Oppa? Oppa! (OneShot)

Tittle : Oppa? Oppa!

Genre : Family, Friendship, Drama

Rating : PG untuk obat2an terlarang dan semacamnya (?)

Major Cast :

-Krystal Jung

-Cho Kyuhyun

Minor Cast :

– Jessica Jung

-Luna Park

-etc

Summary : Dunia kelam itu terlihat mengagumkan tapi ketika baru saja aku ingin memasukinya, ada pria asing yang terus saja mengikutiku. Dia bilang aku adiknya! Dan apalagi itu, rekayasa genetika?

Oppa? Oppa!

 

Aku menatap beberapa pil berbentuk obat biasa ditanganku yang gemetar. Mereka bilang, jika aku meneguknya, maka mimpi buruk itu akan menghilang. Aku akan pergi ke dunia indah, dunia yang penuh dengan pangeran berkuda putih dimana aku lah tuan putrinya.

Dan mungkin orang-orang itu akan lebih memperdulikanku jika aku melakukan ini. Aku melirik kesamping, disini penuh dengan orang-orang yang sibuk dengan diri mereka sendiri atau pria hidung belang yang dikelilingi oleh wanita berbaju kurang bahan. Tetap sama, tidak ada yang peduli!

Kupejamkan mataku lalu tanpa pikiran yang aneh-aneh kugerakkan tanganku menuju mulutku. Semua akan baik-baik saja. Aku mempercayainya.

Belum sempat pil itu menyentuh bibirku, seseorang telah lebih dulu menyenggol tanganku sehingga membuat beberapa pil yang telah kubeli dengan menghabiskan uang saku-ku selama 3 hari itu terjatuh sia-sia dibalik gemerlapnya lampu disco di club ini.

“Underage.” Hanya kata itu yang keluar dari bibir berisinya. Bukanlah kata sorry atau sejenisnya. Dia sengaja?

“What?”

Sedikit tampak senyum meremehkan diwajah seorang yang kuyakini lelaki berumur pertengahan 20an ini. How dare he do that!

“Kau memiliki kehidupan yang indah, jadi jangan mencoba untuk menghancurkannya.” Ucapnya lalu pergi meninggalkanku sendirian yang masih bengong disini.

Kehidupan yang indah? He dunno anything about me. Dasar pria gila sok tahu. Demi apapun aku kesal setengah mati.

“Hey pri….” Well, suaraku pasti akan kalah jauh dari kerasnya music yang dilantunkan oleh DJ import-an itu. What the heck! Uangku. Tiga hari tidak makan dan aku tidak mendapatkan apa-apa. Sial sial siaaaaaaaalan!!

Errr pria sinting tukang ikut campur, awas saja kau!

———————-

“Hey krys, bagaimana obatnya?”

Kenapa gadis ini harus kemari? Oh Gosh, apa yang harus kujawab? Aku membuangnya, eng? Oke itu pasti terdengar bodoh dan dia akan mentertawakan kepayahanku. Menjawab jujur kalau ada pria sinting yang sengaja membuat pil itu terjatuh?

Hello semalam aku di diskotik. Bahkan temanmu saja bisa jadi setan jika sudah masuk kedalamnya tetapi seorang pria bertampang mesum yang bahkan sama sekali tidak kau kenali tiba-tiba bertingkah seperti ingin menyelamatkanmu dari kejerumusan kedunia yang lebih kelam.

“Krys? Kok ngelamun?” Luna, gadis didepanku ini mengayun-ayunkan tangannya didepan wajah-ku dengan raut penasaran penuh.

Aku tersenyum kaku. “Sepertinya hidupku jauh lebih baik.” Mendengar jawabanku, gadis ini tersenyum hangat. Yeah aku telah berbohong. Dan seorang Krystal memang slalu saja menjadi pembohong.

“Kalau kau butuh lagi, kau bisa langsung menghubungi-ku.” Katanya sebelum melenggang pergi dari hadapanku.

Baiklah. Aku disini. Sekolah. Sendirian. Rata-rata yang ingin menjadi temanku memiliki maksud tertentu, seperti Luna. Aku tahu niatnya buruk padaku.

———————-

Aku kembali mencoba memasuki tempat ini. Sebelumnya aku adalah gadis yang memiliki hidup didalam kamar. Boro-boro ke tempat seperti ini, mall saja jarang. Sama dengan anak remaja kebanyakan, aku kemari untuk mencari kesenengan sesaat. Rumahku tidak terlalu berbeda dengan definisi neraka.

Oke aku sudah memutuskan untuk tidak pulang kerumah atau lebih tepatnya neraka itu lagi. Mereka hanya punya satu anak dan aku tidak ikut disana. Aku tidak lebih dari patung yang bisanya cuma untuk dipajang, diindahkan atau diburukkan sebagai objek, bukan subjek.

Aku mengeluarkan sebuah kotak dari tas sandang-ku. Menatapnya sekilas lalu membuka segel yang melekat dibagian atasnya.

May I borrow ur match?” Pria yang tengah menegak wine disebelahku ini menatapku sekilas. Another stupid people, malam-malam pakai kacamata hitam!

Tapi setidaknya dia mau meminjamkanku. Pacikan pertama, apinya tidak mau keluar. Kedua, tanganku kepanasan karena menahannya dan ketiga, untunglah berhasil setelah panasnya kutahan mati-matian.

Thanks.” Ucapku pelan lalu mengembalikan korek itu ke orang disebelahku.

