The Eternal Promise, Prove It Till The End

Main Cast        : Choi Min Ho (SHINee), Han Ra Young  (OC)

Support Cast   : Kim Ki Bum/Key (SHINee)

Rating                         : PG-13

Genre              : Romance, angst, drama

Author             : Yuechara15 ( @yuechara15 )

Type                : Oneshoot

Lenght             : 2,061

Disclaimer       : I own my plot. Choi MinHo is belong to SM.

Summary         : ‘Hari dimana kau pergi. Di gerbang ini semua teman-temanmu mengantar kepergianmu dari sini……. Apakah kau akan kembali? Aku ingin melihatmu tersenyum lagi.’

 

Di sebuah ruang kerja yang cukup besar dan dipenuhi buku-buku tebal yang tersusun rapi di rak-rak tinggi, seorang pria terlihat sedang mencari-cari sesuatu di sebuah rak yang terletak di pojok ruangan. Jemarinya dengan teliti mencari-cari sebuah judul buku di satu baris dan matanya dengan jeli memeriksa setiap judul buku yang tercetak.

Tidak menemukan apa yang dicari, lelaki itu mulai mencari di baris rak berikutnya yang merupakan baris paling atas dari rak tersebut. Ia menjinjit untuk bisa melihat dan memeriksa buku-buku itu. Lelaki itu tersenyum lebar ketika ia menemukan buku yang dicarinya sejak tadi, ia pun menarik buku tebal itu keluar dari rak.

Namun sesuatu ikut terjatuh ketika ia menarik benda tersebut, sebuah buku tebal bersampul kulit cokelat. Lelaki bernama Choi Min Ho itu pun memungut buku yang  terjatuh itu dan matanya terpaku. Ia terdiam, memandangi buku tersebut tanpa berkata sepatah katapun. Ia mengingat dengan jelas, ini adalah buku memori miliknya. MinHo menahan nafasnya, terasa berat baginya.. namun ia mulai membuka halaman pertama buku tersebut. Sebuah tulisan tangan yang tertera di halaman depan buku tersebut bertuliskan ‘Memories –  Choi Min Ho’.

Ia pun membuka halaman berikutnya. Sebuah foto yang menampilkan gambar sebuah Gerbang sekolah, MinHo pun ingat bahwa gerbang itu adalah gerbang sekolahnya sewaktu SMA. Tepat di bawah foto ersebut tertulis  kalimat ‘Disini, pertama kali aku bertemu denganmu’. MinHo membaca kalimat tersebut dan dengan segera otaknya memutar kembali memori itu, dimana ia pertama kali bertemu dengannya, dan jatuh cinta padanya.

Jemari tangannya mulai gemetar ketika ia mencoba kembali membalik lembar halaman buku itu. Kembali sebuah foto tertempel disana, kali ini adalah dua lembar foto. Foto pertama menunjukkan gambar sudut dinding dan sederetan jendela, MinHo ingat dengan jelas bahwa ini masih bagian dari gedung sekolahnya. Lalu foto kedua adalah sebuah foto meja dan kursi di sebuah kelas yang terletak persis disamping jendela kaca kelas.

‘Aku selalu memperhatikanmu dari sini ketika jam istirahat, memperhatikanmu duduk di bangku ini sambil memakan bekal makan siangmu bersama teman-teman sekelasmu. Aku sangat menyukai sudut ini, dimana aku bisa dengan bebas memperhatikanmu dan melihatmu tersenyum dan tertawa. Meskipun bukan padaku.’

            Baris-baris kalimat itulah yang menghiasi kedua foto tersebut kali ini. MinHo menyandarkan punggungnya pada rak buku besar itu, kakinya terasa lemas. Ia pun terduduk, buku itu masih ada di tangannya. Ia pun menarik nafas panjang, dan kembali membuka lembaran berikutnya.

——————————————————————————————————————————————

Hari ini seperti biasa, pada saat jam istirahat MinHo langsung melangkahkan kakinya menuju sebuah ruang kelas yang terletak agak jauh dari kelasnya. Ia membawa satu roti melon dan sekotak susu bersamanya. MinHo berhenti tepat di sudut sebuah dinding di koridor sekolah yang berada persis di depan pintu kelas ‘3-E’. MinHo menyandarkan punggungnya di dinding itu, matanya mulai mencari-cari kearah ruang kelas. Mencari sesosok gadis yang dicarinya, yang disukainya sejak ia pertama kali bertemu.

