You’re Just Too Nice and I Hate It [part 6/END]

Author: Kei

Main cast: Lee Donghae, Choi Siwon, Lee Hyori, Park Hyera

Support cast: Park Hyera, Lee Haejin

Rating:

Genre: Romance

Ps:

It’s me Kei and I’m back again.

And now, Hyori will be back with her original pair.

Hope you’ll like it. Don’t forget to comment n silent readers are welcome ^^

 

Sementara itu Donghae hanya berdiri di sampingnya dan terdiam memandangi antrian orang.

**

“Hyera, aku harus segera pulang karena appa membutuhkanku.” Kata Siwon setelah menutup telpon.

“Ada apa?” Tanya Hyera panik.

“Tidak ada. Hanya masalah perusahaan. Appa membutuhkanku sekarang.” Kata Siwon lagi. Kali ini dia memandang Hyori yang duduk di sampingnya. “Hyo, aku harus pulang sekarang. Appa membutuhkanku.”

“Oh, oke. Aku bisa pulang sendiri kok. Lagipula arah rumahmu kan berlawanan arah dengan apartemenku.” Jawab Hyori sambil tersenyum.

“Donghae, maaf merepotkanmu. Tapi bisakah kau mengantar Hyori pulang? Aku ada urusan mendadak.”

“Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.” Tolak Hyori sebelum Donghae menjawabnya. “Sudah sana cepat pulang.”

Donghae hanya tersenyum saat Siwon dan Hyera meninggalkannya dan Hyori di bangku itu.

“Kau tidak perlu mengantarkanku pulang. Aku bisa pulang sendiri dengan bis.”

“Dengan baju basah dan kecepatan jalanmu yang seperti kura-kura itu kau bisa sampai di halte bis nanti malam.” Katanya tenang.

“Bukan urusanmu.” Ucap Hyori sambil memakai wedgesnya kembali dan bersiap pulang.

Hyori berjalan menuju pintu keluar sementara Donghae berjalan perlahan di belakangnya. Hyori terlihat sangat tersiksa dengan wedgesnya karena caranya berjalan yang aneh. Sampai akhirnya Hyori memutuskan untuk mencopot wedgesnya dan berjalan tanpa alas kaki. Kakinya sedikit berjinggit karena paving block yang panas akibat sengatan matahari.

“Ayo naik.” Kata Donghae yang tiba-tiba sudah berjongkok di depan Hyori.

Hyori menghiraukannya dan berjalan melewati Donghae.

“Cepat naik sebelum kulit kakimu mengelupas karena kepanasan.”

“Bukan urusanmu.” Kata Hyori ketus.

Donghae lalu berjalan ke depan Hyori dan kembali berjongkok. “Ini urusanku karena sekarang kau menjadi tanggung jawabku. Aku tidak mau dipandang orang lain sebagai lelaki yang kejam karena membiarkanmu berjalan tanpa alas kaki. Jadi cepat naik.”

“Tidak mau.”

Dengan tiba-tiba Donghae berdiri dan menggendong Hyori di depan dada yang membuat Hyori menjerit kaget. “Turunkan aku, bodoh.”

“Jadi kau mau aku menggendongmu seperti ini. Baiklah.” Kata Donghae sambil berjalan.

“Baiklah, gendong aku di belakang saja. Daripada seperti ini.” Kata Hyori mengalah. Donghae menurunkannya dan berjongkok di depannya.

Hyori naik di punggung Donghae dan mengalungkan kedua tangannya di leher Donghae. Tangannya penuh dengan tas dan wedgesnya.

Sial, kenapa jantungku jadi berdebar dengan kencang? Semoga dia tidak bisa merasakannya. Umpat Hyori dalam hati, wajahnya saat ini bersemu merah jambu pada kedua pipinya. Itulah sebenarnya alasan mengapa Hyori tidak mau digendong oleh Donghae -selain karena harga dirinya tentu saja-. Tapi sekarang yang terjadi adalah dia berada di punggung Donghae. Nyaman dan terasa sangat pas, sepertinya memang punggung Donghae diciptakan khusus untuknya.

