Destiny

Title : Destiny

Author : ~r~

Main Cast : cari tau sendiri ea.. cluenya magnaenya SuJu..wkwkwk

Rating : PG 15

Genre : Fantasy

Ps : GJ? Pasti.. alur cepet? Apalagi..kekeke.. selamat menikmati aja deh^^

****                                        *****                                      *****

 

Malaikat pencabut nyawa, semua orang memanggilku seperti itu. Bahkan kata malaikat pencabut nyawa masih sangat bagus untuk ku sandang. Aku iblis, setan yang tak akan segan-segan menghabisi nyawa seorang bayipun. Karena memang itulah tugasku. Lebih tepatnya mengoyak jiwa. Jangan pernah  bertanya siapa yang aku koyak jiwanya, karena aku sendiri pernah mengoyak jiwa bayi tepat di detik pertamanya melihat dunia dan aku sama sekali tidak ada ide mengapa aku harus mengoyak jiwa bayi itu.

Aku juga tak mempunyai ide, kenapa aku bisa ada di posisi ini.  Takdir. Satu-satunya kata dan alasan yang aku tahu sampai saat ini. Yang aku tahu, ketika aku membuka mataku, aku telah berpakaian serba hitam lengkap dengan aksesoris sayap hitamku.

Ada. Ada yang aku rasa janggal. Hilang, kosong, hampa tepatnya. Tapi hingga 100 tahun eksistensiku, aku tak menemukan bagian yang lenyap itu. Suara-suara bisikan itu terus saja menghantuiku ketika aku mencoba mencari potongan yang hilang. Suara-suara itu tak hanya berbisik. Tapi membakar tubuhku perlahan.

Aku bahkan hampir terbakar jika saja tidak ada yang menghentikanku mendengar suara bisikan-bisikan itu. Aku tak pernah jera untuk membakar hidup-hidup diriku. Toh..aku sudah tidak di dunia yang kalian tempati sekarang. Hanya saja, tidak ada yang tahu konsekuensi apa yang akan aku dapat jika aku terus mencoba membakar tubuhku. Kabar-kabar yang beredar, aku  bisa saja di buang tempat gelap dan dingin yang tak seorangpun di sana. Tentu saja aku nekat melakukannya, tidak ada bedanya kan. Menjadi iblis dan di buang? Bahkan rasanya lebih baik di buang. Tak perlu mengoyak jiwa manusia dan pergi meninggalkannya begitu saja.

Hingga keeksistensianku yang ke 200, aku menyerah. Menyerah untuk menemukan bagian yang hilang itu. Tidak ada bedanya menyerah dan mencoba. Sama-sama terbakar perlahan. Hanya saja api yang membakar ketika aku menyerah sama sekali tak terlihat. Suara-suara itu juga tak pernah ku dengar lagi. Entah bagaimana, rasanya sama saja dengan memandikanku dengan api. Hidupku, tidak ada yang lebih baik bukan?

*******                                                                                                                                                             *******

“Songie~a…kau tau dimana aku bisa membeli nyawa?” tanya seseorang yang tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya di sampingku. Aku tengah berbaring di ranjang empukku untuk sekedar memejamkan mata. Aku tak menghiraukan dirinya, karena aku yakin obrolannya tak pernah serius.

“hey..aku sedang berbicara denganmu.” Teriaknya di salah satu telingaku.

“Aiiisshhhh..di toko roti mungkin ada.” Jawabku asal tak lupa menutup kedua telingaku. Dan kembali memejamkan mataku.

Ia berbalik dan –tanpa aku membuka matapun aku tahu- memandang diriku. “ kau lebih terlihat hidup ketika memejamkan matamu.”

“ aku memang sudah mati.” Ia tak menghiraukan jawabanku.

“aku..ingin sekali memberi nyawa pada mata itu.” Ucapnya. Tangan kirinya di jadikannya bantalan untuk kepalanya. Tangan yang bebas dengan lembutnya mengatur anak rambutku yang berantakan.

“aku..benar-benar menyesal.” Lirihnya. Aku membuka mataku perlahan.

“ini…takdirku.”Ucapku menatap langit-langit kamarku yang bergambar awan.

“tapi takdir bisa di ubah.” Bukannya dirmu Jae yang menghentikan diriku?

“tapi aku tak mau mengubahnya.” Bohong. Diriku memang pembual besar.

“tapi kau sama sekali tidak cocok menyandang gelar malaikat pencabut nyawa.”

“tapi aku memang bukan malaikat pencabut nyawa. Aku iblis.”

“tapi… kau salah. Kau hanya malaikat yang sedang meminjam jubah sang iblis.”

“tapi kau yang salah. Aku benar-benar iblis.”

