Destiny

sekarang part 5, terakhir^^

part sebelumnya, baca disini

 

Destiny

 

Semakin hari hubunganku dengan Taemin semakin membaik. Aku pun merasa menjadi yoja paling bahagia karena ada Taemin yang selalu menemaniku meskipun umur kami berbeda.

Tapi aku tidak peduli. Sejak dulu aku menerimanya sebagai namjachinguku, aku memang tidak pernah mempedulikan statusku sebagai noona. Karena bagiku, cinta itu hanya ada aku dan dia. Bukan umurku, dan umurnya.

***

Minggu malam yang indah adalah ketika aku duduk di jendela kamarku, dan Taemin duduk di jendela kamarnya. Kemudian kami menceritakan kegiatan kami, teman-teman kami, tugas-tugas kami, semuanya, yang terjadi dalam satu minggu. Kami jarang sekali bertemu, tetapi kami selalu menyempatkan waktu ketika minggu malam di jam dan tempat yang sama untuk berdua saja. Seperti saat ini.

“Bagaimana harimu?”

Badannya masih terlihat sedikit lembab karena baru saja selesai mandi. Rambutnya pun dibiarkan basah. “Menyenangkan, noona. Aku bertemu banyak sekali murid training dari daerah yang lain.” jawabnya sambil mengacak-acak rambut basahnya. Sedikit terlihat… seksi.

“Apakah ada yang cantik?”

“Tentu saja cantik semua. Tetapi bagiku noona yang tercantik!”

“Ey… Bohong!” tuduhku. Dia tidak pernah sekali pun mengatakan bahwa aku cantik.

“Ya! Noona itu cantik! Seperti aku…”

Seperti dia? Aku tidak mengerti. “Maksudmu?”

“Noona tidak pernah memperhatikan? Kita itu mirip! Apalagi jika noona tersenyum. Kata orang, jika kita mirip dengan kekasih kita, maka dia adalah jodoh kita.”

Jodoh? Benarkah? Mengapa aku senang mendengarnya mengatakan kita berjodoh? Ah, sepertinya aku akan lebih sering tersenyum setelah ini… Karena kita memang berjodoh…

***

“Disini?”

Kami berhenti di depan sebuah gedung bertuliskan ‘JGS entertainment’. Hari ini aku mengantarkan Taemin pergi ke tempat trainingnya di dekat sebuah pusat toko buku. Aku akan belanja beberapa buku di toko tersebut. Mungkin akan pulang bersama Taemin juga, jika dia sudah selesai berlatih.

“Ne. Tempat itu mungkin akan jadi dorm-ku nantinya. Bagaimana?” Taemin menunjuk sebuah apartemen di sebelah gedung megah itu. Lumayan besar juga. JGS entertainment memang salah satu yang terbaik di Korea. Dikenal sebagai agensi yang melahirkan bintang terkenal. Aku senang sekali ketika Taemin lolos audisi di agensi ini. Karena Taemin sebenarnya tipe namja yang tidak terlalu percaya diri.

“Taemin oppa!”

Kami menoleh. Seorang gadis cantik yang memanggil Taemin tadi berlari ke arah kami. Dia cantik sekali. Memakai baju berwarna putih dengan rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai itu.

“Oh. Sedang bersama kakak kandung oppa? Annyeonghaseyo eonni, Suzy imnida.” Sapanya padaku. Tanpa basa basi dia berasumsi bahwa aku adalah kakak kandung Taemin.

“Oh, ne. Annyeonghaseyo, Hyorin imnida.” Aku membalas sapaannya.

“Oppa, aku pergi ke dalam dulu. Sampai jumpa di dalam!”

Kupandangi dia dari luar gedung. Sedikit tersinggung dengan kata-katanya. Apakah aku terlihat begitu tua sehingga dia menganggapku kakak kandung Taemin? Aku kan yojachingunya!

“Mianhae, noona… Nanti akan kujelaskan padanya bahwa noona itu yojachinguku.” Taemin sepertinya tahu apa yang sedang kupikirkan.

