Fake Girlfriend part 2

Title : Fake Girlfriend (2)

Author : Pupuputri

Main Cast : Lee Donghae

Support Cast : Lee Hyukjae

Rating : 13PG

Genre : Love/Friends, Super Junior, Chapter/Parts

Ps : Jjang! Part 2 disiniiiiiiiiii!!! Apa kalian masih mau membaca lanjutan FF sinetron ini? Semoga saja ya. Baiklah tanpa basa-basi-busuk, langsung dibaca saja oke?!

NOW, I JUST REALIZE

 

SONG YOOJIN POV

“Pegang erat-erat ya!” perintah Donghae.

“N..ne..”

Kupegang ujung bajunya pelan. Aish! rasanya wajahku panas!

“Yak! bahaya! Pegang yang erat dong!” perintahnya lagi sambil mengambil tanganku untuk berpegangan pada bahunya lebih erat.

“A..arasseo!”

Waaah ternyata pundak namja begitu tegap!

Hari ini entah ada setan darimana tapi aku sangat berterima kasih pada setan ini, tiba-tiba Donghae mengajakku main sepeda. Katanya dia kangen dengan masa-masa kecil kami. Haha..kalian tahu? Sepulang sekolah, dulu kami sering boncengan sepeda seperti. Aku ingat dulu pundak Donghae tidak selebar dan sebesar ini jadi aku agak kaget dengan perubahannya sekarang. *iyalah, wong dia udah gede juga* #plak!

“Ah, pelangi!” ucapnya tiba-tiba.

“Assa! Kali ini aku pasti bisa berada di bawah pelangi!” ucapnya semangat.

“Mwo?!” tanyaku tak percaya.

“Julbal!!!” serunya sambil memperkencang kayuhannya.

“Yak!”

Ini salah satu kebiasaannya, selalu ingin bisa berada di bawah pelangi padahal mustahil. Tapi ekspresinya tidak pernah berubah, selalu ceria meskipun dia sedang mengalami masalah.

KIIIT!

“Mwoya? Sudah hilang?!” tiba-tiba dia menghentikan kayuhannya begitu pelanginya memudar.

“Aish! padahal kupikir kali ini pasti bisa..”

“Muahahahaha!! Neo baboya, hahaha!!!” kali ini tawaku membudal melihat tingkah konyolnya.

“Yak! aish, kau ini!” umpatnya kesal.

Akhirnya kami berhenti di pinggir sungai Han. Kamipun berbaring disana dan menatap langit.

“Igo”

Tiba-tiba Donghae memberikan sebuah kalung kupu-kupu padaku. Jelas aku kaget dan langsung membetulkan posisiku jadi duduk.

“Saenggil chukhae”

“Kau..ingat ulang tahunku?” tanyaku takjub.

“Keurom!” jawabnya sambil memakaikan kalung itu di leherku.

“Kau suka?” tanyanya.

Ku anggukkan kepalaku mantap, yeppeo..

Entah kenapa aku sangat senang. Bukan karena hadiah ini tapi lebih ke karena dia mengingat ulang tahunku, padahal kami sudah lama berpisah.

***

Kulangkahkan kakiku menuju ruangan SuJu sambil menenteng 1 kotak cake yang baru kubeli tadi. Aku sedang berada di MuBank, aku ingin memberi kejutan untuk Donghae. Yaah itung-itung untuk sebagai tanda terima kasihku atas hadiah kemarin.

Tapi disini begitu penuh, aku takut acaranya keburu mulai. Segera kuraih HP-ku dan menelfon Donghae. Nada sambungpun terdengar dan tak berapa lama kemudian, telfonpun di angkat.

“Yoboseyo?” jawabnya.

“Yoboseyo, Donghae-ya. Ottiga?” tanyaku.

“Mwo? Aku tidak bisa mendengarmu, kamu bilang apa tadi?”

DEG!

Tiba-tiba mataku menangkap sosok Donghae yang sedang bersama Jooyeon. Jarak mereka dan aku tidak begitu jauh, hanya 5 meter tapi dia tidak melihatku. Kenapa mereka berdua saja?

