Magic Book Part 3

Author : OnlYurin

Genre : Romance, Fantasy

Length : Chapter

Cast : Lee Donghae, Song Mikan, Leeteuk

Sinopsis :

Mikan adalah seorang anak keturunan Korea yang miskin, dan hidup pas-pasan di rumahnya yang terletak di pinggiran kota. Sebagian besar rumahnya, hanya merupakan kamar bagi buku-buku sihir milik neneknya, yang bahkan tidak diketahuinya manjur atau tidak. Buku-buku itu selama ini hanya terus menyusahkan Mikan saja. Namun, segalanya berubah ketika Mikan menemukan sebuah keajaiban pada salah sebuah buku karya neneknya itu. Apakah keajaiban itu?

Magic Book Part 3

Mikan’s POV

 

Bekerja di rumah Donghae benar-benar mengubah kehidupanku. Selain memiliki pacar seistimewa Donghae, aku juga mendapatkan gaji yang lebih besar.

Hari ini, Donghae mengajakku pergi ke suatu tempat. Katanya, dia akan menjemputku. Dia bahkan merahasiakan tempatnya dariku. Aku menunggu, sambil terus dicekoki oleh pertanyaan-pertanyaan dari Madeley. Dia sesekali tertawa dan mengejek.

Tidak lama kemudian, Donghae datang, membuatku akhirnya dapat bernapas lega. Segera saja aku masuk ke Lamborghini Donghae, dan duduk di kursi samping kemudi. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali ketika melihat Donghae. Dia terlalu memesona dalam balutan jas resmi berwarna coklat muda mengilapnya itu. Rambutnya ditata acak-acakan, dengan beberapa garis khusus pada rambutnya yang sengaja ditampakkan menonjol. Aku hampir tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.

“Kenapa kau terus menatapku?” tanya Donghae, tersenyum.

“Ah.” Aku tertawa, salah tingkah. Jawabannya, jelas saja karena aku terpesona padanya.

Mobil Donghae melaju dalam kecepatan penuh; aku tidak tahu persis berapa kecepatannya. Tapi mobilnya terlihat menyela dalam padatnya kemacetan jalan raya. Tidak sampai sepuluh menit, kami akhirnya tiba di depan sebuah toko baju.

Pada bagian atas toko itu, terdapat papan nama yang bertuliskan Stephenie’s Boutique. Meski tidak pernah masuk dalam toko seperti itu, tapi aku tidak cukup bodoh untuk dapat memahami kalau itu adalah sebuah toko yang menjual berbagai macam baju dan aksesorisnya. Belum lagi patung-patung yang memakai pakaian indah yang nampak dari kaca etalase bening yang memang dengan sengaja dipasang itu. Aku juga cukup tahu kalau barang-barang di dalamnya adalah barang bermerek dan mahal.

Donghae menarik tanganku, menyadarkanku dari keterpakuanku selama beberapa detik, karena sedang mengagumi pakaian-pakaian di patung, dari kaca etalase. Donghae membuka pintu yang terbuat dari kaca transparan yang membatasi udara di dalam butik itu dengan udara berdebu di luar. Udara sejuk dari pendingin ruangan langsung menyergap badanku, membawa sensasi sejuk yang menyenangkan. Meski tidak begitu mengerti—sebenarnya sudah terpatri kecurigaan dalam otakku: Donghae ingin membelikanku baju, jelas karena di sini hanya menjual pakaian wanita, tapi aku tidak ingin meyakininya dulu—tapi aku tetap mengikuti Donghae.

Dugaan sementaraku menjadi nyata ketika Donghae memilihkan macam-macam gaun untukku, dan menyuruhku bolak-balik masuk kamar pas—hal itu membuktikan kalau dia memang ingin membelikanku pakaian. Parahnya, di sini selera Donghae-lah yang menentukan. Terkadang aku merasa cukup nyaman dengan sebuah gaun, tapi menurut Donghae itu tidak terlalu cocok kukenakan di tubuhku, dan pada akhirnya aku harus menggantinya. Kembalilah dimulai petualanganku mencari sebuah baju yang bagus serta nyaman bagiku, dan Donghae.

Pikiranku melayang, sementara para pegawai butik membantuku mengenakan gaun-gaun—yang aku yakin sangat mahal—di tubuhku. Dress terakhir kali ini cukup menarik minatku. Selain nyaman, modelnya juga sederhana dan tampak anggun. Dress itu berwarna coklat muda, dengan beberapa permata dan manik mengilat yang membentuk pola bunga-bunga dan bintang-bintang yang tampak elegan. Semua perpaduan desain dan warna itu tampak haromoni, dengan model masa kini yang panjangnya hanya sebatas lutut. Sederhana dan anggun.

