Our Love

Title: Our Love

Author: khansa_aquaizan

Main Cast: Sungmin and You a.k.a Hyobin/Hyo-chan

Support Cast: Kyuhyun, Your Best Friend (Hyunmi)

Rating: all age

Genre: Love

P.S. FF ini sebelumnya pernah dipublish di blog pribadi author sungminandme.blogspot.com sama missaquaizan.wordpress.com. FF ini dibuat khusus untuk ngerayain ultah Sungmin. I hope you enjoy it ^^

 

“Kau jadi pergi ke taman hiburan dengan Sungmin oppa?” tanya sahabatmu padamu.

“Tentu saja, kami akan merayakan malam tahun baru bersama sekaligus merayakan ulang tahun Sungmin oppa,” jawabmu sambil tersenyum. “Aku tidak sabar menunggu datangnya hari itu.”

“Itu kan masih satu minggu lagi,” ujar sahabatmu mengingatkan. “Oh iya, kau akan memberikan hadiah apa untuknya?” tanyanya.

“Ra-ha-si-a!”

“Kenapa kau tidak mau memberitahuku? Memangnya aku tidak bisa dipercaya?” protes sahabatmu.

“Tentu saja! Kalau aku memberitahumu, kau pasti akan cerita pada Kyuhyun oppa, dan ia akan memberitahu Sungmin oppa,” jelasmu pada sahabatmu yang merupakan pacar Kyuhyun dengan tatapan mencemooh.

Tiba-tiba terdengar alunan lagu Baby, Baby, ternyata itu adalah suara handphone milikmu. Kamu buru-buru mengambil handphone yang ada di dalam tas.

“Annyeonghaseyo,” katamu saat mengangkat telepon. “Apa deadline?!” katamu kemudian. “Kenapa harus tanggal segitu? Memangnya tidak bisa diundur?” tanyamu.

“Tidak bisa! Pokoknya 31 Desember!” teriak seseorang dari dalam telepon. Saking kerasnya sahabatmu dapat mendengarnya sementara kamu menjauhkan telingamu dari handphone. Lalu terdengar suara telepon yang terputus.

“Deadline?” tanya sahabatmu penasaran.

“Sepertinya aku harus menyelesaikan naskahku sebelum tanggal 31 Desember,” ujarmu. “Tapi… aku tidak yakin. Masih ada 100 halaman lagi yang harus kuselesaikan.”

“Ayolah, kau pasti bisa! Ingat ini kan demi ulang tahun pacarmu.” Sahabatmu menyemangatimu yang terlihat hampir putus asa.

“Aku akan berusaha semampuku,” katamu lesu.

“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu, ya! Aku tidak ingin mengganggumu. Fighting!”

“Tunggu!”

“Ada apa lagi?”

“Jangan ceritakan Kyuhyun oppa, apalagi Sungmin oppa tentang hal ini,” pintamu.

“Baiklah, aku janji. Aku pulang dulu, ya!”

 

*

 

Tanggal 30 Desember, batinmu saat melihat kalender. Walaupun kamu sudah berusaha mati-matian untuk menyelesaikan naskah, namun kamu hanya dapat mengerjakan 50 halaman. Masih ada minimal 50 halaman lagi dan kamu sudah kehabisan ide. Belum lagi jika memikirkan bahwa hadiah yang kamu persiapkan untuk pacarmu ternyata belum selesai. Kamu menghela napas. Bagaimana ini? Haruskah kamu membatalkan janjimu dengan Sungmin?

Alunan lagu Baby-baby menghiasi apartemenmu, rupanya ada telepon yang masuk. Kamu ragu-ragu untuk melihat siapa yang menelepon. Bagaimana jika Sungmin yang meneleponmu? Atau editormu yang galak akan mengingatkanmu lagi tentang deadline yang hampir membuatmu gila? Sambil mengepalkan tanganmu, kamu memberanikan diri untuk melihat layar handphonemu. Ternyata itu adalah telepon dari sahabatmu.

“Annyeonghaseyo,” katamu dengan suara yang dibuat terdengar riang.

“Maaf kalau aku mengganggumu, tapi apa kau sudah menyelesaikan naskahmu?” tanya sahabatmu khawatir.

“Ya, sedikit lagi,” jawabmu bohong, tidak ingin membuat sahabatmu cemas.

“Syukurlah kalau begitu, aku baru tahu hari ini dari Kyuhyun oppa, kalau Sungmin oppa menolak tawaran tampil di acara MNet! Countdown edisi spesial untuk tahun baru. Kau tahu kan itu adalah acara yang sangat beken di Korea. Ia melakukannya demi dirimu,” jelas sahabatmu semakin membuatmu merasa bersalah.

