Sister Complex [Miracle of Christmas]

Author : Pupuputri

Main Cast : Cho Kyuhyun

Support Cast : Jo Kwangmin

Rating : PG15

Genre : Love/Friends, Super Junior, One Shoot, Boyfriend

Ps : Ini dia cerita spesial yang saya janjikan! Lumayan panjanglah, saya sedang membuat cerita spesial Sister Complex lainnya, hope you like it. Now, enjoy~

 

CHO JOOYEON POV

Kugesekkan tanganku bersamaan dan meniupkan nafasku di atas tanganku agar lebih hangat. Ini bulan Desember dan sebentar lagi natal. Aku merindukan Eomma, Appa dan Eonnie. Kapan ya mereka akan pulang? Oh mian, Cho Jooyeon imnida. Sebenarnya nama asliku Park Jooyeon tapi tidak ada yang tahu kecuali orang-orang terdekatku. Sejak kecil aku sudah di adopsi oleh keluarga Cho.

“Jooyeon-ah!” panggil seseorang.

Seorang namja datang mendekatiku dengan nafas tersenggal. Rambut dan pakaiannya berantakan sekali. Sepertinya dia benar-benar berlari dari gedung SM. Dia adalah namja chingu-ku. Memanggilnya begitu membuat dadaku bergemuruh dan wajahku memanas. Dia adalah Cho Kyuhyun. Oppa sekaligus namja chingu-ku.

“Mian, lama..” ujarnya masih mengatur nafasnya.

Aku tersenyum melihatnya. Kubetulkan letak syalnya yang sudah tidak beraturan.

“Gwaenchana, Oppa..”

Kini dia melihatku. Aish! kenapa jantungku berdebar keras? Pipiku pasti sudah memerah sekarang. Kenapa dia melihatku begitu? Apa ada yang aneh dengan wajahku?

“W..waeyo?” tanyaku ragu.

Dia tidak menjawab dan semakin mendekatkan wajahnya. Omo! Jangan bilang dia mau menciumku? Ini’kan tempat umum, walaupun aku tahu dia memakai alat penyamaran sekarang tapi’kan..ini bukan tempat yang tepat! Kututup mataku rapat-rapat dan..

PLOK.

“Kenapa kau menutup matamu?” tanyanya.

“Ne?” segera kubuka mataku.

“Kau mulai yadong ya? Kau pikir aku mau menciummu, heh?” tanyanya dengan senyum jahil.

“A..aniya..aku..” aish! kenapa aku jadi gagap begini?

“Ya sudah, ayo kita makan!” dia menarik tanganku.

Aish! kenapa aku jadi begini? Setiap menatap matanya itu, seolah ada magnet yang membuat mataku tidak bisa berpaling darinya.

“Sejak kapan kau menungguku?” tanyanya saat kami sedang berjalan menuju kedai ramyeon langganan kami.

“Ne?”

“Telinga dan pipimu merah”

“Oh, igo? Aniya, aku juga baru sampai kok!” bohongku.

Oh jadi itu alasannya dia mendekatkan wajahnya? Aish! kau benar-benar yadong Jooyeon-ah! Aku berbohong karena aku tidak mau membuatnya khawatir. Sebenarnya aku sudah menunggunya sejak sejam yang lalu.

“Jinjja?” tanyanya memastikan.

“Ne!” jawabku semangat.

Dia tersenyum mendengarnya. Bisa kurasakan dia semakin erat menggenggam tanganku. Ada rasa gembira dalam diriku dan entah bagaimana menjelaskannya. Padahal Kyuhyun Oppa sudah sering menggenggam tanganku tapi kali ini berbeda. Aku merasa jauh lebih special dibandingkan siapapun.

“Aktingmu itu jelek sekali, Jooyeon-ah~, belajarlah lagi”

Aku mengerjapkan mataku tak percaya. Darimana dia tahu kalau aku bohong?

“Lain kali bawalah sarung tangan dan penutup telinga supaya tubuhmu tidak beku, arasseo?”

Aku takjub mendengarnya. Kupikir hanya Donghae Oppa saja yang tidak bisa kubohongi. Ternyata aku belum mengenal Kyuhyun Oppa sepenuhnya. Tapi entah kenapa, aku merasa senang dengan ucapannya itu.

“Ne, Oppa” jawabku sambil tersenyum.

Akhirnya kami sampai di kedai ramyeon langganan kami.

“Annyeong haseyo” ucap kami berbarengan begitu kami masuk.

“Annyeong haseyo” jawab Ahjumma pemilik kedai ini.

“Anjuseyo” ucapnya lagi sambil mempersilakan kami duduk.

“Ne, kamsahamnida”

Kami duduk di tempat biasa kami duduk. Kedai ini lumayan ramai karena memang ramyeon disini memang paling enak dan harganya yang terjangkau. Bisa kulihat berbagai pasangan yang juga sedang menikmati malam dingin ini.

“Kyuhyun Oppa?”

Tiba-tiba seorang yeoja datang menghampiri kami. Aku kaget, apa dia seorang fans? Bagaimana dia bisa tahu kalau itu Kyuhyun Oppa?

“Eo, Cheonsa-ya~” sapa Kyuhyun Oppa balik.

Oh, ternyata Cheonsa toh. Aku juga jadi agak kaget karena Kyuhyun Oppa mengenal Cheonsa, padahal mereka sama-sama menggunakan alat penyamaran.

“Kalian datang berdua saja?” tanyanya.

“Ne, kau sendiri?” tanya Kyuhyun Oppa balik.

