Lend Me Your Heart [part 4]

Author : @gyumontic

Cast : Cho Kyuhyun , Kim Junsu, Song Hyejin (OC)

Support Cast : Choi Siwon, Kang Hamun (OC)

Genre : G – Romance

Annyeoooooong!! @gyumontic kembali lagi bawa part 4.. Semoga suka ya.. Btw, FF ini sudah pernah di publish di blog ff pribadiku http://admirefanfiction.wordpress.com . VISIT yaaaa :) kamsahamnida…

 

 

Hope you enjoy :)

 

Hyejin menggaruk-garuk kepalanya frustasi sambil mengurus segala pencairan kredit Kyuhyun sebesar 8,5 milyar won. Tangannya mengetik dengan cepat, mulutnya pun berbicara dengan cepat dengan bagian pencairan tetapi otaknya tersumbat oleh kejadian semalam.

Hyejin diam terpaku menatap Kyuhyun yang berdiri di depan rumahnya sambil memegang dokumen. Kyuhyun berdiri kaku menatap Hyejin dan Junsu. Awalnya, Hyejin ingin melepaskan diri dari Junsu tapi tangan Junsu justru lebih kencang menggenggamnya.

“Aku butuh uangnya besok pagi jam 10. Kalau tidak cair, aku minta ganti rugi,” kata Kyuhyun dingin lalu pergi meninggalkan Hyejin dan Junsu. Saat itu perasaan Hyejin sangat tidak enak, antara merasa bersalah dan bingung.

Hyejin mengambil handphone-nya setelah memastikan segalanya beres. Uang sudah mengalir ke rekening vendor. “Dokter Kyu, 8,5 milyar won sudah cair. Barang sudah bisa dikirim,” lapor Hyejin dengan nafas terengah-engah.

Kyuhyun tidak menjawab. “Dokter Kyu,” panggil Hyejin.

“Ne. Arraseo. Kau ke kantorku sekarang.” Kyuhyun lalu menutup teleponnya dan tentu membuat Hyejin kesal setengah mati.

“Hyaa Cho Kyuhyun! Memang debiturku cuman kamu?! Aku masih punya 6 debitur lain yang harus diurus!” omel Hyejin sampai ia diperhatikan oleh beberapa rekan kerjanya.

“Ada apa, Hyejinssi?” tanya atasan Hyejin yang rupanya mendengar omelan Hyejin.

“Saya mau pergi menemui dokter Kyu dulu, Pak. Permisi.” Hyejin lalu masuk ke dalam mobilnya. Mau dia sekesal apapun toh dia tetap pergi menemui Kyuhyun.

“Ada apa?” tanya Hyejin dengan galak begitu bertemu dengan Kyuhyun.

Kyuhyun berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati Hyejin. Kyuhyun berhenti tepat 20cm di hadapan Hyejin dan melipat tangan di depan dadanya. Matanya menatap Hyejin diiringi senyum yang merekah dari bibirnya. “Aku hanya ingin bertemu denganmu. Bogoshipo,” jawab Kyuhyun dengan santai.

“Mwoooo?!” teriak Hyejin saking terkejutnya. Kyuhyun menyuruhnya datang karena hanya ingin bertemu padahal debiturnya yang lain masih harus diurus.

Kyuhyun tersenyum jahil lalu memeluk Hyejin. “Mianhe semalam aku sudah jutek padamu. Asal kau tahu, aku cemburu,” kata Kyuhyun.

Hyejin yang tadinya kesal, perlahan mulai luluh. Tangannya ingin memeluk Kyuhyun tapi masih ia tahan. Ia hanya membiarkan tubuhnya dipeluk.

Kyuhyun kembali berbicara, “Aku tahu kau dan Junsu hyung sulit dipisahkan. Aku tidak keberatan selama kau juga berada di sisiku. Aku yakin kau akan memilihku.”

