She~

Title : She~

Author : @ghana704

Rate/Category : 13+/Romance

Cast : Your bias, and my chara :p *guess-please*

Disclaimer : in the bottom of this story ^^ enjoy :3

 

**

 

“Aku mencintaimu..” gadis dihadapannya menghentikan kegiatan memakan yoghurt strawberry kesukaannya. Tercekat dengan apa yang dikatakan oleh lelaki ini barusan. Terlalu mengagetkan. Tapi, Gadis ini lagi-lagi membohongi lewat wajahnya yang acuh-tak-acuh.

 

“Ne, arrasseo.” Ucapnya sambil kembali memelintir ujung rambutnya yang bergelombang, lalu asik dengan tatapan dinginnya pada pemandangan Seoul yang menurutnya biasa saja. Dan yoghurt strawberry, itu sahabatnya.

 

“Jadilah yeojachingu-ku kalau begitu. Kau sudah tahu, kan?” dan sesaat, gadis dihadapannya tidak dapat membohongi dirinya sendiri dengan memakai topeng tidak-peduli dengan semua ucapan namja yang sedang berusaha merayunya. Ya, lelaki yang satu tahun diatas dirinya adalah kakak kelasnya di sekolah. Sering bersama karena memiliki hobi yang sama, menggeluti bidang yang sama, bahkan mereka selalu akur. Hingga sekarang, saat bagi si lelaki mengutarakan semuanya setelah ia pendam selama enam bulan mengenali gadis itu.

 

 “Ne.” semua terasa berbeda setelah bibir gadis itu mengucapkan kata iya. Entah, rasa lega yang keduanya rasakan saat ini, tapi tidak di pihak sang lelaki. “..Oppa, ayo pulang.” Gadis ini –lagi-lagi- memasang wajah sok angkuh sambil berdiri dan membawa yoghurt strawberrynya. Ia berjalan didepan namja yang baru berdiri mengikuti langkah kecilnya. Langkah yang dibuat-buat untuk memperlambat suasana.

 

Namja ini tahu. Percuma saja mengutarakan cinta pada gadisnya. Dari mulai mereka bertemu, dia tertutup. Hanya berbicara seperlunya, makan yoghurt strawberry, malas keluar rumah, dan ya.. apapun yang dikatakannya, kadang tidak ia pedulikan. Apa termasuk yang ini? Apakah kata-kata cinta yang dibalas dengan ‘iya’ ini, juga tidak dipedulikannya?

 

Ah. Namja ini harusnya sadar! Apapun yang ia katakan, dan walaupun ini penting, gadisnya akan tetap tak peduli. Dan apapun jawabannya, itu juga tidak serius. Jadi, yang tadi itu.. pasti hanya jawaban asal.

 

Namja yang sedari tadi mengutuk dirinya sendiri karena terlalu berani untuk mengatakan cinta pada gadis angkuh pecinta yoghurt itu, menghentikan langkahnya. Melihat gadisnya juga berhenti. Mengeratkan mantel putih bulu-nya, memeluk tubuhnya sendiri. Namja –yang merasa terkutuk- itu akhirnya memberanikan diri untuk mensejajarkan langkahnya dengan si manis angkuh itu.

 

“waeyo? Kedinginan?” katanya. Sudah pasti ia akan melepaskan almamaternya, lalu disampirkannya di punggung gadis itu. Hanya saja, gadis itu tiba-tiba mencekal tangannya dengan lembut, “aniya oppa.”

 

“lalu, meseuniri iseotseumnikka? (*)”

 

“Yang tadi itu…” gadis itu melempar cup bekas yoghurtnya, lalu berusaha mendongak keatas. Melihat wajah lembut milik namja yang selama ini setia menjaganya kemanapun ia mau, “..aku serius.”

 

“Mwo?” sedikit tidak percaya, lelaki itu tersenyum separuhnya, “..ne. aku mau jadi yeojachingu oppa.” entah apa tarikannya, lelaki itu hanya menerima pelukan erat dari gadis yang tiba-tiba saja memeluknya. Pertama kali? Tidak juga. Tapi ini pelukan pertama setelah mereka resmi berpacaran.

 

“Dan aku akan berubah.” Ucapnya pelan dalam dekapan lelaki yang sebenarnya ia cintai sejak lama.

 

“Gomawo jagiya..”

 

**

 

Dan semua itu terlintas tiba-tiba dipikirannya. Ya, lelaki ini sedang berdiam diri, mematung tuts-tuts piano yang jarang ia gunakan selama ini. Mungkin karena namja ini terlalu sibuk dengan pekerjaan yang menyiksanya, bahkan berkas-berkas brengsek yang kadang masuk kedalam mimpinya. Semua itu terlalu mengganggu. Bersyukurlah, kali ini ia memiliki seminggu penuh untuk liburan. Setidaknya mengerjakan hal lain selain duduk dikantor dan mengurus urusan kantor yang menurutnya menyebalkan.

Senyuman manis itu merekah dibibirnya. Mungkin karena liburan panjang ini, ia baru bisa menggunakan lagi piano yang antik kesayangan miliknya. Piano yang jadi saksi bisu kehidupannya setelah bertemu dengan gadis itu beberapa tahun yang lalu. Namja ini mencintai musik, dan gadis itu juga. Mereka berkelut di bidang musik bersama, bahkan sering tampil berdua disetiap kesempatan choir Natal membutuhkan mereka.

Dan hanya gadis itu yang dapat merebut hatinya. Gadis angkuh pecinta yoghurt, tidak banyak bicara, dan berubah manja setelah ia memilikinya. Haha, lucu? Gadis itu terlalu lucu untuk dideskripsikan.

Namja ini malah tertawa dalam hati, dan mulai menuliskan apa yang sejak lama ingin ia tulis dibuku agenda bergaris kesayangannya. Mengingat dulu, terlalu banyak kisah cinta mereka.

“She, maybe the face I can’t forget.. The trace of pleasure or regret, Maybe my treasure or the price I have to pay…”

 

Tersenyum lagi setelah suara merdunya diselaraskan oleh permainan musiknya yang ternyata.. Well, not bad. Ini semua isi hatinya, dan tidak ada kata buruk untuk hal itu.

**

 

“Oppa, lihat apa sih, huh?” ucapnya kesal sambil memukul pelan puncak kepala namjanya yang sedang menatapnya lekat, “..risih.”

