Pre Married Syndrom 2 (END)

 

 

Tittle:: [SungRi Couple] PMS = Pra Married Syndrom part 2 of 2

Author:: IdeaFina a.k.a Jung Yuuri (@ideafina)

Maincast::

  • Yesung Super Junior
  • Jung Yuuri (author)

Support cast::

  • Jung Yunho DBSK
  • Lee Ang Hyeon (OCs)
  • Kim Heera (OCs)
  • Lee Reina (OCs)

Genre::Romance, comedy (maybe?)

Rate:: G

Disclaimer:: This Story, Yesung, and Yunho is MINE! *dibacok Clouds + Cassiopeia* Hope U Like it!

 

 

Yuuri’s PoV

 

“Yuu…. you look awesome!”puji Heera saat ia selesai mendandaniku. Aku melihat cerminan diriku di cermin. Hmm… bagus juga ternyata. Aku terlihat semakin cantik! Hehe~ *narsis mode on*

“Aku memang aslinya cantik, Ra-ya.”kataku cengar-cengir. Heera menijtakku yang mulai narsis. Kemudian wajahku terasa panas dan….

“AAARGGHHHH~”aku berlari-lari ke kamar mandi dan langsung mencuci wajah ber-make up-ku dengan facial foam khusus. Setelah bersih kupandangi wajahku dengan seksama. Hah…untung cepat kucuci, kalau tidak wajahku pasti merah-merah.

Aku keluar kamar mandi dan melihat Heera yang menatapku bingung.

“Yak! Kim Heera! Itu kosmetik merek apa?! Kau pasti lupa kalau kulit wajahku ini sensitif sekali dengan kosmetik!”omelku dengan cemberut. Kulitku memang sangat sensitif sekali dengan kosmetik, makanya aku tidak suka berdandan. Selain karena memang menurutku aku sudah cantik tanpa make-up, aku juga malas harus mencari kosmetik yang cocok dengan wajahku. Intinya aku tidak suka dandan! (=,=)

“Aku menggunakan kosmetik yang mereknya dianjurkan ibumu kok!”kata Heera lalu menunjukkan kosmetik itu padaku. Aku membaca merek yang tertulis disana. Memang benar, itu kosmetik yang biasa Eomma gunakan dengan memaksa padaku, dan biasanya aman.

“Aish! Kenapa sekarang jadi tidak cocok lagi padaku!” gerutuku. “Eottohke, Ra-ya…? Bagaimana make-up untuk hari pernikahanku nanti…?”

“Hmm… nanti kita diskusikan saja pada periasnya sebelum hari pernikahan, biar dia bisa mencari yang sesuai untuk kulit wajahmu.”

Aku menghela napas kesal. Lalu menghempaskan tubuhku di kasur, di sebelah Reina yang sedang menelpon. Kenapa sih mau menikah aja susah banget! Bashing penggemar, belajar memasak, harus fitting gaun, sekarang menjadikan wajahku objek percobaan para perias?! Apa semua hal yang tidak kusuka harus kulalui dulu dengan kaki berdarah-darah baru bisa menikah dengannya?! Menyebalkan!

“Sudahlah Yuu, jangan bete terus dong.”kata Reina setelah mematikan telponnya dengan Sungjong. Aku heran deh dengan Sungjong. Dia tidak sibuk ya sampai sering sekali menelpon Reina seperti itu? Ahjusshiku aja nggak sesering itu menelponku. (=,=)

Heera merebahkan diri di sampingku. “Kenapa mau menikah aja susah sekali sih?”gumamku.

Heera dan Reina tertawa. “Aigoo Yuu… baru mau menikah aja udah heboh gini. Gimana nanti hamil terus punya anak?”ucap Reina yang membuatku langsung bangkit tiba-tiba dari tidurku.

“HAMIL?!” O_O

“Yak! Jangan menjerit kenapa sih?! Aku kaget tahu!”omel Heera yang ikut bangun juga.

“Ha…mil…?”

Aku menatap kedua sahabatku yang sekarang sudah kebingungan. Mungkin mereka bingung melihat wajahku yang sudah pasti berubah menjadi pucat sekarang ini.

“Waeyo? Apa ada yang salah, Yuu-ya?”tanya Heera cemas.

“Jangan bilang kau sudah….”

“ANDWAE!”jeritku memotong perkataan Reina.

Aku mulai merasa takut sekarang. Hamil? Itu bukan sesuatu yang aku pikirkan sebelumnya. Aku menikah dengannya karena aku mencintainya dan ingin selalu bersamanya. Dan menurutku, menikah itu sangat praktis untuk mewujudkan keinginanku itu. *praktis? terlalu polos atw bego? (=_=)” * Makanya aku menerima ajakannya untuk menikah. Aku sama sekali tidak memikirkan akan hamil atau bagaimana.

Tapi setelah menikah, suami istri akan melakukan ‘itu’ dan punya anak kan?

Mati aku! Eomma! Aku belum siap melakukan ‘itu’! Aku belum siap jika harus punya anak!

***

 

Dan disinilah aku sekarang. Berada di bis yang entah akan membawaku pergi kemana. Tadi siang setelah kedua sahabatku pulang dari rumahku dengan cara kuusir, aku langsung pergi meninggalkan rumah. Dan saat tiba di halte aku asal saja menaiki bis yang berhenti di hadapanku.

Kabur? Aku tidak bermaksud seperti itu kok. Karena aku menuliskan di secarik kertas yang kutinggalkan di meja belajarku bahwa aku pergi untuk menenangkan diri sejenak, dan kuminta untuk siapapun agar tidak mencariku atau mencemaskanku. Aku juga sudah mematikan ponselku agar tidak ada yang bisa melacakku dengan GPS.

Aku memang benar-benar ingin menenangkan diri. Karena aku butuh memikirkan sejenak tentang pernikahanku yang sebentar lagi. Perkataan sahabatku mengenai hamil itu jujur saja membuatku sangat takut dan cemas. Karena sebelumnya aku memikirkan untuk bisa memasak agar bisa jadi  istri yang baik untuk ahjusshiku tercinta itu. Lalu… HAMIL?! Memasak dan menjadi istri yang baik saja aku belum tentu mampu! Lalu aku harus melakukan ‘itu’ dengannya dan hamil?! Menjadi ibu di usia semuda ini?!

Aish! Yuu…. Kenapa kau babo sekali sampai tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya?! Bagaimana mungkin diriku yang ceroboh ini bisa menjadi ibu? Memegang bayi saja aku takut!

Aku menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya. Berusaha menenangkan diriku yang sedari tadi tegang karena monolog-monolog menyebalkan di otakku. Kemudian seorang wanita dengan perut besar duduk di sebelahku. Ia tersenyum kecil dan aku membalasnya. Kuperhatikan perutnya yang besar.

“Ng… chogiyo, onnie.”Ia menoleh padaku. “Onnie hamil berapa bulan ya?”tanyaku penasaran melihat perutnya.

“Sudah 7 bulan, Agassi.”katanya dengan tersenyum lalu mengelus perutnya yang besar itu.

“Oohh…” Kuperhatikan lagi onnie-onnie di sebelahku ini. Sepertinya ia masih muda. “Sepertinya Onnie masih muda sekali untuk jadi ibu hamil.”

“Haha… aku memang menikah muda. Umurku sekarang 23 tahun, dan aku menikah sekitar setahun lebih yang lalu.”

“Jinjjayo?” Wah umurnya tidak jauh berbeda dariku. Dan ia menikah setahun langsung hamil?!

“Onnie tidak merasa terlalu cepat ya? Masih semuda itu punya anak?” Aish! Aku kok seperti wartawan gini sih? Nanya-nanya terus!

“Hmm… awalnya aku ingin menunda kehamilanku karena merasa terlalu muda, dan suamiku setuju. Tapi ya susah juga. Karena suamiku berumur lima tahun di atasku, dan kedua orangtuanya ingin cepat-cepat punya cucu, jadi ya begitu…”

JLEB. Kenapa bisa sama sepertiku?! Yang parah adalah umur ahjusshiku tujuh tahun di atasku!

