After All 2

After All

Keping Dua

Author : Lhyn Hatake

Genre : Romance , Hurt/Comfort, Drama.

Cast : Cho Kyuhyun, Lee Sungmin, Choi Siwon, Kim Ryeowook, Kim Yesung.

Support Cast : Lee Donghae, Lee Hyuk Jae (Eunhyuk), Lee Teuk, Kang In, Heechul, etc.

Rate : PG-18

Genre : Romance , Hurt/Comfort, Drama.

pairing : Kyuhyun X Sungmin, Siwon X Sungmin, Kyuhyun X Seohyun, and Yesung X Ryeowook, the other only Friendship, Ada request untuk Slight lainnya silahkan di FeedBack/Comment.

Warning : Genderswitch (LadiesSungmin), abal, geje, aneh, Ooc, Typos, Author baru yang ga ngerti banyak hal, dan paket lain yang membuat fic ini jauh dari kata sempurna. Not alowed to bashing the cast or other.

Disclaimer : Super Junior milik SME, Karakter milik diri mereka sendiri, Lhyn hanya pinjem nama untuk fiksi dari imajinasi Lhyn tanpa bermaksud mengambil keuntungan materi dalam bentuk apapun. please! DON’T TAKE IT OUT WITHOUT PERMISSION.

.

.

 

“Bisa kau hanya melihatku saja, Kyuhyun?”

.

.

Yeoja manis bermata foxie itu melangkah keluar dari Audi putih yang terparkir agak ke ujung, melangkah cepat dengan sedikit tergesa. Dadanya berdenyut sakit, tapi bodohnya dia tak bisa berbuat apapun pada namja yang membuatnya merasa sakit, tak bisa meski hanya sekedar kesal dan marah.

Dia hanya bisa mengumpat kesal pada dirinya sendiri. Bodohnya dia menanyakan hal itu, pertanyaan yang dia tahu jawabannya, pertanyaan yang hanya akan membuat hatinya semakin sakit.

Bisa kau hanya melihatku saja, Kyuhyun?

Tidak.

Tentu saja jawabannya ‘tidak’. Meskipun namja berambut caramel itu hanya diam, tapi Sungmin tahu, dengan jelas dia tahu bahwa Kyuhyun tak pernah hanya melihatnya. Ada Yeoja lain di sana, Yeoja yang telah meninggalkan namja Evil itu dalam keterpurukan empat tahun yang lalu. Sungmin masih bisa mengingatnya dengan jelas, bagaimana rupa Kyuhyun saat itu.

Kyuhyun yang dia kenal sebagai dongsaeng yang melompat kelas hingga dia bisa duduk sebangku dengannya, malam itu tampak seperti anak kucing yang terpisah dari induknya. Mabuk dan kehujanan di jalanan, belum lagi beberapa luka di tubuhnya. Begitu ringkih dan rapuh. Tanpa semangat. Tatapan matanya begitu kosong. Bahkan dari apa yang namja itu rancaukan, Sungmin tahu luka-luka itu berasal dari percobaan bunuh diri yang gagal.

Sungmin tak pernah berhasil membuat Kyuhyun bicara tentang kejadian malam itu, dia hanya bisa tahu segala sesuatunya dari pihak-pihak lain. Sungmin iba padanya, Yeoja manis itu merawatnya, memperhatikannya, memberinya kehangatan dalam belas kasih. Hingga membuat Kyuhyun begitu haus pada belaian sayangnya… karena terbiasa.

Tapi lihat sekarang…

Siapa yang patut dikasihani? Siapa yang tampak mengiba agar bisa dicintai? Dunia begitu kejam, kan? Begitu mudah memutar rodanya. Kini Sungmin lah yang harus mengiba rasa cinta dari namja yang diselamatkannya empat tahun yang lalu.

“YA! MINNIE NOONA!”

Sebuah teriakan keras membuat Sungmin tersentak. Yeoja itu mengerjapkan mata kelincinya dan menggeleng pelan mengusir segala pemikiran mengenaskan itu dari kepalanya, lalu dengan cepat mengusap lelehan air mata yang entah sejak kapan ada di pipinya sebelum berbalik kearah suara yang memanggilnya.

Annyeonghi jumuseyo Wookieah,” sapa Sungmin pelan begitu si pemanggil yang berlari kearahnya telah berada dalam jarak dekat.

