Your Voice is Ours

 

Title : Your Voice Is Ours

Author : Ghaziana (@ghana704)

Main Cast : Lee Hyuk Jae, Kim Hee Rin

Support Cast : Park Jung Soo, Kim Han Neul, Cho Kyuhyun, etc.

Rating : Teen /13

Genre : Romance

Warning! : please don’t be a plagiatism. And sorry if I have a mistake in this fanfiction, haha :D

PS : just need a comment from you, lovely readers.. it’s my first story! And thankful, your appreciate is my happiness. Please, enjoy C=

 

***

 

 

Ketika aku kehilangan dirimu,

Dapatkah aku menggapaimu lagi?

Setidaknya, ijinkan aku mendengar suaramu..

 

**

 

From : Hee Rin

Received a day ago, 9:54 am

 

 

Oppa! besok kita harus bertemu. Harus harus harus! Aku tahu kau sibuk, tapi ayolah, berikan aku waktu dua jam saja untuk bertemu denganmu. Tidakkah kau rindu dengan yeoja semanis aku? jika tidak bisa, aku takkan mau bertemu dengamu lagi!!

 

Aku kembali membuka pesan yang diberikannya. Kadang kesal juga, gadis yang –tidak- manis itu memang memiliki bakat memaksa. Dan aku tidak pernah dapat membuatnya kalah. Yak, namja macam apa aku ini, kalah dengan yeoja sekejam Hee Rin. Sepertinya benar kata Yesung hyung, anak itu memang titisan voldemort.

 

Ya, aku tahu dia memiliki darah sedikit ke-lelaki-an. Hee Rin belum pernah merasakan kehangatan pelukan seorang ibu karena yeoja –tidak- manis yang satu itu, ditinggal ibunya sejak ia dilahirkan. Hee Rin hanya tinggal dengan satu kakak laki-lakinya. Ayahnya seorang tentara militer yang membantu mengurus peserta wajib militer pemula, sudah dipastikan tidak akan memiliki banyak jadwal untuk pulang ke rumah.

 

 

Aku bangga dengan yeoja yang memiliki rambut bergelombang sebahu itu. Sebagai seorang sahabatnya, bahkan ikut girang ketika mimpinya mendapatkan sebuah gelar sarjana komunikasi itu dapat diraihnya. Lebih bangganya lagi, akulah orang pertama yang mendapatkan info darinya. Sejauh itukah ia menganggapku sebagai sahabatku? Ah. kadang aku merasa percaya diri, Hee Rin terlalu menganggapku sebagai kakak.

 

Hee Rin sangat dekat denganku. Aku bertemu dengannya saat ia menjadi juniorku dikampus yang sama. Saat itu, aku adalah seorang Lee Hyuk Jae yang mendapatkan gelar komunikasi dengan nilai tinggi, *ini sebuah kejujuran* dan aku melihatnya mondar-mandir di gedung jurusan musik, membawa gitarnya. Yang aku hafal saat itu, Hee Rin adalah yeoja yang tak pernah lepas dari gitarnya.

 

Aku memang seorang alumni saat itu. Tapi karena kepintaranku, dan modal bakatku yang lain, aku sering dipanggil untuk datang ke kampus, memberikan pengarahan dan kuliah umum. Itu pun tidak sering, karena saat itu, aku sedang melaksanakan trainee untuk boyband Super Junior. Saat itu aku sering bertemu dengannya. Petikan gitarnya, suara merdunya, paras manisnya, hal-hal tersebut yang membuatku ingin dekat dengannya.

 

Kau tahu, jika dekat dengan Hee Rin, rasanya ingin pergi saat itu juga. Dibalik hal-hal manis yang dimilikinya, sifatnya itu memang keras. Yeoja yang tidak bisa diatur, banyak bicara, tidak mau mengikuti aturan, suka membuat contekan, dan blablabla..

