun membuang mukanya dari Lynn.

“Oh ayolah, Captain Cho. Kau tidak harus semarah ini kan?”. Lynn sepertinya sudah putus asa menghadapi Kyuhyun yang sedang mengambek. Semenjak keluar dari gedung theater sampai dorm, sang magnae ini terus saja memberangut.

“Kenapa kau selalu menomorduakan aku dibanding pekerjaanmu? Pacar macam apa kau ini,”. Kembali Kyuhyun menatap Lynn sebentar lalu membuang pandangannya. Lelaki ini duduk dengan memeluk bantal sofa.

“Hey, kau mengajukan protes, huh? Bahkan sebenarnya dari awal aku tidak yakin dengan status ‘pacar’ itu. Bukankah itu keputusan sepihak darimu?”. Lynn berdiri di depan Kyuhyun sembari mencari arah pandang lelaki tersebut karena sedari tadi dia menghindari tatapan Lynn.

Sudah bisa ditebak bagaimana perasaan Kyuhyun setelah mendengar penuturan Lynn. Antara marah dan sakit. Merasa marah karena gadis di hadapannya kini mempertanyakan status hubungan mereka, yang mungkin tidak terlalu penting. Dan merasa tersakiti karena memang apa yang diucapkan Lynn benar adanya.

Kyuhyun sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya diam meresapi perkataan Lynn dan mencoba mengontrol emosinya. Tentu saja saat ini dadanya terasa ingin meledak.

“Hey, could you answer me, Mr. Cho,” Lynn membuyarkan lamunan Kyuhyun, tapi tetap tidak mendapat respon. Lelaki ini memilih tidak berkata-kata.

“Lynn? Bisakah membantuku dengan ini?” tiba-tiba Ryeowook menyembul dari arah dapur dengan sawi di tangannya. “Ayolah, jebal,” rayu Wookie karena melihat Lynn yang tidak kunjung menjawab.

Bukannya Lynn tidak ingin membantu, tapi masalahnya dia tidak terlalu akrab dengan Ryeowook. Memang benar beberapa kali pernah berjumpa dan bertegur sapa, namun itu tidak bisa dibilang dekat.

Lynn memandang Kyuhyun sebentar lalu melangkahkan kaki menuju dapur untuk membantu Wookie. Sepertinya memasak dengan seorang yang tidak terlalu kau kenal akan lebih menyenangkan daripada menghadapi seorang Cho Kyuhyun yang sedang merajuk.

Kyuhyun semakin menekuk wajahnya karena Lynn lebih memilih memasak dengan hyungnya daripada merayunya agar tidak marah lagi. Dia semakin mendongkol saat terdengar suara tawa Wookie dari arah dapur.

_@Arsvio_

Satu jam kemudian…

Lynn melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang dilakukan Kyuhyun. Tangannya terangkat untuk membekap mulutnya sendiri untuk meredam kekehan kecilnya. Bagaimana tidak, jika sekarang dia melihat Kyuhyun sudah asyik dengan PSP-nya.

“Benarkan?” ucap Ryeowook yang berdiri di belakang Lynn dan ikut mengintip Kyuhyun. “Kau hanya perlu meninggalkannya jika sedang mengambek, maka PSP akan menanganinya,”.

“Thanks awfully, Wookie-ssi karena menyelamatkanku dari setan yang sedang ngambek itu,”. Lynn melihat arloji di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam. “Dan, Aku pamit dulu, titip salam untuk Donghae Oppa,”.

Ryeowook hanya mengangguk dan tersenyum. “Panggil aku dengan oppa saja. Ok?”. Ryeowook menyatukan telunjuk dan ibu jarinya membentuk lingkaran sebagai tanda Ok. “Oh ya, biar aku antar kau. Sepertinya bocah itu akan tetap bergeming walaupun badai melanda,”.

“Ah tidak perlu, Wookie-ssi, eh Oppa. Bukankah kau harus mempersiapkan perjalanan untuk ke Singapura besok?” Lynn mengibas-ngibaskan tangannya ke udara untuk menolak tawaran Ryeowook.

Ryeowook hanya tersenyumm melihat Lynn yang belum terbiasa dengan panggilan oppa padanya. “Sudahlah, tak apa, itu masalah sepele. Lagipula kau adik Donghae Hyung yang berarti adikku juga, mana tega aku membiarkanmu pulang sendiri selarut ini. Kajja,”. Wookie tidak mengacuhkan penolakan Lynn dan malah menyambar kunci mobilnya.

Lynn mengambil tas miliknya yang tergeletak di samping Kyuhyun, sedangkan Kyuhyun tetap saja terfokus pada PSP kesayangannya. Dan sang evil magnae ini masih setia dengan wajah cemberutnya. “Mr. Cho, aku pulang dulu,” ucap Lynn.

Sama sekali tidak ada jawaban dari Kyuhyun. Dia terlalu marah dan kesal sehingga kembali tidak menghiraukan Lynn. Walaupun sebenarnya, seluruh perhatiannya terarah pada Lynn, hanya saja pandangannya tetap lurus pada PSP.

Lynn menghela napas melihat polah Kyuhyun. “Kau terlalu kekanakan, Captain Cho,”. Gadis ini mendekati Kyuhyun dan mengangkat tangannya ke udara untuk menyisirkan jemarinya pada poni yang menghalangi dahi Kyuhyun. Disibakkannya poni tersebut, kemudian Lynn mencium Kyuhyun di dahinya, cukup lama.

Lynn merapikan poni lelaki tersebut. “Jangan terlalu larut bermain PSP. Kau harus beristirahat untuk persiapan MAMA besok. Aku pulang,”. Lynn segera beranjak meninggalkan Kyuhyun.

Kyuhyun masih mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang dilakukan Lynn. Ini pertama kalinya gadis itu menciumnya tanpa paksaan. Dan ciuman tadi sungguh manis. Diangkat tangannya untuk menyentuh keningnya lalu beralih pada dadanya. Kyuhyun memalingkan wajahnya untuk mencari Lynn, namun terlambat karena dia mendengar pintu yang tertutup. Itu artinya Lynn baru saja keluar.

“Gezz, gadis itu membuatku hampir gila,” rutuk Kyuhyun pada dirinya sendiri.

_@Arsvio_

Esoknya, Lynn yang sudah mengantongi izin dari kantornya, turut mengantar Super Junnior ke bandara. Sungguh, dia hanya ingin membuktikan bahwa baginya bisa saja menomorduakan pekerjaan. Kali ini dia datang karena Kyuhyun, bukan karena Oppanya.

