Long Night

Author                  : Shantyfyn

Cast                       : Kim Je Young (OC)

Kim Hyung Jun

Minor                    : Find by yourself!

Genre                   : Romance garing kayaknya J

Lenght                  : Oneshoot

Rate                       : General

Recommended Song :    Jyongri – Lullaby for You (English Ver.)

Kim Hyung Jun – Long Night

Taylor Swift – The Way I Loved You

NB                          : Plot and story are mine. The casts aren’t mine. Sudah pernah dipost di blog and facebook pribadi.

 

***

“Cepat ke rumah sakit yang biasa, Jun sekarat. Ada pesan yang ingin ia sampaikan padamu,”

Tut…tut…tut…

***

Brugk…

“Mianhae… mianhae…,” ucapku merasa bersalah pada orang yang ada dihadapanku karena telah menabraknya. Pikiranku kalut, tidak bisa memikirkan yang lain selain dirinya.

Orang yang kutabrak tadi untungnya tidak marah, setelah ia membersihkan celana yang kotor ia pergi. Aku berlari terus berlari menuju pemberhentian bus terdekat. Rambutku yang terurai berterbangan bebas. Orang – orang yang melintasi jalan melihat ke arahku. Apa ada yang salah denganku?. Biarkanlah, sejak kapan aku memperhatikan penilaian orang lain?.

Ah, itu dia bus nya. Kumohon tunggu aku, jarakku dengan bus itu hanya sekitar 50 meter. Kupercepat kecepatan berlariku, menimbulkan sedikit rasa sakit di perut bagian bawah kiri. Aku memang tidak bisa berlari terlalu jauh dan cepat.

Brum…brum…brum…

Damn!. Busnya berjalan sebelum aku sampai ke sana. Jika harus menunggu bus selanjutnya akan sangat memakan waktu yang lama. Lebih baik kalau ke stasiun kereta saja, benar.

Lagi, aku harus kembali berlari menuju stasiun kereta yang jaraknya sekitar satu kilometer dari pemberhentian bus ini. Membayangkannya saja sudah membuatku lemas, tapi aku harus ke sana secepatnya.

Aku tak memperdulikan jauhnya jarak. Yang aku mau sekarang adalah menemui namjaku. Dia sekarang berada di rumah sakit. Seseorang meneleponku mengabarkan keadaannya yang kini sedang terbaring sakit.

“Hiks… Jun,” sebulir air mata mengalir dari ekor mataku. Sembari terus berlari kuusap air mata itu, namun ternyata air mataku terus mengalir. Ku biarkan wajahku basah oleh air mata. Air mata cinta… Bah.

“Tunggu aku, Jun,” suaraku mulai terdengar serak, ku gigit bibir ini dan mengepalkan kedua telapak tanganku yang mulai merasa kedinginan karena musim gugur sebentar lagi akan berakhir, berganti dengan musim dingin.

Malam yang gelap diterangi rembulan. Jalanan banyak dihiasi oleh lampu warna – warni. Biasanya aku akan sangat menikmati suasana seperti ini tapi untuk kali ini tidak.

Setelah sampai di stasiun kereta, segera kubeli tiket dan menuju ruang tunggu pemberangkatan.

Ya tuhan, mengapa disaat seperti justru stasiun ramai sekali?, apakah kau tidak mengizinkan aku bertemu dengan namjaku?. Terlihat beberapa yang mulai berdesakkan.

Eh? Ini hanya perasaanku saja atau bagaimana?. Sepanjang jalan semua mata memandangku dan aku kembali menjadi pusat perhatian. Beberapa ada yang tersenyum melihatku. Tetap tak ku hiraukan, dengan tergesa – gesa aku terus berjalan.

Kuedarkan mataku ke seluruh stasiun. Hah, rasanya aku seperti anak hilang saja. Pergi dalam keadaan hati yang tidak baik.

