Dandelion #9 (Why, Baby? Sequel Edition)

L~ balik!!!!! udah lama nunggu ya? kkk

ini udah part 9 berarti tinggal 1 part lagi, ditunggu ya… kalo dandelionnya selesei, projet baru L~ castnya infinite… hayooo siapa yg suka ngacung semua ^^

 

sebelumnya…

#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8

Dandelion #9 (Why, Baby? Sequel Edition)

Special Changmin PoV

…lost in love…

Aku menggigit bibir bawahku. Sakit? Tidak. Aku sudah kebal. Tetapi aku belum pernah melihat mereka seperti itu di depanku. Berlebihan.

Lagi-lagi kulihat mereka berciuman, bahkan mungkin kali ini mereka akan melakukannya karena mereka sudah melepas baju masing-masing. Kulangkahkan kakiku perlahan meninggalkan apartemennya, berjalan menuju mobilku.

“Berbahagialah, jebal…” lirihku. Kupejamkan mata lelahku dari kenyataan pahit yang membebaniku. “Jika tidak aku bisa gila karena kalian…”

***

“Thailand?”

Yunho hyung mengangguk. Pagi ini wajahnya terlihat berseri-seri. Tentu saja, karena kemarin baru saja dia berbaikan dengan kekasih yang dicintainya, dan kucintai juga. “Manajer hyung belum memberitahumu? Mereka memberikan kita waktu libur satu minggu. Aku dan Sojung akan berlibur ke Thailand.”

“Oh…”

“Kau mau ikut?” tanyanya.

Aku diam sejenak. Ikut dengan mereka pergi ke Thailand… Sama saja dengan menaburi garam dalam lukaku. “Tidak, hyung. Ini saat yang tepat untuk kalian bersama-sama.”

“Arasseo. Lalu kau akan kemana?”

Aku menggeleng. “Molla. Pulang kampung?” jawabku sekenanya. “Aku merindukan orangtua dan adikku.”

***

Aku berubah pikiran. Kusuruh manajer hyung membelokkan mobilnya ke arah bandara. Aku ingin pergi ke Jepang. Sepertinya menyendiri disana saat ini lebih baik. Menenangkan diri, atau sekadar berjalan menikmati angin malam mungkin akan memberikan ketenangan.

“Permisi.” Kataku pada seorang wanita yang sudah duduk di kursi sebelahku.

Perempuan di sebelahku itu diam saja. Dia terlihat menangis karena pundaknya bergetar. Sesekali kudengar dia terisak, menggumamkan sebuah nama seseorang lirih. Karena tidak mau mengganggunya, aku segera duduk dan mengeluarkan iPodku.

Tetapi perempuan di sebelahku itu tidak henti-hentinya menangis, dan aku merasa tidak tega. Melihatnya menangis seperti itu, mengingatkanku pada Sojung noona ketika hubungan kami diketahui oleh Yunho hyung. Menangis seperti orang gila karena kehilangan seseorang yang dicintainya. Mungkin perempuan di sebelahku ini tidak seberuntung Sojung noona yang bisa mempertahankan hubungannya dengan Yunho hyung.

Kukeluarkan sebuah sapu tangan dari balik jas abu-abuku, dan memberikannya kepadanya. “Nona, untuk mengusap airmatamu.”

Dia mendongak. Entah mengapa aku merasa mengenal perempuan itu.

Ditatapnya sapu tangan dariku sayu. “Terimakasih.” Lalu menangis lagi.

Ah, seandainya saja perempuan itu tidak menangis. Dia pasti perempuan yang cantik.

***

Pesawat yang kutumpangi sudah sampai di Jepang. Aku membereskan barangku, bersiap untuk turun. Tetapi perempuan di sebelahku itu masih tertidur. Mungkin karena sudah lelah menangis, dia tertidur entah sejak kapan. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri sehingga tidak memperhatikannya.

Aku menggoyangkan lengannya pelan, membangunkannya. “Permisi, nona. Kita sudah sampai.”

Dia terbangun. Mengerjapkan matanya sejenak, kemudian memandangku. “Benarkah? Ah, aku tertidur!”

Suara seraknya terdengar sangat merdu di telingaku. Aku benar merasa mengenalnya. Tetapi siapa dia? Aku masih belum mengingatnya.

