Roses Along the War [4/?]

Title                     : Roses Along the War 4

Author                : Specialshn featuring. Ifasehitte

Length/Genre    : Chaptered/Action, Romance, Friendship

Tags/Casts          : Lee Donghae, Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, OC’s

Disclaimer          : rightfully ours, do not plagiarize. Also published on our blog, specialshin.wordpress.com and ifasheitte.wordpress.com

 

Specialshin and Ifasheitte Proudly Present.

Chapter 4 written by Ifasheitte

***

Sebuah mobil Aston Martin berhenti dengan suara decitan ban yang cukup keras, tapi sang pengemudi tidak kunjung turun dari Aston Martinnya dan tetap didalam. Lalu kaca mobil bagian depan diturunkan, terlihat seorang pria dengan bentuk hidung dan bibir yang hampir sama dengan Hara, pria itu menurunkan kacamatanya, meletakkannya di dashboard.

Kemudian dia menggerakan sesuatu yang mirip headset di telinganya, “ehm.. aku sudah sampai, tolong turun ke bawah. Kurang dari dua menit kau tidak muncul dihadapanku aku akan pulang.” Ucap pria itu lalu menekan tombol kecil pada benda yang menempel ditelinganya.

Pria itu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku nya, psp berwarna hitam. Sambil menungguk Hara datang, pria itu memainkan pspnya.

Beberapa saat kemudian Hara muncul dari balik gerbang besar dan tinggi milik Crazioneer itu, dia menghampiri pria itu kemudian mengambil pspnya dengan paksa.

“aku butuh bantuanmu”

Pria yang bernama Kyuhyun itu hampir mengeluarkan protes karena pspnya yang direbut secara paksa tapi tangan Hara terangkat, seolah menahan protesnya.

Hara membungkuk lalu menyenderkan kepalanya di jendela mobil Kyuhyun. “lacak dimana helikopter LS8611 milik Sungmin. Kemana tujuan helikopter itu dan membutuhkan sekitar beberapa jam untuk menempuhnya,”

Kyuhyun nyengir, lalu menatap adik perempuan satu-satunya itu dengan menaikkan sebelah alisnya. “masih mengejar Sungmin?”

“kenapa memangnya?”

“sadarlah Cho Hara… dia tidak mencintaimu.”

“lalu?”

“lalu kau ingin mencintai orang yang sama sekali tidak mencintaimu?”

“jika dia tidak mencintaiku, berarti tidak ada satupun wanita yang boleh dia cintai.”

Kyuhyun tertawa meremehkan. Lalu mengacak rambut Hara pelan. “oke. Aku akan menghubungimu begitu menemukan jejaknya. Ah, bodyguardmu datang…” Kyuhyun mengedikkan kepalanya membuat Hara menoleh kebelakang.

Tampak Donghae yang berjalan ke arah mereka berdua sambil tersenyum begitu melihat Kyuhyun.

“hell-o!” Donghae melakukan high-five dengan Kyuhyun lalu menepuk bahunya.

“cukup lama tidak melihatmu!”  ujar Kyuhyun sambil nyengir kearah Donghae. “kau menjaganya dengan baik kan?” Kyuhyun melirik ke arah Hara lalu menyeringai.

Donghae tertawa menanggapinya. “selalu…”

“hah? Maksudnya?” tanya Hara dengan ekspresi bodoh, dan Donghae hanya menghela nafasnya keras. sudah biasa seperti ini, ya sudah biasa. Hara memang tidak peka. Tidak pernah peka sedikitpun pada Donghae.

“Dia memang tidak peka.” Dan apa yang Donghae pikirkan disuarakan oleh Kyuhyun.

Donghae mengedikkan bahunya.

“aish! Apa yang kalian bicarakan. Sudah kau pulang saja Kyuhyun, begitu selesai telepon aku!”

***

Ilsan. Sungmin’s hometown.

 

Helikopter dengan tanda LS8611 mendarat di pelataran luas yang sepi, hanya ada beberapa pria bertubuh tegap dengan kacamata hitam yang terpasang. Masing-masing pria itu menggenggam walkie talkie.

pria-pria itu langsung bergerak ketika helikopter Sungmin mendarat, semuanya mulai bersiap menerima perintah dari atasannya itu. anak emas Kang Junghwan itu. siapa yang berani melawannya hah? Apalagi untuk ukuran bawahan tidak bernilai seperti pria-pria itu.

oke, lupakan.

