Roses Along the War [3/?]

 

 

Specialshin and Ifasheitte Proudly Present.

Chapter 3 written by Specialshin

 

 

Hara tersenyum melecehkan memandang Revolver Sungmin yang lengkap dengan peredam tersebut mengarah tepat ke keningnya. “Kau tidak akan membunuhku, Lee Sungmin. Kau bilang kau sayang padaku,” ucap Hara santai.

“Sebagai sahabat, ya.” Ucap Sungmin tegas seakan tidak ada yang bisa mengganggu gugat pernyataannya. “Tch…” Hara mendecak sinis. Donghae mendesis memperingatkannya tetapi Hara mengabaikannya.

“Setidaknya title ‘sahabat’ cukup untuk membuatmu tidak membunuhku,” ucap Hara ringan, tidak mengalihkan pandangan meremehkan tetapi waspadanya pada Sungmin. “Kalau kau menyentuh Yoonji, aku akan melakukannya,” ucapnya menarik pelatuk pistol dengan ujung ibu jarinya, menandakan dia serius.

Hara masih meremehkan rupanya. “Atau cepat cepat saja kubunuh dia, siapa tahu kau langsung sadar kalau hidup tanpa dia juga tidak apa apa,” ucapnya mengabaikan peringatan kedua Donghae yang sudah mengenali tatapan berbahaya Sungmin.

“CHO HARA DIAM!” teriak Sungmin diiringi tembakan yang dilepaskannya, sedikit miring ke kiri sehingga berdesing melewati telinga Hara beberapa senti, dan mendarat mulus menembus tembok di belakangnya. Hara terlihat shock sementara Donghae hanya mengangkat kedua bahunya. “Sudah kubilang, kau tidak menurut,” ucapnya ringan.

Hara terlihat emosi. Tidak disangkanya Lee Sungmin berani melakukan itu demi seorang Yoonji. “Tch,” decaknya lagi dan mengeluarkan silver string elastic dari kotak kecil di pinggangnya, dan dengan gesit melemparkan tali itu ke bawah lewat jendela. “Lebih cepat kutemukan jalang itu lebih baik,” katanya sambil melompat turun dan menghilang dari pandangan.

Sungmin terpaku sementara mencoba mencerna apa yang akan dilakukan gadis licik itu pada kekasihnya dan meraih ponsel dengan cepat. “Yoonji, kau dimana!?” katanya terburu buru.

Yoonji terdengar gemetar di ujung sana. “Ani.. aku tidak tahu.. maksudku, tadi ada gadis aneh mengacungkan pistolnya kearahku dan… Donghae

menyuruhku kabur lalu… lalu…” Yoonji terdengar tidak berkonsentrasi sama sekali membuat Sungmin semakin ketakutan.

“Oke, di balik baterai ponselmu kutempelkan persegi empat metal kecil. Tekan tombol merahnya,” perintah Sungmin cepat. “Mwo?” Yoonji masih terdengar tidak mengerti.

“Aku sebenarnya menempelkan penyadap di belakang baterai ponselmu agar aku tahu keberadaanmu, cepat tekan tombol merahnya!” perintah Sungmin tidak sabar. “Arasseo. Cepat datang Sungmin-ah jebal,” mohon Yoonji membuat Sungmin takut kehilangan dia.

Sungmin tidak menjawab perkataan Yoonji, mengantungi ponselnya dan mengisi Revolvernya dengan beberapa peluru. “Donghae, kau hentikan.Hara.Sekarang.” perintahnya tegas sementara Donghae menatapnya kosong. “Dengan cara apa?”

Sungmin menepuk jidatnya merutuki fakta bahwa seharian ini orang orang tidak berpikir secepat yang ia inginkan. “Demi Tuhan Donghae, dengan cara apa saja bahkan kau menyetirpun terserah. Hentikan dia sekarang!” perintahnya lalu langsung berlari keluar, mengejar Yoonji.

