My Music

Title: My Music

Author: newshawol (elfishy)

Main Cast: Park Jungsoo (Leeteuk), Han Hyebyung

Support Cast: Super Junior

Genre: Romance

Rating: General (G)

Length: Oneshot

Dislaimer: Super Junior belongs to God but this story belongs to me :D

A/N: Hello!  I’m back I’m back! Sebenernya Sequel pertamaku belum selesai (Judulnya Milk for You), tapi karena tanganku gatel pengen ngirim, aku kirim lagi FF ini ke WFF J FF ini aku publish di FB dan vlog pribadiku. Jadi, semoga ga ada yg mikir macem-macem. Hehehe… Don’t forget to leave your footsteps here ;) Love is always welcomed. Hohoho

Credit: Poster by Alskey

*MM*

   Menghadapi segala jenis manusia di dunia memang sulit. Menghadapi berbagai kondisi yang terus berubah malah lebih sulit lagi. Banyak orang yang bisa selamat dari kerasnya hidup. Beberapa memilih menjadi dirinya yang “lain”, beberapa menjadi hiperaktif agar mendapat perhatian, beberapa berusaha bertahan menjadi dirinya sendiri, dan sisanya mengalami kesulitan sehingga terpaksa harus mengunci mulut.

Masih mengulum lollipop dengan tenang, Han Hyebyung berjalan cepat menuju sekolahnya. Bukan keinginannya untuk sepenuhnya diam. Hanya saja, situasi baru yang dihadapinya membuatnya harus menjadi tenang.

Seoul…

Setelah bertahun-tahun memimpikan kota ini, akhirnya ia bisa sampai di sini. Dinginnya udara pertengahan September ini membuatnya makin ragu untuk berjuang di kota indah ini. Dengan langkah cepat namun penuh paksaan, ia memasuki gerbang sekolahnya.

“Annyeong haseyo, Seonsaengnim!” sapa Hyebyung ramah kepada Kim Seonsaengnim yang berjaga di gerbang.

“Ye, annyeong haseyo,” balasnya datar.

Setelah menghela nafas perlahan, Hyebyung melanjutkan langkahnya menuju kelas. Meski sudah seminggu ia berada di kelas ini, tetap saja ia merasa asing dengan ruangan yang didominasi warna abu-abu ini. Beberapa anak langsung menoleh begitu melihat Hyebyung masuk.

Hyebyung menunduk dan mempercepat langkahnya menuju kursi. Menjadi anak pindahan di tengah semester memang bukan perkara mudah. Apalagi kalau tak menguasai bahasa Korea. Semua anak akan berpikiran aneh. Terus terang saja, hal itu cukup mengesalkan Hyebyung.

Bukan salahnya ia tak fasih berbicara Korea. Biarpun ia anak Korea murni, tinggal di Wina membuatnya sama sekali tak pernah bicara bahasa Korea. Tapi setidaknya, ia sudah belajar keras selama setahun belakangan ini. Kenapa tak ada yang bisa menghargai?

“Kau pikir, gara-gara kau pernah tinggal di Wina, kau bisa berbangga-ria?” tukas seorang yeoja secara tiba-tiba.

Hyebyung mengangkat kepalanya dan mengerutkan kening. “Joiseonghamnida… mm… could you please speak a little bit slower?” pintanya dengan selembut mungkin. Bukannya ia menolak bicara Korea, tapi lafal yeoja di hadapannya terlalu kental dan bicaranya cepat sekali. Bagi Hyebyung, sama saja seperti berusaha mengerti bahasa Jerman yang diucapkan balita.

Yeoja di hadapannya meringis. “Cih! Sombong benar! Sudah seminggu di sini, masih tak bisa berusaha berbaur? Kau pikir kami tak bisa bahasa Inggris?! Belagu!” tandasnya dengan wajah sangar. Dan dalam hitungan detik, yeoja itu pergi meninggalkan Hyebyung yang masih dalam keadaan terkejut.

Oh Tuhan… bisakah aku bertahan di sini? Rintih Hyebyung dalam hati.

*MM*

   Dengan amat pelan, Hyebyung mengeluarkan kotak bekalnya. Zaman sekarang, tak banyak murid SMA yang membawa bekal. Mereka jelas lebih memilih membeli makanan di ruang makan. Tapi bagi Hyebyung, bekal-lah satu-satunya harapan untuk memulihkan mood-nya.

Masih dikelilingi tatapan menusuk dari teman-temannya, Hyebyung berjalan cepat dengan kepala tertunduk. Ia harus pergi, ke mana saja, di mana saja, asal jangan di kelasnya. Dan langkah cepatnya membawanya ke taman belakang sekolah.

Hyebyung terkikik sendiri ketika menyadari keberadaannya. “Ini seperti drama,” gumamnya. “Seorang yeoja datang ke taman belakang dan menemukan namja super tampan tertidur di sana. Kemudian si yeoja mengecup si namja, membuat namja itu terbangun. Namja tampan itu terkejut namun mereka mulai berkenalan… jatuh cinta… bahagia… selamanya…” Hyebyung melanjutkan imajinasinya.

Ia terkikik lagi dan segera mencari kursi. Baru saja ia membuka kotak bekalnya, dentingan piano mengalun di sekelilingnya.