 

“Wajahmu..”

 

“Mwo? Waeyo? Ada yang salah?” kepanikan gadis ini mulai datang lagi. Sebelumnya, dia tidak pernah peduli dengan dandanannya, tata rambutnya, bahkan warna baju apa yang harus ia pakai jika ada dihadapan namja ini. Hanya saja, ia ingin terlihat selalu sempurna.

 

“Aniya, jagi. Kau terlihat semakin cantik. Hm, Your cheeks is specially..!” Lelaki itu menyentuh pipi pualam milik gadis yang mulai tersenyum kecut itu. Terlalu bosan –sepertinya- gadis itu harus mendengar bahwa ia itu cantik, semakin cantik, dan blalala~ karena namjanya mengatakan itu setiap kali mereka bertemu.

 

“Belajar menggombal dari mana lagi, huh?”

 

“Si Mokpo.” Jawabnya sambil memasang wajah tanpa dosa. Sepertinya, gadis dihadapannya sudah benar-benar lelah. Haha, melihatnya seperti itu bahkan menyenangkan.

 

“Oh, privat menggombal dari Donghae oppa?”

 

“Geurochi ansseumnida.. (**) tapi, gombalannya juga yang membuatmu terlena dengan auraku. Jadi, aku harus berterima kasih padanya.” Melihat rona merah dipipi milik gadisnya itu, lelaki ini berniat untuk tidak menghentikan acara rayuan-tidak-lucu ini. Ia mulai ketagihan melakukannya, setelah gadis ini malu dan pura-pura kesal.

 

“Kau narsis atau sok tampan, sih?”

 

“Aku memang tampan, jagiya..”

 

“Aish. Sepertinya kulempar saja namja sepertimu ke sungai Han. Supaya aku bisa tenang tidak mendengar gombalan payah darimu, itu.” Lelaki itu menggeleng kuat, lalu memajukan wajahnya. Berusaha memberikan desahan nafas panjang untuk meyakinkan gadis itu, “itu tidak akan mungkin terjadi.”

 

“Waeyo? Itu bisa saja terjadi. Kau bukan pembaca masa dep—“

 

“Aniya. Bagiku, kau adalah harta karun. Aku tidak akan bahkan tidak mampu berpikiran untuk melepasmu. Jadi, jangan membuatku menderita karena kita harus jauh, jagiya..” ucapannya terhenti dan ditutup oleh kecupan manis dikening gadisnya. Ya. mereka diam. Diam dalam keromantisme yang tercipta tiba-tiba diantara mereka.

 

**

 

Lelaki ini tertawa renyah tanpa suara setelah mengingat masa ketika ia rajin sekali merayu gadisnya. Memberinya ucapan-ucapan yang tidak penting, hingga rona merah diwajahnya keluar, lalu ia akan cemberut manja, dan tersenyum lagi setelah ia berhasil memberinya kecupan dikening si gadis itu.

Rasanya lama juga ia tidak melakukan hal itu. Ingatkah? Pekerjaan yang membunuhnya secara perlahan sudah menghilangkan semua hobinya. Termasuk mengingat masa-masa indah itu. Gadis itu harta karun baginya, bahkan dari semua musim indah di dunia ini, ia akan tetap terlihat cantik dimatanya. Dan lelaki ini, kembali berkutat dengan bolpoin hitam ditangannya, dan kembali menuliskan lagi apa yang ia rasakan. Sepertinya, ini akan jadi hobi barunya.

“She, maybe the songs that summer sings.. Maybe the chill that autumn brings.. Maybe a hundred different things, within the measure of the day..”

 

Dan masa lalu itu.. akan selalu ia cintai. Apalagi ketika gadis itu benar-benar ada dipelukannya.

**

 

“terima kasih untuk 8 bulan ini, oppa. semuanya terasa sangat berarti.” Tuturnya sambil memasukkan tangan kiri kedalam saku roknya, dan tangan kanan masuk kedalam mantel milik namjanya. Mereka sedang bergandengan dan merasakan dinginnya angin di musim gugur yang sedang menyapa Seoul –khususnya-. Berdua melangkah ditengah-tengah gugurnya dedaunan kuning berjatuhan, hingga mereka sendiri tidak kenal waktu untuk merasakannya.

 

“Waeyo? Pasti karena bahagia memiliki namjachingu sepertiku, ya?” gadis itu menghentikan langkahnya seraya menginjak kaki namja-nya. Meringis, dan gadis itu puas.

 

“Berhenti menggombal! Aish, Donghae oppa memberimu apa, sih huh!?”

 

“Haha, mianhaeyo.. apa yang membuatmu merasa spesial?” wajah manisnya berubah menjadi wajah yang sedang berpikir keras, lalu tersenyum menatap jalanan kecil yang penuh dengan warna daun  yang menggelap.

 

“Musim semi yang lalu, setiap pulang sekolah, oppa membawaku ke taman ini dan bernyanyi, atau mengerjakan tugas bersama, bahkan tertidur dibawah pohon saat kita benar-benar merasa lelah. Tapi yang paling aku suka, ketika oppa bernyanyi dan mengajakku piknik!”

 

“haha, itu menyenangkan sekali, jagiya..” ucapnya sambil merangkul gadis itu dan kembali berjalan mengitari taman.

 

“Musim panas terasa menyenangkan ketika oppa mengajakku bermain ke pantai. Ku pikir, musim panas hanya akan membuatku gerah saja. Ternyata, oppa menyadarkanku. Haha.” Akunya renyah, gadis itu kembali memainkan kakinya menendang bebatuan kecil disekitarnya.

 

“Lalu?”

 

“Dan musim gugur ini, oppa membawaku ke studio musik dan memainkan alunan musik kesukaanku seperti siang tadi. Ah, rasanya aku yeoja paling bahagia saat ini!” Gadis itu melompat kecil, menandakan bahwa ia benar-benar suka dengan perlakuan lelaki disebelahnya selama ini. Ketika itu, lelaki disebelahnya menatapnya lekat dengan jarak yang terbilang dekat.

 

“Kalau begitu, aku ingin melakukan ratusan hal mengasyikkan lagi denganmu..” gadis itu tersenyum, “..masih mau setia denganku jagiya?”

