Stop the Falling Rain

“You will always have a special place in my heart….”

Sunghee POV

This is legato. You have to play it smoothly,” kataku lembut pada muridku yang sedang memainkan tuts tuts di hadapannya dengan lincah. Jari jarinya menari bebas diatas black and white buttons itu. Menari. Dance. Kata itu selalu mengingatkanku pada sesuatu.

Alice-begitu aku memanggilnya- menyelesaikan permainan dengan memuaskan, menurutku. Alicia Ventresca adalah murid pianoku. Aku mengajar di salah satu sekolah seni di San Diego. Negara ini berbatasan dengan Mexico. Tidak heran Alice adalah seorang gadis berdarah campuran Mexican-American. Umurnya baru menginjak 8 tahun tetapi dia adalah anak kecil tercerdas yang pernah kutemui.

Aku tersenyum dan mengelus rambut emasnya. “You played it perfect sweetie. I don’t think there’s anyone better than you,” kataku memuji membuatnya tersenyum senang,

Aku mengambil tasku, dan mengeluarkan sebatang lolipop yang biasa ku berikan padanya bila berhasil melancarkan suatu lagu dalam waktu kurang dari dua minggu. Alice senang menerimanya. “Thaaanks Autumn,” katanya memanggilku dengan nama inggrisku. Mengapa aku memilih Autumn sebagai nama Englishku? Ada sejarah sendiri untuk itu.

Aku hanya tersenyum, lagi lagi. “You deserve it, for sure.” Kataku membuatnya tersenyum kegirangan. Senyum yang selalu kulihat pada diri seseorang yang seharusnya sudah kulupakan. Senyumnya yang seperti ini kerap kali membuatku teringat padanya.

Aku hendak mengancingkan kembali tasku ketika sebuah benda jatuh menghempas lantai dengan suara kecil. Ah benda itu. Tiba tiba muncul di depan pintu rumahku dan memporak porandakan sebagian dari akal sehatku.

Alice menunduk dan mengambilnya. “Wedding? Hey… this is your  dancer, right?” kata Alice. Gadis hebat. Betapa ia berbicara kepadaku seolah olah dia adalah gadis di usia awal 20. Siapa yang menyangka gadis cerewet ini hanyalah berusia delapan tahun?

So… he is getting married in three days?” katanya lagi. Membuatku menelan ludahku. Aku menunjukkan senyum termanisku kepadanya. “I guess…. He is,”jawabku tercekat enggan mengumbar kelemahanku di depan gadis cilik ini.

“Lee Hyukjae… Noh Eyoung?” lafalnya aneh. Ya, gadis ini memang lucu bila melafalkan nama korea. “You are so funny when you said that,” kataku tersenyum memainkan poninya. “Yeah that’s why I never call you with your real name, Autumn,” jawabnya cerdas, dan wajahnya seperti mengingat ingat sesuatu. “Lee… Sunghee?” katanya membuatku tertawa lagi.

 

“Pelafalanmu salah. Seharusnya itu terdengar seperti  ‘song-hi’” koreksiku. Ia hanya menggeleng menyerah. “Autumn is better,” katanya dan aku tertawa lagi.

Alice memandang lagi foto di tangannya dengan serius seakan akan memikirkan sesuatu yang sangat jauh, lebih jauh dari yang bisa kujangkau. “Do you think he is happy?” tanyanya. Aku hanya tersenyum kecil. “He is… I guess,” jawabku lagi lagi tidak yakin.

You have to be sure about it. He means something bigger than just a friend to you.”

Aku merutuki diriku betapa pikiranku begitu sempit dan aku kalah bijak dibandingkan anak berumur tujuh tahun yang bahkan belum menyelesaikan pendidikan tahun kedua sekolah dasarnya.

Aku baru membuka mulut hendak menjawab pernyataan Alice ketika kudengar ketukan pintu kaca tak jauh dari kami, dan kutemukan wanita berdarah mexico dengan kulit cokelat eksotis mengetuk dari luar.

“Alice,” panggilnya dan gadis kecil itu menoleh mendapati pintu dengan girang. “Mom!” katanya berlari mejauh dan menghampiri ibunya. “I played it perfect today. Autumn gave me this,” katanya sambil mengacungkan lollipop ditangannya. Kulihat ibunya tersenyum bangga pada putrinya dan menggendongnya pulang.