MinHo tersenyum ketika matanya menangkap sosok gadis itu sedang duduk di bangkunya dan sedang menikmati bekal makan siangnya bersama dua orang temannya. MinHo begitu berdebar ketika ia melihat gadis itu tersenyum, tertawa, dan mengobrol dengan sukacita. Melihat gadis itu bahagia sudah sangat cukup membuat harinya berubah menjadi cerah, senyuman gadis itu seperti sebuah pemanis bagi hidupnya.

“Hoi, MinHo-ya, apa yang kau lakukan disini?” Sapa seorang siswa padanya.

“Anniya, aku tidak sedang apa-apa.” Jawab Minho sambil tersenyum.

“Cih, pembohong. Aku tahu sebenarnya mengapa kau selalu berada di depan kelasku ketika jam istirahat.” Ujar siswa itu sambil menyilangkan kedua lengan tangannya di depan dada.

“Benarkah? Lalu apa yang kau ketahui KiBum-ah?” Tanya MinHo.

“Kau kira aku bodoh apa? Semua orang juga sadar bahwa kau kesini setiap saat untuk memperhatikan dia kan?” Ujar siswa bernama KiBum itu sambil jari telunjuknya menujuk kepada seorang gadis yang memang sedari tadi diperhatikan oleh MinHo.

“Begitukah?” Ujar MinHo.

“Tentu saja, jika kau memandang Ra Young yang sedang tersenyum atau tertawa kau selalu saja ikut senyum-senyum sendiri dari sini. Semua orang yang lewat selalu menganggapmu orang gila tahu.”  Jelas KiBum pada MinHo yang hanya memasang wajah tenangnya dan tetap tersenyum.

“MinHo-ya, kau ini jangan seperti banci dong. Jangan hanya melihat dan memperhatikannya dari kejauhan, datangi dia, dekati, ajak berkenalan dan mengobrol. Jangan seperti ini. Kau ini bisa dicap sebagai seorang stalker loh, nanti yang ada malah Ra Young takut jika begitu bertemu denganmu.” Tambah KiBum menasehati MinHo. Ya, ia memang sudah cukup ‘gerah’ melihat tingkah MinHo yang hanya bisa mengagumi dari kejauhan.

Semua ucapan KiBum tadi hanya ditanggapi dengan senyum oleh MinHo sementara kedua matanya tidak lepas dari memperhatikan seorang Han Ra Young.

——————————————————————————————————————————————

Ah, rasanya aku ingin kembali mengulang hari itu. Disini, kau duduk di bangku penonton ini ketika tim baseball sekolah bertanding melawan sekolah lain. Dari lapangan aku selalu berusaha melirik padamu ketika ada kesempatan, melihatmu tersenyum dan menyemangati kami dengan penuh semangat. Sangat cantik. Aku ingin memonopoli senyum itu, hanya untukku.’

            Kalimat-kalimat tersebutlah yang tertera dibawah sebuah foto bangku penonton yang merupakan bangku penonton di lapangan baseball sekolah. Min Ho membaca kalmat-kalimat tersebut, dan kembali lagi otaknya memutar memori tersebut. MinHo masih ingat dengan sangat jelas apa yang ia lihat pada hari itu, dimana wajah cantik Ra Young dihiasi dengan senyumnya serta ia berteriak menyemangati kami pada saat itu. Ia terlihat sangat bersemangat pada waktu itu, membuat MinHo benar-benar termotivasi pada pertandingan. Dan hasilnya adalah sebuah homerun yang berhasil dicetaknya.

MinHo membalik halaman buku itu lagi, kembali menemukan begitu banyak foto-foto yang memiliki kenangan tersendiri  baginya. Ia terus membalik halaman demi halaman, membaca setiap detail kata yang pada saat itu ia tuliskan sendiri  pada lembar-lembar tersebut sambil teringat akan banyak memori-memori yang selalu ia simpan rapi…..

            ‘Hari ini masih pekan festival olahraga, aku melihatmu mengikuti perlombaan atletik. Kau memenangkan tempat ketiga dalam kategori 400m. Kau terlihat sangat cocok memakai mendali itu, terlebih lagi dengan senyum itu. Senyum terindah yang selalu kupuja.’

            ‘Aku tak sengaja melihatmu disni, kau terlihat murung dan aku menyadari bahwa kau baru saja menangis. Hidung merah dan mata sembabmu masih belum bisa kau sembunyikan, aku masih bisa melihatnya dengan jelas. Bekas kesedihan itu masih sangat terlihat, apa yang membuatmu menangis? Adakah sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Andai aku bisa berada disisimu, aku ingin menemanimu, terus dan selalu.’