**

“Kau mau es krim?” tawar Donghae saat mobilnya melewati kompleks pertokoan dekat taman.

“Boleh.” Kata Hyori.

Mobil Donghae berhenti tidak jauh dari taman tersebut. Mereka berjalan ke sebuah kedai es krim dan mereka pun duduk di kursi taman yang menghadap ke sebuah taman bermain anak-anak. Mereka duduk terdiam sambil menghabiskan es krim.

Tiba-tiba Donghae melepaskan kemejanya dan memberikannya pada Hyori. “Pakai ini.”

“Aku tidak merasa kedinginan.”

“Jadi kau ingin memamerkan badanmu pada orang-orang?” Tanya Donghae dengan pandangan tajam. “Pakai!”

“Aku tidak suka cara orang-orang menatapmu.” Katanya lagi tanpa mengalihkan tatapannya pada arena bermain itu.

“Memangnya kenapa? Kurasa aku cantik dan terlihat feminim dengan dress dan wedges ini.” Kata Hyori sambil melihat wedges coklat yang bertengger manis di kedua kakinya itu. Dan menyakitkan tentu saja, but no pain no beauty. Imbuh Hyori dalam hati.

“Kau tidak melihat bagaimana dress mu yang basah itu memamerkan bentuk badanmu?” Tanyanya protektif.

“Oh ya? Aku rasa tidak. Bahan dress ini cukup tebal walaupun terlihat ringan.”

“Pakai!!” Perintah Donghae dengan penekanan disetiap suku katanya sehingga Hyori merasa penolakannya akan berujung dengan sia-sia.

Hyori mengambil kemeja itu dan memakainya. Memang sekarang bajunya menjadi aneh dengan kemeja kotak-kotak biru dan dress oranye pucat sebagai dalamannya.

“Kau tahu, lebih baik kalau kau memakai dress ini pakai saja sneakers. Aku rasa hal itu sedang ngetren. Aku kemarin melihat sepupu Haejin memakainya, daripada kau memakai hak tinggi itu.”

“Oh, kalau begitu aku tidak akan memakainya.” Jawab Hyori kesal. Aku tidak akan memakai sesuatu yang berhubungan dengan Haejin, Lee Donghae.

“Aku selalu merasa bingung dengan para perempuan yang bersedia menderita hanya demi penampilan.”

“Itu semua demi ilusi kecantikan sempurna yang diciptakan oleh-oleh orang-orang di majalah fashion. Mereka bisa dengan mudah membuat sesuatu yang old fashion seperti gladiator dan wedges menjadi tren lagi hanya dengan menaruhnya di halaman majalah mereka.” Jawab Hyori sambil mengerucutkan sedikit bibirnya.

“Hanya demi itu saja? Kecantikan sempurna?”

Well mostly. Tapi kadang mereka melakukannya hanya untuk mendapatkan pujian dari orang sekitarnya.” Kata Hyori sambil berpikir. Dan aku ingin kau memujiku, bodoh.

“Lalu kau sendiri?”

“Menurutmu?”

“Kau ingin orang-orang melihatmu sebagai perempuan yang keren, selalu up to date,  dan cocok dengan segala fashion.”

“Jadi itu dipikiranmu?” Tanya Hyori tidak percaya dengan pendengarannya. “Aku sudah kenyang. Ayo pulang.”

“Tapi es krimku belum habis.”

“Kalau kau tidak mau pulang sekarang, aku akan pulang sendiri.” Kata Hyori kesal dan beranjak dari kursi taman.

“Tunggu…” kata Donghae meraih tangan Hyori dan memaksanya untuk duduk lagi.

“Apa? Sudah cukup kau menghinaku?”

“Aku tidak bermaksud melakukannya.”

“Lalu? You got my nerves, sir. So better if we stop it.”

