Don’t Say Goodbye

Don’t Say Goodbye !

Author : Purple Fishy

Genre : Angst, Romance, friendship.

Tipe : Oneshoot

Rating : 13

Cast  : Song Ha Mi (oc), Lee Donghae, Lee Hyuk Jae.

Support cast: Kim Ryeowook, Lee Sungmin, Kim Soo Jin (OC).

Cover credit : The original photo doesn’t belong to me, but I edited it as needed

Disclaimer : I only own the plot, the characters are all belong to themselves, do not take it out without permission.

Warning : This story is 100% my imagination, if you like this story please coment but not bashing or plagiat. Thank you^^

Annyeong reader!! Hai chingu, author buat cerita ini terinspirasi sama lagu Davichi yang Don’t say goodbye, sebenernya sih ini langsung dibuat begitu saja. Author harap kalian menyukainya, mian kalau agak kacau, oh iya jangan nyampe kalian nangis ya!hahaha pede authot tingkah dewa. Mari kita baca… selamat menikmati ya Chingu! ^^

Ini pertama kalinya aku pergi ke Seoul, kehidupanku selalu menyenangkan bersama kedua orangtuaku yang begitu menyayangiku. Appa harus pindah ke Seoul karena tugasnya sebagai seorang abdi negara. Hari ini musim salju datang menyambutku dan kisah baruku di kota Seoul. Aku melangkahkan kakiku dan kutarik jaket tebalku menutupi badanku yang kedinginan. Langkahku berhenti sejenak dan kutengadahkan wajahku kelangit yang cerah itu, pertama kali melihat langit biru di Seoul dan ini membuat hatiku begitu tenang. Sebuah ingatan muncul begitu saja dan hatiku tersentak, hari ini aku memiliki janji bertemu dengan seseorang.

Ah… aku hampir lupa memperkenalkan diriku, namaku Song Ha Mi, orang mengatakan bahwa aku tidak bisa melakukan pekerjaan dengan benar. Aku memang sedikit pemalas dan tidak percaya diri untuk melakukan apapun namun, di Seoul tidak ada yang mengenaliku sebagai orang pemalas.

Café itu sudah terlihat, pupil mataku membesar melihat seseorang begitu ekspresif melambaikan tangannya didalam café itu, sepertinya itu teman lamaku. Aku tidak dapat melihat jelas dari tempatku berdiri, ku langkahkan kakiku tanpa membalas lambaian tangan yang penuh antusias itu. Ku buka pintu café itu, begitu ramai, apa karena jam makan siang? ku lirik semua sudut ruangan itu, ku teliti semua orang- orang yang duduk disana, aku mencari seseorang berambut pirang dan ikal. Akhirnya mataku menemukannya, dia disana. Kenapa dia terlihat bersama seseorang? Aku tidak tahu siapa orang yang ada disampingnya. Ku hampiri mereka dengan perlahan, ‘OMO itu kan orang terkenal di Korea. Aku tidak mengetahui namanya karena aku tidak begitu mengenalnya. Aku hanya mengenal satu member di boyband itu Park Junsoo yang tak lain adalah leader mereka. ‘ batinku.

“Yak… Hami- ah, lama sekali. Hampir mati aku menunggumu disini.” Ucapnya geram.

Aku tersenyum dan menjatuhkan diriku pada kursi hijau yang ada dihadapannya, ku lempar pelan tasku disamping tempatku duduk.

“Mianata, aku terlambat, aku terlalu nyenyak tidur.” Jawabku ringan.

“Arraso!” ucapnya mengangguk percaya. “Ah nde, ini temanku …” sambarnya cepat.

“Naneun Lee Hyuk Jae imnida.” Potongnya sebelum yeoja itu memperkenalkannya.

Aku tersenyum melihat tingkah laku namja itu, menggelitik perutku karena dia terlihat begitu semangat. “Nde, naneun Song Ha Mi imnida.” Ucapku sembari menurunkan sedikit kepalaku.

“Apa kamu tidak mengenalnya?” Tanya yeoja itu terkejut melihatku.

“Mwo? Aku tidak begitu mengenalnya.” Jawabku tersipu malu.

“Mwo? Aigoo, yak Hami- ah dia adalah artis terkenal disini. Mana mungkin kamu tidak tahu dia.” Ucapnya seraya menatapku sinis.

“Mianata, mian.” Jawabku diikuti juluran lidahku.

Ini begitu aneh untukku, aku memang tak mengenalnya karena aku tidak pernah mengidolakan siapapun selama hidupku tinggal di Korea, tapi semenjak aku tersadar umurku sudah 20 tahun, aku ingin mencoba menyukai seseorang. Sebelum teman- temanku bilang aku perawan tua, apa 20 tahun itu sudah tua? Aku rasa tidak. Aku masih merasa umurku 16 tahun. Jangan tertawa… ^^

“Aku akan membawamu pergi melihat- lihat seluruh isi kota Seoul, kamu akan menyukainya karena disini begitu menyenangkan dibandingkan di Incheon. Hahaha.” Ujarnya menatapku sepele.

Aku lupa memperkenalkan teman chatingku di Seoul dan teman terbaik yang pernah ku temui, dia adalah Kim Soo Jin, dia sangat cerewet dan menarik, aku sangat menyukai kepribadiannya dan itu sangat bertolak belakang dengan kepribadianku.

“Yak….Soojin- ah, Incheon yang terbaik. Aku adalah manusia Incheon, arraso!” Sambarku cepat.

“Bagaimana kalau kita pergi ke KTR melihat teman- temanku yang sedang siaran? Aku juga mengisi acara disana.” Usul Hyuk Jae.

“Jeongmal? Jeongmal?” Yeoja itu menatap tak percaya dan begitu senang.

Aku hanya menatap dan mengikuti pembicaraan mereka, Soojin dan Hyukjae mengajukan diri mereka menjadi tour guideku di Seoul. Mereka memutuskan untuk pergi ke KTR dan melihat member super junior, aku terkejut dan menatap tak  percaya, aku akan bertemu dengan Park Jun Soo, namja yang begitu tampan dan lucu. Bukan berarti aku menggemarinya ya, aku hanya ingin memastikan apa dia memang tampan saat kulihat langsung.

“Apa… Park Jun Soo- ssi ada?” Tanyaku ragu.