Sedikit demi sedikit, Lynn terbiasa dengan kehadiran Kyuhyun. Kejahilannya, sifat kekanakannya, perhatiannya, dan semua tentang lelaki tersebut. Perlahan, membuktikan bahwa dirinya memang menerima Kyuhyun berotasi di hidupnya.

“Kau tidak lelah dari kemarin malam memberangut seperti itu, huh?” Lynn memiringkan kepalanya dan menatap Kyuhyun yang duduk di sampingnya. “Aku sudah menebus kesalahanku dengan turut mengantarmu ke bandara,” bela Lynn.

Donghae dan Eunhyuk yang duduk di jok tengah hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka sudah hafal benar dengan tingkah kekanakan dongsaeng evil tersebut.

Lynn mengalihkan pandangannya ke luar jendela van setelah dilihatnya Kyuhyun yang tetap membisu. Namun, beberapa saat kemudian, Lynn merasakan sebuah jemari hangat yang menggenggam tangannya dan sedikit menarik tangannya. Menjadikan wajah gadis tersebut menabrak pundak seseorang.

Lynn mengulum senyumnya saat mengetahui Kyuhyun menggenggam jemarinya erat, namun masih mencebik. Di mata Lynn, pria tersebut malah terlihat lucu dengan ekspresi tersebut. Dari posisinya, Lynn dapat melihat dengan jelas hidung bangir dan lekukan bibir Kyuhyun, yang mau tak mau, diakuinya sempurna.

“Hey, kemana image cool seorang Cho Kyuhyun? Bukannya terlihat seperti pria berumur 24 tahun, kau malah terlihat seperti bocah berumur 7 tahun kalau sedang mencebik seperti itu,”. Lynn terus memandangi pria di sebelahnya tersebut. Tersebar rasa hangat yang tiba-tiba menyeruak di hatinya.

Kyuhyun masih menghindari menatap Lynn. Bukan marah karena Lynn yang datang terlambat di pementasannya tapi karena pernyataan Lynn tentang hubungan mereka. Perkataan Lynn semalam sungguh menyita ruang tersendiri di pikirannya. Memang benar adanya, namun entah mengapa sedikit banyak, saat ini, dia ingin balasan perasaannya terhadap Lynn.

Lynn menatapi Kyuhyun yang terlihat seperti memikirkan sesuatu. Dia tidak dapat membaca pikiran orang lain seperti Edward Cullen, tapi dia tahu bahwa Kyuhyun terbebani dengan suatu hal. Entah apa, tapi perasaannya mengatakan seperti itu.

Kyuhyun masih sibuk bergulat dengan pikirannya, namun segera tersadar saat tiba-tiba pundaknya terasa berat. Dia menolehkan pandangannya dan mendapati Lynn yang tengah nyaman bersandar di pundak kirinya. Digembungkan pipinya karena tiba-tiba terasa memanas. Wangi rambut gadis tersebut dengan cepat menyeruak di rongga paru-parunya. Dan eksistensi gadis tersebut secara tiba-tiba menggiatkan kinerja jantungnya.

“Fuhh,”.

_@Arsvio_

“Apa kau akan menggenggam tanganku terus-menerus seperti ini? Para netizen banyak yang melirikmu,” Lynn sedikit berbisik. Dia berusaha tetap menyamai langkah Kyuhyun.

Kyuhyun masih saja dengan santai melangkahkan kakinya. “Mereka sudah tahu kalau kau pacarku. Jadi tidak perlu kuatir kan?”. Walaupun Kyuhyun mengenakan masker, namun sepertinya para fan tetap mengenalinya.

“Kau sudah mau berbicara padaku? Ah,” ujar Lynn yang sontak mendapat tatapan tajam Kyuhyun.

“Ok-Ok. Lepaskan genggamanmu, setidaknya jangan membuat mereka cemburu dengan kehadiranku,” protes Lynn. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan mendapati beberapa orang memotret mereka. Agak risih dengan perlakuan tersebut, dia bukan seorang bintang yang tersbiasa dengan sorot kamera.

Kyuhyun menghentikan langkahnya dan mendesah pelan. Dia harus check in untuk keberangkatan ke luar negeri, jadi mau tak mau harus segera berpamitan dengan Lynn. Diputar tubuhnya untuk menghadap Lynn. “Aku pergi dulu,”. Terlihat ragu untuk mengucapkan kata selanjutnya.

“Jaga dirimu baik-baik selama aku pergi,” Kyuhyun melepas genggamannya dan mengelus rambut Lynn pelan. Ingin meneruskan ucapan perpisahannya, namun kehadiran seseorang sudah menginterupsi momentnya.

“Dan-,” Donghae sudah berada di depan Lynn untuk berpamitan juga. belum menyelesaikan kalimatnya, Lynn sudah memotong.

“Cukup istirahat dan tepat waktu makan, benarkan Oppa?” senyum Lynn yang disambut kikikan kecil Donghae. Dia memberikan pelukan dan kecupan ringan pada Lynn, sedangkan Kyuhyun masih tetap menatap kemesraan kakak-adik tersebut dengan iri.

“Bye Lynn. See you next,” Donghae melambaikan tangannya. “Kajja, Kyu,” dia merangkul bahu Kyuhyun. Dan dengan berat, Kyuhyun mengikuti langkah Donghae. Belum beberapa meter berjalan, Kyuhun melepas tangan Donghae dari pundaknya dan membalikkan badannya.

“Lynn, kemari,” dia menggerak-gerakkan jari telunjukknya sebagai isyarat.

Lynn yang memang belum beranjak dari tempatnya segera menghampiri Kyuhyun. Takut-takut kalau lelaki tersebut melupakan sesuatu. “Ada apa? Barangmu ada yang tertinggal?”.

“Ya, ada yang tertinggal namun bukan barang,” ucap Kyuhyun yang disambut tatapan penuh tanda tanya dari Lynn. Kyuhyun melepas sebelah tali pengait maskernya lalu sedikit menekuk lututnya untuk mensejajarkan tingginya dengan Lynn.

“Ini yang tertinggal,”. Dan secara cepat, Kyuhyun mencium Lynn tepat di bibir gadis tersebut.

Beberapa netizen terdengar sedikit histeris dengan pemandangan tersebut. Dan Donghae hanya menepuk jidatnya melihat kelakuan evil magnaenya.

