Love Stiff

Author : Tria DeAngelo

Cast:    Lee Taemin

Jung Ji Hoon

Dakota Fanning as Cassandra Alexander

Genre : romance, friendship , family

Rating : PG-13

Length: ONESHOT

Ps : ini bukan FF pertama author tapi Ffpertama yang author send ke sini, hehehe. Mianhae, jeongmal mianhae kalau jelek T.T coz masih dalam tahap belajar. Your respect is like oxygen. Please RCL :-D

Matahari perlahan lengser ke barat, mengantar burung camar kembali ke haribaan. Berbeda 180 derajat dengan gadis berambut pirang gelap bergelombang tersebut. Ia baru saja menginjakkan kaki di Negeri Gingseng tepatnya di Bandara Incheon Korea Selatan. Hawa asing negeri orang cukup membuatnya tidak nyaman. Tapi mau bagaimana lagi? Ia tidak punya pilihan. Jika perusahaan ayahnya tidak bangkrut. Jika ayahnya tidak perlu menggadai rumah mereka. Jika kecelakan kereta bawah tanah itu tidak terjadi. Jika ia tidak menemukan sang bunda gantung diri karena frustasi. Mungkin mereka bertiga sekarang berada di Hawai, menyapa tiap orang yang ditemui dengan aloha. Menghabiskan waktu berjemur di bawah terik matahari yang hangat. Nyatanya, itu tak lebih dari omong kosong. Sudah jatuh, terpeleset tertimpa tangga pula.

”Cassandra!!!”

Lamunannya pecah seketika berganti keterkejutan mendengar namanya disebut. Seorang bapak-bapak menggerak-gerakkan kertas putih bertuliskan ”CASSANDRA” dan ibu-ibu di dekatnya melambai-lambaikan tangan.

”Uncle Kim, Aunt Jun Ah. Nice to see you again,” Cass memeluk kedua orang tersebut bergantian.

”Ahh,.Cassandra kecil sudah besar rupanya. Cantik pula,” Aunt Jun Ah membelai Cassandra lembut.

”Sudah, lepas rindunya dilanjutnya di rumah. Sudah sore. Kajja!” ajak Uncle Kim.

Sepanjang perjalanan Cass, begitu nama gadis itu biasa disapa mengamati pemandangan sekeliling. Kota Seoul dipenuhi orang-orang berlalu-lalang dengan urusan masing-masing. Tidak berbeda jauh dengan tempat tinggalnya dulu di New York.Keduanya sama-sama memegang gelar yang sama sebagai kota yang tak pernah tidur. Hanya saja, di sini mayoritas penduduknya bermata sipit dibalut kulit seputih susu.

”Sudah sampai!” Uncle Kim berseru riang, dibawanya koper bersama ransel ke dalam rumah.

”Uncle, aku bisa membawanya sendiri,” Cassa berusaha mencegah namun lelaki paruh baya itu menolaknya.

”Gwencana, kau pasti lelah. Masuk, makan dan beristirahatlah. Paman akan membawa barang-barangmu ini ke kamar.”

”Tapi..,”

”Ayolah Cass, pamanmu benar,” Aunt Jun Ah menggandeng Cass masuk.

Ada hal yang berbeda ketika Cass memasuki rumah minimalis bercat biru laut tersebut. Terasa nyaman seperti rumah sendiri. Koleksi porselen Cina tertata rapi, lukisan-lukisan khas Korea terpajang sinkron dan foto-foto berbingkai di tata apik di tempatnya, benar-benar sedap dipandang mata. Salah satu foto menarik perhatian, terpampang jelas mendiang orang tuanya bersama Uncle Kim, Aunt Jun Ah juga dirinya di State Line Lookout lima tahun silam. Pandangannya mulai mengabur.

”Mereka benar-benar sahabat terbaik,” seolah mengerti tatapan si gadis, “Banyak hal yang tidak bisa dimengerti di dunia ini Nak. Sering kali itu perasaan berkata tidak adil, serasa dunia begitu kejam. Kita hanya bisa berharap namun Tuhan yang menentukan. Satu hal yang pasti, Dia akan memberikan yang terbaik. Percayalah, ” Aunt Jun Ah menepuk pundaknya pelan.

” Ya,.I agree with it. Aku ingin langsung istirahat. Pengaruh jet lag.”

