Magic Book part 5

Author : OnlYurin

Genre : Romance, Fantasy

Length : Chapter

Cast : Lee Donghae, Song Mikan, Leeteuk

Sinopsis :

Mikan adalah seorang anak keturunan Korea yang miskin, dan hidup pas-pasan di rumahnya yang terletak di pinggiran kota. Sebagian besar rumahnya, hanya merupakan kamar bagi buku-buku sihir milik neneknya, yang bahkan tidak diketahuinya manjur atau tidak. Buku-buku itu selama ini hanya terus menyusahkan Mikan saja. Namun, segalanya berubah ketika Mikan menemukan sebuah keajaiban pada salah sebuah buku karya neneknya itu. Apakah keajaiban itu?

 

Magic Book part 5

 

Mikan’s POV

 

“Kau sakit?” tanya Madeley, ketika aku terbangun.

“Sepertinya sekarang sudah baikan.”

Aku bangkit duduk, dan memerhatikan wajah Madeley yang cantik. Mata bulatnya menatapku penuh rasa ingin tahu, membuat pikiranku tergelitik untuk menanyakan sesuatu yang sudah lama ingin kudiskusikan dengannya, tapi tak kunjung kulakukan hingga sekarang.

“Kau masih menyukai Siwon?” tanyaku, akhirnya menyuarakan sesuatu yang sudah menggema di kepalaku sejak lama.

Dia tampak tercengang, sama sekali tidak menduga pertanyaanku. Setelah berhasil lepas dari keterpakuannya, dia mengangkat alisnya dan mengedikkan bahunya, berusaha terlihat santai. “Kalau kau suka Siwon, ambil saja. Lagi pula aku juga tidak mungkin bisa bersama dengannya.”

Aku menggeleng. “Tidak, bukan itu yang kutanyakan. Aku bertanya padamu, apa kau masih menyukai Siwon?” ulangku. “Dan lagi pula, aku masih menyukai Donghae,” tambahku. Hatiku mencelos ketika bibirku menyebutkan nama Donghae.

Dia menunduk, lalu mendesah. “Tentu saja aku masih menyukainya. Tapi apa gunanya kau menanyakan hal itu, ketika aku bahkan tidak bisa bersama dengannya. Sudah jelas kalau melihatku saja dia tidak bisa, apalagi menyukaiku. Dan sepertinya Siwon sudah jatuh hati padamu.”

“Hei, tapi kau bisa sihir, kan?” tanyaku, tak menghiraukan pernyataan terakhirnya. Jelas aku tahu kalau Siwon menyukaiku. Sudah beberapa kali dia menyatakan hal itu secara gamblang padaku. Tapi aku sama sekali tidak menyukainya, jadi mau bagaimana lagi?

“Tapi aku tidak boleh menggunakannya dengan seenak perutku saja; itulah peraturannya.”

Aku mengangguk. “Aku mengerti,” tukasku. “Lalu apa kau benar-benar ingin bisa bersama dengan Siwon?”

“Tentu saja. Tapi aku tidak ingin memikirkan harapan muluk itu. Rasanya sama sekali tidak mungkin,” desis Madeley.

Aku tersenyum. “Apanya yang tidak mungkin? Aku akan membantumu.”

Mata bulat Madeley terbelalak. “Bagaimana bisa?” desaknya.

“Aku akan membuat permintaanku yang terakhir sekarang.”

Wajahnya merengut, dan dia menundukkan kepalanya. “Justru kalau kau membuat permintaanmu yang terakhir, itu artinya aku harus masuk kembali ke dalam buku,” keluhnya. “Tapi baiklah kalau itu maumu. Aku akan  bersikap professional dengan melaksanakan tugasku sebaik-baiknya; demi Seonhwa,” ujarnya berapi-api.

“Baiklah, kalau begitu aku minta supaya kau menjadi manusia,” pintaku.

Madeley membelalakkan matanya, membuatku meragukan permintaanku.

“Bisa, kan?” tanyaku ragu-ragu.

Perlahan, kepala Madeley mulai tertunduk memandang matras yang kami duduki. “Tentu saja bisa,” gumamnya. Aku menghela napas lega. “Gomawo, Mikan~ah.”

Tiba-tiba saja dia memelukku. “Aku sangat senang. Aku tidak pernah terpikir mengenai hal ini sebelumnya, dan kau memberiku jawaban atas masalahku. Gomawo, jeongmal gomawo.” Madeley mulai terisak.

Aku menepuk-nepuk punggungnya lembut. “Sudahlah. Lebih baik sekarang kau pulang ke rumah, lalu berubah menjadi manusia. Aku penasaran melihat dirimu sebagai manusia seperti apa,” bisikku.

Madeley mengangguk, dan dalam sekejap mata menghilang dari pandanganku.

Kurentangkan tubuhku lebar-lebar, membuat tulang-tulangku berbunyi akibat terlalu lama terkungkung. Sepertinya tubuhku terasa jauh lebih baik sekarang. Tapi jam berapa sekarang? Dan berapa jam sudah aku tidur? Aku bahkan tidak membawa jam tangan dan semacamnya. Ponselku, dimana ponselku? Sepertinya terakhir aku melihatnya ketika aku menaiki Mercedes Taeyeon. Kalau begitu, lebih baik sekarang aku pergi menemui Taeyeon.

