Roses Along the War [1/?]

sooo after that long hiatus (my last chaptered ff was lover’s fight) i’m back with new story. the main cast will be SJ’s Sungmin and Donghae, paired up with 2 OC’s.

ini ff duet. part ganjil authornya saya (specialshin) part genap authornya ifasheitte. really need your comment and support guys! enjoy.!

Roses Along the War 1 by Specialshin.

\

 

                                     

Sungmin membidik target yang berada jauh 100 meter dihadapannya dan peluru itu mendesing cepat menembus lingkaran hitam kecil di tengah papan tersebut. Sungmin tersenyum puas dan melakukan tembakan keduanya, dan hasilnya tidak kalah spektakuler dari itu.

Seseorang menepuk  bahunya dari belakang. Sungmin menoleh lalu membungkuk dengan hormat. “Master,” ucapnya sementara pria tua yang dipanggil master tersebut hanya tersenyum bangga. “Kau adalah asset besar organisasi kita. Sungmin-ah. Kau dan Donghae.” Katanya. Sungmin hanya tersenyum tipis mendengarnya.

Crazioneer, suatu organisasi besar semacam mata mata dari FBI yang ada di korea. Dengan para special agent tangguh yang dilatih super ketat mulai dari mereka berusia balita. Lee Sungmin dan Lee Donghae adalah dua dari yang terbaik di antara mereka dengan skill menembak dan bela diri paling menonjol bahkan semenjak mereka berusia 5 tahun.

Organisasi itu benar benar terkemuka diantara mereka mereka yang mengetahuinya. Tidak banyak yang pernah mendengar nama Crazioneer karena itu adalah badan bawah tanah buatan FBI, yang diletakkan di benua asia untuk membentuk sumber daya yang tangguh tanpa tercium oleh musuh dan mata mata di luar sana.

Kang Junghwan, pria separuh baya namun tangguh pemimpin nomor satu Crazioneer, mantan special agent FBI namun ditugaskan kembali ke Negara asalnya untuk merintis organisasi yang merupakan proyek besar dan ada di urutan ke 4 dalam skala prioritas FBI. Pria itu sudah menganak emaskan Sungmin dan Donghae semenjak mereka berdua menjadi partner mematikan bagi teman temannya di usia balita.

 

Tiba tiba pandangan teduh pria itu mengeras. Sungmin menatapnya waspada dan benar saja, ia menarik sebilah pedang lurus dari pinggangnya dan menghunuskannya tepat kearah bahu Sungmin membuat pria itu terpaksa mengelak ke kanan.

 

Junghwan memutar mutar pedangnya lihai dan kembali mengarahkan benda tajam itu pada murid kesayangannya tersebut memaksanya untuk berkelit dan melakukan salto ke belakang guna menghindari mata pedang yang mengincar jantungnya itu.

Saat pria itu lengah, Sungmin menarik pistol M5 lengkap dengan peredam yang diselipkan di pinggangnya tadi. Ia membidik pedang gurunya itu tetapi terlambat, pedang itu bergerak sehingga Sungmin tidak sempat menembaknya.

 

 

Sungmin melompat salto dua kali ke belakang untuk menciptakan jarak diantara mereka berdua. Junghwan menatapnya dengan mata dipicingkan dan meluruskan pedangnya dengan ujung yang mengarah tepat ke jantung Sungmin.

Ia berlari cepat ke arahnya sementara Sungmin yang awalnya ragu menarik pelatuk pistolnya lalu menembakkan dengan jitu, tepat di mata pisau membuat pedang itu melayang ke belakang terlepas dari tangan pemiliknya.

Junghwan menatap tangan kosongnya dan suasana hening diantara mereka. Sungmin dengan nafas terengah memandang gurunya tersebut heran akan apa yang baru saja dilakukannya.

“DAEBAK!” Junghwan bertepuk tangan keras memuji Sungmin yang sekarang salah tingkah tetapi tetap waspada. Tetapi Junghwan dengan cekatan merebut M5 dari tangan Sungmin, menarik pelatuknya dan dalam sepersekian detik benda itu sudah mengacung di pelipis kanan Sungmin yang membatu.

“Kau hebat, Lee Sungmin. Hanya satu yang perlu kusampaikan…” katanya dalam suasana mencekam tersebut. Sungmin hanya menelan ludahnya membatu di tempat.