“Nih, bersama bocah ini” jawabnya sambil menunjuk seorang namja di belakangnya.

Nugu? Dia juga memakai alat penyamaran. Apa dia juga artis?

PLETAK!

“Appo! Kau ini tidak sopan sekali!” protes Cheonsa pada namja itu.

“Kau yang tidak sopan” ucap namja itu tidak terima.

“Yak, yak, kalian ini selalu saja bertengkar. Cepat duduk sebelum ada mengenali kita” perintahnya.

Cheonsa dan namja itupun duduk di depan kami. Aku masih berusaha menebak siapa namja itu dan sepertinya Kyuhyun Oppa menyadari tingkahku yang daritadi terus menatap namja itu.

“Dia namja chingunya, Jooyeon-ah” ujar Kyuhyun Oppa.

Kedua orang yang sedang memperbaiki posisi duduknya itu kini dengan kompak melihat ke arahku. Omo! Membuatku jantungan saja!

“Oh, iya. Aku lupa memperkenalkan bocah ini ya? Dia Jo Kwangmin, peliharaanku”

PLETAK!

Omo! Sepertinya jitakan namja itu jauh lebih keras daripada yang tadi.

“Aish! kau ini kenapa sih suka sekali memukul kepalaku?” protes Cheonsa lagi.

“Jo Kwangmin imnida” ujarnya sedikit membungkuk dan memperlihatkan senyumannya.

Omo! Senyumannya manis sekali! Seperti yeoja.

“Aish! kau ini!”

Tiba-tiba Cheonsa mencubit paha namja bernama Jo Kwangmin dan berhasil membuatnya meringis. Sepertinya Cheonsa tidak terima tadi dicuekin olehnya. Kwangminpun membalasnya dengan mencubit pipinya.

“Yak! geumanhae! Kalian ini seperti anak kecil saja!” lerai Kyuhyun Oppa.

Merekapun terpaksa menghentikan aktifitas mereka sambil terus menggerutu tidak jelas.

“Cheonsa-ya, jangan begitu pada namja chingu-mu dan Kwangmin bersikaplah sopan padanya walau bagaimanapun dia lebih tua darimu. Kalian ini seperti bocah saja” ucap Kyuhyun Oppa bijak.

Wow! Daebak! Seumur-umur baru kali ini aku mendengarnya bicara sebijak itu. Biasanya’kan dia itu bertingkah seperti bocah. Kutatap Kyuhyun Oppa tanpa berkedip dan sepertinya dia menyadarinya.

“Wae? Sebegitu mempesonanyakah aku sampai kau tidak bisa berkedip?” tanyanya PD.

Cih! Langsung kubuang mukaku dan meremehkannya.

“Yak! apa-apaan wajahmu itu?!” dia agak tersinggung rupanya.

“Aish! berhentilah bersikap lebih bocah dari kami, Oppa!” kali ini Cheonsa melempar balik kata-kata Kyuhyun Oppa.

Haha..nice, Cheonsa-ya!

Kulirik Kyuhyun Oppa yang sepertinya kesal dinasihati oleh hoobae-nya. Langsung kuperlihatkan senyuman kemenangan dan tentu saja itu membuatnya semakin dongkol.

“Oh iya, choneun Cho Jooyeon imnida. Pangabseumnida” ujarku memperkenalkan diri.

“Pangabseumnida” jawabnya.

“Panggil dia ‘Noona’ Kwangmin-ah, dia itu seumuran denganku” perintah Cheonsa.

Eh? Noona?

“Ara, ara..”

Cheonsa yang menyadari perubahan wajahku yang kaget langsung ngeh dengan apa yang ingin kutanyakan.

“Dia ini masih SMA, Jooyeon-ah..” ujar Cheonsa.

“SMA?” tanyaku tak percaya.

“Ne tapi wajahnya sudah seperti Ahjussi ya?” tanyanya jahil.

Kwangmin hendak memukul kepalanya lagi tapi kali ini Cheonsa lebih cepat menahan tangannya. Dia langsung menjulurkan lidahnya, meremehkannya.

“Dia itu member Boyfriend, dia punya kembaran namanya Jo Youngmin” jelas Kyuhyun Oppa.

Boyfriend?

“Aaah, ne, aku tahu! Boyband baru itu ya? Mian, aku tidak menyadarinya lebih awal” ujarku membungkuk karena tidak enak.

“Aniya, gwaenchanayo” jawabnya.

Kamipun berbincang macam-macam. Tentang Boyfriend, hubungan Cheonsa dan Kwangmin begitupun hubungan kami. Mereka juga kaget begitu tahu yang sebenarnya. Sebenarnya aku mulai gelisah dengan hubungan kami yang masih bisa dibilang backstreet ini. Aku takut kalau orangtua kami menentang, perusahaan menentang dan itu akan berpengaruh pada karir Kyuhyun Oppa.

“Annyeong!” ujar Cheonsa.

Kamipun berpisah setelah selesai makan dan berbincang-bincang. Kyuhyun Oppa bilang Kwangmin kembar identik, aku jadi ingin melihat kembarannya itu. Mereka benar-benar menyenangkan dan mereka sangat lucu. Selalu saja bertengkar hanya karena masalah sepele, untung saja mereka hanya bercanda.

Aku jadi iri dengan hubungan mereka yang sudah diketahui oleh masa, keluarga dan perusahaan. Beruntungnya, mereka direstui oleh semuanya. Kira-kira kapan ya itu akan terjadi pada kami?

“Jangan bilang kau menyukai si Kwangmin itu” ucap Kyu Oppa tiba-tiba.

