Every Little Things

Every Little Thing

Author: fikey (sweetlydangerous.wp)

Length: Oneshot

Rating: General

Genre: Drama/Romance

Main Cast: Lee Jinki of SHINee, Shin Chaerin (OC)

Minor Cast: Kim Jonghyun and Choi Minho of SHINee, Luna Park of f(x)

 

Karena, walaupun ia tidak menyadarinya, semua hal kecil yang dilakukan kekasihnya itu menyatakan kalau ia tidak pernah ingin jauh darinya.

***

All the birds in the sky, all the fish in the sea, will never explain what you mean to me.

(*)

***

“Malam ini… aku tidak bisa pergi denganmu. Maaf.”

Satu helaan nafas terdengar dari arah seorang yeoja dengan rambut bergelombangnya. Matanya mencoba untuk memandang ke arah lain, yang bukan tertuju pada seorang namja di depannya.

Sebuah senyum hangat ia coba tunjukkan, walaupun sebersit rasa kecewa mencoreng perasaannya. Tangannya bergerak, mengelus bahu namja itu halus, seperti sentuhan yang biasa ia berikan padanya.

“Tugas lagi?” tanyanya pelan, tidak lupa dengan senyuman. Yap. Yeoja itu hanya tidak ingin namja di depannya menjadi lebih merasa bersalah atas tuntutan pangkat yang dimilikinya di sekolah itu.

Namja itu mengangguk. Terpampang jelas ekspresi tidak rela di wajahnya. Sentuhan yeoja itu masih terasa di bahunya, walaupun kini tangannya sudah sibuk pergi entah kemana. Lagi-lagi namja itu harus membiarkan kekasihnya sendiri pulang diantar orang lain.

Tanpa komando, tangan namja itu menghentikan tangan sang yeoja, dan menggenggam jemarinya yang lentik. Tatapannya tertuju langsung pada sepasang pupil kecoklatan gelap yang diselimuti keheranan itu.

“Kau… tidak marah padaku, kan?”

Yeoja itu lagi-lagi tersenyum. “Tidak apa, Jinki-ya. Kerjakanlah tugasmu itu yang benar,” sahut yeoja itu pelan.  “Baiklah, aku pulang dulu, kau pergilah ke ruang klub-mu itu, yang lain pasti sudah menunggumu.”

Namja berambut coklat yang dipanggil Jinki itu menghela nafasnya. “Hn. Hati-hatilah, Chaerin-ah.”

Satu anggukan singkat menjadi sebuah jawaban bisu bagi seorang Lee Jinki, sebelum yeoja berambut agak keriting itu berbalik dan melangkah menjauhi dirinya. Kakinya belum juga membawanya pergi dari tempat itu.

Sedetik kemudian, sesuatu melintas pada pikirannya, yang membuat kedua kakinya itu bergerak mendekati sosok yang tengah berjalan menjauh dari tempatnya berdiri.

“Chaerin-ah!” panggilnya dari kejauhan.

Yeoja itu menoleh. “Ne?”

“Obatmu. Ingat, itu antibiotik. Harus kau habiskan,” ujarnya singkat, sebelum berbalik dan berjalan memasuki gedung sekolah berdominasi warna putih. Terkadang, namja itu memang ingin sekali melepas jabatan yang diberikan padanya secara sepihak oleh kepala sekolah. Namun mengingat siapa orang tuanya, dan dedikasinya terhadap sekolah itu, sepertinya yah, memang tidak mungkin.

***

Alunan musik memenuhi seluruh sudut ruangan berdominasi warna biru pastel. Karpet merah berbentuk lingkaran menutupi lantai berubin di sekitar tempat tidur berukuran single yang ditutupi sprei bergambar tokoh Bubble dari geng Powerpuff Girls.

Sebuah meja berwarna hitam polos, menyender pada dinding, yang diatasnya terdapat CD player yang memainkan lagunya. Sementara itu, sepasang bola mata coklat gelap tengah memandang serius pada layar laptop di depannya.

Jari telunjuknya berkali-kali menekan tombol ‘backspace’ lalu mulai mengetik kalimat-kalimat berikutnya. Tidak jarang jika dia kembali menekan tombol yang gunanya untuk menghapus itu lagi.

Sebuah helaan nafas panjang keluar. “Ayolah, tinggal sedikit lagi,” katanya sambil menenggelamkan wajahnya ke dalam lipatan tangan. “Ide… datanglah.”

