Love Really Hurts (RyeoWook POV)

Title: Love Really Hurts (Ryeowook POV)

Author: khansa_aquaizan

Main Cast: Aku a.k.a Ryeowook, Hyobin

Rating: PG13

Genre: Love

P.S. FF ini sebelumnya pernah dipublish di blog pribadi author sungminandme.blogspot.com. Oh iya, cerita ini dibagi jadi dua sudut pandang. Sudut pandang tokoh yeojanya Hyobin (yang mungkin sudah kalian baca) dan sudut pandang Ryeowook. Author wajibkan baca Hyobin POV terlebih dahulu sebelum baca FF ini. I hope you enjoy it ^^

 

Aku membereskan bajuku dan memasukkannya ke dalam koper. Besok aku, Yesung hyung, dan Kyuhyun akan berangkat dari China menuju ke Hongkong. Ya, saat ini Super Junior K.R.Y sedang mengadakan tur ke berbagai negara. Tiba-tiba tanganku tidak sengaja menyentuh sebuah bingkai foto yang ada di dalam koperku. Aku mengambil bingkai foto tersebut. Foto itu selalu kubawa kemanapun aku pergi. Fotoku bersama dengan yeoja yang kucintai.

Aku menaruh kembali bingkai foto itu. Hanya melihat foto yeoja itu saja sudah membuat hatiku terasa sakit…

Ting tong, terdengar suara bel dari kamar hotelku. Aku buru-buru menghapus air mataku dan bergegas menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.

Clek, aku membuka pintu. Betapa terkejutnya aku ketika melihat yeoja yang kucintai berdiri di hadapanku.

“Hyobin?”

Oppa!” serunya sambil memelukku erat sekali.

Sejenak aku ragu untuk memeluknya. Bagaimana tidak? Ia sudah bukan milikku lagi sekarang. Aku tidak tahu kenapa, tapi tanganku saat ini sudah berada di punggung yeoja itu, memeluknya walaupun pelukan itu tidak seerat biasanya.

“Ada apa kau jauh-jauh ke sini?” tanyaku ramah berusaha menahan emosiku. Merasa air mataku mulai menggenang di pelupuk mataku, aku mengajaknya masuk. “Ayo masuk!”

Aku memandang yeoja itu dari atas ke bawah saat ia melepaskan sepatu. Sekilas tidak ada perubahan yang tampak pada dirinya. Tapi aku tahu, ia sudah berubah. Dan matanya… Obat tetes mata dan make up-nya tidak cukup untuk menyembunyikan fakta bahwa ia tidak tidur semalaman, ia menangis. Pasti butuh keberanian yang besar baginya untuk menemuiku.

“Kau sudah sarapan?” Aku mengkhawatirkan keadaanya.

Ia mengangguk tanpa berani menatapku.

Aku menghela napas. “Kau bohong,” kataku. “Aku akan membuatkan sarapan untukmu, chagiya.”

Aku melangkahkan kakiku menuju dapur. Aku dan dia sudah berpacaran selama tiga tahun, oleh karena itu aku tahu kebiasaannya saat ia berbohong. Ia tidak akan berani menatap mataku, seperti yang dilakukannya sejak ia datang ke sini. Ia memang memandang ke wajahku, tapi sama sekali tidak berani menatap mataku.

Aku membuka kulkas mengambil telur dan susu, mengambil terigu dari kitchen set, dan mulai memasak omelet, makanan kesukaannya. Baru saja aku membalik adonannya, tiba-tiba aku merasakan seseorang memelukku dari belakang.

Chagiya?” Aku membiarkan tangannya melingkar di tubuhku untuk beberapa saat. Omelet sudah matang. Aku lalu mematikan kompor dan membalikkan badanku ke arahnya. Aku memberanikan diriku menatap matanya. Tak kusangka ia balas menatapku.

“Aku kangen,” ucapnya.

Aku tersenyum, sedikit tertawa. Lucu sekali melihat tampangnya yang begitu manja mirip anak kucing. “Oppa juga,” balasku. “Oppa juga kangen Hyobin.”

Aku menatap wajah cantiknya begitu lama, ia juga masih menatapku. Tanpa kusadari, aku mengecup keningnya. Yeoja itu mulai memejamkan matanya. Perlahan bibirku beralih ke hidungnya, dan… dan aku ingin sekali mengecup bibirnya, namun sedetik sebelum aku melakukannya, aku tersadar bahwa ia bukan milikku lagi.

