[KyuRa] The Oracle [part 2/END]

Author   : syipoh and elftodie21

Cast       : Cho Kyuhyun, Lee Hyora, Lee Donghae, Eun Hyuk, Cho Ahra, Park Boram

Rate       : PG15

Genre     : comedy, romance, married life, family, friendship.

Annyeong, yeorobun~ Jengjengjengjeng… Author-author gila *tunjuk Syipoh* (Enak aja!) kembali lagi di hadapan kalian. Gomawo buat kalian yang udah setia nunggu. Moga aja hasilnya sesuai ama yang diinginkan.

Dan, inilah part 2 yang kalian tunggu-tunggu. Kasih bocoran dikit ya, disini masalahnya tambah rumit dan kemungkinan besar bisa membuat esmosi kalian bergelombang *halah*. Banyak kejadian kebetulan yang tidak disangka-sangka. Nah, bagaimanakah kelanjutan ceritanya? Langsung aja.. Ini dia..

Semoga kalian suka dengan ff kyura kali ini…. happy reading!! Ditunggu sarap dan kripiknya ya…!!

(Eonnie, saran dan Kritik bukan sarap dan Kripik. Emangnya itu Esa Eonnie? =_=”)

*****

Hyora’s P.O.V

Aku masih teringat kejadian kemarin yang lalu di Yeoido itu. Akupun masih mendiamkan Kyuhyun. Entah kenapa aku merasa ramalan itu tepat. Kyuhyun sudah mencoba menjelaskannya padaku bahwa ramalan itu hanya bohong belaka, tidak nyata. Tapi, tetap saja itu tidak menyurutkan pikiran burukku. Rasa sakit yang menderaku. Memikirkan bahwa aku akan kehilangan Kyuhyun sungguh membuatku menjadi lemah dan dengan sendirinya cairan bening akan keluar dari pelupuk mataku.

Hari ini aku sengaja bangun pagi sekali. Kulihat Kyuhyun. Dia masih terlelap. Hhh.. Aku benar-benar lelah. Sesungguhnya aku tidak ingin mendiamkannya terus. Tapi, sikap Kyuhyun yang seolah tidak terjadi apa-apa sungguh membuatku gila. Apa dia benar-benar akan pergi meninggalkanku demi orang lain? Apakah aku benar-benar bukan istri yang baik? Apakah cintaku padanya sungguh tidak berarti? Berbagai pertanyaan seolah menghantam pikiranku. Ini sungguh berat. Menyesakkan. Aku menarik nafas panjang, mencoba menenangkan emosiku yang bisa dibilang sedang sangat labil. Aku tidak ingin menangis lagi di hadapannya kali ini.

Kusingkap selimut yang menutupi tubuhku. Aku turun dari atas ranjang menuju dapur. Baru jam 6. Masih terlalu pagi untuk Kyuhyun bangun. Aku tersenyum getir mengingat momen saat aku membangunkannya di pagi hari. Belum lagi kalau dia sudah melukis indah di atas sarung bantal. Bayangkan saja. Aku mencuci sarung bantal Kyuhyun tiga hari sekali gara-gara lukisannya itu. Kemudian, aku tersadar akan sesuatu. Sesuatu yang membuatku mungkin akan merasakan sakit. Aku sendiri tidak mengerti kenapa ramalan itu berpengaruh besar terhadap hubungan kami.

Aku menuju dapur untuk membuatkan sarapan untuknya terlebih dahulu dan segera mandi. Setelah ini aku ingin jalan-jalan sebentar keluar apartemen mumpung masih pagi sekali. Semoga saja udara pagi ini bisa membuat pikiranku sedikit ringan.

End of Hyora’s P.O.V

 

Kyuhyun’s P.O.V

“Hoaammm…” Aku menguap lebar dan mengelap air liurku, seraya meraba-raba tempat di sebelahku. Lalu, aku segera tersadar bahwa Hyora sudah menghilang. Jam berapa ini? Aku mengucek mataku agar bisa melihat jam lebih jelas. Masih jam 10 rupanya. Kemana dia? Aku bangun dari tidurku. Aku memutuskan keluar dari kamar. Suasanya sepi sekali. Kemana perginya buinku itu? Aku menguap meregangkan sebentar badanku. Tiba-tiba aku mendengar suara pintu yang terbuka. Aku mendekat ke arah pintu. Dan bisa kulihat dia dengan jumper dan training pinknya baru masuk kedalam apartemen kami.

“Dari mana kau?” tanyaku sambil menguap.

“Dari jalan-jalan.” jawabnya singkat lalu menuju dapur, mengambil air minum.

“Kok tidak membangunkanku?”

“Kau kan tidak suka aku bangunkan.” jawabnya dingin. Ada apa ini? Kenapa jawabannya seperti itu? Nada suaranya tidak seperti biasa. Datar.

Ya ampun!! Aku lupa! Dia… Kami kan sedang….. bertengkar? Ani. Aku dan dia tidak bertengkar. Dia tidak bicara padaku. Pasti dia masih memikirkan ramalan yang tidak berguna itu.

“Ya! Kenapa nada bicaramu seperti itu?” Aku mulai tidak sabar.

“Tidak ada apa-apa.” Lagi-lagi dia menjawab dengan singkat. Aku tidak suka nada bicaranya ini.

“Kau masih memikirkan ucapan peramal gila itu?” Dia tidak menjawab.

“Ayolah, Hyora… Kita ini sudah dewasa. Aku pikir ini sudah berakhir sejak tadi malam. Aku kan sudah bilang jangan memikirkan ramalan konyol itu…” Dia masih mengacuhkanku dan melakukan kegiatannya menyiapkan sarapan.

“Kau… makanlah….” katanya sambil mengambil sepotong roti dan mengoleskan selai untuknya sendiri setelah mengoleskan untukku.

“Kau kenapa sih?” Aku duduk dihadapannya.

“Tidak apa-apa.” jawabnya sambil mulai mengunyah roti dan meminum susunya.

“Apanya yang tidak apa-apa??!!” Nada bicaraku mulai naik. Kesabaranku sudah habis rupanya. Kenapa dia tidak bisa percaya kepadaku?

“Aku mau belanja ke supermarket.” jawabannya tidak berhubungan dengan pertanyaanku. Lalu, dia pergi meninggalkanku begitu saja. Aish.. Ini membuatku gila. Apa dia tidak tahu bahwa sikap dinginnya itu membuatku sangat tersiksa?

End of Kyuhyun’s P.O.V

 

Author’s P.O.V

“Aku mau belanja ke supermarket.” Hyora tidak menjawab pertanyaan Kyuhyun.

“Aku ikut!!” Kyuhyun menyusul Hyora. Hyora tidak menjawab tapi juga tidak melarang Kyuhyun mengikutinya. Hanya saja suasananya jadi lebih aneh sekarang. Mereka berganti pakaian dan setelah selesai, mereka segera keluar apartemen.

Sesampainya di supermarket, mereka memilih bahan makanan untuk isi kulkas mereka yang sudah hampir habis. Mereka berbelanja masih tanpa mengatakan suara. Hyora memilih bahan makanannya dan Kyuhyun yang mendorong kereta belanjanya. Beberapa yeoja disekitar mereka sempat melontarkan komentar tentang ketampanan Kyuhyun. Hal ini membuat Hyora panas tapi karena dia juga sedang malas berbicara pada suaminya itu maka dia hanya diam.

“Katakan sesuatu padaku Hyora~ya…” Acara belanja mereka sudah berjalan beberapa jam dan Kyuhyun mulai merayu Hyora untuk bicara. Dia sudah sangat tersiksa dengan perilaku Hyora.

“Katakan apa?” Hyora menjawab lagi masih dengan nada yang sama tanpa melihat Kyuhyun karena dia sibuk mengambil bahan makanan.

“Fiuhh…” Kyuhyun menarik nafas panjang. Dia bingung sekali harus bagaimana terhadap yeoja yang dia cintai ini.

“Aku sudah selesai belanja, ada lagi yang mau kau beli?” tanya Hyora.

“Ambilkan aku jjajjangmyeon instant saja.” pinta Kyuhyun. Kyuhyun menghela nafas lega.

‘Yah, setidaknya dia masih menjawab pertanyaanku.’pikir Kyuhyun.

“Kau di sini saja, aku ambilkan.” kata Hyora.

Di saat Kyuhyun menunggu Hyora. Dia memikirkan bagaimana caranya meredam suasana aneh yang terjadi anatara dirinya dan Hyora. Saat sedang melamun, karena ikut stress memikirkan masalah yang sebenarnya sangat sepele itu, mata Kyuhyun menangkap sosok seorang yeoja yang sangat cantik dan tinggi yang sedang berjalan menuju kearahnya sambil memilih makanan-makanan di counter tepat di depannya. Matanya terbelalak lebar sekali setelah sadar kalau dia mengenal yeoja itu. Dia meninggalkan kereta dorongnya dan mendekati yeoja itu.

“Dae… Daejin Nuna?” panggilnya gagap. Yeoja itu menengok ke arah Kyuhyun.

“Maja!! Daejin Nuna!!!” Kyuhyun menunjuknya.

“Oh… A.. annyeong, Kyuhyun~ah…” Dia melambaikan tangannya sedikit terbata. “Oremanida…(lama tak berjumpa) kkkk..” Dia memamerkan giginya yang rata, terlihat sangat cantik. Lalu dengan reflek dia memeluk Kyuhyun.

“Nuna~ya!” seru Kyuhyun.

“Hahaha..mianhae married man~” katanya melepaskan pelukannya. “Tidak apa kan kita kan sudah lama sekali tidak bertemu. Aigoo… kau ini tambah tinggi sekali…” dia memandang Kyuhyun dari bawah keatas.

“Aish! Nuna kenapa kau bisa disini? Kau diusir dari London? Dan apa-apaan dengan penampilan nuna ini?” Kyuhyun memandangi yeoja di hadapannya dengan tatapan tak percaya.

“Ya!! Apa maksudmu berkata seperti itu? Aku sedang liburan dan haha… Aku ini kan juga yeoja Kyuhyun~ah..” katanya sambil memukul pundak Kyuhyun dengan keras.

“Luarnya saja yang yeoja, tenaganya masih juga seperti namja…” Kyuhyun mencibir.

“Ya! Kau mau aku pukul?” ancam Daejin.

“Masih sama saja seperti dulu… Kenapa tidak mengabari aku nuna?”

“Hmm… Sebenarnya ingin memberimu kejutan tapi karena sudah terlanjur ya sudah. Hahahaha…”

“Dasar nappeun Nuna. Benar-benar tidak berubah…”

“Oh iya, aku harus pergi.” Daejin terlihat buru-buru.

“Nanti aku hubungi kau ya… Kita harus bertemu, ok? Aku kangen sekali padamu Kyuhyun~ah..” katanya sembari mengacak rambut Kyuhyun dan memeluknya.

“Na do, Nuna… Hati-hati ya…” Kyuhyun melepas pelukannya.

“Annyeong…” Daejin meninggalkan Kyuhyun sambil melambaikan tangannya. Kyuhyun membalas lambaian tangannya dan tersenyum.

Dia tidak sadar kalau seseorang menjatuhkan ramyeon dan jajangmyeon instantnya dan mengepalkan tangan menahan tangisnya dari jauh.

End of Author’s P.O.V

 

Hyora’s P.O.V

“Aku sudah selesai belanja, ada lagi yang mau kau beli?” tanyaku datar.

“Ambilkan aku jjajjangmyeon instant saja.” pinta Kyuhyun.

“Kau disini saja, aku ambilkan.” jawabku.

Tuhan… Aku harus bagaimana? Aku takut sekali kehilangan dia. Aku tahu aku ini seperti anak kecil saja, mendiamkan dia. Tapi itu semua kan juga bukan salahku. Lagipula dia itu cuek sekali. Bukannya aku tidak yakin dengan perasaan Kyuhyun terhadapku. Tapi, saat peramal itu melihat Kyuhyun, dia pun langsung tahu namanya. Itulah yang membuatku ragu. Padahal, kami kan tidak pernah bertemu sama sekali. Aku jadi masih berkeyakinan kalau ramalan itu benar.

Memang sih, Kyuhyun menyuruhku tidak memikirkannya terus dan menyuruhku mempercayainya. Tapi bagaimana bisa? Tadi saja banyak yeoja yang menggodanya. Aku ini terlihat seperti bukan istrinya. Bagaimana kalau suatu hari dia memang menyukai yeoja lain dan meninggalkan aku? Aku berkata sendiri dalam hati sambil berjalan menuju counter yang berisi ramyeon dan jajangmyeon instant. Rasanya sakit sekali membayangkan itu. Tidak! Aku tidak mau menangis. Aku berusaha menahan air mataku.

“Kau percaya padaku kan?”

Pertanyaan Kyuhyun itu terus menerus mengusik otakku. Setelah berpikir lama, aku mulai sedikit bisa berpikir jernih. Dia kan suamiku, masa aku tidak percaya padanya. Sepertinya Kyuhyun juga bukan tipe namja yang seperti itu. Aku sedikit bisa bernafas lega sekarang. Aku berjanji akan mempercayainya. Setelah ini aku akan bicara padanya. Ya. Kami memang harus bicara. Aku kangen sekali caranya dia menggodaku. Aku tersenyum sendiri. Membayangkan momen-momen kami yang hilang sejak kejadian kemarin.

Kemudian, aku mengambil jajangmyeon kesukaan kami dan beberapa jenis ramyeon. Aku segera berjalan sedikit cepat karena ingin segera menemui Kyuhyun dan meminta maaf padanya karena tidak mempercayainya.

Ketika aku akan berbelok menuju gang tempat Kyuhyun menunggu. Aku berhenti mendadak saat melihat Kyuhyun sedang bersama seorang yeoja yang cantik sekali. Mereka sedang mengobrol dengan akrab. Aku bersembunyi di belakang sebuah counter. Sedikit menguping pembicaraan mereka.

“Oh, iya aku harus pergi. Besok aku hubungi kau ya… Kita harus bertemu, ok? Aku kangen sekali padamu Kyuhyun~ah..” katanya sembari mengacak rambut Kyuhyun dan memeluknya. Kangen? Dia bilang kangen pada Kyuhyun? Dia mengacak rambut Kyuhyun dan memeluknya seakan mereka sudah kenal lama sekali. Dan Kyuhyun membalas pelukannya itu.

“Na do, Nuna… Hati-hati ya…” MWO!!! Na do?? Dia mengatakan na do??? Aku menjatuhkan ramyeon dan jajangmyeon instant yang baru saja kuambil.

“Annyeong…” Yeoja itu meninggalkan Kyuhyun sambil melambaikan tangannya. Kyuhyun membalas lambaian tangannya dan tersenyum.

A… aku merasa terkhianati. Tanganku mengepal kencang dan aku menahan tangisku. Tidak… Aku tidak akan menangis di sini. Hatiku benar-benar sakit melihat adegan itu. Dadaku sesak. Jadi, sebentar lagi dia akan meninggalkanku dan bersama dengan yeoja itu. Ramalan itu benar-benar akan terjadi padaku?

“Agassi, kau menjatuhkan belanjaanmu..” seorang ahjumma membantuku kembali ke dalam alam sadarku.

“Ah~chuisonghamnida…” Aku membungkuk dan mengambil belanjaanku. Aku tidak langsung kembali ke Kyuhyun. Aku masih menyembunyikan tubuhku di belakang counter itu. Aku berusaha mengatur nafasku yang mulai tidak beraturan dan membuatku sesak. Setetes air mata keluar tapi langsung saja ku hapus. Aku tidak mau Kyuhyun tahu aku menangis. Aku harus tampak tegar di hadapannya. Aku menarik nafas panjang. Aku mulai memberanikan diri menuju Kyuhyun setelah agak lama mencoba mengatur nafasku sendiri.

End of Hyora’s P.O.V

 

Kyuhyun’s P.O.V

Brak!!

Tiba-tiba Hyora datang dan meletakkan belanjaan terakhir itu dengan sedikit kasar. Aku kaget sekali karena jujur saja aku juga sedang melamun karena masalah yang sama.

“Ya! Jeongmal weire?? (Ya! Kau ini sebenarnya kenapa?) Kenapa kau lama sekali?!!” bentakku. Dia tidak menjawab hanya berlalu begitu saja dan berjalan cepat didepanku. Aku mulai menyusulnya. Aish! Dia berjalan cepat sekali. Kami pun membayar belanjaan kami dan pulang ke apartemen. Di mobil, ku perhatikan dari ekor mataku air muka Hyora berubah lagi. Seakan-akan menahan sesuatu yang sangat ingin dia keluarkan, tapi tidak bisa.

Kami kembali ke apartemen. Kami meletakkan barang belanjaan kami di atas meja. Dan dia langsung menata barang-barang belanjaan itu di tempatnya. Aku segera ikut membantunya. Aneh.. Mukanya itu benar-benar tidak seperti biasanya. Aku membantunya sambil menatap dia terus menerus. Biasanya, Hyora akan menjadi sangat manis dengan semburat merah di pipinya yang membuatku sangat ingin menciumnya jika aku menatapnya seperti itu. Tapi, kali ini dia diam saja tanpa ekspresi. Jurus andalanku ini gagal.

Padahal, selama ini yeoja-yeoja yang mengejarku bisa tidak sadarkan diri jika aku memberi mereka tatapan ini. Ah, aku lupa. Hyora… Yeoja-ku ini sangat istimewa. Dia berbeda dengan yeoja yang lain. Aku menarik nafas panjang. Kami pun masih terdiam. Aku sendiri bingung dengan apa yang harus aku lakukan.

Setelah kami selesai, dia langsung menuju kamar dan mengurung diri di kamar. Ya, Tuhan.. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku mengacak rambutku sendiri, frustasi. Aku tidak tahu bagaimana menghadapi yeoja ini jika sedang marah. Aku pernah diberitahu Donghae hyung kalau Hyora marah dia sangat menakutkan. Ya. Memang. Dia sangat menakutkan. Dia hanya diam saja. Mengacuhkanku.

Aku menyalakan TV. Berusaha untuk menenangkan hatiku yang arghh sudah bisa kubilang sudah tidak karuan. Aish.. Kenapa tidak ada yang menarik. Aku menuju ruang belajar kami. Mencari-cari buku yang bisa kubaca. Tapi, aku sudah membaca semua. Aku berpindah ke psp. Tapi, karena pikiranku sedang kacau maka semua permainan yang aku mainkan hampir semuanya kalah. Aku meletakkan pspku setelah setengah jam memainkannya. Yeoja ini benar-benar membuatku gila!!