“Ne?” tanyaku terkejut.

“Daritadi kau terus menatapnya, jangan-jangan kau mulai menyukainya ya?” tanyanya.

Apa ini artinya dia cemburu? Haha..lucu sekali!

“Bureopji?” tanyaku jahil.

“Bureopji aniya” sangkalnya.

Aish! masih saja menyangkal, dasar!

“Aniya, kupikir sepertinya asyik memiliki kembaran. Jadi saat kau memandang kembaranmu, kau seperti sedang bercermin” ujarku.

“Hm..” jawabnya pendek.

Sepertinya dia sudah mulai lega, terdengar jelas dia menghembuskan nafasnya lega. Dasar tukang gengsi! Begitu saja tidak mau mengaku.

“Dan lagi, aku iri pada mereka. Semua orang tahu hubungan mereka seperti apa dan tidak ada yang mereka khawatirkan” ujarku jujur.

 

CHO KYUHYUN POV

“Bureopji?” tanyanya. Dia ingin menjahiliku rupanya.

“Bureopji aniya” sangkalku.

Mana mungkin aku mengaku kalau aku memang cemburu.

“Aniya, kupikir sepertinya asyik memiliki kembaran. Jadi saat kau memandang kembaranmu, kau seperti sedang bercermin” ujarnya.

“Hm..” jawabku pendek.

Kuhembuskan nafas lega ketika mendengarnya.

“Dan lagi, aku iri pada mereka. Semua orang tahu hubungan mereka seperti apa dan tidak ada yang mereka khawatirkan” lanjutnya lagi.

Aku tersentak dengan ucapannya. Tiba-tiba aku menyadari sesuatu dari ucapannya barusan. Hubungan kami memang tidak pernah meluas seperti Cheonsa dan Kwangmin tapi aku merasa itu sudah cukup. Apa ini artinya dia merasa risih dengan hubungan kami? Tanpa kusadari aku telah berhenti berjalan dan malah bengong di jalan.

“Oppa? Gwaenchanayo?” tanyanya yang menyadari kalau langkahku tidak seirama lagi dengannya.

Kuperhatikan Jooyeon yang berjarak beberapa meter dariku. Dia agak bingung dan langsung menghampiriku.

“Wae ddo?” tanyanya lagi.

Jinjja baboya!

GREP!

Kupeluk dirinya yang masih melihatku dengan pandangan khawatir. Tubuhnya agak menegang saat kupeluk. Dia tidak membalas pelukanku.

“Waekure Oppa?” tanyanya yang kini mengelus punggungku.

“Mianhae..”

“Ne?”

“Mian sudah membuatmu tertekan selama ini..”

“Mwo? Apa maksud Oppa?” tanyanya semakin bingung.

Kenapa aku baru menyadarinya?

“Aku akan segera mengumumkan hubungan kita” ucapku mantap sambil melepaskan pelukanku.

Wajahnya terkejut begitu mendengarnya, tapi dia tidak mengatakan sepatah katapun. Aku masih menatapnya serius. Beberapa saat kemudian, dia menunduk lemah. Waeyo?

“Waeyo? Kau tidak senang?” tanyaku.

“Aniya, hanya saja..” jawabnya menggantung.

“Hanya saja apa?” tanyaku penasaran.

“Kalau pahitnya mereka tidak mau merestui hubungan kita bagaimana? Apalagi yang mereka lihat’kan aku ini adalah adik Oppa, itu pasti akan mempengaruhi karir Oppa nantinya” ujarnya dengan pandangan sendu.

Mwo? Kenapa dia malah berpikiran begitu?

“Kenapa kau bicara begitu, Jooyeon-ah? semuanya akan baik-baik saja!” ucapku mantap.

“Kalau memang mereka tidak mau merestui kita dan sampai memecat Oppa hanya karena hal ini, apa Oppa tidak apa-apa? Aku tidak ingin itu terjadi, walau bagaimanapun, jadi penyanyi adalah impian Oppa sejak kecil..” jelasnya lemah.

“Mwo? Jadi kau bilang karirku lebih penting daripada kau?” tanyaku sambil mengguncang bahunya.

“Aku hanya tidak mau jadi penghalang impian Oppa..” jawabnya.

Kulepaskan genggaman tanganku di bahunya dan menatapnya tidak percaya. Bagaimana bisa dia sebaik ini? Tapi aku lebih tidak mau kehilanganmu.

“Dengar. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah melepaskanmu meskipun banyak yang menentang, sekalipun aku harus kehilangan karirku. Kau tahu kenapa? Karena kau jauh lebih berharga dari apapun di dunia ini. Neon ara? Saat kau di rawat di RS karena kecelakaan waktu kita masih SD dulu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk terus melindungimu apapun yang terjadi.

Aku bisa gila kalau kau tidak ada di sampingku, Jooyeon-ah..karena itu, jangan pernah bilang kalau impianku lebih penting daripada kau. Apapun yang terjadi, apapun keputusannya, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Camkan itu, arasseo?” jelasku panjang lebar.

Dia menatapku dengan pandangan yang sulit ku artikan. Airmatanya sudah berlinang di pelupuk matanya dan kini berjatuhan. Tepat saat aku akan menghapus airmata itu, tiba-tiba dia memelukku erat.

“Mianhae, Oppa..hiks..jeongmal mianhae..” ujarnya sesenggukan.

Ku usap puncak kepalanya pelan dan mengecupnya. Apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkanmu meskipun itu artinya aku harus kehilangan segalanya. Karena kau adalah milikku satu-satunya yang paling berharga.

