Say That You Love Me


Author                 : Onyunita

Main Cast             : Lee Taemin (SHINee), Suzy (Miss A)

Support Cast       : Lee Ji Eun a.k.a IU, Dongho (UKISS), Ok Taecyeon (2PM)

Length                 : Oneshot

Genre                   : Romantic; Alternate Universe

Rating                  : Teenager

(Author POV)

“Hanya untuk mengatakan kalau kamu mencintaiku, apa begitu sulit?”

“Cinta tidak harus diucapkan, pabo!”

“Tapi kamu benar-benar sudah keterlaluan, oppa!”

“Terserahmu. Kalau tidak suka dengan gayaku, akhiri saja.”

“Morago? Jadi kita putus?”

“Terserahmu kalau mengartikan itu sebagai kata putus.”

 

(Suzy POV)

Aku mendorong tubuhnya hingga dia terhempas ke tembok. Aku menamparnya sekali kemudian pergi. Aku sangat menyukainya. Kami sudah berpacaran hampir tiga bulan dan tidak sekalipun dia menyatakan cinta padaku.

Bahkan jika kami bertemu di sekolah dia hanya tersenyum tipis sambil memberikanku sekotak susu kemudian pergi. Memang pulang sekolah dia menungguku untuk pulang bersama. Kita juga bergandengan tangan jika sedang berjalan. Tapi kadang aku ingin lebih dari itu. Aku ingin seperti yang lain, berciuman dengan mesra sambil mengatakan, I Love You. Aku ingin itu!

 

*******************

(Author POV)

Suzy sedang menyeruput minumannya di kantin ketika namja yang paling dicintainya itu muncul. Cepat-cepat Suzy membalikkan badan, agar Taemin tidak melihatnya.

Jantung Suzy berdetak keras ketika terasa sekali Taemin ada di dekat punggungnya. Dia masih berharap agar Taemin tidak menghampirinya.

“Oppa!” terdengar suara wanita.

“Waeyo?” sahut Taemin dengan suara khas miliknya itu.

“Aku menyukaimu.”

“Mwo? Aku sudah punya yeojachingu. Mian.”

Mata Suzy melotot mendengarnya.

“Jinja? Tapi aku melihat dengan jelas kalian bertengkar di depan gerbang sekolah kemarin. Aku juga mendengar jelas kata putus itu.”

“Jinja? Tapi aku tidak pernah merasa putus dengannya.”

“Keunde, oppa….”

“Mian. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku denganmu.”

 

(Suzy POV)

Aku hampir saja memasukkan sedotan itu ke dalam mulutku. Sebenarnya apa maunya? Bukankah dia yang bilang putus kemarin? Lalu mengapa dia masih menganggap aku sebagai yeojachingunya? Kenapa juga dia sanggup mengabaikan Ji Eun, yeoja yang lebih cantik dariku?

Aku terlalu lama terdiam hingga tidak kusadari Taemin oppa sudah jauh. Aku langsung mengejarnya. Dia juga menghentikan langkah kakinya ketika melihatku.

“Mengapa berlari begitu?” tanyanya sambil mengusap keringatku dengan tangannya yang lembut itu.

Aku jadi dibuat gundah. Karena aku masih mencintainya dan perasaan itu tidak akan berubah. Aku hanya menuntut satu hal, pernyataan cinta darinya. Kata yang tidak pernah kudengar bahkan dari awal kami berpacaran karena dia hanya memintaku menjadi pacarnya tanpa menyatakan cinta terlebih dulu.

“Oppa.” kataku.

“Waeyo?”

“Saranghaeyo, oppa.”

Dia mengerutkan dahinya. “Aku sudah tahu, pabo! Lalu?”

“Katakan yang sama, oppa!” kataku sambil merengek dan memukul lengannya perlahan.

“Aku tidak suka dengan kata itu. Jangan memaksaku!”

“Kamu tidak menyukaiku?”

“Ani. Tapi bagiku itu tidak penting. Selama ini juga kamu tidak pernah memaksa. Mengapa begini sekarang?”

