Glommy Sunday

Cast:

-Lee-Teuk a.k.a Dennis Park

-Emily Buctors

Aouthor : Vii-Chan or emibuct24 (you can see my blog with emibuck24 in WordPress)
Main Cast : -Emily Hwang
-Cho Kyuhyun
Support Cast: –Nothing–
Rating: 15
Genre : Romance, Tragedy
—–

Emily’s side

Lembaran terus berganti dan segalanya semakin menyakitkan. Menusuk, tidak adakah orang lain yang kumiliki di dunia ini. Bahkan semuanya meninggalkanku. Sendiri melawan arus hidup yang keras, hanya sendiri. Menjadi anak yang tidak di terima oleh keluarga, terbuang dari segalanya, dan kehilangan satu-satunya orang terkasih dalam hidupku.

Tangan ini begitu dingin tidak ada yang dapat mengengam dan meraihnya, meniupkannya udara hangat dan mengosokannya memberi kehangatan. Begitu sederhana, tapi tidak ada yang akan melakukannya untukku. Hanya tatapan kebencian yang selalu menatapku.

Semua sama saja, begitu kotor dan menjijikan. Mengangap seorang manusia yang terlahir dengan cara sama seperti mereka begitu menjijikan di matanya dan bahkan engan untuk ditatapnya.

Apa aku salah? Apa aku salah jika aku terus menyingkirkan mereka semua dari hidupku. Menancapkan belati yang tidak lebih tajam dari tatapan matanya, menghantamkan kayu yang bahkan tidak lebih tebal dari dinding hati mereka. Apa itu salah?

Semua hanya bisa menatapa dan mencemooh saja, tidak bisa melihat dengan kedua mata mereka bahwa aku hanyalah gadis biasa seperti mereka semua.

“Please… No!” Rintihnya begitu menyedihkan, tapi tidakah kalian berpikir lebih menyedihkan diriku. Selalu terpojok dunia hingga usiaku 17tahun dan dia hanya terpojok dengan tumpahan darah segarnya oleh gadis berumur 17tahun yang terasingkan dunia.

Aku hanya bisa menatapnya dengan pandangan teduh, dunia begitu mengerikan dapat mengubah hati seorang gadis dalam waktu singkat.

Crasss—

Belati tajam itu kembali menghantam tubuh gadis yang terpojok itu, mencipratkan darah kebencian pada wajah ku yang pucat. Aku senang melihatnya seperti ini, rasa sakit ini cukup terobati dengan segala kondisinya saat ini.

Matanya menatapku penuh keterkejutan dengan belati yang kutancapkan sekuat tenaga pada dada kanannya—jantungnya. Aku tidak mengerti tersenyum dan aku hanya bisa memiringkan sedikit sudut bibirku.

Kosong, dia telah pergi. Aku harap tuhan bisa membawanya ke tempat ternyaman di neraka.

—***—

Edensor, desa kecil dengan jalan yang selalu basah dan pohon-pohon serta hamparan padang hijau menghiasinya. Begitu arsi dan indah, tempat kelahiranku. Aku terlahir disini di sebuah villa besar keluarga Buctors, salah satu bangsawan inggris.

Tempat yang begitu terasingkan, kenapa bukan rumah sakit mewah dengan segala fasillitas canggih tentun keluargaku tidak akan keberatan jika aku terlahir disana—semestinya. Tapi sebuah kenyataan bahwa aku adalah anak haram yang mereka peroleh dari hubungan gelap ibu-ku dengan seorang pria lain.

Aku tidak pernah melihat ayah asliku, bahkan mereka terlalu berat mengatakannya siapa dia. Dan ibuku sendiri meninggal dalam kecelakaan lalulintas saat aku kecil, mereka bilang beliau sangat cantik dan aku mewarisinya.

Mrs. Anna selalu menceritakan hal baik tentang ibuku, padahal aku sangat berharap dia adalah seorang pisikopat yang keren. Tapi itu terlalu bodoh untuk dipikirkan, jelas beliau adalah ibu yang baik ia sempat bersikeras mengasuhku walau seluruh keluarga menentang kami.