Noona kemana saja? Aku mencari Noona di flat dan di seluruh kampus juga di mana-mana tapi tidak berhasil menemukan Noona, dan ada apa dengan ponsel Noona?” serbu Ryeowook tanpa membalas salam dari Sungmin, raut wajahnya terlihat kesal dengan butir keringat tipis di dahinya.

“Wae, Kau mencariku? Mianhe, aku keluar dengan Kyunie,” jawab Sungmin dengan senyum tipis sementara tangannya meraih ponsel di saku rok selututnya dan menemukan ponsel itu mati, “Hehehe… Mianhe Wookie-ah, ponselku mati,” ujar Sungmin Innocent, membuat Ryeowook tak sanggup untuk kesal lebih jauh.

Namja itu tersenyum, Ryeowook adalah dongsaeng satu jurusan Sungmin yang tinggal di flat tepat di depang flat Sungmin. Keduanya telah berteman dekat sejak hari pertama Ryeowook masuk kuliah, Sungmin masih ingat bagaimana dia ikut repot membantu namja itu mempersiapkan semua keperluannya hari itu.

“Aku mau minta kunci cadangan flatku,” ujar Ryeowook dengan wajah aegyo yang sebenarnya sama sekali tak berpengaruh di depan Sungmin.

“Hilang lagi?” Sungmin membalas dengan raut wajah watados yang makin membuat Ryeowook salah tingkah.

“Hehe… Mianhe ne, aku lupa mengambilnya lagi setelah aku mengeluarkannya saat mencari ATM di tasku,” Ryeowook bersungut dengan kecerobohannya sendiri.

Sungmin hanya menggeleng pasrah. Entah sudah berapa kali namja itu kehilangan kunci flatnya sebulah ini, dan Sungmin yang sejak awal telah dititipi kunci duplikatnya harus bersabar setiap kali namja itu meminta kuncinya untuk di buat duplikat yang baru.

Kehilangan kunci, hal ceroboh yang sebenarnya sangat bukan Ryeowook. Entah apa yang terjadi pada dongsaengnya ini, Sungmin sudah beberapa kali membujuk Ryeowook bercerita bila dia ada masalah namun selalu saja hanya ditanggapi dengan seulas senyum tipis dan gelengan pelan.

Gwenchana,  tapi Wookie, malam ini aku tidak bisa pulang ke flat, kau ambil saja kuncinya di tempat biasa dan ini kunci flatku,” ujar Sungmin sembari memberikan kunci dengan gantungan bola-bola kecil berwarna pink.

Gomawo Minnie Noona, semoga malammu menyenangkan bersama Kyuhyun-ah,” ujar Ryeowook, dan namja itu segera berlari menjauh setelah meraih kunci dari tangan Sungmin sebelum sebuah jitakan mendarat di kepalanya.

“Ya! Wookie!” Sungmin memanggil Ryeowook dengan sedikit keras karena posisi namja itu yang telah cukup jauh darinya.

Ryeowook berbalik dan memandang Sungmin dengan tatapan tanya.

“Kau tahu aku akan selalu mau mendengarkanmu, kan?” Sungmin masih dengan volume sedikit lebih keras.

Ryeowook diam, dia hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. “Saranghae Minnie Noona,” ujar Ryeowook, sama sekali melenceng dari topik, membuat Sungmin hanya geleng-geleng kepala melihat kebiasaan Ryeowook yang suka mengucapkan kata ‘cinta’ padanya tanpa kenal tempat dan waktu.

Yeoja manis itu kembali teringat tujuannya ke kampus sesaat setelah Ryeowook menghilang di ujung koridor. Sungmin kembali melangkah menuju ruangan Kim seonsaeng. Koridor kampus terlihat sepi saat itu, selain karena tak banyak yang mengambil kelas malam juga karena saat itu kelas telah dimulai.

Tok..’

“Lee Sungminssi?”

“Uh!” Sungmin terkejut saat seseorang menepuk pundaknya saat dia baru saja mulai mengetuk pintu.

“Eh? Mianhe aku tidak bermaksud mengejutkanmu,” ujar seorang namja tampan dengan tubuh yang menjulang tinggi di depan Sungmin.

Gwenchana,” balas Sungmin dengan gelengan pelan. “Ne, Jae ireumen Lee Sungmin imnida.”