“Siapapun lawanmu…. Dalam sebuah pertarungan jangan ragu ragu untuk menyingkirkannya. Termasuk gurumu sendiri,” ucapnya lalu menurunkan pistolnya dan mengembalikan ke tangan Sungmin. “Oh ya, jangan menaruh pistol di jeansmu, banyak yang impotensi karena itu,” candanya renyah. Ia menepuk pundak  murid kesayangannya itu berwibawa, dan meninggalkannya sendirian.

Sungmin menghembuskan nafas panjangnya. Inilah yang paling ia benci dari seorang Kang Junghwan. Suka sekali mengetes tiba tiba dan ia kan paling tahu kalau Sungmin tidak akan mungkin membahayakannya. Hutang budi yang ditanggung Sungmin padanya jauh lebih besar dari naluri menyerang yang harus dimilikinya.

Sungmin baru saja mau menyelipkan mulut pistolnya ke jeans ketika mengingat peringatan Masternya itu tentang ‘impotensi’. Ia tertawa kecil lalu meraih jaket hitamnya dan menyelipkan pistol tersebut di kantung bagian dalamnya. Ia meraih ponselnya dan menekan nomor gadis specialnya.

“Yoboseyo?”

Sungmin tersenyum lembut mendengar suara itu. Benar benar suara yang diinginkannya. Shin Yoonji, gadis yang selalu jadi orang special untuknya. Sungmin benar benar  menelepon hanya untuk mendengarkan suara damainya.

Sebenarnya Sungmin ingin gadis itu mengatakan lebih dari sekedar ‘halo’. Sebenarnya Sungmin ingin gadis itu menanyakan kabarnya atau menceritakan harinya sepagian ini. Ia ingin gadisnya itu memarahinya karena meninggalkan rumah tanpa sarapan. Sebenarnya Sungmin tidak terlalu peduli apapun yang dikatakan gadis itu. Ia hanya ingin mendengar Yoonji berbicara.

“Apa kabar?” tanya Yoonji lembut membuat Sungmin tersenyum senang. Gadis ini memang paling mengerti keinginannya. “Apa saja yang kau lakukan hari ini?” Sungmin bertanya balik.

Yoonji diam, seperti berpikir. Sungmin tahu gadis ini pasti sedang memikirkan urutan kronologis cerita, seperti yang dilakukannya setiap malam saat mereka menghabikan waktu berdua di balkon rumahnya, atau Sungmin datang malam hari untuk sekedar menggenggam tangannya.

Sungmin hanya diam menunggu jawaban dari gadis itu, tidak sabar dengan jawaban panjang yang akan di terimanya. “Aku bangun jam tujuh, lalu pergi kuliah. Saat sampai di kampus aku baru ingat kalau hari ini aku tidak ada kelas pagi. Bodoh ya? Setelah itu aku ingat kalau apartemenmu dan Donghae sangat dekat dengan kampusku. Aku langsung pergi kesana dan disana hanya ada Donghae, jadi sambil menunggu kelasku selanjutnya aku menghabiskan waktu bersama dia,” cerocosnya panjang.

Sungmin hanya tertawa kecil karena kecerobohan gadis ini. Gadis ini ceroboh, banyak bergerak, suka berbicara, kalau berjalan suka menandak nandak. Tidak pernah memperhatikan jalan dan mungkin akan segera mati jadi korban tabrak lari kalau dibiarkan berjalan kaki sendirian.

Tidak bisa memasak, cengeng dan segala macam ketidak sempurnaan lainnya tetapi satu hal penting yang membuat Sungmin sampai matipun tidak akan bisa melepaskannya adalah, bahwa gadis ini mencintainya.  Cinta sebesar itu mana mungkin dilepaskannya begitu saja.

Selama ia hidup, dua tahun dipanti asuhan dan dua puluh empat tahun di pelatihan Crazioneer, cinta yang diterimanya hanya dari seorang master hebat Kang Junghwan, sahabat sehidup matinya Lee Donghae, dan gadis-bukan-siapa-siapa ini. Dibesarkan bersama dengan pedang, senapan dan senjata lainnya, berbicara dengan Yoonji membuatnya normal dan merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia yang bangun jam delapan pagi dan pergi kuliah atau bekerja.