“Ah… Hyung tidak ada disana, dia sibuk mengikuti kegiatan syuting we got married, weo?” Ucap Hyukjae.

“Ah… anniya, em…. Soojin- ah kita pergi sekarang.” Alihku menatap Soojin.

“Kureom.” Ucap Soojin beranjak dari kursinya.

Kami memutuskan untuk pergi dari café dan melihat Hyukjae Oppa mengisi acara di KTR. Namja itu begitu pendiam dan tidak banyak bicara, sesekali dia hanya tersenyum dan malu- malu. Apa  memang itu sifatnya? Aku mengikuti namja dan yeoja itu, mobil hitam itu menjadi tujuan langkah kami, ku buku perlahan pintu mobil itu. Waw…. Benar- benar mewah sekali mobil ini, apa ini milik Soojin- ah?

“Masuklah dan jangan sungkan.” Ucap namja itu menatapku seraya senyuman manis dibibirnya.

“Ah … nde.” Jawabku mengangguk lembut dan menggaruk kepalaku.

‘Ternyata ini mobil miliknya, pantas saja jika dia memiliki mobil semewah itu, dia kan artis. Baboya Hami-ah!’ Batinku.

Aku melangkahkan kakiku satu persatu kedalam mobil, benar- benar nyaman, ah…terasa kampungan sekali aku, jaga tingkahmu Hami. (-___-) Soojin dan namja itu duduk didepanku, aku hanya bisa menatap mereka dari belakang dan mendengarkan obrolan mereka, sepertinya mereka sudah saling mengenal dan ku lihat mereka begitu akrab. Tiba- tiba saja aku terkejut, ‘MWOYA? Namja itu kerasukan?’ Dia bertingkah aneh dan berbicara tanpa henti, 180° aku salah mengira dirinya pendiam, ternyata dia namja yang aktif dan sangat cerewet tapi aku tidak menilai itu hal negatif melainkan dia lebih terlihat friendly dan menyenangkan. Aku tertawa mendengar candaannya, sangat mengocok perutku, dia benar- benar menyenangkan.

“Hami- ah, bicaralah, kenapa kamu diam saja? Apa kamu terkejut melihat Hyuk Jae Oppa seperti itu, dia memang seperti ini jangan heran, dia memang sedikit gila. Hahaha.” Ucap Soojin berbisik kepadaku.

“Aissh, aku tidak gila. Aku sedikit gangguan pencernaan saja. Hahaha.”

Namja itu tertawa terbahak- bahak, tanpa disadari dan saking ekspresifnya bibir namja itu mengenai stir mobil begitu keras. Dia berteriak dan kesakitan, spontan aku tertawa bersama Soojin. Rasanya puas yang ku rasakan ketika namja itu merengek, meskipun aku sadar itu sangat tidak sopan.

“Sakit sekali ini, apa bibir seksiku ini baik- baik saja? Bagaimana ini? Aku takut bibirku tidak seksi lagi.” Ucapnya sambil melihat kaca spion dalam.

“Oppa, bibirmu akan lebih bagus lagi karena benturan itu. HAHAHA.” Ucap Soojin tertawa puas.

Perutku sakit sekali, aku benar- benar tertawa puas melihat  tingkah laku namja itu, dia sangat kocak dan membuatku menahan sakit perut yang terus kurasakan dengan celotehannya. Menyenangkan. ^_^

Mobil hitam itu sampai ditempat tujuan dan memasuki parkiran khusus, semua fans berteriak melihat member super junior itu tiba. Ternyata hari ini adalah promosi lagu terbaru dari Hyuk Jae Oppa bersama rekannya, aku penasaran dengan lagu itu. Aku tutup perlahan pintu mobil itu dan Soojin menyambutku dan merangkulku, dia menatapku dengan seulas senyuman meyakinkanku bahwa aku harus rileks. Memang ini pertama kalinya aku melihat fans begitu banyak dan bertemu artis papan atas, aku sangat bergemetar dan tanganku terasa dingin. Ku ikuti langkah kaki mereka dan tersenyum menatap semua orang yang kulewati dan membungkukan sedikit badanku. Semua orang berteriak ketika Hyuk Jae Oppa masuk dan melambaikan tangannya, begitu histeris sampai membuatku ketakutan namun, aku melihat fans- fans itu benar- benar menyukainya bahkan aku ingin mengajak mereka pergi bersamaku dan memiliki pengalaman sepertiku. Mian…

Seorang namja memakai pakaian hitam dan topi hitam berjalan melihat kearah kami, namja itu melambaikan tangannya dan menyambut kedatang rekannya. Dia sangat tampan dan baik, itu adalah pandanganku ketika bertemu dengan namja itu.

“Nuguseo?” Ucapnya melihat kearahku.

“Ah… dia… Soojin-ssi chingu. Apa kamu ingin mengenalnya?” Ucapnya. “Dia tidak mengenal kita dan hanya mengenal Leeteuk Hyung.” Bisiknya berlanjut.

“Ah… nde.”

Namja itu mendekatiku dan menatapku dengan mata yang ramah dan hangat, senyuman indah terlukis dari wajahnya, dia tidak asing dimataku, sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Dimana ya? Apa di Incheon?

“Naneun Lee Donghae imnida.” Ucapnya sedikit membungkukan tubuhnya.

“Nde, naneun Song Hami imnida.” Balasku membungkukan sedikit badanku.

“Masuklah dan tidak perlu merasa sungkan disini.” Ucapnya begitu ramah.

Aku hanya bisa menganggukan kepalaku dan tersenyum kepada namja itu, dia berbeda dengan namja aneh yang bertemu pertama kali denganku. Tapi rasanya mereka memang memiliki karisma masing- masing. Ku langkahkan kakiku bersama Soojin dan duduk disebuah kursi coklat yang ada disana, kulihat orang- orang yang sibuk mempersiapkan acara on air. Acaranya belum dimulai, ternyata disini begitu banyak orang dan fans- fans yang berteriak diluar jendela. Ruangan ini begitu asing dimataku, mataku terus mengamati setiap sudut ruangan ini, satu persatu kulihat semua property yang ada didalam dan kepalaku terus berputar kekiri dan kekanan. Dari kejauhan terlihat dua orang datang memakai topi dan jaket yang tebal, mereka sepertinya member lain dari super junior, karena teriakan diluar begitu histeris ketika mereka datang.