Luna bilang rokok juga bisa menenangkan. Aku mencoba untuk menyesapnya dan errr lagi! Aku terkejut karena seseorang telah lebih dulu merampasnya, otomatis aku langsung melihat kesamping.

Oh jerk. Kembalikan itu punya…..”

Dia seperti tidak mendengar omelanku dan malah menyesapkan black menthol itu menyusup melalui bibir nya. Dia membuka kacamata hitamnya dan ini langsung membuatku terdiam. Great! Ternyata pria sinting itu lagi. Kebetulan, sudah dua kali dia mengacaukan urusanku.

Kukepalkan tangan kananku dan kulayangkan kearah wajahnya tapi dia dengan sigap mampu menangkisnya menggunakan tangan kiri. Dia menahan tanganku, bukan, lebih tepatnya mencengram.

“Lepaskan, bastard!” Teriakku sekencang mungkin padanya. Jika aku meminta tolong dengan berteriak pria ini mau memperkosaku juga tidak akan ada yang mau peduli. Sekali lagi, aku berada di club malam, please! Kuharap ada orang yang kukenal berjalan disekitar sini.

Dia menarikku kasar seiring kebisingan ditempat ini. Melewati lantai dansa dengan menabrak beberapa orang yang menghadang jalannya, aku yang lebih merasakan akibat tabrakan yang dibuatnya.

“Lepaskan! Yah! Kau tuli yah? Lepaskan bodoh…”

Sepanjang jalan, aku terus berteriak. Cacian kebun binatang dan sejenisnya sudah keluar dari tadi tetapi dia seperti tidak mendengar apa-apa kecuali lantunan music disco.

Dia mau menculikku? Memperkosaku? Membunuhku? Sebenarnya siapa pria ini?

Dia membukakanku pintu mobil Ferrari hitam dan mendorongku masuk kedalamnya! Aku benar-benar ingin diculik?

“Kau menculikku juga tidak ada arti. Orang tuaku tidak akan mau menebusnya. Lebih baik kau culik kakak ku saja.” Baru aku mau membuka pintunya tetapi dia sudah lebih dulu menekan tombol kunci otomatis dari pintu sebelah kemudi. Sialaaaaaaaaaaan! Aku slalu saja kalah cepat!

“Kau tahu kenapa semua orang membedakanmu?” Bukannya menjawab pernyataanku barusan, dia malah membuka topic baru.

Pasrah. Aku menggeleng pelan.

“Karena kau…………….” Dia seperti sengaja menggantung kalimatnya, bermaksud membuatku penasaran mungkin. ehh tunggu, darimana dia tahu kalau aku sering dibeda-bedakan?

“Bukan anak kandung mereka?” tambahku langsung. Pemikiran seperti ini sudah sering bernaungan di benakku.

Ia tersenyum miring. “Kau adikku.”

Kali ini aku yang tersenyum miring, atau lebih tepatnya menahan tawa. “Dasar sinting.”

“Tidak percaya?”

“Tentu saja tidak.”

“Mau bukti?”

Aku tidak menggeleng ataupun langsung mengangguk. Kutatap wajah tampannya dengan harapan bahwa ia sedang mengerjaiku. Kenapa tidak ada? Kenapa dia terlihat begitu jujur? Dan kenapa dia seperti lebih tahu aku dibandingkan diriku sendiri? Lagi-lagi pertanyaan. Misteri yang tidak bisa kuselesainkan sendiri. Kakak? Bukankah kakakku si miss perfect yang slalu di gilai semua orang itu?

“Sebenarnya kau siapa?”

“Kakak-mu.”

“Oppa?”

Dia mengangguk dengan senyum, yang sekarang benar-benar sebuah senyum yang terlihat tulus dari hatinya. Matanya menatap lurus kejalan. Tenanglah Krystal, dia hanyalah pria sin-ting yang ingin meracuni otakmu.

“Tapi di akte-ku, aku anak kandung!” Tegasku lagi. Atau mungkin dia yang keluar dari keluarga kami? Aku yakin aku anak kandung mereka, bahkan dulu aku sempat mendonorkan darahku ketika Jessica terkena demam berdarah. Walau orang-orang diluar sana tetap memiliki pemikiran aku si anak pungut.

“Kau memang anak kandung mereka………………” Dia menggantungkan kalimatnya dan ini berhasil membuat kening-ku berkerut. “Dan kau berbeda.”

“Aku punya kekuatan super?” Tanyaku goblok. Setelah dia mengatakan bahwa aku berbeda, pertanyaan itulah yang muncul dikepalaku.

Mungkin saja kan kalau dia mau bilang setelah umurku 17 tahun nanti aku akan berubah menjadi penyihir lalu di jemput Draco Malfoy untuk dijadikan kekasihnya, kalau begini aku sangat mau!

Tapi bagaimana kalau ada nenek sihir yang mengutukku untuk tidur selamanya?  Nah kalau yang ini sama sekali tidak lucu.

“Rekayasa genetika.”

Aku pernah mendengar tentang ini ketika belajar biologi dan hanya digunakan pada manusia untuk percobaan saja.

“Gen? Rekayasa?”

“Ayahku seorang profesor dan sangat menyayangi anak perempuan satu-satunya. Kau bayangkan sendiri bagaimana dia ketika anaknya meninggal, kado terlahir dari istrinya.”

“Pasti sedih sekali.” Tidak disangka, aku malah ikut terhanyut kedalam ceritanya. Membuatku penasaran sebenarnya.