Aku keluar dari tendaku, dan melihat langit sudah mulai gelap; sekarang sudah senja. Matahari hampir terbenam, dan suasananya sangat romantis. Aku mengembuskan napas panjangku pelan. Apa gunanya suasana romantis, ketika aku bahkan tidak memiliki pasangan? Kusudahi khayalan-khayalan bodohku mengenai suasana romantis seperti yang biasa kutonton dalam drama, dan melangkah ke tenda milik Taeyeon dan Jungsoo oppa.

“Hei!” pekikku ketika sebuah tangan kekar meraih pergelangan tanganku sebelum aku berhasil sampai di tenda milik Taeyeon, dan menarikku mengikutinya secara paksa.

Meski aku hanya melihat sosoknya dari belakang, tapi bisa kupastikan kalau pria itu adalah Donghae. Mau apa lagi dia? Sejak pertama bertemu kata-kata yang dilontarkannya baru saja sepatah dua patah. Aku tidak pernah tahu dengan jelas jalan pikirannya yang sepertinya mulai terkesan mengerikan sekarang.

Memoriku cukup kuat untuk mengingat kalau jalanan yang kulalui oleh tarikan paksa dari Donghae ini adalah jalan menuju sungai di dekat perkemahan yang sudah tidak asing lagi bagiku.

Dan betul saja, Donghae melepaskan cengkeraman tangannya—yang membuat daerah sekitar pergelangan tanganku memerah—di hulu sungai yang biasa kudatangi selama masa perkemahan ini. Angin berembus lembut, membuat beberapa helai daun yang sudah menguning di tanah tertiup. Nuansa di hulu sungai ini bahkan jauh lebih romantis daripada suasana di sekitar perkemahan. Aku mendesah pelan. Sekali lagi, apa gunanya suasana romantis ini ketika aku bahkan tidak memiliki pasangan—meski Donghae di sampingku, tapi tentunya dia tidak terhitung, mengingat dia sama sekali bukan pasanganku.

“Ada apa denganmu, Donghae-ssi?” semburku. Kurasa aku tidak cukup kuat untuk menahan perasaan campur aduk—antara kesal, rindu, suka, bingung, dan berbagai macam perasaan lain lagi—yang berkecamuk dalam diriku.

“Diam dan dengarkan!” serunya. Aku terdiam, mematuhi perintahnya. “Kau harus bertanggung jawab karena telah membuat hidupku berantakan!” sahutnya lagi.

Aku mengerutkan keningku. “Apa maksudmu, Donghae-ssi? Kita bahkan belum pernah bertemu sebelumnya,” dustaku. Tapi memang sepertinya dalam ingatannya seperti itu, kan?

“Memang. Tapi kau lihat ini, Song Mikan-ssi,” katanya seraya menunjukkan sebuah kotak perhiasan kecil yang terlihat elegan dan mahal.

Donghae membuka kotak itu, dan membuat sepasang cincin terekspos di dalamnya. Sesaat, aku mengerutkan keningku melihat cincin itu, sampai aku tersadar kalau cincin itu adalah cincin yang sama dengan cincin yang digunakannya untuk melamarku dulu. Refleks, aku membelalakkan mataku tanpa bisa berkata apa-apa. Berbagai macam persepsi dan pertanyaan menghujam kepalaku. Apa dia mengingat semuanya? Apa sihir Madeley tidak ampuh? Apa penyebabnya mengingat hal itu hanya karena sepasang cincin ini? Lalu kenapa dia berkata aku harus bertanggung jawab? Apa itu artinya dia mengingatnya.

“Kau kelihatannya tidak asing lagi dengan cincin ini, kau tahu?” dengus Donghae. “Kalau begitu bisa kau jelaskan padaku mengenai asal-usul cincin ini? Kenapa namaku dan namamu sampai bisa terukir di atasnya?” tanyanya bertubi-tubi.

Jadi itu alasannya? Dia bersikap seperti itu karena ukiran nama? Aku bahkan tidak pernah tahu sebelumnya kalau di cincin itu ada ukiran namaku.

“Hmm, mungkin saja itu orang lain, Donghae-ssi, hanya namanya saja yang sama,” alibiku.

Dia tertawa sinis, dan mulai membuka tutup kotak cincin berwarna coklat itu dengan tidak sabar, hingga menimbulkan bunyi yang kuat dan cepat. “Asal kau tahu saja, orang yang bernama Song Mikan di Korea sangat jarang. Sangat Jarang! Malah mungkin hanya kau satu-satunya, mengingat namamu adalah nama orang Jepang dengan marga orang Korea.” Alasan masuk akal yang dilontarkannya membuatku terhenyak, kehilangan kata-kata. Nama ini, aku tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. “Dan bisa kau jelaskan perasaan tidak asing saat pertama kali aku bertemu denganmu? Lalu kenapa kau tadi terlihat begitu terkejut saat memandang cincin ini?”

Hening.

Aku sama sekali tidak bisa membalas semua pertanyaan-pertanyaan retoris yang dilontarkannya. Semuanya memang terlalu masuk akal. Apa Donghae memang terlalu pintar, sampai bahkan aku dengan sihir pun tidak dapat mengelabuinya? Atau karena dia berada di pihak yang benar sampai aku sama sekali tidak dapat berkutik?