”Yakin tidak mau makan?”

”I was.”

”Ne, take a rest. Kamarmu ada di lantai dua. Namamu sudah tertera di pintunya.”

”Thanks,” Cass tersenyum sekilas sebelum melesat menaiki tangga.

Hidup memang bagaikan roda yang berputar, segala hal mengalami perubahan baik lambat maupun cepat. Tak ada yang tahu pasti, bahkan peramal handal pun bisa saja meleset dalam prakiraan. Hal itulah yang kini dialami Cassandra, awalnya hidup berjalan seperti melewati jalan tol semua berjalan baik-baik saja sampai suatu petaka menyambar tak ubahnya angin puting beliung. Ia kehilangan semuanya, harta yang tersisa pun hanya sedikit tabungan dan apa-apa yang ia bawa. Masih beruntung Uncle dan Aunt Kim mau mengasuhnya, disamping rasa solidaritas persahabatan erat antara keempatnya, toh pasangan suami-istri Kim belum jua dikaruniai momongan.

”Cass, hari ini akan menjadi hari penting. Ahh, kau cantik sekali dengan seragam itu,” Aunt Jun Ah mengamati Cassandra dari ujung kepala hingga mata kaki.

”Astaga Bi, seragam ini membuatku sumpek,” Cass mengendorkan dasinya, jika boleh jujur dia lebih memilih memakai kaos oblong dibalut jeans belel daripada balutan kemeja, rompi, dasi dan jas yang kini melekat di tubuh proposionalnya

”Nantinya juga akan terbiasa, kau sudah tahu rute perjalan ke sekolah kan? Paman harus segera ke kantor dan bibimu akan mengurusi kedai. Jadi, kami tidak bisa mengantarmu.”

”Take it easy, I know. Gamsahamnida Paman dan Bibi sudah mau menerimaku. Maaf jika merepotkan,” rasa bersalah menghinggapi, ya bagaimana tidak? Mereka tak ada hubungan darah namun mau menerimanya seperti keluarga sendiri.

”Bibimu ini harus bilang berapa kali, kau sama sekali tidak merepotkan. Justru membuat rumah ini menjadi berwarna,” Aunt Jun Ah mengelus pundak Cass lembut.

Sesampainya di sekolah Cass dilanda rasa was-was. Andai ini New York mungkin ia tak akan segugup ini. Sayangnya, ia beada disini tanpa teman apalagi kenalan. Sempat menyesal tidak memilik teman warga Korea Selatan di account Facebook dan twitter. Menyesal tiada guna, beradaptasilah, hanya ada itu di kepala. Tatapan dari tiap murid yang berpapasan membuat langkah kakinya berat. Beberapa gadis tampak asik berbisik saat melihatnya. Oh God, I want it end, batin Cass.

The Tired Day, Cass benci ini. Apabila ada koran harian sekolah, pastilah tajuk utama akan berjudul ”HEBOH : Anak Pindahan New York”. Seharian penuh ia diberondong pertanyaan dari murid-murid di sekelilingnya, belum pelajaran yang membuatnya mupeng karena penguasaan bahasa Koreanya yang masih minim. Faedahnya bahwa ia memiliki teman sebangku yang bisa diandalkan. Lumayan membuat lega.

”Kang Eun Ri,” jawab gadis berambut sebahu itu ketika ditanya namanya.

Berita kehadiran Anak Pindahan dari New York sampai ditelinga lima orang namja berpredikat populer di sekolah.

”Kau sudah tahu kedatangan gadis New York itu kan?” tanya namja bermata sipit.

”Tentu saja, ini ada yang mengirimiku fotonya,” si namja bermata belo menunjukkan ponseknya.

”Sini aku mau lihat,” namja dengan postur tubuh terpendek tapi juga paling berotot merebut ponsel dari si pemilik, “Whoa, neomu yeppeo.”

”Bukannya itu orangnya,” namja bergelang pink menunjuk ke arah yeoja yang tengah sibuk pada ponselnya.