“Suatu saat, aku akan mengumumkan hubungan kita pada semua orang termasuk pada Appa, Eomma dan Ahra Noona. Akan kulakukan apapun agar mereka mau merestui kita. Kkokjonghajima..” kukecup lagi puncak kepalanya.

***

BRAK!

Kulirik manager Hyung yang melemparkan koran paginya ke meja. Kenapa dia? pagi-pagi sudah naik pitam.

“Waeyo, Hyung?” tanyaku.

“Baca itu!” perintahnya sambil menunjuk koran paginya.

Aku jadi bingung. Memang ada berita mengejutkan apa? Segera ku ambil koran itu dan membaca headline utamanya.

Ige mwoya? Ini’kan fotoku dengan Jooyeon kemarin malam! ‘Super Junior Kyuhyun Bermesraan Dengan Dongsaengnya Sendiri (Cho Jooyeon)’. Kenapa mereka tahu kalau itu aku dan Jooyeon?

“Kenapa kau bisa selengah itu, Kyuhyun-ah?” tanya manager Hyung sedikit menahan emosi.

“A..aku..”

“Sialnya aku juga baru mengetahuinya pagi ini, kita tidak bisa membakar semua koran yang ada. Ini pasti sudah tersebar kemana-mana. Kalau begini, ini akan merusak reputasimu” ujarnya lagi.

Semua member SuJu sudah mengetahui hubungan kami  tak terkecuali manager Hyung. Akupun tidak bisa berkata apa-apa.

“Kalau sudah begini, kita harus mengklarifikasi semuanya kalau tidak ada hubungan apa-apa di antara kalian, hanya hubungan dongsaeng dan Oppa” jelasnya.

Jooyeon? Aku lupa! Apa dia sudah membacanya berita ini? Segera kuraih kunci mobilku dan langsung pergi begitu saja.

Bisa kudengar teriakan manager Hyung yang menyuruhku kembali, tapi apa peduliku? Yang kupikirkan saat ini adalah Jooyeon. Selama di perjalanan, aku mencoba menghubungi HP-nya tapi tidak aktif.

“Aish!” umpatku.

Ini sudah yang ke-5 kalinya aku berusaha mencoba menghubunginya. Kenapa HP-nya tidak aktif terus? Aku khawatir dia berpikiran yang aneh-aneh seperti kemarin dan mungkin berbuat hal bodoh. Tuhan, semoga dia baik-baik saja.

Kugas lebih kencang mobilku sambil terus melihat arloji-ku. Jam 8 pagi, dia ada kuliah jam 9, kuharap dia masih di rumah. Begitu sampai di rumah, segera kupakirkan mobilku dan langsung masuk ke dalam.

Ku edarkan pandanganku ke segala arah untuk mencarinya. Akhirnya kutemukan dia di dapur sambil membaca koran. Jangan bilang kalau itu koran tadi!

“Jooyeon-ah!” panggilku.

Dia menengok dengan airmata yang sudah bercucuran.

“O..Oppa..”

Segera kupeluk dia dan menjauhkan korannya. Dia sesenggukan di pelukanku.

“Ottokhaeyo, Oppa? Ini pasti akan jadi skandal besar dan akulah penyebabnya. Kalau saja aku tidak mengajak Oppa makan di luar, ini tidak akan..”

“Andwae! Ini bukan salahmu!” sangkalku.

“Ta..tapi..” dia melepas pelukanku dan sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa.

Hadapilah, Cho Kyuhyun! Bukankah kau bilang akan mengumumkan hubunganmu dengannya apapun resikonya?

“Ikut aku”

Akupun menarik tangannya keluar rumah dan memasukannya ke mobil. Dia tidak melawan atau mengatakan sepatah katapun. Kugas mobilku menuju gedung SM.

Sesampainya di depan gedung SM, para wartawan langsung mengerubungi mobilku. Ini sudah kuperhitungkan sebelumnya dan aku sudah bertekad untuk terus maju. Kulihat manager Hyung dan beberapa security datang membuat sebuah jalan agar kami bisa lewat.

Berbagai pertanyaan dari wartawan tidak kuhiraukan. Aku langsung menarik Jooyeon masuk gedung sementara manager Hyung mengikuti dari belakang kami.

BRAK!

Pintu ruanganpun ditutup dengan sedikit dibanting karena para wartawan gila itu memaksa ingin meliputku dan Jooyeon. Kududukan Jooyeon di kursi dan memberinya segelas air. Dia masih agak syok dengan semua ini.

“Aish! hampir saja! gwaenchanayo, Jooyeon-ah?” tanya manager Hyung.

Jooyeon hanya menganggukan kepalanya tanpa berkata apapun. Dia nampak ketakutan. Aku tidak bisa diam saja.

 

CHO JOOYEON POV

Kyuhyun Oppa membawaku ke gedung SM. Para wartawan itu sampai mengejar kami sampai ke sebuah ruangan entah apa itu.

BRAK!

Pintu ruanganpun ditutup dengan sedikit dibanting karena para wartawan itu memaksa ingin meliput kami. Kyu Oppa mendudukanku di kursi dan memberiku segelas air. Aku benar-benar pusing hari ini, semua ini benar-benar terjadi begitu cepat.

“Aish! hampir saja! gwaenchanayo, Jooyeon-ah?” tanya manager Oppa.

Aku hanya menganggukan kepala saja tanpa berkata apapun. Ottokhaeyo? Ini semua salahku.

Tiba-tiba sebuah tangan menggenggam erat tanganku yang ternyata sedari tadi gemetaran.