“Eomo!” serunya terkejut. Ini horror… dentingan piano di tempat sepi… lebih baik kabur!!! Hyebyung hendak mengambil langkah seribu untuk meninggalkan tempat itu. Tapi entah kenapa, hatinya tak mau beranjak.

Alunan lagu itu bukan alunan nada menakutkan seperti di TV. Alunan lagu ini begitu menenangkan, penuh perasaan, ah… mengapa ia bisa merasakan perasaan ini? Dari mana asal suaranya?

Hyebyung menutup kembali kotak bekalnya. Ia berusaha mengikuti suara piano itu. “Berbunyilah… teruskan…” bisik Hyebyung. Dentingan itu terdengar semakin keras, seakan sedang menuntun Hyebyung agar tenggelam ke dalam pesonanya. Dan akhirnya, dentingan itu membuat Hyebyung memasuki ruang musik utama.

Dengan amat perlahan, ia menapakkan kakinya satu per satu.  Di sudut ruangan ada seorang namja yang sedang memainkan piano. Tubuhnya membelakangi Hyebyung dan ia sama sekali tak menyadari kedatangan Hyebyung. Namja itu memakai seragam yang sama dengan Hyebyung, berarti ia juga murid sekolah itu.

Namja itu terus memainkan lagu penghibur dengan tenang dan lincah. Tangannya menari begitu riangnya di atas tuts hitam-putih itu. Kakinya bergerak dan berpindah perlahan di atas pedal-pedal, memberikan efek menakjubkan pada lagu tersebut. Sesaat setelahnya, permainan berakhir. Ia masih terduduk di situ, menatap pianonya.

Hyebyung yang sudah tergugah dengan lagu itu sontak bertepuk tangan. “Keren! Keren!” serunya senang. Namun sesaat kemudian ia menambahkan, “Joiseonghamnida, aku tak bermaksud kurang ajar. Hanya saja, I’m amazed with your song that I couldn’t avoid to follow it and arrived here. Sekali lagi, joiseonghamnida!” ia membungkuk.

Namja itu menoleh dan menatap Hyebyung tenang. Ia menyunggingkan senyum ramah dengan tatapan matanya yang teduh. Poninya terurai rapi di keningnya, membuatnya terlihat berwibawa. “Gwaenchanha. Aku senang kalau ada yang suka lagu ini,” balasnya santai.

Hyebyung tersenyum kikuk. “Ah… geurae… mm… anda kelas berapa? Mm… maksudku… Untuk formalitas, aku harus memanggil apa? Seonbae atau –ssi?”

Ia terkekeh, “Aku kelas 2. Aku yakin, kau bukan anak seangkatanku. Jadi, panggil aku Seonbae. Oh ya!” ia mengulurkan tangannya. “Park Jungsoo imnida!”

Hyebyung menyambut uluran tangannya dengan kaku, “Ah, ye. Han Hyebyung imnida!” balasnya.

“Baiklah, karena aku jarang memiliki penonton, maukah kau mendengar permainanku sekali lagi? Bantu aku menilai permainanku. Aku akan ikut audisi musik dua hari lagi, dan aku harus berlatih di depan penonton,” pintanya pelan.

Hyebyung mengangkat bahu tanda tak keberatan. Dengan tenang, didengarkannya lagi denting merdu piano itu. Kali ini diiringi suara lembut Jungsoo, membuat lagu ini semakin sempurna. Hyebyung merasa, mendengarkan semua ini sungguh lebih baik daripada sekedar makan bekal di taman belakang.

*MM*

   Hari ini Hyebyung masih menerima hinaan kejam dari teman-temannya. Tapi ia memilih diam. Ia hanya bisa menunduk dan mengambil kotak bekalnya. Pikirannya masih terus melayang kepada namja bernama Jungsoo kemarin itu. Mungkinkah ia bisa bertemu namja itu lagi? Mendengar musik indahnya lagi?

Kali ini, dengan langkah dua kali lebih cepat, Hyebyung bergegas menuju ruang musik. Benar saja, ruangan itu kosong—hanya ada namja yangs sedang bermain piano; Jungsoo.

Hello!” sapa Hyebyung.

Namja itu menghentikan permainannya dan menoleh. Sekali lagi, senyum ramah terukir di bibir tipisnya. “Kau lagi! Hahaha… apa hobimu itu menguntit orang?” dan ia terkekeh oleh ucapannya sendiri.

Menguntit? Hyebyung merasa asing dengan kata itu. Ia belum pernah memperlajari kosakata jenis begitu. Jadi ia hanya angkat bahu dan meringis.

“Karena aku orang baik, kau kuizinkan mendengar permainanku,” kata Jungsoo.

Hyebyung tertawa mendengarnya. “Percaya diri sekali!”

Ia meringis konyol dan memutar tubuhnya, kembali memainkan piano dan bernyanyi dengan tenang. Nada-nada lagu yang ringan namun tenang, tidak melankolis namun tidak menggebu-gebu. Luar biasa!

“Besok, ya?” tanya Hyebyung.

Jungsoo masih memainkan pianonya namun ia menjawab, “Apanya? Audisi? Ya, besok. Menegangkan!”

Hyebyung mengangguk-angguk dan kembali terdiam. Tiba-tiba saja, rasa kesepian yang dipendamnya selama ini membuncah keluar. Ia mendesah dan tersenyum hambar. Lagu ini terlalu menenangkan. Rasanya, semua penat hendak pergi dari dirinya. Namun penat itu sempat mampir di otaknya, membuatnya kembali  merenungi nasib buruknya.