“Hah….diluar begitu banyak orang, aku benar- benar menyukai hari ini. WOW!” Gerutu salah satu namja itu.

Mereka menatapku dan mengerutkan keningnya, mereka akan mendekatiku dan bertanya kepadaku, ternyata benar dugaanku mereka datang menghampiriku. Tepat dihadapanku, tubuhku beranjak dari kursi itu dan berdiri menyambut mereka yang tersenyum menatapku.

“Nuguseo?” Ucap salah satu namja itu.

“Naneun Song Hami imnida, aku chingu Soojin.” Ucapku yang belum tuntas.

“Dia adalah temanku juga.” Sambar Hyukjae Oppa mendekatiku.

“Ah… nde, naneun Lee Sungmin imnida, senang bertemu denganmu.” Ucapnya begitu ramah.

“Naneun Kim Ryeowook imnida.” Ucap namja itu sangat ramah.

Aku sambut kedatangan mereka dan membalas senyuman tulus kedua namja itu, ternyata mereka begitu hangat dan menyenangkan, seharusnya aku lebih awal mengetahui mereka. Sungguh malu rasanya aku tidak mengenal artis terkenal seperti mereka. Kedua kalinya aku bilang Baboya Hami-ah! Aku hanya tersenyum malu kepada diriku sendiri. Acarapun dimulai, mereka langsung on air dan berbincang- bincang dengan gaya khas mereka, mereka benar- benar alami dan tidak dibuat- buat. Aku mulai menyukai mereka, sepertinya mereka benar- benar pantas diidolakan. ^^

“Hami- ah, apa kamu merasa bosan?” Tanya Soojin menatapku.

“Anniya, aku sangat senang disini dan rasanya aku menemukan orang- orang baik di Seoul. Kamu dan teman- temanmu, sangat menyenangkan.” Jawabku bersemangat.

“Kure? Aku memang teman yang menyenangkan.” Ucapnya percaya diri.

“Aissh ekspresimu membuatku tidak tahan, hentikan matamu yang mengedip- ngedip centil itu. hahaha.”

Terdengar Hyukjae Oppa dan Donghae Oppa bernyanyi, Ah, Ah, hana, dul, set. Welcome to the Super Show! Let’s Go~!!
My name is DongHae. Let’s party tonight!! (ssa! ssa!)

geudaeui ma-eum-e bul-eul jilleo (jilleo)

naega wonjo yeoja killeo (killeo)

munja sseossda jiwossdaga sseossda jiwossdaga hage hwag kkosyeobolla bam-e jam mos jage michidolog gamanduji anh-a naleul mallil saeng-gag haji mala geuleodaga dachinda

asa pil bad-ass-eo bamsaedolog dallilkka nugul nae mamdaelo bamsae bul-eul jileulkka

Hey won’t you take me to funky town

I’m international Baby 123 Let’s go

naega tteossdahamyeon da oechyeo oppa, oppa. Tokyo, London, New York, Paris, oppa, oppa.

I’m so cool, I’m so cool, Party like a superstar, ippeun-ideul da moyeola tteossda oppa, oppa……

Lagunya begitu enak didengar, mereka bertingkah konyol dan bercanda sepanjang mereka bernyanyi, aku hampir tertawa mati melihat mereka seperti itu, apa mereka penyanyi? Atau pelawak? Aku tidak bisa melihatnya lagi dan perutku terasa sakit dibuatnya.

Akhirnya acarapun selesai, tertawa puas dan perutku sangat lapar. Aku dan Soojin pamit kepada member super junior itu, mereka masih banyak jadwal yang harus dilakukan. Langkah kakiku dengan sigap keluar dari ruangan itu bersama Soojin, kami memutuskan untuk pergi ke sebuah restaurant terkenal di Seoul. Aku ingin sekali makan Sup Sumsum tulang Sapi dengan kimchi yang pedas, membuatku begitu merasa lapar. Soojin menarik tanganku dan langsung memasuki restaurant itu, rasanya memang perutku tidak bisa sabar lagi. Kami duduk dan membuat pesanan kepada seorang pelayan disana.

“Sup Sumsum tulang sapi dan Kimchi pedas.” Ucapku.

Kami menunggu pesanan, aku menceritakan semua pendapatku tentang Super Junior. Aku benar- benar menyukai mereka, sangat suka. Sepertinya aku akan menjadi bagian dari ELF nama fans resmi Super Junior. Rasanya memang terlambat menjadi fans mereka, tapi tidak ada kata terlambat untuk itu. benarkan?

“Aku benar- benar puas hari ini, aku sangat berterimakasih. Gomawo chingu…. Ini hal yang menarik untukku, rasanya hidupku berbeda, semenjak aku di Incheon aku tidak pernah tertawa sepuas ini dan bertemu orang- orang yang menyenangkan. Tapi … disini aku merasa hidup, adanya teman- teman baru membuatku senang. Dan mereka sangat ramah kepadaku, dan semua member mengatakan kepadaku ‘Sering- sering berkumpul dengan kami.’ Ah… membuatku gila mendengarnya.” Ucapku histeris.

“Aissh, apakah kamu ingin menjadi fans mereka? Jeongmal? Hahaha. Itu membuatku senang, karena seorang yeoja sepertimu yang cuek kepada seorang namja dan tidak memiliki tokoh idola telah menemukan idolanya. Hahaha.” Ucap Soojin merasa puas.

“Kurom. Aku memang berniat bergabung menjadi fans mereka. Ini memang hidup dan menyukai seseorang memang harus.” Ucapku tegas.

“Cakhaman, menyukai seseorang? Apa kamu menyukai salah satu diantara mereka?”

“Anniya, aku hanya mengidolakannya. Hehe. Sudahlah ayo kita makanan, pesanan sudah datang dan aku sangat lapar.”

Pesananpun datang dan sampai dimeja kami, aku benar- benar tidak sabar melahap makanan itu dan mulai menghabiskannya. Memang sangat lapar, aku tidak pernah menikmati makanan seenak ini, apa karena hari ini begitu menyenangkan? Hari ini berakhir dan hari pertamaku di Seoul sukses besar, aku tidak menyesal pindah kesini dan meninggalkan teman- teman yang selalu mengolok- ngolokku.