 

“Ne, itu sudah pasti oppa.” dan pelukan itu, pelukan hangat mereka kembali terjadi di musim gugur ini. Oh ya, satu musim lagi.. –pikir namja itu.

 

“Bagaimana dengan winter nanti?”

 

“Aku tidak punya planning, oppa.”

 

“Hm, kalau bermain game dan kabur dari sekolah?” saran ‘keji’nya itu dibalas dengan tonjokan pelan dari kepalan tangan si gadis yang mendarat di dada bidang miliknya, “..Oppa nakal!”

 

“Itu mengasyikkan!” kata namja itu yang sekarang membalasnya dengan sebuah senyum kecut dan bibir cemberut khasnya. Memelankan suaranya, dan memaksa gadis itu untuk mengikuti saran –gila-nya, “ya sudah, joayo!”

 

**

 

Delapan bulan, sembilan bulan, setahun, dua tahun, empat tahun… Empat tahun mereka bersama. Melepaskan gelar pemusik bersama-sama, lalu masuk ke dunia perkuliahan yang sama juga. Ya, lelaki ini sedang menghitung berapa lama rasa cinta itu tumbuh dan semakin merekah diantaranya dan gadis itu. Masih didepan piano antik beraksen prancis dengan ukiran hitam-kecoklatan menggambarkan lukisan indah itu, dan masih dengan pikirannya yang melanglangbuana ke masa-masa itu.

Masa dimana ia merasakan sinar indah yang diberikan Tuhan padanya, dan masa ketika ia benar-benar terluka dibuatnya. Semua –di dunia ini- ada lawannya. Bahkan ketika masa indah itu terjadi, tak terduga masa itu akan segera datang, tanpa ia undang dan tanpa ia mau. Tanpa sengaja, namja ini menekan nada minor yang menurutnya menakutkan, membawanya berpikir kenapa harus ada hari itu.

“She.. Maybe the beauty or the beast.. Maybe the famine or the feast, may turn each day into a heaven or a hell..”

 

Dan kejadian hitam itu, hampir menjerumuskan gadis miliknya kedalam neraka.

**

 

Lelaki ini –kini- benar-benar bingung harus lari kemana, harus mencari kemana, sedangkan ia tahu bahwa dunia ini terlalu besar untuk ia jelajahi dalam waktu semalam. Ia percaya, ia mampu untuk mencari gadis miliknya itu, hingga keujung dunia pun.. mungkin, itu masih mungkin. Tapi tidak untuk malam ini, setelah otaknya benar-benar meracau dan panik, ia tidak tahu harus pergi kemana.

 

Dua hari yang lalu, gadis itu memintanya untuk tidak pulang bersama. Lalu hari setelahnya, ia menghilang tanpa kabar. Dan malam ini, lelaki ini mendapat info buruk dari eomma sang gadis, bahwa gadisnya menghilang entah dimana.

 

Persetan, apapun yang terjadi, tidak boleh seorang pun merusak gadisnya. Dan entah apa yang ia pikirkan, namja yang sedang panik ini menghentikan mobil audi hitamnya disisi jalan tanpa sebab pasti, karena melihat seorang melambai kearahnya. Donghae. Dengan segera, lelaki ini turun dari mobilnya dan bergegas menuju lelaki berbadan tegap yang bernama Donghae itu.

 

“Yak, Kyuhyunnie! Cepat lihat gadismu didalam! Aku sudah berusaha menghentikannya tapi tidak bisa!” tatapan panas dari lelaki bernama Kyuhyun itu terasa membakar seluruh tubuhnya sendiri. Donghae –sahabatnya itu- baru bilang kalau gadis miliknya ada didalam? Sial. Ini, Bar?

 

Tanpa buang waktu, Kyuhyun mendekat kearah gadis yang memakai mantel dan pakaian seadanya. Rok selutut, dengan oblong panjang berwarna biru muda, dan mantel tebal yang hampir menutupi seluruh pakaian yang ia pakai. Kyuhyun –dengan paksa- menggerakan dagu gadis itu dengan kedua jarinya, dilihatnya, ya. ia terlihat pucat. Bahkan mabuk parah.

 

“Jagiya! Apa yang kau lakukan disini, huh! Ayo pulang!” tariknya keras, tapi gadis itu menepisnya. Gadis itu kembali menggoyangkan botol berwarna hijau tua transparan itu, dia terlihat ketagihan namun tak kuasa untuk kembali menegaknya. Gadis miliknya sudah terkuasai oleh bejatnya alkohol.

 

“hm, dunia ini penuh dengan iblis, kyuhyunnie..” Kyuhyun masih berusaha menariknya untuk berhenti. Ia tahu, gadis miliknya benar-benar sedang meracau. Bahkan setelah bau alkohol yang menyeruak dari mulutnya, Kyuhyun benar-benar bingung harus menghentikannya.

 

“Yak! Jagiya! Ayo pulang saja!” Kyuhyun menjauhkan botol-botol bejat itu dari sekitar mereka, lalu menggenggam lengan gadis itu hingga ia mau turun dari kursi tinggi yang sedang ia duduki.

 

“Lepaskan aku! aku mau mati mabuk saja, rasanya menyenangkan!” lagi-lagi ia meracau. Tanpa pikir panjang, Kyuhyun memeluk perut gadis itu dan mengangkatnya pergi dari tempat berkumpulnya iblis-iblis yang merusak kehidupan gadisnya. Gadis itu, tentu saja berontak dan memukul punggung Kyuhyun dengan tangan bebasnya, berteriak sekencang-kencangnya, dan berusaha menendang apa saja yang bisa ia tendang.

 

“LEPASKAN AKU! AKU TIDAK MAU PULANG! AKU MAU MATI SAJA!!” Teriaknya tanpa henti, hinggai Kyuhyun memasukkannya kedalam mobil dengan paksa, mengunci tubuhnya dengan belt yang sekarang sudah melilit ditubuh gadisnya. Dan Kyuhyun masuk kedalam kursi mengemudi setelah berterima kasih pada Donghae sudah ikut mencarinya. Melihat gadisnya itu terus berteriak tanpa henti, Kyuhyun mulai terluka karena hal ini. Apa yang membuatnya seperti ini?

 

“Jagiya, hentikan! Atur nafasmu, okay? Tolong, dengarkan aku!” Ucap Kyuhyun dengan berani menatap dua bola mata gadisnya yang terlihat lelah, sambil memegang kuat kedua pipinya dengan kedua tangannya. Gadis itu, tetap berontak.