TUT.

Segera kuputus hubungan telfon. Bisa kulihat raut kebingungan dari wajah Donghae begitu kututup telfonnya.

“Oppa, ayo kita makan” ajak Jooyeon.

“Eo~, kajja!” jawabnya sambil menggenggam tangan Jooyeon.

Pemandangan itu membuat hatiku sakit, aku begitu kecewa. Mataku perih dan aku hanya bisa diam terpaku melihatnya.

“Kau hanya sedang jatuh cinta, Yoojin-ah”

Kenapa aku baru menyadari perasaanku ini? Semua yang dikatakan Yoona adalah benar. Aku memang jatuh cinta padanya, pada Lee Donghae, si ikan kembung yang cengeng. Ini cinta pertamaku.

Kulihat mereka berdua mengobrolkan sesuatu dan Donghae tertawa lepas saat mendengarnya. Itu membuat dadaku terasa sakit sekali. Perlahan bulir airmata itu jatuh tanpa kukomando.

Ini cinta pertamaku. Tapi cinta pertamaku itu, berakhir dengan patah hati…

***

Dia menggandeng tangan Jooyeon dan tertawa bersamanya, sudah pasti dia masih menyukai Jooyeon. Apa dalam cinta siapa cepat, dia yang dapat?

Kulangkahkan kakiku lemah keluar menuju pintu. Ah hujan deras, ottokhaeyo? Aku tidak bawa payung. Yah sudahlah, aku sakitpun tidak akan ada yang peduli.

GREP!

“Kau mau kemana hujan deras begini?” ucap namja yang menahan tanganku itu.

Aku hafal dengan suara itu. Itu suara Lee Donghae, dia..mengejarku?

“Dong..hae?” panggilku pelan.

“Kenapa kau mau pergi? Acaranya’kan belum mulai?” tanyanya.

“Oppa, ini payungnya!” tiba-tiba Jooyeon datang sambil membawa payung.

“Ah, gomawo Yeonnie-ah”

Sakit. Melihatmu tersenyum manis pada Jooyeon, aku tidak suka. Dadaku sangat sakit.

“Aku ingat ada urusan lain, igo” ucapku sambil memberikan cake yang kupegang.

“Kalau begitu, aku antar ya?” tawarnya.

“Ani, gwaenchana. Aku pergi dengan temanku kok, dia sudah ada disana. Pergilah, kau harus tampil’kan?” bohongku.

“Andwae! Biar ku antar kesana. Kau bisa sakit kalau hujan-hujanan begitu” paksanya.

Lidahku kelu, aku tidak bisa membalasnya. Sejak kapan aku tidak bisa melawan Lee Donghae? Sejak aku menyukainya?

Akhirnya dengan terpaksa, aku di antar olehnya. Kadang-kadang pundak dan tangan kami bersentuhan. Ketika itu terjadi, dadaku jadi berdebar-debar dan dadaku terasa sesak. Tenggorokanku terasa sakit. Kalau terus begini, bisa-bisa aku menangis. Padahal aku sedekat ini dengannya tapi Donghae yang kusukai bukanlah milikku.

“Ehm..aku lari saja deh!” ujarku dengan senyum terpaksa.

“Mwo?”

“Sebentar lagi’kan kau tampil, nanti penggemarmu kecewa kalau lama menunggumu. Annyeong!” ucapku sambil berlari.

“Jakkaman!”

GREP!

Lagi-lagi dia berhasil menahan tanganku dan kembali menarikku agar lebih mendekat padanya.

“Kamu ini yeoja dan aku khawatir padamu!”

Andwae!

“Lepaskan!!”

Kutepis tangannya sehingga payung yang dipegangnya jatuh dan kami berdua basah. Ada raut kekagetan di wajahnya, memandangku tak mengerti.

“Yoojin-ah?” panggilnya pelan.