Namja di depan Sungmin tersenyum tipis, memperlihatkan lesung pipit yang membuat wajah tampannya kini juga menyandang predikat manis. “Choi Siwon imnida, mulai hari ini aku adalah pembimbingmu untuk menggantikan Kim seonsaeng.”

Mwo? Kim seonsaeng tidak mengabariku sebelumnya. O, Mohon bimbingannya Choi seonsaeng,” ujar Yeoja bermata kelinci itu sopan dengan menundukkan kepalanya singkat.

“Tak perlu bersikap terlalu formal denganku, panggil saja aku Siwon,” ujar Siwon tenang. Dengan gerak tangan, namja itu mengisyaratkan agar Sungmin mengikuti langkahnya. “Aku tidak terlalu suka suasana kaku,” ujar Siwon dengan memberikan sebuah senyum pembunuh pada Sungmin yang kini telah berjalan menyamai langkah namja itu.

“Ne, Siwon oppa,” jawab Sungmin, dengan raut polosnya. Dan senyum khas aegyo yang yeoja manis itu lemparkan membuat senyum pembunuh seorang Choi Siwon tak berarti sama sekali. “Oppa juga boleh memanggilku Minnie.”

“Baguslah, sepertinya kita bisa menyesuaikan diri dengan baik. Aku juga sudah membaca profilmu yang di berikan Kim seonsaeng kemarin. Aku terkesan padamu Yeoja, kau bukan Taehaksaeng cerdas ber-IQ tinggi tapi kau sangat tekun,” kata Siwon, hangat.

Sungmin merengut mendengar ejekan yang beralih fungsi menjadi pujian, tapi pipinya jadi sedikit memanas juga. “Gomawo,” ujar Sungmin singkat, Yeoja manis itu jadi kebingungan memikirkan kalimat yang tepat saat mendengar pujian dari pembimbing tampannya itu.

“Aku hargai ketekunanmu, dan untuk itu aku juga akan membantumu sebaik mungkin, jadi mohon kerja samanya, Minnie.”

Sungmin menatap wajah serius namun begitu hangat milik namja di depannya. “Gamsahamnida, mohon bimbingannya, Siwon oppa.”

.

.

Sungmin tiba di dorm Super Junior sekitar jam sembilan. Yeoja itu berjalan memasuki lift dengan wajah puas. Siwon adalah seorang pengajar yang baik, setelah sesi perkenalan yang cukup panjang, Siwon meminta Sungmin untuk memperkenalkan Application Projectnya pada Siwon, dan namja tampan itu dengan baik memberi beberapa penerangan yang memang sangat Sungmin butuhkan.

Lift berhenti di lantai yang Sungmin tuju, Yeoja manis itu keluar begitu pintunya terbuka dan melangkah pelan menuju sebuah apartement yang tak asing baginya. Sejujurnya, Sungmin merasa enggan untuk menepati janjinya untuk menemui Kyuhyun sekarang. Dia masih bisa merasakan kekecewaan yang hadir di akhir pertemuan mereka tadi.

Tapi tetap saja, bagi seorang Lee Sungmin mengabaikan Cho Kyuhyun adalah hal yang sulit dalam hidupnya.

Pintu dorm Super Junior terbuka setelah Sungmin menekan bell dua kali dan sosok Kang In yang menjulang tinggi di depan Sungmin terlihat.

Annyeong Oppa,” sapa Sungmin.

“Minnie, kau datang? Kebetulan sekali, kami baru selesai latihan,” kata Kang In dengan wajah merah dan berpeluh tipis, sepertinya mereka memang benar-benar baru selesai latihan.

Sungmin masuk setelah Kang In memberinya jalan dengan memiringkan tubuhnya yang hampir memblokir pintu yang setengah terbuka.

“Minnie, kenapa baru muncul? Lama sekali kamu tidak ke sini Minnie,” sapa Teuk yang tengah melangkah menuju ruang TV dengan nampan berisi gelas-gelas squash,  sementara di depan TV ada Donghae yang terlihat tengah menjahili Eun Hyuk dengan mendekap rapat-rapat remote TVnya.

Sungmin tersenyum. “Akhir-akhir ini aku memang akan sibuk dengan kuliah, Teukie oppa. Supaya tengah semester nanti aku bisa fokus pada proyek skripsi-ku saja,” jawab Sungmin, Yeoja manis itu ikut membantu Teuk meletakkan gelas-gelasnya di atas meja.