“Okey, dia depresi berat. Dan kau tahu apa penyebab kematian gadis kecilnya? Tabrak lari dengan pelaku ibu-mu yang tengah mengandung-mu waktu itu.”

“What?” Katakan bahwa ini bohong. “Jangan bilang kalau kau mau balas dendam padaku.”

Ia tertawa geli. “Bagaimanapun, kau adikku. Ingat?”

Bukan, aku bukan adiknya! Jangan percaya, Kryst!

“Jadi apa yang membuatku berbeda?”

“Ayah-ku menculik ibumu dan mencampurkan DNA adikku pada kandungannya. Terlihat berhasil karena yang lahir saat itu adalah bayi perempuan, lagi, ayahku kembali menculikmu yang masih terlalu kecil. Awalnya semua berjalan lancar.” Dia menghela napas sejenak. Seperti halnya berat untuk meneruskannya. “Polisi menangkapnya dan kau kembali ke ibu-mu. Kemudian ayahku mati bunuh diri didalam penjara.” Cerita selesai sepertinya. Begitu miris dan tidak masuk akal. Aku tahu dunia semakin lama semakin gila, bahkan sudah ada boneka sex buatan yang memiliki selaput darah, organ tubuh buatan yang memiliki fungsi sama dengan ciptaan Tuhan. Lalu manusia manusia itu ingin mengalahkan kehebatan Tuhan yah? Ini dilarang kan? Ehh lagian aku mempercayai cerita gilanya? Tidak boleh!

Dunia gila gila gila!

“Well, kau sempat amnesia-kan? Apakah kau ingat kehidupan-mu dibawah umur 5 tahun?”

Tidak ada ingatan apa-pun. Aku tidak ingat. Benar, aku seperti hidup berawal dari umur 5 tahunan. Darimana dia tahu? Dan kenapa ini sedikit masuk akal? Dia berbohong? Dia mendongeng? Kenapa harus aku? Ini kebenaran? Kebenaran lain yang sama sekali tidak kuketahui?

“Jadi ini alasan mereka tidak pernah memperdulikan-ku?”

“Bingo! Karena mereka tidak menganggap kau anaknya.” Dia menatapku dengan senyum meremehkan.

“Bagaimana dengan orang lain yang ikut membedakan-ku?”

“Bercerminlah dan lihat bagaimana dirimu. Kau melebihi batas dari kata sempurna, sayang.”

“Kalau aku adikmu, tinggal dirumahmu, boleh?” tidak ada pilihan, kalau pun pria ini jahat, aku akan langsung memintanya membunuhku saja. Aku tidak memiliki banyak uang untuk mencari tempat yang lebih aman. Lagian aku sudah memutuskan, jadi semua kemungkinan memang buruk.

Dia menghela napas lalu tersenyum sumringah. “Tentu saja, sayang.”

————-

Aku tinggal di rumah lelaki yang mengaku kakakku dan bernama Cho Kyuhyun. Marga kami saja sudah berbeda -___-, bagaimana bisa aku ikut mengakuinya sebagai kakakku?

Aku melihat sekeliling rumah ini. Sudah 3 hari aku tinggal di apartemennya. Baiklah ini sedikit menguntungkan karena aku tidak perlu bayar sewa untuk tinggal di apartement sederhana tingkat atasnya. Setidaknya dia tidak pernah bersikap kurang ajar padaku walau aku tahu betul kalau dia bukan pria baik, menjurus ke criminal sepertinya, atau memang criminal?

Aku bolos sekolah! Dan sepertinya orang tuaku ataupun Jessica tidak memperdulikanku yang telah menghilang selama 3 harian. Keluarga macam apa mereka?

Mumpung si Kyuhyun brengsek itu tidak ada, aku mencoba memasuki kamarnya. Aku harus tahu siapa dia sebenarnya.

Great! Pintunya tidak dikunci. Wangi parfum khas pria memenuhi udara disini. Jauh dari bayangan-ku, didinding kamarnya rata-rata penuh dengan poster pria topless, bukan wanita.

Apa dia tidak normal? Aku ini berpikiran apa.

Aku kembali menyelusuri kamarnya yang agak besar dengan cat dinding berwarna abu-abu. Kuambil sebuah bingkai persegi panjang kecil yang bartengger di meja kamarnya. photo ini yang paling aku penasari. Foto seorang gadis kecil, anak laki-laki yang lebih tinggi darinya dan seorang pria yang kelihatan berumur 27 tahunan diatas mereka.

Terlihat bahagia! Kalau itu benar, berarti ibuku yang telah membuat keluarga mereka hancur. Aku melihat beberapa bingkai lagi diatas meja itu, photo seorang pria cantik dengannya, sepertinya mereka teman dekat. Lalu foto-ku! Fotoku ketika berumur 15an dan satu lagi foto-ku ketika masih bayi!. Dia stalker? Jangan bilang sudah mengincar-ku sejak lama. Atau omong-kosongnya waktu itu merupakan kebenaran?

Sebenarnya apa maunya? Kalau dia berniat jahat padaku seharusnya sudah dilakukan kemaren-kemaren. Ini malah membelikanku makan, menawarkan-ku ini itu, terlihat khawatir padaku. aish pria sinting itu hampir membuatku gila!!!