Taemin pun tertarik dan mengarahkan pandangan ke objek pembicaraan chingudeulnya sekarang. Tercengang, dari jarak jauh terlihat jelas bahwa gadis berkulit khas Kaukasoid tersebut terlihat “ngejreng” diantara murid lainnya. Di samping faktor dia berbeda ras dengan mayoritas murid berdarah Asian Mongoloid juga cara berseragam terlihat sedikit berani, dasi kendor, rambut dibiarkan berantakan, kemeja tak berkancing, kaos kaki garis dan sepatu kets warna mencolok. Bukan hanya itu, ekspresinya yang tampak cuek dan apatis membuat gairah Taemin bangkit, ingin mengenal lebih dalam.

”Siapa namanya?”

”Cass, Cassandra Alexander. Why? Kau tertarik?” tanya Jonghyun menyelidik.

Taemin tersenyum,”Yeoja yang menarik.”

”Lalu mau dikemanakan selir-selirmu itu? Mereka pasti akan sakit hati,” Key melambai pada yeoja-yeoja centil yang sedang bergosip ria.

”Cih, yang benar saja. Mereka seperti hantu,” jawab Taemin tak suka.

“ya Taemin, mereka tergila-gila pada pesona imutmu itu tahu!,” Minho angkat bicara.

”Enak saja kau bicara, aku ini manly!” Taemin menepuk dadanya. Tak habis pikir bagaimana temannya itu bisa menempelkan image imut pada dirinya. Padahal ia sudah mati-matian tampil manly membentuk otot dengan fitnes, assesoris berbau rantai sampai pakaian warna gelap dipadu jeans sobek di bagian paha sebagai pakaian sehari-hari.

‘’Anio, Taeminku tetap imut. Lucu-lucu,” Onew mencolek pipi Taemin gemas, membuat si empunya masam. Ia tidak marah dibilang imut, hanya saja mengingat usianya sudah 17 tahun, image itu sama sekali tidak cocok.

Sebelum mood-nya jelek Taemin memilih untuk pergi.

”Poor Cassandra! Dasar bodoh,” Cass memukul kepalanya pelan. Ia benar-benar ceroboh menaiki bus yang salah sehingga sekarang ia terdampar di trotoar, sendirian persis seperti orang linglung. Belum lagi ponselnya kehabisan batere gara-gara terlalu lama digunakan untuk ng-game. Melihat langit sudah mulai berwarna jingga membuat Cass menerawang paman dan bibi pasti khawatir sekarang. Setelah itu kembali menyalahkan diri sendiri. Cass duduk di bawah lampu jalanan, tidak ada satu pun bus melintas dan itu membuatnya semakin gelisah.

Brrmm!

Sebuah motor sport berhenti tepat di depannya. Sang reader membuka helm, memperlihatkan sosok rupawannya.

”Perlu bantuan?”

Cass hanya bengong lebih tepatnya bingung harus menjawab apa.

”Sepertinya kau tersesat?” namja tersebut kembali bertanya.

”Ne, bisa beritahu aku jalan menuju perumahan Daesuke?”

”Aku bisa mengantarmu kesana.”

Cass terdiam, lalu memperhatikan sosok di hadapannya. Seorang anak laki-laki berambut coklat gelap membingkai wajahnya yang bisa dibilang kekanakan namun juga menawan. Cass, what do you think! Ia orang asing, bisa jadi sebenarnya seorang penculik atau bahkan psikopat seperti Jack The Ripper.

”Aku tidak seburuk itu,” seolah mengerti apa yang dipikirkan gadis itu,”Kita satu sekolah, aku Taemin, Lee Taemin.”

”Cass, Cassandra Alexander,” ia menyamut uluran tangan Taemin seketika merasakan kehangatan menjulur ke sekujur tubuhnya.

”Jadi, mau kuantar?”

Cass tampak ragu-ragu.

”Tawaranku berlaku satu kali, atau kau tak bisa pul..”

”Oke, I want.”

Taemin tersenyum simpul, mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Sesekali melirik ke arah spion untuk melihat gadis di belakangnya. Bukan pertama kali bagi Taemin berinteraksi dengan gadis barat. Akan tetapi Taemin merasa Cass berbeda. Meskipun ia belum tahu pasti itu apa. Is it love? Pertanyaan konyol. Bagaimana bisa jatuh cinta terhadap seseorang yang baru dikenal beberapa menit yang lalu.

Hari sudah malam ketika keduanya sampai di rumah. Cass membungkuk pelan, mempraktekan salah satu adat budaya orang Korea.

”Terima kasih.”