Jam sudah menunjukan pukul 3 sore. Akhirnya, aku putuskan untuk pergi ke perpustakaan saja. Aku baru ingat mau mengembalikan buku dan perlu meminjam beberapa lagi. Masih dengan baju yang sama, karena kamarnya sudah dikuasai Hyora yang sedang entahlah.. Marah padaku? Aku tidak tahu juga kenapa dia sampai seperti itu. Setahuku, aku kan tidak melakukan kesalahan apa-apa.

Tok tok tok…

Aku mengetuk pintunya.

“Hyora~ya… Aku pergi keperpustakaan dulu.” tak ada jawaban. Ya sudah. Daripada dia tidak tahu, lebih baik aku sms saja. Kemudian, aku keluar dari apartemen kami setelah mengirimkan sms itu.

End of Kyuhyun’s P.O.V

 

Hyora’s POV

Brak!!

Aku meletakkan belanjaan terakhir itu dengan sedikit kasar. Dia tampak kaget sekali.

“Ya! Jeongmal weire?? (Ya! Kau ini sebenarnya kenapa?) Kenapa kau lama sekali?!!” bentaknya. Kenapa? Dia masih tanya aku kenapa? Apa dia ini benar-benar tidak peka? Aku melangkah dengan cepat melewati tubuhnya. Dia menyusulku.

Huh! Lihat… Sekarang saja dia sudah sering membentak-bentak kepadaku. Ini sudah pasti dia akan lebih sering membentakku dan membuatku sebal padanya. Lalu, dia punya kesempatan meninggalkanku. Begitu, kan? Ah~ Mengingatnya membuat nafasku terasa sesak kembali.

Setelah membayar belanjaan, kami pulang ke apartemen. Aku berusaha menahan ini semua dan masih bertahan dengan sikapku yang dingin padanya. Kami meletakkan barang belanjaan kami di atas meja. Aku langsung menata barang-barang belanjaan itu di tempatnya dalam diam. Kyuhyun ikut membantuku. Dia membantuku sambil menatapku terus menerus. Aku tahu biasanya wajahku ini akan memerah jika dia menatapku seperti itu. Tapi, untuk kali ini aku diam saja tanpa ekspresi. Aku berusaha tidak mempedulikannya.

Setelah kami selesai aku langsung menuju kamar dan mengurung diri di kamar.

Blam!

Aku menutup pintu dan menguncinya. Air mata yang sudah kutahan dari tadi akhirnya keluar dari bendungannya. Mengucur deras dan tidak mau berhenti. Seakan-akan ada yang merobek seluruh organ dalamku. Merusak semua sistem di dalam tubuhku. Aku menyandar lemah di belakang pintu kamar hingga akhirnya tubuhku jatuh perlahan dalam posisi duduk. Tubuhku lemah sekali. Sakit sekali… Sakit…..

Aku berusaha meredam suara tangisku dengan membekap mulutku dengan tanganku. Aku tidak ingin Kyuhyun mendengarnya. Aku menundukan kepalaku. Apa yang harus aku lakukan, Jangmyeon~a? Nafasku memburu. Adegan tadi terus berputar di kepalaku seperti film. Melihatnya memeluk yeoja lain dan berkata kalau dia juga rindu padanya. Ah… Itu benar-benar menyakitkan. Sekarang aku menyesali datang ke tempat ramalan itu. Semuanya benar semuanya akan menjadi nyata. Eomma… Apa yang harus aku lakukan. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta pada seorang namja dan pertama kalinya pula aku disakiti….

Aku melamun, bingung harus bagaimana. Aku hanya berdiam diri, masih bersandar pada pintu.  Entah sudah berapa jam aku seperti ini. Tiba-tiba terdengar  ketukan dari luar.

“Hyora~ya… Aku pergi ke perpustakaan dulu..” katanya dari luar kamar.

Aku tidak menjawabnya. Malah yang ada aku hanya menangis. Mendengar suaranya yang mengatakan rindu pada yeoja lain selain aku, memandang tubuh kekarnya yang memeluk yeoja lain, dan membayangkan wajahnya yang tersenyum memandang yeoja lain.. Itu semua membuatku merasa sakit.. Kyuhyun~ah.. Apakah semua pernyataan cintamu kepadaku bukan rasa cinta yang sesungguhnya? Apa kau menikahiku hanya benar-benar untuk mendapat jurus rahasia game dariku? Apa kau… Apa kau hanya menginginkan tubuhku saja setelah itu kau bisa membuangku begitu saja? Pikiranku saat ini benar-benar penuh dengan prasangka yang tidak bisa kubilang baik. Ini sungguh masa terburuk dalam hidupku. Jujur. Aku merindukannya. Aku sangat merindukannya… Tapi, rasa rindu ini tidak lebih kuat dari rasa sakit yang mendera seluruh tubuhku dan jiwaku. Aku merasa lemah. Lemah karena cintaku ini yang mungkin akan segera berakhir. Aku mendengarnya menutup pintu apartemen kami. Sebuah sms terkirim ke  handphone ku.

 

From: Nae Jangmyeon

‘Myeonjang, aku ke perpustakaan dulu… Kau makanlah duluan. Biar aku makan di luar.’

 

Tidak kubalas. Jariku mendadak kaku untuk sekedar menekan keypad untuk membalas pesannya. Aku menarik nafas panjang untuk yang kesekian kalinya. Ku tekan speed dial nomer 4.

“Boram~ah…. Kau bisa menjemputku tidak?”

——

Dua jam kemudian Boram sampai di apartemenku dan aku langsung memeluknya setelah dia sampai. Aku memintanya membawaku pergi dari apartemen. Aku mengeluarkan handphoneku dari saku celanaku.

 

To: Nae Jangmyeon

Aku ketempat Boram. Kau makanlah, jangan sampai tidak makan.

Aku mengirimkan sms itu. Dia membalasnya.

From: Nae Jangmyeon

Aku akan pulang malam. Masih ada yang harus aku lakukan.  Bersenang-senanglah dengan Boram.

 

“Kau bertengkar lagi dengan Kyuhyun?” tanya Boram setelah aku meletakkan handphoneku di atas meja belajarnya. Aku mengangguk sambil menelungkupkan wajahku di bantal tempat tidur Boram. Aku baru berani menceritakan pada Boram setelah dia pulang kuliah. Aku membolos kuliah hari ini.

“Ada apa lagi? Jangan bilang kalian bertengkar hanya gara-gara angka 143 lagi ya…” tanyanya.

“Ani… hiks…” Aku mulai terisak.

“Ya~ uljima (jangan menangis)… Katakan padaku ada apa?” Boram membelai kepalaku lembut.

“Kau ingat peramal yang kau ceritakan itu?” Hyora mengangkat wajahnya.

“Oh iya! Kalian kesana kemarin? Kenapa kalian pulang duluan?” ucap Boram.

“Itu lah yang membuat kami pulang lebih dulu..” Hyora menghapus air matanya dan mengganti posisinya. Dia duduk sekarang.

“Dia meramalmu? Apa yang dia katakan?” tanya Boram penasaran.

“Ka…kami… a…a..akan ber…hiks hiks..cerai…” Hyora tak tahan lagi. Air matanya seketika tumpah saat dia mengucapkan kata cerai. Boram memelukku singkat.

“Jinjja? Aish.. Sudahlah… Anggap saja aku berbohong kemarin. Peramal itu tidak benar. Itu hanya karanganku saja.” Boram menenangkanku. “Lalu Kyuhyun bilang apa?” tanyanya lagi.

“Dia hanya bilang agar aku jangan percaya pada ramalan itu. Aku sudah berusaha untuk mempercayainya. Tapi, entah kenapa efek ramalan itu begitu kuat terasa. Apalagi alasan kami bercerai adalah orang ketiga. Huhuhuhu…” Tangisku semakin keras.

“Aku tidak membayangkan hidup tanpa Kyuhyun… Aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya Boram~ah…” ucapku lemah.

Aku sendiri ragu apakah aku masih bisa hidup kalau ia pergi meninggalkanku. Bagaimana bisa aku hidup tanpanya kalau pada kenyataannya dia sudah seperti udara yang selalu kuhirup? Udara yang selalu berada di sekitarku. Apakah bisa kau bayangkan kalau udara yang biasa kau hirup tiba-tiba pergi, menghilang dari hadapanmu? Dari eksistensimu? Mungkin kau masih bisa hidup jika mencari udara di tempat lain. Tapi, apakah rasanya akan sama? Sama seperti udara yang biasa kau hirup itu?

“Nan ara… Benar kata Kyuhyun. Mungkin kau tidak seharusnya mempercayai ramalan itu.” Boram menepuk bahuku lembut. Dia benar-benar sahabat yang baik. Selalu menenangkanku jika aku sedang ada masalah.

“Tapi… Peramal itu tahu kalau Kyuhyun suka bermain game. Dia juga tahu nama Kyuhyun saat dia enggan duduk. Argghhh… Aku bisa gila karena memikirkan masalah ini. Setiap aku mengingat wajahnya, mendengar suaranya hiks hiks…aku ingin menangis…hik hiks… Aku merasa ramalan itu benar hiks hiks..” Hyora kembali menutup wajahnya dengan kedua tangan karena sekali lagi cairan hangat dari matanya mulai turun dengan derasnya.

“Dan yang membuat aku yakin dia akan meninggalkanku adalah… hiks hiks…” Aku menarik nafas sejenak.

“Mwonde?” tanya Boram.

“Dia…. Dia sudah punya yeoja lain. A…aku me…hiks lihatnya.. hiks  me..reka..berpelukan….hiks hiks…” Aku tidak kuasa menceritakannya, ini sungguh menyakitkan.

“Mwo!!!!Jinjja?” ucap Boram terkaget. Aku menjawabnya dengan tersenyum getir sambil meneteskan air mataku yang kesekian kalinya.

“Jadi apa artinya 143-nya dulu? Itu sudah tidak berguna. Dan 143-nya sudah menjadi milik orang lain…” kataku lemah.

“Kau benar-benar perlu udara segar Hyora~ya…. Ayo kita jalan-jalan saja agar kau merasa lebih baik. Otte?” saran Boram. Tanganku ditarik oleh Boram.

“Kaja!!” Boram membantuku menuju kamar mandi. “Kau cuci mukamu dulu saja. Setelah ini, aku akan membuatmu lebih baik.”

Aku menuruti apa yang diperintahkan oleh Boram. Aku melihat cermin. Fuh…Wajahku sudah kacau sekali gara-gara menangis terus hanya karena namja itu.

Boram mengajakku berbelanja dan berjalan-jalan. Melupakan sedikit masalahku. Kami makan beberapa kali. Kalau salah satu diantara kami sedang ada masalah pasti ini yang kami lakukan. Berjalan-jalan tak karuan dan mencoba banyak makanan.

“Huahahhahaa… Kau ingat saat kau naksir Nichkun Oppa? Kau sampai ingin menyusulnya pulang ke Bangkok hahaha…” aku menertawakannya.

Kami sedang mengenang masa-masa SMA kami sambil berjalan menyusuri jalanan kota yang lumayan ramai itu.

“Ya! Kau tahu tidak? Dia mengirimkanku email.” ucapnya bersemangat.

“Jinjja??? Waaa..daebak!! Lalu dia bilang apa?” Aku mulai melupakan sedikit masalahku. Boram mengerling padaku dengan senyuman penuh arti.

“Bimilya~” jawabnya menggodaku.

“Ya!! Kembali kau, Park Boram!!” Aku menangkap Boram dan pura-pura memukulnya.

“Ya!! Apa-apaan kau?!!” Kami tertawa bersama. Tiba-tiba…

Kruyukkk… Kami saling berpandangan. Boram menampakan giginya.

“Dasar perut tidak tahu diri kau!” Aku memukul lemah perut Boram. Boram hanya tersenyum mendegar ucapanku.

“Aku tahu cafe yang enak disekitar sini… Ayo kita kesana..” usul Boram.

“Otti?” tanyaku.

“Itu, yang berwarna hijau. Tapi kita harus berjalan kesana dan harus menyebrang dahulu.”

“Kaja!!” aku merangkulnya.

Kami berjalan menuju cafe itu. Kebetulan kalau sedang stres aku juga akan menjadi sering lapar seperti Boram. Kalau Boram sih walau badannya seperti itu, tetap saja makannya banyak.

Sebelum menyebrang kami berhenti dan menunggu lampu hijau untuk pengguna jalan. Cafe tujuan kami tepat berada di depan penyebrangan. Lampunya masih merah ketika aku yang sedang memperhatikan bangunan cafe, berhenti pada suatu adegan lagi yang membuat jantungku berhenti untuk sepersekian detik.

End of Hyora’s P.O.V

 

Boram’s P.O.V

“Kau bertengkar lagi dengan Kyuhyun?” tanyaku setelah Hyora meletakkan handphoneku di atas meja belajarku. Dia mengangguk sambil menelungkupkan wajahku di bantal tempat tidurku.

“Ada apa lagi? Jangan bilang kalian bertengkar hanya gara-gara angka 143 lagi ya…” tanyaku.

“Ani… hiks…” Hyora mulai terisak.

“Ya~ uljima (jangan menangis)… Katakan padaku ada apa?” Aku membelai kepalanya lembut. Berusaha meredakan tangisannya.

“Kau ingat peramal yang kau ceritakan itu?” Hyora mengangkat wajahnya.

“Oh iya! Kalian kesana kemarin? Kenapa kalian pulang duluan?” ucapku terdengar seolah penasaran.

“Itu lah yang membuat kami pulang lebih dulu..” Hyora menghapus air matanya dan mengganti posisinya. Dia duduk sekarang.

“Dia meramalmu? Apa yang dia katakan?” tanyaku penasaran.

“Ka…kami… a…a..akan ber…hiks hiks..cerai…” Hyora tak tahan lagi. Air matanya seketika tumpah saat dia mengucapkan kata cerai.

‘Mianhada Hyora~ya…mian mian mian…’ ucapku dalam hati lagi. Aku merasa sangat menyesal dan tidak tega pada Hyora. Lalu aku memeluk Hyora.

“Jinjja? Aish.. Sudahlah…anggap saja aku berbohong kemarin. Peramal itu tidak benar, itu hanya karanganku saja” Aku berusaha menenangkannya. “Lalu Kyuhyun bilang apa?” tanyaku lagi.

“Dia hanya bilang agar aku jangan percaya pada ramalan itu. Aku sudah berusaha untuk mempercayainya. Tapi, entah kenapa efek ramalan itu begitu kuat terasa. Apalagi alasan kami bercerai adalah orang ketiga. Huhuhuhu…” Hyora menangis keras.

“Aku tidak membayangkan hidup tanpa Kyuhyun… Aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya Boram~ah…” Aku terdiam sesaat. Membayangkan Hyora yang baru pertama kali jatuh cinta kepada seorang namja. Tapi, dia harus mendapati kenyataan kalau rumah tangganya di ujung tanduk. Dan itu semua akibat ulah kami? Aigoo… Aku benar-benar merasa bersalah.. Mianhae, Hyora~ya… tapi aku juga tidak mungkin kan bilang – bilang kalau ini sebenarnya adalah ulah kami. Bisa – bisa aku digantung Kyuhyun dan Hyora kalau mereka tahu, atau lebih parah lagi aku akan dijadikan kimbab oleh Ahra Eonnie, Daejin Eonnie, Eunhyuk Oppa, dan Donghae Oppa.

“Nan ara… Benar kata Kyuhyun mungkin kau tidak seharusnya mempercayai ramalan itu.” Aku menepuk bahu Hyora lembut. Berusaha untuk mengembalikan kepercayaannya lagi kepada Kyuhyun.

“Tapi… Peramal itu tahu kalau Kyuhyun suka bermain game. Dia juga tahu nama Kyuhyun saat dia enggan duduk. Argghhh… Aku bisa gila karena memikirkan masalah ini… Setiap aku mengingat wajahnya, mendengar suaranya hiks hiks…aku ingin menangis…hik hiks… berarti kan ramalannya juga benar hiks hiks..” Hyora kembali menutup wajahnya dengan kedua tangan karena sekali lagi cairan hangat dari matanya mulai turun dengan derasnya.

“Dan yang membuat aku yakin dia akan meninggalkanku adalah… hiks hiks…” Dia menarik nafas pelan.

“Mwonde?” tanyaku.

“Dia…. Dia sudah punya yeoja lain. A…aku me…hiks lihatnya.. hiks  me..reka..berpelukan….hiks hiks…”

“Mwo!!!! Jinjja?” ucapku dengan nada kaget. Dia menjawabnya dengan tersenyum getir sambil meneteskan air mata lagi.

“Jadi apa artinya 143-nya dulu? Itu sudah tidak berguna. Dan 143-nya sudah menjadi milik orang lain…” katanya lemah. Aish.. Jinjja. Aku benar-benar merasa bersalah kepadamu, Hyora~ya.. Seharusnya aku tidak mengikuti ide gila Ahra eonni beserta dua pasangan homo itu. =_=

“Kau benar-benar perlu udara segar Hyora~ya…. Ayo kita jalan-jalan saja agar kau merasa lebih baik. Otte?” saranku. Yah, setidaknya aku bisa menenangkan pikirannya saat ini.

“Kaja!!” Aku menarik tangannya dan membantunya menuju kamar mandi. “Kau cuci mukamu dulu saja, setelah ini aku akan membuatmu lebih baik.” ucapku seraya menutup pintu kamar mandi.

Aku mengajaknya berbelanja dan berjalan-jalan untuk melupakan sedikit masalahnya. Ya, masalah yang kami perbuat.

“Huahahhahaa… Kau ingat saat kau naksir Nichkun Oppa? Kau sampai ingin menyusulnya pulang ke Bangkok hahaha…” Dia menertawakanku saat kami sedang berjalan menyusuri jalanan kota. Ah, syukurlah.. Dia sudah kembali ceria. Tapi kenapa harus membahas masalah itu sih? =,=”

“Ya! Kau tahu tidak? Dia mengirimkanku email.” ucapku. Dia membulatkan kedua matanya.

“Jinjja??? Waaa.. Daebak!! Lalu dia bilang apa?” Aku hanya mengerling padanya dengan senyuman penuh arti.

“Bimilya~” jawabku menggodanya.

“Ya!! Kembali kau, Park Boram!!” Dia menangkapku yang setengah berlari dan berpura-pura memukulku.

