Roses Along the War [2/?]

Specialshin and Ifasheitte Proudly Present.

Chapter 2 written by Ifasheitte

 

 

 

“Cho… Hara?”

***

Gadis dengan rambut digelung keatas, pakaian serba hitam dan lengkap dengan kacamata hitamnya itu berjalan mendekat kearah Sungmin dan Donghae, ia menarik kacamata hitamnya terlepas dari wajahnya kemudian melepas ikatan rambutnya sehingga gelungan rambutnya tergerai memperlihatkan rambutnya yang setengah kecoklatan itu tergerai bebas.

Tangan gadis bernama Cho Hara itu tergerak menyentuh bahu Sungmin lalu menggerakannya seolah-olah sedang membersihkan bahu Sungmin, lalu dia tersenyum dibalas oleh tawa kecil dari Sungmin.

“dingin…” Hara menengadahkan kepalanya lalu menatap Sungmin lagi, kali ini tangannya terlepas dari bahu Sungmin dan beralih menggosokkan kedua teapak tangannya sendiri. Donghae dengan cepat menarik tangan Hara, membuat Hara menoleh bingung “apa?”

Donghae menariknya untuk berpindah berdiri dihadapannya lalu melepas  jaket hitamnya dan memakaikannya pada bahu Hara. “begini lebih baik.”

“gomawo…” ucap Hara singkat kemudian menoleh ke arah Sungmin lagi. Kali ini Sungmin yang mengernyit bingung, Hara memang suka memandanginya, mengganggunya, apalagi jika Sungmin sedang menghabiskan waktunya dengan Yoonji, Hara malah semakin  gencar untuk terus mengganggu Sungmin.

“aku sangat menyukaimu.” Ucap Hara enteng sambil terus tersenyum pada Sungmin.

Sungmin dan Donghae yang mendengarnya hanya menghela nafas keras, tapi dalam maksud yang berbeda. Hara memang sudah biasa mengucapkan kata-kata manis pada Sungmin, sampai Sungmin selalu mual jika Hara mengatakannya karena… ya, Sungmin hanya menganggapnya sahabat tidak lebih.

Seperti yang sudah dijelaskan, Sungmin hanya melihat Yoonji. Hatinya sudah didipenuhi oleh Yoonji tanpa secelah pun yang tersisa untuk Hara.

Dan Donghae? Dia juga sudah terbiasa mendengar kata-kata itu yang Hara ucapkan untuk Sungmin, Donghae memang terlihat biasa saja tapi jauh di dalam hatinya ia ingin kata-kata itu tertuju untuknya, bukan untuk Sungmin.

“aku tahu. Lalu apa maumu?”

“menggantikan posisi Yoonji.” Jawab Hara singkat.

“tidak akan pernah dan jangan pernah mengharap itu sekalipun.”

“kau yakin? Bahkan setelah aku memutuskan untuk keluar dari Crazioneer hanya karena kau menolakku?”

Donghae menarik lengan Hara dengan keras “aku bilang jangan keluar! Kau termasuk special agent kenapa bisa memutuskan untuk keluar karena hal sepele seperti itu!” tegasnya.

Hara hanya melirik Donghae sebentar dan kembali memandang Sungmin, “aku hanya butuh jawabannya.” Ucapnya sambil mengedikkan kepalanya kearah Sungmin.

Sungmin balik menatap Hara lalu menatap Donghae secara bergantian, kemudian dia hanya tersenyum getir “ terserah kau, yang jelas jangan pernah memintaku lagi untuk meninggalkan Yoonji. Mau kau menyuruhku lebih dari seratus kalipun aku tidak akan mau.” Sungmin berbalik kemudian meninggalkan mereka berdua, terdengar suara sepatunya yang memijak menuruni tangga dengan kasar.

“sudah kubilang juga apa.” Ucap Donghae. Hara menggelengkan kepalanya, lalu tersenyum licik seolah-olah peringatan dari Sungmin tadi sudah menguap diudara. Hara tetap berkeras mendapatkan balasan perasaan dari Sungmin sekeras apapun Sungmin berusaha menolak ataupun mengabaikannya.

“tapi kau tidak jadi keluar dari Crazioneer kan?” tanya Donghae, memastikan utuk yang kesekian kalinya.

“tergantung.” Jawab Hara singkat, kemudian melirik kearah jam tangannya. “aku akan menyusul Sungmin.” Ucapnya lalu berjalan dengan cepat turun dari rooftop.