_@Arsvio_

Joon menatapi layar notebooknya dengan kilatan amarah. Dikeraskan kepalan tangannya saat membaca berita yang sedang menjadi top hit. “Haruskah aku melangkah jauh, Cho Kyuhyun-ssi?” tanyanya pada diri sendiri.

Tanpa disadari, Eun Jung sudah berdiri di belakang dengan dua cup kopi di tangannya. Dia memiringkan kepalanya untuk turut menyimak apa yang dibaca Lee Joon. Namun, sejenak kemudian desisan keluar dari bibirnya. “Kopimu, Joon-ssi,”.

Lee Joon hanya bergumam untuk menyahut Eun Jung. Pikirannya masih dikuasai dengan isi berita yang baru saja dibacanya. Apalagi, kalau bukan tentang Cho Kyuhyun dan kekasihnya yang terlihat mesra di bandara Incheon.

“Kau sungguh menyukainya, Joon-ssi?” tiba-tiba Eun Jung melontarkan pertanyaan yang sensitive. Gadis ini menarik kursi dan mengambil posisi duduk di sebelah Lee Joon.

Lee Joon menengokkan kepala ke arah Eun Jung. Hanya sebentar dan kemudian kembali menatap layar notebooknya. Alih-alih menjawab, pria ini malah berdiri dan menutup lid notebooknya.

“Tidak bisakah kau melihat seorang yang lain?” Eun Jung sedikit mengeraskan suaranya saat Joon ingin keluar dari ruangan.

Kening Joon berkerut sebagai tanda ketidakmengertiannya. Tetap diulurkan tangannya untuk memutar kenop pintu dan keluar tanpa kata-kata. Sepertinya, perkataan Eun Jung hanya sebuah angin lalu baginya.

Perfect. Sebuah sikap yang sukses membuat Eun Jung kembali tersakiti. Matanya kini telah berkaca-kaca sembari masih memandang arah pintu. Sedetik kemudian, air mata sudah meluncur di pipi putihnya.

_@Arsvio_

Gaun bewarna dark purple dengan bagian bahu yang sedikit terbuka melekat indah di tubuh ramping Lynn. Rambut panjangnya diikat dan digelung simple serta diberikan aksen jepit Kristal. High heel hitam setinggi 7 cm kian menyempurnakan penampilannya. Malam ini, gadis bermata biru ini sungguh terlihat cantik dan elegan.

Lynn membuka pintu apartemennya untuk berangkat, tapi sedikit terkejut karena melihat sosok di depan apartemnnya. “Joon-ssi? Sedang apa kau di sini?”.

“Ehem, tentu saja untuk menjemputmu, Lynn,” Joon memberikan senyumnya. “Bisakah kita pergi sekarang?”.

“Tapi-,” Lynn terlihat ragu.

“Untuk malam ini, aku tidak menerima penolakan, Nona Lee,”.

Lynn hanya tersenyum melihat tingkah Lee Joon. “Baiklah. Dan semoga ini tidak menjadi gossip besar esok hari,” Lynn menarik pintu flatnya dan menguncinya.

_@Arsvio_

“Ah, jadi karena Cho Kyuhyuh-ssi sedang di Singapura sekarang kau bisa datang dengan pria lain?” sindir Eun Jung. Senyum manis terpasang di wajahnya untuk menutupi betapa tajam perkataan yang baru saja dilontarkannya.

“Bukan, tapi akulah yang memaksanya,” Joon yang berdiri di samping Lynn angkat bicara. “Kurasa ini tidak ada yang salah bukan, Eun Jung-ssi?” Joon memberikan tatapan penuh arti yang sulit ditebak. Terselip makna dalam di dalam pertanyaan retorisnya, hanya saja lawan bicaranya tak dapat menangkap artinya.

“Bagian mana yang tidak salah?” jeda Eun Jung dengan seringaiannya. “Apa perlu aku ingatkan jika Nona Lee telah menyandang status kekasih dari seorang superstar Cho Kyuhyun?”.

Lynn menarik ujung bibir sebelah kanannya. “Aku sadar sepenuhnya dengan status tersebut. Jadi Nona Ham tidak perlu repot-repot mengingatkanku. Dan lagi, kami datang sebagai rekan kerja, bukan pasangan kekasih seperti pikiranmu,”.

Joon menoleh cepat ke arah Lynn. Senyum miris tersungging di wajah tampannya. “Tentu, sebagai rekan kerja,” penekanan yang tidak ikhlas dari Joon.

“Rekan kerja,” Eun Jung tersenyum melecehkan atas perkataan Lynn dan Joon. Baginya, pasangan yang diajak untuk datang di acara semacam itu, pastilah seorang yang spesial. Rekan kerja tidak mungkin akan sedekat ini, bukan?.

“Sudahlah, aku tidak ingin merusak suasana tenang pesta ini,” Joon menengahi. Sepertinya hawa di sekitar mereka memang memanas karena sindiran Eun Jung. “Maaf, jika tidak ada hal lain yang dibicarakan, aku dan Lynn undur diri dulu,”.

“Kumohon, harus berapa kali aku tersakiti seperti ini,” batin Eun Jung karena melihat sosok Joon dan Lynn yang pergi meninggalkannya. Gadis ini segera melangkahkan kaki keluar dari ruangan pesta. Hatinya terluka untuk kesekian kalinya.

_@Arsvio_

“Ucapan Eun Jung jangan dipikirkan,” Joon memecah keheningan antara dirinya dengan Lynn. Taman belakang gedung Microsoft dimana mereka berada kini semakin romantis dengan pencahayaan temaram dari lampu kecil. Gemericik air dari kolam minimalis menjadi alunan musik yang setia mendampingi kelamnya malam.

Lynn menarik napas panjang. “Tidak, tapi perkataannya memang benar adanya. Seharusnya aku memang datang sendiri,” dia memikirkan kembali kesalahannya.

“Memangnya ada yang salah jika kau datang denganku, Lynn?”.

Lynn menoleh ke arah Joon, merasa heran kenapa lelaki ini mengulang pertanyaannya. Ada sesuatu yang Lynn rasa disembunyikan oleh Joon. “Bagian yang salah adalah aku datang bersama lelaki lain, sedangkan Kyu-,”.