Aku berterima kasih tuhan telah mengambilnya lebih cepat, karna ia tidak akan merasakan tekanan ini. Ia akan lebih tertekan jika saja ia masih hidup,terus ditentang dan mendapat pandangan sinis seperti yang aku dapatkan.

Aku selalu berharap dalam mimpiku di tiap malam beliau menjemputku dan membawa ku kesisinya yang damai. Tapi hari itu tidak kunjung datang.

“Emily… My Lovely Emily…” Suara lembut wanita tuan yang selalu ku panggil Mrs.Anna itu menyadarkanku. “Apa yang kau tatap nak?”

“Langit…”

Ia tersenyum, memang ini yang selalu kulakukan di sepanjang hariku. Otakku terlalu cangih untuk duduk di bangku Hing School.

“Turunlah. Ada yang mencarimu”

Mrs. Anna benar, seorang pria terlihat agak muda berdiri tersenyum menyambutku yang baru saja turun dari tangga rumahku.

“Berisalam padanya Emi…”

“Hei!” Ucapku ringan sambil mengangkat sebelah tanggan kananku. Hanya ini yang bisa ku artikan dalam ‘memberi salam’. Sedangkan Mrs. Anna hanya dapat tersenyum melihatku.

“Ini Mr.Park, Dennis Park” Ia menjulurkan tangannya padaku dan aku menerimanya, dia adalah orang asing pertama yang ingin berjabatan denganku selain Mrs. Anna, bahkan kakek ku tidak sudi.

“Emily…”

“Baiklah… aku akan meninggalkan kalian berdua.”

Mrs. Anna melesat meninggalkanku bersama pria ini tanpa sempat aku bertanya siapa pria ini sebenarnya.

“Ada apa? Apa kua mengenalku?”

Pria itu tersenyum memamerkan lesum pipit kecil di bawah sudut bibirnya. “Hanya ingin mengenalmu saja, dulu ibumu selalu bercerita kau akan menjadi apa nantinya”

“Kau mengenalnya?”

Ia hanya kembali tersenyum dan menjulurkan tangannya padaku. “Mau berjalan bersama?”

Dan ini adalah ajakan pertama untukku dalam hidupku.

Kami berjalan bersama, menelusuri taman rumahku yang memiliki luas tiada terkara. Ia menceritakan segala hal, ibuku yang cantik yang sangat mirip dengaku. Ibuku yang selalu berjuang merawatku dalam kandungannya dan seluruhnya tentang ibuku. Ia membuat hidupku lebih bersemangat dari sebelumnya.

Ini dalah kali pertama aku berharap dalam malam agar ibuku tidak menjemputku seperti apa yang aku harapkan, dan kali pertama aku bangun dengan semangat menyambut hariku yang akan menjadi indah.

Aku senang, siapapun dirinya dan dari manapun ia berasal. Setiap hari kami bersama menghabiskan waktu bersama menelusuri selukbelut Edensor yang indah, bertanam, belajar, membaca, dan bahkan ia mengajariku betapa hidup begitu indah dan berarti. Apa arti tersenyum, seperti apa tertawa, dan apa itu kebahagiaan.

Segalanya berubah, belati tajam dan tumpukan kayu tidak beratri lahi untukku. Hanya tawa, canda, senyum, dan keberadaannya yang sangat berarti dalam hidupku. Dan itu semua menyadarkanku betapa aku sangat mencintainya, menyayanginya melebihi apapun didunia ini.

“Kenapa kau datang menemuiku?”

Tayaku pada suatu hari yang indah di Edensor, burung bernyanyi tanaman bersemi dan seluruh bunga memekarkan keindahannya.

“Karna kau begitu indah”

Aku tertawa sangat bahagia. “Sungguh?”

“Ya! Dan karna kau adalah malaikat kecilku yang tuhan berikan dari ibumu…”

Aku terdiam tidak mengerti, walau sesungguhnya kau sangat mengerti kaliamt itu.