¸¸¸¸¸

Rasanya malas sekali beranjak dari tempat tidurku yang begitu nyaman dan selimut hangat yang menemaniku. Yak…aku kesal dengan sinar matahari itu yang terus menyoroti wajahku dan menerobos masuk kedalam jendela kamarku, tirai- tirai transparan itu mampu ditembusnya dan itu membuatku gila. Hari ini hari liburku, kenapa mereka datang lebih awal dan mengganggu tidurku. Aku ingin mengusirnya, ku tutup wajahku dengan selimut tebalku dan menutupi wajahku yang kepanasan.

“Yak… Hami-ah. Bangunlah, apa kamu tidak berencana bangun? Lihat pukul berapa sekarang?” Teriak Eomma dibalik pintu kamarku.

“Eomma, ini masih pagi.” Gumamku malas.

“Hami- ah, bangun! Sudah jam 11 apa kamu tidak akan bangun? Hami- ah!” Teriak Eomma semakin menggila dan membuat telingaku sakit.

Dengan malas kubuka mataku perlahan, rasanya lengket sekali dan mataku tidak bisaku buka. Aku masukan tangan kananku kesebuah gelas dipinggir tempat tidurku dan kuusapkan tanganku yang basah kekedua mataku yang masih tidak bisa kubuka. Hah…rasanya susah dan malas sekali untuk bangun hari ini. Ada apa denganku? Tidak biasanya aku malas keluar dan berkumpul bersama Soojin dan member super junior yang sudah kukenal selama 1 bulan ini.

“Yak Hami- ah. Palli!” Terik eomma kembali terdengar.

“Nde.” Jawabku malas.

Rasanya aku harus bangun sebelum kebiasaan eomma datang dan mengguyurku dengan air cucian piringnya, itu akan lebih menakutkan untukku. Aku mulai bangun dan beranjak dari tempat tidurku, langkah kaki yang masih malas membuka tirai yang menutupi jendela kamarku. Memang hari sudah siang, dan matahari bulat sempurna menyinari kamarku. Panas sekali rasanya. Mataku masih mengantuk dan berjalan seperti orang mabuk aku meraih handuk dan peralatan mandiku agar aku merasa segar kembali. Ku buka knop pintu kamar mandiku dan melangkahkan kakiku satu persatu kedalam, ku gantungkan handuk dan semua bagian pakaianku. Tanganku mulai meraih shower dan menyalakannya, air dingin itu mulai mengguyurku, hah…rasanya dingin sekali, apa aku terkena dokrin yang begitu hebat? Tubuhku mulai mermiliki semangat tinggi dan mataku langsung terbuka lebar, ah… semangatku sudah kembali lagi. Ku matikan shower itu dan keluar dari kamar mandi, semua badanku kembali segar, ku lari mendekati lemari besar itu dan mengambil beberapa pakaian yang akan kukenakan hari ini. Rencana pertamaku hari ini adalah menemui Hyuk Jae Oppa dan membawakannya kue dan makanan, entah sejak kapan aku mulai menyukainya bukan sebagai fans tapi sebagai seorang yeoja yang menyukai namja. Namun, aku hanya bisa menyembunyikan perasaanku karena Hyuk Jae Oppa sudah memiliki seseorang yang sangat disukainya meskipun aku tidak mengetahui siapa yeoja yang begitu disukainya itu.

“Yeppo, aku sudah siap pergi dan menemuinya.” Ucapku kepada sebuah cermin didepanku.

Tubuhku mulai beranjak dan membawa sebuah tas merah ditangan kananku, perlahanku buka knop pintu kamarku dan berlari menuju dapur, seperti seorang pencuri yang melirik kekiri dan kekanan sebelum memasukan makanan yang sudah disiapkan oleh eoma. Aku rasa eoma sudah pergi bekerja, ah… dengan leluasa aku akan menyiapkan makanan hari ini.

“FIGHTING HAMI-AH!” Teriakku riang.

Tanganku dengan gesit membuka lemari- lemari didapur dan memasukan makanan- makanan itu kedalam kotak nasi yang sudah kusiapkan, dia akan menyukai masakanku. Anniya masakan eomma. ^o^ Ku masukan beberapa makanan yang disukai oleh Hyuk Jae Oppa, wajahku sepertinya memerah ketika mengingat nama itu, dia orang yang sangat kusukai. Seperti rencanaku pertama kali datang ke sini, ah… gila memikirkan itu meskipun cintaku bertepuk sebelah tangan.

“Tara, akhirnya selesai juga.” Jeritku bahagia.

Tapi tiba- tiba saja seseorang datang dan berteriak. “Yak…. Hami- ah apa yang kamu lakukan dengan makanan itu? kemana akan kamu bawa makanan itu?”

“Eomma?” Gumamku heran.

“Palli Hami, lari sebelum eomma menangkapmu dan mengembalikan semua makanan ini.” lanjutku

Aku berlari dan melewati eomma yang datang menghampiriku, dia terus berteriak dan menghentikan langkahku dan menangkapku.

“Eomma aku pergi dulu.” Teriakku membuka pintu rumah.

“HAMI- AH, kemana kau pergi? Anak ini benar- benar menyebalkan dan tidak pernah dewasa!” Gerutu eomma.

Kakiku berlari secepat mungkin dan keluar dari gerbang rumahku, napasku terasa berburu dan jantungku begitu berdetak kencang. Hampir saja eomma memakanku hari ini namun, aku lolos dari eomma. Mianata eomma. Batinku terus meminta maaf dan seulas senyuman nakal dariku. Beberapa orang datang dan mendekatiku, aku merasa heran dengan kedua namja itu. Mereka menatapku penuh dengki dan benci, apa aku mengenal mereka? Sepertinya tidak, aku baru datang kesini dan menetap satu bulan di Seoul. Apa yang akan mereka lakukan?

“Tarik yeoja itu!” Perintahnya kepada namja disampingnya.

