The Last Part 5 (The spirit, struggled, and tried to step)

Author : Purple Fishy

Genre : Friendship, romance

Tipe : Countinue

Rating : 15

Cast  : Han Min Ra (oc), Park Junsoo, Cho Kyuhyun, Choi Hyunsoo (oc).

Support cast:  Park Sang Mi (oc), Jung Yong Bin (oc), Kim Raesi (oc), Park Minyuk (oc).

Cover credit :The original photo doesn’t belong to me, but I edited it as needed.

Disclaimer : I only own the plot, the characters are all belong to them selves, do not take it out without permission.

Warning : This story is 100% my imagination, if you like this story please coment but not bashing or plagiat. Thank you^^

 

Annyeong reader!! Kita ketemu lagi di bagian ff kelima, author harap kalian suka ya buat baca ff yang author buat. Baca ceritanya sambil dengerin lagu yang bikin hati nyambung sama cerita ini ya, pasti lebih menarik (usulku) hehe. Oh iya…ff ni dari sudut pandang author POV dan pemerannya juga, kayanya author berhenti bicara disini ya, kalian pasti udah gak sabar. Hehehe (sedikit percaya diri). Ayo kita masuk ceritanya. Semoga suka…

AUTHOR POV

Angin berhembus begitu saja, daun- daun yang kering mulai berjatuhan, satu persatu mereka turun dari pohon besar itu. Terik matahari cukup nyaman menembus kulit, hangat dan menyejukan, rambut yang terurai panjang dan lurus mulai berterbangan kesana kemari mengikuti arus angin berhembus. Sesekali dia membereskan kembali rambutnya dan tetap fokus dengan laptopnya yang sedang digunakan. Tapi angin nakal itu tetap saja menganggunya dan membuat rambutnya berantakan kembali, namun, sedikitpun dia tidak beranjak dari tempatnya. Segelas coklat hangat membuat suasana hatinya lebih tenang, beberapa ide muncul dari pikirannya dan langsung dia tuangkan dalam lembaran kertas ditangannya. Bangku taman berwarna coklat itu menjadi tumpuannya untuk duduk, bangku taman itu tepat berada dibawah pohon besar. Pemandangan sekitarnya sungguh indah dan asri, bunga- bunga berwarna warni menghiasai sudut taman ini dan warna daun- daun yang hijau mencolok kearah retina matanya. Tangannya asik memainkan pensil warna itu dengan professional, matanya tetap fokus pada sasaran, sebuah taman dengan keindahan didalamnya. Goresan demi goresan terus terjadi pada kertas putih itu, hasilnya semakin terlihat dan nampak nyata. Dia hanya tersenyum mengagumi hasil karyanya sendiri, hobi yang tidak pernah diketahui oleh orang lain dan menjadi keasikan sendiri untuk mengisi waktunya yang kosong. “HAH… selesai.” Gumamnya.

Seseorang berlari dengan cepat kearahnya, menunjukan keadaan genting. Orang itu tepat berada dihadapannya dan langsung menatapnya dengan wajah kelelahan, napasnya terengah- engah dan mulai menenangkan dirinya sendiri. Perlahan mulutnya mulai terbuka untuk mengeluarkan kata- kata yang ingin disampaikannya. Wajah yeoja itu terlihat sangat bahagia dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh orang itu.

“Aku… aku harus pergi.” Suaranya parau dan wajahnya memancarkan kesedihan.

“Mwo?”

“Mianata.”

“Khajima… khajima. Andwe…. Khajima.”

Seketika mimik wajah yeoja itu berubah muram dan sedih, menatap kosong saat mendengarkan kata- kata yang dilontarkannya. Air matanya terus mengalir dan mulai membasahi pipinya yang memerah, sekuat tenaga yeoja itu menahan rasa kecewanya dan tangisannya tetapi itu percuma. Air matanya semakin deras mengalir saat orang itu mulai berkata dan terus berkata kepadanya. Ucapannya begitu menyakitkan bahkan itu membuatnya semakin terjatuh, rasanya seperti disayat- sayat dengan pisau yang tajam dan menimbulkan rasa sakit dan perih.

Seseorang menepuk pundak yeoja itu yang menatap kosong tenggelam dalam lamunannya.

“Minra- ssi? Apa kamu mendengarkan suaraku?” Tanya seseorang yang berdiri dihadapannya.

Yeoja itu menatap seseorang yang berdiri dihadapannya, namun wajahnya tidak begitu jelas karena sorot matahari yang menyinarinya dari belakang, lamunannya buyar dan pecah karena suara dan tepukan namja itu lalu menghilang kembali dari benaknya.

“Ah… nde aku mendengar, kapan sampai?” Tanya Minra menengadah wajahnya keatas untuk menatap orang yang ada dihadapannya.

“Aku baru saja sampai disini, kemarin aku ingin melihat keadaanmu tapi Appa menyuruhku pergi mengantarkan beberapa makanan untuk harmoni sehingga aku menundanya. Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya dengan suara yang cemas.

Wajahnya semakin jelas terlihat, yeoja itu menunggu dan ingin melihat jelas siapa yang datang menjenguknya.