“Oppa, jebal.”

“Shireo!” katanya sambil meninggalkanku.

 

(Author POV)

Suzy merasa hubungannya dengan Taemin tidak ada perbaikan. Taemin bahkan tidak meneleponnya untuk meminta maaf. Suzy merasa enggan memulai pembicaraan lebih dulu. Sudah seminggu berlalu tanpa ada komunikasi diantara mereka.

“Sebenarnya bagaimana statusmu dengan sunbae?” tanya Dongho, teman sekelas Suzy ketika Suzy sedang melamun.

“Bukan urusanmu.” sahut Suzy ketus.

“Ah, itu artinya aku bisa dapat kesempatan kedua bukan?”

“Jangan ganggu aku!”

“Ini kesempatan untukmu menunjukkan pada sunbae kalau kamu bisa hidup tanpanya. Biar saja keangkuhannya hancur.”

 

(Suzy POV)

Aku menatap Dongho. Dia tersenyum seolah memaksaku untuk setuju. Seharusnya akal sehatku tidak boleh menerima ini.

“Apa yang harus kulakukan?”

“Jadi yeojachinguku.”

“Aku tidak menyukaimu!”

No problem. Aku akan menerima itu dengan lapang dada.”

“Terserahmu.”

“Aku anggap itu iya.”

Dongho menggandeng tanganku dan mengajakku keluar kelas. Di lapangan basket aku melihat Taemin oppa. Dan oh tidak, Ji Eun lagi-lagi mengganggunya. Dongho tampak bersemangat ketika melihat Taemin oppa. Dia langsung menarik tanganku ke hadapan Taemin oppa.

“Oppa, lihat! Yeojachingumu saja telah memilih namja lain. Kenapa kamu tidak, oppa?” kata Ji Eun emosi.

Taemin oppa melihat jemariku yang tenggelam dalam genggaman Dongho. Matanya menatapku sesaat.

“Aku mau bicara.” Katanya padaku.

Dia melepaskan genggaman Dongho dengan paksa. Kemudian gantian menggandengku. Dongho yang tidak terima, berlari dan menepuk bahu Taemin.

“Sunbae, jangan ganggu yeojachinguku!”

“Berhenti mengakuinya sebagai kekasihmu! Nae yeoja akan selalu jadi nae yeoja!”

 

(Author POV)

Taemin yang kesal setelah membentak Dongho kemudian membawa Suzy ke tempat dimana dianggapnya cukup tepat untuk mengutarakan isi hatinya.

“Apa maksudmu?” tanyanya gusar.

“Apa?” sahut Suzy cuek dan membuang muka.

“Dongho.” Taemin mencoba tetap bersabar.

“Kenapa dengan Dongho?”

 

(Suzy POV)

“Apa maksudmu? Kamu tahu aku jelas tidak suka dengan gayanya saat menyentuhmu!” Taemin berteriak keras. Aku takut melihatnya.

“Apa urusanmu?” sahutku.

“Morago? Oh, begitu kamu memperlakukan namjachingumu?”

“Namjachingu mana yang tidak mau menyatakan cinta pada yeojachingunya?”

“Sikapmu benar-benar kekanak-kanakan, Suzy!”

“Ah, terserahmu oppa!”

Aku pergi meninggalkannya. Malas menghadapi kekeraskepalaannya yang tidak pernah bisa dhilangkannya.

 

********************

(Author POV)

“Annyeong semuanya. Aku Taecyeon dan aku akan mengajar disini selama sebulan untuk mengerjakan tugas penelitianku.”

Suzy menatap kagum namja yang berdiri di depan kelasnya itu. Tubuhnya yang tinggi dan kekar juga wajah tampannya itu bisa membuatnya tergiur.

Suzy tersenyum sendiri dalam lamunannya. Teringat akan hubungan kacaunya dengan Taemin. Sekarang ada Taecyeon seonsanim yang tidak kalah tampan juga tidak tua karena dia masih mahasiswa.