Mereka semakin mendekatiku, kuputarkan tubuhku 180° dan berlari meninggalkan mereka. Aku tidak memiliki musuh dikota ini karena aku tidak pernah bersosialisasi, kenapa dengan mereka? Pertanyaan itu terus menghampiriku, langkah kakiku semakin cepat berlari. Aku mulai merasa takut dan jantungku berdebar begitu kencang, aku ingin meminta bantuan. Tapi kepada siapa? Aku harus bagaimana? Mereka terus mengejarku, ah….tolong aku! Langkahku berhenti ketika seseorang menarik tanganku begitu keras dan membantingku kesebuah tembok yang ada diujung jalan itu. Mereka menangkapku dan memukuliku dengan benda tumpul yang mereka temukan di tong sampah itu, aku tidak bisa melawan mereka karena pukulan itu mendarat ketubuhku bertubi- tubi, tanpa ampun mereka terus memukuliku. Tuhan… rasanya sakit sekali, aku tidak bisa menahan ini, eoteokhae? Aku tidak bisa menahan mereka, mataku tak bisa kubuka dengan benar, kotak makanan yang kubuat hancur berantakan disampingku. Aku hanya bisa menjerit menahan rasa sakit itu, tubuhku remuk dan mereka mulai menghantamku lebih keras lagi.

¸¸¸¸¸

‘Rasa sakit itu kenapa hilang? apa yang terjadi denganku? Kenapa aku tidak bisa membuka mataku sekarang? Aku dimana? Aku tidak bisa mendengar apapun sekarang.’ Batinku.

Mataku terus tertutup namun, seseorang sepertinya membawaku pergi, kemana dia akan membawaku? Langkah kakinya terdengar jelas ditelingaku, apa dia menaiki anak tangga? Pintu terbuka mulai terdengar, udara didalam begitu hangat tidak seperti yang kurasakan beberapa waktu yang lalu.  Orang itu membaringkanku disuatu tempat yang terasa hangat dan nyaman. Aku berusaha membuka mataku dan terbangun dari mimpi- mimpiku. Perlahanku buka mataku, semua yang kulihat masih buram dan suasana asing langsung kurasakan, aku tidak pernah datang ketempat ini. Langit- langit ruangan itu terlihat jelas dimataku, rasanya pusing sekali dan semua badanku terasa sakit. Apa yang terjadi denganku? Aku menahan rasa sakit diseluruh badanku, perlahan kusandarkan tubuhku keranjang putih itu. Ini asing dan aku tidak mengenal tempat ini. Apa yang terjadi sebelumnya? Kenapa tubuhku begitu memar dan bercak- bercak darah terlihat disekujur tubuhku.

“Apa yang terjadi?” Gumamku penasaran.

Seseorang datang membawakanku sebuah gelas putih dengan kepulan asap diatasnya dan itu terlihat jelas, dia mendekat kearahku. Ku tatapnya gusar dan mataku terus memalingkan kesemua sudut ruangan yang ada disini, aku menarik diriku semakin menyandar ke ranjang itu. Aku merasa takut, sangat takut. Apa yang akan dilakukan namja itu? aku tidak mengenalnya sama sekali.

“Annyeonghaseo.” Sapanya begitu hangat.

Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutku, aku hanya menatapnya dingin dan penuh rasa takut.

“Pergilah dan bersihkan badanmu.” Ucap orang itu menaruh gelas putih itu.

Aku hanya mengangguk pelan dan mengikuti ucapannya tanpa memikirkan ulang, aku tidak mengenalnya tapi sepertinya dia orang yang baik. Dia orang yang pertama kali ku lihat. Dengan tertatih ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi yang tidak jauh, rasanya semua badanku sakit. Namja itu berlari kearahku dan memegang tubuhku, dia menatapku lembut.

“Aku akan membantumu.” Ucapnya begitu hangat.

Dia membukakan knop pintu itu dan membiarkan diriku masuk kedalamnya, ku tutup pintu itu, sebuah cermin besar ada dikamar mandi itu, aku sangat terkejut melihat wajahku dicermin besar itu. Wajahku begitu kotor dan penuh dengan luka, keningku berdarah dan memar- memar diseluruh badanku. Kenapa dengan tubuhku?

“Ah…. Rasanya sakit sekali? Apa yang terjadi denganku?” Ucapku seraya memegang luka- luka diwajahku.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku mulai membersihkan diriku dengan air hangat yang ada dikamar mandi itu, badanku terasa ringan meskipun rasa perih itu terasa disekujur tubuhku. Ku bersihkan semua kotoran dan luka yang ada ditubuhku. ‘Truk.’ Ku buka pintu kamar mandi itu dan keluar dari tempat itu, pakaian yang hangat sudah disediakan namja itu. Ini begitu besar dan sepertinya ini milik namja itu, namja itu menatapku keluar dari kamar mandi.

“Apakah semuanya baik?” Tanyanya.

Aku hanya mengangguk lembut dan mengeringkan rambutku dengan handuk yang ada ditanganku, namja itu menarik tanganku dan menyuruhku duduk dikursi putih itu. Namja itu mengambil sebuah kotak putih yang ada dilemari kamarnya. Apa yang dibawanya? Batinku terus bertanya kepadaku. Aku mengikuti ucapannya dan duduk diatas kursi putih itu dengan segan, aku merasa bingung dan heran. Bahkan aku tidak mengenal namja itu tapi kenapa namja itu begitu baik kepadaku? tatapannya begitu hangat. Namja itu kembali datang dan menghampiriku, dia tetap tersenyum kepadaku. Namja itu menjatuhkan dirinya tepat dikursi sebelah tempatku duduk, dia membuka kotak putih itu dan mengeluarkan beberapa obat didalamnnya. Dengan sabar dia mengobati semua lukaku, tatapannya memang menyejukan, raut wajahnya lembut dan ramah. Senyumannya membuat hatiku tenang, siapa dia?

“Apa kamu merasa sakit?” Ucapnya sembari mengobati luka diwajahku.

Aku menggelengkan kepalaku lembut dan menatapnya dingin, aku tetap merasa takut karena aku tidak mengenalnya. Aku tetap tak bergeming dan menerima begitu saja semua kebaikannya kepadaku, dia mengobatiku dengan sabar.

“Nuguseo?”Ucap namja itu.

Aku tidak bisa mengingat apapun didalam benakku, sama sekali tidak. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Aku terus berpikir dan memutar mataku untuk mengingat semuanya namun, tetap saja tidak bisa ku temukan.

“Nuguseo?”Dia mengulang pertanyaannya.

Ku gelengkan kepalaku lembut dan menundukan wajahku kelantai putih itu, dia tidak memaksaku untuk memberitahu namaku tapi memang aku tidak mengingat siapa diriku dan siapa aku.

“Baiklah sudah selesai, kajja kita makan. Pastinya kamu merasa lapar kan?” Sergahnya mendengar perutku yang terus berbunyi.

