You’re Just Too Nice and I Hate It [Side Story]

Author: Kei

Main cast: Lee Donghae, Choi Siwon, Lee Hyori, Park Hyera

Support cast: Park Hyera, Lee Haejin

Rating:

Genre: Romance

Ps:

It’s me Kei and I’m back again.

And now, Hyori will be back with her original pair.

Hope you’ll like it. Don’t forget to comment n silent readers are welcome ^^

And this is the side story

*SIWON POV*

“Disini.” Kataku sambil melambaikan tangan pada laki-laki yang sedang berjalan ke arahku. Dia adalah Lee Donghae, tunangan Hyori. Karena kudengar hubungan mereka belum bisa kembali seperti sedia kala karena kesalah pahaman sore itu maka kuputuskan untuk sedikit membantu sahabatku ini walaupun dia sudah menolaknya mentah-mentah. Kau akan berterima kasih padaku, girl.

“Sudah lama?” Tanya Donghae sambil menarik kursi dan mendudukinya.

“Belum, aku baru saja sampai. Silakan pesan.”

“Ada apa?” tanyanya sedikit tidak sabaran. Mungkin dia berpikir beribu alasan mengapa aku menelponnya dan mengajaknya makan siang.

“Aku dengar kalian belum berbicara semenjak sore itu?” tanyaku hati-hati.

“Maaf, tapi itu bukan urusan anda.”

“Memang bukan urusan saya. Tapi karena ini berhubungan dengan saya, maka inipun juga merupakan urusan saya.”

“Terserah anda saja kalau begitu.”

“Yang Hyori katakan sore itu semuanya benar. Kami hanya bersahabat dan apa yang anda dengar sore itu hanya ungkapan kasih sayang antara sahabat.” Kataku mencoba menjelaskan dengan perlahan. “Sore itu saya tidak berkata apa-apa karena saya takut akan merusak suasana sehingga membuat kesalah pahaman ini semakin besar.”

“…”

“Han Hyera, pacar saya bukan merupakan perempuan seperti Hyori yang bisa dikonfrontasi langsung. Dia membutuhkan timing yang tepat sehingga bisa berpikir secara kepala dingin dan tidak salah paham. Itulah alasan saya langsung membawanya pergi dari restorant.”

“…”

“Dan setelah itu saya menjelaskan semuanya padanya. Awalnya dia masih belum bisa menerima tapi setelah beberapa lama kemudian, dia bisa menerimanya.”

“Selamat kalau begitu.”

“Saya menelpon Hyori kemarin dan dia bilang kalau kalian belum bisa menyelesaikan kesalah pahaman tersebut.”

“Ini urusan kami dan saya kira sebaiknya anda jangan ikut campur.” Kata Donghae mulai tidak nyaman dengan suasana percakapan yang kami bangun.

“Saya tidak mengerti apa yang menganjal anda, Donghae-ssi.” Kataku cukup formal. Semoga dia bisa menganggap perkataanku serius. “Sebelum saya pulang ke Korea, saya kira kalian merupakan pasangan yang saling mencintai. Anggap saja semua ini kerikil kecil di jalan menuju kebahagian pernikahan kalian.”

“Tapi semua itu tidak semudah kelihatannya, Siwon-ssi.”

“Saya sedikit tidak mengerti. Bisakah anda menjelaskannya pada saya.”

“Memang kami merupakan pasangan yang saling mencintai. Tapi saya menemukan beberapa perubahan sikap Hyori dan terima kasih pada Tuhan yang menempatkan saya di taman sore itu untuk mendengarkan apa yang perlu saya dengar.” Katanya. Dari caranya berbicara terdengar serat keterlukaan yang coba ditutupi dengan berlagak sok kuat. Ah, khas seorang laki-laki.

“Saya tidak tahu perjalanan cinta kalian secara detil dan bagaimana kalian bisa sampai bertunangan karena Hyori tidak membicarakan beberapa hal pribadinya pada saya. Tapi satu hal yang bisa saya yakinkan kepada anda adalah Hyori sangat mencintai anda.” Kataku sambil menyesap minumanku. “Saya bisa melihat dari pandangan mata, mimik wajah, dan sikapnya setiap membicarakan tentang anda ataupun hubungan kalian, walau saat ini kalian sedang berada tidak dalam kondisi hubungan terbaik kalian.”