“Omeletnya bisa dingin kalau tidak lekas dimakan,” ujarku sambil melepaskan pelukan. “Ayo, kita makan!”

Aku meninggalkan Hyobin yang masih terpaku di tempatnya menuju meja makan. Sepertinya ia heran kenapa aku tidak menciumnya. Tak lama kemudian ia mengikutiku dan duduk di meja makan. Ia mulai memasukan suapan pertamanya ke mulutnya. Aku mengernyitkan dahiku. Bukankah ia biasanya protes jika aku tidak mencium bibirnya?

“Hmm… ini enyak cekali,” katanya dengan mulut penuh omelet.

Aku tertawa.

“Itu karena aku sudah lama tidak membuatkan makanan untukmu, makanya omelet itu terasa enak,” ujarnya. “Oh iya, aku juga menambahkan bumbu rahasia.”

“Bumbu apa?” tanyanya penasaran.

“Bumbu cinta,” jawabku sedikit gombal.

Hyobin tampak kaget mendengar gombalanku.

“Oppa, bisa tolong ambilkan minuman untukku?”

“Oke,” sahutku seraya meninggalkan yeoja itu sendiri di meja makan.

Aku mengambil gelas dari rak, dan mengisinya dengan air dari dispenser. Aku termenung. Mungkin saja itu adalah gombalanku yang terakhir untuk Hyobin. Ah, tidak! Seharusnya bukan ‘mungkin’ melainkan ‘pasti’. Ya, itu adalah yang terakhir!

“Ini.” Aku menyodorkan segelas air putih pada Hyobin.

Hyobin langsung meneguknya hingga habis. Sepertinya ia gugup sekali.

“Oh iya, ada perlu apa kau ke sini, chagiya?” tanyaku setelah ia selesai makan. “Kenapa tidak memberitahuku dulu?” Aku meremas-remas tanganku di bawah meja. Kali ini aku sendiri yang gugup. Sebenarnya aku sudah tahu jawabannya, tapi aku ingin mendengarnya langsung dari mulutnya.

“Eh, itu… A-aku tiba-tiba ingin bertemu dengan oppa,” jawabnya sedikit terbata.

Aku tersenyum mendengar jawaban Hyobin. Ternyata ia belum sanggup mengatakannya padaku.

“Tapi kau kan bisa meneleponku dulu? Paling tidak oppa bisa menjemputmu di bandara,” ujarku. “Seandainya kau meminta oppa ke Seoul pun, oppa rela meningalkan pekerjaan oppa dan pergi ke sana.” Aku mengatakannya dengan tulus.

Aku masih ingat ketika Hyemi noona mengenalkan Hyobin padaku lima tahun yang lalu. Dari awal aku melihat Hyobin, aku sudah tertarik pada yeoja itu. Ia sesuai dengan tipe idealku. Tidak terlalu tinggi, sedikit manja dan kekanak-kanakan, juga mukanya yang imut. Aku suka itu.

“Bagaimana kabar para hyung?” tanyaku memulai percakapan.

“Mereka baik-baik saja. Mereka juga titip salam untukmu.”

Kami berdua mengobrol seharian. Tak terasa waktu berjalan cepat dan hari sudah sore.

“Ah, sudah jam segini!” seru Hyobin saat melihat jam tangannya.

“Kenapa buru-buru? Kau tidak menginap, chagiya?” tawarku.

Ia menggeleng. “Aku sudah membeli tiket pesawat untuk pulang hari ini. Aku tidak bisa lama-lama di sini. Banyak yang harus kukerjakan di Seoul,” jelasnya.

Aku menghela napas kecewa.

“Kalau begitu aku pulang dulu,” ujarnya seraya beranjak menuju pintu depan.

“Mari kuantar sampai bandara,” kataku seraya bangkit berdiri.

“Tidak usah.” Tolak Hyobin halus. “Aku naik taksi saja. Aku tidak ingin merepotkan oppa. Antar aku sampai depan hotel saja.”

Sekali lagi aku kecewa.

“Terima kasih untuk hari ini, oppa. Aku senang sekali,” ucap Hyobin saat kami tiba di lantai dasar.

Aku mengepalkan tanganku berusaha menahan diriku yang hendak memeluk yeoja itu. Jujur saja, aku tidak ingin memeluknya. Aku tidak ingin perasaan itu muncul lagi di hatiku. Aku tidak ingin rasa sakit itu kembali menggoreskan luka di hatiku.