“yak, tunggu dulu. Hey!” Donghae ikut berjalan dibelakang Hara mencoba menahannya. Bukan, bukan bermaksud untuk ikut melindungi Yoonji ataupun Sungmin. Tapi lebih untuk menyelamatkan Hara dari Sungmin, karena Donghae tahu betul kalau Sungmin bisa melakukan apa saja bahkan terhadap Hara yang termasuk sahabatnya sendiri jika Hara berani melukai Yoonji.

“aku bilang berhenti!”

Donghae berlari menyusul Hara yang kini sudah berada dilantai dasar,  langkah gadis itu memang bisa dibilang cepat dan Hara lebih suka berlari dari pada berjalan dengan pelan layaknya gadis anggun, bahkan menggunakan higheels.

Atau memang karena dia sudah  terbiasa dengan aksi lari-berlari-nya mengingat Hara juga sering bertarung dengan banyak mafia kelas besar. Entah.

Oke, lupakan hal itu.

Donghae kembali berlari mendekati Hara saat melihat Hara sedang membuka pintu mobilnya, lalu dengan gesit Donghae menahan tangan Hara dan berdiri dihadapannya. “biar aku yang menyetir” ucap Donghae bermaksud membawa Hara ke tempat lain, bukan apartementnya dengan Sungmin. Bagaimanapun Donghae berusaha mencegah pertarungan antara sahabatnya dengan gadis yang ia sukai.

Hara menggeleng kemudian mendorong Donghae pelan “minggir.” Donghae tetap pada posisinya sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Dorongan Hara sekalipun  tidak bisa menggeser tubuh nya karena ototnya yang kekar itu.

“aku bilang minggir…”

“tidak bisa.”

Donghae kemudian masuk kedalam mobil dan duduk dikursi pengemudi tapi tiba-tiba Hara mencubit lengannya keras, membuat Donghae berteriak. “apa-apaan sih kau?!”

“aku kan sudah bilang, menyingkir!”

“dan aku tidak mau!”

“mau membuatku mati muda? Ah, Lee Donghae apa kau sudah merasa baik dalam mengemudikan mobil sekarang hah?!”

Donghae kemudian membeku setelah mendengar perkataan Hara barusan, kemudian dia menoleh ke arah Hara dan tersenyum canggung “ah, hahahaha aku lupa akan hal itu.” ucapnya lalu turun dari mobil dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hara hanya menggelengkan kepalanya lalu masuk kedalam mobil sedangkan Donghae masuk dan duduk dikursi penumpang.

Secara tiba-tiba Hara menekan gas dengan kuat sehingga menyebabkan bunyi decitan ban yang cukup keras, lalu Black-Audi nya berjalan dengan kecepatan diatas rata-rata. Seperti layaknya Sungmin, Hara juga senang mengemudikan mobilnya dengan gila-gilaan. Wajahnya bahkan terlihat sangat menikmati tidak ada rasa takut sedikitpun.

Jalanan cukup ramai tapi toh tidak berpengaruh apapun terhadap Hara, ia membanting setirnya kearah kanan menyalip sebuah truk besar pengangkut barang lalu sebelah tangannya menekan-nekan tombol disebelah setir mbil, beberapa detik kemudian mobilnya sudah dipenuhi oleh musik alternative-rock yang biasa Hara putar sambil menyetir.

Donghae menggeleng pelan, walaupun sudah biasa menaiki mobil dengan ‘supir-supir’ yang setengah gila menyetir tapi jika giliran Hara yang mengemudi, Donghae malah gelisah sendiri. Takut tiba-tiba saja Hara lengah dan mobilnya menabrak sesuatu ataupun jatuh kejurang.

Donghae mengedikkan bahunya, memikirkan itu saja  sudah membuatnya takut.

Ia melirik ke arah Hara yang masih sibuk dengan setirnya, kemudian Donghae baru menyadari suatu hal “aigoo, Cho Hara! Sabuk pengamanmu!” teriaknya.

“hm?” Hara menunduk, ia sendiri baru sadar kalau sedari tadi dirinya tidak memakai sabuk pengaman. “sebentar lagi juga sampai.”

“aku bilang sabuk pengamanmu!”

“….”

“pakai sekarang atau…”

“apa hah?”

“cepat pakai!”

“aku tidak mau.”