“Ah, Agassi, sudah sampai di halte tujuanku. Aku duluan ya.”katanya lalu turun bersama seorang namja yang sepertinya adalah suaminya.

Andwaeyo! Aku nggak mau seperti itu! Eottohke??

***

 

Yesung’s PoV

 

“Kapan dia pergi Yunho-ya?”tanyaku cemas. Sudah semalam ini Yuu belum pulang-pulang juga. Sejak Yunho datang menemuiku untuk mengabarkan Yuuri hilang, aku langsung pergi ke rumahnya dan menunggu gadisku itu disini dengan cemas.

“Mollayo, Hyung. Aku menemukan surat di kamarnya tadi sore. Lee ahjumma bilang ia tidak melihat Yuu saat ia pergi tadi.”

“Aish! Kemana sih dia?!”gerutuku kesal.

“Sudahlah Jongwoon-ah, Yun-ya, Yuu pasti baik-baik saja.”kata Eommonim yang cukup membuatku ternganga. Kenapa ia bisa sesantai itu?

“Eomma! Kenapa Eomma bisa santai seperti ini sih!”protes Yunho.

“Eommonim, kenapa bisa setenang itu? Yuuri hilang!”protesku.

“Haha… tenang saja Jongwoon-ah.”kali ini Abeonim yang berbicara. “Itu biasa untuk gadis muda yang akan menikah. Mereka akan stress menjelang pernikahan dan menghilang untuk menenangkan diri selama berhari-hari. Eommonim dulu juga seperti itu.”

“Eomma juga?”tanya Yunho kaget.

Aish! Sepertinya sifat Yuu yang seperti ini menurun dari ibunya. (=_=)”

“Ne. Eomma dulu begitu Yun-ya. Itu sindrom yang menyerang gadis-gadis muda yang akan menikah. Ia pasti akan merasa tidak siap atau takut. Tapi setelah menenangkan diri sejenak, ia pasti akan kembali seperti semula.”

“Kok aku baru dengar ya?”ucapku sangsi.

“Itu karena tidak semua gadis berpikiran seperti Yuu. Yah wajar sajalah Yuu seperti itu. Dia kan memang masih muda sekali dan sifatnya kekanak-kanakan.”

Nah itu dia yang aku khawatirkan! Bagaimana jika sifat kekanak-kanakannya itu membawanya ke pemikiran yang lebih kekanak-kanakan lagi? Misalnya ingin membatalkan pernikahan kami? Atau yang lebih buruknya, ia tidak mau pulang-pulang karena takut aku menyeretnya ke pernikahan? Aduh! Aku tidak siap jika harus kehilangannya!

Jung Yuuri, harus kemana aku mencarimu?

***

 

Yunho’s PoV

 

Aku memandang Yesung hyung yang sekarang terlihat sangat stress. Ia duduk bersandar di kepala tempat tidur Yuu dan boneka kucing milik Yuu. “Yuu… sebenarnya kau kenapa sih?”gumamnya sedih.

“Hyung…”panggilku, lalu duduk di tepi tempat tidur Yuu. “Jangan cemas, Yuu pasti baik-baik saja.”ucapku mencoba menghiburnya, walaupun sebenarnya aku juga sangat mencemaskan adikku itu.

“Jangan menghiburku di saat kau tidak bisa menghibur dirimu sendiri Yunho-ya.”katanya tajam. “Sebenarnya ia kenapa sih? Beberapa hari ini ia selalu terlihat aneh, dan aku tidak mengerti ia kenapa. Ia tidak mau mengatakan apapun padaku!”

Sudah kuduga. Yesung hyung tidak tahu sama sekali mengenai motivasi Yuu mati-matian belajar memasak.

“Yuu… dianggap tidak pantas jadi istri hyung oleh para Clouds di kampusnya.”ucapku pelan.

“MWO?!” Yesung hyung langsung menegakkan tubuhnya. “Kenapa mereka beranggapan seperti itu?!”

“Itu karena mereka tahu dari interview jika Yuu tidak bisa memasak. Bahkan di twitter juga. Makanya Yuu ngotot belajar masak walaupun ia sama sekali tidak berbakat.”

Yesung hyung tertegun sebentar. “Ya Tuhan, jadi gara-gara itu…? Babo yeoja! Kenapa ia diam saja sih! Seharusnya ia mengatakannya padaku!”

“Aish hyung! Jangan mengatakan adikku babo!” protesku, walaupun sebenarnya aku mengakui kebodohan adikku itu. Yuu benar-benar bodoh sampai harus kabur-kaburan seperti ini! Kapan sih ia bisa dewasa?

Yesung hyung menundukkan wajahnya. Ia terlihat sangat sedih sekali. “Aku benar-benar calon suami yang buruk, Yunho-ya. Aku bahkan tidak bisa melindungi calon istriku sendiri dari gangguan-gangguan seperti itu. Aku tidak pantas menjadi suaminya…”

Lho? Lho? Lho? Kenapa ia juga menjadi berpikir seperti ini sih?! “Hyung! Jangan berpikiran seperti itu! Kau mau pernikahan ini batal apa?!”

“Tentu saja aku ingin tetap menikah dengan adikmu! Aku tidak ingin kehilangannya. Tapi kenapa malah seperti ini…?”

Aku menghela napas panjang. Kurasa hubungan mereka benar-benar sedang diuji sekarang. Dan aku bingung harus membantu apa.

“Sebaiknya hyung istirahat saja dulu disini. Besok kita mulai mencari Yuu.”kataku lalu keluar dari kamar adikku.

Yuu… apa sih yang sebenarnya kau pikirkan?

***

 

Yuuri’s PoV

 

Tuhan benar-benar mengirimkan malaikat untukku. Saat aku berhenti di halte yang entah dimana tempatnya, tiba-tiba aku bertemu dengan orang yang tidak disangka-sangka. Lee Ang-Hyeon  Onnie! Sunbaeku saat di SMA! Senior yang sangat dekat denganku di SMA!

Kukatakan padanya jika aku tersesat dan bingung sekarang ada dimana. Kemudian karena sudah malam jadi ia mengajakku untuk menginap di apartemennya.

“Mianhe, Yuu, apartemenku berantakan.”ucapnya saat kami tiba di apartemennya.

“Gwenchana, onnie. Seharusnya aku yang minta maaf karena merepotkan Onnie.”

“Ah, tidak apa-apa. Tapi maaf ya Yuu, mungkin akan terdengar berisik nanti saat tidur.”katanya membuatku bingung.

“Musunsuri…”Tiba-tiba terdengar suara tangisan kencang sekali membuatku terkejut. Itu suara tangisan anak-anak!

Hyeon onnie terburu-buru pergi ke sebuah kamar. Aku mengikutinya ke kamar itu lalu terkejut melihat ia sedang menggendong seorang bayi kira-kira berumur 1 tahun yang sedang menangis.

“Onnie sudah menikah?!”tanyaku kaget.

Hyeon Onnie tertawa kecil. “Dia keponakanku Yuu. Oppaku menitipkannya selama beberapa hari karena ia harus menemani istrinya yang sekarang  sedang dirawat di rumah sakit karena kecelakaan.”katanya sambil menggoyang-goyang bayi itu dalam gendongannya agar bayi itu berhenti menangis.

“Oohh… kukira Onnie sudah menikah tanpa mengundangku.”

“Haha… bagaimana bisa menikah? Namjachingu saja tidak punya.”katanya lalu meletakkan bayi yang sudah tenang itu ke dalam box bayi.

“Hyeon noona…?”

Aku menoleh ke asal suara dan melihat seorang anak laki-laki berumur sekitar 5 tahun sedang berdiri di pintu kamar sambil sesekali mengucek matanya. Apa dia keponakan Hyeon Onnie juga ya?

“Jinki-ya, kau terbangun. Apa butuh sesuatu?”tanya Hyeon Onnie lalu menggendong anak laki-laki itu.

“Anhiyo. Tadi Jinki mendengar suara noona pulang, makanya bangun. Taeminnie sudah tidur lagi?”