Yoonji masih menggenggam revolver Sungmin dengan tangan yang bergetar, perasaannya campur aduk antar takut dan bersalah. Karena Yoonji tahu betul tadi peluru yang ia luncurkan mengenai Audi gadis iblis itu, gadis iblis yang selalu menantikan kematian Yoonji.

Dalam hati Yoonji terus berdoa agar Hara tidak memotong lehernya atau minimal menembak lengannya. Ah, memikirkan itu saja Yoonji bergidik ketakutan. Sampai tangan seseorang menggenggamnya hangat. Yoonji tersadar dari lamunannya.

Ah, ia lupa. Masih ada Sungmin. Sungmin yang Yoonji percayai pasti selalu melindunginya.

“aku tahu apa yang kau rasakan sekarang, lupakan saja. Kau tidak membunuh gadis itu, kau hanya mencegahnya agar tidak membunuhmu. Sungguh demi Tuhan kau tidak bersalah atas hal apapun. Jadi jangan merasa takut.” Ucap Sungmin dengan lembut, lengkap dengan seulas senyuman tulus yang selalu ia berikan hanya untuk Yoonji.

Yoonji mengangguk, kemudian Sungmin menariknya untuk turun dari helikopter.

Semua pria yang tadi berdiri diam layaknya patung kini mendekati Sungmin, membentuk barisan melingkar lalu lalu semuanya membungkuk memberi hormat.

“itu…rumahmu?” tanya Yoonji polos sambiil mengacungkan tangannya ke depan, ke arah rumah megah dengan gaya arsitektur Eropa yang Yoonji tidak tahu apa namanya. Hanya satu kalimat yang bisa ia simpulkan tentang rumah ini, bagus.

“kalau kau mau, rumah itu bisa menjadi rumahmu.” Respon Sungmin.

“kalau kau tinggal dirumah itu bersamaku, aku baru mau menerimanya.”

Sungmin terkekeh lalu mengacak rambut Yoonji gemas.

“ada sesuatu yang harus aku diskusikan dengan rekanku sebentar, kau bisa beristirahat di rumahku saja. Tapi aku tidak bisa menemanimu.”

Yoonji mengerucutkan bibirnya kesal lalu melipat kedua tangannya diperutnya. “kau tidak mau menemaniku? Ahss, menyebalkan!” Yoonji merengut layaknya anak kecil.

“aigoo Yoonji-ah, aku hanya pergi bahkan tidak lebih dari sepuluh menit saja…”

“Ara! Kau berjanji tidak akan lebih dari sepuluh menit?”

“Ne!”

Yoonji tersenyum manis, senyum yang bisa menduhkan hati Sungmin. Hanya senyum milik Yoonji yang bisa. Dan Sungmin selalu membalas senyumnya jauh lebih manis.

Beberapa saat kemudian muncul Ferrari yang berhenti didekat lingkaran pria-pria pengawal Sungmin itu, lalu seseorang muncul dari balik kursi penumpang. Begitu melihat Sungmin, pria tegap itu membungkukkan badannya memberi hormat.

Sungmin berjalan mendekat kearah pria bertubuh tegap tadi, ia kemudian berbalik. Memandang Yoonji. “kau masuk kedalam rumah, Yoonji-ah.” Ucap Sungmin lembut.

“err…tidak lebih dari sepuluh menit kan?”

Sungmin tersenyum kemudian mengangguk.

Setelah itu Yoonji berjalan ke arah rumah megah dengan desain arsitek terkenal asal Vienna yang sedari tadi rasanya gatal ingin menginjakkan kakinya dirumah itu, Yoonji benar-benar menyukai desain interiornya. Beberapa pengawal membuntuti Yoonji, setelah mereka benar-benar menghilang dibalik pintu masuk, Sungmin kembali menghadap pria tegap tadi.

“bagaimana?”