Aku menarik nafas panjang. Keheningan memberikanku ruang untuk kembali memikirkan pria itu. Lee Hyukjae, melody-dancerku.

Aku merentangkan payung karena diluar hujan. Aku berjalan dalam diam menyusuri memorial park, menuju rumahku yang berada di daerah Sherman Heights. Hujan memang rintik rintik tetapi suasana benar benar dingin mengigit membuatku ingin segera sampai ke rumah, dan menyalakan pemanas ruangan.

Dan disanalah aku menemukannya. Di dekat perapian listrik, dibawah meja tempat dimana tersimpan foto foto album. Aku menarik album paling bawah, dimana tersimpan foto foto masa sekolahku. Aku membukanya perlahan mencoba menemukan kenangan yang hilang itu.

Aku menemukannya. Fotoku dan seorang pria kurus dengan senyum lebar. Orang orang mengatainya pendek, dan aku juga sering mengatakan itu dulu. Akibatnya ia mengenakan insole yang meninggikan tubuhnya sekitar enam sampai Sembilan centimeter.

Dia sangat cinta dance. Ia melakukannya dimanapun kapanpun. Membuat tarian baru dan eksperimen dengan gerakan. Aku ingat ia menyenggol pecah tabung reaksi di lab kimia, mengakibatkan ia harus menggantinya dengan harga mahal.

Dan sekearang dia menjadi seorang top selebritis. Ya, keinginannya untuk menjadi dancer tercapai rupanya. Aku melihat senyumnya itu, mencoba mengingat ingat bagaimana rasanya melihatnya secara langsung?

Kuraih telepon wireless yang berada di atas meja dan menelepon contact number suatu penerbangan internasional. “Hello, yes I want to book an early ticket for the first flight to South Korea tomorrow morning,”

-oOo-

Lee Hyukjae POV

Aku menatap kearah altar yang sudah dipersiapkan sedari kemarin tersebut. Ya, pernikahanku akan dilangsungkan hari ini juga. Hidup baru sudah menanti di depan. Aku menoleh ke belakang ke arah best man yang telah kupilih, Leeteuk Hyung. Donghae yang berada di sebelahnya hanya mengedip menyemangati.

Sekarang orang berlalu lalang menyiapkan dekorasi yang tersisa. Aku hanya memperhatikan mereka memasang tirai merah di sudut sudut ruangan, dan menaburkan bunga bunga kecil di red carpet menuju altar.

Kurapatkan dan kukancing jas putih bersihku, lalu aku melangkah keluar dari gereja. Taman dengan daun daun berguguran terhampar dihadapanku. Sayang sekarang musim gugur. Jadi mengingatkanku pada sesuatu.

Aku menghela nafasku. Memang bukan sesuatu yang enak diingat. Bahkan mengingatnya saja bisa mengakibatkan aku membatalkan pernikahan ini sekarang juga. Bukan… bukan karena aku tidak berkomitmen atau menikahi gadis itu tanpa mencintainya hanya saja… ada yang mengganjal.

Perlahan aku berbalik. Aku menyusuri jalan lurus dengan lantai marmer dengan pilar di kanan kirinya. Bangunan yang ku pilih ini memang legendaris. Arsitekturnya seperti istana bergaya eropa lengkap dengan pilar dan ukirannya.

Aku berjalan menyusuri lantai marmer licin itu dan berhenti di suatu titik dimana aku bisa leluasa memandang ke dalam, dan melihat dia, calon pengantinku. Mereka sedang membetulkan tatanan gaun dan merias wajahnya.

Angin musim gugur berdesir dingin membuatku merapatkan lagi jasku ketika kurasakan kantungku bergetar. Aku  menyelipkan tanganku ke saku untuk mengambilnya dan melihat dengan tidak percaya nama yang tertera di caller id.

Mungkinkah? Tetapi toh akhirnya kuangkat juga teleponnya. Aku mencoba membuka mulut memaksa suara keluar dari bibirku dan walaupun sulit dan terdengar aneh akhirnya suara itu keluar juga. Aku berbalik menjauhi ruangan ganti itu dan menyusuri jalan sebaliknya dengan ponsel di telingaku.

“Yoboseyo?” ucapku sambil melangkah pelan sedikit menghindari daun terjatuh yang tertiup angin ke arahku.

“Hyukjae,” ucapnya pelan. Hanya itu yang dia katakan. Hanya namaku tetapi itu sukses mengacaukan perasaanku yang tadinya normal normal saja.

