I LOVE YOU [LAST PART]

Author: SofianiTaengo

Cast:

– Cho Kyuhyun

– Choi Minji

– lee Donghae

– all Suju member

Genre: Friendship, Love

Yang lupa bisa liat lagi part sebelumnya :D

Prolog ]  Part 1 ]  [ Part 2  ]  Part 3 ]

============================================================

Hari-hariku kelabu, ketika sosokmu tidak lagi dalam jarang pandangku. Langit yang biasa cerah kini berubah ketika dirimu sudah tidak ada dalam genggamanku lagi…

***

Choi Minji POV

Aku tersadar di sebuah ruangan dengan bau alkohol yang menyengat. Aku benci alkohol! Baunya membuat kepalaku pusing dan seperti di sakit. tunggu. Aku ada dimana?

Aku mencoba membuka mata dan melihat ruangan serba putih dan hijau. Tidak jauh aku melihat eomma dan appa sedang duduk sambil tertidur di sofa. Disebelahku ada Siwon oppa yang sedang tidur dengan kepala terkulai di kasurku. Tidak jauh dariku aku melihat sosok donghae oppa yang masih berdiri sambil memandang keluar jendela. Aku sedikit mengerang dan sontak membuat hae oppa berbalik dan melihatku sadar. Wajahnya yang tadi serius berubah menjadi bahagia dan menghampiriku.

“Minji-ssi! Kau sudah sadar? Gwenchana?” tanyanya terlihat cemas. Aku tersenyum pelan. Memang benturan di kepalaku memang sangat keras. Tapi aku bersyukur tidak ada yang salah dengan otakku sepertinya. Hanya sedikit sakit bila di gerakan.

“aku sangat khawatir. Aku mendengar kau kecelakaan saat sedang menuju ke gedung bioskop tempat kita akan bertemu.Aku..”

 “Sudah berapa lama aku pingsan oppa?” ujarku memotong ucapannya.

“2 hari. Kami pikir kau koma karena benturan yang sangat keras. Apalagi tubuhmu terpental jauh. Tapi keajaiban kau sama sekali tidak cacat.” Ujarnya senang. Lalu aku mencoba bergerak tapi ditahan olehnya.

“Ani. Jangan bergerak dulu. Kau masih sangat lemah.” Ujarnya.

“Aku bukan gadis yang lemah oppa.” Ujarku dan tidak sengaja menyenggol Siwon oppa yang tertidur. Dia terperajat bangun dan memandangku.

“Minji-ah! kau sadar!” ujarnya memelukku erat.

“Yak! Oppa! Lepaskan aku! Sesak!” ujarku. Dia benar-benar memelukku erat. apa dia tidak sadar bahwa badannya itu penuh dengan otot yang bisa membunuhku?

Dia melepaskan pelukannya dan hendak membangunkan appa dan eomma namun aku cegah.

“Ani. Mereka kelihatan lelah oppa. Biarkan mereka tidur untuk beberapa saat.” Ujarku. Siwon oppa mengerti dan mengangguk.

“Kau butuh sesuatu Minji-ssi? Biar aku ambilkan.” Tawar donghae oppa.

“Bisakah oppa mengambilkanku teh hangat? Gomawoyo.” Ujarku. Dia hanya mengangguk dan pergi keluar. Aku menghembuskan nafas sejenak.

“Kau.. tau tidak siapa yang membawamu kesini?” tanya Siwon oppa sambil melirikku. Aku memandangnya dan menggeleng.

“Ani. Nugu?”

“Aku ingin mengatakannya daritadi. Tapi aku sangat menjaga perasaan Donghae. Kalian berduakan sangat dekat.”

“Hubungan kami hanya sebatas teman oppa. Tidak lebih.” Ujarku pelan.

“Jinjja? Hajiman, donghae sepertinya tidak melihat hubungan kalian seperti itu.”

“Oppa! Cepat katakan saja padaku siapa yang menyelamatkanku?!” ujarku tidak sabar.

“Kau benar-benar ingin tau? Apa yang akan kau lakukan setelah kau tau?” tanyanya dengan senyum jahil. Aku memukulnya pelan.

“Aish! oppa mau menggodaku?! Aku sedang dalam tidak mood untuk bercanda!” ujarku. Dia akhirnya tertawa kecil.

“Arraseo. Yang menolongmu kesini, Cho Kyuhyun.” Ujar Siwon oppa membuatku tersentak kaget. Cho Kyuhyun?

“Maksud oppa… Cho Kyuhyun maknae super junior? Namja menyebalkan yang sangat egois dan menyimpan dendam kesumat kepadaku?” tanyaku meyakinkan.

“Nae. Dia langsung memanggil ambulans dan terus menungguimu sampai kami semua datang.” Ujarnya.

“Sekarang..dimana dia?” tanyaku.

“Sudah pulang. Dia bilang dia hanya ingin menolongmu. Dia tidak mau berurusan lebih jauh selain mengantarmu ke rumah sakit.” jelas Siwon oppa membuatku kecewa. Jadi Kyu hanya membantuku karena semata-mata aku memang orang yang perlu bantuan.

“Kenapa mukamu lemas begitu? Jangan sedih. Kau harusnya melihat wajahnya saat itu.”

“wae?”

“Sangat kacau. Aku tau dia memang dingin saat bertemu denganku dan bilang bahwa dia tidak mau berurusan lebih jauh. Tapi wajahnya benar-benar kusut. Dia tampak cemas dan tegang. Mungkin jauh di dasar hatinya dia takut kau kenapa-kenapa.”

“Kyuhyun, punya hati? Hah! Namja menyebalkan seperti itu punya hati? Tidak mungkin! Hatinya sudah tenggelam bersama rasa keegoisannya dan gengsinya yang besar.” Ujarku.

“Aish! kau benar-benar harus melihatnya sendiri! Kau pasti tidak akan percaya ekspresinya saat itu.” jelas Siwon oppa. Aku hendak bertanya lagi saat Donghae oppa masuk kedalam kamar membawa secangkir teh.

“Ini dia. Mianhae menunggu lama. Aku juga membuatku teh untukmu woonie.” Ujarnya dan menaruh dua gelas teh di meja.

“Gomawo.” Ujarku.

“Cheonma. Aku akan melakukan apa saja untukmu yang penting kau cepat keluar darisini. Nae?” ujarnya mengacak-ngacak rambutku. Aku hanya tersenyum. Otakku masih berpikir tentang Kyuhyun dan bagaimana cara aku mengucapkan rasa terimakasihku padanya?

***

Cho Kyuhyun POV

Aish! aku tidak bisa tidur!

Bayangan Minji yang tergeletak di jalan dengan bersimbah darah terus terngiang dalam otakku. Bagaimana keadaan yeoja itu saat ini? apa dia sudah sadar? Aish! kenapa aku jadi begitu perhatian padanya?

Aku melangkah keluar kamar dan pergi ke dapur, mengambil air minum dari kulkas dan meminumnya langsung. Saat aku hendak kembali ke kamar aku hampir bertubrukkan dengan seseorang.

“Yak! Wookie! Kau mengagetkanku!” ujarku kesal.

“Aish! kau sendiri juga mengagetkanku! Apa yang kau lakukan malam-malam begini?” tanyanya.

“Aku tidak bisa tidur. Aku baru saja minum dan hendak kembali ke kamar. Kau sendiri, apa yang kau lakukan?” tanyaku.

“Aku juga tidak bisa tidur.” Ujarnya dan berjalan ke ruang TV. Aku mengikutinya dan duduk disebelahnya. Wookie hyung menyalakan TV dan menonton beberapa acara malam. Kami berdua sama-sama diam. sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Kyu.”

“hmm.”

“Bagaimana…perasaanmu sebenarnya terhadap Minji-ssi?” tanyanya benar-benar membuatku kaget dan refleks memandangnya. Aku mengerjapkan mataku kaget dan langsung menguasai diri untuk bersikap tenang.

“Biasa saja.”

“Maksudmu?”

“Yah maksudku perasaanku padanya benar-benar netral. Tidak benci dan tidak juga suka. Aku hanya menganggapnya orang lain sekarang hyung. jadi aku menganggapnya hanya orang yang sama-sama denganku menghirup udara dan hidup di bumi.” Jelasku.

“Jinjja? Semudah itu kau melupakannya? Aku jadi ingat dulu saat kau hampir gila dan tertabrak hanya karena mencarinya. Kau yakin pengorbananmu itu mau kau sia-siakan begitu saja?”

“Maksud hyung?”

