Last

Title : Last

Author : @ghana704

Rate/Genre : Teen/Romance – Love Tragedy

Cast : Lee Donghae, My Chara

Disclaimer : Third, kayaknya ficlet tapi gatau malah lebih mirip oneshoot -__-“ dan berusaha untuk bikin ff ini kesannya ‘blue’ tapi kalo fail ya maaf. Masih amatir ^^ lgpula bikinnya Cuma dua jam. thanks for Alexa and Dewi lestari, lagunya nyesekkkkk!!!

mungkin judulnya sama kaya ff favorit saya dulu, tapi isinya jauh beda kok. So, enjoooyyyy :3

 

“Bagaimana jika aku mencintainya..” ucapnya pelan. Berusaha mengontrol dirinya sendiri. Sudah berkali-kali ia berusaha mengatakan ini, tapi setelah ia melepaskan suaranya, kenapa ia tercekat sendiri? Satu-satunya alasan, adalah gadisnya. Ia tidak boleh berbohong. Tidak-akan-pernah, “..mak.. maksudku.. Yah. Entahlah. Aku mencintaimu.. tapi jika, jika saja itu terjadi bagaimana? Oh. Sial. Seharusnya aku tidak jujur.”

 

“Kau lebih baik jujur padaku.” Jawab gadis berambut emas disebelahnya, dengan wajah menunduk dan senyum hambar. Terlihat mata indahnya yang menahan linangan air-mata yang ia buat sendiri, sepertinya keputusan untuk mendengar hal itu, salah, “daripada aku sakit nantinya.”

 

“Maaf.”

 

“Cinta tidak bisa dipaksakan.” Gadis itu menoleh, lalu menatapnya dengan wajah tertutup rasa gembira yang ia buat walau hal itu sudah menyakiti dirinya sendiri.

 

“Ak.. aku bisa mengatasinya. Aku, aku akan tetap mencintaimu. Percayalah. Aku mohon.”

 

“Aku percaya padamu. Sangat percaya padamu.” Gadis itu mengambil kedua tangan kekarnya, lelaki ini terlalu lemah untuk jujur. Jika gadisnya tidak memaksa, ia berjanji akan menyimpan semuanya, dan mencoba merubah hal itu. Hal bejat yang seharusnya tidak ia lakukan. Ya. mencintai gadis lain, “..kau bisa jatuhkan pilihan.”

 

“Aku akan memilihmu.”

 

“Jangan memaksa hatimu. Aku mohon.” Gadis itu lagi-lagi menggenggam erat kedua tangan yang biasanya memeluknya erat ketika ia rapuh, “..karena semua akan memudar bersama waktu yang berjalan.”

 

Ternyata tidak. Gadis ini tidak bisa membuatnya kuat. Karena gadis ini lebih rapuh darinya.

 

**

 

She’s POV

 

Winter. South Korea. Aku merasakannya lagi saat ini. Begitu rindunya aku dengan dua hal itu. Lama tidak berjumpa dengan rasa sejuk yang menyelimuti kota Seoul, kota metropolitan yang penuh dengan kegembiraan. Rasa sejuk yang timbul ketika winter akan segera berakhir berganti dengan Spring yang begitu indah dinikmati.

Aku menyukai ini. Lalu-lalang manusia-manusia dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang membawa koper hitam dengan setelan ala bos yang masuk kedalam gedung pencakar langit, anak-anak kecil bermain kincir memanfaatkan angin dan memakai mantel tebal ditaman Seoul yang setengahnya berwarna putih, remaja-remaja dengan seragam variasi di halte bus, ibu-ibu yang mulai sibuk menjajarkan bunga-bunga dan buah-buahan dagangannya.. Aku merindukan view ini. Mencintai view ini. Karena Jauh di selatan sana, di Australia sana, aku banyak mendapati lalu-lalang orang kantoran dengan sibuknya menyalakan klakson menghindari kemacetan.