“…”

“Dia terlihat bahagia hanya dengan membicarakan anda dan mimik wajah seperti itu tidak pernah saya lihat sebelumnya walaupun itu saat kami berpacaran.”

“Berpacaran?” tanyanya lirih.

“Iya. Aku kira Hyori sudah pernah menceritakannya pada anda. Kami dulu bertemu sewaktu kuliah. Aku adalah sunbae-nya. Kami dekat setelah menjadi panitia acara kampus dan lalu kami berpacaran sewaktu aku lulus. Tidak berapa lama kemudian kami putus dan akhirnya kami kembali berteman sampai sekarang. Pernikahan anak dari direktur Cho merupakan kali pertamanya kami bertemu setelah aku pulang dari studiku di luar negeri.”

“Oh.”

“Dan sore itu, Hyori dan aku hanya memastikan perasaan kami bahwa tidak mungkin ada cinta sebagai seorang laki-laki pada seorang perempuan. Yang ada hanyalah rasa cinta sahabat. Itu saja.”

“Aku tidak tahu.”

“Atau jangan-jangan semua yang pernah di beritahu Hyori benar adanya tentang anda yang kembali pada mantan pacar anda. Siapa nama perempuan yang pernah aku dan Hyori temui tempo hari di café?” tanyaku sambil mengingat-ingat nama perempuan itu. “Haejin? Iya, kurasa nona Haejin. Jadi benar? Anda hanya menggunakanku agar bisa membatalkan pertunangan kalian?”

“Maaf tuan Siwon. Tapi anda sudah kelewat batas.” Kata Donghae geram.

“Lalu apa alasan anda tidak mempercayai penjelasan Hyori?”

“Saya rasa saya membutuhkan waktu untuk memikirkan segalanya.”

“Let me help you with that. Ingatlah segala detil perjalanan cinta kalian. Mulai dari pertama kali kalian bertemu sampai saat ini. Ingat-ingat bagaimana Hyori selalu mewarnai kehidupan anda sebelumnya.”

“…”

“Satu hal yang membuat saya penasaran.” Tanyaku hati-hati. “Bolehkah aku bertanya sedikit?”

“Silakan.” Katanya sambil membenarkan letak duduknya.

“Bagaimana bisa Hyori tahan bepacaran dengan anda?”

“Maksud anda?”

“Dari yang saya dengar, anda itu king of flirt dan juga baik pada semua perempuan.” Kataku dengan nada hati-hati takut kalau dia akan tersinggung. “Sejauh ingatan saya, Hyori tidak menyukai laki-laki bermulut manis dan tidak memperhatikan dirinya.”

“Kalau menurut anda begitu, kenapa tidak anda tanyakan langsung padanya?” jawab Donghae terganggu. Great, aku sudah menyinggungnya. Bodoh kau, Choi Siwon. Runtukku dalam hati.

“Maaf kalau saya menyinggung anda, Donghae-ssi. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus bersikap dalam situasi seperti ini.” Terangku sambil menggaruk kepala. “Mungkin lebih baik anggap saja aku sebagai mesin pencari jawaban yang bisa anda tanyai tentang Hyori.”

“Hmm, menarik.” Jawab Donghae. Terlihat sebuah lengkungan di ujung atas bibirnya. “Anda mencintai Hyori?”

Wow, what a strong question.” Jawabku kaget dengan pertanyaan pertamanya.

“Jadi?”

“Saya dulu mencintainya sebagai seorang laki-laki pada perempuan. Tapi setelah kejadian sore itu saya bisa dengan jelas mengatakan bahwa saya mencintainya sebagai sahabat.”

“Maksud anda, sebelumnya anda masih mencintainya sebagai laki-laki pada perempuan?”

“Iya. Saya tidak pernah menceritakan ini pada siapapun tapi tujuan utama saya pulang ke Korea adalah mengambil Hyori dari tangan anda dan menyudahi hubungan saya dengan Hyera.” Jawabku sambil memandang wajah Donghae. Terlihat sirat kekhawatiran di wajahnya. ”Tapi karena pembicaraan kami sore itu, saya jadi tahu bahwa dia tertekan dan tidak menjadi dirinya sendiri sewaktu kami berpacaran dulu dan rupanya sampai sekarang dia masih menyalahkan dirinya karena saya tidak mempunyai pacar setelah berpacaran dengannya.”

