Magic Book part 7

Author : OnlYurin

Genre : Romance, Fantasy

Length : Chapter

Cast : Lee Donghae, Song Mikan, Leeteuk

Sinopsis :

Mikan adalah seorang anak keturunan Korea yang miskin, dan hidup pas-pasan di rumahnya yang terletak di pinggiran kota. Sebagian besar rumahnya, hanya merupakan kamar bagi buku-buku sihir milik neneknya, yang bahkan tidak diketahuinya manjur atau tidak. Buku-buku itu selama ini hanya terus menyusahkan Mikan saja. Namun, segalanya berubah ketika Mikan menemukan sebuah keajaiban pada salah sebuah buku karya neneknya itu. Apakah keajaiban itu?

 

Magic Book part 7

 

Mikan’s POV

 

Begitu aku membuka mata, pemikiran yang membuat napasku sesak dan jantungku menggebu-gebu langsung menyerangku.

Pikiran itu tidak lain adalah pemikiran mengenai Donghae. Selimut tebal masih melapisi tubuhku, dan Donghae masih terbaring di sampingku. Rasanya aku ingin meminta penjelasan atas kejadian semalam, tapi pergulatan pendapat dalam otakku menghasilkan keputusan untuk tidak meminta hal itu.

Berbeda dengan keinginan hatiku untuk berdiam diri mengamati wajah Donghae yang terlelap lebih lama lagi, tubuhku melangkah cepat masuk ke kamar mandi.

Telepon di ruang tamu berdering ketika aku keluar kamar mandi. Tanpa banyak berpikir, aku bergegas ke ruang tamu dan mengangkat telepon itu—kebetulan Donghae juga masih tidur.

“Yoboseyo,” sapaku.

“Mikan-ssi?” Suaranya tinggi namun khas suara pria.

“Ryeowook-ssi?”

“Ah, ne.. Panggil aku oppa saja,” pinta Ryeowook.

“Ne, Ryeowook oppa. Kau mencari Donghae?”

“Betul sekali. Dia ada?”

“Masih tidur. Kau bisa telepon sebentar lagi.”

“Kalau begitu kau beritahukan saja padanya kalau aku sudah menghubungi adikku. Hari ini ia akan pulang ke Korea.”

“Oh, arasseo..”

“Gomawo, Mikan~a.”

“Ne—“

Belum sempat aku membalas ucapan terima kasihnya, Ryeowook sudah menutupkan teleponnya. Dari pintu kamar yang setengah terbuka, aku dapat melihat Donghae masih terlelap dalam keadaan topless, membuat darah berdesir cepat ke kepalaku. Ya ampun, kenapa otakku terus saja mereka ulang kejadian semalam?

“Donghae-ssi, tadi Ryeowook oppa menelpon,” tukasku, ketika Donghae sudah terbangun dan sedang meminum air untuk melancarkan tenggorokannya di pagi hari.

“Dia bilang apa?” sahutnya tak acuh, berdiri dan melilitkan selimut pada tubuhnya.

“Hari ini adiknya akan pulang ke Korea.”

Obrolan pagi kami berhenti ketika Donghae dengan tak acuh masuk ke kamar mandi, dan tidak memberikan tanggapan apa pun terhadap kalimat pemberitahuanku.

Ketika dia keluar kamar mandi, aroma dari sabun maskulin, menusuk hidungku dalam-dalam dan membuat jantungku kembali berdebar keras. Aku tidak mengerti dengan reaksi diriku yang sepertinya selalu saja berlebihan dan tak terduga ketika hal itu menyangkut dengan Donghae.

“Kau mau ikut ke rumah eomma?” tanyanya, mengibaskan rambutnya yang basah, membuat aroma maskulin dari shamponya semakin kental.

“Boleh juga,” komentarku.

“Kalau begitu cepat ganti bajumu.”

“Oh, arasseo.” Aku menyambar pakaian yang telah tergantung dengan rapi di dalam lemari yang sama dengan Donghae secara sembarangan—tapi itu termasuk dalam deretan pakaian bagusku.

