Magic Book part 6

Author : OnlYurin

Genre : Romance, Fantasy

Length : Chapter

Cast : Lee Donghae, Song Mikan, Leeteuk

Sinopsis :

Mikan adalah seorang anak keturunan Korea yang miskin, dan hidup pas-pasan di rumahnya yang terletak di pinggiran kota. Sebagian besar rumahnya, hanya merupakan kamar bagi buku-buku sihir milik neneknya, yang bahkan tidak diketahuinya manjur atau tidak. Buku-buku itu selama ini hanya terus menyusahkan Mikan saja. Namun, segalanya berubah ketika Mikan menemukan sebuah keajaiban pada salah sebuah buku karya neneknya itu. Apakah keajaiban itu?

Magic Book part 6

Mikan’s POV

Donghae menekan bel di depan pintu rumah itu, dan tidak perlu menunggu lama, pintu besar itu pun terbuka.

Seorang wanita paruh baya dengan rambut panjang yang digulung ke atas dengan beberapa jepit rambut berwarna emas yang menghiasinya membukakan pintu. Pakaian yang membalut tubuh wanita itu tampak sederhana, namun dapat terlihat kalau itu adalah pakaian bermerek. “Donghae, kau sudah datang,” pekik wanita paruh baya itu. Matanya perlahan berpindah padaku. Aku tersenyum kecil. “Apa dia istrimu?” tanyanya.

“Ne,” jawab Donghae.

“Aigoo, akhirnya Donghae menikah juga,” ujar wanita itu, memelukku.

Aku hanya bisa terdiam, tanpa melakukan pergerakan yang pasti. Bibirku tertarik membentuk senyuman yang dipaksakan. Kutolehkan kepalaku pada Donghae, menatapnya dengan pandangan bertanya.

“Eomma, kenalkan dia Song Mikan, istriku,” Donghae memperkenalkan. Jadi wanita di depanku ini ibunya Donghae?—ternyata dugaanku memang betul. Ibu Donghae ini tidak seperti dugaanku. Dia baik dan masih sangat cantik di usianya yang entah sudah menginjak berapa tahun.

“Song Mikan imnida,” tandasku, menundukkan badanku sembilan puluh derajat.

“Oh, Cho Hana imnida, ibu Donghae. Eh, kalian masuk dulu. Ayah Donghae ada di dalam,” tukas ibu Donghae.

Donghae berjalan duluan, sementara aku masih tertinggal di belakang. Ibu Donghae merangkul tanganku, kemudian berjalan beriringan denganku. Sungguh, seharusnya aku tidak perlu sekhawatir itu tadi.

“Kau tahu, aku sangat senang Donghae akhirnya menikah juga. Selama ini dia jarang sekali terlihat berhubungan dengan wanita, membuatku cemas saja. Tapi syukurlah, akhirnya dia bisa menikah denganmu. Aku tidak heran sebenarnya, melihat wajahmu begitu cantik seperti boneka Jepang. Tapi yang disayangkan adalah kenapa pernikahan kalian hanya melalui catatan sipil? Seharusnya hal sekali seumur hidup seperti ini dipestakan,” ujar ibu Donghae panjang-lebar.

Hanya senyumlah yang bisa terus kujaga di bibirku untuk kutampilkan padanya. Aku tidak tahu harus menanggapi kata-katanya seperti apa. Perjalanan ke ruang tamu tempat seorang pria paruh baya yang kuyakini sebagai ayah Donghae duduk tidaklah jauh. Dalam beberapa langkah yang diiringi dengan pendapat-pendapat ibu Donghae tentang pernikahanku dan Donghae, kami sudah bisa mencapai sofa itu.

Ruang tamu di sini tampak lebih besar dan mewah, dengan sofa yang tampak sangat nyaman, bahkan untuk ditiduri sekalipun. Di depan sofa itu ada sebuah meja segiempat yang di atasnya berjejer toples-toples yang kuyakini isinya adalah makanan-makanan ringan seperti kue, kerupuk, dan mungkin yang lainnya. Di depannya, tampak sebuah TV LCD yang ternyata adalah televisi 3D. Menakjubkan.

Donghae sudah duduk di samping ayahnya ketika aku dan ibu Donghae tiba di ruang tamu. Ibu Donghae menuntunku duduk di salah satu bagian sofa, dan aku mengikutinya.

“Jadi dia istrimu, Hae?” tanya ayah Donghae dengan suara beratnya, memulai pembicaraan.

Donghae mengangguk. Ayah Donghae memerhatikanku dengan saksama, membuat gumpalan perasaan canggung langsung menderaku, dan membuatku sesak karenanya. Aku menunduk, menatap lantai keramik mengilap bersih di rumah ini. Kupikir aku tak sanggup jika harus membalas tatapan pria paruh baya yang tampak tidak mengerikan, tapi mungkin bertolak belakang dari kelihatannya itu.

“Song Mikan imnida.” Aku menunduk memberi hormat padanya, dengan sebuah harapan jika keinginan dalam hatinya bersikap sarkatis padaku, maka keinginan itu akan hilang dengan pengenalan diri singkatku. Rasanya cukup konyol—jika dia memang ingin bersikap mengerikan, maka itu pastinya tidak akan berubah hanya karena perkenalan diri tololku.

