Over Protective

Author                 : Onyunita

Main Cast             : Kim Jonghyun (SHINee), Soo Jung a.k.a Krystal (Fx)

Support Cast       : Kim Kibum (SHINee), Lee Taemin (SHINee), Lee Junho (2PM), Victoria (fx), Luna (fx)

Length                 : Oneshot

Genre                   : Romantic; Funny??;

Rating                  : Teenager

(Author POV)

“Hari ini segera telepon aku begitu kamu selesai show. Aku yang akan mengantarmu pulang.” kata Jonghyun pada yeoja di depannya.

“Keunde, oppa. Aku ada party dengan nae chingu.”

“Dengan siapa? Namja lagi?” tanya Jonghyun sinis.

“Oppa! Menyebalkan sekali gayamu!”

“Kamu kan suka sekali menjalin relasi dengan banyak namja!”

“Oppa!”

“Benar kan kenyataannya? Kamu akan pesta dengan namja kan?”

“Aniyo. Ada yeoja juga oppa.”

“Tetap saja. Pasti dan selalu saja bersama namja.”

“Oppa, jangan berlebihan.”

“Kamu selalu mengatakanku berlebihan.”

“Kenyataan begitu, oppa! Kamu over protective!”

“Baiklah. Apapun itu, terserahmu. Pokoknya hubungi aku begitu acaranya selesai. No party. Titik.”

“Oppa…..”

“Cukup sudah aku mendengar rengekanmu, Soo Jung!”

 

(Krystal POV)

Aku menggigit bibirku. Jonghyun oppa selalu memanggil namaku jika dia sedang marah. Ya, hanya ketika dia sedang marah. Kami memang sering dipertemukan dalam acara yang beraneka ragam, jadi kami sering memanggil dengan nama panggung kami. Kami memang belum memberitahu orang mengenai hubungan kami meskipun beberapa sudah mencurigainya.

Aku tidak bisa menyahutinya lagi karena sebenarnya aku paling takut dengan kemarahannya. Jonghyun oppa sebenarnya namja yang sangat cocok untukku. Gayanya yang humoris juga candaannya membuatku tidak pernah bosan saat bersamanya. Hanya satu kelakuan buruknya, over protective.

 

(Jonghyun POV)

Aku kesal melihat banyaknya namja yang menjadi temannya. Krystal adalah satu-satunya yeoja yang menarik perhatianku begitu dalam hingga aku mau menyatakan cintaku padanya. Dia adalah yeoja berhati lembut yang bisa membuatku tidak tidur semalaman. Tapi kelebihan itu jugalah yang menjadi kekurangannya. Dia jadi punya begitu banyak namja untuk diajaknya bicara, tertawa, bahkan bertelepon!

Aku bisa menjadi kekasihnya karena dia lebih dahulu yang melancarkan ‘serangannya’. Dia menghubungiku, mengajakku makan bersama, ataupun minta diantar pulang. Ya, dengan kata lain, dialah yang mendekatiku duluan, meskipun pada akhirnya aku yang menyatakan cinta padanya. Aku tahu dia tipikal perempuan yang mudah memberikan perhatian untuk namja. Tapi yang sering membuatku emosi adalah dia melakukan itu tidak hanya padaku.

 

(Krystal POV)

Aku melanggar janjiku untuk menghubunginya selepas acara berakhir. Aku tidak tahan godaan Luna yang terus mengajakku dengan mengatakan kalau acaranya pasti sangat seru. Lagipula acara ini juga ada Nickhun oppa karena diajak oleh Vic eonni. Pasti dia mengajak temannya juga bukan? Nickhun oppa orangnya sangat seru diajak bicara. Begitu juga dengan teman-temannya.

 

(Jonghyun POV)

Aku terus meneleponnya tapi tidak sekalipun diangkatnya. Aku kesal karena aku yakin dia pasti pergi ke pesta itu.

“Waeyo, hyung?” tanya Kibum duduk di sebelahku sambil menyajikan segelas teh hangat untukku.

“Krystal. Keras kepala sekali anak itu.” Kataku mendengus kesal.

“Kudengar mereka ada pesta bukan, hyung?” tanya Taemin tiba-tiba muncul.

“Tahu darimana?” tanyaku sambil mengerutkan dahiku.

“Tahu dari Sulli. Dia bilang kalau hari ini dia, bersama eonninya akan datang ke pesta Vic noona dan Nickhun hyung.”

“Jinja? Dimana?”