Mataku terbelalak ketika melihat laci lemari yang sedikit terbuka didekat meja ini. Otomatis aku langsung mendekat kesana. Isinya? Aku tahu betul apa saja ini. Sejenis obat yang dia jatuhkan saat aku ingin menelannya waktu itu dan jumlahnya banyak sekali.

Jangan-jangan dia Bandar narkoba dan buronan polisi. Astaga! Aku tinggal bersama criminal? Seorang penjahat? Jalani atau lari?

Aku menutu mulutku, tidak menyangka!

—————–

Plung..braak. pluntang.

Tangan kananku yang memegang sumpit terhenti diudara. Kutinggalkan makanan yang baru saja dibelikan Kyuhyun ini di meja makan. Aku berlari keasal suara! Kamar Kyuhyun.

“Yah! Ada apa?”

Dia diam saja, bibir serta badannya bergetar hebat. Sekitarnya super berantakkan seperti hal yang dicarinya sama sekali tidak menemukan titik temuh.

“Kyuhyun-ah…kau.”

“Aku tidak apa-apa.” Dia bersuara dengan susah payah. Keringat dingin terus keluar dari pori-pori kulitnya. Dia histeris dan seperti mati-matian menahan sakit. Mencakar, menjambak, memukul badannya sendiri. Aku menutup mata-ku. Aku tidak pernah tega melihat orang seperti ini!

“..mau.meno-longku?” Tanyanya dengan suara bergetar. Otomatis aku mengangguk. Setidaksuka apapun aku padanya, tetap saja dia sudah membantuku.    “Ambil.kan… Aku cur_ter.”

“Hah?”

Dia hanya mengangguk. Curter? aku mengedarkan pandanganku disekitar sini dan pandanganku menemukan sesuatu yang berukuran super tipis diatas meja kaca Kyuhyun.

“Ini ada silet. Apakah berguna?” Tanyaku sambil menyerahkannya. Dia mengangguk dan langsung merampas silet ditanganku dengan paksa.

Aku menganga. Mungkin badanku ikut keringatan karenanya. Kyuhyun gila!!!

“Stop it, bodoh!” Aku menangis. Ini sudah diambang wujud normal. Aku tahu, orang-orang sering bilang aku abnormal! Dan gadis abnormal sepertiku harus menyaksikan hal paling gila didepan mataku sendiri. Aku tidak sanggup! Dan mungkin aku sudah benar-benar gila sekarang.

Dia..menyayat tangannya dan begitu menikmati keperihannya.

Suntikkan, obat, bubuk yang seperti gandum, semuanya telah kubuang tadi pagi! Awalnya aku hanya tak ingin dia mengkonsumsi dan memakai itu lagi! Aku tidak mau melihatnya seperti ini.

Otakku seperti tak bisa berpikir. Menghentikan pria sakaw berat itu bukanlah hal yang muda! Aku berlari kekamarku dan meninggalkannya yang sedang ‘menggila’ sendirian. Kuacak-acak tas sekolah-ku. Tadi itu aku sempat ketemu Luna di super market dan dia menanyakan kabarku lalu memberikanku beberapa tablet yang berbentuk seperti tablet vitamin C serta sebuah botol lengkap dengan suntikkannya. awalnya aku menolak tetapi ntah darimana itu asalnya, dia memberikan-ku dengan gratisan dan untungnya belum aku buang.

Aku menghela napas, semoga ini tidak salah. Kembali aku berlari menuju kamar Kyuhyun dan langsung menyerahkan suntikkan yang sudah kuisikan cairan morfin itu kedalamnya.

Dia tidak mengambilnya langsung dan malah menatapku curiga dengan mata merahnya.

“Akan kujelaskan nanti. Kau butuh ini, kan?”

Tanpa basa-basi lagi ia langsung merampasnya dan menyuntikkannya ke bagian pembulu darahnya. Aku memejamkan mataku.

Semenit. Dua menit. Sepuluh menit. Napasnya sudah jauh lebih normal dari tadi. Sepertinya dia sudah lumayan tenang.

“Kau dapat darimana lagi obat itu?” Tanyanya sinis dan dingin.

Aku memutar bola mataku kesal dan terduduk disebelahnya. “Teman sekolahku.”

“Kau tidak menggunakannya kan?”

Gara-gara kau aku tidak pernah jadi menggunakannya!

——

“Kenapa kau menghancurkan tubuhmu? Kau melarang-ku menggunakannya tapi kenapa kau sendiri……..”

“Well, aku sudah lama hancur, Krys.” Potongnya seperti sudah mengerti arah perkataanku.

“Tapi kenapa tidak berhenti saja? Kau bisa ikut rehab atau semacamnya!”

“Aku ini penjahat, sayang. Aku bukan orang baik. Telah mengkonsumsi barang ini sejak smp dan kau mengerti sakaw kan?”

Aku mengangguk ragu. “Sakaw? Apakah begitu menyakitkan?”

Tangannya terangkat. Dia mengelus kepalaku lembut. Aku agak terkejut, mungkin dia orang pertama yang memperlakukanku semanis ini. “Maka dari itu aku tak ingin melihatmu merasakannya.” Katanya lirih. Aku menunduk dan yeah betapa bodohnya aku saat ingin menyentuh obat terlarang itu hanya karna ingin diperhatikan.

“Kau menyesal?”

“Tentu saja. Jika aku disuruh memilih. Aku ingin berubah. Ke gereja tiap minggu, kuliah, bergaul dengan orang normal, hidup tanpa dihujat. Tapi sayangnya aku tidak memiliki pilihan!”