Lima tahun tidak melihat ini. Melihat Seoul yang ramai dan tenang. Dan lima tahun sudah aku pergi, aku menyadari bahwa ada perubahan pesat di Korea Selatan, tempat aku dilahirkan. Virus musik mendunia, Korean-pop. Semua orang tahu itu. Aku juga tahu.

Kalau Super Junior? Boyband dengan 13 aura tampan itu? Semua sahabatku selalu membahasnya tanpa henti di Queensland sana. Aku tidak mungkin tidak tahu mereka.

Yah. Hentikan. – Aku kembali berjalan pelan mengeratkan mantel hitam yang kupersiapkan sebelum aku terbang kesini, merasakan trotoar jalan utama Seoul yang sudah dipermak menjadi lebih bagus dengan bebatuan dipinggirnya. Angin sejuk yang menerpa itu, membuat senyum dibibirku terlukis tanpa sebab. Lalu menoleh kearah taman kecil, tempat kesukaanku setiap pulang sekolah bersama eomma dan appa ketika aku kecil. Tempat kesukaanku setiap aku mengerjakan pekerjaan kelompok dengan sahabat-sahabatku ketika berada di sekolah dasar. Tempat kesukaanku setiap aku piknik dengan teman-temanku di high-school. Dan tempat favoritnya. Ini tempat favoritnya. Lima tahun, bukan waktu yang lama untuk aku melupakan hal kecil itu.

Oh. Itu bukan hal kecil. Semua tentang dirinya, aku masih hafal. Dimana ia benci dengan warna-warna pastel apalagi merah muda, dan rajin sekali merawat tubuhnya, menghindari segala penyakit yang akan datang ke tubuhnya. Lelaki itu takut sakit. Seperti anak kecil, yang dewasa. Mudah menangis, apalagi ketika aku menyinggung soal ayahnya yang pergi ketika ia sibuk debut pertama. Betapa lelaki itu mudah tergoyahkan.

Aku berhenti dibawah pohon beringin lebat dengan salju putih yang menyelimuti pohon itu, duduk di kursi panjang disebelahnya. Dimana aku bisa melihat dengan jelas kolam air mancur yang sudah tidak terlalu beku, dan kuncup-kuncup bunga anggrek dan mawar disekitarku. Aku bisa memandang Nam-San tower secara samar. Dimana aku bisa melupakannya. Aku bisa.

Aku mengeluarkan kartu berukuran sejengkal persegi berwarna putih halus. Pita emas dan merah marun yang mempercantiknya. Dan dua nama didalamnya sudah berhasil menjawab pertanyaanku selama lima tahun terakhir ini.

Lee Donghae & Kim Sanghee

Tidak. Tidak ada yang harus ditangisi. Semua berakhir bahagia. Dia akan bahagia. Oh, jangan pikirkan aku. Aku pasti segera bahagia. – aku melihat lagi kearah jam berwarna peach yang melingkar ditanganku, jam empat sore kurang. Masih ada waktu untuk bersiap sebelum bertemu dengan dia. Lelah, cukup lelah berjalan dari apartemen eonnie-ku menuju taman ini. Aku butuh istirahat.

Tapi sepertinya, permintaanku tidak terkabul. Menoleh sesaat pun sudah cukup untukku. Itu dia. Itu Donghae yang kucari. Mantel coklat tua dengan sepatu hitam mengkilat, kacamata dan topi gaya. Ternyata setelah jadi artis pun, Donghae tidak merubah setelan kesukaannya. Ya, kacamata hitam dan mantel. Takut akan dingin yang bisa membuatnya flu.

Aku kembali menguasai diriku sendiri. Tidak. aku berjanji untuk tidak menangis kali ini.

Dan dia membuka kacamatanya, lalu duduk disebelahku tersenyum manis. Gugup. Hanya itu yang kurasakan saat ini.

“Hey, Belle.” Yah. Dia kembali memanggilku dengan sebutan kesayangannya, “Kurasa kita terlalu cepat bertemu atau bagaimana. Ini masih jam empat sore kurang.”

