Me-mo-ri 3

Title    :           ME-MO-RI (Chapter III-GEU NAMJA…)

Author:          uchikyasha

Maincast:       Kim Hima, Cho Kyu Hyun, Choi Minho

Supportcast:  Super Junior, Hye Chan, Cho Ahra.

Rating :           PG-15

Genre :           Romantic comedy, Love, Chapters/Parts

PS       :           Jangan bosan-bosan komen ya… thanks wat yang udah komen sebelumnya. Selamat menikmati…

Hima POV

Hoaahhh… kakiku rasanya mau lepas! Aku terlentang tak berdaya di atas rumput empuk di sebuah taman. Tepat disampingku, Minho juga ikut berbaring, merasakan lelah yang luar biasa ku rasa. Keringatnya berpeluh deras. Dadanya naik turun dengan cepat. Yah, dia memang mengayuh sepeda sangat cepat hingga wartawan sialan itu kehilangan jejak kami.

“Nunna,” panggilnya dan kini berbaring menyamping ke arahku, dengan satu tangan menopang kepalanya.

“Waeyo?” tukasku diantara napasku yang tersengal.

“Siapa ajhumma rambut api itu?” tambahnya.

“Molla. Hanya ajhumma gila yang salah orang.” Jawabku sekenanya. Dia mengangguk sebentar.

“Keunde, selama ini kau ke mana saja nunna? Appa, eomma cemas padamu.”

Aku merubah posisiku ke posisi duduk sambil menjulurkan kakiku. Minho ikut duduk bersila.

“Maaf, sekarang aku belum bisa cerita. Tapi seperti yang kau lihat. Aku baik-baik sajakan?” ujarku dan mengacak rambut hitamnya. Dia tersenyum, kemudian berkata “Syukurlah nunna baik-baik saja. aku mengkhawatirkanmu sepanjang hari.”

Mwo? Mengkhawatirkanku sepanjang hari?

“Omo Minho-ssi. Jeongmal mianhae sudah membuatmu khawatir,” kataku dan sedikit menundukkan kepala padanya.

“Gwenchanayo. Tapi, sebagai gantinya, kau harus mentraktirku.”

“Aku mau sih, tapi aku tidak punya uang,” ujarku pelan dan menggaruk kepala yang tidak gatal.

“Keure. Nunna berhutang padaku. Kalau begitu, sekarang aku yang traktir saja sebagai perayaan kembalinya kita bertemu. Hehehe.” Minho tertawa dan menampakkan eye smilenya yang menggemaskan.  Menggemaskan? Belum sempat aku mengiyakan, Minho sudah menarik tanganku hingga aku berdiri dan mengajakku berlari entah ke mana, sambil tetap menggenggam tanganku.

“Sepedamu!” seruku sambil masih menoleh ke belakang.

“Biarkan saja. dia tidak akan ke mana-mana,” jawabnya sambil menoleh ke arahku. Kami terus berlari hingga berhenti di kedai es krim yang tidak jauh dari sepeda Minho. Hmmm… es krim. Kami berhenti dan duduk di kursi yang terletak di luar kedai, dengan payung besarnya yang melindungi kami dari panas matahari. Aku memesan es krim coklat dan Minho memesan es krim vanilla.

“Masikkun!” seruku dan menyendokkan sesuap besar es krim ke dalam mulutku. Aku mengedikkan kepala dan memejamkan mata erat karena rasa dinginnya sampai otakku. Saat aku membuka mata, hal pertama yang kulihat adalah senyum manisMinho. Dia pasti berpikir aku seperti anak kecil yang baru pertama kali makan es krim.

“Aku seperti anak kecil ya?” tanyaku. Dia menggeleng dan berkata “Ani. Ada sisa es krim di pipi nunna.”

“Keureyo?” ujarku dan mencoba membersihkannya dengan mengusap sembarang pipiku. Namun, Minho segera mengambil tisu dan menyekanya. Aku hanya diam, saat Minho menyeka pipiku.

“Selesai,” ujarnya dan memperlihatkan bekas es krim yang sudah menempel di tisu. Aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Tapi… aku merasa ada yang mengganjal. Sepertinya aku melupakan sesuatu tapi apa ya?