“Oppa?” Tanya Minra penasaran dan menatapnya sembari mengerutkan keningnya.

“Ne.” Dia tersenyum hangat.

“Bagaimana keadaanmu?” Lanjut namja itu.

“Aku baik- baik saja, hanya sedikit patah tulang di hidungku karena hantaman bola kemarin, tapi rasa sakitnya mulai hilang.” Ujar Minra tersenyum sambil memegang hidungnya.

Wajah namja itu sedikit  terkejut, dia menjatuhkan dirinya kearah kursi taman itu tepat disamping Minra. Dia menatap Minra dan memegang kedua sisi wajah yeoja itu untuk memastikan keadaannya. Namja itu terus melihatnya dan menatap semua yang ada diwajah yeoja itu, debaran jantung tidak bisa dielakan lagi oleh yeoja itu, wajah namja berlesung manis itu terlalu dekat dengannya hanya berjarak 10 cm. Minra semakin kikuk dengan keadaannya dan tidak bisa memalingkan wajahnya dari tatapan hangat itu.

“Ah… Aku tidak apa- apa.” Ucap Minra melepaskan tangan Leeteuk dari wajahnya.

“Sincha?”

“Ne.”

“Syukurlah, aku takut sekali melihatmu kemarin. Andai saja aku melihat saat orang itu melemparkan bola itu ke wajahmu pasti sudah ku hajar orang itu.” Ucap Leeteuk menggebu- gebu sambil mengepalkan tangannya.

“Haha. Jeongmal? Aku tidak yakin dengan hal itu. Mungkin saja orang itu juga tidak sengaja melemparkan bolanya kepadaku. Oppa, bukankah ini masih jam sekolah?” Tanya Minra menatap heran.

“Aku meminta ijin untuk pulang.” Ucap Leeteuk tersenyum malu seperti kuda.

“Aissh… oppa benar- benar murid yang nakal. Bagaimana dengan pelajaran Fisika hari ini? Akan banyak materi yang tertinggal nanti.” Ucap Minra sembari menepuk pundak Leeteuk dengan pelan.

“Tenang saja, aku sudah menyuruh Lee Sungmin untuk mengantarkan cacatan Fisika yang dia pelajari hari ini ke rumahku.” Jawab Leeteuk sambil menggaruk kepalanya.

“Hahaha, khure? Oppa benar- benar tidak merasa kasian kepada Sungmin- ssi?”

Leeteuk hanya tersenyum malu kearah Minra.

“Ah… oppa, Hyunsoo- ssi sudah memberitahumu tentang latihan drama?”

“Nde, mereka akan datang kesini setelah pulang sekolah.”

Lanjut Leeteuk. “Apa kamu baik- baik saja?”

“khurom, hanya menghafal beberapa naskah dan gerakan ringan saja. Selagi bisa kenapa tidak mencoba, benarkan?” Ucap Minra semangat.

“Ah… sinca?”

“Ne.” Minra mengangguk yakin.

“Oppa?” Minra menatap Leeteuk.

“Mianata, kemarin aku tidak bisa menepati janjiku.” Sambil menghela napasnya.

“Janji?” Tanya Leeteuk kebingungan.

“Soal ajakan ke taman hiburan, mianata.”

“Arraso, tidak perlu minta maaf. Mungkin lain kali kita akan pergi kesana.” Ujar Leeteuk dengan tersenyum manis.

“Sinca? Annio. Aku sudah bahagia karena hal itu tidak terjadi. Oppa lebih baik kita ketempat  lain.” Ucap Yeoja itu mengelak langsung.

“Anni. Kita akan pergi kesana nanti. Oke.”

Leeteuk menatap tajam kearah Minra yang memelas tidak ingin pergi kesana. Namun, akhirnya yeoja itu kalah dan mengangguk lembut menuruti namja yang terus menatapnya.

Mereka berbicara banyak dan saling bercerita satu sama lain. Mereka sering bersama- sama dan saling mendukung satu sama lain. Leeteuk tidak pernah lelah menghadapai yeoja itu, meskipun dia keras tapi dibalik itu semua dia hangat dan lembut. Leeteuk adalah salah satu murid terpintar di Seoul Internasional High School, dia tidak pernah menunjukan itu atau menyombongkan dirinya kepada setiap orang. Minra selalu meminta bantuan kepada Leeteuk yang sudah dianggapnya sebagai Kakak dan sahabat yang paling berharga. Jika Minra menemukan kesusahan tentang pelajaran yang dihadapinya, Leeteuk selalu membantunya kapanpun yeoja itu meminta bantuan kepadanya. Salah satu yang membuat Minra nyaman berada disamping namja itu adalah kepribadiannya dan rasa humorisnya yang tinggi. Minra tidak pernah merasa canggung berbicara dengannya, mereka selalu saja bercanda gurau dan tidak pernah serius meskipun mimik muka yang mereka perlihatkan adalah keseriusan tetapi ujungnya mereka akan tertawa terbahak- bahak.

“Akhirnya pulang juga. Ah…. hari ini kita akan pergi menengok Minra dan berlatih disana. Apa  kalian menyetujuinya?” Tanya Sangmi kepada kelompoknya.