“kami tidak menemukan helikopter yang sedang melintas menuju Ilsan, tidak milik Tuan Lee tidak juga milik Nona Cho. Bisa dipastikan mereka tidak mengikuti anda, Tuan.” Ucap pria bertubuh tegap itu.

Sungmin memicingkan matanya. “itu tidak mungkin, aku tahu betul bagaimana Hara itu. dia tidak akan menyerah dan pasti dia akan menyusulku ke Ilsan. Mungkin mereka melewati jalur lain?”

Pria itu menggeleng. “tidak Tuan. Kami tidak menemukan sinyal apapun tentang helikopter yang mengarah ke Ilsan.”

“mungkin mereka menggunakan mobil. Bisa saja kan.”

“awalnya kami mengira begitu tapi Agen 8823 memberitahukan kalau tadi pagi dia masih melihat Nona Cho dan Tuan Lee di markas Crazioneer. Awak kabin juga berkata Nona Cho tidak meminta disiapkan helikopter. Kemungkinan besar mereka tidak menyusul anda. Lagipula, Nona Cho tidak tahu dimana Tuan tinggal kan? Dia hanya mengetahui Tuan pergi dengan Nona Yoonji, bahkan tidak tahu kalau Tuan pergi ke Ilsan. Dan tempat yang cukup terpencil seperti ini saya yakin Nona Cho tidak akan menemukannya.”

Mendengar penjelasan panjang lebar dari tangan kanan Sungmin ini, Sungmin langsung terdiam dan terlihat berfikir. Kalau Cho Hara tidak mengikuti Helikopternya, bagaimana cara dia menyusul Sungmin disini? Apakah Hara memang tidak berniat menyusul Sungmin dan Yoonji?

Sungmin mulai dilanda kebingungan yang cukup berat.

Satu yang Sungmin tidak ingat, Cho Kyuhyun. Sungmin tidak ingat bahwa masih ada Kyuhyun hacker luar biasa cerdas yang bisa melacak lokasinya dengan mudah.

Sungguh, Sungmin lupa akan hal itu.

“baiklah, untuk saat ini aku percaya bahwa Hara tidak menyusulku. Tapi lambat atau cepat dia pasti akan datang kesini. Terus pantau sinyal helikopter dan pastikan tidak ada yang lengah satupun.”

***

Kyuhyun memasukkan kode yang panjangnya lebih dari dua puluh digit diatas sebuah alat kode keamanan yang menempel ditembok, setelah terlihat tanda centang di screen alat tersebut, Kyuhyun menempelkan jari telunjuknya ke alat pendeteksi. Lalu pintu besi dengan warna putih itu perlahan terbuka, Kyuhyun melangkahkan kakinya masuk.

Didalam ruangan berbentuk segi empat dengan dinding berwarna hitam itu, terjejer berpuluh komputer dengan macam-macam jenis. Mulai dari mainframe IBM SYSTEM/390 , LCD komputer yang menempel di dinding sampai seperangkat game console yang terletak di pojok kiri ruangan.

Tidak ada seseorangpun didalam ruangan itu kecuali Kyuhyun sendiri, jika biasanya di film-film meperlihatkan banyak orang yang bekerja diruangan mirip milik Kyuhyun ini tapi tidak dengan Kyuhyun.

Semua komputer, Kyuhyun yang menanganinya.

Hei, kalian mengira Kyuhyun adalah hacker biasa yang hanya bekerja pada satu komputer?

Jika memang Kyuhyun seperti itu, Crazioneer pasti tidak akan merekrutnya.

Kyuhyun memang tidak memiliki keahlian menembak seperti agen special Kang Junghwan, dia juga tidak bisa mengendarai helikopter.

Tapi disinilah Kyuhyun berdiri, di tempat ini dia adalah yang paling hebat. Karena Kyuhyun memang hacker handal. Bukan agen special.

“system is succesfully installed”

Terdengar suara seperti itu saat Kyuhyun menekan tombol merah yang menempel di dinding, lampu-lampu mulai menyala dengan sangat terang dan semua komputer juga menyala memperlihatkan gambar yang berbeda-beda.

Kyuhyun mendekat kearah komputer yang ada di tengah, ia duduk dan mulai mengoperasikannya.