Kamu terdiam.

“Aku tidak sabar membaca naskahmu. Berjuanglah!”

“Ya, terima kasih,” katamu seraya menutup teleponnya.

Tubuhmu terasa lemas. Kamu merasa sangat bersalah. Apa yang harus kamu lakukan? Ya, tentu saja! Bagaimanapun caranya kamu harus menyelesaikan naskahnya. Baru saja kamu hendak melanjutkan kerjaanmu, tiba-tiba terdengar bunyi bel dari pintu apartemenmu.

“Hai, Hyo-chan!” kata orang yang baru datang sambil tersenyum manis.

Deg, jantungmu berdebar dengan keras. Satu-satunya orang yang memanggilmu Hyo-chan hanyalah…

“Sungmin oppa? Ada apa kemari?” tanyamu berusaha agar suaramu tidak terdengar gugup.

“Aku hanya rindu denganmu,” kata Sungmin seraya memelukmu.

Kamu bisa merasakan tubuhnya yang hangat. Pelukannya membuatmu mendapatkan kekuatan untuk menyelesaikan naskahmu. Sungmin kemudian melonggarkan pelukannya. Ia menatapmu dengan lembut, sebelum akhirnya dia memejamkan matanya dan menciummu. Kamu tidak menyangka Sungmin akan melakukannya. Kamu ikut memejamkan matamu secara naluriah.

Kamu memalingkan wajahmu, tidak ingin Sungmin melihat wajahmu yang memerah. “Oppa sudah makan?” tanyamu kemudian.

“Ehmmm, belum. Kau sudah?” Sungmin balik bertanya.

“Aku juga belum. Bagaimana jika kubelikan kimchi?”

“Baiklah. Ayo!”

“Oppa disini saja. Biar aku yang membelinya,” paksamu.

 

*

 

Lagu Baby, Baby terdengar dari handphonemu. Kamu lupa membawa handphone saat membeli kimchi. Tanpa berpikir panjang, Sungmin pun mengangkat teleponmu.

“Halo… Ya, ia sedang keluar. Ada yang ingin saya sampaikan? … Apa? Deadline? …” Akhirnya orang yang menelepon ke handphonemu menutup teleponnya. Sungmin mengerutkan keningnya, sibuk memikirkan sesuatu.

“Aku pulang,” katamu tak lama kemudian.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?”

“Apa?” tanyamu tidak mengerti.

“Mengenai deadline…”

Deg, jantungmu berdetak kencang. Dari mana Sungmin tahu hal itu, batinmu.

“Jawab aku, Hyo-chan!” bentak Sungmin.

“A… aku hanya tidak ingin membuatmu cemas,” katamu jujur.

Sungmin berjalan ke arahmu, memojokkanmu ke tembok, mengurungmu dengan kedua tangannya, dan menatapmu lekat-lekat. “Berapa halaman lagi yang belum kau selesaikan?” tanya Sungmin.

“Lima puluh…”

“Sebanyak itu?”

Kamu mengangguk.

“Sudahlah, kau tidak usah menyelesaikannya,” bentak Sungmin pada akhirnya sambil melepaskan tangannya.

“Apa? Tapi kenapa?” tanyamu kaget. “Lebih baik aku membatalkan acara kencanku daripada aku tidak menyelesaikannya.”

Sungmin mendesah keras. “Aku tidak suka kalau kau terlalu terpaku pada deadline. Saat dedline sudah dekat, kau pasti tidak ingin menemuiku. Kau selalu bilang bahwa kau ingin berkonsentrasi pada naskahmu. Aku sudah lelah dengan semua itu,” katanya dingin tanpa memandang ke arahmu.

“Tapi, ini kan pekerjaanku.” Kamu membela pekerjaanmu.

“Begitu kita menikah, kau tidak perlu bekerja lagi. Jadi, berhentilah!”

“Kau tidak bisa bicara semudah itu, bagiku…”

Sungmin menatapmu dengan tajam. “Bagimu mana yang lebih penting? Aku atau pekerjaanmu?” tanyanya seraya memandangmu lekat-lekat.

“A… aku…”

“Kalau kau lebih mementingkan pekerjaanmu, lebih baik kita putus saja,” kata Sungmin dengan nada tinggi seraya berjalan menuju pintu apartemenmu, dan keluar dengan membanting pintu.