“Lalu kenapa kau juga berpacaran dengan lelaki?”

Kini dia terdiam, tidak menjawab pertanyaanku dengan semangat seperti tadi. Matanya memerah dan badannya kembali bergetar, persis sebelum dia tidak mendapatkan barang-barang itu ketika sedang butuh.

“Kau tahu darimana?”

“Kemarin aku mengikuti-mu.” Ucapku jujur.  Dia akan marah? Sudahlah.

“Mereka bilang cinta itu aneh. Tidak membeda-bedakan dan terkesan menyakitkan. Aku juga tidak mau seperti ini, Krys. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah terlahir begini. Dan aku hanya bisa merasakan cinta dari pria itu.” Aku tersenyum meremehkan. Gila! Aku menjadi mengingat kejadian waktu smp. Ketika seorang cewek lesbi menyatakan bahwa dia menyukaiku. Hah, ini lucu!

“Tapi kenapa bisa?”

“Karena cinta itu buta, sayang.” Dia menghela napasnya, aku malas untuk menatap pria sinting ini. aku malas menyadari kalau dia begitu kacau. “Sekarang kau lihat orang-orang itu.” Dia menunjukkan sedikit jarinya ke arah beberapa gadis yang mengangkat rok pendeknya agar memperlihatkan bagaimana bentuk celana dalamnya. Celana dalam dengan berbagai warna yang berbeda. Dia mau membelikanku celana dalam yah?

Aku meliriknya lagi dan pandangannya terarah ke sudut lain, membuatku ikut menatap apa yang ia lihat. Wanita yang tengan bercumbu dengan om-om buncit. Ahh dia mau menunjukkan adegan biru langsung kepadaku?

“Menurutmu mereka seperti apa?”

“Pelacur!”

Dia memutar bola matanya. “Geez, mereka memang pelacur. Maksudku, apa pendapatmu tentang mereka?”

“Kumpulan wanita penggila uang dan hipersex. Mereka menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan uang. Gila!”

“Kau pikir mereka mau seperti itu?”

“Jika mereka tidak mau, mereka tidak akan seperti itu.”

Kyuhyun menghela napas. “Tidak ada manusia yang ingin dipandang hina. Tidak ada wanita yang rela sepenuh hati tubuhnya dinikmati berbagai pria yang berbeda. Tidak ada makhluk Tuhan yang benar-benar suci.”

Aku terdiam. Tidak bisa menyelanya lagi, sebenarnya masih banyak perkataan balasan yang terpikir diotakku, kalau saja dia tidak membawa nama Tuhan. Tidak ada makhluk Tuhan yang benar-benar suci. Sebenarnya aku tahu apa tentang hidup? bahkan kata seperti itu keluar dari mulut seorang criminal!

“Kalau bukan karena perut, kau pikir mereka mau seperti itu? Tidak, tentu saja tidak, sayang. Mereka juga menangis disana, mereka juga suka mengejek diri sendiri seperti orang lain merendahkan mereka. Disini, kumpulan manusia, yang berjenis sama dan memiliki tujuan yang sama. Bersenang-senang.”

Aku tidak mengerti maksud perkataanya tapi aku bisa menyimpulkan satu hal. Tidak ada seorang-pun yang mau direndahkan didunia ini, dipandang hina, dilecehkan. Semua manusia waras ingin bahagia. Tidak peduli bahagia dengan cara apapun, selama menurut sudut pandang mereka benar, pasti akan dilakukan. Sepertinya aku harus lebih rajin membaca Alkitab setelah ini -___-

“Aku tidak ingin melihat-mu hancur. Aku tidak ingin kau seperti aku.” Katanya lirih ditengah bisingnya ruangan, tapi masih mampu terdengar ditelingaku. Kyuhyun….kenapa aku harus bertemu denganmu? Apakah ini sebuah jalan baru?

———

Sebulan aku bersamanya dan masih tetap sama, tidak ada tanda-tanda keluarga ku mencari-ku. Menyebalkan sekali. Aku masih tidak sekolah tetapi jika dia ada dirumah, Kyuhyun pasti memaksaku untuk belajar ini dan itu. Terkadang dia membelikanku buku paket. Dan benar saja, aku baru tahu kalau otaknya sangat pintar, terutama dipelajaran matematika. Walau banyak yang lupa-lupa tetapi dia tetap bisa mengajarkanku dengan sangat baik. Dia sosok yang begitu mengagumkan yah.

Selama ini pula tidak ada tanda-tanda mereka menjauhiku. Aku tidak begitu kepikiran karena setidaknya, tidak ada yang memaksaku pergi dari Kyuhyun.

Hari ini dia mengajakku jalan-jalan. Demi apa aku senang sekali.

Kami karaokean. Dan oke, suaranya sangat menakjubkan. Aku saja sampai nganga mendengar kemerduan suaranya yang terdengar mirip seperti penyanyi terkenal.

Lagu ballad, rock, R and B, segala macamnya sudah kami nyanyikan. Fantastic sekali aku mampu berteriak-teriak diruang kedap suara ini bersama orang yang slalu kusebut ‘pria asing’.

Kami bernyanyi sambil tertawa, tidak pernah serius sepertinya. Aku bernyanyi, dia menganggu, dia bernyanyi, aku yang menganggu.

“Suaramu bagus, Krys.”

Aku hanya menunduk kesal. “Tidak usah menghina!”