Nafasku tersenggal dan aku ingin menangis. Segera aku berlari meninggalkannya yang masih memanggilku tapi tak kuhiraukan sama sekali. Padahal aku bukan siapa-siapa kecuali teman sejak kecilnya tapi kenapa dia begitu lembut padaku? Itu curang namanya! Semua perilakunya itu hanya akan membuatku tambah menyukainya sedangkan dia sendiri menyukai yeoja lain, itu tambah membuat dadaku terasa sakit.

“Song Yoojin!” panggilnya lagi.

Kuhentikan langkahku sambil tertunduk lemas.

Perasaan ini baru pertama kali kurasakan.

“Kau ini kenapa?!” tanyanya.

Padahal aku tahu. Sebesar apapun rasa sukaku, tetap saja perasaan ini tak akan tersampaikan…

“Aku ingin menghentikan sandiwara ini” ucapku sambil membelakanginya.

“Mwo?”

“Kita sudahi saja semua ini, aku akan menganggap ini semua tidak pernah terjadi jadi kita sudahi saja ya?” pintaku memelas.

“Waekure? Bukankah kita punya kesepakatan?” protesnya.

“Kesepakatan apa? Aku bahkan tidak tahu apa rencanamu selama ini. Semuanya kuturuti begitu saja tanpa protes sekalipun, sebenarnya apa peranku dalam rencanamu?!” tanyaku menahan amarah sambil berbalik menghadapnya.

“Kenapa kau tiba-tiba..”

“Wae?”

“Ne?”

“Kenapa kau begitu baik padaku?” tanyaku.

“Yoo..”

“Geumanhae..” ucapku lirih.

Kenapa aku baru menyadarinya?

“Mwo?” tanyanya bingung.

“Jangan bersikap seperti itu lagi, jebal..” pintaku.

Kenapa aku tidak menyadarinya dari awal?

“Kau ini bicara apa, Jin-ah?”

Kutepis tangannya yang hendak menyentuh wajahku.

Perasaan ini..

“Kenapa kau terus melakukan sesuatu yang membuatku semakin menyukaimu?” tanyaku mulai menatapnya nanar.

Semakin tidak bisa kukuasai..

Ada sebuah keterkejutan dari wajahnya, antara syok dan tidak percaya.

Tidak terkontrol..

“Yoojin-ah..”

Dan pecah..

“Aku suka padamu!” teriakku sambil menatap tepat ke manik matanya.

Kulihat perubahan raut wajahnya yang drastis karena omonganku. Akupun berlari pergi meninggalkannya di tengah hujan.

Perasaan ini meluap dan tidak bisa dihentikan…

 

LEE DONGHAE POV

“Aku suka padamu!”

Kata-kata Yoojin kemarin masih teringat jelas di benakku.

Dia..kenapa ekspresinya begitu? Apa maksud perkataannya itu? dia ingin menghentikan sandiwara ini dan langsung berkata seperti itu. Aku tidak mengerti.

“Wajahmu merah, Donghae-ya”

“Huaaaaaaa!!!” teriakku kaget.

“Yak! aku bukan setan!” protes Hyukjae.

“Aish! Hyuk-ah, kkapjakkiya!” ucapku sambil mengelus dadaku.

“Waeyo? Kau sakit lagi?” tanyanya sambil menempelkan tangannya di dahiku.

“Aniya, aku tidak sakit”

“Lalu? Apa ada yang menganggu pikiranmu?” tanyanya lagi.

Aku tidak tahu harus bagaimana dan tidak tahu harus cerita pada siapa. Mungkin saja Hyukjae punya solusi yang tepat untukku.

“Jinjjayo?! Lalu kau bilang apa?” tanyanya begitu aku selesai bercerita.

“Obseoyo” jawabku.

“Mworago? Jinjja obseoyo?” tanyanya memastikan.

“Ne..”

“Aish!” decaknya.

“Menurutmu apa maksud perkataannya itu?” tanyaku kemudian.

“Biar kuluruskan dulu. Selama ini kalian hanya pura-pura pacaran dan memiliki perasaan khusus satu sama lain dan tiba-tiba kemarin dia bilang ‘suka’ padamu?” tanyanya panjang lebar.

