Sister Complex [part 7]

Author : Pupuputri

Main Cast : Cho Kyuhyun, Lee Donghae

Support Cast : Lee Sungmin, Lee Eunhyuk, Leeteuk

Rating : 15PG

Genre : Love/Friends, Super Junior, Chapter/Parts

Ps : Dan dimulailah Kyuhyun Oppa POV disini! Semua isi hati dan pola pikirnya akan dijelaskan disini. Part ini salah 1 part galau dari FF ini. Maka, jangan kesal ya kalau tidak sesuai dengan harapan kalian alur ceritanya dan mian kalau ceritanya seperti sinetron #plakk!. Tetap ada teks yang saya kutip dari komik favorit saya. Kalau begitu, selamat membaca~

CONFESSION

 

CHO KYUHYUN POV

Keadaan kini sudah tidak sesuai lagi dengan keinginanku. Aku yang sejak awal sudah memutuskan untuk melupakan perasaan ini malah kehilangan kendali akan semuanya. Entah kenapa, semakin aku mengubur perasaanku, semakin besar pula aku mencintainya. Ya, itu benar. Aku mencintai adikku sendiri, Cho Jooyeon, ah ani..Park Jooyeon dan mau tidak mau aku harus menerimanya sebagai adikku.

Rasa sayang yang dulunya sebatas Oppa dan dongsaeng, lama-kelamaan berubah menjadi cinta. Aku bahkan tidak pernah tahu kalau semenjak itu aku sudah mulai mencintainya. Tapi, Ahra Noona menyuruhku untuk melupakannya dan menjaganya sebagai Oppa yang baik. Kupikir itu akan mudah, tapi aku salah.

Kini dia sudah tahu hal yang sebenarnya walaupun belum seizin orangtua kami. Kupikir dia juga cukup dewasa untuk mengetahui hal yang sebenarnya.

 

CHO JOOYEON POV

“Lupakan saja..”

Kata-kata Kyuhyun Oppa masih terus terngiang-ngiang di kepalaku. Aku tidak bisa melupakan kejadian kemarin. Kupikir semua hanyalah mimpi tapi ternyata bukan.

“Jooyeon-ah.., kau tidak mencintaiku’kan?”

Aku..tidak mau menganggapnya lebih dari saudara.

“Dongsaeng yang sangat berarti..”

“Oppa..” ucapku sambil tertunduk lemas.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Eomma, Appa, Eonnie, ottokhaeyo?

***

Seiring berjalannya waktu, sikap Kyuhyun Oppa-pun mulai berubah padaku. Tidak ada lagi evil Oppa. Tidak ada lagi Oppa yang bertengkar denganku. Tidak ada lagi yang membuatkanku bubur asin. Semuanya berubah.

Sikapnya jauh lebih pendiam ketimbang saat kami bertengkar dulu. Sekarang saja dia jarang menyuruhku untuk ke dorm ataupun datang ke acara musik. Dia juga sudah jarang ada di rumah, sepi rasanya.

Aku kangen sekali pada Kyuhyun Oppa yang dulu. Apa benar semuanya akan tetap seperti dulu? Mengingatnya saja sudah membuat mataku panas.

Tiba-tiba HP-ku berdering menandakan ada telfon masuk. Segera kuhapus airmata yang hampir jatuh ini dan mengangkat telfon itu.

“Yoboseyo?”

“Yeon-ah.., kau sedang sibuk?”

DEG!

Itu suara Kyuhyun Oppa.

“Aniya, Oppa. Waeyo?” tanyaku.

“Mainlah ke dorm, para member merindukanmu” ujarnya pelan.

“Yak! Jooyeon-ah~ ayo kesini! Kita pesta piyama!” tiba-tiba suara Eunhyuk Oppa muncul dari balik telfon. Sepertinya dia merebut paksa HP Kyu Oppa.

“Aish! monyet gunung, diam kau! Berisik sekali!” teriak Kyu Oppa.

“Yak! kau panggil aku apa? Dasar Raja setan!” balasnya.

Aish, kenapa mereka malah bertengkar?

“Haha..” tanpa sadar aku malah tertawa.

“Yak! kalian berdua diamlah! Sini HP-nya! Eo, Jooyeon-ah~ kami sedang pesta piyama, datanglah kesini! Pasti seru!” kali ini Teuki Oppa yang ambil alih HP-nya.