“…”

“Setelah itu saya kembali berpikir tentang semuanya. Tentang saya, Hyori, Hyera, dan segalanya. Sampai saya akhirnya bisa menata hati dan berpikir dengan kepala dingin tentang perasaan saya. Yang saya temukan adalah rasa sayang yang selama ini saya pikir adalah rasa cinta pada Hyori telah berubah menjadi rasa sayang padanya sebagai seorang sahabat. Rasa cemburu saya sewaktu Hyori berpacaran dengan anda bahkan bertunangan adalah perasaan seorang sahabat yang tidak ingin kehilangan perhatian sahabatnya. Saya tidak suka kenyataan kalau saya tidak sepenting itu untuknya. Kalau anda telah menggantikan tempat saya. Kalau telpon dan pesan anda lebih penting dari telpon dan pesan saya. Bagaimana mood anda mempengaruhi Hyori begitu besar sehingga dia bisa bersikap menyebalkan pada saya walaupun saya tidak melakukan kesalahan sama sekali.” Kataku sambil memandang ke arah langit yang terlihat dari jendela restoran. “Kekanak-kanakan memang. Tapi saya rasa semua itu wajar mengingat bahwa hubungan kami sangat dekat dulu. Hyera lah yang telah menggantikan kedudukan Hyori di hati saya sehingga saya tidak merasa terluka sewaktu mengetahui bahwa Hyori sangat mencintai anda.”

“…”

“Begini saja. Bagaimana kalau saya bisa meyakinkan anda kalau Hyori memang hanya memikirkan anda dan mau melakukan apapun untuk anda?” kataku memecah keheningan (lagi) yang tercipta setelah pengakuan kecil tadi.

“Maksud anda?”

“Pilih saja outfit yang anda ingin Hyori pakai pada double date kita di taman bermain.” Kataku dengan senyum cerah. “Sesuatu yang mungkin tidak Hyori suka.”

“Memangnya apa artinya kalau dia memakainya?”

“Oh, ayolah Donghae-ssi. Masa anda tidak tahu?” tanyaku tidak percaya. Jadi inikah king of flirt itu? Kataku dalam hati.

Outfit yang complimentable sama dengan pujian. Pujian sama dengan perhatian. Perhatian sama dengan anda masih mencintainya walaupun ditengah masalah yang ada sehingga terbuka kesempatan untuk membicarakannya.”

“Aaaah, I got it!” jawab Donghae setelah mendengar penjelasanku. “Saya rasa ide anda lumayan juga.”

“Kalau anda setuju, mungkin sekitar hari rabu minggu depan kita akan double date dan kita lihat apakah rencana saya berhasil.”

“Baiklah kalau begitu.”

“Kalau begitu tolong senin anda mengirimkan outfit yang anda inginkan ke kantor saya.” Kataku sambil menyerahkan kartu bisnisku padanya.

**

“Jadi outif seperti ini yang tidak disukai Hyori?” kataku sewaktu membuka sebuah tas kertas berwarna coklat tua yang asisten Donghae titipkan ke sekretarisku sewaktu aku rapat tadi.

Aku menemukan sebuah dress oranye pucat sederhana dengan sebuah pita di bagian perutnya. Bahannya ringan tapi tidak tembus pandang. Dengan wedges berwarna coklat tua dan akses oranye di bagian pinggirnya. Wedges ini mungkin disukai Hyori karena dia sangat tergila-gila dengan heels walaupun dia termasuk perempuan yang tinggi. Tapi wedges ini tingginya lebih dari tujuh senti. Aku ragu Hyo mau memakainya untuk berjalan-jalan. Dia hanya memakai heels maksimal lima sentinya untuk kegiatan sehari-harinya, walupun dia punya heels dua belas senti yang hanya dipakainya sesekali untuk pesta. Dia bilang melelahkan memakai heels lebih dari lima senti lebih dari empat jam.

Aku bisa membayangkan Hyori memakainya. Dia akan terlihat cantik dan feminim, tapi hanya untuk dua jam pertama dan itupun indoor tidak outdoor. Dia sangat senang dengan taman bermain dan pasti dia sangat tersiksa dengan dress yang membuatnya harus menjaga sikap.