“Kau tidak akrab dengan temanmu, ya?” tanya Jungsoo tiba-tiba, masih terus memainkan piano tersebut.

“Mm? How do you know that?” balas Hyebyung sedikit terkejut.

Jungsoo terkekeh lagi, “Aku tahu segalanya.”

Hyebyung ikut terkekeh. Namja tenang dan antik seperti Jungsoo kadang kala bisa mengetahui hal yang tidak semestinya. Bagusnya, namja itu tidak ikut menghina Hyebyung.

“Kudengar, mereka tidak suka kau bicara bahasa Inggris terus, padahal bahasa Korea-mu masih pas-pasan,” lanjut Jungsoo.

“Eung,” gumam Hyebyung mengiyakan. “Aku sudah berusaha. Tapi bahasa Korea sedikit terlalu sulit untukku. Maksudku, yah… aku belum terbiasa. Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diri.”

Jungsoo mengakhiri permainannya dan memutar tubuhnya, menatap Hyebyung. “Kalau tak keberatan, boleh aku tahu kisahmu sebelum ini? Maksudku, dimana kau sebelumnya? Dan, mengapa kau sekolah di sini?”

Hyebyung angkat bahu lagi. “Sebelumnya aku lahir di Korea, namun akhirnya pindah dan tinggal di Wina, di dekat Hochschule fur Musik und Darstellende Kunst (Sekolah musik dan seni teater Wina). Tapi aku sama sekali tak mudah bergaul. Hidupku terbawa pengaruh asia, sehingga sulit berbaur di sana. Setelah bertahun-tahun lumutan di sana, orang tuaku memaksaku pindah ke sini. Padahal sudah kutegaskan, akan sama saja akhirnya. Tapi mereka terus menuntutku—pekerjaan mereka memang menuntutku.

“Aku masih kecil ketika tinggal di Korea. Ketika aku tinggal di Wina, ingatanku tentang bahasa Korea mulai memudar sedikit demi sedikit. Apalagi kedua orang tuaku terus-terusan menggunakan bahasa Inggris dan Jerman. Aku tak pernah mengenal bahasa Korea lagi. Namun tiba-tiba, aku dipaksa sekolah di sini. Alhasil, banyak murid merasa risih dengan keberadaanku. Selalu begitu. Kadang, aku merasa lelah, terus-terusan dipaksa oleh orang tuaku, membuatku makin sulit menyatu dengan dunia. Tapi selama aku masih hidup bergantung dengan mereka, aku tak bisa berbuat apapun. “

Jungsoo mendengarkan dengan tenang. Sesekali ia mengangguk dan mengajukan pertannyaan singkat. Dan entah mengapa, Hyebyung tak dapat menahan dirinya untuk berbicara. Mungkin, ini pertama kalinya ia menemukan seseorang yang bisa diajak berbicara seperti ini. Jujur saja, Hyebyung merasa nyaman dan aman ketika berbicara dengan Jungsoo.

“Maaf aku bicara terlalu panjang,” ujar Hyebyung kikuk di akhir ceritanya.

Jungsoo terkekeh, “Tak apa. Aku bisa mengerti.”

*MM*

   Jungsoo menghela nafas dalam-dalam. Pelajaran hari ini tak sanggup diterimanya. Ia tak sedang memikirkan audisi yang akan berlangsung beberapa jam lagi. Ia sedang memikirkan seorang yeoja. Hubae-nya… Han Hyebyung.

Entah mengapa, Jungsoo merasa bebas bernyanyi dan bermain musik di depan yeoja tenang itu. Dan kisahnya… sungguh… mengingatkan Jungsoo akan dirinya sendiri. Jutaan hinaan yang diterimanya beberapa tahun lalu.

Jadi, perasaan tenang apa ini? Simpati? Mungkin karena mereka memiliki kisah yang serupa? Ataukah perasaan sungguhan yang bisa muncul secara tiba-tiba?

Jungsoo menggeleng.

Ia sendiri tak mengerti apa yang sedang berkecamuk di dadanya.

*MM*

   “Semangat, Jungsoo seonbae!!” Hyebyung mengepalkan tangannya dengan semangat membara. Belakangan ini ia mendadak jadi lebih ekspresif.

Jungsoo tertawa melihatnya. “Terima kasih. Aku akan berusaha!” ia ikut-ikutan mengepalkan tangannya. Dengan wajah tegang, ia segera memasuki ruang audisi.

Di luar, Hyebyung terduduk lemas menunggu seniornya itu. Setelah tiga hari melalui masa audisi, akhirnya hari ini Jungsoo ikut audisi terakhir. Peserta yang berhasil mencapai tahap ini berjumlah 60 orang dan yang akan dipilih hanya 8 orang. Hyebyung ingat, Jungsoo bercerita tentang para juri. Mereka menganggap Jungsoo sangat baik di bidang menyanyi. Padahal yang dibanggakan Jungsoo adalah permainan pianonya.

Setelah setengah jam menunggu, Jungsoo keluar dengan cengiran di wajahnya. “Ah… tegang sekali!” serunya. ia tampak lega karena telah melewati masa menegangkan pertama.