“Tidak bisa menjawab? Kalau begitu bertanggung jawab saja,” usulnya.

Aku mendongakkan kepalaku, menatapnya yang saat ini sedang berdiri dengan tangan yang bersedekap di dada. Ekspresi wajahnya sangat santai, seakan tidak ada hal yang membebaninya.

“Aku tidak membutuhkan penjelasan darimu. Kalau kau mau menjelaskan hal ini, silakan. Dan jika tidak juga tidak masalah. Yang kuinginkan hanyalah, pertanggungjawabanmu atas fakta yang entah bagaimana sampai terkesan ganjil bagiku, sampai-sampai kepalaku sakit hanya karena memikirkannya. Dan ini sudah berlangsung lama!” desis Donghae.

“Baiklah. Meski aku tidak yakin kalau aku bersalah, tapi aku akan tetap melakukan permintaanmu,” sahutku, masih berusaha menyangkal. “Apa yang kauinginkan?” desakku.

Dia menarik cincin itu keluar dari kotaknya, lalu memakaikannya di jari manisku secara paksa. “Menikah denganku,” tukasnya ketika cincin itu telah melekat sempurna di jariku.

Aku terbelalak. “Mwo?” pekikku.

“Aku tidak akan mengulangi kata-kataku,” tegasnya. “Dan mau tidak mau, kau harus menyetujui hal ini. Kau sudah berjanji tadi.”

Aku bergeming, tak mampu melakukan apa-apa. Perasaanku, perasaanku tidak kuketahui seperti apa tepatnya. Aku menatap Donghae yang tampak tersenyum, eh, sepertinya menyeringai. Dia lalu bergerak pergi meninggalkanku yang masih tak bisa bergerak dari tempatku, tanpa berkata apa-apa.

“Mikan, Mikan…,” seru seseorang, menggoyang-goyang bahuku dari belakang.

Aku berbalik dan mendapati orang itu adalah Taeyeon. Dahinya berkerut, dan dia tampak cemas. “Kau kenapa berdiam di sini? Ini sudah malam, apa kau tidak kedinginan? Kau bahkan tidak memakai jaket,” desak Taeyeon bertubi-tubi.

Aku tersenyum, agak dipaksakan sebenarnya. Sejak tadi mataku membuka, tapi aku sama sekali tidak menyadari matahari yang perlahan tenggelam. Dan kini, cahaya oranye dari matahari itu sudah menghilang sepenuhnya, digantikan oleh cahaya bulan yang membuat sungai tampak mengilap samar; bagian lain dari keindahan alam. “Gwaencahana,” tukasku singkat.

“Kau tidak kedinginan?” Kening Taeyeon masih berkerut, dia tampak tidak puas dengan jawabanku.

Aku menggeleng pelan. “Kau kenapa ke sini?” tanyaku.

“Sejak tadi aku mencarimu, tapi kau tidak ada dimana-mana. Jadi aku mencoba mencarimu kemari, dan ternyata kau sedang diam, mematung dalam kegelapan dengan wajah yang… tanpa ekspresi,” tandas Taeyeon. “Apa ada sesuatu yang sedang membebani pikiranmu?”

Ingin sekali kuanggukkan kepalaku, dan memberitahukan semuanya pada Taeyeon, berharap dia bisa memberiku saran atas pernyataan gila Donghae tadi. Hatiku bahkan tidak tahu harus bagaimana menyikapi pernyataan itu; terlalu rumit bagiku. Aku baru mengetahui kalau ternyata perasaan hati manusia bisa sampai mencapai tingkat kerumitan yang seperti ini.

Tapi, aku juga tahu kalau aku tidak bisa memberitahukannya kepada siapa pun—kecuali Madeley—dikarenakan kekhawatiran akan masalah yang akan semakin merunyam.

“Tidak ada. Aku hanya terlalu terpaku melihat keindahan bulan yang memantul dari air sungai yang mengalir,” dustaku, mataku menerawang ke sungai itu, dan aku menyadari kalau yang kukatakan tadi memang sangat benar. Bahkan kupikir aku bisa bertahan selama beberapa saat untuk mengamati pantulan sinar bulan yang terlihat abstrak akibat derasnya arus sungai itu.

“Kalau begitu ayo kita kembali ke tenda sekarang. Ini sudah malam, dan besok kita sudah harus kembali ke kota. Lagi pula, kau tidak mengenakan jaket.”

Aku mengangguk, kemudian berjalan kembali ke tenda bersama Taeyeon. Di perkemahan, anggota kru sudah berkumpul untuk makan bersama, dalam posisi duduk di tanah beralaskan tikar, membentuk lingkaran mengelilingi sebuah api unggun yang berkibar dengan gagahnya. Sesekali angin yang bertiup akan membuat api unggun itu melambai-lambai. Taeyeon menarikku duduk di samping Jungsoo oppa dan Donghae. Parahnya, yang duduk di sebelahku adalah Donghae, sementara Taeyeon beringsut duduk di samping Jungsoo oppa.