“Oh Kim Hyori, kau harus memakai semua ini dan berterima kasih padaku karena telah membuat hubungan kalian membaik”. Kataku sambil tersenyum dan memikirkan cara agar Hyori mau memakainya.

**

*Hyori POV*

“Oh, Hyera onnie.” Kataku kaget dengan kedatangan Hyera di kantorku siang itu. “Ada apa? Siwon tidak sedang bersamaku kok.”

“Hahaha, aku kemari tidak untuk mencarinya. Aku ingin bertemu denganmu.” Jawabnya ramah sambil duduk di kursi yang ada di depan mejaku.

“Ada apa?” Tanya sambil mendorong laptopku sedikit ke kanan karena mengganggu pandanganku ke arahnya.

“Aku tadi habis berbelanja dan menemukan sesuatu yang cantik. Aku jadi memikirkanmu dan datang kemari.”

“Dan benda apakah itu?” tanyaku bingung.

“Ini.” Katanya smabil menyerahkan sebuah tas kertas coklat tua.

Aku membuka tas tersebut dan mengeluarkan isinya. Sebuah dress oranye pucat dengan sepasang wedges coklat tua. “Wow, terima kasih onnie. Tapi ini semua untukku?”

“Iya, Hyori. Pakailah saat double date kita. Kau pasti cantik dan Donghae-ssi pasti akan menyukainya.”

“Masalah double date itu, onnie.” Kataku sambil menggigit bibir bawahku. “Aku belum bisa menjawabnya karena Donghae belum membalas pesanku.”

“Tenang saja, dear. Biarkan Siwon yang mengurusnya. Yang harus kau lakukan adalah memakai pakaian itu besok rabu dan ikut dengan kami.”

“Tapi onnie. Kalau dia tidak datang berarti kita hanya akan bertiga dan aku akan menjadi kambing congek.” Rajukku. “Lebih baik dibatalkan saja ya.”

“Bilang sendiri pada Siwon dan aku bertaruh pasti dia tidak suka ide itu. Sudahlah, berjanjilah padaku kau akan memakai itu besok rabu.”

“Memangnya kita mau double date dimana sih?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Tampaknya usahaku merayu Hyera tidak akan berhasil. Lebih baik aku merayu Siwon saja agar membatalkannya.

“Aku tidak tahu tempatnya. Tapi menurut Siwon kau akan cocok dengan pakaian itu disana.” Katanya tersenyum centil.

Onnie, kalau ini acara outdoor dan lebih dari empat jam aku rasa aku tidak akan memakai wedges ini.” Kataku sambil menunjukkan wedges itu. “Ini akan membuat kakiku sakit dan dress membuatku bersikap manis.”

“Kau tidak mau bersikap manis di depan Donghae-ssi?”

“Mau sih, tapi karena aku sedang kesal padanya jadi aku tidak mau. Lagipula kalau memang aku tidak bisa menikmati date nya kenapa aku tidak menikmati tempatnya saja?”

“Ada apa?”

“Aku melihatnya mengabaikan telponku dan meneruskan mengobrol dengan foxy girl itu kemarin siang. Mereka terlihat mesra dan perempuan itu sengaja menggodanya.” Jawabku kesal. “Dan bodohnya Donghae malah merespon segala rayuannya itu seolah-olah mereka memang berpacaran.”

“Masalah kalian belum selesai ya?” Tanya Hyera sambil mengikat rambutnya.

Aku hanya menjawab dengan gelengan dan senyuman. Aku tahu pasti Hyera onnie sudah mendengar segalanya dari Siwon dan aku rasa percuma saya aku menjelaskan segalanya.

**

*SIWON POV*

“Aku rasa rencana kita berhasil, jagi.” Kataku pada Hyera sewaktu kami berjalan ke arah parkiran mobil.

“Iya.Kau tahu dari tadi aku melihat Donghae-ssi mencuri-curi pandang pada Hyori. Mereka terlihat lucu.” Jawab Hyera sambil memakai seat beltnya. “Hyori juga melakukan hal yang sama. Tapi satu hal yang aku suka adalah sikap Donghae-ssi yang tetap cool.”