Satu menit…

Tiga menit…

Lima menit…

Tujuh menit…

Ku balikkan arahku kembali menuju pintu masuk stasiun kereta. Terlalu lama menunggu tak baik untuk hatiku yang sedang kacau.

Taksi.

Pabo Je Young. Seharusnya dari tadi saja kau menggunakan taksi tanpa harus berlari ke sana kemari.

Owh, kenapa rasanya kakiku sakit sekali yah?. Omo! Ternyata dari tadi aku bertelanjang kaki rupanya. Saking paniknya dan terburu – burunya, aku sampai tidak sempat memakai alas kaki. Pantas saja orang – orang memperhatikanku.

Aku berlari menuju jalan raya, mencari taksi yang tidak ada penumpangnya.

Sialnya diriku. Hampir semua taksi yang lewat sudah terisi oleh penumpang.

Tin…tin…

“Apakah nona membutuhkan taksi?,” seekor taksi parkir di hadapanku. Jodoh memang tidak kemana. Dengan beringasan aku menaiki taksi itu dan memberitahukan alamat rumah sakit.

Supir taksi itu sesekali melirikku dari kaca spion depan, dari wajahnya terlihat sekali kalau ia ingin bertanya padaku tapi aku hiraukan saja. Maaf ya ahjussi, jadwal interviewku padat. Haduh, apa sih yang aku pikirkan?. Panik Je, panik… kau harus ingat Jun di rumah sakit.

Ten minutes later…

Brak…

Kututup pintu taksi dengan kasar hingga membuat supirnya terlonjak kaget. Dengan asal aku menyerahkan uang pada supir taksi itu lalu pergi.

Bau obat – obatan menyeruak memenuhi rongga hidungku saat aku memasuki rumah sakit. Kembali aku berlari – lari mencari meja resepsionis untuk menanyakan kamar nomor A-3. Nafasku tersengal – sengal, kuputuskan untuk berhenti sejenak. Kuedarkan pandanganku keseluruh penjuru rumah sakit ini.

“Je Young,” panggil seseorang dari arah belakangku, segera kualihkan pandanganku. Manajer oppa. Syukurlah aku bertemu dengannya di saat denting seperti ini. Ku dekati pria yang kini hanya mengenakan kaos serta celana jeans belelnya itu. Ia membawa plastik putih berisikan snack, sepertinya ia baru kembali dari kantin rumah sakit.

“Kau datang juga?,” ujar manajer oppa dengan santai. Kenapa wajahnya terlihat biasa saja?. Bukankah saat di telepon ia bilang Jun sekarat dan terus – terusan memanggil namaku.

Ku kerutkan dahiku. “Bagaimana dengan Jun, oppa?,” kataku sambil berjalan beriringan dengan pria yang terlihat sedikit berisi ini. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Jun. Rasanya air mataku ingin sekali kembali mengalir.

Pria itu menoleh padaku, ia perlihatkan senyum jenakanya yang membuat matanya hanya membentuk garis. Ish… sempat – sempatnya ia terseyum seperti itu padaku. Ia tidak menjawab pertanyaanku.

Ting…

Tepat saat didepan lift, ia menekan tombol angka 3. Mungkin itu lantai kamar dimana Jun dirawat, tapi kenapa manajer oppa terlihat aneh?. Ia membuka plastik yang ia genggam, mengambil sekaleng kopi yang ia beli lalu menyerahkannya padaku, aku menurut saja, sementara itu ia kembali mengambil minuman yang sama dan membukanya.

“Kau langsung menuju ke sini ya saat aku telepon tadi?,” manajer oppa menengok ke arahku, dengan cepat aku anggukkan kepalaku. Dia hanya mengangguk lalu diam kembali. “Kau tau kalau Jun sekarat?,”.

“Kau sendiri kan yang mengatakannya padaku, masa kau lupa sih oppa,” ya Tuhan, kenapa orang ini bertele – tele sekali.