“Oppa?”

Kupandang Kyuhyun Oppa. Matanya kali ini menyiratkan dia akan melakukan sesuatu.

“Aku akan mengadakan konferensi pers dan menjelaskan semuanya” ucapnya mantap.

Aku agak terkejut mendengarnya. Aku berusaha mencari kebohongan dari pancaran matanya tapi tak kutemukan. Apa dia bersungguh-sungguh?

“Jin..jja?” tanyaku ragu.

Dia menganggukan kepalanya mantap. Dia semakin erat menggenggam tanganku. Lidahku kelu, aku masih bingung harus bilang apa.

“Kkokjonghajima..kita hadapi ini bersama. Aku akan selalu melindungimu, arasseo?” tanyanya.

Aku masih terus menelusuri kebenaran dari mata coklatnya itu tanpa berkedip. Yang kulihat dari pancaran matanya adalah keseriusan dan keinginan yang kuat.

Perlahan ku anggukan kepalaku tanda percaya. Rasanya dadaku lebih bergemuruh dibanding biasanya, keringat dingin mulai keluar dari pelipisku. Aku punya firasat buruk soal ini tapi aku percaya padamu, Kyuhyun Oppa.

 

CHO KYUHYUN POV

Beberapa hari kemudian, aku mengadakan konferensi pers untuk mengklarifikasi semua ini. Pihak perusahaan agak khawatir dan memintaku untuk tidak bertindak gegabah. Aku hanya menjawab bahwa aku akan melakukan apa yang harus kulakukan dan semua member SuJu mendukung keputusanku ini, termasuk manager Hyung.

Sebentar lagi konferensi pers akan dimulai. Ku erat tanganku pada tangan Jooyeon. Dia nampak tidak siap dengan semua ini.

“Kau siap?” tanyaku.

Dia mengangguk ragu.

“Kkokjonghajima..aku selalu disisimu, jadi jangan takut, oke?” ucapku menenangkannya.

Dia menatapku sebentar. Ku anggukan kepalaku supaya dia lebih percaya padaku dan dijawab oleh anggukan kepalanya. Ini dia.

***

“Apa yang kau pikirkan, Cho Kyuhyun?!”

Kalian penasaran itu suara siapa? Itu suara Appa-ku. Apa yang Appa-ku lakukan disini? Yah setelah konferensi pers yang bisa dibilang sukses itu berakhir, Appa, Eomma dan Ahra Noona langsung pulang ke Korea.

Konferensi persnya? Kuceritakan secara singkat saja. Awalnya para wartawan gila itu menghujani kami dengan berbagai tuduhan yang tidak mengenakan tapi kami bisa hadapi ini bersama. Singkat cerita, para wartawan mau mengerti, begitupun dengan pihak managemen, mereka semua merestui hubungan kami. Tapi tinggal ada 1 masalah.

“Memacari adikmu?! Itu hal terkonyol yang pernah Appa dengar!”

Ini dia yang kusebut dengan 1 masalah.

“Tapi Appa, pihak managemenpun sudah bisa merestui hubungan kami. Kenapa Appa tidak bisa?” tanyaku bersikukuh.

Aku masih menggenggam tangan Jooyeon erat. Keadaan membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa, padahal dulu dia paling dekat dengan Appa. Entahlah, mungkin setelah dia tahu dia bukan anak kandung Appa, dia jadi merasa tidak berhak ikut bicara dalam suasana ini.

Eomma dan Ahra Noona juga tidak bisa ikut dalam pembicaraan kami. Mereka hanya bisa memperhatikanku dan Jooyeon. Bisa kurasakan tangannya mulai berkeringat. Aku yang memilih jalan ini dan aku harus menerima resikonya.

“Aku mohon Appa..aku akan melakukan apapun agar Appa mau merestui kami” aku mulai putus asa atas pembicaraan yang sudah berlangsung selama 1 jam ini.

Hening. Appa hanya melihatku dengan geram. Aku tahu dia begitu menyayangi Jooyeon dan dia juga sudah berjanji pada keluarga Park untuk menjaganya. Tapi tak bisakah dia melepaskannya untukku? Mulai sekarang, aku yang akan menjaganya.

Aku semakin mempererat genggamanku. Jooyeon juga terlihat putus asa. Aku tidak akan menyerah, apapun yang terjadi.

“Aku sangat mencintainya, Appa..biar aku yang menjaganya mulai sekarang..kumohon…” ucapku lemah sambil berlutut.

“Kyuhyun-ah..” pekik Eomma.

Bisa kudengar suara tangis Eomma yang baru melihatku mati-matian mempertahankan seseorang.

“Nado..kumohon, Appa..” kali ini Jooyeon ikut berlutut bersamaku.

“Jooyeon-ah! Appa! Kumohon restui mereka!” kali ini Ahra Noona yang memohon memaksa Appa.

Appa masih diam tak bergeming. Beliau memang sangat keras kepala, seperti aku.

“Yeobo..aku juga memohon padamu, restuilah mereka. Aku..aku sudah merestui mereka, tak bisakah kau melihat ketulusan dari mata anakmu?” sekarang Eomma angkat suara.

Aku masih menatapnya tanpa mengalihkan perhatianku pada apapun. Suasana jadi hening dan dingin. Hanya suara detik jarum jam di ruangan yang terus menghiasi suasana ruangan yang tidak bersahabat ini.

Beberapa saat kemudian, Appa menghembuskan nafas berat. Jantungku masih berdegup kencang, menunggu keputusannya.

“Baiklah..”