“Tidak perlu dilanjutkan, Lynn,” Joon menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Lynn. “Aku tahu semuanya. Hubungan yang kau jalani dengan Cho Kyuhyun. Jadi, tidak perlu berpura-pura di depanku,”

Lynn sedikit terlonjak dengan penuturan Joon. “Maksudmu?” Lynn masih berusaha menutupi rahasia tersebut.

“Kau tahu betul maksudku Lynn. Apa perlu aku menjelaskan ulang padamu?”.

“Tidak terima kasih. Dan masalah aku dan Kyuhyun, itu tidak seperti apa yang kau pikirkan,”. Walaupun masih penasaran bagaimana bisa rahasia tersebut bocor pada Joon, Lynn lebih memilih tidak mempertanyakan. Menutup rapat mulutnya.

“Memang apa yang kupikirkan, Lynn?”.

“Maaf, ini masalah kami. Jadi aku harap Joon-ssi mau menghargai privacy kami,” Lynn menyudahi obrolan yang menurutnya tidak mengenakkan tersebut. Selintas terpikir oleh Lynn, bahwa bagi seorang Lee Joon yang memiliki berjuta relasi, tentu mudah mendapatkan fakta tersebut.

“Bagaimana jika ini menyangkut orang yang aku cintai?”. Joon menatap lekat Lynn tepat di sepasang irish birunya. Mengagumi betapa indah mata itu. Merangkai sebuah obsesi untuk memilikinya seorang.

Lynn memandang Joon dengan keheranan. “Maaf, tapi aku tidak mengerti kemana arah pembicaraan ini,”.

“Yes, I fall in love with you Adelynn Lee,”. Joon menarik nafasnya cukup dalam untuk menghilangkan kegugupannya. “So, could you be my girl?”.

Lynn membelalakan mata bulatnya. Kepalanya menggeleng-geleng untuk menyangkal pengakuan Lee Joon. “It’s wrong, Lee Joon-ssi. I couldn’t be yours,”.

“Kenapa tidak bisa? Penolakanmu bukan karena Kyuhyun, bukan?” suara Joon terdengar serak. Tidak karena menahan tangis, melainkan menahan sesak.

Lynn mencerna pertanyaan Joon. Secara langsung dia menolak Joon, bahkan di detik setelah Joon selesai mengucapkannya. Benarkah, dia menolak Joon karena Kyuhyun atau karena reputasi namanya.

Lynn memijit keningnya dan segera berdiri. “I’m leaving first. Sorry, couldn’t accompany you any longer,”.

Joon menangkap pergelangan tangan Lynn. “Setidaknya, pertimbangkan aku. Dan perlu kau tahu, aku masih menunggumu,”. Setelahnya, Joon melepaskan tangan Lynn. Membiarkan gadis tersebut sendiri untuk memikirkan keputusannya.

_@Arsvio_

Lynn memilih menyusuri jalanan kota Seoul sendiri. Dirapatkan mantel miliknya untuk menghalau udara dingin menusuk kulit lembutnya. Anak-anak rambut yang jatuh berantakan karena tertiup sang bayu malah memnjadikan wanita tersebut terlihat sempurna.

Kelip-kelip lampu kota, kendaraan yang berlalu lalang, manusia-manusia yang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing, dan gedung-gedung pencakar langit yang angkuh membuat khas suasana Seoul. Lynn memperhatikan semua. Mungkin dengan seperti itu, dia dapat mencari sebuah titik terang atas kebimbangannya.

Lynn mengambil duduk di tengah warga kota yang ramai menikmati weekend mereka di depan sebuah air mancur tengah kota. Kebisingan yang ditimbulkan oleh massa tidak sedikitpun mengusik keheningan batin Lynn. Gadis ini memikirkan ulang perkataan Joon.

Kepala Lynn mendongak untuk memerhatikan langit malam Seoul. Ada sebuah ruang hampa yang besar di hatinya, sama seperti luasnya langit yang kelam. Ada sesak yang tiba-tiba dirasakannya saat menatap gelapnya angkasa.

“Cho Kyuhyun,” desis Lynn. Pikirannya sudah melalang buana pada lelaki tersebut. Sekarang dia tahu, apa yang membuatnnya sesak. Itu karena kerinduannya yang membuncah padahal mereka baru terpisah dua hari.

Lynn menundukkan kepalanya kembali. Sedikit tidak percaya dengan hatinya. “Benarkah? Kau telah berada di sini?” Lynn meraba dadanya. Menunjukkan tempat spesial yang diragukannya, telah ditempati sebuah nama.

_@Arsvio_

Di sisi dunia yang lain, yang bahkan hanya terpaut satu jam lebih lambat dari waktu Seoul, seorang pria tengah asyik menatapi aliran sungai. Dari tempatnya berdiri, terlihat betapa indahnya sebuah karya Tuhan berpadu dengan sentuhan manusia. Hingar-bingar kehidupan kota terefleksi pada aliran air sungai, membuatnya seperti cermin raksasa.

“Adelynn Lee, apa yang sedang kau lakukan sekarang?”.

Cho Kyuhyun, menimang-nimang benda elektronik di tangannya. Menyapukan jemarinya pada touchscreen benda tersebut sehingga memunculkan sebuah image manis seorang gadis. Memandangi foto tersebut dengan intens.

Jauh di lubuk hatinya, dia menginginkan Lynn. Tidak hanya raganya namun juga hati gadis tersebut. Mengapa keputusan sepihaknya malah membuatnya tersakiti. Padahal dia sungguh senang saat Lynn tidak menolak kehadirannya. Tapi sekarang, dia ragu pada kebahagiaan tersebut.

Jikalau hanya dirinya yang memiliki hasrat besar terhadap hubungan tersebut, bukan tidak mungkin lambat laun kebahagiaan itu akan tergerus. Dan ketakutan ini kini menggores hatinya. Bahkan suatu hal yang belum terjadi sudah menorehkan luka. Lalu bagaimana jika itu benar-benar datang di hidupnya?.

Sungguh, di dalam hatinya, dia mengharapkan Lynn membalas perasaannya. Bukan atas dasar pamrih karena rasanya tulus terhadap Lynn, tapi menyadari bahwa hanya kau sendiri yang berusaha  bertahan dengan suatu hubungan ternyata menyedihkan dan menyakitkan.

Seharusnya dia bisa berdiri sendiri dengan hubungan tersebut. Merasa yakin bahwa pada saatnya nanti, dia bisa meluluhkan hati Lynn. Membuat gadis itu hanya melihatnya saja. Tapi, sikap Lynn seakan menarik ulurnya. Di saat tertentu Kyuhyun merasa Lynn mengabaikannya, namun di saat lain Kyuhyun merasa Lynn memperhatikannya. Ini sungguh memusingkan.