“Y..ya ak—“ aku mencoba untuk berbicara walaupun terbata tetapi gadis itu sudah memotong perkataanku lagi. “Ya, kau dimana? Aku sekarang berada di—“

BRAK!

Aku tidak terlalu berkonsentrasi pada jalan karena mendengarnya dan menabrak seseorang. Aku mundur untuk meminta maaf tetapi gadis itu memandangku kaget, menjauhkan ponsel dari telinganya. Dia, gadis yang baru saja berbicara denganku di telepon.

Dan aku mengenalinya. Jelas, mengenalinya. Cukup untuk membuatku melupakan hari ini. Tanggal, bulan, tahun, bahkan fakta bahwa ini adalah hari pernikahanku. Aku melihat cuaca di sekelilingku. Musim gugur, dan hujan mulai bertetesan sedikit demi sedikit.

Seperti déjà vu. Mungkin ini benar dia.

“Lee Sunghee,” panggilku. Dan segalanya teringat kembali. Masa masa sebelum cerita ini dimulai.

-oOo-

FLASHBACK  ON

Lee Hyukjae berjalan menuju pos keamanan di sekolahnya. Ia mengibaskan rambutnya yang basah terkena tetesan hujan di luar sana. Sekarang ia akan berteduh sambil menunggu hujan untuk berhenti dan dia bisa berjalan pulang ke rumah yang sebenarnya tidak jauh dari sini.

Tetapi ia menghentikan kegiatannya ketika tidak jauh darinya ia melihat seorang gadis berdiri di perbatasan antara atap dan langit. Ia berdiri dalam diam disana, dan tangannya terlulur menangkap tetesan hujan yang jatuh.

Wajahnya tidak terlihat sedih. Hanya sedikit kosong atau mungkin sedang berpikir keras. Hyukjae memberanikan diri mendekatinya dan memperhatikan apa yang sedang dilakukannya.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Hyukjae memberanikan diri.

Mata gadis itu mengerling ke arahnya sebentar dan ia berkonsentrasi lagi pada tangannya. “Menangkap air hujan,” katanya lagi.

“Tetapi hujan itu berasal dari air sungai atau laut yang menguap. Tanganmu bisa kotor, lagipula ini dingin,” kata Hyukjae pelan dan gadis itu hanya tersenyum kecil. “Ya… semua orang berpikir seperti itu. Tetapi aku memiliki cerita versiku sendiri,” katanya sembari menurunkan tangannya yang mulai terasa pegal.

“Tertarik mendengarkan?” tawar gadis itu. Hyukjae hanya mengangguk.

Lalu gadis itu mundur ke belakang, duduk di kursi plastic yang terletak di dekat tembok. Eunhyuk duduk di sebelahnya dan sesaat mereka berdua memandangi titik air hujan yang jatuh.

“Air hujan tidak sekotor itu, kata ibuku. Dia bercerita tentang dunia di langit beserta para bidadari yang menghuninya.” Gadis itu memulai ceritanya sementara Hyukjae mendengarkannya seksama.

“Kau pernah mendengar cerita tentang panah cinta cupid?” tanya gadis itu dan Hyukjae mengngguk. Jelas ia tahu. Itu adalah cerita picisan dimana saat cupid melepaskan panahnya padamu maka kau akan jatuh cinta.

“Seorang cupid melepaskan panahnya, menembus sayap salah satu bidadari cantik tersebut. Tetapi ia tidak menangis. Ia bahagia karena menemukan cintanya,”

Eunhyuk menautkan dahinya mendengarkan cerita itu. “Jadi apakah cupid itu menjadi kekasih bidadari?” tanya Eunhyuk penasaran.

Gadis itu memamerkan senyum tipisnya dan menggeleng pelan. “Mereka berbeda dunia. Tentu saja sang cupid menarik kembali panahnya dan menganggap itu adalah suatu kesalahan,” lanjutnya.

“…dan saat panah itu dicabut paksa daripadamu, sakitnya tidak tertahankan. Bidadari itu menangis dan menangis. Dan jadilah hujan yang kau lihat ini,” ujarnya. Eunhyuk memperhatikan hujan di hadapannya merintik semakin lama semakin sedikit dan akhirnya berhenti.

Gadis itu berdiri, mengangkat tasnya juga. “Akan ada saat dimana hujan itu akan berhenti. Hanya perlu waktu,” katanya. Eunhyuk memperhatikan bulir air mengalir dari ujung rambutnya yang semakin menjauh.