Ting…

Pintu lift terbuka. Aku mengekor mengikuti manajer oppa. Lantai ini terlihat sepi, tidak banyak pengunjung, mungkin karena sudah malam jadi kebanyakan dari mereka beristirahat. Tapi, sekarang ini jam berapa yah?, aku lupa memakai jam tangan.

Seorang suster berjalan melintas di sampingku.

“Suster permisi,” kutahan suster itu yang serius dengan catatannya. “Jam berapa sekarang?,” tanyaku sembari memamerkan senyumanku yang terkenal manis ini.

Suster itu menunduk melihat jam tangannya. “Jam satu dinihari,” jawabnya singkat lalu melihatku dengan tatapan syok, ia mengulum senyumnya kecil.

“Hehe… gamsahamnida,” aku membungkuk dan berterima kasih sembari menyelipkan beberapa helai rambutku ke belakang daun telinga lalu berlari kecil mengejar manajer oppa yang ternyata meninggalkan aku sendiri di rumah sakit yang sepi ini. Namun suster itu masih saja terus melihatku sampai aku hilang dari pandangannya.

Apa tadi suster itu bilang? Jam satu dinihari?.Astaga, bukan tadi aku pergi sekitar jam 9  malam.

Pluk…

Manajer oppa menepuk pundakku, menyadarkan aku dari lamunanku. Kemudian ia membuka sebuah pintu yang bertuliskan A-3. Ini kan kamar rawat Jun. Tanpa menunggu aba – aba dari manajer oppa, ku terobos pintu itu.

“Hyung, akhirnya kau datang juga,” suara itu?, bukan kah itu suara Jun. kenapa terdengar seperti orang yang tidak sedang sekarat?.

Seseorang berpakaian rumah sakit keluar dari toilet  yang berada di kamar rawat ini. Ia menepuk – nepuk kedua tangannya yang basah lalu mengelapkannya pada pakaian yang ia pakai.

“Jun,”

“Je,”

“Manajer oppa bilang… kau…,” aku menatap Jun dan Manajer oppa secara bergantian mencoba meminta penjelasan. Jemariku menunjuk – nunjuk kedua pria yang ada di hadapanku sekarang ini.

Manajer oppa mulai memperlihatkan senyum jenakanya lagi, cengengesan sambil mundur teratur mendekati pintu kamar, lalu dengan gerak cepat ia melenyapkan dirinya dari kamar ini

“Hyunggggg……,” geram Jun, ia mengepalkan kedua tangannya sembari menghentakkan kaki kanannya.

Aku hanya menatapnya tidak mengerti. Mengerjapkan kedua mataku dalam diam. “Kau benar – benar tidak apa – apa kan Jun?,” kutarik – tarik kecil ujung bajunya.

Lagi – lagi pertanyaanku tidak dijawab. Jun menarik tanganku, memaksaku duduk di tepi ranjangnya. Aku mengikuti saja keinginannya. Kusunggingkan senyumanku melihat Jun yang tidak dalam kondisi sekarat.

“Apa yang hyung katakan padamu kali ini huh?” Jun berjalan mendekati lemari yang letaknya tak jauh dari dari toilet. Ia mengaduk acak isi lemari itu, mencari sesuatu yang ia butuhkan mungkin.

“Manajer oppa bilang kau sekarat dan membutuhkan ku segera,” sahutku yang mulai merasa tenang setelah tau bahwa namjaku tidak dalam keadaan sekarat seperti yang Manajer oppa katakan.

Kuayunkan kakiku yang mengantung, ranjang ini terlalu tinggi dan membuat kaki tanpa alas ini bebas bermain.

“Ishhh… Hyung senang sekali mengerjaimu. Aku tidak sekarat Je, hanya kelelahan saja sepulang dari dari jadwal hari ini. Kau ini mudah sekali percaya dengannya,” sekotak tisu digenggam Jun. ia kembali duduk di sampingku.