“Aku setuju, disana kita bisa menemaninya.” Ucap Raesi menganggukan kepalanya.

“kure.”

“Apa kamu akan ikut kesana?” Tanya Hyunsoo menatap seorang namja yang duduk disebelahnya.

Dengan raut wajah yang santai dan dingin namja itu hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun dari mulutnya. Semua setuju dengan keputusan yang diambil oleh Hyunsoo dan Sangmi, merekapun berangkat ke rumah sakit. Diperjalanan, Hyunsoo menatap namja itu yang tidak berkutik sedikitpun dan terlihat tidak senang karena kejadian beberapa tahun lalu.

“Kamu tidak apa- apa?” Tanya Hyunsoo ragu- ragu.

“Memang aku kenapa?” Jawab Kyuhyun dingin.

“Annio, lupakan saja.”

‘Aku tahu bahwa kakaknya meninggal ketika dia berada di Perancis. Mungkin dia masih merasa takut untuk datang ke rumah sakit yang pernah didatanginya beberapa tahun lalu. Mianata Kyunhyun- ssi.’

“Kyuhyun- ssi.” Ucap Hyunsoo.

“Sudahlah aku tidak apa- apa.” Jawab Kyuhyun membuang wajahnya kearah jendela.

Yeoja itu masih duduk di taman, seorang namja yang terus menghiburnya dan dia juga membantu tugas yeoja itu, beberapa usulan diajukan kepada yeoja itu yang sudah kewalahan dan menyerah. Yeoja itu mendengarkan semua penjelasan dari namja yang memberikan pencerahan untuk melanjutkan karya tulis ilmiahnya. Dia merasa kesal, karena tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dan lagi- lagi harus menyusahkan orang lain.

“Gomawo.” Ucap Yeoja itu.

“Ne.”

“Oppa, aku selalu saja membuatmu repot dan menyusahkanmu. Mianata.” Ucap Yeoja itu.

“Tidak perlu meminta maaf kepadaku. Aku selalu senang direpotkanmu, karena kamu adalah raja dari orang- orang yang merepotkan.” Jawab Leeteuk diikuti tawa yang terbahak- bahak. “HAHAHAHA”

“OPPA! Aku tidak seperti itu. Ah…Oppa tega sekali memberikan julukan itu kepadaku.” Ucap Yeoja itu sambil memukul pelan.

“Arraso, Han Minra- ssi.” Ucap Leeteuk sambil mencubit kedua pipi yeoja itu.

SSSSSS

Yeoja itu menunggu kedatangan seseorang yang berdiri didepan pintu kamarnya, sesekali yeoja itu menelan ludahnya dan mengepalkan tangannya, dia menarik napasnya dalam- dalam untuk membuat tubuhnya rileks. Dia tetap menunggu kemunculan seseorang yang akan masuk keruangannya, tapi… orang itu tidak kunjung datang dan membuatnya semakin takut, pintu kamar yeoja itu kembali tertutup tanpa ada satu orangpun yang masuk kedalam kamarnya hanya terdengar langkah kaki seseorang yang pergi. Yeoja itu menghela napas lega, “Syukurlah dia sudah pergi sekarang, aku benar- benar merasa takut.”

Pintu kamarnya kembali bergeser dan yeoja itu tersentak kaget.

“Minra- ah, eoma kembali, di jalan sangat macet sekali. Mianata, eoma terlambat sampai kemari.”

Yeoja itu kembali menghela napas lega karena mendengar suara Ibunya, “Syukurlah, eoma sudah datang, aku takut disini sendiri sampai- sampai aku memikirkan adegan- adegan film hantu yang syuting di rumah sakit.”

Ibu Han tertawa mendengar penjelasan anaknya, “Aigo… Kamu fikir hantu itu ada? Kamu ini ada- ada saja.” Ujar Ibu Han sambil merapihkan pakaian Minra kedalam lemari.

“Ah… ne, itu semua hanya cerita fiksi.” Ucap Minra meyakinkan dirinya sendiri.

“Sudah sekarang kamu istirahat supaya kamu cepat sembuh dan kuat lagi.” Lanjut Ibu Han yang masih sibuk merapihkan pakaiannya.

“Ne… eoma. Appa mana?” Tanya Minra melirik ke pintu luar kamar.

“Dia besok ada rapat penting jadi eoma yang menjagamu disini, eoma menyuruhnya untuk istirahat.” Jawab Ibu Han.

“Arraso.” Ucapnya sambil menganggukan kepalanya lembut.

‘Lalu siapa orang yang membuka pintu kamarku? Apa mungkin orang yang salah masuk kamar saja, aku harus berpikir positif dulu.’ Kata hati Minra meskipun masih terlihat tegang dan gemetar.