“Hmm,” gumamnya, jarinya mengetuk lembut pipinya, dan matanya terus saja berputar menatapku dari atas ke bawah, dan bawah ke atas. “Jelaskan semua tentang dirimu.”

Batinku terkejut mendengar kalimat perintah itu, tapi sebisa mungkin kuatur ekspresiku untuk tidak menampakkan keterkejutanku yang bercampur dengan ketakutan akan penolakan setelah mendengar semuanya.

“Namaku Song Mikan; nama ini pemberian orangtuaku. Nama ayahku Song Hyunjae, dan ibuku Kim Raena. Orangtuaku sudah meninggal sejak masih kecil, dan hal itu membuatku dirawat oleh nenekku yang bernama Park Seonhwa.” Aku terdiam, membuat kalimatku berjeda. Pikiranku berputar cepat, berusaha menentukan pilihan terbaik antara memberitahukan pekerjaan nenekku—yang adalah seorang penyihir—atau tidak.

“Aku dan nenekku sejak dulu hidup miskin, dan hanya tinggal di sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Hal itu terus berlangsung sampai satu tahun setelah nenekku meninggal, tepatnya tiga tahun yang lalu. Ketika novel karanganku diterima oleh penerbit, barulah aku bisa hidup sedikit berkecukupan.

“Tapi, aku masih tinggal di rumah kecilku itu hingga kini.” Adegan kebohongan yang kubuat mengenai identitas Madeley melintas cepat di kepalaku, membuat otakku berproses dalam kecepatan tinggi untuk mengarangkan alasan mengenai keberadaan Madeley. “Dalam dua tahun terakhir aku tinggal bersama sepupuku yang bernama Song Madeley,” aku mengucapkan sebuah kalimat yang separo kenyataan dan separo kebohongan.

“Nama kalian aneh-aneh semua,” komentar ayah Donghae. Aku menyetujui dalam hati. “Maksudku namamu dan sepupumu. Kenapa tidak pakai nama Korea saja?”

Aku tersenyum. “Mau bagaimana lagi, namanya cuma diberikan oleh orangtua.”

Ayah Donghae terbahak, sangat keras untuk ukuran kata-kata yang kulontarkan bukan dengan maksud melucu. Dan sepertinya kata-kataku memang tidak ada lucunya sama sekali. Aku diam, berusaha tidak menampakkan kerutan pada keningku yang biasa kutunjukkan secara refleks ketika aku kebingungan.

“Kau, pantas saja Donghae mau menjadikanmu istrinya,” sahut ayah Donghae, masih dengan napas yang tersengal akibat tawa kerasnya beberapa saat yang lalu.

Kini, aku sudah tidak tahan untuk tidak mengerutkan keningku lagi. Kalimat singkat ayah Donghae barusan membuat banyak pertanyaan berkecamuk di kepalaku dalam sekali serangan. Pikiranku mengatakan, pernyataan mengenai nama, orangtua, dan hal lainnya yang telah kulontarkan sama sekali tidak memiliki manfaat untuk membuat Donghae mau menjadikanku istrinya—tentu saja karena penyebab sebenarnya adalah masalah pertanggungjawaban konyol itu.

Donghae melontarkan ekspresi tidak mengerti di wajahnya ketika aku menatapnya dengan pandangan bertanya. Sepertinya pikiran ayah Donghae memang lain daripada yang lain.

“Kau bingung dengan kata-kataku?” tanya ayah Donghae, menatapku dalam-dalam.

Penyesalan karena menampakkan ekspresi bingung melandaku. Ekspresi wajah ayah Donghae sekarang kembali berubah serius, dan itu tampak… agaknya mengerikan. Kuanggukkan kepalaku kecil-kecil, mataku memandang jauh ke depan, hingga terberhentikan pada dinding bercat pucat di depanku.

“Bagus. Kau tidak perlu mengerti. Cukup aku saja yang mengerti. Yang terpenting bagimu sekarang, kau lulus diterima sebagai menantuku,” tukasnya.

Tidak pernah kuduga sebelumnya kalau ayah Donghae akan mengadakan ujian seperti itu. Tapi apa pun itu, yang penting aku lulus sekarang.

Kami makan bersama di ruang makan dengan meja yang cukup panjang. Aneka macam makanan tersaji di hadapanku. Porsi makanku kali ini bahkan lebih sedikit dari porsi makanku biasanya—hal itu didasarkan rasa malu dan sungkan yang hinggap di tubuhku.

Donghae makan dengan lahap, dan tampak tak peduli. Tentu saja akan seperti itu, mengingat ini rumahnya. Tapi dia terlihat sama sekali tidak memedulikanku. Kalimat sinis dalam pikiranku yang lewat begitu saja memanaskan tubuhku: Donghae bahkan tidak memedulikanku, yang jelas-jelas sudah menjadi istrinya sekarang.

“Eomma, appa,” pekik sebuah suara yang terdengar seperti suara pria, tapi cukup tinggi untuk ukuran pria yang sedang berbicara.