“Jankanman!” teriaknya sesaat. Gadis itu menoleh, menatapnya heran. Eunhyuk memicingkan matanya melihat papan nama di seragam gadis itu. “Ah, sampai bertemu lagi Lee Sunghee,” katanya ramah dan Sunghee pun berbalik pergi.

FLASHBACK OFF

-oOo-

Hyukjae dan Sunghee berjalan dalam diam, menyusuri pilar pilar antik yang mengukir jalan mereka menuju halaman belakang gedung. Merekapun tidak lama sampai ke tempat dimana rumput terhampar luas, dan hujan mulai berhenti menetes.

Sunghee menyandar pada pilar dibelakangnya, memperhatikan pria di hadapannya dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Tidak memakai insole, eh?” canda Sunghee ringan dan Hyukjae hanya tersenyum tipis.

Eunhyuk menggelengkan kepalanya singkat, menatap ujung sepatu hitamnya.

“Pernikahan itu suci. Tanpa kebohongan. Sepertinya memalsukan tinggi badanmu termasuk kebohongan,” canda Eunhyuk dan Sunghee tertawa. Lagi lagi, hipotesi bodohnya. “Jadi kau sudah berbohong selama masa hidupmu, berarti,” katanya lagi.

“Itu berbohong untuk kebaikan, kau tahu? White lie,” kilahnya. Sunghee tertawa lagi. “Aku sudah sering bilang kan? tidak ada yang namanya White Lie. Semua Lie itu Black,”

“Oke dan bagaimana nasib para elf kalau tahu tinggi sebenarnya si tampan Eunhyuk?” celetuknya asal.

Sunghee hanya menatap Eunhyuk lama sambil tersenyum. “Kau tidak banyak berubah, Hyuk-ah,” katanya singkat.

Suasana hening sesaat. Satu kalimat terakhir Sunghee tadi sanggup menghidupkan lagi masa lalu ceria mereka. Dimana hidup mereka simple dan rumit di saat yang bersamaan.

“Ah,” Sunghee membuka tasnya dan menarik keluar sebuah kartu undangan berpita sutera berwarna putih mulus. “Kau… benar benar berharap aku datang?” tanya Sunghee menunjukkan benda itu pada Hyukjae.

“Tentu,” jawab pria itu. “Paling tidak…. Paling tidak aku bisa melihatmu dulu sebelum memulai lagi segalanya. Jadi aku bisa tenang,”

Senyuman tipis muncul di bibir Sunghee. “Kalau itu maksudmu, aku ada di hadapanmu sekarang. Jadi apa yang butuh kau pastikan?” tanya gadis itu, kembali menyandarkan punggungnya di pilar belakang.

Eunhyuk terlihat ragu namun akhirnya menatap Sunghee berani.

“Lee Sunghee… apa kau pernah mencintaiku?”

-oOo-

FLASHBACK ON

“LEE SUNGHEE! CHUKKAHAE! Kau lulusan terbaik tahun ini!” Eunhyuk berlari cepat kearah Sunghee yang memandangnya heran. dengan satu tubrukan Eunhyuk memeluk Sunghee erat. Pelukan berbagi kegembiraan, khas anak SMA.

Tetapi anak SMA itu sudah dewasa. Mereka bisa merasakan adanya maksud berbeda dibalik semua tindakan. Termasuk pelukan ambigu barusan.

“Dan kau terbaik ke dua puluh Sembilan. Selamat, itu rekor,” kata Sunghee membuat Eunhyuk menggaruk pelan belakang kepalanya. Dimana mana, yang namanya ‘terbaik’ maksimal hanya sampai sepuluh. Tidak ada ‘terbaik ke dua puluh sembilan’

“Kau baru meledekku atau apa?” kata Eunyuk cengengesan dan Sunghee tersenyum simple. “Itu pujian, aku serius.”

Dan saat itu Eunhyuk tau itu benar benar pujian.

Mereka berdua berjalan beriringan,menuju gerbang depan sekolah. biasanya selalu seperti itu, Eunhyuk akan menemani Sunghee sampai gerbang depan sekolah dan setelah itu mereka akan berpisah jalan. Sunghee tidak pernah tahu Eunhyuk selalu menunggunya menghilang dari pandangan sebelum ia berbalik dan kembali ke rumahnya.