“Mollaseo.”

“Coba kamu tanya Sulli.”

“Chankaman yo.”

 

(Krystal POV)

Aku hampir mabuk ketika aku asyik bicara dengan Junho oppa. Dia sesekali tersenyum sambil terus menuang minuman ke gelasku. Tapi aku masih cukup sadar ketika melihat Jonghyun oppa datang.

“Jonghyun ssi? Sedang apa kemari?” tanya Vic eonni heran.

Jonghyun oppa tidak menghiraukan pertanyaan Vic eonni dan terus berjalan ke hadapanku yang masih memegang minuman dalam gelasku. Dia mengambil paksa gelasku dan membantingnya ke atas meja.

“Minta waktumu!” ujarnya setengah berteriak.

Dia langsung pergi duluan. Aku langsung mengemasi barangku dengan panik. Dia sangat marah, itulah yang membuatku takut.

“Eonni, aku duluan. Aku langsung ke dorm.” Kataku pada Vic eonni.

“Gwaenchana?”

“Tenang saja, eonni.” Kataku sambil memaksakan diri untuk tersenyum.

 

(Jonghyun POV)

Aku menunggunya di dalam mobilku. Lima menit berselang, dia masuk. Aigo, badannya sudah sangat bau alkohol.

“Mian.” Katanya sambil menunduk.

“Gomawoyo sudah membohongiku.”

“Ani, oppa. Luna yang mengajakku.”

“Jadi sekarang Luna lebih penting bagimu, Krystal?”

“Ani, oppa. Mengertilah aku. Aku hanya bertemu dengan teman-temanku. Kamu berlebihan, oppa.”

“Jinja? Lalu tadi? Namja yang disebelahmu?”

“Dia kan teman Nickhun oppa. Kami hanya berteman karena Nickhun oppa. Kamu jangan begitu, oppa.”

“Jinja? Hanya chingu?”

“Ne, oppa. Junho oppa namja yang baik. Kami berteman karena banyak persamaan diantara kami.”

“Morago? Banyak persamaan? Maksudmu apa, Soo Jung?”

Lagi-lagi dia marah untuk hal kecil yang sebenarnya tidak penting untuk diperdebatkan. Aku bosan mendengar teriakannya.

“Lihat dirimu! Bahkan kamu hampir mabuk, Krystal! Jika kamu mabuk dan ada namja di sampingmu, kamu tidak tahu hal buruk apa yang bisa terjadi pada dirimu.”

“Keunde..”

“Kamu pikir siapa yang akan merasa bersalah akan semua ini? Aku, Soo Jung!”

Aku tadinya mau menyahuti perkataannya tapi setelah mendengar kekhawatirannya, aku mengurungkan niatku untuk bertengkar dengannya. Sudahlah, toh niat dia hanya untuk menjagaku. Bagaimana pun bentuknya itu kan hanya perhatian yang dia berikan padaku.

“Arraseo. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku tahu aku yang salah.”

************************

(Jonghyun POV)

Aku sedang ada pekerjaan. Ada beberapa gerakan yang harus kuhapalkan untuk penampilanku besok. Ini sudah jam sepuluh malam dan aku masih berlatih bersama yang lain. Tiba-tiba ponselku berdering. Krystal meneleponku.

“Yeobseo.” kataku.

“Oppa, aku takut..” suaranya bergetar. Aku jadi khawatir.

“Waeyo?”

“Aku sedang perjalanan pulang dari rumah eomma. Sekarang aku ada di jalan karena taksiku mogok di tempat yang sepi.”

“Mwo? Kamu sendiri sekarang?”

“Ne. Eonni tadi meninggalkanku karena dia buru-buru.”

“Mengapa tidak meneleponku sejak tadi?”

“Lupa, oppa.”

Sial, dia menangis. Ah, ini sudah terlalu malam untuknya. Bagaimana ini? aku masih harus berlatih. Gerakan itu pun belum kuhapal. Tapi Krystal bagaimana?

“Kamu dimana?”

“Entahlah. Disini ada tembok besar berwarna merah. Ahjussi itu bilang tadinya dia mau membawaku melalui jalan potong. Sekarang aku tidak tahu aku dimana.” Dia kembali terisak.

“Tunggu disana, aku akan menjemputmu. Tidak lama lagi.”

“Waeyo? Krystal lagi?” tanya Kibum.

“Ah, yeoja itu selalu saja membuatku khawatir.”

“Tenanglah.” Kata Kibum lagi.