Sosok pria berbadan mungil dengan wajah yang tampak imut muncul ke ruang makan. Pria itu tampak memesona dengan caranya sendiri.

“Ryeowook~ah, kau darimana saja?” tanya omonim.

“Biasalah eomma, berjalan-jalan dengan temanku,” jawab pria bernama Ryeowook itu. Tapi dia memanggil ibu Donghae dengan sebutan eomma? Kalau begitu artinya tidak lain dia adalah saudara Donghae.

Kupandangi Ryeowook, memilah-milah kemiripannya dengan Donghae. Sepertinya tidak ada—atau mungkin akulah yang tidak bisa melihat kemiripan seseorang?

Ryeowook mengalihkan kepalanya, menatapku yang masih duduk dengan menggenggam sendok dan garpu dengan jari-jariku. Alisnya tampak bertaut, memperlihatkan kelucuan dimensi lain yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Omonim seperti mengerti dengan arti pandangan Ryeowook, dan mulai menjelaskan, “Dia Song Mikan, istrinya Donghae.” Mata Ryeowook terbelalak, membuatku ingin terbahak melihat ekspresinya yang masih tetap saja tampak imut. “Kami—“

“Kapan Donghae hyung menikah?” selanya. Kalimatnya menginformasikan padaku kalau dia adalah adik. Satu hal yang masih dirasakan ganjil oleh otakku, aku belum pernah mengetahui tentang Ryeowook sebelumnya. Aku bahkan berpikir kalau Donghae adalah anak tunggal.

“Baru saja tadi. Nanti eomma akan jelaskan padamu,” bisik omonim, senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

Oke, pertanyaan Ryeowook mungkin terjawab, tapi pertanyaanku? Aku sama sekali tidak mendapatkan apa-apa di sini. “Omonim,” panggilku, membuat ibu Donghae mengalihkan pandangannya padaku. Rasa penasaran itu sudah terlalu menggelitik pikiranku, hingga aku melontarkan pandangan bertanya pada omonim.

“Dan Mikan, kenalkan dia Kim Ryeowook, adik angkat Donghae.” Barulah setelah itu aku mengerti akan ketidakmiripan yang terjadi antara Donghae dan Ryeowook. “Mereka hanya terpaut satu tahun, jadi Ryeowook lebih tua dua tahun darimu,” jelas omonim.

Aku berdiri, membuat kursi yang kududuki menimbulkan bunyi decit akibat tergeser oleh tubuhku. “Annyeonghaseo, Song Mikan imnida.” Kubungkukkan badanku 90 derajat, seperti biasanya.

Ryeowook tampak tersenyum kecil. “Kim Ryeowook imnida,” dia balas memperkenalkan diri.

Ryeowook yang ternyata juga belum makan bergabung bersama kami di meja makan. Perkenalan singkat dengan Ryeowook barusan sama sekali tidak membuat rasa penasaranku terpuaskan. Tapi setidaknya, aku masih bisa bertanya pada Donghae nanti.

Acara pertemuan dengan keluarga Donghae berakhir sempurna—mungkin tidak bisa juga dikatakan sempurna, tapi aku cukup puas dengan hasil akhirnya. Aku dan Donghae pulang, setelah sebelumnya berpamitan kepada semuanya—ayah dan ibu Donghae, serta Ryeowook.

Helaan napas panjangku terdengar di seluruh penjuru Nissan Skyline Donghae yang sepi, tanpa suara radio sekalipun. Niatku untuk mengusik Donghae dengan hal itu sama sekali gagal, karena pada kenyataannya, Donghae masih menatap lurus jalanan yang hanya diterangi cahaya lampu jalan berwarna oranye dari balik kaca mobilnya.

“Ehm,” aku berdeham, tidak puas hanya dengan menghela napas panjang.

“Kau mau minum air?” Aku tahu kalau kalimat yang dilontarkannya itu hanya berupa kalimat basa-basi saja.

“Tidak, terima kasih.” Kupikir sudah cukup basa-basinya sekarang—helaan napas panjang serta dehamanku juga dimasukkan dalam kategori basa-basi, karena memang untuk tujuan itulah aku melakukannya. Kini saatnya aku melontarkan maksudku yang sebenarnya, “Aku tidak cukup mengerti mengenai Kim Ryeowook,” gumamku.

Donghae berbalik menatapku, menunjukkan reaksi yang menurutku lebih hidup daripada pertanyaan basa-basinya tentang air minum. “Kupikir kau tidak dipaksa untuk mengerti Kim Ryeowook seperti kau harus mengerti pelajaranmu saat di sekolah dulu.” Dia kembali mengarahkan matanya ke jalan saat mengatakan itu.

“Tapi aku ingin mengerti,” protesku jujur.

“Apanya?” tanya Donghae tajam. Nada suaranya sepertinya meninggi satu oktaf, meski aku dapat mendengar suara tertahan dalam kalimatnya itu.

“Tentang asal-usulnya menjadi adik angkatmu, dan semuanya. Kupikir aku juga berhak tahu akan hal itu, mengingat sekarang aku adalah istrimu,” tuntutku.