“Ya!! Apa-apaan kau?!!” kami tertawa bersama. Tiba – tiba….

Kruyukkk… Kami saling berpandangan. Aish.. Kenapa harus berbunyi di saat seperti ini sih? Aku hanya tersenyum kikuk memandang Hyora.

“Dasar perut tidak tahu diri kau!” Hyora memukul lemah perutku. Hahaha. Sepertinya perutku saat ini benar-benar tidak bisa diajak toleransi.

“Aku tahu cafe yang enak disekitar sini… Ayo kita kesana..” usulku.

“Otti?” tanyanya.

“Itu. Yang berwarna hijau. Tapi kita harus berjalan kesana dan harus menyebrang dahulu.” Aku menunggu jawaban darinya.

“Kaja!!” Dia merangkulnya. Yah.. Sepertinya dia sudah bisa sedikit melupakan masalahnya. Semoga saja masalahnya tidak memburuk.

Kami berjalan menuju cafe itu. Masih saling bercanda ria. Kami bahkan saling bergandeng tangan. Untung saja kami tidak dikira pasangan sesama jenis. Bisa turun pasaranku kalau mereka menganggapku seperti itu. Sekarang kami sedang berdiri di tempat penyebarangan jalan. Menunggu lampu berganti menjadi hijau untuk pengguna jalan. Cafe tujuan kami tepat berada di depan penyebrangan. Hyora tampak memandangi bangunan cafe di hadapan kami. Hingga secara tiba-tiba aku merasakan genggaman tangannya menguat. Aku melihat apa yang dilihat Hyora. Itu….

End Of Boram’s P.O.V

—–

Kyuhyun’s POV

Aku menuju perpustakaan negara untuk mengembalikan buku yang kupinjam. Saat sedang mencari-cari buku, ada sms yang terkirim ke handphone ku. Dari Hyora rupanya.

 

To: Nae Myeonjang

Aku ketempat Boram. Kau makanlah. Jangan sampai tidak makan.

Dan aku membalasnya.

From: Nae Myeonjang

Aku akan pulang malam masih ada yang harus aku lakukan.  Bersenang-senanglah dengan Boram.

 

Aku menghela nafas lega. Yah.. Meskipun dia sedang mendiamkanku, dia ternyata masih perhatian kepadaku. Aku pikir dia butuh sedikit waktu dengan Boram juga.

Rencananya setelah mengembalikan dan meminjam buku lagi, aku berencana ke kantor Ahra Nuna. Mungkin aku memang harus bicara pada seseorang. Nunaku itu satu-satunya harapanku. Tidak mungkin aku berbicara dengan Donghae Hyung dan Eunhyuk Hyung. Yang ada aku hanya akan diberikan cara-cara aneh. Aku juga tidak mungkin bicara pada appa atau eommaku tentang masalah ini karena ini sebenarnya hanya masalah sepele. Lagipula bisa dimarahi habis-habisan aku jika orangtuaku tahu menantu kesayangannya itu sedang jengkel karena aku. Cih… Sebenarnya yang anaknya aku atau Hyora?

“Yeoboseyo?”

“Nuna, ini aku. Kau dimana?” aku meleponnya.

“Masih di kantor. Kau?”

“Aku ingin bicara padamu. Aku kesana sekarang, ya?”

“Eo! Hati-hati!” pesannya.

“Ne Nuna…” jawabku dan segera kumatikan sambungan telepon kami.

Aku langsung menginjak gas mobilku dan membawanya menuju kantor dimana Nunaku bekerja sebagai sajangnim di butik yang dibukanya sendiri. Setengah jam kemudian, aku sampai di butiknya.

Kantor Nunaku ada di atas. Saat aku masuk ke butik dan menyapa pekerja Nunaku mereka memandangiku dengan yah.. Tatapan yang biasa kulihat. Tatapan memuja. Ada yang melihatku dengan mulut sedikit terbuka. Aku pun membalas tatapan ‘aneh’ mereka itu dengan senyuman mautku. Aku pun langsung naik ke atas. Huh.. Ternyata pesonaku tidak berkurang sedikitpun meskipun aku sudah menikah. Aku memang benar-benar tampan. Hahaha.

“Annyeong Nuna~ya!!!” Aku membuka pintu ruang kerjanya dan menutupnya kembali.

“Eo! Wasseo?” Nuna masih menggambar­-gambar baju rancangannya saat aku merebahkan diri di sofanya.

“Hhhhh…” aku menarik nafas panjang.

“Ada apa?” tanyanya sok polos.

“Ini semua gara-gara Nuna.” ucapku.

“Mworago?”

“Andai saja Nuna tidak mengatakan apa-apa tentang peramal konyol itu, aku dan Hyora tidak akan seperti ini.”

“Apa maksudmu?” tanyanya.

“Aku dan Hyora bertengkar. Ani.. Aku tidak bisa mengatakan kami bertengkar. Kami tidak bertengkar. Hanya saja sejak kejadian di stand ramalan itu, suasana kami jadi sangat aneh.” jelasku.

“Memangnya kalian jadi ke tempat itu?” Nuna bertanya denga tenang dan masih sibuk dengan coretan gambarnya.

“Itu kan gara-gara Nuna dan Boram yang mengrecoki kami untuk pergi kesana. Nuna tahu sendiri Hyora itu lugu dan ingin tahunya besar sekali. Dia menarikku seketika saat melihat stand itu.” ucapku.

“Ahahaha… Kure? Lalu?” Sial! Nunaku ini malah tertawa.

“Peramal bodoh itu malah meramalkan kami akan bercerai karena orang ketiga.”

“MWOO!!!” Dia meninggalkan kertas gambarnya dan langsung berdiri menghampiriku.

“Ya! Awas saja kalau kau begitu pada Hyora…” ancamnya.

“Kau percaya aku akan seperti itu, Nuna?” Aku balik bertanya. Kenapa Nunaku sendiri juga tidak percaya padaku?

“Bisa saja kan kau tergoda dengan yeoja lain?” ucapnya. Cish.. Apa perasaanku terhadap Hyora tidak terlihat?

“Kau pernah lihat aku jatuh cinta pada yeoja lain selain Hyora selama ini?” Nuna menggeleng.

Dia tahu. Satu-satunya yeoja yang aku bawa pulang hanyalah Hyora. Dan dia juga tahu aku ini sering sekali menolak banyak yeoja yang bahkan cantiknya melebihi Hyora karena aku tidak suka dengan mereka. Tapi Hyora ku berbeda. Hanya dia yang bisa membuatku berkata ‘menikahlah denganku’ tanpa pikir panjang.

“Tidak, sih…” ucapnya.

“Ya sudah. Kenapa kalian ini, yeoja-yeoja menjadi khawatir seperti ini?” tanyaku. Ini benar-benar tidak masuk akal.

“Aish!! Kau ini tidak mengerti perasaan yeoja saja… Kami ini lebih sensitif, ara?” ucapnya dengan penuh keyakinan.

“Cih… ” Aku mencibir pernyataan Ahra Nuna.

“Argghhh….” aku berteriak, melepas rasa frustasiku.

“Yak! Jangan teriak-teriak di kantorku!” bentak Ahra Nuna.

“Nuna… Kau yang harus bertanggung jawab! Kau kan yang membuat kami jadi begini. Bagaimana ini Nuna??!!” Aku gemas sendiri.

“Wae? Kalian bertengkar habis-habisan?” tanya Ahra Nuna.

“Hyora itu bukan tipe seperti Nuna yang sukanya marah-marah tidak jelas.” Aku menyilangkan tanganku.

“Ya! Mworago?? Aish!!” Nuna melayangkan jitakannya padaku.

“Aish! Appeuda Nuna!!” Aku mengusap kepalaku.

“Siapa suruh kau bicara seperti itu hah?!” bentaknya lagi. Aigoo.. Nunaku ini hobi sekali membentakku.

“Itu kan kenyataan Nuna…” Nuna melayangkan pandangan galak padaku. Tapi aku cuek saja.

“Bagaimana caranya kami berbaikan Nuna? Aku sendiri merasa tidak salah apa-apa.” kataku lagi.

“Kau salah!” sergahnya.

“Bagaimana bisa?” tanyaku.

“Salahkan wajahmu yang bisa membuat semua yeoja disekitarmu meneteskan air liur.”

“Mwo?? Huahahaha… Itu sih, sudah bakat alami Nuna… Mereka saja yang tidak bisa menahan diri…” Ckck.. Nunaku ini asal saja bicara. Aku kan memang sudah tampan dari dulu. Bagaimana aku bisa menghindarinya?

“Kau sudah mencoba apa saja untuk meredam kediamannya?” tanyanya.

“Aku hanya mencoba mengajaknya bicara saja, habis aku tidak tahu harus apa.” jawabku.

“Belikan dia bunga dan minta maaf saja.” ucap Nuna.

“Aku bukan tipe gombal seperti Donghae Hyung, Nuna~ya… Lagipula, aku ini kan alergi bunga Nuna. Masa aku mau mebelikannya bunga plastik. Kan tidak lucu…” Aku meperlihatkan wajah =_=” ku.

“Huahahaha…. Itu akan jadi lucu Kyuhyun~ah.. Kkkkkk… Hmmm… Bagaimana kalau kau menyogoknya dengan membelikannya tas atau baju di butikku?” Alis Ahra Nuna naik turun tidak jelas begitu.

“Hyora bukan tipe yang bisa disogok dengan barang-barang seperti itu. Masa aku harus membayar di butik Nunaku sendiri. Kau itu kan bukan tipe yang pelit Nuna, ya~… Iya, kan?? Masa buat dongsaeng tertampanmu ini aku harus membayar?” ucapku.

“Aish! Jinjja! Neo!! Yang pelit mengeluarkan uang itu sebenarnya siapa, hah??!!” Ahra Nuna ikut menyilangkan tangannya.

“Nuna!!” teriakku tiba-tiba. Hal ini terjadi karena aku kesal sekali. Apalagi nunaku ini tidak kunjung memberikan solusi yang baik untuk masalah kami.

“Ya! Sudah kubilang jangan teriak-teriak!! Kau membuatku jantungan saja!!” balas Nuna.

“Bagaimana caranya, Nuna~ya…?” tanyaku dengan muka frustasi karena kebingungan. Aku ingin sekali menghentikan perang dingin yang terjadi antara aku dan Hyora.

“Aku punya satu cara… Dan aku jamin semua yeoja pasti akan tidak akan menolaknya…” ucapnya.

“Kau jamin?” tanyaku mulai bersemangat.

“Keurom… ” jawab Nuna yakin sekali.

“Mwonde, Nuna?” tanyaku penasaran. Nuna menyuruhku mendekat.

“Buatkan aku keponakan…” bisiknya ditelingaku.

“YAK!!” teriakku dengan muka merah.

“Kau benar-benar sudah gila ya, Cho Kyuhyun!! Teriak-teriak terus!!” Nuna menjauhkan kupingnya dariku.

“Saran Nuna itu benar-benar gila.”

“Ya! Aku ini memberi tahumu berdasarkan pengalamnan teman-temanku yang sudah menikah. Cih… Masa kau itu tidak tahu sih, kalau melakukan hal itu mebuat pasangan berbaikan. Bodoh sekali!! Aku jamin Hyora pasti tidak akan mendiamkanmu lagi…” ucap Nuna penuh keyakinan.

“Kau benar-benar gila Nuna…” ucapku sambil menggelengkan kepalaku.

“Kau ini!! Tidak percaya ya sudah… Yang pasti hampir semua masalah biasanya akan mereda setelah pasangan suami istri itu melakukannya.” Aku terdiam.

Mukaku sudah mulai kembali kewarna semula. Apa benar yang dikatakan Nuna? Apa dengan melakukannya hubunganku dan Hyora akan membaik?

“Pikirkan baik-baik, Cho Kyuhyun. Kau harus mencobanya nanti malam, ara?” Nuna meyakinkanku lagi.

“Ck..” Sepertinya aku harus mencobanya. Lagipula, aku sudah kangen sekali mencium bibirnya yang manis itu. Kkkkk.

“Oh, iya!! Aku bertemu Daejin Nuna tadi pagi di supermarket. Kau sudah tahu dia pulang ke Korea, Nuna?” tanyaku tiba-tiba teringat kejadian di supermarket tadi siang.

“Eo? Kau sudah bertemu dengannya?”

“Jadi, Nuna sudah tahu? Kenapa tidak memberitahuku? Dongwoon tidak ikut?”

“Ani, dia sendirian. Dongwoon tidak libur. Lagipula, Daejin kesini untuk menghadiri pernikahan sahabatnya. Selasa besok dia juga pulang ke London. Dia bilang ingin memberi kejutan untukmu besok saat festival kembang api. Aku berencana mengajakmu kesana dan dia ingin menampakkan diri disana.”

“Hahahaha… Menampakan diri? Seperti hantu saja. Ahahahaha… Aku tidak percaya itu Daejin Nuna. Dia berubah sekali. Jadi lebih cantik dan berdandan. Huahhhahaa.. Itu terlihat lucu bagiku. Tapi, tetap saja tenaganya seperti namja.”

“Eo! Betul sekali. Aku saja kaget saat menjemputnya di airport kemarin.”

“Aigoo. Kalian berdua ini masih saja sama…”

“Hehehehe… O, ya bagaimana kalau kita makan malam? Ini sudah jam 8 dan aku lapar sekali.” Nuna mengelus perutnya.

“Bagaimana kalau kita makan malam dengan Daejin Nuna juga?” usulku.

“Aku sudah lama sekali tidak ngobrol dengannya. Tadi pagi dia sepertinya terburu-buru jadi kami belum mengobrol banyak.” tambahku.

“Johasseo!! Kau tidak mengajak istrimu?” tanya Ahra Nuna.

“Tidak. Dia sedang bersenang-senang bersama Boram. Biarkan saja. Mungkin dia memang butuh waktu bersama Boram. Belakangan ini dia jarang bersama Boram, kan?”

”Baiklah kalau begitu. Aku akan menghubungi Daejin dulu…” Nuna lalu menghubungi Daejin Nuna dan kami pergi untuk menjemput Daejin Nuna.

Kami bertiga akhirnya bertemu lagi. Ahra Nuna dan Daejin Nuna berpelukan. Lalu, dia memelukku. Aish! Orang ini dari dulu memang suka sekali memeluk semua orang yang dikenalnya.

“Kita makan dimana? Aku sudah lapar….” tanya Daejin Nuna tidak sabar.

“Sudahlah, kau tak perlu khawatir. Kita menuju café baru yang aku jamin enak makananya. Kau pasti suka.” jawab Ahra Nuna.

“Oh iya. Aku lupa memberikan ini pada kalian. Titipan dari Dongwoon.” Daejin Nuna memberikan dua buah bungkusan. Aku diberinya yang besar dan Ahra Nuna lebih kecil.

“Apa-apaan dia? Kenapa milikku lebih kecil? Ini tidak adil!!” mata Ahra Nuna memicing kearah kadoku.

“Ya! Dongwoon bilang punyamu lebih mahal… Lagipula ini kado pernikahan untuk Kyuhyun…”

“Jinjja?? Ah kalau begitu ya sudah. Kau itu saja Kyuhyun~ah. Kkkk… Bilang terima kasih pada Dongwoon, ya?” Ahra Nuna kembali senang. Cih! Dasar yeoja, sudah kubilang kan Hyora itu berbeda. Tidak seperti Nunaku ini.

“Dasar kau!!” Daejin Nuna menjawab.

“Sampaikan salam kami untuk Dongwoon.. Gomawo untuk kadonya.” kataku.

Kami sampai di café itu setengah jam kemudian. Café itu masih tidak terlalu ramai. Bernuansa hijau. Sungguh menyejukkan. Musik lembut dari dentingan piano yang dimainkan live menyambut kedatangan kami. Suasananya betul-betul menyenangkan. Seharusnya, aku bisa pergi bersama Hyora. Tapi, aku malah harus kesini bersama dua Nuna gila ini.

Mereka berjalan di depanku sambil tertawa cekikikan membicarakan beberapa namja yang ada disitu. Aku ditinggalkan dibelakang. Huh. Rasanya seperti jadi bodyguard mereka saja. Menyebalkan sekali.

Tapi, beberapa yeoja seperti biasanya membicarakan aku juga. Coba saja ada Hyora aku pasti akan membuatnya cemburu. Aku tersenyum sendiri mengingat wajah cemberutnya kalau aku sedang digoda yeoja lain.

Kami memilih duduk di pojok saja karena spot yang terbaik sudah ada yang menempati. Ahra Nuna duduk di paling pojok sedangkan aku menempatkan diri di sebelahnya. Dan Daejin Nuna di depanku. Kebetulan spot Daejin Nuna dan aku terlihat dari arah luar tapi Ahra Nuna tidak terlihat karena bagian belakang Ahra Nuna itu adalah tembok.

“Aku merasa tidak eksis duduk di sini..” gerutu Ahra Nuna. “Kyuhyun~ah, tukar!!” perintah Ahra Nuna.

“Pantatku sudah tidak mau beranjak Nuna…” jawabku cuek sambil membuka menu makanan.

“Aish!!” Ahra Nuna cemberut.

“Kkkkk… Aku jadi merindukan Dongwoon. Jadi ingat masa kecil kita.” kata Daejin Nuna sambil tertawa. Kami mulai mengobrol setelah memesan makanan.

“Oh, iya. Ngomong-ngomong istrimu dimana?” Daejin Nuna bertanya saat kami mulai makan.

“Dia sedang bersama temannya. Aku tidak mau mengganggu.” jawabku singkat.

“Sebenarnya dia ini sedang bertengkar dengan Hyora..” Ahra Nuna membocorkan.

“Ya! Nuna!!” bentakku.

“Ya!! Tidak sopan kau dengan Ahra!” bentak Daejin Nuna. Aish.. Menyebalkan sekali. Asal kalian tahu saja, Daejin Nuna ini lebih menakutkan daripada Ahra Nunaku.

“Huahaha.. Rasakan kau!!” ucap Ahra Nuna.

“Siapa nama istrimu?” tanya Daejin Nuna.

“Hyora. Dia jago sekali memasak, lho… Besok kau harus ke rumahnya ya, mencicipi masakan Hyora. Makanya aku , omma, dan appa sangat menyukainya.” jawab Ahra Nuna sebelum aku sempat menjawabnya.