“Seharusnya kau berkata terimakasih, sayang.”

“Pujian hanya untuk onnieku, sayang.” Ucapku dengan kata penekanan pada kata ‘sayang’. Dia pikir dia doang yang bisa gombal?

Dia berdecak. “Percayalah, kau lebih baik dari-nya. Setidaknya itu dimata-ku.”

Lagi, aku menunduk, kali ini karena terharu. Aku merasa ada yang aneh dibagian dekat tulang dadaku. Jantungku tidak normal. Dia memuji-ku. Memuji seorang Krystal? Oh Tuhan! Aku bermimpi yah?

“Gomawo.” Ucap-ku pelan.

“Mau baju baru?” Tawarnya.

Aku mengangguk sumringah.

“Lets go.”

Dia membelikanku banyak sekali baju baru dan semuanya bermerk. Aku tidak tahu harus berkata apa. Yatuhan, bahkan di dongeng-pun aku tidak pernah membaca ada iblis sebaik dia.

Sekarang kami berada di Amusement park.

Naik wahana ini dan itu dan semuanya menakjubkan. Benar-benar seru, semua impianku tentang taman hiburan telah terpenuhi dengannya.

“Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku.” Katanya ketika kami sedang duduk istirahat di salah satu kursi di daerah Amusement park. Lelah sekali tapi rasa senang ini melebih kelelahanku.

“Tidak mau!” Kataku langsung, nanti dia minta yang aneh-aneh lagi. Kan dia sudah baik, bagaimana kalau dia minta imbalan?

“Yasudah kalau begitu aku pergi saja.” Kenapa cepat sekali marahnya? Tumben! Biasanya dia akan melakukan pemaksaan untuk aku menganggukkan kepalaku.

“Kau mau apa?”

Dia memegang kedua bahuku, memintaku untuk berhadapan dengan badannya.

“Aku ingin dengar kau memanggil-ku oppa.”

“Andwe.”

“Wae?”

Karena aku malu! Aku tidak biasa diperlakukan semanis ini dan jleb, tiba-tiba harus bersikap manis. Oh my god , this isnot me please.

“Memangnya kenapa harus?”

“Kau kan adikku.” Katanya lirih. Suasana tegang. Dan oke aku mengalah.

“Kyuhyun op-pa.” Ucapku terdengar bodoh.

Dia tertawa geli. “Yang niat dong.”

“Itu sudah niat. Kyuhyun op-pa. sudah kan?” Kataku mulai kesal. Dia mengacak-acak rambutku lembut dan tersenyum.

“Sebagai oppa yang baik, aku ingin membelikan adikku hadiah atas kepintarannya. Mau eskrim?”

Tentu saja aku mengangguk, tidak lama dia kembali dengan dua eskrim ditangannya.

“Gomawo.”

Lagi, dia kembali mengacak rambutku lembut.

Aku ingin menangis. Tidak pernah sekalipun aku seterharu ini, sesenang ini, diperlakukan semanis ini. Dia memang jahat dimata orang, aku tidak peduli. Dia dipandang buruk, itu bukan kemauannya.

Yang jelas aku merasakan apa itu kehangatan keluarga ketika bersamanya. Dia satu-satunya orang yang mau dekat denganku karena alasan ingin melindungiku dan membahagiakanku.

————————–

Dia menutupi bagian tubuhku dengan selimut. Masih jam 10 malam dan dia memaksaku untuk tidur. Malam ini tidak ada diskotik-diskotik-an.

“Good night my sweetheart.” Katanya lembut dengan senyum hangat yang sangat amat kusukai. Dia mencium kening-ku, tapi sekarang agak lama. Jangan lepaskan aku, oppa. Jangan pernah pergi yah. Kau satu-satunya yang kupunya. Aku menyayangi-mu. Aku ingin kau tahu bahwa aku juga menyayangi-mu, oppa. “Mimpi indah yah.” Lanjutnya lagi lalu melenggang pergi dari kamarku. Dia menutup pintunya dengan penuh kehati-hatian. Jessica, eomma, appa, tidak pernah berbuat begini ke aku!

“Op-pa.” Panggilku masih dengan suara yang terdengar aneh. Dia menghentikan langkahnya yang sudah hampir sampai dipintu dan berbalik kearahku. Kududukkan badanku dan menepuk-nepukan setengah kasur yang masih kosong ditempat tidur. “Temani aku tidur yah? Please.” Mohonku. Seumur-umur aku slalu tidur sendirian, itu seingatku. Tidak ada yang tahu kalau aku sering ketakutan karena mimpi buruk, tidak ada yang tahu aku kesesakkan ketika tengah malam mati lampu. Aku ingin, oppa tersayang-ku ini menemaniku, setidaknya untuk mala mini.

Dia terlihat berpikir dan aku was-was menunggu jawabannya. “Okey, untuk adik kesayanganku.” Katanya sumringah. Dia berjalan kembali kearah kasur kulalu berbaring disana. “Tidurlah.” Ucapnya. Aku berbalik dan menyaksikan dia yang sudah memejamkan matanya.

Oppa, kau sangat tampan ternyata. Kalau saja adik kandung-mu dan ayahmu masih disini, kau tidak akan sehancur ini pasti. Kau orang baik, itulah yang dapat kusimpulkan selama mengenalmu dan aku berjanji tidak akan memandang remeh orang-orang yang hidup di gemerlapnya malam lagi.