 

“AKU TIDAK MAU PULANG! Bawa aku mati!! Kalau kau peduli padaku, temani aku mati!!”

 

“Yak, ne! aku akan menemanimu hingga mati. Sekarang tatap aku, jagi. Dengarkan aku.” Gadis itu tetap berusaha membuang tangan Kyuhyun dari pipinya. Bahkan mencakarnya hinga kulit mulus milik Kyuhyun terluka. Kyuhyun tak apa untuk itu, tapi gadis yang ada dihadapannya hampir mati dan menuju neraka. Empat, ya. tadi empat botol ukuran kecil habis diteguknya.

 

Beberapa detik kemudian, gadis itu mulai luluh dengan tatapan Kyuhyun yang tajam dan berhasil menerobos dinding pertahanan iblis di otaknya.

 

“Katakan, apa yang terjadi jagiya..” Gadis itu diam, lalu beberapa saat setelahnya, tangisnya pecah dan keheningan tidak lagi terasa. Tubuh dingin gadis itu kini dipeluknya erat, seakan Kyuhyun menginginkan ‘semua baik-baik saja’ dan semua ini berakhir. Tapi tidak. tidak untuk hal ini.

 

“Appa..” suara lembut isakan gadis itu terdengar jelas ditelinganya, tangannya yang memeluk erat Kyuhyun seakan mengartikan bahwa ia tidak ingin pergi dan jauh dari pelukan ini. Sedangkan Kyuhyun, tetap berusaha positif tentang hal yang akan disebutkan gadisnya, “..appa menjodohkanku.”

 

Semua tidak baik-baik saja. Gadis ini akan pergi, dan jauh dari pelukannya.

 

“..tepatnya, membayar hutangnya.”

 

**

 

Kini Kyuhyun membeku. Tangannya gatal untuk terus menulis, tapi tidak hati dan pikirannya. Menatap tulisannya sendiri saja, seakan tak percaya bahwa itu dilewatinya. Masa-masa itu dilewatinya, dan ia melepaskan gadis itu.

Nada minor kembali terdengar dan memecah keheningan dalam ruangan penuh dengan kaca ini, Kyuhyun merasa bahwa hidupnya adalah nada minor yang ia buat sendiri. Terlalu menyakitkan untuk dirasakan, apalagi untuk didengar orang lain. Kyuhyun meninggalkan pianonya, meninggalkan catatan-catatan miliknya, dan ia memilih untuk melangkah pelan menuju jendela besar yang terbuka lebar. Angin hangat musim semi menerpa tubuhnya, seperti memeluknya. Ya, ketika itu, ketakutan akan kehilangan pelukan gadis itu selalu ada. Dan selalu membuatnya tidak bisa bernafas.

Bahkan, bernada pun tidak bisa. Makan, tidur, bicara, bergerak, terasa sulit untuk dilakukannya. Kyuhyun berbalik kearah lain. Dimana ada cermin besar, seakan menampilkan sosok dirinya saat itu. Sedih. Tanpa kehidupan disisinya. Hatinya runtuh seketika. Hari-hari terlalu sulit untuk dijalaninya. Bahkan sosoknya –dicermin itu-, terlalu mendambakan gadis itu kembali. Ya, itulah Kyuhyun ketika itu.

“She.. maybe the mirror of my dreams. The smile reflected in a stream… She may not be what she may seem, inside her shell..”

Begitu suara nada indahnya memenuhi ruangan itu, disanalah ia merasa kehilangan.

**

 

Kyuhyun masih berkaca dipantulan cahaya matahari yang menerpa sungai dibawahnya. Ia tetap terjaga dalam tumpuan lengannya diujung pegangan jembatan kecil itu. Sesuatu akan terjadi disini, sesuatu yang akan membuatnya bahagia atau bahkan terluka.

 

Dan lelaki ini terus berdoa, apapun nanti yang terjadi, itulah yang terbaik. Jika cintanya tidak dapat terus berjalan, doa-nya akan menyertai segalanya milik gadis itu. Gadis yang dicintainya. Lelaki yang hanya memakai celana jeans dan kemeja polos berwarna agak gelap itu, mulai merasakan sesuatu yang menyakitkan dihatinya. Sugesti bahwa ini akan buruk. Sebagai lelaki, ia tidak bisa memaksa apa kehendaknya.

 

Langkah pelan itu terasa menghentak jembatan kayu yang ia pijak. Ia tahu, itu Alicia. Gadis Korea-Kanada yang selama ini mewarnai hidupnya. Dan tanpa menoleh pun, Kyuhyun tahu, Alicia sedang berdiri disebelahnya.

 

“Apa yang kau lakukan selama menungguku, oppa?” tanyanya pelan, dan terdengar terpaksa. Kyuhyun –juga- tersenyum terpaksa, lalu menoleh lagi kearah pantulan cahaya sungai yang menampilkan tubuhnya dan tubuh Alicia. Dia terlihat manis dengan cardigan putih dan syal biru mudanya, dan itu semua.. dari Kyuhyun.

 

“Tidak ada.” Alicia melihat wajah yang dirindukannya akhir-akhir ini, walau hanya dari pinggir. Kyuhyun tetap –terpaksa- melihat aliran sungai deras –karena ia tak kuasa melihat gadisnya pergi-, “Memandang wajah seseorang yang terlihat sedang memandangku di sungai itu. Wajahnya terlalu bening, seperti cermin. Akan sulit untuk kulupakan.”

 

Dan kebekuan diantara mereka terasa lagi. Alicia menahan air mata dipelupuk matanya, Kyuhyun sering memberi peringatan padanya untuk selalu tersenyum, bukan menangis. Tapi kini Alicia tahu, Kyuhyun, sosok kuat itu, juga meneteskan air matanya kini.

 

“Dia segalanya bagiku, lebih dari apapun.”

 

“eotokkhae..” sendunya, dan Alicia berlutut tanpa sebab. Topeng yang biasa menjadi tamengnya, sudah tidak dapat dipakai lagi jika ada dihadapan Kyuhyun. Rasanya terlalu sulit untuk menyembunyikan rasa sakit dalam hatinya. Alicia, menangis, menutup wajahnya, tersedu dan menunduk kearah kayu jati cina yang mereka berdua pijaki. Kyuhyun ikut berlutut, ia tak peduli dengan air matanya sendiri, ia lebih peduli dengan keadaan gadisnya. Dan lelaki ini menggenggam erat lengan Alicia, mencoba membuatnya untuk berhenti menangis.