“Haha..arasseo Oppa. Annyeong~”

“Ne~”

KLIK.

Akupun langsung beranjak dari dudukku dan bersiap-siap menuju dorm. Sepertinya pesta piyama ini akan membuatku melupakan sedikit mimpi buruk ini.

***

Ternyata mereka memang sedang melakukan pesta piyama. Bahkan Siwon Oppa saja ikutan. Pestanya agak out of context sebenarnya, tentunya karena kegilaan teukigayo dan acara lainnya.

“Jooyeon-ah~ coba kemari sebentar!” panggil Donghae Oppa.

“Ne~”

Tepat saat aku berdiri dari dudukku, tiba-tiba sebuah tangan menahan langkahku. Akupun berbalik dan ternyata itu Kyuhyun Oppa. Dia terus memperhatikanku tanpa berkata sepatah katapun.

“Waeyo Oppa?” tanyaku membuyarkan lamunannya.

“A..aniya, bisa kau ambilkan aku minum?” tanyanya sambil melepaskan tangannya dariku.

“Eo. Tunggu ya!”

Akupun beranjak ke dapur dan mengambilkannya air minum. Setelah itu, aku langsung beranjak ke tempat Donghae Oppa.

 

CHO KYUHYUN POV

Ada apa denganku? tanganku tiba-tiba refleks menahan langkahnya saat dia akan pergi ke Donghae Hyung. Rasanya ada suatu perasaan tidak rela kalau melihatnya dengan Donghae Hyung.

Aish! sadarlah, Cho Kyuhyun! Dia dongsaengmu dan kau sudah membebaskannya, jadi kau harus membiasakan dirimu. Semua pikiran ini membuat otakku jenuh.

Kulangkahkan kakiku menuju balkon untuk menghirup udara segar. Bintangnya hanya ada sedikit.

“Dia kelihatan gembira sekali ya?”

Tiba-tiba Sungmin Hyung datang dan ikut menatap bintang yang hanya beberapa buah saja.

“Rasanya, ingin selalu tetap seperti sekarang ini ya, tapi..” ucapnya tertahan dan melirikku.

“Kyuhyun-ah, bagaimana denganmu?” tanyanya.

Aku menceritakan semua masalahku hanya pada Sungmin Hyung, bahkan soal perasaanku pada Jooyeon. Pernah Sungmin Hyung cerita kalau Jooyeon pernah tanya padanya siapa yeoja yang sedang aku sukai. Untungnya Sungmin Hyung tidak membeberkan semuanya.

Aku tidak menjawabnya karena aku sendiri juga bingung. Apa yang sebenarnya aku inginkan?

***

Hari ini kami sedang latihan untuk persiapan konser kami. Kuminta Jooyeon untuk datang dan membawakan makanan untukku dan para member. Aku ingin menghilangkan rasa canggung di antara kami.

“Auw!” erangku menahan sakit.

Latihan sudah selesai dan aku baru menyadari kalau lututku berdarah gara-gara beberapa kali melakukan sliding saat lagu ‘Bonamana’.

“Gwaenchana?” tanya Sungmin Hyung.

“Ne, gwaenchana..” jawabku.

Beberapa member tampak mengerubungiku dan melihat lukaku.

“Ada apa?” tanya Jooyeon saat kembali dari mini market.

“Oh, Yeon-ah~ kebetulan, tolong antar Kyu ke ruang kesehatan ya! Lututnya berdarah” perintah Teuki Hyung.

Mworago?

“Tidak usah, hanya lecet sedikit saja” elakku.

“Apanya yang lecet sedikit? Lututmu sudah berdarah gitu!” kali ini si monyet gunung malah ikut-ikutan.

“Aniya, gwaenchanayo!” aku masih bersikukuh.

“Tidak boleh, Oppa! Nanti infeksi, apalagi sebentar lagi Oppa ada konser jadi harus tampil maksimal” ujar Jooyeon sambil melihat lututku.

Kalau sudah begini, aku tidak bisa melawannya. Ditambah lagi para member juga memaksaku untuk mengobati lututku dulu. Akhirnya dengan terpaksa, akupun dibantu Jooyeon ke ruang kesehatan.

“Perih tidak?” tanyanya saat mengoleskan alkohol di lukaku.

