Little Wind, Named Ryeowook

Pairing: Yesung/Ryeowook
Rating: K+
Length: 1680 words
Genre: AU, Fantasy, Hurt/Comfort
A/N: little gift for ddanghobak :3
**

Tengah malam, di mana angin menjadi damai berjalan dan embun mulai berlarian untuk menyelimuti rerumputan. Di sana di bawah pohon baobab yang besar sesuatu muncul dari dalam sari kayu pohon baobab.

Ketika itu, cahaya yang sangat mungil lahir, meskipun mungil dia mengeluarkan titik-titik cahaya yang sangat terang untuk menerangi gelapnya malam. Dia berjalan di sekitar rumput liar yang tumbuh kemudian naik ke puncak pohon baobab. Di sana dia melihat bintang yang sangat bersinar. Kepalanya tertunduk malu. Ternyata bukan hanya dia yang terlihat indah.

Sekarang ini dia merasa rendah sekali karena banyak hal yang lebih indah daripada sinarnya. Seperti bintang yang lebih bersinar dan mawar yang lebih mempesona.

Tidak sanggup untuk menanggung malu, dia turun dari pohon besar itu dengan cepat. Kaki-kaki mungilnya mulai kelelahan. Dia sekarang mulai bertanya bagaimana dia diciptakan juga untuk apa dia diciptakan. Karena sekarang dia merasa bosan sekali. Entah bagaimana caranya dia sampai kemari. Kemana perginya cahaya-cahaya yang lain.

Karena lelah, dia memutuskan untuk beristirahat di samping kebun mawar yang sedang menikmati bunga tidurnya. Tapi disisinya, setangkai mawar terbangun dan melihatnya.

“Apa kau cahaya yang datang untuk kami?”

Si cahaya mungil terbangun dari tidurnya. “Uh?”

“Benar,” si mawar terlihat gembira sekali dia melonjak dari akar-akarnya. “karena di sini sangat gelap. Tidak ada satupun manusia yang mau kemari untuk memberikan cahaya. Maukah kau tidur di antara kami untuk menerangi kami? Tenang saja kami tidak akan menyakitimu dengan duri-duri kami.” Jelasnya panjang lebar. Si cahaya mungil ini tersenyum lebar, dia mengangguk kencang kemudian berjalan di antara ribuan mawar dan tertidur di antara mereka semua.

Mungkin mawar-mawar ini mempesona. Tapi mereka terlalu lama berada di kegelapan. Bahkan mereka membiarkan cahaya kecil menemani tidur mereka.

Pagi hari, oh sinar kecil ini tidak bisa mengetahui apakah sekarang sudah pagi atau tidak. Karena sangat gelap di bawah sini. Pohon-pohon baobab yang besar mengelilingi ratusan mawar di bawah sini. Hanya sedikit sinar matahari yang bisa mereka dapat. Dan segera cahaya mungil tersenyum lebar, dia naik ke atas ranting baobab yang terikat dengan ranting pohon lainnya.

Di sana dia duduk kemudian bergoyang perlahan ke kanan juga ke kiri, menurunkan serpihan-serpihan sinarnya untuk mawar-mawar di sana. Dia bersenandung kecil. Hanya sebuah lagu yang dia ingat ketika dia lahir.

Dia sekarang tahu kalau betapa mempesonanya makhluk apapun, mereka tetap akan membutuhkan hal kecil. Karena hal kecil yang membuat mereka terlihat besar.

Lama sekali cahaya mungil ini harus menemani ratusan mawar-mawar di bawah sana. Memberikan mereka cahaya yang cukup agar mereka tetap hidup. Cahaya kecil selalu tahu siapa yang paling membutuhkan cahaya di saat jam tertentu. Ah, cahaya kecil mungkin sudah menemukan jawaban akan pertanyaannya.

Tapi ketika cahayanya mulai membesar dan semakin terang, setangkai mawar mulai menghitam. Dia takut. Takut akan seperti mawar itu. Semakin indah kemudian whush… pergi.