Rupanya, tugas essay pemberian guru bahasa inggrisnya mampu membuatnya mengisi malam itu dengan terjaga di depan layar laptop.

Jam weker yang terdapat di atas meja kecil di samping tempat tidurnya itu sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas. Suara jangkrik yang terdengar makin keras, seiring dengan satu-persatu lampu yang dimatikan di areal komplek perumahan tersebut.

Yeoja itu kini mengganti posisinya menjadi berbaring. Matanya memandang langit-langit kamar yang berwarna putih, dengan tempelan-tempelan berbentuk bintang yang dapat menyala dalam gelap.

Lucu. Itu adalah pemberian Jinki saat hubungan mereka mencapai lima bulan dahulu. Daripada memberikan kalung, gelang, atau sebagainya, hiasan-hiasan itulah yang diberikan padanya.

“Agar kau selalu melihatnya setiap ingin tidur,” ujar Jinki waktu itu.

Chaerin menutup kedua matanya, ingin mengistirahatkan pandangannya itu sejenak. Namun, sedetik kemudian, ia rasakan telepon genggam di sampingnya bergetar.

“Siapa malam-malam begini…”

Sender: Jinki-oppa

Film kartun favoritmu, Tom and Jerry the Movie. Channel 12.

Satu alis Chaerin terangkat. Sebuah senyum hangat terukir di wajahnya. Perlahan, jemarinya bergerak untuk menekan tombol ‘reply’ dan dengan segera mengetik pesan balasan untuk Jinki.

Alunan lagu yang mengalir dari CD playernya, seakan cocok untuk menjadi back sound baginya saat itu. Tidak terlalu lama yeoja itu mengetik. Pesan balasannya hanya berisi ucapan terima kasih dan sebuah pertanyaan singkat yang menanyakan tentang tugas miliknya.

Yeoja itu menekan tombol ‘send’ dan menaruh telepon genggamnya di samping laptopnya yang tengah memperlihatkan slide-slide foto sebagai screensaver. Sementara itu, ia mengangkat tubuhnya untuk berjalan mengambil remote TV.

Layar TV menyala, dan tanpa membuang waktu, jari telunjuk yeoja itu segera menekan tombol angka satu dan dua secara berbarengan. Gambar bergerak itu berganti, menampilkan tokoh Tom yang sedang menggenggam Jerry, sementara tubuhnya tergantung di dahan pohon.

Sebersit senyum mewarnai wajahnya. Tingkahnya dapat berubah seratus delapan puluh derajat, ketika sedang menonton film kartun, apalagi kartun yang satu ini.

Scene pada layar berganti lagi. Sebuah getaran kecil menggelitik kaki yeoja itu. Dilihatnya layar telepon genggamnya menunjukkan ada sebuah pesan masuk. Segeralah ia menekan tombol ‘show.’

Sender: Jinki-oppa

Ya. Jangan tidur malam. Tugas biasa, tidak terlalu penting.

“Hhh… dasar irit kata-kata.”

Lagi-lagi sebuah perasaan sedikit kecewa mencoreng perasaannya. Entah kenapa, setelah hampir setahun mereka menjalin hubungan, sifat Jinki yang tidak terlalu peka belum terasa cocok baginya.

Yeoja itu lantas menaruh telepon genggamnya di meja kecil di samping tempat tidur, dan mematikan laptopnya. Setelah itu, ia menarik selimut dan mematikan lampu utama. Dalam keadaan TV masih menyala, matanya mulai terpejam.

***

So hold, on another day

‘Cause love is on its way

You’ll find it’s gonna be okay

‘Cause love is on its way

(**)

***

Suara decitan sepatu converse dapat terdengar di lorong-lorong sekolah berubin putih mengkilat. Seorang yeoja  yang tengah berjalan terburu-buru bahkan semakin mempercepat langkahnya menuju suatu ruangan yang terletak di ujung lorong.

Dari kejauhan, dapat dilihatnya seorang namja berperawakan tinggi tegap, yang ia ketahui sebagai ketua kelasnya, Choi Minho. Sebuah helaan nafas keluar dari bibirnya. Dengan Minho dan beberapa murid namja yang berada di luar kelas, menandakan songsaengnim jam pertama mereka belum hadir di kelas.