 

*

 “Ah, hyung. Kenapa hyung  lesu sekali?” tanya Kyuhyun saat melihat Sungmin yang baru pulang ke dorm mereka.

“Hari ini aku bertengkar dengan pacarku,” kata Sungmin seraya merebahkan dirinya di atas sofa.

“Bertengkar kenapa?” tanya Kyuhyun penasaran.

“Dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada aku,” jelas Sungmin.

“Menurutku pacarmu bukan orang yang seperti itu. Ia pasti punya alasan sendiri,” bela Kyuhyun.

“Aku sudah menolak tawaran MNet demi acara kencanku dengan pacarku, tapi kenapa ia sendiri… Aku iri padamu, kau dan pacarmu selalu terlihat serasi dan tidak pernah bertengkar.”

Kyuhyun tertawa.

“Apanya yang lucu?” tanya Sungmin.

“Tidak, aku hanya…” omongan Kyuhyun terputus karena ia kembali tertawa. “Maksudku, kurasa hyung salah paham. Aku dan pacarku tentu saja pernah bertengkar. Namun, kami akan segera berbaikan kembali dengan cepat.”

“Oh, ya? Bagaimana bisa?” tanya Sungmin.

“Karena kami berdua saling pengertian. Itulah salah satu sifat terpenting yang harus dimiliki oleh setiap pasangan kekasih,” kata Kyuhyun bangga karena baru kali ini ia menasehati hyung-nya.

“Lalu, menurutmu aku harus bagaimana?” tanya Sungmin

“Sini kubisikkan,” kata Kyuhyun sambil menggatakan beberapa patah kata di telinga Sungmin.

 

*

Alunan lagu Full of Happiness yang lembut membangunkanmu yang sebenarnya masih ingin terlelap. Kamu memaksakan dirimu untuk menghentikan alarm di hanphone meskipun sebenarnya kamu masih ingin mendengarkan lagu tersebut, rindu pada orang yang menyanyikan bait pertama lagu itu. Kamu terduduk di atas tempat tidur. Mengerjap-ngerjapkan matamu sekali lagi dan berpikir. Bukankah kamu berada di ruang tamu tadi malam? Kenapa sekarang ada di tempat tidur? Apa kamu tanpa sadar bangun pada tengah malam dan pindah ke kamar? Itu semua membuatmu pusing…

Kamu kemudian beranjak ke ruang tamu, hendak menyelesaikan naskah. Namun, saat menyalakan netbook-mu yang masih dalam keadaan standby, tiba-tiba muncul foto dirimu bersama dengan Sungmin. Foto tersebut diambil saat kamu dan Sungmin merayakan tahun baru di pantai tahun lalu. Dalam foto tersebut terlihat jelas kamu sedang memandang ke arah kamera, sementara Sungmin tidak fokus pada kamera melainkan menatapmu lekat-lekat. Seingatmu, kamu baru pertama kali melihat foto ini.

Seakan teringat oleh sesuatu, kamu pun mendapat ide dan segera menyelesaikan naskah. Bagaimanapun caranya kamu harus menyelesaikan naskah sebelum pukul 8 malam, saat kamu kencan dengan Sungmin. Saat hendak mengetik terdapat tulisan ‘Good Luck!’ di komputermu. Kamu pun tersenyum. Terima kasih, kau memang sahabat terbaikku, batinmu yang menyangka bahwa itu adalah kerjaan sahabatmu.

 

*

Jam 9, sudah terlambat. Bagaimana ini? Alunan lagu Baby Baby kembali mengalun. Ternyata itu telepon dari sahabatmu.

“Halo, ada apa?”

“Kenapa kau belum juga datang? Naskahmu belum selesai?”

“Sudah, hanya saja… Aku sudah terlambat…”

“Jangan berkata seperti itu, masih ada waktu,” kata sahabatmu memberi semangat.

“Mungkin aku sudah putus dengannya,” katamu lagi.

“Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus datang ke villa milik Kyuhyun, atau persahabatan kita putus sampai disini,” ancam sahabatmu.

“Tapi…”

“Jangan lupa bawa hadiah untuk Sungmin, jika kau tidak mau memberikannya secara langsung, biar aku atau Kyuhyun saja yang mewakilkanmu untuk memberikan hadiah,” ujar sahabatmu sambil menutup telepon dengan kasar.