SSSSSS

Kicauan burung terdengar jelas dari luar kelas, matahari bersinar cerah dan angin berhembus lembut membuat suasana nyaman. Daun- daun berguguran dari pohonnya karena angin yang terus meniupi dedaunan yang mengering itu, seorang namja yang duduk di dekat jendela dengan headsheet di telinganya, alunan lagu- lagu yang menangkan dan membuat suasana hati menjadi baik. Tatapan jauh keluar melihat orang- orang berjalan- jalan dengan masing- masing aktivitasnya. Ada yang sedang berkumpul, mengerjakan tugas, bermain bola, membicarakan hal- hal yang menarik dan adapun orang yang sedang bertengkar, entah apa yang mereka ributkan. Namja itu selalu berdiam diri di kelas saat jam istirahat, karena dia hanya bisa memakan makanan yang dibawakan oleh asisten ayahnya. Makanan itu terhindar dari penyakit atau hal- hal berbahaya, orangtuanya yang sangat protect kepadanya membuat namja itu tidak dapat berbuat apa- apa. Selain itu. orangtuanya sangat memperhatikan kesehatan anaknya dan tidak ingin adanya pelayanan yang buruk kepada namja itu. Sikap yang perfectionis membuat dia terbiasa dengan keadaannya sendiri sejak kecil.

“Annyeong haseo.” Ucap seorang yeoja yang menepuknya pelan.

Namja itu berbalik dan melihat seorang yeoja yang duduk disampingnya dan menatapnya. Terlihat senyuman manis dari wajah yeoja itu. “Annyeong.” Jawab namja itu membalas senyuman yeoja itu.

“Ini untukmu, aku membawanya langsung dari rumah. Aku masih ingat makanan kesukaanmu saat kita kecil dulu, mungkin sampai sekarang kamu masih menyukai makanan ini.” Ujar yeoja itu sembari membuka kotak nasi.

Kotak nasi itu dipenuhi dengan makanan yang enak, mulai dari cumi bakar, udang saus, gulungan omlet, telur rebus dan nasi. Yeoja itu sengaja membuat nasi kotak itu untuk namja yang sudah lama dikenalnya, dia mengetahui aturan keluarga namja itu tentang makanan yang harus dimakannya, bersih dan steril dari penyakit, kuman atau hal- hal yang membahayakan keadaannya.

“Aku tahu kamu pasti tidak akan membeli makanan diluar sehingga aku sengaja membuatkan ini untukmu, apa kamu mau mencobanya?” Tanya Yeoja itu menunggu.

Namja itu membawa kotak nasi yang ada dihadapannya, dia membuka kotak nasi itu, masih terasa hangat masakan di dalam kotak nasi itu dan masih mengeluarkan asap yang mengepul. Namja itu mengambil sumpit yang sudah disediakan disamping kotak nasi itu, dia mulai memilih menu makanan yang ada didalamnya, satu persatu namja itu mencoba masakkan yang dibawa oleh yeoja itu.

“Bagaimana enak?” Tanya yeoja itu agak gugup.

Namja itu merasakan makanan yang sedang dikunyahnya, “Rasanya….tidak enak.” Sambil menyunggingkan bibirnya kearah kanan.

“Mwo? Benarkah itu tidak enak?” Wajah Yeoja itu terlihat kecewa.

“Hahaha. Pabo, baru saja aku bilang seperti itu kamu sudah percaya dengan ucapanku. Kamu memang sama seperti dulu, mudah sekali aku bohongi.”

“KYUHYUN- AH!” Teriak yeoja itu.

Yeoja itu memukul tangan kanan Kyuhyun dengan keras karena rasa kesal dengan kebohongannya.

“Ah… hentikan. Aku sudah merasa sakit.” Ucap namja itu sambil menghindari pukulan yeoja itu.

“YAK… kau selalu membuatku kesal, aku hampir saja kecewa dengan jawabanmu. Ini pertama kalinya aku belajar masak dan menyiapkannya sendiri, kalau rasanya tidak enak berarti percuma saja aku kursus memasak untuk membuat makanan ini.” Ujar Yeoja itu dan spontan menutup mulutnya.

“Kamu belajar memasak? Untuk membuat makanan ini? Wheo?” Tanya namja itu penasaran.

“Annio, aku hanya….. ah… karena kamu adalah kelinci percobaanku.” Ucap yeoja itu sumeringah dan salah tingkah.

Namja itu tertawa terbahak- bahak karena jawaban yang dilontarkan oleh yeoja itu, dia tidak dapat menahan tawanya walaupun didalam mulutnya masih penuh dengan makanan. Yeoja itu menatapnya dengan kecut dan kesal, dia ingin sekali menyumpal mulut namja itu adar berhenti tertawa.

‘Aku menyesal sudah membuat makanan untuknya, dia menyebalkan dan tidak berperasaan. Aku memang sengaja membuatkan makanan itu untuknya tetapi kenapa dia bodoh dan tidak bisa membaca pikiranku. KYUHYUN! Pabo, pabo, pabo, pabo. Dasar cowok menyebalkan dan tidak bisa diandalkan.’ Gerutu Yeoja itu di dalam hatinya.

Namja itu asik dengan makanan yang sedang dilahapnya dan tidak menghiraukan Yeoja  yang duduk disampingnya, isi kotak nasi itu perlahan habis dilahapnya. Walapun sebenarnya, Kyuhyun sudah memakan makanan yang dibawakan oleh pelayannya sebelum yeoja itu kembali ke kelas, dia tidak bisa menolak pemberian yeoja itu dan membuatnya kecewa.