 

“Katakan padaku. Semua yang akan kau katakan, akan kuturuti.” Ucapnya lemah. Alicia mulai mendongak, menatap wajah yang ternyata sama pucatnya.

 

“Kalau aku harus pergi, apa oppa akan mengejarku?” tanyanya pelan. Rasa sendu itu terlalu menyelimuti mereka berdua, “..setidaknya menahanku?”

 

“Jagiya..” Kyuhyun menyampirkan beberapa helai rambut gadisnya kebelakang teliganya, dan membelai lembut rambut bergelombang miliknya, “..aku mencintaimu. Dan apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintaimu. Jika keadaan ini akan memisahkan kita.. aku akan terima. Kalau kau menyuruhku untuk menahanmu, aku akan lakukan. Dan jika kau—“

 

“Sekalipun itu menyakitkan untuk kita, kau akan terima?”

 

“Ne. semuanya yang terbaik untuk kita, right?” gadis itu perlahan mengangguk. Beban dalam hatinya mulai sedikit mengendur, walau masih ada sisa. Nafas Alicia mulai teratur, isakannya sudah tidak terdengar lagi. Ya, Alicia akan membuka lembaran barunya.

 

“aku… aku akan pergi ke Tokyo lusa. Aku, akan menikah dengannya..” serunya pelan, namun hantaman seperti gempa bumi menyeruak di hati si lelaki. Dia sudah berjanji, akan menerima. Janji tetap janji. Ya, Kyuhyun mengingat itu, hingga senyuman –paksaan-nya terlukis dibibirnya.

 

“Kalau begitu, aku akan mengantarmu ke bandara lusa.” Mereka memakai topeng ‘bahagia’ masing-masing, meski rasa itu, pada akhirnya berakhir luka.

 

**

 

Kalau mengucapkan rasa cinta itu begitu sederhana seperti dalam novel picisan remaja, kenapa Kyuhyun tidak dapat melupakannya dengan sederhana juga? Pikirkanlah. Seorang lelaki. Menerima kenyataan-bahwa- gadisnya harus pergi hanya karena kesalahan fatal yang dibuat orang lain, bukan dibuatnya.

Kyuhyun –ketika itu- sudah memperjuangkan cintanya. Datang kerumah Alicia, memaksanya untuk tinggal bahkan Kyuhyun berjanji akan menikahinya, tanpa Alicia tahu akan hal itu. Orang tua pihak ibu setuju dengan hal yang dipegang kukuh oleh Kyuhyun, tapi tidak di pihak ayah, yang menolak mentah-mentah lamaran kilat Kyuhyun.

Dimana Alicia? Dia. Mengurung diri selama beberapa minggu, tidak mengijinkan siapapun masuk, termasuk Kyuhyun. Ya, mungkin pilihannya terlihat terpaksa, tapi menghargai orang tua adalah kriteria anak yang tidak durhaka, kan? Kyuhyun sudah memperjuangkannya. Tapi gagal. Lalu?

Apapun harus ia terima.

Dan kini, Kyuhyun melangkah kembali ke kursi pianonya. Berharap kejadian itu menghilang dari pikirannya, lalu tidak terjadi lagi. Melepaskannya, dan jauh darinya, terlalu menyakitkan ketimbang harus melihat wajahnya sendiri di cermin. Jemari lentiknya kembali bermain diatas barisan hitam putih berdebu miliknya, lagi-lagi, suara berat tingginya itu, menekan oksigen dalam ruangan itu, dan suaranya terdengar berkuasa didalam sini.

“She.. always seems so happy in a crowd. Whose eyes can be so private and so proud.. No one’s allowed to see them, when they cry..”

 

Suaranya, kembali menguasai segala perasaannya.

**

 

“Aku tidak ingin pergi.” Ucapnya setelah mendengar panggilan pertama pesawatnya, berdiri menyelempangkan tas kecilnya, dan disusul oleh lelaki tinggi dibelakangnya.

 

“Aku juga.. tidak ingin kau pergi.”

 

“Kenapa tidak menahanku?” serunya pelan, tidak ingin ada lagi kesedihan diantara mereka. Kyuhyun dan Alicia sudah berjanji untuk tidak menangis karena hal ini. Kyuhyun tersenyum manis dan merangkulnya sambil berjalan pelan kearah lorong bandara, Alicia tidak pernah tahu tentang usahanya memperjuangkan cinta mereka.

 

“Menghargai orang tua adalah jawaban terbaik, jagiya.. masalah aku mencintaimu atau tidak, tanpa kujawab pun, kau selalu tahu jawabannya. Kemana pun kau akan pergi jauh, aku akan mencintaimu. Jadi, tanpa kau minta pun, akan kulakukan. Usahaku memperjuangkan cinta kita, sepertinya sudah tidak berarti.” Kyuhyun menghela nafasnya, lalu pelan menghembuskannya, “Aku bahagia, jika kau bahagia dengannya.” Kyuhyun mengelus pelan puncak kepala Alicia, dan ia merasa.. sepertinya, topeng yang jadi tamengnya, akan luntur sebentar lagi.

 

“Lalu, bagaimana jika aku tidak bahagia?”

 

“Tersenyumlah, dan hubungi aku jika dia jahat padamu.” Beberapa lama mereka saling diam, membiarkan suara lalu lalang hentakan kaki para calon penumpang pesawat memenuhi telinga mereka berdua. Kyuhyun dan Alicia, menghentikan langkahnya secara bersamaan. Betapa saat-saat ini begitu sulit untuk dialami. Alicia, menatapnya, menatap lekuk wajahnya yang selalu membuatnya tenang, entah sudah berapa tetes air yang keluar dari matanya, “Hey jagiya, bukankah kita berjanji untuk tidak menangis?”

 

“Ini tangisan bahagia, oppa. aku terharu, cinta kita begitu berat untuk dijalani. Aku dan oppa, tegar menghadapi ini. Aku.. aku tidak percaya dengan diriku sendiri.”