Mereka kemudian menunggu semua peserta menyelesaikan audisi, kemudian menuggu hasil penjurian selama satu jam. Hal ini sungguh membuat Jungsoo tegang. Ada puluhan peserta hebat yang sudah ia temui. Beberapa yang sudah sempat diajak kenalan adalah Kim Jonghyun dengan suara luar biasa, Cho Kyuhyun dengan gaya cuek namun suara dalam dan tenang, Lee Jinki dengan suara uniknya, Kim Jongwoon dengan suara rendah namun tinggi (?), dan Kim Ryeowook yang bersuara super keren.

Hyebyung bisa melihat ketegangan di wajah Jungsoo. “Mm… kalau kau berhasil lulus audisi dan meraih hadiah—yang entah apa itu, I’ll treat you the best Bulgogi and Kimbab I’ve ever known!” janji Hyebyung, sekaligus untuk menenangkan Jungsoo.

Jungsoo tersenyum lemah dan mengangguk. Akhirnya semua peserta di panggil masuk secara serempak. Hyebyung kembali menunggu dengan cemas. Apakah Jungsoo akan berhasil? Apakah ia bisa mengalahkan Si Super-tampan-bersuara-indah Cho Kyuhyun? Dan apa hadiahnya??

Setelah satu jam yang terasa melelahkan, semua peserta keluar ruangan. Beberapa tertunduk sedih, beberapa menangis kecewa, beberapa terlonjak gembira, beberapa keluar dengan wajah kaku. Cho Kyuhyun keluar dengan wajah cuek, namun cengiran anehnya terukir di bibirnya. Kim Jongwoon keluar dan berjingkrak-jingkrak sambil berseru-seru tak jelas. Kim Jonghyun melompat senang dan tertawa puas. Kim Ryeowook tersenyum puas dengan wajah merah dan terkikik bahagia. Lee Jinki terkekeh puas dan segera bergumam tak jelas mengenai… ayam goreng…?? Huh! Namja aneh!

Kelima namja yang dikenalnya barusan tampaknya berhasil lolos semua. Sudah lima orang, ditambah seorang namja tak dikenal yang tadi melompat senang—ia pasti lolos, berarti sudah 6 orang yang berhasil. Mata Hyebyung terus menelusuri puluhan orang itu. Dimana Jungsoo seonbae?

Tiba-tiba Hyebyung merasa tangannya ditarik seseorang. Ia menoleh dan mendapati seorang namja yang amat dikenalnya sedang meringis lebar. “Ayo kita makan Bulgogi dan Kimbab!” ajaknya riang.

Hyebyung menatap Jungsoo dan tersenyum. “Kau lolos?”

Jungsoo mengangguk pelan. Ia tersenyum dan kembali menarik tangan Hyebyung. “Kau tahu, Kim Jonghyung, Cho Kyuhyun, Kim Ryeowook, Lee Jinki, dan Kim Jongwoon berhasil lolos. Tampaknya aku berkenalan dengan orang yang tepat,” ujar Jungsoo, “Ada satu yeoja yang berhasil lolos. Namanya… ah… lupa! Yeoja itu bertubuh agak gemuk dan agak pendek. Ketika namanya dipanggil dan ditanya-tanya, ia menjelaskan bahwa ia sedang dalam proses diet. Kau tahu, ia sempat disuruh menyanyi oleh para juri, dan suaranya… LUAR BIASA! Suaranya amat tinggi, sampai 5 oktaf! Dan terus terang saja, ia manis.”

Jungsoo bercerita dengan penuh semangat namun tetap menjaga tempo sehingga Hyebyung bisa mengerti dengan baik. Gadis luar biasa berwajah manis dan bersuara super merdu… tampaknya bukan ide yang bagus untuk Hyebyung. Gadis itu kini memasang wajah datar dan hanya tersenyum sedikit sebagai tanggapan terhadap cerita Jungsoo. Entahlah… Hyebyung sendiri tidak mengerti mengapa perasaannya bisa begini.

*MM*

   “Hyebyung-ah… gomawo. Aku kenyang sekali…” kata Jungsoo sambil menepuk-nepuk perut datarnya.

Hyebyung yang telah kembali mood-baiknya berkat sepiring bulgogi membalas dengan tertawa. “You’re welcome. This is the first time I treat someone,” balasnya.

Jungsoo tersenyum hangat dan menepuk-nepuk kepala Hyebyung pelan. “Aku senang kau bisa tertawa seperti itu. Sudah mulai merasa nyaman di Korea?”

Mendengar itu, Hyebyung jadi salah tingkah. Ia hanya bisa mengangguk dan menunduk, membiarkan seniornya itu menepuk-nepuk kepalanya. Darahnya mengalir lebih cepat sekarang, membuat pipinya memanas, menimbulkan sensasi aneh dalam dirinya.

“Mm… oh ya, apa hadiahnya, Seonbae?” tanya Hyebyung mengalihkan pembicaraan.

Kini giliran wajah Jungsoo yang berubah. Ia mendadak tegang dan terdiam, tampak memikirkan sesuatu.

“Apa hadiahnya? Tak begitu bagus? Kau diterima di manajemen mana?”

Jungsoo sedikit menunduk dan seutas senyum tipis terbentuk di wajahnya. “Aku diterima di SM Entertainment. Hadiahnhya…” ia menghela nafas sejenak dan melanjutkan, “Beasiswa musik di Swiss. Di Wina. Selama 5 tahun.”