“…”

Keheningan mengisi menit-menit yang berlalu. Hanya ada suara lidah Donghae yang beradu dengan stik es krimnya yang belum habis. Hyori duduk terpaku melihat anak-anak yang dihampiri oleh para orang tuanya untuk pulang karena sudah sore. Ada beberapa anak yang langsung mau pulang, tetapi ada dua anak yang merengek tidak mau di ajak pulang. Bahkan salah satunya ada yang menangis sehingga ibunya harus menggendongnya pulang.

Hyori tersenyum melihat anak yang menangis itu sedang dibujuk untuk diam oleh ibunya. Si ibu dengan segala cara menyogok anak kecil itu untuk diam. Sang anak kecil menangis sambil menunjuk pada kedai es krim yang ada di sebrang jalan. Si ibu menyetujuinya dan mengajak anak itu untuk membeli es krim sebelum mereka pulang.

Nomu kyeopta.” Ucap Hyori tanpa sadar.

“Ha?”

“Anak kecil itu. Nomu kyeopta.” Jawab Hyori sambil meregangkan tubuhnya. “Ayo pulang sudah sore.”

**

“Ah, sial. Dimana aku menaruh syal itu ya?” Tanya Hyori monolog. Dia sudah mencari keseluruh sudut lemari bahkan apartemennya untuk mencari syal kesayangannya itu. Syal yang diberikan oleh ibu Donghae itu merupakan syal favorit Hyori. Bukan karena orang yang memberinya tapi karena warna dan coraknya yang cocok dengan segala macam baju-baju yang dipunyai Hyori.

“Kurasa tertinggal di apartemen Donghae waktu itu.” Kata Hyori lagi. Saat ini dia mengambil ponselnya dan mencoba menelpon Donghae menanyakan keberadaan syalnya itu. Sayangnya teleponnya tidak dijawab sehingga dia memutuskan untuk mengirim pesan bahwa dia akan mampir ke apartemennya untuk mengambil syal tersebut.

Sesampainya di apartemen Donghae, Hyori menekankan jarinya pada sebuah kotak perak yang ada di dinding dekat pintu masuk apartement Donghae. Menjadi tunangan Donghae membuatnya mempunyai kode rahasia apartemennya begitu pula dengan Donghae yang mengetahui kode rahasia apartemennya.

Hyori memasuki apartemen Donghae dengan kerutan di dahinya. Dia melihat sepasang sepatu kerja berwarna merah dengan heels tidak kurang dari tujuh senti dan disampingnya ada sepatu kerja milik Donghae. Siapa yang datang? Tanya Hyori dalam hati.

Hae-ya, aku tidak bisa menemukan garam. Kau taruh dimana sih?” Terdengar suara manja seorang perempuan dari arah dapur. “Kau belanjanya lama sekali sih? Oh, kau!”

“Mana Donghae?” Tanya Hyori singkat sambil tersenyum dingin pada perempuan yang memakai celemek itu.

“Dia sedang membeli sesuatu di mini market depan.”

“Aku hanya sebentar. Aku mencari sesuatu.” Kata Hyori sambil mulai mencari syalnya. Ruang tengah itu tampak sedikit berantakan dengan dua buat laptop yang hidup dan beberapa kertas yang tercecer di dekatnya.

“Haejin-ah, aku tidak bisa menemukannya. Tapi lihat apa yang ku dapat? Es krim favorit kita dulu.” Kata Donghae sambil menenteng belanjaannya dan tersenyum riang.

Haejin membalas senyuman Donghae dengan jarinya yang mengarah pada Hyori yang berdiri menghadapnya. Donghae yang kebingungan hanya mengerutkan keningnya sambil melihat apa yang ditunjuk oleh Haejin.

Hyori tersenyum terpaksa sambil berkata, “Maaf aku mengganggu, tapi aku mencari syalku yang kurasa tertinggal disini. Aku tadi sudah memberi tahu mu melalui telpon dan pesan. Seharusnya kau membalasnya sehingga aku tidak mengganggu makan malam romantis kalian.”