Tirai berwarna merah tua yang menutupi kamar-pas terbuka, membuat aku dapat kembali melihat Donghae yang sedang duduk dengan mengangkat satu kakinya, menumpu pada kakinya yang lain. Donghae yang memang duduk tepat menghadap kamar pas itu langsung mengetahui kalau aku sudah selesai dengan percobaan gaunku, lagi. Dia menatapku dengan pandangan menilai, mulai dari kaki hingga ke ujung rambut. Aku diam, dan entah kenapa jadi merasa seperti calon foto model yang sedang dinilai oleh jurinya.

“Yang ini saja,” gumam Donghae, jari telunjuknya mengusap-usap bibirnya. “Selanjutnya, sepatu.”

Aku mendesah. Kupikir petualanganku di butik ini sudah selesai, tapi ternyata aku salah. Masih ada sepatu, dan kupikir sepertinya masih ada lagi tas, dan hal lainnya. Bukannya aku tidak senang dibelikan barang-barang bagus dan bermerek oleh Donghae. Aku sangat senang, hanya saja aku merasa pusing dengan selera Donghae yang menurutku terlalu perfeksionis dalam menentukannya—dalam hal ini, dia memang sangat perfeksionis; aku tidak tahu dalam hal lain, tapi sepertinya tidak.

Setidaknya, dalam memilih sepatu aku tidak perlu mengalami kerepotan seperti saat memilih pakaian. Setelah beberapa saat berputar di sekeliling butik besar ini, pilihan Donghae jatuh pada sebuah sepatu berhak kira-kira 10 senti, berwarna coklat mengilat seperti ditaburi gliter, dengan hiasan berbentuk pita yang mempermanis sepatu itu. Aku cukup menyukai modelnya, dan terlihat sangat pas di kakiku. Sepatu ini juga nyaman dipakai, dan tampak serasi dengan gaun simple yang kukenakan.

“Bagaimana? Kau suka?” tanyanya, matanya menatapku. Sepertinya dia berharap aku menyukainya, dan harapannya itu terkabul.

Aku menganggukkan kepalaku.

“Bagus. Selanjutnya, tas,” tukasnya bersemangat. “Ayo,” Donghae mengajakku.

Tas yang terpajang di lemari-lemari transparan dan rak-rak yang diterangi lampu berwarna oranye di butik ini sangat banyak. Mulai dari tas berukuran besar, sampai kepada yang kecil. Warna dan modelnya juga sangat beraneka ragam, dan semuanya terlampau indah. Selain itu, keyakinanku juga mengatakan kalau semuanya terlampau mahal. Aku tidak memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk dapat melihat label harga yang tergantung pada setiap benda-benda itu untuk membuktikan persepsi dalam kepalaku. Dan kurasa, ada kalanya sesuatu lebih baik tidak usah diketahui oleh seseorang.

Dalam memilih tas, Donghae langsung menentukannya dalam sekali pandangan. Dia mengambil salah sebuah tas berwarna senada dengan pakaian dan sepatuku, lalu menanyakan pendapatku. Tas itu berukuran sedang, desainnya juga sederhana dan menarik. Langsung saja aku menyetujuinya. Donghae terlihat sudah sangat berpengalaman dalam bidang ini. Mungkin kapan-kapan aku akan menanyakannya hal mengenai salah satu keahliannya ini.

Aku keluar dari Stephenie’s Boutique dengan menenteng beberapa kantong berbentuk kotak yang terbuat dari bahan karton, dengan warna hitam dan tulisan Stephenie’s Boutique yang berwarna putih. Kantong itu berisi barang-barang murahanku, sebelum aku menggantinya dengan pakaian mahal pemberian Donghae. Sementara barang aslinya yang dibeli sedang kukenakan di tubuhku.

Mobil Donghae berhenti di depan sebuah salon yang namanya asing bagiku; tidak banyak salon yang kuketahui di kota ini, berhubung aku juga tidak terlalu butuh untuk pergi ke salon. Dalam setahun, masih mending jika aku satu kali pergi ke salon. Rambutku kubiarkan saja tumbuh panjang, dan kini sudah bertumbuh hingga sebatas pinggangku. Maka itulah aku selalu menggulung rambutku naik agar tidak tampak berantakan.

Donghae menggandeng tanganku masuk ke dalam salon itu. Aku mengerutkan keningku, namun tetap mengikutinya tanpa banyak protes. Donghae membuat kode khusus pada matanya pada salah seorang petugas salon, dan petugas salon itu langsung membawaku duduk ke salah satu kursi yang ada di salon ini.

Banyak kursi di salon ini—aku tidak sempat melihat nama salonnya di depan—tapi tidak ada pengunjung lain, selain aku dan Donghae—well, mungkin Donghae tidak termasuk. Salon ini besar, dan petugas salon yang memakai seragam berwarna hitam dengan selingan pink pada beberapa bagiannya berjumlah tidak sedikit. Apa mereka tidak akan bangkrut kalau sistem kerja mereka seperti ini? Ah, sudahlah. Apa peduliku?