“Nunna ga, bagaimana kalau kita ke pusat game?” suara bass Minho membuyarkan pikiranku.

“Sepertinya asik. Ayo, sudah lama aku tidak ke pusat game. Aku jago bermain tetriz kau tahu?”

“Aniyo, akulah si raja tetriz! Ayo kita ke sana sekarang,” lagi Minho menarik tanganku kea rah sepedanya sambil berlari. Dia tidak lelah berlari hah? Padahal es krimku lagi sedikit habis!

“Omo Minho-ssi, pelan-pelan larinya! Waktu kita masih banyak,” ujarku sambil terengah.

“Waktu kita tidak banyak nunna!” jawabnya tanpa menoleh padaku. “Selagi kita punya waktu, kita habiskan saja dengan bersenang-senang.”

Aku tersenyum mendengar jawabannya. Dasar bocah. Tapi, aku bahagia. J

**

Author POV

Suasana di pusat game sedikit berisik dengan bunyi-bunyian yang berasal dari mesin game, dan teriakan-teriakan frustasi dan kemenangan. Minho dan Hima berada di salah satu sudutnya, sibuk berduel tetriz, permainan menyusun balok. Dari ribuan jenis game, tetriz-lah yang paling dikuasai Hima.

“Huahahahaha!” terdengar tawa congkak Hima yang sudah 5 kali berturut-turut mengalahkan Minho.

“Aigo… nunna kau pasti curang!” seru Minho dan menatap tajam Hima.

“Yak! Kau gila? Bagaimana caranya aku memanipulasi mesin ini? tsk, jeongmal baboya! Kemarikan keningmu!”

Minho mendengus kesal, menyibak poninya agar Hima bisa mendaratkan jitakannya. Hima tersenyum sebentar melihat kening Minho yang sudah merah menerima jitakannya yang bertubi-tubi tanpa ampun. Hima sudah bersiap mengangkat tangannya, dan Minho memejamkan mata erat. Ternyata, Hima hanya mendorong pelan kening Minho dengan telunjuknya.

“Mwo? Cuman begitu?” Minho seperti tidak terima.

“Ne, tidak asik. Kau terlalu mudah dikalahkan. Kita main yang lain saja.” seru Hima dan tersenyum.

“Keureyo nunna yang sombong. Bagaimana kalau kita bermain itu?” Minho menunjuk permainan melempar bola basket dengan ringnya yang bergerak ke kiri dan ke kanan.

“Keure. Yang kalah harus membelikan minum.”TantangHima. Minho mengacungkan jempolnya. Mereka sudah bediri di depan permainan tersebut. Minho memasukkan sekeping koin dan bola basket meluncur ke bawahnya. Dengan gampangnya, Minho memasukkan semua bola tanpa ada satupun yang meleset. Hima yang melihatnya hanya bisa menelan ludah. Sudah pasti aku yang akan membeli minuman, batinnya. Beberapa yeoja yang memakai seragam sedikit histeris dengan gayaMinhoyang super cool saat melakukan shot. Waktu habis dan skor Minho 30.

“Bagaimana?” tukas Minho dan menyeka peluhnya.

“Lumayanlah untuk anak baru. Giliranku!” Hima mengambil tempat setelah memasukkan koin. Bola meluncur dan dia segera mengambil dan melemparkan ke arah ring. Hima memang penembak yang payah. Dari banyak lemparan hanya tiga yang berhasil masuk ke ring. Hingga waktu habis, dia hanya bisa memasukkan 10 bola. Minho tertawa melihat wajah Hima yang kesal.

“Nunna, kau kalah dan kau harus membelikanku minum. Tapi, kau kan tidak punya uang?”

“Hahahaha, tentu saja aku pinjam uangmu dulu!” Hima tertawa getir sambil menggosok belakang lehernya. Minho menatapnya datar dengan ekspresi –sudah kuduga-nya itu.

“Ya sudah, nunna berhutang satu traktiran dan satu minuman padaku. Lain kali kalau kita pergi lagi, kau harus menepatinya.”