Namja itu beranjak dari tempat duduknya dan memasakanku beberapa makanan yang begitu lezat. Semuanya dibuat oleh tangan namja itu, aroma masakan itu membuat perutku semakin meraung- raung. Dia menyiapkan makanan itu tepat dihadapanku, seulas senyuman terus diperlihatkannya dan memberikan kesan yang baik didalam benakku. Akhirnya semua hidangan itu datang dan siap, tanpa ragu- ragu aku melahap semua makanan yang ada dihadapanku. Namja itu terlihat tersenyum menatap semua tingkah lakuku yang kelaparan. Rasanya perutku tidak makan beberapa hari, memang lapar dan benar- benar lapar. Semua makanan itu sangat enak dilidahku, enak sekali dan aku sangat berterimakasih kepada namja itu.

Beberapa hari berlalu, dia selalu mengajakku kebalkon kamarnya dan melihat bintang setiap malam. Aku selalu duduk menemaninya dan namja itu sibuk melihat bintang- bintang. Sesekali aku melihat dan menatapnya, dia tersenyum kearahku dan melambaikan tangannya kepadaku.

“Annio, aku duduk disini saja.” Ucapku tersenyum ramah.

Satu minggu berlalu, aku sudah merasa nyaman dengan rumah ini dan namja itu selalu ada disampingku. Dia malaikatku dan selalu menyemangatiku, bahkan dia memberikanku sebuah nama yang begitu cantik Park Hyo Ri. Aku memang tidak memiliki nama, aku tidak bisa mengingat semuanya, benar- benar membuatku sakit kepala untuk mengingat semua masa laluku. Hari ini dia membawaku pergi kesuatu tempat yang begitu indah, Busan menjadi pilihannya dan kami akan pergi kesebuah Bukit yang bernama Bukit Dalmaji. Semua persiapan dibawa didalam bagasi, sebuah tenda, makanan, teropong kesukaannya dan beberapa perlengkapan lainnya. Hari ini pasti sangat menyenangkan.

“Gomawo.” Ucapku menatapnya tulus.

“Aku senang melakukan ini dan aku akan selalu menjagamu.” Ucapnya sambil mengelus rambutku dengan lembut.

Aku sangat nyaman berada didekatnya, dia selalu membuatku tenang. Jiwanya begitu hangat semua yang dimiliki namja itu begitu sempurna untukku. Mobil putih itu melaju begitu cepat, kamipun pergi menuju Busan. Perjalanan yang menyenangkan, semua pemandangan begitu menggoda mataku dan membuatku senang.

“Ah, rasanya ini seperti mimpi bisa pergi bersamamu dan menikmati pemandangan indah ini, aku pikir aku akan mati setelah hari itu. Aku hanya bisa mengingat beberapa kejadian itu, dua orang namja datang dan memukuliku setelah itu aku kehilangan semua memori didalam benakku.” Ucapku sambil menempelkan daguku kepada tanganku yang tertumpu kepada jendela mobil yang terbuka lebar.

“Jangan memaksakan dirimu, biarkan ingatanmu kembali dengan sendirinya. Tetaplah disampingku Hyori- ah. Masuklah, kamu akan masuk angin dan istirahatlah.” Ucapnya.

Aku balikkan badanku dan menatapnya, dia membuatku begitu menyukainya. Hangat sekali, dia berbeda dari namja- namja lainnya. Aku menganggukan kepalaku perlahan dan menekan tombol untuk menutup jendela mobil itu. Aku sandarkan tubuhku kekursi itu dan memejamkan mataku, dia akan merasa kesepian karena aku tidak bisa mengajaknya berbicara lagi.

“Apa yang harus kulakukan dengan yeoja ini?” Gumam namja itu.

Perjalanpun berakhir, kamipun sampai ditempat tujuan yang sudah kami rencanakan. Dengan persiapan yang matang, namja itu mendirikan sebuah tenda dan mengeluarkan alat BBQ untuk menikmati malam ini. Aku hanya memandanginya dan duduk melihat wajahnya yang begitu menyejukan, dia melirikku dan tersenyum kearahku. Sesekali dia melambaikan tangannya kepadaku dan seulas senyuman khasnya menuju kearahku.

‘Dia begitu kusukai, dia adalah hidupku sekarang. Aku tidak memiliki siapapun disini selain dirinya.’ Batinku.

“Yak…. Hyori- ah, kajja.” Teriaknya.

“Nde.”

Semuanya sudah siap dan aktivitas favoritnya meneropong bintang- bintang yang ada dilangit, perkiraan cuaca hari ini adalah cerah dan aku berharap itu terwujud karena aku ingin melihat bintang kesukaannya itu. Aku berlari mengitari luasnya padang rumput itu, aku merasa bebas dan udara disini sangat hangat. Beberapa kali kulihat wajah namja itu yang asik menatapku dan mentertawakanku. Hari semakin gelap dan api unggun dinyalakan untuk menghangatkan tubuh kami. Aku membantu namja itu memasak BBQ yang sudah dipersiapkan sebelumnya, aku menyukai adegan ini seperti sebuah drama dilayar televisi.

“Apa kamu ingin ini?” Ucap namja itu.

“Nde.” Ucapku mengangguk pelan.

Namja itu memberikan sebuah potongan daging sapi yang sudah matang dan menyuapiku dengan penuh kelembutan. Aku lemparkan sebuah senyuman manisku kearahnya, dia sangat menikmati suasana malam ini begitupun denganku. Udara semakin dingin, aku duduk menunggu bintang- bintang bermuculan dilangit cerah itu. Namja itu menarik tanganku dan membawaku melihat beberapa bintang yang ingin diperlihatkannya kepadaku. Aku tak bisa mengelaknya dan mencoba melihat bintang- bintang itu dengan teropong kesukaan namja itu, benar, itu menyenangkan, semuanya begitu dekat dan membuatku kagum.

“Apakah kamu menyukainya?” ucap namja itu.

“Kurom, bintang- bintang itu terlihat cantik sekali dan rasanya mereka ada dihadapanku sekarang.” Gumamku masih sibuk melihat bintang- bintang itu.

“Yak… giliranku.” Candanya.

“Arraso oppa!” Ucapku melepaskan tanganku dari teropong itu.

“Anniya, aku hanya ingin melihatmu bukan bintang itu. Kamu yang paling aku sukai dan kamu tetap terlihat indah dimataku.” Ucapnya sembari memegang sebelah tanganku.

