I’m Your Secret Admirer [part 5]

Author             : shineofshinee / getadwisaf

Main cast        : Key Shinee, Min Hyo Rin (imaginer), Hyun Jai (imaginer)
Support cast    : SHINee, etc.
Rating              : General                    
Genre              : Romance

Warning          : Kalo ada yg ga baik, jangan ditiru ya!

 

Tinggalin komen boleh dong readers!  oke, happy reading! ;D

 

 

-Hyo Rin Pov

 

“Tling tlong….. tling tlong!”, terdengar suara bel rumah menyeru, ada tamu, siapa? Malas sekali harus turun mmbukakan pintu. Sudahlah biar eomma saja yang buka.

Huaaaah…. Aku merasa sangat bosan terus berada diatas kasur. Aktivitas apa yang harus kulakukan sekarang? Kududukan tubuhku di pinggir kasur, lalu melangkahkan kaki menuju meja belajar, mencari-cari benda unik diatasnya. Tapi tak ada yang unik, hanya ada kotak berwarna pink yang sudah berdebu. Aku mengingat-ingat, kotak apa ini? Sehelai tisu kusapukan di sekitar tutup kotak yang berdebu. Aku mulai membukanya, “Ooooh!”, hatiku terasa sedih, tapi senang *galau*. “Ini kotak yang berisi surat-surat cinta, entah pemberian dari siapa. Sudah lama sekali aku tidak membukanya”, ucapku pelan dan kembali menutup kotak tersebut.

“Achimhaessali geudaewa gatayo jogeum yuchihagaecyo geuraedo nan iron gaejoheun gol…… “ [SHINee – Hana], ponselku berbunyi, ada panggilan masuk. Aku segera kembali ke kasur mengambilnya. Fyuuuuuh, hanya Hyun Jai yang menelpon, ada apalagi? Sudah bagus ia pergi dari hadapanku.

“Apa??”, jawabku mengangkat telepon darinya.

“Andwe, hanya ingin mendengar suaramu! Hehe”, ucapnya asal membuatku bergidik sendiri. Sial! Dia hanya ingin mendengar suaraku? Tak ada yang penting sama sekali.

“Well, sudahkan? Annyeong!!”, balasku mematikan teleponnya.

Tak tahu kenapa, setiap kali Hyun Jai berkata manis padaku, aku selalu merasa geli. Tapi jika Key yang mengatakan itu rasanya aku memiliki sayap untuk terbang menerobos  awan awan putih di langit. “Uuh Key, kau memang bidadaraku. Aku ingin terbang bersamamu!!”

“Telpon dari siapa? Kenapa kau terlihat kesal tadi?”, tiba-tiba terdengar suara seorang namja. Siapa? Aku segera membangunkan badanku dari tidur, melihat sekeliling kamar, tak ada seorang pun, hanya ada hembusan angin yang membuat tirai putih kamarku berterbangan dan juga membuat engsel pintu kamarku berbunyi “ngeeeekkk….”

Siapa yang tadi berbicara padaku? Seperti suara Key. Tapi tak ada siapapun disini, kecuali aku dan boneka Barbie ku yang tersandar kaku disebelah bingkai foto berisi fotoku bersama Key yang kami cetak 3 hari lalu. Jadi siapa? Tak mungkin ada Key. Atau mungkin hanya imajinasiku saja mendengar suara Key yang bertanya lembut padaku? Bisa jadi, karena aku memang sangat  merindukannya walau sedikit kesal. Fiyuuuuuh!!

Aku kembali meletakkan badan dan kepalaku diatas kasur, memiringkannya ke sebelah kanan bersebelahan  dengan sebuah meja yang diatasnya tergeletak manis kalung indah berbandul huruf H. aku segera meraihnya, menggenggamnya erat dan mendekatkan kalung itu dengan jantungku . Aaaah… pikiran dan hatiku terasa sangat tenang sekarang, aliran darahku terasa lancar sekali, dan jantungku juga berdegup normal. Benar-benar ajaib, kalung pembrian Key ini memang luar biasa, membuat segalanya indah dan tenang.