Anggota kru—seksi makanan—memberikan piring yang terbuat dari gabus berisikan nasi, komplet dengan beberapa macam lauknya padaku dan Taeyeon. Langsung saja kusantap makanan itu, berhubung perutku yang memang sejak tadi belum diisi sudah berteriak lapar.

“Jangan kaulupakan kalau kau masih harus bertanggung jawab,” Donghae mengingatkanku. Kepalanya memiring, dan berbisik di telingaku. Embusan napasnya menggelitik.

Mulutku yang memang pada saat itu sedang dipenuhi oleh nasi putih, tidak sanggup berkata apa-apa selain menatap Donghae dengan pandangan yang kosong—atau mungkin ada arti yang tersirat dalam mataku, tapi aku tidak menyadarinya.

Selesai makan, langsung saja aku bergegas meninggalkan lingkaran anggota kru yang masih bercerita dan bermain bersama. Kondisi fisikku tidak cukup kuat untuk begadang lebih lama lagi. Kuhempaskan tubuhku sedikit kasar di atas matras, lalu menghela napas lega; akhirnya kondisi fisikku terasa lebih nyaman dengan berbaring seperti ini. Pikiranku melayang. Banyak hal yang membuatku pusing—atau mungkin hanya satu hal saja, tapi tingkat kesulitannya berkali-kali lebih rumit untuk kupecahkan daripada masalah biasanya; masalah Donghae.

Aku mendesah. Kepalaku mulai terasa berdenyut akibat terlalu serius memikirkan masalah ini. Aku mencoba membujuk diriku sendiri: Mikan, apalagi yang perlu kaupikirkan? Bukannya seharusnya kau senang karena bisa menikah dengan Donghae? Dan perlu kau ingat, kali ini bukan karena sihir.

Kubalik badanku ke samping dengan cepat sambil mengacak-acak rambutku. Bahkan diriku sendiri tidak sanggup membujuk diriku. Satu fakta yang terus tertanam di kepalaku: Donghae tidak mencintaiku. Dan hal itu benar-benar membuatku tidak rela. Bukannya apa, tapi aku menginginkan kisah seperti dalam cerita-cerita yang biasa kubuat—mendapatkan pasangan yang mencintainya setengah mati.

Pada kenyataannya, itu hanya ada dalam dunia khayalanku. Seharusnya sejak awal aku tahu kalau dunia nyata tidak akan bisa seindah khayalan. Jika memang bisa, lalu mengapa ada orang yang terlahir miskin, bahkan sampai meninggal tetap miskin? Mengapa ada orang yang dibunuh setelah diperkosa? Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, membuat bunyi gesekan yang ditimbulkan akibat rambutku dan bantal yang bergesek. Seharusnya aku bisa tetap bersyukur. Nasibku bahkan jauh lebih baik daripada orang-orang itu.

 

***

 

Semua barang-barangku sudah teratur rapi dalam koper kecilku; aku sudah siap untuk pulang. Aku bergegas menuju bus yang akan mengantarkanku kembali ke kota, ke rumah tuaku yang masih betah kutinggali hingga kini.

Setelah memiliki uang, aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya aku tidak rela meninggalkan rumah itu; meski jika aku mau, aku bisa saja membeli rumah yang jauh lebih mewah. Aku hanya merenovasi lapik, serta beberapa bagian dari rumah itu yang telah rusak saja. Buku-buku milik nenekku juga masih kujaga dengan baik. Buku sihir itu benar-benar mengubah kehidupanku, dan aku cukup bangga karena perubahan kehidupanku bukan karena sihir—sihir buku itu hanya menjadi perantaranya saja. Aku berusaha sendiri membuat novel, hingga diterima dan akhirnya bisa merambah menjadi pembuat naskah drama.

Baru saja tiga hari aku pergi, dan aku sudah sangat merindukan rumah itu. Apa rumah itu akan kotor hanya karena tiga hari tidak kubersihkan? Bagaimana dengan tumpukan buku yang akan membuatku setengah mati membersihkannya? Dan bagaimana kabar Madeley yang sudah berubah menjadi manusia di rumah? Aku sudah tidak sabar melihat Madeley dalam wujud manusianya.

Donghae menarik tanganku dengan tiba-tiba, membuat tubuhku berputar arah, dan dengan tergopoh-gopoh mengikuti langkahnya yang besar dan cepat. Dia menuju sebuah mobil Nissan Skyline berwarna biru tua, yang kuketahui adalah mobilnya. Dia melepaskan cengkeraman tangannya pada lenganku, lalu membukakan pintu di samping kemudi, dan memaksaku masuk ke dalamnya.

“Kau kenapa lagi, Donghae-ssi? Aku mau pulang!” semburku ketika dia sudah duduk di kursi kemudi.

“Kuharap kau tidak lupa akan janjimu untuk bertanggungjawab kemarin,” tukasnya, membawa kembali memoriku yang sempat berpindah ke prioritas pikiran terbelakang di kepalaku.

“Aku tidak lupa,” bantahku.

“Lalu kenapa kau masih bertanya?” desis Donghae.

“Kau membawaku naik ke mobilmu seenak perutmu saja! Aku tidak suka! Janjiku kemarin tidak ada hubungannya dengan paksaanmu terhadap diriku untuk naik ke mobilmu!” seruku.