“Aigo… ku kira kau itu dongsaeng yang manis. Ternyata kau perhitungan sekali. Ne! aku akan mentraktirmu sampai perutmu pecah dan membelikanmu minuman paling mahal,” ujar Hima dan tertawa.

“Baiklah aku tunggu janjimu. Eo!Didepan ada mesin penjual boneka. Aku akan mendapatkan boneka yang bagus untukmu. Kajja.”Minhoberjalan ke depan pusat game diikuti Hima dari belakang. Mereka berhenti di depan mesin penjual boneka. Banyak boneka lucu dan berwarna-warni. Namun perlu usaha untuk mendapatkannya. Minho merogoh kantong celananya mencari koin.

“Eo? Koinku habis. Nunna, aku ke dalam dulu membeli koin sekalian beli minum.” ujar Minho dan diikuti anggukan Hima. Sementara Minho ke dalam membeli koin. Hima menatap takjub boneka-boneka lucu yang ada di dalam box kaca itu. Dia mengincar boneka buaya berwarna hijau.

Tanpa Hima ketahui, seorang namja berkaca mata gelap tengah mendekatinya dengan terburu-buru. Namja itu menarik lengan Hima dan memutar tubuhnya hingga berhadapan dengan namja tersebut. Hima terkejut dan hendak melancarkan jurusnya. Untung saja, namja itu cepat melepaskan kaca matanya.

“Tangsin!” seru Hima. Dialah, namja yang mengaku menjadi suaminya itu, Cho Kyuhyun.

“Babo! Ikut aku,” seru Kyuhyun dan menarik Hima kea rah mobil sambil memakai kembali kaca matanya, sebelum diketahui orang-orang sekitarnya. Namun, Hima menepis tangannya.

“Aku tidak mau ikut!”

“Aish, jinjja! Jangan melawan.Ayoikut aku pulang ke rumah.” Desis Kyuhyun sedikit kesal.NamunHimamasih tetap melawan bahkan mengancam akan berteriak.

“Aku akan pulang kalau urusanku sudah selesai. Aku masih mau bermain. Kalau kau terus memaksaku, aku akan berteriak!”

“Berhenti bertingkah seperti anak kecil! Ahra nunna khawatir padamu!” Kyuhyun memakai nada tinggi pada yeoja keras kepala itu.

Hima menepuk pelan keningnya. Bagaimana bisa dia melupakan Ahra? Melihat Hima yang terdiam, Kyuhyun segera menarik tangan yeoja itu ke dalam mobil. Hima terduduk diam saat Kyuhyun menjalankan mobilnya. Beberapa menit kemudian, Kyuhyun menepikan mobilnya di tempat sepi. Hima meliriknya sebentar, namun segera membuang pandangannya ke samping saat secara tidak sengaja pandangannya bertemu dengan Kyuhyun. Namja itu mendesah pelan dan membuka flip telponnya menelpon Ahra.

“Yoboseyo,” ujarnya.

“Hyun-ah, eottokeh? Kau menemukannya?” terdengar disebrang sana suara Ahra yang cemas.

“Eo. Dia ada di sampingku.” Jawab Kyuhyun dan memberikan telponnya pada Hima yang masih menatap keluar. “Nunna ingin bicara padamu.” Hima segera berpaling kea rah Kyuhyun dan menerima ponsel tersebut.

“Yoboseyo nunna,” lirih Hima.

“Hima-ga! Aigo… gwenchanayo?”

“Gwenchana nunna. Mianhae, membuatmu khawatir.”

“Aku frsutasi kau menghilang seperti ini! apa yang terjadi?”

“Ngg… nanti saja kita bertemu aku akan menceritakannya.”

“Keure. Tapi benar kau baik-baik sajakan?”

“Eo. Jangan khawatir.”

“Syukurlah. Berikan ponselnya pada Kyuhyun.”PerintahAhra. Hima memberikan kembali ponsel itu pada Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah, cepat bawa pulang Hima. Appa dan eomma terus menanyakannya. Kalau mereka tanya, bilang saja kalian ada sedikit urusan. Tadi aku bilang pada mereka kita bertemu dijalan dank au membawa Hima.”