“Aku benar-benar  tak menyesal dan kecewa padamu. Karena ternyata kau begitu menyukainya!”, ucap suara tak asing di belakang punggungku. Siapa lagi yang bicara? Jangan sampai ketika aku membalikan badan, tak ada siapapun disana! Misterius!

-Key Pov

“Huuff… seharusnya semalam aku datang tepat waktu agar lelaki brengsek itu tak berani menyentuh bibir Hyo Rin. Dan juga aku bisa  melindungi Hyo Rin dari terpaan hujan yang datang tiba-tiba, jadi dia tak perlu sakit seperti ini. “Babo!!! Babo!! Babo!!”, aku memukul kepalaku sendiri dengan kepalan tangan seraya mengenakan serbet masakku. Sudahlah tak ada gunanya lagi aku menyesal, lagipula semuanya sudah terjadi. Tapi, apakah lelaki semalam itu adalah lelaki yang Hyo Rin cintai? Entahlah, aku tak peduli. Yang penting aku harus merebut hati Hyo Rin! Semoga saja bubur yang akan kubuat ini menjadi kunci hatinya untukku.

Segera kulangkahkan kaki menuju tempat dimana kulkasku berdiri. Aku mencari bahan-bahan makanan di dalammya dan mulai memasaka juga meracik bumbu dengan penuh cinta. *iiikh bahasa lo! #plakkk

“Oke, dan bubur special untuk Hyo Rin selesai!”, teriakku senang setelah melihat bubur buatanku telah rapi dan cantik di dalam sebuah rantang. Baik, aku siap menjenguknya dan juga menerima komentar tentang masakanku. Aku bergegas menuju mobil, menyimpan rantang bubur itu hati-hati di jok sebelahku duduk, dan mobil ku pun melest hingga rumah Hyo Rin.

*****

            Seorang ahjumma cantik menyambutku dengan terkejut. Paras ahjumma itu mirip sekali dengan Hyo Rin, dan hatiku berkata itu adalah Eomma Hyo Rin alias Nyonya Min.

“Annyeonghaseyo Ahjumma!”, aku menyapanya manis.

“Sebentar!”, ucapnya. “Kau! Key SHINee?”, ia menatap mataku tajam seperti tak percaya.

“Ne Ahjumma”, aku menundukan kepalaku.

“Minhae, ada apa kau kemari? Kau ingin menyanyakan alamat? Atau memang sedang salah alamat?”

“Ani…..  aku….”, belom sempat aku berkata ia langsung menyela.

“Tunggu!! Apa kau datang untuk meliput rumah juga keluargaku?”

“Andwe Ahjumma, tapi aku……..”

“Ssssttt!!! Tak baik mengobrol di depan pintu. Silahkan masuk!”

“Gamsa…”, jawabku dan segera masuk mendudukan badanku diatas sebuah sofa empuk. “Ahjumma, aku membawakan Hyo Rin bubur. Dia sedang sakit, bukan?”, aku menunjukan sebuah rantang.

“………………$&%%$^&#&%*”, wanita yang sedang mengobrol denganku mengerutkan keningnya.

“Emmm, perkenalkan aku Key, teman Hyo Rin!”, aku membungkukan setengah badanku.

“O..ooo..oooooh, kau temannya? Sejak kapan? Ia tak pernah cerita padaku. Aaaah! Anak itu!”, celetuknya. Aku hanya tersenyum.

Setelah berbincang-bicang, Nyonya  Min mengantarkanku sampai tangga dan mempersilahkanku naik untuk mengunjungi putrinya.

“Kamar Hyo Rin di sebelah kiri, naiklah!”, jelasnya padaku.