“Jadi… kau dimana sekarang?” tanya Sungmin sambil melangkah keluar pekarangan gedung perusahaan besar fake yang dimata orang orang adalah kantor sebuah PT paling maju Korea, tetapi ternyata didalamnya terdapat ribuan system pengamanan canggih untuk memastikan kedok sebenarnya terlindungi dengan sempurna.

“Di apartemenmu, kubilang. Dengan Donghae,” katanya ceria. Sungmin hanya tersenyum senang mengetahui gadis itu senang mendengar suaranya juga. “Dan apa yang kau lakukan bersama Donghae?” tanya Sungmin lagi. Entahlah, memancing gadis ini berbicara memiliki sisi menyenangkan sendiri untuk Sungmin.

Yoonji diam, lagi lagi mengurutkan kronologis cerita dalam pikirannya. “Er… awalnya aku memintanya mengajariku memasak Macarons, mengingat dia koki terhebat sepanjang hidupmu—“

“satu satunya koki sepanjang hidupku Yoon, mungkin banyak yang lebih hebat tetapi hanya Donghae yang aku percaya tidak akan meracuniku,” canda Sungmin membuat Yoonji tergelak. “Lalu? Apakah Macaronsmu berhasil?” tanya Sungmin lagi, kali ini memasuki mobil dan menghubungkan ponselnya dengan headset agar bisa tetap mengobrol dengan gadis itu sepanjang perjalanan.

“Ya… aku masi pemula um… kau tahu kan? sedikit fail sih, tetapi Donghae bilang bentuknya bagus kok,” kata Yoonji mencari cari alasan dan Sungmin hafal betul ini artinya Macarons buatannya tadi itu gagal total.

Sungmin tersenyum sendiri membayangkan wajah kecewa Yoonji saat melihat Macaronss itu berbentuk abstrak dan  rasanya tidak kalah abstrak. Dan pria itu hampir melepaskan tawanya saat membayangkan ekspresi Donghae yang lebih lebih abstrak lagi melihat gadis itu memberantaki dapurnya.

“Jadi Donghae bilang Macaronsmu bagus?”

Yoonji hanya terdiam sebentar mendengar pertanyaan Sungmin. Sudah bisa dibayangkan wajahnya murung saat itu. “Iya dia bilang begitu tetapi aku tahu itu tidak benar. Pasti Macaronsku itu super fail tetapi karena aku kekasih sahabatnya jadi dia masih baik hati memuji bentuknya,” curhat Yoonji membuat Sungmin ingin segera mencium pipinya gemas.

“Baiklah, si cantik yang baru saja gagal membuat Macarons dan menerima pujian palsu dari sahabat pacarnya, aku akan kembali membawakanmu Macarons yang banyak. Mau rasa apa?” tanya Sungmin sambil menghentikan mobilnya di depan bakery terkenal yang tertangkap oleh matanya.

Yoonji memekik girang diujung sana membuat Sungmin lagi lagi tergelak. “Aku mau orange chocolate! Rose juga. Vanilla juga. Mango juga. Blackforest juga. Black Currant juga. Greentea juga,” paparnya nonstop.

“Er… Sungmin Oppa…” Sungmin tersenyum kecil mendengar Yoonji memanggilnya begitu. Walaupun usia mereka terpaut empat tahun, gadis itu tidak pernah memanggilnya Oppa kecuali ada kemauan tertentu yang harus dipenuhi.

“Hm?” balas Sungmin sambil mengatupkan bibirnya rapat takut akan mengeluarkan gelak tawa. “Tidak bisakah kau membawakan saja semua rasanya untukku? Aku sedih karena gagal  membuat Macarons,” katanya dengan suara yang dibuat buat murung.

Sungmin hampir saja tergelak karena itu. Gadis itu memang selalu punya trik trik payah untuk merayunya dan walaupun itu tidak pernah mempan pada Sungmin, pria itu tetap saja selalu pura pura tidak kuat melawan rayuannya untuk memenuhi apapun kemauan Yoonji.