Dia berbalik menatapku, seperti ingin membantah kata-kataku. Namun sedetik kemudian, ekspresi ingin mendebatku itu menghilang begitu saja dari wajahnya, digantikan oleh ekspresi yang lebih kepada ekspresi dingin dan tak acuh. “Ryeowook sudah menjadi angkatku sejak aku berumur 12 tahun. Ibuku menemukannya di pinggir jalan akibat kabur dari panti asuhan dikarenakan adiknya yang diadopsi orang.

“Adiknya adalah seorang wanita. Namanya Kim Hyemi. Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya, tapi menurut pengakuan Ryeowook, adiknya itu sangat cantik. Kalau aku tidak salah, sepertinya Kim Hyemi seumuran denganmu.

“Selama ini Ryeowook selalu mencari adiknya, tapi tidak kunjung ketemu juga. Kami sudah mengontak informasi dari panti asuhan tempat mereka dirawat dulu, tapi hal itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Jika dugaanku tidak salah, menurutku Kim Hyemi sekarang pasti sudah berada di luar Korea. Karena jika tidak, bagaimana mungkin kami mencarinya selama bertahun-tahun dengan tunjangan dana yang sama sekali tidak kurang, tapi tak kunjung bisa menemukannya juga.

“Kalau kau mau tahu apa yang menyebabkan Ryeowook masuk panti asuhan, maka penyebabnya tidak lain karena orangtuanya meninggal”—Aku mencibir dalam hati. Tentu saja aku tahu kalau itu adalah penyebabnya—“Dan penyebab meninggalnya orangtua Ryeowook adalah hal yang sudah umum; kecelakaan mobil. Ironis. Banyak orang mengalami kecelakaan mobil, tapi sebagiannya bisa tertolong. Dan kedua orangtua Ryeowook malah tidak bisa tertolong. Tentu saja itu karena takdir mereka,” Donghae menambahkan pendapat pribadinya.

Hatiku merasa puas. Pertanyaan dalam kepalaku—mengenai Ryeowook—sudah terjawab. Kami tiba di apartemen Donghae, lalu segera bergegas masuk ke dalam. Ini sudah terlalu larut untuk berjalan dengan santai-santai. Dan kurasa, sekarang yang paling kami butuhkan adalah istirahat.

***

Pagi datang dengan cepat.

Semalam aku langsung tidur dikarenakan mata yang sudah tidak bisa bertahan membuka lebih lama lagi. Bahkan baru pagi ini aku menyadari kalau aku belum mengganti dress selututku kemarin dengan piama satin yang nyaman di koperku.

Saat mataku dengan tidak sengaja melirik ke samping, darahku langsung berdesir dalam kecepatan penuh. Bagaimana bisa aku melupakan keberadaan Donghae di atas kasur yang sama denganku?

Ingin segera kulangkahkan kakiku menerjang kamar mandi, tapi sekali telah melihat wajah Donghae, memberikan akibat yang fatal bagi diriku. Aku tidak bisa mengalihkan mataku darinya. Wajahnya saat tidur tampak sedikit berbeda; sedikit lebih manis, dan… entahlah. Bukankah aku memang selalu menyukai wajahnya?

Pertanyaan dalam kepalaku membuatku meragukan perasaanku pada Donghae, ketika seulas pertanyaan lain yang mengintimidasi diriku melintas dengan cepat; apa aku hanya menyukai wajah Donghae saja? Kalau benar begitu, itu namanya aku tidaklah sungguh-sungguh menyukainya. Tapi bukankah lebih bagus kalau aku tidak sungguh-sungguh menyukainya?

Berulang-ulang kupikirkan hal itu, tak kunjung kudapatkan jawabannya juga. Pada akhirnya, kuputuskan untuk menyudahi pendapat tolol kepalaku, yang entah kenapa seperti memaksaku untuk mencari tahu.

Donghae menggeliat, membawaku kembali ke kesadaranku seutuhnya. Kualihkan mataku darinya, lalu langsung menerjang ke kamar mandi.

Aroma maskulin dengan cepat menguar ketika pintu kamar mandi terbuka. Kuguyur tubuhku dengan air hangat dari showernya, dan dengan cepat mengusapkan sabun beraroma apel pada tubuhku. Aku cukup yakin kalau setelah ini aroma maskulin kentalnya akan sedikit mencair.

Hari ini naskah drama yang kubuat akan mulai disyutingkan. Aku cukup penasaran melihat seperti apa berjalannya syuting nanti, terlebih dengan keberadaan Donghae di sana.

Begitu aku keluar dari kamar mandi di kamar, bunyi samar teriakan seorang pria terdengar dari arah ruang tamu. Aku mengerutkan keningku, dan dengan cepat mengintip dari balik pintu kamar.

Seorang pria berjas coklat susu sedang berdiri menghadap Donghae yang duduk di sofa. Pria itu menunjuk-nunjuk sebuah Koran yang tergeletak di meja begitu saja. Pikiranku berputar cepat berusaha memahami situasi sekarang, dan menurut observasi yang kulakukan, maka dugaan sementara yang kudapatkan adalah rumor mengenai Donghae sedang beredar di koran. Meski aku tidak mengenal pria itu, tapi jika mana Donghae sampai tertunduk dan tidak bisa membalas kata-katanya, maka itu artinya dia adalah atasan Donghae.