“Ehmmm… tidak apa, yang penting kan sekarang aku bisa melihat dan bertemu denganmu,” ku sunggingkan lagi senyumku, menggoyang – goyangkan kepalaku ke kanan dan ke kiri sembari mencubit kecil pipi Jun.

Jun terlihat mendengus. “Dengan keadaan seperti ini?,” namja ini menatapku tajam. Pandangannya itu seolah menelanjangiku yang melihatku dari atas hingga bawah.

Ku perlebar senyumku hingga memperlihatkan deretan gigi putihku. “Ah… iya, karena terburu – buru dan panik aku sampai lupa memakai alas kaki saat keluar apartement,”Jun mengangguk – ngangguk lalu menggeleng – gelengkan kepalanya.

“Kenapa?,”

“Kau tidak menyadari yang lain?,”

Kualihkan pandanganku, menatap badanku sendiri. Omo!, baju yang kupakai ini kan baju…

But I’ve been screamin’ and fightin’

And kissin’ in the rain

And it’s two a.m. and I’m cursin’ your name

You’re so in love that act insane

And that’s the way I loved you

 

Ponselku berdering, terdengar suara Taylor Swift berdendang ria. Sebuah panggilan masuk menantiku. Huft… aku harap bukan Sora eonni yang meneleponku.

Mataku seketika melotot melihat layar ponsel, Jun yang merasa penasaran ikut melihatnya lalu ia menatapku dengan penuh tanya. Panggilan itu tidak langsung aku angkat. Kupejamkan mataku sejenak, Jun menoel – noel pipiku, membuatku membuka mata.

Hah… dengan mantap akhirnya aku menggeser jari tanganku yang menempel pada layar ponsel menuju tulisan ‘terima’.

“Ya! Kim Je Youngggg, mau ku hajar ya kau membawa kabur gaunku,” terdengar suara teriakan seorang yeoja dari sebrang telepon itu. aku meringis takut, ku melirik kembali badan ini yang masih terbalut gaun pesta milik Sora eonni. Dia pasti murka sekali denganku.

Mati aku!. Ku tepuk jidatku yang  tak bersalah ini. Aku lupa mengganti pakaianku karena terlalu panik mendengar Jun masuk rumah sakit.

Dengan panik segera ku matikan ponselku. Mianhamnida nae eonni, lampiaskanlah kemurkaanmu itu pada suamimu, si Kyuhyun.

Aku baru ingat kalau tadi aku pergi dari apartement Sora eonni, istri Kyuhyun. Aku yang awalnya berencana menginap di apartementnya, lalu Sora eonni menunjukkan sebuah gaun berwarna putih yang baru saja  di beli untuk pergi dinner dengan Kyuhyun besok malam. Tapi, siapa suruh dia menyuruhku mencobanya?, dan…

Segera aku berlari menuju toilet, mencari cermin untuk melihat pantulan diriku sekarang. Ya Tuhan! Aku juga baru ingat kalau tadi Hyura iseng me-make up wajahku. Pantas saja orang – orang di jalanan menatapku aneh. Saking paniknya, aku sampai lupa memakai alas kaki, mengganti pakaianku, dan menghapus make up ku yang kini luntur karena air mataku yang mengalir saat di perjalanan.

“Sini aku bersihkan,” ujar Jun yang kini berdiri di ambang pintu toilet.

“Aku malu hiks…,” lagi, aku kembali menangis tapi kini menangis karena menahan malu.

Tiba – tiba aku merasakan sebuah benda lembut yang basah menyentuk wajahku. Ternyata Jun dengan perlahan menghapus make up ku dengan tisu basah. Posisi kami masih berdiri di dekat wastafel toilet.

Jun tersenyum melihat wajahku. “Aku jadi terharu melihat dirimu seperti ini,” wajahku sudah ditekuk mendengarnya.

“Kau menertawakanku yah, jahat…,” dengan keras aku pukul lengan Jun dan itu malah membuat tawanya semakin terdengar. Menyebalkannya namja ini.