Aku menatap cermin besar di hadapanku, yang menampakkan wajahku dengan sempurna—tidak setengah-setengah seperti pada cermin kecil yang sudah retak di rumahku. Petugas salon yang agak kemayu menata rambutku. Dia melepaskan gulungan rambutku yang masih rapi, membuat rambut panjangku terurai dengan berantakan.

Dia menyisirnya dengan lembut, kemudian mulai mengambil gunting, dan memangkas rambutku.

“Bisakah tolong rambutku jangan dipotong pendek? Aku tidak suka rambut pendek,” tukasku.

“Tentu saja, kalau itu memang maumu,” jawab petugas itu lembut.

Aku menyapukan mataku ke sekeliling meja rias di hadapanku, dan mataku tertumbuk pada sebuah tumpukan majalah. Aku tahu kalau majalah itu memang disediakan untuk pelanggan, jadi kuputuskan untuk menyudahi aktifitasku melihat rambutku yang sedang ditata, dan membaca majalah.

Penataan rambut tidak berlangsung lama. Aku masih tidak dapat melihat bagaimana model rambutku yang sebenarnya, karena belum disisir rapi. Tahap selanjutnya, petugas salon yang bernama Dora itu—aku ketahui dari name tag yang baru kubaca di seragamnya—menjejalkan make up ke wajahku. Aku membiarkannya memoles wajahku secara leluasa, dengan mengatupkan kelopak mataku.

Ketika semuanya selesai, aku membuka mataku perlahan, berharap aku akan menemukan seseorang yang berbeda di depan cermin. Tidak ada salahnya jika aku berharap aku cantik, bahkan untuk sekali ini saja, bukan?

Tatapan mataku tak bisa kualihkan dari cermin di hadapanku. Seorang wanita dengan rambut sepunggung yang dikeriting kecil pada bagian bawahnya, dengan make up tipis yang menghiasi wajahnya sungguh sangat menawan. Aku hampir tidak percaya kalau itu adalah aku, sampai aku menemukan beberapa kesamaan paras antara wajahku yang tersimpan dalam memoriku, dengan wajah yang dipantulkan cermin besar itu. Apa itu artinya harapanku terkabul sekarang?

Aku beranjak keluar, menemui Donghae yang sedang duduk sambil membaca koran yang tersedia di salon ini. “Ehm,” aku berdeham.

Donghae mendongakkan kepalanya dan menatapku. Ekspresi puas bercampur kagum terajut di wajahnya, membuatku merasa cukup bangga pada diriku sendiri untuk kali ini. Jarang-jarang aku bisa membanggakan diriku sendiri, dan kali ini, aku sangat senang karena bisa merasakannya lagi.

“Kau tampak cantik,” puji Donghae.

Aku tersenyum. “Kau tidak bohong, kan?” aku memastikan.

Well, terserah kau mau percaya atau tidak.”

Seusai mengatakan itu, dia langsung menggandeng tanganku menuju parkiran, dan membukakan pintu mobil. Aku naik dengan perlahan; gaun dan sepatu berhak 10 senti ini agak menyulitkanku.

“Selanjutnya kita akan kemana?” aku bertanya sambil memandang Donghae yang sedang menatap lurus ke jalanan.

“Kau akan tahu nanti.” Dia masih saja merahasiakannya dariku.

Tidak lama kemudian, aku dapat melihat laut yang membentang luas dari kejauhan. Laut itu mengilat diterpa sinar matahari siang. Apa Donghae akan membawaku berenang dengan memakai pakaian seperti ini? Dia bahkan tidak memberikan baju renang sama sekali padaku.

Donghae memarkirkan mobilnya di depan sebuah hotel yang terletak di sekitar pantai, lalu mengajakku masuk ke gedung hotel. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran Donghae; tidak ada bayangan ataupun dugaan sama sekali.

Bukannya pergi ke bagian informasi, Donghae langsung menarikku melewati pintu berbahan kaca transparan yang tembus pandang, dan berpindah ke luar ruangan. Angin laut langsung menerpaku, menerbangkan setiap helai rambutku menjadi tidak beraturan. Bagian rok dari dress yang kupakai juga ikut melambai-lambai akibat kuatnya terpaan angin laut di sini. Sebelum mencapai perbatasan antara daratan dan lautan, ada tanah kosong di tempat terbuka yang cukup luas, dengan deretan meja-meja yang berdiri rapi disertai payung besar yang meneduhkan masing-masing meja.

Herannya, tidak ada pengunjung sama sekali di tempat yang kuyakini sebagai restoran di hotel mewah pinggir pantai ini.

“Mengapa tidak ada orang di sini?” mulutku tidak tahan untuk tidak menyuarakan pertanyaan yang terus menggema dalam kepalaku.