Rumor buruk seperti apa kira-kira yang ada di sana? Kutajamkan telingaku, untuk mendengar lebih jelas; tidak sulit, karena pada dasarnya pria itu berteriak-teriak dengan suara yang lantang.

Secara refleks, mataku membelalak ketika kata pernikahan terdengar telingaku. Jantungku memukul rusukku lebih cepat dua kali lipat, dan membuatku lebih serius dalam mendengarkan.

“Donghae~a, kenapa kau menikah seperti ini?” Nada suara yang lantang dan tegas dari pria itu melembut. Kali ini sepertinya dia mencoba bertanya baik-baik.

Hening. Donghae sama sekali tidak membuka mulutnya, dan tetap memandang ke lantai marmer apartemennya, membuatku bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkannya. Pria itu mengehela napas lalu mengacak rambutnya yang sudah berantakan—sepertinya dia sudah mengacak rambutnya sebelum pengacakan rambut yang kulihat kali ini.

“Donghae~a! Apa kau tidak tahu kalau kau itu artis? Kau harus menjaga imejmu di depan masyarakat. Dan sekarang, lihat semuanya sudah tersebar di Koran. Aku tidak pernah melarangmu menikah hanya karena profesimu sebagai seorang artis, tapi kau bisakan menikah layaknya orang normal? Bukannya menikah tiba-tiba di catatan sipil tanpa pemberitahuan terlebih dahulu,” tegas pria itu dengan nada monoton yang meninggi.

Donghae berdiri dari tempatnya secara tiba-tiba, membuat napasku berhenti selama sedetik. Hal yang sama juga kulihat terjadi pada pria itu. “Kupikir aku dapat menangani masalah ini sendiri, hyung. Berhenti merecokiku,” ujar Donghae dengan nada suara yang tidak kalah tegasnya dari pria itu. Dan suara itu seperti mengisyaratkan nada final.

“Aku mengatakan ini demi kebaikanmu. Kau bisa menangani masalah ini bagaimana, hah?” tuntut pria itu.

“Siapkan saja konferensi pers secepatnya, dan aku akan menghadirinya.” Donghae berjalan ke arah kamar, segera setelah mengatakan itu, membuatku kelimpungan menghambur ke atas kasur, tanpa sebelumnya menutup pintu terlebih dahulu.

Suara kaki Donghae memasuki kamar, membuat napasku semakin memburu.

“Kau tidak usah berpura-pura. Aku tahu kau mendengar semuanya.” Jelas kalimat itu dilontarkan untukku, hingga aku pun berdiri dan mengeluarkan cengiran kecil. Donghae tampak tidak peduli, lalu langsung menerjang masuk ke kamar mandi.

***

Konferensi pers yang dimaksudkan ternyata berlangsung hari ini. Dan aku, sebagai istri yang dinikahi juga harus mengikuti konferensi itu. Perasaan gelisah menjalar ke seluruh tubuhku. Bagaimana kalau mereka menanyaiku yang macam-macam? Masalahnya aku tidak terlalu berpengalaman dalam bidang ini—aku kan bukan artis.

Dan sekarang, di sinilah kami, duduk di sebuah meja panjang yang menjejerkan mikrofon tepat di depan bibir mulut kami. Para wartawan sudah berkumpul di bawah, dan itu terlihat seperti lautan kamera dari panggung tempat kursi dan meja yang kududuki ini.

Konferensi pers berlangsung dengan cepat, dan Donghae berhasil menjawab serbuan pertanyaan dari para wartawan dengan baik. Beberapa adegan tanya-jawab yang masih kurekam dalam kepalaku:

“Apa alasan anda melakukan pernikahan secara tiba-tiba?” tanya salah seorang wartawan.

            “Saya tidak melakukannya dengan tiba-tiba, hanya saja mungkin tiba-tiba bagi publik karena tanpa pemberitahuan sebelumnya.”

            “Kenapa anda tidak memberitahu public sebelumnya?” wartawan yang lain menimpali.

            “Seperti yang kita ketahui bersama, seorang artis harus menjaga imejnya dengan baik. Oleh karena itulah, saya sedang berpikir masak-masak mengenai tindakan saya ini.”

            “Kalau anda berpikir masak-masak, tentunya keputusan anda adalah tidak menikah.”

            “Tentu tidak. Orangtua saya sudah mendesak saya menikah sejak lama, tapi saya tidak pernah menghiraukannya. Ditambah lagi faktor saya sangat mencintai gadis di samping saya ini. Maka dari itulah saya menikahinya.” Intonasi suaranya dalam mengucapkan kata cinta itu seakan sangat sungguh-sungguh, dan hampir membuatku percaya kalau dia benar-benar mencintaiku.

            Para wartawan kelihatan mengangguk-angguk, setuju dengan pernyataan Donghae, meski dalam hati aku tahu kalau semua itu adalah kepalsuan belaka.