“Ah, sayang sekali aku tidak hadir di upacara pernikahanmu, Kyuhyun~ah… Mianhae..” kata Daejin Nuna.

“Gwenchanha, Nuna…” jawabku sambil menyuapkan spaghetti ke mulutku.

“Jadi, kalian bertengkar kenapa? Pantas saja bajumu masih yang tadi. Haha…” Daejin Nuna memandangiku dengan tatapan mengejek. Sial!

“Semua gara-gara Ahra Nuna!”

“Enak saja!” protes Ahra Nuna. Akhirnya, akupun menceritaka masalahku. Siapa tahu saja Daejin Nuna punya solusi. Siapa tahu solusi yang diberikan lebih baik dari solusi Ahra Nuna tadi. Yah, meskipun saran Ahra Nuna mungkin akan kucoba juga. Hahaha.

“Hmm… Tidak apa-apa kalian bertengkar. Sesekali itu perlu Kyuhyun~ah. Dalam hubungan pasti aka nada pertengkaran kecil. Justru itu adalah bumbu dalam kehidupan pernikahan…” ucapnya bijaksana. Sepertinya aku bercerita kepada orang yang tepat. Semoga saja sarannya juga.

“Arayo, Nuna… Lalu, menurut nuna bagaimana aku harus membujuk Hyora untuk bicara lagi padaku?” tanyaku.

“Haha.. Kau ini lugu sekali. Masa seperti itu saja tidak tahu?” ucap Daejin Nuna. Aku mengerutkan keningku. Aku benar-benar tidak mengerti maksud Daejin Nuna.

“Kalau aku tahu aku tidak perlu tanya padamu, Nuna…” ucapku.

“Ya~… Kau itu sudah sering melakukannya, kan?” goda Daejin Nuna. Melakukan? Melakukan apa? Seketika aku tersadar. Maksudnya ‘itu’?

“Uhuk uhuk!!” Aku tersedak.

“Huahahahahaa…” kedua nunaku tertawa terbahak saat melihat aku tersedak. Aish! Senang sekali sih, melihat orang menderita.

“Aku sudah sering menasehati dia untuk cepat-cepat membuatkanku keponakan. Tapi, kadang mereka suka malu-malu begitu. Bahkan kami harus mengorbankan uang kami untuk membuat mereka melakukannya.” kata Ahra Nuna.

“Jinjja? Hahaha… Benar-benar lugu sekali.” Daejin nuna menggelengkan kepalanya.

Mukaku sudah tenggelam dengan warna merah. Nunaku ini sembarangan saja bicara. Kalau saja ini bukan tempat umum, sudah kupukul kepala Nunaku ini. Aish… Sejak kapan nunaku jadi mesum begini? Apa ini karena pengaruh si ikan kembung dan monyet gunung? Awas saja mereka!

“Jadi, bagaimana caranya meredam kemarahan istriku, nuna?” tanyaku tak sabar.

“Kau minta maaf saja dengan cara melakukan ‘itu’. Biasanya yeoja akan memaafkanmu..” usul Daejin Nuna. Aku membulatkan mataku. Apa-apaan ini?

“Apa kubilang, Kyuhyun~a… Itu juga yang sudah aku katakan padanya. Tapi, dia tidak percaya..” cibir Ahra Nuna.

“Ya~…. Ku beritahu ya cara merayu istrimu supaya dia mau melakukannya.” ucap Daejin Nuna. Dia mulai mendekatkan tubuhnya kepadaku.

“Mwo?!! Kau mau melakukannya disini, Nuna?!!” teriakku. Yang benar saja!

“Aniya.. Ini hanya awalnya saja..  Nanti selanjutnya, terserah kau… Kkkkk.” Daejin Nuna sudah mulai memegang-megang tanganku.

“Ajari saja Daejin~ah.. biar dia ahli…” perintah Ahra Nuna. Mereka berdua hanya tertawa cekikan. Benar kan? Kedua nuna ini benar-benar tidak ada yang beres otaknya.

“Pertama yang harus kau lakukan itu adalah….” Tangan Daejin Nuna bergerak ke arah pipiku.

“Kau mulai dengan cara mengelus wajahnya seperti ini… Panggil dia jagiya…” Dia mengelus pipiku.

“Haebwa (cobalah) Kyuhyun~ah…” kata Ahra Nuna. Aku menyeringai mengejek.

“Shireo nuna…”

“Ya! Kau ini!! Mau tidak kau berdamai dengan istrimu?” Daejin Nuna mengomel tanpa menggeser tangannya dari pipiku. Akhirnya, karena takut padanya akupun terpaksa mengikuti yang diperintah dua nuna evil ini. Aku perlahan mengulurkan tanganku ke pipi Daejin Nuna dan mengelusnya kaku.

“Irohke?(seperti ini?)” tanyaku ragu.

“Ani!! Kau mesti lebih halus lagi mengelusnya. Irohke… Jalbwa… (lihat baik-baik)” Daejin Nuna memegang tanganku dan mengajariku cara mengelus pipinya dengan baik.

“Kau harus menyalurkan rasa sayangmu pada Hyora, Kyuhyun~ah…” kata Ahra Nuna.

“Oke oke… Sudah mulai pintar kau…” kata Daejin nuna tersenyum puas setelah aku mempraktekan ajaran gilanya itu dengan benar.

“Oke, Nuna? Lalu setelah ini bagaimana?” Aku bertanya dengan lugunya. Kedua nuna ini saling  berpandangan dan menahan tawa.

“Huahahahaha…” keduanya tertawa mengejekku. Sial!! Aku malu sekali.

“Ke..kenapa kalian tertawa??” ucapku tergagap.

“Ya! Kau ini pura-pura lugu, ya? Atau mau langsung kupraktekan saja??” Daejin Nuna menggodaku dengan smirk nya yang terlihat lebih menakutkan daripada Ahra Nuna. Mataku terbelalak memandangnya.

“Arghhh!! Hajima, Nuna!! Hajimaa!!” teriakku geli. Keduanya malah lebih menertawakanku lagi.

“Kau ini memang bodoh sekali, Kyuhyun~ah… Istrimu pasti akan langsung tahu apa maumu saat kau langsung menyerangnya.” ucap Daejin Nuna sambil mengerlingkan matanya.

“Me…menyerangnya?” ucapku tergagap lagi.

“Yeah.. Kau tahu kan, maksudku?” Ahra Nuna tertawa cekikikan mendengar Daejin Nuna yang terlihat sangat berpengalaman sekali. Aduhh!! Kenapa aku jadi lemot begini sih? Jinjja! Daejin Nuna juga sangat terus terang sekali, sih… Ini semua pasti karena dia tinggal di London. Cih!

“A… ara…” aku menelan spegettiku lagi.

End of Kyuhyun’s P.O.V

 

Author’s P.O.V

Hati Hyora hancur saat melihat pemandangan di café itu. Dia yakin itu Kyuhyun karena bajunya masih sama seperti yang dia pakai tadi siang dan yeoja yang dilihatnya di supermarket itu. Tangan yeoja itu bergerak ke arah pipi Kyuhyun dan dia mengelusnya dengan penuh perasaan.

Hyora tidak bisa melihat dengan jelas wajah Kyuhyun karena Kyuhyun membelakangi kaca jendelanya. Namun, adegan yang terjadi setelahnya lebih membuatnya jiwanya berantakan. Kyuhyun membalas menyentuh pipi yeoja itu dan yeoja itu memegang tangannya yang ada di pipinya meminta Kyuhyun untuk mengelusnya lebih mesra tanpa menggerakan tangan yeoja itu sendiri dari pipi Kyuhyun. Yeoja itu tersenyum senang, lalu tertawa.

“Hyora~ya… Kita pergi saja.. Aku antarkan kau kerumah…” kata Boram yang sudah sadar apa yang sedang dilihat Hyora. Hyora lemas seketika. Air matanya meleleh dari matanya tanpa perlu dikomando lagi.

“Aku mau ke rumah appa saja…” kata Hyora pelan.

“Andwae.. Kau harus bicara dulu pada Kyuhyun. Aku akan menemanimu sampai dia pulang. Ara?” Hyora tidak menjawab ucapan Boram. Dia terlihat kosong setelah melihat adegan tadi. Hatinya terasa seperti dipukul palu yang sangat besar. Sakit sekali. Bahkan, mungkin sakitnya melebihi itu. Boram segera melambai dan sebuah taxi berhenti di hadapan mereka. Sesampainya di apartemen Hyora, Boram membantu Hyora untuk tidur di kamar.

“Kau istirahat saja disini…” wajah Hyora sudah benar-benar pucat sekali. Matanya masih menatap kosong. Kepercayaannya kepada Kyuhyun benar-benar runtuh seketika saat melihat pemandangan tadi. Dia tidak percaya ternyata semuanya benar. Ramalan itu benar. Dan yang membuatnya lebih sakit lagi adalah bahwa pada kenyatannya entah cepat atau lambat, Kyuhyun akan pergi meninggalkannya demi wanita lain.

“Dia akan menceraikanku, Eomma… Hiks hiks…” gumam Hyora. Boram yang melihatnya merasa tidak tega. Dia merasa sangat bersalah dengan apa yang telah dilakukannya.

“Aku ambilkan air dulu ya, Hyo…” kata Boram. Dia beranjak ke dapur untuk mengambilkan minum. Tidak hanya itu. Dia langsung mengirim pesan ke Ahra, nuna Kyuhyun.

 

To: Ahra Eonnie

Eonnie Tadi aku dan Hyora melewati sebuah Café. Kami melihat Kyuhyun dengan Daejin Eonnie. Dan Hyora kelihatan sangat terpukul.

 

Bukannya dibalas Ahra malah menelpon Boram.

“Ya! Kau lihat dia dimana?”

“Tadi aku dan Hyora mau makan di sebuah café baru di dekat kampus kami. Dan kami melihat mereka.” Boram berusaha menelpon dengan suara pelan.

“Kenapa kau berbisik?” tanya Ahra.

“Aku sedang di apartemen Hyora ,Eonnie…” Boram masih berbisik.

“Jadi, kalian hanya melihat mereka berdua?”

“Ne, Eonnie…”

“Sebenarnya mereka tidak hanya berdua saja. Ada aku juga tapi aku tidak kelihatan dari luar. Hyora pasti sedih sekali ya?” kata Ahra Eonnie.

“Aku sedikit tidak tega melihatnya Eonnie.. Eottokhae?” ucap Boram.

“Nanti aku atur. Kau tunggu saja Kyuhyun pulang. Aku akan segera menyuruhnya pulang. Hyora pasti sudah benar-benar kacau sekarang.”

“Lebih dari kacau. Dia sudah mau gila sepertinya. Dia baru jatuh cinta pada seorang namja dan baru kali ini juga disakiti… Eonnie, kita keterlalulan sekali ya?”

“Gwenchanha.. Siapkan rencana besok. Kau ajak dia menonton kembang api ya? Seperti yang sudah kita rencanakan. Nanti kau pergi bersama Donghae dan Eunhyuk. Sekarang kau tunggu Kyuhyun saja. Kalau Kyu sudah pulang, kau langsung pergi saja. Araji?” perintah Ahra.

“Ne, Eonnie…”

Boram menutup teleponnya dan kemudian mengambilkan minuman untuk Hyora.

—–

Setelah menelepon Boram, Ahra segera kembali ke meja mereka.

“Kau harus segera pulang sekarang Kyuhyun~ah… Rayulah Hyora agar dia mau berbaikan denganmu, oke? Jangan lupa cara yang kami ajarkan tadi.” Ahra Nuna mengusir Kyuhyun.

“Aish! Shireo!!”

“Ya!! Percaya saja pada kami!!” jawab Ahra dan Daejin kompak. Kyuhyun mencibir mereka.

“Lalu, Nuna berdua bagaimana?” tanya Kyuhyun bingung.

“Gwenchanha… Ada yang perlu kami bicarakan berdua nanti. Kami naik taksi saja. Kau pulang dan temani Hyora di rumah. Oke? Tenang saja… Aku yang traktir hari ini…” kata Ahra Nuna.

“Gomawo Nuna.. Baiklah aku akan segera pulang…”

“Hwaiting Kyuhyun~ah!!” kata mereka berdua dengan semangat. Kyuhyun segera bangkit dari kursinya dan pulang ke apartemen. Sepeninggal Kyuhyun, Ahra menginformasikan yang terjadi pada Daejin.

Flashback

Ahra membuka twitternya dan ternyata Daejin sedang OL juga.

@LadyDae : @IamAhRa … Kau bisa jemput aku tidak, hari Rabu ini? Aku akan pulang^^

@IamAhRa: Tentu saja bisa… Tapi, ada syaratnya. Kau harus membantuku RT : @LadyDae : @IamAhRa … Kau bisa jemput aku tidak, hari Rabu ini? Aku akan pulang^^

Apa? RT : @IamAhRa: Tentu saja bisa… Tapi, ada syaratnya. Kau harus membantuku RT : @LadyDae : @IamAhRa … Kau bisa jemput aku tidak, hari Rabu ini? Aku akan pulang^^

@ LadyDae: Apa? RT : @IamAhRa: Tentu saja bisa… Tapi, ada syaratnya. Kau harus membantuku RT : @LadyDae : @IamAhRa … Kau bisa jemput aku tidak, hari Rabu ini? Aku akan pulang^^

@IamAhRa: Nanti akan aku ceritakan lewat mail, ok? RT: @ LadyDae: Apa? RT : @IamAhra: Tentu saja bisa… Tapi, ada syaratnya. Kau harus membantuku RT : @LadyDae : @IamAhRa … Kau bisa jemput aku tidak, hari Rabu ini? Aku akan pulang^^

Jadi, Ahra membeberkan rencananya untuk Kyura couple dan melibatkan si Daejin ini.

End of Flashback

End Of Author’s P.O.V

 

Kyuhyun’s P.O.V

Aku sampai di apartemen dan membuka kode kuncinya. Aku membuka perlahan pintunya dan munculah Boram.

“Kau? Sedang apa disini?” tanyaku bingung.

“Jelaskanlah pada istrimu. Aku titip dia, ya…” kata Boram yang langsung pergi begitu saja.

Aku masih bimbang apakah cara kedua nunaku itu. Apakah itu akan berhasil? Aku menuju kamar dan mendapati Hyora yang sedang dalam posisi duduk. Menatap ke depan tanpa ekspresi. Dia terlihat sedang melamun.

Aku mendekatinya. Jantungku berdegup kencang sekali. Aku teringat saran kedua nuna gila tadi. Apakah aku benar-benar harus melakukannya? Wajahnya sembab. Dia menangis. Lagi? Ada apa sih? Apakah dia masih memikirkan masalah ramalan itu?

“Gwenchanha?” tanyaku khawatir. Aku berlutut di hadapannya. Dia hanya menatapku kosong.

“Hyora~ya… Bicaralah padaku… Kau baik-baik saja, kan?” tanyaku lagi. Tapi, dia hanya diam saja. Tidak menjawab pertanyaanku.

Ottokhaji? Sepertinya sekarang saat yang tepat.  Apakah aku harus langsung mempraktekannya? Argghh… Kenapa aku terdengar seperti Nunaku dan hyung-hyung yang mesum itu, ya? Tanganku dingin sekali. Agak aneh dan suasananya pun canggung sekali. Ini bahkan lebih parah dari saat bulan madu kami.

Tapi, aku sepertinya harus melakukannya. Aku tidak ingin dia hanya mendiamkanku. Kemudian, aku mulai mengulurkan kedua tanganku untuk memegang pipinya dan mengusapnya seperti apa yang diajarkan kedua nunaku yang sinting itu. Aku menatapnya lebih dalam dan dapat kulihat wajahnya yang kelihatan sangat sedih. Entah kenapa hatiku pun jadi ikut sedih.

“Hyora~ya… Nan nomu geuriwo… Nomu bogosiposso….” ucapku lembut. Kuelus lagi kedua pipinya. Aku mendekatkan wajahku padanya. Semakin dekat dan akhirnya aku menciumnya dengan lembut. Dia tidak membalasnya. Biasanya, pada awal kami berciuman dia memang tidak membalas. Mungkin aku harus menunggu. Nuna juga bilang kalau sedang marah biasanya yeoja tidak membalas pada awalnya. Mungkin aku harus lebih intens lagi.

Aku mulai melumat bibirnya pelan. Mencium bibir atas dan bawahnya bergantian. Lalu, kugigit pelan bibir bawahnya, meminta izin untuk masuk ke dalam rongga mulutnya. Dia pun membuka mulutnya. Aku mulai menelusupkan lidahku ke dalam mulutnya. Tanganku pun sudah mulai bergerak. Tangan kananku memegang pipinya lembut, mencoba memperdalam ciuman kami.

Sedangkan tangan kiriku membuka kancing piyama nya satu persatu. Aneh.. Dia tidak bergerak sedikitpun. Bahkan membalas ciumanku. Biasanya dia akan mendesah pelan atau membalas ciumanku. Saat aku akan melepas ciumanku karena kehabisan nafas, aku merasakan cairan hangat di pipiku. Apakah dia sedang menangis? Aku menghentikan ‘kegiatan’ku dan menatapnya.

“Kenapa kau menangis, Hyora? Ayolah bicaralah padaku!!” Dia terisak.

“Kenapa kau diam saja belakangan ini??!! Aku benci sekali melihat perlakuanmu padaku. Kau sudah tidak menganggap aku ya!!! Aku tidak tahu apa salahku padamu, tapi kenapa kau mengacuhkanku seperti ini??!!” Aku mulai tidak sabar. “Kau senang ya melihatku tersiksa tidak bicara padamu??”

“Ternyata memang ramalan itu benar… ” gumamnya di sela tangisannya.

“Mwo?!! Kau masih saja memikirkannya??!! Aku kan sudah bilang Hyora, ya~… Kita ini bukan anak kecil lagi!!! Semua itu konyol!! Aku sudah sudah bilang supaya kau percaya padaku. Tapi apa? Kau malah masih mempercayai ramalan bodoh itu!” bentakku. Aku berdiri dan meninggalkannya di kamar.

“Pikirkanlah baik-baik. Aku tidak mau masalah ini menjadi semakin rumit. Jernihkanlah pikiranmu untuk sementara…” Aku meraih kenop pintu setelah berkata seperti itu dan menutup pintunya pelan.