Oh, jadi nama namja kecil tampan ini Lee Jinki? Lalu si baby imut tadi Lee Taemin? Ckckck~ Hyeon Onnie hebat deh punya keponakan yang tampan dan imut seperti mereka. Eh, bukan! Lee Joon oppa, Oppanya Hyeon Onnie, dan istrinya yang hebat sudah menurunkan gen yang bagus buat anak-anak mereka. Apakah nanti aku dan Jongwoon oppa juga… Aish! Apa sih yang kau pikirkan Yuu?!

“Noona… itu siapa?”tunjuk Jinki kepadaku. Aku tersenyum canggung. “Annyeong, Jinki-ya.”sapaku. “Yuuri Noona imnida. Chingu Hyeon Noona.”

“Annyeong, Noona! Lee Jinki imnida.”

Ia tersenyum lebar. Aduh! Imut sekali! Rasanya aku ingin sekali mencubit pipinya karena gemas. Aku sangat suka anak kecil. Bagiku mereka malaikat-malaikat lucu yang dikirimkan Tuhan ke dunia untuk membuat dunia ini ceria.

Kemudian aku teringat wanita hamil yang kutemui di bis, dan perkataan Reina. Aku suka anak kecil. Tapi ya sebatas suka saja. Aku belum memikirkan untuk memiliki mereka. Kira-kira bagaimana tanggapan Jongwoon jika aku mengatakan ini ya?

“Yuu…”

“Ah, ne.”jawabku tersadar dari lamunanku. “Lho? Jinki mana?”tanyaku saat melihat Hyeon Onnie sudah tidak bersama Jinki lagi.

“Tadi sudah kuantar ke kamar lagi.”

“Ooh…”

“Lalu?”

“Hmm?”

“Apa alasanmu meninggalkan rumah? Bukankah sebentar lagi kau akan menikah?”

Mataku melebar kaget mendengar pertanyaan Hyeon Onnie. Kenapa ia bisa tahu aku pergi dari rumah?

Ia tersenyum hangat padaku. “Kau pikir sudah berapa lama kita saling mengenal?”

Mataku berkaca-kaca mendengar kata-katanya. Kuputuskan untuk menceritakan semuanya padanya. Semua kegelisahanku akhir-akhir ini.

 

Author’s PoV

 

Sudah empat hari Yuuri meninggalkan rumah dan tinggal di apartemen Ang Hyeon. Yuuri sebenarnya menyadari jika masalahnya tidak mungkin selesai kalau ia masih terus bersembunyi di apartemen Ang Hyeon, tapi ia masih takut untuk pulang. Ia takut untuk menghadapi pertanyaan-pertanyaan tentang sikapnya yang kekanak-kanakan itu.

“Yuu… apa kau masih belum mau pulang juga?”tanya Ang Hyeon pada Yuuri saat mereka sedang sarapan. Yuuri yang sedang membujuk Jinki untuk memakan langsung menghentikan kegiatannya dan menatap Ang Hyeon cemas.

“Onnie keberatan ya jika aku lama-lama disini?”tanyanya.

“Anhi. Bukan begitu Yuu… Tapi apa tidak lebih baik kau pulang dan membicarakannya dengan calon suamimu?”

Wajah Yuuri berubah murung. “Menurut Onnie apa…”Kemudian Yuuri menyadari sesuatu. Jinki sedang berada di pangkuannya.“Jinki-ya, main ke kamar dulu ya sama Taeminnie.”katanya tersenyum pada Jinki.

“Ne.”jawab Jinki dengan senyum lebar, lalu turun dari pangkuan Yuuri dan pergi ke kamar untuk bermain dengan Taemin.

“Menurut Onnie apa jika aku mengatakannya ia akan mengerti?”tanya Yuuri. “Apa ia akan mengerti jika aku tidak mau… hamil?”

“Aku kan tidak mengenalnya Yuu. Kau yang mengenalnya, jadi kau pasti lebih tahu.”

Tentu saja Yuuri mengenal Yesung, dan ia tahu pasti bagaimana sikap Yesung nanti jika ia mengatakan itu. Yesung pasti akan menuruti keinginannya seperti biasa, walaupun sebenarnya dalam hatinya ia menyimpan kekecewaan. Tapi justru itulah yang Yuuri takutkan. Ia akan merasa bingung dengan semuanya. Ia tidak ingin hamil tapi ia juga tidak ingin Yesung sedih dan kecewa dengan keputusannya. Jadi apa yang harus dilakukannya?

“Lagipula Yuu, kenapa kau tidak ingin hamil? Bukankah kau menyukai anak-anak?”

Yuuri menganggukkan kepalanya perlahan. “Kan sudah kukatakan kalau aku masih terlalu muda Onnie…”

“Muda bukan alasan untuk tidak hamil, Yuu. Lagipula setahuku kau bukan gadis yang suka bersenang-senang, jadi tidak mungkin kan alasannya karena kau tidak mau masa mudamu terlewatkan?”

Aduh! Yuu menggerutu dalam hati. Kenapa Ang Hyeon selalu sangat mengerti dirinya? Masa’ ia harus mengatakan kalau alasan utamanya adalah takut melakukan ‘itu’ dengan suaminya sih?

“Ngg… itu…”Yuuri bingung memikirkan alasannya. “…aku takut tidak bisa menjaganya dengan baik, Onnie. Bagaimana mungkin aku yang ceroboh menjadi seorang ibu? Aku masih tidak berani memegang bayi sekecil Taemin.”ucap Yuuri malu-malu. Yuuri tidak sepenuhnya berbohong. Itu juga salah satu alasannya tidak ingin memiliki bayi di usia semuda ini. Ia sangat takut melukai bayi kecil jika ia yang ceroboh memegangnya.

Ketakutan Yuuri bukan tanpa alasan. Ia mempunyai kenangan buruk. Beberapa tahun lalu saat ia SMP, Yuuri pernah tidak sengaja tersandung dan menjatuhkan ke tengah jalan anak kucing berusia seminggu yang digendongnya. Parahnya setelah itu ada motor melintas dan melindas anak kucing itu. Hal itu membuat Yuuri sangat shock. Apalagi ia sangat menyukai kucing. Semenjak itu ia menjadi takut untuk menggendong yang namanya bayi. Mau bayi hewan atau bayi manusia. Aneh memang, tapi itulah yang terjadi padanya.

Ang Hyeon tertawa kecil melihat ekspresi Yuuri. “Kalau begitu, bagaimana jika latihan dulu?”

“Ne?” Kemudian Ang Hyeon masuk ke kamar untuk mengambil Taemin dan membawanya kepada Yuuri.

“Ayo coba gendong Yuu.”kata Ang Hyeon lalu memberikan Taemin pada Yuuri.

Yuuri menggeleng-geleng panik. “Nan shirreoyo, onnie. Aku takut!”

“Tidak akan apa-apa, aku akan membantumu.”bujuk Ang Hyeon. Yuuri masih menatap Taemin takut dan terus menggeleng-gelengkan kepalanya menolak.

“Noona kok nggak mau gendong Taeminnie?”tanya si kecil Jinki.

“Noona takut tidak kuat menggendongnya Jinki-ya…”jawab Yuuri malu.

“Taeminnie kan lebih enteng dari Jinki, Noona saja bisa menggendong Jinki.”

“Ngg… igeo…”Yuuri bingung mau menjawab apa.

“Kalo gitu gimana coba mangku dulu aja?”tanya Jinki dengan senyum manisnya. “Jinki contohin deh!”

Ang Hyeon tersenyum mendengar Jinki. Kemudian ia memberikan Taemin pada Jinki yang sudah duduk manis di sofa. Jinki memeluk adiknya dengan lembut. “Taeminnie…”panggil Jinki pada adiknya. Taemin tertawa-tawa saat Jinki memperlihatkan ekspresi wajahnya yang lucu.

Yuuri tersenyum melihat Jinki dan Taemin tertawa-tawa gembira. Sepertinya menyenangkan, pikirnya.

“Bagaimana Yuu? Mau mencoba?”tawar Ang Hyeon Onnie.