“Cho Hara, cepat pakai sabuk pengamanmu”

“aku bilang sebentar lagi juga sampai.”

“kau akan kucium sekarang juga kalau masih belum memakai sabuk pengamanmu!”

“beraninya. Memangnya kau siapa hah? Kekasihku?”

“kalau iya kenapa?!”

“sayangnya bukan.”

“tunggu saja.”

“apanya?”

“tunggu saja, sebentar lagi aku pasti akan menjadi kekasih—“

Ciiiiiit.

Mobil pun berhenti, Hara menoleh ke arah Donghae “aku bilang juga apa. Tidak butuh waktu lama untuk sampai. Jadi memakai sabuk pengaman pun percuma.” Ucapnya lalu tersenyum dipaksakan.

Donghae hanya mendesah keras kemudian turun dari mobil berbarengan dengan Hara.

Mereka berjalan beriringan, Donghae menekan tombol 15 pada lift yang menuju ke apartementnya kemudian kembail berdiri didekat Hara. Mata Donghae sesekali melirik Hara yang sedang sibuk dengan ponselnya, kemudian Donghae tersenyum sendiri membuat Hara menoleh ke arah Donghae terkejut, kemudian Hara kembali menatap ponselnya.

Donghae meremas tangannya sendiri dengan rasa gugup yang berlebihan, jantungnya berdegup dengan tidak beraturan. Rasanya ingin menggenggam tangan Hara seperti adegan-adegan di drama-drama korea yang sering ia lihat, sepasang kekasih yang berpegangan tangan didalam lift.

Kemudian dia mengurungkan niatnya, Donghae ingat bahwa gadis ini bahkan tidak menyadari kalau Donghae begitu menyukainya. Sialnya, gadis yang ia cintai malah mencintai sahabatnya sendiri, Lee Sungmin.

Ting.

Pintu lift terbuka, Hara kembail berjalan beriringan dengan Donghae menuju apartemennya. Sampai didepan pintu apartemen Hara menekan password keamanan yang sudah dihapalnya diluar kepala, karena Hara memang hampir setiap harinya mengunjungi apartemen Sungmin dan Donghae.

Hara membuka pintunya, lalu langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok Sungmin dan Yoonji. Donghae menyentuh pelipisnya sendiri dengan gelisah, ia yakin sebentar lagi pasti ada kekacauan disini.

Pasti.

Merasa waktunya terbuang percuma karena hanya berdiri dengan bodoh tanpa melihat Sungmin dan Yoonji, Hara kemudian berjalan mengitari ruangan. Langkahnya terhenti saat melihat foto Sungmin dan Yoonji yang memperlihatkan mereka berdua sedang tersenyum lebar diatas rollercoaster, Hara memandangnya dengan penuh benci lalu memukulkan tangannya kearah kaca foto itu dengan kesal. Bunyi pecahan kaca pun menggema dengan keras, Hara terus memukulnya sampai pigura foto itu rusak dan tidak berbentuk sedikitpun.

Rasa obsesinya terhadap Sungmin memang sudah terlampau tinggi, sampai kaca yang menancap dijari-jari tangannya bahkan tidak membuat Hara merasa kesakitan apalagi berteriak menangis seperti anak kecil.

Tidak seperti itu.

Hara hendak memukulkan tangannya sekali lagi tapi tangan seorang pria menahannya, memegang lengan Hara dengan kuat. “jangan lakukan hal bodoh” ucapnya lalu memembersihkan darah di jari-jari Hara dengan kemeja yang pria itu kenakan.

“dengarkan aku, Lee Donghae. Kau akan menjadi saksi atas pernyataanku! Aku tidak akan pernah membiarkan Yoonji ataupun gadis manapun memiliki Sungmin. Karena hanya aku yang boleh memiliknya, kau dengar? Katakan pada Sungmin. Aku—emmph“

Ucapan Hara terhenti karena Donghae cepat-cepat membungkam mulut Hara dengan tangannya, “aku mengerti. Jangan katakan lagi.” Ucap Donghae sambil melepas tangannya dari mulut Hara.

“dengar itu, Shin Yoonji….” desis Hara mengambil foto tadi yang sudah terlepas dari piguranya , lalu Hara meremas foto itu dan membuangnya ke lantai.