Sungmin memasuki lift dan cepat cepat menekan tombol B, yang langsung mengarahkan dia pada Basement di lantai bawah dimana McLaren abu abunya terparkir. Sebenarnya ini mobil favoritnya tetapi berhubung ini situasi genting, ia membutuhkan kecepatan ekstra.

Distarternya mobil dengan knalpot asli import dari Jerman tresebut dan ditekannya pedal gas dalam dalam, menerobos area parkiran apartemennya dan menyalakan GPS yang sudah dia hubungkan dengan pelacak metal milik Yoonji.

Dilihatnya titik merah berkedip itu di sebuah map yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Ia menekan tombol Zoom untuk melihat spesifikasi dari bangunan bangunan di sekeliling dari gadis itu. Dan disaat saat seperti ini Sungmin masih sempat mendengus menahan tawa mendapati bangunan yang letaknya hanya beberapa meter dari Yoonji.

Violetta Bakery.

Dasar Shin Yoonji, sadar atau tidak sadar tidak jauh jauh dari Macaroons.

Sungmin menekan pedal gasnya lebih dalam lagi. Lebih cepat ia bertemu Yoonji, lebih baik. Ia takut Cho Hara selangkah lebih jauh didepannya. Ia hanya berharap gadis itu tidak menempatkan penyadap juga pada Yoonji. Kalau itu terjadi habislah dia sekarang.

Bunyi decitan yang memekakkan terdengar jelas ketika Sungmin mengerem mobilnya di depan sebuah gang kecil dan ia berlari turun, membawa GPS di tangannya. Seharusnya sekarang mereka sudah dekat.

“Sungmin!”

Pria itu membeku mendengar panggilan yang berasal dari arah belakangnya. Ia menoleh dan terdiam melihat gadis itu. Gadis yang ia cari cari semenjak tadi, membuat dunianya kalang kabut beberapa jam terakhir. Ia berjalan beberapa langkah dan mempercepat langkahnya lalu berlari, dan menarik gadis itu dalam dekapannya.

Nafasnya naik turun melepas ketakutan yang sedari tadi bersarang di dadanya. Setakut takutnya Yoonji pada Hara, ia lebih takut kehilangan gadis itu.

“Kau datang akhirnya. Kau tidak tahu aku hanya menghitung waktu dan mencoba menebak nebak apakah aku akan mati sekarang atau tidak,” kata Yoonji menenggelamkan dirinya pada dekapan Sungmin yang kian erat. Tetapi Yoonji tidak sesak sama sekali. malah ia ingin pria itu mendekapnya lebih dan lebih erat lagi sampai rasanya mustahil untuk memisahkan mereka.

Hembusan nafas Sungmin terdengar mulai teratur, dan ia memasang wajah tenang sebelum melepas pelukan gadis itu. “Jadi… kau mengira akan mati sekarang? Kau lupa kekasihmu itu siapa?” pamernya bercanda untuk meringankan ketakutan di wajah Yoonji.

Berhasil. Wajah pucatnya mulai berwarna lagi. “Aku lupa, aku kenal visualisasi Hatori,” katanya lucu membuat Sungmin memutar matanya kesal. “Ya! Jangan hubung hubungkan aku dengan Hatori lagi. itu konyol,” protesnya.

“Er… kalau begitu kau mau jadi Inuyasha saja? Dia juga pandai bermain pedang, tetapi kau terlihat keren dengan M5 atau Revolver itu,” kata Yoonji menahan tawanya. “Terserahmu asal bukan Hatori,” ucapnya menunjukkan bahwa ia sudah bosan disama samakan dengan ninja cilik berjubah biru tersebut.

Yoonji hanya tertawa renyah. “Hatori itu lucuuu Lee Sungmin. Seperti Aegyomu itu,” katanya memeluk lagi Sungmin yang tidak kuasa menolak. “Kalau begitu kau akan jadi Nodame,” kata Sungmin menimpali dengan tidak nyambung. “Kenapa Nodame? Tidak ada hubungannya,”

“Karena Nodame cantik saat bermain piano. Sepertimu,” pujinya membuat pipi Yoonji memerah dan Sungmin menciumnya. Yoonji mengernyit. “Kau selalu bilang skill pianoku abstrak,” protesnya karena Sungmin baru memujinya hari ini.