“Aniya..” jawabku pelan.

“Kkeut!” ujarnya sambil menempelkan plester di lututku.

Diapun beranjak menyimpan kotak P3K di tempatnya kembali dan duduk di depanku. Melihatku sambil menopang wajahnya dengan tangannya.

“Oppa jangan meremehkan luka seperti ini. Walaupun kecil tapi bisa jadi parah kalau dibiarkan saja” ucapnya dan tidak kugubris sama sekali.

“Oppa ingat? Dulu aku pernah diganggu oleh beberapa namja dan Oppa menolongku sampai lutut juga sikut Oppa berdarah. Oppa bilang tidak apa tapi aku tahu itu pasti sakit meskipun lukanya tidak seberapa” lanjutnya lagi.

“Ne dan kau memaksaku untuk mengobati lukaku” jawabku kemudian.

“Haha..habisnya Oppa keras kepala sekali sih!” belanya.

Senyuman dan tawanya bisa membuat otot bibirku mengembangkan sebuah senyuman tanpa sadar.

“Itulah yang kusuka darimu..” ucapku tanpa sadar.

Kata-kata itu berhasil membuat tawanya berhenti dan membuat ekspresinya jadi kaget. Aish! lagi-lagi aku salah bicara.

“A..ayo kita kembali. Yang lain sudah menunggu” ujarku mengalihkan pembicaraan.

***

Akhirnya latihan selesai juga. Akupun sudah selesai mandi dan bersiap-siap pulang ke rumah, kusuruh Jooyeon untuk menunggu di mobil.

“Jooyeon-ah, ayo pulang” ujarku begitu membuka pintu mobil.

Ternyata dia malah tidur, kulihat jam tanganku. Omo! Sudah jam 10 malam ternyata, pantas saja dia ketiduran. Dia pasti lelah seharian ini.

Kuhampiri dia yang sedang tidur di joknya dan memperhatikan wajah polosnya saat tidur.

Entah dorongan darimana, tiba-tiba tanganku bergerak menyusuri lekuk wajahnya, menyingkirkan rambut halusnya dari wajahnya dan menyentuh pipinya pelan.

“Jooyeon-ah..” panggilku pelan.

Tidak ada respon darinya, dia benar-benar sudah tidur rupanya. Lagi-lagi bisikan setan itu terus menghantuiku. Aku tidak bisa untuk tidak menyentuhnya. Perasaan ini begitu besar dan ingin sekali kutumpahkan. Perlahan kudekatkan bibirku ke puncak kepalanya dan menciumnya pelan.

Tapi kemudian, dia terbangun dan agak syok begitu tahu siapa yang tadi menciumnya. Dia membetulkan posisinya jadi duduk. Bisa kulihat pipinya agak merona karena perlakuanku tadi, kumohon Jooyeon-ah, jangan perlihatkan ekspresi itu padaku. Itu akan membuat benteng pertahananku hancur.

“O..Oppa sudah selesai?” tanyanya senetral mungkin.

“Hm..” jawabku pelan.

Keadaan jadi agak canggung. Aku sendiri tidak bisa berkata apapun, aku hanya bisa terus memandanginya yang salah tingkah. Seolah telah dihipnotis, mataku tidak bisa lepas darinya. Dia hendak memasang sabuk pengamannya.

Perasaanku benar-benar meledak-ledak di hati ini, aku tidak bisa menahannya lagi. Refleks kupeluk dia. Badannya agak menegang saat tubuhku menempel dengan tubuhnya. Dia diam tidak merespon ataupun menolakku.

“Suka..” kata itu tiba-tiba dari mulutku tanpa dikomando.

“Eh?”

“Aku suka padamu. Selalu..sejak dulu…” lanjutku lagi.

“Op..”

“Tidak akan kuserahkan pada Donghae Hyung atau siapapun. Aku tahu kau jadi bingung, tapi aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Maaf..” ucapku sambil menenggelamkan wajahku di pundaknya.

Tidak ada jawaban darinya. Kumohon, Jooyeon-ah..jawab aku. Tapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.

CHO JOOYEON POV

Aku sedang termenung menunggu Donghae Oppa di rumah. Kejadian di mobil itu terus membayangiku. Kenapa saat itu aku diam saja? Seharusnya aku harus menolak Kyuhyun Oppa, tapi kenapa otakku langsung mogok begitu dia mengucapkannya? Aku benar-benar bingung.