“Iya. Aku juga daritadi memperhatikan sikap mereka. Bagaimana Hyori mencoba untuk bersikap semanis mungkin di depan Donghae. Hampir saja aku tertawa karena perubahan sikapnya.” Kataku menyetujui pernyataan Hyera. “Kau lihat bagaimana wajah Donghae sewaktu kita datang? Aku sepertinya melihat kepuasan di senyumannya.”

“Ah jadi itu tadi bukan aku yang salah lihat. Tapi Donghae-ssi memang benar-benar tersenyum bahagia menyambut kedatangan kita. Dia juga daritadi berjalan perlahan sambil memperhatikan Hyori. Menjaganya dari kejauhan. Seperti seorang ayah yang menjaga anak perempuannya yang baru bisa berjalan.”

“Semoga saja setelah ini Donghae dan Hyori bisa memanfaatkan kesempatan yang kita berikan untuk menyelesaikan masalah mereka.”

“Aku suka dengan mereka dan aku berharap mereka tidak mengakhiri pertunangan mereka.” Kata Hyera sambil tersenyum lebar. “Oh ya Jagi, kau tahu nona Haejin? Perempuan yang membuat Hyori cemburu?”

“Aku hanya pernah bertemu dengannya sekali. Memangnya kenapa?”

“Seperti apa sih perempuan itu?”

“Cantik. Dia bisa menjadi artis kalau dia mau.”

“Oh, lalu apakah kau tahu alasan mengapa Hyori tidak bisa menyingkirkan perempuan itu?”

“Aku tidak begitu tahu. Tapi Hyori selalu berkata kalau Donghae itu bersikap baik pada semua perempuan dan hal itu dimanfaatkan oleh Haejin untuk memutuskan hubungan mereka. Hyo bilang dia sudah berulang kali membicarakannya dengan Donghae, tapi Donghae tidak pernah berubah.”

“Aku tahu bagaimana perasaannya Hyori.” kata Hyera sambil menggangguk.

“Maksudmu aku seperti itu?” tanyaku sambil mengerutkan kenaing dan mengingat-ingat kelakuanku selama ini.

“Kau tidak merasa seperti itu kan? Kau itu seperti Donghae-ssi. Tidak pernah merasa bersikap berlebihan pada perempuan tapi sebenarnya kalian itu bersikap terlalu ramah dan baik pada perempuan lain.” Jawab Hyera. Kali ini dia duduk menghadapku yang sedang menyetir. “Aku tahu itu adalah bagian dari sifat gentleman mu. Tapi tidak bisakah itu disimpan hanya untukku?”

“Hahahaha. Jadi kau cemburu juga seperti Hyo?” tanyaku sambil tertawa.

“Iya dan aku juga seperti Hyo-mu itu yang tidak suka kalau kau melihat perempuan lain.”

Arasso, na halke.” Jawabku sambil mengambil tangan Hyera dan menaruhnya di pipiku. Oke, I’ll do it

**

*Donghae POV*

Film horror yang dipilih Hyori memang sungguh mengerikan. Film ini sebenarnya perpaduan antara film pembunuhan dan hantu yang bergentanyangan menuntut balas. Kenapa sih perempuan ini suka dengan genre film seperti ini? Kenapa dia tidak suka dengan film romantic yang penuh dengan kebahagian dan ciuman saja? Pikirku dalam hati.

Saat ini kami sedang duduk di sofa apartement Hyori untuk menonton film horror setelah menyelesaikan sedikit kesalah pahaman yang terjadi pada hubungan kami. Tadi dia ke apartemenku untuk mengambil syal yang tertinggal tetapi sialnya adalah dia bertemu dengan aku dan Haejin yang sedang mengerjakan proyek bersama. Seperti yang terjadi di drama-drama, Hyori dengan segera meninggalkan apartemenku dengan prasangka yang salah sehingga akupun mengejarnya. Setelah dia melampiaskan segala kekesalannya, kamipun akhirnya bisa menyelesaikan kesalahpahaman itu.

Simple? Memang. Itulah kami, permasalah percintaan kami tidak seruwet bola wool milik kucing Heechul hyung ataupun tidak seperti corak membingungkan di celana pendek milik Eunhyuk yang dibelinya sewaktu berlibur ke Perancis. Aku cukup bersyukur dengan hubungan kami itu walaupun banyak orang yang meremehkannya dan menganggap kalau hubungan kami tidak dewasa. Memangnya kalau mempunyai hubungan yang lebih complicated bisa menjamin kalau hubungan tersebut akan bertahan lama? Tidak ada yang bisa menjaminnya kan?