Hyebyung terkesiap mendengarnya. Jantungnya seakan berhenti sejenak. Di Wina? Di kota masa kecilnya? 5 tahun? Mendadak segalanya terasa hambar. Pahit bahkan. Hyebyung tak dapat leluasa bernafas. Sesuatu telah mencekiknya. Menggecat paru-parunya dan memaksa jantungnya bekerja lebih keras. Mengapa jadi begini?

Hyebyung memaksakan seulas senyum simpul. “Mm… bagus sekali. SME kan, amat terkenal. Chukhahae, Seonbae!”

“Gomawo,” balas Jungsoo singkat. Wajahnya masih terlihat kaku.

Hyebyung menarik nafas sejenak sebelum kembali bertanya, “Kau benar-benar akan pergi ke Wina?”

Jungsoo mengangkat kepalanya dan menjawab,  “Mm… aku bebas menerimanya atau tidak. Kalau aku terima, aku akan belajar di sana dan bergabung dengan SME. Jika menolak, aku akan kembali seperti biasa. Entahlah… aku belum bisa menentukan. Wina… jauh sekali…”

Hyebyung tersenyum sedikit. Ada harapan. Ada sedikiiittt harapan agar Jungsoo tak pergi.

“Aku disuruh memberi kepastian seminggu lagi. Aku harus berfikir baik-baik. Kesempatan ini merupakan kesempatan emas. Namun aku masih punya keluarga di sini. Maksudku… entahlah. Sekarang kita jangan pikirkan ini. Kita… ke Taman Ria saja! Aku yang traktir sekarang!”

Hyebyung tersenyum puas. Mendengar kata “Taman Ria” telah membuatnya kembali bersemangat. “Ayo!!!”

*MM*

   “Ya! Han Hyebyung! Dengarkan aku!” perintah seorang yeoja pada Hyebyung. “Jelaskan dengan cepat, apa maksudmu mendekati kakak kelas?!”

Hyebyung melirik yeoja pengganggu itu dengan malas. “Kami itu teman. Aku tentu bebas berteman dengan siapapun. Kau tak ada urusan denganku!” tandas Hyebyung sebelum meninggalkan teman-temannya.

“YA! HAN HYEBYUNG! MICHYEOSSEO!” jerit yeoja itu.

Hyebyung tak peduli. Kakinya sudah asik berlari ke ruang musik. Belakangan ini, ia selalu mengobrol dengan Jungsoo di ruang musik. Kadang makan bersama, dilatih bermain piano, menyanyi asal, pokoknya melakukan segala sesuatu yang membuat Hyebyung berdebar-debar.

Tapi kali ini ruang musik kosong. Dimana Jungsoo? Dengan cepat Hyebyung mencari-cari keberadaan Jungsoo. Mulai dari toilet, perpustakaan, koridor, dan… taman belakang. Ada seseorang yang sedang berbaring dengan mata terpejam di atas kursi kayu itu.

Hyebyung mendekatinya. “Jungsoo seonbae?” panggilnya. Orang tersebut segera membuka matanya dan bangkit. Ia menggosok matanya sebentar dan menatap Hyebyung. “Ada apa? Mengapa Seonbae tiduran di sini?”

Namja itu menghela nafas sesaat dan menatap Hyebyung dengan serius. “Hyebyung-ah… aku sudah membulatkan tekadku.”

“Tekad?”

Namja itu mengangguk. “Hari ini aku harus memberi kepastian kepada SME. Aku akan mengambil beasiswa musik ke Wina. Orang tua dan kakakku sudah setuju. Dan kini aku sudah siap.”

DEG.

Hyebyung tak dapat berkata-kata lagi. Ia menatap Jungsoo nanar. Ia tak bisa bernafas dengan leluasa lagi. Ini bahkan lebh parah daripada saat audisi. Wajahnya memanas dan sesuatu di dalam rongga dadanya terasa sakit. Matanya terasa perih dan tenggorokannya terasa kering.

Kosong.

Perasaannya mendadak kosong. Penjelasan Jungsoo berlalu bagai angin. Hyebyung terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. “Kapan kau berangkat?” sela Hyebyung lemah.

Jungsoo menatap yeoja di depannnya ragu. “3 hari lagi.”

*MM*

   Hyebyung meneggelamkan wajahnya di atas bantal. Sudah pukul 11.29 malam, namun ia belum tertidur. Pikirannya masih kacau. Berbagai emosi berkecamuk di dadanya. Sudah 2 hari ini ia malas-malasan. Ia tak bersemangat melakukan apapun. Semuanya terasa hambar dan kosong. Ia bahkan tak peduli dengan ocehan orang tuanya.

Ditatapnya foto yang disimpan di sela buku hariannya. Foto itu didapatnya ketika pergi ke Taman Ria bersama Jungsoo. Di foto itu, baik Joongsu maupun Hyebyung tampak amat ceria memeluk maskot Taman Ria. Namun sekarang kenangan itu malah membuat hatinya perih.

“Aku akan diantar ke bandara oleh kakakku. Aku harap kau juga bisa ikut mengantar kepergianku. Kalau kau datang, aku akan merasa sangat senang dan bisa pergi dengan tenang. Memang agak pagi, tapi kuharap kau bisa ikut mengantarku. Pesawatku berangkat jam 7 pagi.