“Apa di tempat ini ada motor?” tanyaku.

“Motor? Sepertinya ada. Tadi aku lihat.”

“Kibum-a, aku minta waktu sebentar untuk menjemput nae yeojachingu. Sebentar saja.” Kataku sambil menepuk bahunya.

“Keunde, hyung..” aku tidak mengabaikannya dan berlari mencari si pemilik motor.

 

(Author POV)

Jonghyun berhasil mendapatkan motornya. Dia dengan terburu-buru menyalakan mesin motor dan mengemudikan motornya  dengan kecepatan tinggi. Dia sudah hapal daerah seputar rumah Krystal. Bahkan dia sudah tahu dimana tempat yang dimaksud oleh Krystal.

Tapi baru saja sekitar dua menit motornya melaju, ponselnya berdering lagi. Dengan gusar, jonghyun menepikan motornya dan mengangkat teleponnya.

“Yeobseo.”

“Oppa, aku sudah di rumah.”

“Morago?”

“Aku minta diantar temanku, oppa.”

“Nugu?”

“Temanku. Kamu tidak perlu tahu, oppa.”

“Kau….”

 

(Jonghyun POV)

Aku sudah tidak tahan lagi dengan kelakuannya. Aku sudah melarikan diri dari jadwal latihanku. Bahkan aku sudah mengabaikan keselamatanku dengan membawa motor begitu kencang hanya untuknya. Tapi begini balasannya? Dengan mengatakan kalau dia dijemput temannya? Keterlaluan!

“Kau! Sekarang juga temui aku! Aku menunggumu di kafe tempat kita biasa bertemu!”

“Waeyo, oppa? Aku lelah dan ingin istirahat.”

“Mwo? Kamu pikir tidak lelah? Tidak ada alasan!”

 

(Krystal POV)

Aku kesal ketika oppa mematikan ponselnya begitu saja. Enak sekali dia melakukan seperti itu. Lagipula aku sudah menunggunya dengan takut selama lima menit dan dia tidak kunjung datang. Aku, entah terbersit ide dari mana, aku menelepon Junho oppa. Dan tidak sampai lima menit dia sudah sampai. Lalu apa ini salahku? Memilih pulang dengan orang yang memang bisa lebih membuatku merasa aman?

 

(Jonghyun POV)

“Aku sudah gerah dengan kelakuanmu!” bentakku kasar.

“Oppa..” rengeknya.

“Siapa yang menjemputmu? Mengaku!”

“Chingu.”

“Nugu?! Junho kan?”

Dia diam. Sebenarnya aku sudah cukup bersabar dan selama ini selalu namja itu yang menggangguku. Aku sudah pernah melihat mereka asyik bicara saat show. Sampai detik ini aku masih menunggu pengakuan yeojachinguku itu mengenai Junho, tapi tidak juga dilakukannya.

“Oppa….”

“Tapi benar kan? Benar Junho kan?”

Dia mengangguk pelan. Benar saja kan dugaanku. Selalu dia. Selalu namja itu. Selalu Junho. Pernah aku memeriksa ponselnya dan banyaknya pesan singkat yang masuk ke ponselnya dari namja itu sama banyaknya dengan pesan singkat dariku. Apa itu tidak keterlaluan? Aku kan namjachingunya.

“Sekarang tentukan pilihanmu.”

“Mwo? Apa maksudmu, oppa?”

“Namja itu atau aku?”

“Oppa…”

“Aku sudah tidak tahan lagi, Soo Jung. Aku tidak bisa begini terus. Kalau aku memang berarti untukmu, tinggalkan namja itu.”

“Keunde….”

“Pppalli. Pilih.”

“Oppa….”

“Ah, sudah. Aku tidak punya waktu untuk mendengar semua tangismu.”

“Tapi dia temanku,oppa. Orang yang bisa mengerti aku. Aku tidak bisa meninggalkan dia.”

Aku menghela nafas panjang. Morago? Dengan kata lain dia lebih memilih namja itu? Si Lee Junho itu. Baik.

“Gomawo untuk semuanya, Soo Jung!”

Aku meninggalkan dia yang menangis tersedu-sedu. Ini pertama kalinya dalam hubungan kami, dia menangis dan kutinggalkan begitu saja.

“Aku menyesal dengan kejadian kemarin. Aku ingin kembali padamu.” katanya ketika kami bertemu di show.