_@Arsvio_

Kyuhyun kembali ke hotel dan menyenderkan punggungnya di sofa kamarnya. Memainkan udara di dalam pipinya, menjadikan pipinya menggembung. “Haish, apa yang harus kulakukan,” gumamnya sembari memukul pegangan sofa.

Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Dia mengacak rambutnya dengan frustrasi. “Hah,”.

“Kau kenapa, Kyuhyun-nie?” Donghae mengosok-gosokkan handuk pada rambutnya yang masih basah. “Merindukan Lynn?” tanya Donghae saat melihat Kyuhyun tak kunjung menjawab.

“Setengahnya benar, Hyung,”.

“Lalu, setengahnya lagi?”.

“Masak aku harus curhat denganmu. Itu sedikit menggelikan. Aku ini lelaki dewasa,”.

“Cish, kau terlihat cool hanya saat di panggung saja. Aslinya…” Donghae membentuk tanda silang dengan kedua tangannya sambil menggeleng-geleng. “Ke.ka.na.kan,” lanjutnya penuh penekanan.

“HYA, HYUNG. Aku tidak seperti itu. Bukannya kau lebih kekanakan dariku?” teriak Kyuhyun tidak terima.

“Yee~,” ejek Donghae yang segera berlari karena sadar akan ancaman amukan Kyuhyun.

_@Arsvio_

“Benarkah Anda, Nona Ham Eun Jung?”.

Eun Jung yang tengah duduk di belakang meja kerjanya mengangguk untuk mengiyakan. “Ada yang bisa saya bantu, agashi?”. Sorot mata keheranan ditujukkan pada lelaki di hadapannya.

“Ikut kami ke kantor untuk dimintai keterangan,” ucap lelaki yang berdiri tegak di depan Eun Jung. Segera setelahnya, dua orang di belakang sang lelaki menahan lengan Eun Jung.

“Saya tidak mengerti ini,” Eun Jung meronta untuk melepaskan cengkeraman dua lelaki tersebut. Dia terlihat panik karena dua orang tersebut berseragam polisi.

“Akan kami perjelas di kantor nantinya. Kami mohon kerjasamanya,”.

Eun Jung masih berusaha meronta dan memandang staff lain yang berada di ruangan kerja untuk minta pertolongan. Namun, sia saja karena mereka juga syok dengan kejadian tersebut. Tidak ada yang mereka lakukan kecuali menonton adegan penangkapan itu.

Ketika padangannya bertemu dengan Lynn, Eun Jung semakin panik. Dilihatnya Lynn yang menyunggingkan senyum miringnya dan mensedekapkan kedua tangan di depan dada. Terlihat meremehkan.

_@Arsvio_

Joon bersegera menuju ruang staffnya. Digebrak dengan agak kasar pintu ruang staff, menandakan bahwa dirinya benar-benar kalut. Lee Joon mengarahkan pandangannya pada meja Eun Jung yang kini telah kosong. Setelahnya, dia meninju udara untuk menyalurkan emosinya.

Karyawan lain hanya memandang bosnya tersebut. Memilih bungkam karena tahu apa yang membuat Lee Jonn begitu panik. Salah satu karyawannya digiring polisi, sedangkan dia terlambat mengetahuinya.

Joon mengatur nafasnya yang tersengal. Kakinya melangkah menuju meja Lynn. “Ikut aku ke ruanganku. Ada yang ingin kubicarakan, Adelynn-ssi,”.

_@Arsvio_

Joon memejamkan matanya untuk merenungkan segala keterangan dari Lynn. Sejenak kemudian, dia membuka matanya. “Kenapa kau tidak pernah mendiskusikannya denganku, Lynn?”. Sedikit nada kecewa terbesit di kata-kata Joon.

“Ini bukan masalah perusahaan Lee Joon-ssi. Perlukah aku mendiskusikannya denganmu?”. Lynn mulai lelah dengan interogasi atasannya tersebut. Sudah setengah jam dia duduk di ruangan Joon hanya untuk membicarakan hal pribadinya.

“Tapi Ham Eun Jung adalah karyawanku. Jadi sudah sepatutnya jika kau membicarakan masalah ini,” sangkal Joon. Pria ini tidak saja marah karena kasus Eun Jung, namun juga karena Lynn yang bertindak sendiri menyelesaikan masalah peneroran dirinya. Bukankah ini berarti bahwa gadis bermata biru tersebut tidak memedulikan keberadaannya.

“Sekali lagi kutegaskan Joon-ssi. Ini masalah pribadiku, jadi terima kasih atas simpatimu,”. Lynn berdiri dari duduknya dan sedikit membungkukan badan untuk undur diri.

_@Arsvio_

Semenjak pulang dari kantornya, gadis blasteran Korea-German ini terlihat sangat antusias. Belanja berbagai bahan masakan ke supermarket dan pulang dengan menenteng dua bag kantong kertas besar. Setibanya di flat, Lynn dengan ceria menyiapkan sebuah makan malam.

“Soup, steak ayam, salad, mashed potato, dan strawberry cake,” Lynn mengabsen makanan yang telah dihidangkan di meja makannya. Dia merapikan tatanan hidangan yang dimasaknya. Matanya melirik jam dinding di dapur minimalisnya. “Mungkin sebentar lagi,” gumamnya.

Lynn menarik celemak yang dipakainya saat terdengar dering bell pintunya. Dengan berlari-lari kecil Lynn menjangkau pintu seakan tak sabar menanti tamunya. Senyum sudah terpasang di wajah manis gadis blasteran ini, tapi senyum ini memudar saat melihat seorang yang berdiri di depan pintu bukanlah orang yang ditunggunya.

“Selamat malam, Nona Lee,”.

“Lee Joon-ssi?” Lynn masih terheran dengan kehadiran manager muda tersebut. “Oh, masuklah,”. Sedikit merasa canggung setelah kemarin malam mendengar pengakuan pria tersebut.

“Ini untukmu,” Joon menyerahkan sebuket mawar merah pada Lynn.

“Ah, thanks a lot. What a nice flower it is,”. Lynn menerima buket bunga tersebut. Memberikan sedikit sanjungan, walaupun sebenarnya dia kurang suka dengan mawar merah. “Please have a seat,”.