 

(Suzy POV)

“Suzy?” kata Taecyeon seonsanim menyapaku ketika pelajarannya berakhir bersamaan dengan bel istirahat.

“Ne, seonsanim?”

“Bisa menemaniku berkeliling sekolah?”

“Sekarang?”

“Jika kamu tidak keberatan.”

Keberatan? Tentu saja tidak, seonsanim!! Bahkan berkeliling dunia akan kusanggupi kalau kamu yang memintanya.

“Ani, seonsanim. Aku tidak keberatan.

 

(Author POV)

Suzy berjalan bersama dengan Taecyeon dimulai dari kelasnya. Berjalan terus sambil sesekali tertawa lebar. Suzy tampak tidak sedikitpun merasa canggung dengan Taecyeon.

Ketika melewati lapangan basket, Taemin yang sedang asyik mendribble bolanya sampai menjatuhkan bolanya karena melihat yeojachingunya terlalu berlebihan membagi senyumnya untuk namja lain meskipun Taemin tahu kalau itu hanyalah seorang seonsanim.

Suzy juga sampai tidak lihat kalau dia sedang diperhatikan Taemin. Dia masih saja asyik bicara dengan Taecyeon.

 

(Suzy POV)

“Senang?” tanya Taemin padaku ketika pulang sekolah.

“Senang apa maksudmu?”

“Senang berjalan dengan seonsanim yang tampan itu?”

Glek. Jadi dia melihatnya? Ah, biar saja. Dia saja tidak pernah peduli dengan perasaanku. Kenapa aku mesti peduli dengan perasaannya? Aku sudah lama menganggap hubungan kami berakhir.

“Ne! Aku senang! Lalu apa pedulimu, oppa?”

“Morago? Ulangi sekali lagi!”

“Aku senang bersamanya!” teriakku.

“Kau….”

“Apa?” tanyaku ketus.

“Aku kecewa denganmu!”

Taemin pergi begitu saja dari hadapanku. Aku tidak peduli. Salahnya begitu sombong.

 

*************************

 

(Author POV)

“Saranghaeyo.” kata Taecyeon di telinga Suzy ketika pelajaran berlangsung.

Ketika pelajaran berlangsung, Taecyeon berpura-pura ingin memeriksa pekerjaan Suzy, kemudian dia berjalan ke meja Suzy dan menunduk lalu membisikkan kata-kata yang dianggap Suzy paling sensitif itu.

 

(Suzy POV)

Aku menengadah melihat wajah Taecyeon seonsanim. Dia langsung bersikap biasa agar tidak ada yang curiga. Setelah memberi tugas kepada kami semua, dia meminta izin untuk keluar beberapa saat dan saat itu juga ponselku berdering.

Ada sebuah pesan singkat yang masuk, dari Taecyeon seonsanim : Aku menunggumu di atap sekolah. Saat ini juga. Aku ragu untuk menyusulnya. Tapi keraguan itu hanya lima menit karena kemudian aku berlari menyusulnya.

Begitu sampai atap, dia duduk dengan tenang disana. Ketampanannya semakin bertambah dengan rambutnya yang bergerak karena ditiup angin.

“Maksudmu apa, seonsanim?”

“Oppa.” katanya sambil tersenyum.

“Mwo?”

“Jangan panggil aku seonsanim.”

“Keunde, ini sekolah lagipula kamu guruku.”

“Sudahlah. Tidak penting membahas itu sekarang. Bagaimana dengan jawabanmu?”

“Jawaban apa, seonsanim? Hmmm oppa maksudku.”

“Yang tadi kuucapkan di kelas.”

“Maksudmu?”

“Haruskah kuulangi?”

“Hmmm?”

“Saranghaeyo, Suzy-a. Maukah kamu menjadi nae yeojachingu?”

“Keunde….”

“Kamu punya banyak waktu untuk berpikir. Temui aku begitu kamu tahu jawabannya.