“Appa..” kini aku mulai bisa menghirup oksigen yang tadi terasa berat.

“Tapi dengan 1 syarat” ucapnya lagi.

“Kalian berdua tidak bisa tinggal dalam 1 rumah. Bukannya Appa tidak percaya, tapi pasti akan terjadi hal yang tidak di inginkan kalau sampai kalian dibiarkan terus berada dalam 1 atap” ucapnya bijak.

Kali ini aku tidak bisa melawannya karena aku juga tidak bisa memungkirinya.

“Kau bilang akan melakukan apapun’kan?” tanyanya lagi.

“Ne” jawabku.

“Jangan kecewakan aku. Jagalah Jooyeon baik-baik sebagaimana kau menjaganya saat dia masih berstatus dongsaengmu dan mulailah dengan berpisah atap dengannya. Bukan berarti kau tidak boleh datang ke rumah ini lagi, hanya saja..”

“Ne, Appa. Algesseoyo” ucapku patuh.

“Bagus” kali ini sebuah senyuman tersungging di bibirnya.

“Sekarang berdirilah, aku benci jadi orang jahat disini” ujarnya lagi sambil membantuku berdiri.

Aku sedikit terkekeh dengan ucapannya. Akupun berdiri, begitupun dengan Jooyeon. Raut ketegangan itu kini telah memudar dan berganti menjadi senyuman. Aku sudah melakukan hal yang benar’kan?

“Kamsahamnida, Appa..” ucapku sambil membungkuk.

“Ne, jangan lupakan janjimu tadi” peringatnya lagi.

“Tidak akan” ucapku memastikannya.

GREP!

Tiba-tiba Jooyeon memeluk Appa erat, membuatnya sedikit kaget. Tapi kemudian dia mengelus puncak kepala Jooyeon lembut.

“Gomawo, Appa. Jeongmal gomawo” ucapnya riang.

“Sama-sama, Jooyeon-ah..” jawabnya.

Hening. Ahra Noona menghampiriku dan mengelus pundakku pelan. Pudakku memang sudah tegang daritadi dan dia pasti sudah menyadari itu sejak mereka pulang ke rumah.

“Apa..aku masih boleh memanggilmu ‘Appa’?”

Sebuah pertanyaan itu membuat semua orang jadi tercengang. Apa maksudnya? Kulihat raut wajah Appa juga tegang. Apa dia masih memikirkan soal statusnya saat ini?

“Keurom. Aku akan jadi Appa-mu hari ini, esok dan seterusnya. Selamanya aku adalah Appa-mu. Selamanya kami adalah keluargamu dan selamanya kau adalah anakku, Cho Jooyeon..” ucap Appa lembut.

Akupun ikut tersenyum karena pemandangan yang mengharukan ini. Eomma-pun tak mau kalah dengan ikut memeluk mereka berdua. Syukurlah.., semuanya sudah baik-baik saja.

“Jadi, kalian sudah berbuat apa saja selama kami tidak ada?”

DEG!

Tiba-tiba saja Ahra Noona menyenggol tanganku dan melontarkan pertanyaan itu. Sial! Dia pasti mau menggodaku! Lihat saja tanduk setan dan seringaiannya itu, jadi kalian sudah tahu’kan darimana aku mendapat seringaian setan itu? itu kupelajari dari Noona-ku ini.

Dan pertanyaannya tadi berhasil membuatku jadi salah tingkah dan sialnya otakku malah blank saat ini.

“A..apa maksud Noona?” tanyaku gelagapan.

“Kau tahu’kan, heh? Yang biasa dilakukan sepasang kekasih, huh? Huh? Huh?” dia terus menyenggolku sambil terus menggodaku.

Aish! jantungku semakin berdegup kencang. Apa aku harus memberitahukannya? Itu’kan privasiku dan Jooyeon. Hah!

“Yaaah..kalau kau tidak mau bilang, aku bisa tanya pada Jooyeon kok! Jooyeon-ah~”

Sial!

“Aish! Noona, geumanhae!”

Akhirnya aku malah saling mengejar dengan Noona-ku yang lebih evil dariku ini. Appa, Eomma dan Jooyeon hanya bisa menatap kami kebingungan. Tawa setannya kini membahana di seluruh ruangan. Aish! wajahku pasti sudah memerah saat ini! Lama tidak bertemu, bukannya lebih dewasa malah tambah seperti anak kecil saja!

***

Kini Appa, Eomma dan Ahra Noona akan tinggal di Seoul untuk sementara waktu. Akupun mulai tinggal di dorm untuk menepati janjiku tapi tentu saja, kadang-kadang aku pulang ke rumah walaupun tidak sampai menginap.

Hari ini adalah malam natal. Kami sudah menyiapkan pohon natal di rumah. Di malam natal ini, aku tidak diliburkan. Yang ada malah jadwalku bertambah padat sampai besok pagi. Sudah berkali-kali Eomma dan Ahra Noona memintaku untuk pulang walau sebentar. Walau bagaimanapun, momen seperti ini sudah jarang sekali terjadi. Ini pertama kalinya, keluarga kami berkumpul kembali setelah sekian lama dan kali ini tidak kekurangan satupun.

Sebelum kerja lembur, manager Hyung mengizinkan kami semua untuk pulang ke rumah dan harus kembali jam 9 malam. Sebelum pulang, tentu saja aku mampir ke toko dulu untuk membelikan kado natal untuk seluruh keluargaku.