Hyejin tertawa. Kyuhyun mengetahui isi hatinya tapi ia benar-benar tidak bisa memilih antara Junsu dan Kyuhyun. Terlalu sulit.

“Lalu bagaimana dengan Vicky?” tanya Hyejin mengalihkan pembicaraan.

“Aku sudah bicara dengannya. Kalau dia masih mengganggumu, bilang saja padaku.”

Kyuhyun melepaskan pelukannya lalu dengan sumringah ia mengambil sebuah amplop dari mejanya dan menyerahkannya pada Hyejin.

“Apa ini?” tanya Hyejin.

“Buka saja,” jawab Kyuhyun.

Hyejin pun membuka amplop yang ternyata berisi sebuah skedul perjalanan 2 minggu di Eropa. “Aku akan keliling Eropa untuk training singkat. Aku harap kau mau ikut bersamaku,” kata Kyuhyun.

Lagi-lagi Hyejin dibuat melongo. “Aku tidak bisa. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,” kata Hyejin.

“Kau punya cuti kan?”

“Tidak bisa semendadak ini, Kyu.”

“Aku bisa membuat surat keterangan sakit agar kau bisa istirahat.”

“Junsu oppa bagaimana?”

“Kau sudah bersamanya nyaris 20 tahun. Aku hanya minta waktumu 2 minggu.”

“Tapi…”

“Dia akan 1 bulan berada di luar Korea. Aku sengaja menugaskannya.”

“Kyu, aku…”

“Kau tidak bisa beralasan lagi. Nanti malam kujemput kau agar kita bersama-sama berangkat. Sekarang kau pulang, bereskan barangmu.”

“Surat sakitku?”

“Ryeowook akan mengantarkan langsung ke kantormu besok. Jangan cerewet. Cepat pulang.”

Kyuhyun mendorong Hyejin keluar dari ruangannya sambil tertawa-tawa. Perasaannya jelas senang karena ia akan terus bersama gadis yang ia cintai selama 2 minggu. “Annyeong. Tunggu jemputanku nanti malam ya, sayang!” ucapnya.

Nyaris pikiran kosong, Hyejin pulang untuk membereskan barang-barangnya. Ia tidak percaya Kyuhyun mengajaknya keluar negeri. Ini seperti bulan madu, pikir Hyejin. Anehnya, Hyejin justru sangat senang dan bersemangat sampai ia tidak sadar bawaannya sudah 3 koper.

 

 

Kyuhyun dengan semangat memerintahkan supirnya untuk menyetir menuju rumah Hyejin lebih dahulu sebelum ke bandara. Begitu sampai, Kyuhyun langsung mengamit Hyejin masuk ke dalam mobil, membiarkan barang-barang gadis itu dimasukkan oleh supirnya.

Kyuhyun memandang Hyejin sambil tertawa-tawa. Wajah gadis itu sangat polos dan santai. “Kenapa tertawa?” tanya Hyejin.

Kyuhyun tersenyum. “Kenapa kau bisa begitu santai? Kau ini mau pergi bersama seorang pria loh. Kau tidak takut aku melakukan sesuatu padamu?” tanya Kyuhyun ingin tahu. Ia ingin tahu apa dibalik wajah santainya, Hyejin merasakan kegugupan yang dirasakan Kyuhyun.

“Kita akan menginap di kamar yang berbeda kan? Lagipula kau pasti sibuk training jadi waktu kita bersama tidak akan terlalu banyak,” jawab Hyejin dengan santai membuat Kyuhyun gemas. Sebuah jitakan pun mendarat di kepala gadis itu. “Kyu…sakit,” ucap Hyejin, yang entah sejak kapan berubah menjadi sok imut dan manja.

Kyuhyun tersenyum lalu merangkul Hyejin agar duduk semakin dekat dengannya. “Apa yang kau bawa di dalam kopermu? Banyak sekali tampaknya,” kata Kyuhyun.

“Hanya baju dan beberapa peralatan pribadi,” jawab Hyejin.