Kadang kadang hal hal sekecil itu memang lebih baik tidak perlu diketahui. Partikel kecil suatu kejadian bisa merubah efek keseluruhan cerita. Mungkin memang Sunghee tidak ditakdirkan untuk tahu itu.

Mereka berjalan perlahan. Mungkin itu sengaja, dalam hati satu sama lain mereka hanya ingin lebih banyak bersama. Tidak lebih.

“Jadi? Seoul University?” kata Eunhyuk sok tahu. Lulusan lulusan terbaik memang selalu mengincar universitas nomor satu di korea itu.

“Sok tahu,” kata Sunghee tersenyum tipis. “Aku diterima di Julliard. Kau tahu kan? obsesiku jadi pianis,” katanya ringan. Eunhyuk tiba tiba menghentikan langkahnya. “Julliard?”

Sunghee mengangguk singkat. “Dan setelah lulus mungkin aku akan pindah ke Negara perbatasan amerika. Hidup di tempat seperti itu memang impianku. Mungkin aku akan mengajar di San Diego,” katanya lagi. walaupun sebenarnya tidak mudah menyampaikan itu.

Kali ini Eunhyuk tidak berpikir dua kali. Tidak banyak waktu dan kesempatan yang tersisa untuknya. Kelihatannya seperti itu.

“Lee Sunghee aku mencintaimu,” katanya gamblang. Sunghee tersenyum pahit namun disembunyikannya dengan menunduk.

“Ah, Lee Hyukjae,” Sunghee memberanikan diri menepuk pundah Hyukjae pelan. “aku juga suka padamu. Sebagai teman,” katanya riang. Entah itu asli atau dibuat buat.

Satu tarikan napas putus asa Eunhyuk menarik nafasnya pelan. “sudahlah… semoga beruntung, Lee Sunghee,” desahnya putus asa. Ia mengulurkan tangannya, menepuk pipi Sunghee ringan dan berbalik pergi.

Lee Hyukjae tidak pernah tahu, kali ini Lee Sunghee menghitung langkahnya sampai tidak terlihat lagi, sebelum kembali pulang ke rumah.

FLASHBACK OFF

-oOo-

“Ah… jadi itu yang membuatmu tidak tenang, Hyuk?” kata Sunghee tersenyum tipis.

Tetapi Eunhyuk menggeleng pelan. “Tidak, Sunghee-ya. Itu sama sekali tidak sederhana,” kilahnya dan Sunghee lagi lagi menyembunyikan senyum tipisnya. “Tetapi dalam situasi seperti ini, itu sangat sederhana, Hyuk-ah…”ucap Sunghee tenang, setenang matanya saat itu.

Sunghee berdiri tegak dan mengambil langkah demi langkah meninggalkan Hyukjae. “Ayo.. biar kuceritakan semua yang pernah kusembunyikan darimu,” katanya sambil berjalan menyusuri hamparan rumput hijau dengan tangan diselipkan di belakang punggungnya.

Dengan langkah cepat Hyukjae berusaha mengejar Sunghee dan mensejajarkan langkah mereka. Sudah lama sekali rasanya tidak berjalan bersisian seperti ini. Rasanya lain sekarang. Tetapi Hyukjae masih ingat degup jantungnya setiap ada di posisi seperti ini.

“Er… kau ingat detik terakhir kita bertemu?” Sunghee memulai ceritanya.

-oOo-

FLASHBACK ON

Incheon International Airport, Seoul. South Korea.

Passangers with the flight number one six five two please board in to aircraft”

Terdengar tarikan nafas Lee Hyukjae, yang sekarang sedang berdiri tepat di samping gadis yang dicintainya,  Lee Sunghee. Kalau ada seorang pria bodoh yang mengantarkan gadisnya untuk pergi selamanya, mungkin orang itu bisa berteman baik dengan Lee Hyukjae.

“Aku harus pergi, Hyuk,”

Terdengar suara Sunghee memecahkan lamunannya. Nada suaranya terdengar biasa biasa saja tanpa disadari oleh Hyukjae, nada itu menyimpan kesedihan sendiri. tidak semua hal terjadi sesuai kelihatannya. Ada hal hal yang dengan alasan tersendiri harus disembunyikan oleh pemiliknya.

Dan waktu itu, Lee Hyukjae masih terlalu muda untuk mengerti itu.

“Lee Sunghee, tidak bisakah kau tinggal saja?” pinta Eunhyuk dalam kesadaran seratus persen kalau itu akan jelas sia sia.