“Dia salah satu murid training juga?”

Taemin mengangguk. “Namanya Suzy. Masih SMU sepertiku. Tetapi dia satu tahun lebih muda dariku. Baru masuk sekitar dua bulan yang lalu.”

“Sepertinya dia menyukaimu.” Kataku mantap. Aku bisa melihat dari caranya memandang Taemin, bahwa dia menyukainya.

“Ah, tidak mungkin.”

“Wae? Kau pandai menari, Taemin-ah. Dan, tampan.”

“Benarkah?” Taemin tersenyum. “ Kalau begitu, ppoppo.”

Aku terkejut. “Eh? Kau gila? Di sini?”

“Wae? Katanya aku tampan? Ppali! Sebelum banyak orang yang datang!” desak Taemin. Benar-benar seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen, dia menarik jaketku dan menggoyang-goyangkannya dengan cepat.

Kulihat sekeliling. Sepi memang. Tapi apa harus aku melakukannya di sini?

“Ppaliwa~”

Karena dia terus memaksa, akhirnya aku berjinjit. Kukecup bibirnya kilat.

Cup.

“Sekali ini saja!”

***

Mulutku bersenandung kecil mengikuti lantunan musik milik SHINee dari iPod putihku. Lagu yang merdu itu membuatku sesekali ikut bergoyang. Beruntung aku tidak hiperaktif seperti Taemin. Karena jika aku seperti dia, aku akan menari dan menyanyi sesuka hatiku dan orang-orang di sekitarku akan menganggapku gila.

Ah, bicara tentang Taemin. Saat ini aku sedang menunggunya di depan tempat trainingnya. Sudah hampir satu jam aku menunggunya. Tetapi dia belum muncul juga.

Jika bukan karena Suzy, aku mungkin sudah meninggalkannya. Setelah bertemu dengan Suzy tadi, aku jadi ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan di dalam. Bagaimana Taemin jika bersama Suzy. Apakah dia begitu dekat dengannya, sehingga membuat Suzy menyukainya? Atau hanya karena Taemin tampan, dan yang mendekati adalah Suzy?

“Hyorin-ah!”

Aku menoleh. Kulihat Jonghyun berlari menuju ke arahku. Masih ingat kan dia juga salah satu murid training di tempat Taemin? Dulu bahkan aku menyukainya. Tetapi sekarang aku tidak menyukainya lagi, karena aku sudah mempunyai Taemin.

“Menunggu Taemin?”

Aku mengangguk. Hampir satu tahun setelah lulus SMU, aku tidak bertemu dengannya lagi. Saat ini dia terlihat semakin tampan. Dengan rambut yang kembali berwarna hitam pekat, dan senyuman yang khas seperti biasa.

“Mungkin sedang bersama Suzy. Mereka mengambil kelas yang sama.”

“Suzy?” aku mengernyitkan dahiku. Benar kan apa yang kurasa? Ada sesuatu di antara mereka berdua!

“Kau tahu Suzy, kan? Taemin pasti menceritakannya padamu karena mereka dekat sekali. Saat pertama kali dia masuk menjadi murid training, dia satu kelas bersamaku di vokal. Tetapi karena kelas vokal dan dance bersamaan, dia memilih dance bersama Taemin.”

Argh, sial! Sepertinya aku dipermainkan oleh bocah kecil itu!

“Ah, itu mereka! Aku pulang dulu, Hyorin-ah!”

Aku mengangguk. Kulihat Taemin dan Suzy berjalan keluar bersama-sama dari tempat training tersebut. Segera aku mencari tempat untuk bersembunyi. Aku ingin sekali mengetahui sejauh mana hubungan mereka.

Entah apa yang sedang dibicarakan. Dari tempat persembunyianku ini, aku melihat mereka akrab sekali. Terlihat seperti hubungan yang sangat manis sebagai pasangan kekasih remaja. Membuatku semakin dongkol saja.

Tiba-tiba Suzy berjinjit. Dia mencium pipi kiri Taemin, kemudian berlari meninggalkannya.