“Sungminnie, aku sudah membelikanmu starbucks frappucino dan—“ tiba-tiba seorang gadis masuk kedalam apartemen yang pintunya masih terbuka itu, Donghae dan Hara langsung berbalik dan Donghae yang pertama kali tersentak terkejut saat Yoonji berdiri di pintu apartemen dengan plastic bag ditangannya.

“Yoonji? Aku kira kau sudah pulang.” Ucap Donghae terkejut.

Yoonji menggelengkan kepalanya, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya dari Hara yang menatapnya sangat keji.

“oh, shin Yoonji. Kita bertemu lagi.” Desis Hara. Tangannya bergerak mengambil sesuatu dari balik saku jeans hitamnya, mengambil pistol Walther P99 miliknya dan mengacungkannya tepat kearah kepala Yoonji.

Yoonji secara kaget refleks menjatuhkan kantung plastik yang ia bawa dan membeku ditempat.

Hara tersenyum licik kemudian menengadahkan kepalanya sedikit, siap untuk meluncurkan pelurunya tapi tangan Donghae lagi-lagi menahannya. Mengambil secara paksa pistol Hara dengan tangannya. “kau pernah bilang padaku, kau tidak akan pernah membunuh seorang wanita. Bahkan jika tugas mengharuskanmu membunuh wanita kau menyerahkannya padaku kan? Untuk hal ini kau mau melanggar perkataanmu sendiri?”

Hara menelan ludahnya lalu teridam sebentar, dia memang tidak pernah mau membunuh seorang wanita karena Hara pikir semua wanita didunia ini pasti memiliki sisi lembut dan baik hati lebih dominan dari sisi jahatnya sekalipun. Lalu dia melirik Yoonji yang terdiam sambil memejamkan matanya, kedua tangan Yoonji menutup kedua telingannya. Hati Hara mencelos, merasa kasihan pada gadis ini. Gadis yang membuatnya iri setengah mati.

Kemudian Hara menoleh kearah Donghae “kalau begitu kau saja yang membunuhnya.” Ucap Hara. Donghae melototkan matanya terkejut, “aku?”

Hara menganggukkan kepalanya.

“Cho Hara, tolonglah berpikir jernih. Dia itu kekasih dari sahabatmu sendiri, tidakkah kau merasa kasihan padanya? Atau bahkan kau tega sekali menyuruhku untuk membunuh kekasih dari sahabatku sendiri!”

“kau banyak bicara! Cepat lakukan saja.” Hara mendorong bahu Donghae dengan kasar.

Donghae memejamkan matanya untuk merilekskan pikirannya sebentar. Ia kemudian menoleh ke arah Yoonji dan berteriak “keluar dari apartemen, Yoonji-ah. Ppali!”  ucap Donghae yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Hara. Yoonji sendiri langsung berlari keluar dengan terburu-buru

“hah?! Kau bicara apa barusan!” protes Hara kesal sambil mendorong  bahu Donghae (lagi). Donghae mendekatkan wajahnya ke wajah Hara lalu berbisik “aku hanya takut Sungmin akan membunuhmu jika kau membunuh Yoonji.”

“dia tidak akan membunuhku!”

“dia akan membunuhmu jika kau berani melukai Yoonji.”

Hara menggelengkan kepalanya lalu berlari keluar untuk mengejar Yoonji, tapi kemudian dia terjatuh saat tangan Donghae menariknya membuat Hara jatuh tersungkur. Donghae mengambil revolver Baretta92 dari balik jaketnya dan mengacungkannya didepan wajah Hara

“aku sudah bilang, jangan lakukan hal bodoh!” tegas Donghae, kini ia semakin memegang pistolnya dengan lebih erat sambil tetap mengacungkannya didepan Hara. Hara hanya menghela nafasnya lalu tiba-tiba berdiri dan melakukan high-kick pada Donghae, dengan gesit Donghae membungkukkan badannya untuk menghindari high-kick Hara.

Donghae hanya menyeringai kemudain berjalan mendekati Hara, membuat Hara berjalan mundur. Semakin cepat Donghae berjalan mendekati Hara semakin cepat juga Hara berjalan mundur menghindari Donghae.

Kemudian Donghae kembali mengacungkan pistolnya, bersiap menarik pelatuk pistolnya. Dan secara tiba-tiba Hara duduk diatas meja dan menendang pistol yang sedang Donghae pegang sehingga pistol itu jatuh dengan keras ke lantai.