Donghae berbalik melihatku, dan tersenyum. Bukannya menjawab pertanyaanku, dia membawaku ke meja terdekat perbatasan antara laut dan daratan. Dia mendorongkan kursi untukku, laksana adegan-adegan romantis yang ada di TV. Tapi, aku sama sekali tidak bisa menikmati semua ini, sementara berbagai pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku, dan sudah kulontarkan belum terjawab.

“Aku sudah memesan seluruh restoran ini untuk sehari,” tukas Donghae, menarik kursi di hadapanku, dan mendaratkan bokongnya.

Aku melongo, tidak tahu seharusnya bereaksi seperti apa mendengar hal yang dilakukan Donghae, yang benar-benar mirip dengan adegan-adegan romantis dalam TV.

“Jadi apa yang ingin kaulakukan dengan memesan seluruh tempat ini?” tuntutku akhirnya, setelah beberapa saat terdiam.

“Tentu saja sesuatu yang spesial,” dia menyahut sambil tersenyum.

“Dan apa yang kaumaksud dengan sesuatu yang spesial itu?”

“Kau akan tahu nanti.”

“Oh, please. Aku tidak suka dibuat penasaran. Pertanyaan-pertanyaan yang berkecamuk di kepalaku seakan membuatku sinting,” akuku.

“Sebentar lagi. Sabar saja.” Dia tetap tidak mau mengubah prinsipnya.

Makanan yang dipesan Donghae datang. Aku bahkan belum melihat menu apa saja yang ada di restoran ini, dan makanan sudah tersaji di hadapanku. Pelayan membukakan penutup aluminium yang menyembunyikan jenis makanan yang ada di piring, dan membuat salad segar  dengan balutan mayonese tampak di dalamnya. Apa Donghae tidak tahu kalau aku tidak terlalu suka makan mayonese?

“Kau pasti akan menyukainya,” sahut Donghae menjawab pertanyaan di kepalaku secara tidak langsung—dia tidak tahu. “Ini adalah makanan pembuka kesukaanku di restoran ini.” Dia menyuapkan salad itu masuk ke dalam mulutnya.

“Aku… Aku tidak suka mayonese,” tandasku.

“Kau tidak suka mayonese?” Dia membulatkan matanya. “Mian, kupikir kau suka,” jelasnya.

“Yeah.” Aku menaikkan sebelah alisku. “Tidak masalah. Berhubung kau sangat menyukainya, kau makan saja jatahku sekalian,” kataku, menggeser piring berisi salad kepadanya.

“Gomawo,” ujarnya, tersenyum.

Donghae masih menyantap salad yang seharusnya adalah bagianku, ketika menu selanjutnya datang. Pelayan sekali lagi mengangkat penutup aluminium besar, dan memperlihatkanku menu pesanan Donghae kali ini adalah udang goreng mayonese. Ya ampun, inilah akibatnya kalau dia main pesan sendiri saja. Bisa-bisanya dia memesan semua makanan yang ada mayonesenya.

“Eh, ada mayonese lagi,” terang Donghae untuk sesuatu yang aku sendiri bisa mengerti.

“Tidak apa. Aku juga tidak terlalu suka makan udang,” dustaku. Padahal udang adalah salah satu makanan favoritku. Aku menggeser piringku ke hadapan Donghae, dan memberikannya. Dia nyengir, sepertinya merasa bersalah padaku. Aku balas tersenyum padanya. “Hari ini kau makan porsi double saja.”

Dari lima macam menu makanan yang dipesannya, aku hanya memakan dua macam menu, yaitu kimchi dan bubur kacang ijo. Sejujurnya, makanan-makanan kecil itu sama sekali tidak mengenyangkanku, tapi aku berdusta pada Donghae kalau aku sudah kenyang. Makanan yang satunya lagi adalah kentang goreng—yang merupakan kesukaanku—tapi ditaburi dengan saus sambal dan mayonese di atasnya.

Mungkin ini adalah salah satu acara makan yang tidak begitu sempurna, tapi aku tetap mensyukurinya, karena setidaknya aku bisa datang ke restoran semewah ini, dan mencicipi makanan semahal itu.

Donghae bergerak ke tempat dudukku, memutar kursiku sembilan puluh derajat menghadapnya. Apa yang ingin dilakukannya? Tindakannya sangat aneh.

“Song Mikan, maukah kau menikah denganku?” Donghae melamarku, sambil mengeluarkan kotak berwarna coklat dari sakunya, dan membukanya. Dalam kotak itu, terdapat sebuah cincin yang sepertinya terbuat dari bahan emas putih yang mengilap, dengan permata seperti berlian—atau mungkin memang berlian—di tengahnya. Modelnya unik dan sangat indah.