Aku hanya diam dan tidak menyahutinya. Malas. Bukankah dia yang lebih memilih namja itu? Lalu kenapa juga aku mesti mengabaikan kata-katanya.

“Oppa, aku bicara denganmu.”

“Aku sedang tidak mood membicarakan ini, Krystal.”

“Oppa, aku masih mencintaimu.”

“Ah, aku tidak percaya denganmu.”

“Oppa, jebal.”

Aku menghembuskan nafasku. Bohong kalau aku bilang aku tidak menyukainya lagi. Tapi putus tetaplah putus. Aku melirik wajahnya yang tampak sangat memohon. Baiklah, aku namja bodoh yang tidak punya ketegasan.

“Baik. Aku terima.”

“Jinja? Gomawo, oppa.”

“Tapi, tidak ada namja lagi, Krystal. Dimana pun itu.”

“Arraseo, oppa.”

 

***************************

(Krystal POV)

Sejak aku meminta untuk menjadi pacarnya lagi, aku merasa Jonghyun oppa keterlaluan. Dia bahkan menghapus semua nama namja dari kontakku. Itu sangat menyusahkanku ketika aku harus menghubungi salah satu diantara mereka. Oppa juga menghapus kata party dari jadwalku. Aku benar-benar seperti orang bodoh.

Tidak hanya itu, aku selalu ditanya, kapan pulang, kapan selesai show, dan segudang pertanyaan lain yang membuatku bosan dengan dirinya. Aku juga heran kenapa aku memintanya kembali jadi kekasihnya kemarin.

“Aku sudah tahu kalau jadwalmu sampai siang saja hari ini. aku juga sedang tidak ada job, hubungi aku begitu acaranya selesai. Aku akan menjemputmu.”

“Keunde, oppa…”

“Krystal, sudah kubilang jangan bantah kata-kataku.”

“Ne, oppa.” sahutku malas.

Beberapa hari kemudian dia meminta email juga passwordku.

“Mwo? Untuk apa, oppa?” tanyaku bingung dengan tingkahnya yang semakin hari semakin aneh.

“Aku hanya ingin memeriksanya. Memang tidak boleh? Hanya membuka emailmu.”

“Jinja. Oppa, kamu hanya namjachinguku. Semua tetap ada privasinya, oppa.”

“Hanya sebuah email, Soo Jung.”

“Tetap saja, oppa! Shireo. Aku tidak mau.”

 

(Jonghyun POV)

Aku mendengus kesal ketika dia tidak mau memberitahu yang kuminta. Aku curiga karena ponselnya yang biasa banyak pesan dari para namja itu, mendadak sepi dan entah kemana si pengujung ponselnya itu. Aku curiga dia mengalihkan semuanya ke emailnya. Dan sepertinya kecurigaanku bertambah ketika melihat responnya itu.

 

(Author POV)

Jonghyun dan Krystal lagi-lagi dipertemukan dalam panggung yang sama. Mereka sudah terbiasa untuk sedikit bertegur sapa meskipun jarak mereka begitu dekat. Seperti saat istirahat ini, Jonghyun asyik dengan laptopnya sementara Krystal tampak seru bercanda dengan eonninya. Hanya kadang kala Jonghyun melirik yeojachingunya itu kemudian dibalas kedipan mata oleh Krystal.

 

(Jonghyun POV)

“Oppa, boleh aku meminjam laptopmu?” tanyanya ketika aku sedang asyik beristirahat dengan laptopku.

“Pakailah, aku mau ke toilet dulu.”

Aku meninggalkan dia. Meskipun aku juga ingin tahu, mau apa dia dengan laptopku. Tapi aku juga harus menjaga kedekatan kami. Ah, merepotkan memang.

“Gomawo, oppa.” kata Krystal setelah aku selesai dari toilet.

Aku hanya mengangguk pelan. Kemudian dia pergi. Aku tertawa saat melihat background desktopku diganti olehnya. Dia menggantinya dengan fotonya sendiri. Aku suka dengan tingkahnya itu. Kekanak-kanakan tapi membuatku benar-benar tidak ingin melepaskannya.

Aku membuka kembali browser internetku. Aku mengerutkan dahiku ketika melihat email yang terbuka dan itu bukan emailku.

Aku menutup mulutku ketika melihat itu email Krystal. Dan, astaga, dia masih saja bermesraan dalam email dengan namja itu. Lee Junho.

 

(Krystal POV)

Jonghyun oppa menemui aku di dorm malam itu. Dan tidak biasanya dia membawa laptopnya. Dia duduk di sebelahku dan tidak bicara sedikitpun.