“Ne, nunna. Sampai jumpa.” Kyuhyun memutuskan sambungan telpon dan menutup flipnya. Dia menatap Hima yang masih melihat keluar jendela.

“Kenapa kau selalu membuatku khawatir?!” seru Kyuhyun dengan nada sedikit tinggi. Hima berbalik dengan alis berkerut.

“Mwoya?! Akukantidak menyuruhmu mengkhawatirkanku.” Jawab Hima dengan tampang innoncentnya.

“Babo! Aku suamimu makanya aku khawatir. Aku ini sibuk jadi jangan membuatku susah!”

“Kau kira aku begini gara-gara siapa?? Ini semua salahmu! Kalau aku memang membuatmu susah kirimkan saja aku ke eommaku dengan begitu kau tidak perlu repot-repot lagi denganku!”

“Mwo???”

“Aku dikejar wartawan asal kau tahu! Mereka menanyakan skandal murahanmu yang berduaan dengan seorang yeoja di hotel!”

Terlihat wajah Kyuhyun menegang.

“Kau tidak percaya dengan skandal yang mereka buat sendiri kan?” tukas Kyuhyun penuh selidik.

“Aku tidak peduli!” ujar Hima dan melipat tangan di depan dadanya. Kyuhyun merasa lega sekaligus kesal. Lega karena istrinya tidak mempermasalahkan skandal murahan tersebut, namun kesal juga karena Hima tidak begitu peduli. Itu artinya dia tidak cemburu? Tidak cemburu berarti tidak cinta?

“Kau… tidak cemburu?” tukas Kyuhyun heran. Tawa Hima pecah seketika, namun dalam sekejap juga tawanya hilang, berganti wajah seriusnya.

“Berpikirlah lebih logis. Untuk apa aku cemburu?” desisnya. Kyuhyun meletakkan tangannya yang besar di atas kepala Hima. Yeoja itu hanya menggerakkan bola matanya ke atas, kemudian menatap Kyuhyun dengan pandangan tidak sukanya.

“Cepatlah ingat padaku. Aku tidak tahan begini terus.” Ujar Kyuhyun diikuti tangan Hima yang menepis tangannya. Namja itu mendesah sebentar, kemudian berkata “Ya sudah, sekarang appa dan eomma mau bertemu denganmu. Eomma sudah tahu keadaanmu. Tapi.. appa  hanya tahu  kau kecelakaan dan tidak hilang ingatan.”

“Appa dan eomma mu?” tukas Hima pelan. Kyuhyun mengangguk. Wajah Hima berubah sedih. “Uri eomma, apa aku juga akan bertemu eommaku?” lirihnya. Kyuhyun tersenyum miris, berat mengatakan tidak.

“Kau… pasti akan bertemu dengan eomma. Tapi tidak sekarang. Jadi, kau mau bertemu dengan mereka kan? Mereka juga sangat menyayangimu sama seperti eomma mu menyayangimu jjagi-ah.” Ujar Kyuhyun dan mengelus kepala Hima yang sedari tadi tertunduk. Wanita itu mengangkat kepala dan memandang Kyuhyun sebentar. Kemudian dia mengangguk kecil dan tersenyum. Kyuhyun membalas senyum Hima dan segera menstater mobilnya, kembali melaju ke jalanan.

**

HimaPOV

Mobil Kyuhyun memasuki sebuah rumah besar dan mewah. Tamannya tertata sangat rapi. Rumahnya juga sangat berasitektur ku rasa. Berarti, dia anak orang kaya ya? pertanyaan bodoh. Memangnya rumah besar itu belum cukup?

“Apalagi yang kau tunggu?” suara Kyuhyun mengagetkanku yang masih terpana dengan rumah besar ini.

“Aku… aku takut. Ani, gugup ku rasa,” jawabku dan menyeka telapak tanganku yang basah ke rokku. Dia tersenyum dan menggenggam tanganku. Entah kenapa, aku sedikit tenang.

“Mereka tidak akan memarahi atau memakanmu. Jika mereka bertanya, jawab saja seperlunya. Kajja,” ujarnya dan menarikku berjalan menuju teras. Aku menarik napas dan menghembuskannya berulang-ulang. Kyuhyun pun memencet bel.