Ku anggukkan kepalaku pelan. Aish! dia pasti mau mengomel macam-macam.

“Yak! kenapa kalian tidak jadian beneran saja? Lagipula dia menyukaimu’kan?” usulnya.

“Mwo? Kami ini hanya teman, dia hanya menyukaiku sebatas teman, matji?” tanyaku ragu.

“Yak! kau belum sadar juga hah?!” tanyanya kesal.

“Sadar apa?” tanyaku polos.

“Aish! dia itu punya perasaan khusus padamu, dia menyukaimu sebagai namja, dia mencintaimu!” terangnya.

Aku tercengang atas penjelasannya.

“Muahahahaaa!!” tawaku pecah akhirnya.

“Yak! wae ddo?”

“Lelucon yang bagus, Hyukjae-ya! Mana mungkin dia mencintaiku, aish! kau itu ada-ada saja!”

“Aish! kau ini dikasih tahu malah mentertawakanku!” ucapnya tak terima.

“Yak, tidak mungkin Yoojin mencintaiku, percayalah!” ucapku mantap.

“Lalu menurutmu apa arti dia menangis di depanmu sambil berkata seperti itu? menurutmu seorang teman tidak bisa jatuh cinta pada temannya sendiri? Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Donghae-ya. Bahkan Kyu bisa jatuh cinta pada dongsaeng-nya sendiri” jelasnya.

“Itu karena dia bukan adik kandungnya, Hyuk-ah” belaku.

“Aish! intinya bukan itu! kalau menurutku, dia pasti jatuh cinta karena semua perilaku manis itu” terangnya.

“Tapi’kan aku memperlakukan mereka sama, yah kecuali pada Jooyeon sih” sangkalku.

“Mungkin kau berpikir begitu tapi apa yang kau tahu apa yang ada di pikiran mereka? Yeoja itu tidak bisa ditebak, Donghae-ah” tuturnya.

Iya sih, tapi tidak mungkin juga’kan Yoojin mencintaiku?

“Sebenarnya aku juga tidak mengerti dengan arti dari ‘obat’ sakit hati itu jadi aku juga tidak menyalahkan Yoojin berkata seperti itu karena aku juga tidak mengerti ‘obat’ disini itu apa maksudnya” ucapnya lagi.

“Maksudmu?” tanyaku bingung.

“Kau memintanya untuk jadi ‘obat’mu tapi kau memberinya peran sebagai ‘pacar’mu, kenapa dia harus jadi ‘pacar’ untuk mengobati rasa sakit hatimu? Apa kau hanya semacam ingin menghibur dirimu sendiri dan ingin berusaha tegar di depan Jooyeon dengan memperkenalkan ‘pacar’mu?” tanyanya panjang lebar.

“Mwo?”

Jujur, aku agak tersinggung.

“Dan lagi bagaimana menurutmu jika seorang yeoja ingin melepaskan status ‘pacar palsu’nya sambil berkata ‘aku menyukaimu’? jelas dia menginginkan ‘status’ yang sebenarnya” lanjutnya lagi.

Lidahku kelu. Aku tidak bisa menjawabnya.

***

“Mana Yoojin Eonnie?” tanya Jooyeon tiba-tiba.

“Ne?”

“Dia tidak datang bersamamu, Oppa?” tanyanya lagi.

“A..aniya, mungkin dia sedang sibuk” bohongku.

Aku juga tidak mengerti. Sejak kejadian itu, dia seperti menghindariku. Dia tidak mengangkat telfonku dan tidak membalas SMS-ku, apa dia sakit? Aku jadi khawatir.

“Kalian bertengkar?”

“Mwo? A..aniya, kami tidak bertengkar kok!” bohongku lagi.

“Oppa tahu? Yoojin Eonnie itu sangat cocok denganmu Oppa, kuharap Oppa tidak menyia-nyiakan yeoja sebaik dia” tuturnya.

“Aku tahu..” jawabku lemah.

Aku jadi penasaran, apa pendapatnya soal perkataan Hyukjae.