Awalnya bayangan bayi kucing itu terlintas lagi di benaknya, tapi Yuuri berusaha dengan kuat mengusirnya. Kapan lagi kau menghilangkan traumamu Yuu, batinnya. Kemudian dengan malu-malu Yuuri menganggukkan kepalanya dan duduk di sebelah Jinki. “Ng… Onnie… aku tidak bisa mengambil Taemin dari Jinki…”

Ang Hyeon tertawa kecil lalu mengambil si kecil Taemin dari pangkuan Jinki kemudian memindahkannya ke pangkuan Yuuri. Dengan kaku Yuuri memegang Taemin erat, takut bayi itu jatuh. “Annyeong… Taeminnie?”ucapnya ragu. Padahal biasanya jika tidak dalam posisi seperti ini ia biasa saja mengajak Taemin berbicara. Kenapa sekarang rasanya jadi grogi begini?

“Santai aja noona.”kata Jinki tersenyum lebar pada Yuuri. Ang Hyeon tertawa mendengar cara bicara Jinki yang sok tua.

Mendengar Ang Hyeon tertawa membuat Taemin ikut tertawa. Entah apa yang ditertawakan tapi sekarang mereka berempat sudah tertawa gembira. Dan itu membuat rasa gugup Yuuri berubah menjadi rasa nyaman. Setidaknya untuk saat ini ia bisa memangku seorang bayi. Bukankah itu suatu kemajuan?

***

 

Ternyata menghilangnya Yuuri selama tiga hari dari rumah hanya dapat membuat dua orang saja yang cemas, Yesung dan Yunho. Orang tua Yuuri sama sekali tidak mengkhawatirkan menghilangnya putri satu-satunya mereka, karena menurut mereka Yuuri pasti hanya terkena PMS (Pra Married Syndrom) sebentar saja. Yesung yang calon suami Yuuri tentu saja kelimpungan parah mendengar istilah yang baru didapatnya itu. Sementara Yunho, kakak Yuuri dan orang yang paling dekat dengan Yuuri seumur hidup gadis itu, juga stress melihat adik kesayangannya yang biasanya diketahuinya berada di rumah yang aman, kini entah dimana.

Berkali-kali member DBSK dan SUJU meyakinkan mereka kalau ini hanya ulah kekanak-kanakan Yuuri seperti biasanya. Bahkan kedua sahabat Yuuri pun mengatakan hal yang sama pada kedua namja itu. Tapi kedua namja itu tidak menggubris kata-kata mereka. Masalahnya adalah mereka belum pernah tidak mendapatkan kabar apapun tentang gadis itu selama lebih dari dua hari. Dan sekarang sudah empat hari mereka tidak mendengar kabar Yuuri.

Berkali-kali Yunho dan Yesung menanyakan pada Reina dan Heera mengenai keberadaan Yuuri, tapi mereka mengatakan tidak tahu. Bahkan Yuuri pun tidak masuk kuliah.

“Tenanglah oppa-deul, Yuu pasti baik-baik saja.”kata Heera untuk yang kesekian kalinya pada Yunho dan Yesung.

“Bagaimana aku bisa tenang?!”seru mereka bersamaan, membuat Reina dan Heera yang duduk di sofa seberang mereka terkejut. Seruan mereka hampir saja membuat jatuh cangkir teh yang diletakkan Lee ahjumma di meja di depan mereka.

“Mianhata, ahjumma.”ucap Yunho meringis melihat ekspresi kaget pengurus rumahnya itu. Yesung pun mengucapkan hal yang sama.

“Kalian tahu apa sebenarnya yang dipikirkan Yuuri sebelum mengusir kalian pulang? Kenapa setelah itu ia menghilang?”tanya Yesung.

Heera mendelik pada Reina yang sekarang sudah terlihat gugup. Sebenarnya mereka berdua bisa menduga alasan Yuuri kabur saat itu, tapi sampai sekarang mereka tidak memberitahu kedua namja itu karena Reina yang merasa takut dugaannya benar. Karena jika dugaannya benar, berarti Reina yang secara langsung menyebabkan Yuuri berpikir untuk kabur.

“Sepertinya kau tahu sesuatu, Reina-ya?”tanya Yunho tajam pada Reina yang gugup.

Heera menghela napas. “Sudahlah, Na-ya. sebaiknya kau katakan saja yang sebenarnya…”

“Baiklah…”ucap Reina pasrah. Yesung dan Yunho memperhatikan Reina yang akan berbicara dengan wajah serius. “Ng… sebelum Yuu pergi kami sempat berbicara mengenai… hamil.”

“Ne? hamil?”Yesung bingung. Sementara Yunho, dari wajahnya terlihat ia sudah mengerti apa arti ucapan Reina itu. Ketakutan Yuuri terhadap bayi!

“Aish! Aku bingung! Kau saja Ra-ya yang menjelaskan pada mereka!”kata Reina.

Heera menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung. *kutuan kali?**dicakar Heera*

“Jadi gini, saat itu Reina mengatakan jika sekarang mau menikah saja Yuu sudah repot sana-sini, bagaimana jika hamil dan punya anak? Waktu mendengarnya Yuu sangat shock. Lalu…”

“Chankaman!”sela Yesung. “Apa hubungannya Yuu kabur sama hamil? Kami kan belum melakukan apapun, bagaimana mungkin ia hamil? Lagipula jika kami sudah melakukannya dan ia hamil, justru kita harus segera menikah kan?”

“Oppa! Dengarkan aku bicara sampai selesai!”omel Heera.

Yesung diam, bersiap mendengarkan kelanjutan cerita Heera. “Seperti yang oppa tahu, Yuu itu terlalu polos, jadi kami berdua pikir saat itu yang membuat ia shock adalah karena kami mengatakan jika setelah menikah ia akan hamil dan punya anak. Dan Yuu… takut akan hal itu.”

Wajah Yesung langsung pucat pasi saat mengerti arti penjelasan Heera. Jika Yuuri takut hamil dan punya anak, itu berarti gadis itu bisa saja menolak untuk menikah dengannya kan?

“Kenapa begitu…? Bukankah ia suka anak-anak…?”tanya Yesung lirih.

“Yuu punya trauma hyung.”jawab Yunho pelan.

“Trauma?”

“Hyung tahu kan jika ia sangat menyukai kucing? Waktu SMP ia pernah menemukan bayi kucing di sekolahnya. Sewaktu membawanya pulang ke rumah, ia tersandung dan anak kucing yang baru berusia seminggu itu terlempar ke tengah jalan lalu terlindas motor yang lewat. Yuu shock sekali waktu itu. Ia menangis selama berhari-hari. Semenjak itulah ia tidak berani memegang bayi apapun. Bayi hewan apalagi bayi manusia. Ia takut tangannya ceroboh lagi. Mungkin itu yang menjadi ketakutannya.”

Yesung terdiam mendengar penjelasan Yunho. Ia merasa sedih sekali dengan hal itu. Gadis yang dicintainya, yang diharapkannya untuk menjadi ibu bagi anak-anaknya, malah takut hamil dan memiliki seorang bayi?

Ya Tuhan… apakah sesulit ini untuk menikahinya? Menikahi seorang Jung Yuuri?

***

 

Sudah sepuluh hari Yuuri tinggal bersama Ang Hyeon dan ia sudah banyak mendapatkan kemajuan dalam mengurus bayi. Awalnya yang hanya berani memangku, kini ia sudah bisa menggendong Taemin tanpa harus dijaga Ang Hyeon lagi. Yuuri bahkan sudah bisa memandikan bayi berumur satu tahun itu.

Tapi dibalik hal-hal menggembirakan itu, Yuuri menyimpan sebuah kecemasan. Bagaimana dengan pernikahannya yang tinggal menghitung hari? Ia yakin sampai sekarang pernikahannya tetap masih dalam status ‘akan dilaksanakan’ karena ia tidak melihat berita tentang pembatalan pernikahan Yesung Super Junior di tivi ataupun  internet.

Yuuri ingin pulang. Ia sangat merindukan kedua orangtuanya, sahabat-sahabatnya, oppanya, dan ia sangat merindukan namja yang akan menjadi calon suaminya. Tapi ia takut. Ia takut jika namja itu marah padanya. Takut jika namja itu tidak mencintainya lagi. Ia takut jika harus menghadapi kenyataan jika pernikahan mereka tidak dibatalkan hanya karena namja yang dicintainya itu tidak ingin malu.