 

Tapi aku yakin. Siapapun yang mendekatinya, tidak akan pernah dan sekalipun terbesit untuk meninggalkannya. Dan itu.. dirasakan olehku. Sampai saat ini. Sejak tujuh tahun yang lalu. Waktu yang lama kan? Waktu yang terhitung lama dan melelahkan untuk menyimpan perasaan terpendam itu.

 

 

“Hyung, aku pulang duluan. Mau ikut?” suara yang mengagetkan itu membangunkanku. Aku mengacak pelan rambutku sendiri. Apa yang kupikirkan sedari tadi. Yeoja titisan voldemort itu? Aish.

 

“Ah Hyunnie-ah. Pulanglah duluan. Aku masih mau latihan disini.” Sebenarnya kata-kata tadi adalah rangkaian bualan saja. Pulang ke dorm malah membuatku melupakan hal-hal yang kupikir barusan.

 

“Tapi, Donghae hyung sudah pulang, dan kau akan kutinggal disini sendiri. Apa kau tidak takut? Malam-malam begini, sendirian, ditengah ruangan penuh cermin? Ih.” Aku bergidik geli. Kyuhyun yang bersiap mengeratkan tali di mantelnya, dan mengambil kunci mobilnya itu sudah bersiap keluar dari ruangan ini. Dan aku masih menatapnya dari kejauhan.

 

“Haha, Hyunnie-ah! aku tidak separno Yesung hyung. Kalau kau mengkhawatirkanku, tinggalkan saja psp-mu itu disini. Agar aku tidak terlalu kesepian.”

 

“Tidak akan pernah!”

 

“Aish. Jangan melemparku seperti itu! Pulang sana!” Aku menangkap sebuah bantal yang dilemparkannya.

 

“Aaaaah! Aku bisa tebak! Pasti kau akan bertemu dengan Hee Rin kan?” aku hanya tersenyum memutar ponselku. Semua memberdeul memang sudah tahu kedekatanku dengan yeoja penuh ambisi itu. Aku sering membawanya ketempat latihan, dan dia tidak pernah absen untuk membawa gitar oranye-nya. Dia suka menyanyi untuk kami yang sedang beristirahat, suaranya.. Kalau boleh jujur, suaranya lebih merdu dari personil gadis-gadis bersembilan itu. Eh.

 

Bahkan ketika itu, Yesung hyung, Ryeowook dan Kyuhyun memujinya habis-habisan. Aku hanya tertawa saja, mana mungkin yeoja –tidak- manis itu dipuji tiga laki-laki sekaligus. Semua wanita menginginkan pujian dari trio bersuara emas itu, tapi dia malah mengelak. Apa kubilang, wanita titisan voldemort!

 

“Darimana kau tahu?” tanyaku singkat.

 

“Satu tahun kau tidak bertemu dengannya, kan? Kadang aku merindukan suaranya juga. Beri salam padanya jika kau bertemu dengannya. Aku pulang duluan hyung, annyeonghi jumusipsio!”

 

“Ne, josimhae!” aku melihat dongsaeng ter-menyebalkan itu pergi sambil menutup pintu ruangan penuh cermin ini. Aku menyadari, ini adalah hal yang tidak terlalu baik. Memutuskan untuk tidur diruangan seadanya ini. Tapi setidaknya, aku memiliki waktu sendiri.

 

Ah. sosoknya kini kembali datang menghampiriku. Besok, ditempat biasa, aku akan bertemu dengannya. Mendengar suara merdunya lagi. Demi apapun, aku rindu bernyanyi bersama dengannya. Walau sebenarnya, suaraku tidak sebagus trio subgroup Super Junior itu. Aku juga rindu ditertawakan olehnya saat aku memperlihatkan performance dan dance andalanku dihadapannya.

 

Aku kembali memeluk gitar yang sebelumnya kusingkirkan. Lagu favoritnya.

 

All these sweet memories

I know you can hear me now

For the record I love you, I love you

 

Aku sadar aku mencintainya. Hanya saja.. waktunya belum tepat.