“Nuguseyo?” suara Ahra nunna sepertinya terdengar dari pengeras suara interkom.

“Uri, Kyuhyun dan Hima,” jawabnya. Pintu terbuka dan muncul Ahra nunna. Dia sepertinya sangat senang melihatku, sampai memelukku sangat erat hingga aku sedikit sesak.

“Nu-nunna, bisa kau lepaskan pelukanmu? Aku tidak bisa ber-bernapas.” Kataku. Dia segera melepas pelukannya dan membelai pelan pipiku.

“Kau benar-benar membuatku cemas! Kalau sampai appa dan eomma tahu aku kehilangan menantu kesayangan mereka, aku bisa mati!” serunya dan menatap kami berdua bergantian. “Ayo cepat ke dalam, mereka sudah menunggu. Hima-nni, kalau appa bertanya, bilang saja kau cuman kecelakaan kecil. Arachi?”

Aku mengangguk meski tidak mengerti maksud Ahra nunna. Ahra nunna mengacungkan jempolnya dan segera masuk ke dalam mendahului kami. Aku melemparkan death glare ku ketika tangan si buaya tiba-tiba ada dipundakku, dan membunuh jarak diantara kami.

“Kita harus berakting romantis,” jawabnya dengan tampang super innoncent. Aku berdecak kesal. Ingin sekali aku membenturkan kepalanya ke tembok. Tapi, karena kami telah berada di ruang tamu –dimana ada seorang ajhussi dan ajhumma yang ku rasa orang tua Kyuhyun-yang sangat mewah menurutku, aku tidak jadi melakukannya. Itu terlihat dari barang-barang juga dekorasinya. Seorang ajhussi berambut setengah putih duduk di sofa single dengan penuh kearoganan namun terlihat berwibawa. Seorang ajhumma duduk di dekatnya, di sofa panjang berwarna krem.

“Appa, eomma, Hima dan Kyuhyun sudah datang,” ujar Ahra nunna. Aku pun membungkuk memberi hormat pada ajhumma dan ajhussi itu.

“Anyeong haseyo,” ujarku dan mencoba tersenyum senatural mungkin.

“Hima-nni” ujar sang ajhumma lembut, segera bangkit dan memelukku erat. Sudah lama aku tidak merasakan kehangatan ini. Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku dibahu ajhumma, ikut membalas pelukannya. Rasanya, aku tidak mau melepasnya.

“Ehem!” suara bass ajhussi menyadarkanku. ajhumma melepaskan pelukannya dan mengelus rambutku. Dia mengajakku duduk di sampingnya, sementara Kyuhyun duduk di sofa yang bersebrangan denganku, bersama Ahra nunna. Aigo… wajah ajhussi ini benar-benar menyeramkan!

“Kau sudah baikan?” ujarnya tanpa melihatku, sibuk membaca korannya.

“Ne, aj-aboji.” Fyuh, hampir saja aku salah sebut.

“Bagaimana kau bisa kecelakaan? Dasar ceroboh!” ujarnya sedikit membentak dan menatapku lekat-lekat. Omo… nyawaku! Rasanya nyawaku sudah melayang entah ke mana karena tatapan dan suara aboji. Lututku lemas. Aku tertunduk dalam, tidak berani menatapnya.

“Geugeo… ng… geuge, na… nanneun…” aku menggumam tak jelas. Rasanya suaraku tersangkut ditenggorokan dan tak mau keluar. Aku juga bingung, kecelakaan yang semua orang maksudkan itu apa? Yang mana, di mana dan kapan tepatnya?

“Yeobo, menantu kita sepertinya trauma dan tidak bisa menceritakannya. Iya kan Hima-nni?” Aku tersenyum lembut menatap ajhumma. Dia benar-benar menyelamatkanku.

“Kalau saja ada suamimu yang tidak berguna itu, kau pasti tidak akan mengalami kecelakaan. Hah, aku juga tidak mengerti. Kau punya suami tapi ke mana-mana selalu sendirian. Akibatnya begini kan? Untung saja kau cuman luka kecil.”