“Yuu…”Ang Hyeon masuk ke kamar dan menghampiri Yuuri yang sedang menangkupkan wajah di bantal, untuk meredam tangisnya. “Neo gwenchanayo?”

“Gwenchana anhiya…”ucap Yuuri tersedu-sedu lalu membuka bantal yang menutupi wajahnya. “Aku merindukannya onnie…”

Ang Hyeon tersenyum. “Kalau begitu kau harus pulang Yuu…”

Yuuri menggeleng. “Aku takut ia marah padaku Onnie. Aku takut ia tidak mencintaiku lagi. Bagaimana jika ternyata ia tidak membatalkan pernikahan kami karena ia tidak mau malu? Tapi aku tidak ingin kehilangannya Onnie. Aku takut…”

Yuuri menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya.“…aku takut ia menyadari jika aku tidak pantas untuknya… aku takut ia berpikir aku tidak bisa jadi istri yang baik untuknya…”

Ang Hyeon hanya diam mendengarkan Yuuri mengeluarkan isi hatinya. Ia mengelus lembut rambut Yuuri.

“Jongwoon oppa sangat dewasa. Ia sangat perhatian dan baik sekali padaku. Tapi aku… aku terlalu kekanak-kanakan. Terlalu… egois. Aku selalu merasa kurang darinya. Padahal aku tidak pernah memberikan apapun untuknya. Aku tidak bisa memperlakukannya dengan baik seperti ia memperlakukanku…”

“Setiap bertemu dengannya, aku selalu melihat diriku yang seperti itu. Aku berusaha untuk mengubah sifatku tapi sulit sekali…”

Yuuri menarik napas dalam-dalam, menahan lendir di hidungnya yang akan keluar, lalu kembali berbicara.“Ia bilang aku akan menjadi istrinya seumur hidupnya. Tapi apa aku yang seperti ini pantas bersanding dengannya? Aku bahkan takut jika harus memberikannya seorang anak…”

Tangis Yuuri pecah seketika. Ia berusaha menahan tangisnya yang semakin keras dengan membenamkan wajahnya di bantal milik Ang Hyeon. Ang Hyeon memeluk Yuuri erat lalu mengusap-usap punggung gadis itu dengan lembut.

“Yuu… Uljima…”Ang Hyeon mencoba menenangkan Yuuri.

“Rasanya menyakitkan sekali ketika pikiran-pikiran itu terus muncul di kepalaku.What should I do…?”ucap Yuuri lirih.

 

Yesung’s POV

 

Aku mendengarnya sangat jelas dari sini. Dari luar kamar Ang-Hyeon yang pintunya tidak tertutup rapat.

Setelah selama sepuluh hari dibuat pusing oleh lenyapnya Yuu, akhirnya ada yang memberitahu Yunho dimana keberadaan adiknya itu. Ternyata Yuu menginap di apartemen Ang Hyeon, senior SMA Yuu yang sangat dekat dengannya. Kami –aku berdua Yunho –datang ke apartemen Ang Hyeon malam hari.

Saat kami berdua menunggu Ang Hyeon untuk memanggil Yuuri di kamarnya, aku bisa mendengar suara tangisan gadis yang kucintai itu. Aku menghampiri kamar Ang-Hyeon  dan saat itulah aku bisa mendengar pembicaraan mereka berdua. Kegundahan-kegundahannya, sikapnya yang berubah aneh yang akhir-akhir ini selalu berusaha ia tutupi dari mataku, kini aku sudah tahu penyebabnya.

Ia merasa tidak pantas untukku?! Ya Tuhan! Kenapa ia bisa berpikir seperti itu sih?!

Justru aku yang merasa tidak pantas untuknya! Mungkin ia tidak tahu karena ia terlalu polos, tapi banyak sekali namja di kampusnya yang memujanya. Siapa yang tidak akan menyukai gadis secantik, sebaik, sepintar, dan seramah dirinya. Oke, lupakan jika ia tidak bisa memasak ataupun mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya. Ataupun tidak bisa mengurus anak-anak. Setidaknya menurutku ia sudah sempurna.

Aku tidak akan merasa terancam jika namja-namja itu merupakan mahasiswa ingusan yang tidak ada apa-apanya. Tapi bahkan aku dengar dari kedua sahabatnya jika banyak mahasiswa-mahasiswa berprestasi, namja-namja populer dan dosen-dosen muda yang menyukainya! Itu yang membuatku selama ini cukup khawatir. Karena mereka cukup berqualified untuk bersanding dengannya, dan mereka bisa mendekatinya secara mudah di kampusnya.

Aku takut kehilangannya. Selama ini aku takut jika kesibukanku membuatku jauh darinya. Makanya sebisa mungkin aku selalu menghubunginya disela-sela kesibukanku. Malahan hanya dengan mendengar suaranya ditelpon, kebawelannya saat menunjukkan perhatiannya padaku, itu justru menjadi vitamin yang bisa membuatku segar kembali dan melupakan rasa lelahku.

Aku benar-benar mencintainya. Aku tidak tahu sejak kapan. Bahkan mungkin sejak perkenalan awal kami aku sudah langsung menyukainya. Ia mempunyai sesuatu –seperti magnet– yang menarikku untuk selalu ingin bersamanya. Tingkah-tingkah menyebalkan yang selalu ditunjukkannya padaku justru malah membuatku makin mencintainya. Karena aku tahu ia bersikap seperti itu hanya untuk menutupi rasa gugup dan kikuknya saat bersamaku.

Bagaimana aku meyakinkannya tentang hal ini?

Aku mengangkat kepalan tanganku untuk mengetok kamar Ang-Hyeon saat tiba-tiba pintu kamar itu terbuka.

“Bisa aku bertemu Yuu?”tanyaku pada Ang Hyeon.

Ang-Hyeon membuka pintu kamarnya lebar-lebar agar aku bisa melihat ke dalam. Kulihat gadis yang kucintai sedang tertidur pulas sambil memeluk boneka kucing di kasur Ang-Hyeon.

“Jangan diba…”

“Aku hanya ingin melihatnya.”kataku memotong perkataan Ang-Hyeon. Aku terus berjalan menuju tempat tidur sambil tetap memandangi wajah cantiknya yang tertidur pulas. Kudengar pintu kamar menutup. Mereka membiarkanku untuk berduaan saja dengan Yuuri.

Aku duduk di tepian kasur dan menatap wajahnya dalam-dalam. Aku benar-benar merindukannya! Sepuluh hari tidak mendengar suaranya dan tidak tahu kabarnya cukup membuatku gila. Kusentuh wajahnya perlahan, lalu kususuri bentuk wajahnya. Ia melenguh pelan, tapi aku yakin ia tidak akan terbangun. Yuuri tipe orang yang akan tidur dengan tenang dan tidak mudah terganggu tidurnya jika ia kelelahan. Dan sekarang kulihat ia tertidur lelah karena menangis. Matanya sembab. Aku menundukkan wajahku lalu mencium keningnya lembut.

“Babo yeoja. Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu? Cuma kau satu-satunya gadis yang kuinginkan untuk mendampingiku…”ucapku lirih, lalu mencium pipinya lembut.

Tiba-tiba ia menggeliat-geliat dalam tidurnya, kemudian matanya membuka perlahan, membuatku kaget. Kukira ia tidak akan terbangun.

Matanya yang baru separo terbuka melihatku. Ia lalu mengucek-uceknya. Lalu menatap wajahku yang berada di atasnya.

“Apakah aku bermimpi…?”gumamnya sambil terus menatapku kosong. Kemudian airmatanya mengalir. “Kenapa aku terus memikirkanmu…”ucapnya lirih. “Aku tidak ingin melepasmu…”

Mendengar ucapannya itu refleks aku langsung memeluknya yang masih dalam posisi tertidur. Kurasakan tubuhnya menegang dalam pelukanku.

“Jangan pernah melepasku, Yuu…”ucapku lirih. Kubenamkan wajahku di bahunya.