“tapi aku melihatmu menitikkan air mata ketika dirimu melakukan tugasmu.”

“tapi sayangnya aku tak pernah menitikkan air mata.”

“tapi aku melihatnya. Air mata hatimu yang mengalir deras tiap kali kau melakukan tugas.”

Aku segera bangkit karena aku yakin pembicaraan ‘tapi’ ini akan sangat berlangsung lama jika salah satu dari kami tak menghentikannya. Menghiraukannya yang terus meneriaki namaku sambil mengacak rambutnya frustasi.

Aku berhenti tepat sebelum pintu keluar menyambutku dan tanpa berbalik padanya, “ aku….”

Pergi berlalu dan benar-benar menghiraukannya yang semakin berteriak frustasi. Menghiraukannya kadang menajdi hobi utamaku. Mianhe,Jae.

***

Bertemu dengan dirinya? Entah petaka atau anugrah.

Jika di tanya, apakah kau menyesali takdirmu?

Aku tak pernah menggeleng ataupun mengangguk.

Namun kini, ketika tak sengaja -atau inikah takdir sebenarnya?- aku bertemu dengan dirinya, ani kami bahkan hanya berpapasan, rasa berontakku semakin membesar.

Aku selalu pandai membunuh rasa berontakku. Tak membiarkannya menjadi-jadi dan melemahkan diriku. Namun kini, saat tangan hangat itu terjulur untuk memberikan jaketnya untukku sebagai peneduh ketika kami berdua sama-sama terjebak dalam hujan deras tanpa tanda-tanda akan adanya pelangi yang muncul, rasa berontak itu kini menjadi senjata ampuh untuk membunuhku secara perlahan. Menguat seribu kali dari sebelumnya.

Aku hanya melirik jaket yang ia sodorkan. Bahkan ini sudah melewati 5 menit, ia tak menurunkan tangannya. Seolah tak menyerah untuk memberikanku peneduh. Hujan berhenti. Entah ini hadiah dari tuhan atau hukuman untukku. Aku memejamkan mataku.

Aku berlalu begitu saja. Hatiku berteriak dengan keras untuk terus menyuruhku berjalan ke depan.  Namun satu sisiku menyuruhku untuk melakukan tugasku. Aku mengepalkan tanganku kuat. Aku bahkan bisa merasakan tajamnya kukuku di telapak tanganku.

Tangannya menahanku. Menahan lenganku dengan tegas. “jangan pergi. Ku mohon.”

Aku memalingkan wajahku. Tak berusaha melepaskan cengkramannya di lenganku meski itu membakar tubuhku.

“ka.” Ucapku ketika tenggorokanku bisa di gunakan dengan benar.

Aku tahu ia menulikan pendengarannya tapi menajamkan pendengarannya untuk sesuatu yang bahkan aku sendiri tak mengerti.

Hujan kembali datang. Mengaburkan rintik hujan milikku yang entah sejak kapan jatuh dari mataku. Aku sendiri sama sekali tak menyuruh tubuhku untuk berespon seperti ini. Tubuhku bekerja sendiri. sama sekali tak bisa ku kendalikan.

Hatiku kembali berteriak untuk segera pergi menjauh. Namun tubuh dan otakku rasanya tak mau di fungsikan. Kami berdua malah terguyur hujan yang makin deras.

“lepas.” Ucapku mantap. Butuh beribu-ribu energi untuk hanya sekedar mengeluarkan satu kata. Sebegitu besarkah pengaruhnya untukku?

Ia menggeleng kuat-kuat. “ aku tak tahu siapa dirimu. Tapi aku tak ingin dan tak akan melepaskan dirimu.” Itu perintah. Bukan pernyataan.

Apa..apa yang sedang terjadi? Aku sendiri bahkan sama sekali tak mengenalnya. Dirinya hanya target selanjutku. Dia hanya tahap yang harus aku segera lalui. Kenapa sesulit ini? Aku hanya tinggal mengoyak jiwanya dan meninggalkannya begitu saja. Hanya itu.

Tidak. Aku harus segera pergi. Aku..tidak ingin mengoyak jiwanya.

***

Aku melangkah dengan tergesa menuju sebuah ruangan yang beralaskan awan dan berdinding awan.

“apa yang kau lakukan?” ucapku tajam begitu menemukan seseorang yang tengah duduk di kursi awannya.

Ia mengendikan bahunya. “ kau tak ingin mengubah takdirmu kan? Kalau begitu aku juga.”

Kejadian 5 menit yang lalu masih sangat membuat tubuhku bekerja tidak normal. tentu saja dengan otakku. Aku menatap Jae menuntut jawaban lebih.