Sungmin membuat suara sedih yang dibuat buat untuk menghibur gadisnya. “Ah.. jangan murung begitu sayang, baiklah aku bawakan semua Macarons untukmu, bagaimana?” katanya lembut sambil mengisyaratkan waiter di counter untuk membungkus semua rasa Macarons masing masing satu untuk dibawa pulang.

“Yay!” Yoonji berteriak sambil tertawa tawa girang, dan samar samar Sungmin mendengar suara Donghae di ujung sana, ‘jangan berlebihan bocah. Rapikan dulu dapurku,’

Yoonji terdengar menjauhkan handphone dari telinganya dan berteriak pada Donghae. “Ya! Jangan berteriak seperti itu atau kuadukan kau pada Sungmin, dia bisa membunuhmu,” katanya membuat  Sungmin tertawa di ujung sana. Gadis itu mengira Sungmin tidak bisa mendengar pembicaraannya.

“Masa bodoh. Mungkin pertarungan kami akan menjadi legenda Crazioneer. Sekarang rapikan dapurku,” omel Donghae persis seperti Ahjumma di pasar swalayan.

Yoonji dengan pasrah menempelkan lagi ponselnya di telinga, berniat menutup pembicaraannya dengan Sungmin. “Sungmin-ah. Nanti dulu ya, aku ada sedikit urusan menyenangkan dengan Donghae,”katanya membuat Sungmin untuk kesekian kalinya mengatupkan bibrnya rapat rapat menahan tawa. “Semenyenangkan apa sih, sampai tega menutup teleponku,” pancingnya.

“Er… sangat menyenangkan mungkin, apa lagi kalau kau pulang membawakanku selusin Macarons. Sudah dulu yaaa annyeong jagi,” ucapnya panjang lalu terdengar tuut tuut pelan yang menandakan Yoonji sudah menekan tombol merah ponselnya.

Waiter bakery itu terheran heran melihat Sungmin membayar Macaronsnya dengan tersenyum senyum sendiri. Ia menyerahkan paperbag penuh makanan bulat menggiurkan itu dan membungkuk hormat sebelum Sungmin melangkah gontai keluar dari pintu bakery tersebut.

Sungmin masih belum bisa menghilangkan senyum di wajahnya ketika menstarter mobil dan mengemudinya santai melintasi jalanan lenggang Seoul di hari selasa siang yang lumayan dingin ini. Benar kan, persepsinya selama ini, berbicara dengan Yoonji tidak pernah gagal membuatnya rilex.

Pria itu melihat jam tangannya, masih menunjukkan jam sepuluh lewat sekian menit. Ia memperhatikan jalan di sekelilingnya, dan mendapati jalan potong yang diambilnya benar benar sepi. Sungmin menginjak dalam dalam pedal gas membuat mobil itu melaju super cepat.

Skill menyetir seperti orang gila ini sudah diajarkan kepadanya semenjak usianya lima belas tahun, dimana dia dilatih untuk menyetir gila gilaan dan membidik sasaran dari dalam mobil. Donghae tidak pernah berhasil menggunakan cara ini karena dia pengemudi yang buruk, sampai detik ini. Tetapi Donghae mahir menggunakan motor besar dan bisa tiba tiba menukik tajam menghindari tembakan dan mengerem dengan kepala masih utuh.

Sungmin memutar balik mobilnya, membanting setir 360 derajat. Cara yang berlebihan untuk berbalik arah memang, tetapi cara menantang seperti ini kadang kadang menyenangkan. Ia kembali menginjak pedal gasnya dalam dalam, dan mengebut cepat melintasi jalan lenggang seakan itu adalah track balap.

Ia membelok tajam di sebuah tikungan besar dan menghentikannya tepat di depan apartemennya. Sungmin melepas seatbelt, meraih paperbag Macarons di kursi belakang dan berjalan gontai turun dari mobil sportnya memasuki gedung apartemen mewah tersebut.

Sungmin menekan tombol 15 pada lift dan dirasakannya benda itu membawanya naik. Terdengar bunyi ting pelan dan pintu elevator terbuka. Sungmin berjalan gontai menyusuri koridor dan menekan tombol keamanan apartemennya, terdengar jawaban mesin dari dalam dan pintu terbuka otomatis.