Dengan perasaan yang masih kacau, kamu mengganti bajumu dan bersiap-siap untuk pergi ke villa milik Kyuhyun. Aku tidak yakin ia masih mau menemuiku, batinmu. Kamu melihat hadiah yang kamu persiapkan untuk Sungmin. Hadiah itu buatanmu sendiri. Namun karena deadline, kamu terburu-buru menyelesaikannya sehingga hasilnya kurang maksimal.

“Maaf aku terlambat,” sahutmu ketika sampai di beranda villa milik Kyuhyun tepat pukul 11.55.

“Hyo-chan?” Terdengar suara Sungmin yang tampak kaget melihat kedatanganmu.

“Oppa? Kenapa kau ada disini?” tanyamu yang juga kaget.

“Kyuhyun yang memintaku ke sini. Bagaimana denganmu?” Sungmin balik bertanya.

“Pacarnya yang menyuruhku,” jelasmu. “Jangan-jangan mereka berdua…”

Tiba-tiba terdengar suara kembang api yang sangat keras. Refleks mereka berdua memandang ke langit dan melihat kembang api bewarna-warni menghiasi langit.

“Happy New Year! Selamat ulang tahun Sungmin!” teriak sahabatmu dan Kyuhyun dari beranda lantai 2 yang terletak tepat di atasmu dan Sungmin.

Sungmin hanya tertawa, tidak tahu haru mengatakan apa. “Dasar kalian berdua ini…”

“Selamat ulang tahun oppa,” katamu seraya menyerahkan sebuah kantung kertas yang bertuliskan ‘Happy Birthday’ pada Sungmin.

Sungmin segera membuka kantung tersebut dan mengambil hadiah yang ada didalamnya. Ternyata itu adalah sebuah syal bewarna pink! Ia pun segera memakainya.

“Kenapa syalnya kurang panjang?” tanya Kyuhyun dari lantai 2. Sahabatmu buru-buru menyikut pacarnya itu.

Kamu menunduk dan merasakan pipimu yang berubah menjadi merah. “Maaf oppa, aku tidak sempat menyelesaikannya. Lain kali akan kubuatkan yang lebih baik.”

“Ini bagus sekali. Terima kasih, Hyo-chan,” kata Sungmin seraya memelukmu.

Sungmin kemudian meletakan kedua tangannya di pipimu, lalu menciummu. Sahabatmu dan Kyuhyun yang melihatmu dari lantai 2 buru-buru beranjak dari tempat mereka berdua berdiri, tidak ingin mengganggumu dan Sungmin.

Tanpa sengaja Sungmin memegang tanganmu yang dingin. Kau lupa memakai sarung tangan. Sungmin menghentikan ciumannya. Ia memasukkan kedua tanganmu ke dalam kantung jasnya dan memelukmu lebih erat lagi. Kamu bisa merasakan detak jantung Sungmin karena kepalamu berada di dadanya. Sungmin dengan mudah mencium rambutmu yang hitam dan membisikkan saranghae di telingamu.

 

*

 “Terima kasih,” ujarmu pada sahabatmu beberapa hari kemudian. “Berkat kau dan Kyuhyun oppa, aku dan Sungmin oppa tidak jadi putus.”

“Tak masalah. Sudah menjadi kewajibanku dan Kyuhyun oppa untuk menjaga hubungan kalian,” kata sahabatmu.

“Oh iya, aku juga ingin berterima kasih kerena kau memberiku ide dengan memasang fotoku dan Sungmin oppa saat di pantai,” katamu lagi.

“Eh, foto? Aku tidak pernah melaku kannya,” ujar sahabatmu heran. “Lagipula aku juga tidak menyimpan foto-foto kita saat ke pantai tahun lalu,” jelasnya.

“Kalau bukan kau, lalu siapa?”

 

*

Tanggal 30 Desember pukul 10 malam. Terdengar suara orang yang menekan pin apartemen milikmu. Namja tersebut kemudian masuk ke dalam dan melihatmu yang tertidur pulas di depan netbook.

“Kau pasti lelah, maafkan aku ya!” kata namja tersebut seraya mengusap-usap kepala dan memberi kecupan pada keningmu. Ia kemudian mengangkat tubuhmu, memindahkanmu ke tempat tidur. Setelah menyelimutimu, ia kembali mengecup keningmu dan memandang wajahmu yang sedang tertidur. Lalu, ia beranjak kembali ke ruang tamu. Dilihatnya netbook milikmu yang masih menyala, dan mengganti layar desktopmu dengan foto yang ada dihandphonenya. Kenapa kau tidak menulis kisah ini, batin namja tersebut yang ternyata adalah Sungmin.

 

***

 

11 thoughts on “Our Love

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s