Dia berdiri. Mengusap mata sembabnya perlahan. “Maafkan aku… Aku merepotkan…” Dia memandangku sejenak. “Changmin oppa?”

***

“Apa kabar, Jung?”

Kami berjalan dengan langkah kecil-kecil, menikmati Jepang sore hari. Tidak. aku tidak mengira akan bertemu dengannya –lagi- di saat-saat seperti ini. Seseorang yang dulu selalu saja mengekorku kemana pun aku pergi, sampai ketika dia harus meninggalkan rumahnya untuk pindah ke Busan karena bisnis keluarganya semakin membaik dan berkembang pesat di sana.

Jung Minah. Gadis kecil yang sangat menyebalkan di masa kecilku yang dulu. Sangat menyebalkan! Ternyata dia masih mengenaliku. Atau, dia tahu aku karena aku terkenal? Aku tidak tahu. Yang kutahu, sesaat setelah dia melihatku, dia langsung mengenaliku dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tanganku.

Dan kurasa, dia telah banyak berubah…

Jung mengangguk. “Oppa masih ingat? Ketika aku setiap hari menunggu oppa keluar dari rumah, dan mengikuti oppa sampai di kelas? Oppa menyuruhku pergi tetapi aku tidak mau karena menganggap oppa dan aku adalah satu jiwa.”

Aku tersenyum. Kenangan itu… Bagaiman bisa aku melupakannya? Dia adalah sosok menyeramkan yang selalu menghantuiku. “Tetapi sekarang kau pasti sudah menemukan jiwamu yang lain, kan?”

Tiba-tiba dia berhenti.

“Ada apa?” tanyaku perlahan. Aku melihat raut mukanya yang berubah. Mata sembabnya mulai berkaca-kaca, bersiap mengeluarkan airmatanya lagi. “Jung… Ada apa? Apakah aku berbicara sesuatu yang salah?” aku khawatir. Mengapa dia tiba-tiba menangis?

Ah! Bodoh! Rutukku. Bukankah sejak perjalanan menuju Jepang, dia menangis tanpa henti?

Aku menyentuh pundaknya perlahan. “Aku bisa jadi pendengar yang baik, Jung.” Kataku. Ya, aku bisa. Meskipun aku sendiri sedang terluka…

Jung mengambil napas dalam-dalam. Dengan menahan tangisnya dia mulai menceritakan semuanya kepadaku. “Aku mencintainya, sangat. Tetapi aku membiarkan dia pergi, aku yang melepaskannya.” Airmatanya akhirnya menetes. “Tidak, aku tidak bermaksud melepaskannya. Hanya saja aku menyayangi keduanya. Unni, dan dia, aku menyayangi keduanya. Jika aku tidak melepaskannya untuk unniku, aku akan menjadi dongsaeng yang jahat dan keras kepala…”

Air mata itu… Aku tidak sanggup melihatnya!

“Merelakan kekasih yang kau cintai untuk menikah dengan kakakmu. Melihat mereka berdua berciuman dan mengikat janji di gereja yang seharusnya itu adalah kau dan dia, bukan kakakmu dan dia. Bulan madu bersama di tempat yang seharusnya kau dan dia, bukan kakakmu dan dia. Tinggal di rumah yang sama yang seharusnya itu adalah rumahmu dan dia, bukan rumah kakakmu dan dia sedangkan kau hanya menumpang.” (Baca: 1, 2)

Tunggu. Aku belum mengerti. Maksudnya, seseorang yang dicintainya menikah dengan Sera, kakaknya?

“Junhyung… Dia terlalu manis untuk dilupakan.”

Ah, benar. Kekasihnya yang bernama Junhyung itu menikah dengan kakaknya, Sera.

Tapi, sebentar. Mengapa sepertinya aku mengalami hal yang sama?

Kekasihku, orang yang sangat aku cintai melebihi diriku sendiri, menikah dengan kakakku. Aku akan hadir dan menyaksikan hal tersebut, kemudian entah tinggal bersama atau tidak. Apakah aku bisa?

Aku tersenyum masam. Di sebelahku, gadis yang selalu mengekor kemana pun aku pergi ketika kami masih kecil, merasakan kesakitan itu terlebih dahulu. Dia terlihat sangat tersiksa. Apakah aku juga akan seperti itu? Kesakitan dan tersiksa.