Dugaannya benar, bersamaan dengan runtuhnya kelopak demi kelopak mawar tua itu sinarnya juga mulai meredup. Dia takut sekali, takut kalau dia akan menghilang. Malamnya dia berbicara dengan si mawar tua. Berusaha menjadi kuat bersama-sama. Membagi kehangatan sinarnya yang sekarang semakin redup.

“Kemana kita setelah ini?” tanyanya. Si mawar tersenyum diantara hitamnya mahkota kebanggaannya. Dia berdehem sebentar, nafasnya mulai memendek.

“Kau sendiri? Mau kemana?”

“Aku ingin terus di sini. Aku ingin menerangi kalian.”

Mawar hitam kembali menjatuhkan kelopaknya dan sekarang dia hanya menyisakan satu kelopak untuk bertahan pada malam yang dingin.

“Tidakkah kau berfikir kalau kau bisa menyinari ruang yang lebih besar? Menjadi sinar yang lebih besar dan dikenal banyak orang?”

Cahaya kecil terdiam. Sekarang sinarnya kadang menyala dan mati. Dia mulai merasakan kesakitan. Angin mulai berhembus menerbangkan daun-daun sang mawar juga tangkai yang mulai limbung.

“Apa kau akan benar-benar pergi?”

Angin kencang menerbangkan semuanya sampai hanya tinggal batang mungil yang mencuat dari dalam tanah. Mawar yang lain yang masih segar bergoyang ke kanan ke kiri. Mahkota mereka tunduk sangat dalam. Cahaya kecil benar-benar tidak mengerti harus bagaimana. Dia merasa sangat lelah dan ingin tertidur tapi bagaimana dengan ratusan atau bahkan ribuan mawar-mawar ini? Siapa yang akan menyinari mereka?

Dari dalam batang mawar hitam yang sudah patah mulai keluar cahaya yang sangat kecil. Membuat si cahaya yang meredup ini tertegun sebentar. Akan ada yang menggantikannya. Kalau begitu… jika memang dia harus meninggalkan mereka. Tidak apa.

Pelan cahayanya mulai menghilang tertelan datangnya angin yang lebih kencang dari yang pertama. Merasa ringan si cahaya mulai menari dengan kaki-kaki imajinernya. Matanya terpejam merasakan angin yang berhembus pelan membelai seluruh bagian tubuhnya.

Dia merasa sangat bahagia.

**

Ruang berbentuk kubus itu sangat gelap. Cahaya matahari sama sekali tidak diijinkan masuk sedikitpun untuk memberi kehangatan. Dia berdiri di sudut ruangan. Matanya menelusuri tiap inchi dari apa yang sudah terbiasa di matanya selama 7 tahun. Cukup lama untuk mengingat apapun.

Laki-laki berusia dua puluh dua tahun ini menelan salivanya kuat-kuat. Ya, dia juga menelan kesakitannya. Rasanya sakit sekali mengetahui ada sesuatu yang hilang dari sana. Seharusnya di kursi makan itu ada pria kecil yang akan selalu tersenyum padanya. Menyiapkan sarapan untuknya juga memeluk tubuhnya dengan kehangatan.

Kim Jong Woon. Namanya Kim Jong Woon, Dan hanya pria kecil itu yang dengan berani merubah namanya menjadi ‘Yesung’.

Bukan merasa congkak. Tapi dia memang tahu kalau suaranya sangat bagus. Itu yang membuat dia menjadi public figure. Itu yang membuat dia menjadi terkenal. Memiliki uang yang dia tidak bisa hitung. Juga membelikan pria kecil kekasihnya apartemen yang besar.

Hanya saja rasanya sekarang itu menjadi percuma. Rasanya dia hanya ingin jatuh dari jendela apartemen mereka dan menyusul si pria kecil yang mungkin kesepian di sana.

“Kim Ryeowook.” Bisiknya pelan. Suaranya menjadi sumbang dan sangat berat. Dia jatuh terduduk sedetik kemudian. Lututnya gemetar tapi Jong Woon memaksakan menyeretnya untuk sampai ke depan meja makan. Tangannya memeluk celemek berwarna hijau muda dengan aksen polkadot putih.