“Apa kau bawa bikini?” tanya Kyuhyun sambil memamerkan senyum jahilnya kepada Hyejin.

“Tentu saja. Aku ingin memikat para bule dengan tubuhku,” jawab Hyejin asal.

Kyuhyun lalu menggigit bahu Hyejin. “Jangan berani-berani mengundang pria dekat-dekat denganmu. Awas kalau sampai ada,” ancam Kyuhyun dengan serius tapi ditanggapi oleh senyum oleh Hyejin. Wajah cemburu Kyuhyun sangat lucu, menurut Hyejin.

 

 

“Hyung, apa kau sudah sampai di Amerika? Aku akan ke Eropa. Hyejin ikut bersamaku. Mianhe, hyung. Bersenang-senanglah di sana.” Junsu membaca pesan singkat dari Kyuhyun saat pesawatnya sedang transit di Amsterdam.

“Bersenang-senang? Kau benar-benar mengajak perang, Kyu,” gumam Junsu kesal. Rasanya ia ingin sekali menyusul Kyuhyun dan Hyejin lalu membawa Hyejin bersamanya tapi semua jadwal sudah diatur dengan rapi. Kalau dia melanggar, justru akan merepotkan seluruh peserta training yang ikut bersamanya.

Saat ia bersiap masuk penerbangan menuju Amerika, Hyejin menelepon. “Oppa, dimana? Kenapa kau tidak bilang mau ke Amerika?”

“Kau sendiri kenapa tidak bilang mau ke Eropa bersama Kyuhyun?”

Terasa aura ketegangan antara Junsu dan Hyejin. Dari suara mereka jelas terdengar dingin. Mereka pun sama-sama diam.

“Mianhe, oppa,” ucap Hyejin lebih dahulu.

“Bersenang-senanglah,” kata Junsu lalu menutup handphonenya. Tanpa peduli sekeliling, Junsu masuk ke pesawat yang akan membawanya ke Amerika. 1 bulan tanpa Hyejin, entah akan jadi apa nanti dirinya.

 

 

Tak ada yang tahu bahwa Vicky sudah melampaui batas toleransi frustasinya. Kondisinya sangat buruk sampai orang tuanya terpaksa membawa Vicky kembali ke Cina. Tubuhnya yang kurus semakin kurus. Wajahnya juga sudah pucat. Tidak ada lagi yang percaya jika ada yang bilang bahwa Vicky adalah dokter gizi. Keadaannya semakin buruk ketika mendengar kabar bahwa Kyuhyun meninggalkan Korea bersama Hyejin.

“Aku mau mati! Lebih baik aku mati! Mama!!!” teriak Vicky berkali-kali dengan histeris. “Aku mau mati. Mati. Mati,” ucap Vicky lagi, kini bahkan air mata sudah mengalir dari matanya yang cekung.

Orang tua Vicky hanya bisa melihat anak perempuan mereka dengan sedih melalui jendela ruang rawat Vicky. Ya, Vicky terpaksa dirawat di rumah sakit untuk mengembalikan kestabilan emosinya, lebih tepatnya untuk mengembalikan Vicky seperti semula sebelum terlambat.

 

 

Kyuhyun menggandeng Hyejin masuk ke dalam hotel. Wajahnya dipenuhi oleh senyum bahagia, yang tanpa sadar membutakannya bahwa Hyejin tidak sebahagia dirinya. “Hyejin, ini kunci kamarmu. Aku ada di sebelah. Kau tidak perlu takut. Kamar kita ada connecting door kok,” ujar Kyuhyun dengan riang.

Hyejin menerima kunci kamarnya dengan lesu. “Gomawo,” ucapnya lalu masuk ke kamar bersama barang-barangnya yang dibawakan pelayan hotel.

Hyejin terduduk di tempat tidurnya dan memikirkan Junsu yang memperlakukannya dengan dingin. Perasaan bersalah kembali menyergapnya. Dalam hati, ia ingin sekali pergi menemui Junsu dan meminta maaf. Sayang, itu tidak mungkin kecuali ia nekat menguras tabungannya untuk membeli tiket London-US.