“Kalau kau sudah menemukannya silakan pergi karena pekerjaan kami belum selesai.” Kata Haejin angkuh. Terdengar serat kesombongan dalam pertanyaannya itu. Dia tidak merasa sebagai pihak ketiga yang membuat hubungan Donghae-Hyori renggang.

“Aku tidak bisa menemukannya disini. Mungkin tertinggal di kantor.” Jawab Hyori kesal. Dia berjalan ke arah pintu. “Maaf mengganggu, silakan lanjutkan.” dan berjalan pergi.

“Hyori, tunggu!!” kata Donghae sedikit terlambat karena pintu apartemennya telah tertutup. “Ah, sial!” runtuknya.

“Hyo, tunggu.” Katanya lagi sewaktu melihat Hyori menekan tombol di lift. Tepat sebelum pintu lift yang akan membawa Hyori turun tertutup, Donghae berhasil menyelusup masuk. “Kita harus bicara.”

“Bicara apa lagi?” Tanya Hyori. “Semuanya sudah jelas. Kau kembali dengannya.”

“Itu tidak seperti kelihatannya. Kami hanya menyelesaikan beberapa pekerjaan.”

“Oh ya? Baiklah aku percaya.”

“Tidak. Kau tidak benar-benar percaya.” Kata Donghae merajuk dan menekan tombol berhenti di panel lift yang menyebabkan lift tersebut berhenti.

“Ya!! Kau gila?” kata Hyori panik.

“Kau harus mempercayai kata-kataku.” Kata Donghae meyakinkannya. “Atau aku akan membiarkannya berhenti.”

“Kita bisa membicarakanya di luar lift.” Tawar Hyori sambil tersenyum kecut. Dia kaget dengan keputusan Donghae yang menekan tombol berhenti itu.

“Tidak. Nanti kau pasti akan langsung kabur.”

“Tidak akan. Aku kan bukan kau yang suka menghindar.” Kata Hyori sambil memandang mata Donghae meyakinkannya. “You have my word.”

**

Mereka terduduk di pinggir kolam renang yang ada di lantai bawah apartemen Donghae. Hyori memecahkan keheningan dengan berkata, “Aku harus pergi. Aku ada janji.”

“Tunggu.”

“Apa?”

“Yang kau lihat tadi itu bukan seperti yang terlihat.”

“Hahaha, ini seperti de javu. Dimana ya aku pernah melihat hal seperti ini?” Tanya Hyori. “Ah, kau ingat peristiwa di taman sore itu saat aku memeluk Siwon? Kurasa itu sama.”

“…”

“Dan aku akan mengatakan hal ini juga padamu. Kalau memang kau tidak ingin pertunangan ini berlanjut, bilang saja. Jangan menggunakan hubunganku dan Siwon sebagai alasannya.”

“…”

“Mengapa kau diam?” Tanya Hyori tidak sabaran. “Kalau dalam hitungan ke lima kau tidak berkata apa-apa maka akan kusimpulkan memang kau mau pertunangan ini berakhir.”

“Satu.”

“Dua.”

“Tiga.” Kata Hyori sambil menggigit bibir bawahnya. Dia khawatir kalau ancamannya itu menjadi kenyataan.

“Empat.”

Sial kau Lee Donghae. Umpat Hyori dalam hati.

“Lima.”

Donghae hanya terdiam duduk di tempatnya sementara Hyori dengan susah payah menelan ludahnya yang asam. Wajah terlihat kesal, saking kesalnya sehingga dia menahan air matanya yang akan mengalir dalam hitungan detik.

“Sialan kau, Lee Donghae.” Teriak Hyori sambil berdiri dan bersiap untuk pergi.