Dia benar-benar tidak tahu apalagi yang dia mau selain kembalinya pria kecil itu dalam pelukannya.
Anggap saja dia pria yang bodoh karena menunda hidupnya yang cemerlang demi pria kecil itu. Pria kecil yang dia temui secara ‘accident’ . Tapi anggap saja pria kecil bernama Kim Ryeowook ini sudah menjadi sesuatu yang ajaib untuk menopang dia berdiri.

Kim Ryeowooknya sangat kecil. Tubuhnya mudah dipeluk. Tatapan matanya selalu bercahaya. Tapi tangan mungilnya terlihat rapuh dan ketika Jong Woon menggenggam tangan rapuh itu dia tahu kalau dia harus terus melindungi Kim Ryeowook.

**

Kim Jong Woon terbangun dengan raut yang melekat selama empat tahun terakhir ini. Air matanya setetes-dua tetes turun. Sekali lagi rasa sakit menyerang tubuhnya. Dia bangkit dengan perlahan. Tangan kirinya terjulur dan mengusap dataran ranjangnya yang dingin.

Tidak ada satupun orang yang dia perbolehkan untuk menempati sisi ranjang ini. Hanya Kim Ryeowooknya. Karena secara tidak tertulis ataupun lisan, Kim Ryeowook sudah mengambil lahan yang paling luas dalam tubuhnya dan begitupun dengan ranjang ini.

Jong Woon bangun perlahan. Seiring berjalannya waktu langkahnya semakin berat dan pelan. Kaki-kaki telanjangnya menyentuh permukaan lantai yang dingin. Dia menghembuskan nafasnya dan bisa melihat uap kecil mengambung di atas permukaan hidungnya. Mungkin dia terlalu lama berada di dalam tempat yang dingin. Mungkin sudah saatnya dia membiarkan cahaya memasuki ruang hidupnya,

Tangannya meraih tirai besar yang selalu terbentang di sana menghalangi sinar matahari. Kali ini dia membiarkan melipat tirai itu ke sisi kanannya dan menatap matahari yang berada di balik gedung. Sekarang dia membiarkan matahari masuk ke dalam ruangan besar ini, tapi sepertinya matahari terlalu lelah dan bersembunyi di balik sana.

Masih ingin dan sebenarnya Jong Woon merindukan merasakan angin juga sinar menerpa wajahnya. Dia membuka jendela balkon dengan tergesa. Kakinya melangkah keluar. Dia mulai merasakannya. Sinar matahari mulai menelusup masuk helai demi helai rambutnya dan dia… bisa melihat senyum Kim Ryeowook dalam balik mata terpejamnya.

Angin membelai tengkuk lehernya.

“Halo,”

Jong Woon membuka matanya segera. Dia menoleh kekanan dan kekiri.

“apa kau akan juga takut dengan makhluk-makhluk lainnya?”

Dia mulai berfikir kalau dia terlalu lama tidak terkena sinar matahari dan menyebabkan efek samping.

“Aku ingin berteman denganmu.”

Jong Woon menelan salivanya dan perlahan mulai meninggalkan akal sehatnya.
Siapa yang peduli. 4 tahun tidak berinteraksi dengan orang luar tentu saja membuatnya mencoba hal gila ini. Angin itu kembali menyapanya di bagian pipinya.

“Apa kau takut? Karena aku tidak terlihat. Iya kan?”

“Erm… yeah hampir seperti itu.”

“Kenapa manusia lebih mementingkan apa yang bisa dilihat dibanding yang tidak bisa mereka lihat?”

“Karena itu sesuatu yang pasti…?” Jong Woon bahkan ragu dengan ucapannya.

“Tapi apa yang kasat mata lebih berharga. Karena menghargai apa yang tidak terlihat adalah hal yang mustahil. Dan melakukan hal yang mustahil adalah hal hebat.”