Setelah berganti baju di kamar mandi—kupikir aku masih belum bisa membiasakan diri dengan Donghae; perasaan manusia rumit, bukan?—aku keluar dan mendapati Donghae sudah siap dalam balutan kaos kasualnya yang santai dan memukau.

Dia membalikkan kepalanya ketika melihatku, lalu dengan segera mengalihkan matanya, membuatku bertanya-tanya, apa ada yang salah dengan diriku sampai dia tidak mau melihatku lama-lama? Setelah beberapa saat termangu di tempatku, Donghae akhirnya melangkah dengan langkahnya yang besar dan tegas, keluar apartemen; aku mengekorinya.

Dengan satu tujuan yang pasti, Skyline milik Donghae melaju cepat di jalan raya. Tubuhku terdorong ke belakang akibat tekanan dari kecepatan tinggi mobil Donghae di tengah jalanan yang cukup lapang karena masih pagi hari.

“Ryeowook~ah,” teriak Donghae ketika melihat Mitsubishi lancer Ryeowook keluar dari rumah mewah orangtuanya. Tidak mempan dengan teriakan, Donghae membunyikan klaksonnya beberapa kali, sampai mobil itu berhenti.

“Hyung,” sapa Ryeowook, turun dari mobilnya dan mengintip dari kaca jendela mobil yang dengan sengaja dibuka Donghae.

“Kau mau kemana?” tanya Donghae.

“Bandara. Sepertinya Hyemi akan segera tiba.”

“Aku ikut,” tukas Donghae, tegas.

“Oke.”

Mobil Donghae dan Ryeowook saling beradu kecepatan di jalan. Aku tidak cukup tahu jika mereka sungguh-sungguh berlomba, siapa yang akan menjadi pemenangnya. Karena posisinya saat ini, Donghae dengan sengaja membiarkan Ryeowook memimpin jalan dalam kecepatan yang tergolong cukup tinggi; jalan tol bahkan turut mendukung kecepatan ekstrem kedua mobil yang memang diciptakan sebagai mobil balap ini.

Tidak perlu lama menunggu, pesawat yang memuat Kim Hyemi, atau lebih dikenal dengan nama Jean, diumumkan telah tiba. Dan akhirnya, aku dapat melihat kecantikan sempurna dari seorang korea yang menjadi artis Amerika ketika akhirnya tamu khusus Ryeowook dengan anggunnya berjalan melalui pintu ketibaan. Satu tangannya memegang koper yang tampak elegan dan melengkapi busana bandaranya. Kaca mata hitam bertengger rapi di matanya, dengan rambut lurusnya yang berwarna pirang dibiarkan tergerai begitu saja.

“Oppa,” sapanya pada Donghae. Aku benar-benar tidak tahan untuk tidak mengerutkan keningku. Kenapa dia malah menyapa Donghae terlebih dahulu?

“Kupikir kau salah orang. Ryeowook-lah oppamu,” tukas Donghae, memberikan penjelasan secara tidak langsung padaku.

“Oops,” gumamnya. “Oppa,” ujarnya, kali ini memandang Ryeowook.

Ryeowook oppa tersenyum, lalu langsung memeluk gadis itu. “Bagaimana mungkin kau bisa salah mengenali oppamu,” tandas Ryeowook dari balik pelukannya. “Jangan bilang kau bahkan melupakan bahasa ibumu.” Ryeowook melepaskan pelukannya, memandang Hyemi masih dengan senyum yang merekah di bibirnya.

“Tentu tidak,” tukas Hyemi, tersenyum. Tidak lama, karena detik berikutnya dia memandangku, yang menurut spekulasi otakku pandangannya seperti menilai, dan nilainya seperti… meremehkan?

Batinku sepertinya mulai sinis terhadap kesan awal yang ditunjukkan oleh Hyemi ini. Otakku berusaha menepis persepsi buruk yang sepertinya sekarang sudah menguasai pikiranku, tapi itu terasa sangat sulit; seperti dua bagian dari diriku yang saling bertentangan dan memperebutkan tempat utama itu.