 

**

 

Jam dua siang. Seperti janjiku padanya di pesan singkat kemarin. Aku akan bertemu dengannya setelah satu tahun tidak melihat parasnya, sikap penuh ambisinya, dan tentu suaranya yang merdu itu. Ini kali ketiga aku bertemu dengannya setelah tanggal diresmikannya aku bergabung dengan Super Junior. Selama itu, aku hanya berhubungan lewat telepon, atau pesan singkat.

 

Lebih jauh lagi ketika aku harus menyelesaikan album ketiga, lalu keempat, lalu supershow, lalu superjunior mandarin… Dan dia harus berangkat ke Prancis mengambil S2 komunikasinya.

 

Aku berjalan membetulkan masker dan topi rajut yang kupakai. Memastikan asesorisku ini cukup membuat orang-orang tidak mengenaliku. Lalu berjalan lebih pelan ketika sosoknya kutemukan sedang duduk diatas kursi taman, melipat kedua kakinya dan dilipat menopang tubuhnya. Yang bisa aku simpulkan, dan bisa aku yakini bahwa ia adalah Hee Rin, adalah gitar oranye-nya. Haha, yeoja voldemort itu suka oranye –‘

 

Aku mendekatinya. Sudah kutebak, ia pasti menyanyikan lagu yang –menurutku tidak terlalu bagus tapi menurutnya- mengasyikkan. Lagu barat, penyanyi favoritnya, Keyshia Cole.

 

When I found out that you were leaving me

I couldn’t sleep thinking about

All the things that we been through

Now all that I want to do is tell you

That I love you so much

You know I really really miss you

 

Do you miss me?” bisikku ketelinganya yang tertutup beberapa helai rambut coklat-tuanya. Sembari memeluk lehernya, menopang daguku di bahunya.

 

“YAK, OPPA! HYUKJAE!” Dua detik kemudian, aku merasakan kedua tangannya menarik tanganku. Menggenggam tanganku erat sambil memamerkan giginya yang rapi.

 

“Jangan berteriak, Hee Rin! Berisik!” aku membekap mulutnya, dan aku melihat tubuhnya yang meronta.

 

“OPPA! Apa yang kau lakukan! Perlakukanku sebagai wanita! Tidakkah bisa lebih baik, menyebalkan!” Aku hanya tertawa, melihatnya meronta seperti habis ditangkap polisi, “Lalu apa ini? Tahukah! Aku terkejut melihat foto-session di album barumu! Apa yang kau lakukan dengan rambutmu? Kenapa latarnya harus berwarna pink? Kenapa tidak oranye? Kau terlihat girlie dan seperti madam tarot difoto itu! Lalu apa yang …”

 

“Diamlah!” aku ikut memukul lengannya ketika ia berkali-kali meremas-remas rambutku dan memukulku dengan semua kata-kata semangatnya. Tidakkah dia berpikir, kalau rambutku rontok bagaimana!

 

“Appo..”

 

“Aku kesini untuk bertemu denganmu! Bukan untuk mendengar semua celotehanmu tentang album baruku, pabo! Bisakah kau jadi wanita yang sempurna? Kau masih seperti halmeoni yang kehilangan gigi palsunya!”

 

“Oppa! ini kesempatanku untuk mengeluarkan seluruh unek-unekku setahun ini! Jadi, berikan aku waktu lima menit saja untuk memberimu kritik! Tolong jangan memotongku saat ini.”

 

“Aku akan menghitungnya. Jika lebih dari lima menit, aku akan membunuhmu dengan gitar kesayanganmu itu!” ancamku. Oke, ini seperti permainan anak kecil. Tapi disinilah kebahagiaannya. Apapun yang kulakukan bersama gadis yang beranjak menuju wanita –tidak- manis ini, akan  selalu menyenangkan.

