Semua ada waktunya

T i t l eSemua Ada Waktunya

A u t h o rAmandacchi

M a i n  C a s tLee  Sungmin / Cho Kyuhyun

S u p p o r t  C a s tLee Donghae / Kim Jongwoon

R a t i n gK+ J

G e n r eHurt/Comfort / Friendship

E x p e r t  W a r n i n gdiksi tingkat teri m_m.

.semua ada waktunya. 

SuJu Dorm—22nd April 2007

 

Aaah ~.”

Di bawah naungan suatu kamar, namja itu bergumul di kasur putihnya. Meskipun begitu, selimut dengan warna pink itu masih tertata—oh hei, keren! —oke, kembali. Bantalnya juga pun bernasib sama, hanya kini sedang digunakan sebagai sandaran kepalanya.

Di kamar dorm boyband terbesar—Super Junior, ia ngadem di kasurnya. Enggan ia bangun, sekedar menegakkan tulang punggungnya saja.

Dikenal sebagai Lee Sungmin-nya Super Junior, si Bunny Min dan Uri King of Aegyo. Namja imut yang masih menyibukkan dirinya di kasurnya. Ia masih meringkuk, melenguh kurang kerjaan. Bukan kurang kerjaan juga, sih, cuma ya itu … suatu kerjaan bagi si Bunny ini.

“Sungmin-ah!”

Suara panggilan itu mendorong Sungmin dari dunia kasurnya, dan memaksanya untuk duduk saja. Ia memajukan mulutnya sesenti; manyun. Ia melempar pandangannya kepada si “interrupter”. “Waeyo?”

Ish, kamu, ya.” yang memanggil, si Prince of Tears—Lee Donghae, bersandar pada kusen pintu cokelat. “Mau ikut, nggak?”

Sungmin yang awalnya masih ogah bangun dari kasurnya menjadi tegak. Dengan aegyo-nya, ia memasang wajah antusias. Ditanggap oleh Donghae dengan memutar bola mata obsidiannya. “Ayo cepat kamu siap-siap sana! Berantakan amat…!”

“Iya iya!” Sungmin pun ngacir ke kamar mandi di dorm-nya. Tidak dipedulikannya lirikan aneh dari dongsaeng—sama—tahun—beda—bulan-nya. Si Bunny dengan buru-burunya masuk ke kamar mandi itu dan … ya kau—tahu—sendirilah mau apa si Bunny itu.

 

Amandacchi

 

Super Junior belong to God, their family, SM Entertainment, and other. I don’t own Super Junior, I just own this plot and story. This is original. Not a copy-cat.

 

.

 

K y u h y u n  X  S u n g m i n

 

.

 

Seoul Central Hospital—22nd April 2007

 

GREEK

“Kyu, hyung datang….”

Pintu yang dibuka pelan dan lirihan dari Sungmin menjadi sapaan bagi Uri Evil Magnae—Cho Kyuhyun di ranjangnya. Meskipun begitu, tidak ada yang menjawab. Hening, kecuali saat Sungmin dan melangkahkan kakinya mendekat.

Sebelum ia duduk, Sungmin berjalan menuju vas bunga sebelah ranjang Kyuhyun. Digantinya bunga mawar pink yang sudah kering itu dengan buket bunga yang sama yang dibawa si Bunny. Sepertinya, bunga mawar pink itu tanda-tanda adanya Sungmin—setelah wewangian melati menjadi tanda-tanda kuntilanak. Oke, kejauhan.

Setelah membuang bunga kering itu, Sungmin duduk di kursi—berhadapan dengan ranjang Kyuhyun. Ia terdiam, mengatupkan mulutnya serapat mungkin. Mengeratkan tangannya yang terkepal dan mengatur napasnya seteratur mungkin.

Iris obsidiannya menatap lurus tubuh Kyuhyun yang masih terbaring lemah. Kelopak mata si Magnae masih tertutup selama empat hari—dari tanggal laknat itu, menurut Sungmin. Masih menggunakan alat bantu bernapas dan detektor dekat jantung yang melekat di dadanya. Masih menancap selang infus di mana-mana.

 

.