“helicopter LS8611..” ucap Kyuhyun lalu menekan banyak digit di keyboard komputernya dengan cepat seolah-olah kode itu dia hapal diluar kepala. Lalu komputer tiba-tiba mati dan menyala lagi lalu melakukan proses booting .

Kyuhyun mengambil LG optimus-black miliknya dari dalam saku, lalu mencari kontak Sungmin.

Setelah menemukannya, Kyuhyun meng-inputnya kedalam komputer dan menekan sederet kode lagi lalu lagi-lagi komputer melakukan proses booting.

“jaraknya sekitar 99,4 kilometer dari Seoul…” gumam Kyuhyun.

“jarak yang ditinjau berdasarkan nomor handphone Sungmin, dan jarak yang ditinjau berdasarkan laju helikopter Sungmin itu sama. 99,4 kilometer. Baiklah, Sungmin positif ada disana.”

“dalam jarak itu, Sungmin ada di kota…” Kyuhyun bersandar pada kursinya lalu mengetukkan jari-jarinya ke meja. Setelah beberapa detik, Kyuhyun tiba-tiba menepuk tangannya sekali.

“Ilsan!” seru Kyuhyun.

Ia kembali terpaku pada layar komputernya, tiba-tiba tampak garis berwarna biru tua dilayar komputer Kyuhyun, yang membuat Kyuhyun mendelik.

“hah?” dahi Kyuhyun mengerut bingung, lalu ia mengkli double pada line tersebut dan muncul satu paragraf tentang informasi mengenai garis biru tersebut.

Semenit kemudian Kyuhyun menyeringai licik, “bodoh sekali mereka…”gumam Kyuhyun. “ternyata mereka memasang pemantau sinyal helikopter dari markas Crazioneer sampai Ilsan, ah bahkan sampai tempat dimana Sungmin tinggal untuk memantau jika sewaktu-waktu helikopter Hara melintas…kemudian….” Kyuhyun mulai menngetik kode-kode lagi hingga muncul Pascal atau programic languange high-level.

Kyuhyun menekan tombol enter kemudian muncul satu paragraf tulisan berbahasa inggris, Kyuhyun mengamatinya sebentar lalu mengangguk mengerti “oh, garis pemantau itu juga bisa mendeteksi sinyal dari komputerku yang sedang melacak keberadaan Sungmin. Oke, itu bukan masalah besar. Orang-orang bodoh itu tidak akan mengetahui apa yang aku lacak.”

Kyuhyun bangkit dari kursinya, lalu menyentuh layar yang menempel di dinding dengan tulisan ‘hide tracing’ setelah tulisan itu ditekan Kyuhyun lewat laya sentuh, terdengar suara lagi.

“signal is hidden”

Kyuhyun menyeringai lagi “mereka tidak akan menemukan sinyalku tapi….”

Masih dengan seringaian diwajahnya, Kyuhyun kembali duduk. “karena garis khayal pemantau yang bodoh itu, aku jadi bisa mendeteksi jalur dari Seoul TEPAT ke rumah Sungmin di Ilsan.”

“garis pemantau itu…walaupun mereka membuatnya untuk mencegah Hara tapi aku ‘mencurinya’ untuk membantu Hara. sangat membantu,” sedetik kemudian Kyuhyun tertawa licik.

Kyuhyun menggabungkan semua file yang ia dapat tadi dan memprosesnya agar berfungsi menjadi semacam GPS, lalu keluar dalam bentuk softcopy yang Kyuhyun letakkan dalam sebuah chip.

Kyuhyun  mengambil chip tersebut dari port USB, kemudian melihatnya sebentar.

“well, its done.”

**

Donghae berjalan dengan tergesa-gesa sambil berbicara dengan seseorang lewat handphonenya, “nde? kantor kedutaan Amerika? Baiklah aku akan kesana sekarang juga. Lalu hal apa lagi yang menjadi masalah?” tanya Donghae pada lawan bicaranya ditelefon, ia masih berjalan cepat menuju ke ‘sexy agustinenya’ yang terparkir di pelataran luas markas Crazioneer.

“oke, aku akan segera ke—“

“hello Donghae!” seru seorang gadis dengan suara riangnya, gadis itu memeluk bahu Donghae secara tiba-tiba.