 

“Oke. Jebal, listen me. Teman-temanku terkejut ketika mereka melihat fotoku denganmu saat aku bertemu denganmu setahun lalu didebut album keempat. Mereka, teman-teman kampusku itu, adalah die-hard-ELF. Mereka bahkan akan membunuhku secara tidak manusiawi jika aku tidak memberikan salam cinta dari mereka untukmu. Jadi, tolong bantu aku buatkan surat untuk teman-temanku itu. Kasihan mereka, benar-benar berniat untuk membelikanku gitar baru jika aku berhasil membujuk salah satu memberdeul Super Junior. Oya, terus.. APA YANG KAU LAKUKAN DENGAN RAMBUTMU INI!!! KENAPA JADI PUTIH? Dasar simpanse tua! Ahahahaakhhkk.” Aku melihatnya terpaku. Demi apapun, yeoja ini benar-benar bisa membuatku menahan tawa karena keterkejutan. Sekarang, Hee Rin hanya dapat terbatuk karena ulahnya sendiri.

 

“Waktumu masih ada empat menit sepuluh detik lagi! Aku tidak akan memberi diskon atas batukmu!” Hee Rin terlihat tersedak dan menghabiskan setengah dari botol air mineral yang dia genggam.

 

“ah, oppa. sepertinya.. ah. cukup. Sudah. Hanya itu saja yang ingin aku katakan.” Hee Rin mengatur nafasnya. Tentu saja aku tertawa terbahak-bahak, melihat wajahnya yang memerah dengan penuh peluh yang mengucur didahinya. Yak, untuk apa gadis gila ini mencelotehkan unek-uneknya tanpa mengatur nafas? Aku yakin jika tadi diteruskan, dan genap 5 menit, dia akan pingsan dan asma tiba-tiba.

 

“HAHAHAHA, kenapa wajahmu memerah?!” aku membelai kedua pipinya yang terasa dingin. Melihat wajahnya yang pucat, dengan keringat. Aku heran, cuaca sedingin ini, mana bisa dia berkeringat?

 

“Oppa! sebenarnya aku berlari dari halte bis tadi. Kau tahu, halte bis dan taman ini jaraknya cukup jauh! Aku hanya tak ingin membuatmu menunggu. Kau malah terlambat dengan seenaknya. Aku menunggu disini sudah sepuluh menit, dan aku kedinginan, dan aku lelah, dan aku ingin cerita banyak padamu. Bisakah sedikit menghargaiku!” suaranya yang terdengar serak membuatku sedikit iba. Hanya senyuman yang dapat aku persembahkan saat ini. Bukannya tidak ingin menghargai, aku saja bingung apa yang harus aku lakukan. Semua yang aku lakukan, dimatanya salah. Ya, celotehan apa lagi yang akan ia berikan!

 

“Ne, mianhae jeongmal Hee Rin. Aku menghargai usahamu bertemu dengan artis tampan sepertiku. Semua wanita akan melakukannya. Aku hanya bingung, mengapa hanya kau yang tidak meminta tanda tangan, foto bareng, kau malah memberikanku sejuta kata pedas dari mulutmu itu!”

 

“Karena aku gadis yang tidak biasa. Hahaha!” tawanya terdengar cukup menggema. Aku mengelitik pinggangnya yang tertutup tebal oleh mantel bulu warna tosca tua-nya.

 

“Hey, aku merindukan suaramu! Ayo nyanyi lagi. Tadi itu, lagu I Love You yang kau suka, kan?” Aku melihatnya antusias, mengangguk dengan semangat sambil mengelus pelan gitar kesayangannya yang tersampir tepat disebelah kirinya, “bisakah kau menyukai laguku? Apa kau sudah mendengar lagu-lagu dialbum baruku? Kau sudah punya albumnya?”

 

“Ne, aku sudah punya. Sebelum kau promosi, aku sudah diwajibkan membelinya. Entah kenapa, aku mendapatkan satu sugesti darimu. Aku hanya benci foto-sessionmu. Itu saja!”

 

“Pujilah sedikit! Itu penampilan paling tampan. Jewels seantero dunia pun mengakui, aku lebih tampan dari Siwon!”

 

“Yak, itu kan memang die-hard-hyukjae! Dan itu karena kau terlalu percaya diri. Sungmin oppa malah terlihat lebih macho disana!”

 

“aish. Dia masih terlihat girlie!”