“Yah.. kau sudah bekerja keras mencarinya. Juga celaka gara-gara dia. Hanya karena hal sepele kau melupakannya. Rasanya itu tidak adil untukmu. Kau sudah bersusah payah mencarinya, dan saat dia kembali muncul kau malah hendak menghapuskannya dari ingatanmu. Jangan membohongi perasaanmu sendiri kyu.” Ceramahnya.

“Siapa yang membohongi perasaanku hyung? sudah aku bilang aku tidak punya rasa apapun padanya. Dia sudah kuanggap orang lain bagiku.” Ujarku lagi.

“Hajiman, matamu berkata lain kyu.”

“Mwo?”

“Matamu mengatakan kau mencintai Minji. Kau ingin selalu bersamanya dan melihatnya tersenyum. Kau ingin selalu melihatnya bahagia dan tertawa riang. Kau benci ketika orang merebutnya darimu. Kau ingin dia selalu ada di dekapanmu. Iya kan?” tanyanya.

Apa hyungku ini seorang peramal? Atau aku yang terlalu mudah terbaca?

“Kau bicara apa sih hyung. kau tidak tau apa-apa soalku hyung. jadi..jangan bersikap seakan-akan kau adalah orang yang tau jelas soal hidupku. Uruslah urusanmu sendiri hyung.” ujarku dingin dan kembali ke kamar.

***

Choi Minji POV

Yap! Sudah 3 hari aku dirumah sakit. dan hari ini aku diperbolehkan pulang. Siwon oppa dan Donghae oppa berniat menjemputku dan langsung mengantarkanku ke rumah. Tapi sudah 1 jam aku menunggu kenapa mereka tidak datang-datang? Aneh.

Aku memandang barang-barang di sekitarku. Tidak mungkin aku pulang naik bus. Kondisi badanku masih lemah dan banyak sekali barang yang harus aku bawa. Appa dan eomma ada undangan mendadak dan mereka tidak bisa membatalkannya. Sebenarnya bisa sih, tapi aku meminta mereka tetap pergi dan bilang bahwa aku sudah mandiri. Dan baru sekarang aku menyesal. Harusnya aku membiarkan mereka membatalkan acaranya dan mengantarku. Aku sangat ingin segera pulang dan meninggalkan gedung yang penuh dengan bau alkohol yang aku benci.

15 menit kemudian tidak ada tanda-tanda mereka muncul. Aku sudah menyerah dan hendak menyetop taksi saat tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depanku. Aku memandang mobil itu dengan kesal. Aish! bisakah dia maju dan tidak menghalangiku yang hendak memanggil taksi?!

Kata-kata umpatan sudah hampir keluar dari mulutku saat tiba-tiba si pengendara keluar dan melangkah ke arahku. Aku tercekat. Dan jantungku berdegup lebih cepat. Orang itu mengangkut semua barang-barangku dan memasukannya kedalam bagasi. Aku masih saja berdiri di tempatku terpaku. Apa benar namja yang sedang membantuku saat ini adalah..cho kyuhyun?

“Apa yang sedang kau lakukan dengan semua barangku?! Aku sedang tidak menunggumu!” ujarku langsung mengumpulkan kesadaranku.

“Kau pikir aku hendak menemuimu? Aku hanya disuruh siwon dan donghae hyung!” ujarnya dingin dan masuk kedalam mobil. Aku masih berdiri di luar menatapnya. Akhinya setelah hampir 2 minggu, dia bicara padaku!

“Sampai kapan kau mau beridiri disana agasshi?! Kau pikir aku pengangguran?! Cepat masuk!” perintahnya keras mengangetkanku dan membuatku refleks masuk kedalam mobil.

***

Benar-benar! didalam mobil keadaan begitu hening. Kami berdua sama-sama canggung dan tidak tau membicarakan apa. Sudah 2 minggu kami melaksanakan aksi perang dingin. Dan sekarang, kami harus satu mobil. Padahal jarak rumah dan rumah sakit cukup jauh.

“Siwon oppa..kemana?” tanyaku.

“Sibuk.”

“Donghae oppa?”

“Sibuk.” Jawabnya singkat dan dingin. Dia juga tidak menatapku sama sekali. aish! apa yang harus aku lakukan?

***

Cho Kyuhyun POV

Apa yang ada dipikiran Donghae dan Siwon hyung sih?! Apa mereka terlalu bodoh atau memang sengaja! Masa mereka menyuruhku menjemput Minji di rumah sakit hanya karena mereka sibuk dan tidak bisa menjemputnya? Kakak dan pacar macam apa itu?!

Dan lagipula, apa yang harus aku obrolkan dengan gadis ini? Tidak mungkin aku melontarkan lelucon atau bertanya-tanya tentang kehidupannya karena aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak peduli padanya. Tapi aku juga jadi merasa tidak nyaman harus terus berada dalam keheningan menyedihkan seperti ini? Aish! apa yang harus aku lakukan?

“kenapa..kenapa kau menyelamatkanku?” tanyanya tiba-tiba membuatku refleks memandangnya sekilas.

“mwo?”

“Harusnya kau biarkan aku tergeletak di pinggir jalan saja. biarkan aku membusuk disitu. Biarkan aku sekarat disitu. Itu bukannya bagus kan? Setidaknya orang yang kau benci sudah mati dan kau bisa tenang.” Ujarnya dingin. Aku tidak menyangka. Gadis ini, kenapa dia berkata begitu sadis dengan wajah dingin begitu?

“Dengar nona, memangnya siapa yang membencimu? Sekarang aku tidak memiliki rasa apapun padamu. Baik itu benci, suka ataupun dendam. Aku sudah menganggapmu sebagai orang lain. Semua kenangan tentangmu sudah aku hapus. Aku tidak ingat apa-apa lagi tentangmu selain fakta bahwa kau adalah adik Siwon hyung dan yeoja chingu Donghae hyung.” ujarku. Entah kenapa kata terakhir sangat berat aku ucapkan.

“Kenapa melakukan hal setengah-setengah? Daripada kau mengapuskan memorimu tentangku, kenapa tidak sekalian kau enyahkan aku dari hadapanmu? Bereskan? Bukannya kau tidak suka mengerjakan sesuatu setengah-setengah? Hahaha” ujarnya dan tertawa hambar. Aku hanya terdiam. Bagaimana mungkin gadis ini berpikir aku bisa membunuhnya? Bersikap seperti ini saja membutuhkan waktu lama untuk aku melatihnya. Menghapuskan ingatanku tentangnya saja sudah membuatku frustasi. Bagaimana mungkin aku tega membunuhnya? Aku bisa-bisa gila dan bunuh diri.

“Aku masih bisa berpikir rasional untuk melakukan semua itu. bagaimanapun aku masih menghargai Siwon hyung.” ujarku. Dia tersenyum kecut.

“Jadi kau menyelamatkanku hanya karena Siwon oppa?” tanyanya.

“Nae.” Jawabku singkat.

“Turunkan aku.”

“mwo?!” ujarku kaget dan memang Minji yang menatapku marah.

“Aku bilang turunkan aku pabo! Berapa sih IQ mu sampai aku harus mengula semua kata-kataku?!” ujarnya kasar.

“Andwae.”

“Wae?”

“Aku sudah berjanji pada semua orang untuk membawamu pulang dengan selamat dan utuh.” ujarku tegas.

“Percuma. Hatiku sudah tidak utuh dan otakku sudah bergeser dari tempatnya. TURUNKAN AKU SEKARANG TUAN CHO! ATAU AKU AKAN LOMPAT DARI MOBILMU!” ujarnya.

Aish! Sejak kapan yeoja ini menjadi begitu garang?!

***

Choi Minji POV

Akhirnya namja itu menyerah dan memberhentikan mobil di dekat sebuah Cafe. Aku segera turun dan menatapnya marah.

“Antarkan saja semua barangku kerumah! Bilang pada mereka aku pulang naik taksi!” ujarku dan berbalik pergi.

“yak Choi Minji! Jangan seenaknya!” ujar Kyuhyun turun dan berteriak padaku.

“Oh ya?! aku tidak boleh bersikap sesukaku? Bagaimana denganmu?! Kenapa kau boleh bertingkah seenaknya sedangkan aku tidak?!” ujarku dengan nada menantang. Aku sudah muak. Sungguh! Dia benar-benar menyebalkan!

Kyuhyun hanya terdiam. Aku berbalik dan berjalan menjauhinya. Aku sama sekali tidak berharap dia menahanku karena aku benar-benar tidak mau melihat wajahnya lagi. Air mataku turun. Sial! Kenapa sih Choi Minji kau tidak bisa untuk tidak menangis ketika berhadapan dengan namja itu?! apa kau sebegitu cengengnya?!