 

19 April 2007.

Tanggal laknat yang sangat dibenci Sungmin. Ia tidak akan mengatakan tanggal yang dibencinya selain tanggal Sembilan-belas bulan April tahun dua-ribu-tujuh. Meskipun di lain sisi ia tidak begitu menyukai tanggal ulang tahunnya—1 Januari—karena hyungdeul maupun dongsaengdeul-nya akan melemparnya dengan telur dan tepung atau kue tar sekalian(*).

Yang cinta Super Junior—E.L.F, pasti tahu tragedi tanggal itu. Bahkan, yang bukan pun tahu. Tragedi saat pukul dua-belas lebih dua-puluh menit, di Olympic Road, Banbo Brigde.

Sungmin masih ingat, dua hyung dan dua dongsaeng-nya yang siaran di Sukira, tidak pulang dengan selamat ke dorm mereka. Waktu itu, tengah malam. Sungmin dan yang lain di dorm syok berat dengan berita tentang kecelakaan itu. Selain member Super Junior, dua manajer mereka pun jadi korban.

 

.

 

Tahukah? Sakitnya ia beserta teman-temannya yang lain saat itu? Saat leader malaikat mereka; penghibur yang humoris mereka; dancing machine mereka; dan dongsaeng iseng mereka semua tertimpa musibah tragis itu?

Dan terlebih lagi, saat Sungmin mendengar bahwa Kyuhyun—dongsaeng kesayangannya sekaligus teman sekamarnya menderita luka paling parah; tidak bisa diperkirakan selamat. Ujung-ujungnya masuk ICU—seperti yang dilihatnya sekarang.

 

.

 

Sesak. Sakit. Perih.

 

.

 

Semua member Super Junior tidak kuat menahan air mata mereka. Bendungan itu bobol—apalagi Donghae. Mengalir deras dengan isakan pilu. Menangis karena teman mereka. Berduka. Seakan tidak memiliki hak bersuka malam itu.

 

.

 

TES….’ ‘TES….’

 

Air mata itu jatuh, bersamaan dengan memori empat hari yang lalu yang terulang. Semakin kuat, padahal Sungmin benci mengingatnya.

.

—tidak. Ia tidak mau mengingatnya lagi. Ia sudah muak!

.

Irisnya kembali menatap dongsaeng di hadapannya. Masih berderai air mata, seakan-akan ingin mengeluarkan memori menyesakkan itu dari otaknya.

 

.

 

.

 

“Kala semuanya tenang, tidak ada halangan. Kala bencana itu datang, kita hanya diam. Berduka, meresapi seluruh kesedihan. Mencicipi bagaimana rasanya teman yang terluka. Bahkan, menelan semuanya dengan terpaksa….”

 

.

 

.

 

“Bangun, Kyu. Dongsaeng yang baik itu yang mengerti hyung-nya, kau tahu? Meskipun kau iseng, tetapi … sebagai dongsaeng dari hyungdeul-mu … kau tetap harus berbuat baik, kan?”

 

.

 

“Ya, kan?”

 

.

 

GREEK….’

Pintu dibuka lagi, dan suaranya seperti mengirim pesan ke otak Sungmin untuk berbalik secara refleks. Iris legamnya menangkap sosok salah satu hyung-nya; Kim Joong Woon. “Yesung-hyung?”

Waeyo, Sungmin?”

Yesung berjalan setelah menutup pintunya, mendekat ranjang Kyuhyun yang tenang dalam komanya. Di genggaman tangannya, secarik kertas dilipat—yang mungkin isinya tulisan—tertangkap oleh obsidian Sungmin. “Itu kertas apa, hyung?”

“Oh, ini?” Yesung tertawa kecil, lalu berhenti dan tersenyum kecil. “Ini surat untuk si Magnae ini.”

Sungmin pun ikut tertawa kecil. “Dan pasti dibacanya saat ia sudah sadar….”

 

Hening lagi.

 

“Ah, ya, hyung. Jaga Kyu, ya! Aku mau ke Teuki-hyung, Shindong-hyung, dan Hyukkie-ah dulu. Anyeong~.”

Nae. Nanti aku menyusul kalau Heechul-hyung ke sini.”