“Kenalkan ini Lee Donghae, dan istrinya, Song Mikan,” tukas Ryeowook.

“Kau orang Jepang?” tanya Hyemi, memandang kepadaku dan mengumandangkan pertanyaan umum yang tak kusukai.

“Bukan,” jawabku, tidak bisa menahan nada suaraku untuk tidak terdengar kesal.

“Oh, namamu seperti orang Jepang.”

Dia melirik kepada Donghae. “Donghae oppa, kau tampan, persis seperti yang dikatakan Ryeowook oppa.” Hyemi mendesah. “Sayang kau sudah punya istri,” tambahnya.

Donghae terkekeh pelan dan teratur sebagai reaksinya atas kalimat yang diungkapkan Hyemi, membuatku merasa jengkel. Aku tidak tahu seperti apa tepatnya ekspresi wajahku sekarang. Menurut dugaanku, sepertinya masam.

“Siwon oppa, waeyo?” sapaku, meletakkan ponselku di samping telingaku ketika ponsel itu berderit di sakuku.

Mataku melirik sekilas pada Donghae, dan mendapati air muka yang berubah sekejap dalam wajahnya. Rahangnya seperti mengeras begitu nama Siwon oppa disebut. Bisikan perasaan dalam hatiku membuat diriku berteriak kesenangan untuk beberapa saat, hingga aku menahan napasku selama sedetik. Bisikan itu adalah sebuah persepsi yang mengatakan kalau Donghae cemburu pada Siwon. Tapi semua itu hilang begitu saja ketika tampikan kecil dari otakku yang diperkuat dengan fakta-fakta logis yang terjadi selama ini melintas dengan cepat.

“Mikan~ah, bisakah kau datang kemari? Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” tukasnya.

“Tidak bisakah kau membicarakannya melalui telepon saja?” Keningku berkerut dan mataku menjelajah kepada wajah-wajah ketiga orang yang kukenal yang berdiri di sisiku ini. Mereka terdiam, membiarkanku mengobrol dengan seseorang di ponselku tanpa gangguan suara-suara dari obrolan mereka.

Satu wajah yang paling menarik perhatianku dan membuatku membiarkan mataku tinggal beberapa saat, adalah wajah Donghae. Dia terlihat menilai, berusaha mencari tahu inti dari masalah yang sedang kubicarakan dengan Siwon sekarang.

“Masalahnya panjang dan rumit. Aku tidak yakin aku bisa membicarakannya dengan leluasa melalui sambungan telepon seperti ini,” tolak Siwon.

“Baiklah. Kau mau bertemu kapan?”

“Apa kau bisa sekarang?”

“Arasseo. Kau dimana sekarang, oppa?”

“Kita ketemu di Apple Pie’s saja,” Siwon oppa menyebutkan salah sebuah toko yang menjual pie apel favoritku.

“Baiklah. Tapi mungkin aku akan sedikit terlambat, karena aku ada di bandara sekarang.”

“Oh, arasseo.”

Sambungan telepon tertutup. Aku meletakkan ponselku kembali ke dalam sakuku, lalu mendongakkan kepalaku memandang Donghae dan yang lainnya. Semuanya menatapku biasa saja, kecuali Donghae. Tatapannya aneh, dan tidak bisa kudeskripsikan.

“Donghae-ssi, bisakah kau mengantarku ke Apple Pie’s? bisikku di telinga Donghae. Tentunya Donghae juga mengenal Apple Pie’s dengan baik, sebaik aku mengenalnya, mengingat tempat itu adalah salah satu tempat yang terkenal di pusat kota Seoul.

“Untuk apa kau ke sana?” Suaranya keras, dan dia sama sekali keberatan untuk membalas kata-kataku dalam bentuk bisikan yang sama. Jangan bilang dia mau bertengkar denganku di sini?

“Aku ada sedikit masalah dengan Siwon,” aku menyahut dengan menghilangkan embel-embel oppa, mengantisipasi jika dia marah karena aku mengatakan kata ‘menjijikkan’ baginya itu.

Donghae diam, dan aku mengartikannya sebagai persetujuan.