Aku mengerjapkan mataku. Kenapa bisa seperti ini? Aku baru kenal secara resmi dengan Donghae beberapa hari saja, dan dia sudah mengajakku menikah. Apa Donghae sudah gila? Ini sama sekali tidak masuk akal. Jujur, sebenarnya aku senang-senang saja menikah dengan Donghae, berhubung itu adalah impianku sejak beberapa tahun yang lalu. Tapi, mengingat hubunganku dengan Donghae yang sepertinya berevolusi terlalu cepat, aku jadi merasa ragu.

Seakan ada sesuatu yang dengan sangat keras menghantam kepalaku, sekaligus memberikan jawaban atas pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalaku: ini karena aku memikat Donghae juga bukan dengan cara yang normal—dengan sihir dari Madeley. Aku berhasil memikatnya dalam waktu singkat, maka hubungan kami juga berlangsung dalam kecepatan yang sangat lebih daripada biasanya.

Sepertinya, aku tidak bisa membuat hubungan ini berlanjut dalam keadaan yang seperti ini. Semuanya tidak wajar. Bukan ini yang kuinginkan. Sepertinya Madeley salah mengategorikan permintaanku dulu. Tidak seharusnya dia mengabulkannya. Tapi, aku tahu kalau aku masih belum terlambat untuk memperbaikinya.

Mataku memanas ketika memikirkan semua itu, dan aku tahu, mata yang memanas merupakan salah satu gejala kalau aku akan segera mengeluarkan air mata. Jantungku berpacu dengan cepat, tapi kali ini penyebabnya adalah perasaan yang mengatakan: mungkin saat ini adalah detik terakhir aku bisa berada dalam keadaan yang seperti ini dengan Donghae. Meskipun bahagia, tapi aku pikiranku mengatakan ada sesuatu yang tidak seharusnya di sini.

Sepertinya sekarang aku mengerti apa yang ada dalam pikiran nenekku selama ini. Sihir memang mempermudah, tapi membuat sesuatunya berjalan dengan tidak normal, dan terasa ganjil. Donghae bahkan tidak tahu apa-apa tentang diriku, selain mungkin nama dan latar belakangku; dia tidak tahu karakterku yang sebenarnya, dan hal lainnya, tapi dia sudah ingin mengajakku menikah.

“Kau terharu?” Donghae tersenyum geli.

Aku menggeleng kuat-kuat, membuat air mata yang sudah menggenang di mataku meleleh. Segera kuseka bulir air mata itu dengan tanganku, berusaha sedapat mungkin agar Donghae tidak melihatnya.

“Maaf, sepertinya aku tidak bisa.”

Air muka Donghae langsung berubah. Bibirnya yang tadinya melebar kembali ke ukurannya semula. “Tapi kenapa?” Nada suaranya agak sedikit meninggi. Sepertinya dia sama sekali tidak menyangka kalau aku akan menolak—sesungguhnya, aku tidak akan menolak, jika saja semuanya tidak berjalan seperti ini; ini terlalu tidak wajar, dan tidak bisa diterima diriku.

“Kupikir aku tidak memerlukan alasan untuk menolak,” tukasku ketus.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, aku melangkah keluar meninggalkan Donghae, tanpa menunggu reaksinya. Mulai sekarang, aku tidak akan menggunakan sihir Madeley untuk hal-hal seperti ini lagi.

Kulangkahkan kakiku keluar, dan berjalan menuju stasiun bus terdekat. Kupikir mungkin ini saatnya bagiku untuk memanggil Madeley.

“Madeley, Madeley, Madeley,” teriakku lantang, tidak peduli pada orang-orang di sekitarku yang langsung memalingkan kepalanya melihatku.

Madeley muncul tepat di hadapanku, wajahnya tersenyum. Aku berjalan, dan membiarkannya turut berjalan di sampingku.

“Bagaimana acaramu dengan Donghae? Menyenangkan? Ah, pasti menyenangkan, kan? Aku tahu kalau apa pun yang kaulakukan dengan Donghae pasti terasa menyenangkan bagimu. Jadi, apa kalian sudah melewati tahap ciuman?” ujarnya panjang-lebar. Dia menghadang jalanku di depan, membuatku seketika menghentikan langkahku. “Atau jangan-jangan kalian sudah melakukan yang lebih daripada itu?” Matanya memandang tepat ke manik mataku, menilai.

“Tapi, kau kenapa? Wajahmu kelihatan tidak ceria.” Dia melihat wajahku dari berbagai sisi. “Apa yang terjadi sebenarnya?” desaknya.

“Aku ingin mengajukan permintaanku yang kedua sekarang,” tandasku cepat.

“Apa itu?” gumamnya.

“Aku ingin kau membuat segalanya kembali seperti semula. Tidak ada seorang pun, terutama Donghae yang mengingat mengenai hubunganku dengannya, kecuali kau dan aku sendiri,” pintaku.