Hara berdiri lalu mendorong Donghae dengan sangat keras, Donghae jatuh terlentang lalu Hara buru-buru menginjak lengan Donghae dengan high-heelsnya. Donghae merintih, tangannya terasa sakit karena ujung high-heels Hara yang tajam menghunus kulit lengannya. Ia yakin sebentar lagi kulitnya sobek dan mengeluarkan darah.

Dengan liciknya, Donghae menggerakan sebelah tangannya yang bebas dari injakkan kaki Hara, menarik high-heels Hara yang menusuk lengannya itu. “woaa!” jerit Hara kemudian kini ia yang terjatuh, Donghae berdiri dan mengangkat high-heels yang tadi dikenakan di kaki sebelah kiri Hara kini ada ditangannya.

“kau tahu? Ujung sepatu tolol ini sangat tajam!” ujar Donghae lalu membuang high-heels itu jauh-jauh.

Hara masih merintih sambil menyentuh bagian punggungnya yang sakit lalu memasang wajah kesakitan dengan berlebihan, agar Donghae bersimpati padanya dan ….benar saja! Donghae langsung mengulurkan tangannya pada Hara yang senang hati diterima olehnya dan…tunggu dulu.

Setelah Hara menggapai tangan Donghae, ia malah memelintirnya dan membanting Donghae dengan keras sampai tubuh Donghae terlempar menabrak sofa. Hara tersenyum puas kemudian berdiri sambil merapikan pakaiannya.

“hanya sampai situkah skill pertahananmu, Lee Donghae?”

“aku tidak tahu kau akan bermain sekasar ini, huh.”

Donghae berdiri dengan entengnya, walaupun badannya sudah membentur bagian belakang sofa dengan keras tapi toh tidak terasa sakit pada tubuh Donghae. Karena hal seperti ini memang sudah biasa mereka berdua lakukan.

Hara mendekat kearah Donghae dan tersenyum kecil, “kau memang sangat ahli mencegahku untuk tidak membunuh Yoonji ataupun memaksa Sungmin. Kau benar-benar tahu jika aku sangat tidak bisa menolak pertarungan.” Ucap Hara .

“aku selalu tahu apapun tentangmu.” Jawab Donghae sambil memamerkan senyumnya.

“i know it.” Respon Hara yang sebenarnya ia sendiri tidak mengerti apa maksudnya Donghae berbicara seperti itu. tingkah Donghae terhadapnya memang selalu membingungkan, terkadang terkesan terlalu menjaganya dan selalu bisa mengaturnya padahal Hara tipe orang yang tidak mau diatur oleh siapapun.

Pikirannya terlalu disibukkan oleh seribu cara untuk mengambil hati Sungmin dan menyingkirkan Yoonji. Oleh karena itu, Hara tidak menyadari sama sekali kalau Donghae selalu melihat kearahnya, selalu melindunginya, mencintai Hara bahkan jauh sebelum Hara menyukai Sungmin.

Donghae menyukai Hara sejak awal mereka berdua bertemu, tanpa alasan apapun. Ia hanya menyadari tiba-tiba saja melihat Hara benar-benar candu untuknya. Bahwa didekat Hara ia bisa merasa sangat bahagia bahkan tanpa harus Hara melakukan apapun.

Sekalipun Hara menyukai Sungmin tapi Donghae tetap menjaga perasaannya, karena ia yakin suatu saat Hara akan berbalik untuk melihatnya, bukan Sungmin lagi.

-Flashback

Suara-suara senapan dan berbagai revolver masih terdengar area bangunan besar milik Crazioneer ini, berbagai agen sedang melatih skill nya dalam menggunakan senjata. Pertengahan tahun 2001, awal bulan Juli disitulah ada semacam pemilihan untuk penambahan agen special karena ditiap tahun pasti ada agen yang pensiun sehingga harus digantikan dengan menambahkan agen-agen baru.

Seorang anak laki-laki, masih sekitar berumur 16 tahun duduk diatas kursi panjang dipinggir landasan pesawat terbang milik Crazioneer, menunggu gilirannya untuk berlatih mengemudikan helikopter. Anak itu memandang rekannya yang berumur sama dengannya yang kini ada diatas helikopter, sambil sesekali melirik kearahnya.

“Sungmin-ah fighting!!!” ucap anak laki-laki yang duduk dikursi panjang, Lee Donghae.