 

“Jangan menangis. aku tak peduli, tangisan bahagia atau bukan. Aku lebih menyukai wajahmu ketika sedang tersenyum kecut padaku daripada memerah karena menangis, arra?” tuturnya sedikit bergetar, dan anggukan menjadi tameng Alicia di kehidupan selanjutnya.

 

“Arrasseo, oppa..”

 

“Segera kirim e-card undangan pernikahanmu kalau.. mm.. kalau kau, jadi menikah..” pinta Kyuhyun dengan suara parau, dan nada yang begitu pelan tak berdaya. Sulit untuk Kyuhyun mengatakan hal itu, apalagi setelah tahu, nanti, bukan namanya yang tertera di undangan pernikahan gadis yang ia cinta.

 

“Oppa akan datang?” tanya gadis itu berani, walau kedua tangannya terkepal menguatkan seluruh tubuhnya, dan menggigit bibirnya setelah melihat Kyuhyun yang benar-benar terlihat terluka.

 

“Entah..” ia berhenti sejenak, “Tapi jika itu membuatmu bahagia. Aku akan datang.” Lanjutnya. Dan setelah panggilan kedua pesawat Alicia, mereka mengalihkan pandangan kelain arah. Sepertinya, menatap satu sama lain akan membuat luka lebih dalam untuk keduanya.

 

“Baiklah oppa. aku akan pergi, tidak akan melupakanmu. Gomawo jeongmal, untuk segalanya yang pernah kau berikan padaku.” Ucapnya, dan Alicia berani untuk menatapnya yang terakhir kalinya. Tangisnya pecah lagi, walau judulnya adalah ‘tangis terharu’. Ya, Alicia menatap wajah Kyuhyun, “Saranghaeyo, oppa..” dan itu, akan jadi pelukan terakhir mereka. Kyuhyun mengecup pelan puncak gadis yang sedang terisak dipelukannya.

 

“Pergilah, kau selalu tahu apa jawabanku terhadap pernyataanmu itu.” Setelah beberapa saat, setelah Kyuhyun merasa bahwa pelukan itu sudah cukup untuk menahan lukanya, ia melepaskan Alicia dengan senyuman manis.

 

“Oppa mau menungguku?” Alicia menggenggam erat kedua tangan Kyuhyun yang terasa dingin, “Oppa sudah memperjuangkan cinta kita. Aku juga akan berusaha. Doakan aku.” Kyuhyun mengangguk, “..tetap cintai aku, oppa..”

 

“Ne, Jagiya..”

 

Kumohon jangan pergi, Alicia..

“Joayo..”

 

Tetaplah tinggal denganku..

Dan setelah genggaman kedua tangan mungil itu terlepas, Alicia membalikkan tubuhnya, “annyeong oppa.. josimhae..”

 

Tolong jangan pergi, Alicia. Sembuhkan dulu lukaku..

“Annyeong jagiya..” Kyuhyun melepaskan Alicia yang gontai pergi dengan lompatan-lompatan kecilnya, mengucapkan kata ‘selamat tinggal’ terasa kelu di bibirnya, bahkan ia tak mau mengucapkannya. Mereka terpisah dalam hitungan detik.

 

Alicia, kini berjalan masuk ke lorong yang akan membawanya pergi dari hidupnya yang penuh warna dengan lelaki penuh canda itu, ia begitu gontai setelah berbalik dan pergi darinya. Tanpa ia sadari, langkahnya melambat. Dan tangisan itu menyelimuti dirinya, tamengnya sudah jatuh entah dimana. Dan Kyuhyun… Alicia sadar, lelaki itu faktor utamanya.

 

Bagaimana dengan Kyuhyun? Berdiri membeku membiarkan yang lain berlalu-lalang dihadapannya, karena tatapan tajamnya kosong entah kemana, setelah membiarkan gadisnya pergi jauh darinya. Kyuhyun menghitung langkah gadisnya hingga benar-benar melihatnya tertelan kerumunan, betapa cepat ia harus melepaskannya, sedangkan memperjuangkan cintanya dengan Alicia begitu lama. Ya, prediksi terhadap topengnya luntur itu benar, lelaki ini –dengan terpaksa- mengeluarkan air matanya.

 

Bisikan-bisikannya tidak berguna lagi. Alicia sudah pergi. Meninggalkan jejak luka permanen dihatinya. Tapi tenanglah Alicia, hatiku tidak akan mati untukmu. – gumamnya dan berbalik. Berharap semuanya akan baik-baik saja.

 

**

 

“She.. Maybe the love that cannot hope to last, may come to me from shadows of the past.. That, I’ll remember till the day I die..” suaranya kembali menggema dan menguasai seluruh aura dalam ruangan yang sedang ia tempati sendirian ini. Jemarinya kembali memeluk bolpoin, lalu menulis lagi setelah permainan pianonya berakhir dengan indah.

Pikirannya tidak lagi meracau ke masa itu, justru senyuman manisnya ini –yang sedang terlukis di bibir merah mudanya- sedang merasakan bahagia yang sangat dalam. Ya, gadis itu sudah bahagia dengan orang yang ia pilih sekarang. Dan Kyuhyun, bahagia akan hal itu.

Seperti yang ia inginkan, semuanya baik-baik saja. Tidak ada lagi yang harus ia sesali, tidak ada lagi acara menangis karena luka permanen yang tadinya dipikir-pikir, mungkin tidak akan hilang. Ya, ia bisa menghapusnya sendiri. Setelah dia datang dan mencerahkan hidup Kyuhyun, tanpa harus kembali memikirkan cinta penuh luka itu.

‘tok tok’. Suara ketukan pintu dibelakang Kyuhyun membuyarkan lamunannya. Tanpa ia harus menoleh, itu pasti dia. Ya, pasti! Kyuhyun mulai berpikir cepat, dan semuanya tertulis begitu saja di agenda bergaris itu. Menyelesaikan proyek kecil yang lebih penting dari proyek perusahaan bersama koleganya yang berasal dari Prancis itu, lalu menutup agendanya dan menghela nafas. Huh. Ini akan menyenangkan.

Tanpa ia suruh masuk, seseorang itu masuk dengan langkahnya yang tidak terlalu terburu-buru, lalu menaruh nampan diatas piano kesayangannya. Bisa Kyuhyun tebak, Hot Capuchinno, dan dua Choco Muffin buatan wanita yang sekarang duduk disebelahnya dengan manja. Sarapan yang paling ia suka disetiap liburannya.