Madeley membelalakkan matanya. “Tapi kenapa?”

“Kupikir aku mengerti jalan pikiran nenekku tentang sihir sekarang,” desahku. “Semuanya berjalan terlalu cepat, dan terasa sangat tidak wajar. Kau tahu, tadi Donghae melamarku, padahal kami baru saja kenal resmi selama beberapa hari. Dia bahkan tidak tahu makanan kesukaanku,” keluhku.

“Baiklah. Kupikir ada baiknya peristiwa ini terjadi—kau jadi mengerti jalan pikiran nenekmu, dan tidak mencibirnya lagi.”

“Yeah,” aku setuju.

Aku naik ke bus, diikuti Madeley yang tidak terlihat. Dia duduk di sampingku, tapi karena dia tidak terlihat, orang-orang jadi berpikir aku rakus tempat—mungkin memang, mengingat Madeley menumpang dalam bus secara gratis. Tapi Madeley bahkan tidak membutuhkan tumpangan bus ini, sebenarnya. Dia bisa saja menghilang dan langsung muncul di rumah.

“Lalu bagaimana kau akan menghidupi dirimu selanjutnya?” tanya Madeley, membawa kembali bebanku ke pemikiran utama dalam kepalaku.

“Aku juga tidak tahu. Mungkin pertama-tama aku akan mengirimkan buku karanganku yang sudah rampung sejak beberapa tahun yang lalu. Mencoba peruntungan,” bisikku, tersenyum—sepertinya agak dipaksakan. Meskipun berbisik, aku yakin ada beberapa orang di bus ini yang menyadari kelakuanku, tapi aku bahkan sudah tidak memiliki waktu untuk memikirkan itu lebih lanjut, ketika aku sedang ditimpa beban yang membuat kepalaku terasa ngilu.

Ekspresi Madeley tidak bisa kugambarkan. Aneh, dan tidak kumengerti. “Tapi bukumu belum tentu diterima. Dan kau tahu, kalaupun diterima, kau masih harus menunggu berbulan-bulan agar buku itu dapat terbit. Nah, sekarang kau harus memikirkan bagaimana kau melanjutkan hidupmu pada saat penantian itu?”

Aku mengerti apa yang dikatakannya. Dan itu pulalah yang membuat kepalaku sakit. “Mungkin aku bisa bekerja sambilan di sebuah warung kopi lain, seperti dulu,” ujarku, berusaha memperdengarkan nada sesantai mungkin.

“Yeah, terserah kau saja.”

***

Kulangkahkan kakiku menuju salah sebuah perusahaan penerbitan yang cukup terkenal, dan masuk ke dalam gedungnya.

Penyambutan mereka cukup ramah, dan aku menitipkan amplop coklat berisikan naskah novelku kepada salah seorang di informasi. Masalahnya, aku sama sekali tidak mengenal seorang pun di sini.

Kulangkahkan kakiku kembali, tetapi seketika berhenti ketika mataku menatap Kim Taeyeon, istri dari Park Jungsoo. Apa dia masih mengenalku?

“Taeyeon-ssi?” panggilku. Kalau dia tidak mengenalku, maka ini benar-benar akan menjadi perisitiwa sangat memalukan dalam hidupku.

Taeyeon berbalik, dan melihat ke arahku. Aku berlari-lari kecil mendekatinya. “Taeyeon-ssi, kau masih mengingatku?” sahutku.

“Ne? Nuguseyo?” Taeyeon menautkan kedua alisnya.

Dia tidak mengenalku. Ya ampun, darimana datangnya keberanian tolol sesaat tadi?

“Ah, kau sudah lupa rupanya,” imbuhku, sambil memikirkan kalimat seperti apa yang bagus kukatakan. “Aku Song Mikan, kita memang baru bertemu sekali, jadi wajar saja kalau kau tidak mengenalku,” tandasku. Aku cukup bangga karena aku berhasil merangkai sebuah alasan yang bukan kebohongan, dan tetap memuaskan—bagiku, dan bagi Taeyeon.

“Oh. Mian—“

“Tidak apa,” sergahku cepat.

“Tapi ada apa kau datang kemari, Mikan-ssi?” Dia tampak agak sedikit canggung saat mengucapkan namaku.

“Aku ingin memberikan naskah bukuku. Aku membuat sebuah novel,” ujarku, mataku berputar memandang ke banyak hal, tapi bukan kepada Taeyeon. “Kau sendiri sedang apa di sini?” tanyaku langsung, mengalihkan mataku tepat kepadanya ketika pertanyaan itu melintas di kepalaku.

“Kau tidak tahu kalau aku bekerja di sini? Aku editor tetap tempat ini.”

“Jadi kau yang akan membaca naskahku?”