Sungmin memasang wajah berpikir. “Well… kali ini aku harus jujur,”

“Kau.. saat nyawaku diujung tanduk baru kau mau jujur,” ucap Yoonji membuat Sungmin menyadari situasinya bahwa sekarang ia harus melarikan Yoonji kemanapun asal gadis itu aman.

Sungmin membukakan pintu kiri McLarennya yang langsung terangkat keatas, membiarkan Yoonji masuk lalu berputar lewat depan dan memasuki mobil kemudi. “Pakai sabuk pengamanmu, aku akan mengebut,” ucap Sungmin mengenakan sabuk pengamannya sendiri.

Yoonji menurut dan menatap Sungmin penasaran. “Kita kemana?” tanyanya sebelum Sungmin menarik kopling dalam keadaan netral.

“Landasan Crazioneer. Pernah melihatku menerbangkan Helikopter?”

-oOo-

Setelah mendengar perintah tiba tiba Sungmin, Donghae meraih tali elastic yang ditinggalkan Hara tadi lalu melompat turun. Ia merayapi tembok apartemen itu dengan bertumpu pada tali tersebut. Ia merambat turun dengan cepat dan memberikan lompatan memijak tanah sebagai sentuhan terakhir.

Ia meraih kunci di kantungnya dan menancapkan pada ‘si sexy agustine’nya. Sebenarnya itu adalah MV Agusta rancangan langsung Claudio Castiglioni yang sempat menjadi top 5 tahun 2011. Ia mengemudi motornya kalut dan menekan tombol speed dial 2, menghubungkannya pada Cho Hara.

Hara me-reject teleponnya tetapi Donghae tersenyum puas. Itu sudah cukup karena ponsel mereka adalah rancangan Crazioneer dimana dua ponsel itu bisa terhubung oleh GPS dalam sekali dial. Donghae memakai headsetnya mengikuti instruksi arah yang diberikan oleh operator.

Berhasil. Donghae memicingkan matanya dan menemukan Black Audi milik Hara melesat cepat. Seperti biasa, kecepatan dibawah 100km/h itu tidak menantang sama sekali untuk gadis itu. Donghae mempercepat laju motornya dan berada tepat di belakang gadis itu.

Donghae menekan nomor 2 lagi pada Speed Dialnya dan gadis itu akhirnya mengangkat. Ponselnya. “Jez… kau mengikutiku!” umpat Hara dan Donghae melihat mobil Hara menikung tajam di belokan depan. Tetapi percuma sebenarnya karena Donghae dan sexy agustinenya tidak akan terkalahkan.

“Hebat juga,” Ucap Hara dari jauh sana dan Donghae tersenyum bangga. Hara membanting setirnya ke kanan lagi membuat Donghae terpaksa menikung tajam ala Rossi tetapi toh itu mudah baginya. “Tch… masa bodoh denganmu. Aku akan mengejar Sungmin sekarang. Dan kalau aku beruntung mungkin bisa menghabisi kekasihnya juga,” katanya lalu mempercepat laju mobilnya.

“Y…YA! Dia hampir membunuhmu hanya karena kau mengancam. Kau mau kehilangan kepala atau apa!?” Donghae mempercepat laju motornya menjajari Hara berusaha memblok gadis itu tetapi sampai detik ini Hara belum bersedia didahului Donghae.

Donghae menggeram tidak sabar dan mempercepat laju motornya lagi, lalu menikung cepat dan memblok laju mobil Hara sehingga gadis itu terpaksa menginjak perdal rem kuat kuat agar tidak menabrak Donghae.

Hara menatap Donghae bengis lalu keluar membanting pintunya. “Shit!” umpatnya kasar. Donghae hanya tersenyum menang. “kau terkesan?” katanya.