“Hhhhh….” Aku menarik nafas panjang. Sedikit menyesal karena telah membentaknya. Aku bahkan mendengar Hyora menangis dari luar kamar. Mianhae Hyora~ya… Mianhae… Aku melangkah gontai ke sofa. Biarlah kami berkutat dengan pikiran kami sendiri. Semoga saja besok kami dapat menyelesaikannya.

End of Kyuhyun’s P.O.V

 

Hyora’s P.O.V

Tangisku sudah reda setelah Boram memberiku minum. Mataku sembab dan mungkin sudah lebih besar dari mata panda. Cish.. Apa peduliku? Aku pun hanya memandang lurus ke depan. Entah sudah yang keberapa kalinya adegan di cafe tadi berulang dalam ingatanku. Saat yeoja itu membelai pipi Kyuhyun lembut. Saat Kyuhyun membalas belaiannya. Saat yeoja itu tersenyum dan tertawa di hadapan Kyuhyun. Ini semua membuatku gila. Sebegitu inginnya dia meninggalkanku? Apakah aku benar-benar tidak ada artinya lagi di matanya? Aku tersadar dari lamunanku ketika pintu kamar terbuka perlahan. Dia datang…

“Gwenchanha?” tanyanya terdengar khawatir. Kau masih mengkhawatirkanku? Bukankah kau sudah tidak peduli lagi padaku, Kyuhyun~a… Dia berlutut di hadapanku. Aku membalasnya dengan tatapan kosong.

“Hyora~ya… Bicaralah padaku… Kau baik-baik saja, kan?” tanyanya lagi. Baik-baik saja? Apa kau akan mengatakan kalau kau baik-baik saja saat kau melihat dengan mata kepalamu saat orang yang kau cintai sedang bermesraan dengan orang lain? Tidak, kan? Kau tidak mungkin berkata dengan lantang ‘Aku baik-baik saja’ dan setelahnya tertawa. Kau pasti akan terlihat sebagai makhluk paling bodoh dan menyedihkan di muka bumi ini.

Aku diam saja. Mulutku… Entahlah.. Lidahku kelu seketika. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Dia mendekatkan tubuhnya ke arahku. Menatap wajahnya dari dekat seperti ini membuatku gila. Aku tidak yakin bahwa aku akan masih tetap waras saat dia mengucapkan kata perpisahan. Cepat atau lambat. Kyuhyun~ah… Kau.. Apakah kau benar-benar ingin membuatku seperti orang bodoh yang gila karena cinta? Dia mengelus pipiku pelan. Sama seperti yang dilakukan yeoja itu terhadap Kyuhyun.

“Hyora~ya… Nan nomu geuriwo… Nomu bogosiposso….” ucapnya lembut. Benarkah? Benarkah kau masih merindukanku? Benarkah itu? Apa begini caramu untuk melepasku, Kyuhyun~ah… Mengangkat anganku tinggi-tinggi lalu menghempaskannya cepat hingga jatuh tak berbentuk. Apa dengan begini kau akan puas?

Dia mulai mengusap lagi kedua pipiku. Dia mendekatkan wajahnya padaku. Semakin dekat dan akhirnya dia menciumnya dengan lembut. Ciuman ini. Ciuman yang  sangat ku rindukan. Ciuman yang sanggup membuatku lupa untuk bernafas. Ciuman yang membuat paru-paruku tercekat karena kelembutannya. Ciuman yang selalu saja berhasil membuat pipiku merona saat ia melepaskan ciumannya. Ciuman yang hanya aku inginkan dari orang yang aku cintai. Tapi , kenapa saat ini, ciuman ini bukanlah yang aku inginkan? Apakah ciuman ini akan menjadi ciuman perpisahan darimu, Kyuhyun~ah?

Aku memilih untuk tidak membalasnya. Aku pikir dia akan berhenti saat aku tidak membalasnya. Tapi, yang terjadi dia malah melumat bibirku pelan. Mencium bibir atas dan bawahku bergantian. Lalu, digigitnya pelan bibir bawahku. Aku pun membuka mulutku. Dengan segera, lidahnya sudah menyelusup masuk ke dalam rongga mulutku. Tangannya pun sudah mulai bergerak. Tangan kanannya memegang pipiku lembut, mencoba memperdalam ciuman kami.

Sedangkan tangan kirinya membuka kancing piyamaku satu persatu. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku benar-benar merasa akan dibuang. Apakah dia memperlakukan yeoja itu sama seperti dia melakukannya padaku? Air mataku pun segera keluar dari pelupuk mataku. Kyuhyun menghentikan ‘kegiatan’nya dan menatapku.

“Kenapa kau menangis, Hyora? Ayolah bicaralah padaku!!” Ini terlalu menyakitkan dan aku hanya bisa terisak.

“Kenapa kau diam saja belakangan ini??!! Aku benci sekali melihat perlakuanmu padaku. Kau sudah tidak menganggap aku ya!!! Aku tidak tahu apa salahku padamu, tapi kenapa kau mengacuhkanku seperti ini??!!” Dia terlihat emosi. “Kau senang ya melihatku tersiksa tidak bicara padamu??”

“Ternyata memang ramalan itu benar… ” gumamku.

“Mwo?!! Kau masih saja memikirkannya??!! Aku kan sudah bilang Hyora, ya~… Kita ini bukan anak kecil lagi!!! Semua itu konyol!! Aku sudah sudah bilang supaya kau percaya padaku. Tapi apa? Kau malah masih mempercayai ramalan bodoh itu!” bentaknya. Dia berdiri dan berjalan menuju pintu.

“Pikirkanlah baik-baik. Jernihkanlah pikiranmu untuk sementara…” Dia meraih kenop pintu setelah berkata seperti itu dan menutup pintunya pelan. Tangisku pun kembali pecah. Kyuhyun~ah.. Apakah kau tidak tahu betapa sakitnya aku? Apakah kau tidak bisa hanya melihatku seorang? Hanya aku?

End of Hyora’s P.O.V

—–

Author’s P.O.V

Hyora membuka matanya. Masih terasa sedikit perih karena dia menangis semalaman. Dia yakin sekali kalau matanya kini bengkak. Dia tertidur setelah kelelahan menangis karena dia mendapati dirinya terbangun dari pinggir tempat tidur. Jam dinding menunjukan pukul 5 pagi. Dia segera bengkit dari tidurnya. Badannya terasa lemas sekali. Dia baru ingat dia belum makan sejak kemarin.

Dia menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Hari ini dia berencana pulang ke rumah Appanya. Masih teringat pertengkaran semalam. Di kamar mandipun air matanya mengalir lagi bersama air dari shower. Hatinya terasa sakit lagi saat ingat adegan di café itu. Kyuhyun juga tidak menjelaskan apa-apa tentang hal itu. Ini membuatnya lebih yakin kalau kejadian tersebut benar-benar ada hubungannya dengan ramalan kemarin.

Setelah mandi, Hyora menyiapkan beberapa pakaiannya. Sebenarnya dia agak tidak tega meninggalkan Kyuhyun sendirian. Dia sendiri juga sebenarnya tidak ingin pergi. Tapi, rasa sakit yang menderanya lebih kuat daripada keinginannya untuk tetap tinggal di rumah mereka.

Dia membawa koper kecilnya keluar dari kamar. Dia melihat tubuh Kyuhyun di sofa.

“Mianhae, Cho Kyuhyun…” Lalu perlahan Hyora keluar dari apartemen mereka. Kembali menuju rumah tercintanya.

End Of Hyora’s P.O.V

 

Donghae’s P.O.V

“Snif snif..” Bau apa ini?? Enak sekali kelihatannya. Terasa sekali di hidung. Aku masih menutup mataku ketika bau makanan itu merasuki hidungku. Setahuku appa kan sedang tugas ke luar kota. Lalu siapa yang memasak sepagi ini? Apa bibi sebelah? Satpam perumahan? Hantu penjaga rumah? Cish… Mana mungkin?

Mataku dengan refleks membuka dan langsung saja aku bangun dari tidurku. Aku turun dari tempat tidur lalu membuka kamar dan menuju dapur. Aku mengucek mataku, agar bisa melihat lebih jelas. Apakah itu… Lee Hyora ah ani Cho Hyora, adikku?

“Hyora~ya…” panggilku. Orang itu membalikkan badannya.

“Oppa!! Good morning~” ucapnya terdengar ceria. Tapi, kulihat dari raut wajahnya dia terlihat seperti habis menangis?

“Mwohae? Kenapa pagi-pagi begini kau sudah kesini? Kyuhyun mana?” tanyaku. Nyawaku masih belum terkumpul sepenuhnya.

“Aku kangen sekali padamu Oppa… tadi aku juga baru telepon appa, katanya dia sedang ke Busan ya?” Dia tidak menjawab pertanyaanku. Ada apa ini? Dia tidak pernah mengalihkan pembicaraan kecuali kalau dia benar-benar tidak ingin membahasnya.

“Eo… Appa sedang dinas keluar kota. Kyuhyun mana? Kau sendirian?” tanyaku lagi.

“Oppa, kemarilah… Duduk dulu. Kau harus mencoba masakanku…” Hyora menggiringku ke meja makan. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Hmm.. Sepertinya rencana kami berhasil. Semalam Ahra mengabariku dan Eunhyuk kemajuan rencana kami.

“Ini untukmu, Oppa…” Dia menyajikan nasi goreng di hadapanku. Aku mengamati wajahnya. Matanya terlihat sembab walaupun dia menutupinya dengan make up. Tapi aku tahu dia baru saja menangis.

“Kau kenapa? Dan kenapa tiba-tiba kau disini? Kau tidak menjawab pertanyaanku tentang Kyuhyun…” selidikku.

Wahh… sepertinya mereka baru bertengkar hebat. Assa!! Rencana kami berhasil.

Hyora terdiam tiba-tiba.

“Kalian bertengkar ya?” tanyaku lagi.

“Sepertinya kami memang mau bercerai, Oppa…” ucapnya lemah.

“MWOO!!! Kau bilang apa!!! Bercerai?? Apa maksudnya??” Berani-beraninya namja itu? Dasar! Dongsaeng kurang ajar. Apa benar dia hanya bermain-main dengan adikku saja?

“Andwae Hyora~ Semua pasti salah paham saja…” Aku mengguncang tubuh adikku. Dia mulai menangis lagi.

“Oppa, Kyuhyun sudah punya pengganti diriku….” ucapnya. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Tahu dari siapa kau?” tanyaku.

“A..ku.. hiks melihatnya hiks sendiri…” Dia mulai terisak.

“Tidak mungkin!!”

“Oppa… Aku tidak ingin kehilangan Kyuhyun tapi.. kenyataannya….” Dia tidak kuasa menahan suara tangisnya. Aku memeluknya erat. Kenapa jadinya begini? Aku tidak menyangka efek dari tingkah kami kepada mereka membuat hubungan mereka memburuk dan bahkan… Kyuhyun akan menceraikan adikku. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan! Ah, ya. Aku harus menelepon Ahra!

“Lebih baik kau istirahat saja di kamar…” ucapku lembut setelah tangisannya mereda.

“Tapi, Oppa… Makanan ini…”

“Oppa pasti akan memakannya. Sudah kau istirahat saja. Oppa tidak ingin yeodongsaeng oppa yang cantik berubah menjadi panda karena lingkar matamu ini..” ucapku sambil menunjuk matanya.

“Oppa…” rajuk Hyora.

“Ahahaha… Ara.. Kau mau oppa antar ke kamarmu sendiri?” tanyaku.

“Aish… Memangnya aku sudah lupa jalan menuju kamarku? Aku ke kamarku sendiri saja. Oppa habiskan saja makanan ini. Kalau perlu ajak pasangan monyetmu itu ke sini.” ucap Hyora.

“Mwo? Pasangan monyet? Siapa maksudmu?” tanyaku tak mengerti.

“Ah… Oppa jangan pura-pura tak mengerti… Eunhyuk Oppa… Siapa lagi?” godanya. Sial! Bahkan adikku sendiri pun menganggapku homo? Sial sekali!

“Lee Hyora!!!” teriakku. Aku berlari mengejarnya tapi dia sudah berada di depan pintu kamarnya. Dan dengan segera pintu kamarnya ditutup.

“Hahaha…” kudengar suara tawanya dari dalam kamar.

“Aish… Dasar anak nakal..” gerutuku. Tapi, belum sampai sedetik bibirku sudah menyunggingkan senyum. Yah… Setidaknya dia sudah sedikit ceria. Aku tidak tahu kalau efek perbuatan kami bisa separah ini. Lagipula, anak bodoh itu… Sungguh menyebalkan. Dia itu terlalu dingin terhadap yeoja. Bagaimana bisa adikku jatuh cinta padanya? Hhhh… Mungkin benar kata orang. Cinta membuatmu terlihat bodoh. Bukankah aku juga mempunyai perasaan yang sama seperti Hyora. Bertingkah bodoh di hadapan orang yang dicintai?

Ah, ya… Aku harus menghabiskan makanan yang dibuat Hyora. Aku segera berlari menuju ruang makan untuk menghabiskan makanannya. Tapi, ini terlalu banyak. Aigoo… Sepertinya aku benar-benar harus menelepon Eunhyuk untuk membantuku menghabiskan makanan ini. Ah, tapi aku harus menelepon Ahra dulu untuk mengetahui apa rencana dia selanjutnya. Aku tidak ingin membuat adikku jadi seperti ini. Aku mengambil handphone dari saku celanaku dan meneleponnya.

“Yoboseyo?”

“Ahra~ya…”

“Ah, Donghae.. Wae?”

“Aku rasa kita sedikit keterlaluan kepada mereka berdua. Pagi-pagi sekali Hyora datang ke rumah tanpa Kyuhyun. Dia seperti habis bertengkar dengan Kyuhyun.” ucapku pelan.

“Jinjjaya? Waaa.. Berarti rencana kita berhasil! Kau tenang saja, Donghae~ya… Mereka pasti akan baik-baik saja.” ucapnya.

“Lalu bagaimana kalau hubungan mereka malah jadi semakin memburuk?” tanyaku cemas.

“Itu biar aku yang urus. Aku juga tidak mau kehilangan adik ipar sebaik Hyora…”

“Baiklah… Lalu apa rencana kita selanjutnya?” tanyaku. Ahra pun mulai menjelaskan rencana selanjutnya. Aku menggumam, tanda mengerti apa yang diinginkannya.

“Hmmm… Arasseo… Jadi, besok malam kita mulai rencana terakhir kita?” tanyaku.

“Ne…”

“Kalau begitu kututup dulu sambungan teleponnya. Aku mau menelepon Eunhyuk untuk menemaniku sarapan..” ucapku.

“Mwo?? Hahaha. Kalian ini sudah seperti pasangan suami istri saja. Makan pagi bersama..” tawannya meledak seketika.

“Ya! Kami ini bukan pasangan suami istri. Kenapa kalian ini suka sekali menganggap kami pasangan sesama jenis, hah!” bentakku. Aish…

“Ahaha. Arasseo… Sudah, ya? Selamat bersarapan ria dengan istri tercintamu… Hahaha..”

“Ya! Neo!!…”

KLIK! Sambungan telepon langsung dimatikan. Aish… Benar-benar menyebalkan Ahra ini. Awas saja kalau ketemu nanti. Aku menghela nafas pelan. Kenapa semua orang menganggapku menyukai monyet gunung itu, sih? Dasar! Padahal, aku kan baru jatuh cinta dengan seorang yeoja… Ah, sudahlah… Lebih baik aku menelepon Eunhyuk saja untuk membantuku menghabiskan makanan ini.

“Yak! Kau cepat kemari….”

End Of Donghae’s P.O.V

——

Kyuhyun’s P.O.V

“Ah, silau sekali… Myeonjang~ Tutup kordennya!” perintahku sambil membalikkan tubuhku yang berada di atas sofa. Hyora tidak menjawab. Ah, iya. Kami kan sedang bertengkar. Aku akhirnya bangun dari tidurku. Semalam aku tidak bisa tidur.

Aku merenggangkan tubuhku. Urgh… Pegal semua. Kulihat jam dinding di ruang tengah. Mwo? Jam 12 siang! Kenapa Hyora tidak membangunkanku? Apa dia masih marah padaku? Aku segera bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kamar kami. Kuketuk pintunya pelan.

“Hyora~ya…” Tak ada jawaban.

“Hyora~ya…” ku panggil lagi namanya tapi tetap tidak ada jawaban. Aku pun mencoba memutar kenop pintu dan tidak ada Hyora di dalam. Kemana dia? Aku masuk ke dalam kamar. Merasakan seperti ada sesuatu yang hilang. Aku melihat ke atas lemari pakaian kami. Huh? Kenapa ada satu koper yang hilang? Apa ada maling? Aish… Tidak mungkin. Maling apa itu. Tidak elit sekali mencuri koper. Aku pun membuka lemari pakaianku dan…

“Astaga…” ucapku begitu melihat isi lemari pakaian kami berdua. Pakaian Hyora telah hilang separuhnya dari lemari. Apa dia? Aish… Jinjja. Segera kuambil kunci mobil dari atas meja sebelah tempat tidur dan aku berlari menuju tempat parkir. Kenapa semuanya jadi kacau begini sih?

—–

Aku sampai di depan halaman rumahnya. Ya, rumah Hyora. Rumah abeonimku. Juga rumah hyungku. Aku mencoba mengatur nafasku. Kenapa hanya gara-gara ramalan konyol itu hubungan kami berdua menjadi kacau begini?

Ting Tong…

Kutekan bel pintu rumahnya.

“Ya, sebentar…” terdengar suara dari dalam.

“Ah, Kyuhyun~ah…” ucap Eunhyuk Hyung saat dia membuka pintu depan. Huh? Sedang apa dia disini? Apa dia sedang kencan dengan pasangan ikannya ini? Kekeke. Aku pun mengikuti langkah Eunhyuk hyung ke ruang makan. Di situ sudah ada Donghae Hyung yang tengah asyik menyantap makanannya.

“Hyung…” Donghae hyung nampak terkejut dengan kedatanganku. Dia pun tersedak. Eunhyuk Hyung yang melihatnya segera mengambil air putih dan menyodorkannya kepadanya.

“Gwaenchana?” ucap Eunhyuk hyung cemas sambil menepuk-nepuk pundak Donghae Hyung. Aish… Melihat pemandangan seperti ini pasti semua orang akan menyangka kalau mereka ini adalah pasangan kekasih. Aku pun duduk di hadapan Donghae Hyung. Melihat keakraban dua pasangan ikan dan monyet ini membuatku merasa… ah… kalian bisa pikirkan itu sendiri.