Taeyeon terkekeh kecil. “Itu belum pasti. Banyak editor tetap lain di sini, selain itu ada juga editor freelance,” jelasnya. “Omong-omong, kau kerja apa sekarang?”

Aku tersenyum setengah hati. “Aku pengangguran,” tandasku, kemudian terkekeh kecil seolah aku sedang melontarkan lelucon.

“Kau pengangguran?” Mata Taeyeon membulat. “Bagus kalau begitu,” ucapnya, membuat keningku berkerut hingga mencapai tiga tingkat kerutan—kurasa seperti itu, karena sepertinya kerutan di dahiku saat ini adalah kerutan maksimal yang bisa kuciptakan di wajahku.

“Apanya yang bagus?” tanyaku dengan nada sedikit meninggi.

“Karena aku juga sedang mencari tenaga kerja baru.”

“Kalau aku boleh tahu, pekerjaan apa itu?” tanyaku, sopan.

“Editor freelance. Aku akan coba membaca novelmu dulu, lalu kalau kurasa memenuhi syarat, aku akan menghubungimu,” jelasnya.

“Jadi kau yang akan menangani naskah novelku?”

Taeyeon mengangkat alisnya. “Ya, nanti aku akan mengonfirmasi hal ini dengan yang lainnya.”

Aku beranjak pulang dengan sebuah pengharapan dalam hatiku. Semoga saja novelku diterima. Kunaiki bus sambil berpikir. Mulai sekarang aku tidak mau mendapatkan sesuatu dengan menggunakan sihir lagi. Aku akan berusaha sendiri sekuat tenagaku. Tapi aku masih bisa memiliki satu permohonan kepada Madeley, bukan?

Otakku mulai berputar; permintaan apa yang kira-kira kuinginkan, tapi tidak menimbulkan sesuatu yang buruk? Aku menghela napas pelan. Banyak sekali permintaan dalam kepalaku, tapi aku tidak yakin kalau itu tidak akan menimbulkan sesuatu yang buruk.

Aku termenung, dengan pikiran kosong, hingga menyadari kalau bus ini bergerak lebih lambat dari kendaraan-kendaraan lain di jalanan, membuat banyak kendaraan yang melambungnya, dan menimbulkan bunyi berdengung saat kendaraan itu mulai melambung.

“Madeley, Madeley, Madeley,” teriakku, tidak peduli pada tatapan orang-orang yang sedang duduk di bus. Aku hanya tersenyum kecil sambil membalas menatap mereka satu per satu, hingga mereka kembali memalingkan kepalanya dariku.

“Kenapa?” serbu Madeley langsung, begitu muncul di samping tempat dudukku.

“Aku bosan.”

“Memangnya kau tidak malu terlihat bercerita dengan angin di sini?”

“Kebosananku sudah terlalu tinggi untuk membuatku mempertimbangkan rasa malu lagi. Kepalaku juga sangat pusing; aku butuh tempat untuk mencurahkan isi hatiku,” bisikku.

“Kau tahu, semua itu bisa menunggu beberapa menit lagi, sampai kau tiba di rumah. Aku hanya ingin membantumu agar kau tidak terlihat seperti orang gila yang berbicara sendiri.”

Aku tidak menjawab, berdiam beberapa saat melihat bus yang memelankan lajunya yang sudah lamban.

Bus berhenti, singgah di stasiun yang lain. Beberapa orang turun, dan posisinya digantikan oleh beberapa orang baru yang naik. Seorang pria bertubuh tinggi dan kekar dengan wajah yang tampan, masuk ke dalam, dan langsung duduk di kursi kosong—yang sebenarnya ada Madeley-nya—di sampingku.

Nyaris saja Madeley diduduki oleh pria dengan busana kaos simpel dan celana jins biru itu. Pria itu terlihat membawa tas ransel berwarna hitam di belakangnya, dan rambutnya tampak acak-acakan akibat terpaan angin berpolusi di luar sana. Dia tersenyum padaku, membuatku sadar kalau sejak tadi aku terus memerhatikannya.

Aku membalas senyumnya dengan senyum simpulku, lalu berbalik menatap pemandangan di luar jendela.

“Mikan,” panggil Madeley.

Aku berbalik, lalu melontarkan pandangan bertanya padanya. Madeley tidak menjawab, dan malah mengalihkan matanya pada pria yang duduk di sampingku. Keningku berkerut. Aku sama sekali tidak mengerti dengan bahasa tubuh Madeley.

“Tanyakan namanya,” tukas Madeley akhirnya.

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Kalau aku menanyakan nama pria itu, bisa-bisa dia akan mengira kalau aku menyukainya. Di tambah lagi, tadi aku sempat tertangkap memerhatikannya selama beberapa saat. Padahal kan, bukan itu maksudku memerhatikannya.

“Ayolah, Mikan. Lain kali aku akan membantumu juga. Ayolah,” rajuk Madeley.

