Monochrome

Pairing/Character: Kyuhyun (SJ)
Rating: G
Genre: Romance
Words count: 819

Author: ddanghobak

Seperti malam-malam sebelumnya, sesi latihan di SMEnt diakhiri dengan pertanyaan ‘kau pulang dengan siapa?’. Sopan santun para trainee di sana membuatku merasa tidak enak dan hanya bisa menggelengkan kepalaku. Kata-kata basa-basi ‘tidak perlu repot, aku bisa sendiri’ yang kerap kali kuulang kembali kupakai; dan aku menghembuskan nafas lega ketika mereka berbalik pergi dan mulai menanyai trainee di sudut lain ruangan.

Tapi baru aku berbalik pergi, mengemasi barang-barang secepat mungkin agar tidak ada yang bisa menghentikanku, seseorang memanggil namaku. Suara yang kukenal dan kuakui sempat aku harapkan. Campur aduk. Sempat aku berpikir untuk pura-pura tidak mendengar, tapi mana bisa?

“Biar kuantar.”

(Mata cokelat itu)

“Ah, tidak usah ak–”

Laki-laki itu memberikan isyarat ke arah pintu keluar, tidak memberikan waktu untukku memberikan argumen. Sekali lagi aku mendesah, meskipun kali ini untuk alasan yang berbeda. Kadang dia seperti ini, di waktu lain apapun yang kulakukan tak digubris olehnya. Sebuah misteri, dia itu. Seperti sebuah teka-teki yang meskipun sudah dipandangi lama tetap tidak bisa kupecahkan.

Aku mengikutinya dari belakang. Di spot tempat parkirnya yang biasa, sebuah mobil hitam sudah menunggu. Suara pintu mobil dibuka, dan meskipun dengan perasaan tidak enak, aku duduk di kursi depan. Ini bukan yang pertama kali, tapi tetap saja aku tidak bisa mengenyahkan rasa canggungku. Aku mengeluarkan telepon genggamku dari tas, mengecek pesan yang masuk meskipun aku tahu teleponku tidak berdering dari tadi. Benda kecil ini kujadikan fasilitas untuk melarikan diri, agar aku tidak begitu terlihat canggung. Mungkin gagal.

“Hyung keras sekali malam ini,” ujarnya sambil menyalakan mesin mobil dan aku hanya bisa tertawa lemah menatapnya. Dia melihat ke luar jendela, tidak melirikku sedikit pun. Mungkin aku seharusnya bersyukur.

(hening)

“Maaf ya, jadi merepotkanmu.”

(Basa-basi)

Aku menggenggam erat-erat teleponku ketika dia tidak memberikan reaksi apapun. Terpaksa kualihkan perhatianku ke luar jendela mobil. Selalu begini, apapun yang kukatakan seperti dianggap angin lalu olehnya.

“Jongshin-sshi mungkin sedang ada masalah di rumah,” ujarku lagi, berusaha menghapus kesunyian dengan menanggapi kalimatnya sebelumnya. Ini cara yang terlihat putus asa olehku, tapi aku tak punya cara lain. Aku langsung merasa lebih tenang ketika dia merespon.

“Heran juga dia mau menikahi istrinya sekarang kalau tiap hari dia hanya mengeluhkannya saja.”

“Karena cinta?”

“Ha,” ujarnya sambil tertawa meremehkan, “itulah sebabnya aku tidak akan pernah mau jatuh cinta.”

“Begitu? Hahaha,” aku tertawa canggung. Aku tidak akan pernah mengatakan ini langsung padanya, tapi kuharap dia salah. Boleh ‘kan aku berharap? Empat bulan terakhir ini aku berharap dia memandangku seperti aku memandangnya, kurasa itu bukan sesuatu yang salah.

Aku memainkan tombol telepon genggamku tanpa tujuan, hanya sekedar mencari sesuatu untuk dikerjakan. Namun sebelum aku bisa mencegah diriku sendiri, mulutku berkata, “meskipun ada orang yang bisa mengerti dan mau menerimamu seluruhnya?”