Andai saja aku beneran adik kandung-mu, pasti rasanya bahagia sekali. Sekarang saja aku sudah sesenang ini. Aku lebih memilih hidup disini bersama-mu walau penuh dengan kecemasan tapi dibalik itu semua, kau bisa membuatku tertawa. Kau menjagaku dengan sangat baik. Aku baru sadar kalau dunia ini luas dan indah.

Oppa, aku tidak menyangka akan mengucapkan sebutan itu untukmu. Haha, Oppa Oppa Oppa!! Kau Oppa-ku! Walau kau buruk dimata orang, tapi kau sangat hebat dimataku. Nilai itu relative yah.

Aku mencoba memejamkan mata-ku walaupun agak berat. Aku masih ingin memandang wajah oppa-ku lebih lama. aku ingin slalu berada didekatnya.

“Oppa, pantainya indah sekali.”

“Ne.”
“Oppa, Gomawo.”

“Kau telah lancar menyebut panggilan-ku ternyata, haha.”

Aku tersenyum malu. Suasananya benar-benar indah, udaranya sejuk tetapi kenapa sepi sekali.

“Oppa, bagaimana kalau kita menulis harapan paling tidak mungkin di atas pasir, walau harapan itu akan menghilang diterjang ombak, setidaknya kita bisa mengetahui keinginan terbesar kita kan?”

Dia tersenyum dan menganggkuk.

‘AKu ingin Krystal bahagia dan hidup dengan baik.’ Tulisnya disampingku. Oppa, kau terlalu mengagumkan. Aku sayang oppa.

Aku ingin selamanya bersama Kyuhyun oppa.’

Aku menuliskan perkataan itu tetapi baru saja slesai aku membuatnya sudah lebih dulu terhapus oleh ombak. Aku menatap pasir itu kecewa. Dasar ombak jahat. Semoga saja Kyuhyun oppa sempat membacanya :D

“Op………….” Aku melihat kesamping-ku, tempat dimana seharusnya Kyuhyun oppa berada tapi dia seperti menghilang. “Oppa? Kau dimana? Jangan bercanda.” Teriakku kesal di iringi oleh suara ombak yang deras. “OPPA!” Seruku lagi. Dia tetap tidak ada! Aku bangkit dan melihat keseliling. Hanya aku sendirian, di-si-ni. “Oppa…” Sekali lagi aku memanggilnya, hampir putus asa. “Oppa..” Ucapku lirih, dapat kurasakan airmataku telah jatuh dari wadahnya. “Oppa.” Kali ini terdengar begitu pelan, putus asa.

Aku menunduk dan melihat pasir didekat kakiku.

‘AKu ingin Krystal bahagia dan hidup dengan baik.’

Tulisan itu masih ada. Sama sekali tidak lecet karena ombak. Oppa….kenapa kau begitu ingin membuat hidupku lebih baik?

“Opppaaaaaa!!”

———

Napasku tidak teratur dan aku bersyukur karena hanya mimpi. Susah sekali rasanya untuk terbangun dari mimpi paling buruk itu.

“Krys, kau baik-baik sajakan?” Terlihat raut panic Kyuhyun oppa didepan mataku, reflek aku langsung bangun dan memeluknya erat, erat sekali.

“Oppa, aku menyayangimu. Jangan pergi, janji?”

“Krys, tidak ada yang selamanya didunia ini. tapi aku juga menyayangimu.”

“Oppa……….”

———-

‘Tok..tok..tok.

Aku membuka pintu apartemet Kyuhyun Oppa dengan kesal. Siapa lagi sih? Om-om genit yang meminta barang baru? Atau tante-tante girang yang sibuk menanyai tentang Kyuhyun? Atau…. Aku membuka pintunya.

Sialan! Polisi! Jantungku deg-degan dan rasanya ini benar-benar mencekam.

“Selamat siang.”

Aku mengangguk. “Si..ang.” Aku memegang tengkukku saking gugupnya.

“Kami mendapat laporan kalau Cho Kyuhyun telah tewas.”

Ini berita paling gila “bohong.” Kataku remeh. Aku tidak boleh percaya. Mereka pasti polisi jahat. Tanpa sadar airmataku telah menghiasi pipiku, mengalir begitu deras. Percayalah mereka pasti bohong!

“Terjadi bom besar disebuah rumah dimana tuan Cho Kyuhyun menjadi daftar salah satu korban.” Katanya mencoba menjelaskan.

“Bohong.” Sekali lagi, aku tetap bersikukuh. “Kau pasti bohong. Dasar polisi sinting. Pergi dari sini. Kau pembohong.” Aku histeris, tidak bisa mengontrol emosiku lagi.

“Nona, tenanglah!” Dua polisi itu mencoba menanangkanku. Mataku kabur, aku tidak dapat melihat dengan jelas lagi. Mereka bohong,,, bohong…bohooong!!

————–

Setelah melakukan pemeriksaan ini itu, aku terbukti tidak bersalah dan tidak ada hubungannya dengan narkoba yang berserakkan dirumah Kyuhyun. Well, ternyata dugaanku benar, oppa-ku merupakan seorang criminal! Dia sudah lama menjadi buronan tetapi aku tidak pernah merasa malu! Selama ini, sekalipun dia tidak pernah membuatku terluka atau sakit hati. Kecuali hari ini! dia bena-benar membuatku harus merasakan hal paling sakit.

“Kalian untuk apa disini?” Ucapku kesal ketika melihat kedatangan Jessica di ruang tunggu kantor kepolisian ini.