Gheuraeyo? Kamu benar-benar ingin lulus tahun ini ya?”

Sungmin mengangguk dan ikut duduk di sofa tepat di samping Teuk, mereka berusaha tidak menghiraukan pasangan Donghae dan Eun Hyuk yang masih berebut remote.

“Jangan hanya karena kau yaghonnyeo seorang Kyuhyun kau jadi memaksakan diri, Minnie,” suara Kang In menyahuti dengan pelan.

Teuk mengangguk membenarkan sementara Sungmin menggeleng. Menjadi yeghonnyeo namja jenius seperti Kyuhyun memang memiliki beban mental tersendiri, Kyuhyun yang dulu adalah dongsaengnya, tapi sekarang malah Kyuhyun yang lebih dulu mendapat gelar sarjananya. “Ini bukan karena Kyunie kok, aku ingin cepat-cepat lulus supaya bisa membantu Appa-ku segera.”

Teuk kembali mengangguk namun kali ini untuk membenarkan Sungmin. “Ah! Kamu ke sini untuk bertemu Kyunie kan? Dia ada di kamarnya, sebaiknya kau temui dia sekarang, dia sangat tidak fokus saat latihan tadi.”

Wae?”

Mollayo,” Teuk mengangkat bahunya.

Sungmin segera bangkit dan melangkah menuju kamar Kyuhyun di lantai dua. Yeoja manis itu tersenyum tipis saat berpas-pasan dengan Yesung di tangga. “Annyeong Oppa,” sapanya.

Annyeong,” balas Yesung singkat dengan sebentuk senyum tipisnya.

Dan keduanya pun saling berlalu. Melihat raut wajah Yesung yang tampak muram entah kenapa ingatan Sungmin jatuh pada Ryeowook yang juga tampak kurang baik akhir-akhir ini, apa mungkin mereka berada dalam masalah yang sama?

Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya pelan untuk mengusir firasat buruk. Dia tak mau menduga hal-hal yang justru memicu kesalahan, lagi pula hal itu belum menjadi hak Sungmin untuk masuk sebelum Ryeowook atau Yesung sendiri yang bercerita padanya dan meminta bantuannya, setidaknya kalau Sungmin bisa membantu.

Sungmin tiba di ujung koridor, Yeoja itu hendak mengetuk pintu kamar Kyuhyun saat mendapati pintu kamar itu tidak tertutup rapat. Pikirannya kembali pada kata-kata Teuk yang mengatakan Kyuhyun sedang tidak baik. Sepertinya memang ada hal yang mengganggu namja itu, karena setahu Sungmin, Kyuhyun bukan orang ceroboh bahkan untuk sekedar menutup pintu kamarnya hingga rapat. Sungmin mengintip sedikit kedalam, dan dapat dilihatnya sosok namja berambut caramel itu tengah duduk dengan kepala menunduk di sisi ranjang.

“Kyunie…” panggil Sungmin lembut dan melangkah masuk.

Dan detik berikutnya keduanya sama-sama terkejut. Agaknya Kyuhyun tidak menyadari kehadiran Sungmin sama sekali hingga dia terkejut melihat Yeoja itu telah berdiri di depannya dan Sungmin tak kalah terkejut ketika melihat bulir bening telah membasahi pipi Kyuhyun.

“Kyunie, ada ap—” kalimat cemas Sungmin terhenti saat melihat gerakan tangan Kyuhyun untuk menyembunyikan sesuatu di balik tubuhnya. Sekilas, meski hanya sekilas yang sangat singkat Sungmin tahu benda apa itu.

Sebuah potret.

Dan tak perlu menjadi orang jenius untuk tahu gambar siapa yang ada di selembar potret digenggaman seorang Kyuhyun saat ini.

“Minnie—”

“Sepertinya kunjunganku kurang tepat ne?” ujar Sungmin dengan suara tercekat. “Aku akan datang lagi nanti.”

Sakit itu datang lagi. Rasa perih, sesak dan lara yang selalu senang bertandang di dada Sungmin. Dan hebatnya, sakit itu tidak pernah bisa membuat Sungmin terbiasa meski dia telah merasakannya berkali-kali.