Donghae berhenti dan menoleh kesamping, tahu betul kalau itu suara milk Hara. Walaupun mereka memang sering berpelukan –yang Hara anggap itu hanya sebatas pelukan untuk seorang sahabat- tapi Donghae memang dasarnya menyukai Hara, dia selalu kaget dan gugup disaat yang bersamaan jika Hara memeluknya. Oh, Lee Donghae, Hara hanya memeluk bahumu kenapa sampai seperti itu sih!

“kenapa diam?”

Donghae hanya tersenyum lalu tiba-tiba memeluk Hara.

“eeeeh, kenapa memeluk tiba-tiba!” protes Hara tapi tidak memberontak, karena kenyataannya Hara merasa hangat jika dipeluk Donghae.

Hara melepas pelukan Donghae. “aku sudah mendapatkan ini!” seru Hara sambil mengeluarkan sebuah chip dari balik saku jaketnya.

“chip?”

“dari Kyuhyun. Kita hanya perlu memasukkannya pada port yang terpasang didalam helikopter lalu chip ini akan beralih fungsi menjadi GPS yang mengarahkan kita ketempat Sungmin dan gadis jalang itu berada.”

Donghae menghela nafasnya keras. “kau akan kesana? Benar-benar menyusulnya?”

“tentu saja! Aku akan kejar Sungmin kemanapun dia pergi dan membunuh gadis jalang itu dimanapun Sungmin menyembunyikannya. Bahkan jika ia pergi ke segitiga bermuda aku akan tetap mengejarnya!”

“oke, oke, baiklah.”

“dan…kau” Hara menyentuh dagu Donghae dengan telunjuknya. “ikut denganku!”

“haaaaaaaaaah. Baiklah.” Donghae langsung meng-iyakan permintaan Hara walaupun jelas-jelas Kang Junghwan menyuruhnya untuk pergi ke kedutaan Amerika sekarang.

Tapi, apa yang bisa Donghae lakukan memang?

Kenyataannya bagi Donghae, Cho Hara itu segalanya.

Ditambah dengan death glare yang Hara keluarkan, mengerikan dan membuat Donghae bergidik. Kalau dimana-mana seorang gadis meminta sesuatu dari pria pasti mengeluarkan aegyo atau semacamnya. Tapi…kalau Cho Hara mengeluarkan death glare!

Tidak mungkin lah Hara melakukan aegyo. Astaga, demi celana hijau ketat milik siwon, Hara tidak akan pernah melakukan aegyo.

Donghae berani bersumpah untuk menari telanjang di tengah jalan jika sampai Hara benar-benar melakukannya.

**

Ilsan. Sungmin’s hometown

“Sungminnie…”

“hm?”

Yoonji duduk diatas ranjang putih milik Sungmin, lalu menoleh kearah Sungmin yang sedang duduk memandanginya.

“kau tahu? Aku sangat mengidolakan inuyasha dan ninja hatori. Tapi setelah aku pikir…kau jauh lebih keren dari mereka.”

Sungmin terkekeh dan menggeser duduknya mendekati Yoonji. “jelas aku lebih keren dari kartun-kartun itu. tapi bisa kau beritahu aku alasannya Yoon?”

Wajah Yoonji tampak berbinar-binar, terlihat antusias. “dengarkan ini. Karena Inuyasha dan Hatori tidak bisa bermanis-manis seperti kau, tidak bisa aegyo, tidak bisa menggombal, tidak bisa mengendarai helikopter, ti—“

Sungmin menutup mulut Yoonji dengan tangannya. “tidak bisa mencium Yoonji, tidak bisa memeluk Yoonji.” Potong Sungmin lalu ia mencium dahi Yoonji dengan lembut.

Yoonji melepas tangan Sungmin yang membekap mulutnya, lalu tersenyum. “Inuyasha dan Hatori juga tidak bisa membuat pipiku bersemu merah seperti ini…”

Sungmin tertawa mendegarnya kemudian mencubit pipi Yoonji gemas.

Suasana yang manis antar Yoonji dan Sungmin tiba-tiba terganggu oleh dering handphone milik Sungmin.

“yobosseyo?”

“….”

“nde?”

“….”

“Cepat datang ke kamarku sekarang dan ceritakan dengan jelas.”