Donghae dengan segera berdiri, meraih tangan Hyori, memutar tubuhnya sehingga membuat Hyori terjatuh dalam pelukannya. Hyori menjerit tertahan sewaktu jatuh di pelukan Donghae karena ketidak seimbangan dirinya. Dia berusaha melepaskan dirinya dari pelukan posesif Donghae tapi karena tenaganya yang tidak sebesar Donghae dia hanya terlihat seperti bergeliat lemah.

“Lepaskan aku.” Pinta Hyori terus menerus sampai akhirnya dia menangis tertahan dan menghentikan usahanya yang terlihat sia-sia itu. “Aku membencimu, Lee Donghae. Kau tahu itu?”

“…”

“Kenapa sih kau harus menjadikanku tunanganmu disaat kau masih menyukai perempuan itu?”

“…”

“Aku dan Siwon tidak ada hubungan apapun selain persahabatan. Hanya kau yang ada di pikiranku dan hatiku. Bukan orang lain. Kau itu jahat sekali padaku.”

Donghae membiarkan Hyori menangis sambil mencurahkan isi hatinya. Setelah agak sedikit lebih tenang, Donghae menengadahkan kepala Hyori sambil menghapus sisa air mata di pipi perempuan itu.

“Maafkan aku karena tidak mendengarkan segala penjelasanmu waktu itu.” Katanya sambil tersenyum manis.

“Aku dan Haejin juga tidak punya hubungan apapun kecuali hubungan kerja dan pertemanan.” Kata sambil membenarkan poni Hyori yang berantakan. “Kecuali hal yang kau bilang kalau dia menyimpan perasaan padaku itu lain ceritanya.”

But anyway yang kucintai dan mengambil alih seluruh hati dan otakku itu perempuan bernama Kim Hyori. Seorang perempuan yang memaksa memakai dress dan wedges hanya agar terlihat manis dan feminim di depanku walaupun harus tersiksa.” Katanya lagi. Kali ini dia mencium lembut bibir Hyori.

“Jadi?”

“Jadi apa?”

“Kita…” Tanya Hyori pada Donghae.

“Aku lapar. Bagaimana kalau kita ke apartemenmu dan kau membuatkanku makan malam. Lalu setelah itu kita bergelung di sofa sambil menonton film.”

“Haejin?”

“Aku akan menelponnya dan mengatakan bahwa ada urusan mendadak.” Jawab Donghae sambil mengedipkan matanya.

“Tapi biarkan aku yang memilih filmnya dan jangan harap aku memilih Titanic.”

“Asalkan jangan film horror.”

“Tapi aku sedang ingin menontonnya. Kemarin Siwon meminjamkan beberapa film horror terbaru padaku.”

“Kita lihat saja nanti.” Jawab Donghae dengan smirknya.

**

Setelah makan malam dengan makanan China yang mereka beli di perjalanan ke apartemen Hyori. Donghae terlihat sedang memilh-milih koleksi DVD milik Hyori yang tersusun rapi di samping televisinya.

“Bagaimana kalau kita menonton ini?” Tanya Donghae sambil mengangkat sebuah DVD romance.

“Aku sudah menontonnya kemarin.”

“Kalau ini? Kurasa ini lucu.” Tawar Donghae. Kali ini dia memilih film animasi Pixar.

“Itu sudah pernah kita tonton sebelumnya.”

“Ini? Kurasa bagus.” Kata Donghae lagi dengan DVD film action.

“Ini saja bagaimana?” Tanya Hyori sambil menunjukkan sebuah DVD film horror.

“Kau itu sebegitunya mencintaiku atau bagaimana sih?” Tanya Donghae dengan senyum jahilnya.

“Hah? Maksudmu?”

“Kau sebegitunya merindukanku sampai ingin aku memelukmu sepanjang malam ini ya dengan menonton film horror.”Jelasnya. ”Kau tahu kan kalau aku benci film horror.”