“kau pernah dengar tentang destiny kan?”

“aku sedang tidak ingin berbasa-basi, Jae.” Tuntutku.

“well…” Jae menyunggingkan bibirnya. “ sudah ku bilang. Kau hanya seorang malaikat yang sedang meminjam jubah sang  iblis.”

“jae aku tak segan-segan membunuhmu.” Ucapku putus asa.

“aku…” jae tersenyum. Senyum yang tak sama seperti biasanya. Seolah dia mencoba menarik ulur bebannya. “ selalu tak mengerti dengan takdir. Aku tidak pernah mengerti kenapa harus aku yang melihat dirimu hampir terbakar dan kemudian menghentikanmu. Aku juga tak mengerti kenapa aku memutuskan untuk menjagamu dan dengan bodohnya jatuh cinta pada malaikat yang tidak memiliki nyawa.” Jae terkekeh.

“Jae..” lirihku. Aku bisa melihatnya..aku bisa melihat Jae terluka. Aku menunduk menyembunyikan air mataku yang menetes. Hidup bersama lebih dari 100 tahun, tak mampu menutupi apapun dari dirinya. Jae bangkit dan menghapus air mataku.

“jangan menangis. Bumi hujan jika  kau menangis.” Lirihnya kemudian memelukku. Melingkarkan lengannya di lenganku dan menyesakkan wajahnya di rambut hitamku. Aku membalas pelukannya. Entah bagaimana ini terasa seperti pelukan perpisahan.

“jika sudah di sana, jangan pernah melupakanku. Ne?”

Aku mengangguk. “Hey..aku belum menyelesaikan ceritaku. Kenapa kau tahu hal apa yang selanjutnya terjadi.”

Pertanyaan rektorat. Tak perlu ku jawab. Karena aku selalu tahu apa yang terjadi berikutnya jika bersangkutan dengan Jae joong.

Ia menaruh dagunya di bahuku dan melanjutkan ceritanya. “Aku juga tak mengerti kenapa harus aku yang menemukan takdirmu yang sesungguhnya. Aku juga tak mengerti kenapa aku membiarkan dirimu pada akhirnya bertemu dengan takdirmu. Aku juga tak mengerti kenapa aku bukannya mengikatmu saja di sini. Atau  karena takdir mempermainkanku? Aku jatuh cinta padamu Songie~ah.”

“kau benar tentang tidak ingin merubah takdirmu. Karena bagaimanapun, pada akhirnya kalian akan bersama. Tapi aku benar tentang dirimu seorang malaikat yang meminjam jubah sang iblis. Karena sekarang, jubah itu akan di lepas.”

Aku mempererat pelukanku.

“maafkan aku..maaf. harusnya waktu itu ku biarkan saja dirimu terbakar. Mungkin dengan cara itu, kau bisa dengan cepat kembali ke hidupmu sesungguhnya. Maaf karena menjadi penghambatmu.”

Aku menggeleng kuat-kuat.

“Aku mencintaimu Songie…. maafkan aku…”

Ia mengecup keningku. Basah. Aku merasakan tetesan itu. Bumi bukan saja sedang hujan. Tapi pasti sedang terjadi badai.

“Aku pasti merindukanmu.” Lirihku.

“panggil namaku 3 kali. Aku pasti datang.”

“aku pegang kata-katamu.” Sambarku cepat. Secepat ia menyentil keningku.

“kau yang bersikap seolah-olah aku akan mengingatmu.”

Jae tersenyum. Senyum favoritku kini. “ aku yang akan mengingatmu. Selamanya.”

******

Matahari menyeruak masuk melewati tirai yang menutupi jendela besar yang ada di kamarku. Aku menggeliat pelan. Menarik selimutku hingga menutupi kepalaku.

Srrraakkk…

“wake up sleepy head…” seru suara yang amat aku kenal. Lembut, menenangkan.

Aku merasakan kasur di sampingku bergoyang. Dia pasti tengah berbaring menyamping memandangi diriku yang masih tak dapat membuka mata.

Ia membuka selimutku. Mengecup keningku, pipiku kemudian bibirku. “morning kiss.” Bisiknya di telingaku.

Aku segera bangkit dan tersenyum. Seolah-olah lelah karena telah bermimpi panjang dan kemudian bangun di pagi hari yang..ehm….lumayan cerah. Well..aku memang tak suka pagi hari yang cerah. Tak ada alasan khusus. Hanya saja.. itu panas.

“tidurmu nyenyak sekali sweet heart.” Pria di depanku ini tersenyum dan bangun dari posisinya juga. Aku tersenyum kemudian memeluknya yang tengah bersandar.

“kau mau melakukan apa hari ini, kyu?”