“Kau sendirian, Lynn,” hanya sebuah basa-basi untuk memulai pembicaraan ke topik yang diinginkan. Sebuah anggukan dari Lynn menjawab secara singkat pertanyaan tersebut.

“Ada perlu apa, Joon-ssi berkenan datang kemari? Dan kenapa tidak memberitahu dahulu jika ingin berkunjung,” Lynn mencoba bersikap sopan. Mengesampingkan rasa canggungnya. Dia tidak sedang berada di kantor, jadi seorang yang menyempatkan diri datang ke apartemennya pastilah memiliki kepentingan pribadi.

“Tidak, hanya sekedar ingin berkunjung,”. Joon berdeham ringan. “Masalah Eun Jung. Bisakah kita membicarakannya lagi?”.

“Maaf, tapi aku sudah pernah berkata bahwa-“

“Itu masalah pribadi. Begitu, Lynn?. Aku hanya ingin mengetahui lebih detail tentang ini semua. Menjadikan daerah abu-abu terpapar jelas, apakah menjadi putih atau hitam,”.

“Jika hanya itu. Aku kabari perkembangan kasusnya padamu. Inilah jawaban akhirku,”

Joon mencoba bersabar dengan sikap defensive Lynn. Memang sepertinya sulit untuk memasuki kehidupan pribadi Lynn. “Baiklah kalau begitu, lupakan topik ini. Ah ya, bisakah kita makan malam di luar?” lanjut Lee Joon.

Lynn menegakkan punggungnya. “Ah, maaf sekali Lee Joon-ssi, tapi aku sudah ada janji,” tolak halus Lynn. “Ataukah kau mau bergabung denganku untuk makan malam?” Lynn sebisa mungkin berlaku sopan.

Joon membentuk senyum miring dengan bibirnya. Satu nama sudah dikantonginya sebagai kandidat kuat orang yang memiliki janji dengan gadis di depannya ini. Seketika hatinya terasa panas. “Dan apakah aku harus menerima tawaranmu, Lynn?”.

Lynn mengerutkan keningnya. “Kenapa tidak?”. Ajakannya untuk bergabung makan malam sungguh tulus tanpa ada maksud apa-apa.

Joon mendesah pelan. “Lynn kau tahu benar perasaanku terhadapmu. Jadi jika kau berada di posisiku, akankah kau menerima tawaran untuk semeja dengan rivalmu?”.

“Tolong jangan bahas itu sekarang, Joon-ssi,”

“Tapi kau yang memulainya, Lynn,”

Lynn menghalau poni di dahinya. Menyesakkan jika harus menyinggung topik sensitive tersebut. Padahal dia berusaha melupakan pengakuan Joon padanya, dan tetap bersikap biasa. Tapi, malah diingatkan.

Joon berpindah duduk di samping Lynn. “Bisakah, Lynn? Aku akan menerima hubunganmu dengan, yah kau tahu siapa. Jadi kau tak perlu khawatir,”.

Lynn menolehkan pandangannya reflek sebab mendengar ucapan Joon. “Apa maksudmu, Joon-ssi?”

“Strategi itu ada masa berakhirnya bukan? Setelahnya, kau bisa kembali pada kehidupanmu lagi, pun juga dengan orang itu,”. Kentara sekali kalau Joon enggan menyebut nama ‘Cho Kyuhyun’. Mungkin nama itu tabu diucapkan oleh bibirnya.

Mendengar kenyataan tersebut, hati Lynn merasa tak rela. Sebagian besar dirinya menolak penuturan Lee Joon tentang hubungannya dengan Kyuhyun. Lynn termenung sampai disadari sebuah tangan telah terulur membelai rambutnya.

“Maaf jangan seperti ini,” tangan Lynn terangkat untuk menurunkan tangan Joon yang membelai kepalanya. Tepat saat itu juga dia melihat seorang sudah menatap nanar ke arahnya. Lynn ingin membuka mulutnya untuk memanggil orang tersebut, namun orang itu sudah berbalik dan dengan cepat keluar dari flat Lynn.

Joon mengikuti arah pandang Lynn dan tersenyum penuh kemenangan. “Kau lihat, bahkan dia memilih menghindar, Lynn,”.

“Maaf Joon-ssi. Aku sudah memutuskan,”. Setelah mengucapkannya, Lynn segera berlari mengejar seorang yang penting di hidupnya tersebut. Mungkin sedikit terlambat, namun dia tetap ingin berusaha mendapatkannya kembali.

Lynn tidak bisa melihatnya terluka karena hatinya juga seolah ikut tergores. Pandangan lelaki tadi, membuatnya menyadari bahwa sorot itulah yang selama ini dirindukannya. Senyum lelaki tersebut laksana candu baginya.

_@Arsvio_

Lynn berlari sebisanya untuk mengejar Kyuhyun. Dia melihat sekelebat bayangan pria tersebut di pelataran depan gedung apartemennya. Dipercepat langkahnya untuk menyusul Kyuhyun.

Bukannya menghampiri Kyuhyun, Lynn malah mengekornya di belakang. Keingintahuannya membungkam mulut untuk meneriakkan nama lelaki di depannya. Terus berjalan, dan sedikit bergidik saat angin menerpa tubuhnya. Udara malam sungguh tidak bersahabat. Dan parahnya lagi, Lynn hanya mengenakan kaos longgar berbahan katun dan dengan bawahan hotpant.

Hampir tiga puluh menit Lynn mengikuti Kyuhyun. Pria tersebut akhirnya memilih duduk di bangku taman kota yang telah sepi. Lynn memutuskan untuk mendekat dan memilih duduk di samping Kyuhyun.

Sepuluh menit berlalu dengan kebisuan. Entah sadar atau tidak dengan kehadiran Lynn, Kyuhyun masih tenggelam dalam dunianya. Terpancar jelas gurat amarah dan kecewa dari wajahnya. Pemandangan yang dilihatnya saat memasuki apartemen Lynn sungguh membakar hatinya.

Ingin rasanya dia marah dan menghajar Joon, lelaki yang dengan seenaknya menyentuh Lynn. Tapi, dia tidak bisa melakukannya karena Lynn tidak menganggapnya. Kyuhyun menghempaskan punggungnya sehingga menabrak sandaran bangku. Dan saat itu baru disadari bahwa Lynn duduk manis di sampingnya, agak jauh.

“Lynn? Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya dingin. “Bukankah kau sedang berkencan,” sindir Kyuhyun.