Mm.”

Si Bunny pun beranjak dari kursinya, lalu menghapus jejak air matanya yang mulai kering. Obsidiannya memindahkan pandangannya pada Kyuhyun, menatap penuh harap. “Get well soon, Kyu.”

 

.

 

Hyung sayang dan kangen kamu.”

.

Suju Dorm—22nd April 2007

 

Haaah.…”

Helaan napas itu terdengar menggema di kamar asrama yang sunyi. Sungmin merebahkan tubuhnya di kasurnya lagi, lalu menggeliat kecil. Ia membalikkan wajahnya, menenggelamkannya ke bantal.

Gelap. Sama gelapnya dengan kondisi kamarnya …

… dan hatinya.

Si Bunny melirik ke sebelahnya. Ranjang juga. Sama juga—putih. Bedanya, selimutnya bukan pink—sejak kapan si Evil Magnae tergila-gila dengan warna pink? Dan ranjang itu juga … yah, tidak berpenghuni.

Detak jantung Sungmin absen satu kali. Ia bergidik. Meskipun ranjangnya tidak berpenghuni, tapi ada saja mungkin makhluk yang tengah duduk di kasur itu.

 

.

 

Hieee…!”

Cepat-cepat, Sungmin membuang pikirannya. Hei hei, masakah ada setan yang berani menghuni sesama setan? —oke, kalau Kyuhyun mendengar ini, bisa saja Sungmin jadi korban lemparan kaset game koleksi dengan gaya ala atlet NBA nyasarnya.

Kaki Sungmin menapak pada lantai nan dingin. Tenggorokannya kering—sudah ada satu jam-an tidak dilalui oleh air. Tapi, ia tidak peduli. Ia hanya ingin mengurus bagian tubuhnya yang lain saja dulu.

Si Bunny melepas jaket abu-abunya, menggantungnya di sandaran kursi meja belajarnya. Ia meregangkan otot-otot tangannya, menghela napas dengan teratur.

20.15 p.m.

Yak, pukul delapan baru pulang sehabis dari rumah sakit tadi. Cukup lama, mengingat Sungmin menjenguk empat orang temannya, tambah menunggu teman-teman Super Junior-nya yang ikut menjenguk juga.

‘Tak mau basa-basi, si Bunny mengambil handuknya, bergegas ke kamar mandi. Mandi air dingin malam-malam di musim peralihan semi ke panas ini mungkin enak. Dengan harapan melekat di benak Sungmin, ia bisa bebas dari bebannya.

 

.

 

Memikirkan nasib dongsaeng sekaligus magnae kesayangannya.

 

.

SuJu Dorm—22nd April 2007

 

Pukul sepuluh lebih duapuluh menit, Sungmin masih tidak mengatupkan kelopak matanya dan kembali ngadem di kasurnya.

Tangannya menopang tubuhnya; menjadi tumpuannya bersandar pada balkon kamar. Sungmin menengadahkan kepalanya; membebaskan pandangannya ke arah kejora yang menyebar di angkasa luas. Laut biru tua tidak berair di atasnya menjadi objek pandangnya sekarang.

WUUSSH….

Angin malam menghantam tubuhnya. Menggerakkan helai musim gugurnya hingga meliuk pasrah. Seakan si angin tidak memedulikan Sungmin yang hanya diam, menghiraukan keberadaan angin tersebut.

Malangnya, sang angin.

Sungmin tetap terfokus pada laut biru di atasnya. Elegansi seakan menghanyutkannya. Dan, mengombang-ambingkannya. Tidak dapat dimungkiri, ia memang terhanyut ke dalamnya.

Dalam benak namja itu hanyalah si namja yang masih terbaring di rumah sakit. Bukan Teuki-hyung ataupun Shindong-hyung-nya, bahkan Hyukkie-ah-nya. Ia masih terbayang-bayang oleh dongsaeng sekaligus magnae nan iseng dari Super Junior.

Sungmin berbalik; membelakangi jendela dan menghadap dua ranjang di depannya. Ranjangnya dan ranjang Kyuhyun.