“Aku tidak mau membuat seorang artis menunggu, dan kau tidak mau aku menunggumu.” Ucapku pelan dan tak berdaya. Sepertinya untuk apa aku bersemangat, toh aku akan rapuh lagi. Mendengarnya tertawa kecil, aku memberikan senyumku untuknya. Lama tidak mendengar tawanya.

“Jangan seperti itu, Belle.. Panggil aku Hae saja, seperti.. dulu..” ada nafas yang tercekat didalam sini. Dulu. Ya, dulu. Lalu kapan waktu itu akan terulang lagi?

“Hae, hm. Lama tidak bertemu denganmu.” Aku mendelik kearah kolam, tidak mampu melihat mata hitamnya yang begitu kurindukan selama ini, “..lima tahun lalu, kau sibuk dengan trainee-mu. Dan sekarang, kau sibuk dengan dunia gemerlapmu. Wow. Aku bangga padamu.”

“Gomawo.”

“Cheonma, Hae..” desahku. Uap putih yang keluar dari bibirku yang mongering, seakan ikut sedih untuk meneruskan waktu yang terasa lambat ini. Ya. aku sedih mendengar suaranya, “.. terima kasih undangan pernikahannya. Dan suratnya.”

Dia mencolek tanganku, lalu menggenggamnya. Hangatnya masih sama. Seperti dulu, lima tahun lalu dan waktu-waktu dibelakangnya. Mengingat sebulan yang lalu, ada kiriman dari Korea Selatan atas nama Alice Eonnie, kakakku. Kupikir apa. Ternyata. Seperti yang diketahui, undangan pernikahan ini akhirnya meruntuhkan segala semangat yang kubangun sejak lama. Dan surat itu, surat tulisan tangan Donghae yang bisa mengirimku untuk pulang ke Seoul dua hari yang lalu. Aku kesini, untuknya. Atas permintaannya.

“Maaf kalau.. sedikit.. emm.. terlalu cepat.” Ucapnya berusaha membuatku menoleh padanya. Tidak. aku tidak sanggup. Aku menunduk saja.

“Cinta tidak bisa dipaksakan, Hae-ya.” tuturku lagi. Sepertinya, aku pernah mengatakan hal itu di lima tahun lalu. Saat aku memaksanya jujur, apa Sanghee pantas untuknya atau tidak. Pertanyaan standar ketika seorang gadis cemburu dengan lelaki yang sangat dekat dengan sahabatnya. Sudah kutebak, Donghae memiliki rasa suka yang sama padanya, dan itu ia lakukan juga padaku. Sakit? Pasti. Tapi aku dewasa. Dia bisa memilih mana yang baik untuk kehidupannya.

Dan aku tahu, seorang Donghae tidak akan bisa menahanku yang keras kepala. Seorang Donghae tidak akan mampu menungguku selama lima tahun ketika aku harus benar-benar pergi bersama appa kesana. Lelaki mana yang akan kuat untuk itu? Kalaupun ada, aku tidak mengenalinya. Donghae sudah pasti memilih Sanghee yang nyata dimatanya, daripada mencintaiku yang jauh darinya. Pernyataan itu sudah cukup membuatku mati lalu hidup lagi tanpa hati.

“Maaf.” Donghae menunduk, melihat rambut hitamnya tertiup angin, merasakan tangannya yang menggenggam erat tanganku, “.. maaf aku memilihnya.”

“Kau memilih seseorang yang tepat, Hae.” Aku berusaha lebih meminimkan jarak diantara kami, mendekatkan diri. “.. Pilihanmu selalu tepat.”

“Tapi aku mencintaimu.” Sadar atau tidak, aku melihat wajahnya yang memerah dan menatapku. Aku belum pernah melihatnya menangis seperti ini. Melihatnya terisak seperti ini. Melihatnya terluka parah setelah ayahnya meninggal saat itu. Karena ia lebih kuat dariku. Dan aku rapuh. Aku rapuh dihadapannya.

“Aku mencintaimu, Belle. Ak.. aku.. entahlah. Persetan si Sanghee itu. Melihatmu mengacaukan semuanya..”