Chaerin sedikit memperlambat langkahnya. Ia melewati toilet perempuan, dan hanya tinggal satu ruangan lagi ia lewati untuk bisa mencapai kelasnya.

Ruangan kelas 2-A terletak di ujung koridor lantai tiga. Agak menyeramkan memang, lantaran kalau hari gelap lampu yang terletak di koridor itu selalu mati. Ditambah dengan ruang kurikulum di depannya yang terkenal angker.

Chaerin melangkahkan kakinya memasuki kelas. Beberapa dari mereka yang sudah datang, berkumpul menjadi beberapa grup. Ada yang tengah bermain panco, mengerjakan PR, bahkan ada juga yang mencuri waktu untuk sekedar tidur sebentar.

Papan absen hari itu bertuliskan tanggal 24 September. Di daftar siswa yang tidak hadir, namanya tertulis karena terlambat. Yeoja itu segera mengambil penghapus dan menghapus namanya. Tersisa dua orang temannya yang belum hadir.

Kakinya menuntunnya untuk berjalan ke meja di baris ketiga, dimana ia duduk. Ia segera menaruh tasnya dan duduk di samping yeoja berkuncir dua yang tengah tertidur. ‘Tuh kan, pasti Miyoung begadang lagi semalam. Dasar Minho. Yang benar saja, kenapa  minta ditemani nonton bola dengan seorang yeoja?’ batin Chaerin sambil menggelengkan kepalanya.

“Chaerin-ah…! Ayam mencarimu!”

Yeoja itu menghela nafas, sebelum mengangkat tubuhnya dan berjalan menuju pintu kelas. Disana, ia mendapati seorang Lee Jinki tengah menunggunya dengan bersandar pada pintu.

Ia melihat jelas lingkaran hitam pada kedua mata berpupil hitam itu, dan ekspresi kelelahan terpampang jelas disana. Pandangan Chaerin melembut dengan hanya melihat wajah kekasihnya itu, serasa perasaan tadi malam hilang begitu saja.

“Telat? Tidur pukul berapa?” tanya Jinki, dengan ekspresi datar.

Chaerin mengangkat alisnya. “Tidak tahu. Aku tidak melihat jam. Kau?”

“Jam tiga,” jawab Jinki, yang langsung membuat yeoja itu membulatkan matanya. “Sudah sarapan?”

Yeoja berambut gelombang yang ditanya itu inginnya menjawab sudah, karena tidak ingin membuat Jinki cemas lantaran penyakit maag yang sering mengganggu dirinya. Namun, rasa lapar langsung menyergap ketika disadarinya, ia belum makan nasi sejak kemarin siang.

Chaerin akhirnya menggeleng pelan. Jinki menghela nafas.

“Sudah kuduga,” katanya. “Ini, kubelikan roti untukmu. Makanlah.”

Ia menatap sebuah roti yang disodorkan Jinki padanya. Padahal, jarang bagi namja itu untuk repot-repot datang ke kelas hanya untuk bertanya pukul berapa tidur, sarapan, apalagi membawakan sebuah roti untuknya.

Ditambah lagi, itu adalah roti kesukaannya. Roti coklat keju, dengan taburan keju setengah matang di atasnya.

“Kau sudah sarapan?” tanya Chaerin balik.

Jinki mengangguk. “Makanlah. Aku tidak mau maag-mu kambuh lagi.”

***

“Chaerin-ah! Chaerin-ah!”

Langkah kecil-kecil yang dibuat oleh seorang yeoja terpaksa berhenti, ketika didengarnya suara seorang namja memanggilnya. Ia yang tengah melewati sebuah kelas kosong membalikkan tubuhnya.

Alisnya mengangkat satu ketika dilihatnya Kim Jonghyun, anggota satu klub dengan Jinki tengah berlari-lari ke arahnya dengan nafas yang tersengal-sengal dan ekspresi cemas terpampang di wajahnya.

Namja berambut jabrik itu berhenti tepat satu langkah di depan Chaerin, dan lantas bertumpu pada lututnya. Sementara itu, sembari mengatur nafas, mengambil lebih banyak oksigen ke dalam paru-parunya.

“Ada apa, Jonghyun-ah?” tanya Chaerin heran.

Perlahan-lahan, Jonghyun mengangkat tubuhnya. Bulir keringat yang merembes terlihat jelas pada kaus putih yang ia kenakan di bagian sekitar lehernya. Latihan basket sore itu dan di hawa yang panas mungkin yang menyebabkannya, tentu saja ditambah dengan berlarian sepanjang lorong.