“YA! Kau wanita jadi jadian! Aku menyuruhmu mencuci piring bukan membanjiri dapur, pabo!” terdengar suara Donghae mengomel panjang lebar. “Kau itu pria atau bukan sih? Berani membentak wanita seenaknya. Air ini mengalir tanpa henti, keranmu rusak, Pabo” balas Yoonji sambil menengadah kea rah Donghae yang jauh lebih tinggi darinya.

“Itu keran otomatis, kalau kau menjauhkan tanganmu dari sensornya itu akan berhenti sendiri! Dan jangan lupa panggil aku Oppa. Aku ini lebih tua darimu,” cerocos Donghae lagi tidak terima dikatai bodoh oleh wanita yang bahkan tidak bisa mematikan keran otomatis.

“Shireo! Sungmin saja tidak kupanggil Oppa,” balas Yoonji membuat Donghae mengacak rambut frustasi. “Itu yang membuat aku bingung kenapa si genius itu mendadak tolol, mau diperbudak olehmu,” ucapnya pasrah membuat Sungmin hampir kelepasan gelak tawanya.

Sungmin berdeham membuat mereka berdua menoleh reflek kearahnya. “Ah… Op…pa,” kata Yoonji semanis kucing, karena siap menerima Macaronsnya. Bahkan semenjak Yoonji melafalkan kata ‘Oppa’, Sungmin sudah tahu gadis itu akan berlari kearahnya dan mengincar Macarons itu, bukan dirinya.

Pandangan Yoonji turun ke paperbag bertuliskan ‘Violetta Bakery’ dan memekik kencang ‘Yay! Macarons!”

Benar kan?

Yoonji berlari cepat kearahnya, membuat Sungmin menyembunyikan paperbag itu tepat di belakang punggungnya membuat Yoonji  melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu dan menengadah memandang Sungmin tepat dimatanya, melempar pandangan memohon.

“Oppa, aku lapar…” rayunya membuat Sungmin terkekeh. “Cium aku dulu,” katanya membuat Yoonji nyengir lebar dan menjinjit mencium bibirnya sekali. Bukan syarat sulit. Yoonji menatapnya lagi tetapi Sungmin tidak kunjung menyerahkan Macarons yang sudah menjerit minta dimakan itu.

Yoonji menjinjit lagi dan memberikan sesuatu yang mereka namakan ‘kiss attack’. Ia mencium Sungmin sekali, dua kali, tiga kali, empat kali, sampai Sungmin tergelak dan di ciuman kelima menahan posisi mereka agak lama, membuat Donghae memasang wajah mual dan naik ke kamarnya di lantai dua.

“Arasseo… miss Skinship. ini yang kau cintai lebih dari aku kan?” kata Sungmin sambil menyodorkan Macarons dan membuat Yoonji kegirangan menerimanya, lalu melompat ke atas sofa empuk sebelum membuka kotak berharga itu pelan pelan.

Sungmin duduk di sofa, memperhatikan kekasihnya yang sedang makan dengan bangga dan bahagia tersebut. Pria itu meraih tissue di meja dan mengelap pipi gadis itu yang belepotan serpihan Macarons yang dalam waktu singkat sudah habis setengahnya.

Yoonji menengadah menurut saat Sungmin mengelap pipinya tersebut. Pria itu sepertinya sangat menikmati saat saat menjadi pria normal, dengan pacar seorang anak kuliahan pecinta Macarons.

“Kau itu ceroboh berlebihan Yoon.” Tegurnya membuat Yoonji hanya bisa memamerkan deretan giginya secara berlebihan. “Kalau aku tidak ceroboh, aku tidak bertemu denganmu kan?” katanya membuat Sungmin tersenyum tipis.

FLASHBACK: ON

Sungmin menarik kerah pria di kanan dan kirinya, dan mempertemukan mereka dalam satu benturan mematikan. Kedua pria kekar itu terlihat tidak berdaya sehingga Sungmin menjatuhkan mereka begitu saja ke tanah. Terlalu banyak orang untuk di tuntaskan di tempat ini sebelum dia sendiri yang terkena sabet pedang panjang yang sudah berkali kali mengincarnya tersebut.

Dilihatnya Donghae sendiri sedang sibuk dengan senapannya, menembaki tiga orang yang balas menyerangnya dengan senapan peredam dari balik mobil. Mungkin Donghae sudah dihadiahi dua atau tiga peluru di dadanya kalau saja ia tidak sedang mengenakan rompi antipeluru di balik long sleevenya.