Dan benar saja, Sunghee menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Ini jalanku Hyuk. Langkahku. Impianku. Dan aku tahu kau mengerti,” ujar Sunghee.

“Aku mengerti. Kau yang tidak mengerti aku Sunghee-ya,” ujar Eunhyuk. Pria itu selalu menjadi pria yang pengertian. Sahabat yang ceria. Teman yang setia. Hanya detik ini sepertinya ia harus menunjukkan sisi egoisnya. Kalau hanya itu satu satunya cara yang bisa digunakan.

Tarikan napas itu terdengar berat. “Aku mengerti. Tentu saja aku mengerti, bagaimana tidak?” kata Sunghee lemah. “Apakah menjadi pianis itu begitu berarti bagimu?” tanya Eunhyuk lagi.

“Tentu,” Sunghee mengangguk.

“Seberapa penting?”

“Seperti seluruh hidupku bertujuan pada hal itu,”

“Kalau kau mendapatkannya akankah kau bahagia?”

“Sangat.”

Eunhyuk menarik napas beratnya lagi. sejauh ini jawaban itulah yang paling dibutuhkannya.

“Kalau begitu aku akan mencoba mengerti. Sekali lagi,” kata Eunhyuk setelah menarik nafas panjang. Air mata Sunghee terkumpul di sudut matanya. “Terimakasih Hyuk. Kau selalu begitu,” ucapnya bergetar.

Eunhyuk memamerkan gummy smilenya.”boleh kupeluk?” tanyanya merentangkan tangan, setengah berharap Sunghee akan membalasnya.

Dan ternyata harapannya terkabul. Gadis itu menghambur ke dalam pelukan hangatnya. Hanya beberapa detik dan itu cukup. Ia berbalik, dan memberikan senyum terakhir pada Eunhyuk.

Impian adalah segalanya. Tetapi cintalah yang akan membawamu kesana. Tetapi waktu itu, Lee Sunghee terlalu muda untuk mengerti itu.

FLASHBACK OFF

-oOo-

Hening sejenak. Mereka baru saja mengenang lagi masa lalu mereka yang sebenarnya pelik di dalam simple di luar. Sebenarnya singkatnya, untuk menjaga situasi simple itu mereka menyembunyikan hal hal rumit tersebut dalam ruang hati masing masing.

Dengan langkah pelan Sunghee melanjutkan langkahnya perlahan menikmati sinar matahari yang muncul malu malu setelah hujan.

Satu tarikan napas diambilnya dan diberanikannya dirinya akhirnya, untuk menyampaikan hal tersebut.

“Jadi kalau kau bertanya pernahkah aku mencintaimu hyuk, jawabannya adalah iya,” ucap Sunghee sambil memfokuskan pandangannya ke depan, dengan tujuan lebih kepada menghindari tatapan menuntut Eunhyuk di belakangnya.

Eunhyuk mempercepat langkahnya agar bisa sejajar dengan gadis yang pernah dicintainya setengah mati itu. “Dan mengapa kau memutuskan pergi?” tuntut Eunhyuk. Perasaan bukan hal utama lagi. yang dibutuhkan sekarang hanyalah penjelasan.

“Aku memiliki tujuan yang lebih besar waktu itu. Dan kita masih remaja. Aku yakin kau bisa hidup tanpaku begitupun sebaliknya,” jelas Sunghee membuat Eunhyuk mendengus keras.

“dan kau terbukti salah. Aku tidak bisa hidup tanpamu,”

“dan aku terbukti benar. Kau akan menikah dalam beberapa menit,” ucap Sunghee setelah sadar betapa lamanya mereka sudah bersama. Hyukjae terdiam mendengarnya

Ya. Lee Sunghee terbukti benar. Ia menemukan gadis yang dicintainya dan mereka akan menikah hari ini. Tetapi tetap saja, Lee Sunghee akan selalu memiliki tempat di hatinya.

Sunghee memperhatikan dasi Eunhyuk yang miring, dan mengulurkan tangannya untuk membetulkannya. “Tampan,” komentarnya setelah memperhatikan ulang penampilan pria itu.

Sunghee menunjuk bagian dada Eunhyuk. “Hatimu,” katanya. “Seberapa besar lagi tempatku disana?” ucap Sunghee.