Hara berdecak tidak sabar. “Mobil Sungmin mengarah ke landasan Crazioneer! Dia akan membawa Yoonji kabur! Tch!” umpanya lagi menendang ban mobilnya keras. Donghae mengedikkan kepalanya memandang gadis ini seksama. “Kau memasang pelacak di mobilnya?” tanyanya,

Gadis itu mendengus tidak sabar. “Tentu saja! kau pikir aku sebodoh  apa!?” pekiknya kesal. Hara tiba tiba melemparkan pandangan tajam pada Donghae. Donghae yang pada dasarnya tidak akan melakukan apapun pada Hara hanya balas memandangnya Innocent. “Mwo?”

Hara menarik pelan Pistolnya dari pinggang dan mengarahkannya tepat di kening Donghae. “Kau… kemudikan mobil itu sekarang,” ucapnya dingin.

Donghae membelalak tidak percaya. “Mwo? Aku? Mengemudi?” ucapnya heran dan Hara hanya mengangguk dengan tatapan licik. “Kalau aku bisa mengemudi, apa gunyanya kubeli Agustine dengan harga milyaran? Kualitas otakmu menurun ya?” katanya menatap Hara seolah gadis itu gila.

Hara meraih pelatuk dengan ujung jarinya, lalu menariknya dengan bunyi ‘klik’ halus.

“Lakukan…. Sekarang.”

-oOo-

Bunyi deru helicopter menyapa kedatangan McLaren Sungmin yang meluncur santai memasuki landasan. Beberapa Awak kabin yang berkeliaran di lapangan hanya membungkuk hormat pada Sungmin yang menyetir masuk.

Yoonji menatap sekelilingnya dengan seksama. “Woah~~ keren. Seperti di Incheon,” katanya kagum. Sungmin tersenyum melihat gadisnya. “Kau suka?” tanyanya lembut.

Ia sedang melakukan apapun untuk membuat segalanya mudah bagi Yoonji. Ia tidak ingin Yoonji merasa sedang dikejar oleh wanita agent yang biasa menangani mafia kelas berat. Ia ingin Yoonji merasa dibawa berlibur, bukan kabur dari Revolver hitam kelam gadis iblis itu.

Anggukan bersemangat dan senyum cerah terlihat di wajah Yoonji. “Siapa yang akan jadi pilotnya?” kata Yoonji sementara Sungmin tersenyum misterius. “Apakah tampan?” sambung Yoonji lagi. “Hm… bayangkan saja Inuyasha,” canda Sungmin renyah.

Dengan cepat Yoonji menoleh pada Sungmin. “Kau yang akan menerbangkannya?” tanyanya setengah tidak percaya. “Kenapa? Terlalu keren?” timpal Sungmin. Yoonji hanya mengangguk cepat. “Keren,” kayanya lalu berkonsentrasi lagi pada satu helicopter yang sudah ready di tengah landasan.

Yoonji menatap helicopter gagah dengan baling baling berputar stabil dan suara berdesing dengan ekor panjang, dan terukirkan tulisan hitam kelam besar LS1186 di ekornya. “Lee Sungmin? 1 Januari 1986?” tebaknya Jitu.

Sungmin tertawa renyah. “Itu hadiah Jungwan Sonsaengnim untuk kami di ulang tahun ke 23,” jelasnya. “itu milik Donghae,” kata Sungmin mengarah pada Helikopter yang diparkir di pojok dengan kode LD1015. Bahkan dengan melihat dua benda megah itu saja Yoonji sudah tahu kalau mereka berdua benar benar legenda Crazioneer. Anak emas Kang Junghwan.

Seseorang dengan penutup telinga besar yang berfungsi untuk menghalau suara berlari mendekat kearah mobil mereka. Sungmin menurunkan kaca mobilnya untuk berbicara dengan pria dengan walkie talkie tersebut.