Dia tertawa sinis. “Tentu saja ada hubungannya, nona sok tahu!” imbuhnya. “Ah, atau mungkin aku harus mulai memanggilmu dengan sebutan nyonya? Sebentar lagi kau akan menjadi istriku, kan?” dia menambahkan, tersenyum mengejek. Tampang yang cukup menyebalkan bagiku, tapi aku tak cukup mampu untuk membohongi diriku sendiri kalau aku masih menyukai paras wajahnya.

“Dan bisa kau jelaskan apa hubungannya itu, Tuan tukang paksa?” tanyaku, berusaha tenang seperti Donghae, tapi nyatanya aku tak cukup mampu untuk menjaga kestabilan suaraku.

“Kau harus pulang naik mobilku, karena begitu sampai di kota, kita akan segera menikah, dan kau harus segera menyiapkan barang-barangmu untuk pindah ke apartemenku.”

Mataku membelalak, dan mulutku megap-megap selama beberapa saat. “Apa kau gila?” protesku ketika aku sudah bisa mengendalikan ekspresiku. “Kau bahkan baru mengatakan tentang pernikahan itu padaku kemarin, dan sekarang kau sudah mau melaksanakannya! Mana ada orang yang menikah tanpa membutuhkan persiapan? Kau anggap pernikahan itu main-main?” semburku bertubi-tubi, tidak mampu lagi menyembunyikan emosiku.

“Bagiku pernikahan itu bukan main-main, tapi tanggung jawab! Tanggung jawab yang harus kaupenuhi.”

“Oke, tanggung jawab.” Aku berusaha menyetujui prinsipnya. “Tapi apa kau pikir pernikahan dengan makna tanggung jawab itu adalah main-main?”

“Memangnya kenapa?” Donghae menaikkan sebelah alisnya.

“Kau tidak pernah berpikir kalau pernikahan itu akan mengubah hidupmu? Karirmu, kehidupan pribadimu? Apa kau tidak berniat mencari orang yang kaucintai untuk kaunikahi? Bukan hanya karena memaksaku untuk bertanggung-jawab saja.”

“Aku sudah memikirkannya, dan kurasa aku lebih senang menikah untuk memaksamu bertanggung jawab,” tukas Donghae. Sejak tadi nada suara yang keluar dari mulutnya kurang lebih sama.

Aku mendesah keras, lebih keras daripada biasanya. “Apa kau dendam padaku?” tanyaku akhirnya. Nada suaraku merendah satu oktaf.

Dia tertawa sinis. “Apa kau pernah berbuat salah padaku Mikan-ssi?”

Aku terdiam. Memang pernah, tapi seharusnya dia tidak mengingatnya, kan?

“Kenapa aku harus dendam padamu ketika kau bahkan tidak pernah berbuat salah padaku?” sahutnya, nada suaranya datar. “Atau mungkin kau pernah berbuat salah padaku, tapi kau sudah mencuci otakku, hingga aku sama sekali tidak bisa mengingat kesalahanmu?” tambahnya lagi. Kali ini matanya menatapku tajam.

Segera kualihkan mataku. Aku tidak kuat lama-lama bertatapan secara langsung dengannya, apalagi dalam keadaan yang seperti ini. “Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?” Suaraku tergagap. Mungkin benar yang dikatakannya; aku mencuci otaknya dengan sihir. Tapi aku kan hanya menghilangkan memorinya tentangku dan sihir yang membuatnya menyukaiku itu.

“Segala sesuatunya mungkin, kan? Aku hanya asal menebak saja,” tukasnya, kembali bersandar di sandaran kursi mobilnya.

Aku menegakkan badanku, lalu menatapnya dalam-dalam. “Donghae-ssi, tapi biar bagaimanapun, pernikahan membutuhkan persiapan,” ucapku, mengalihkan topik.

“Betul,” dia menyetujui. “Tapi persiapan yang dibutuhkan di sini hanyalah dirimu. Siap-siap saja menandatangin surat pernikahan nanti.”

Aku terdiam, tidak bisa berkata apa-apa lagi. Tapi satu hal yang baru muncul di kepalaku langsung saja menggelitik kepalaku dan menimbulkan rasa ingin tahu yang tinggi. “Bagaimana dengan karirmu?” Aku menyuarakan pikiranku.

Dia berbalik. “Kalaupun karir keartisanku akan bermasalah hanya karena aku menikah, aku masih memiliki kekayaan berlimpah, warisan dari orangtuaku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jelasnya.

Cukup sudah. Semua informasi yang kubutuhkan telah terjawab. Skyline Donghae melaju dalam kecepatan penuh. Raung mesin mobil ini halus, dan sama sekali tidak mengganggu telinga. Sepanjang perjalanan, aku dan Donghae hanya terdiam, bergelut dengan pikiran masing-masing.

Ketika tiba di kota, Donghae langsung memacu mobilnya ke kantor pencatatan sipil. Di sana sudah berdiri Taeyeon dan Jungsoo, yang menurut dugaanku akan menjadi saksi atas pernikahan ‘tanggung jawab’ ini. Dan itu artinya, Donghae sudah memberitahukan semuanya kepada mereka. Aku 50% yakin kalau Taeyeon akan menghujamiku dengan pertanyaan setelah ini. Aku jadi penasaran apa yang dikatakan Donghae pada mereka—mungkin nanti aku bisa mencari tahu jawabannya melalui Taeyeon.