            “Lalu bagaimana dengan anda”—wartawan itu membaca sesuatu di kertas yang ada dalam genggaman tangannya—“Song Mikan-ssi? Bagaimana perasaan anda dicintai oleh seorang Lee Donghae?”

            “Tentu saja saya bahagia.” Aku cukup terkejut mendengar nada tenang yang keluar dari mulutku, sementara hatiku sedang dilanda kepanikan.

            “Apa anda juga mencintai Lee Donghae?”

            “Tentu,” ujarku, bahkan masih bisa melontarkan senyum meyakinkan. Aku tidak pernah tahu kalau aku bisa mengeluarkan sesuatu yang bertolak belakang dari apa yang ada dalam diriku.

Jika aku mengingat penggalan adegan wawancara tadi, aku jadi merasa sangat berbakat menjadi penipu—tentu saja adegan itu hanya sebagian kecil penggalannya saja. Well, mungkin ada beberapa kalimat yang kulontarkan benar-benar berasal dari hatiku, tapi sepertinya kebanyakan dusta. Tapi jika aku berbakat jadi penipu, maka Donghae? Kebohongan yang dilontarkannya bahkan sepertinya lebih banyak daripadaku.

“Hyung, kau hebat,” puji Ryeowook. Sekarang kami sedang makan siang bersama di sebuah restoran Italia.

Donghae melontarkan senyuman kecil sebagai tanggapan yang diberikannya atas pujian Ryeowook, kemudian mulai menyantap lasagna yang tersaji di atas piring di hadapannya.

“Kau tahu, hyung? Aku sudah mendapatkan jejak mengenai keberadaan adikku,” tukas Ryeowook, melanjutkan ocehannya. Mulutnya yang penuh dengan risotto tak dapat menghalanginya untuk berbicara. Dia bahkan tidak memedulikan beberapa anggota kru yang ikut bergabung dalam acara makan-makan kami kali ini.

Donghae menunjukkan reaksi yang cukup antusias kali ini. Badannya dimajukannya sedikit menatap Ryeowook yang duduk berhadapan dengannya. “Bagaimana keadaannya?”

“Ternyata benar dugaanmu selama ini; dia tinggal di luar kota, dan itu di negara bagian Amerika. Pantas saja kita tidak bisa menemukannya.”

“Jadi apa kau sudah bertemu dengannya?”

“Tentu saja belum. Aku hanya melihat fotonya yang tersebar dari internet saja. Dia jadi artis di New York.” Mata Ryeowook menerawang, mulutnya kini sudah kosong.

“Lalu bagaimana kau bisa memastikan kalau dia adikmu?”

“Tentu saja dari namanya dan wajahnya. Di sana dia memakai nama Jean, tapi wajahnya tidak jauh berbeda dengan ketika masih kecil dulu. Maka dari itu, ketika aku melihat fotonya, aku tertarik untuk mencari tahu lebih dalam lagi.”

“Jadi kau sudah menghubunginya?” Donghae kembali menyuapkan Lasagna-nya setelah melontarkan kalimat pertanyaan itu, membuatku teringat kalau aku sama sekali belum menyentuh Costoletta-ku. Makanan Italia yang satu ini, aku belum pernah mencicipinya; maka itulah aku memesannya.

“Belum. Aku tidak tahu bagaimama caranya.” Ryeowook meletakkan sendoknya begitu saja di piringnya. Tampaknya dia telah kehilangan selera makannya.

Aku menyuapkan Costoletta itu dalam potongan besar, dan merasakan sensasi nikmat dari tepung renyah yang melapisi dagingnya.

“Kau tenang saja. Nanti aku yang akan membantumu,” Donghae menenangkan. Kalau aku jadi Ryeowook, tentunya aku juga tidak akan cemas sama sekali, mengingat si tuan kaya raya Donghae ada di sampingku, dan siap membantu kapan pun aku membutuhkannya.

Donghae mengantarkanku pulang, tapi bukan ke apartemennya. Rencana dalam kepalaku untuk berbincang dengan Madeley akhirnya bisa terpenuhi. Kuketuk pintu rumah tua itu perlahan, sampai pintu itu dibukakan oleh seorang wanita dalam balutan celemek usang dan rambut terikat yang acak-acakan; wanita itu tidak lain adalah Madeley.

“Mikan,” pekiknya, lalu langsung memelukku. Aku tahu apa yang sedang terjadi di sini. Dia pasti kelelahan membersihkan buku-buku itu—celemek yang dipakainya adalah celemek khas yang kupakai khusus pada saat aku membersihkan tumpukan buku berdebu itu.

Tawa renyah berkumandang dari bibirku, membuat wajah Madeley merengut.

“Apa yang kautertawakan?” Suaranya meninggi, seperti menegurku.

“Akhirnya kau merasakan penderitaanku juga. Selama ini aku selalu bekerja sendirian, dan kau sama sekali tidak mau membantuku,” keluhku, masih sambil tertawa kecil.

“Ada apa kau datang kemari?” Madeley tampak tidak ingin membahas masalah itu lebih lanjut.

“Hanya ingin mengetahui kabarmu, tidak boleh?”

“Ada-ada saja kau,” katanya. “Masuk.”