“Lain kali aku akan membuatkanmu yang lebih baik lagi, aku senang kamu memakan masakanku meskipun aku tidak tahu apa kamu memang menyukainya atau tidak.” Jelas yeoja itu

“Gomawo, aku sudah merepotkanmu sampai- sampai seorang CHOI HYUNSOO yang tidak pernah pergi ke dapur untuk masak merelakan dirinya untuk memasak. Aku yakin kamu membuatnya karena aku, benarkan?” Ucap Namja itu menatap Hyunsoo dengan tajam.

“Annio, aku hanya iseng saja membuatnya. Aku juga membuat masakan yang sama untuk Sangmi dan Minra, ada didalam tasku.” Ucap Hyunsoo dan mengalihkan pandangannya kearah luar kelas.

“Jeongmal?”

“Ne.”

“Aku  merasa senang karena ada yang memperhatikanku.” Ucap namja itu sembari memberantakan rambut Hyunsoo.

“Ah…hentikan, aku tidak memperhatikanmu. Kamu membuat aku kesal saja Kyuhyun- ah, bisakah kamu tidak seperti itu.”Ucap Hyunsoo.

Yeoja itu berdiri dari tempat duduknya lalu pergi dan berlari keluar kelas, detak jantungnya sangat kencang seolah- olah akan berhenti dan keluar dari tempatnya. Mukanya memerah karena menahan rasa malu, walaupun dia bersikap tidak peduli tetapi dia bersikap seperti itu untuk menyembunyikan perasaannya.

‘Hatiku sangat tidak tentu, jantungku berdetak sangat cepat sekali. Aku benar- benar jatuh cinta kepadanya dan perasaan itu masih sama seperti dulu.’ Kata hati Hyunsoo sambil tertawa malu karena merasakan perasaannya sendiri.

Namja itu hanya tersenyum melihat tingkah laku Hyunsoo seperti anak kecil, berlari dengan wajah yang memerah. Dia terus melahap makanan yang ada dihadapannya, dan menikmati kembali pemandangan yang ada diluar jendela kelasnya.

Minra POV

Tiba- tiba terdengar teriakan dari arah kanan sambil melambaikan tangan dengan mimik muka yang gembira, suara teriakan itu sangat khas di telingaku. Aku menolehkan kepalaku dan melihat kearah suara teriakan itu berasal, aku hanya melambaikan tanganku untuk mengajak mereka mendekat.  Aku mematikan laptopku karena aku pikir itu akan mengangguku mengerjakan kegiatan lainnya.

“Annyeong, Minra- ah.” Sapa Hyunsoo yang terengah- engah karena sibuk berteriak.

“Park Junsoo? Kamu sudah disini? Pantas saja tadi kamu tidak ada di kelas.” Seru Park Minhyuk.

“Nde,  aku sudah sampai beberapa jam yang lalu, demi sahabatku ini.” Ucap Leeteuk sambil memeluk pundakku.

“Aissh… oppa, itu membuatku geli.”  Ucapku sambil membuang tangannya dari pundakku.

“Leeteuk-ssi  selalu mencari kempatan dalam kesempitan, kalian memang serasi menjadi sepasang kekasih.” Usul  Sangmi menggebu- gebu.

“SIRO.” Jawabku dan Leeteuk kompak.

“Sebenarnya kita akan berlatih atau tidak? Jika tidak lebih baik aku pulang dari pada buang- buang waktu seperti ini.” Ucap Kyuhyun bernada sinis.

Aku menatap namja itu dengan raut wajah yang kesal, sejak awal bertemu dengannya, aku tidak menyukainya. Itu sangat menyebalkan dan membuatku tidak pernah simpati dengan Kyuhyun. Keangkuhannya membuatku sangat membencinya, tidak hanya itu karena aku sangat membenci orang kaya yang sombong seperti Cho Kyuhyun.

“Baik kita mulai saja sekarang.” Usul Jung Yong Bin.

Pembagian peranpun dimulai, karena peran utama harus diperankan olehku dan Kyuhyun, mereka memutuskan untuk membagi beberapa pelan kecil yang ada didalamnya. Cerita ini adalah cerita Romeo and Juliet, semua orang diseluruh dunia pasti mengetahui cerita cinta romantis ini dan tragis ini. Kelompokku sudah mendapatkan peran yang sesuai dengan teks drama. Kami memulai latihan drama dengan belajar mengucapkan teks drama itu agar tidak terdengar rancu, mengetahui giliran dalam berperan, mengekspresikan teks yang dibacakan dan membuatnya menjadi adegan yang sesungguhnya. Kami terus mengulang dialog sampai kami paham dan mengerti.

Tiba- tiba saja Kyuhyun pergi begitu saja dari hadapan kami tanpa melihat kembali atau memikirkan ulang apa yang dia lakukan. Latihanpun terhenti dan semua orang terdiam begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun, mereka hanya bertatapan satu sama lain dengan isyarat mengajukan sebuah pertanyaan “Weo” namun, hanya terdengar suara- suara orang yang berlalu di sekitar taman yang membuat suasana tidak terlalu hening. Aku merasa kesal dan sepertinya aku ingin menerkam namja itu yang bertindak seenaknya dan meninggalkan latihan drama hari ini.