Surat pernikahan itu kutandatangani, demikian juga hal yang sama dilakukan oleh Donghae, Jungsoo oppa dan Taeyeon. Selesai itu, Donghae segera mengebut ke rumahku, setelah sebelumnya menanyakan alamatnya padaku.

Aku bergegas membawa koper kecilku turun, kemudian masuk ke dalam rumah yang tidak berbeda jauh tampak luarnya dengan dua tahun lalu. Pada pintunya sudah tidak terpasang gembok lagi—pasti Madeley yang membukanya. Donghae mengikutiku masuk ke dalam, menelusuri pemandangan dalam rumah ini dengan matanya. Aku bersyukur karena rumah ini sudah banyak direnovasi sehingga tidak sebobrok dulu lagi.

“Mikan, kau sudah…” teriakan Madeley terhenti ketika dia melihat Donghae yang berdiri di belakangku.

Madeley mengerutkan keningnya, demikian juga Donghae. Jadi apa sekarang Madeley sudah menjadi manusia? Tapi aku tidak merasakan ada sesuatu yang berbeda pada dirinya—semuanya sama saja; wajahnya tetap semenawan dulu, rambut ikalnya tetap sama, suaranya yang berdentang juga sama, tapi sepertinya tinggi suaranya sekarang berkurang satu oktaf. Ah, akhirnya aku menemukan perbedaannya; suaranya.

Dan jelas, Donghae bisa melihatnya—terbukti dari Donghae yang turut mengerutkan keningnya ketika Madeley meneriakiku.

“Eh, annyeonghaseo,” sapa Madeley, menunduk 90 derajat.

“Annyeonghaseo,” Donghae membalas, dia menunduk kecil.

“Donghae-ssi, kenalkan ini Madeley,” tukasku, kemudian terdiam. Pikiranku berputar cepat merangkai alasan seperti apa yang akan kugunakan untuk dijadikan status Madeley sebagai manusia. “Dia Song Madeley, sepupuku,” aku melanjutkan perkataanku ketika ide itu muncul begitu saja dalam kepalaku.

Senyum Madeley merekah lebar, hingga jajaran gigi putihnya yang mengilap diterpa sinar lampu redup di rumah ini tampak. “Song Madeley imnida,” ujarnya. Madeley menyodorkan tangannya pada Donghae, dan Donghae meraihnya.

“Lee Donghae imnida. Mannaseo bangapseumnida,” ujar Donghae, tersenyum. Ya Tuhan, senyumnya benar-benar memukauku. Apa dia menampilkan senyum terbaiknya? Jangan-jangan dia menyukai Madeley yang memang kuakui sangat cantik jelita itu.

“Tapi ada apa Lee Donghae-ssi datang kemari?” tanya Madeley.

“Ah, aku menemani Mikan untuk membereskan barang-barangnya. Dia harus pindah ke apartemenku,” jawab Donghae.

Alis Madeley tertaut satu sama lain. “Maksudnya?”

“Mulai hari ini Mikan sudah resmi menjadi istriku, jadi tentu saja dia harus tinggal dengan suaminya,” kata Donghae santai.

Madeley diam, tampak sedang mencerna kalimat Donghae. “Mwo?!” pekiknya, sepertinya ketika proses pencernaan kalimat dalam kepalanya telah selesai.

Donghae tertawa renyah. “Kau kenapa, Madeley-ssi?”

“Ani, hanya saja, kapan kalian menikah?” tuntut Madeley langsung. Bola matanya berputar-putar menatapku dan Donghae bergantian.

“Baru saja tadi,” jawab Donghae enteng.

Madeley tidak melanjutkan pertanyaannya, dan malah menarikku menuju kamarku. Sekalian saja aku mengambil koper besarku dan mulai menyususn barang-barangku ke koper. Madeley beranjak ke depanku, menatapku dengan pandangan menuntut penjelasan.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa menikah dengan Donghae?” desak Madeley.

Kugerakkan tanganku mengatur poniku yang terjatuh menutupi mataku. “Aku tidak tahu. Dia baru saja mengatakan tentang pernikahan kemarin, dan tadi dia langsung memaksaku menikah di catatan sipil,” jelasku.

“Ya ampun,” Madeley memekik, tangannya meraih tanganku dan mengamati cincin yang ada di situ. “Ini cincin pernikahan, kan?”

“Begitulah,” jawabku, melepaskan tanganku secara paksa dari genggaman Madeley.

Madeley kembali meraih tanganku, dan memerhatikan lekuk cincin itu. “Indah,” pujinya. “Jadi apa kau bahagia sekarang?” Dia melepaskan genggaman tangannya, dan menatap mataku.

“Aku… Aku tidak tahu. Seharusnya aku bahagia tapi…” Mataku menerawang tak tentu arah. “Kau tahu, dia memaksaku menikah hanya karena alasan kalau aku harus bertanggung jawab,” ujarku, mataku berfokus pada mata Madeley sekarang.