“A… aku… tidak bermimpi…”

“Anhi. Kau tidak bermimpi Yuu…”ucapku lalu masih dalam posisi memeluknya aku menariknya bangun. Aku melepaskan pelukanku dan menatapnya yang kini sudah mulai terisak-isak.

“Uljima…”Kuhapus airmata yang mengalir di pipinya dengan kedua tanganku. “Kenapa kau pergi? Aku hampir gila mencarimu selama sepuluh hari ini.”

“A… aku kan… hiks… ha… hiks… nya… menghilang… hiks… 10 hari… hiks… hiks…”

“Sepuluh hari sudah terlalu lama untukku tidak melihatmu, ditambah aku tidak mengetahui kabarmu, apa kau pikir aku bisa tenang?”

Ia menundukkan wajahnya. Lalu ketika tangisnya sudah sedikit mereda, ia berkata. “Mianhe… oppa pasti tidak ingin wartawan tahu dan menyebabkan berita yang aneh-aneh tersebar…”

Amarahku langsung memuncak mendengar kalimat itu darinya. Aku tidak mungkin berpikir seperti itu!

“Kenapa kau berkata seperti itu?!”Aku tidak bisa mengontrol nada suaraku yang tinggi. Ia tersentak kaget mendengarnya dan mengangkat wajahnya. Ia terlihat ketakutan. Karena ini pertama kalinya aku marah padanya. Ya, aku benar-benar marah sekarang. “Kau pikir aku lebih mempedulikan hal itu?! Apa selama ini yang kulakukan padamu kurang untuk membuktikan betapa aku mencintaimu?!”

Aku berusaha meredam emosiku sekarang. Karena ia benar-benar terlihat takut dan  akan menangis lagi. Sial! Aku bersumpah untuk tidak akan pernah bersikap kasar padanya. Tapi sekarang aku benar-benar emosi.

Aku meletakkan kedua tanganku di pipinya, mengelus pipinya dengan lembut. Kupandangi matanya dalam-dalam. “Bogoshippda… Kumohon, jangan tinggalkan aku… Jangan melepasku…”

Airmatanya kembali mengalir. Aku sedih melihatnya seperti ini. “Kenapa kau berpikir sebodoh itu…”kataku nyaris berbisik, “Pantas tidak pantas… Aku tidak mau memikirkannya…”

“A… aku… hiks…tidak… hiks… pantas untuk…mu. Aku …hiks… takut.. tidak bisa… jadi istri yang baik… hiks… untuk…hiks…mu..”

“Apa kau pikir aku tidak pernah merasa aku tidak pantas untukmu?”

Matanya melebar kaget mendengar ucapanku. Aku suka memandang mata coklat besarnya itu. Matanya yang selalu bersinar ketika melihatku. Tapi sekarang sinarnya tergantikan bulir-bulir airmata.

“Aku sudah cukup cemas mendengar betapa populernya dirimu di kampus. Bahkan mahasiswa-mahasiswa populer dan berprestasi di kampusmu banyak yang menyukaimu. Dan mereka bisa selalu menemuimu, bisa mendekatimu dengan mudah. Bisa selalu berada di dekatmu dan melindungimu dengan mudah. Apa kau tahu betapa cemasnya aku ketika harus pergi ke ke luar negeri? Berada di Korea saja aku sudah sulit untuk bertemu denganmu.”

“O…Oppa…” Kurasa ia terlalu terkejut mendengar hal itu, sampai-sampai airmatanya berhenti mengalir.

“Makanya aku selalu menelponmu. Mungkin kau sering merasa terganggu karena seringnya aku menelponmu. Tapi aku hanya ingin memastikan, dari suaranya, kalau gadis yang kutinggal masih punya perasaan yang sama denganku. Aku hanya ingin mendengar suaranya yang ibaratkan vitamin untukku. Menguatkanku, memberiku semangat. Aku… benar-benar tidak rela jika dia tidak bisa menjadi milikku… Makanya aku ingin segera menikahinya agar aku bisa melihatnya setiap hari.Yuu… Bagiku  kau adalah matahari dan udara untukku.”

Yuuri kembali menangis mendengar pengakuanku. Ya, pengakuan. Selama ini aku tidak pernah memberitahukan hal seperti ini padanya karena kupikir kata ‘cinta’ akan cukup untuknya mempercayaiku.

“Tidak ada manusia yang sempurna, Yuu… Justru menikah itu untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing. Aku pun merasa belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi seperti itu.”

Aku menghapus airmatanya dengan lembut. “Apa kau bersedia berusaha menjadi istri yang baik untukku?”

 

Yuuri’s POV

 

Ia terlihat sangat sedih. Apa aku menyakitinya?

Aku tidak kuasa melihat raut sedih namja yang kucintai ini. Apakah perbuatanku keterlaluan? Aku semakin merasa tidak pantas untuknya.

“A… aku… hiks…tidak… hiks… pantas untuk…mu. Aku …hiks… takut.. tidak bisa… jadi istri yang baik… hiks… untuk…hiks…mu..”Aku berkata di sela-sela tangisku yang sulit untuk kukendalikan.

“Apa kau pikir aku tidak pernah merasa aku tidak pantas untukmu?”

Mataku melebar kaget mendengar ucapannya. Kupandangi mata sipitnya yang sangat kusukai itu. Aku bisa melihat kejujurannya.

“Aku sudah cukup cemas mendengar betapa populernya dirimu di kampus. Bahkan mahasiswa-mahasiswa popular dan berprestasi di kampusmu banyak yang menyukaimu. Dan mereka bisa selalu menemuimu, bisa mendekatimu dengan mudah. Bisa selalu berada di dekatmu dan melindungimu dengan mudah. Apa kau tahu betapa cemasnya aku ketika harus pergi ke luar negeri? Berada di Korea saja aku sudah sulit untuk bertemu denganmu.”

“O…Oppa…” Tangisanku perlahan terhenti mendengar kata-katanya itu. Aku tidak bisa percaya ini. Benarkah ia berpikir seperti itu? Aku saja tidak tahu seberapa populernya aku di kalangan namja-namja di kampusku.

“Makanya aku selalu menelponmu. Mungkin kau sering merasa terganggu karena seringnya aku menelponmu. Tapi aku hanya ingin memastikan, dari suaranya, kalau gadis yang kutinggal masih punya perasaan yang sama denganku. Aku hanya ingin mendengar suaranya yang ibaratkan vitamin untukku. Menguatkanku, memberiku semangat. Aku… benar-benar tidak rela jika dia tidak bisa menjadi milikku… Makanya aku ingin segera menikahinya agar aku bisa melihatnya setiap hari. Yuu… Bagiku  kau adalah matahari dan udara untukku.”

Aku kembali menangis mendengar pengakuannya. Tidak. Aku tidak pernah merasa terganggu dengan seringnya ia menelpon. Aku selalu menanti-nantikan telponnya, smsnya. Aku terlalu bergantung padanya.

“Tidak ada manusia yang sempurna, Yuu… Justru menikah itu untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing. Aku pun merasa belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi seperti itu.”

Ia menghapus airmataku dengan lembut. “Apa kau bersedia berusaha menjadi istri yang baik untukku?”

Tanpa bisa kutahan aku menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Kupeluk ia dengan erat, kubenamkan wajahku di dadanya. “Mianhe…. Mianhe… Mianhe…”ucapku terus-menerus.

Ia membalas pelukanku. “Yuu… jangan meminta maaf. Aku hanya butuh jawab…”

“Iya!”kataku cepat sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. “Aku… akan berusaha menjadi istri yang baik… untukmu…”

Aku tersenyum. Setelah mengucapkan kalimat itu aku merasakan beban dihatiku terangkat. Keragu-raguan akan diriku dan pernikahan ini menjadi hilang, tergantikan oleh rasa lega dan bahagia. Semuanya karena kami saling membuka hati satu sama lain.

“Lain kali kita harus saling terbuka ya. Jangan pernah menutupi perasaanmu lagi.”katanya. Aku mengangkat wajahku dan menatap senyumannya yang sangat kusukai. Aku mengangguk pelan. Ia mencium keningku lalu memelukku.