“Itu… itu…” Jonghyun menunjuk-nunjuk ke arah lapangan basket yang dapat terlihat jelas dari lantai dua bangunan sekolah tersebut.

Chaerin mengangkat alisnya. “Hah? Memang ada apa dengan lapangan basketnya?” tanyanya heran. Sesungguhnya, ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Jonghyun saat itu.

Namja berambut jabrik itu menggelengkan kepalanya gemas. “Bukan lapangan basketnya! Tapi tentang Ayam!” teriaknya frustasi.

Air muka yeoja itu berubah, ketika didengarnya kata ‘Ayam’ ditambah ekspresi wajah Jonghyun yang menunjukkan kecemasan. Ia berjalan mendekat dan meremas kaus Jonghyun, meminta penjelasan lebih. Mau bagaimanapun, siswa yang mendapat panggilan ‘Ayam’ di sekolah itu hanya ada seorang saja.

“Yaa… Jonghyun-ah katakan yang benar! Kenapa dengan Jinki?!” tanyanya tidak sabar.

Jonghyun menghela nafas panjang, dan setelah itu ia menarik lagi nafasnya dalam-dalam. “Asma. Asmanya Ayam kambuh. Cepat kau temui dia sekarang, dan antarkan pulang,” katanya berusaha tenang.

Sepasang mata coklat Chaerin membulat. Ia meremas kaus Jonghyun lebih kuat. “Lalu? Apa Jinki membawa inhalernya saat ini?”

Namja berambut jabrik itu mengangguk. “Iya. Sekarang cepat kau ke bawah.”

***

Namja berambut coklat gelap kehitaman itu tengah menyender pada tiang keranjang basket, sementara beberapa orang dari teman satu tim-nya duduk mengelilingi. Berkali-kali ia mendekatkan inhaler tersebut ke mulutnya, dan bernafas lagi.

Kakinya diluruskan ke depan, sementara handuk putih melingkar di sekitar lehernya. Satu tangannya yang bebas sedari tadi tengah mencengkram kaus birunya yang setengah basah karena keringat.

Suara derap kaki yang berasal dari seseorang yang berlari mengisi indera pendengarannya. Ia mengangkat wajahnya yang sedari tadi mengarah ke lantai lapangan. Dahinya mengernyit ketika dilihatnya seseorang yang tengah berlari.

“Chaerin-ah?” gumamnya pada dirinya sendiri.

Senyuman tipis yang tulus terbentuk pada wajah seorang namja berambut gelap, yang merupakan anggota satu tim dengan Jinki. Ia menepuk bahu kiri Jinki, sebelum mengangkat tubuhnya untuk segera beranjak.

“Ayo semuanya. Tuan putri yang akan menjaga pangeran sekarang,” candanya.

Namja yang tengah menyender tersebut memutar bola matanya. “Kau ini terlalu puitis, Minho-ya,” komentarnya.

Sedikit demi sedikit dari anggota satu timnya mengangkat tubuh mereka dan bersiap untuk beranjak, meninggalkan teman satu tim mereka yang sepertinya mengalami perubahan ekspresi pada wajahnya.

Chaerin menghela nafasnya dalam-dalam, ketika dilihatnya Jinki sudah bernafas seperti biasa, dan tengah duduk menyambut kehadirannya. Ia duduk di samping figur namja tersebut dan wajahnya meminta penjelasan.

Jinki menyeringai atas kelakuan kekasihnya itu. Ia yang mengerti dengan ekspresi yang diberikan, berusaha untuk mengubah posisi duduknya.

“Mungkin aku terlalu lelah,” ujar Lee Jinki membuka pembicaraan. Terasa aneh memang, dengan ekspresi cemas yang masih menempel di wajah Chaerin.

Yeoja itu memutar bola matanya. “Kenapa kau masih latihan? Memang Park songsaengnim tidak mengizinkanmu untuk tidak latihan? Ya tuhan, biasanya kan kau selalu lupa membawa inhalermu,” cerocos Chaerin tanpa berhenti.

“Sudahlah. Kau kenapa belum pulang?” tanya Jinki sambil mengacak-acak rambut kekasihnya.