“Kupikir, kau ada dikamar dan masih tidur. Ternyata kau rindu dengan pianomu.” Ucapnya dengan nada cantik. Wanita milik Kyuhyun ini bersandar ke dada bidang Kyuhyun, membiarkan rambutnya menjuntai ke dress-tidur berwarna putih selututnya. Dan Kyuhyun, merangkul leher wanita muda itu dan memainkan rambutnya, “sudah kubuatkan Hot Capuchinno kesukaanmu.” Kyuhyun sudah tahu, bahkan menebak dengan tepat. Hot Capuchinno, bukannya hanya itu yang bisa dibuat istrinya selain yoghurt? Haha. Masih sama seperti gadisnya dulu, Kyuhyun mendapatkan lagi gadis-yoghurt! Ya, wanitanya ini lebih banyak mengandalkan minuman instan.

“Gomawo~” Kyuhyun membelai lengan wanitanya yang halus. Kulitnya yang mulus terus dielusnya dengan lembut, “..aku namja paling bahagia yang memilikimu. Ah, pekerjaanku membuat kita tidak bisa terus seperti ini, jagiya. Mianhae for that.

Wanita itu tersenyum sambil menutup matanya, merasakan harum parfum maskulin Kyuhyun yang menusuk hidungnya, membuatnya sedikit terbuai dengan pelukannya kali ini, “I do know. Aku ingin bermain piano lagi tapi aku lupa caranya. Hm, direktur tampan sepertimu, pasti sedang sibuk-sibuknya.” Wanita itu tiba-tiba mengecup leher bagian bawah Kyuhyun, “..tapi bisakah kau menjadi satu-satunya milikku hari ini?”

“Aku tidak mungkin lupa dengan hari ini, jagiya..” Kyuhyun menegakkan tubuh wanita manis disebelahnya, dan mencium keningnya dengan lembut, “Happy Birthday, dear. Well, my life is so wonderful because I could meet you..” ucapnya pelan, “So, don’t leave me.”

 

“I promised to keep this love until I die..” Setelah kedua senyum itu merekah di bibir masing-masing, dan Kyuhyun mendaratkan kecupan keduanya di kening wanita miliknya di pagi ini, Kyuhyun memberikan agenda miliknya pada yeojanya. Dan, haha, dia belum mengerti.

“Apa ini? Agenda milikmu?” Kyuhyun mengangguk, lalu membiarkan yeoja disebelahnya membaca isinya. Tulisan terbaik Kyuhyun tercipta diatas kertas bergaris itu. Wanita itu masih membacanya, dan membiarkan telinganya dimanjakan oleh alunan nada yang tercipta dari jemari lentik lelakinya. Wanita itu berkerut tak percaya, melihat tulisan kecil dibawah tulisan berbahasa inggris itu,

‘Happy Birthday Jaggy, I made this song for you. I made this because I love our hard-life. I made this because I love you.’

 

Dan wanita ini, nyaris tak percaya setelah membaca semuanya. Ternyata, kemampuan romantis milik lelakinya dalam bermusik masih ada.

“Ini buatanmu?”

“Siapa lagi!” seru Kyuhyun mengerling nakal. Dan wanita itu memeluknya dengan erat, seakan ia benar-benar berjanji tidak akan melepaskannya. “Gomawo, oppa..”

“Anything for you, Jagiya..”  katanya sambil mengacak rambut kecoklatan milik yeoja-nya itu. Dan yeoja itu, kembali membaca tulisan Kyuhyun, merasa ada yang spesial dalam kata-katanya.

“Oppa, bisa nyanyikan bagian yang ini? Aku suka kata-katanya. Kau.. kau benar-benar menuliskan semuanya.” Pintanya sambil mengeratkan pelukannya, Kyuhyun mengangguk riang dan kembali asik dalam dunianya. Mengingat segalanya yang ia lewati…

“She.. maybe the reason I survive.. the why and wherefore I’m alive.. the one I’ll care for through the rough and ready years..”

 

Mengingat segalanya yang ia rasakan, luka, bahagia, luka, dan bahagia lagi… Kyuhyun mencintai hidupnya, persis dengan ia mencintai gadisnya kali ini. Oh ya, dia sudah jadi seorang wanita muda setelah diperistrinya. Tahun-tahun terasa lambat berlalu setelah Kyuhyun benar-benar mendapatkannya, mendapatkan wanitanya…

“Me, I’ll take her laughter and her tears, and make them all my souvenirs..”

 

Dan Kyuhyun bersedia untuk selalu ada untuknya, ada ketika ia tertawa, bahkan menangis. Kyuhyun bersedia mengikuti apa katanya, seperti yang ia lakukan pada gadisnya saat itu…

“For where she goes I’ve got to be.. The meaning of my life is, she..” dan Kyuhyun berhenti di akhir nada mayor yang menurutnya paling indah untuk dipersembahkannya pagi ini. Setelah permainannya berakhir, wanita muda berwajah manis itu mengalungkan kedua tangannya manja di leher Kyuhyun dari arah kanannya, lalu mencium pipi milik Kyuhyun.

“Thanks for everything, special things, or your angel voice, to came into my life and  made the living fine. I cant give you anything what you want. I just wanna to tell you, I love you, My Cho Kyuhyun..” bisiknya dengan indah, Kyuhyun berbalik arah dan benar-benar memeluk wanita miliknya. Betapa ia bersyukur menemukannya, memilikinya utuh tanpa luka.

“I don’t care what the world may say, without your love there is no day.. hm, So, this is my love here is a song a serenade to you..” Kyuhyun menatapnya lagi, dan mencium bibir wanita dihadapannya yang sudah tak berjarak lagi, “.. I know why the world is smiling so tenderly.. Because..”

 

“Because?”  Tanya yeoja-nya yang terlihat bingung dengan kalimat Kyuhyun yang menggantung.

“Because I have you, My Cho Alicia Cosgrove… My dearly wife..”

**

 

– Yeah, and he found his ‘she’. His love. His reason to smiling brightly, smiling for their delight.-

 

**

 

 

And in winter, Seoul, 2 Years ago..