Suara ketukan pintu menyadarkan Hyejin. “Hye, boleh aku masuk?” tanya Kyuhyun. Hyejin berjalan menuju pintu kamarnya tapi ia tidak menemukan siapa-siapa saat membukanya.

“Hye, aku mau masuk. Boleh tidak?” tanya Kyuhyun lagi membuat Hyejin bingung, darimana asal suara itu.

“Kau dimana, Kyu?” tanya Hyejin.

“Aku di connecting door,” ujar Kyuhyun.

Hyejin nyaris membenturkan kepalanya dengan tangan menyadari kebodohannya. Ia lalu membuka pintu yang menghubungkan kamarnya dan kamar Kyuhyun.

“Hellooo,” sapa Kyuhyun. “Ayo kita makan dulu. Aku sudah kelaparan, belum makan sejak sampai.” Kyuhyun lalu masuk ke dalam kamar Hyejin dan duduk di tempat tidurnya tanpa segan. Kyuhyun pun membuka satu botol anggur untuk mereka berdua. “Bersulang!!”

Hyejin menerima tuangan anggur dari Kyuhyun lalu meminumnya. “Enak,” puji Hyejin sambil tersenyum. Anggur itu memang benar-benar enak dan menenangkan. Segala beban dan pikiran Hyejin rasanya menguap begitu anggur itu masuk dalam tenggorokkannya.

“Aku tidak salah pilih berarti. Sekarang saatnya makan. Maaf hanya ada sandwich dan kentang.” Kyuhyun pun membuka kotak makanan yang baru ia beli tadi begitu sampai di hotel. Kyuhyun membeli 3 set takut kalau kurang.

Hyejin mengambil 1 kotak dan mulai memakannya. “Gomawo, Kyu,” ucap Hyejin sambil tersenyum, manis sekali, membuat Kyuhyun menjadi salah tingkah.

“Kyu, kau mulai training jam berapa?” tanya Hyejin.

“Besok pagi, Hye. Waeyo?”

“Jinjja? Berarti hari ini kita bisa jalan-jalan dong?” Hyejin tampaknya semangat sekali untuk menjelajahi kota London sebelum ia pindah ke Paris beberapa hari lagi.

“Tentu bisa. Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun.

Hyejin terdiam. Wajahnya mulai cemberut. Bibirnya juga mengerucut. “Aku tidak tahu London. Aku hanya ingin jalan-jalan,” ujar Hyejin sedikit ngambek.

Kyuhyun yang gemas melihat wajah Hyejin hanya tertawa sesaat kemudian terdiam saat matanya menangkap bibir Hyejin yang menurutnya sangat seksi.

Kyuhyun mendekatkan wajahnya. “Ada saus di mulutmu,” bisik Kyu. Kemudian, Kyu mencium Hyejin sekaligus membersihkan saus yang tertinggal.

Mata Hyejin terpejam, menikmati sentuhan Kyuhyun. Tanpa Hyejin perintahkan, tangannya memegang kepala Kyuhyun membuat mereka tak bisa terlepas.

Meskipun tubuh mereka terpaut puluhan sentimeter, tapi ini adalah waktu terlama mereka menyatu.

“Kk…ahh…kyu,” ucap Hyejin terbata-bata karena sesak nafas. Kyuhyun lalu melepaskan dirinya sambil tersenyum malu-malu.

“Mianhe,” kata Kyuhyun dengan tulus.

Hyejin tersenyum. Jari-jarinya mengelus pipi Kyuhyun dengan lembut. “Gomawo,” ucap Hyejin.

“gomawo untuk?” Kening Kyuhyun berkerut, bingung dengan maksud Hyejin.

“Gomawo sudah mengajakku kesini. Gomawo sudah mencintaiku. Gomawo untuk semuanya.”