Suasana dalam rumah tidak banyak berubah. “Jadi bagaimana kabarmu selama ini?”

Madeley mendesah keras. “Kau tahu, sepertinya aku mulai menyesal menjadi manusia sekarang. Perutku sering sekali berteriak lapar, tenggorokanku akan terasa haus kalau aku terlalu banyak berbicara atau berteriak—“

“Memangnya kau berbicara sama siapa?” selaku.

“Aku bicara sendiri; itu kan memang kebiasaanku.” Sudah kuduga.

“Makanya hilangkanlah kebiasaan itu,” saranku. “Lanjutkan,” kataku tanpa menunggu pendapat yang sepertinya ingin keluar dari bibirnya.

“Dan yang paling parah, uang yang kautinggalkan sudah merosot drastis tanpa adanya pertambahan akibat makanan dan minuman yang kubeli. Aku sampai kelimpungan mulai mencari kerja,” ujarnya. Matanya mengeras secara tiba-tiba, seperti mengeluarkan keteguhan hati yang di simpannya. “Mikan, suamimu kan orang kaya, apakah kau bisa memberiku uang setiap minggu?”

Mataku membesar. Jadi ini penyebab dari keteguhan hati yang kulihat di matanya tadi? “Aku tidak bisa. Kau cari pekerjaan saja sendiri. Aku akan membantumu mencarinya. Kau tenang saja,” bujukku. Nada suaraku mengisyaratkan kalau keputusanku sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. “Bagaimana kabar Choi Siwon?” aku mengalihkan topik.

Wajah Madeley yang sudah merengut semakin merengut lagi ketika nama Choi Siwon kuucapkan. “Aku belum bertemu dengannya sejak menjadi manusia.”

Wajar saja memang, mengingat transformasi Madeley baru berlangsung selama beberapa hari. “Bagaimana kalau hari ini aku akan membawamu bertemu dengannya?”

“Apa kau serius?”

Aku mengangguk.

Syuting drama buatanku yang tertunda akibat konferensi pers Donghae akhirnya berjalan lancar. Meskipun hari sudah sore, mereka tetap memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

Aku berjalan bersama Madeley beriringan, bukan untuk menemui Donghae, melainkan Siwon. Dan aku melihatnya sedang duduk di depan lokasi syuting, dengan televisi di depannya, dan beberapa kamera di sekitarnya. Profesi Siwon memang adalah sutradara, dan akulah yang mengusulkan agar dia menjadi sutradara dalam dramaku.

Kami datang di saat yang tepat, karena beberapa menit kemudian mereka beristirahat. Semuanya bubar, kecuali Siwon yang masih tetap pada kursinya.

“Siwon oppa,” sapaku.

Siwon mendongak, dan begitu melihatku senyum mengembang di wajahnya. “Mikan-ssi, kau mau melihat perkembangan dramamu?”

Aku terdiam sebentar. “Kenalkan, dia Song Madeley, sepupuku,” sahutku ceria. Aku tahu perkenalan kali ini agak tidak wajar; salahkan saja otakku yang entah kenapa jadi kurang waras akhir-akhir ini.

“Ah,” Siwon tergagap. “Choi Siwon imnida.”

“Song Madeley.” Entah telingaku yang salah, atau memang kenyataannya, aku mendengar suara Madeley bergetar. Sepertinya dia membutuhkan lebih banyak pendekatan dengan Siwon.

“Yoboseyo,” sahutku, berpura-pura ada seseorang yang menghubungi ponselku.

Mata kedua orang di depanku ini—Madeley dan Siwon—memandangku.

“Ah, ne, ne.. arasseo.. Aku akan segera ke sana,” tukasku, mengakhiri pembicaraan palsu di ponselku. “Sepertinya aku harus pulang sekarang. Ada orang yang sedang mencariku,” pamitku. Sepertinya aku bisa dianugerahi penghargaan atas bakat aktingku.

“Ah ye,” Siwon oppa menyahut.

Madeley memandangku dengan tatapan memohon, yang seperti menyuruhku untuk tetap tinggal. Mianhae Madeley, ini kulakukan demi kebaikanmu.

Aku melangkah dengan penuh percaya diri pulang ke apartemen Donghae dengan menumpangi bus, meninggalkan Madeley yang menatapku dengan tatapan mohon sekarang, tapi ke depannya akan menatapku dengan tatapan berterima kasih. Apa aku terlalu percaya diri?

Tidak ada yang kulakukan di apartemen. Rasanya membosankan ketika kau harus menunggu suamimu pulang, yang bahkan ketika dia pulang hanya membuatmu merasa canggung saja. Kunyalakan TV tanpa minat, memutar chanel-chanel drama. Pikiranku bahkan tidak bisa menetap di drama itu.

BRAKK

Pintu masuk utama menghantam dinding dengan keras, membuatku terkesiap. Orang yang membuka (membanting) pintu itu adalah Donghae. Wajahnya tampak datar, tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kemarahan seperti sikap membanting pintu yang baru saja diperlihatkannya.