Madeley mengerutkan keningnya. “Bertanggung jawab untuk apa?”

“Karena cincin ini. Dua tahun yang lalu dia melamarku menggunakan cincin ini, dan di dalam cincin ini terukir namaku dan namanya. Hal itu membuatnya terpikirkan setiap hari, katanya, kepalanya sampai sakit hanya karena memikirkan hal ini. Maka dari itulah dia menyuruhku bertanggung jawab.”

“Tidak masuk akal,” tantang Madeley.

“Memang,” aku sependapat.

Selesai mengepaki barang-barangku, aku keluar dengan menenteng dua buah koper besar milikku, diikuti Madeley yang mengekor di belakangku.

Donghae memalingkan kepalanya, menatap ke arahku dan Madeley. “Sudah selesai?” tanyanya.

Aku mengangguk kecil.

“Tolong kau jaga sepupuku dengan baik,” pinta Madeley. “Oh, ke depannya aku akan kesepian tinggal di rumah ini sendiri,” Madeley meratap.

“Makanya cepatlah kau juga cari suami,” gurauku.

Madeley memelototiku, dan aku tertawa.

 

***

Keadaan apartemen Donghae tidak jauh berbeda dengan dua tahun yang lalu. Dekorasi dan penempatan barang-barangnya juga masih sama. Mungkin beberapa hal kecil yang tidak terlalu menarik perhatianku telah berubah, tapi aku tidak menyadarinya.

Kuletakkan kedua koperku di atas tegel marmer yang mengilap akibat terpaan cahaya lampu kristal di dalam apartemen Donghae, lalu berdiri melongo menunggu aba-aba darinya. Ugh, kenapa aku jadi sungkan-sungkan begini? Seharusnya kan tidak perlu? Aku adalah istri Donghae yang sah sekarang, dan itu artinya ini adalah rumahku, aku meyakinkan diriku sendiri.

Kupaksakan diriku duduk di sofa empuk di ruang tamu tanpa minta izin, dengan posisi sesantai mungkin. Tapi memang dasarnya aku merasa sangat sungkan, jadilah kelihatan kecanggunganku. Aku jadi merasa tolol melakukan hal itu.

Donghae melangkah tanpa menghiraukanku, memasuki sebuah ruangan yang kuketahui adalah kamarnya. “Hei, kau mau sampai kapan duduk di situ?” tegur Donghae.

“Kau tidak memberitahukan kamarku dimana,” keluhku.

Bukannya menjawab pertanyaanku, Donghae melangkahkan kakinya perlahan dan berwibawa ke arahku. Matanya terfokus pada mataku, membuatku merasa gugup. Dia terus beringsut mendekat sampai dia berdiri tepat di hadapanku, dan mulai mendekatkan wajahnya, membuat embusan napasnya membelai lembut wajahku. “Kau tahu kamarku, kan?” tanyanya.

Aku mengangguk, pelan dan canggung. Dalam keadaannya yang sedekat itu denganku, aku sungguh tak dapat berkonsentrasi.

“Kalau begitu, kau pikir dimana lagi kamarmu seharusnya?” suaranya terkesan mengintimidasi. “Tentu saja di kamar yang sama denganku. Aku suamimu,” tukas Donghae.

Dengan segera kuangkut koper-koperku, lalu berjalan mendahuluinya ke kamarnya. Dekorasi kamar ini juga masih sama. Aku masih mengingat saat secara tidak sengaja aku menindih Donghae di kasurnya dulu. Aku mendesah pelan, masa-masa itu, aku merindukannya.

Aroma maskulin masih sangat kental menyelimnuti kamar ini. Aku maklum saja, mengingat kamar ini memang ditempati oleh seorang pria selama bertahun-tahun. Tidak lama aku memerhatikan kamar ini—mengenang masa laluku dua tahun yang lalu, yang hanya berlangsung selama beberapa hari—Donghae masuk kemari. Matanya turut menelusuri sekeliling kamarnya sepertiku.

Setelah selesai menyapu setiap sudut dari kamar ini dengan matanya, dia mulai berjalan mendekatiku, membuat jantungku berdebar tak terkendali. Aku mengembuskan napas lega ketika dering telepon dari ruang tamu berbunyi. Donghae memalingkan kepalanya, kemudian memutar tubuhnya bergegas mengangkat telepon. Kupukul kepalaku sendiri. “Babo,” gumamku. Kenapa reaksi jantungku tadi bisa seperti itu?

Ketika aku memutar ulang adegan itu, napasku tetap saja kembali memburu akibat debar jantungku yang tidak konstan. Kepalaku terasa terhantam ketika sebuah pemahaman melintasinya; pemahaman yang kurang menyenangkan. Apa mungkin aku mengharapkan sesuatu yang tidak-tidak? Kenapa reaksi jantungku berlebihan sekali? Akh, tidak mungkin. Aku tidak mungkin sebegitu genitnya, kan? Ya ampun, sejak kapan pola berpikirku jadi seperti ini?