“Kenapa dengannya?” Seru Sangmi.

“Aku tidak tahu.” Jawab Kim Raesi

“Mungkin kita tunda saja latihan kita hari ini, kita fokuskan saja pada penataan ruangan dan soundtrack yang akan kita masukan di drama nanti.” Usul Park Minhyuk.

“Usul yang bagus, mungkin sekarang kita kerjakan terlebih dahulu itu lalu setelah suasana membaik kita lanjutkan kembali.” Ujarku.

AUTHOR POV

Yeoja itu mengarahkan matanya kesana kemari untuk melihat kemana perginya namja itu, dia memutuskan untuk pergi mencarinya meskipun yang lain sedang sibuk membicarakan konsep yang akan digunakan untuk pementasan nanti. Langkah kakinya yang cepat terlihat terburu- buru, ketukan kaki yang menginjak lantai semakin terdengar, bola matanya terus mencari dari ujung ke ujung, terus memandang keseluruhan sudut rumah sakit dan memandang teliti setiap namja yang memakai kaos merah yang memiliki kerah dan berbadan tegap dengan potongan rambut rapih namun tidak terkesan formal. Tanpa lelah yeoja itu terus mencari dan melewati kerumunan orang- orang yang ada di rumah sakit, dia berlari kesana kemari mencari namja itu yang menghilang begitu cepat. Napas yang mulai terengah- engah terus berhembus dari hidung yeoja itu, bulir- bulir keringat terus mengalir dan mulai membasahi dahinya, badannya dan pipinya. Sebuah kursi penunggu yang tidak terlalu ramai menjadi pilihan yeoja itu untuk beristirahat sejenak, namun, matanya masih tertuju dengan orang- orang yang berada disekitarnya.

“Apa dia pulang?” Keluh yeoja itu.

Hampir 15 menit dia mencari namja itu namun, tidak ada yang nampak dari pandangannya. Tepukan keras, saat yeoja itu menundukan wajahnya ke lantai dengan napas yang masih terengah- engah karena berlari- lari, tepukan itu membuatnya terkejut dan langsung membalikan badannya.

“Apa yang kamu lakukan?” Tanya seseorang menatapnya bingung.

“Maksudmu?” Ucap yeoja itu mulai merasa heran.

“Aku mengikutimu dan aku memanggilmu dari tadi.”

Yeoja itu berdiri dari kursinya dan menatapnya, dua bola matanya tertuju kepada seseorang yang sedang membawa cup kopi hangat yang baru dibelinya.

“Kenapa kamu pergi begitu saja tadi?” Tatapan bingung terpancar dari wajah yeoja itu.

“Apa kamu mencariku?”

“Nde.”

“Aku hanya ingin membeli coffe dan ada urusan yang harus aku selesaikan.”

“Mwo?”

“(Tersenyum dengan raut wajah yang hangat) sudah lupakan saja, kaza.” Jawabnya dengan nada tenang dan santai.

“Aku sangat khawatir kepadamu.” Bola matanya berkeliaran tanpa menatap tetap ke wajah namja itu.

“Aku tidak apa- apa, Hyunsoo- ssi.”

“Apa kita akan kembali?”

“Nde. Kaza.” Ucapnya sambil memegang pundak yeoja itu.

Langkah kakinya pergi perlahan dari hadapan yeoja itu, tanpa melihat dan mengulang kembali adegan yang membuat perasaan gadis itu tidak karuan karena tatapan mata dan mimik muka yang berbeda. Tidak jauh dari langkah namja itu, dia terus mengikutinya tanpa mendekatinya sedikitpun. Dia hanya memegang dadanya yang berdegup- degup, entah apa yang dia rasakan dan apa yang terjadi namun dia menghempaskan semua lamunannya dan membuang jauh selagi dia bisa.

“KYUHYUN- SSI!” Teriak Jung Yong Bin.

Orang- orang yang sedang sibuk disana berpaling kearah Jung Yong Bin yang berteriak keras sehingga mengganggu pengunjung lainnya. Jung Yong Bin menatap bingung dengan arah sekitarnya dan tersenyum lebar seperti anak kecil yang tertangkap basah karena menyembunyikan sesuatu, dan wajahnya memerah karena merasa malu. Kyuhyun melambaikan tangannya kearah teman- teman yang sedang mengumpul dan kembali tersenyum optimis.

“Dari mana kamu? Kenapa kamu pergi disaat genting seperti ini?” Bentak Sangmi kesal.

Kyuhyun hanya menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun, “Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Kyuhyun kepada Leeteuk yang sibuk dengan laptopnya.

“YAK! (mata Sangmi memutar dan tersenyum kecut melihat Kyuhyun yang tidak memperdulikannya).”

“Sudahlah tidak perlu menghiraukannya yang penting dia sudah ada disini.” Ucap Hyunsoo sambil mengelus bahu Sangmi yang menegang.