Ya! Apa yang dia lakukan! Tidak ada yang boleh menciumnya selain aku! Tidak ada yang boleh menyentuhnya selain aku! Taemin itu milikku! Dan mengapa Taemin diam saja diperlakukan seperti itu?

“Yeobseo?”

“Odiya?” tanyaku tanpa basa-basi setelah mendengarnya mengangkat telepon dariku. Aku masih melihatnya dari tempatku bersembunyi.

“Baru saja keluar dari tempat training. Wae?”

Bagus. Dia tidak berbohong. “Tidak melakukan hal yang macam-macam?”

“Macam-macam?”

“Suzy.”

“Suzy? Aigo~ Aku lupa mengatakan bahwa noona itu yojachinguku!”

Sial! Taemin-ah, kau membuatku dongkol!

Kututup sambungan teleponku dan segera berlari menyusul Suzy. Aku sudah tidak peduli Taemin akan pulang bersama siapa. Saat ini aku harus bertemu Suzy. Jika taemin tidak mengatakan padanya bahwa aku adalah yojachingunya, maka aku sendiri yang akan mengatakan padanya. Aku pun tidak peduli Taemin marah-marah karena aku menutup teleponku secara tiba-tiba. Salahnya sendiri mengapa dia diam saja saat Suzy menciumnya dan lupa mengatakan bahwa aku itu yojachingunya!

“Suzy-ya!”

“Hyorin eonni?”

“Ada waktu sebentar?”

***

Pikiranku buntu. Semua terasa berat ketika melihat Suzy menceritakan bahwa dia sangat-sangat mengagumi Taemin. Dia menceritakan semua yang dirasakan pada namjachinguku di depanku. Sangat indah. Dan manis. Benar-benar kisah cinta khas remaja.

Dan kata-kata itu meluncur begitu saja. Seperti ada yang mendorongku mengucapkan hal tersebut. Sesuatu yang seharusnya tidak kukatakan jika aku tidak ingin hubunganku dengan Taemin berakhir.

“Keurom, nyatakan saja perasaanmu padanya. Kalian serasi satu sama lain. Aku sebagai kakak akan sangat mendukung Taemin berkencan denganmu!”

Begitulah kata-kata yang kukatakan di depan Suzy sore tadi. Apa yang akan kulakukan jika dia benar mengatakan pada Taemin, dan Taemin ternyata memiliki perasaan yang sama?

Argh~

Pletak!

“Noona! Mengapa noona tidak mengangkat teleponku?”

Itu suara Taemin! Kubuka jendelaku perlahan, dan kulihat Taemin sudah duduk amnis di jendelanya. Aku pun melakukan hal yang sama. “Memang kau meneleponku?” tanyaku sinis.

Taemin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Noona, hari ini kau aneh!”

Aneh? Mungkin. Karena aku ingin marah padanya, ingin memakinya, tetapi tidak tahu karena apa. Hanya ingin saja. Karena Suzy? Tetapi Suzy tidak bersalah. Karena Taemin? Tetapi Taemin pun tidak bersalah! “Kau yang aneh!”

“Noona… Jika kau seperti ini aku akan marah padamu…”

“Marah saja! Marah saja dan hentikan hubungan kita! Pergi saja kepada Suzy!”

Taemin mengerutkan dahinya. “Suzy?”

Aku mengangguk cepat. “Jangan pernah meneleponku lagi! Jangan pernah melempari jendela kamarku dengan batu lagi! Jangan pernah menciumku lagi!”

***

Satu minggu berlalu, aku masih tidak mengangkat teleponnya. Dulu dia seperti itu padaku, ketika dia menghilang setelah melihatku berciuman dengan Minho di perpustakaan sekolah. Dan sekarang aku juga. Tidak mengangkat teleponnya setelah melihatnya berciuman dengan Suzy.

