The Sweet Melodies [part 1]

Author                      : AlexaHan

Main cast                 : Lee Dong Hae, Han Yuri

Rating                       : PG 13

Length                       : Chapters

Genre                        : Romance

PS                               : semoga suka FF abal ini. Jalan cerita ff ini murni dari  imajinasiku…tapi  kalau readers sekalian merasa ada yang mirip, itu semua murni kecelakaan. Don’t be a silent readers…..RCL…gomaewo ^^

Happy reading chingudeul ^^ (baca sambil denger lagunya ya…..)

The Sweet Melodies part 1

 

Sambil membawa biola ditangannya, Yuri melangkahkan kakinya dengan cepat ditengah angin musim gugur yang berhembus. Sesekali dia mengusap air mata yang jatuh kepipinya. “Eomma akan baik-baik saja” hanya kata-kata itu yang diucapnya berulang-ulang dalam hati setelah mendapat telpon dari rumah sakit.

“taxi!!!” teriak Yuri, dengan segera dia masuk kedalam taxi “RS Kyungnam. Ahjussi tolong cepat” kata Yuri dengan wajah memerah karena hampir menangis.

Sesampainya di RS, Yuri melangkah dengan cepat ke meja informasi.

“apa benar ada korban kecelakaan beruntun di Jl.myeongdeong yang dibawa kesini?” tanyanya pada seorang suster. Suster tersebut mengiakan dan menunjukkan kemana Yuri harus pergi. Tempat yang ditunjukkan suster tadi sangat ramai oleh keluarga kecelakaan beruntun tersebut.

“maaf….ada suster yang menelponku dan mengatakan eommaku ada disini” jelas Yuri pada seorang suster “nama ibuku Seo Inra”

“Seo Inra? Sebentar saya check dulu” suster tersebut lalu membuka buku bawaannya “mari ikut saya” kata suster tersebut lalu berjalan didepan.

Hati Yuri semakin berkecamuk karena dia tidak tahu mau dibawa kemana,” bukankah semua korban di ICU, kenapa ibuku ditempat lain” kata-kata itu muncul terus didalam pikirannya. Lorong yang dilewati Yuri dan Suster tersebut semakin sepi orang.

“silahkan..disini tempatnya” kata suster itu sambil menunjuk sebuah pintu

“apa ini? Kenapa kamar jenazah? Tidak dia pasti salah…ini tidak benar” kata Yuri dalam hati

“ini…silahkan anda memastikan” suster tersebut menunjuk sebuah tubuh yang ditutupi kain putih

Tangan Yuri gemetar, tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas dan terasa akan jatuh hanya dengan ditiup angin tapi diruangan tersebut seperti tidak ada udara bahkan untuk Yuri bernafas. Dadanya terasa sesak. Air matanya keluar, ini ibunya, yang berbaring tersebut adalah ibunya. Ibunya ternyata korban utama dari tabrakan tersebut dan langsung meninggal di TKP.

“saya harap anda sabar” kata suster tersebut sambil memegang pundak Yuri

Yuri langsung memeluk tubuh ibunya dan menangis hebat.

“eomma ireona…..ireona…….eomma tidak boleh tidur disini, rumah kita bukan disini…ayo kita pulang…eomma bilang mau membuat bulgogi yang enak untukku malam ini….” Kata Yuri sambil menangis tersedu-sedu

“sebaiknya kita keluar  agasshi” ajak suster tersebut karena takut Yuri semakin shock. Suster tersebut mencoba mengangkat tubuh Yuri yang memeluk erat ibunya

“disini dingin..ibuku bisa kedinginan” kata Yuri dengan suara yang serak. Suster tersebut hampir menangis mendengar ucapan Yuri.

“agasshi…..Ibu anda tidak akan kedinginan, ini hanya tubuhnya, jiwanya sudah diatas sana dan jiwanya hangat tapi jika melihat anda seperti ini pasti ibu anda sangat sedih” suster tersebut mencoba menenangkan Yuri dan akhirnya Yuri mau diajak keluar.

Yuri berjalan lunglai melewati lorong ICU yang sangat ramai namun terasa sepi, seperti tinggal dirinya saja. Biola ditangannya terasa sangat berat sehingga dia terduduk dilantai dan menangis. Dikejauhan terlihat polisi yang sedang berbicara dengan beberapa suster. Ternyata tersangka utamapun langsung meninggal ditempat.

Setelah menyiapkan segala sesuatu untuk pemakaman, Yuri pulang dan tidak mengganti baju seragamnya. Dia langsung menuju kamar ibunya dan memeluk erat selimut ibunya sambil menangis lalu tertidur.

Keesokan harinya

#backsound – Taeyeon (If)

Semua tamu telah pulang, Yuri masih tidak ingin beranjak dari pemakaman.