Eunhyuk terlihat berpikir sebelum menjawab. “Selalu ada, di suatu bagian. Tidak akan hilang. Kau mau mengambilnya kembali?” tanya Hyukjae. Tidak bercanda. Ini serius. Tetapi Sunghee menggeleng karena ia tahu Eunhyuk akan menyesal nantinya, kalau membatalkan pernikahan ini.

Karena ini adalah gadis yang dicintainya. Benar benar dicintainya, dan membalas cintanya, tanpa mementingkan mimpi mimpi pribadinya.

“Dan membuatmu menyesal sampai mati? Tidak,” tolak Sunghee halus. “Kuperjelas, oke? Aku dulu mencintaimu. Sangat mencintaimu. Kau adalah segalanya bagiku. Itu dulu,” ucap Sunghee tegas. Ia hanya ingin memperjelas garis batas antara mereka sekarang, karena kalau ia salah ambil langkah lagi, akan terlalu banyak orang yang tersakiti.

“Tetapi sekarang, aku sudah  mencapai impianku sebagai pianis. Kau menjadi dancer. Kau sudah  menemukan seseorang yang mencintaimu. Dan cerita tentang kita, Hyuk, sudah berakhir sepuluh tahun yang lalu,” jelas Sunghee panjang lebar.

Senyum tipis muncul di sudut bibir Eunhyuk. “Dan sepuluh tahun merubah segalanya,” simpulnya.

“Persis,”

Eunhyuk menarik napas panjang, dan menghembuskannya cepat. Inilah saatnya. Inilah jawaban yang dibutuhkannya. Inilah masa depan yang menantinya. Ia tidak akan melupakan masa lalu. Lee Sunghee, selalu memiliki tempat khusus di hatinya. Cukup besar untuk membuatnya terus mengingat gadis kecil pecinta dongeng yang percaya pada keberadaan bidadari.

“Oke. Kau sudah tidak mencintaiku. Begitupun aku. Sepertinya kisah ini berakhir manis dengan sendirinya, Sunghee,” ucap Eunhyuk tersenyum lega.

Terdengar suara lonceng bening dari dalam gedung, menandakan upacara pernikahan akan segera dimulai. “Hurry..” Sunghee mendorong lengan Eunhyuk pelan. “Your bride is waiting.” Katanya.

Eunhyuk menoleh padanya cepat. “Kau tidak akan menonton?” tanyanya sedikit kecewa. Sunghee menggeleng tersenyum tipis. “Pesawatku satu jam lagi,” ucapnya.

Dengan satu tarikan lembut Eunhyuk menarik Sunghee dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya. “Tempat special ini selalu ada untukmu,” katanya lembut dan Sunghee mengangguk. Eunhyuk berbalik dan berjalan menjauh, menuju kebahagiaannya.

Dan seperti sepuluh tahun yang lalu, Sunghee tetap berdiri disitu, menghitung langkah Eunhyuk menjauh sampai pria itu menghilang dari pandangan. Dua tetes air mata terjatuh bebas dari bola mata bening Sunghee. Tetapi kali ini ia tidak berusaha untuk menghapusnya. Karena ini adalah air mata terakhir untuk Lee Hyukjae, yang mulai sekarang harus direlakannya.

‘Satu kebohongan kecil lagi,’ pikirnya sambil berbalik dan berjalan pergi. Pesawatnya masih akan terbang sekitar 6 jam lagi.

-oOo-

The next two days, San Diego.

Lee Sunghee keluar dari rumahnya di kawasan Sherman Heights. Hujan rintik rintik membasahi kota membuat jalanan terlihat licin dan rerumputan lebih hijau dari seharusnya.

Payung biru itu berdiri kokoh melindungi gadis yang memegangnya erat, melindunginya dari hujan yang pasti akan selalu datang tanpa ia bisa menghentikan ataupun mencegahnya. Hujan juga merupakan siklus alam. Sama sepreti air mata juga merupakan bagian siklus kehidupan. Jadi itu normal normal saja.

Gadis ini kehilangan orang yang paling dicintainya kemarin. Tetapi ia lega, kali ini segalanya jelas. Walaupun ia mengaku ia tidak mencintai pria itu lagi. tidak, itu bukan white lie. Semua kebohongan itu hitam. Tidak ada bohong untuk kebaikan. Semua sama saja.

Tetapi ia mengatakan kebohongan itu bukan untuk kebaikan. Itu semata hanya untuk melindungi hatinya sendiri, sama seperti payung ini menjadi tamengnya karena hujan.

Lee Hyukjae tidak akan pernah tahu. Sampain detik itu, Sunghee masih mencintai dancernya.