“Mulai sekarang bolehkan kita tinggal bersama dan tertawa bersama seperti ini. Dan kau bisa memanggilku ‘Dad’ maka aku akan selalu menyiapkan sereal setiap pagi untukmu. Mengantarmu sekolah seprti ayah pada umumnya dan kita akan menghabiskan weeken dengan cara termenyenangkan di dunia. Kita bisa berkemping bersama misalnya”

Beku, segalanya kembali membeku dan menghilang. Hantaman keras telah menghancurkan hatiku, berkeping-keping hingga tidak ada yang tersisa. Benarkah? Ia ayahku, ayah yang selama ini telah pergi dalam hidupku. Ia datang membawa dirinya dan seluruh kasih sayangnya padaku.

Tidak! Aku memang mengharapkannya datang suatu hari dengan limpahan kasih sayangnya. Tapi, bisakah jangan dirinya. Bodoh! Jelas ini salah. Aku mencintainya, sangat bahkan melebihi apapun didunia ini. Tuhan, kumohon terkutuklah aku jika ini hanya mimpi disiang bolong.

Segalanya kembali seperti semula sejak itu, aku tidak menerimanya sebagai ayahku. Karna mengetahu kenyataan betapa aku mencintainya dan ingin hidup dengannya bukan sebagai ayah dan anak. Sepasang kekasih, tidak bisakah?

Kenapa tuhan mengirimkan perasaan ini. Perasaan yang seharusnya tidak boleh kurasakan.

“Emi!!! Buka pintumu!! Emi!! Ayahmu ingin bicara!! Emi.. kau dengan aku nak?”

Ketuka itu terus terdengar seirama dengan isakanku di ruanganku yang gelap dan hancur berantakan. Aku hanya terpojok di ruangan menatap diriku yang begitu menyedihkan dengan segala kehancuran dalam diriku. Tolol! Seharusnya aku tidak boleh seperti ini.

Belati kecil yang selalu menemani hariku berkilap memantulkan cahaya rembulan dari jendela kamarku yang begitu megah dan besar. Menyuruhku untuk meraihnya dan kembali memanjakannya.

Kutarik tangganku setinggi mungkin mengambil ancang-ancang untuk menusukkan segala ketajaman pada sudut belati itu di pergelangan tanganku. Hanya dalam sekali hantaman keras yang langsung dapat merobek nadiku makan aku akan pergi.

“Jangan nak… kumohon”

Ia memelukku, pria yang memberi warna dalam hidupku. Kehanggatannya membiusku membuatku dengan mudah menjatuhkan begitu saja belati itu kelantai dan membalas dekapannya. Aku menangis, menanggis mengetahui dekapan ini seharusnya tidak ku salah artikan.

—***—

Lonceng gereja berdetak kencang, dan sepasang kekasih baru berjalan beriringan melewati sebaran mawar merah yang indah. Aku ingin merasakannya, berada disana dengan pria itu—Dennis Park.

Hari ini adalah pernikahannya dengan seorang wanita cantik. Setelah bersedih akan kematian ibuku ia menemukan wanita itu dan berjanji menikahinya dan mengajak ku tinggal bersama. Aku tidak mau, menatapnya dengan jarak sejauh ini saja hatiku teras sangat sakit.

Jika kau berdiri diatap gereja dan memandang lagit dari sini begitu menyenangkan. Menyaksikan langit Inggris yang kelabu. Aku jadi teringat sebuah lagu karangan Lazzlo Javor, seroang komposisi yang cukup terkenal pada tahun 1935.

Gloomy Sunday terputar indah dalam anganku seperti piringan hitam yang menyatu dengan Turntable membius ku dalam nada-nadanya yang melukiskan perasaanku didalamnya.

Sunday is gloomy

the hours are slumberless

dearest the shadows

I live with are numberless

Aku berharap kau bahagia dengannya, hidup dalam dongeng putri dan pangeran tampan dan memiliki malaikat-malaikat kecil yang lebih manis dari diriku—malaikatmu.

Little white flowers

will never awaken you,

not where the dark coach

of sorrow has taken you

Kehidupanku sangat gelap dan trimaksih sudah memberi sedikit pencerahan didalamnya. Kau adalah orang yang sangat berarti untuk ku bahkan hingga akhir hidupku—aku tidak yakin aku akan hidup lebih dari 30 menit dari sekarang.

Angels have no thought

of ever returning you

would they be angry

if I thought of joining you?