***

Aku terduduk disebuah taman. Saat itu hari sudah mulai gelap. Dan aku tersesat. Ya, TERSESAT! Aku tadi naik bus dan ketiduran! Dan sekarang aku entah ada di belahan bumi bagian mana! Yang jelas aku benar-benar buta arah!

Aku terduduk kesal dan melepaskan sepatuku. Aish! daritadi aku ingin melepaskannya karena kakiku benar-benar sakit. benar saja. Kakiku penuh dengan luka lecet. Aish! aku memang tidak cocok berjalan terlalu lama. Belum apa-apa kakiku sudah luka-luka duluan.

Aku menatap sekelilingku. Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa tinggal di hotel karena aku tidak membawa uang cukup. Kartu ATM dan uangku aku titipkan pada eomma. Dan sekarang aku sudah tidak punya uang. Bahkan untuk menginap di losmen kecil.

Semua gara-gara namja itu! kalau saja dia tidak membuatku marah dan bersikap dama di mobil, mungkin saat ini aku sudah tiba dirumah dan berbaring di ranjangku yang empuk dengan semangkuk  sup buatan eomma. Huwaa! Memikirkan sup perutku keroncongan!

Aku membuka tasku dan mencari uang sisa yang bisa aku dapatkan. Hanya 3000 Won. Apa yang harus aku perbuat dengan uang sedikit ini?! ini hanya cukup untuk membeli minuman murahan yang tidak ada rasanya.

Aku kembali memaki diri dan melemparkan uang itu ke tanah. Air mataku mulai turun. Kenapa nasibku sial sekali? Aku bertengkar dengan sahabat masa kecilku hanya karena masalah yang menurutku sepele. Aku tersesat entah di belahan bumi bagian mana dan tidak mempunyai uang sepeserpun. Lalu kepalaku sakit karena masih diperban akibat kecelakaan sialan itu! SIAL!

“Kenapa kau menangis di taman sendirian agassi?” ujar seseorang mengagetkanku. Sontak membuatku berbalik ke belakang dan melihat seorang pria menatapku dengan matanya yang garang. BAHAYA!

“Bukan urusanmu.” Ujarku ketus dan berusaha menjauh. Tapi orang itu menahan lenganku sontak membuatku mendorongnya.

“Aish. kau kasar sekali agassi. Kau sepertinya habis menangis. Waeyo? Putus dengan namja chingumu?” tanyanya lagi sambil menyeringai. Mengerikan! Seringainya mengingatkanku akan film horor boneka pembunuh Chukki. Dan lagi, apa katanya, putus dengan namja chinguku? Bagaimana bisa aku putus dengan namjaku kalau aku tidak memilikinya sama sekali.

“aku sedang menunggu temanku!” ujarku keras. Dia tambah mendekat.

“Kalau begitu bagaimana kalau aku temani?” tanyanya dengan mata liarnya. Aku bisa merasakan degup jantungku. Eomma! Ottohke?

“Jangan mendekat!” ujarku marah. Tapi namja itu hanya tertawa keras.

“Wae? Kau takut?” tanyanya dan mendekatiku. Wajahnya kini hanya beberapa senti dari wajahku. Dan bisa kurasakan bau alkohol dari mulutnya. GAWAT! Orang ini mabuk!

Aku mencoba menendangnya atau melepaskan diri, tapi tenaganya benar-benar kuat.

“Yak! Lepaskan aku bodoh!” ujarku berteriak kencang.

“Hahaha berteriak sesukamu putri kecil. Tidak ada orang di sekitar sini.” Ujar orang itu tambah membuatku pucat. Bagaimana ini? Tamatlah riwayatmu Minji!

Aku menutup mataku saat tiba-tiba aku mendengar pukulan sangat keras. Aku membuka mataku dan melihat Donghae oppa berdiri disana menerjang namja gila itu. aku bisa melihat dia seperti orang kesetanan. Dia berkali-kali meninju muka orang itu padahal wajah orang itu sudah babak belur.

Setelah itu, namja gila itu kabur dan lari terbirit-birit. Tapi sebelum pergi, aku bisa mendengar bahwa namja itu mengatakan sesuatu,

“tunggu pembalasannya! Aku tidak akan tinggal diam!”

Aku menatap namja itu ngeri dan berbalik menatap hae oppa. Dia menghampiriku dan memandangku khawatir.

“Minji-ah, gwenchana?” tanyanya lembut. Aku tidak bisa menjawab dan hanya menatapnya. Aku masih syok dan tidak bisa berkata apapun lagi. Tubuhku menggigil karena aku tergeletak di taman yang masih menyisakan beberapa salju dimana-mana.

Melihatku kedinginan, Hae oppa langsung melepas jasnya dan memakaikannya padaku, dia memelukku dengan hangat. Menenggelamkan diriku dalam dirinya.

Saat itu tangisku langsung pecah. Aku tidak bisa menahan diri dan menyadari bahwa tadi aku hampir saja mengubah statusku menjadi tidak perawan jika dia tidak segera datang.

Saat itulah aku, merasa amat sangat aman.

***

Aku terbangun di sebuah kamar biasa. Kepalaku pusing dan seluruh badanku rasanya remuk. Aku bangkit dan memandang sekelilingku. Dimana aku?

“Sudah sadar?” tanya sebuah suara membuatku reflek menoleh. Aku melihat Hae oppa duduk di sebuah sofa sambil tersenyum.

“Oppa, aku..”

“Tenang saja. semuanya sudah aman. Kau sekarang ada penginapan. Tadi malam kau pingsan dan terpaksa aku bawa kesini. Semua orang cemas mencarimu. Mereka kira kau diculik.” Ujarnya.

“Bagaimana oppa bisa disana?”

“Aku?Aku baru pulang dari pesta bersama teman-teman SMAku. Dan saat itu aku ditelfon Siwon hyung bahwa kau hilang. Aku langsung hendak mencarimu saat aku melihat seorang yeoja sedang diganggu berandalan. Aku pikir itu bukan dirimu, tapi saat mendengar kau berteriak, akhirnya aku yakin bahwa yang ada dalam bahaya itu kau.” Ujarnya tersenyum lembut.

Aku menunduk. Aish! kenapa pipiku jadi merona seperti ini?

“Oppa, gomawoyo.” Ujarku pelan.

“Tidak usah bilang terimakasih. Aku benar-benar tulus menolongmu. Oh ya! nanti siang keluargamu akan menjemputmu kemari. Jadi sebaiknya kau tunggu disini.” Ujarnya.

“Oppa mau kemana?”

“Aku ada jadwal pagi ini. sebenarnya aku ingin membatalkannya karena tidak enak harus meninggalkanmu sedang sakit sendirian. Hajiman, manajer memarahiku dan mengatakan aku harus datang. Terpaksa. Kau tidak apa-apa aku tinggal?” tanyanya.

“gwenchana oppa. Pergilah. Jangan mengecewakan fansmu.” Ujarku dan tersenyum. Dia balas tersenyum dan mengacak-ngacak rambutku.

“Arasseo. Aku pergi. Hati-hati.” Ujarnya dan pergi. Aku tersenyum. Gomawo oppa.

***

“Yak! Ceritakan secara detail padaku!” ujar Hanna 3 hari kemudia ketika aku menceritakan padanya tentang kejadian waktu itu.

“Aish! aku sudah menceritakan padamu 5 kali!” ujarku.

“Tapi kau belum menceritakannya secara detail!”

“Kau mau sedetail apa?! Saat itu keadaanku setengah hidup setengah mati. Aku tidak terlalu ingat. Lagipula aku tidak mau mengingat kejadian mengenaskan itu.” ujarku sambil memandangnya.

“Aish! pabo! Kejadian romantis begitu kau mau lupakan?!” ujarnya dengan nada histeris. Aku langsung menjitak kepalanya.

“berlebihan!” ujarku. Dia hanya meringis lalu beberapa saat kemudian menatapku dengan serius.

“Lalu, setelah kejadian itu, bagaimana perasaanmu pada Donghae oppa?” tanyanya. Aku gelagapan.

“Ya..Yak! kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?! tentu saja perasaanku tidak pernah berubah!” ujarku ketus.

“Jinjja? Masa kau jadi tidak suka padanya sih? Kau masih mau saja mengejar-ngejar kyuhyun yang bodoh itu?”

“Yak! Siapa yang bilang aku mengejar-ngejar namja setan itu?!”

“Tidak usah membantah. Kau itu mudah terbaca Choi Minji.” Ujarnya. Cih! Segampang itukah aku terbaca?

“aish! baiklah! Aku memang menyukai namja itu!” ujarku menyerah.