Kalian pasti bertanya-tanya apa yang bisa membuatku berubah pikiran disaat kemarin-kemarin aku keras kepala dengan pendapatku bahwa Hyo mempunyai hubungan dengan Siwon, kan?

Ini semua kurang lebih berkat Siwon yang menemuiku siang itu. Dia yang membuatku untuk memikirkan lagi esensi hubungan kami. Awalnya sih aku masih tidak menggubris perkataannya. Tapi setelah tidak ada kontak dengan Hyori hampir satu bulan dan kalaupun ada juga hanya seperlunya telah membuatku menderita. Aku seperti Dokgo Jin (dari drama Greatest Love) yang butuh di charge dan charger ku adalah dia. Aku merindukan suaranya dan aku butuh untuk melihat wajahnya. Aku suka segala sesuatu yang ada padanya. Aku suka usahanya untuk membuatku memujinya. Aku suka bagaimana dia membuatku mengambil inisiatif dan membiarkanku mengontrol dirinya –dalam term kata yang bagus- tetapi dalam waktu yang sama aku tidak merasa superior terhadap dirinya. Yang paling penting adalah aku merasa nyaman berada dekat dengannya dan dia pun juga merasa nyaman berada dekat denganku.

Aku telah memikirkan hubungan kami ini. Mungkin lebih baik kami segera menikah agar membuat Hyori tenang dan having faith in me or this relationship. Aku tidak bisa begitu saja mengubah sikapku pada orang lain terutama perempuan, tapi aku yakin kalau Hyori pasti mengerti dan reward untuk itu adalah dengan menjadikannya milikku sehingga dia bisa menenangkan hatinya bahwa aku hanya miliknya seorang.

**

*AUTHOR POV*

Terlihat seorang laki-laki yang sedang duduk di sebuah sofa berwarna abu-abu konservatif di sebuah toko di kawasan elit Gangnam. Dia melihat-lihat sebuah majalah sekenanya hanya untuk menutupi rasa senang yang membuncah di hatinya karena dia sedang menunggu sebuah benda yang membuatnya tidak berhenti tersenyum membayangkan reaksi calon empunya barang tersebut. Tiba-tiba seorang perempuan berbaju rapi kuning cerah dan memakai rok hitam mendatanginya sambil memberikan sebuah kotak kecil berwarna hitam yang terbuka dengan sebuah cincin berwarna perak berbentuk kupu-kupu kecil dengan taburan batu swarofski berwarna-warni yang membuat cincin tersebut berkesan lively dan edgy.

It’s so Hyori. Katanya dalam hati sambil tersenyum dan mengangkat cincin itu di udara.

“Ini pesanan anda tuan.”

“Terima kasih. Ini seperti yang saya minta?” tanyaku memastikan tidak ada detil yang terlewatkan.

“Iya tuan. Cincin kupu-kupu dengan taburan batu swarofski warna-warni dan tulisan 사랑해효 (Saranghaehyo).”

**

 

SELESAI ^^

Maksudnya Saranghaehyo itu adalah dari Sarangheyo DonghaeHyori

Tags: Choi Siwon, Lee Donghae

18 thoughts on “You’re Just Too Nice and I Hate It [Side Story]

  1. uwwoooooow~ siwon baik banget deehhhh!!!
    aku seneng bgt chingu, haehyo baikan, tp kok gk smpe ada scene nikah sih? pdhl aku nunggu” lhooo~ but it’s ok. yg penting HAPPY END! :D

  2. omo……sweet~
    nyuukk….mau jg dong gue digituin kek Hyo :D

    haha, Donge mantep ya julukan.a~
    King of Flirt!
    nyahahahahahahaaa.. Itulah donge :P

  3. aku suka banget sama jalan ceritanay, terdengar sangat logis, irasional, masuk akal, dan gak menye menye…….gak ada air mata tumpah dimana-mana. contoh perempuan tegar
    terus bikin cerita2 yang lebih bagus lagi ya. good job ^^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s