“Hyung… Apa Hyora ada disini?” tanyaku setelah Donghae Hyung sudah bernafas dengan benar.

“Emmm… emm…”

“Aish.. Katakan saja, Hyung!” bentakku.

“Ya! Jangan keras-keras! Iya, Hyora ada di sini.” Jawabnya sambil meletakkan telunjuknya di mulutnya.

“Kalau begitu, aku ke atas dulu, Hyung…” ucapku lalu segera berdiri dari kursi yang kududuki tadi. Aku harus berbicara dengannya. Ini sudah keterlaluan. Aku tahu aku memang salah. Aku tidak bisa meyakinkannya kalau ramalan itu tidak benar. Aku ini kan bukan tipe namja yang banyak omong. Belum sempat aku berjalan selangkah, ada sebuah tangan yang menahanku.

“Jangan dulu, Kyuhyun~a… Aku rasa dia butuh menenangkan pikirannya. Tadi pagi waktu dia datang kemari, dia terlihat kacau sekali…” ucap Donghae Hyung pelan. Aku menatapnya. Kacau? Apa dia pikir aku tidak kacau? Diacuhkan oleh orang yang kucintai?

“Tapi, Hyung…” Aku mencoba mengelak.

“Sudah… Biar aku yang urus Hyora. Kau serahkan saja semuanya padaku.” ucap Donghae Hyung bijak. Sementara Eunhyuk Hyung hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.

“Baiklah, Hyung… Aku serahkan padamu.” ucapku pelan. Benar juga kata Donghae Hyung, mungkin dia memerlukan seseorang untuk diajak bicara.

“Kau tenang saja..”

“Aku pergi dulu, Hyung…” ucapku setelah Donghae hyung pun melepaskan tangannya dari lenganku.

Mau kemana kau?” tanya Eunhyuk Hyung.

“Aku mau pulang saja ke rumah orang tuaku. Tidak ada gunanya juga aku berada di apartemen.” ucapku seraya berjalan keluar rumah.

“Kau tidak makan dulu?” tanya Donghae Hyung.

“Tidak, Hyung… Aku makan di rumah saja.” jawabku. Aku memakai kembali sepatuku dan beranjak keluar dari rumah Hyora. Saat aku keluar aku membalikkan tubuhku. Melihat ke atas, ke arah kamar Hyora. Sepi sekali… Apa dia masih menangis? Apa dia baik-baik saja? Pertanyaan itu terus menghantui pikiranku.

“Aish…” Aku mengacak rambutku frustasi… Hyora~ya… Tidak bisakah kau membuatku menjadi manusia normal? Aku bisa gila kalau kau berlaku seperti ini terus padaku.

——

“Kyuhyun~ah… Tumben kau datang kemari? Ada angin apa?” ucap eomma saat dia membukakan pintu rumah untukku.

“Hanya ingin main saja.” jawabku asal. Aku pun segera masuk ke dalam rumah. Aku harus berbicara dengan Ahra Nuna! Caranya kemarin sungguh tidak beres! Bukannya berbaikan, kami malah jadi bertengkar hebat.

“Mana Hyora?” tanya eomma. Sontak aku menghentikan langkahku. Aku membalikkan tubuhku dan melihat pandangan harap dari mata eomma.

“Errr… Dia sedang di rumahnya. Katanya dia kangen dengan appa dan Oppanya. Jadi, dia mau menginap sehari di sana.” jawabku. Untung saja aku sudah menyiapkan jawaban ini jika eomma atau appa menanyakan Hyora kepadaku.

“Oh, geundae kenapa kau tidak ikut menginap di sana?” tanya eomma lagi. Sial! Untuk pertanyaan yang ini aku tidak menyiapkan jawaban apa-apa.

“Emm… Itu.. Itu.. Itu karena aku juga kangen pada eomma dan appa!” jawabku. Lalu dengan segera kupeluk eomma.

“Aish.. Biasanya kau kan jarang pulang. Kenapa sekarang tiba-tiba jadi kangen begini?” selidik eomma.

“Eomma… Aku kan anakmu. Masa aku tidak boleh rindu kepada ibunya sendiri?” Aku meliriknya sambil masih memeluknya. Ah!hancur sudah image-ku selama ini.

“Ara… ara..”

“Oh, ya. Dimana Ahra Nuna?” tanyaku saat tiba-tiba aku teringat Nunaku yang menyebalkan itu.

“Dia masih di kamarnya. Hari ini dia tidak pergi ke butiknya.” jawab eommaku.

“Kalau begitu aku ke sana, eomma…” Aku langsung berlari kecil menuju kamarnya dan dengan segera kubuka pintu kamarnya kasar.

“Nuna!” teriakku.

“Ya! Cho Kyuhyun! Kau ingin membuatku tidak punya pintu kamar, hah?” bentaknya. Aku tidak menghiraukannya. Segera kututup pintu kamarnya. Aku tidak ingin eomma mendengar percakapanku dengannya.

“Ada apa kau kemari?” tanyanya sambil mengambil bantal dan tiduran di kasurnya. Aku pun ikut duduk di atas kasurnya.

“Nuna! Kau harus bertanggung jawab! Bukannya membaik, hubungan kami malah memburuk!”

“Mwo? Jinjja?” ucapnya terkaget.

“Ne, benar..”

“Apa kau sudah melakukan apa yang kemarin kami ajarkan?” tanya Ahra Nuna.

“Sudah, Nuna. Tapi, yang ada dia malah menangis saat aku ingin melakukannya.” jawabku.

“Mungkin waktu itu kau terlalu kasar, Kyuhyun~a… Kau tidak merobek bajunya lagi, kan?” selidik Ahra Nuna.

“Aish… Aku tidak melakukannya, Nuna..”

“Sudahlah… Nanti juga kalian baik sendiri..” ucapnya santai.

“Tapi, masalahnya sekarang dia kabur dan kembali ke rumah appanya.”

“Mwo? Bagaimana bisa?” tanyanya tak percaya.

“Ini semua kan gara-gara kau, Nuna..” ucapku kesal.

“Aish… Kenapa aku? Baiklah.. Kau biarkan saja dia begitu dulu. Nanti baru bicara lagi. Lalu, sekarang kenapa kau ada disini?” tanyanya.

“Donghae Hyung bilang dia akan bicara padanya. Aku tidak ingin sendirian diapartemen.” ucapku.

“Ya sudah. Kau ikuti saja sarannya. Aku yakin dia pasti akan membantumu untuk berbicara pada Hyora.” Ucapnya.

“Heh, tumben sekali nuna bisa bijaksana seperti itu?” ejekku sambil memberikan pandangan meremehkan.

“Ya!” dia sudah akan melempar bantal di sampingnya. Tapi, aku dengan sigap sudah membuka pintu kamar.

“Hahaha…” tawaku sebelum akhinrya kudengar Nunaku itu berteriak dan melempar bantal ke arah pintu.

“CHO KYUHYUN!!!” teriak Nunaku.

End Of Kyuhyun’s P.O.V

—–

Author’s P.O.V

Ini sudah satu hari Hyora dan Kyuhyun tinggal di rumah orangtua masing-masing. Donghae sudah mencoba berbicara dengan adik tercintanya itu. Tapi, Hyora terkesan tidak menggubris ucapannya. Untung saja appa Hyora belum pulang. Jadi, appa Hyora tidak akan menanyakan macam-macam saat melihat keadaan anaknya yang menyedihkan.

“Hyora~ya…” Boram memanggil nama Hyora. Namun, Hyora hanya diam. Dia masih memandang kosong ke arah luar jendela. Tatapan matanya sayu, seolah tidak ada tanda kehidupan di dirinya.

Boram pun mendekati Hyora. Dia merasa prihatin dengan keadaan temannya. Baru saja sehari mereka bertengkar hebat. Tapi, lihatlah akibatnya? Hyora bahkan sudah seperti mayat hidup. Dia hanya makan, mandi, dan tidur tanpa berbicara sedikitpun. Donghae pun sudah mengerahkan segala cara agar adik tercintanya itu kembali ceria atau setidaknya berbicara. Hyora memang berbicara kepada Donghae. Tapi, hanya dijawab seperlunya. Dan kalaupun dia tersenyum itu terkesan seperti… Dipaksakan..

Donghae akhirnya memutuskan untuk melaksanakan rencana terakhir mereka malam ini juga. Malam dimana akan ada festival kembang api pada saat penutupan festival bunga cherry. Jika rencana mereka untuk membuat mereka bersama sekaligus ujian cinta mereka ini berhasil, ini akan membahagiakan berbagai pihak. Dan mereka tidak perlu susah payah untuk membujuk kedua pasangan ini untuk berbaikan. Namun, jika hubungan mereka malah makin memburuk, akan lebih baik kalau mereka semua membongkar rencana mereka. Yah, meskipun mereka tahu kedua adik kesayangan mereka pasti akan marah kepada mereka.

“Hyora~ya…” Boram menepuk pundak Hyora pelan. Hyora menoleh sesaat lalu kemudian kembali ke aktivitas semula, memandang lurus ke depan dengan tatapan kosongnnya.

“Bagaimana kalau malam ini kita melihat festival kembang api?” tanya Boram dengan nada semangat. Dia berusaha untuk menyemangati sahabatnya.

“Aku mau di rumah saja, Boram~ah…” ucapnya lirih. Boram menghela nafas panjang. Lalu, tanpa pikir panjang dia segera menarik tangan Hyora.

“Kaja! Ayolah… Terlalu lama di rumah bisa membuatmu jamuran, tahu! Ayo, ganti baju cepat!” perintah Boram sambil mendorong tubuh Hyora ke depan lemari pakaian.

“Tapi…”

“Tidak ada tapi tapian… Aku tunggu di bawah. Donghae oppa dan Eunhyuk oppa sudah menunggu di bawah..” ucap Boram lalu segera keluar dari kamar Hyora.

Hyora akhirnya menyerah dan membuka lemari pakaiannya perlahan. Dia memilih-milih pakaian dengan malas hingga akhirnya dia memilih satu gaun selutut berwarna krem. Hyora menghela nafas panjang.

“Jangmyeon~a… Bogosipeosseo…” ucapnya lirih. Air matanya pun sudah mulai keluar dari pelupuk matanya. Tapi, segera dihapus dengan punggung tangannya. Hyora pun segera mengganti pakaiannya.

——

“Ya! Cho Kyuhyun!! Apa yang kau lakukan hah?” teriak Ahra saat melihat namdongsaeng nya bermain game sepanjang hari.

“Bermain game.” ucap Kyuhyun santai. Ahra mendecak kesal.

“Kau tahu? Kau sudah bermain game dari kemarin siang. Apa kau ingin matamu menjadi rusak, hah?” ucap Ahra. Kyuhyun mensave gamenya dan mematikan laptopnya. Dia menatap Ahra. Matanya merah sekali. Tentu saja. Dia sudah bermain game dari kemarin saat dia sampai di rumahnya.

“Lalu apa yang harus aku lakukan, Nuna~ya? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan…” ucapnya frustasi.

“Pergi denganku dan Daejin ke festival kembang api! Kaja!!” ucap Ahra dengan semangat tinggi.

“Aku malas, Nuna.. Kau dan Daejin Nuna saja yang pergi..” ucap Kyuhyun yang segera merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya terasa remuk setelah bermain game dari kemarin.

“Ayolah… Jangan jadi pemalas.. Ayo!” ucap Ahra sambil menarik-narik tangan Kyuhyun.

“Shireo!” bentak Kyuhyun. Ahra menghela nafas pelan. Ia tahu benar dari kemarin adiknya hanya bermain game tanpa memperhatikan waktu. Ini memang kebiasaan Kyuhyun dari kecil kalau dia sedang ada masalah. Melampiaskannya dengan bermain game sepuasnya. Ahra tiba-tiba menunjukkan smirk nya. Dia tahu caranya agar Kyuhyun pergi dengannya.

“Kalau begitu, aku akan memberitahu eomma dan appa kalau kau sedang bertengkar dengan Hyora makanya kau tinggal di sini..” ancam Ahra yang sontak saja membuat tubuh Kyuhyun menegang. Kyuhyun bangkit dari tidurnya dan menatap tajam Ahra.

“Nuna!” teriak Kyuhyun. Tapi, Ahra malah pergi keluar kamar Kyuhyun.

“Aku tunggu di bawah bersama Daejin..” ucapnya sebelum menutup pintu.

“Argh…” teriak Kyuhyun frustasi. Dia menjambak rambutnya sendiri. Akhirnya, setelah agak tenang dia pun menuju lemari pakaiannya. Memilah-milih pakaian yang akan dipakainya. Saat sedang memilih pakaian, pikirannya jauh mengawang.

Flashback

“Myeonjang~…” panggil Kyuhyun. Kyuhyun mengucek matanya pelan. Ini masih pagi. Tapi, dia sudah terbangun dari tidurnya. Hyora yang kaget mendengar panggilan dari Kyuhyun pun membalikkan tubuhnya.

“Kau sudah bangun, Jangmyeon~ah?” ucap Hyora lembut sambil tersenyum ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun mendekati Hyora yang sedang merapikan pakaian di dalam lemari mereka.

“Kau sedang apa?” tanya Kyuhyun manja lalu memeluk Hyora dari belakang. Tangannya merengkuh pinggang Hyora erat, membuat wajah yeoja yang dipeluknya itu menjadi merah merona.

“A..aku.. sedang merapikan pakaian. Kau tidak lihat?” ucap Hyora sempat tergagap di awal kalimatnya. Hyora masih belum terbiasa dengan sentuhan-sentuhan yang diberikan Kyuhyun. Dia masih saja merasa malu atau bisa tergagap saat Kyuhyun melakukan hal-hal di luar dugaan.

“Kenapa kau tergagap? Kau masih malu padaku?” goda Kyuhyun.

“Ani.. Kata siapa?”

“Kataku..” ucap Kyuhyun lalu mengecup leher Hyora pelan. Tubuh Hyora menegang seketika.

“Kyuhyun~ah…”

“Hemm…” Kyuhyun masih menciumi leher Hyora.

“Lepaskan..” ucap Hyora. Kyuhyun akhirnya melepas pelukannya dari Hyora.

“Wae~?” ucap Kyuhyun manja.

“Aku mau mandi…” ucap Hyora lalu mengambil pakaiannya dari dalam lemari.

“Geurae… Mau kutemani?” goda Kyuhyun.

“Mesum!!” ucap Hyora lalu segera berlari ke arah kamar mandi. Kyuhyun hanya bisa terkekeh geli melihat tingkah istrinya yang masih saja malu di hadapannya.

End Of Flashback

“Hyora~ya… Nan nomu geuriwo…” ucap Kyuhyun lirih.

—–

Hyora’s P.O.V

Aku mengikuti langkah Boram, Eunhyuk Oppa, dan Donghae Oppa ke dalam tempat ini. Tempat yang membuatku meragukan perasaannya padaku. Tempat yang membuatku memikirkan bahwa dalam hidupnya akan terisi oleh cerita cinta yang lain. Tempat yang membuatku berpikir apakah aku benar-benar tidak pantas berada di sisinya? Aku mencari tenda tempat ramalan itu. Sudah tidak ada. Padahal aku ingin bertanya bagaimana cara kami untuk berbaikan. Aku menghela nafas panjang.

“Hyora~ya…” panggil Boram.

“Hemm…”

“Kau mau makan apa?” tanyanya.

“Tteokboki!!” ucap Eunhyuk Oppa lantang.

“Udon!” ucap Donghae Oppa tak kalah lantang.

“Oppa, aku tidak menanyakanmu!” ucap Boram. Donghae Oppa dan Eunhyuk Oppa pun terlibat adu mulut. Sementara Boram memarahi mereka berdua. Hahaha… Mereka ini lucu sekali. Aku pun tersenyum memandangi mereka.

“Aku ikut kalian saja.” jawabku, masih tersenyum melihat tingkah mereka.

“Baiklah… Kalau begitu kau tunggu di situ saja.” Boram menunjukkan tangannya ke suatu arah. Aku pun membalikkan tubuhku, melihat ke arah mana tangannya itu.

“Di situ?” tunjukku. Boram mengangguk mantap.

“Lalu aku ke sana dengan siapa?” tanyaku.

“Kau sendirian saja ke sana. Kau cari tempat yang bagus untuk menonton kembang api. Aku dan oppa-oppamu ini yang akan membeli makanan.” ucap Boram.

“Kenapa kau tidak menemaniku saja?” tanyaku. Aku tidak suka ditinggal sendirian.

“Kau tidak lihat? Kalau kita menyuruh dua oppa gilamu ini untuk membeli makanan yang ada kita malah akan mati kelaparan. Lihat saja. Mereka masih bertengkar tentang makanan apa yang harus mereka makan.” Ucap Boram. Ah, benar juga. Mereka berdua masih bertengkar tentang makanan apa yang harus kami beli. =_=”

“Baiklah… Kalau kau sudah selesai langsung ke tempat itu, ya?” ucapku lalu melambaikan tanganku ke arah Boram yang sudah pergi menggeret kedua oppaku itu.

Aku berjalan pelan ke arah tempat yang ditunjuk Boram tadi. Dimana ya tempat yang bagus? Ah… Coba kalau aku pergi bersama Kyuhyun. Aku pasti tidak akan kesepian. Aku berputar-putar mencari tempat yang bagus. Namun, saat mataku sedang mencari tempat, mataku tertumbuk pada suatu titik yang membuatku nafasku tercekat seketika.

Aku melihatnya… Benar-benar melihatnya. Namja yang kurindukan setengah mati. Namja yang membuatku seperti orang gila. Terus memikirkannya sepanjang hari tanpa tahu apakah dia memikirkanku apa tidak. Dan kini, semua pertanyaanku terjawab. Dia sudah tidak memikirkanku lagi. Tepat di hadapanku, Kyuhyun sedang duduk dengan yeoja itu lagi. Mereka pun terlihat mesra sekali. Kyuhyun~ah… Benarkah semua ramalan itu? Benarkah semua yang dikatakan peramal itu benar adanya?

“Kalian.. Kalian akan segera bercerai. Akan ada orang ketiga diantara kalian berdua.”

Ucapan peramal itu tiba-tiba terngiang di kepalaku. Aku merasakan mataku memanas. Inikah rasanya patah hati? Kenapa begitu menyakitkan? Aku berjalan pelan ke arahnya. Mengumpulkan seluruh kekuatanku dan menahan air mataku agar tidak tumpah.