Aku melirik Kyuhyun sebentar. Rahangnya mengeras, ku rasa dia marah. Dan kini wajah menyebalkannya itu sedikit menakutiku. Sepertinya, hubungan ajhussi dan Kyuhyun tidak terlalu baik ku rasa. Bisa kulihat dari kata-kata ajhussi tadi dan cara Kyuhyun meresponnya.

“Naneun gwenchanayo aboji. Jangan khawatir. Mungkin waktu itu aku saja yang kurang hati-hati. Hahahaha.” Aku mencoba mencairkan suasana yang menegangkan. Cih, pasti tawaku terdengar sangat garing.

“Tetap saja, ini salah seseorang yang tidak bertanggungjawab.” Kata ajhussi dingin.

“Appa,” tegur Ahra nunna dan menyentuh pelan lengan ajhussi. Kebetulan Ahra nunna duduk agak dekat dengannya.

“Waeyo? Memang perkataanku benar kan?” jawab ajhussi dan melirik Kyuhyun sesaat. Kali ini, tangan Kyuhyun mengepal keras hingga bergetar.

Brakk‼

Kyuhyun menggebrak meja di depannya. Saking kerasnya, aku sampai terlonjak kaget.

“Kita pulang saja. seharusnya kita tidak datang,” desisnya dan berdiri. Ku rasa itu perintah untukku. Dengan takut-takut  aku ikut berdiri.

“Kau di sini saja. kau baru saja datang. Tidak sopan jika kau pulang sebelum aku menyuguhkan teh.” Ajhussi menyuruhku untuk tetap duduk.

“ChoHima-ssi. Kita pulang.” desis Kyuhyun lagi dan menatapku dengan matanya yang merah. Aku tidak jadi duduk dan hendak berdiri lagi. Ck! Jangan membuatku bingung seperti ini. Eomma!

“Aku bilang tetap disini!” kali ini ajhussi membentakku. Dengan cepat aku kembali duduk. Jantungku!

“Yeobo, kau menakuti menantu kita. Hyun-ah, tetaplah disini sampai makan malam eo? Eomma mohon.”

“Mianhaeyo eomma. Aku tidak bisa berlama-lama didekat orang yang tidak pernah mengerti aku.” TukasKyuhyun.

“Hyun-ah, dengarkan eomma.” Ahra nunna mencoba menenangkan Kyuhyun dan menarik tangannya agar dia kembali duduk.

“Biarkan saja dia pergi.” Ujar ajhussi dingin dan berhasil membuat Kyuhyun meledak.

“Aku juga tidak mau lama-lama disini!” bentaknya. Ajhussi sepertinya juga murka. Dia berdiri dan berteriak sambil menunjuk Kyuhyun.

“Kau itu memang anak kurang ajar! Ku kira kau akan berubah. Dunia mu membuatmu menjadi arogan! Lebih baik kau mati saja!” Aku sampai menutup telinga karena teriakan ajhussi yang sangat keras.

“Cih, appa saja yang mati duluan. aku masih muda,” sinis Kyuhyun tanpa menatap ajhussi.

“M-mwoya?! Yak! Anak durhaka‼!” teriak  ajhussi lagi, kini mendekati Kyuhyun dan memukuli kepalanya tanpa ampun.

“Dasar kau anak tidak berguna! Beraninya kau menyumpahiku‼”

“Appa! Hentikan!” jerit Ahra nunna mencoba menghentikan ajhussi. Begitu pun dengan ajhumma. Aku bingung sampai tidak tahu harus berbuat apa. Aku, seperti melihat bayanganku sendiri yang sedang dipukul eomma.

“Hima! Bantu aku!” teriakan Ahra nunna menyadarkanku. aku ikut membantu mengahalangi ajhussi dengan berdiri di depan Kyuhyun. Dan si bodoh itu hanya diam saja dipukuli.

“Ajhussi hentikan!” seruku tanpa sadar akan panggilanku tadi. Tapi tidak penting karena dia tidak menyadari dan terus memukuli Kyuhyun tanpa ampun.