“Kau mau aku menghargaimu?”

Si angin terhenti sebentar mengitari tubuh Jong Woon.

“Aku sebelumnya hanya cahaya kecil. Tapi ratusan mawar menghargaiku karena aku adalah sesuatu yang mereka butuhkan. Aku ingin berteman dengan kalian. Tapi sepertinya kalian menganggapku adalah virus. Karena raut wajah kalian akan pucat dan kalian akan memakai pakaian yang lebih tebal.”

Jong Woon duduk di balkon yang semakin dingin. Karena ini matahari di musim dingin dan dia semakin bisa melihat wajah Kim Ryeowooknya.

“Sebenarnya memang angin sepertimu bisa membuat kami sakit.”

Angin itu menjadi hangat di bagian wajah Jong Woon dan Jong Woon menyukainya. Seperti wajah mungil Kim Ryeowook yang menempel pada wajahnya.

“Aku bisa membuatmu hangat kan? Apa kau akan menjauhiku juga? Aku sudah jauh berjalan dan aku lelah. Aku ingin seseorang yang bisa membuatku nyaman.”

“Kau… hanya angin.”

“Dan kau juga hanya manusia.”

“Siapa namamu?” bodoh sekali rasanya Jong Woon menanyakan angin. Apa mereka memiliki nama?

“Aku tidak ingat. Apakah sebuah nama itu penting bagi kalian?”

“Tentu saja. Karena ada banyak angin di sini. Aku harus mengetahui namamu agar kau berbeda dari angin lainnya.”

“Oke…” dia terdiam sebentar tapi masih menghangati bagian wajah Jong Woon. “bagaimana kalau Ryeowook?”

Jong Woon membulatkan matanya. Ekspresi lainnya yang akhirnya dia keluarkan setelah empat tahun hanya menangis dan merenung. Alis matanya menyatu.

“Haruskah nama itu?”

“Entahlah. Aku hanya terpikirkan nama itu. Terdengar penuh kenangan yang akan membuatmu tersenyum.”

Jong Woon terdiam. Dia memejamkan matanya perlahan. Kim Ryeowooknya. Dan benar, kedua ujung bibirnya tertarik dan membentuk sebuah senyuman.

“Senyum milikmu sangat indah. Kim Jong Woon,”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“anggap saja kalau ini intuisi sebuah angin.”

Kim Jong Woon tersenyum lagi. Dia tahu kalau ada banyak keajaiban yang terjadi di dunia ini, Dan orang-orang yang menerima keajaiban memang terlihat gila. Kim Ryeowooknya menjadi angin?

Tapi tidak buruk juga. Selama itu Ryeowook.

Mencintai memang membuatmu melakukan hal-hal bodoh.

**

END

**

now playing: After Love – Park Hyo Sin
**

Maaf kalau terlalu lama kak~

3 thoughts on “Little Wind, Named Ryeowook

  1. jadi… wookie itu angin? terus di masa lalunya, dia itu apa? siapanya woon??

    biarpun aku bingung, tetep, dan selalu, suka bgt ama diksi yg kamu pake , Jo.. :)

  2. waa thanks banget udah ditulisin cerita ini.. i adores yewook :D

    agak bingung sih apa ryeowook yang cahaya-manusia-angin itu sama apa bukan, tapi overall baguus. reaksi jongwoon persis kayak yang aku bayangin kalau ditinggalin ryeowook, emo dan pengen cepet mati aja.

    “Tapi tidak buruk juga. Selama itu Ryeowook.” this<3

    makasih ya udah ditulisin cerita yang cantik gini… ({})

  3. sooya, ceritanya unik
    juga bagus :)
    entah kenapa bikin keinget little prince
    tapi agak masih bingung juga
    itu rohnya wookie?
    hubungannya sama cahaya kecil apa?

    dan ini my favorite quote :D
    “Tapi apa yang kasat mata lebih berharga. Karena menghargai apa yang tidak terlihat adalah hal yang mustahil. Dan melakukan hal yang mustahil adalah hal hebat.”

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s