“Jooyeon-ah, kalau ada seorang yeoja bilang ‘suka’ pada namja sambil menangis, menurutmu apa maksudnya?” tanyaku.

“Tentu saja dia menyukainya” jawabnya enteng.

“Maksudmu ‘suka’ seperti apa? Apa suka sebagai teman?” tanyaku hati-hati.

“Ya tentu ‘suka’ sebagai namja, artinya yeoja itu mencintai namja itu. Bukankah itu hal yang mudah untuk ditebak?” tanyanya balik.

Jinjja? Bahkan Jooyeon saja berpikiran sama dengan Hyukjae. Kenapa dadaku jadi berdebar keras begini? Rasanya aku begitu senang.

 

SONG YOOJIN POV

Sudah beberapa hari ini aku menghindari kontak dengan Donghae. Aku tidak tahu harus berbuat apa kalau bertemu dengannya, aish! kenapa juga aku harus menyatakan perasaanku waktu itu? Eomma, ottokhaeyooooo?!!

TING TONG.

Tiba-tiba pintu apartemenku berbunyi. Segera kulangkahkan kakiku malas menuju intercom.

“Nuguseyo?” tanyaku.

“Na ya, Donghae”

DEG!

Donghae? Mau apa dia kesini? Aish! ottokhaeyo?

“Bukalah, aku ingin bicara denganmu” pintanya.

Dengan terpaksa, kubukakan pintu itu untuk namja yang sedang ingin kuhindari saat ini. Sebisa mungkin aku menhindari kontak mata dengannya.

“A..ada urusan apa?” tanyaku begitu dia masuk.

“Kenapa kau tidak jawab telfonku?” tanyanya langsung.

“Kau datang kemari hanya untuk menanyakan itu?” tanyaku sarkastis.

Dia tidak menjawab, hanya terdiam memperhatikanku. Aku yang ditatap begitu jadi agak risih dibuatnya dan tertunduk.

“Duduklah, akan kubuatkan minuman untukmu”

GREP!

Lagi-lagi dia menahan langkahku. Aku benci saat dia melakukan itu padaku. Itu membuat jantungku berdegup kencang dan entah kenapa, tubuhku merasakan getaran hebat saat dia menyentuhku.

“Kau kenapa?” tanyanya.

“A..apa maksudmu? Aku tidak kenapa-kenapa kok!” bohongku.

Ada rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhku saat aku mengatakan kalimat itu.

“Aku mengenalmu, aku tahu kau bohong. Perkataanmu waktu itu..apa maksudnya?”

DEG!

“Per..perkataan yang mana?” aku pura-pura lupa.

“Yang kau bilang saat hujan itu, kau bilang kau menyukaiku. Apa maksudmu?” tanyanya.

Kubalikkan badanku pelan menghadapnya. Kusiapkan mental dan raut wajahku matang-matang, aku tahu dia pasti mau menanyakan ini.

“Haha..maaf waktu itu aku hanya asal bicara saja kok!” jawabku.

“Ne?”

“Maksudnya aku menyukaimu..itu sebagai teman” lanjutku.

Tidak ada jawaban dari mulutnya. Kumohon! Jangan biarkan hal ini merusak hubungan pertemanan kami!

“Oh..jadi hanya sebagai teman ya..”

Ne? Kenapa nadanya begitu?

“Hm..aku ke dapur dulu ya”

Belum sempat aku berbalik, tiba-tiba saja kakiku tersandung kaki meja dan akibatnya..

“Yoojin!”

BRUK!

“A..auw..” erangku.

Kubuka mataku dan..

DEG!

“Gwaenchana?” tanyanya.

Kini posisi kami sangat ‘bahaya’. Aku ada di bawahnya dan dia ada di atasku.

“N..ne..gwaenchanayo”

Wajahku panas dan jantungku berdegup kencang. Baru kali ini aku melihat wajahnya dari dekat. Aku baru tahu matanya seindah ini, hidungnya yang mancung, sepertinya dia adalah salah satu makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna. Jakkaman! Kenapa jarak kami jadi semakin dekat?