“Oh, itu. Siapa bilang. Aku hanya sudah sangat bosan dengan Titanic dan kebetulan kemarin Siwon meminjamkan beberapa film horror kesukaanku. Kalau kau tidak suka ya sudah.” Jawab Hyori gugup. Pipinya menyemburat warna merah.

“Terserah kau sajalah.” Kata Donghae menyerah dan berjalan ke arah sofa sambil mengambil sebuah mug yang berisi susu coklat.

“Aku memilih ini bukan karena aku ingin bergelung di pelukanmu.” Kata Hyori mengingatkan Donghae. Dia duduk di ujung yang lain di sofa itu.

“Baiklah.” Jawab Donghae santai. Dia lalu mengubah posisi duduknya dengan menyelonjorkan kakinya di sepanjang sofa sehingga ujung kakinya menyentuh punggung Hyori yang duduk di ujung sofa sambil memeluk wadah pop corn.

“Sini…” kata Donghae sambil menepuk tempat yang berada di depannya dan tersenyum menggoda.

“Aku tidak mau. Aku akan menontonnya dari sini.”

“Yakin?” tanyanya. “Disini nyaman dan kalau kau takut kau bisa menyembunyikan wajahmu dengan tanganku.”

“Yang seharusnya di peringatkan itu kau bukan aku. Yang penakut itu kau bukan aku.”

“Yakin kau tidak mau duduk disini?”

“Tidak akan.” Kata Hyori sambil berusaha untuk mengambil mug nya yang berada di depan Donghae. Dia meregangkan tangannya agar bisa menggapai tapi Donghae dengan cepat menarik tangan itu dan membuatnya tertarik dan terjatuh tepat di tempat yang Donghae tawarkan tadi.

“Lepaskan aku.”

“Husssh, filmnya sudah mulai.” Kata Donghae sambil memeluk Hyori posesif. “Kau itu milikku dan kalau aku mau kau kau duduk disini dan kupeluk sepanjang film ini maka kau harus menurutinya.”

“Bahkan kalau aku mau memelukmu selamanya.” Ucapnya lagi kali ini dengan lirih tepat di telinga Hyori.

Hyori hanya tersenyum mendengar kata-kata Donghae. Dia membenarkan letak tubuhnya agar bisa bergelung sempurna di dada Donghae.

**

 

Fin, Tamat, Kelar, Selesai <3 <3 <3

Abis ini masih ada side story-nya yang bakalan menjawab kenapa sikap Donghae yang tiba-tiba berubah. Semoga memuaskan ^^

 

Tags: Lee Donghae, Choi Siwon

21 thoughts on “You’re Just Too Nice and I Hate It [part 6/END]

  1. hah?? cuma segini doang endingnya?
    ckckck~ dongek emg trlalu baik sm haejin sih ya, jd bkn haejin ngarep tuh. untung salah pahamnya gk brlarut-larut y,
    kutunggu side storynya ya thor :D

    • iya segini aj endingnya
      gmn??kurang nendang ya???

      kan udah ketulis dijudul klu (donghae) just too nice and (hyori) hate it XD

  2. sebener y ngak puas ending y begini,,hyori gampang bgt maafin donghae,,, walaupun donghae ngak salah tp sikap y k mantan y itu berlebihan n dongae kurang tegas menurut ku sampe2 mantan y ngoming bgt k hyori padahal tunangan y tu hyori m donghae ngak negor si haejin tu sama sekali atas sikap y……

  3. kurang panjang chingu…..pendek bgt y…mudah2an side storynya panjang..

    keren,walau dah ending tapi tetep penasaran…moga side storynya bisa ngejawab semua rasa penasaran q…ditunggu side storynya…fighting!!

  4. ARGHHHH KEI-SSI KENAPA BIKIN ENDING SEROMANTIS INI?! Sumpah jaga emosi bgt bcnya, lg puasa nih-_- ceritanya simple bgt, tp manis..msk bgt feelnya. Keep writing! Oiya fanfict cast hyukjae yg wkt tu km blg judulnya apa? Mau aku search disini hehe

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s