“Pejamkan matamu sebentar,” kata Jun yang masih menunduk membersihkan wajahku. Kini ia menyapukan tisu basah itu pada kelopak mataku. “Kau menginap saja di sini, besok baru pulang. Kau ini saking paniknya sampai tidak melihat jam yah, sekarang sudah jam setengah dua pagi loh,” suara Jun terdengar lembut membuat bibirmu melengkungkan sebuah senyuman. “Diajak bicara malah tersenyum. Setelah ini kau harus mandi, pakailah pakaianku yang ada di lemari, baru setelah itu kita tidur,”.

“Tidur?, tidur di ranjang yang sama denganmu?,” aku syok bukan main mendengar ucapan Jun. ku silangkan kedua tanganku di depan dadaku.

“Bodoh, tentu sama tidak seranjang…” mulut Jun masih mangap hendak berbicara.

“Kalau begitu aku di sofa sementara kau di ranjang, begitu?,” dengan cepat ku potong ucapan Jun.

“Ya!, aku tidak sekejam itu padamu. Sudah… sudah sana cepat mandi. Aku tunggu kau di luar yah, mau melihat Hyung dulu,” Jun membuang tisu basah yang ia gunakan tadi lalu berjalan keluar kamar.

Ten minutes later…

“Jun,” ku longokkan kepalaku dari dalam kamar, mendapati Jun duduk sendirian di ruang tunggu kamar depan. “Mana Manajer oppa?,” tanyaku sembari membuka pintu kamar dan membiarkan Jun masuk.

“Hyung pulang dulu, nanti jam tujuh pagi baru datang lagi,” ia duduk di sofa, menyambar ponselnya yang ia taruh di meja sebelah ranjang.

“Je, Bagaimana kalau kau mengabadikan aku yang berada di rumah sakit?. Kau foto aku, okeh,” dengan cepat Jun menyerahkan ponselnya padaku. Dengan ogah – ogahan aku mengambil gambarnya.

Jun berdiri sambil menyenderkan badannya, ia tundukkan kepalanya dan aku mengambil fotonya tanpa memperlihatkan wajahnya. Setelah itu Jun segera  melihat hasil fotoku. Jarinya lincah sekali memainkan ponselnya. Aku mendekatinya, melirik ponselnya.

Omo! Ternyata dia mengupload foto itu di twitter.

“Kau ini… hoammm… aku mau tidur ah,” kutarik Jun menjauh dari ranjang. Segera ku baringkan badanku yang lelah ini. Huah, besok pasti akan lebih melelahkan, menghadapi Sora eonni.

“Hey Je, aku foto yah,” Jun mengarahkan ponselnya padaku. Ya! Bocah ini… ani, dia terlalu tua untuk disebut bocah. Namja ini menyebalkan sekali.

Tangan Jun menyentuh pinggangku, ia mencoba menggelitikku. Aish… bocah ini minta dihajar rupanya.

“Jun, hentikan… hentikan…,” aku mencoba menjauhkan tangan Jun, tapi tenaganya lebih besar dariku dan…

Ceklek

Ceklek

Ceklek

Setelah puas mendapatkan fotoku, ia hendak pergi begitu saja menuju sofa yang letaknya tak jauh dari ranjang. Ia mengulum senyumnya saat melihat fotoku. Ah… malunya. Aduh Je, kau ini percaya diri sekali sih.

Ku tarik dan menggenggam tangan Jun. ia menatapku dengan wajah ceria. Melihatnya seperti aku tidak tahan untuk tidak memeluknya. Kenapa berada di pelukan Jun seperti ini rasanya hangat sekali?.

“Ada apa ehm?,” Jun mengusap punggungku dengan lembut. Aku mendongakkan kepalaku, menatap Jun yang lagi – lagi tersenyum sangat amat manis.