“Dong..Donghae..?” panggilku pelan.

Dan yang terjadi selanjutnya adalah bibirnya yang sudah menempel di bibirku. Kami berciuman, lebih tepatnya dia yang menciumku. Ciumannya begitu lembut dan manis. Dia mengecupnya pelan tapi aku sendiri? Aku tidak bisa bergerak. Mataku terbuka lebar tak percaya dan bibirku kelu dibuatnya.

Tiba-tiba dia melepaskan ciumannya dan bangkit. Aku masih dengan keterkejutanku dan tidak bisa bergerak. Aku bahkan tidak menyadari kalau Donghae sudah keluar dari apartemenku. Begitu pintu tertutup, badanku yang membekupun langsung mencair dan langsung merubah posisiku jadi duduk.

“Yang barusan itu..apa?”

Apa ada jawaban lain selain menyerah dan kembali jadi teman?

 

LEE DONGHAE POV

“Yang kau bilang saat hujan itu, kau bilang kau menyukaiku. Apa maksudmu?” tanyaku.

Aku sedang berada di apartemennya. Aku tidak punya jalan lain selain menanyakannya sendiri dan disinilah aku berada. Perlahan, dia membalikkan badannya menghadapku.

“Haha..maaf waktu itu aku hanya asal bicara saja kok!” jawabnya.

“Ne?” tanyaku tak percaya.

“Maksudnya aku menyukaimu..itu sebagai teman” lanjutnya.

Sebagai teman? Harusnya aku tahu itu. Ada rasa kecewa dalam diriku ini dan aku tidak tahu kenapa.

“Oh..jadi hanya sebagai teman ya..” ucapku kemudian.

Apa yang sebenarnya kuharapkan?

“Hm..aku ke dapur dulu ya”

Belum sempat dia berbalik, tiba-tiba saja kakinya tersandung kaki meja dan akibatnya..

“Yoojin!”

BRUK!

“A..auw..” erangnya.

Aku gagal menahannya dan akhirnya kami berdua malah terjatuh.

“Gwaenchana?” tanyaku khawatir.

Tapi aku menyadari sesuatu sekarang. Posisi kami sangat ‘bahaya’. Aku ada di atasnya dan dia ada di bawahku. Hanya kedua tanganku saja yang dijadikan sebagai penyangga agar aku tetap seimbang.

“N..ne..gwaenchanayo” jawabnya.

Kenapa wajahnya memerah? Itu sukses membuat jantungku berdegup abnormal. Aku sendiri tidak mengerti dengan tubuhku ini. Rasanya aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari matanya, seolah terhipnotis. Aku baru tahu dia memiliki mata yang sangat indah dan bibir yang menawan.

Entah setan darimana yang berbisik di telingaku, perlahan kuperpendek jarak kami dan mulai menutup mataku.

“Dong..Donghae..?” panggilnya pelan.

CUP.

Bibir kami bertemu dan akulah yang pertama kali menempelkannya. Bibirnya sangat manis, membuatku tidak ingin melepaskannya dan ingin terus mengecupnya. Kukecup bibirnya pelan tapi tidak ada reaksi dari Yoojin. Jakkaman! Yoojin? Aku mencium Yoojin? Kenapa aku baru sadar?

Segera kulepaskan ciumanku dan bangkit. Dia masih dengan keterkejutannya dan tidak bisa bergerak. Aish! aku tidak berani menatapnya! Entah kenapa, yang ada di pikiranku saat ini adalah keluar dari apartemen Yoojin secepatnya. Pintupun kututup begitu aku keluar dari tempat itu. Ada apa denganku?

***

“Tidak usah gugup, Oppa. Kau hanya perlu mengatakan bagaimana perasaanmu dan semuanya akan baik-baik saja” ucap Jooyeon.

Hari ini, aku meminta bantuan Jooyeon untuk menenangkanku. Kalian tanya untuk apa? Karena setelah aku curhat padanya dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi padaku, inilah jawabannya. Jooyeon bilang aku jatuh cinta pada Yoojin. Ini gila, aku bahkan tidak tahu sejak kapan aku jatuh cinta padanya.