“Jadi kau masih menyukainya sampai sekarang? Minji! Sadarlah! Dihadapanmu sudah ada namja baik hati yang siap sedia membantumu dan relakan segalanya hanya untukmu! Dan kau masih saja mengejar-ngejar namja egois yang tidak tau terimakasih dan menyebalkan itu?! Yang benar saja!” ujar Hanna. Aku terdiam.

“Molla. Kemarin aku memang sangat senang sekali Donghae oppa ada disampingku dan selalu ada ketika aku butuh. Tapi didasar hatiku, aku masih menyimpan rasa pada kyuhyun. Aku tidak tau. Tapi hatiku selalu bertolak belakang dengan apa yang aku mau. Aku ingin sekali menghapuskan nama kyuhyun dari otakku dan menjadikannya hanya sebagai kenangan, hajiman.. tidak bisa. Setiap kali aku melamun, aku pasti memikirkannya. Hanna, menurutmu aku kenapa? Kenapa aku bisa begitu tergila-gila pada namja yang jelas-jelas sudah sangat membenciku?” tanyaku. Hanna memandangku dan menggenggam tanganku.

“itu artinya, didalam dirimu sebenarnya kau tidak menginginkan kenanganmu dengan kyuhyun dihapus. Tubuhmu menolaknya Minji.” Ujar Hanna.

“Mwo? Aku tidak mengerti.” Ujarku menatapnya dengan polos.

“Aish! kau ini. suatu saat kau akan mengerti. Sudah ya! aku harus pergi. Aku ada janji.” Ujarnya tiba-tiba beranjak.

“dengan siapa?”

“Seseorang. Sudah ya! sampai nanti!” ujarnya dan pergi.

“Yak Hanna! Jelaskan padaku dulu apa maksudmu tadi hah!”  teriakku dari dalam kamar.

***

Cho Kyuhyun POV

Sudah satu minggu. Satu minggu sejak kejadian yeoja itu marah padaku dan pergi entah kemana. Saat aku pulang Siwon hyung benar-benar memarahiku habis-habisan. Dia bilang aku benar-benar tidak bertanggung jawab. Jangan salahkan aku! Salahkan saja adiknya yang sedikit GILA itu! dia sendiri yang minta turun.

Lalu aku mendengar dia hilang. Dan semua orang panik. Semua orang kembali menyalahkanku. Aish! bisa tidak sih aku memiliki masalah yang tidak ada sangkut pautnya dengan yeoja itu?! dan kenapa yeoja itu selalu membuat hidupku tidak tenang?!

Aku mencarinya sampai keliling seoul. Dan aku sempat menemukannya. Yah.. aku menemukannya sedang berpelukan dengan seorang namja di sebuah taman.

Kau tau namja itu siapa? Yah.. siapa lagi kalau bukan Lee Donghae! Dan entah kenapa hatiku benar-benar hancur melihat semua itu. selama ini aku pikir aku benar-benar sudah mengenyahkan choi minji dari otakku dan menghilangkan perasaanku padanya. Ternyata semuanya masih membekas.

“Kenapa kau melamun?” tanya Sungmin hyung mengangetkanku.

“Yak hyung! kau memubunuhku?!” tanyaku berteriak.

“Aish! cho kyuhyun kecilkan suaramu! Jarakmu dan aku tidak kurang dari lebih dari 1 meter! Wae?” tanyanya dan duduk di sebelahku. Aku menghembuskan nafas.

“ani. Hanya sedang melamun.” Ujarku.

“Melamunkan siapa? Choi Minji?” tanyanya tepat sasaran. Kenapa semua orang sepertinya tau apa yang sedang kupikirkan. Apa aku begitu mudah dibaca?

“Benarkan dugaanku?” tanyanya dengan senyum puas.

“Aish! Kenapa sepertinya semua orang tau apa yang sedang aku pikirkan?! Apa aku begitu mudah dibaca?” ujarku.

“Mudah untuk tau apa yang ada dalam pikiranmu itu kyu. Pasti tidak akan jauh dari yeoja bernama Minji. Wae? Kau kangen padanya? Sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Kau tau dia kemana?” tanyanya. Aku mendengus kesal.

“Kenapa kau bertanya padaku? Tanyakan saja pada namja chingunya! Atau tidak pada Siwon hyung! mereka pasti tau.” Ujarku dengan kesal. Sungmin hyung terkekeh.

“Kau cemburu?”

“Ani.” Jawabku singkat.

“Jinjja?”

“Apa alasanku harus cemburu padanya hyung? Sudah aku bilang bahwa aku sudah tidak menganggapnya siapa-siapa lagi!” ujarku.

“Lalu kenapa kau masih memikirkannya? Bukankah itu artinya dia orang yang cukup berarti bagimu sampai-sampai kau masih sering memikirkannya?” tanya Sungmin hyung membuatku terdiam.

“Aku..”

“Tidak usah mengelak lagi kyu. Kau masih menyukainya kan?” tanya sungmin hyung malah membuatku bungkam.

“Sebenarnya.. aku juga masih bingung dengan perasaanku sendiri hyung. Aku tidak mengerti. Aku benar-benar membencinya. Tapi kenapa dia masih saja terus bergentayangan dalam otakku.” Jelasku. Hanya Sungmin hyung aku bisa bercerita sejujur-jujurnya. Dialah tempat aku bisa mengungkapkan siapa diriku sebenarnya.

“Sudah jelas. Kau masih menyukainya kyuhyun-ah. Tapi rasa gengsimu terlalu tinggi untuk mengakui itu semua. Cobalah bersikap jujur dan tidak usah bertingkah seolah-seolah kau benar-benar sudah melupakan gadis itu. Jangan membohongi perasaanmu sendiri.” Ujar Sungmin hyung panjang lebar.

“Jadi, apa aku harus beramah tamah lagi padanya dan bersikap bahwa kejadian masa lalu sudah aku lupakan? Tapi dia pasti akan membuatku jatuh lagi! Dan kenyataan bahwa dia sudah milik hae hyung membuatku ragu untuk kembali menjadi kyuhyun yang dulu baginya.” Ujarku. Sungmin tertawa kecil.

“Ada satu fakta yang mungkin akan mengubah itu semua Kyu. Tidak akan aku beritahu sekarang. Aku akan biarkan kau tau sendiri. Hahaha” ujarnya dan pergi. aku memandangnya.

“Yak! Hyung! Beritahu aku apa fakta itu?!” tanyaku dengan keras. Tapi Sungmin hyung hanya tertawa keras dan pergi ke kamar. Aish! dia benar-benar membuatku penasaran.

***

Choi Minji POV

Sudah satu bulan. Yap 1 bulan yang tenang. Tanpa masalah, tanpa tekanan, tanpa perlu aku memikirkan banyak masalah, tanpa Donghae oppa, tanpa Cho Kyuhyun.

Sudah satu bulan aku pergi ke London untuk menenangkan diri. Terlalu banyak masalah yang aku hadapi di korea. Aku benar-benar butuh ketenangan!

Walaupun aku ada di london, tapi aku masih tetap berhubungan dengan Donghae oppa, Siwon oppa dan Hanna. Mereka rajin mengirimiku email dan menelfonku.

Tapi hari ini, eomma memintaku pulang kembali ke korea karena tiba-tiba appa jatuh sakit. Jantungnya kumat dan dia harus di operasi. Aku benar-benar syok waktu eomma menelfonku tadi pagi.

-Flashback-

“Minji-ah! kau harus pulang sekarang!” ujarnya tanpa basa basi.

“Mwo? Wae eomma?” tanyaku heran.

“Appa…appamu.. “

“Ne, wae? Ada apa dengan appa?” tanyaku dengan tegang. Aku bisa mendengar disebrang sana eomma menangis.

“Appamu..kena serangan jantung. Dan beliau harus segera di operasi. Eomma tidak memiliki siapa-siapa untuk membantu. Oppamu sedang sibuk dengan jadwalnya.” Jelas eomma sambil menangis.

“Aish eomma.. jangan menangis. arraseo! Aku akan pulang ke korea siang ini juga. eomma tunggu aku di rumah sakit!” ujarku dan menutup telfon.

-Flashback end-

Dan sekarang aku berada di Heathrow Airport menunggu kapan giliran pesawatku lepas landas.

***

Cho Kyuhyun POV

Aku memaksakan diri untuk tersenyum kepada semua orang yang aku kenal. Saat ini aku sedang berada di sebuah pesta pembukaan restoran salah satu kenalan appa. Beliau memaksaku ikut karena mereka akan mengenalkanku pada seseorang. Aish! Apa appa tidak tau bahwa aku sedang tidak tertarik kepada wanita?