Saat aku berdebat dengan hatiku, tanganku sudah mengambil inisiatif sendiri untuk memeluk Hyobin. Kali ini pelukanku sangat erat, tidak seperti yang sebelum-sebelumnya.

“Salam untuk suamimu, Sungmin.” Tiba-tiba kata itu meluncur dengan sendirinya dari mulutku tepat di telinga Hyobin.

Aku tidak bisa melihat ekspresi mukanya karena saat ini aku sedang memeluknya. Tapi aku bisa merasakan jantungnya berdebar dengan kencang dan tubuhnya bergetar hebat.

“Hyemi noona yang memberitahukannya padaku. Sepertinya ia merasa bersalah padaku,” ceritaku. Aku tahu ia pasti bertanya-tanya dalam hatinya darimana aku mengetahuinya.

Aku masih bisa mengingatnya dengan jelas. Pagi itu sebelum aku, Yesung hyung dan Kyuhyun berangkat ke tempat konser di Tokyo, Hyemi noona datang ke hotel tempat kami menginap. Aku sedikit terkejut karena noona memintaku berbicara empat mata dengannya. Aku bingung setengah mati saat noona mulai menangis. Tapi yang membuatku shock hingga rasanya jantungku bisa meledak saat itu juga adalah saat ia memberitahuku bahwa yeoja yang kucintai menikah dengan orang yang sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri, Sungmin.

Aku jatuh terduduk. Aku tidak dapat mendeskripsikan perasaanku saat itu. Aku hanya ingat Yesung hyung dan Kyuhyun bergegas menghampiriku. Rupanya mereka mencuri dengar percakapanku dengan Hyemi noona. Pandanganku kosong seketika itu juga, aku bisa merasakan mereka mengguncang-guncang tubuhku dan memberiku semangat, sementara noona masih menangis dihadapanku.

Berkali-kali Hyemi noona memperbaiki make up-ku sesaat sebelum aku naik ke atas panggung. Aku juga tidak tahu kenapa air mataku tidak mau berhenti. Bahkan saat perform pun aku tidak bisa berkonsenterasi.

Aku menangis saat kami bertiga menyanyikan lagu The One I Love. Aku menangis saat aku menyanyikan lagu One Fine Spring Day. Lagu itu… aku pertama kali menyanyikan lagu itu di hadapannya, di hadapan Hyobin. Manager hyung memarahiku karena aku tidak dapat bersikap layaknya professional. Namun jika kulihat reaksi ELF yang menonton pertunjukan kami, sepertinya mereka mengira aku terlalu menghayati laguku makanya aku menangis.

Aku bisa merasakan bajuku basah saat aku membiarkan yeoja itu menangis sepuasnya di bahuku. Aku juga mengusap-usap punggungnya untuk menenangkannya. “Ini bukan salahmu. Kau anak yang baik.” Aku berusaha menghiburnya.

Oppa, mianhe,” ucapnya saat aku mengelus-elus rambutnya.

Aku melepasakan pelukanku. Sudah saatnya… sudah saatnya aku berpisah dengannya.

“Pulanglah,” ujarku lembut sambil menghapus air matanya dengan jemariku. “Kandunganmu baru tiga bulan kan? Kau harus banyak beristirahat.”

Hyobin memaksakan seulas senyumnya padaku. Dengan mata yang masih sembab dan merah, ia berbalik pulang. Tanpa melambaikan tangannya, tanpa mengucapkan sepatah katapun salam perpisahan, ia berjalan menuju taksi yang tak jauh dari situ.

Aku melihat punggungnya. Dulu aku paling benci saat punggung itu menjauh dari hadapanku. Aku paling benci saat ia pulang meninggalkanku di dorm. Namun sekarang, mungkin aku tidak akan pernah melihat punggung itu lagi. Ya, tidak akan pernah, batinku. Tanpa kusadari air mataku mulai membasahi pipiku. Aku menengadahkan kepalaku. Tuhan, walaupun kini yeoja yang kucintai sudah menjadi milik orang lain, apa boleh aku tetap mencintainya, mencintainya sampai akhir hayatku?

***

 

7 thoughts on “Love Really Hurts (RyeoWook POV)

  1. Wokiee jgn nangis ℓa̶̲̥̅̊ğï ‎​Ɣ᪪α , khan Ü∂αђ ªϑa̲̅ aq… ☺Hë●⌣●hë ●⌣●Hë●⌣●hë☺

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s