Lynn bangkit dari duduknya dan berdiri tepat di depan Kyuhyun. “Apa maksudmu dengan berkencan, huh? Jangan dengan gampang menyimpulkan sesuatu yang bahkan kau tidak mengerti kebenarannya, Mr. Cho,” sedikit kesal Lynn mengucapkannya.

“Cih, lalu kata apa yang tepat untuk menggambarkannya?” Kyuhyun memandang dengan tatapan emosi. “Pulanglah,”.

“Tidak mau. Aku akan di sini sampai kau mau mengantarku pulang,”.

“Cish, masih mengharapkan aku untuk mengantarmu? Yang benar saja Lynn, jangan bercanda,”.

“Aku tidak bercanda, Mr. Cho,”.

“Pulang, Lynn,”

“Tidak mau,”

“Hya, bukankah kau tinggal menelphon pacar barumu itu, huh?” dada Kyuhyun naik turun menahan luapan emosinya. Bahkan dia sangat membenci kata-kata yang baru saja diucapkannya. Cemburu sudah menguasainya.

Lynn bergeming di tempatnya, membuat Kyuhyun mendecak kesal. “Apa sebenarnya maumu?”.

Diam, hanya itu yang bisa dilakukan Lynn. Dia memilih tidak membuka mulutnya karena sepertinya akan sia-sia saja menjelaskan apa yang terjadi pada pria yang sedang tersulut amarahnya ini.

“Katakan sesuatu Lynn. Katakan pembelaan dan kebohongan yang akan membuatku membencimu. Katakan Lynn,” racau Kyuhyun. Lelaki ini sungguh dalam keadaan kacau.

Hening…

“Hah,” Kyuhyun mendesah kasar. Dirogoh saku jaketnya untuk mencari ponselnya. Kyuhyun menekan contact seseorang. Meskipun dalam keadaan marah, dia tidak mungkin tega membiarkan Lynn pulang sendiri. Jadi diputuskannya menghubungi seseorang untuk menjemput gadis tersebut.

“Yebeoseyo, Hyung. Sekarang juga jemput a-,” belum juga Kyuhyun menyelesaikan pembicaraannya, ponsel yang dipakainya telah berpindah tangan. Dengan cekatan Lynn mengambil android tersebut dan mematikan sambungannya.

“HYA APA YANG KAU LAKUKAN,” teriak Kyuhyun. Dia bangun dari duduknya dan berusaha merebut androidnya kembali.

Lynn segera mundur dan menyembunyikan ponsel tersebut di balik punggungnya, sedangkan Kyuhyun sibuk menggapai-gapai. Lynn mengeratkan genggamannya pada benda elektronik tersebut, jangan sampai lelaki di hadapannya ini berhasil merebutnya.

Kyuhyun terus merangsek maju, sedangkan Lynn berusaha mundur dan menghindari Kyuhyun. Lelah denga aktifitas berebut, Kyuhyun malah menarik pinggang Lynn ke arahnya. Menjadikan gadis tersebut terlonjak karena kini dirinya terkungkung dalam dekapan Kyuhyun.

Nafas Kyuhyun memburu seiring gejolak amarah yang ditahannya. Dia memandang gadis yang berada dalam kuasanya tersebut dengan pandangan tajam. Mata biru yang membalas tatapannya itu sungguh dirindukannya. Teduh dan menghanyutkan.

Kyuhyun menundukkan kepalanya sehingga dahinya bersentuhan dengan dahi Lynn. Dia semakin melihat dengan jelas bagaimana indahnya samudera dalam mata Lynn. “Kumohon, katakan padaku, warna sesungguhnya dari hatimu. Karena aku lelah untuk menduganya, Lynn,”.

“Apa maksudmu Mr. Cho?”

“Haruskah aku megatakan dengan lebih lugas, Lynn?” tanya Kyuhyun. Sepertinya, dia memang harus menyelesaikan suatu yang menjadi ganjalan hatinya malam ini juga. “I love you, Adelynn Lee. Do you love me as well?”.

“Lalu jawaban apa yang ingin kau dengar dariku?”

“Sebenarnya, Lynn,”

Dengan posisinya sekarang memudahkan Lynn menjangkau Kyuhyun, Lynn memiringkan kepalanya dan mengecup bibir Kyuhyun. Dia segera melepaskan ciumannya dan kembali memandang Kyuhyun.

Kyuhyun membulatkan matanya tidak percaya pada apa yang dialaminya. Dengan segera dikembalikan kesadarannya. “Heeh, dapatkah aku menyimpulkan dengan ini, bahwa kau juga jatuh cinta padaku?”.

“Semua tergantung dengan bagaimana kau mendefinisikan cinta, Mr. Cho,”.

Lynn membalas tatapan mata hitam Kyuhyun. “Kalau yang kau maksud adalah perasaan hangat saat kau berada di sekitarku, perasaan diterima dan dibutuhkan, perasaan hampa saat merindumu, perasaan ingin melindungi dan dilindungi, maka ya, aku jatuh cinta padamu,”.

Sebuah senyum melengkung dengan sempurna di wajah Kyuhyun. “Heh, gadis bodoh. Kau sungguh sudah jatuh dalam pesonaku. Kau tahu itu,”. Kyuhyun menenggelamkan wajahnya di pundak Lynn. Menunpukan keningnya di bahu Lynn dan tertawa ringan penuh kelegaan.

“Hya, aku buka gadis bodoh,” Lynn memukul punggung Kyuhyun. Dan setelahnya malah terdengar tawa Kyuhyun yang semakin menjadi.

Kyuhyun mendorong pelan tubuh Lynn. Memerhatikan Lynn dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Lalu bagaimana kau menjelaskan ini,” tunjuk Kyuhyun pada diri Lynn. Dia menyentil kening Lynn pelan.

Bukannya menjawab, Lynn malah bersin-bersin. “Gadis bodoh,” Kyuhyun kembali terkekeh dan mengacak rambut Lynn. Dilepaskan jaketnya dan menyelimutkan pada Lynn. Sedikit khawatir menggerayangi hatinya saat merasakan betapa dingin kulit Lynn yang bersentuhan langsung dengan udara.

“Jiah, kuantar kau pulang,”. Tiba-tiba Kyuhyun sudah membopong Lynn.

“Hya, turunkan aku, Mr. Cho,”.

“Jadi kau memilih kedinginan dengan bertelanjang kaki seperti itu? bukan saja kedinginan tapi juga malu mendapat tatapan orang lain,”.