Klik. Sungmin menutup handphonenya, wajahnya memucat seketika setelah menerima telfon tadi.

“wae?” tanya Yoonji khawatir.

Belum sempat Sungmin menjawabnya, pintu kamar tiba-tiba terbuka dan muncul pria bertubuh tegap yang tadi. Yang ditugasi Sungmin untuk mengawasi Hara.

Sungmin turun dari ranjangnya dan menghadiri pria bertubuh tegap itu. “apakah Hara sedang menuju kesini? Benarkah?!”

Pria itu berdeham sebentar. “awak kabin di landasan Crazioneer mengatakan kalau nona Cho menggunakan helicopternya dengan Tuan Lee. Kami tidak tahu kemana mereka pergi.”

“kau sudah memasang garis pendeteksi kan? Apakah helicoper Hara terpantau?”

“masalahnya itu Tuan. Kami tidak memantau helicopter apapun, tidak milik Nona Cho, tidak juga milik Tuan Lee. Benar-benar tidak ada yang kami deteksi.”

“itu…kenapa bisa seperti itu?”

“kami membuat kemungkinan sementara kalau Nona Cho mengambil jalur lain.”

“tapi…memangnya Hara tau dimana aku sekarang. Kalian tidak mungkin memberitahunya kan!”

“maaf Tuan, tapi kami sebagai bawahan yang patuh tidak akan mungkin melakukan hal itu, kami tidak mungkin memberitahu keberadaan Tuan pada Nona Cho. Saya sendiri beranggapan bahwa ada orang lain yang ikut campur.”

“orang lain?”

“saya mengira…Tuan Cho Kyuhyun.”

“ah, jinjja!” Sungmin menepuk dahinya sendiri. “aku lupa dengan Cho Kyuhyun! Pasti. Dia pasti yang melacak keberadaanku, hacker itu tidak pernah salah sasaran.”

“sebaiknya Tuan sekarang pergi membawa Nona Yoonji. Sebelum Nona Cho datang.”

Sungmin mengangguk. “siapkan helikopter sekarang. Dan…aku akan ke ruang pendeteksi untuk melihat dimana helikopter Hara sekarang.”

“tapi helikopter nona Cho benar-benar keluar dari garis pemantau. Tidak bisa dideteksi Tuan..”

“aku akan melihatnya lagi. Dan…” Sungmin berbalik lalu berjalan mendekati Yoonji. “aku akan pergi sebentar, tidak lebih dari sepuluh menit…ah lima belas menit.”

Yoonji terlihat gelisah, ia menggenggam tangan Sungmin erat. “Hara…maksudku, emm…gadis itu…apakah sedang menuju kesini?” tanya Yoonji dengan tangan gemetar.

Sungmin mengelus pipi Yoonji pelan. “bersumpahlah padaku jangan pergi kemanapun. Jangan. Aku hanya pergi tidak lebih dari lima belas menit untuk memantau Hara. Kau disini saja, semua pengawalku akan menjagamu untuk sementara aku pergi.”

Yoonji mengangguk.

“aku sudah menugasi pengawalku untuk tidak menerima tamu. Tapi aku yakin seyakinnya kalau Cho Hara masih diperkirakan membutuhkan setengah jam untuk sampai disini. Kita masih bisa kabur.”

Yoonji mengangguk lagi.

“oke, kita tidak punya banyak waktu. Kau, bersumpah tetap disini jangan kemanapun dan…” Sungmin megeluarkan revolver dari balik sakunya. “pegang ini. Aku yakin kau bisa menggunakannya dengan baik.”

Sungmin meletakkan revolvernya ditelapak tangan Yoonji kemudian mencium Yoonji sebelum hilang dibalik pintu kamar.

“Demi Tuhan, nyawaku….” ucap Yoonji, menarik nafas lalu mengeluarkannya dengan keras.

Yoonji duduk diam diatas ranjang sambil memainkan Samsung Anycall-nya, tapi pikirannya melayang jauh. Memikirkan tentang keselamatan nyawanya saat ini.

Apakah Hara akan menembak kepalanya? Atau perutnya? Atau dadanya?