Dengan satu dorongan ia membuka pintu kaca sekolah music dimana ia mengajar. Seorang gadis blasteran Mexican-American  dengan mata hijau gelap menyambutnya.

“Autumn! Autumn!” teriaknya memekakkan telinga tetapi Sunghee justru berlutut memeluknya. “So today what will we learn? Brahms? Mozzart?” tanyanya ceria.

It’s all up to you. I know you are smart enough,” ucap Sunghee lembut.

Alice mengedikkan kepalanya. “Hey Autumn, did you see your dancer?” tanyanya penasaran dan Sunghee tertawa kecil. “I did…” katanya pelan.

Is he happy?” tanya Alice. Sunghee hanya mengangguk menjawabnya. “He really is…”

“Are you happy?” Alice lebih serius kali ini. Inilah yang paling susah dijawab. Sunghee mengangguk tipis. “Sure,if he is happy…”  jawabnya singkat. Tetapi kali ini ia berani bersumpah kalau itu adalah jujur.

Sunghee menoleh ke samping, kearah jendela yang tadinya ribut karena hujan deras. Tetapi sekarang ruangan itu tenang. Hujan sudah berhenti, dan matahari bersinar hangat menerangi San Diego, di musim peralihan itu.

Dan Sunghee tahu, hidupnya baru saja dimulai.

FIN

heeeeeii

apakabaaar semuaaaa? mwahahhaah sudah lama rasanya ga posting disini xDD

so how’s taste? galau? aneh? maap yak xD lagi demen sad romance heheheh

RCL always appreciated :) thanks before. warm kisses,

specialshin

15 thoughts on “Stop the Falling Rain

  1. Baca ff ini waktu ada rehat pas ada lomba peringatan maulid nabi , dan berhasil bikin aku nangis di ruang OSIS :( seeeedih sumpah . ngetik kata2 ini sebenernya pingin nangis juga , tapi malu -_- baagus ceritanya !

  2. Aigo… tragis banget…
    eunhyuk mah gtu amat ye, susul dong sunghee. udh deh nggak pake nikah2 segala *maksa* hhahahaha

    bagus chingu ceritanya jd terharu.. huhuhu

  3. Chingu b’hsl buat aQ nangis….
    Hwuah…. Hiks, hiks, hiks….
    Sedih banget….
    Tapi keren, chingu….
    d’tnggu FF s’lanjtx yah… (^0^)9
    nb: pas baca aQ lgi dgrin lagux Suju yg One Love… Makin tragis dah pas dgr suarax Eunhyuk-oppa….

  4. ya Allah….
    padahal ini ceritanya sebenarnya sad ending ya?
    yapi kenapa aku ngerasa puas ya ama endingnya?

    fic ini bikin mataku berkaca-kaca v.v

    nice fic :)
    bikin lagi ya~

    .Michi.

  5. KEREN.. sukaaa bgt gaya bahasany..
    ceritanya daebak!!

    author,punya blog sndiri ga?
    atw prnah posting ff lain?aq mauuuuuu bgt baca.. bagi link-nya dooong *puppy eyes

  6. Jujur aja yaah.. Dari dulu aku gak suka sama ff yg sad ending, tp khusus ff ini pengecualian! Ff ny daebak bngt, alur ny oke, penulisan ny jg ok! 2 thumbs up fot author d^^b

    klo blh tw ini author syapa y? :D

  7. omo~
    demi jidat yesung, ff.a keren abis!!
    bener lho, pemilihan kata.a tepat banget, feel.a dpt banget, penggambaran alur, tokoh dan tempat.a jg gak ribet tp ngena banget, trus jg quoter.a keren2,, ak suka banget dgn kata2 ‘partikel kecil sebuah kejadian bisa merubah efek keseluruhan cerita.a’..
    nice ff,, pokok.a daebakk deh b^^d
    keep writing ya :)

  8. eh ya lupa,, author.a punya blog pribadi atau pernah post ff dimana gtu?? bagi link.a donk..
    tu yg diatas maksud ak quotes bkn quoter hehe ._.v

  9. baru baca ._.v
    its so daebak!! ^0^b

    demi ya thor bahasanya enak banget terus terus terus terus terus aku nyeseeeeek :'(
    nangis beneran ini huaaaaa T_T

    ditunggu ff hyuk lainnya u,u
    jangan sad romance lagi tapinya .-.

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s