Mobil Donghae berlari dalam kecepatan yang bahkan lebih cepat daripada kecepatannya saat perjalanan datang kami tadi. Mesin mobil meraung-raung ganas, entah kenapa. Padahal menurutku, mobil ini bermesin halus dan bunyi raungannya tidak akan seperti ini. Apa terjadi sesuatu dengan Nissan Skyline milik Donghae ini? Atau justru pemilikinya-lah (Donghae) yang bermasalah hingga membuat mobilnya bermasalah?

Tidak lama, kami akhirnya tiba di depan sebuah ruko dua petak dengan deretan huruf besar yang menuliskan Apple Pie’s dan lambang pie dengan sebuah apel yang sudah digigit di sebelah tulisan itu, sebagai merek dari tempat yang kutuju. Donghae mematung di tempatnya, membiarkanku mengamati sebentar tempat itu, hanya beberapa detik.

“Kau tidak usah menjemputku. Aku bisa pulang sendiri,” tandasku, menunggu balasan kata-kata Donghae selama beberapa detik. Tidak ada reaksi darinya. Semuanya datar saja, dan dia tampak sama sekali tidak akan mengeluarkan reaksi apa pun, jadi aku memutuskan segera melangkah turun.

“Siwon oppa,” pekikku begitu lepas melalui pintu kaca transparan di toko pie ini. Siwon tampak sedang duduk dengan gayanya yang sangat menawan—tapi tak sanggup untuk membuat hatiku berpaling padanya—dengan seporsi pie ukuran sedang dan cangkir yang kuyakini isinya adalah kopi di meja di hadapannya.

Siwon oppa menampakkan senyumnya, dengan lesung pipi yang mempermanis wajah tampannya. Dia melambaikan tangannya sepanjang perjalanan singkatku menuju ke meja tempatnya duduk, lalu mulai menanyakan kalimat yang termasuk dalam kategori basa-basi padaku, “Kau mau pesan apa?”

“Pie apel dengan jus apel saja,” aku menanggapi kalimatnya.

Dengan cepat kusebutkan pesananku pada pelayan, lalu kembali memusatkan perhatianku pada namja di hadapanku ini. “Jadi, apa yang ingin kaubicarakan?”

“Mmm,” dia menggumam, menunda hal yang ingin dibicarakannya, seakan itu adalah hal yang cukup sulit untuk diungkapkannya. Aku tidak bereaksi dan tetap menunggunya dengan kesabaran serta waktu yang cukup luang yang kumiliki. “Ini mengenai Madeley.”

Jantungku memompa dengan cepat ketika Siwon menyebutkan nama Madeley. Memangnya ada yang salah dengan Madeley? “Ada apa dengan Madeley?” tanyaku. Kesabaran yang tadi kumiliki sudah menguap entah kemana.

Siwon oppa terdiam, semakin membuatku penasaran dan bertanya-tanya. Oh ayolah, dia tidak seharusnya melakukan hal seperti ini padaku. “Ada apa dengan Madeley?” aku bertanya ulang dengan tidak sabaran.

“Sepertinya… sepertinya… aku menyukainya,” tandas Siwon oppa, membuatku tidak mampu untuk tidak membelalakkan mataku sebagai luapan perasaanku yang menggebu-gebu, antara turut bahagia, tidak menyangka dan hal lainnya.

“Benarkah? Kalau begitu kau harus menyatakan perasaanmu padanya,” usulku bersemangat.

Siwon menunduk. Tangannya mengorek-ngorek meja bundar yang terbuat dari kayu secara halus, mengekspresikan kegundahan hatinya.

“Ada yang salah?” tanyaku berhati-hati.

Dia tersenyum. Namun senyumnya tak bisa menghalangi mataku untuk dapat menembus masuk ke kedalaman matanya yang tampak lebih gelap dari biasanya, tanda kalau perasaan hatinya sedang tidak baik-baik saja. Jadi apa masalahnya di sini? Sepertinya jika Siwon oppa menyatakan perasaannya kepada Madeley, tidak akan terjadi sesuatu sama sekali, mengingat Madeley juga sangat menyukai Siwon—atau mungkin, lebih dulu menyukai Siwon.