            ‘Hari ini aku memperhatikanmu, lagi. Hehe, am I stalker-like type? Kau tidak membawa bekal makanmu hari ini, kau juga tidak membeli makanan di kafetaria. Yang kau lakukan sepanjang waktu isirahat hanya menundukan kepalamu dan mengukir sesuatu pada mejamu. Aku mencoba melihat apa yang kau tulis saat sekolah bubar, dan inilah yang kutemukan. ‘Disini adalah tempat dimana aku merasa begitu lepas. Aku tidak ingin pergi, hanya disinilah tempatku.’’

MinHo menelan ludah, berusaha menekan perasaan sedihnya yang terasa sangat  berat di dadanya begitu ia membaca kalimat pada foto terakhir. Sebuah foto meja yang terukir kalimat tersebut. MinHo menghela nafasnya, ia kembali membalik halaman berikutnya.

Kini sebuah foto gerbang sekolah kembali terpajang di halaman ini, objek foto yang sama dengan foto di halaman awal. Namun keduanya berbeda.

            ‘Hari dimana kau pergi. Di gerbang ini semua teman-temanmu mengantar kepergianmu dari sini……. Apakah kau akan kembali? Aku ingin melihatmu tersenyum lagi.’

——————————————————————————————————————————————

Pada hari senin ini di jam terakhir sekolah hari ini adalah mata pelajaran Sejarah untuk kelas MinHo, Jang Songsaengnim sudah bersiap keluar kelas ketika ia teringat akan sesuatu.

“Ah ya, apakah kalian sudah tahu? Seorang siswi kelas 3-E mengalami kecelakaan hari sabtu kemarin, luka yang di deritanya tidak begitu parah. Tetapi dokter mengatakan bahwa suatu benturan mengakibatkan dampak yang sangat besar pada otaknya, maka ketika ia terbangun pada saat itu…. Ia kehilangan suaranya, ia tidak bisa bicara dan dokter sudah menyatakan bahwa hal itu akan menjadi permanen. Dia akan bisu selamanya.” Ujar Jang songsaengnim pada murid-murid dikelas.

Seisi kelas pun menjadi ribut, ada yang mengatakan bahwa ia tahu bagaimana cerita lengkapnya, ada yang memasang wajah sedih dan iba, dan ada pula yang takut. Sementara MinHo sedang terdiam, tangannya mengepal kan berusaha menyugesti dirinya bahwa itu bukan Ra Young. Ya, bukan Ra Young. Ia tidak melihatnya hari ini karena dia sedang tidak masuk sekolah dikarenakan suatu alasan, bukan karena kecelakaan konyol itu. Tidak.. pasti bukan.

“Han Ra Young. Dialah siswi tersebut, ia sedang dalam perjalanan pulang dari perpustakaan ketika kecelakaan itu terjadi. Selain menjadi tidak bisa berbicara, dokter juga mengatakan bahwa Ra Young mendapat suatu kecenderungan yang berbeda pada otaknya akibat benturan itu. Dan ada kemungkinan bahwa Ra Young akan menderita beberapa kekurangan, seperti lumpuh kaki.” Ujar Jang songsaengnim menambahkan berita yang tadi ia sampaikan.

MinHo terdiam, sangat shock mendengar apa yang baru saja didengarnya. Sebuah kabar buruk yang benar-benar MinHo belum bisa terima, kekhawatiran menyelimuti MinHo, otaknya dipenuhi oleh Ra Young saja dan ia benar-benar sangat khawatir. Namun bibirnya bahkan tak bisa berucap sepatah kata pun karena rasa ‘shock’ itu masih belum bisa lepas.

“Dikarenakan kondisinya sekarang, Han Ra Young akan pindah ke sekolah khusus. Kepindahannya telah selesai di urus kemarin dan sekarang semua teman-temannya akan mengantarnya pergi di gerbang, tadi Ra Young datang ke sekolah untuk mengucapkan salam perpisahan pada teman-temannya. Jika kalian juga ingin mengucapkan selamat jalan padanya kalian bisa pergi sekarang, mungkin jika ia belum pergi.” Tambah Jang Songsaengnim. “Baiklah, kalau begitu sampai sini saja dulu. Sampai besok.” Tutup Jang songsaengnim lalu pergi keluar kelas.

Seisi kelas masih ribut, sepertinya topik mengenai Ra Young masih belum mau dilepaskan. Sementara seorang Choi Min Ho yang sejak mengetahui bahwa Ra Young-lah yang mengalami hal tersebut masih belum bisa berkata apa-apa. Namun beberapa detik kemudian, Min Ho sudah berlari secepat mungkin menuju kearah gerbang sekolah. Mungkin ia ingin melihat Ra Young untuk yang terakhir kalinya disni.