“Krys…” Dia mencoba menyentuhku tapi langsung kudorong. Ibu dan ayahku juga menyusul kemari dibelakangnya. Cih sok panic.

“Yah! Aku bukan anak kalian kan? Kau dengar, aku bukan adikmu!”

“Ayolah Krys.”

Aku tersenyum miris. “Kemana saja kalian selama ini? kemana kalian saat aku butuh? Kemana kalian saat aku menangis? Kemana kalian saat aku merasakan kesendirian? Apakah kalian peduli?”

Ibuku menangis, begitu pula dengan Jessica sedangkan ayahku menunduk seperti menahan tangis.

“Kalian jahat…”

“Krys! Kami minta maaf. Eomma, appa, dan eonnimu tidak pernah bermaksud mentelantarkanmu.”

“Omong kosong!”

Ayahku terduduk bersimpuh dihadapanku, mengambil ancang-ancang untuk sujud. “Aku bukan Tuhan!”

“Krys, bagaimana caranya agar kau mau memaafkan kami?”

“Maaf? Hah buatlah Kyuhyun oppa hidup kembali! Setelahnya aku akan memaafkan kalian!”

Mereka bertiga terkejut. Kenapa? Terkejut aku begitu membutuhkan seorang criminal? Terkejut karna dimataku criminal itu lebih berharga?. Aku menangis. Lagi, aku kembali histeris. Rasa kehilangan itu begitu menyakitkan. Jessica memelukku erat, erat sekali. Tenagaku tidak cukup kuat untuk melepaskan pelukannya.

“Dongsaengi…”

————–

“Satu permintaan lagi yah?”

“Jangan mengancurkan dirimu sendiri. Berhentilah ke club, hidupalah seperti gadis normal lainnya yang menikmati hidup.”

“Kak, kenapa kau berkata seperti ingin pergi jauh?”

“Aku tidak mau melihat kau sehancur aku.”

Oppa, kenapa kau pergi? Aku kembali sendirian. Begitu bodoh dengan mereka yang mencoba sok perhatian denganku. Aku hanya butuh kau. Aku hanya ingin engkau! Kalau bisa, kenapa kau tidak ikut membawaku mati bersamamu. Oppa, ayolah!

Aku terkejut ketika seorang pria tiba-tiba menyentuh bahuku-ku di taman ini. Dia hanya diam, tanpa senyum sedikitpun tapi terlihat ejekkannya karena mataku yang sembab mungkin.

Sedetik.dua detik. Dunia terasa berhenti.

Aku menghela napas.

“Kau siapa?”

Dia diam saja dan memberikanku sebuah kertas diatas tanganku lalu pergi seperti tanpa dosa. Awalnya aku ingin memanggilnya untuk kejelasan tetapi surat ini lebih membuatku penasaran. Siapa lagi yang iseng?

For my dearest sister.

Hey kau jangan menangis, aku masih melihat tingkah-mu, bodoh.

Kau ingat janji-mu kan?

Suatu saat kita akan bertemu lagi. Aku janji. Tapi aku ingin melihatmu dalam keadaan yang lebih baik.

Tanpa masalah ataupun beban. Aku mengawasimu, kau baca?

Tapi aku mau bukan di diskotik yah!

Gereja mungkin? haha. Atau tempat yang lebih suci?

Aku belum mati, sayang. Tenang saja! Mereka tidak pernah lebih pintar dariku.

Sincerely, Your Oppa!

Diantara rintik airmataku, aku bisa merasakan kedua sudut bibir-ku terangkat. Aku tidak bisa mempercayai ini. Oppa……. Tenanglah, aku akan menepati janjiku. No club, no drugs, no free sex, no alcohol! Dan hidup dengan indah. Gomawo oppa telah mengajarkanku sedikit tentang hidup. aku akan menunggumu. Menunggumu menjadi seorang yang lebih baik.

Fin.

Alurnya agak kecepatan sih tapi aku pengennya bikin oneshot.. ok ini ff family pertama aku, sorry kalau banyak kesalahan yah. aku hanya manusia yang tidak tahu apa-apa/cih.

btw saya mau punya abang kayak kyuhyun, walau dia penjahat tapi aku mau (?)/eaea. dan maaf udah bikin kyu like this (?)

Oh ya yang bagian dipantai itu terinspirasi dari film Wedding dress tapi aku ubah dikit2 hehe.. kalo soal rekayasa genetika itu beneran ada sih, tapi anggap aja cara kerjanya gitu (?)

55 thoughts on “Oppa? Oppa! (OneShot)

  1. two tumbs deh…
    crtanya bnr2 brhsil bwt aq lrut didlmnya smp2 tnpa sdr nangis sndiri…
    aq kira kyu bnr2 mati, trnyata enggak

    ditunggu lgi kryamu slnjutnya

  2. Eon daebak! Ceritanya bener-bener daebak banget sampe-sampe aku nangis. Sumpah kalo aku jadi krystal, aku bener-bener seneng sama kyuhyun. Biarpun kriminal, tetep jadi kan kakak yang baik. Eon ga ada sequel ya? Aku penasaran banget

  3. Keren banget… jadi bisa ngerasain yg ‘beda’ terhadap kyuhyun :’)
    Berasanya bener2 kyk kyu itu oppaku, bkn pacar ato taksiran hehe. nangis waktu si krys mimpi sm pas kyu dibilang mati.
    keren, i love it!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s