**

“Aku mencintaimu, Belle. Ak.. aku..” Donghae menarik nafasnya, lalu kembali berbicara ditengah isakan yang tanpa sadar, ia buat ditengah taman yang penuh dengan kenangan ini, “entahlah. Persetan si Sanghee itu. Melihatmu mengacaukan semuanya..”

Belle terlalu jahat pada dirinya sendiri, ia tidak bisa memakai tameng kuatnya dihadapan Donghae, yang pernah dimilikinya bertahun-tahun saat itu. Sebelum Belle memutuskan untuk menyerahkan segalanya pada Donghae. ya. Mereka dihadapkan pada pilihan dimana Belle menjadi salah satu pilihan itu. Belle menangis, setelah berusaha melawan tatapan mata Donghae yang terlalu kuat menerobos pertahanannya.

“Kau.. k.. kau selalu ada disetiap keputusan besar ini harus kubuat.” Suara lelaki yang Belle rindukan ini menghipnotisnya, membuat ia benar-benar tidak bisa menahan tangisnya.

“Kenapa?” tanyanya sambil menyeka air mata gadis dihadapannya, “Kenapa aku tidak bisa melepasmu?”

“Kenapa aku merindukan matamu? Kenapa aku mengingat suaramu? Mengingat sikap manjaku dipelukanmu? Mengingat rasa hangat bibirmu yang menyentuh dahiku? Kenapa aku bisa mencintaimu selama ini? Sedangkan aku juga mencintai Sanghee?” Begitu melihat lagi mata lelaki itu yang benar-benar jujur, Belle merasakan bahwa sarafnya mendadak bekerja. Berbagai macam perasaan menyelimuti dirinya yang kini tengah biru.

“Karena cinta tidak bisa dipaksakan.. tidak. tidak akan pernah, Hae-ya.”

“Kenapa selalu itu yang dikatakan olehmu, Belle?” telapak tangan kekar itu tiba-tiba berada dipipi Belle yang juga memerah dan basah, “kenapa kau tidak bilang padaku kalau kau mencintaiku, huh?”

“Aku mencintaimu.”

“Kenapa kau mengatakan hal ini terlambat, Belle?”

“Ak.. Aku mencintaimu, Hae-ya.”

“KENAPA KAU PERGI DISAAT AKU MENCINTAIMU?!”

“Ak..ku.. aku tidak tahu..”

“KENAPA KAU MEMBIARKANKU MENCINTAI SANGHEE SEDANGKAN KAU TAHU KITA SALING MENCINTAI?”

“JANGAN PAKSA AKU MENJAWAB SEMUA PERTANYAANMU, DONGHAE!” Belle menangis sejadi-jadinya, lalu berdiri dan menjatuhkan kartu undangan putih bersih itu ketanah. Ia bersiap untuk pergi dari Donghae. Belle menahan nafasnya, ia merasakan debar jantungnya ribuan kali lebih cepat dari detak normalnya. Lelaki ini baik. Lelaki ini mengerti Belle. Tapi kenapa harus ini yang dirasakannya? Airmata lagi-lagi membasahi pipinya. Dan Belle pergi dengan langkah besarnya.

Tidak. Donghae terlalu cepat merasakan refleks tubuhnya. Donghae menahan Belle dalam dekapannya. Belle menangis sejadi-jadinya didada bidang Donghae, dan lelaki ini ikut rapuh mendengar suara tangisan gadis yang pernah dimilikinya. Belle –bahkan- memukul pelan dada Donghae, karena debarannya juga cepat seperti detak jantungnya.

Mereka berdua masih tidak terima dengan keadaan ini. Keadaan menyulitkan ini..

Kedua tangan Donghae terasa melingkar dileher Belle, lalu telapak kanannya membelai lembut rambut emas Belle yang sedang sesenggukan itu.

“Aku mohon.. Aku mohon..” ucap Belle pelan, hampir tidak terdengar tapi cukup mendengung ditelinga Donghae, “.. jangan tanyakan alasan itu..”