Tetapi ini berbeda! Minho dan aku waktu itu adalah sebuah kecelakaan! Tetapi saat di mobilnya malam itu… Itu bukan kecelakaan sih, karena aku menikmati ciuman di mobilnya…

Tapi tetap saja! Aku merasa dipermainkan oleh bocah SMU yang tidur di sebelah kamarku itu. Benar-benar marah padanya hingga tidak membukakan jendelaku untuknya pada minggu malam kali ini.

“Ya! Noona jelek dan pemarah. Buka jendelamu! Ada yang ingin kubicarakan!”

Aku bergeming. Kudengarkan saja celotehannya dari dalam kamar.

“Noona~ Buka jendelamu~ Jika tidak aku akan pergi ke kamarmu sekarang juga!”

Ke kamarku? Pergi saja ke sini! Aku tidak akan membukakan pintu kamarku untuk bocah kecil sialan sepertimu!

Ddok… Ddok… Ddok..

“Noona! Buka! Cepat! Sebelum aku terjatuh!”

Eh? Jatuh? Jangan!

Aku segera berlari menuju jendela kamarku, dan membukanya untuk Taemin. Dia memanjat sebuah tangga untuk masuk ke kamarku dan mengetuk jendela kamarku keras-keras. Kutarik dia hingga masuk kamarku, kemudian aku dan dia duduk di jendela kamarku.

“Gomawo. Noona masih marah padaku?” tanyanya padaku.

“Menurutmu?” jawabku ketus. Aku masih memasang tampang garangku padanya meskipun sebenarnya lucu juga melihatnya memanjat tangga agar bisa ke kamarku seperti tadi.

“Tadi sore Suzy mengatakan perasaannya padaku.”

Hatiku berdebar. Jadi dia benar mengatakan perasaannya pada Taemin, seperti yang kuperintahkan. “Lalu?”

“Noona ingin aku menjawab apa?”

“Kau belum memberikan jawaban?” tanyaku penuh selidik.

“Belum. Aku menunggumu memberiku saran. Bagaimana?”

Aish~ Sudah kuduga. Taemin pasti memiliki perasaan yang sama. Jika dia tidak menyukai Suzy, dia akan menolaknya secara langsung! Tidak menunggu saranku, yojachingunya! Dimana posisiku sebagai kekasihnya jika dia memperlakukanku seperti ini? “Terima saja! Dia kan muda, cantik, pandai menyanyi dan menari. Kalian serasi satu sama lain!”

“Begitu? Lalu bagaimana dengan seorang noona yang sangat menyukaiku itu? Noona yang sudah bersamaku saat aku masih kecil.”

“Lupakan saja noona jelek dan pemarah itu!”

Tiba-tiba Taemin mencubit pipiku gemas. “Aigo~ Noona lucu sekali~”

Kutepis tangannya yang mencubit pipiku tanpa ijin itu. “Jangan pegang aku!”

“Suzy bilang noona menemuinya satu minggu yang lalu dan memintanya mengatakan perasaannya padaku secepatnya. Mengapa melakukan hal itu? Noona ingin tahu siapa yang aku pilih, begitu? Noona, aku sudah menolaknya. Aku menolak Suzy.”

“Wae?”

Taemin tersenyum. “Untuk apa? Aku lebih menyukai seseorang. Yang jelek dan pemarah. Yang tidak stylish. Yang selalu menemaniku sejak aku kecil. Yang kamar tidurnya bersebelahan denganku. Yang kucium pertama kali di atap sekolah. Yang kuberikan sebuah boneka seperti di MV idolanya. Yang mengajarkanku berkencan seperti seorang mahasiswa. Yang memintaku mengajarinya menari dan menyanyi. Yang lebih tua dariku.”

Ada perasaan lega mendengar hal tersebut. Itu artinya aku kan? Noona yang jelek dan pemarah. Dia mencuri ciuman pertamaku di atap sekolah. Dia memberiku sebuah boneka putih seperti di MV Hello milik SHINee yang sangat kusuka itu. Dia menciumku berbeda dari yang biasanya ketika aku mengajarinya berkencan seperti mahasiswa. Dia juga yang mengajariku menari dan menyanyi ketika ada lomba di kampusku.