“Sepertinya kita memang benar satu jiwa, Jung.” Kataku lirih. “Cepat atau lambat… Aku akan merasakannya juga.”

“Maksudmu?”

“Aku pergi ke Jepang untuk menenangkan diri juga. Dari seseorang yang kucintai, tetapi dia akan menikah dengan kakakku…”

***

Sudah hari terakhir waktu liburanku di Jepang. Ketika berada di sini, aku tinggal bersama Jung di sebuah rumah kecil yang katanya adalah rumahnya di Jepang untuk 6 bulan ke depan. Bisa jadi untuk selamanya, jika dirasa Jepang adalah tempat yang baik untuk memulai sebuah kehidupan yang baru.

Beruntungnya, ketika aku disini tidak ada yang mengenaliku sebagai seorang Shim Changmin, anggota TVXQ!. Jika ada, satu saja. Mungkin tidak akan ada kata “menenangkan diri” untuk kami berdua. Aku dengan fansku, dan Jung dengan ingatannya tentang Junhyung. Karena meskipun dia sudah berada di Jepang, aku masih sering melihatnya melamun.

Bagaimana denganku nanti?

“Mengapa tidak tinggal di Seoul, Jung?” tanyaku. Saat ini aku sedang membereskan barang-barangku. Aku harus segera kembali ke Korea.

Jung menggeleng lemah. “Aku dan dia mempunyai rumah di Seoul, oppa. Ketika kami masih SMU. Kami tinggal bersama.”

“Benarkah?” aku sedikit tidak percaya. “Bagaimana bisa? Kau… Pasti mengikutinya kemana pun dia pergi!”

Jung tersenyum kecil “Benar. Aku mengikutinya hingga rela meninggalkan Busan.” Jung berdiri, beranjak dari tempat duduknya menuju ke arahku. Dibantunya aku yang sedang berkemas. “Sudah, jangan bicarakan kakak iparku lagi.”

Aku tersenyum kecil. Kupandangi wajahnya yang semakin hari semakin menirus. “Aku ingin mengetahui alasan mengapa Tuhan mempertemukan kita lagi di saat kita ingin menenangkan diri dari luka masa lalu.”

Jung mendongak. “Setelah kau tahu alasan Tuhan?”

“Apa pun itu… Kuharap sesuatu yang baik.”

***

Aku melambaikan tanganku padanya, hantu masa kecilku itu. Bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini, benar-benar seperti melihat masa depanku nantinya. Ah, semoga aku bisa melewatinya.

“Oppa harus kuat dan tegar ketika melihatnya menikah dengan kakakmu. Oppa pasti bisa.”

Aku mengangguk pelan. “Terimakasih.”

“Jika oppa tidak bisa… Datanglah ke rumahku di sini. Aku akan membuat oppa kembali bersemangat!”

Bodoh. Dia benar-benar perempuan yang menyebalkan. Bagaimana dia bisa mengembalikan semangatku jika dia sendiri tidak bisa melupakan kakak iparnya itu?

“Oh! Oppa, menunduk! Ada sesuatu di kepalamu!” perintahnya.

Refleks aku memegang kepalaku. “Ada apa?”

Tangannya menyentuh lenganku, menariknya agar segera menunduk. Aku tidak bisa menolak. Segera setelah aku menunduk, dia mengusap kepalaku lembut. “Kotor. Mungkin ketika oppa membenarkan lampu kamar tadi.”

Sesaat aku merasakan sengatan listrik ketika dia mengusap kepalaku, membersihkan kotoran tersebut. Seperti terbius olehnya. Membuat hatiku tenang, karena sebelumnya aku sangat-sangat gugup dan tidak nyaman, harus kembali pada kenyataan bahwa Sojung noona wajib untuk dilupakan.

Dia masih membersihkan entah apa itu di kepalaku, membuatku tetap berada pada posisi dimana wajahku dan wajahnya kurasa semakin lama semakin dekat.

Tiba-tiba aku ingin menciumnya.

“Mi… Mianhae…” kataku sejenak, sebelum mendaratkan bibirku di bibir mungilnya lembut.

Cup.

***

Bruak!

“Apa-apaan ini, bocah kecil? Siapa gadis ini? Mengapa kalian berciuman di bandara, hah?”