 

Kyuhyun tidak mengerti apa maksud dari pesan Alicia kemarin malam. Alicia ada di Korea, katanya sedang mengurus sesuatu. Yah. Mungkin mengurus kepindahannya ke Tokyo. Dan pesan singkat berisi ganjil itu, benar-benar membunuhnya. Kyuhyun sedikit membeku ditengah jembatan yang pernah mereka berdua pijaki dulu, saat Kyuhyun benar-benar harus melepaskan Alicia.

 

Oppa, tunggu aku di jembatan taman musim semi. Warmly, Ms. Cosgrove~^^’

Dan pesan itu masuk tadi pagi, dan Kyuhyun sudah menunggu selama dua jam ditengah winter yang melanda Seoul. Gila? Demi gadis itu, ia berani membeku. Kyuhyun kembali mengeratkan mantelnya yang berlapis-lapis, membuatnya sedikit menggendut dari biasanya. Dan gadis itu, tiba-tiba duduk disebelahnya. Dengan senyum merekah tanpa dosa.

 

“YAK! NONA COSGROVE! TEGANYA KAU MEMBUATKU MENUNGGU DISINI, HUH!” Dorong Kyuhyun sedikit keras, dan Alicia memasang wajah kecutnya. Seperti biasa, Kyuhyun mulai tidak tahan dengan wajahnya yang begitu lucu jika ia kesal.

 

“Appo~” serunya sambil menggenggam kedua tangannya sendiri, dinginnya juga menjalar ke permukaan kulit gadis ini walau ia sudah memakai sarung tangan tebal, “..mini surprise, Oppa!”

 

“Kenapa pesanmu tidak disertai dengan waktu huh? Aku tidak perlu membeku disini hanya untuk gadis yang akan menikah dengan orang Jepang sebentar lagi. Ah, untuk apa aku menunggu gadis orang lain!” kata-kata itu sengaja ia katakan, Kyuhyun, terlalu menyukai wajah cemberut Alicia.

 

“Yak, oppa! nanti kuperbolehkan kau memelukku, okay!” katanya tanpa inosen jelas, terlihat kesal, dan terlihat bahagia. Tapi senyumnya, lebih mendominasi dan mengartikan bahwa Alicia sedang bahagia.

 

“Kenapa tidak sekarang? kau terlalu tega untuk menyuruhku duduk di kursi jembatan seperti ini.”

 

“Aku mau memberi tahumu sesuatu. Penting.” Kyuhyun menatap Alicia, menatap matanya yang sudah lama ia tidak lihat, mata kecoklatannya yang mencerminkan bahwa ia memang gadis Korea-Kanada miliknya, bukan milik Natsuya, si pria Jepang itu.

 

“Waeyo?” Alicia –masih dengan senyum dibibirnya-, memegang kedua pipi Kyuhyun hangat, lalu mulai masuk ke topik yang sudah ia pikirkan sejak di pesawat tadi malam.

 

“Aku, sudah membalas oppa.” Kyuhyun mengerutkan dahinya, tidak mengerti, “.. Aku sudah memperjuangkan cinta kita.”

 

“Mworago?!” Kyuhyun membelalakkan matanya, melihat Alicia yang menghembuskan nafasnya, berusaha mengatur diri lalu membuka mulutnya. Semua itu, terasa berjalan begitu saja. Betapa Kyuhyun merindukan kedua bola mata milik gadisnya, dan ia berhak memilikinya kembali.

 

“Aku bicara baik-baik pada Natsuya, bahwa aku memilikimu. Dan Natsuya, juga punya gadis yang ia cintai. Ya, kami punya kisah cinta masing-masing. Akhirnya, aku dan Natsuya, berusaha meyakinkan bahwa perjodohan kami tidak terlalu baik. Ya, Appa dan appa-nya Natsuya, ikut dengan apa kataku dan Natsuya.”

 

“A-ap.. Apa yang terjadi? Setelah itu?” Kyuhyun berharap itu jawabannya. Semoga yang ia pikirkan adalah jawabannya.

 

“Aku, tidak akan menikah dengan Natsuya, oppa.” BINGO! Kyuhyun menyengir, rasa bahagia itu menjalar ditubuhnya, bahkan dapat melawan rasa dingin yang sedari tadi menyelimuti dirinya. Kini, gadis itu ada dipelukannya, “..gomawo, sudah menungguku. Enam bulan, kupikir kau akan bercinta dengan gadis lain..”

 

“Kau yang menyuruhku menunggu, dan aku percaya dengan kata-katamu. Tidak sia-sia, Jagiya..” Kyuhyun mengacak puncak rambut gadisnya, lalu mengecupnya pelan, “Naneun dangsineul yeongwonhi saranghalgeoseul maengsehamnida, Alicia..(***)”

 

“Naddo..” Alicia melepaskan pelukannya dan  mengerling manja, “Jadi, kapan oppa melamarku?”

 

**

 

The end ^^

Yeah, proyek kedua, bisa lebih pendek dari kemaren, dan semoga nggak kepotong lagi haha xD. Makasih buat respon dikarya pertama ‘Your Voice is Ours’ yang katanya sadly itu muahaha *maludeh* *deepbow-warmkiss* Dan akhirnya jadi juga ff ini setelah ngebolang bingung musti pake siwon, leeteuk, sungmin atau kyuhyun~ haha, ohya. Lagu –yang ceritanya dibikin Kyu buat Alicia- itu judulnya She, punya Elvis Castello. I Love that song because Leeteuk sang that song to Kang Sora in Seoul Supershow4 totally differently~ yeaaaa I love my daddy, Park Jung Soo (?) Well, mohon komentarnya dan segera follow @ghana704 buat kenal sama aku :p gomawo chingu ^^

Oh, I made a little vocabulary with my Clareyssa [jelangkung Perth yang ngaku istrinya Siwon -_-*], selamat belajar ^^

(*) What Happened?

(**) I don’t think so.

 (***) I swear that I will love you forever.

 

Thanks :3

5 thoughts on “She~

  1. uhm ini bagus! :)
    simple words that meant to be kalo aku bilang
    aku suka. perasaannya ngena, cara ndeskripsiinnya juga bagus
    nggak ngira deh kalo cowoknya ini ternyata si kyuhyun
    aku kira malah si ikan mokpo waktu awal awal
    ayo nulis lagi~

  2. aku suka lagu SHE yg dinyanyiin Elvis Costello…
    kan Yoochun pernah nyanyi lagu itu sambil main piano… :-)
    FF yg bagus ^^
    sy suka

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s