“Jadi, ramalan itu benar kan, Kyuhyun~ah… Ah, ani. Kyuhyun~ssi… Kau sudah tidak mencintaiku lagi, kan? Sebegitu burukkah aku untuk menjadi istrimu?” ucapku nyaris tercekat. Aku tidak boleh lemah di hadapannya. Kulihat Kyuhyun mendongakkan kepalanya dan terlihat kaget melihatku ada di hadapannya.

“Hyo.. Hyo… Hyora…” Lihat! Dia terkejut karena ketahuan berselingkuh di hadapanku, kan? Bagus sekali…

“Kalau itu memang yang kau inginkan… Aku akan mengirimkan surat cerai ke rumahmu secepatnya. Selamat tinggal…” ucapku lalu segera berlari meninggalkannya. Tangisku yang sedari tadi ku tahan pun akhirnya pecah begitu saja. Tak kuhiraukan panggilan dari Kyuhyun. Sesak.. Benar-benar sesak sekali. Kenapa? Kenapa di saat aku sudah mulai mencintainya dan di saat cintaku sudah terlampau dalam padanya, ada yang mengambilnya dari sisiku.

Aku sudah berjalan tak tentu arah. Dimana ini? Aish… Apa peduliku. Yang penting sekarang aku menenangkan diri dulu. Menenangkan perasaan sakit yang menderaku. Aku berdiri di atas jembatan yang cukup sepi. Jembatan itu tidak mempunyai pembatas yang cukup tinggi. Hanya ada tembok setinggi pinggang orang dewasa dan terdapat pijakan di bawahnya. Hhh.. Udara di sini pun cukup bagus. Aku berdiri di pijakan jembatan itu. Menghirup sejuknya angin malam yang menerpa rambutku lembut. Aku sudah tidak ingat bahwa aku harus menunggu Boram dan kedua Oppaku. Aku menutup mataku pelan, air mataku sudah mau keluar lagi. Aku merentangkan tanganku. Merasakan angin musim semi. Mungkin ini musim terakhirku bersamanya,… Bersama seseorang yang berarti dalam hidupku. Bersama seseorang yang sudah biasa kulihat setiap aku akan bangun di pagi hari atau tidur di malam hari. Apa aku masih bisa hidup tanpanya jika pada kenyataannya dia sudah menjadi bagian dari semua kebiasaan dalam hidupku belakangan ini?

End Of Hyora’s P.O.V

 

Kyuhyun’s P.O.V

Aku mendecak kesal ke arah dua nuna di hadapanku ini. Cih. Benar-benar mengesalkan sekali. Dari tadi kerjaan kami hanya berjalan ke sana ke mari tak tentu arah. Dan aku? Aku benar-benar seperti pelayan mereka. Daejin nuna pun tak segan menarik tanganku ke sana ke mari. Mencoba stand-stand yang ada di tempat ini. Tempat yang membuat hubunganku dengan Hyora menjadi merenggang. Tempat yang membuatku terlihat salah di matanya. Tempat yang membuatku gila karena aksi diam diri Hyora padaku akibat ramalan sialan itu. Aku mendongakkan kepalaku, mencari tempat stand ramalan itu. Tapi, kenapa tidak ada ya? Aish… Padahal, aku mau memarahi peramal sialan itu karena gara-gara dia hubunganku dan Hyora menjadi buruk.

“Ah… tampannya…” Haha. Benar. Aku memang tampan.

“Aigoo… Tinggi sekali dia…” Tentu saja. Tinggiku kan 180 cm.

“Ah.. Tampan sekali.. Tapi sayang dia sudah ada yang punya…” Heh? Bagaimana mereka bisa tahu kalau aku sudah ada yang punya? Aku kan tidak bersama dengan Hyora? Kulirik arah sampingku. Aigoo… Ternyata dari tadi Daejin Nuna merangkul lenganku. Dasar!

“Ya, Nuna! Lepaskan aku! Kau ingin Hyora tambah marah kepadaku?” ucapku sambil berusaha melepaskan rangkulannya.

“Tidak apa-apa, Kyuhyun~a.. Kau kan tinggal bilang kalau aku ini sepupumu. Gampang, kan? Kalau dia tidak percaya nanti biar Ahra saja yang menjelaskan kepadanya.” cerocosnya.

“Betul, Kyuhyun~a.. Nanti kalau dia salah paham biar aku yang jelaskan.” ucap Ahra Nuna. Aku hanya menghela nafas pasrah. Aku tidak mungkin menang melawan dua iblis betina ini. Mereka sungguh sangat merepotkan. =,=” Tidak seperti Hyora-ku.. Ah… Aku rindu sekali padanya. Apakah dia baik-baik saja?

“Ah… Aku lupa membeli makanan dan minuman!” teriak Ahra Nuna tiba-tiba.

“Aigoo… Tidak seru kalau tidak ada makanan dan minuman. Ahra, kau belilah makanan dan minuman. Biar aku dan Kyuhyun mencari tempat yang bagus untuk menonton.” ucap Daejin Nuna. Aku belum sempat menyanggah pernyataannya karena tangannya langsung menarikku dan aku pun terbawa arus. Tempat ini sungguh ramai sekali.

Setelah berkeliling cukup lama, akhirnya Daejin Nuna menemukan tempat yang bagus. Dia segera mengirimkan pesan untuk Ahra Nuna tentang keberadaan kami. Aku pun langsung duduk di tempat itu agar tidak ada yang menempati. Daejin Nuna mengikutiku dan duduk di sampingku. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Ya, Nuna! Jangan menyender seperti ini! Nanti banyak yang salah paham!” bentakku sambil berusaha menjauhkan kepalanya dari bahuku. Tapi, sepertinya kepalanya keras sekali dan sudah menempel di bahuku. Susah sekali menjauhkannya.

“Biarkan saja. Lagian aku yakin Hyora pasti akan tetap percaya padamu.” jawabnya mantap.

‘Percaya? Bahkan dia tidak menggubris semua pertanyaanku kepadanya. Apakah mungkin dia masih percaya padaku?’ batinku.

Akhirnya, aku menyerah dan membiarkan Daejin Nuna menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku sendiri juga lelah. Lelah menanti… Menanti Hyora-ku yang kembali ke pelukanku. Menanti senyuman manis nya saat dia tersenyum kepadaku. Menanti pipinya yang bersemu merah saat ku goda. Sungguh… Aku bisa gila kalau aku tidak segera bertemu dengannya.

“Jadi, ramalan itu benar kan, Kyuhyun~ah… Ah, ani. Kyuhyun~sshi… Kau sudah tidak mencintaiku lagi, kan? Sebegitu burukkah aku untuk menjadi istrimu?” tiba-tiba aku mendengar suara yang begitu kurindukan. Suaranya? Tapi kenapa, suaranya seperti itu? Dan nadanya terdengar sedih. Tunggu! Apakah ini benar suara Hyora yang begitu ku rindukan? Aku segera mendongakkan kepalaku dan mendapatinya berdiri di hadapanku. Aku terkaget melihatnya berada di hadapanku. Apakah ini nyata?

“Hyo.. Hyo… Hyora…” Sial!! Kenapa aku tergagap?

“Kalau itu memang yang kau inginkan… Aku akan mengirimkan surat cerai ke rumahmu secepatnya. Selamat tinggal…” ucapnya lalu segera berlari meninggalkannya. Aku masih terkaget mendengar ucapannya yang begitu mendadak. Kemudian aku menyadari sesuatu. Tunggu! Tadi dia bilang apa? Surat cerai!! Andwae!

“Hyora!!!” panggilku. Tapi, dia tidak menghiraukan panggilanku. Aku pun segera bangkit dari kursi yang kududuki tadi dan…

BRAK! Kudengar suara seperti suara terjatuh. Aku membalikkan tubuhku dan mendapati Daejin Nuna terjatuh dari kursi yang diduduki kami berdua tadi. Aish…

“Mianhae, Nuna.. Aku harus mengejar Hyora…” teriakku sambil berlari menjauh.

“YA! CHO KYUHYUN!!!” bisa kudengar suaranya walaupun sudah samar. Aish… Daejin Nuna benar benar menakutkan kalau marah. Tapi itu tidak penting sekarang. Yang penting aku mengejar Hyora-ku.

“Hyora… Hyora…” aku memanggil namanya berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Tadi dia pakai baju apa, ya? Aigoo.. Ayo, Cho Kyuhyun… Kenapa otakmu mendadak jadi lambat begini? Orang-orang mulai memandangiku yang berteriak lantang memanggil Hyora seperti orang gila. Aku belum gila. Tapi, aku mungkin akan gila kalau dia benar-benar akan pergi meninggalkanku hanya karena masalah salah paham seperti tadi? Apakah dia tidak bisa mempercayaiku seujung kuku pun?

Aku pun mulai menyisir daerah Yeoido yang ramai ini. Bagaimana aku bisa menemukan Hyora kalau dalam kondisi seperti ini? Aku sudah hampir menyerah hingga akhirnya aku menemukan sosoknya. Sosok yeoja yang benar-benar kurindukan. Sosok yeoja yang selalu saja bisa mengisi penuh otakku dengan bayangan wajahnya saja. Dia.. Dia sedang berdiri di atas jembatan dengan pagar yang bisa dibilang sangat jauh dari kata aman. Dia mulai menaiki pijakan kaki di jembatan itu dan menutup mata serta menengadahkan tangannya. Apa… Apa… Apa dia akan.. Bunuh diri? Sial! Aku pun segera berlari menghampirinya.

“Hyora!!” panggilku. Dia nampak terkaget mendengar suaraku. Tapi, yang terjadi berikutnya sungguh mampu membuat jantungku melompat keluar dari tubuhku. Hyora kehilangan keseimbangan dan tubuhnya condong ke depan, ke arah sungai yang ada di bawahnya.

“Argh….” teriaknya.

End Of Kyuhyun’s P.O.V

 

Hyora’s P.O.V

Aku masih berdiri di atas jembatan ketika tiba-tiba ada suara yang begitu ku kenal memanggil namaku.

“Hyora!!” Aku terkejut mendengar suara itu. Benarkah itu dia? Kyuhyun? Untuk apa dia mengejarku? Ani. Itu pasti bukan Kyuhyun. Untuk apa dia mempedulikanku sementara dia sudah mempunyai pengganti? Dan entah kenapa aku merasa tubuhku serasa limbung. Aku seperti kehilangan keseimbangan dan tubuhku mulai condong ke arah sungai di bawah jembatan.

“Woaaaaaaaaa….” teriakku. Aku menutup mataku, takut. Aku akan mati. Aku pasti mati… Tubuhku oleng ke arah depan. Tapi, dapat kurasakan sebuah tangan menangkap tubuhku. Namun, sialnya tubuh itu malah ikut terbawa berat tubuhku sehingga sepertinya kami berdua yang akan mati. Aku membuka mata untuk mengetahui siapakah penyelamat bodoh yang ingin menolongku. Mataku membelalak seketika melihat Kyuhyun yang memelukku erat.

BYURR… Terdengar suara geburan air dan aku yakin itu adalah suara tubuh kami berdua yang jatuh ke dalam air. Aku merasakan sesak dan sakit pada seluruh tubuhku akibat jatuh dari ketinggian yang yah… tidak bisa kubilang rendah. Tiba-tiba, aku merasakan tubuhku terangkat ke atas dan aku dapat bernafas lagi dengan benar. Ah… Apakah aku sudah di surga? Aku membuka mataku pelan. Sepertinya aku sudah lepas dari ragaku.

“Yak! Kau ini bodoh, hah?” Huh? Kenapa suara teriakannya pun mengikutiku kemanapun? Aku membalikkan tubuhku dan mendapati Kyuhyun tengah terengah mengambil nafas di belakangku.

“K-kyuhyun…” panggilku pelan.

“Niga baboya?!!” Suaranya terdengar khawatir setengah mati.

“Kenapa kau mencoba melompat ke sungai tadi? Kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja?” ucapnya retoris. Mwo? Apa dia ikut mati bersamaku karena terjun ke sungai? Itu berarti, aku bisa bersamanya kapanpun, kan? Tapi, tunggu… Kenapa aku merasa tubuhku basah, ya? Aku melihat seluruh tubuhku dan benar saja gaunku sudah basah kuyup karena air sungai ini dan.. Hei.. Air sungai ini rendah sekali!! Apakah itu berarti kami masih hidup?

“Kita belum mati?” tanyaku polos.

“Mwo? Mati? Cish.. Aku tidak akan pernah membiarkanmu mati dan meninggalkanku sendiri. Bahkan kalaupun kau meninggalkanku aku akan pergi mencarimu sampai ke titik terjauh sekalipun.” ucapnya mantap. Emosiku naik seketika. Bagaimana bisa dia mengatakan hal yang bisa membuatku melambung tinggi seperti itu tapi pada akhirnya dia menjatuhkanku ke titik minimum?

“Dasar pembohong! Kau masih bisa berkata begitu padahal sudah jelas kalau berselingkuh di hadapanku, huh? Dan apa? Meninggalkanmu? Ya, mungkin aku akan meninggalkanmu karena emmphh empphh…” Aku belum sempat melanjutkan kalimatku tapi dia sudah membekap mulutku dengan bibirnya. Bibir yang begitu kurindukan.

Aku mencoba memberontak melepaskan ciumannya. Tapi, yang ada dia malah memperdalam ciumannya. Tangannya merengkuh kepalaku dan memegang pipiku erat, seolah tidak ingin melepasku. Dia mencoba menelusupkan lidahnya masuk ke dalam mulutku tapi aku masih menutup rapat bibirku. Dia pun menggigit bibir bawahku pelan sehingga aku membuka mulutku dan kesempatan itu digunakannya untuk menelusupkan lidahnya ke dalam mulutku.

Dia terus berusaha menginvasi mulutku dengan lidahnya yang kini sudah menguasai seluruh rongga mulutku. Entah setan darimana, aku pun akhirnya membalas ciumannya dan menutup mataku. Tapi, sial! Saat aku mulai membalas ciumannya aku merasa kalau aku sudah kehabisan oksigen. Ini gila! Tidak mungkin kan besok aku masuk headline koran dengan judul ‘Selamat dari Tenggelam di Sungai, Malah Mati karena Kehabisan Nafas Saat Berciuman’? Sangat tidak lucu! Segera kudorong tubuhnya keras. Aku berusaha menata nafasku yang sesak karena terlalu lama berciuman tadi.

“Michyeoseo! Apa kau ingin membuatku mati karena ciumanmu?” bentakku. Aku rasa sekarang emosiku benar-benar meledak. Ini memang bukan tipeku. Aku bukan tipe yeoja yang mudah marah-marah.

“Kalau perlu. Aku tidak akan pernah melepaskanmu.” ucapnya tajam. Tatapan matanya sungguh menakutkan. Aku pun menundukkan mataku. Sepertinya bentakanku tadi bukannya membuatnya takut, malah membuatnya semakin marah. Dia bergerak mendekat ke arahku dan merengkuh wajahku lembut.

“Saranghae…” ucapnya dan seketika efeknya membuat seluruh kerja sistem organku berhenti mendadak. Mataku melebar. Darahku berdesir tak terkira. Jantungku serasa berhenti berdetak. Dan, nafasku menjadi sesak karena satu kata yang dikeluarkan dari mulutnya itu. Aku menatapnya, mencari kebohongan yang mungkin akan terpancar jelas di wajahnya. Tapi, yang aku temukan bukan raut kebohongan melainkan raut kesungguhan.

“Geotjimal..” ucapku asal sambil memalingkan wajahku.

“Kau benar-benar masih percaya ramalan itu, Hyora~ya?” tanyanya. Kini nada bicaranya melembut. Aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.

“Aish… Sudah kubilang beberapa kali kalau ramalan itu bohong.” Ucapnya terdengar frustasi.

“Bagaimana kau bisa seyakin itu, hah?!!”  tanyaku.

“Neo… Han saramiya, Hyora~ya. Kaulah yang paling sempurna di mataku. Kaulah oksigenku. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Jadi, untuk apa aku mencari yang lain lagi? Yang harus kau lakukan saat ini hanya percaya padaku. Lupakan saja ramalan bodoh itu…” Dia menepuk kepalaku lembut. Aku mengerjapkan mataku pelan. Sial! Disentuh olehnya seperti ini saja sudah membuatku seperti orang gila.

“Lalu bagaimana dengan yeoja itu?” tanyaku cepat. Aku tidak inign terlihat gugup di hadapannya.

“Yeoja?” Kyuhyun mengerutkan keningnya.

“Yeoja yang kulihat di Supermarket dulu. Yeoja yang memelukmu dan mengatakan bahwa dia merindukanmu? Dan kau menjawabnya juga dengan ‘na do’. Yeoja yang mengelus pipimu dan kaupun membalasnya saat di café kemarin? Dan baru saja kalian bermesraan seperti itu dan kau diam saja menikmatinya??!! Hhh…hhh…” Akhirnya kukeluarkan semua yang ada di otakku.

Ini cukup membuatku lega. Masalahnya aku menyimpan ini rapat-rapat darinya sejak kemarin.

“Huahahhahahahhaa…. Aigoo, Myeonjang~… Kau cemburu?? Aigoo… Nomu kwiopda. Jinjja… Hahahahhahaa…” Dia tidak menjawab pertanyaanku malah tertawa keras sambil mencubit pipiku.

“Ya~!!” Aku menggembungkan pipiku.

“Jadi, selama ini kau cemburu dengan hal itu? Mianhae, Myeonjang~ah…” Dia memperlihatkan senyuman mautnya itu padaku. Dan tindakannya itu langsung saja membuat tubuhku kaku seketika. Kapan sih, aku bisa bersikap normal jika dia melakukan hal itu?

End of  Hyora’s P.O.V

 

Kyuhyun’s P.O.V

“Lalu, bagaimana dengan yeoja itu?” Dia memanas.

“Yeoja?” Aku mengerutkan keningnya.

“Yeoja yang kulihat di Supermarket dulu. Yeoja yang memelukmu dan mengatakan bahwa dia merindukanmu? Dan kau menjawabnya juga dengan ‘na do’. Yeoja yang mengelus pipimu dan kaupun membalasnya saat di café kemarin? Dan baru saja kalian bermesraan seperti itu dan kau diam saja menikmatinya??!! Hhh…hhh…” Dia kehabisan nafas.

Aku berusaha mencerna tiap kata yang dia ucapkan. Yeoja? Yeoja yang mana?