Sekarang kuputuskan untuk meminta nasihat dari Donghae Oppa, aku tidak bisa cerita hal ini pada Hyorin. Aku tidak ingin merepotkannya dan aku yakin Donghae Oppa bisa memberikan solusi terbaik.

TING TONG.

Bel rumahku dipencet dan aku langsung berlari membuka pintu. Itu Donghae Oppa. Segera kusuruh dia masuk dan langsung ke dapur, membuat minuman.

“Jadi, kau mau curhat apa?” tanyanya begitu aku menyimpan gelas minuman di meja.

“Hm..sebelumnya mian kalau aku menganggu aktifitas Oppa..” ucapku tak enak.

“Aniya, gwaenchanayo. Jadi?” tanyanya lagi.

“Baiklah, aku mulai dari awal saja ya. Apa Oppa tahu kalau nama asliku Park Jooyeon?”

Dia terlihat kaget dan mengerutkan alisnya tanda tak mengerti.

“Maksudmu?”

“Aku..bukan adik kandung dari Kyuhyun Oppa. Aku di adopsi oleh keluarga Cho..”

Kuceritakan semua kejadian akhir-akhir ini tanpa terkecuali kejadian kemarin.

“Dan kemarin, Kyuhyun Oppa bilang kalau dia menyukaiku..”

Kali ini reaksinya lebih kaget lagi.

“Ottokhaeyo, Oppa? Aku tidak ingin kenyataan ini merubah keadaan sekarang” ucapku melemah.

 

LEE DONGHAE POV

“Dan kemarin, Kyuhyun Oppa bilang kalau dia menyukaiku..”

Kalimat terakhirnya itu yang lebih membuatku kaget.

“Ottokhaeyo, Oppa? Aku tidak ingin kenyataan ini merubah keadaan sekarang” ucapnya melemah.

Sejenak aku tidak berpikir apapun. Benarkah itu? mereka tidak bersaudara dan Kyuhyun menyukainya? Kutatap lagi dirinya yang masih terus memegang HP-nya. Kalau sudah begini, aku juga tidak bisa diam saja.

Akupun beranjak dari dudukku dan berlutut di depannya. Kutatap dirinya dalam-dalam. Kupegang tangannya dan mengelusnya lembut. Diapun mendongak melihatku.

“Oppa..” panggilnya sendu.

“Kalau begitu, pacaranlah denganku”

Aku tidak tahu apa yang kukatakan barusan. Yang ada di pikiranku saat ini adalah aku tidak ingin dia sampai jadi milik orang lain apalagi Kyuhyun. Diapun terlihat kaget, sangat malah.

“Aku tahu ini sangat mendadak, tapi..saranghaeyo Jooyeon-ah..” ucapku tanpa melepaskan pandanganku darinya.

Dia diam tidak merespon. Matanya terus mengisaratkan kebingungan.

“Kamu bingung karena dia menyukaimu’kan? Karena itu, biar aku yang menjagamu. Dengan begitu, dia akan menyerah’kan? Aku..akan melindungimu, apapun yang terjadi..” ucapku sambil memeluknya.

Dia tidak membalas pelukanku. Kuharap keputusanku ini benar.

 

CHO JOOYEON POV

“CHO.JOO.YEON”

“Hm?”

“Kayaknya kau harus membuka plastiknya dulu deh sebelum dimakan” ujar Hyorin sambil menunjuk roti coklatku.

“Hm? Ah..keure..”

Dengan lemas, kubuka roti yang ternyata belum kubuka bungkusnya.

“Waekure? Kau nampak lesu akhir-akhir ini” tanyanya.

Aku benar-benar pusing. Aku tidak bisa fokus pada apapun. Pikiranku terus tertuju pada kejadian akhir-akhir ini.

“Saranghaeyo, Jooyeon-ah..”

Perkataan Donghae Oppa-pun terus terngiang-ngiang di kepalaku. Belum masalah Kyuhyun Oppa berkahir, sekarang Donghae Oppa yang bilang menyukaiku. Wajahku jadi panas hanya karena memikirkan mereka berdua. Ottokhaeyo?

“Yak, waekure? Wajahmu merah begitu, kau demam?” tanya Hyorin cemas.