“Cobalah untuk tidak memaksakan senyummu itu.” ujar eomma berbisik. Aku memandangnya dan dia hanya memandangku serius.

“Eomma dan appa sengaja mengajakmu kesini karena sudah sebulan lebih kau bagaikan mayat hidup! Dan apa kau mau terus sendiri? Minji-ah saja sudah memiliki kekasih. Jadi, manjakan dirimu. Banyak yeoja cantik disini.” Ujarnya dan pergi.

Cih! Kalau saja eomma tau alasan aku jadi seperti orang gila sebulan ini karena gadis yang baru saja eomma banggakan itu. dia menghilang lagi dari Korea selama 1 bulan ini. Aku tidak berani bertanya pada Siwon hyung. apalahi donghae hyung. Bisa-bisa mereka mengejekku habis-habisan. Padahal aku benar-benar penasaran setengah mati.

Aku berjalan ke meja tempat minuman. Aku melihat beberapa gadis memandangku dengan air liur yang menetes dari mulut mereka. Aish! apa bisa tidak mereka memandangku dengan WAJAR?! Yang bisa menatapku dengan wajar hanya gadis itu. Hanya dia yang menganggapku manusia biasa dan memeprlakukanku dengan normal.

“Kyu. Kemari sebentar.” Panggil appa membuatku tersentak dari lamunanku dan mendekatinya.

“Mwo?” tanyaku dingin.

“Kenalkan. Ini teman lama appa dan putrinya.” Ujar beliau membuatku memandang orang-orang dihadapanku. Dan tiba-tiba aku tersentak. Yeoja dihadapanku..diakan..

“Kenalkan Kyu, ini Han Ajusshi dan ini putrinya Han Hanna.” Ujar eomma. Aku memandang gadis itu yang memandangku dengan acuh. Lalu aku mengulurkan tanganku dan langsung memasang tampang anak baikku.

“Annyeong Ajusshi. Cho Kyuhyun imnida.” Ujarku dengan sopan.

“Wah. Aku sudah mendengar banyak soalmu dari appamu. Ternyata kau lebih tampan dari yang selama ini aku lihat di layar kaca. Dan sikapmu juga ternyata sangat sopan. Benar-benar calon menantu idaman.” Ujar Han Ajusshi.

“Cih!” ujar Hanna dengan pelan. Tapi aku tetap bisa mendengarnya. Dia menatapku sinis.

“Kyuhyun-ah, kau tau alasan appa mengenalkanmu pada Han Ajusshi dan putrinnya?” tanya appa. Aku menggeleng.

“Kami semua berniat menjodohkanmu dengannya.” Ujar eomma senang.

“MWO?!” teriakku dan Hanna berbarengan. Kami berdua saling pandang tidak percaya.

“Appa?! Benarkah itu? benarkah aku akan dijodohkan?” tanya Hanna terlihat syok.

“Ya sayang. Kau sudah besar. Appa takut appa dan eomma tidak bisa menjagamu nanti. Kalau kau menikah dengan Kyuhyun, appa akan sangat tenang sekali.” ujar Han Ajusshi membuatku mual.

“Hajiman appa.. aku..”

“Sudah. Kami tidak memaksa kalian cepat menikah. Sekarang lebih baik kalian berdua melakukan pendekatan dulu. Aku dengar kalian berdua satu SMA kan? Masa tidak pernah bertemu sama sekali.” ujar appa. Aku hanya diam. Aish! bertambah lagi satu masalahku. Apa yang harus aku lakukan?

“Kalau begitu kami tinggalkan kalian untuk saling memperkenalkan diri. Anak muda biasanya pemalu jika dihadapan mereka ada orang dewasa.” Ujar eomma. Appa dan Han ajusshi mengangguk dan pergi.

“Aku tidak mau dijodohkan dengan lelaki sepertimu!” ujar Hanna pelan.

“kau pikir aku mau? Dijodohkan dengan gadis garang sepertimu. Kau sama sekali bukan tipeku.” Ujarku. Dia menatapku sinis. Lalu kami berjalan keluar gedung dan duduk disalah satu bangku taman.

“Aku tidak mau menikah dengan namja yang sudah melukai perasaan sahabatku begitu dalam.” Ujarnya lagi.

“Aish! bisakah jika bertengkar denganmu tidak membawa masalah itu?! itu sudah lama sekali!” ujarku dengan nada bosan.

“tapi masalah lama itu masih membekas dalam hati temanku. Dan kau juga sama sekali belum minta maaf padanya!” ujar Hanna. Aku memandangnya heran.

“harusnya sahabatmu itu yang minta maaf padaku! Dia yang berbuat salah kenapa jadi aku yang harus bertanggung jawab?” tanyaku dengan entengnya. Hanna memandangku tidak percaya.

“Sulit berbicara dengan orang yang otaknya benar-benar sudah tidak jalan sebagaimana mestinya.” Ujar yeoja itu dan pergi. tapi sepertinya dia tidak memperhatikan langkahnya dan tersandung kakinya sendiri. Otomatis dia hampir saja jatuh kalau saja aku tidak refleks menahan tubuhnya.

“Pabo. Mana ada orang yang tersandung kakinya sendiri?” tanyaku dengan nada mengejek. Dia kelihatan kaget dan diam beberapa saat. Lalu dia berpaling dan tiba-tiba matanya melotot. Dia melihat sesuatu. Aku mengikuti arah pandangnya dan melihat Minji berdiri disana. Rambutnya sedikit berantakan dan matanya sembab. Dia memandang ke arah kami dengan pandangan tidak percaya. Lalu hanna melepaskan diri dariku.

“Minji-ah..ini tidak seperti apa yang kau lihat..” ujar Hanna gugup. Tapi gadis itu hanya tersenyum lemah.

“Gwenchana. Aku tidak apa-apa. Lagipula namja itu sudah tidak berarti apa-apa lagi bagiku.” Ujarnya dingin dan tersenyum.

Tapi yang aku rasakan lain. Hatiku benar-benar nyeri ketika dia mengatakan semua itu. Wajahnya dingin dan dia benar-benar menunjukan wajah tidak peduli.

“Tapi sepertinya aku mengganggu acara kalian. Kalau begitu aku permisi.” Ujarnya dan berlari pergi.

“Minji!” teriak hanna hendak menyusulnya. Aku menahannya.

“Biar aku yang menyusulnya.” Ujarku dan pergi mencoba menyusul Minji.

Gadis itu berlari ke tempat parkir dan langsung masuk kedalam mobilnya.

“Yak Choi Minji dengarkan aku dulu!” ujarku. Dia hanya memandangku dan tersenyum tipis.

“Gwenchanayo. Lagipula aku sudah tidak ingin ikut campur dengan kehidupan pribadimu. Aku tidak peduli jika kau pacaran dengan Hanna sekalipun. Chukkae! Kalian berdua memang cocok.” Lalu dia langsung menjalankan mobilnya cepat.

***

Choi Minji POV

Begitu sampai korea, aku langsung ke rumah sakit dan melihat pemandangan paling suram dihadapanku. Appa terbaring lemah di ranjangnya dengan beberapa selang dipasang di tubuhnya. Bagai menopang hidupnya yang benar-benar sekarat. Eomma duduk di sebelahnya tidak berkedip sama sekali. dia bahkan tidak sadar aku sudah datang. Wajahnya bagaikan mayat hidup dengan lingkarang hitam dibawah matanya. Dan..dimana oppa? Dimana Siwon oppa ketika keadaan sedang gawat seperti ini?

“E..eomma.” panggilku. Eomma seperti tersentak dan memandangku.

“Kau sudah datang minji-ah.” ujar beliau lemah.

“Eomma bagaimana ini bisa terjadi? bukannya sebelumnya appa tidak pernah mengeluh apapun? Beliau selalu sehat dan tidak menunjukan penyakitnya akan kambuh.” Tanyaku pada eomma. Beliau menggeleng lemah.

“Molla. Appamu tiba-tiba ambruk saat sedang rapat. Eomma..tidak tau harus bagaimana. Untungnya kau segera pulang.” Ujar eomma menatapku penuh harap.

“Oppa..kemana?”

“Dia sibuk. Eomma sudah mencoba menghubunginya dan yang mengangkatnya malah manajernya. Dia juga bilang kalau dia akan datang ketika dia punya waktu.” Ujar eomma. Air matanya mulai turun lagi. Aku langsung memeluk beliau.