“Tidak. Bukan begitu. Hanya saja…” Siwon kembali menunduk, menggantungkan kata-katanya. Kali ini dia menunduk lebih dalam, memandang ke lantai yang diterpa sinar lampu yang membuat tegel-tegel itu tampak mengilap.

Pelayan datang membawakan pesananku, membuat kata-kata berupa pertanyaan mendesak yang sudah hampir keluar dari mulutku tertahan untuk sementara waktu.

Aku menyedot jus apelku, berusaha menenangkan diriku sendiri dari luapan rasa penasaran dan khawatir yang sepertinya membeku dalam diriku. Aku berdeham singkat. “Jadi,” aku memulai pembicaraan yang terpotong selama beberapa saat. “Apa yang menjadi masalah jika kau menyukai Madeley?”

“Aku takut kalau Madeley tidak menyukaiku. Aku tidak memiliki nyali yang cukup besar untuk menyatakan perasaanku dan kembali tertolak.”

Sesuatu seperti mencair dalam diriku, membuat mataku juga sepertinya mencair dari ketegangan yang membeku selama beberapa saat. Hanya permasalahan perasaan yang kecil ternyata. Siwon hanya membutuhkan sedikit bujukan kecil dariku, dan semuanya akan menjadi sempurna.

“Oh, ayolah… Apa yang kaupikirkan hingga membuat nyalimu ciut seperti itu? Kau tidak akan pernah tahu jika kau tidak mencobanya. Dan bisa kuyakinkan, kau pasti akan menyesal seumur hidupmu jika kau tidak menyatakan perasaanmu pada Madeley.” Ancaman yang cukup menyenangkan rasanya, sekaligus mengerikan. Tapi yang kukatakan memang benar kenyataannya, bukan?

“Maka dari itu aku memanggilmu kemari. Aku butuh saranmu,” tukas Siwon oppa.

Sebelah alisku terangkat dengan sendirinya, tanpa adanya unsure kesengajaan dalam diriku untuk membentuk ekspresi seperti itu. “Saranku, kau menyatakan perasaanmu kepada Madeley, perasaanmu yang sejujurnya. Singkirkan saja pengecut dalam dirimu selama beberapa saat, dan bisa kuyakinkan, kau akan berhasil.”

Siwon oppa menyerap kata-kataku dalam pikirannya. Bola matanya terlihat berkelabat kemana-mana, dan dia tampak sedang berusaha berpikir keras. Untuk apa dia berpikir sekeras itu? Aku mendesah, tidak tahan lagi melihat tampang Siwon yang seperti orang bodoh yang telah diperdaya oleh cinta.

“Aku pergi dulu. Kau pertimbangkan saja saranku.” Tidak perlu menunggu balasan kalimatnya, aku sudah langsung mengangkat kakiku pergi dari tempat itu, tanpa sama sekali menyantap pie apelku. Melihat wajah Siwon yang seperti itu, membuatku langsung kehilangan nafsu makan. Dan berhubung aku tidak memakan pie-nya, maka kurasa aku tidak perlu membayar tagihan restorannya.

 

 

 

Donghae’s POV

 

Gadis bodoh itu turun di Apple Pie’s dengan tampang menyebalkan yang sangat membuatku muak.

Dia bahkan masih berani menyuruhku untuk tidak menjemputnya. Oh, bahkan tanpa disuruh pun, demi bintang-bintang, aku tidak akan pernah mau menjemputnya yang habis bermesraan dengan pria lain secara terang-terangan di depan suaminya. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat adanya seorang istri yang selingkuh terang-terangan seperti Mikan itu. Dan ironisnya, hal itu harus diwujudkan pada diriku sendiri.

Mataku masih tak bisa terlepas dari punggungnya ketika dia melangkah masuk ke dalam Apple Pie’s. Sampai dia menghilang di balik pintu tempat itu, aku langsung melajukan mobilku dengan kecepatan super tinggi, dan membuat mesin mobil meraung ganas. Setirku sedang berusaha melaju kembali ke apartemenmu, namun usaha itu gagal ketika Jungsoo hyung menelpon dan menyuruhku menemuinya.