Kegelengkan kepalaku semakin kuat, membuat rambut sepingggangku terhempas ke kiri dan ke kanan.

“Ayolah,” bujuk Madeley, tidak menyerah. Kedua tangannya sudah saling merapat, membentuk ekspresi memohon, dan didukung dengan wajahnya yang melontarkan sesuatu yang sama.

“Kau kenapa?” tanya pria itu, tepat pada saat aku sedang memelototi Madeley.

“Ah, tidak. Siapa namamu?” tanyaku, berusaha mengalihkan perhatian, dan membuat Madeley memekik gembira.

Pria itu tertawa, dan alasannya tertawa tidak kuketahui dengan jelas, namun cukup membuatku khawatir. “Aku Siwon, Choi Siwon. Kalau kau?”

“Song Mikan imnida,” ujarku sopan.

***

Akhirnya aku tiba di rumah kecilku yang sangat kucintai. Aku merogoh kunci gembok dari sakuku, kemudian membuka gembok yang mengaitkan rantai untuk mengunci rumahku. Rantai-rantai itu bergemerincing saat aku menariknya dari pintu kayu rumahku.

Aku masuk ke dalam, dan duduk di sofa tua yang sudah menjadi warisan entah berapa generasi—mungkin sejak generasi nenekku. Madeley mengikutiku, dan duduk di sofa.

“Jadi, bagaimana novelmu?” tanyanya, mengawali pembicaraan.

“Aku ketemu Taeyeon.”

“Maksudmu teman Donghae?”

Aku mengangguk, mataku menatap ke bawah pada tegel kotor yang sudah beberapa hari tidak kubersihkan.

“Tapi dia tidak mengenalmu, kan? Kalau dia mengenalmu, itu artinya Donghae juga masih mengenalmu, dan—“

“Dia tidak mengenalku,” sergahku. Hatiku terasa sedikit nyeri saat mengucapkan kalimat itu. Sepertinya karena aku mengingat Donghae yang sekarang sudah melupakanku sama sekali. Tapi aku tahu kalau aku tidak boleh menyesalinya; ini adalah pilihanku sendiri, dan itu semua demi kebaikan.

Madeley mengangguk kecil. “Tapi, darimana kau tahu dia tidak mengenalmu?” tanya Madeley tiba-tiba. Sepertinya pertanyaan itu melintas secara tiba-tiba di kepalanya.

“Aku menyapanya tadi.”

“Lalu?”

“Ternyata dia bekerja sebagai editor tetap di perusahaan penerbitan itu. Kabar baiknya, jika novelku kali ini cukup memenuhi kriteria, maka aku akan mendapatkan keuntungan dua kali lipat. Keuntungan pertama novelku akan diterbitkan, dan keuntungan kedua aku akan mendapatkan pekerjaan sebagai editor freelance selama saat penantianku,” jelasku.

“Kalau begitu semoga saja kau diterima. Apa kau ingin membuat permintaanmu yang ketiga untuk mendapatkan keinginanmu itu?” Madeley menawarkan.

“Tidak usah. Aku tidak ingin memperoleh sesuatu dari sihir lagi,” tandasku. “Hei, beralih ke masalah Choi Siwon. Apa kau menyukainya?” tanyaku antusias.

“Kupikir kau sudah tahu jawabannya tanpa perlu menanyaiku,” tukas Madeley.

“Aku tidak tahu,” bantahku.

“Yeah, yeah aku menyukainya,” sahut Madeley dengan nada tak acuh.

“Hah,” aku mendesah. “Begitulah cinta. Sungguh aneh, bahkan kepada orang yang baru pertama dilihat sekalipun, mampu membuatmu gila karena menyukainya. Bahkan ketika orang itu bukanlah jenis yang sama denganmu, kau akan tetap menyukainya, dan tidak ada yang bisa menghalangimu untuk itu. Walaupun orang itu tidak akan pernah bisa melihatmu sekalipun—“

“Hei, hei, hentikan kalimat-kalimat menjijikkanmu itu! Kau terdengar seperti penyair puisi sok romantis yang ada dalam adegan TV menjijikkan sekarang. Dan parahnya, kau bahkan lebih menjijikkan daripada itu,” cibir Madeley.

“Cih,” umpatku.

“Apa kau tidak ingat kalau kau sama saja denganku? Bahkan kau lebih parah daripada itu—jatuh cinta hanya dengan melihat poster di pinggir jalan,” sindirnya.

“Sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Aku mau tidur,” seruku, berjalan ke kamarku.

Begitu mataku menangkap kasur tuaku yang masih cukup nyaman untuk ditiduri, langsung saja kuhempaskan diriku ke atasnya. Aku mengatupkan kedua kelopak mataku, menunggu diriku tertidur dengan sendirinya.

TBC

One thought on “Magic Book Part 3

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s