Enigma itu kembali beresonansi dalam batinnya. Enigma yang membarikade semua akal sehatnya. Enigma yang seakan menariknya menuju alam fantasi.

Kapan ia sadar?

Kapan Kyuhyun bangun? Kapan si Magnae itu sadar dari komanya? Kapan?

Sesungguhnya, Sungmin ingin menghancurkan enigma itu. Tapi, seakan enigma itu tidak hanya beresonansi, tapi juga menjadi atensitas otaknya agar mendapat secercah cahaya dalam kegelapan. Namun, bukan itu yang sebenarnya mau dijadikan pijaran dalam otak Sungmin.

Tidak sekalipun.

Tapi, apa mau dikata. Enigma itu sulit hilang, seiring Sungmin tertarik dalam alam fantasinya. Salah sendiri. Dan, akan menjadi hilang jika ia kembali ke akal sehatnya.

Alam fantasinya; Kyuhyun ada di sini, sekarang juga. Dengan sehat walafiat.

Sungmin sudah kesal sendiri, di kamar hanya dirinya seorang. Ia bernasib sama dengan beberapa temannya yang teman sekamarnya sedang berbaring juga di rumah sakit, seperti Kangin-hyung-nya dan Donghae-ah-nya.

Dongsaeng kesayangannya … hanya itu yang diinginkannya.

Sampai kapan Sungmin harus menunggu? Sampai sebulan? Tidak! Ia jelas-jelas menampik dengan sangat tegas.

Ia kalut. Kepastian Kyuhyun akan pulang memang sangat tidak bisa ditebak. Apa salahnya, sih, jika kesembuhan itu datang lebih cepat?

Namja itu menelan salivanya. Menelan kenyataan itu. Kenyataan berupa fakta.

Karena di dunia ini, yang tidak ada hanyalah sebuah kepastian.

DUK!’

Sungmin memukul tembok di depannya. Menonjoknya. Kenapa dunia harus begitu jahatnya? Kenapa tidak diperbolehkan untuk berharap semua datang cepat sedikit?

Ia mau menggantikan hyungdeul dan dongsaengdeul-nya di sana. Ia mau sakit fisik daripada batin. Hatinya sudah sakit akibat tamparan kenyataan dunia!

Apa Sungmin begitu muluk-muluk? Apa harapannya itu terlalu berlebihan?

Mau sampai kapan ia menunggu Kyuhyun sembuh total?

Lee Sungmin sepertinya sudah termakan egonya. Egonya agar teman-temannya yang sakit itu cepat pulang.

Karena memang begitulah manusia. Kita mau menang sendiri, termakan ego kita. Kita tidak mengenal namanya takdir. Kita tidak mau sabar. Kita tidak mau terima nasib kita sendiri.

 

.

 

The night saw u’re guys feel hurts and pains. That night must be the first and the last. No more again. Because we’re feel hurts and pains to.

Right?

 

.

 

“SUNGMIN-AH ~!”

Waeyooo?”

“Berita baik, hey! Si Devil sudah sadar dan dipindahkan dari ICU!

 

.

 

Seoul Central Park—5th July 2007

 

Sungmin menapakkan kakinya yang beralaskan sepatu dan melangkah di rumput di Taman Pusat Kota Seoul. Angin musim panas menyambut hangat. Bau rumput yang segar menguar di indra penciumannya.

Ia memejamkan matanya. Lengannya bergerak meregang karena mulai pegal. Helaan napas pun menjadi kegiatan selanjutnya.

Sungmin baru saja menyelesaikan rutinitas mingguannya; lari pagi. Entah bagaimana, ia bisa menghindari fans-nya. Yang pasti, ia bisa tenang berolahraga.

DEG!

Sejenak, ia menyernyit. Ada apa dengan perasaannya sekarang?

Oke, sekarang adalah hari ketujuh-puluh-delapannya Sungmin menantikan Kyuhyun. Dengan sabar, bahkan ia tidak sadar tiga bulan lebih sudah berlalu. Ya … sering ia menjenguk dongsaeng-nya saat itu bersama teman-teman yang lain.

Dan saat ini, Sungmin merasa janggal dengan perasaannya.

Ini firasat atau apa? Maksudnya apa?