“Aniya, gwaenchanayo..” ucapku bohong.

Aku tidak bisa memberitahunya hal ini. Bagaimana ini? Aku tidak bisa curhat pada siapapun, aku bahkan malu kalau bertemu Donghae Oppa.

***

“Kau mau pulang?”

Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunanku saat berjalan menuju gerbang kampus. Suara yang sangat kuhafal dan tidak ingin kutemui saat ini. Itu suara Donghae Oppa.

“N..ne..” ucapku tergagap.

Kutundukan wajahku, kali ini bisa kurasakan wajahku memanas begitu melihat wajahnya yang tersenyum tulus. Dia berjalan mendekatiku dan jantungku semakin berdebar keras.

PUK.

Dia mengusap kepalaku pelan. Kutengokan kepalaku pada namja yang lebih tinggi dari Kyuhyun Oppa ini.

“Mau temani aku ke Everland tidak?”

***

Aku tidak bisa menolaknya. Mau berbohong juga percuma karena pasti langsung ketahuan. Akhirnya akupun pergi menemaninya ke Everland. Sampai sekarang, tidak ada percakapan yang keluar dari kami berdua.

“Aku tidak akan minta jawabannya sekarang kok” ucapnya tiba-tiba.

“Ne?”

“Soal pernyataanku kemarin, pikirkan saja dulu dan kalau kau sudah punya jawabannya, segera beritahu aku ya?” ucapnya sambil tersenyum tapi perhatiannya terus menuju jalanan.

Sejenak otakku mogok untuk berpikir dan malah bengong melihatnya. Donghae Oppa yang menyadarinya langsung mengusap rambutku pelan.

“Tersenyumlah, kau jelek kalau melamun terus!”

“Haha..” aku jadi ingin tertawa.

Perasaanku jadi tenang sekarang. Donghae Oppa tersenyum lagi melihatku. Aku akui, dia memang satu-satunya namja yang bisa menenangkan perasaanku sekacau apapun perasaanku. Rasanya kalau ada Donghae Oppa aku merasa nyaman.

Kamipun bermain sampai larut. Tidak terasa sekali. Padahal cuaca sedang dingin, tapi yang kurasakan adalah kehangatan.

“Ha..HATCHII!”

Aish! saking dinginnya, aku jadi bersin. Memalukan, mana di depan Donghae Oppa lagi.

SRET.

Sebuah syal tebal hinggap di leherku. Kutengokan kepalaku pada pemilik syal itu.

“Jangan sampai sakit ya?” ucap Donghae Oppa sambil tersenyum manis.

“Kalau ada apa-apa, segera beritahu aku ya? Aku pasti akan melakukan sesuatu untukmu..” ucapnya lagi.

Ucapannya kali ini berhasil membuat pipiku tambah merah.

“Ne..” jawabku.

Kalau ada Donghae Oppa, aku merasa lega.

***

Ini adalah hari Rabu, jadi aku tidak usah masuk kuliah. Kuregangkan otot-ototku dan langsung membuka gorden kamarku. Hari ini benar-benar cerah dan hatiku benar-benar bersemangat kali ini.

“Hwaiting!” ucapku pada diriku sendiri.

Setelah mandi dan berpakaian, aku langsung keluar kamar hendak membuat sarapan. Kulihat pintu kamar Kyuhyun Oppa sedikit terbuka. Iseng, segera kubuka pintu kamarnya dan mengintip. Dia masih tidur, tidurnya benar-benar pulas. Sampai-sampai membuat samudera di sekeliling bantalnya.

“Hihi..”

Tawakupun keluar, tapi tidak terlalu keras. Padahal aku sudah tahu kebiasaannya ini sejak dulu tapi kalau melihatnya sedang tidur, aku jadi gemas sendiri. Dia begitu polos saat sedang tidur, berbeda jauh dengan saat dia bangun.

Kamarnya agak berantakan. Jam berapa dia pulang ya? Kemarin aku pulang sekitar jam 10 malam. Oh iya, kemarin’kan dia ada rekaman lagu. Dia pasti lelah sekali. Segera kututup kembali pintu kamarnya dan beranjak menuju dapur.

Aku berencana membuat jajangmyeon. Sudah lama dia tidak memintaku membuatkan makanan kesukaannya itu. Segera kupakai celemekku dan mulai memasak.