“kalau kau sendiri?” tanyanya balik sembari membelai rambut hitamku.

“ehm..bagaimana kalau seharian seperti ini saja? Rasanya aku rindu sekali padamu kyu…”

Ia terkekeh dan semakin menjadi dengan eratnya pelukanku. “ aku juga merindukanmu. Tapi apa kau tidak lapar?”

“ani..” jawabku berbarengan dengan suara perutku yang berbunyi nyaring.

“hahahaha……”

Aku memukul dadanya pelan. “aiisshh…jangan tertawa. Kalau begitu ayo kita makan.” Ajakku dan menariknya  keluar dari kamar.

“ memangnya siapa yang masak?” tanyanya menahan tawa. Aku mengerjapkan mataku. Benar juga..aku dan kyu sama sekali tidak bisa memasak. Oke..saran dari omma harus segera aku pertimbangkan. Aku harus segera mencari seseorang yang bisa membantu membuatkan masakan. Kalau tidak aku dan kyu tidak akan bisa makan apapun.

“ baiklah..ayo kita bikin ramen…” ucapku menariknya tangannya kembali. Ia tersenyum kemudian malah menarikku dan menjatuhkanku tepat di atasnya.

“Aiish..kyu. aku lapar. “ ucapku sersaya berusaha melepaskan diri. Oh..ayolah.aku tidak perlu mendiskripsikan bagiamana rusaknya seluruh fungsi tubuhku jika harus berdekatan dengan dirinya bukan? Mungkin saja semua sel dalam tubuhku sekarang telah bernekrosis dan apoptosis ria….

“ aku sudah memesan makanan. Sampai makanan datang, biakan seperti ini dulu.”  Ucapnya sambil memejamkan mata. Aku tersenyum dan langsung memeluknya.

“setuju.”

“Arra…”

“ehhmmm…”

“aku mencintaimu…”

“nado…”

****
Epilog

“aku benci pagi cerah.” Gumam songie yang sedang berdiri di sampingku. Kami sedang berada di bumi untuk mengincar target songie.

“apa yang tidak kau benci.” Sambarku.

“aiisshh..aku hanya tidak suka panasnya. Aku lebih suka suasana…. lumayan cerah. Tidak panas.”

Aku memandangnya. Mengingat setiap perkataan dari wanita di sampingku ini.

aku yang akan mengingatmu. Bukan begitu Songie?

Pada akhirnya aku tidak membeli nyawa itu tapi mengembalikan nyawa itu. Meskipun aku harus mengorbankan nyawaku sendiri. tak apa..asal di mata itu terdapat nyawa yang selama ratusan tahun ingin sekali ku lihat. Songie~ah..kau harus berjanji untuk menjaga hidupmu dan takdirmu dengan benar… tidak boleh menukarkan apapun lagi karena tidak akan ada yang menghentikan dirimu yang mencoba membakar hidupmu sendiri, tidak akan ada lagi yang akn menjagamu setelah ini… hiduplah dengan baik… aku mencintaimu…..

END

**

 

8 thoughts on “Destiny

  1. Anyeonghaseyo Autho kenalin aku orang baru disini hehe…aku senang sama cerita mu, sama sekali nggak membosankan.. tapi thor mau nanya dikit nih gapapakan? hehe.. aku masih kurang paham sama kalimat: tubuhku sekarang telah bernekrosis dan apoptosis ria. itu maksudnya apa thor?
    thanks before ya…

  2. kalau nekrosis: membran selnya yang rusak karena luka atau selnya di rusak, bisa jadi karena radikal bebas, hipoksia, atau semacamnya.
    kalau apoptosis: DNAnya yang rusak, kematiannya terprogram, jadi harus ada ligan ( sinyal ) yang bakalan berikatan dengan reseptor ntrus ngeluarin caspase 9 kalau nggak salah, ntrus mati deh…
    nie semua ngomongin sel..
    jadi kyuhyun itu kayag sebuah jejas(luka,sesuatu yg buat rusak selnya) yang bikin membran dan DNA sel rusak secara bersamaan.. ^^

    • hu.umb… jadi songie malah dapet tugas buat bunuh kyuhyun…. padahal dulu dia jadi kayag gitu, alasannya juga ya kyuhyun………
      jaejoong ngerasa bersalah gitu.. hehe.. ceritanya kecepetan ea?? nggak jelas sm sekali. hehe
      makasih udah ngebaca ^^

    • hehe.. iya emank siy.. nyadar banget..kog nyadar.. hehe.. emank pas bikin nie ff rada galau gitu..
      ntar kayagnya *kalausempet bakalan bikin sequelnya.. jadi kenapa si Song Arranya bisa sampe kayag gitu…

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s