“Eomma sabarlah. Aku ada disini. Eomma tenang.” Ujarku. Berusaha tegar agar beliau bisa tenang. Aku memandang jam dinding yang terletak di sebelah kasur appa. Pukul 8 malam. Aku yakin Hanna masih bangun. Kalau aku kerumahnya mungkin aku bisa menenangkan diriku untuk beberapa saat.

“Eomma. Aku keluar sebentar ya. Menemui hanna mungkin.” Ujarku. Eomma memandangku.

“Hajiman, jangan lama-lama ya sayang.” Ujarnya. Aku mengangguk dan mencium keningnya lembut.

***

Aku sampai di depan rumahnya setelah ngebut gila-gilaan. Aku benar-benar tidak tau harus bercerita kepada siapa.

Aku melangkah menuju pintu dan menekan bel saat beberapa saat kemudian keluar seorang wanita tua yang sudah sangat aku kenal.

“Bibi, Hanna ada?” tanyaku. Beliau adalah pengurus di rumah Hanna. Dan sudah sangat aku kenal karena seringnya aku datang kerumah Hanna.”

“Mianhae. Nona sedang pergi dengan tuan ke acara pembukaan restoran. Nona Minji mau menunggu?”

“Ani. Bisa aku tau dimana?” tanyaku. Setelah mendapat informasi aku pamit dan memacu mobilku kembali ke restoran itu.

***

Sesampainya aku disana aku memandang suasana yang kelihatannya sangat ramai. Di depan gedung itu banyak karangan bunga ucapan selamat. Tempat parkirnyapun penuh oleh beragam mobil mewah. Pastinya tamu di acara ini adalah orang-orang penting. Duh! Bagaimana cara aku masuk kesana? Aku memperhatikan penampilanku di cermin. Aku memakai kemeja kotak-kotak merah dan celana jeans hitam dan sepatu hak 5 cm. Pakaianku sama sekali tidak berkelas untuk masuk kesana. Apa aku telfon saja Hanna? Ah! benar! dia pasti akan langsung keluar.

Baru saja aku hendak mengambil ponselku saat aku mendengar suara ribut di taman di depan restoran tidak jauh dariku. Aku mendekati sumber suara tersebut karena aku merasa kenal dengan suara-suara itu. benar saja. ketika aku mendekat aku melihat Hanna dan Kyuhyun sedang saling berpelukan. Bukan berpelukan tepatnya, tapi kyuhyun jelas-jelas menahan tubuh Hanna. Aku terperajat. Bagaimana bisa mereka..

Lalu Hanna melihatku. Dia melotot saat melihatku berdiri memergoki mereka berdua.

““Minji-ah..ini tidak seperti apa yang kau lihat..” ujar Hanna gugup. Aku hanya masih terdiam memandang mereka. Seluruh tubuhku membeku dan tiba-tiba aku merasakan sakit yang amat sangat di dadaku.

 “Gwenchana. Aku tidak apa-apa. Lagipula namja itu sudah tidak berarti apa-apa lagi bagiku.” Ujarnya dingin dan tersenyum. Senyum palsu.

Lalu aku melihat wajah kyuhyun yang merasa tidak terima ketika aku mengucapkan kalimat tadi.

“Tapi sepertinya aku mengganggu acara kalian. Kalau begitu aku permisi.” Ujarku dan berlari ke tempat parkir. Aku masih bisa mendengar Hanna berteriak memanggilku tapi aku sudah tidak mau berhenti. Air mataku  sudah hendak merebak keluar. Aku tidak mau menangis aku tidak mau menangis hanya karena seorang Cho Kyuhyun!

Aku langsung masuk mobil saat kyuhyun muncul disamping mobilku terengah-engah.

“Yak Choi Minji dengarkan aku dulu!” ujarnya. Tapi aku hanya menatapnya dan tersenyum tipis.

“Gwenchanayo. Lagipula aku sudah tidak ingin ikut campur dengan kehidupan pribadimu. Aku tidak peduli jika kau pacaran dengan Hanna sekalipun. Chukkae! Kalian berdua memang cocok.” Ujarku dingin dan langsung menjalankan mobilku ngebut dan meninggalkan namja itu disana. Air mataku langsung mengalir seiring dengan angin yang berhembus diwajahku.

***

Aku terus mengebut tidak tentu arah. Ponselku terus bergetar tanda ada seseorang menelfonku dan mengirimiku pesan. Tapi aku tidak peduli. Aku terus saja mengebut sampai tiba-tiba mobilku berhenti di tengah jalan. Ada apa ini?

“Aish! masa mogok disaat seperti ini?! sialan!” umpatku kesal. Aku keluar dari mobil dan memeriksa kap mobilku. Aish! aku buta sama sekali dengan otomotif!

Aku memandang sekeliling dan menyadari aku berhenti di tempat yang salah. tempat ini sepi! Sepertinya di pinggiran kota. Aish! sial kuadrat!

“Mobilmu mogok agassi?” tanya seseorang membuatku menoleh dan melotot. Dia..dia..

“Wae agassi? Kaget melihatku?” tanya orang itu. Aku terdiam merasa terpojok. Yang bisa kulakukan hanya mencengkram erat pintu mobil.

“Kau masih ingat dengankukan agassi?” tanyanya lagi.

“Kau! Ke..kenapa bisa ada disini?” tanyaku pada pria itu yang tidak lain adalah orang yang hendak melecehkanku ketika aku tersesat dulu.

“Kenapa? Aku hanya ingin membalas dendam nona. Pada namja yang menolongmu waktu itu. dia sudah membuatku babak belur.” Ujarnya sambil tertawa. Lalu dia tiba-tiba bersiul nyaring dan aku bisa melihat 5 orang pria kekar bermunculan dan menyeringai kearahku. Omo! Sepertinya aku akan mati sekarang!

“Dan aku akan membalas dendam padanya sekarang. Sepertinya dia menganggapmu sangat berarti agassi. Bagaimana kalau aku mengenyahkanmu dari dunia ini? apa dia akan frustasi? Atau gila? Hahahahaha” ujar orang itu tertawa lagi. Namja ini sinting! Alkohol pasti membuat otaknya tidak berjalan dengan semestinya. Tapi aku ragu.. apa namja ini punya otak?

“Kau.. apa yang kau mau lakukan sekarang hah?! Membunuhku begitu?!” tanyaku dengan keras. Dia terkekeh.

“Kau pintar sekali agassi. Kau cepat bisa membaca situasi. Benar. aku akan membunuhmu! Dan mayatmu akan aku langsung kirim ke rumah namja waktu itu! aku akan membuatnya menyesal telah berlaku kasar padaku!” ujarnya keras.

“hah?! Memangnya kau tau apa tentangnya?! Kau bahkan tidak tau siapa dia atau aku!” ujarku menantang. Lalu dia melangkah maju membuatku melangkah mundur perlahan. Jantungku berdegup kencang dan perutku melilit.

“Jangan salah agassi. Aku sudah mencari tau segala tentangmu. Dan aku mencari waktu yang tepat untuk membalas dendam. Kepadamu dan kepada namja itu. Atau bisa ku sebut namja itu Lee Donghae, benarkan? Nona Choi Minji?” tanyanya. Aku membeku. Dia sudah tau namaku dan Donghae oppa. Ottohke? Aku harus bagaimana sekarang.

Dia semakin mendekat sambil mengeluarkan sebuah pisau dari belakang punggungnya. Pria-pria di sekelilingnya juga menatapku tajam dan menyeringat menyeramkan.

“Apa pesan terakhirmu?” tanyanya.

“Kau pergi saja ke neraka!” ujarku memukul selangkangannya dan berlari. Pria itu langsung jatuh tersungkur.

“Tangkap gadis itu! Jangan sampai dia kabur!” ujar namja itu menyuruh ke 5 orang kekar untuk menangkapku. Aku harus lari! Sayang karena sepatu hak sialan aku terkejar dan langsung ditangkap. Tanganku ditarik dan rambutku dijambak.

“Yak!” ujarku menahan sakit. namja itu mendekatiku dan menamparku keras. Telingaku berdengung dan aku bisa merasakan sudut bibirku mengeluarkan cairan merah.

“Jangan macam-macam kau!” ujarnya dan hendak mengayunkan pisau itu padaku. Tuhan matilah aku! Aku menutup mataku dan sudah siap merasakan nyeri di salah satu tubuhku. tapi aku malah mendengar kegaduhan. Aku membuka mataku perlahan dan melihat Kyuhyun sedang mengeroyok namja itu. dia menghantam namja itu berkali-kali. Lalu 5 orang kekar yang memegangiku melepaskanku dan ikut menghajar kyuhyun. Aku hanya bisa diam melihat Kyuhyun yang tidak mungkin melawan mereka ber 5 dikeroyok habis-habisan.