“Buat apa berterima kasih? Apa itu artinya kau menolakku?”

“Ani. Bukan seperti itu.”

“Jadi kau menerimaku?”

“Aku belum membuat keputusan, Kyu. Aku hanya tahu aku memang mencintaimu tapi aku tidak bisa meninggalkan Junsu oppa.”

Kyuhyun mencoba tersenyum dengan tulus dan dengan lembut ia mengelus kepala Hyejin. “Aku paham. Karena itu aku tidak memaksamu. Kalau kau belum bisa memberikan dirimu sepenuhnya, mungkin aku bisa meminjam sedikit tempat di hatimu.”

Air mata Hyejin nyaris tumpah mendengar kata-kata Kyuhyun yang begitu tulus. Untung, Hyejin dengan cepat menutupinya meski dengan tingkah aneh : mencubit lengan Kyuhyun lalu kabur ke kamar mandi.

 

 

Junsu berusaha memfokuskan pikirannya dengan materi kursus yang ada di hadapannya, tapi dokter wanita di sebelahnya ini sibuk sekali dengan peralatan makeup-nya. Benar-benar mengganggu.

“Maaf, dok. Bisa ikuti kursus ini dengan tenang. Jujur, saya terganggu,” tegur Junsu.

Dokter wanita itu menundukkan kepala untuk menutupi wajahnya yang merah karena malu. “Jwisonghamnida,” ucap dokter itu pelan.

Tanpa sengaja, Junsu melihat name tag dokter tersebut. Son Ye Jin. Ye Jin. Hye Jin. Gadis bernama Song Hyejin kembali merasuki Junsu. Matanya bolak-balik menatap handphone-nya yang tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Tak ada yang menghubunginya.

Selesai kursus, Junsu kembali ke kamarnya bersama rekan-rekannya yang lain. Tanpa ia sadari, ada yang mengikutinya.

Dokter wanita cantik yang tadi ditegur junsu ternyata belum tenang sepenuhnya akibat ditegur Junsu. “Annyeonghaseyo. Son Ye Jin imnida. Maafkan karena tadi aku mengganggumu,” ucap Yejin sambil membungkukkan tubuhnya. Wajahnya merona merah.

Junsu memperhatikan gadis itu lalu tersenyum. “Gwencana,” sahut Junsu. Menurutnya, gadis itu lucu meskipun tadi cukup mengganggunya. Percaya atau tidak, Yejin menyita sedikit pikirannya. Sedikit.

 

 

Hyejin dan Kyuhyun menghabiskan 14 malam mereka dengan berjalan mengelilingi kota London, Paris, Roma, Berlin, dan Amsterdam. Mereka tidak lagi malu untuk bergandengan tangan, berpelukan bahkan berciuman meski di tempat umum. Hubungan mereka bertumbuh dengan baik meskipun Hyejin belum menyatakan pilihannya.

“Hari ini kita pulang,” kata Kyuhyun dengan sedih sambil membantu Hyejin memasukkan barang-barang ke dalam koper. Tidak hanya baju, tapi juga oleh-oleh yang dibeli Hyejin. Koper mereka pun beranak pinak.

Hyejin tersenyum. “Harusnya kau senang. Itu artinya kau tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk mentraktirku. Aku pasti sudah banyak menguras rekeningmu,” goda Hyejin untuk mencairkan suasana tapi Kyuhyun tetap saja lesu. Kyuhyun duduk di tempat tidur Hyejin tanpa semangat.

“Uangku masih bisa untuk menghidupimu jika kau mau tinggal lebih lama lagi. Tidak usah khawatir,” sahut Kyuhyun.

Hyejin berdiri menghadap Kyuhyun. Jari-jari Hyejin menyisir rambut ikal Kyuhyun yang tebal. “Lalu apa yang kau sedihkan?” tanya Hyejin.

“Kalau kita kembali berarti aku harus rela berbagi dengan Junsu. Aku tidak suka berbagi, Hye.”