Buggh‼

Sebuah pukulan ajhussi berhasil mengenai wajahku. Aku terjatuh hingga terduduk dilantai. Tiba-tiba saja semuanya terdiam dan suasana menjadi hening. Kini semua tatapan tertuju padaku. Omo, wajahku perih dan kepalaku pusing.

“Jjagi!” Kyuhyun segera mendekatiku dan membantuku berdiri. “Kau baik-baik saja? ada yang terluka?” tambahnya dan memeriksa wajahku. Aku menggeleng pelan. Kemudian, dia membantuku berdiri.

“Gwenchana.” Seruku dan menatap semuanya. “Aboji, eomoni, ahra nunna ka-kami pulang dulu. lain kali aku akan berkunjung. Anyeong!” seruku dan menunduk dalam. Setelah itu, aku menarik tangan Kyuhyun dan dengan segera keluar dari rumah. Begitu kami sampai di dekat mobil, dia menepis tanganku.

“Yak! Kenapa kau mengajakku keluar? Dia harus minta maaf karena sudah memukulmu!” serunya berapi-api dan hendak masuk ke dalam rumah lagi. Aku memegang erat lengannya agar dia tidak masuk ke dalam dan menimbulkan kekacauan. Tadi saja sudah membuatku jantungan.

“Ajhussi tidak sengaja. Aku juga tidak apa-apa,” jawabku mencoba menenangkannya.

“Tidak apa-apa? Aku lihat dia memukulmu sangat keras! Dia harus minta maaf!”

“Tapi dia appamu! Kau tidak boleh kurang ajar padanya. Sejahat apapun dia, tetap saja dia orang tuamu.” Sejak kapan aku jadi sebijak ini? Padahal, aku tidak jauh berbeda dengan Kyuhyun. Mungkin, jauh dari eomma, membuatku tahu arti penting orang tua.

“Aku tidak peduli.”

Aish dasar keras kepala!

“Kita pulang saja! kajja!”

“Tidak! Dia harus minta maaf! Kenapa dia tidak menghilang saja? membuatku pusing!”

Plakk!

Refleks, tanganku menampar Kyuhyun. Aku menatapnya dengan mata ku yang mulai panas. Aku, benar-benar tidak suka kalimat terahirknya.

“Ja-jangan pernah berharap orang tuamu menghilang.” Lirihku dan menangis. “Aku pernah berharap seperti itu, dan sekarang aku benar-benar mengalaminya. Aku, menyesal sudah mengatakannya. Aku… sangat menyesal.” Pertahananku runtuh sudah. Tangisku makin menjadi. Detik berikutnya, aku telah berada dalam pelukan Kyuhyun.

**

Sepanjang perjalanan pulang kami hanya terdiam. Kyuhyun sibuk berkonsentrasi menyetir. Dia terus melihat ke depan tanpa sedikit pun menoleh padaku dengan kening berkerut saking seriusnya. Aku pun sibuk memandang keluar jendela, bingung harus menatap kea rah mana. Apa dia marah karena aku menamparnya? Atau dia masih marah pada ajhussi? Aduh, perutku. Aku belum makan siang dan sekarang sudah malam. Aku cuman makan es krim. Es krim mengingatkanku pada Minho. Pasti dia panik karena aku pergi begitu saja. Sebaiknya aku ke rumah Choi ajhumma dan bertemu mereka dan Minho. Baiklah besok aku berkunjung saja. tapi… perutku semakin perih. Apa di rumah ada makanan ya?

Krruuyyuuukkk ~

Yak! Perut brengsek! Kau benar-benar memalukan! Kenapa harus berbunyi disituasi seperti ini.? Aku berbalik melirik Kyuhyun. Aku melihatnya tersenyum geli ku rasa. Dia berbalik menatapku dan tertawa. Aish, mukaku rasanya panas.

“Hahaha. Tidak usah dihiraukan. Perut ini memang tidak tahu diri!” seruku kaku dan memukul pelan perutku.

“Baiklah, kita makan malam dulu. Aku juga lapar. Eo, didekat sini ada restoran sushi favorit kita.” Ujarnya dan mengacak rambutku. Assa! Sushi!