Untuk Appa kubelikan mantel baru karena beliau gampang sekali kena flu. Untuk Eomma kubelikan tas Gucci model terbaru, asal kalian tahu dia itu kolektor tas. Khusus evil Noona kubelikan dia kitab suci supaya dia cepat tobat, haha..bercanda! aku bisa dibunuhnya kalau benar-benar memberinya kitab suci. Untuk Ahra Noona tersayang kubelikan high-heels Prada, entah kenapa yeoja suka sekali dengan high-heels padahal pasti pegal memakainya seharian. Yang terkahir, untuk yeoja yang paling kucintai, Jooyeon, kuberikan dia..haha..nanti saja deh kuberitahu!

Setelah belanja kado natal, akupun pulang ke rumah. Jalanan tidak begitu macet untuk malam natal, mungkin semua orang sedang sibuk menghias pohon natalnya di rumah. Tidak lama kemudian, akupun sampai di rumah dan langsung memparkirkan mobilku.

“Aku pulang!” ucapku saat membuka pintu.

“Kyuhyun-ah~, bagaimana menurutmu?” tanya Ahra Noona tiba-tiba.

“Apanya yang bagaimana?” tanyaku kebingungan.

Ahra Noona langsung menarikku ke ruang keluarga sambil menutup mataku.

“Yak! Noona, aku tidak bisa lihat!” ujarku meronta-ronta.

“Wait ‘till you see this” ujarnya masih terus menggiringku menuju ruang keluarga.

“See what?” tanyaku penasaran.

“Tada~” diapun membuka mataku.

“Well?” tanyanya lagi.

“Bagaimana menurutmu, Kyuhyun-ah?” kali ini Eomma yang bertanya padaku.

Kini, di depanku berdiri seorang yeoja yang kucintai. Tapi kali ini dia berpenampilan spesial. Dia memakai dress selutut berwarna merah darah. Rambutnya yang hitam pekat itu dikepang ke pinggir dan ada hiasan rambut di pinggirnya, tidak membuatnya seperti anak berumur 19 tahun. Dia terlihat dewasa dengan make-up minimalis dan high-heels hitamnya. Sosok yang sudah sempurna di mataku itu tampak terlihat lebih sempurna saat ini.

Mungkin tampangku saat ini sudah seperti maniak yang sedang melihat pujaannya. Ah tapi apa peduliku? Kuhampiri yeoja yang bisa membuatku berbuat hal-hal gila itu. Tidak kupedulikan tatapan dan ocehan Appa, Eomma dan Ahra Noona. Senyumannya kini terkembang begitu langkahku semakin dekat dengannya.

“Yeppeoda..” ucapku dan itu membuatnya tersipu malu.

Aish! kalau saja aku tidak ingat disini ada Appa, Eomma dan Ahra Noona, sudah kucium dia daritadi. Kenapa sih dia selalu saja memperlihatkan ekspresi itu di depan orang lain? Membuatku ingin mencubit pipinya saja.

“Ehm..baiklah kurasa kami akan menunggu kalian di dapur saja ya, sebentar lagi kalkunnya matang. Ayo Ahra-ya~ bantu Eomma!” ujar Eomma.

“Ne, kajja Appa!” sahut Ahra Noona sambil menarik lengan Appa yang kurang setuju dengan ide mereka kurasa.

Kini kami tinggal berdua. Dia kelihatan tegang, haha..kyeopta~

Kusodorkan tanganku dan setelah beberapa saat, disambut oleh tangannya. Segera ku ajak dia menuju balkon sambil terus menggenggam tangannya. Aah..neomu bogoshipoyo, sudah beberapa hari ini aku tidak pulang ke rumah dan kami hanya berkomunikasi lewat telfon dan SMS saja.

“Jooyeon-ah..” panggilku.

“N..ne, Oppa?” tanyanya gugup.

Kulepaskan mantel yang belum sempat kulepas tadi dan kupakaikan padanya. Dia agak terkejut atas perilakuku.

“Jangan sampai kau sakit, cuacanya mulai dingin” ucapku sambil membenarkan letak mantelku.

“Gomawo, Oppa..”

 

CHO JOOYEON POV

“Tada~” Ahra Eonniepun membuka mata Kyu Oppa.

“Well?” tanyanya lagi.

“Bagaimana menurutmu, Kyuhyun-ah?” kali ini Eomma yang bertanya padanya.

Ayolah, kenapa ekspresinya jadi begitu? Apa aku terlihat aneh dengan penampilan ini? Asal kalian tahu, ini semua bukan kemauanku. Eomma dan Ahra Eonnie yang memaksaku. Mereka terus mendesak Kyu Oppa untuk pulang malam ini karena mereka sudah merencanakan ini sebelumnya.

Maka sebelum Kyu Oppa datang, mereka membawaku ke salon dengan paksa dan membelikan dress ini untukku, yang juga mereka paksa untuk kupakai. Aku bahkan tidak yakin Kyu Oppa akan menyukainya karena aku jarang berpenampilan seperti ini kecuali untuk hari-hari khusus saja. Mereka bilang ini malam natal dan aku harus berpenampilan khusus demi Kyu Oppa. Yaah kami memang sudah beberapa hari ini Oppa tidak pulang ke rumah dan kami hanya berkomunikasi lewat telfon dan SMS saja.

Perlahan, dia menghampiriku dengan ekspresi yang sama, aku bahkan tidak menyadari kalau sedari tadi dia tidak berkedip. Tampak ocehan Appa, Eomma dan Ahra Eonnie yang dihiraukannya. Aah..aku begitu merindukan sosok ini. Matanya yang coklat, senyumannya yang bisa membuatku tidak bisa berpikir jernih. Tanpa kusadari, senyumanku terkembang begitu langkahnya semakin dekat denganku.