Jam dinding yang tergantung rapi di tembok menginformasikanku kalau sekarang sudah tepat pukul 10 malam, ketika aku meliriknya. Mataku kembali melirik Donghae yang menutup pintu dengan tendangan kecil dari kakinya, kemudian beranjak duduk di sofa. Tangannya menekan-nekan tombol remote dengan tidak sabar, membuatku ngeri.

“Kau sudah makan?” tanyaku, memberanikan diri.

Matanya yang menatap lurus ke TV sekarang menatapku dengan tajam. Aku refleks melangkah mundur kecil-kecil. Apa lagi yang ada dalam kepala Donghae sekarang? Jika dia sudah bertingkah seperti ini, mau tidak mau aku ketakutan juga—aku takut kalau dia main tangan.

“Untuk apa tadi kau ke lokasi syuting?” tanyanya, tidak menghiraukan pertanyaanku yang sebelumnya.

“A-aku hanya ingin melihat-lihat saja.” Aku menyesali kata-kataku yang tergagap; hal itu seakan mengindikasikan kalau aku memang bersalah.

“Melihat-lihat?” Suara Donghae meninggi, dan semakin menakutkan. “Maksudmu melihat apa? Choi Siwon?!”

“Kenapa kau membawa-bawa nama Siwon oppa?”

“Tch, jangan panggil-panggil nama Siwon seperti itu. Kau membuatku jijik,” ujar Donghae sinis. Kalimatnya barusan benar-benar menyulut api dalam diriku.

“Apa maksud—“

“Kau masih mau mengelak sementara jelas-jelas aku melihatmu datang hanya untuk menemui Choi Siwon?” tanyanya retoris.

“Aku hanya…” kalimatku terputus ketika aku mengingat mengenai perasaan Madeley. Aku tidak boleh memberitahukan pada siapa pun masalahnya ini. Kemarahan dalam diriku surut seketika.

“Hanya apa?” tanya Donghae setelah hening beberapa saat.

Aku terdiam, menunduk, seakan mengaku salah atas kesalahan yang tak kumengerti—sepertinya aku sama sekali tidak bersalah.

“Hanya menyukai Siwon?” Mataku kembali menatapnya tajam. “Kau harus ingat kalau kau sudah punya suami sekarang. Jangan suka keluar dan menemui pria lain seenak perutmu saja,” tukas Donghae, seakan tidak melihat mataku yang menatapnya tajam.

“Aku dan Siwon oppa tidak seperti yang kaupikirkan. Kami hanya—“

“Hanya apa?” dia menyela. “Berteman? Itu yang mau kaukatakan? Aku sudah sering mendengar alibi seperti itu!” serunya.

“Aku tidak sedang beralibi!” bantahku. “Terserah kalau kau tidak mau percaya.” Selesai mengatakan itu, aku melangkah cepat ke kamar.

Tanganku ditarik oleh Donghae, membuat tubuhku dengan sendirinya berbalik menghadapnya, dan dia menciumku dengan kasar. Bongkahan perasaan tertahan menahan napasku selama beberapa saat, sebelum akhirnya aku mengeluarkannya, dan segera setelah itu jantungku jadi berdetak tidak beraturan.

Aku memberontak sekuat tenagaku, menggeliat, berteriak-teriak di sela ciumannya, meninju-ninju dada bidangnya. Semua reaksi yang kulakukan adalah untuk melepaskan diri. Tapi sayang, tenagaku yang tidak cukup kuat, membuatku tetap berada dalam pelukannya, dan bibirku tetap terpagut dengan bibirnya.

Ciuman Donghae seperti membuatku kecanduan, dan pening mulai menyerang kepalaku. Aku merasa seperti berputar, dengan darah yang mengalir cepat ke seluruh pelosok tubuhku. Pada akhirnya, aku menikmati ciumannya, bahkan tidak rela melepaskannya ketika ciuman itu beralih ke wajah dan leherku.

Ketika merasakan hilangnya reaksi perlawanan dariku, Donghae segera membopong tubuhku ke dalam kamar dan membaringkanku di kasur. Napasku menggebu-gebu ketika aku memikirkan hal yang akan terjadi selanjutnya. Donghae tidak membiarkanku berpikir lebih lama, karena begitu dia melekatkan bibirnya dengan bibirku, konsentrasiku buyar seketika. Dia menciumku dengan intens dan lembut, membuatku merasakan perasaan seolah dia mencintaiku. Dan kupikir, aku akan membiarkan persepsi palsu itu terus tinggal dalam kepalaku.

TBC

5 thoughts on “Magic Book part 6

  1. hoaah kereeen (y)
    mikan sama donghae asffhkll lah hahhaa
    donghae sebenernya cinta kan sama mikan? hehehe
    ohh iya ini nanti dinext part nya mikan jelasin gk kalo dia sempat make sihir buat mikat si donghae??
    penasaran sama ff ini
    hubungan siwon sama medeley
    yaudahlah thor next ny ditunggu selalu
    FIGHTHING YAA~^^!!

  2. wuahhhh,,,
    crita’a kren,, gk nyesel aQ nnggu ni ff,,, :D
    aQ lngsung bca dri part 3 ampe part 6 lho,,
    next part jgn lma2 ea,,,??? :)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s