“LS1186 siap terbang. Kau akan berangkat sekarang?” tanyanya cepat sambil sekali kali memencet salah satu tombol di walkie talkienya. “10 menit lagi,” balas Sungmin. Pria itu mengangguk patuh lalu pergi dan memberi komando pada petugas lainnya untuk bersiaga.

Sungmin memarkir McLarennya, keluar bersamaan dengan Yoonji dan melempar kunci dengan tangkas pada pria yang tadi berbicara dengannya tersebut. “Kau bawa pulang ya, Ahjussi,” katanya sementara pria itu mengangguk patuh.

Sungmin mengulurkan tangannya pada Yoonji dan disambut dengan senang hati oleh gadis itu. “Ayo. LS1186 tidak boleh menunggu,” candanya. Yoonji hanya mengangguk dan memasuki helicopter itu dengan bantuan Sungmin.

Di saat saat seperti ini Sungmin masih bisa bercanda. “Nanti disana kau harus bertingkah baik. Jangan ceroboh, jangan jalan jalan sendiri. Arasseo?” kata Sungmin sambil menyusul menaiki helikoper tersebut dan duduk di belakang kursi kemudi.

“Dan sebagai imbalannya?” tantang Yoonji. Sungmin terlihat berpikir sebentar. “Kalau kau menjadi gadis baik, di ekor sebelah kanan akan aku tambahkan kode YJ1309. Otte?” tawarnya. Mata Yoonji terlihat berbinar binar. “Arasseo,” sanggupnya cepat.

Sungmin hanya mengacak rambutnya, dan menatapnya dalam. “Bersumpahlah padaku. Jangan ceroboh. Aku serius,” katanya dengan tatapan yang menandakan kalau dia tidak main main. Yoonji hanya menelan ludahnya takut takut. Ia tidak berani membantah Sungmin yang seperti ini.

Yoonji mengangguk lagi. “a…rasseo,” katanya pelan. Sungmin menggeleng tidak puas. “Aku mau kau bersumpah.” Tekannya pada kata terakhir. “Baiklah aku bersumpah,” ucap Yoonji pasrah. Sungmin hanya mengacak poninya lagi lalu berkonsentrasi pada kemudinya.

Ia menunggu aba aba dari Control Tower, dan menerbangkan sedikit demi sedikit Helikopter tersebut, menghembus debu dan kerikil kecil di bawahnya. “Oke Miss YJ. Siap untuk liburan?” tanyanya.

“Kemana?”

Sungmin terlihat berpikir. Sepertinya sebelum ini dia memang belum memutuskan tempat tujuan mereka.

“Kampung halamanku? Ilsan?”

-oOo-

Donghae dengan nafas terengah dan dengan ajaibnya berhasil memarkir mobil Black Audi Hara dengan mulus di sisi luar landasan Crazioneer. “Selamat Cho Hara. Kau berhasil menyulapku menjadi pengkhianat persahabatan,” katanya menyandarkan tengkuknya di jok belakang.

Hara tidak menanggapi perkataan Donghae dan hanya berkonsentrasi pada lapangan terbang yang hampir tidak kelihatan olehnya tersebut. Hara menajamkan telinganya seakan mendengar sesuatu.

Dengan gerakan gesit dalam sepersekian detik wajah mereka hanya tinggal berjarak beberapa sentimeter saja. Donghae menelan ludahnya gugup. “Ha..Hara kau sedang ap…”

Hara hanya mendengus lalu menarik cepat sabuk pengaman Donghae. Ternyata itu yang sedari tadi dicarinya. Ia memasangkan sabuk pengaman itu dengan bunyi ‘klik’ pelan. “Tidak perlu gugup begitu, Mr Lee,” katanya menggoda.

Lee Donghae menelan lagi ludahnya lalu membuka kaca jendela di sebelahnya menghalau rasa gerah yang tiba tiba menyergap tubuhnya tersebut. Hara menahan tangan Donghae yang sudah memegang kemudi. “Jangan bergerak sebelum ku perintahkan,” katanya sambil berkonsentrasi pada sisi sebelah kanannya, apapun yang ditunggunya disana.