Menahun.. kutunggu kata-kata, yang merangkum semua..

Dan kini kuharap ku dimengerti, walau sekali saja pelukku..

“Jangan menangis, Belle..” Donghae menjatuhkan wajahnya, dan membenamkan matanya dibahu kecil Belle. Terasa bergetar, karena ia tahu, Belle masih menangis.

“Aku terlalu mencintaimu..” Belle lagi-lagi mengatakan itu. Berharap Donghae mengerti. Belle tidak tahu jawaban dari semua pertanyaan Donghae. karena semuanya, sudah terangkum di tangisan Belle yang menyatakan bahwa ia.. memang masih mencintainya.. Dan Belle sakit mengatakannya.

Tiada yang tersembunyi, tak perlu mengingkari..

Rasa sakitmu, rasa sakitku..

 

“Tolong jangan bertanya lagi.. kenapa.. kenapa aku begini.. aku mohon jangan..” Donghae tetap membelai rambutnya, dengan wajahnya yang tenggelam dibahu Belle, tidak menjawab. Pikirannya dipenuhi oleh Belle.

“Aku tidak tahu jawabannya.” Belle mendesah lagi, “tapi itu alasannya.”

“Karena aku mencintaimu. Aku.. aku tidak mau membuatmu terluka karena menungguku. Kau pantas bahagia dengan Sanghee, yang selalu ada untukmu.” Diam sejenak, lalu berbisik lagi, “tidak seperti aku.”

Tiada lagi alasan, inilah kejujuran

Pedih adanya, namun ini jawabnya..

 

“Berjanjilah untuk tidak menanyakan hal itu lagi..” Belle mendorong tubuhnya agar terlepas dari pelukan itu. Pelukan hangat yang menyiratkan kesedihan, “Berjanjilah..” Belle yang lebih pendek dari Donghae, mengangkat tangannya untuk menyeka tetesan air mata yang ada disekitar kelopak mata indah milik lelaki dihadapannya.

“Jangan pergi..” Donghae menggenggam tangan Belle yang tadi berada diwajahnya, memasang wajah tak berdaya. Berharap permintaannya dikabulkan. Jangan pergi. Ya. Belle tidak boleh pergi.

“Lepaskan aku..” Belle berusaha melukis senyumnya, “Kau akan bahagia bersama Sanghee.”

Lepaskanku segenap jiwamu, tanpa harus ku berdusta..

 

“Aku tidak bahagia tanpamu.”

“Kau harus bertanggung jawab terhadap pilihanmu.” Belle melepaskan tangan kanannya dari tangan dingin Donghae, menyampirkan rambut Donghae yang acak-acakan kebelakang telinganya, lalu memegang pipinya lagi, “..pernikahan bukan hal kecil. Hal ini adalah hal besar dalam hidupmu. Dimana kau akan memiliki pendamping hidup, yang selamanya akan bersamamu.”

“Dan kau membiarkanku bersama Sanghee? Sedangkan aku? aku.. masih mencintaimu, kau juga.” Donghae menatap dalam kedua bola mata Belle yang kecoklatan, “.. kita masih punya waktu untuk merubah semuanya.”

“Aku mencintaimu. Dan aku tidak mau merusak semuanya. Kalau kau mencintaiku, sebaiknya kau jaga Sanghee baik-baik. Aku tak mau melihatmu terluka dan rapuh dihadapan istrimu nanti.” Donghae mendengar suara desahan Belle, lalu melihat bibirnya bergetar dan kembali berbicara, “.. karena aku. selalu ada untukmu, disetiap kau butuh aku.” Belle menahan tangannya didada Donghae, dimana ia merasakan getaran itu. Getaran menyakitkan yang memudar.

Karena kaulah satu yang kusayang, dan tak layak kau didera..

 

“Aku akan sulit melakukan itu, Belle.. Aku akan kesepian tanpamu.. Rasanya sakit.”

“Dan Sanghee akan lebih sakit mengetahuimu masih mencintaiku. Percayalah. Dia akan lebih terluka.”