“Ne Ahjumma”

Rantang bubur ada di tangan kananku, tangan kiri yang basah berkeringat kukepal erat. Aku menaiki anak tangga, rasanya berat sekali mengangkat kaki. Jantungku berdegup kencang tak karuan. Ada masalah apa dengan jantungku? Huff, mungkin karena nervous akan bertemu Hyo Rin. Aku harus meminta maaf atas kejadian semalam padanya, dan juga menyatakan perasaanku. Anak tangga terakhir sudah berhasil kulewati. Sekarang aku benar-benar berada di lantai ke-2 rumah Hyo Rin. Kutarik napas dalam, dan menghembuskannya seraya merapikan kemeja kotak kotak merahku.

Ada pintu terbuka, sepertinya kamar Hyo Rin, karena tepat yang diberitahu  Nyonya Min bahwa kamar gadis manis itu ada di sebelah kiri. Aku segera berjalan menuju dinding di pinggir pintu. Mengintip sedikit demi sedikit, tak berani menampakkan mukaku yang masih, yeah…. Merah. Dia sedang mengangkat telepon, entah dari siapa. Tapi mukanya terlihat jutek dan kesal, begitu juga dengan ucapannya.

 

 

-Hyo Rin Pov

 

“Aaaaaaah!!!”, jeritku kencang melihat seseorang berdiri di dalam kamar ku dengan topeng ghost face, topeng yang digunakan dalam film movie ‘scream’.

“Ssssshhttt!!! Berisik!”, jawabnya berusaha menghentikanku. “Aku Key”, sambungnya seraya melepaskan topengnya. Huh syukurlaaah!!

“Key? Sejak kapan kau disini? Kau masuk tanpa seizinku!”, aku memprotes.

“Minhae, tadi kau sedang mengangkat telepon, jadi aku masuk diam-diam saja, tak enak jika harus mengganggumu”, ucapnya dengan wajah innocence.

“Baiklah, berarti suara-suara mistis tadi itu datang dari mulutmu? Huh!! Kau telah membuat bulu roma ku berdiri tegak”, tuntutku.

“Mwo? Mistis? Kau ini! Aku kan hanya berusaha membuatmu bingung”

“ Tapi kau suskes membuat aku takut. Sepertinya niatmu kesini hanya untuk menakut-nakutiku, sampai-sampai kau menyiapkan ghost face itu dari rumah, ya kan?”, aku menaikan nada suaraku.

“Ini?”, dia mengangkat topeng tadi ke depan mukaku. “Aku mengambilnya dari meja dekat tangga, dan aku tak pernah berniat manakut-nakutimu, hanya ingin mengerjaimu saja”, ia cekikikan. Sial!

“Bagaimana keadaanmu sekarang? Maafkan aku Hyo Rin aku telah membuatmu menunggu lama, dan aku malah tak datang”, ucapnya meminta maaf padaku.

 

“Ne, tak apa. Tapi kenapa kau tak datang? Membiarkanku menunggu lama hingga aku merasa bosan?”

 

“Minhae, semalam aku dan yang lain ada urusan dengan management kami. Kukira hanya sebentar, tapi ternyata hingga jam 8 malam. Sebenarnya aku datang ke taman setelah pertemuan itu, berharap kau masih disana menungguku. Tapi ternyata tak seorang pun yang menantiku di tengah-tengah serbuan hujan. Yaah aku tahu, kau pasti sudah bosan berdiri disana sendirian”. Benarkah kau datang? Atau jangan-jangan kau melihat kejadian itu? Dan sekarang berpura-pura tak tahu. Aaah!! Aku tak mau hal itu terjadi.

“Jadi, kau datang? Mian, seharusnya aku tak pergi”, aku merasa sangat bersalah sekarang.

“Sudahlah, tak usah menyalahkan dirimu! Ini semua aku yang salah” , katanya duduk di pinggir kasurku dan meletakkan telapak tangan kanannya di atas dahiku.  “Ehmm, kau masih panas”

“Yaa begitulah, tadi pagi aku sempat pingsan”

“Kenapa tidak pergi ke dokter? Atau perlu kuantar?”, tanyanya sok peduli.