”Sama-sama, masuklah orang tuamu sudah menunggu,” ucapan Taemin sempat membuat Cass terhenyak. Ia menyunggingkan senyum menahan rasa getir yang masih bergejolak di hatinya. Sepertinya Taemin melihat gelagat aneh, belum sempat bertanya gadis bermata biru itu sudah berbalik.

Cass berlari memasuki rumah,tergesa membuka pintu. Sampai tidak memperharikan dari kaca jendela besar seseorang juga melakukan halyang sama.

Bukkk!

“Aww!” erang Cass,pantatnya dengan sukses menghantam lantai. Sebuah tangan terayun,ia menyambut kemudian berdiri sempoyongan. Sejenak mengatur nafas lalu mendongak melihat sosok asing dihadapannya.

To be continued……….

”Syukurlah, akhirnya kau sampai juga di rumah,” Aunt Jun Ah tersenyum lega.

”Cass, kau benar-benar membuat kami khawatir, pulang terlambat, ponsel tidak aktif. Baru saja Paman hendak mencarimu setelah tamu  Paman pulang,” tambah Uncle Kim yang membuat Cass , merasa bersalah.

”Ponselku kehabisan batere. Maaf atas keterlambatanku dan juga karena menabrak anda Tuan,” Cass memandang sosok di depannya ragu-ragu. Hah, sepertinya lelaki ini terlalu muda dipanggil Tuan, batin Cass.

”Gwencana, adik kecil. Hmm, panggil aku Ji Hoon, Ji Hoon Oppa. Oke?” namja asing tersebut mengacak rambut Cass pelan, sukses menimbulkan semburat merah di wajah si empunya rambut.

”Ji Hoon ini relasi kerja Paman di perusahaan,” Uncle Kim memberi penjelasan.

”Ogh, baguslah. Aku lelah, I need time to take a rest,” Cass tersenyum sekilas kemudian melangkahkan kakinya pergi.

”Jangan lupa makan malam,” Jun Ah mengingatkan.

”Ne, aku akan turun setelah mandi.”

Ji Hoon terseyum simpul. Lucu juga gadis ini, pikirnya sebelum meninggalkan kediaman keluarga Kim.

Waktu berjalan cepat bagi Cass, menjalani hari baru disertai semangat dalam hati. Kesedihan dan kekecewaan pada hidup perlahan terkubur di lapisan paling bawah masa lalunya. Tidak terlupakan namun akan menjadi kenangan tersendiri, bagaimanapun mereka tetap akan menjadi orang tuanya. Tentang kepergian mereka bukankah itu sudah takdir? Tidak ada yang bisa mengelak dari kematian, meskipun itu raja sekali pun. Pandangannya  akan hidup memang berubah tapi tidak pada pribadinya. Cass tetap menjadi Cass yang cuek dengan rambut acak bergelombang, seragam berantakan tidak peduli berapa kali guru memperingatkannya. Itu sudah menjadi style, tentang akademik tidak begitu buruk bahkan ia selalu mendapat nilai terbaik di pelajaran Sastra Inggris, sudah tak diragukan akan tetapi juga mendapat nilai terburuk di pelajaran Tata Bahasa Korea.

Cass terduduk lesu di bangku kelas, lembaran kertas hasil ulangan tergenggam di tangan kirinya.

”What is this?” dengan cekatan Key mengambil kertas hasil ulangan dari tangan Cass.

”Kyaa! Kembalikan!” Cass tersadar dari lamunannya, ia berupaya keras merebut kembali kertas ulangan itu. Key pun tak kalah cepat segera mengopernya pada Jonghyun.

”Wah, wah lihat! Teman kita dapat nilai 5,” Jonghyun memperlihatkan kertas hasil ulangan tersebut pada Onew, Minho dan Taemin. Kelimanya tertawa terbahak-bahak, tidak mempedulikan Cass yang merengut sebal ke arah mereka.

”Oke, whatever!”

”Aniyo, our lady what we can do to reduce your resentment?” Key merangkul pinggang Cass mesra. Taemin yang melihatnya langsung membuang muka.

”Hmm, kau harus membuatkanku bekal khusus besok.”

” Yeah, everything for my lady.”

”Key, kalau kau terus bilang seperti itu Taemin akan membunuhmu,” ucap Minho mengerling pada Taemin.