Chaerin mengangkat bahunya. “Tidak tahu. Sepertinya sesuatu menahanku untuk pulang lebih lama.”

Yeoja itu mungkin tidak dapat mempercayai penglihatannya, karena sedetik kemudian ia bersumpah melihat kekasihnya itu tersenyum. Tulus. Sudah lama sekali sejak pengakuan cinta Jinki padanya, baru sekarang ia lihat Jinki tersenyum lagi.

“Mungkin kau ditakdirkan untuk pulang bersama denganku,” ujar namja itu, sambil berdiri dan menawarkan tangannya untuk Chaerin. “Mau ke taman?”

Chaerin tersenyum dan menerima tangan Jinki. “Baiklah, kalau kau masih kuat berjalan.”

“Apapun untukmu.”

***

If raindrops were kisses, I could send you showers

If hugs were seas, I’ll send you oceans

And if love was a person, I’ll send you me

(***)

***

Sender: Jinki-oppa

Selamat ulang tahun, Jagiya. Maaf aku tidak bisa datang ke acaramu. Pembina memaksa kami untuk rapat sampai malam.

Yeoja itu membaca teks pesan yang dikirimkan padanya berkali-kali. Ini adalah kali pertama baginya untuk merayakan ulang tahunnya bersama Jinki, namun lagi-lagi urusan Jinki menahan semua keinginannya itu.

Chaerin menarik nafas dalam-dalam demi mencegah bulir air mata yang sudah menggenang di sudut-sudut matanya. Saat itu dirinya tengah berada di dapur, ketika ia rasakan telepon genggamnya bergetar.

Sesungguhnya ia sudah dapat merasakan cikal bakal ketidakhadiran Jinki pada malam ulang tahunnya tersebut. Tiga perempat acara sudah berjalan, dan sosok kekasihnya belum juga muncul. Beberapa teman dari sekolahnya pun satu-persatu sudah pamit.

Hanya tinggal beberapa teman dekatnya yang masih berada di rumahnya kala itu. Miyoung, Minho, Taemin, Luna, dan Sulli. Sepertinya, Minho dan Taemin juga sedang bersiap-siap untuk pulang.

Yeoja berambut pirang yang sadar kalau sahabatnya tiba-tiba menghilang, segera menemukannya di dapur. Saat itu, Chaerin masih terpaku pada tulisan teks di telepon genggamnya, membuat Luna memutuskan untuk mencuri baca.

Matanya membelalak, dan segera ia sadari kalau Sakura sudah tidak dapat menahan air matanya lagi.

“Kau kuat, kau kuat. Ingat, Jinki itu namja yang akan selalu membahagiakanmu,” ujar Luna pelan, mencoba untuk menenangkan hati sahabatnya yang tengah terisak itu.

Yeoja itu menempelkan matanya yang berair ke blus ungu yang dikenakan oleh sahabatnya. “Tak bisakah aku di utamakan, Luna? Aku hanya ingin dia hadir, tidak lebih,” ujarnya.

Luna mengusap-usap punggung sahabatnya dengan bentuk lingkaran yang besar-besar. “Sudahlah, kau tidak perlu menangis. Sekarang ayo keluar, kami akan mempersembahkan hadiah terbaik untukmu. Khusus,” ujar Luna bercanda sambil menyeka air mata Chaerin dengan ibu jarinya.

Yeoja itu melepaskan pelukannya dengan Luna, lalu tersenyum. “Gamsahamnida. Kalian memang teman-temanku yang terbaik,” katanya.

Ting Tong!

Chaerin menoleh kearah pintu dimana belnya berbunyi. “Biar kubukakan dulu. Kau duluan saja,” ujarnya pada Luna.

Luna menganggukkan kepalanya, dan berjalan duluan menuju ruang tengah tempat dimana diadakannya pesta tadi. Sementara itu, Chaerin melangkahkan kakinya menuju pintu depan.

Keinginan pertama dalam dirinya adalah Jinki-nya yang tiba-tiba datang kala itu. Namun, semua permintaannya sirna ketika dilihatnya seorang namja berbaju biru muda keseluruhan dan memakai topi dengan warna yang sama.

“Hm… Shin Chaerin-ssi?” tanya lelaki yang memiliki tulisan Park Jungsoo yang dijahit pada kain di bagian dada kanannya.

“I-iya, benar saya sendiri.”