“ANDWAE!” teriakku mencoba menahan mereka semua. Tapi aku malah didorong dan salah satu dari mereka menonjok ulu hatiku. Membuatku terpental cukup jauh. Aku bisa merasakan perih di perutku dan darah mulai mengalir dari mulutku. Aish! Tuhan kumohon turunkan keajaiban pada kami! Bantu kami! Mohonku.

“Sialan kau! Mengganggu saja! apa kau hendak menjadi pahlawan hah?!” ujar namja itu sambil mengayunkan pisaunya.  Aku melotot. Tidak..tidak boleh. Kyuhyun..andwae.. Lalu tiba-tiba aku melihat butiran-butiran putih jatuh dari langit. Salju. Oh ya bagus sekali. Kyuhyun sekarat dan kami berdua sepertinya akan mati. Tapi malah turun salju disaat seperti ini? Apa tuhan benar-benar tidak mau menolongku lagi dan memang mentakdirkan aku mati?

Kyuhyun ditarik berdiri oleh ke 5 pria kekar itu. Mantel dan jas kyuhyun sudah penuh dengan noda merah darah. Wajahnya yang mulus penuh dengan lingkaran-lingkaran yang sudah mulai membiru.

“Kau sebaiknya mati saja hah!” ujar namja itu hendak menusuk kyuhyun.

“ANDWAE!” jeritku dan entah kekuatan darimana aku berlari kencang dan menghalangi tubuh kyuhyun. Akibatnya pisau itu dengan sukses menancap di pinggangku. Aku bisa merasakan nyeri teramat sangat. Kyuhyun melotot menatapku.

“Sial! Bos bagaimana ini? gadis itu mati!” terdengar samar-sama salah satu pria kekar itu bartanya pada namja itu.

“Aish! kenapa semuanya jadi berantakan?! Sudah ayo kita pergi! biarkan mereka berdua membusuk disini!” ujar namja itu dan mereka langsung lari terbirit-birit. Mataku mulai berkunang-kunang dan pandanganku kabur. Kyuhyun langsung mendekatiku dan menatapku tidak percaya. Tapi aku hanya bisa menutup mataku.

***

Saat aku membuka mata kembali aku masih tergeletak di jalan yang sepi. Salju yang mulai turun membasahi wajahku. Samar-samar aku mendengar suara isakan seseorang di sampingku. Kumohon..jangan menangis. perlahan aku mencoba menggerakan tanganku. Membelai lembut rambut hitamnya. Dia menengadah dan memandangku.

“Kau hidup!” teriaknya bahagia. Tapi tidak menghentika rasa khawatirnya. Aku hanya tersenyum kecil. Aku melihat wajahnya yang babak belur menatapku dengan senang.

“Kumohon bertahanlah. Sebentar lagi bantuan datang.” Ujarnya pelan. Aku ingin sekali menghapus air matanya dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja. tapi mulutku seakan terkunci. Aku hanya bisa memberikan senyumanku untuk mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. tidak! Semua tidak baik-baik saja. tubuhku mulai menggigil. Dan rasa sakit di punggungku mulai terasa kembali. Tapi rasa sakit memikirkan perpisahan yang mungkin akan terjadi antara kau dan aku lebih menyakitkan lagi. Dia merasakan tanganku yang menggigil. Dia mmelepaskan mantelnya dan memelukku erat. menenggelamkan aku kedalam pelukannya. Dan saat itu aku merasa sangat hangat dan aman.

“gwenchana?” tanyanya. Aku mengangguk. Bohong.Saat ini kebohongan adalah sesuatu yang bisa membuatnya tetap bahagia.

“hei..kau ingat dulu,saat kau menyelamatkanku dari sumur dekat rumahmu itu? aku belum sempat mengatakan terimakasih karena keburu dibawa ke rumah sakit. dan baru kali ini aku bisa mengatakannya… gomawo.” Ujarnya pelan. Aku bisa merasakan air matanya turun dan mengenai pipiku.

“dan aku belum membayarnya. Aku akan membayarnya ketika kau sembuh. Aku rasa kita jarang sekali bertemu sekarang. ” ujarnya. Tentu saja kita jarang bertemu. Bahkan jika bertemu kita tidak pernah saling menyapa. Bagai orang yang tidak saling mengenal. Lalu tiba-tiba aku merasakan sakit yang amat sangat di dadaku. Apakah ada kata sembuh bagiku sekarang? Apa aku bisa selamat? Tubuhku makin melemah seiring dengan keluarnya terus cairan amis dari tubuhku. Beberapa saat kemudian aku melihat cahaya berwarna merah biru mendekati kami. Aku bisa mendengar beberapa orang datang dan menghampiri kami. Lalu merasa sangat lelah dengan semua ini. dan semuanya menjadi gelap kembali.

***

Cho Kyuhyun POV

Begitu bantuan datang yeoja itu langsung terkulai. aku menatapnya dan mencoba menyadarkannya kembali.

“Minji-ah bantuan datang. Minji-ah kumohon sadarlah!” ujarku. Tapi gadis itu hanya menutup matanya. Wajahnya pucat. Lalu beberapa orang mendekati kami dan mereka memindahkan Minji ke sebuah tandu darurat dan memasukannya kedalam ambulans. Aku mengikutinya dan duduk disebelahnya. Dia segera dipasang infus dan diperiksa nadinya.

“Dia masih hidup. Tapi.. dia sekarat. Terlalu banyak darah yang keluar. Dia butuh pertolongan segera!” ujar salah satu penolong disitu. Aku menatap mereka tidak percaya dan langsung menatap Minji.

Aku harap dia bisa bertahan.

***

Aku menunggu diluar dengan gelisah. Saat ini Minji sudah dibawa masuk kedalam ruang Operasi dan sedang ditangani oleh dokter. Aku terus menunggunya dengan gelisah dan mondar mandir. Aku sudah menghubungi Siwon hyung dan menyuruhnya cepat kerumah sakit. Aku terus terusan berdoa pada tuhan agar gadis itu selamat. Dia begini karena aku. Kalau dia mati aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

Beberapa saat kemudian aku melihat Siwon hyung semua member berusaha tergesa-gesa menghampiriku. Mereka menatapku.

“Kyuhyun-ah, apa yang terjadi?” tanya Siwon hyung tercekat melihatku begitu hancur-hancuran. Bajuku penuh darah dan wajahku babak belur penuh dengan balutan perban dan plester. Semua member juga kaget melihatku.

“Hyung..”

“Dimana Minji kyuhyun-ah?”  tanya Sungmin hyung.

“Dia didalam. Lukanya cukup dalam dan dia mengeluarkan banyak darah. Dia..sekarat hyung.” ujarku lemah dan terkulai di kursi.

“Bagaimana bisa terjadi? dan wajahmu. Gwenchana?” tanya leeteuk hyung. Aku mengangguk dan menceritakan semuanya.

“Tunggu kyu, kau tau ciri-ciri pria itu?” tanya donghae hyung memotong ucapanku. Aku mengangguk dan mengatakan padanya. Lalu wajahnya pucat.

“Wae? Kau mengenalnya?” tanya Yesung hyung. Donghae hyung lalu mengangguk.

“Dia orang yang sama. Yang menyerang Minji waktu dia hilang beberapa waktu lalu. Kalian ingat saat Minji pulang dari rumah sakit dan menghilang? Dia diserang oleh namja itu. dia hampir dilecehkan dan untungnya aku segera datang menyelamatkannya. Tapi laki-laki itu tidak pergi begitu saja. Dia bilang dia akan membalas dendam pada kami. Aku pikir itu hanya gertakan biasa. Tapi ternyata.. dia serius.” Jelas Donghae hyung membuatku tercekat.

“Kalau ada apa-apa dengan Minji ini semua salahku. Kalau saja aku benar-benar mendengarkan ancaman itu dan lebih melindungi Minji. Ini semua tidak akan terjadi.” ujarnya lagi tertunduk.

“Ani hyung. ini semua salahku.” Ujarku pelan. Semua member menatapku heran.

“Bagaimana kau bisa menyalahkan dirimu seperti itu kyu?” tanya Shindong hyung,

“aku yang salah. kalau saja aku tidak bersikap egois dengan terus menyalahkan tentang masalah waktu dulu. Kalau saja aku tidak membuatnya kesal dan menahannya turun dari mobil. Pasti masalah ini tidak akan terjadi! pria itu tidak akan mendendam dan keadaan tidak akan seperti ini!” ujarku menunduk. Aku benci menangis karena menurutku seoran namja tidak pantas menangis. tapi air mataku tidak terbendung lagi. Sungmin hyung duduk disebelahku dan mencoba menenangkanku. Semua member juga hanya terdiam.