“apa yang harus aku lakukan bu? Aku tinggal dengan siapa? Kenapa ibu tega meninggalkan aku sendiri? “ Yuri menangis tanpa henti, sesekali dia menghembuskan nafas panjang dan mengusap air mata namun air matanya tidak bisa berhenti. Tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.

“apa namamu Yuri?” Tanya pria yang sudah berumur 40 tahunan tersebut

“iya benar. Maaf anda siapa?” Tanya Yuri sambil menghapus  air matanya

“namaku Lee Minwoo. Paman  teman ibu dan ayahmu”

“Han Yuri imnida” kata Yuri sambil membungkukkan badan. Pria tersebut lalu mengelus kepala Yuri.

“udara sangat dingin. Ayo kemobil, ada yang ingin paman bicarakan”

“sebenarnya……..ayahmu telah berjasa besar pada keluarga paman……jadi paman ingin membalasnya. Apa Yuri mau tinggal dirumah paman? Bukankah Yuri tidak punya keluarga lagi di Seoul?”

“terima kasih paman, tapi aku tidak mau menyusahkan. Au sudah terbiasa hidup mandiri setelah ayah meninggal”

“benarkah? Paman tidak mau memaksamu tapi jika perlu bantuan, cari paman saja. Mengerti?” kata Minwoo sambil mengelus pelan kepala Yuri. Sentuhan seperti itu tidak pernah dirasakan Yuri semenjak ayahnya meninggal saat dia umur 8 tahun.

“kalau begitu paman antar pulang. Pak Kim..ayo kita pergi” kata Minwoo sambil memanggil supir pribadinya.

Saat sampai didepan rumah Yuri, Minwoo memberikan kartu namanya pada Yuri

“ingat!! Jangan sungkan menghubungi paman jika memerlukan bantuan”

“baik. Kalau begitu terima kasih paman” Yuri turun lalu membungkukkan badan.

Saat mau memasuki rumah, ternyata pemilik rumah tersebut sudah berdiri didepan pintu

“Yuri..maaf…bukannya bibi jahat tapi sepertinya kamu harus segera pindah jika belum membayar sewa 5 bulan” kata pemilik rumah

“sewa?apa ibu belum membayarnya? Kenapa waktu itu ibu bilang sudah. Apa ibu menggunakan uangnya untuk membayar les biolaku” kata Yuri dalam hati “maaf bibi, sebentar akan kulihat kedalam”. Yuri lalu masuk dan mencari uang yang ada, uang tabungannya yang tersisa ini untuk membayar sekolah karena uang sekolah terpakai untuk biaya pemakaman.

“bagaimana ini? Jika aku memakai uang ini untuk membayar rumah, aku bisa tidak bisa masuk sekolah. Tapi aku juga bisa jadi gelandangan jika tidak membayar sewa” akhirnya Yuri dengan berat hati membayar sewa karena sekolah bisa dilanjutkan nanti.

“ini bibi. Maaf karena aku membayar terlambat”

“baiklah terima kasih. Kamu harus sabar ya” kata pemilik kontrakkan lalu pergi

Saat Yuri mau masuk, tiba-tiba ada yang memanggilnya

“Yuri………..”kata suara tersebut

Yuri berbalik dan ternyata itu suara Minwoo “ahjussi…….” Kata Yuri heran melihat minwoo kembali lagi “ada apa?” Tanya Yuri

“ini..Hpmu tertinggal” kata Minwoo sambil memberikan Hp Yuri “tinggallah bersama paman, jangan merasa menyusahkan atau apa. Paman akan merasa sangat bersalah kalau kamu putus sekolah dan tidak punya tempat tinggal”

“…..” Yuri hanya diam dan berpikir kenapa paman ini begitu baiknya, sebenarnya jasa apa yang dibuat ayahku yang hanya seorang supir waktu itu dirumah Minwoo ahjussi.

“Yuri? “ panggil Minwoo

“tapi….” Kata Yuri ragu

“tidak perlu sungkan atau apapun. Jika sudah lulus dan punya pekerjaan bagus, saat itulah paman tenang membiarkanmu tinggal sendiri. Jadi, sekarang adalah tanggungan paman”

Yuri hanya mengangguk

“kalau begitu cepat berkemas” kata Minwoo

Yuri segera masuk dan mengambil semua barang yang perlu dia bawa. Tidak lupa biola kesayangannya yang selalu menemaninya. Biola tersebut sangat disayangnya karena hadiah ulang tahun dari ayahnya.  Setelah siap, Yuri mengunci pintu dan sesekali dia berbalik ke belakang melihat rumah yang  pernah ditinggali dengan ibunya. Wajah manisnya memerah entah karena dingin atau karena ingin menangis, tidak ada yang tahu selain Yuri sendiri. Yuri masuk kedalam mobil dan segera menuju rumah Minwoo.