“Memang kau mau apa lagi kali ini?” tanya Donghae setengah tidak peduli. Paling paling Hara baru saja mendapatkan misi membunuh seorang wanita lagi dan dia membawa Donghae sebagai tamengnya, seperti biasa.

Seringai kecil tercetak perlahan di sudut bibir Hara. “Membuat sedikit kekacauan,” katanya. Hara menajamkan pendengarannya lagi lalu bergerak cepat membuka jendela dan mengarahkan Revolvernya keluar. “Siap siap,” desisnya.

Donghae memandang kearah dimana Hara memandang dan menelan ludahnya melihat ia membidik kaca jendela sebuah Helikopter yang tengah mengudara. Yang membuatnya syok adalah nomor seri yang terpampang jelas disana. LS1186.

“HARA!” Donghae dengan ajaib bisa menekan pedal rem keras lalu menyetir mundur dan memutar balik mobil dengan decitan keras dan kecepatan tidak diduga. “Kau mau apa hah!?” katanya ketika Hara menurunkan pistolnya karena kehilangan target.

Desisan Hara membuat buku kuduk Donghae berdiril. Gadis itu menatapnya tajam dan mengacungkan mulut pistol-mini yang baru dikeluarkannya, menempel di pelipis Donghae. “Lakukan.. sekarang.” Bisiknya mematikan.

“Kau mau memaksaku menjadi penghianat persahabatan atau apa?” desis Donghae balik. Hara semakin menekankan bibir pistol tersebut di kening Donghae. “sekarang,” tegasnya.

Dongahe menurunkan rem tangan dan berbalik sesuai dengan perintah Hara. Ia berjalan menjajari LS1186 dari bawah dan sementara hara mencoba membidik baling baling helicopter tersebut.

“pikirkan baik baik, Hara,” desak Donghae sementara Hara menganggapnya angin lalu. “Kau bukan pembunuh,” tambah Donghae.

“Aku pembunuh. Kau pikir berapa nyawa sudah melayang ditanganku?” balas Hara membuat Donghae terdiam. “Setidaknya bukan sahabatku. Sahabatmu. Dan gadis yang dicintainya. Aku tidak akan melakukan itu. Tidak.” Ucap Donghae pedih. Helikopter sudah beberapa meter jauh di depan mereka, dan Hara menurunkan pistolnya kebawah.

“Aku hanya perlu membunuh Gadis itu,” jawabnya lemah.  Donghae menarik nafas putus asa. “Itu membunuhnya juga. Sama saja,”

Hara menoleh perlahan pada Donghae. “Turun,” komandonya pelan. Donghae tidak melawan. Tidak, asalkan gadis itu tidak menjadi pembunuh sahabatnya sendiri. Hara dengan gesit pindah ke kursi kemudi, dan menekan gas dalam dalam.

Donghae salah. Salah besar. Gadis itu tidak akan melibatkan Donghae dalam aksinya karena tidak ingin pria itu melakukan apa yang ia tidak mau lakukan. Kali ini biarlah ia melakukanya sendiri.

Hara mengebut mobilnya dengan kecepatan penuh mencoba mengikuti helikopter yang bergerak lambat tersebut. Ia membuka Kap atas mobil dan melayangkan tembakan tembakan meleset yang seharusnya mengenai baling baling helicopter tersebut.

Beruntung jalanan sepi dan lenggang jadi Hara tidak terlalu harus berkonsentrasi pada keadaan di depannya melainkan cukup melajukan mobilnya dengan cepat saja dan menuangkan konsentrasinya pada helicopter diatasnya.

Suara tembakan beruntun terdengar memecahkan telinga. Hara memang tidak suka menggunakan peredam kecuali disaat ia harus menyerang diam diam. Menurutnya suara berisik tembakan akan menciutkan nyali siapapun lawannya.