Manajer hyung benar-benar marah setelah melihat fotoku dan Jung berciuman di bandara Jepang, sebelum aku kembali ke Korea beberapa hari yang lalu. Aku tidak tahu siapa yang mengambill foto tersebut. Benar-benar ceroboh!

Sial.

Aku tidak tahu mengapa aku menciumnya. Menyukainya pun tidak. Sekarang? Bahkan kasus ini sepertinya akan berbuntut panjang, karena harus berurusan dengan Jung dan keluarganya juga.

“Dia…”

Aku belum sempat melanjutkan perkataanku ketika Yunho hyung memotongnya. “Hyungnim… Jangan terlalu dipermasalahkan. Bukankah dulu aku dan Sojung juga berciuman di rumah sakit dan menjadi bulan-bulanan media?”

Plak!

Manajer hyung memukul kepalaku. “Jadi ini alasan mengapa kau memutuskan pergi ke Jepang, tidak ke kampung halamanmu, hah?” tanyanya geram. “Kalian berdua memang sama saja!”

Aku menunduk, tidak berani menatap hyungnim. Alibiku tidak terlalu kuat untuk membela diri. Apa mungkin aku mengatakan bahwa sebenarnya aku pergi ke Jepang untuk melupakan Sojung noona? Apa mungkin aku mengatakan aku menciumnya karena aku ingin saja?

Yunho hyung menepuk pundakku, membuatku tersadar bahwa hyungnim sudah meninggalkan kami beberapa menit yang lalu. “Good job!”

“Apanya, hyung?” aku tidak mengerti.

“Dia cantik.”

Aku mendengus. “Dia bukan siapa-siapaku, hyung!” kataku kesal. “Dia hanya gadis menyebalkan yang menganggapku adalah jiwanya saat kami masih kecil!”

“Lalu? Mengapa kalian berciuman?”

Aku terdiam. “Ingin saja.” Jawabku jujur. “Aku tidak tahu mengapa.”

Yunho hyung tertawa. “Bodoh! Kenalkan aku padanya!”

Aku tersenyum sinis.

***

“Maaf.”

Ya, maaf. Aku hanya bisa meminta maaf pada Jung saat ini. Karena kecerobohanku menciumnya, keinginannya untuk menenangkan diri tidak terlaksana dengan baik. Aku mengacaukannya. Saat ini dia tidak hanya harus memerangi dirinya dan kakak iparnya, tetapi orang-orang di sekitar dan wartawan yang terus mencarinya dimana pun dia berada.

Maaf, Jung.

“Mengapa oppa menciumku?” kalimat pertama yang diucapkannya setelah hampir satu jam kami berdiam diri di kafe ini. Aku hampir menjawab “Aku tidak tahu, sungguh!” ketika ponselnya berbunyi. “Yeobseo?”

Aku memperhatikan raut wajahnya yang entah mengapa sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dariku. Sesuatu yang dia sendiri sebenarnya tidak mempercayainya, dan tidak menginginkannya. Sesuatu tentangku.

“Changmin oppa? Dia di sebelahku.” Jung menyerahkan ponselnya ke arahku. “Omma.”

Aku mengerutkan dahiku. Kuterima ponsel Jung dan menyapa Nyonya Jung dengan sedikit perasaan tidak enak. “Yeobseo.”

***

Apa-apaan ini?

“Changmin-gun… Akhirnya kita bisa bertemu lagi. Bagaimana kabarmu? Ibu senang kau dan Minah bisa dekat seperti saat ini. Tadi ibumu menelepon, dan sangat senang juga kalian bersama lagi. Kau tahu? Kami sudah menjodohkan kalian dulu, ketika masih kecil. Tetapi karena kami pindah, kami membatalkan perjodohan tersebut. Ternyata kalian memang tidak bisa terpisahkan, ya? Datanglah ke Busan bersama orangtuamu. Mari kita bicarakan rencana pertunangan kalian yang tertunda dulu! Kau mengerti?”

“Kau sudah mengetahui rencana orangtua kita?”

Jung mengangguk pelan. “Baru saja. Ketika akan berangkat ke sini. Ibu yang meneleponku.”

Aku terkejut. “Omma?”