Ini kali pertamanya untuk Donghae dan Sungmin menaiki kendaraan terbang, dan memang sudah diwajibkan untuk bisa mengendarai pesawat maupun helikopter diusia yang terbilang masih dini ini. Mereka berdua baru saja menamatkan pelatihan mengendarai mobil dan motor dengan tekhnik yang jauh diluar batas. Sekitar setahun yang lalu.

Donghae merasa gelisah, karena saat pelatihan mobil ia sama sekali tidak bisa mahir. Pasti selalu berakhir dengan menabrak sesuatu, beda hal nya dengan mengendarai motor. Untuk hal sekarang ini, Donghae berHarap ia bisa melakukannya dengan baik.

Helikopter baru saja lepas landas dengan Sungmin sebagai pilotnya, Donghae tersenyum senang bahwa helikopter itu terbang dengan baik. Setidaknya itu menandakan sahabatnya baik-baik saja disana.

Kemudian Donghae mengusap-usap tangannya yang  basah karena gugup, dan tiba-tiba saja ia mendengar suara bantingan pintu yang cukup keras.

“braaak”

Donghae menoleh kaget lalu langsung tersentak saat melihat seorang gadis kecil dengan perawakan kurus, rambut setengah kecoklatan yang panjang  menyenderkan badannya dibalik pintu. Donghae yakin gadis itu yang tadi membanting pintu dengan keras.

Karena penasaran, Donghae pun beranjak dan berjalan mendekati gadis itu.  “kau… kenapa?” tanyanya. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya ketakutan sambil menggeleng pelan, “apakah terjadi sesuatu denganmu?” tanya Donghae lagi.

Gadis itu akhirnya menurunkan kedua tangannya, mendongak untuk melihat wajah Donghae.

“hasyim!!!” tiba-tiba gadis itu bersin tepat didepan wajah Donghae, membuat Donghae tertawa.

“Mianne…” ucap gadis itu.

“gwenchana. Kau….  tidak apa-apa?”

Gadis itu menggeleng lagi, wajahnya amsih terlihat ketakutan. “aku takut mendengar suara senapan-senapan didalam, suaranya keras sekali. Aku takut.”

Donghae kemudian tersenyum dan menepuk pelan kepala gadis itu. ia sendiri teringat kejadiaannya saat pertaa kali masuk ke Crazioneer, ia juga mengalami hal yang sama seperti gadis ini. Ketakutan.

“kau baru direkrut ya? Tidak apa-apa, awalnya memang menakutkan tapi lama-kelamaan kau akan terbiasa.”

“aku tetap takut! Aku ingin keluar saja!” bantah gadis itu.

“ani. Kau tidak boleh keluar, karena semua yang sudah direkrut di Crazioneer itu merupakan orang-orang pilihan dan kau termasuk dalam hal itu.”

“aku tidak peduli! Aku mau keluar saja.”

“percaya padaku, lama-kelamaan pasti kau akan terbiasa.”

Gadis itu memandang Donghae dengan sengit, sebal karena Donghae terus menahannya bukannya membantunya untuk keluar. “kalau begitu jangan ikut campur! Aku akan keluar sendiri, minggir!”

Donghae melotot kaget saat gadis itu memarahinya secara tiba-tiba. “kau tidak sopan berbicara seperti itu pada sunbaemu!”

“sunbae? Memangnya kau tahu berapa umurku? Tahu namaku saja tidak!”

“tapi jelas terlihat kalau aku lebih tua disini!”

“oh begitu? Itu tandanya mukamu tua! Dan kau menyadarinya”

“ahhhs, bukan begitu! Maksudku—ah kenapa kau menyebalkan sekali sih!”

“kau yang menyebalkan! Jangan sok menahanku, aku mau kabur dari sini!”  gadis itu mendorong Donghae dan berjalan cepat melewati Donghae, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Gadis itu menoleh kekiri dan mendongak, “whoaaah”

Gadis itu terkesima dengan helikopter yang sedang melaju tidak jauh dari landasan, kemudian dia melihat jejeran pesawat yang tertata rapi di pinggir landasan. Gadis itu mengerjapkan matanya tidak percaya, apalagi ketika melihat sebuah helikopter turun dan seorang anak laki-laki yang ikut turun.

“hey, kau!”

Donghae menoleh saat gadis itu menyenggol lengannya. “wae?”

“apakah… kita akan dilatih untuk mengendarai pesawat juga?”

Donghae mengangguk malas.

“BENARKAH?!!”

Donghae tersentak kaget sampai hampir terjatuh kebelakang.