Dengan amat sangat terpaksa, aku pergi ke gedung perusahaanku, dan masuk ke dalam ruang manajer Jungsoo hyung. Sungguh, Jungsoo hyung rasanya hobi sekali menambahkan siksaan dalam hidupku. Aku sudah sangat lelah dengan semua ini, dan ingin pulang kembali beristirahat. Tapi dia malah memanggilku seperti ini.

“Donghae, bisakah kau untuk tidak bertampang cemberut seperti itu, seakan aku menyiksamu dengan sangat parah, padahal aku hanya memanggilmu mampir sebentar ke kantorku?” celetuk Jungsoo hyung.

Aku mendengus. “Kau tahu? Panggilanmu yang menyuruhku mampir ke kantormu itu memang menyiksaku, Park Jungsoo!”

Jungsoo hyung bangkit dari tempat duduk kebesarannya, dan datang mengitariku, seakan aku adalah seorang tersangka yang sedang diinterogasi oleh sang polisi. Aku bergeming, membiarkannya melakukan hal sesukannya. Aku sedang sangat malas berdebat dengannya.         “Aku ragu kalau kau masih akan mengatakan aku menyiksamu setelah mengetahui apa tujuanku yang sebenarnya memanggilmu kemari.”

“Kalau begitu cepat katakana, dan jangan membuat persepsiku lebih lama lagi tinggal di dalam kepalaku.”

Bukannya mengeluarkan kata-kata dari mulutnya, Jungsoo hyung malah kembali ke meja kantornya dan membuka laci di sana. Dia mengeluarkan sebuah amplop panjang berwarna putih.

“Oh, jadi maksudmu, ini hari gajianku? Tapi sepertinya hal itu tidak membuatku cukup senang, mengingat kemungkinan jumlah uang yang ada dalam amplop tipis itu.” Tawa sinis berkumandang di bibirku. “Apa aku mengalami penurunan gaji?”

“Donghae, Donghae, Donghae.” Jungsoo hyung menggulirkan langkah cepat kakinya kepadaku, sambil menggelengkan kepalanya sekilas. “Kurasa kau memiliki masalah dalam kepalamu itu. Kau selalu berpikiran sinis,” kata Jungsoo hyung. “Ini bukan uang gajimu. Lihat—“tangannya merogoh amplop itu, dan mengeluarkan sebuah kertas yang kuketahui adalah tiket dari dalamnya—“ini adalah tiket. Kupikir mungkin kau membutuhkan liburan bersama Mikan, bulan madu begitu. Jadi aku bisa memberikanmu cuti selama beberapa hari. Tapi tentu saja keputusan akhir ada di tanganmu.”

Baiklah, sepertinya tawaran Jungsoo hyung memang cukup menyenangkan—atau malah mungkin sangat menyenangkan. Tapi bagaimana cara aku mengajak Mikan?

“Aku akan mengambilnya,” cetusku langsung, merebut tiket dari tangan Jungsoo hyung dan beranjak pergi, tanpa mendengarkan kata-katanya lebih lanjut lagi.

Tidak bisa kutampik dalam hatiku, aku mengharapkan hubunganku dengan Mikan yang mungkin bisa membaik jika mana kami melewati liburan bersama. Apa aku salah jika aku mengharapkan hal yang sepertinya muluk itu? Dan aku juga bukan orang bodoh yang naïf, yang tidak dapat mengetahui asal-usul perasaanku dengan jelas. Aku menyukai Mikan, atau mungkin mencintainya. Meski sehari-hari rasanya aku merasa jijik dengan kata-kata itu, tapi dalam hal perasaan kali ini, sepertinya aku bahkan tidak bisa memikirkan kejijikan itu.