Namja itu tersenyum, seraya mengeluarkan sesuatu bermahkota merah dari balik punggungnya. Chaerin menyipitkan matanya untuk melihat benda itu lebih jelas. Hatinya terasa jumpalitan ketika dilihatnya setangkai bunga mawar yang tergenggam di dalam tangan namja tersebut.

Namja itu juga mengeluarkan sebuah kertas putih kecil dari dalam saku bajunya. Dengan satu tangan ia memegangnya, sementara tangan yang lain memegang bunganya. Ia berdeham.

“Sekitar sejam yang lalu, namja ini bertanya padaku, ‘Pak, anda tahu bunga mana yang cocok mengekspresikan perasaan cinta seseorang?’…”

Chaerin terpaku disana, tidak mengerti dengan apa maksud dari namja yang seolah sedang menceritakan dongeng padanya dengan suara merdu. Ia hanya berdiri disana, berpegangan pada pintu dan mendengarkan cerita yang tengah diutarakan.

“…lalu aku menjawab. ‘Mawar merah adalah bunga yang pas, Tuan. Mengirimkan banyak, artinya kau serakah. Namun, mengirimkan satu tangkai artinya kau romantis dan benar-benar mencintainya.’ Lalu, namja ini terdiam…”

“Pak, maksud anda―” Chaerin hendak bicara namun terpotong.

“…’kirimkan satu tangkai padanya. Dan sampaikan ini.’ Lalu, namja ini memberikan secarik kertas ini pada saya,” ujar si pengantar bunga itu sembari menunjukkan secarik kertas putih yang sedari tadi digenggamnya.

Selamat ulang tahun. Semoga kau menyukai bunganya. –Lee Jinki

***

Waktu sudah menunjukkan hampir mencapai tengah malam, namun Chaerin memilih untuk duduk di balkon kamarnya memandang ke seberang jalan, dimana cahaya kunang-kunang terlihat di dekat semak-semak. Kaus bergambar abstrak yang dipakainya tidak mampu menahan dinginnya malam.

Angin yang bertiup tiba-tiba sukses membuatnya bergidik. Perhatiannya agak teralih ketika dilihatnya mobil yang ia kenal berhenti di seberang jalan.

Chaerin memicingkan matanya saat sosok yang keluar dari mobil tersebut berdiri dan menatap kearah balkon kamarnya. Tapi, sedikit aksen di kepala sosok itu membuatnya berbisik.

“Jinki-ya?”

***

All the small things

True care, truth brings

(****)

***

“Tidak kukira kau akan datang kesini,” ujar Chaerin, yang duduk sambil memeluk lututnya.

Namja di sampingnya tersenyum. “Itu menjadikan aku sebagai tamu terakhir untukmu,” katanya. “Kau suka bunganya?”

Senyum terlukis di wajah Chaerin. “Sangat,” katanya sambil memeluk lengan kiri Jinki. “Kau tidak lelah?”

Namja itu menggeleng. “Aku punya tebakan untukmu.”

“Apa itu?” tanya Chaerin, yang tengah memandang jauh ke langit.

“Kenapa ayam menyebrang jalan?”

Yeoja itu terkikik. “Itu kan ada di dalam kartun SpongeBob. Hm… karena ingin sampai di seberang. Ya kan?”

Jinki menyeringai mendengar jawaban yang dilontarkan Chaerin. “Salah.”

Yeoja itu mengernyitkan dahinya. “Lalu jawabannya apa?”

Jinki menolehkan kepalanya dan memandang Chaerin dalam. “Karena… Ayam ingin bertemu denganmu.”

***

Don’t force me to change, dear

Because, I can only love you this way

(*****)

Fin

Author’s Note: Cuma satu. Don’t be a plagiator. ^_

8 thoughts on “Every Little Things

  1. Aishh….. Jinki-ya ku sllu bepikir dblik klakuanmu yg dingin i mmbosankan itu, stdaknya ada sdkit sisi romantis dri drimu….!!!! Sukaa thor ceritanya…. Srsa sya yg da dicerita ntu….!
    Onew tu bias keduaku stelah Eunhyuk….#ggnanya!
    DAE to the BAK….!?!!!!

  2. tolong author~ tolloooonng~ tolllooooonng ~
    aku melting aaaaa *Q*
    ya ampun jinki >////<
    suka banget sama penyusunan kata2nya! ^0^
    keep writting ya author u,u hwaiting! ;D

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s