“Mian karena sudah membohongimu dan merepotkanmu..” ucapku tertunduk.

“Gwaenchana, Oppa. Setidaknya Oppa sudah menyadari perasaan Oppa sendiri, so are you ready?” tanyanya.

“No”

“Haha..lucu sekali Oppa. Ingatlah, yeoja suka pada namja yang jujur dan apa adanya. Jadilah dirimu sendiri Oppa dan dapatkan dia!” serunya semangat.

“Arasseo..tapi bagaimana kalau dia benar-benar menganggapku sebagai teman dan pertemanan kami jadi aneh?” tanyaku khawatir.

Semua hal ini membuatku frustasi dan khawatir akan banyak hal.

“Na mideo, semuanya akan baik-baik saja, ne?” ucapnya menenangkanku.

Ku anggukkan kepalaku perlahan mengerti. Hm? Apa ini?

“Tutup matamu, ada bulu mata jatuh”

“Otti?” tanyanya sambil meraba matanya.

“Akan ku ambilkan, tutup matamu” jawabku.

 

SONG YOOJIN POV

Hari ini, Donghae memintaku untuk janjian di taman tempat biasa kami bertemu. Rasanya jantungku berdegup tak karuan dan aku jadi gugup. Kira-kira Donghae mau bilang apa ya?

Oh, waffle! Aku mau beli, akan kubelikan juga untuk Donghae.

DEG!

Sebuah pemandangan membuat jantungku serasa berhenti berdetak. Disana, tak jauh dari aku berdiri, aku melihat Donghae dan Jooyeon berciuman. Aku tahu itu Donghae walaupun dia membelakangiku. Tapi kenapa dia mencium Jooyeon? Padahal Donghae-lah yang menciumku. Lalu apa artinya ciuman kami kemarin?

Kularikan kakiku untuk menjauh dari tempat itu, melihat mereka berdua membuat dadaku bertambah sesak. Kenapa aku harus merasa sengsara seperti ini? Daripada harus merasakan perasaan seperti ini, lebih baik aku tidak bertemu dengannya lagi.

Seharusnya aku tahu, aku hanya bertepuk sebelah tangan saja. Seharusnya aku tahu, Donghae tidak akan pernah bisa melihatku lebih dari seorang teman. Seharusnya aku tahu itu tapi..kenapa aku selalu mengharapkan hal yang tidak akan pernah terjadi?

TBC

Ini dia akhir dari part 2, there’s still one last part, so don’t miss it! But beforehand, tinggalkan jejak kalian dulu melalui komen atas FF sinetron ini ya!

10 thoughts on “Fake Girlfriend part 2

  1. Waaaa kasian banget ya dianya. Jooyeon harusnya bisa jarak sama donghae. Tapi itu semua kan kuasanya author yakan? Haha next chap ditunggu yaaa ;D

    • iya, saya juga ngerasa Jooyeon jadi kayak peran antagonisnya disini tapi nggak kok! next chapter udah d publish d blog saya, silakan mampir pupuputri.wordpress.com ^__^

  2. haduh..haduh..
    Ko masalahnya jadi tambah runit si??
    Dan kenapa sahabat itu bisa saling jatuh cinta..
    Emang bener, cinta itu g kan pernah memandang apapun, kekuatan cinta sangat dahsyat..
    Hahaha..
    Jadi masih da satu part lagi ya, brarti part 3 ending dnk..
    Sedih..
    Tapi ttp semangat author..
    Fighting…. :P

    Jia Jung

  3. iiii makin gerem deh… seenaknya donghae cium yoojin dan seenaknya dia ninggalin yoojin setelah menciumnya..
    pasti salah paham lagi.. ckckckc!! lanjutkan thor..

  4. wah salah paham!knpa juga sich donghae ngajak jooyeon sgla!kalo g diajak kan g bkal kyak gni!*emosi sendiri! sbnernya ak blum baca part 1 sich!hehe tp part 3 ditungg

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s