Sadari, diriku pun kan sendiri. Didini hari yang sepi..

 

“Kumohon, jangan memaksaku untuk berhenti mencintaimu.” Untuk sesaat, detak jantung Donghae serasa berhenti, “.. Jangan paksa aku melupakanmu..”

“Aku tidak akan melarangmu..”  Belle memasang wajah cerianya, “.. tapi jangan lupakan istrimu nanti.”

“Kau akan sendirian?”

“Kalau kita berdua pun, belum tentu kita bahagia, Hae-ya..”

Tetapi apalah arti bersama? Berdua? Namun semu semata?

 

“Boleh kupeluk lagi?” Belle menjatuhkan tubuhnya ke tubuh itu lagi. Tubuh Donghae yang hangat disetiap musim, walau winter berada di titik kurang dari nol derajat. Tubuh yang selalu menghangatkannya. Dan sadar atau tidak, air mata itu keluar lagi. Tidak terdengar suaranya, walau membekas di mantel coklat Donghae. entahlah. Semua itu masih menyakitkan. Donghae masih mencintainya, apalagi Belle.

Tanpa sadar, tangan Belle terulur kebelakang. Memeluk punggung Donghae, dan direspon Donghae dengan pelukan di tubuh kecil Belle. Pelukan ini mengisyaratkan bahwa mereka tidak ingin terpisahkan. Tapi, apa daya?

“Rasanya masih sakit, tapi sudah memudar.” Donghae mengecup kepala Belle yang ada dibawah dagunya, “aku harap akan segera hilang.”

“Aku juga..” Belle menggumam dipelukan Donghae, “tapi tidak cinta kita. Itu tidak boleh hilang.”

“Aku tidak akan menghilangkannya. Walau kau memaksaku suatu hari nanti.”

Tiada yang terobati didalam peluk ini, tapi rasakan semua.. sebelum kau kulepas selamanya..

 

“Terima kasih untuk pengertiannya, Donghae.” Belle menarik dirinya dari tubuh Donghae. mereka tersenyum bersamaan, dan Donghae mengangguk pelan. Semua akan baik-baik saja, “Kau selalu tahu alasannya jika aku tidak datang di pernikahanmu dua hari lagi. Aku mohon, jaga Sanghee.”

“Ne, akan kulaksanakan jagiya..” dengan suara berat, ia memohon juga, “dan tersenyumlah. Berhenti menangis dan memasang topengmu.”

“Ya, aku akan coba..”

“Bisakah aku mendapatkan yang terakhir?” Donghae memiringkan kepalanya, lalu tersenyum dan mengerling. Belle tertawa kecil melihat wajah kocak itu kembali menghiasi otaknya. Karena hal-hal kecil Donghae, akan menjadi memori selamanya. Ya. belle terpana, tercengang. Merasakan tangan itu menariknya lagi ke pelukan Donghae. Belle menutup matanya, merasakan kedua tangan itu ada di tubuhnya, menghangatkan dan membuatnya berpikiran, ‘semua akan baik-baik saja setelah ini’. Belle yakin. Pelukan ini masih sama seperti pelukan terakhir lima tahun lalu setelah ia memutuskan untuk pergi ke Australia.

Belle tidak lagi harus resah pada dirinya sendiri. Donghae berjanji akan bahagia, tinggal bagaimana cara mendapatkan yang lebih baik daripada Donghae. karena sosoknya, terlalu sempurna baginya. Bagaimana? Apa? Apa yang harus dilakukannya? Belle masih bingung.

Seandainya waktu bisa berhenti, Belle ingin melakukan hal itu. Walau ia harus kehilangan nyawanya, sepertinya tidak masalah. Tapi jika Belle menginginkan hal ini tidak terjadi, hal bahwa kenyataannya Donghae akan bersama Sanghee, belum tentu mereka akan bahagia. Belle, bersyukur.