Yeoja manis itu melangkah terburu keluar dari dorm Super Junior tanpa mengidahkan suara kecemasan Teuk yang memanggilnya, Sungmin hanya membungkuk singkat dan berlalu. Isak kecilnya terdengar di koridor sepi gedung apartement itu. Yeoja bergigi kelinci itu tak bisa lagi membendung rasa perih di dadanya.

Yeoja mana yang tidak merasa tidak berarti jika mendapati yaghonnyeonya tengah menangisi kepergian Yeoja lain? Empat tahun memang bukan waktu yang cukup untuk melupakan seseorang yang sangat kita cintai di masa lalu, tapi apakah empat tahun juga tidak cukup untuk membuat Sungmin cukup berarti untuk seorang Cho Kyuhyun?

Seharusnya Kyuhyun melihat Sungmin, hanya melihat Sungmin dan tidak lagi mendamba Yeoja cantik itu untuk kembali karena… karena bila Yeoja itu benar-benar kembali maka kali itu Sungminlah yang akan hancur.

.

.

.

Pagi datang dengan kicau burung gereja kecil yang bertengger nyaman di bingkai jendela itu. Jendela yang membiarkan benang keemasan surya menembusnya dengan bebas, sebebas jari-jari panjang itu menyentuh lembut wajah Sungmin, Yeoja manis yang masih terlelap dalam mimpinya.

Kyuhyun tersenyum miris memandang wajah itu, kantung mata yang sedikit membengkak dan berona hitam. Kyuhyun kembali mengusap wajah itu lembut dan hati-hati, menyentuh kelopak mata yang menyembunyikan iris foxie itu, mata yang selalu menatapnya lembut dan hangat. Sentuhan tangan itu turun perlahan, menyentuh hidung bangirnya, hidung yang kerap kali menghembuskan napas hangatnya di kulit namja tampan itu. Dan kemudian di sentuhnya bibir itu, dengan tangannya sesaat, dan kemudian dengan bibirnya. Mengecup bibir lembut itu, bibir yang selalu memberikan senyum tulusnya untuk Kyuhyun.

“Nghh…,” Yeoja itu mulai merasakan sesuatu yang menggangu tidur nyamannya.

Kyuhyun mengembangkan senyumnya tanpa berniat menjauhkan jarak bibir mereka. Dia mengecup dan menghisap lembut bibir plum Yeoja manis itu, menyusap rambut hitamnya dengan halus sebelum memberi sedikit jarak dan menatap mata kelinci yang mengerjap pelan.

“Kyuhh…”

“Pagi Minnie jagi,” sambut Kyuhyun dengan senyum tipisnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Sungmin bertanya pelan disertai gerak tangan yang mendorong dada Kyuhyun untuk sedikit memberi jarak pada posisi mereka saat ini.

Senyum tipis Kyuhyun lenyap sesaat, sedikit merasa kecewa mendapat penolakan halus itu. “Kau kan yaghonnyeoku, apa salahnya aku di sini?” ujar Kyuhyun dengan sedikit merajuk.

Sungmin hanya mengangguk pelan, Yeoja manis itu berusaha bangkit dari tidurnya tanpa memandang Kyuhyun lagi.

“Minnie…”

“Aku mau mandi Kyuh,” ujar Sungmin pelan dan sedikit datar ketika Kyuhyun meraih lengannya mencegahnya turun dari tempat tidur.

Kyuhyun mengangguk kaku, kemudian melepaskan cengkraman tangannya di lengan Sungmin. “Kusiapkan sarapan untuk kita, ne?” Kyuhyun mencoba tersenyum, memandang Sungmin yang memunggunginya saat mengambil handuk.

“Semalam aku meminta Wookie untuk membuat sarapan untukku juga pagi ini,” tolak Sungmin secara tidak langsung.

Senyum yang susah payah Kyuhyun kembangkan kini lenyap. Namja tampan itu menghela napasnya dengan kasar, dia mulai merasa kesal. “Aku akan menelpon Wookie dan bilang tak perlu memasak untukmu juga.”

Sungmin mengangkat bahunya pelan. “Terserah kau saja,” katanya, sesaat sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.

Kyuhyun kembali menghela napas kasar dan mengacak rambut caramelnya dengan frustasi. Dia sangat benci bila Sungmin mengabaikannya seperti ini. Tapi mengingat semua ini juga karena kesalahannya, membuat namja tampan itu semakin frustasi.

.

.