Hyejin kembali tersenyum. Senyuman yang menenangkan. Ia lalu mengecup puncak kepala Kyuhyun dan memainkan rambut Kyuhyun. “Aku milikmu.” Darah Kyuhyun berdesir kencang mendengarnya.

“Jeongmal?” tanya Kyuhyun. Wajahnya sudah lebih bersemangat.

Hyejin mengangguk. “Tapi aku juga milik Junsu oppa sebagai sahabat.”

“Jadi?” tanya Kyuhyun kembali lesu. “Sama saja aku harus berbagi dengannya.”

“Kau tidak boleh egois, Kyu.”

“Seumur hidup, baru kali ini aku ingin egois. Aku rela membagi semua milikku tapi tidak kau.”

Hyejin berusaha meyakinkan Kyuhyun. Mereka pun bernegosiasi. “Kapanpun kau menginginkanku, aku akan datang.”

“Jika aku dan Junsu hyung menginginkanmu di saat yang sama, siapa yang akan kau pilih?”

Hyejin terdiam. Dia tidak tahu apa jawabannya. Kyuhyun tersenyum getir. “Kau belum memilih, Hye. Bereskan barangmu. Kita berangkat sejam lagi,” ucap Kyuhyun datar lalu beranjak pergi ke kamarnya.

Hyejin termangu memandang koper-kopernya memikirkan Kyuhyun dan Junsu. Hatinya sudah terpikat pada Kyuhyun, tidak mungkin terlepas lagi, tapi ia bingung bagaimana menjelaskannya pada Junsu nanti atau bagaimana menghadapi reaksi Junsu. Junsu masih di Amerika dan sudah lama tidak menghubunginya.

 

 

Junsu sudah menghabiskan lebih dari separuh training yang dijadwalkan, masih ada separuh lagi tapi rasanya Junsu tidak ingin akhir dari training ini cepat datang. Matanya dengan cepat menjelajah ruangan begitu dia membenamkan diri di atas salah satu kursi. “Mana bocah itu?” gumam Junsu sambil mencari-cari Ye Jin, dokter yang selalu bersamanya 2 minggu ini.

“Selamat pagi, dokter Kim!” sapa Yejin dengan ceria lalu duduk di sebelah Junsu. Junsu sedikit lega dibuatnya.

“Pagi,” sahut Junsu.

“Aku punya kabar gembira untukmu, dok,” kata Yejin.

“Apa? Kalau kau belum juga dapat tempat praktek, itu bukan kabar gembira.”

“Karena itu, aku mau bilang, aku sudah dapat tempat praktek. Ada sebuah RS jantung di Geongju yang baru buka. Mereka butuh dokter disana. Hanya saja RS itu baru beroperasi bulan depan, jadi sementara aku akan praktek di RS pusat di Seoul.”

“RS itu apa milik Profesor Cho?” tanya Junsu.

Yejin mengangguk. Junsu kemudian tertawa. “Dunia ini sempit sekali. Direkturnya, Cho Kyuhyun, teman baikku. Aku juga praktek di sana,” ujar Junsu.

Mata Yejin membesar tanda ia terkejut senang. “Jeongmal?? Kyaaaa! Berarti aku nanti bisa berguru padamu. Kyaaa! Asik sekali,” seru Yejin girang, membuat Junsu tertawa melihatnya. Percaya atau tidak, Junsu sedikit melupakan Hyejin selama di Amerika. Entah jika ia kembali ke Korea nanti.

 

-to be continued-

6 thoughts on “Lend Me Your Heart [part 4]

  1. seneng junsu ketemu ye jin walaupun blm cinta seengak y ada hiburan selaun mikirin hyejin yg lg jalan2 sama.kyu…..
    knp q ngebayangin kyu disini suka seenak jidat y ja tp dia lembut n q ngebayangin y romantis bgt kyu n hyejin…..
    Lanjut…….

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s