“Ini hanya sakit biasa, besok aku pasti sudah sembuh”

“Syukurlah kalau begitu. Emm, aku membawakan ini untukmu!”, Key mengangkat sebuah rantang di hadapanku.

“Apa itu?”

“Ini? Ini bubur special untukmu, aku yang buat sendiri”, Key mambuka rantangnya dan memberikan sendok padaku.

“Baiklah, akan kucoba. Tapi, aku haus. Bisakah kau ambilkan minum diatas meja kamarku?”, telunjukku mengarah ke atas meja belajar.

 

-Key Pov

“Yang manakah? Disini ada 2 gelas”, tanyaku ketika hendak mengambilkan minum untuknya. “Yang sebelah sana Key! Tepat di sebelahkotak berwarna merah itu”, jawabnya antusias. Aku segera menyeret gelasnya, tapi pikiranku terpaku seketika kepada kotak berwarna merah itu. Rasanya tak asing, aku tahu kotak itu, tapi apa?

“Ini”, kuserahkan gelas yang kuambil pada Hyorin, lalu kembali pada meja belajarnya. “Em, ini kotak apa?”, tanyaku menunjukan kotak tadi. “Itu hanya kotak biasa”, jawabnya setelah menegukan gelas. “Eh, jangan di bu……….”, belum sempat ia berkata aku sudah membukanya. “Kau masih menyimpan semua ini?”, teriakku reflek pada Hyo Rin ketika melihat isi kotak tersebut. “Mwo?”, Hyo Rin terlihat bingung melihat tingkah dan mendengar ucapanku yang seperti orang terkejut. Oh God! aku terlalu senang sampai-sampai kelepasan.

“Ani, aku hanya kaget melihat kau menyimpan kertas-kertas lusuh ini yang sepertinya tidak penting untuk kau simpan. Memang darimana ini semua? Kenapa tertulis kata ‘saranghae’ di setiap kertasnya? Ini dari secret admirermu yaa?”, candaku sedikit serius.

“Ish kau ini! Kenapa dibuka hah? Itu kan barang pribadi milikku, seharusnya kau izin dulu tadi sebelum membukanya? Untung saja kau bukanya pelan-pelan, jadi kertasnya tak berhamburan kemana-mana”

“Memang kenapa kalau kertasnya jatuh dan berserakan?”, aku menaikan nada suaraku.

“Bisa-bisa kertasnya hilang, padahal itu sudah kusimpan bertahun-tahun, aku sangat menjaganya, jadi aku tak mau kertas-kertas itu sampai hilang, arasseo?”, Hyo Rin terlihat kesal.

Hyo Rin tak mau kertas-kertas itu sampai hilang? Kenapa? Sepertinya ia sangat cinta dengan kertas kertas lusuh itu. Andai saja dia tahu, yang memberikan kertas-kertas itu padanya sedang ada di hadapannya sekarang, kira-kira apa yang akan dia lakukan. Aku menatap Hyo Rin, membayangkan wajahnya ketika ia masih anak SMU dan menerima kertas-kertas tak jelas di bawah loker mejanya setiap hari. “Key? Kenapa kau menatapku seperti itu? Senyam-senyum tanpa alas an”, tiba-tiba suara Hyo Rin membuyarkan ingatanku.

“Ha? Andwe! Well, ayo makan buburnya!”, jawabku rusuh meletakkan kotak tadi asal-asalan di pinggir meja hingga tersengar suara benda jatuh. Ups, apa itu? “Key!!! Kau menjatuhkan jam tanganku!!”, omel Hyo Rin seperti orang naik darah. Aku segera mengambil benda yang terjatuh tadi. Tapi pikiranku teringat sesuatu ketika melihat jam berbentuk setengah hati yang baru saja kujatuhkan. Tanganku merogoh saku celana, mengambil sebuah jam yang selalu kubawa kemanapun. Tanpa berpikir panjang, aku segera menggabungkan kedua jam tangtan tadi. Pas! Bentuk hati, ini adalah jam yang kuberikan pada Hyo Rin pada saat sweet seventee- nya. “Jamnya……”, ucapku. “Ada apa dengan jam ku? Rusak?”, nada suara Hyo Rin terdengar panic. “Ani, jam nya lucu sekali”, aku menyunggingkan sedikit senyum di wajah. Segera kumasukan jam tanganku ke dalam saku, lalu berjalan menuju Hyo Rin.