Tidak lama setelah itu, Kyuhyun Oppa-pun turun masih dengan piyama dan rambut acak-acakannya. Dia duduk di meja makan.

“Selamat pagi, Oppa” sapaku.

“Pagi..” ucapnya sedikit serak.

Kusodorkan air putih padanya. Air putih itu bagus untuk penyanyi, apalagi saat pagi hari. Diapun meminumnya sampai habis.

“Kau masak apa?” tanyanya sambil beranjak dari duduknya dan menghampiriku.

“Jajangmyeon, sudah lama aku tidak membuatkannya’kan?”

DEG!

Aku baru sadar kalau dia berada tepat di belakang leherku. Tepat saat aku mengatakan kalimat tadi, aku menengok ke arahnya dan kini jarak kami hanya berkisar 5 cm. Omo! Ottokhaeyo? Aku bahkan bisa merasakan deru nafasnya.

Rasanya matanya yang coklat itu seperti menghipnotisku untuk tidak melepaskan pandanganku darinya. Entah kenapa, jarak antara kamipun semakin memendek. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Matanya yang coklat itu kini sudah terpejam dan aku semakin bisa merasakan deru nafasnya di wajahku.

CUP.

Kami berciuman lagi. Mataku terbuka. Wajahku panas. Otakku tidak bisa berpikir. Tubuhku kaku. Aku tidak membalasnya ataupun menolaknya. Aku benar-benar seperti orang tolol! Cho Jooyeon, cepat sadar!

Tapi sebelum aku sadar ke alamku, dia sudah melepaskan ciumannya dan memegang pundakku. Barulah saat itu aku sadar dari apa ya? Molla, aku juga bingung. Wajahku sangat panas dan jantungku seperti mau melompat dari tempatnya. Itu ciuman ke-2 kami.

“Saranghae..” ucapnya sambil menempelkan dahinya di dahiku.

Lidahku kelu. Kenapa aku tidak bisa menolaknya dengan tegas?

“Aku bohong menyuruhmu untuk melupakannya..”

Waktu yang berharga. Saat-saat yang berharga. Kini mulai berubah.

“Ternyata aku memang menyukai, ani..mencintaimu..” ucapnya lagi.

“Oppa!” teriakku sambil mendorong tubuhnya.

“Kenapa..kamu bicara begitu? Padahal tidak ingin berubah. Kalau Oppa bicara begitu, nanti kita akan berubah..” ucapku sambil menunduk dan menahan airmata ini.

Jantungku sudah tidak bisa kukendalikan lagi. Nafasku tersenggal. Aku tidak bisa menatapnya. Dadaku sakit dan mataku panas.

“Aku tidak mau itu terjadi.., pasti menyesakkan. Kegiatan yang seharusnya menyenangkanpun malah jadi menyesakkan, padahal itu tidak pernah terjadi sebelumnya..”

Aku tidak bisa menahan airmata ini lagi. Mereka jatuh tanpa kukomando.

“Tidak mungkin tidak berubah. Kamu menangis karena kamu tahu itu’kan?” tanyanya.

“Uugh..”

Aku tidak ingin mendengarnya!

Aku berlari menuju kamarku dan menguncinya dari dalam.

DUK.

“Jooyeon-ah..”

DEG!

“Saranghae..”

Meluap. Lalu tumpah.

“Saranghae..”

Bentuk yang berubah ini..

“Saranghaeyo..”

Tidak akan bisa kembali seperti semula.

TBC

Hampir tamat nih. Makin semangat gak bacanya? Sabar ya chingu~, silakan komennya~

45 thoughts on “Sister Complex [part 7]

  1. .Donghae lebih tinggi dari Kyuhyun (?) *hanya fiktif belaka, terjadi di imaginasi author saja.
    .keke~ *dilempar author pake sandal.

  2. semakin penasaran.. dag dig dug beneran nih.

    penasaran sama cinta segitiga _evil_jooyeon_fishy?? kekekeeke XD pasti seru
    lnjut baca dulu ^^

  3. Pengumuman buat chingudeul yang belom tahu, saya udah punya blog sendiri #bangga #kibasponi, ada sekitar 5 FF baru yang masih pending di WFF tapi udah saya post di blog saya. Kalo punya waktu, silakan mampir ya~ pupuputri.wordpress.com, gomawo ^_^

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s