“Yak… Oppa, itu sangat menggelikan, ada apa denganmu?” Tatapku sinis.

“Anniya, aku hanya mengatakan hal yang kurasakan.”

“Jeongmal?” Sergahku cepat.

Namja itu menatapku dengan tajam dan begitu dekat denganku, dia mendekatiku dan memegang kedua sisi wajahku. Terasa dingin yang kurasakan diwajahku, udara memang dingin dan angin terus meniupi rambutku yang terurai pendek. Dia semakin dekat denganku, wajahnya begitu dekat. Apa yang akan dia lakukan kepadaku? Namja itu menatap bibirku dan mulai mendekat kearahku, semakin dekat, dekat dan dekat. Jantungku begitu berdebar kencang, untuk mengelak semuanya aku tidak bisa dan melawan pun aku tidak bisa. Apa karena perasaan sukaku kepadanya? Dia semakin mendekatiku, napasnya begitu terasa diwajahku.

“Oppa, aku merasa lapar.” Ucapku mengalihkan suasana.

“Ah… nde.” Ucapnya menarik kembali wajahnya dariku.

Aku menelan ludahku dan menghela napasku begitu saja, rasa lega keluar dari diriku, semua beban terasa menghilang karena itu. Namja itu membuat jantungku hampir keluar dan rasanya aku ingin menjerit. Tingkahku semakin tak karuan dihadapannya, aku melakukan kegiatan yang tidak jelas dihadapannya. Namja itu hanya memberikan seulas senyuman kepadaku dan melanjutkan aktivitasnya, aku putuskan untuk masuk kedalam tenda dan duduk sambil memukul kepalaku begitu keras.

“Baboya… Baboya Hyori- ah.” Ucapku.

“Cakhaman, sepertinya aku selalu mengucapkan hal itu. Kenapa aku mengingat hal itu? apa aku mulai mengetahui diriku sendiri?” Desisku heran.

Malam semakin larut, aku terdiam didalam tenda dan menggulung diriku seperti kimbab. Namja itu tidak datang melihatku kembali dan aku semakin penasaran apa yang dilakukannya diluar, apa dia sudah tidur sekarang? Ku buka penutup tenda itu dan melangkahkan kakiku keluar, ternyata suasana begitu sepi dan api unggun sudah habis terbakar.

“Dimana dia?” Ucapku penasaran.

Ku buka tendanya dan melihatnya, ternyata dia sudah tertidur begitu pulas. Tanpa berpikir panjang aku langkahkan kakiku dan masuk kedalam tenda itu. Sepertinya dia menangis, air mata itu masih berbekas diwajahnya. Apa yang terjadi dengannya. Aku mengerutkan keningku dan berjuta pertanyaan datang kepadaku. Kuperbaiki selimutnya yang tak karuan, kulihat sebuah album foto yang terbuka disampingnya, foto seseorang yang ada bersamanya.

“Nugu?” Gumamku pelan.

Aku membuka satu persatu foto- foto itu dan melihatnya dengan baik, mereka terlihat sangat akrab dan sepertinya mereka pernah datang ketempat ini. Apa mereka memang datang kesini? Aku simpan kembali album foto itu dan kembali keluar tenda.

“Selamat malam oppa.” Ucapku menatapnya.

Matahari hangat menembus tendaku, mereka terus menyinariku dan mengangguku. Udara pagi hari terasa disekujur tubuhku, perlahan ku buka mataku dan melihat jam tanganku. Pukul 8 ditunjukan oleh jarum jam itu, aku bangun dari tidurku dan merapihkan rambutku. Aku keluar dari tenda dan melihat seseorang yang sibuk berbicara dengan ponselnya. Namja itu lebih awal bangun dariku, aku merencanakan untuk bangun lebih pagi darinya dan menyiapkan sarapan pagi yang ingin kuberikan kepadanya. Aku keluar dari tendaku dan berdiri tegak merentangkan semua badanku yang begitu pegal. Namja itu tetap sibuk dengan ponselnya, dia melihat kearahku namun, raut wajahnya begitu tegang dan cemas. Diapun mematikan ponselnya, namja itu menghampiriku dan menyuruhku membersihkan wajahku dipinggir sungai jernih itu.

“Kha, bersihkan dirimu.” Ucapnya dengan lembut.

“Nde.” Ucapku seraya anggukan lembut.

“Oppa, saranghaeo.” Sambarku berlari menjauhinya.

Namja itu hanya tersenyum dan melambaikan tangannya untuk mempercepat langkahku pergi dari hadapannya. Rasa kantuk dan malas masih menghinggapiku, aku tetap berjalan dan menuruti keinginannya. Perlahan kuusap wajahku hingga bersih dan menggosok gigiku, rasanya sangat segar dan udara disini begitu sejuk. Namja itu sibuk membereskan semuanya, aku berlari menghampirinya dan merasa heran apa yang terjadi dengannya?

“Kenapa begitu terburu- buru? Apa kita harus pulang?” Tanyaku heran.

Namja itu tidak menjawabku dan mengacuhkanku, dia terus membersihkan tempat itu dan memasukannya kedalam bagasi mobilnya. Ada apa?

“Oppa? Apa yang terjadi? Katakan padaku?” Ucapku semakin penasaran.

Namja itu mempercepat semua kegiatannya dan menatapku dingin, dia tidak tersenyum kepadaku seperti biasanya. Dia berbeda dan tidak mendengarkanku, apa yang terjadi dengannya? Wajahnya berubah menjadi  tegang, sesekali dia melirikku dan menatapku. Apa yang dia pikirkan?

“Oppa, apakah kamu marah kepadaku?” Tanyaku kembali.

Dia tetap diam , semua barang- barang sudah masuk kedalam bagasi dan tersisa hanya aku yang masih ada diluar. Kenapa dia tidak sekalian saja memasukanku kedalam? Ah… baboya!

“Geunchana oppa?”Tanyaku ragu.

“Dorawado!” Ucapnya dingin.

“Apa yang terjadi oppa?” ucapku semakin takut.