Permintaan Jungsoo kembali terbersit di otaknya. Kemudian senyuman ramahnya, denting piano penenang yang dimainkannya, suara lembutnya, sorot matanya yang teduh… Mengingat itu semua membuat mata Hyebyung basah tanpa dapat dikendalikan. Sesaat kemudian isak tangisnya mulai terdengar. Ia sudah tak kuat menahannya.

Di simpannya kembali foto itu agar tak kotor. Ia kembali menenggelamkan kepalanya ke bantal. Dengan air mata yang terus berderai, ia kemudian jatuh tertidur.

*MM*

   Seorang namja berjaket coklat berdiri sambil menengok kesana-kemari. Matanya menjelajahi setiap sudut bandara. Orang yang dicarinya sejak tadi tak kunjung datang.

“Tidak datang?” sahut seorang yeoja; kakaknya.

Namja itu mengangguk, masih berusaha mencari.

“Sudah hampir jam 7. Tuh, dengar! Panggilan pesawatmu! Ayo, kau harus bergegas!”

Namja itu mendesah sedih. Ingin sekali ia melihat orang itu. Orang yang belakangan ini secara perlahan telah merayap masuk ke dalam hatinya, meninggalkan jejak yang cukup dalam di sana. Ini bukan rasa simpati atau iba. Ini murni dari hatinya.

Digenggamnya sebuah kotak kecil yang sudah ia siapkan sejak kemarin. Dengan langkah gontai, ia segera masuk ke dalam, menuju tempat pemeriksaan paspor.

“Hati-hati!” Sang Kakak melambaikan tangan dengan senyum lebar di wajahnya. Adiknya yang tampan akan menjadi orang sukses, tidak lagi dimusuhi seperti masa kanak-kanaknya dulu.

Namja itu balas melambai. Setelah semua urusan selesai, ia segera masuk ke pesawatnya. Beberapa pembimbing dan teman-teman senasib asik berceloteh riang.

Namun ia hanya bungkam dan menatap kotak yang masih ia genggam. Pesawat mulai bergerak perlahan dan lepas landas, meninggalkan Seoul yang penuh kenangan. Mata namja itu mulai panas. Ia menatap kotak itu dengan tubuh yang mulai gemetar. Seiring dengan helaan panjang nafasnya, ia berbisik, “Saranghae…”

*MM*

6 YEARS LATER

“HYEBYUNG-AH!!! BBALLI!!!” jerit seorang yeoja berambut ikal, Kim Euna.

Yeoja yang dipanggil hanya bisa meringis. Ia tahu betul bahwa temannya sedang terburu-buru. Tapi apa daya, sepatu kesempitan ini menghalangi segalanya. “Na…ddo… A… raaahhh…” jawabnya dengan desahan begitu kakinya berhasil masuk ke dalam sepatu sempit itu.

“Geurae… ayo naik! Kalau aku terlambat, Manajer akan marah besar!” lanjut Euna.

Hyebyung terkekeh dan segera menaiki sedan putih itu. Pekerjaan sampingan sebagai pianis memang sedikit menyulitkan. Apalagi ia harus menjadi pianis bagi sahabatnya sendiri. Kim Euna, yeoja yang ditemuinya di tempat les musik empat tahun lalu, kini menjadi sahabat karibnya. Latar belakang Euna yang merupakan gadis non-Korea pecinta Korea membuatnya nyaman-nyaman saja bicara dalam bahasa Inggris. Anehnya, ia tak mau dipanggil dengan nama aslinya. Ia menuntut untuk dipanggil ‘Kim Euna’. Alhasil, ketika ia lolos audisi dan terpilih menjadi solois, nama ‘Kim Euna’lah yang ia gunakan.

Euna mengendarai mobil manajemen dengan sangat cepat. Hyebyung sendiri tak mengerti mengapa gadis ikal itu berani mempertaruhkan nyawa mobil perusahaan. Gila!

Semuanya berjalan cepat dan lancar. Dengan suara Euna yang dalam dan tenang, juga pesona wajah non-Korea-nya, ia berhasil mengumpulkan gemuruh tepuk tangan. Euna menarik lengan Hyebyung dan membawanya ke tengah panggung.

“Gamsahamnida!” seru Euna. Ia kemudian mengangkat sebelah tangan Hyebyung. “Tolong berikan tepuk tangan yang meriah untuk sahabatku yang sudah mengiringi laguku dengan musik yang indah!”

Dan sekali lagi, gemuruh tepuk tangan menyambut. Euna tersenyum puas. “Kim Euna-ya! Michyeosseo! Kau berhutang malu padaku!” tukas Hyebyung dengan wajah merah menahan malu. Suaranya tenggelam dalam lautan jeritan fans.

Euna terkekeh cuek. “Ini hadiah. Sebagai gantinya, kau akan kukenalkan pada temanku nanti.”

Hyebyung menatap temannya itu. Gadis bermata almond itu memang sering mendadak gila. Sayangnya, Hyebyung tak bisa melawannya sama sekali.

*MM*

   “Bikin malu!!! Mau taruh dimana mukaku?? Ahhhh~ Euna gila! Mengapa harus membawaku ke tengah panggung??? Huaaaaaa…” Hyebyung mengerutu di depan kaca toilet. Ia membasuh wajahnya dan menghapus make-up-nya, kemudian menggerutu lagi.