Sungmin merasa kerahnya ditarik dan dengan gesit ia menghajar orang yang mendekatinya tersebut. Pria itu terpaksa menerima satu pukulan di kepalaya dan Sungmin menendangnya dengan kekuatan tidak biasa, membuatnya sukses membentur tembok.

Basement parker mall di malam hari rupanya adalah tempat bertarung paling tepat, karena tidak mengundang perhatian. Tetapi tidak semenyenangkan itu menemui fakta bahwa kau dalam posisi dua lawan dua puluh.

Lee Sungmin hendak mendekat pria itu untuk menghadiahi satu pukulan penutup ketika suatu suara menghentikannya.

“HENTIKAN!” suara menggelegar yang keluar dari pria kurus, namun tinggi. Pimpinan gangster yang menyerang mereka tersebut, entah siapapun yang menyuruhnya.

Pria itu menyandera seorang gadis bersamanya. Sungmin merutuk dalam hati gadis ceroboh mana yang bisa berada di dalam basement gelap ini sendirian hampir tengah malam. Ia mengenakan seragam sekolah dan Sungmin menangkap tas hitam di ujung basement ini. Mungkin tasnya ketinggalan, itulah yang membuatnya kembali.

“Kalau kau berani menyentuh anak buahku lagi, nyawa gadis ini bayarannya,” ujarnya murka melingkarkan tangan kanannya di leher gadis itu dengan tangan kiri memegang pisau lipat mengancam. Gadis itu terlihat terengah engah dan mencoba melepaskan diri.

Dan saat itulah, seorang Lee Sungmin entah mengapa merasa harus melindunginya. Sesulit apapun itu. Gadis itu terlihat berbeda, entah apa yang berbeda. Kalau ditanyakan pada Donghae mungkin pria itu akan menjawab bahwa gadis itu sama saja dengan gadis berseragam lainnya. Sayang, Donghae sedang sibuk melawan sekumpulan gangster sekarang.

Gadis berseragam dengan nametag ‘Shin Yoonji’ itu terlihat sudah menemukan nafasnya lagi, lalu memutar kepalanya memandang pria asing yang menyekapnya tersebut.

“Ya! Ahjussi! Dia menurutimu atau tidak kau tetap akan  membunuhku duluan. Kau borgol saja tanganku kan bisa, jangan mencekikku seperti ini.” Katanya emosi. Sungmin melongo mendengar cara unik gadis itu memarahi seseorang yang mungkin akan membunuhnya dalam hitungan menit.

Dan sepertinya ahjussi itu berpikiran sama karena ia menatap Yoonji heran sehingga tangannya merenggang. Kesempatan itu dipergunakan Yoonji untuk menginjak kakinya sekuat tenanga dan melesat kabur dari genggamannya.

Tetapi ia salah besar melakukan itu pada pimpinan gangster. Pria itu dengan gesit menemukan kesadarannya dan bergerak mendekati Yoonji. Dalam hitungan detik mungkin gadis itu sudah terhunus oleh pisau lipat yang sudah dengan dingin mengincar perutnya.

DOR!

Hening panjang setelah suara tembakan itu. Tembakan yang reflek dilepas Sungmin, tepat membidik kepala ketua gangster itu. Sungmin sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa ia melakukan itu. Selama belasan tahun dalam pelatihan, pria itu tidak pernah sudi membunuh. Hanya melumpuhkan. Tetapi ini adalah kali pertama sebuah nyawa melayang di tangannya.

Yoonji terlihat terpaku memandang tubuh terkapar tak berdaya di hadapannya. Sungmin berjalan mendekatinya untuk memastikan gadis ini tidak menderita trauma mental akibat kejadian tadi.

Yoonji dengan terpakunya memandang tubuh tak bernyawa itu membuat Sungmin semakin takut saja gadis itu akan terkena yang namanya mental disorder. Tetapi Yoonji menatapnya dengan mata bulat takjubnya seolah tidak percaya.