Sungmin keluar dari kamarnya tepat ketika seorang pengantar makanan datang membawa sarapan pagi yang Kyuhyun pesan. Kyuhyun memang bukan type orang yang bisa berdamai dengan dapur, bahkan untuk sekedar memasukkan minyak kedalam wajan, namja tampan itu harus bergantung pada orang lain untuk urusan memasak, dan beruntunglah dia hidup di era modern seperti sekarang.

Sungmin tak bisa membayangkan kemungkinan seberapa cepat Kyuhyun akan punah bila hidup di jaman yang berbeda, tanpa layanan delivery, atau bahkan tanpa restaurant. Yeoja manis itu tersenyum kecil mengingat hal ini, setidaknya Kyuhyun tidak sesempurna yang orang lain bayangkan.

Wae? kenapa kau tersenyum sendiri?” Kyuhyun bertanya melihat senyum tanpa sebab yang melengkungkan bibir Sungmin.

Sungmin hanya menjawab dengan mengangkat bahunya, kemudian berlalu menuju sofa di depan TV dan mulai mencari remotenya. Yeoja manis itu pun mulai tenggelam dalam kesibukan mencari chanel yang cukup mampu menarik perhatiannya. Meski sebenarnya Sungmin hanya asal pencet sementara iris mata kelincinya terus tertuju pada Kyuhyun yang sibuk di meja makan dengan piring dan sarapan yang berhasil dia pesan.

Sungmin tahu, beginilah cara Kyuhyun meminta maaf, tanpa kata. Melakukan beberapa hal manis untuk meluluhkan hati Sungmin, meski sebenarnya tanpa hal seperti itupun Sungmin telah luluh.

‘Pyarrrr….’

“ARGH!” Kyuhyun berseru setelah suara pecahan piring atau gelas itu terdengar.

“Apa yang pecah?” Sungmin berseru, yeoja manis itu bangkit dan mendekati Kyuhyun yang berjongkok di bawah. “Hajhima!” serunya lagi saat melihat Kyuhyun hendak memunguti pecahan keramik piring yang telah tak berbentuk.

Kyuhyun mengangguk dan mundur dari TKP a.k.a tempat kejadian perkara. Namja itu hanya menggaruk pipinya canggung dan tersenyum salah tingkah menghadapi Sungmin yang menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi ‘Kau babo!’ itu.

Tanpa kata lagi, Sungmin membereskan pecahan-pecahan itu dengan sapu dan serokan secara hati-hati dan teliti, memastikan semuanya bersih dan tak ada yang tertinggal, dia tak mau pecahan itu mengenai siapapun apalagi Kyuhyun yang selalu ceroboh dalam hal seperti ini.

“Minnie jagi, cuci tanganmu lalu kita sarapan ne,” Kyuhyun berkata pelan, seakan ada nada takut dalam suaranya yang tertahan.

Sungmin mengangguk, dia membuang pecahannya dalam kotak sampah dan mencuci tangannya di washtafel. Setelah itu dia pun duduk di samping Kyuhyun dan menatap nasi goreng beijing dan susu coklat panas di depannya.

“Makanlah yang banyak,” ujar Kyuhyun.

Sungmin mengangguk dan bergumam dengan pelan “Masitge deuseyo.

Masih belum banyak kata yang keluar dari bibir plum itu, Sungmin masih setia dengan sikap acuhnya. Berat memang, mengacuhkan Kyuhyun seperti itu, dia harus berkeras untuk tidak melirik Kyuhyun dengan ekor matanya atau dia akan mendapati wajah muram di sampingnya dan membuatnya menyerah dengan sikap acuhnya. Huft… benar-benar pekerjaan yang menyulitkan.

“Aku sudah selesai,” kata Sungmin, Yeoja itu meletakkan garpu dan sendoknya di atas piring yang masih setengah penuh dan mengusap bibirnya dengan serbet sebelum bangkit.

“Minnie!” Kyuhyun berseru dengan meraih lengan Sungmin cepat. “Sudah, jangan seperti ini lagi, jangan mengacuhkanku lagi.  Mianhamnida, aku benar-benar minta maaf.”

Sungmin memandang namja itu, seorang Evil Maknae yang kini tengah menundukkan kepalanya tepat di depannya. Trenyuh juga sih melihatnya, seorang ber-ego tinggi seperti Kyuhyun yang bahkan untuk mengakui kesalahannya di depan orang lain saja sangat sulit kini menunduk dengan mata penuh penyesalan di depannya.