Jung mengangguk lagi, mengiyakan. Dia segera mengambil segelas alkohol dan meminumnya cepat. “Oppa… Kau harus menolaknya. Bagaimana bisa kita menikah tanpa cinta?”

Aku tahu bagaimana perasaan Jung saat ini. Dia pasti sangat tertekan. Ini terlalu mendadak, dan tiba-tiba. Bagaimana dia harus menghadapi pernikahan kekasih dan kakaknya, bagaimana dia ingin bertahan dan melupakan semuanya tetapi tanpa sengaja kami bertemu, bagaimana dia menghadapi serangan wartawan dan fans yang selalu memburunya karena aku menciumnya di bandara, dan bagaimana dia menghadapi kenyataan bahwa orangtua kami menjodohkan kami. Ini terlalu berat untuk dilaluinya.

Tunggu. Bagaimana denganku? Bukankah aku dalam keadaan yang tertekan dan terluka, sama sepertinya?

Atau, lebih menyedihkan…

Karena aku tidak akan bisa menghindari Sojung noona seperti Jung menghindari kakak iparnya dengan pindah ke Jepang. Aku tidak akan bisa menangis seperti dilakukan Jung di pesawat, karena semua orang mengenaliku. Aku tidak akan bisa terlihat lemah dan lelah meskipun aku merasakannya ketika berada di depan fans.

Aku harus selalu tersenyum, meskipun aku terluka.

“Arasseo,” jawabku lemah. “Tapi… Aku ingin meminta bantuanmu…”

***

Kugenggam tangannya erat, berjalan menuju dorm TVXQ!. Aku ingin semua selesai secepatnya. Karena itu aku akan mengenalkan Jung pada manajer hyung dan Yunho oppa, mengatakan bahwa Jung adalah kekasihku. Setelah gosip ini berlalu beberapa waktu, aku akan mengatakan bahwa kami sudah tidak berhubungan lagi.

Aku membuka pintu dorm pelan. “Aku pulang.”

Seseorang berjalan mendekati kami. “Oh, Changmin-ah!”

Suara seorang perempuan. Perempuan yang membuatku merasakan kebahagiaan dan kesedihan sekaligus. Perempuan yang hampir membuatku gila. Perempuan yang membuat hatiku berdegup kencang meskipun hanya mendengar suaranya saja.

Sojung noona.

Tanpa sengaja aku menggenggam tangan Jung semakin erat. “Oh, Noona. Dimana hyungnim?”

“Sedang keluar sebentar.” Jawabnya. Tiba-tiba pandangannya mengarah ke Jung. “Oh, dia…”

Aku melihatnya, Sojung noona. Dia terlihat sedikit terkejut ketika melihat Jung di depannya, dan melihat tanganku yang menggenggam tangan Jung dengan erat. Aku melihatnya, Sojung noona. Dia terlihat sedikit tidak percaya dengan apa yang terjadi di depannya, sehingga dia tidak mengedipkan matanya sama sekali.

“Jung Minah. Seseorang yang selama ini berada di pemberitaan-pemberitaan.”

Tiba-tiba Yunho hyung datang. Dia mengalungkan tangannya di pundak Sojung noona mesra. Membuat degup jantungku semakin kencang. “Oh! Kekasihmu itu?”

“Tidak, dia tunanganku.” Jawabku tegas. “Jung, kenalkan. Yunho hyung, kau pasti sudah mengenalnya. Dan ini…” aku menunjuk ke arah Sojung noona. Mengambil napas dalam-dalam, lalu berkata. “Dia kakak iparku.”

***

“Cantik.”

Kami sedang berada dalam perjalanan menuju Busan saat ini. Setelah mengadakan pertemuan dengan manajer hyung dan mengatur jadwal konferensi pers tentang kejadian tersebut, aku mengantarkan Jung pulang ke Busan. Akan lebih baik jika aku mengantarkannya daripada dia pulang sendirian. Lagipula di dorm ada Sojung noona… Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya.

Dia memang cantik, Sojung noona. Jika tidak, bagaimana bisa aku dan Yunho hyung mati-matian memperebutkannya? Tapi pada akhirnya aku yang kalah, dan Yunho hyung yang menang.

Ah, tidak. Sejak awal aku sudah tahu bahwa aku akan kalah.