 

*********************

 

(Author POV)

Ternyata aku tidak punya banyak waktu untuk menunggumu, manis. Aku harus segera pergi dari sekolahmu dan aku butuh kepastian akan hubungan kita selanjutnya, temui aku di belakang sekolah ketika jam sekolah usai ya, pesan singkat dari Taecyeon untuk Suzy diterimanya siang itu ketika istirahat.

Suzy sangat bingung mengingat di dalam hatinya tidak akan ada tempat yang bisa menggantikan posisi Taemin. Tapi disisi lain, keangkuhan Taemin membuatnya kesal.

Aku harus menemuinya! Ya, Taecyeon seonsanim! teriak Suzy dalam hatinya.

 

(Suzy POV)

What’s your answer, honey?” tanya Taecyeon seonsanim yang kali ini semakin terlihat kalau dia tidak pernah menganggapku muridnya.

“Aku sebenarnya masih belum menentukan pilihanku, oppa.” sahutku dengan suara gemetar. Haruskah kita mengakhiri hubungan kita, Taemin oppa? kata hatiku yang lain bicara.

“Ayolah. Haruskah aku ulangi pernyataan cintaku? Haruskah aku menjerit kalau aku begitu mencintaimu, Suzy?”

“Ani, seonsanim. Oppa maksudku. Aku hanya bimbang.”

Dia mendekatiku. Membuat wajahnya yang tampan itu semakin terlihat jelas. Wajahnya semakin mendekati wajahku hingga nafasnya menyapu wajahku.

“Bolehkah?” tanyanya.

“Apa, seonsanim?”

“Aku menciummu?” tanyanya.

Derrr…. jantungku seperti tersambar petir. Namja ini begitu aneh. Taemin oppa bukan hanya tidak pernah mengatakan cinta padaku, dia juga tidak pernah menciumku.

“Keunde, seonsanim.”

“Cukup tutup matamu saja, princess.”

Aku antara bingung dan segan dengannya. Jadi kulakukan saja. Tapi ketika aku merasa jarak itu benar-benar dekat…

“Berhenti mengganggunya, napeun namja!” teriak sebuah suara dan akan selalu kukenal karena itu adalah Taemin oppa.

Taecyeon oppa melepaskan pegangannya dari bahuku.

“Nugu saeyo?” tanyanya sinis.

“Aku kekasihnya!” sahut Taemin oppa dingin.

“Jinja? Tapi dia lebih memilihku, boy!”

Taemin oppa menatapku tajam. Aku jadi semakin bingung. Ottokhe? Kalau saja dia bukan Taecyeon seonsanim. kalau saja dia hanya seorang Dongho, aku tidak akan ragu memilih Taemin oppa. Tapi kali ini.

“Oh, arraseo. Bagaimana kalau kita suruh dia memilih sendiri?” kata Taecyeon yakin.

“Lakukan saja sesukamu.” Sahut Taemin oppa tenang.

Mereka berdiri di hadapanku. Aku tidak pernah menyangka akan dipertemukan dengan masalah seperti ini. aku sangat mencintai Taemin oppa. tapi aku juga butuh dengan yang namanya cinta dan kemesraan yang hanya aku dapatkan dari Taecyeon seonsanim. Tiba-tiba terlintas ide dalam otakku.

“Aku ingin kalian mengatakan sesuatu padaku sebelum aku memilih kalian.” kataku dengan gemetar.

“Apa?” tanya Taemin oppa.

“Terserah kalian.”

“Baiklah. Aku duluan.” kata seonsanim. “Aku mencintamu. Sangat mencintaimu. Kamu tidak perlu ragu untuk memilihku.”

Taemin oppa hanya diam. “Giliranmu, oppa.” kataku.

“Aku tidak bicara banyak. Tiga bulan bersamaku, kamu tahu bagaimana aku dan kamu bisa tentukan sendiri. Kamu yang tahu hatimu, Suzy.”

Mata Taemin oppa yang lembut itu terus menatap mataku seolah tidak mau melepaskanku. Aku… aku harus bagaimana?

“Ppalli.” kata Taecyeon seonsanim.