“Kau tahu? Aku fans berat Ninja Hatori dan Spiderman. Sepertinya sekarang aku fans beratmu juga,”

FLASHBACK OFF

Sungmin dan Yoonji tertawa kecil ketika mengingat pertemuan pertama yang konyol tersebut ketika Sungmin menerima telepon dari ponselnya yang satu lagi, yang khusus menghubungkannya dengan Crazioneer.

Sungmin terlihat waspada ketika medengar suara cepat yang berbicara di ujung sana. Ia mematap Yoonji cepat. “Kau jaga diri saja di dalam sini, oke? Jangan kemana mana,” katanya meraih jacket hitamnya. Dalam waktu bersamaan Donghae dengan pakaian lengkap turun dari tangga seolah baru menerima telepon yang sama.

Mereka bertatapan dan bersama sama dengan gesit keluar pintu Apartemen, dan berlari menuju mobil Sungmin di bawah. Donghae sudah membuka pintu kanan dan Sungmin di pintu kiri ketika mereka tiba tiba bertatapan aneh.

“Aku tidak bisa menyetir, pabo!” katanya lalu dengan gesit bertukar pintu dengan Sungmin. Sungmin menginjak pedal dalam dalam dan melaju cepat sepersekian detik sebelum Donghae menutup pintu disebelahnya.

Mereka melesat cepat membelah kota Seoul yang lenggang di siang hari karena para pekerja sedang berada di kantor masing masing. Sungmin menginjak rem dalam dalam di depan gedung yang disinyalir sebagai kantor kedutaan Amerika.

Sungmin dan Donghae menarik pelatuk pistol mereka dan memasuki gedung itu cepat. Mereka menaiki tangga demi tangga sampai mencapai rooftop dan mendapati lima orang gangster menunggu mereka di sana, satu di antaranya menyandra Michael Stevens, duta besar Amerika yang sekarang tak berdaya dengan mulut tertutup lakban.

Tanpa babibu, Sungmin menerjang orang yang paling dekat dengannya, dan menggunakan senapannya bukan untuk menembak, tetapi menghadiahi pukulan keras di pelipisnya. Donghae sendiri sudah sibuk bertarung dengan dua orang dengan tangan kosong karena ia melemparkan senjata yang mengganggunya tersebut ke bawah.

Ia menghajar orang yang pertama tetapi karena lengah dihadiahi pukulan di ulu hati oleh gangster kudua. Donghae dengan gesit mendekat pada Sungmin, lalu menuntun tangan pria itu untuk menembakkan senapan itu ke kaki salah satu orang tersebut sehingga ia terjatuh kesakitan, setidaknya berkurang satu musuh.

Donghae kembali berkutat dengan lawan yang satunya sementara Sungmin masih harus menghadapi pria sipit berbadan besar yang sekarang menghujaninya dengan tendangan tendangan yang berusaha di tangkis Sungmin satu persatu.

Mereka sudah sampai di ujung perbatasan atap ketika orang itu sengaja mengumpani Sungmin dengan pukulan agar Sungmin mundur untuk menghindar dan jatuh, tetapi beruntung Sungmin menyadari umpan itu dan mencekal kaki si penyerang tersebut membuatnya terjun bebas ke bawah.

Tinggal tiga orang lagi. Donghae sibuk melawan musuhnya dari tadi sementara satu orang lagu maju untuk menyerang Sungmin. Donghae yang melihat itu berlari mendekati Sungmin untuk melawan dua orang itu bersama sama.

Mereka berdiri bertolak belakang ketika lawan mereka datang dari dua arah yang berbeda. Donghae dengan gesit menyambut musuhnya tersebut dan memitingnya. Ia meraih pistol dari kantung jaket Sungmin yang sibuk bergulat dengan musuhnya, dan menghadiahi penyerangnya tersebut dengan tembakan tepat di paha, membuatnya lumpuh.

Sementara Sungmin dengan gesit bergerak sehingga memposisikan dirinya tepat berada di belakang penyerangnya, dan menekan suatu titik sensitive di tengkuk musuhnya itu membuatnya kaku tak berdaya.

Donghae dan Sungmin bersama sama berdiri di satu sisi, memandang was was pada pria berkacamata yang menyandra Michael dan mengarahkan pelatuk pistol tepat di pelipisnya.