“Ah ya!”katanya tiba-tiba teringat sesuatu. “Aku sudah mendengarnya dari Yunho, traumamu terhadap bayi…”

Aku langsung merasa cemas mendengarnya membahas hal ini. Memang aku sudah tidak takut lagi memegang bayi, tapi aku kan masih takut akan…

Ia tersenyum lembut. “Aku tidak akan memaksamu untuk kita punya anak cepat-cepat. Yang lebih penting kita berusaha menghilangkan traumamu dulu.Lalu menikmati kebersamaan kita sampai saatnya nanti kita punya anak. Ide yang bagus bukan?”

Aku tersenyum mendengar perhatiannya itu. Yah lebih baik tidak merusak momen bagus ini dengan mengatakan alasan ketakutanku yang sebenarnya kan?

Ia semakin merapatkan pelukan hangatnya dan aku bisa merasakan ciumannya di puncak kepalaku. Kemudian ia mulai menyenandungkan salah satu lagu favoritku. Happy Together.

Oneuldo nal gida lyuhjoon, neh moseub nan giukheh, gaggeumshik himi deul ddehmyun, nan hangsang nul senggakheh.

I remember the image of you who waited for me again todayfrom time to time. When things get though. I always think of you.

 

Gomawo, gibbeul ddehmyun dagatchi ootgo uhnjena sarang haneun mam choongboonheh.

Thank you. When i’m happy we all laugh together..and loving hearts are always abounding.

 

Geujuh batgiman hetdun nuh eh maeum ijen da dollyuh joolgeh.

Now, having just received your heart, I’ll give everything back to you.

 

Jogeum duh gaggai sarang nuhwa nehga jigeum idehlo hangsang nuhleul jikyuhjoolgeh. A little bit closer, love. I’ll always protect you.

 

Ddehloneun jichyuhsuh apeugo himdeulmyun geujuh nun gidehmyun dweh.

So we’re like how we are now.When you’re feeling exhausted and hurt and pained.. All you have to do is lean on me.

 

Youngwonhi happy together.

Always, happy together.”

 

“I wish we’ll always be happy together…”ucapnya. Aku tersenyum dalam pelukan hangatnya lalu tertidur nyenyak.

***

 

Author’s PoV

 

“Ra-ya, Na-ya, kenapa kalian mengajakku kesini sih?” protes Yuuri saat kedua sahabatnya mengajaknya masuk ke studio tempat diadakannya SBS Inkigayo.

“Tentu saja untuk melihat perform DBSK!”ucap Heera semangat.

“Dan juga Infinite.”sambung Reina. “Lagipula memangnya kau tidak mau melihat perform calon suamimu?”

“Tentu saja aku mau. Tapi bukan disini…”Yuuri menatap ke sekeliling bangku penonton dengan takut. Sudah banyak pasang mata yang memperhatikannya sejak tadi. Ia takut jika Clouds akan membashingnya disini.

“Tenang saja. Ada kami yang menjagamu.”

Ucapan Heera membuat Yuuri sedikit tenang. Ia mulai bisa tersenyum ceria. Mereka bertiga pun asik mengobrol di bangku penonton.

Tiba-tiba ada sekumpulan yeoja yang menghampiri mereka bertiga.“Jung Yuuri-ssi?”

“Ne?”jawab Yuuri takut-takut. Apa mereka Clouds?

“Wah ternyata aslinya lebih cantik!”ucap salah satu di antara mereka, membuat Yuuri tersipu sekaligus bingung. Mereka bukan Clouds?

“Kami adalah Cassiopeia, dan kami fans berat  oppamu!”ucap salah satu dari mereka bersemangat.

Yuuri tersenyum lega. Ia berdiri dari duduknya lalu membungkukkan badannya pada yeoja-yeoja tersebut. “Gamsahamnida sudah mendukung oppaku.”ucapnya tulus.

“Chukahamnida untuk pernikahanmu dan Yesung oppa yang sebentar lagi.”

“Kalian berdua cocok sekali! Semoga kalian bahagia!”

“Ingat! Cassiopeia akan selalu mendukung Yunho oppa dan dirimu.”

Mata Yuuri berkaca-kaca mendengar perhatian tulus dari para Cassiopeia. “Gamsahamnida.”ucapnya sambil membungkuk lagi.

Kemudian Yuuri mengobrol akrab dengan para Cassiopeia itu. Ia senang sekali dengan perhatian mereka. Ketakutan yang awalnya dirasakannya saat memasuki gedung studio ini perlahan menghilang. Ada banyak orang yang mendukung dirinya. Ada banyak orang yang mendoakan kebahagiaannya dengan Yesung.

Hanya dengan mengetahui hal itu, cukup membuatnya lega. Memang kita tidak mungkin meminta seluruh dunia menyukai kita, yang penting kita tahu ada yang mendukung kita kan?

***

 

Saat ini Yuuri sudah mulai bersenang-senang dengan kedua sahabatnya. Ia bersikap layaknya fangirl yang berteriak-teriak heboh saat melihat perform boyband dan girlband. Kemudian tiba saatnya perform terakhir dari Super Junior. Jantung Yuuri berdegup dengan kencang menunggu penampilan namja calon suaminya beserta grupnya itu.

 

“Neo gateun saram tto eopseo…”

 

Lho? Yuuri bingung. Kok lagu ini?

Yuuri dan kedua sahabatnya memang tidak datang sejak awal, jadi mereka tidak melihat rehearsal perform Super Junior. Makanya mereka tidak tahu jika lagu apa yang akan Super Junior ditampilkan.Ini kan lagu No Other, kok mereka menyanyikan lagu ini ya? bukankah seharusnya Mr. Simple atau A-cha?

Kebingungan itu mendadak tidak dihiraukannya lagi saat ia melihat Yesung bernyanyi. Matanya tidak lepas dari namja itu, sama seperti halnya namja itu yang bernyanyi menghadapnya. Namja itu sudah mengetahui dimana Yuuri dan kedua sahabatnya duduk. Senyuman selalu tersungging di bibirnya untuk Yuuri, membuat fans yang melihat berteriak histeris.

“Aish! Mereka heboh sekali sih!”gerutu Reina.

Tapi Yuuri tidak menghiraukannya. Ia malah tidak merasa berisik sama sekali. Mata dan telinganya hanya terfokus pada satu orang. Pada namja yang sedang bernyanyi untuknya. Ya, ia yakin jika lagu itu ditujukan untuknya saat Yesung bernyanyi dengan terus menerus menatapnya.

Kemudian lagu No Other selesai, lampu panggung berubah gelap. Musik pun kembali berputar dan Yuuri terkesiap kaget saat mengenali musik lagu ini dan lirik awal yang dinyanyikan Eunhyuk.

 

“Love oh baby my girl. Geudaen naui juhnbu nunbushige areumdawoon Naui shinbu shini jushin suhnmul…”(Love oh baby my girl. You are my all. So beautifully radiant, my bride.
A gift from God)

 

Lalu lampu panggung menyala dan penonton histeris melihat semua personil Super Junior membawa balon berwarna-warni.

 

“Haengbokhangayo geudaeui ggaman nunesuh nunmuri heureujyo.Ggaman muhri pappuri dwel ddaeggajido.Naui sarang naui geudae saranghal guhseul na maengsehalgeyo.” (Are you happy.Tears fall from your dark eyes. Until your dark hair turns white. My love, my girl.I’ll swear my love. Saying I love you)

 

Mungkin terlalu percaya diri sekali jika Yuuri menganggap lagu No Other yang sebelumnya dinyanyikan dan lagu Marry U yang sekarang dibawakan oleh Super Junior dipersembahkan untuknya.

 

“Geudaereul saranghandaneun mal pyuhngsaeng maeil haejugo shipuh. Would you marry me? Nuhl saranghago akkimyuh saragago shipuh.” (I want to do it every day for a lifetime. Would you marry me?Loving and cherishing you. I want to live this way.)

 

Tapi ia merasakan hal itu. Ia merasa jika namja yang sekarang sedang mengumpulkan balon dari tangan teman-temannya itu memang mempersembahkan lagu itu untuknya.