Tapi, Sungmin juga harus bisa keras, bukan pada Kyuhyun tapi pada dirinya sendiri. Dia harus mampu mengklaim eksistensi dirinya di hadapan Kyuhyun. Sungmin mencintai Kyuhyun tulus, tapi bukan berarti dia tidak mengharapkan Kyuhyun juga mencintainya.

“Untuk apa Kyunie? Karena kau belum bisa melupakan dia?”

Kyuhyun menatap mata foxie itu lembut. Ada kesungguhan yang tak terelakkan dari pancarannya. “Maafkan aku, aku selalu saja melukaimu. Aku selalu saja memohon padamu, memintamu membahagiakan aku, memintamu ada untukku. Kau tahu aku namja babo dan keras kepala. Tapi, aku mencintaimu, percayalah.”

Sungmin diam. Dadanya bergetar di setiap kata yang terucap dari bibir Kyuhyun, jantungnya berdegup cepat setiap kali mata foxienya mendapati kesungguhan itu, Kyuhyun bukanlah orang yang bisa mengucapkan kata cinta setiap saat dengan mudah.

“Aku hanya takut kau pergi, aku tahu dia sangat berarti untukmu. Kau selalu saja merindukannya, mengharapkan dia kembali dan aku… aku tidak yakin bila kau akan tetap di sampingku saat dia ada di depan matamu, Kyunie.”

Sungmin menunduk, Yeoja manis itu tak mampu lagi menatap mata Kyuhyun yang seakan begitu memohon padanya. Memohonnya untuk percaya pada hal yang mereka tahu itu sulit.

“Minnie jagi… bisakah kau bertahan meski aku ingin pergi, aku tahu ini sangat egois tapi aku mohon, tetaplah di sampingku meski aku berusaha meninggalkanmu. Genggam aku sekuat mungkin, agar bila aku tersesat sejauh apapun aku masih bisa kembali padamu.”

Sungmin menengadah, terkejut mendengar kalimat yang baru saja keluar dari bibir itu. Kyuhyun memintanya bertahan? Sungmin diam. Dia tak tahu apakan dia mampu atau tidak. Bertahan dan terus di samping Kyuhyun, di samping namja yang tidak hanya melihatmu? Itu sulit. Sungmin lebih memilih belajar melupakan dari pada harus mempertahankan tangan yang ingin melepasnya. Sungmin tak sekuat itu, dan seharusnya Kyuhyun tahu itu.

“Minnie, ChagiyaSaranghae, berjanjilah untukku.”

Sungmin masih diam. Terbagi dalam kebimbangan. Namun tak lama kemudian, Yeoja manis itu mengangguk, mengangguk dalam kebimbangan yang terus menyelimuti keyakinannya.

Saranghae yo,” Sungmin mencoba tersenyum meski yang terlihat justru seperti ringis kesakitan.

Gomawoyo.”

_TBC_

Terimakasih banyak buat yang udah ngasih FeedBack/Comment kemarin, maaf kalo ada banyak kesalahan dalam fic ini, entah ke-OOC-an yang kebangetan, entah bahasa korea yang abal-abalan (Cuma ngandelin google translate) Lhyn Cuma orang baru yang mencoba belajar, kalo ada yang salah dan bikin bingung silahkan tanyakan langsung. Gomawo >.<

3 thoughts on “After All 2

  1. Sedikit sedih ceritanya tapi aku suka, kasihan Minnie ternyata Kyu oppa msh mengharapkan seseorang di masa lalu untuk kembali walaupun ada Minnie. Minnie yg tegar ya.. Ditunggu author part selanjutnya. Thanks

  2. Kyu msh suka sama soeyhun. ?… Yoja masa lalunya

    eitzzz… kyu mw ninggalin minnie y
    Eh siwon janganjangan suka lg sm minnie
    Tau rasa tuh kyu

    Aahh penasaran
    Lanjutkaaannn!!!!

  3. Heyaaaaaa~ gw bayangin sungmin beneran, bibir plum merah, rambut hitam, mata foxie hahaha. Sempurna buat jadi cew XD #duaaakk

    kurang panjang ah~
    #plak
    #maunyaaa XD

    fighting buat chap nextnya!! ^o^v
    bawa seohyun balik aja, biar tambah dramatis XD

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s