Yoonji lalu memandang revolver Sungmin ditangannya, berhalusinasi kalau Yoonji yang tiba-tiba mengenakan pakaian serba hitam, menyeringai licik kemudian meluncurkan pelurunya dan tepat mengenai pelipis Hara. Kemudian Yoonji meniup ujung revolvernya dan tersenyum puas.

Itu hanya halusinasinya saja.

Ia melirik ke arah jam yang terpapar discreen handphonenya. Sudah lima menit Sungmin meninggalkannnya. Oke, masih sepuluh menit lagi.

Tiba-tiba seorang pengawal muncul diambang pintu kamar sambil membungkuk memberi hormat.

Yoonji membalasnya dengan membungkuk kecil.

“apakah nona memesan macaroons?” tanya pengawal itu sopan.

Yoonji langsung melompat dari ranjang dan matanya berbinar. “apa? Macaroons?” serunya heboh, sesuatu yang sangat ia inginkan saat ini. Tapi kemudian Yoonji mengernyit bingung, seingatnya ia tidak memesan macaroons, ah pasti Sungmin yang memesankannya. Pikir Yoonji.

“nona memesannya?” tanya pengawal itu lagi.

“Sungmin yang memesankan untukku.” Jawab Yoonji walaupun ia belum tahu apakah Sungmin benar memesankannya atau tidak.

“baiklah.” Pengawal itu sedikit memiringkan badannya kemudian muncul gadis dengan jaket berwarna orange yang menutupi kaos yang gadis itu kenakan. Lalu dengan topi khas seorang deliver. Rambutnya ia ikat dengan model ponytail.

“ah, nona Shin. Annyeonghaseyo!” ucap gadis pengantar itu sedikit ramah.

“annyeong!” Yoonji berseru dengan senang, begitu melihat gadis itu membawa paper bag dengan tulisan Violetta bakery. Ia berpikir, di Ilsan juga ada Violetta?

“ini macaroonsnya nona. Dan bon yang harus anda tanda tangani.” Gadis itu mendekat kearah Yoonji sambil menyerahkan Macaroonsnya. Lalu mengeluarkan bolpoin dan kertas bon.

“Sungmin sudah membayarnya kan?” tanya Yoonji.

Gadis tadi terlihat sedikit kaget lalu mengangguk dengan sedikit ragu. Lalu ia menengok ke belakang, melihat pengawal yang tadi berdiri kini sudah pergi. Entah maksudnya apa.

“baiklah, ini. Gomawo!” Yoonji menyerahkan bolpoin dan kertas pada gadis itu.

Gadis itu tersenyum kemudian hendak berbalik, tapi ia kembali menghadap Yoonji.

“em…ada apa?” tanya Yoonji bingung.

Gadis itu hanya menggeleng dan berbalik lagi berjalan menuju pintu, bukannya keluar adari ruangan. Gadis itu malah menutupnya dan mengunci pintunya dari dalam.

“senang bertemu denganmu lagi, Shin Yoonji…” desisi gadis itu lalu melepas topi yang menutupi hapir sebagian wajahnya, lalu rambut panjangnya tergerai bebas.

Yoonji mematung, bibirnya bergetar . “k…kau?”

Gadis itu. gadis pengantar macaroons itu.

Cho Hara.

Hara berjalan mendekati Yoonji, membuat Yoonji berjalan mundur kemudian Yoonji mengambil revolver Sungmin dari atas ranjang, belum sempat Yoonji mengacungkannya, Hara melempar topi yang tadi dia pakai dengan keras dan topi itu tepat mengenai revolver Yoonji dan terlepas dari genggaman Yoonji.

“takut?” ledek Hara kemudian ia mengambil Walther99 dari balik saku nya.

Mengacungkannya tepat didepan Yoonji, lalu menarik pelatuknya perlahan.

“majimag insa…”

TBC

*majimak insa : The last greetings

3 thoughts on “Roses Along the War [4/?]

  1. kenapa yoonji begitu polos-_- aaaah haeee jangan berhianaaaaat. ohiya ada chokyuuuu wkwkwk hara yg dibayanganku selalu kara goo hara, tp dia terlalu manis untuk jadi sekejam ini-_- *malu bgt komen+bacanya telat. Mianhae eoonn

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s