”Aissh. Jinja?” kor Jonghyun, Taemin dan Onew. Taemin mengarahkan pandangan membunuhnya, seketika membuat ketiganya diam.

”Ne arasso. Cass bukan tipeku,” Key melepaskan rangkulannya.

Cass melihat sekilas ke arah Taemin. Jelas terlihat wajahnya yang salah tingkah. Ia hampir tertawa sebelum menyadari bahwa ia tak ingin membuat Taemin lebih malu dihadapan teman-temannya.

”Agh, aku harus pulang. Anyeong!” Cass melambaikan tangan sebelum berlalu. Seperti yang diduga Ji Hoon sudah stand by di depan gerbang, masih mengenakan setelan jasnya.

”Lama menunggu?”

Ji Hoon melirik arlojinya,”Lumayan, ayo makan. Sebelum jam istirahatku habis. Kajja!” Ji Hoon membukakan pintu mobilnya. Dari lantai ke-2 gedung sekolah internasional tersebut, sepasang mata terus memperhatikan mereka, nyaris tanpa berkedip.

”Apakah kau hanya akan diam saja melihat mereka?” Jonghyun menepuk bahu Taemin.

”Ekspresi tadi sudah menunjukkan bahwa kau meyukai gadis itu,” Key berdiri di sisi kanan Taemin, ikut memperhatikan mobil Pajero hitam yang mulai meninggalkan sekolah mereka.

”Setidaknya katakan bahwa kau mencintainya atau ia tak akan pernah tahu perasaanmu sesungguhnya. Urusan ditolak, hmm itu masalah belakangan,” nasehat Minho cukup melekat dipikarnnya.

”Aigo! Apa jatuh cinta itu rasanya lebih enak dari ayam goreng? Sepertinya aku juga mau punya pacar,” Onew bergumam.

”Baiklah, Onew Condition berlaku sekarang,” Key menepuk keningnya.

”Ayo makan sebelum Onew Condition makin parah,” Jonghyun menarik tangan Onew keluar kelas.

Minho masih berdiam di tempatnya,”Tell her Taemin before it’s too late. Bukankah kalian sudah saling mengenal? Hanya belum saling membuka diri saja. Sebagai teman hanya itu yang bisa kukatakan.

”Aku menghargainya Minho. Aku tidak tahu kenapa, tapi kau terlihat lebih bijak sekarang,” Taemin memandang Minho tak percaya.

”Ogh! Akhir-akhir ini aku sedang giat membaca Chicken Soup. Bagus lho? Aku punya koleksi lengkapnya di perpustakaan keluarga. Kau mau baca yang  mana? Chicken Shoup for Girls, Chicken Soup for Woman Soul, Chicken Soup for Pregnant Woman atau Chicken Soup for Housewife?”

Kali ini giliran Taemin yang menepuk kening frustasi,”Oke Minho. Kajja! Kita susul yang lain sebelum terjadi Minho Condition.”

Ji Hoon mengangguk mengerti mendengar cerita gadis di depannya. Sedikit memaksakan dirinya untuk tersenyum saat mendengar namja bernama Taemin, Key, Minho atau siapa itulah yang seakan tak ada habisnya diceritakan dari bibir gadis mungil yang entah sejak kapan mengikat hatinya. Ia sudah melakukan segalanya, memberikan perhatian ekstra, rutin menjemput ke sekolah, sering mengajaknya hang-out namun sepertinya gadis berambut pirang tersebut tidak jua peka dengannya. Apakah ia harus menanyakannya secara langsung? Pikiran itu terus berkecamuk di dalam otaknya.

”Ya Oppa! Kau masih mendengarku?” Cass mengibaskan-kibaskan tangan di depan wajah Ji Hoon.

”Ne, tentu saja. Ceritanya menarik, apa aku boleh bertanya sesuatu?”

Cass mengernyit, ia barusan mengeluh tentang nilai jelek dalam Tata Bahasa Korea. Apanya yang menarik?, ”What is that?”

Ji Hoon mengatur nada bicarany agar tidak terdengar gugup,”Apa yang kau tahu tentang cinta? Pernah merasakannya?”