“Aku… Aku tidak menyukaimu….”

Kata-kataku terputus, “Nugu?” tanya Taecyeon lagi.

“Aku tidak menyukaimu, seonsanim. Mian.”

 

(Author POV)

Taecyeon tampak sangat terpukul dengan jawaban yeoja itu. Padahal kalau soal ketampanan, Taecyeon merasa dirinya menang dari Taemin. Kegagahannya juga kedewasaannya yang dianggapnya lebih dari Taemin, serasa percuma semua.

“Kamu yakin, Suzy?” tanya Taecyeon.

“Mian, seonsanim.”

“Jangan menyesal. Aku tidak akan menerimamu di lain waktu meskipun kamu memohon padaku.”

Suzy tidak menyahut dan Taecyeon pergi.

 

(Suzy POV)

“Mengapa memilihku?” tanya Taemin oppa ketika kami berjalan beriringan, pulang bersama.

“Apa harus ada alasannya, oppa?”

“Tentu saja. Taecyeon seonsanim punya segalanya bukan? Dia juga romantis, seperti yang kamu inginkan.”

“Entahlah. Aku hanya merasa dia terlalu….”

“Terlalu apa?”

“Terlalu mengumbar kata cinta.”

“Waeyo? Bukan itu yang kamu suka?” tanya sambil menatapku dengan matanya yang bulat itu.

“Aku hanya ingin mendengar kata cinta itu dengan tulus. Bukan mainan, oppa.”

“Lalu bagaimana denganmu? Kamu juga hampir setiap hari mengatakan kalau kamu mencintaiku. Bolehkah aku juga menganggapmu terlalu mengumbar kata cinta?”

“Mwo? Aku kan memang mencintaimu, oppa. Neomu.”

Dia tertawa, “Arraseo. Aku percaya, jagi.”

Aku melotot. Ini pertama kalinya dia memanggilku dengan sebutan itu.

“Oppa….” panggilku.

Lagi-lagi dia tertawa menatapku “Aku sedang belajar menjadi yang kamu suka, Suzy dan itu tidak mudah. Aku sedih tidak bisa membuatmu mendengar kata-kata itu.”

Aku memeluk tubuh kurusnya itu. Kurasakan bau parfumnya menyengat hidungku.

“Gwaenchana. Setelah kejadian itu aku semakin sadar kalau aku tidak pernah memikirkan namja lain.”

Dia melepaskan pelukanku, tersenyum dan mengusap kepalaku. Kemudian kami berjalan kembali.

“Haruskah aku mengatakan itu sekarang?”

Langkahnya terhenti dan dia menatapku ragu.

“Ani oppa. Jika itu tidak bisa kau katakan, tidak perlu..”

“Jinja? Tapi aku tidak bisa melihatmu berpaling pada namja lain karena sifatku ini.”

“Aku mengerti, oppa.”

“Bersabar menunggu aku bisa melakukan semua itu, jagiya.”

“Arraseo, oppa.”

Kami naik bus yang sama memang kalau pulang sekolah. Kami duduk bersebelahan dan tangan Taemin oppa menggenggam tanganku. Aku menyadarkan kepalaku pada kepalanya sementara dia meletakkan lagi kepalanya di atas kepalaku.

“Haruskah kita mulai belajar dari sekarang?”

“Belajar apa?”

“Belajar menciummu, jagi.”

“Apa? Di bus? Shireo oppa!”

Dia tertawa lebar. Aku memandanginya. Aku yakin kalau aku tidak akan mau berpisah dengannya. Aku sadar kalau yang aku butuhkan adalah dia. Bukan kata-kata cintanya. Aku harus terus bersabar menunggunya berkata, “I love you, jagiya.”

*******************

 

Pasti aneh yaaaa? Oia, fanfic ini juga ada di blog aku lho. Monggo kalau bersedia berkunjung dan menghabiskan waktu disana. Silahkan datang. Klik aja shineeisthereason.wordpress.com

8 thoughts on “Say That You Love Me

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s