“AKU MAU SEKALI!!!!” dalam sepersekian detik gadis itu sudah heboh sambil mengguncang lengan Donghae, berjingkat-jingkat senang layaknya anak kecil yang baru saja dibelikan cokelat.

“yak! Aduh… lepaskan tanganku, jangan mengguncangkannya seperti itu tanganku bisa putus!” protes Donghae.

Gadis itu tertawa lepas, masih berjingkat-jingkat senang dihadapan Donghae.

Donghae ikut tertawa, tiba-tiba saja perasaannya menajdi tidak karuan dan rasanya ingin memeluk gadis itu sekarang.

Dan bodohnya Donghae malah melakukannya.

“YAK, APA-APAAN KAU KENAPA MEMELUKKU!” gadis itu meronta-ronta, mendorong tubuh Donghae dengan keras. Donghae kemudian menjauh, merasa malu akan perbuatannya barusan. Bodoh. Benar-benar bodoh. Kenapa ia bisa lepas kontrol seperti itu?

“Lee Donghae, giliranmu!” teriak Sungmin dari jauh, Donghae kemudian menoleh dan berlari kearah Sungmin.

Tiba-tiba saja gadis tadi mengikutinya dibelakang Donghae, dan berhenti lalu tersenyumcanggung saat Donghae berbalik dan menatapnya heran.

“aku mau ikut naik helikopter bersamamu. Boleh kan?” tanya gadis itu sambil mengerjapkan matanya, memohon pada Donghae.

Donghae tersenyu setiap melihat tingkahnya yang menurut Donghae lucu, dan Donghae pun mengangguk “boleh saja. Tapi sebutkan dulu namamu…”

Gadis itu mengulurkan tangannya “Cho Hara. Dan… kau?”

“Lee Donghae.” Donghae menyambut uluran tangan Hara dan tersenyum lagi. Cho Hara juga tersenyum dan pipinya merona merah.

“pipimu selalu memerah jika kau tertawa ya?”

“semua oraang yang mengenalku selalu bilang begitu walaupun aku tidak suka!”

“tapi kau terlihat manis.”

“tidak juga.” Hara menggeleng, membuat rambut kecoklatannya menjadi sedikit berantakan.

“LEE DONGHAE, GILIRANMU!! DENGAR TIDAK SIH?” teriak Sungmin yang langsung membuat Hara dan Donghae berlari cepat kearanya.

Flashback end

Donghae tertawa kecil saat teringat dengan pertemuan pertamanya dengan Hara dulu, dari pertama mereka bertemu Donghae memang sudah menyukainya. Bahkan lebih dulu sebelum Hara kemudian mengenal Sungmin dan menyukai Sungmin. Love is complicated an unexpected…

“Cho Hara kecil sangat lucu, dan Cho Hara dewasa sangat sadis!” gurau Donghae yang langsung mendapat pukulan bantal dari Hara.

“kita kan memang diajarkan untuk menjadi sadis!” tegas Hara.

Hara beralih duduk disebelah Donghae kemudian mengambil paperbag bertuliskan Violetta bakery dan mengambil sesuatu dari dalamnya. “Macarons?”

Hara mengambil macarons yang masih tersisa sedikit itu dan memakannya. “ini milikmu?” tanya Hara masih mengunyah macarons

“bukan. Itu milik Yoonji, tadi Sungmin yang membelikan untuknya.”

Hara seketika langsung berhenti mengunyah dan menelannya dengan paksa. Kemudian dia memutar kedua bola matanya.  “untuk Yoonji? Cih!”

“ada apa memangnya dengan Yoonji hah?” ucap seseorang dari balik sofa, Donghae dan Hara menoleh kebelakang melihat Sungmin yang sedang berdiri dengan muka garang, melipat kedua tangannya.

Hara yang pertama kali berdiri dari sofa. “aku akan menyingkirkannya.” Ucap Hara sesinis mungkin, kemudian menyeringai.

Tiba-tiba saja Sungmin emgeluarkan revolver dari balik jaketnya dan mengacungkannya tepat ke kepala Hara. “Tidak akan.”

TBC—————

17 thoughts on “Roses Along the War [2/?]

  1. speechless dah bca ni ff… keren!!! daebak! sosok sungmin n donghae tu bner2 cool. terus penggambarantentang Hara n Yoonji jg jelas. jd, bisa byngin gmna mereka.

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s