“Yeppeoda..” ucapnya.

Jantungku berdebar tidak karuan dan pipiku mulai memanas.

“Ehm..baiklah kurasa kami akan menunggu kalian di dapur saja ya, sebentar lagi kalkunnya matang. Ayo Ahra-ya~ bantu Eomma!” ujar Eomma.

“Ne, kajja Appa!” sahut Ahra Eonnie sambil menarik lengan Appa.

Kini kami tinggal berdua. Aish! aku tegang sekali!

Dia memberikan tangannya dan setelah beberapa saat, kusambut tangannya itu. Dia mengajakku menuju balkon sambil terus menggenggam tanganku.

“Jooyeon-ah..” panggilnya begitu kami sampai di balkon.

“N..ne, Oppa?” tanyaku gugup.

Dilepaskannya mantel yang belum sempat dia lepas tadi dan dipakaikannya padaku. Aku agak terkejut atas perilakunya.

“Jangan sampai kau sakit, cuacanya mulai dingin” ucapnya sambil membenarkan letak mantelnya.

“Gomawo, Oppa..”

Senyuman terkembang lagi di sudut bibirku. Kami berpandangan cukup lama sampai akhirnya dia mengisyaratkanku untuk menunggu. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kotak panjang ke hadapanku.

“Apa ini?” tanyaku.

“Bukalah” pintanya.

Kubuka kotak yang berbalutkan kertas kado itu. Apa ini hadiah natal?

“I..ini..”

Kalian tahu apa yang ada di dalamnya? Sebuah kalung yang sama persis seperti di drama ‘Boys Before Flowers’ yang Junpyo berikan pada Jandi di malam bersalju. Sebuah kalung bulan dan bintang.

“Aku khusus memesankannya karena kau menyukainya” ucapnya sambil memakaikan kalung itu di leherku.

“Waaah yeppeo~ gomabta, Oppa” ujarku kegirangan.

“Do you like it?”

“I love it!”

“Tapi kuharap dengan adanya kalung ini kau tidak akan beralih pada Lee Minho itu” ucapnya ketus.

“Haha..arasseoyo”

Rupanya dia masih tidak begitu suka pada Lee Minho karena aku begitu mengagumi sosoknya.

“Saranghaeyo, Jooyeon-ah” ucapnya tiba-tiba.

Kontan itu membuat jantungku berdegup tidak karuan dan pipiku kembali memanas.

“Nado, Oppa..” ucapku malu-malu.

Perlahan dia menelusupkan tangannya ke arah pipiku dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Omo! Omo! Jantungku mau copot! Kututup mataku rapat-rapat dan akhirnya bisa kurasakan sebuah bibir mendarat di bibirku. Aah..rasanya tetap manis, kubalas pelan ciumannya itu.

Tapi entah kenapa aku merasa ada yang memperhatikan kami ya? Kubuka pelan mataku dan omo! Segera kulepaskan ciumanku dan menjauhkan wajah Kyuhyun Oppa.

“Yak! waeyo?” tanyanya tak terima.

“Aha..haha..lihat disana Oppa!” bisikku padanya sambil membelokkan wajahnya ke arah pintu.

Ternyata Appa, Eomma dan Ahra Eonnie sedang melihat kami, tapi sejak kapan? Aish! aku malu sekali!

Ada banyak ekspresi dari balik sana. Appa yang geram, Eonnie yang menyeringai dan Eomma yang senyam-senyum tidak jelas.

“Yak! berani-beraninya kalian ciuman tanpa sepengetahuanku!” teriak Appa.

“Uwooow, aku tidak menyangka kau begitu romantis Kyuhyun-ah!” Eommapun kegirangan.

“BTW, itu ciuman ke berapa kalian?” tanya Ahra Eonnie jahil.

Aish! wajahku pasti semakin merah saat ini. Bumi, telan aku bulat-bulat

sekarang juga!

THE END

30 thoughts on “Sister Complex [Miracle of Christmas]

  1. kyaaaaa,,,
    daebak thor,,,,
    lain kali mreka nikah y thor,,heheee
    tapi,,,, papanya mreka lucu,,,masa ciuman hrus ngmong ma dy dlu,, #sweatdrop

  2. Aku tadi ngebut baca ff ini dari part 1 heheh tapi baru sempet komen di sini ^^V
    Ah bikin iri banget mereka… Kadar ke-Evil-an(?) kyu sedikit berkurang nih kayaknya hehehe…
    Ternyata memang keluarga cho evil semua, mulai dari appa,eomma sama ahra semuanya evil hahah

  3. terjawab sudah..
    ahk akhirnya ortu mrka menyetujuin juga…
    hahah >.<
    bikin crta lepas ny jg donk oen.. hahah (bnyk mwnya) :D

  4. aaaaa keren min lanjut after sotrynya lagi yaaa ^^ aku suka kyu nya romantis jooyeon nya yang polos hahahaha daebak! lanjuttt~! :D :D

  5. ish~ kakak-adik evil… like this special edition ^^ keren thor
    puas banget kalau cho ahra ngerjain cho kyuhyun.. keekekekeke POK #hi5withahraonnie

  6. Pengumuman buat chingudeul yang belom tahu, saya udah punya blog sendiri #bangga #kibasponi, ada sekitar 5 FF baru yang masih pending di WFF tapi udah saya post di blog saya. Kalo punya waktu, silakan mampir ya~ pupuputri.wordpress.com, gomawo ^_^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s