“Hah… benar- benar! Aku bisa- bisa gila terus bertemu dengan orang ini. Dimana kamu menemukan orang itu?” Ujar Sangmi dengan menatap lembut kearah Hyunsoo.

Latihanpun dilanjutkan kembali, mereka bersungguh- sungguh memerankan tokoh yang ada didrama itu dengan ekspresi yang tergambar dari karakter yang akan mereka perankan. Beberapa lagu telah diedit untuk soundtrack drama ini. Suasana hening saat permulaan latihan telah dimulai, teks demi teks dibaca oleh mereka dengan penjiwaan yang baik, tidak ada main- main lagi dalam latihan kali ini dan mereka terlihat serius untuk mengikuti alur ceritanya. Soundtrack lagupun diputar dengan volume yang sedang yaitu instrument dari Richard Clayderman yang berjudul Romeo and Julia, terdengar iringan lagu itu mengalun- ngalun, didukungnya suasana terik matahari yang hangat dan warna senja tergores secara acak dilangit yang begitu biru dan tidak ada suara yang membuat adegan drama ini menjadi kacau. Semua fokus dan tersentuh dengan adegan- adegan yang dilakukan oleh Leeteuk, Kyuhyun dan Minra. Tatapan serius dan rasa kekaguman terlihat dari mereka yang menyaksikan drama bagian terakhir ini.

“Julia, aku tidak dapat hidup tanpamu, bagaimana bisa kamu pergi begitu saja meninggalkan aku sendiri disini. Aku sangat mencintaimu dan aku tidak bisa jauh darimu, sekarang aku ingin bersamamu dan pergi denganmu. Hatiku begitu terluka melihatmu seperti ini, aku ….(Kyuhyun menghela nafas dan mulai mengeluarkan air mata) hanya ingin bersamamu, aku akan meminum racun ini untuk segera menemuimu dan berada disampingmu lagi.” Raut wajah namja itu terlihat begitu sedih, perlahan air mata menetes di pipinya dan penghayatan yang luar biasa.

Kim Raesi dan Hyunsoo menangis melihat kesungguhan mereka dalam berakting dan penghayatan yang sempurna seperti nyata, rasa saling menyayangi, memahami dan tidak bisa hidup bersama. Mata mereka berdua merah dan terisak- isak karena terus menangis karena terharu dengan cerita Romeo dan Julia.

“Penghayatan kalian benar- benar “GOOD”.”Ujar Jung Yong Bin sambil mengangkat jempolnya.

“Nde, aku setuju dan aku sendiri benar- benar terharu melihat kalian seperti itu.” Ucap Sangmi yang menepuk pundak Minra dan sesekali menghapus air matanya.

“Gomawo, aku senang melihat kalian tidak marah lagi kepadaku. Aku akan bersungguh- sungguh dan lebih maksimal dari ini.” Jawab Minra dengan tersenyum meskipun matanya terlihat bengkak dan hidungnya yang memerah karena adegan menangis.

“Gomawo, Kyuhyun- ssi.” Ucap Leeteuk menepuk pundak Kyuhyun.

“Ne.”

“Akhirnya selesai juga, lebih baik kita pulang dan membiarkan Minra- ssi istirahat. Hari senin, kita akan tampil dengan kostum dan rencana yang sudah kita atur sebelumnya. Aku yakin kita bisa.” Jelas  Sangmi bersemangat dan sangat optimis.

“Arraso.” Ujar Raesi.

Mereka membereskan peralatan dan barang- barang, hari sudah gelap dan matahari sudah tenggelam dengan indah. Merekapun berpamitan dengan Minra dan mengucapkan “Lekas sembuh.” Minra membawa beberapa barang yang dibawanya, perlahan Leeteuk mengambil tumpukan buku dan laptop yang ada ditangan Minra. “Gamsahamnida.” Minra terlihat sangat lelah dengan latihan hari ini, berlari- lari mengejar Kyuhyun untuk membujuknya kembali berlatih, namun, syukurlah Hyunsoo terlebih dahulu menemukan Kyuhyun sebelum namja itu pulang.

“Mianata.” Ucap Kyuhyun berlalu dari hadapan Minra.

Minra terkejut dan menatap belakang badan Kyuhyun yang semakin menjauh darinya. Apa dia benar- benar mendengar itu dengan benar? Atau hanya … angin? Atau apa? Minra masih terdiam dan mengingat semuanya yang begitu cepat. Minra langsung menghapus semuanya, dan beranjak pergi dari taman, udara mulai dingin dan terasa menusuk pada kulit putihnya.

“Hari ini sangat lelah, benarkan?” Tanya Leeteuk.

“Nde, aku sangat lelah, rasanya badanku remuk sekali karena seharian ini aku tidak istirahat. Aku harus menyelesaikan karya tulis ilmiahku setelah ini.” Jawab Minra yang berjalan perlahan menuju kamarnya.

“Lebih baik kamu istirahat sekarang, besok aku akan datang kesini lebih awal dan membantumu menyelesaikannya.” Ujar Leeteuk menatap Minra dengan senyuman ramahnya.