Untung saja, Euna itu sahabatnya. Kalau tidak, habislah gadis itu! Hyebyung malu sekali jika mengingat aksi panggung tadi. Masih terus mengusap-usah wajahnya frustasi, ia berjalan lunglai, keluar dari toilet.

BRUGH!

Tubuhnya yang sedang lemas segera terjatuh begitu sesuatu menabraknya. “Joiseonghamnida!” seruan dari ‘sesuatu’ itu terdengar. Tampaknya yang menabraknya adalah seorang namja. Hyebyung menerima uluran tangan namja itu dan bangkit dengan cepat.

“Joiseonghamnida!” Hyebyung ikut-ikutan meminta maaf. Ia mengangkat dan menatap namja itu.

Ia terkesiap begitu mengenali wajah namja itu. Tatapan matanya yang teduh, suaranya yang lembut… Jungsoo sedang berdiri di hadapannya sekarang!

“Hye…Byung…ah…” gumam namja itu. Wajahnya juga tampak amat terkejut.

Hyebyung masih diam menatap wajah namja itu. Menatap dirinya yang amat ia rindukan. Sosok yang selalu menjadi bayangan di hidupnya. Sosok yang sering menghantui mimpinya. Sosok yang membuatnya bisa diterima oleh dunia, namun sosok yang sama dengan orang yang telah membuatnya menangis meraung-raung.

Tiba-tiba saja Hyebyung merasakan kehangatan di sekujur tubuhnya. Jungsoo telah memeluknya dan merengkuhnya dengan kuat. “Bogosipeoyo…” bisiknya tenang dan dalam.

Mata Hyebyung memanas. Ia tidak menangis. Ia tak berkata apapun. Ia sedang berusaha kuat untuk tidak menjerit-jerit. “O…oraenmaniya…” balas Hyebyung lemah, masih berusaha membendung rasa rindunya.

Namja itu masih mendekap erat Hyebyung. Hyebyung mendesah dan berusaha berbicara sedatar mungkin. “Kemana saja kau?”

Jungsoo melepaskan pelukannya dan menatap Hyebyung lekat-lekat. “Aku belajar di Wina. Kau sudah lupa?”

Hyebyung melengos. “Kau bilang 5 tahun. Ini sudah 6 tahun. Kau tak pernah lihat kalender?”

Jungsoo menunduk sekilas dan kembali menatap Hyebyung. Kali ini wajahnya menampakan wajah yang merasa bersalah. “Memang 5 tahun. Setahun terakhir aku menjadi trainee bersama beberapa penyanyi SME lain di Korea,” jelas Jungsoo. “Mianhanda, Hyebyung-ah… aku tidak sempat mem—”

“Selama setahun kau bersembunyi? Berusaha menghindariku yang selalu mengganggumu? Kau menghilang tanpa memberi kabar. Menelepon pun tidak. Kau bahkan belum mengucapkan selamat tinggal,” balas Hyebyung mulai terbakar emosi.

“Kau yang menghindariku! Kau tidak ada di sisiku ketika aku harus meninggalkan Korea. Aku sudah menunggumu di bandara! Kakakku bahkan tinggal di bandara selama sejam lebih, berusaha menunggu dan mencarimu, hanya dengan berbekalkan fotokopian foto kita dulu! Kau pikir siapa yang lebih kejam?” balas Jungsoo dengan wajah merah.

“Aku ingin meneleponmu, namun dilarang oleh pihak SME. Aku hanya bisa menghubungi keluargaku saja. Aku ingin mengirim surat, tapi aku takut aku akan ingin mendengar suaramu. Aku ingin diam-diam menghubungimu, tapi aku takut aku akan ingin melihatmu. Aku takut, begitu aku kembali berhubungan denganmu, aku akan terbang kembali ke Korea dalam hitungan detik, meninggalkan Wina, meninggalkan satu-satunya harapan keluargaku. Ini karena aku…… Aku menyukaimu!” tandasnya.

Hyebyung menatap Jungsoo kaku. Ia masih tak bisa berkata apa-apa. “Aku tahu ini agak konyol. Betapa cepat aku menyukaimu. Tapi aku merasa, aku adalah diriku yang sesungguhnya ketika bersamamu. Aku selalu senang melihatmu tertawa. Aku selalu senang melihat perkembangan rasa sukamu pada Korea. Aku senang setiap kali kita bisa bertemu di ruang musik. Kau pikir, aku tidak menderita? Berhari-hari aku bingung akan perasaanku… ketika aku menyadarinya, aku malah harus menghadapi harapan keluargaku agar aku bisa belajar di luar negri.

“Aku harus berusaha menahan perasaanku selama 5 tahun… Aku harus berkutat dengan guru vocal dan guru dance-ku. Aku mulai jarang memainkan piano yang amat kusuka. Dan bahkan, ketika akhirnya aku kembali ke Korea, aku masih harus ditekan sebagai seorang trainee. Aku ingin menyatakan perasaanku di bandara, tapi kau malah tidak datang. Kau pikir aku tidak pusing?”

Hyebyung menatap Jungsoo lemas. Perkataan itu… penjelasan itu… “Mianhae, Jungsoo seonbae…” Ya. salahnya ia bangun kesiangan hari itu. Karena ia terlambat, ia tak bisa mendengar semua ini dari dulu. Salahnya sendiri, ia jadi harus menahan semua rasa sakit ini.