Namja itu menarik tanganku dan aku mengikuti langkahnya, dia membawaku kesuatu tempat yang tidak aku ketahui. Kami berjalan menjauh dari mobil, aku memainkan sebelah tanganku dan menyentuh bunga- bunga yang kulewati, mungkin dia akan memberikanku kejutan. Hyori- ah dia akan membuatmu bahagia hari ini. Aku tersenyum menatap punggungnya dari belakang, aku salah berpikir bahwa dia akan meninggalkanku, ini bukan perpisahan aku yakin dengan hal itu. Langkahku berhenti begitu saja, mataku tertuju kepada seorang namja yang berdiri disamping mobil hitam itu, namja itu membawa seseorang yang lusuh dan terlihat lemas. Dia seperti menungguku, annio, dia menunggu Oppa. Apa ini? Aku semakin bertanya kepada diriku sendiri, kenapa oppa berubah kepadaku dan tidak biasanya  bersikap dingin seperti itu kepadaku. Oppa berbalik melihat kearahku, dia menatapku begitu dingin dan tajam. Tatapan itu menyakitkanku dan membuatku takut, kenapa dia seperti ini? Aku terus bertanya. Namja itu langsung memegang tanganku begitu erat.

“Kajja.” Ucap namja itu terlihat gusar.

“Sirreo!” Tolakku menarik kembali tanganku.

Dia menatapku, matanya bergerak tak tentu. Matanya mulai berkaca- kaca, sorotan mata cemas, gusar namun, dia tetap memberanikan diri untuk menatapku. Semua ini membuatku bingung, sepertinya dia akan meninggalkanku. Itu semua terlihat dari raut wajahnya. Hatiku mulai merasa sakit, napasku tak beraturan dan tenggorokanku menyempit. Beberapa kali ku telan ludahku, ini membuat leherku terasa tercekik. ‘Anniya, aku tidak ingin dia pergi, jangan, jangan pergi, jangan katakan itu kepadaku.’ batinku bergejolak.

“Naneun ….saranghaeo oppa, kajima…. Kajima!” Ucapku lirih dan menggelengkan kepalaku tak percaya.

Dia menepis tanganku dan menatapku dingin, dia membalikkan badannya dariku dan beranjak pergi dari hadapanku. Ini menyakitkan perasaanku, semua yang terjadi diantara aku dengannya begitu melekat didalam ingatanku. Dia memberiku kehidupan dan dia pernah mengatakan akan selalu menjagaku, kenapa dia berubah? Kenapa? Namja itu tidak menghiraukanku, seseorang disana melambaikan tangannya kearah namja itu dan sepertinya mereka memang saling mengenal. Aku berlari dan tidak ingin dia pergi dariku, aku raih tangannya dan ku pegang erat tangan hangat itu. Dadaku mulai merasa sakit, ini membunuhku dan membuatku sangat terpukul. Jangan lakukan itu, aku ingin bersamamu. Kata- kata itu sulitku keluarkan. Beberapa kali kugelengkan kepalaku tak percaya, kakiku membeku tak bergerak tapi tetap saja namja itu menjauh dariku. Aku meyakinkan diriku dan menghilangkan kecemasanku, dia tidak akan meninggalkanku, tapi aku salah dia pergi dari hadapanku.

“KAJIMA! OPPA!” Teriakku.

Bulir- bulir air mata jatuh dipipiku, rasa sakit itu mulai menghantamku, dia meninggalkanku dan membuatku kecewa. Dia membuatku terluka tetapi dia tetap tak melihatku dan tangisanku, aku terluka oppa, ini membuatku ingin mati. Kenapa dia pergi? Seorang namja yang ada disamping mobil itu menyerahkan orang yang dipegangnya kepada Oppa. Apa yang terjadi disana? Aku tidak mengerti. Tangan Oppa memegang orang yang lusuh itu dan merangkulnya, tanpa tersadar namja yang tak kukenal itu mendekatiku dan menarikku dengan paksa.

“SIRREO! Lepaskan tanganku!”Jeritku lirih.

Aku memutar kembali ingatanku, foto- foto yang kulihat semalam apa itu yang membuatnya meninggalkanku. Foto dia bersama seseorang? Apa orang itu dia? Orang itu begitu sama dengan foto- foto itu. Oppa pergi meninggalkanku bersama seseorang yang tidak asing didalam pikiranku, orang itu pernah datang kedalam mimpiku. “KAJIMA OPPA, KAJIMA!” Teriakku lirih kearah namja yang sudah menjauh dari pandanganku. Aku melihat dia menolehkan kepalanya dan melihat kearahku. Dia akan menolongku aku yakin, Chakaman, Anniya, dia terus berjalan dan memalingkan pandangannya dariku. “Lepaskan tanganku.” Ucapan itu terus kuteriakan. Orang itu tanpa ampun terus menarik tanganku, dia memaksaku masuk kedalam mobilnya.

“Mwo? Apa aku menjadi tebusan untuk namja itu? apa ini?” Gumamku.

“SIRREO!” Teriakku.

“Diam, dia memberikanmu untuk menebus kekasihnya.”

“Mwo?” Ucapku terkejut.

“Nde, namja itu adalah kekasihnya.”

“Museumsumariya?” Ucapku semakin tak mengerti.

“Yak… Lee Hyuk Jae adalah kekasih Lee Donghae, arraso!” Jelasnya.

“MWO?” Hatiku semakin tersentak. Perasaan itu berubah tak karuan, ini membuatku gila. Apa yang sebenarnya terjadi. Apa ini semua? Ternyata aku salah, foto- foto itu memang terlihat mesra dan aku tidak berpikir sampai sejauh ini, Oppa kenapa kau membuatku bahagia? Kenapa kamu memberikanku kehidupan? Dan kenapa kamu begitu hangat kepadaku? ternyata ini yang kamu inginkan kepadaku, aku kira kamu memang tulus kepadaku. Baboya!

Malhajima~

Ibyeoti mwonji naneun mollayo

Geunyang seoreobgo seoreowo

Na sayeoni manha chueogi manha

Gaseum jji jeojyeoyo

Aji geun annyeong urin andwaeyo

Neon geu ibeul deo yeoljima

Annyeongirago naege malhajima

Ammyeongirago naege malhajima

The END……….

 

Gimana ceritanya? Aku harap kalian suka, tapi pasti suka ya, kepedean, gak apa- apa biar agak narsis sedikit ya.. hehehe. Kalau mau ngasih saran sama kritik, author tunggu, semua saran dan kritik bakalan author denger dan laksanakan, Siap! *o* Gomawo…. Saranghaeo… ^o^

One thought on “Don’t Say Goodbye

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s