Ia tidak menjawab dan aku hanya bisa menggigit bibirku, yakin bahwa aku sudah mengatakan hal yang salah. Dalam hati aku memaki diriku sendiri, mencela keingintahuanku yang tidak bisa ditahan. Tapi ia kemudian tertawa lagi dan meskipun aku sedikit lega, kata-katanya tetap membuatku kecewa.

“Tidak mungkin ada orang yang seperti itu.”

Sekali lagi, aku tertawa hanya demi memberikan respon yang aman. Ia selalu menganggap ucapanku sebuah gurauan; kuakui aku berusaha keras tidak terdengar serius. Tidak terlalu berharap. Kurasa sampai akhirpun ia tidak akan pernah tahu bahwa semua ucapanku itu serius.

Kalau saja dia tahu bahwa aku benar-benar berusaha untuk menjadi sosok yang bisa diterimanya. Tapi entah dia terlalu naif atau aku yang pandai berakting, dia tidak pernah bisa melihat perasaanku. Kadang kupikir dia masih seperti bocah, dengan mudahnya melihat seluruh dunia dengan kacamata kuda, tidak pernah mengerti dunia orang di sekitarnya. Tapi tetap saja, aku berandai-andai, kalau saja dia tahu bahwa aku selalu menahan nafas ketika melihat sosoknya memasuki ruangan.

Tapi itu hanya sebuah andai-andai. Aku tidak ingin dia tahu. Aku bahkan tidak menceritakan perasaanku kepada siapapun. Mungkin ada beberapa orang yang bisa menebak, tapi aku tidak akan pernah mengakuinya. Harga diri, gengsi, mungkin itu alasannya. Mungkin aku akan kehilangan kesempatan dengan bersikap keras kepala begini, tapi aku tidak ingin mengakui perasaan ini kepada siapapun. Malu. Meskipun aku tidak akan pernah menolaknya. Mana bisa?

“Di sini kan?”

Pertanyaannya memecah lamunanku. Aku cepat-cepat mengangguk dan menambahkan “ya” ketika sadar ia tidak mungkin melihatku mengangguk ketika sedang menyetir.

“Thanks, maaf merepotkan,” ujarku sambil membuka pintu ketika mobil sudah menepi di depan rumahku.

“Santai saja.”

Nada yang monoton dan ekspresi cuek itu yang membuatku tidak pernah akan mengakui perasaanku. Aku jadi bertanya-tanya sendiri kenapa aku bisa—dengan laki-laki yang seperti ini. Tapi kemudian dia membuka jendela dan melambaikan tangannya. Gestur kecil yang sama sekali tidak berarti, tapi otomatis membuat jantungku berhenti berdetak selama sepersekian detik. Persetan dengan alasan, mana bisa aku tidak memiliki perasaan padanya?

(dia sempurna)

“Hehe, hati-hati, ya. Jangan ngebut.”

“Ya.”

Aku tersenyum dan melambaikan tanganku. Ia membalas dengan anggukan kecil. Perasaanku campur aduk. Senang sekaligus kecewa. Aku terus mengharapkan sesuatu terjadi, tapi juga selalu menyangkalnya. Aku tidak ingin mengakui ini, tapi ketika mobilnya menghilang di kejauhan yang ada dalam pikiranku hanyalah seandainya aku punya keberanian untuk mengatakan bahwa jantungku berdetak kencang karena dia. Ironis betul.

7 thoughts on “Monochrome

  1. feel ceritanya kena banget..
    Kereeeennn…
    Ya, kadang aku juga bingung gimana caranya buat bikin orang itu sadar dengan perasaan kita..
    Masa harus ce dulu yang maju, kenapa para laki2 tu t’lalu cuek…
    Pusiiing deh mikirinnya…
    Daebak author..

    Jia Jung

  2. kyuhyuuuuuuuuuuuuuuuuuun >///<
    astaga, baca ini mendadak jadi inget kalo orang ini yang pertama kali bikin aku jatuh cinta sama k-pop :)
    makasih udah bikin cerita semanis ini :")

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s