**

Author POV

Tak berapa lama mereka sampai di depan restoran sushi favorit mereka. Setelah Kyuhyun memarkir mobil, mereka segera turun dan masuk kedalam. Tidak lupa Kyuhyun memakai perlengkapan menyamarnya.

“Chakkaman!” seru Hima dan menahan lengan Kyuhyun. Padahal mereka sudah berada di depan pintu restoran.

“Wae?”

“Apa harus kau memakai masker dan kacamata sebesar itu? Kau lebih mirip perampok!” ujar Hima dan menatap suaminya itu dari atas kembali ke bawah lagi.

“Mwo?! Ya, aku sangat terkenal. Jadi untuk menghindari para fans aku harus menyamar. Eo?” Kyuhyun mendekatkan wajahnya dan Hima refleks menggerakkan kepalanya ke belakang, agar tercipta jarak diantara wajah mereka. Kyuhyun meniup poni tirai Hima dan masuk ke dalam.

“Aigo, sombongnya!” ketus Hima dan ikut masuk ke dalam.

“Anyeong haseyo,” sapa sang resepsionis yang berdiri dibalik meja dengan ramah. “Selamat datang di restoran kami. Apa anda sudah melakukan reservasi?”

“Aniyo,” ujar Kyuhyun dan mengeluarkan sebuah kartu member dan memberikannya. Begitu membaca nama yang tertera di kartu tersebut, sang resepsionis-yang seorang yeoja-menjadi salting.

“Tu-tuan Cho Kyuhyun? Cho Kyuhyun Suju?” serunya perlahan. Kyuhyun mengangguk dan sang resepsionis seperti akan hendak pingsan. Dia melirik kiri dan kanan seperti takut akan seseorang. Kemudian, dengan cepat dia menyerahkan selembar kertas dan pulpen.

“Bo-boleh aku minta tanda tangan?? Aku penggemarmu! Jebal…”

Hima memutar bola matanya dengan malas dan lebih memilih berjalan menuju toilet. Kandung kemihnya sepertinya sudah penuh. Kyuhyun yang sibuk memberi tanda tangan segera berteriak melihat Hima pergi begitu saja.

“Yak!” serunya dan membuat Hima berbalik dengan malas. “Oddiga?”

“Toilet. Kau tidak mungkin mengikutiku kan?” sinis Hima dan kembali berjalan menuju toilet. “Sekarang kepalanya yang besar bertambah besar.” Gumamnya sambil berbelok ke sebuah lorong menuju toilet.

Tanpa Hima ketahui, dari arah berlawanan, seseorang berlari kencang dan menabrak Hima, hingga yeoja itu jatuh terduduk dilantai. Sialnya, orang itu hanya menunduk padanya dan segera kembali berlari.

**

TBC

Gimana? Maaf ya ceritanya tambah gak keruan. Hehehe. padahal support castnya ada anggota Suju yang lain, tapi udah chap 3 tapi belum muncul-muncul. tenang aja, chap selanjutnya satu-satu udah muncul kok. Oke?

Jeongmal gomawo buat yang udah koment.

^_~

9 thoughts on “Me-mo-ri 3

  1. kpn sich, hima inget lagi ma kyu…..?
    jdi tambah penasaran ma kljutannya, sp sich yang nambrak hima….?
    ditnggu klnjtannya., jng lama” ya…

  2. Wah tambah penasaran, ada konflik baru di cerita ini sebetulnya Kyu oppa n appa nya kenapa ya? Kasihan Hima jadi bingung dan kira2 siapa ya yg menabrak Hima di restoran Sushi tsb.. Kasihan jg td Minho ditinggal.. Ditunggu author part berikutnya. Thanks

  3. aduh konflik nya kagak selesai2 … minho dikacangin nnti giliran sm kyuhyun kyuhyun yg dikacangin …. bikin penasaran .. tapi I LIKE IT

  4. Aku kok merasa aneh sat Minho blg waktnya tdk banyak…
    Requestadegan romantis KyuIma yaa,,kekeke~
    Part selanjutnya smg lbh panjang.
    Next partnya ditunggu^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s