Sungmin membeku di tempat. Tangannya berkeringat dingin, tenggorokannya kering, dan anehnya, perasaannya meronta-ronta untuk ke dorm saat ini juga.

Ada apa?

Haruskah aku ke dorm saat ini? batin Sungmin mulai berperang sendiri. Ia memanyunkan mulutnya, bingung dengan perasaannya sendiri. Lagi pula, jika ada apa-apa, pasti ada saja yang meneleponnya.

Tau, ah, gelap!”

Tidak sadar dengan dengusan kekesalannya yang menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, Sungmin kembali berlari. Kali ini, ia menentukan arahnya ke dorm saja. Jaraknya memang nggak jauh-jauh amat. Tapi, nggak tahu juga.

Dalam larinya, Sungmin betul-betul memainkan perasaannya sendiri.(Menciptakan rekor sendiri; memainkan perasaan sendiri, kali.) Namja bergantung dengan perasaan? Heyooo … Heechul-hyung-nya saja nggak pernah pakai perasaan! —ngaco.

Dengan stamina layaknya sedang ber-Martial Arts, Sungmin berlari terus sampai tempat tujuan tentunya. Mungkin sehabis ini, beratnya turun tiga kilo-an. Bayangkan saja lari nggak berhenti-henti dari tengah Kota Seoul ke dorm yang jaraknya nggak  bisa dihitung berapa kilometer pastinya dari tengah Seoul.

Yang pasti, meskipun jika teman-temannya tahu ia bersikap layaknya seorang yeoja, Sungmin percaya ada sesuatu di dorm-nya. Entah itu masakan super dari Wookie-ah-nya, siraman rohani dari Siwon-hyung-nya, ataupun ulah Donghae dan Hyukkie-ah-nya.

Awas saja kalau nggak ada.

 

.

 

Suju Dorm—same date

 

HooshhHooshh….”

Dengan napas tersengal, Sungmin menggeret kakinya dan memaksanya untuk melangkah ke arah pintu dorm. Dorm kelihatan sepi—dan itu malah membuatnya panas dingin. Panas dingin ingin menghajar maksudnya. Menghajar perasaannya.

Dengan seluruh tenaga yang masih ada, dengan berat badan yang turun tiga kilo, Sungmin mengetuk pintu tersebut. Nasibnya melarat, kalau-kalau di dorm memang TIDAK ADA SIAPA-SIAPA dan perasaannya terbukti salah. Mau ditaruh dimana mukanya kalau teman-temannya tahu? —lebay.

“Aku pulaaang ~!”

Kali ini, ia mencoba untuk berteriak saja. Siapa tahu di dorm memang ada orang, dan terbukti kalau ia tidak salah. —masih ngotot juga?

GREEK….’

HYUNG JAHAAAT!!!”

 

.

 

Mwo?”

Sungmin membuka sedikit mulutnya, menganga dengan pemandangan dan suara melengking yang menyambutnya. Tubuhnya membeku di tempat, dan jiwanya sudah ada di alam lain. —nggak kok, Lee Sungmin belum meninggalkan kita semua.

Hyuuung? Dasar hyung, iya jahat, iya juga pabbo-nya.”

Sekali lagi, Sungmin masih terbengong-bengong. Yang di depannya ini mimpi atau bukan? Ilusi atau halusinasi? —yang terakhir sama saja.

Satu … dua … tiga….

 

.

 

“KYU!!!”

 

(Yak, siapa yang bisa mengubah fakta ini; “esok adalah misteri”?)

 

.

.end.

.

Anyeonghaseyo, chingudeul :D Amanda imnida!

Ini fanfic pertama saya di WP dan ini Real Person Fic pertama. Sebenernya, saya udah nulis fanfic anime/manga Jepang di Fanfiction :3 ada yang tau? *lambai-lambai* #salah

Mohon concrit-nya, mau flame juga nggak papa. Tapi flame yang ngebangun -___- it’s okay. Tapi saya nggak jamin bakal nanggep yang nge-flame tanpa alesan. J review and comment needed!

 

© Amandacchi 2012

 

2 thoughts on “Semua ada waktunya

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s