“Jaga diri baik-baik. Karena aku juga akan melakukannya.” Belle mengangguk, dan Donghae meraih tengkuk leher Belle. Menariknya dan menyimpan bibirnya diatas bibir lembut Belle. Hangat. Menyenangkan untuk terakhir hingga selamanya. Karena mereka berdua akan menyimpan rasa ini dalam hati masing-masing. Walau sedikit biru, lembaran baru akan dimulai di kehidupan mereka. Donghae dengan Donghae si Tampan Super Junior dengan embel-embel suami seorang ‘Lee’ Sanghee dua hari lagi, dan Belle dengan Anabelle gadis ballerina senior yang akan berpindah tempat ke Seoul, dan tidak lagi harus merindukan Donghae. Anabelle yang akan mengambil pendidikan S2-nya di Seoul.

Setelah Donghae merasa puas, dan merasakan Belle yang nafasnya terengal, mereka melepaskannya. Terakhir. Itu untuk yang terakhir.

Semua akan baik-baik saja. Setelah ini, mereka akan bahagia. Tanpa harus dihantui rasa cemas dan pertanyaan. Memahami, pengertian, dan setia.

Tak juga kupaksakan, setitik pengertian. Bahwa ini adanya, cinta yang tak lagi sama…

 

**

Annyeong, Ballerina favoritku Anabelle..

 

Ini aku, Super Junior Lee Donghae yang begitu merindukan suara, kelopak mata, tawa, rambut emas, sikap, kelakuan, canda dan segala yang dimilikimu. Lee Donghae yang begitu rapuh dan bingung haruskah aku mengirim undangan ini padamu. Tapi aku menguatkan diriku sendiri, kau pasti mengerti.

 

Aku memilihnya, bukan karena aku terpaksa. Karena aku mencintai Sanghee, yang sudah mewarnai kehidupanku dan menjagaku sebagai Lee Donghae dari sejak debut hingga kini. Tapi rasa cintaku padanya berbeda padamu, karena aku memberikan segalanya padamu.

 

Terima kasih untuk segala keputusanmu. Keputusanmu untuk membuatku memilih diantaramu dan Sanghee. Aku memilihnya karena dia ada untukku. Tapi jangan heran jika aku akan menarik perkataanku tadi jika kau memang benar datang padaku dan memintaku kembali. Aku bisa merubahnya. Aku bisa menghancurkan pernikahan ini demi kau, belle. Tapi kau pasti tidak bodoh, aku juga akan berpikir ribuan kali setelah eomma dan Donghwa hyung bersemangat mempersiapkan pernikahan ini.

 

Aku menunggumu. Terserah kau mau datang atau tidak ke pernikahanku, aku tidak peduli. Dua hari sebelum tanggal pernikahan, tempat yang sama,waktu yang sama, aku menunggumu. Aku memohon padamu. Datanglah, karena aku membutuhkanmu. Aku cemas, aku belum siap melepasmu.

 

Alice-mu begitu baik, Belle. Dia memberiku alamatmu. Bahkan mau untuk mengirimkannya. Beri ucapan terima kasih pada eonnie-mu itu. Dia cantik juga kkk, seperti adiknya kkk~

 

Singkat kata, aku mencintaimu. Seperti aku mencintai ibuku, mencintai ayahku, mencintai ELF. Aku menunggumu.

 

Warmest, Your Lee Donghae.

 

Gadis itu melipat kertas itu dan menyeka airmatanya yang entah kapan turun. Lalu segera merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Dengan sigap menekan tombol 2, lalu suara dengung itu tersambung dengan suara berat yang didengarnya.

“……ya, ini aku Anabelle dad…… Aku ingin pulang dua sampai tiga minggu ini, aku rindu Alicia. Aku ingin pindah kesana lagi saja …… dad, please…… Jinjja?! Ahaha Okay! Aku akan mengurus paspor dan tiketnya sendiri…… Thanks dad, Love you mucccchh..”

 -FIN-

5 thoughts on “Last

  1. terharu banget bacanya dan sedih serta menyentuh hati, belle nya baik banget bs merelakan donghae oppa dgn org lain padahal mereka berdua slg mencinta sebetulnya.. so sweet n sad story

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s