“Satu langkah saja, dia mati,” katanya dingin membuat Sungmin dan Donghae kaku tidak bergerak sama sekali. setiap gerakan yang mereka buat akan mengancam nyawa seorang duta besar Amerika. Tetapi dengan cerobohnya Donghae termakan emosi dan bergerak gesit mendekati pria tersebut.

DOR!

Suara tembakan memekakkan itu membekukan mereka. Donghae freeze dalam usahanya untuk menyerang pria berkacamata tersebut. Tetapi betapa terkejutnya mereka ketika justru pria itu ambruk dengan punggung berdarah darah.

Mata Sungmin dan Donghae mencari cari penembak misterius tersebut ketika mereka menemukan di atap gedung seberang berdirilah seorang gadis tangguh dengan rambut digelung keatas, kacamata hitam menutupi sebagian besar wajahnya. Tubuhnya terbalut pakaian serba hitam dan boots dengan heels 4 centimeter itu tidak menghalangi gerakan gesitnya.

Mungkin setengah wajahnya di cover oleh kacamata tetapi Donghae dan Sungmin tahu benar siapa dia. Dan Donghaelah yang pertama kali angkat suara.

“Cho… Hara?”

TBC

OK how was it?? well it wasn’t a good action though.. but need your comment ^^ thanks before

-specialshin

 

18 thoughts on “Roses Along the War [1/?]

  1. Uwoooo…. Udah lama gamampir, eh ada ff ini.
    Kuereeeeeeeeeennnn……..>o<
    Na like Action! As usual ^o^

    Hello admin, Na imnida :) Eunhyuk Biased!
    Na suka sm crita.a~ tembak tembak DOR DOR! Haha :D
    Umiiiinnn Dongeee…pasti Manly bgt dah klo di film.n ;)
    suka suka sukaaaaa~

    Na tnggu next part.a yah :)

    • hahaha hai na~ cieh eunhyuk bias
      aku sungmin bias tp bias ke dua eunhyuk juga yah sama yah yah hahaha XDD
      er anyways thanks for commenting yaaa suka action ya?
      aku juga tp ga jago nulis action. gatega HAHAHXD
      keep watching~~

  2. Annyeong author. Liza imnida 92lines sungmin biased.. Wah begitu tau castnya umin aq lgsung baca. Ya ampun crtany keren. Umin manly.. Eh emg klo pistol d letak d celana jeans, bs impoten ya? #plak..
    Haha. Author blh kenalan gak? Minta twitternya donk. Twitter aq @vitamin_pumpkin

  3. serius ….
    kereeeen banget~
    suka nih sama cerita yang ada unsur action campur romance :D
    apalagi kalo udah main pistol sama bertarung, biasanya kebawa tegang *hehe
    ditunggu lanjutannya ya~

  4. dateng ke WFF langsung ketemu nih ff .

    suka banget deh baca ff”nya oenni :D . pada enak buat di baca . ayo onnie ditunggu ff lainnya ^^

  5. Aku baru aja baca ini. I just wanna say it:s cool let’s go the 2nd!!! Btw your description about the action scene is good enough. I like it :)

  6. Yaa~
    tambah author favorite, suka” sukaaa banget ^^
    bagus bgt dh jalan cerita’a,. Jarang2 karakter sungmin ky gni, biasa’a kyuhyun mulu, bosen,.

    Eiish daebak kak

  7. Mwoya? 2nd bias.a suamiku? O.o
    hoho, iyadeh gpp.
    2nd bias Na jg si Evil xD

    Ne, Na suka bgt action..
    Ei, ff.a ngbut yah? Udah ada part 2, 3 aja ^^
    okedeh, Na mu baca part 2 n 3 dulu :)
    anyeong~

  8. seru nih ff tentang agen gini,,,, aku ngebayangin donghae keren bgt…
    q dah lama liat nih ff ada d mana tp q baru mood n tertarik baca ni ff sekarang…seru….
    sungmin pacar y lucu jd gemes n cho ahra siapa kok donghae kenal,,, sesama agen mata2 juga kah???
    Lanjut part 2…..

  9. hyaaaaaa gasalah baca ff ini walaupun telat banget-.- tapi mending telat ya eon drpd enggak kkk~ hae jadi agen ayayay kereeen. Gak bayangin ming yg aegyo nyetir mobil gila2 an kyaaa XD

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s