“Oppa, waeyo?”

Dia mengerutkan dahinya. Bola matanya berputar. Dia seperti sedang marah. Tapi kenapa? Aku tidak pernah merasa mencari masalah dengannya lagi.

“Oppa, waeyo?” kuulangi pertanyaanku.

“Kamu sudah bosan denganku?”

“Morago?” aku kaget sekali dengan pertanyaannya.

“Akui saja. Jika kamu mengatakannya, aku bersedia mengakhirinya sekarang juga.”

“Oppa. Kenapa sebenarnya?”

Dia membuka laptopnya, mengutak-atiknya sebentar dan terbukalah emailku. Aku melotot tidak percaya. Aku lupa mengeluarkan emailku itu.

 

(Jonghyun POV)

“Mian, oppa.” kata Krystal lemah.

“Aku tidak suka dengan caramu, Soo Jung.” kataku pelan. Ini adalah satu bentuk kalau aku sudah marah sekali dengannya. Aku tidak akan membentaknya. Aku benar-benar ingin mengakhiri semua.

“Keunde, kita hanya berteman oppa.”

“Cukup sudah. Aku sudah tidak peduli. Kamu boleh berteman bahkan berpacaran dengannya. Sudahi saja hubungan kita.”

Dia menangis. “Hanya email saja oppa. Jangan seperti itu.”

 

(Krystal POV)

“Saja kamu bilang? Aku sudah bilang kalau aku tidak bisa melihatmu mendekati namja lain.”

“Arraseo. Aku yang salah. Maafkan aku, oppa.”

“Aku sudah terlalu banyak memaklumi kesalahanmu, Soo Jung.”

Aku semakin menangis. Aku tidak ingin putus dengannya. Tapi sepertinya dia sudah telanjur sakit hati dengan perbuatanku.

“Oppa….”

“Gomawo sudah menjadi bagian hatiku meskipun sesaat.”

Dia mengusap kepalaku sekali kemudian pergi. Aku menjerit keras ketika dia pergi. Luna mengusap punggungku perlahan.

“Salahmu, Krystal.”

“Oetokke, eonni?” tanyaku sambil menangis.

“Berharaplah pada takdir, Krystal.”

 

***************************

(Author POV)

“Akhirnya kalian menikah juga.” Kata Luna sambil mengusap pipi Krystal yang saat itu memakai gaun pernikahan putih yang sangat indah itu.

“Gomawo yo, eonni.”

“Oppa, berjanjilah untuk menjaganya.” Kata Luna pada namja gagah yang berdiri di sebelah Krystal. Setelah jas hitam itu sangat cocok di tubuhnya.

“Arraseo. Jangan mengajariku.” Sahut namja itu sambil tertawa.

“Mwo? Kalau tidak ada aku kalian tidak menikah! Jangan sombong kamu, oppa!” teriak Luna.

“Eonni, jangan bercanda lagi.” Kata Krystal.

“Biar saja! YA! Oppa! Kalau hari itu aku tidak membujuk kalian dan membangkitkan lagi kenangan cinta kalian, kalian tidak akan seperti ini. menebar senyum di pelaminan!” Luna masih saja menggerutu.

“Aku tidak merasa. Kamu saja yang berelbihan menilai dirimu, Luna.”

“Oppa!”

Cup. Namja itu mencium pipi Luna. Wajah Luna memerah seketika.

“Jinja gomawo yo, nae dongsaeng.” Katanya sambil mengusap kepala Luna.

Krystal memandang dengan terkejut, kemudian dia memukul namja itu dengan buket bunga yang ada di tangannya.

“YA! Berani sekali mencium yeoja lain di depan anaemu sendiri!”

“Appo, Krystal. Hanya Luna saja. Kamu terlalu berlebihan.”

“Kau jahat oppa!”

“Sekarang kamu yang over protective, Soo Jung?”

“Aku benci kamu, Jonghyun!”

Jonghyun menarik Krystal dalam pelukannya kemudian menciumnya.

“Tenang saja. Hanya kamu untukku.” Kata Jonghyun sambil mencium lagi Krystal.

**************************

Oette? Pasti aneh yaaaa? Oia, fanfic ini juga ada di blog aku lho. Monggo kalau bersedia berkunjung dan menghabiskan waktu disana. Silahkan datang. Klik aja shineeisthereason.wordpress.com

3 thoughts on “Over Protective

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s