“Oppa…”

Aku tersenyum. Aku tahu saat ini Jung mengkhawatirkanku, karena dia tahu dia lebih beruntung daripadaku dengan statusnya sebagai orang biasa. “Gwaenchana…” jawabku. Aku berusaha agar terlihat tegar di depannya.

Jung tersenyum. Dia mengelus pundakku pelan. “Jika kau merasa tidak baik-baik saja, datanglah padaku. Arasseo?”

Aku mengangguk pelan. Aku tahu Jung memang benar bisa diandalkan. Sangat beruntung aku mengenalnya, meskipun dulu aku sangat membencinya. “Mau kubantu juga?”

“Bantu apa?”

“Membuat kakak iparmu cemburu.”

Jung tertawa. “Tidak, terimakasih. Aku sudah berencana untuk melupakannya secepatnya. Oppa juga! Kau harus melupakan Sojung unni secepatnya!”

“Pasti.”

Memang sudah seharusnya aku melupakannya. Sojung noona, dan segala kenangan tentangnya harus segera pergi dari ingatanku. Aku harus mengusirnya dari hatiku juga.

Mungkin sekarang memang masih seperti ini. Aku masih merasakan sakit, aku masih merasakan lemah ketika berada di dekatnya. Tetapi, aku percaya ini akan cepat berlalu. Aku percaya dengan berjalannya waktu, aku akan bisa melupakannya dan menemukan seseorang yang lain yang lebih pantas mendapatkan cinta berhargaku ini, kemudian hidup berbahagia selamanya.

Selamat tinggal, Sojung noona. Terimakasih telah membuat hari-hariku penuh dengan kebahagiaan. Terimakasih telah mengenalkanku pada cinta, dan terimakasih telah mempertemukanku dengan Jung lagi.

Sepertinya aku berubah pikiran. Aku ingin memulai kehidupan percintaanku dari awal, bersama Jung.

-lost in love, END-

8 thoughts on “Dandelion #9 (Why, Baby? Sequel Edition)

  1. Masih ada 1 part lagi kan? Uwwww Changmin bahagia juga yaaa sama Jung u,u
    Mungkin memang mereka sebenernya 1 jiwa? Kkk Changmin bahkan kyk kena aliran listrik ><
    Bagus author! walaupun lama di post tapi oke bangeeeet kkk :D

  2. kya onnieeee

    ending nih? Miapa????

    ya intinya semuanya happy ending ^^

    tapi ada beberapa typo tadi di atas

    ku tunggu karya dbsk-mu yg lainnya onn^^

  3. kayaknya part berikutnya changmin nerima pertunangan nh hhehhe ^^

    ff ini udh ku tunggu sampe lumutan nh ,, akhirnya posting juga

  4. kyaaaa…akhirnya changmin menemukan pengganti buat soojung…
    kasiankan changmin patah hati mulu ma soojung-yunho
    saya ud nunggu lama bgt tp ffnya ttp memuaskan….

  5. seneng y akhir y changmin di ketemuin sama cwe lg si jung itu,,, walaupun blm saling suka berharap nanti mereka saling cinta…..
    author gmn klo buat ff ini versi changmin nerusin kisah changmin n jung minah n kehidupan nikah mereka kyk nikah krn di jodohin n buat konflik si junhyunh cemburu pasti seru………….
    Lanjut…….

  6. hehehehehe… kerennn…
    pengennya sih jung gak bisa move on dari junhyung. gabisa gitu ya thor?? #Plakk #abaikan
    part selanjutnya jangan lama lama yaaa :D:D:D author semangaatttt!!! :D

  7. huaaaa

    akhir na publish juga ne ff

    aq kra da ga bakal publish lgi
    ayo thor lanjut satu chap lagi

    akhirnya cangmin happy ending jg.
    td na smpt ngenes jg liat nasib cangmin

    ayo thor fighting
    happy ending ya..

  8. asyiiiikkkk.. :P\)

    akhiirnyaa dii posst,, :) akhirnya changmin dapatin jodohnya juga.. moga bahgia dengan jung ya,,,

    ehh gantiian doong jadi changmin yang ngejar2 juung,,, hahaha
    iihh kucu2…
    penasarann sama Yunhoo n sojuung deh,, :)) gmna lanjutannya.. d tunggu the last chap na.. :)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s