Lynn melihat kakinya yang tanpa alas kaki. Benar, dia terlalu kalut tadi sehingga tidak terpikir memakai alas kaki. Kali ini Lynn merutuki kebodohannya.

“Kau ini seorang gadis. Bagaimana bisa kau lupa mengenakan alas kaki, huh?” goda Kyuhyun sambil berjalan.

“Itu karena salahmu,” bela Lynn.

“Ah, benar juga. Kau kan terlalu takut kehilangan lelaki tampan sepertiku,”.

“Ish, kau terlalu menyombong Mr. Cho,” Lynn memukul pelan pundak Kyuhyun. Memerhatikan Kyuhyun dari jarak sedekat ini sungguh membuat jantungnya berdegub keras, tapi dia tidak peduli apakah lelaki tersebut dapat merasakannya.

Wajah sempurna dengan senyum mengagumkan. Semuanya terasa indah di matanya. Dieratkan pegangannya di pundak Kyuhyun. Lynn mencium pipi Kyuhyun. “Thanks a bunch, Captain Cho,” ucapnya kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun.

Kyuhyun mengulum senyumnya. Kali ini dia yakin dapat mempertahankan kebahagiaannya. Bersama dengan gadis ini, dia akan berjuang. “Kau berhutang dua ciuman Miss Lee,” canda Kyuhyun di tengah perjalanannya.

_@Arsvio_

Joon menopang dagunya setelah melakukan suatu pekerjaan, yang penting baginya. Mouse di tangan kanannya discroll lagi untuk meneliti karyanya. Seringaian tipis ala Joon, tersungging sempurna di bibirnya. “Jangan salahkan aku jika melangkah sejauh ini Cho Kyuhyun,”.

Diary 1st : Cho Kyuhyun

“Bebanku terasa terangkat, ringan. Diriku bagai melambung karena mendapat balasannya. Kegalauan yang menyiksaku seakan sirna tanpa bekas dengan kata-kata yang meluncur dari bibirnya. Terima kasih karena mencintaiku kembali, Adelynn Lee”

Diary 2nd : Lee Adelynn

“Inilah keputusanku. Perlahan tapi pasti, aku sadar bahwa dia mulai menjadi penguasa hatiku. Rasa ini, walaupun awalnya tak yakin apakah cinta atau keranjingan tapi sesak yang nyata saat dia tidak berada dalam jangkauanku menyakinkan semuanya. Sekarang, dialah udaraku, Cho Kyuhyun”

Diary 3rd : Lee Joon

“Kau tahu Adelynn, bagaimana aku memujamu? Mencintaimu atas semua yang melekat pada dirimu. Tidak akan kulepas kau begitu saja. Kau yakin memilih pria itu? kita lihat saja pada akhirnya kau akan menyesali keputusanmu”

Diary 4th : Ham Eun Jung

“Tuhan, kumohon selamatkan hatiku. Lindungi jiwa rapuh ini. Aku sudah tidak tahan dengan semuanya. Ini terlalu menghimpitku dan menyeretku dalam jurang keputusasaan. Dan masalah ini lagi, oh, dapatkah aku lenyap seperti gelembung?”

TBC*

NOTE: Mian reader, karena lama updatenya. Puaskah kalian dengan part ini? Apa alurnya terkesan terburu? Diriku lagi galau gara2 ide selalu terbentur. Buntu maksudnya. Buat yang minta romantisme Kyu-Lynn dibanyakin, semoga tidak kecewa dengan part ini, karena aku memang harus menguraikan cerita tentang yang lainnya juga. Next part, semoga aku dapat hidayah untuk memperbanyak moment Kyu-Lynn, OK2?. Bye and Bow.

Eh iya, balik lagi buat peluk Selly karena udah posting ini ff. 

15 thoughts on “Trapped in Love with Game 6

  1. akhirnya, mereka jujur sama perasaan masing2..
    Tapi Joon mau ngapain tu??
    Jgn rusak kebahagian Kyu-Lynn…
    Joon sm Eunjung ja..

    Author Daebak…

    Jia Jung

  2. akhirnya kyuhyun bilang cinta juga, err sebenernya udah beberapa kali kan ya kyu nya bilang cinta ^^

    kyaa kyu babo, kenapa cium2 anak orang di depan sparkyu, #minta popo haepa
    joha ^^
    ditunggu kelanjutannya
    anyeong

  3. Wahhh joon jangan hancurin hubungan kyu ma lyn donggg..!!! Ihh. Kan mereka udah slng mencintai. ƗƗɑƗƗɑ=D ƗƗɑƗƗɑ=)) ƗƗɑƗƗɑ..
    Daebak min!

  4. lanjut thor XD, suka! Kyu’-lynn romantis, aigoo
    mereka uda sling trbuka ama perasa.annya
    tinggal lee joon doang, ganggu aja ntu orang ._.
    Btw, eun jung kasian.eh
    next dah thor, cepet publish .. !

  5. Suka banget sm keromantisan Lyn n Kyu oppa di part ini, so sweet dan apa yg mereka slg lakukan sangat menyentuh hati.. Ommo this couple very cute. Once again please Lee Joon go out, jangan ganggu hidup Lyn n Kyu oppa. Jadi Eun Jeung yg selama ini suka mengirimkan hal2 aneh kpd Lyn di apartment.. Tetap suka sm Donghae oppa dan betapa take cara nya dia sayang dgn Lyn.. asiknya Lyn pny kakak yg menyayangi nya setulus hati. Author daebak keren semua ceritanya dr awal sm skrg.. Ditunggu part berikutnya author.. Thanks

  6. kyuhyun kalo ngambek kayak anak kecil , haha
    dikasih mainan PSP , udah lupa :D
    akhirnya jadian juga !! :) yess !
    aku suka lhoo waktu Lyn nyampein perasaannya , maniis banget . hehe
    ditunggu seger next partnya ^^

  7. andweeeeeeee,, joon ngapain tuch,,,ckckckck,,, ada2 ja ye yang dilakuin kalo cinanya di tolak,,, masalah baru apa lagi nech,,,hahhhh,,, gilaaaaa,, makin penasaran ja diri ku,,, next part d tunggu bangetz,,,^^

  8. Omigod!!! Kyu-lynn make me so envy broh kkk~ :D
    Joon jangan bikin kacau hubungan kyu-lynn please T.T
    Next partnya ditunggu yaa ^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s