Aku rasa malaikat tidak akan marah jika aku kesisinya, dan aku rasa ibuku sudah terlalu kesepian disana.

Gloomy Sunday

Minggu ini sangat indah—seharusnya. Tapi resepsi itu menghancurkanku.

Gloomy Sunday

with shadows I spend it all

my heart and I

have decided to end it all

Tidak akan ada artinya lagi. Aku akan pergi… maaf kan aku telah menjadi malaikat kecilmu yang begitu menakutkan dan menyeramkan. Malaikat kecil yang berubah menjadi demons yang akan kekal abadi di neraka.

Soon there’ll be prayers

and candles are lit, I know

let them not weep

let them know, that I’m glad to go

Aku harap doa itu bisa membawa ku kesisi ibuku, jadi berdoa lah dengan benar agar aku bisa bahagia. Aku mohon..

Death is a dream

for in death I’m caressing you

with the last breath of my soul

I’ll be blessing you

Aku akan selalu ada dalam hatimu, aku tahu kau tidak akan melupakanku. Walau kenyataannya aku  adalah noda kecil yang mungkin bisa menutup jalan kedepanmu.

Gloomy Sunday

Minggu ini memang indah, jadi jangan sia-siakan dan berbahagialah. Aku akan menemukan kebahagiaanku di sisi ibuku, di minggu suram ini.

Dreaming, I was only dreaming

I wake and I find you asleep

on deep in my heart, dear

Karna kau akan selalu ada di dalam hatiku, menemaniku dalam kehidupanku kedepannya di sisi ibuku tentunya.

Darling, I hope

that my dream hasn’t haunted you

my heart is telling you

how much I wanted you

Aku akan segera melompat dari sini, dan aku harap aku tidak akan menghantuimu. Walau bagaimanapu aku tetap mengharapkan kebahagiaanmu dengannya.

Gloomy Sunday

Tubuh ini seringan kapas saat melayang diudara, begitu menyenangkan. Sebelum tubuh ini terbentur tanah dan hancur aku ingat bait terakhir Gloomy Sunday dan aku harap aku masih memiliki waktu menantunkannya dan sedetik kemudian gelap.

It’s absolutely gloomy Sunday

—***—

The End

Yup!! Hahaha :D ini FF terinspirasi dari lagunya Gloomy Sunday karangan Lazzlo Javor yang meledak pada tahun 1935-an * masih berwujud nggak jelas itumah wkwkwk :P

Cuman menimbulkan kecekalan dalam masyarakat di tahun itu, tepatnya di nergi Hongaria. Dikabarkan banyak orang yang bunuh diri setelah mendengarkan lagu ini, terbukti dengan sisa kaset atau lantuna lagu ini yang menemani setiap mereka yang mengakhiri hidupnya.

Lagu ini sendiri dibuat oleh Lazzlo untuk kekasihnya dan naas-nya kekasihnya malah bunuh diri beberapa waktu setelah lagu ini meledak dipasaran…

Dan ini menginspirasikan saya, walau nggak tau nyambung pa nggaknya wkwkwk.. yang penting… Happy Reading aja yaakk!! =))

Vii-Chan

5 thoughts on “Glommy Sunday

  1. Forbiden love ..
    tata bahasa + penyampaian cerita daan diksinya kereeeen :3
    ya Tuhaan , aku harap ini cerita banyak yg liat biar mereka tau disini ada ff yg kereeen . beneran deh , gabisa ngomong apa2 lagi

  2. heh?? serius?? hahahaaha.. ini aku si vii-chan atau emibuct /terlalu bnyak pnya nma pena :p #skip!
    gomawo udah baca hehehe.. jadi malu >///<
    klo mau bca crita lain bsa visit blog ku jga kok *^^*

  3. Hai…Puput imnida…88 line…….

    Aku suka gaya bahasamu, walau agak sulit dimengerti, tapi pesennya tetep nyampe

    Tapi kalo boleh jujur aku kurang begitu suka dengan sad ending coz aku baca FF buat hiburan hehehehehe….

    But overall aku suka ma ceritanya, apalagi cast’y bias aku….

    Keren!!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s