“Annio, aku pasti akan merepeotkanmu lagi. Sudah banyak menyusahkan dan aku harus menyusahkanmu lagi, itu membuatku semakin tidak tahu diri.” Ucap Minra sambil menggelengkan kepalanya.

“Tidak apa- apa, aku senang membantumu. Jangan berpikiran seperti itu, karena aku memang bersungguh- sungguh membantumu.” Ucap Leeteuk sambil mengelus rambut Minra.

“Aissh, kenapa selalu menyentuh rambutku? Apa rambutku bagus oppa?.” Ucap Minra menatapnya genit.

“Yak! Jangan terlalu percaya diri.” Ucap Leeteuk memukul kepala Minra lembut.

Rasa nyaman yang selalu dirasakan Minra selalu didapatkannya saat bersama Leeteuk membuat yeoja itu sangat menyukai keberadaan namja smart itu selalu berada disampingnya. Minra membaringkan badannya diranjang putih itu, badannya terasa remuk dan lelah sekali. Jendela kamarpun ditutup rapat oleh Leeteuk dan menyalakan penghangat ruangan karena udara didalam terasa dingin. Hari ini Leeteuk meminta izin kepada orangtuanya untuk menjaga Minra di rumah sakit, orangtuanya sangat menyukai Minra yang memiliki sopan santun yang tinggi dan keramahannya.

“Bagaimana bisa meminta izin untuk menjagaku?” Tanya Minra menatap Leeteuk yang sibuk mengupas buah apel.

“Kurom, orangtuaku sangat menyukaimu dan mereka sudah menganggapmu sebagai anaknya sendiri. Lagi pula kita sudah lama dekat dan selalu bermain bersama, belajar dan bercerita satu sama lain, bahkan orangtua kita sudah saling mengenal.” Jawaban ringan dari Leeteuk yang terus mengupas buah apel dan tidak menatap Minra sedikitpun.

“Arraso, Oppa pasti selalu jadi superman untukku. Dimana ada aku pasti oppa ingin bersamaku.” Usil Minra sambil tertawa. “HAHAHA.”

“MWO? (Leeteuk dengan paksa memasukan potongan apel ke mulut Minra) dasar kau selalu saja seperti ini, siapa yang ingin selalu bersamamu? Hahaha. PABO.”

Minra kewalahan dengan potongan apel yang memenuhi mulutnya, tak terdengar jelas jawaban dari Minra hanya suara ‘huahauau’.

“Sudah habiskan dulu, jangan banyak bicara.” Potong  Leeteuk terus memasukan potongan apel itu kemulut Minra.

Malam ini begitu hangat, meskipun udara diluar terasa dingin, terdengar angin yang berhembus kesana kemari dan daun- daun  bergulir bergantian. Leeteuk dan Minra asik bercerita panjang lebar, apapun yang mereka ingat dan keluar dalam mulut mereka, semuanya diceritakan baik itu hal tidak penting sekalipun. Leeteuk sibuk menceritakan kehidupannya saat sekolah duduk di Junior High School dan pengalaman apa saja yang dia dapatkan selama mengikuti lomba olimpiade Fisika di Jepang, perlahan mata yang berat dan terasa sangat mengantuk, membuat mata yeoja itu terpejam dan suara- suara cerita Leeteuk samar- samar mulai menghilang tak terdengar. Leeteuk terus saja bercerita panjang lebar dan tidak menoleh sedikitpun kearah Minra yang sudah tertidur pulas dengan mimpi- mimpinya. Seketika Leeteuk menyadarinya dan tersenyum melihat Minra yang sudah tertidur pulas, “Dasar gadis jahat, selalu seperti ini jika merasa tidak enak untuk menghentikan pembicaraan diantara kita meskipun dia sudah merasa lelah namun, dia selalu memaksakan diri untuk mendengarkannya. Pabo. Yeoja Pabo!”

Terdengar jelas suara yang masuk kedalam telinganya dengan kata- kata yang membuatnya terkejut….

“Saranghaeo….” Ucap Yeoja itu.

To be countinue……..

 

Bagaimana ceritanya? Apa kalian puas sama ceritanya? author harap kalian suka sama lanjutannya. Makasih buat yang udah baca and ngikutin cerita FF ini, author sangat- sangat berterimakasih buat kalian dan termasuk yang udah ngasih saran, ngomen sama cerita the last ini, tunggu bagian selanjutnya ya. Gomawo ^^

 

3 thoughts on “The Last Part 5 (The spirit, struggled, and tried to step)

  1. ini pasangan y Minra-leeteuk n kyuhyun-hyunsoo ya???? q pikir kyuhyun yg bakal ma minra kan unik tuh kyuhyun yg super perfect ketemu sama Minra yg keliatan y cwr kuat padahal ada rahasia di dlm diri y……
    itu yg bilang ‘saranghaeo’ tu leeteuk pa minra n q sedikit bingung sama yg awal,,, dr yg cwe n cwo yg ditinggal pergi n minra n leeteuk yg ditaman trus pas minra yg ketakutan,,, q rada bingung sama waktu kejadian y……
    tp suka cetita y seru n penuh misteri apalagi ma minra kyk y dia punya masa lalu yg kurang enak ya????
    Lanjut…….

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s