Jangan bodoh, Mikan. Jangan pernah berpikiran absurd. Jangan mengkhayalkan hal yang tidak-tidak, aku memeringati diriku sendiri. Tidak bisa kutampik, kalau masih ada harapan yang kuketahui muluk dalam hatiku. Harapan itu begitu tidak masuk akal. Bagaimana mungkin aku mengharapkan sesuatu yang seperti ada dalam novel?—maksudku ketika ternyata si prianya menyembunyikan perasaan secara khusus pada wanita itu. Padahal jelas saja, novel itu adalah fiksi.

“Ganti bajumu. Kita harus segera berangkat,” tukas Donghae, menyadarkanku dari pergulatan dalam batinku. Dia sudah berdiri di depan pintu yang membuka.

“Berangkat kemana?” Wajahku turut mengekspresikan pertanyaanku.

“Ke rumah orangtuaku,” sahutnya singkat, namun mampu membuatku membelalak. Aku baru teringat mengenai orangtua Donghae.

Oh Tuhan, akan seperti apa reaksi mereka? Donghae sepertinya bahkan belum memberitahukan orangtuanya mengenai pernikahan konyol ini. Lalu bagaimana kalau mereka menolakku, dan memarahiku habis-habisan? Kedua orangtuaku sudah meninggal, nenekku pun juga begitu. Satu-satunya keluargaku yang kuakui di khalayak sekarang hanyalah Madeley—karena pada dasarnya, tidak satu pun dari keluargaku yang masih tersisa. Aku tidak yakin kalau orangtua Donghae akan menerimaku dengan tangan terbuka. Belum lagi, mereka adalah keluarga kaya raya yang sangat terpandang.

“Apa yang mereka katakan? Mereka sudah tahu mengenai pernikahan kita?” tanyaku. Aku tidak bisa menahan nada suaraku untuk tidak menampakkan kecemasanku.

“Mereka sudah tahu. Jungsoo hyung yang memberitahu mereka. Cepatlah ganti bajumu,” desak Donghae.

Hatiku dilanda kecemasan. Kuaduk koperku, mencari sebuah pakaian yang tampak santai, namun indah dan rapi. Pilihanku jatuh pada sebuah dress selutut berwarna khaki dengan beberapa pita kecil sebagai hiasannya. Rambut sepinggangku yang lurus kuurai begitu saja, dan menyapukan make up tipis ke seluruh wajahku. Sebagai alas kaki, aku mengenakan sepatu berhak 5 senti berwarna senada, dengan hiasan pita yang membuat sepatu itu tampak indah.

Setelah selesai, aku keluar dan menemui Donghae. Kecemasan dalam hatiku sudah meningkat dengan pesat, hingga aku sama sekali tidak bisa memerhatikan ekspresi Donghae. Dia menggandeng tanganku lembut, dan menuntunku menuju tempat Nissan Skyiline-nya terparkir. Sepanjang perjalanan, jantungku terus saja berpacu cepat tanpa bisa kuhentikan. Aku cukup tahu kalau raut wajahku sekarang pasti sedang diliputi kecemasan.

Donghae diam saja, tidak memberikan pendapat apa pun mengenai reaksiku yang mungkin terkesan berlebihan. Tapi bagiku ini sama sekali tidak berlebihan, mengingat kondisi hubunganku dengan Donghae. Sedari tadi, aku terus saja meremas-remas tanganku sendiri, berharap dengan melakukan itu kegelisahanku dapat sedikit berkurang. Tapi pada kenyataannya, hal itu sama sekali tidak membawa dampak yang cukup berarti.

Skyline milik Donghae terparkir rapi di depan sebuah halaman rumah yang besar dan mewah. Sebelum memasuki halaman itu, kami melewati sebuah pintu pagar raksasa yang dicat putih, dan membuka secara otomatis ketika Donghae membunyikan klaksonnya. Halaman rumah yang terhampar di depan rumah elegan itu sungguh indah. Rumputnya berwarna hijau, terlihat segar dan terpangkas dengan sangat rapi. Selingan pohon-pohon tinggi dan beberapa macam tanaman, dengan bunga yang memperkaya warna taman ini memberikan kesan tersendiri yang membuat taman ini tampak semakin indah.

Embusan angin bertiup kencang membelai-belai rambutku, dan membuat rok dari dress yang kupakai berkibar ketika aku turun dari mobil Donghae. Anginnya sejuk, tidak terlalu kencang, tapi terasa sangat nyaman. Ditambah taman bunga di depan rumah, aku berani jamin suasana di sini pasti sangat menyenangkan.

Donghae melangkahkan kakinya ke arahku, dan meraih tanganku. Tangannya terasa hangat menggenggam tanganku, membuat jantungku berdebar cepat. Aku sudah tidak tahu lagi apa alasan di balik debar jantungku yang gila-gilaan ini—cemas akan bertemu orangtua Donghae kah, atau justru karena genggaman tangannya? Well, mungkin karena percampuran keduanya.

Langkah kaki kami tertuju pada satu tempat, yaitu pintu besar berwarna putih yang berfungsi sebagai penghubung antara bagian dalam rumah dengan bagian luarnya. Sesuatu dalam diriku membuatku napasku tak beraturan. Kecemasan kurasakan meliputi lebih besar dari ukurannya semula dalam hatiku, membuatku menggenggam tangan Donghae lebih erat sebagai reaksi refleksku.

 

TBC

One thought on “Magic Book part 5

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s