#backsound – Krystal ft Luna (F(x)) (calling out)

Rumah tersebut sangat besar, berbeda dengan rumahnya. Namun saat masuk, rumah tersebut sangat sepi, rumah Yuri terkesan jauh lebih hangat. Minwoo lalu menyuruh salah satu pembantunya menunjukkan kamar Yuri. Kamarnya sangat bagus dan ada sebuah piano tapi Yuri sendiri tidak tahu bagaimana memainkannya.

“sudah sore. Istirahatlah, kita akan makan malam sama-sama” kata Minwoo

“ne ahjussi” balas Yuri. Lalu dia mengeluarkan baju dan menyusun barang-barangnya. Dia memegang foto ibunya dan berkata “eomma…tidak perlu khawatir..aku sekarang baik-baik saja”

Beberapa saat kemudian ada seorang pelayan yang memberitahu Yuri makan malam telah siap. Yuri turun kebawah untuk makan malam. Saat sampai, dia heran dengan meja makan yang sangat panjang tapi hanya ada Minwoo disitu.

“Yuri..ayo kemari kita makan malam” panggil Minwoo

“ne….” kemudian Yuri duduk.

Terdengar langkah kaki orang, ternyata itu adalah Donghae, anak Minwoo.

“Donghae….kamu darimana saja? Cepat ganti baju dan makan malam” kata Minwoo pada anaknya

“aku sudah makan. Appa lanjut saja” kata Donghae dengan cuek lalu naik keatas

“maaf….dia memang sudah seperti itu daridulu” kata Minwoo pada Yuri

Yuri hanya mengangguk. Setelah selesai, dia kembali kekamar lalu mengambil biolanya dan keluar . Yuri melewati kamar Donghae dan tiba-tiba saja Donghae keluar dan membuat Yuri kaget.  Yuri membungkukkan badan pada Donghae tapi Donghae acuh saja. Lalu tiba-tiba dia menghampiri Yuri.

“jangan memainkan benda itu dirumah ini” kata Donghae sambil menunjuk biola yang dibawa Yuri lalu pergi

Yuri heran kenapa dia tidak boleh bermain biola. Lalu dengan wajah murung dia masuk lagi kekamar. Donghae turun untuk mengambil minum dan ternyata ada ayahnya.

“Donghae………gadis itu adalah putrinya paman Han. Ibunya baru saja meninggal dunia. Jadi ayah harap kamu bisa bersikap baik padanya” kata Sang ayah

“apa maksud ayah paman Han supir kita 9 tahun lalu” kata Donghae

“iya. Dia tidak punya siapa-siapa lagi jadi appa  menyuruhnya tinggal disini. Appa masih merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada pak Han” kata sang Ayah

Donghae berjalan naik menuju kamarnya. Didalam kamar dia mengingat kejadian kelam 9 tahun lalu.

***

Udara sangat dingin, sampai-sampai membuat Donghae tidak ingin beranjak dari tempat tidurnya tapi dia harus bangun untuk kuliah. Saat turun, Donghae melihat sudah ada Yuri dibawah.

“selamat pagi” sapa Donghae, tidak biasanya dia mengucapkan sapaan seperti itu

Mereka makan tanpa ada yang berbicara satupun. Selesai makan mereka harus segera kembali kerutinitas. Yuri sekolah, Minwoo bekerja dan Donghae kuliah.

“aku akan mengantarmu” kata Donghae pada Yuri

“tidak perlu repot-repot, saya bisa naik bus” kata Yuri sambil membungkukkan badan dan berjalan meninggalkan Donghae.

“kalau begitu aku akan ikut naik bus. Sudah lama aku tidak naik angkutan umum” Donghae berjalan mendahului Yuri lalu Yuri mengekor dibelakangnya. Saat Yuri sedang berjalan sambil melihat kebawah, tiba-tiba Donghae berbalik dan hal itu mengagetkan Yuri karena mereka hampir tertabrak atau bisa dibilang kepala Yuri hampir membentur badan Donghae.

“hey adik kecil…jika berjalan jangan melihat kebawah”

“maaf” Yuri membungkukkan badan dan tidak berani mengangkat kepalanya

“kenapa daritadi hanya menunduk? Apa Kamu takut padaku?”

“mwo? aniyo, bukan begitu”

“aku Lee Donghae. Tidak ingat padaku?”

Yuri hanya diam dan berusaha mengingat apa dia pernah bertemu Donghae sebelumnya.

“ya sudah jika tidak ingat. Yang penting aku masih ingat padamu. Ayo, kita akanketinggalan bus”

TBC………….

Bagaimana? Mau dilanjutkan kah readers sekalian????? :) 

22 thoughts on “The Sweet Melodies [part 1]

    • semua part udah dikirim jadi don’t worry be happy lah :p wkwkwkwk….itu nanya mau lanjut cuma basa basi doank *author stresss*…..

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s