Tapi bagaimana dengan Siwon? Bagimana jika Mikan benar menyukai Siwon? Baru kedengarannya saja, itu sudah sangat menyebalkan dan membuat darahku mendidih. Bayangan perasaan Mikan pada Siwon entah mengapa seperti mencekik leherku, dan membuatku kesulitan bernapas. Dan itu merupakan ketidaknyamanan sejati dalam diriku. Demi segala yang suci, jika mana itu benar terjadi, maka aku tidak akan bisa membayangkan akan seperti apa kehancuran diriku selanjutnya.

Mungkin sebagian juga merupakan kesalahanku yang membuat Mikan berhasil masuk ke dalam hatiku, dan membuat segala sesuatunya menjadi hancur seperti dilanda oleh angin sejuk yang terlalu cepat di sana. Rasanya menyenangkan ketika Mikan masuk begitu saja ke dalam hatiku, tetapi ketika dia keluar, aku sudah tidak bisa lagi membayangkan kehancuran yang ditimbulkan akibat dari kecepatan dari angin sejuk dan menyenangkan yang bertiup dalam batas kecepatan yang tidak wajar itu; sangat cepat, dan ganas.

Tapi sungguh, aku bahkan tidak mampu menahan Mikan yang entah sejak kapan merambat masuk ke dalam hatiku. Mungkin sejak awal aku melihatnya, keberadaannya seperti sudah terpatri jelas di dalam hatiku, dan rasanya seperti, dialah orang yang sangat pas sebagai pelengkap dalam kehidupanku.

Ketika aku melihat Mikan, rasanya seperti sesuatu yang selama ini telah hilang dari dalam hatiku berhasil kutemukan kembali, dan dengan kelengkapan itu membuat diriku sungguh bahagia. Suatu perasaan yang benar-benar menyenangkan namun aneh yang bahkan tidak bisa kudeskripsikan dengan kata-kata. Itu merupakan wilayah abstrak dalam diriku yang tidak bisa kuatur seenak perutku.

Dan kerumitan perasaan itu membuat kepalaku pusing memikirkannya, hingga rasanya mau meledak.

Bel apartemen berbunyi, membuat seluruh lamunanku buyar. Selintas perasaan singkat lewat dengan cepat, dan membuatku berharap kalau yang datang adalah Mikan. Harapanku terwujud ketika aku membuka pintu dan melihat Mikan-lah yang berdiri di balik pintu tersebut.

“Hai,” sapanya dengan canggung.

“Apa kau sudah puas berjalan-jalan dengan Choi Siwon-mu itu?” Aku merutuki mulutku yang entah kenapa selalu saja bisa sesinis itu terhadap Mikan. Lee Donghae bodoh! Kau bahkan tidak berhasil menunjukkan perasaanmu dengan gamblang kepada Mikan! Sungguh menyebalkan.

“Apa maksudmu, Donghae-ssi?” cetusnya. Nada bicaranya tidak kalah ketusnya dengan nada bicaraku.

“Maksudku? Bukankah itu sudah jelas?”

“Aku tidak mengerti. Sudahlah. Aku mau tidur,” celetuknya, lalu langsung beranjak ke kamar.

Desahan napasku yang tidak beraturan terdengar keras memenuhi ruangan. Aku tidak cukup bodoh untuk memahami kalau napasku yang tak beraturan itu dikarenakan emosi yang meluap-luap dalam diriku, dan itu semua karena gadis menyebalkan itu. Tapi kau menyukainya.

“Dasar bodoh!” aku mengumpat sendiri.

 

TBC

9 thoughts on “Magic Book part 7

  1. huaaah udah keluar!!
    tuh kan donghae suka sama mikan ckckck
    hmm gimana yah kalo hae sama mikan honeymoon ?? wkwkwkwk
    gk sabar buat part selanjutnya hehe
    FIGHTHING YA~^^!!

  2. maaf ya q komen y d part ini,,, tu krn q udah pernah baca sebelum y tp lupa d mana n tu sampe part 6 n q lanjutin ja baca y part ini…….
    donghae n mikan udah ngelakuin hubungan suami istri ya??? klo iya kok donghae cuek bebek gt kyk ngak kejadian apa2,,,,,, n hae kok ketus gt padahal dia sadar klo suka mikan…..
    Lanjut……..

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s