Sesampainya di gerbang sekolah, yang MinHo temukan adalah banyak siswa kelas 3-E berada disana. Sesuai apa yang Jang songsaengnim katakan, mereka semua mengantar kepergian Ra Young. Ada beberapa diantara mereka yang menangis sambil memeluk gadis yang berada di kursi roda yang di damping ibunya itu.

MinHo memperhatikan Ra Young yang terduduk di kursi roda, mata sayunya semakin terlihat sayu, bibirnya terlihat kering namun masih memperlihatkan senyuman termanisnya, sementara banyak bekas luka-luka yang di perban yang bisa terlihat.

“Han Ra Young!!” Teriak MinHo sambil berlari menghampiri gadis itu ketika ibunya sudah bersiap membawanya keluar dari area sekolah ini. Ra Young pun menoleh pada asal suara tersebut, matanya menampakan kekagetan akan kehadiran MinHo yang tiba-tiba, namun jantung gadis itu berdebar lebih cepat ketika melihatnya. Ya, ia selalu tahu bahwa MinHo selalu memperhatikannya pada jam istirahat dan ia juga tahu bahwa MinHo menyukainya. Dan Ra Young pun sudah menyukai MinHo sejak pertama kali mereka bertemu di gerbang sekolah ini.

MinHo kini sedang berdiri di hadapan Ra Young yang terduduk di kursi roda, MinHo mengatur nafasnya, masih capek karena tadi berlari. Sementara Ra Young menatap lelaki di hadapannya dengan seksama.

“Han Ra Young….. aku….aku mencintaimu.” Ujar MinHo, sambil menatap gadis di hadapannya ini.

Ra Young terkaget selama beberapa detik, matanya masih terlihat sangat bingung. Namun beberapa saat kemudian, ia tersenyum. Ra Young tersenyum pada MinHo, memberikan senyumnya yang paling manis, hingga sebulir air mata jatuh membasahi pipinya, dan kemudian menjadi sebuah tangisan.

MinHo yang melihatnya langsung menghampiri Ra Young, mengulurkan tangannya pada gadis itu. “Genggam tanganku, aku akan selalu bersamamu dalam masa-masa sulitmu. Aku akan membantumu, akan selalu disisimu, genggamlah. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, aku janji.” Ucap MinHo.

Ra Young terdiam, air matanya masih belum bisa berhenti, ditambah dengan kalimat-kalimat yang MinHo ujarkan tadi membuatnya semakin menangis terharu. Lalu dengan perlahan Ra Young mengangkat tangannya, lalu meraih tangan besar dan hangat milik MinHo itu. Ia menggenggamnya, merasakan kehangatan yang langsung terjulur. Mereka berdua tidak ingin melepaskannya, tidak ingin membiarkan salah satu dari mereka berjalan sendirian. Mereka di takdirkan untuk bersama.

——————————————————————————————————————————————

MinHo membalikkan lembar selanjutnya di buku itu, dan yang ia temukan hanya lembaran kosong. MinHo membalikkan buku itu lalu membuka halaman terakhirnya lalu mengambil sebuah foto dirinya dan Ra Young yang sedang duduk bersisian dalam balutan baju pengantin. Ya, itu adalah salah satu foto di hari pernikahan mereka.

MinHo memperhatikan wajah wanita di foto tersebut yang berbalut gaun putih panjang, wajahnya yang manis memamerkan senyum terindah yang dimilikinya, serta rambut hitam panjangnya di hiasi oleh tiara putih. Dan tak lupa di jari manis wanita itu terpasang sebuah cincin yang sama dengan miliknya, cincin pernikahan mereka berdua.

“Kau tahu… aku sangat merindukanmu. Sudah setahun kau pergi, hidupku terasa lebih sepi tanpamu. Tapi aku tahu kau akan selalu ada menemaniku, karena aku tau kau tidak akan pernah melanggar janji kita. Kita akan selalu bersama, kau akan selalu menggenggam tanganmu disaat aku susah dan senang. Kita akan selalu bersama, tak akan ada yang bisa memisahkan kita, aku tahu itu.” Ujar MinHo sambil tersenyum memandang foto itu. “Ra Young-ah… happy 5th anniversary. Aku mencintaimu.”

 

END

3 thoughts on “The Eternal Promise, Prove It Till The End

  1. (╥﹏╥)
    Ceritanya keren! Aku sukaaa~~
    Aku kira si rayoung bakal mati sblum minpa nyatain cinta*ceilee
    ceritanya daebak!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s