Air mata Hyebyung mulai menetes. “Mianhae, Seonbae… aku… aku jahat sekali padamu… mianhae… mianhae…” ujarnya disela isak tangisnya.

Junsoo kembali mendekapnya. “Uljima… bagaimanapun, harusnya aku yang minta maaf. Maaf aku telah membiarkanmu menghadapi teman-temanmu sendirian. Maaf aku tak menghubungimu. Maaf aku telah marah-marah padamu. Aku hanya… aku tak ingin kau hilang begitu saja…”

Jungsoo melepas pelukannya dan merogoh sakunya. Ia menjulurkan kepalan tangannya ke hadapan Hyebyung. “Aku selalu menyimpan benda ini. Benda yang sejak 6 tahun lalu ingin kuberikan padamu.” Jungsoo membuka kepalan tangannya.

Ada sebuah liontin perak di situ. Bandulnya berbentuk not balok quaver (setengah ketuk) dengan dua buah permata berwarna aqua marine di bagian benderanya. “Musik… lagu… nada…not… itu semua adalah hidupku. Dan kau adalah musik terpenting dalam hidupku.” Hyebyung menatap liontin di tangan Jungsoo. Diusapnya air matanya. Jungsoo babo! ia tak membantu Hyebyung mengusap air matanya. Ia bahkan memberikan liontin tanpa kotak. Dasar pelit!

Jungsoo menatap mata Hyebyung lekat-lekat. “Would you be my girlfriend?”

*MM*

   “Hyebyung babo! Kau selalu merepotkanku. Kemana saja kau? Kenapa matamu sembap begitu? Apa yang kau lakukan?” tanya Euna bertubi-tubi begitu melihat Hyebyung kembali. Hyebyung hanya bisa meringis dan semburat merah terpancar di wajahnya. Ada apa sih? Euna jadi kesal sendiri.

“Aku harus pergi lagi sekarang. Tapi aku sudah janji akan memperkenalkanmu pada seseorang. Eh… pada satu kelompok. Ah… sudahlah. Satu orang atau satu kelompok, ayo ikut aku!” Euna menarik lengan temannya itu.

Dibawanya Hyebyung ke ruang ganti. Ada cukup banyak orang di sana. “Annyeong! Sesuai janjiku, aku ingin mengenalkan kalian pada pianis tercintaku, Han Hyebyung!”

Seluruh namja di ruangan itu menoleh dan bangkit. “Teukki hyeong! Bballi ileona! Ayo kita perkenalkan diri!” ajak salah satu dari mereka.

Orang yang dipanggil ‘Teukki hyeong’ itu segera menoleh dan bangkit. Mereka berbaris jadi satu dan tersenyum ramah. “Uri neun supeo juni…” si ‘Teukki hyeong’ memberi aba-aba. “EO-YEYO!” seluruh member melanjutkan.

“Ini adalah Super Junior. Mereka BB baru. Kau bilang kau sudah dengar namanya tapi belum lihat orangnya. Jadi kubawa kau ke sini,” jelas Euna. Ia kemudian menarik tangan si leader. “Orang yang dipanggil ‘Teukki’ ini adalah leader mereka. Nama aslinya Leeteuk.”

Hyebyung menatap orang bernama Leeteuk itu. Tawanya kemudian pecah. “Leeteuk? Kau yakin?” tanyanya di sela tawanya.

Euna memandangnya dengan wajah bingung. “Eh? Iya. Kenapa? Ada apa? Kenapa kau tertawa?”

Hyebyung menatap namja dihadapannya. Seorang leader Super Junior. Seorang namja yang baru saja menyematkan liontin perak di lehernya. Seorang namja tampan yang lebih dikenalnya sebagai Park Jungsoo.

“Kalian sudah saling kenal?” tanya Euna lagi. Seluruh member ikut-ikutan memandang dengan wajah penuh tanda tanya. Sedangkan Leeteuk malah berjalan mendekat dan menggenggam tangan Hyebyung. Ia berkedip sedikit pada Hyebyung, sebelum akhirnya Hyebyung memberi penjelasan.

“Ya. Kenalkan. Ini adalah Park Jungsoo, namjachingu-ku.”

**END**

A/N: Mbuahahaha.. this is the second failed requested FF -.- aku dedikasiin cerita ini buat my lovely chingu… Dewi  Chan J  Oh ya…  EUMAG = MUSIC

Okidoki.. bagi yang udah nengok, ngintip, nginjek, dateng, numpang lewat, atau apapun ke post ini.. jangan lupa comment yah!!!!!! thankies :*

19 thoughts on “My Music

    • hahaha.. aku baca hangeulnya. kalo hangeulnya dibaca asli jadinya hubae. tapi kalo diindonesiain emang berubah jadi hoobae :)
      sama aja kayak ryeowook harusnya ryeo-uk, hyung harusnya hyeong, noona harusnya nuna… gitu lah… hahaha… bedewe, makasih ya udah ingetinnn :)
      dapet feelnya? awww… good then. thanks againnnn :D

  1. haha mau ketawa dulu.suka endnya. Waktu tau teuk jd gabung ke SME,gak kepikiran kalo endnya sm suju haha. Aku suka ceritanya. Andai bagian dibandara lbh didetail lg,biar feelnya lbh dapet.karna itu part paling bgus menurutku.

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s