Cass menaruh sendok, nafsu makannya mendadak hilang,”Hah, aku tidak tahu definisi yang pasti tentang cinta Oppa. Satu hal yang ku tahu bahwa cinta bisa membawa kebahagiaan tapi juga menyisakan luka ketika dikhianati maupun ditinggalkan oleh cinta itu sendiri. Jujur saja ketika masih di New York aku selalu gagal menjalin hubungan dengan anak laki-laki. Kami bertukar no. ponsel kemudian berkencan tanpa kesan, keesokan harinya hubungan kami renggang dan akhirnya  lost contact. Begitulah.”

”Jadi, kau tidak sedang memiliki perasaan istimewa dengan lelaki lain?”

Jari-jari lentik milik Cass menari-nari di meja seolah sedang bimbang,”Begini, aku tidak tahu harus bercerita dari mana, yang jelas aku tengah dekat dengan seorang anak lelaki. Aku sendiri tidak bisa mengidentifikasi ini cinta atau sekedar bayang semu belaka. Lagipula aku merasa tidak seimbang bersanding dengannya.”

Ji Hoon terseyum kecut secara tidak langsung Cass telah menolaknya. Meskipun begitu ia merasa lega, akhirnya perasaannya terjawab juga walau tidak sesuai harapan, ”Menurutku harus segera dikonfirmasi. Kita tak pernah tahu betul isi hati seseorang.”

”Jiahh, konfirmasi. Emang Facebook Bang?” Cass mehrong.

”Egh, kalau dinasehati orang yang lebih tua itu didengarkan dan dipatuhi,” Ji Hoon mencubit pipi kiri Cass gemas.

”Ne, ne, ne Oppa.”

”Jangan cuman ne, tapi laksanakan. Lanjutkan!”

”Itu mah semboyannya SBY Oppa,” Cass protes.

Ji Hoon tampak berpikir, “So what? Emang lo kenal SBY? Sok tahu.”

”Yee, SBY tu temen mantan pacar adik ipar satu marga saudara sepupu tetangganya Uncle Kim,” ucapnya bangga. *author mulai sarap!

Tanpa disadari oleh keduanya, sepuluh pasang mata mengawasi gerak-gerik mereka dari sudut ruangan.

”Kau harus segera mengatakannya Taemin,” Key memandang Taemin tajam sementara yang dipandangi masih memainkan garpu di jari-jarinya. Mencoba untuk mengambil keputusan yang tepat.

Esok harinya seperti biasa Cass datang ke sekolah membawa style yang sudah dihafal luar kepala oleh teman-temannya. Beberapa guru pun kembali geleng-geleng kepala. Mereka tahu pasti berapapun banyaknya mengingatkan gadis berambut bergelombang tersebut untuk merapikan baju seragamnya, hal itu akan bertahan beberapa menit saja setelahnya kembali pada bentuk dasarnya berantakan tapi bagi anak-anak muda terlihat begitu catchy.

”Kau sibuk setelah ini?” tanya Taemin.

Cass menggeleng pelan.

”Aku butuh teman untuk jalan-jalan.” Cass mengiyakan, dalam perjalanan barulah ia menyadari ada yang ganjil. Kemana Jong, Onew, Key dan Minho? Bukannya kelimanya seperti perangko dan amplopnya? Tak terpisahkan. Cass mengurungkan niatnya untuk bertanya ketika Taemin mengarahkan motornya melewati daerah pedesaan. Jalanan lengang nan luas membelah lautan bumi pertanian yang padinya tengah menguning. Taemin memarkirkan motor sportnya di salah satu halaman rumah petani setempat. Kemudian menggandeng tangan Cass menyusuri jalan setapak.

”Sebenarnya kita mau kemana?” ujar Cass bingung, ia ekstra hati-hati mengambil langkah di jalan setapak yang sedikit berlumpur tersebut.

”Sebentar lagi kau tahu. Awas perhatikan langkahmu!”

”Arasso, tapi hendak kemanakah kita pergi?” Cass masih ngotot bertanya.

”Sebentar lagi sampai.” Cass mencelos, bukan itu jawaban yang ingin didengarnya.

Setelah berjalan lama dan jauh dari pemukiman para penduduk, Taemin berhenti. Ia meyusuri pematang sawah sembari menuntun Cass untuk mengikuti langkahnya. Sedangkan Cass berkonsentrasi penuh pada langkah-langkahnya, ia tidak selincah Taemin berjalan di tanah becek sehingga tidak memperhatikan keadaan sekelilingnya.