Sementara di atas sana Sungmin terlihat terkejut akan serangan tiba tiba hara. “Sial!” umpatnya. Ia tidak menyangka Hara akan melacaknya sampai sini. Seharusnaya ia sadar itu dari awal.

“Sungmin-ah, apa itu?” Suara Yoonji terdengar bergetar dan bibirnya terlihat pucat. Sungmin mengeluarkan pistol semi otomatis dari ransel di dekat kakinya dan menyerahkannya pada Yoonji.

“Yoon. Kau harus bantu aku sekarang,” katanya sambil menyerahkan pistol itu pada Yoonji yang menerimanya dengan ragu ragu. “kau pindah ke kursi belakang. aku akan terbang rendah, kau bidik spionnya. Arasseo?” perintah Sungmin dan Yoonji mengangguk pelan.

Gadis itu sudah akan berpindah ke belakang ketika Sungmin menarik tangannya dan mencium bibirnya dalam dan lama. Ia melakukannya begitu intens, menyisakan luka kecil pada sudut bibir Yoonji membuat gadis itu mengaduh sedikit.

Sungmin mengusap sudut bibir yang terluka itu lembut. “Hati hati, cantik. Kau bersumpah?” katanya. Yoonji heran sendiri Sungmin belakangan ini hobi sekali memaksanya bersumpah, seakan janji saja tidak cukup.

Yoonji hanya mengangguk pasti. kali ini keberaniannya muncul ke permukaan. Tidak akan ia biarkan siapapun melukai Sungmin, walaupun hanya hal sekecil ini yang bisa membantunya.

Sungmin membuka jendela otomatis dari depan, dan Yoonji mengarahkan pistolnya tepat ke spion Black Audi Hara. Yoonji melepaskan tiga tembakan sia sia melesat begitu saja. Audi Hara melesat begitu cepat sehingga susah bagi Yoonji untuk membidik spion mungil tersebut.

“Lebih focus lagi!” perintah Sungmin dari depan dan Yoonji kini memegang senapan dengan kedua tangannya. Benda itu cukup berat ternyata. Yoonji membidik dua tembakan lagi tetapi nihil. Melesat begitu saja.

Tiba tiba satu ide melintas di kepalanya. Ia melepaskan tembakan bertubi tubi ke bagian bawah mobil itu, dan berhasil mengenai dua ban depan mobil. “Kerja bagus!” puji Sungmin dari depan dan Yoonji berpindah dengan gesit mengembalikan semi-otomatis Sungmin.

“Kuajari kau menembak kapan kapan, bagaimana?” katanya sambil berkonsentrasi membawa helicopter lebih tinggi, mengacak rambut Yoonji pelan. “kedengarannya seru,” balas Yoonji membuat Sungmin tergelak.

“Kita ke Ilsan sekarang!” pekik Yoonji girang disusul tawa lepas Sungmin. Benar benar merasa lega bisa membawa gadis ini lolos dari cengkraman Hara, walaupun ia tahu ketenangan ini hanya sementara.

-oOo-

“SHIT!” Jerit Hara keras ketika mobilnya perlahan melambat karena kedua roda depannya yang bocor terkena peluru. “Jalang sialan! Tunggu saja kau manti di tangaku,” umpatnya geram sambil memukul kemudinya keras.

Hara menyandarkan keningnya pada kemudi mobil berusaha menenangkan nafasnya yang naik turun karena emosi. Saat itu ia rasakan ia hampir menangis, untuk pertama kalinya entah yang ke sekian lama.

Ia turun dari mobil, berjalan ke kearah dimana ia meninggalkan Donghae tadi. Ia melangkah terseok seok dengan tatapan kosong. Ini pertama kalinya ia mengalami kegagalan memalukan seperti ini. Dan Lee Donghae, entah bagaimana ia yakin adalah orang yang bisa menghiburnya sekarang, dimana seluruh dunia sudah memusuhinya.

Saat ia menegakkan kepalanya, Lee Donghae disana. Ternyata pria itu tadi mencoba mengejarnya.  Ternyata benar, Donghae selalu ada disana. Selalu.