“Huahahhahahahhaa…. Aigoo, Myeonjang~… Kau cemburu?? Aigoo… Nomu kwiopda. Jinjja… Hahahahhahaa…” Aku baru sadar dan segera saja tertawa sambil mencubit pipinya gemas.

“Ya~!!” Dia menggembungkan pipinya.

“Jadi, selama ini kau cemburu dengan hal itu? Mianhae, Myeonjang~ah…” Aku memperlihatkan senyuman mautku padanya.

Aku merasa lega karena ternyata Hyora cemburu dengan Daejin Nuna. Jadi, ini yang membuatnya mengacuhkanku? Aku lupa belum mengajaknya berkenalan dengan Son Daejin, yang merupakan kakak sepupuku.

“Berhenti tertawa Kyuhyun~ah!!!” bentaknya tidak sabar.

“Yeoja itu bernama Daejin Nuna. Dan dia itu sepupuku yang kuliah di London. Dia yang kau lihat di supermarket. Dia juga yang kau lihat di cafe. Dan dia pula yang tadi menyandarkan kepalanya di pundakku. Tadi aku ke sini bersama Ahra Nuna juga. Dia itu orang nya memang seperti itu. Suka memeluk dan merangkul orang sembarangan. Aku lupa mengenalkannya padamu. Kami berempat yaitu aku, Ahra Nuna, Daejin Nuna dan adiknya Dongwoon merupakan sepupu yang sangat dekat.” jelasku sambil memegang pipinya.

End of  Kyuhyun’s P.O.V

 

Hyora’s P.O.V

“Berhenti tertawa Kyuhyun~ah!!!” bentakku dengan muka merah.

“Yeoja itu bernama Daejin Nuna. Dan dia itu sepupuku yang kuliah di London. Dia yang kau lihat di supermarket. Dia juga yang kau lihat di cafe. Dan dia pula yang tadi menyandarkan kepalanya di pundakku. Tadi aku ke sini bersama Ahra Nuna juga. Dia itu orang nya memang seperti itu. Suka memeluk dan merangkul orang sembarangan. Aku lupa mengenalkannya padamu. Kami berempat yaitu aku, Ahra Nuna, Daejin Nuna dan adiknya Dongwoon merupakan sepupu yang sangat dekat.” jelasnya sambil memegang pipiku.

“Aku…Aku…” Aku tergagap. Mwo? Ja…jadi selama ini aku salah paham?

“Hei, kenapa wajahmu memerah?” goda Kyuhyun. Sial! Kenapa wajahku selalu bereaksi seperti itu kalau dia menggodaku. Aku segera melepaskan tangannya yang masih menempel di pipiku dan berjalan menjauhinya.

“Ya! Cho Hyora!” panggilnya. Aku tidak menghiraukannya. Aku terlalu malu. >////<

“Dasar kau ini. Kugoda sedikit langsung marah. Tapi, aku suka wajahmu yang memerah itu. Jangan kau tunjukkan kepada namja lain. Arasseo?” ucapannya barusan langsung membuat wajahku tambah memerah. Apa-apaan ini? Kenapa dia senang sekali menggodaku?

“Pergi kau! Jangan ganggu aku!” bentakku. Aku berjalan lebih cepat menuju tepi sungai tempat kami tercebur.

“Argh…” Aku terjatuh seketika karena berjalan terburu-buru. Ah… Kakiku sakit sekali. Sepertinya keseleo.

“Hyora.. Kau tidak apa-apa?” tanya Kyuhyun cemas. Dia memegang kakiku pelan dan aku segera meringis.

“Aish… Sepertinya kau harus kugendong. Ayo, naik ke pundakku.” ujarnya lalu berjongkok di depanku. Aku hanya diam saja. Tapi, sepertinya Kyuhyun kesal karena aku tidak segera naik ke pundaknya. Dengan segera dia mengangakat tubuhku dan menggendongku di punggungnya.

“Ah… Apa yang kau lakukan, Jangmyeon!!” bentakku.

“Yak! Jangan berteriak! Kau mau suamimu yang tampan ini menjadi tuli?” balasnya. Aish.. Masih saja dia narsisnya belum sembuh juga. =,=”

Akhirnya, aku memilih diam saja di gendongannya. Tanganku pun tanpa sadar terulur dan melingkar di lehernya. Aku menyandarkan kepalaku di punggungnya. Meskipun baju kami basah, tapi aku bisa merasakan kehangatan tubuhnya.

“Hyora~… Kau tidur?” tanyanya.

“Ani..” jawabku pelan.

“Hmmm… Dengarkan ini baik-baik karena aku tidak akan mengulangnya lagi. Aku… Entah berapa banyak yeoja cantik yang bahkan cantiknya melebihi dirimu aku tidak mungkin akan berpaling begitu saja. Kau mungkin akan menganggapku pembual kalau aku berkata seperti itu. Tapi, itulah kenyataannya. Dan jangan sekali-kali kau mendiamkanku seperti kemarin. Kau tahu? Aku sudah seperti orang gila saat kau mendiamkanku begitu saja. Jadi, jangan kau percaya ramalan bodoh itu lagi. Ara? Ah… Satu lagi… Saranghae, Cho Hyora~” ucapnya. Dan ucapan pamungkasnya itu secara langsung meruntuhkan semua perasaan raguku terhadap perasaannya terhadapku.

“Dasar… Kau ini cerewet sekali, Jangmyeon~ah…” ucapku balas dendam mencubit pipinya.

“Ya! Aku ini tidak cerewet aku hanya…”

“Na do Saranghae, Cho Kyuhyun… Saranghae…” Aku memutus ucapannya dengan kalimat itu dan mencium pipinya kilat. Dia memberhentikan langkahnya, menurunkanku dari gendongannya lalu membalikkan wajahnya. Dan entah kenapa aku melihat aura yang kurang menyenangkan dari wajahnya. Dia tersenyum licik ke arahku yang tentu saja membuat bulu romaku berdiri.

“Jinjja? Kalau begitu bagaimana kalau malam ini kita buatkan Ahra Nuna keponakan yang lucu untuknya?” Senyum evilnya langsung terkembang lebar.

“Ya! Cho Kyuhyun! Lepaskan aku! Lepaskan!!!!” Kyuhyun langsung menggendongku lagi.

End of  Hyora’s P.O.V

 

Author’s P.O.V

“Ya!! Kemana mereka??!!” Eunhyuk, Donghae dan Boram menolong Daejin yang jatuh gara-gara Kyuhyun. Ternyata sejak tadi mereka mengamati pasangan itu, bukannya beli makanan.

“Itu ke sana…palli!!!” Ahra memberi instruksi untuk mengikutinya. Mereka berempat segera menyusul Ahra.

“Otti? Otti??” tanya Eunhyuk bersemangat.

“Itu disana…” Mereka berlima berhenti agak jauh dari lokasi Kyuhyun dan Hyora. Dan tepat saat mereka sampai disitu mereka mendengar teriakan Hyora.

“Woaaaaaaaaaaaaa….” Dia menutup matanya, takut. Tubuhnya oleng ke arah depan. Tapi, tangan Kyuhyun menangkap tubuh Hyora. Namun, sialnya Kyuhyun malah ikut terbawa sehingga mereka berdua jatuh ke sungai dibawah jembatan tadi.

BYURR… Terdengar suara geburan air.

“Omo!!!” teriak Boram kaget.

“Buahahahahahhahhahahaha….” Mereka semua tertawa melihat itu. Tapi, Kyuhyun segera mengangkat tubuh Hyora dari sungai kecil itu.

“Ya! Kau ini bodoh, hah?” Suara Kyuhyun cukup keras didengar oleh mereka.

“Lihat… pasti akan seru sekali..” komentar Ahra.

“Mereka itu serasi sekali sih.. Aigoo… Aku jadi iri.” kata Daejin.

Hyora mengatakan sesuatu yang tidak bisa mereka dengar. Tapi, suara Kyuhyun itu menggelegar.

“Niga baboya?!!” Suaranya terdengar khawatir setengah mati.

“Kenapa kau mencoba melompat ke sungai tadi? Kau pikir aku akan membiarkanmu begitu saja?” ucapnya retoris.

“Kita belum mati?” tanya Hyora polos.

“Ck… Adikmu itu benar-benar deh lemotnya setengah mati…” kata Eunhyuk pada Donghae.

“Biar saja yang penting aku tidak.” jawab Donghae cuek.

“Mwo? Mati? Cish.. Aku tidak akan pernah membiarkanmu mati dan meninggalkanku sendiri. Bahkan kalaupun kau meninggalkanku aku akan pergi mencarimu sampai ke titik terjauh sekalipun.”

“Wahhhh… daebak!! Aku tidak tahu kalau Kyuhyun bisa berkata sebagus itu.” kata Daejin.

“Siapa dulu yang mengajari….” Ahra membanggakan diri.

Tiba-tiba Hyora membentak Kyuhyun. Donghae kaget sendiri mendengar adiknya membentak-bentak seperti itu. Ini baru pertama kalinya dia mendengar Hyora seperti itu.

“Dasar pembohong! Kau masih bisa berkata begitu padahal sudah jelas kalau berselingkuh di hadapanku, huh? Dan apa? Meninggalkanmu? Ya, mungkin aku akan meninggalkanmu karena emmphh empphh…”

“Mwooo!!!” Kelima orang yang menguping dan mengintip Kyuhyun dan Hyora seketika memperlihatkan ekspresi yang sama. Suara mereka tercekat, mata melebar, dan berteriak bersamaan melihat Kyuhyun yang langsung membekap mulut Hyora dengan bibirnya sebelum Hyora melanjutkan kalimatnya.

“Eonnie… Oppa… Apakah kita akan melihat pemandangan ini terus?” tanya Boram innocent.

“Ah~ i..iya… Sudah kita pergi saja… Beri mereka privacy.” usul Ahra menarik tangan Daejin.

“Eo! Aku setuju… Kaja, Boram~ah…” Kali ini Donghae yang menggiring Boram, menyelamatkan tepatnya dari hal-hal yang belum pantas dia lihat. =,=

“Ya!! Ottiga?? Aku masih ingin melihat ini… Ini seru sekali…” teriak Eunhyuk tanpa mau melangkahkan kakinya dari tempat dia berdiri dari tadi. Donghae terlihat kesal dengan ulah Eunhyuk yang super mesum itu. Dia akhirnya kembali dan menarik telinga Eunhyuk dengan semena-mena.

“Aw aw aw!! Appeooo!!Donghae~ya!! Aku masih ingin lihatttttttt…..” Eunhyuk mencoba melepaskan jeweran telinganya dari Donghae, tapi Donghae lebih kuat. Dan mereka pun pergi dari tempat tersebut.

“Hwaaaaa…Aku senang sekali, betul kan ujian kecil ini sih mereka pasti bisa melewatinya…” gumam Ahra pada yang lain.

“Mari kita rayakan… hehehehe…” sambung Boram.

“Kalian ini… Kan sedang seru-serunya…” Eunhyuk masih jengkel karena dia ditarik selagi melihat adegan live itu.

“Ya!” Donghae menjitak kepala Hyuk. Dia meringis.

“Hahahha..” yang lain tertawa.

 

Flashback

“Eo! Itu Ahra… ” kata Donghae yang langsung mengenali Ahra yang sedang masuk ke dalam café bersama seorang yeoja.

“Nugurang?(dia dengan siapa?)” tanya Eunhyuk.

“Molla…” kali ini Boram yang menjawab.

Ahra melambaikan tangannya mendekati geng cecunguk itu.

“Annyeong!! Waahhh… Semuanya sudah berkumpul rupanya….” Sapa Ahra ceria.

“Lama sekali kau..” gerutu Eunhyuk.

“Hmm… Yang penting aku sudah datang sekarang cerewet…”

“Jadi ini siapa, eonnie?” tanya Boram si maknae.

“Ah… Dia ini adalah sepupuku, Son Daejin. Dia akan bergabung ke dalam tim kita. Muahahahaha…” Ahra mengeluarkan tawa setannya. Donghae, Eunhyuk, dan Boram hanya memandang Ahra ngeri.

“Annyeong haseyo… Son Daejin imnida.” Daejin memperkenalkan dirinya.

“Ini Donghae, kakak dari Hyora…” Ahra mengenalkan.

“Annyeong haseyo, Lee Donghae imnida…” Donghae menyalami Daejin.

“Masih ingat Eunhyuk? Tetanggaku yang suka nonton yadong itu…” lanjutnya. Eunhyuk tersedak saat dia sedang minum jus jeruknya.

“Ah~ aku ingat kau… Kau yang pernah dikerjai Kyuhyun saat ulang tahun itu ya?? Huahahhaa…” Daejin tertawa.

“Ah~ aku juga mengingatmu…. Kau kan yang dulu seperti preman itu… Daejin… Humm pantas saja aku seperti pernah mendengar nama itu.. Kau berubah sekali?” ucap Eunhyuk setelah akhirnya dia mengenali yeoja di hadapannya.

“Dan ini Boram, teman baiknya Hyora…”

“Annyeong haseyo, Daejin Eonni…”

“Annyeong!!” Daejin menyapa Boram ramah.

“Oke… Baiklah kita mulai rencana kita…. Jadi, karena Hyora belum tahu Daejin maka aku minta tolong pada Daejin ini………” Lalu mulailah para cecungukers itu mengatur rencana mereka untuk Kyuhyun dan Hyora. Ditambah dua orang cecunguk baru. Maka, jadilah rencana gila mereka untuk Kyuhyun dan Hyora.

End of Flashback

——

Sementara itu, Kyuhyun dan Hyora yang lupa akan Donghae, Eunhyuk, Ahra, Daejin dan Boram menunggu di depan mobil karena mereka tidak tahu keberadaan mereka. Kyuhyun memeluk Hyora erat, takut dia sakit karena baju mereka yang basah. Yah… Setidaknya mereka bisa saling menghangatkan diri. Mereka sudah setengah jam lebih berdiri sepeerti itu.

“Untung handphoneku tertinggal…” gumam Kyuhyun.

“Dan handphoneku juga ada pada Boram… Lalu kita bagaimana? Masa mau seperti ini terus? Kau bisa sakit nanti, Jangmyeon~ah…” balas Hyora.

“Kita yang bisa sakit… Aduh, dimana sih orang-orang itu?” Kyuhyun memandang sekeliling mereka mencari sosok para cecunguk itu. Tiba-tiba Daejin muncul tiba-tiba sambil bertepuk tangan.

“Daejinie Nuna!!” panggil Kyuhyun senang.

‘Akhirnya cecunguk nomor 1 datang juga. Artinya cecunguk yang lain juga pasti akan datang’ pikirnya.

“Annyeong dul saram… Hehehehe..” dia terkekeh aneh.

“Orang ini kan yang membuatmu cemburu, Hyora?” tanya Kyuhyun. Hyora membungkukan badannya pada Daejin.

“Hahahhaa…” Daejin tertawa puas.

“Ini sepupuku Daejinie Nuna. Nuna ini istriku yang cemburu karena kau, Cho Hyora.” Kyuhyun memperkenalkan mereka berdua satu sama lain.

“Annyeong haseyo, Eonnie… Cho Hyora imnida… Pangabseumnida Eonnie..” wajah Hyora memerah karena malu mengingat kesalahpahaman dengan Kyuhyun kemarin gara-gara orang ini.

“Son Daejin imnida, pangabseumnida… Jangan khawatir, Hyora~ya… Aku tidak akan merebut namja ini darimu.” ujarnya seraya terkekeh pelan.

“Semuanya clear, kan?” tanya Kyuhyun pada Hyora. Hyora hanya mengangguk.

“Kalian hebat sekali…” komentar Daejin.

“Wae?” tanya Kyuhyun bingung.

“Chukhae…Sudah melewati ujian ini!!” kali ini ahra Nuna yang menjawab.

“Chukhae chukhae…” boram ikut keluar dari tempat persembunyiannya.

“Wahhh… Akhirnya ujian cinta yang telah kami beri berhasil terlewati… Syukurlah…” kata Donghae.

“Mwo???!!” Kyuhyun dan Hyora terkejut ketika mendengar kata-kata Donghae tadi.

“Jjamkan…. Ujian yang telah kalian beri? Apa maksudnya itu?” Hyora bertanya. Kali ini otaknya lumayan berloading cepat.

“Huhhh… Aku tak bisa melihat adegan kisseu kalian..” Eunhyuk  yang datang terakhir dengan bibir yang manyun.

“Ingatkah kalian pada ‘kalian akan bercerai…’?” Ahra menirukan suara peramal itu. Mendengar itu Kyura couple menahan nafas dan membelalakan mata.

“MWOYAAAAAAAAA!!!!!” teriak Kyuhyun.

“Ja…jadi kemarin itu…. Ulah kalian juga??” tanya Hyora tak percaya.

Kelima cecunguk itu nyengir, dan….

“KABUUUUUUUUUURRRRRR….” Intruksi Donghae.

“YA!!!!!!!!!!!!!! MATI KALIAN!!!KEMBALIIIIIIIIIIIIIIII!!” Kyuhyun mengejar kelima orang tersebut yang kini sudah lari berpencar karena takut akan kemarahan Kyuhyun.

 

*****

Finish!! Akhirnya, rampung juga. Berasa ff ini gagal banget karena mood nya kurang dapet dan apa-apaan ini?? Kenapa tiba-tiba jadi serius begini?? Mianhae buat para readers yang udah setia nunggu KyuRa Moment karena lama banget updatenya.

Bagaimana dengan chapter ini? Apakah kurang galau? Apakah kurang mesum? Apa kurang konflik? Aiyaa… Mian buat reader yang minta KyuRa buat berantem sambil marah-marah. Itu sungguh permintaan yang susah dilakukan mengingat Hyora bukan tipe yeoja yang blak-blakan. Dia kan polos seperti saya. Nyahaha.

Mian juga karena endingnya yang tidak terlalu greget. Ahhahahaha…. Okelah.. Sarap dan kripiknya..*eh, jadi ikutan si Esa Eonnie dah =3= saran dan Kritiknya gitcuuu.. Hehehe.

14 thoughts on “[KyuRa] The Oracle [part 2/END]

  1. Lmayan pnjang yah :D
    Tau ga un, aq bcA ini dri siang eh klar’a mlem #lebai. Eh tp bner. Udh sbuk sma urusan skolah mlah bca ff saia *curcol*
    Iih aq jg ska sma kyura couple. Bkin gregetan,,

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s