 

“Geudaega jami deul ddaemada nae pare jaewuhjugo shipuh. Would you marry me? Iruhn naui maeum huhrakhaejullae?”(Every time you fall asleep.I want it to be in my arms. Would you marry me?Would you consent to this heart of mine?)

 

Setelah berhasil mengumpulkan semua balon dari teman-temannya, Yesung berjalan meninggalkan panggung dan menuju bangku penonton. Yuuri tidak bisa berkedip saat melihat Yesung semakin mendekati tempatnya duduk. Jantungnya berdegup kencang, tangannya berkeringat.

Yuuri bangkit dari duduknya dan menatap Yesung yang sekarang sudah tersenyum dengan memegang sembilan balon di hadapannya.

Kemudian Yesung mulai menyanyikan lirik yang seharusnya dinyanyikan oleh Kyuhyun.

 

“Pyuhngsaeng gyuhte isseulge (I do). Nuhl saranghaneun guhl (I do)…“(For a lifetime I’ll be by your side,I do. Loving you, I do)

 

Mata Yuuri mulai memanas. Ia bisa merasakan bulir-bulir airmata sudah memenuhi matanya.

 

“Nungwa biga wado akkyuhjumyuhnsuh (I do). Nuhreul jikyuhjulge (My love)…”(Cherishing you through the snow and rain, I do. I’ll protect you, My love.)

 

Kemudian musik berhenti. Studio pun sunyi senyap. Seakan menunggu apa yang terjadi pada sepasang kekasih yang sedang saling menatap itu.

Yesung tersenyum menatap mata Yuuri yang sudah berkaca-kaca. Kemudian tanpa mengatakan apapun ia memberikan delapan balon di tangannya pada Yuuri. Yuuri menerimanya dalam diam.

“Ini semua untukmu, Yuu…”kata pertama yang Yesung ucapkan pada Yuuri saat ini. “Lagu ini, lagu yang sedari tadi kami bawakan, adalah isi hatiku untukmu…”

 

Airmata Yuuri mulai menetes sekarang.

 

Kemudian Yesung memberikan satu balon yang tadi  belum diberikannya pada Yuuri. Yuuri terkesiap kaget saat menyadari ada cincin yang dipegang Yesung di ujung tali balon itu. Scene ini adalah scene favoritnya di MV No Other. Scene yang menurutnya sangat indah, romantis dan menyentuh hatinya.

“Meskipun kita akan menikah sebentar lagi, tapi aku ingin mengatakannya sekali lagi padamu, dengan cara yang lebih spesial…”

Tapi scene di video itu sangat berbeda dengan yang dirasakannya saat ini. Apa yang Yesung lakukan untuknyasaat ini merupakan hal yang paling indah, paling menyentuh, paling romantis dan paling membahagiakan dalam hidupnya sampai saat ini.

“Jung Yuuri, saranghae… Bagiku kau adalah udara dan matahari. Tanpamu aku tidak mungkin bisa bertahan hidup. Aku ingin kau selalu berada di sisiku. Would you grow old with me?”

Airmata Yuuri masih terus-menerus menetes menatap namja yang ia cintai tersenyum lebar padanya dengan masih memegang cincin yang berada balon itu. Lalu Yuuri mengulurkan tangannya, tapi bukan untuk mengambil cincin dan balon itu. Yuuri mengulurkan tangannya untuk menarik tubuh Yesung ke dalam pelukannya.

“Kenapa… kau selalu saja membuatku tidak mau melepasmu…?”ucap Yuuri lirih.

“Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu melepasku Yuu…”Yesung membalas pelukan Yuuri dengan erat.

“Saranghaeyo, Kim Jongwoon… Jeongmal Saranghaeyo…”ucap Yuuri dengan bibir tersenyum.

“Na do, Nyonya Kim.”

Mereka berpelukan dengan sangat erat diringi tepuk tangan meriah dari seluruh orang yang hadir disana.

Tiba-tiba entah siapa yang memulai, mereka secara serempak meng-koor-kan kata yang sama. “Kisseu! Kisseu! Kisseu!”

Yuuri melepaskan pelukannya dan menatap sekelilingnya dengan malu. Yesung tertawa melihat wajah Yuuri yang sudah sangat memerah.“Kita tidak perlu melakukannya jika kau ma…”

Cup.

Sebuah kecupan singkat di pipi dari Yuuri berhasil membuat Yesung terpaku. Suara penonton semakin riuh.

Yesung menatap Yuuri dengan ternganga. Ini pertama kalinya… walaupun hanya di pipi, ini pertama kalinya Yuuri berinisiatif untuk menciumnya terlebih dulu. Dan ini di tempat umum! Di tempat dimana beratus pasang mata memperhatikan mereka. Apalagi ini ditayangkan di tivi yang akan ditonton hampir seluruh penduduk Korea!

Yuuri tertawa kecil melihat Yesung yang masih terkejut. Kemudian perlahan Yesung melebarkan senyumnya dan kembali menarik Yuuri ke dalam pelukannya.

Mereka saling bersumpah di  hati masing-masing jika mereka tidak akan pernah saling melepaskan. Mereka akan saling mencintai. Selamanya.

**

 

“Dengan ini kalian resmi menjadi sepasang suami istri.”

 

~END~

 

Kyaaaa~ eotte? Eotte? Yeye oppaaaaa~ saranghaeeee~ *histeris*

Nggak ada hal lain yang pengen aku ucapin selain kata-kata cinta buat suamiku tercinta Yeye Oppa. Sumpah! Aku sendiri  yang ngetik berasa melting banget! Airmata sampe ngalir begitu!

Adakah yang merasakan hal yang sama denganku? ;-)

Please leave ur comment.^^

FF couple ini kujadiin couple utama di wpku. http://myideamylife.wordpress.com Mampir-mampir yaaaa~

 

 

 

 

 

 

 

 

20 thoughts on “Pre Married Syndrom 2 (END)

  1. waaa… enak nya jadii yuu.. yeppa perhatian bnget yaaa. hehe :D
    tapii 10 hari hilang dari rumah fan ortu santai2 aja… wow.. klo aq mah waa ga kebayang dech di apain ama ortu.. wkwk XD

  2. Speechlessssssss abissss gueeee!!! Dari awal sampai akhir sangat menikmati ceritanya.. Apalagi endingnyaaaaa..
    Itu acara lamarannya manissss dewaaaaa ><
    Seriously, I'm touched and my tears drop now..
    Kereeeeeeeennnn!!! :)

  3. Setuju BUanget lahsm author,
    pas bca FF ini aq smpe nangis berlinang air mata krna terharu…

    huahhhh so swee bgt dah….
    daebak thor…

    q setuju pas
    “Kemudian Yesung memberikan satu balon yang tadi belum diberikannya pada Yuuri. Yuuri terkesiap kaget saat menyadari ada cincin yang dipegang Yesung di ujung tali balon itu. Scene ini adalah scene favoritnya di MV No Other. Scene yang menurutnya sangat indah, romantis dan menyentuh hatinya.”

    aq setuju buanget thorrr…
    PENGENNNN ….. >_<

  4. huwaaaa,, yesung oppa bener” dah..
    sekalinya romantis,, romantiss bangeeeeet..
    nice ff,, suka banget pas scene balon ituuuu..
    aku mauuu mauuu mauuu..

    gomaweo ya,, jarang” nemu ff yg main castnya yesung,, hehe :)

    #bikinin sekuelnya yaaa,, hhe

    oya,, boleh request ga?? bikinin ff yg main castnya donghae oppa atau ryeowook oppa doong.. hhe :) :) :)

  5. Nyesekkk !!!
    Nangis sumpahh.. Bukan karna crtanya sedih, tapi feelnya dpet bgt! Keren..
    Ahhh.. Yeye suamikuuu.. Saranghaeee.. makin cintaa dehh #lohh
    Sukses eoun, lanjutkan ! *sepertinya ini coment paling telat* nyesel baru baca* aahaha :p

  6. MELTING TINGKAT DEWA!!!!
    PENGEN JUGAAAAA KAYAK GITU HUWAAAA _-_ ecung nih ah pinter bgt deh bikin envynya *eh authornya maksud saya haha^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s