“Sebenarnya kyuhyun, ada satu hal yang harus aku sampaikan padamu.” Ujar Donghae hyung membuatku menatapnya. Dia memandangku dengan tatapan menyesal.

“Sebenarnya aku…dan Minji.. tidak pernah pacaran sama sekali. Itu semua hanya karanganku agar kau kapok. Mianhae.” Ujarnya dengan wajah menyesal. Tiba-tiba amarahku langsung naik. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan hal itu?! aku langsung menerjangnya dan mendoronya ke tembok. Semua member tersentak dan mencoba memisahkan kami.

“Kenapa kau melakukan itu hyung?! kau tidak tau bahwa hubungan kami menjadi buruk karena hal itu?! kalau kau mau membuatku kapok kau bisa gunakan cara lain yang lebih wajar!” ujarku berteriak keras padanya.

“Mianhae kyuhyun-ah..mianhae.” ujarnya menunduk meminta maaf. Aku hendak menerjangnya kembali saat dokter keluar. Kami semua langsung mendekatinya. Siwon hyung dengan cemas langsung bertanya pada dokter itu.

“Bagaimana..bagaimana dengan adikku?” tanyanya tidak sabar.

“Sabar tuan. Sekarang apa ada seseorang bernama cho kyuhyun disini?” tanya dokter itu membuatku tersentak. Aku menatap dokter itu dan semua member menatapku.

“Aku. Wae?” tanyaku.

“Pasien ingin bertemu anda. cepatlah. Waktunya tidak memungkinkan dia untuk bertahan.” Ujar Dokter. Aku kaget dan langsung masuk ke ruang itu. aku menyibakkan tirai dan melihat pemandangan paling menyedihkan saat itu. Minji ada disana. Dia terbaring lemah dengan berbagai alat terpasang di tubuhnya. Alat-alat itu menopang hidupnya. Aku tidak bisa melihatnya dengan keadaan seperti ini.

***

Choi Minji POV

Aku tersadar saat seseorang menyibakkan tirai dengan kasar. Aku melihat Kyuhyun ada disana. Berdiri dan memandangku dengan tatapan kagetnya. Aku tau. Aku pasti terlihat menyedihkan. Tapi aku sudah tidak punya waktu. Aku merasa badanku sudah tidak kuat untuk bisa bertahan lebih lama.

Kyuhyun mendekatiku dan memandangku tidak percaya.

“Minji-ah..kau..”

“Aku tau. Terlihat menyedihkan bukan? Gwenchana. Aku baik-baik saja. hanya masih merasa lemah.” Ujarku berbohong. Dia memandangku dan air matanya turun.

“Aish! seorang namja tidak pantas menangis kyuhyun-ah.” ujarku dan mencoba menghapus air matanya.

“Mianhae.” Ujarnya.

“Mwo?”

“Aku sudah dengar dari Donghae hyung. Kau dan dia tidak memiliki hubungan apapun. Aku.. sudah salah besar dengan terus marah padamu tanpa alasan yang jelas. Ya benar apa kata temanmu. Aku memang namja bodoh yang egois. Aku bodoh karena aku tidak pernah memikirkanmu. Aku selalu mencoba melupakanmu dan menghapus segala hal tentangmu. Tapi ternyata..semua itu sulit. Semakin lama aku melupakanmu semakin jelas perasaanku. Minji-ah..saranghae.” ujarnya memandangku. Aku menatapnya tidak percaya. Kenapa..kenapa kau malah mengatakan hal itu disaat terakhir kyu? Disaat aku akan pergi.. kenapa?

“Aku..sebenarnya aku juga. sudah lama aku memendam perasaan ini. Kau tau hatiku hancur ketika kau berpura-pura lupa padaku. Aku tidak suka kau berpura-pura kau tidak mengenalku. Aku lebih baik mati daripada kau benar-benar menghapus diriku dari pikiranmu cho kyuhyun pabo. Dan akhirnya aku sadar bahwa aku tidak bisa hidup tanpa kau disampingku. Tanpa kau yang selalu tersenyum jahil untukku. Tanpa kau yang memberiku semangat dengan hanya melihat kau bahagia. Aku sakit saat melihatmu dan Hanna mesra seperti itu. Dan aku akhirnya tau, bahwa itu perasaan cemburu. Itu artinya..aku menyukaimu juga kyu.” Ujarku panjang lebar. Lalu dia merangkulku. Hangat sekali. air mataku mulai turun. Tuhan kumohon.. berikan aku kesempatan kedua untuk bersamanya. Jangan dulu kau bawa aku pergi. aku belum merasakan kebahagiaan bersamanya, aku ingin hidup lebih lama dengannya.

“Kyu, tumbuhlah dengan baik. Teruslah tertawa dan jangan pernah sekali-sekali kau mendendam pada Donghae oppa. Dia tidak salah. semua itu memang kebodohanku. Aku ingin kau tetap ceria dan menjalani hari-harimu normal kembali. Walaupun itu semua tanpa diriku..” ujarku lemah dan memandangnya. Dia menatapku.

“Apa yang kau bicarakan, memangnya kau mau kemana?” tanyanya. Aku tersenyum lemah.

“Aku sudah tidak bisa kyu. Aku tidak bisa berada disampingmu lagi. Tubuhku sudah tidak kuat lagi. Bilang pada Siwon oppa aku sangat menyanyanginya. Dan bilang padanya juga bahwa jangan terlalu sibuk. Kasihan eomma dia sendirian. Dia butuh seseorang yang bisa membantunya mengurus appa. Beliau sedang sekarat. Bilang juga pada Donghae oppa, maaf bila aku tidak membalas perasaanya karena hatiku  sudah terlanjur terpaut olehmu. Terimakasih untuk segalanya. Sampaikan juga pada eomma dan appa tabahlah. Suatu saat aku akan terlahir kembali dengan menjadi seorang Minji yang lain. Bilang juga pada semua member terimakasih atas bantuannya. Aku sangat menyanyangi mereka semua.Aku…” ujarku terputus karena dia tiba-tiba mengucup bibirku. Aku bisa merasakan kehangatanna bibirnya saat menyentuh bibirku.

“Jangan pernah katakan itu bodoh. Kau pasti hidup. Pasti.” Ujarnya. Aku tersenyum dan menyentuh pipinya.

“Saranghaeyeo Cho Kyuhyun. Selamat tinggal…” ujarku dan yang kurasakan saat itu adalah.. bebas.

***

Cho Kyuhyun POV

*Pemakaman 3 hari kemudiam*

Aku menatap nisan putih itu. Disana terukir nama seseorang yang benar-benar aku cintai.

RIP Choi Minji

Aku mengelus nisan itu dan aku bisa merasakan bahwa Minji seperti masih ada disini. Disampingku.

“Kyu saatnya pergi.” ujar Sungmin hyung. aku terdiam. Selamat tinggal Choi Minji, semoga kau tenang dialam sana. Aku berdiri dan mengikuti hyung-hyungku.

Minji-ah, aku akan mengingat selalu untuk tetap tersenyum. Untuk tetap tumbuh dengan baik dan tetap ceria. Aku akan selalu mengingatmu. Karena kau..adalah cinta pertamaku. I Love You…

The End

=======================================================

Hancur! Maaf ya readers author bener-bener minta maaf.. TT,TT Author bener-bener telat, karena kelamaan liburan jadi gini deh TT,TT Mian…

Maaf juga kalo jadinya jelek.. ini part terakhir dan malah bikin kalian kecewa berat.. maaf.. author bener-bener kehilangan feel buat FF ini… habis buatnya sambil nonton film zombie author malah jadi ga konsen buat bikinnya.. Mian :(((

Sekali lagi maaf readers… author masih nunggu respon kalian… sejelek-jeleknya ini FF jangan jadi silent readers.. author butuh dukungan kalian untuk bikin FF lainnya… >,< Kritikan dan Sarannya author tunggu.. :D

77 thoughts on “I LOVE YOU [LAST PART]

  1. Author kok Sad ending walaupun lega kyu sama minji dah gk salah paham lagi tapi kenapa minji harus mati sampai bikin nangis ffnya
    ffnya keren author

  2. Astagaaaaaaaaaa!!!!!! Ga nyangka minji bakalan mati! Padahal gue kira bakalan ada miracle buat minji sama kyuhyun, ternyata…………author sukses buat air mata gue yang berharga ini jatuh (˘̩̩̩.˘̩̩̩ƪ) /kicked

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s