“Sepertinya kau jarang sekali menggunakan jam ini. Daripada tidak terpakai, lebih baik aku saja yang menggunkannya!”, candaku membuat mukanya tampak serius.

“Mwo? Jangaaaaan!! Ini jam kesayanganku”, dia menarik jam yang ada di genggamanku.

“Kesayangan? Memangnya kau sudah mengorbankan apa untuk mendapatkan jam tangan itu?”

“Ini pemberian. Ada yang memberikannya pada hari sweet seventeen-ku. Entah siapa yang menghadiahkan ini, tapi barang berwarna soft pink ini tergeletak begitu saja dengan terbungkus kertas kado rapi di dalam loker mejaku”.

“Jinca? Mungkin orang itu juga yang mengirimkan kertas-kertas sampah tadi”, aku berbasa-basi. Padahal di balik semua ini adalah tanganku di 3 tahun yang lalu.

“Kupikir juga seperti itu, dan aku ingin sekali bertemu dengan orang yang telah memberikan hal-hal romantic ini padaku”. Romantic? Hyo Rin bilang ini romantis? Hemm, ini membuat semangatku menggebu-gebu untuk mengatakan cintaku padanya.

“Well, sekarang kau harus mencicipi bubur buatanku! Ini”, aku menyerahkan rantang bubur padanya.

“Ne”, jawabnya manis dan mengangkat kepalanya untuk bersandar  pada bantal yang lumayan besar. Tangannya meraba-raba tutup rantang, mencari jalan untuk membukanya. Aliran darahku tiba-tiba terasa deras. Pikiranku terfokus pada rantang. Kenapa aku jadi gugup?

“Wow!”, Hyo Rin bergumam, matanya berbinar-binar kagum sudah seperti melihat surge. “Kau benar-benar membuat ini sendiri?”, dia mengernyitkan kening seakan tak percaya padaku.

“Ne, aku membuatnya khusus untukmu. Bagaimana?”, jawabku diakhiri pertanyaan grogi. “Indah sekali Key!”, matanya menatap terus ke dalam rantang.

“Gamsahamnida Hyo Rin…. Gambar wajah yeoja dan namja itu hanya kubuat dengan potongan-potongan nori. Sedangkan bentuk hati aku buat dengan irisan wortel, tadinya aku ingin membentuk hati itu dengan selai strawberry, tapi khawatir rasanya tidak keruan, jadi kuurungkan saja ideku. Jadi, makanlah buburnya! Jangan hanya sekedar diperhatikan!”

“Aku tahu, masakan Umma Key pasti enak”, pujinya dan menyendokan bubur ke dalam mulut.

“Kau tahu Hyo Rin? Wajah namja di bubur itu adalah aku, dan yeoja itu adalah kau. Aku sengaja membuatnya”, dan inilah kata awal untuk menarik hatinya. Tapi tiba-tiba ia terdiam sejenak, sendok yang tadinya akan dicelupkan ke dalam bubur, ia letakkan di sebelahnya. Lalu wajahnya menatap wajahku. Mata kami pun bertemu hingga sempat berpandangan lama. “Ada yang salah?”, tanyaku menghangatkan suasana yang tiba-tiba mendingin.

“Eeem…eem…..ani”, jawabnya terbata-bata sambil menyerok bubur dengan sendoknya. Aku menatap wajahnya yang kebingungan dan sepertinya grogi, lalu ada yang berbisik di kupingku, “Lakukan sekarang!”. Akhirnya kubulatkan keyakinan untuk mengatakan tentang isi hatiku.

“Hyo Rin….. Saranghae!”

To be continue….

 

2 thoughts on “I’m Your Secret Admirer [part 5]

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s