Tetapi aku tidak boleh percaya begitu saja pada seorang bocah kecil! Ingat, Kim Hyorin! Dia masih kecil tetapi pintar mencuri hatimu! “Beruntung sekali dia!”

Tiba-tiba tangan Taemin merapikan rambutku. Disematkannya poniku ke belakang telingaku, dan membelainya penuh kasih. Ini kali pertama dia memperlakukanku seperti itu. sesuatu yang romantis, menurutku.

“Mianhae, noona. Seharusnya aku tidak terlalu dekat dengan Suzy hingga membuat noona cemburu. Tetapi aku senang noona cemburu padanya. Noona sangat seksi jika sedang marah.”

“Mwoya?” Lagi-lagi kutepis tangannya.

“Aku bercanda, noona…” Taemin tertawa kecil. “Maafkan aku, oke? Tidak ada yang lain selain kau. Tidak mau yang lain selain kau. Kau milikku, noona. Dan aku milikmu. Kita ini satu, karena kita berjodoh!”

Berjodoh… Ya, kita memang berjodoh. Aku suka kau mengatakan hal tersebut, Lee Taemin. “Buktikan padaku jika kita memang berjodoh!”

Taemin memutarku menghadapnya secara tiba-tiba, membuatku sedikit terkejut. “Senyumlah!” perintahnya.

Aku menggeleng. “Tidak mau!”

Tangannya kini memegang kedua pipiku dan menariknya perlahan. “Ya~ Tersenyumlah~ Bagaimana bisa aku membuktikan kita berjodoh jika noona tidak tersenyum!”

“Molla~ Aku… tidak mau… tersenyum~” jawabku tidak begitu jelas karena menahan sakit dari tarikan Taemin di pipiku. Dasar bocah kecil! Dia pikir pipiku ini mainan yang elastis, hah?

Tiba-tiba Taemin berhenti menarik pipiku dan menatapku lekat-lekat. “Baiklah, terpaksa aku memberikan bukti yang lain.” katanya. Kemudian dia mendekat, semakin dekat hingga aku bisa melihat bibir kecilnya yang semakin dekat denganku. Hembusan nafasnya yang teratur, dan bau parfumnya yang wangi. Semakin dekat, hingga aku memberanikan diri untuk menutup kedua mataku. Dan aku merasakan sesuatu yang hangat dan basah di bibirku.

Cup.

Taemin menciumku. Perlahan, tetapi berirama. Baru kali ini aku tidak menolaknya. Aku menikmatinya. Sangat menikmati ciuman hangat ini.

Mungkin ini memang bukan kali pertama kami berciuman. Tetapi aku merasakan sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang dulu kurasakan sebagai cinta seorang remaja, kini aku benar-benar merasakan cinta yang tulus. Sesuatu yang dulu kurasakan sebagai ciuman seseorang yang lebih muda dariku,  kini aku benar-benar merasakan ini tidak lebih muda. Aku merasakan cinta seorang Lee Taemin. Aku benar-benar merasakannya.

Taemin melepas ciumannya. “Saranghae, noona… Menikahlah denganku saat usiaku 27 tahun…” lirihnya tepat di depanku, kemudian menciumku lagi.

1-5, END

4 thoughts on “Destiny

  1. Yaaaa onnie! Taemin masih keciiiiil
    Huahahahaha sweet banget taeminnie >,<
    Wah berseri ya? Aku baru sadar. Berarti aku cuma baca part 4 & 5nya
    Tp tetep seru & sweeeeeet

  2. huaaa eonni keren bgt ff nya dr seri 1-5..T,T btw ga ada lnjtan nya lg ya?sequel lagi,smpe pny buyut hahaha *plak!
    Sori br komen part trkhr.anyway,ceritanya bgus bgt.keren,sweet,bacanya deg2an saking menikmati (?)
    Ga bs berkata2 lg deh,keren pokok nya.sequel100x :3

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s