“Jangan sakit lagi yah,”

“………”

“Kalau kau merasa lelah dan kurang sehat, seharusnya kau memberitahu Manajer oppa. Kalau nanti Manajer oppa tidak menurutimu, aku akan hukum dia,”

“Heh, memangnya yang membayar Hyung siapa huh?, ada – ada saja. Tanpa kau suruh pun aku akan berusaha menjaga kesehatanku, chagi. Karena aku tidak ingin kau jatuh ketangan pria manapun. Gomawoyo Je,”

Aku mempererat pelukan kami, Jun pun membalas hal yang serupa. Menghirup aroma tubuhnya dari jarak yang sedekat ini membuat nyaman saja. Tak sampai satu menit, aku melepaskan pelukan kami dan membiarkan Jun menuju sofa.

Jun membaringkan badannya di atas sofa, lalu membenahi letak bantalnya. Sebenarnya kasian sekali melihatnya harus tidur di atas sofa karena ia sedang sakit.

Ku tarik selimut menutupi tubuhku, memeluk bantal yang berada di sampingku, lalu menatap Jun dari sini.

“Jun,”

“Ehm…,”

“Nyanyikan sebuah lagu untukku,”

“Kau mau lagu apa?,”

“Hand Up dari 2PM,”

“Ya!!! Kau mau tidur atau mau berpesta huh?,” jeritnya dari atas sofa. “Bagaimana kalau laguku saja?, Long Night?,” tawar Jun menatapku. Aku naikkan selimut yang kupakai hingga menutupi mataku. Aku ketahuan memandangnya semenjak ia berbaring.

“Ish… promo lagi, baiklah baiklah. Aku takut kau menangis,” kini aku menatap langit – langit kamar ini.

Girl, Kimi Wa Ima Nanio Shiteru Taro Ga

Call, Call me namae naka ni oh baby, Na desha

Nato dote no Imi wo hitomi ga hohoe miga, ukandeki e nai

Tomodachi dato omowo ttei dakeredo kono kyori koetai

 

Aitai konna ni ima, kimi ga tsukere ne nero e nai

Setsunai ame no youni Kimi ye no boiwa fuitsuzuku Long Night

 

Girl, Doyatte omoi yo tsutae yoka

Girl, sari dera kunantte baby, muisha

Teno dashi te himi no kokoro okoboryo hitomi jinni style

Kaze no mo tazuni tobidashi te yuku yo mo dana dekinai

 

Aitai konna ni Ima, kimi ga tsukere nero e nai

Shiitai Kimi no kotou kono byotte ne ga dashi tari Long Night

 

Every day, every night, Itsudatte

Kimi wo nega wo mizuseru kara

Every day, every night, itsudatte

Soba ittai yeah…

Suara Jun yang sejak dulu memenuhi pikiranku kini semakin merasuk ke dalam otakku. Nyaman rasanya mendengarkan ia bernyanyi. Mataku terasa mulai berat, terkadang terpejam dan kemudian terbuka kembali sampai aku merasakan sebuah sentuhan di puncak kepalaku.

Kimi wa boku no kottou Do mottae iruno

Mono kashi ni jikkan na gashuki rubakke

Aitai kimi ni ima…

Aitai Konna ni ima, kimi ga tsukere nero e nai

Nama nai ame no hotto ga

Boku no mo ryo datta kizuzukeru Long Night

 

Every day, Every Night Itsudatte

Kimi wo itsu de tsuzukeru kara

Every day, every night, itsudatte

Soba ittai yeah…

Terakhir yang aku ingat suara Jun terdengar semakin dekat dan ia duduk di samping ranjang sembari mengusap puncak kepalaku hingga diriku tertidur pulas di ranjang rumah sakit ini.

Status End

Je, no jomblo

Yang buatnya jomblo *lah? Curhat*

Yang buatnya cengar – cengir gila bayangin jadi Je *curhatan berlanjut*

2 thoughts on “Long Night

  1. uaaaaaaaaaaaaaaa!!! Mau dong dengerin babyjun nyanyi secara live hikssss envy dehh sama karakter si cewek ini…
    Keren thor^^ keep writing~

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s