“Sudah kukatakan, jangan lakukan itu,” katanya berjalan menedekat kearahnya. Diraihnya tangan Hara, memperhatikan darah yang mengalir dari lengannya. Sepertinya salah satu tembakan meleset Yoonji tadi menyerempet tangannya. Hara bahkan tidak sadar itu.

Donghae membungkukkan tubuhnya mencoba menatap wajah gadis itu sejajar. Gadis itu pucat, terlihat shock, sedih dan marah di saat bersamaan. “Tidak pernah… sekalipun….” Ucap Hara dengan suara bergetar.

Hara menutup mulutnya yang bergetar, dan air mata itupun tumpah akhirnya. Donghae menarik gadis yang diam diam dicintainya itu dalam pelukannya, mencoba memberinya ketenangan. Berhasil. Hara menumpahkan semuanya dalam pelukan pria itu.

“T…tidak pernah… sekalipun aku gagal…. Mem… membunuh. Apalagi gadis itu… gadis lemah itu,” katanya geram, dan sedikit tidak jelas karena bibirnya bergetar marah.

Donghae mengeratkan pelukannya pada Hara. “Sssst… sudah jangan bicara lagi,” katanya membelai rambut gadis itu lembut. “Jangan dibahas lagi. jangan dilanjutkan lagi. biarkan saja mereka.” Bujuk Donghae sambil masih mendekap gadis itu lembut.

Hara membalas pelukan Donghae, mencoba menemukan ketenangan itu. Perasaan yang tidak pernah gagal diberikan pria itu.

“Ayo pulang sekarang, biar kurawat lukamu,” kata Donghae melepaskan pelukannya pada Hara. Hara meraih silet kecil dari sakunya, lalu menurunkan jaket kulit cokelat gelap yang dikenakannya. Disayatnya kaus hitam ketat di balik jacket tersebut sehingga mengekspos sedikit bagian perutnya.

“Perawatan medis darurat,” katanya ringan dan mengikatkan bagian baju yang sudah terpotong tersebut ke tangannya. Hara sedikit mengigit bibirnya menahan teriakan saat nilon itu menekan lukanya kuat, tetapi hanya itu cara untuk menghentikan aliran darahnya. Gadis itu menutup lagi ritsleting jacketnya agar menutupi bagian perutnya tersebut.

“Ayo temui kakakku.” Kata Hara menarik tangan Donghae sementara Donghae diam di tempat menatapnya heran. apa lagi niat licik gadis ini? “Cho Kyuhyun? Untuk apa?” tanyanya.

Hara melepas tangan Donghae dan berjalan cepat ke si sexy Agustine yang terparkir manis menghalangi di tengah jalan. “Kau lupa dia Hacker handal Crazioneer? Kita lacak keberadaan mereka,” ucapnya sambil lalu membuat Donghae terperangah.

“Y…YA! CHO HARA!”

TBC

hahahaha haaai tika disini dan terimakasih untuk komennya di chapter2 sebelumnya. maap baru sempet posting ketiga sekarang soalnya lagi banyak acaraa hehehe~~ tp kalo emang penasaran di wp aku udah dipost ampe chap 5 kok :) specialshin.wordpress.com jangan lupa RCL yaaa :)

8 thoughts on “Roses Along the War [3/?]

  1. Sumpah ya… Keren pisan! :D
    jarang2 nih ff action bgni.
    Sungmin TETEP ya.. Lg darurot jg masih aja nyosor!
    Wkwkwk…

    Uda nyampe part 5 ya?
    Oke, Na rekreasi k blog author yah ;)
    brangkaaaaaaaattttt~>o<

  2. errr.. author..
    kenapa cho hara mengganggu sekaliiiii Щ(ºДºЩ)
    ga bisa liat sungmin ama yoonji seneng -_-
    tapi kalo ga gitu ga seru ceritanya ya.. #plaaak *abaikan

    lanjut thooor! jgn lama2 ya! hehe ;)

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s