”Tadaa!” ujar Taemin girang.

Cass melongo tak mengerti, seluas mata memandang hanya ada padi, padi dan padi.

”Aku harap kau tidak shock, lihat belakangmu.”

Cass mengikuti perintah Taemin. Ia menoleh ke belakang dan cukup terkejut melihat 4 orang-orangan sawah berjajar acak. Di bagian depan ke-4 orang-orangan sawah tersebut masing-masing terpampang sebuah papan dengan kata-kata yang jika dirangkai menjadi,”I Love You Cass.” Ia mengedarkan pandangan kepada Taemin.

”I don’t know how to tell you how much I love you,” Taemin menunduk.

”Oh my God. Not bad, it’s romantic enaugh,” Cass terkekeh pelan.

”Aku bisa terima jika kau sudah memiliki orang lain di hatimu,” Taemin kembali buka suara siap mengahadapi apapun kemungkinan yang bisa terjadi.

”Maksudmu?” Cass memandang Taemin bingung.

”Laki-laki Pajero hitam, orang yang sering menjemputmu itu. Kalian bersama kan?”

”Hahahaha, astaga aku lupa memberitahumu dan yang lainnya kalau itu Ji Hoon Oppa. Dia sudah kuanggap kakak sendiri.”

Ucapan Cass membuat Taemin membelalakkan matanya,”Mwo? Jadi kalian..,”

”Hubungan kami sebatas kakak-adik,” kata Cass jujur.

Perlahan kedua tangan Taemin merengkuh tubuh Cass ke dalam pelukannya, meyalurkan berjuta-juta volt kebahagiaannya, berharap Cass merasakan hal yang sama. Tapi tidak, karena dekapan Taemin yang terlalu erat mempersulit masuknya oksigen ke dalam paru-parunya.

”Ughh, Taemin. I can’t breath.”

Taemin melepaskan pelukannya, tertawa melihat Cass terengah-engah mengambil nafas,”So, do you wanna be my girlfriend?”

”Beraninya dirimu bilang seperti itu setelah membuatku hampir kehabisan nafas.”

”Mianhe, ayolah! Itu hal sepele. Aku mengerti jika kau akan menolakku. Aku memang bukan laki-laki yang baik bisa..,”

”Ssssttt,” Cass meletakkan telunjuk kanannya di bibi Taemin,”Justru aku yang harus bilang seperti itu, aku tidak cantik, tidak menarik, kulitku juga tidak putih mulus, mukaku tak bebas jerawat, dandananku berantakan dan rambutku sulit diatur.”

Taemin membelai pipi kanan dan kiri Cass lembut menggunakankedua tangannya,”I don’t care, hitup bukan hanya tentang memiliki orang yang kita cintai namun juga melengkapinya, melindunginya dan menjaga dari apapun. So once again, do you wanna be my girlfriend?”

”Yes, I do,”

Bukk!

Cass menoleh ke sumber suara, ia nyaris berteriak sebelum Taemin membungkam mulutnya. Jonghyun terjatuh ke kubangan lumpur, caping orang-orangan sawah untuknya menyamar jatuh di sebelah kirinya.

”Astaga! Jadi kalian benar-benar manusia,” Cass sempat tak percaya melihat ke-4 temannya tersebut berperan sempurna menjadi orang-orangan sawah.

”Tentu saja, itu semua gara-gara namjachingu-mu tercinta itu. Tapi aku tetap yang termodis kan?” Key sempat-sempatnya berpose.

”Jerami ini membuatku gatal,” Onew menggaruk-garuk punggungnya, sisa-sisa jerami masih tertempel di baju.

”Mungkin itu ulat Onew,” Minho terbahak melihat Onew menggaruk-garuk punggung menggunakan papan kata tersebut.

”Ya! Kualat kau Choi Minho.”

”Hentikan! Kalian bertiga sadar tidak sih? Taemin dan Cass sudah meninggalkan kita di sini,” celetuk Jonghyun.

Onew, Key dan Minho menyaksikan kedua pasangan baru itu menjauh dari pandangan. Selama seharian menyiapkan konsep  sampai membolos demi solidaritas sebagai sahabat dan sekarang ditinggal pergi begitu saja.

“Taemin!!!!!!!! Awas kau!” teriak ke-4 anak laki-laki tersebut bebarengan.

END

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s