 

“Lebih girlie milikmu, oppa! warna pink? Aish. Kau tahu, betapa bencinya aku dengan warna itu?”

 

“Berhenti memuji hyungku yang satu itu. Donghae memakai warna pink yang lebih muda! Kau hanya tidak melihat detilnya! Tahukah, jika kau tahu, sungmin hyung butuh waktu lima menit untuk mentata lipstick-nya. Dan itu jauh berwarna pink dari background fotoku!”

 

“kenapa kau jadi membahas lipstick Sungmin oppa?”

 

“karena kau yang mulai membahas foto sessionku. Ah. bisakah kau berubah menjadi gadis yang baik?” aku menggeleng menjauhkan pandanganku dari yeoja yang ada disebelah kiriku. Dia terlihat acuh dan membuka bungkus permenkaretnya. Aish. Gadis ini. Sepertinya tebakanku benar, bahwa ia memang gadis titisan voldemort. Atau aku harus cepat-cepat mengetes darahnya untuk meyakinkannya? Eh.

 

“Aku sudah baik oppa. Buktinya aku sudah dewasa!” ucapnya keras sambil sibuk mengunyah permen karet peppermint-nya, lalu membuat gelembung diluar bibirnya.

 

“dewasa bukan berarti baik, Hee Rin. Buktikan bahwa kau sudah dewasa.” Tantangku asik. Dia menoleh dan memberikan seringai mata tajamnya.

 

“siapa takut!” Hee Rin tersenyum tanpa henti sambil mengeluarkan isi mulutnya, membungkusnya kembali, dan melemparnya ketempat sampah. Aku hanya ingin tahu, apa yang akan dilakukannya untukku. Kalau sampai dia teriak bahwa ‘aku sudah dewasa’ ditengah taman yang sepi ini, sudah pasti tidak akan aku terima.

 

Hee Rin sibuk meminum sisa air minum dibotol minumnya. Lalu tersenyum lagi. Apa yang akan dia lakukan?

 

Hee Rin kembali sibuk dengan selembar tisu yang dia keluarkan dari bungkusnya, lalu mengelap bibirnya yang basah karena bekas air yang ia minum tadi. Aku hanya memandangnya saja. Tiba-tiba Hee Rin tersenyum dan mengubah letak kakiku yang tadinya menghadap kearah taman, menjadi menghadap kearahnya.

 

Cup.

 

Sebuah kecupan hangat tiba-tiba, tidak terhitung berapa lamanya karena aku yakin, itu sangat-sangat-sangatlah singkat, berhasil mendarat diujung bibirku. Setelah itu, aku melihatnya sedang tersenyum menghadap kearah lain. Otomatis, aku memegang bekas kecupan hangatnya tadi. Aish. Jangan biarkan aku malu didepannya.

 

Kecupan kilat itu, yang pertama –darinya- selama tujuh tahun ini. Satu detik paling hangat yang kurasakan diantara ratusan juta detik yang kulalui bersamanya.

 

“HEY! SEJAK KAPAN KAU JADI YEOJA GENIT! KAU SEPERTI AHJUMMA YANG ANEH!” aku mendorong bahunya yang kecil, lalu menyentil hidungnya. Yak, dia hanya tertawa. Memangnya lucu?

 

“Jangan protes! Aku tahu kau menginginkannya. Jujurlah, oppa!” mendengar ucapannya, raut wajahku berubah tegang. Aku masih menyentuh bagian kecupannya tadi. Ya.. aku memang menginginkannya, “Tanpa kau menjawab pun, aku tahu kau menginginkan itu. Hahaha, aku yakin, sampai di dorm, kau tidak akan mencuci wajahmu, oppa!”

 

“Percaya diri sekali kau, Hee Rin!”

 

“Oppa percaya, kan? Aku itu sudah dewasa!” aku tersenyum manis menggenggam tangan kanannya, lalu duduk menghadap ke objek yang sama. Kolam air mancur, dihadapan kami. Airnya memang tidak muncul, cuaca terlalu dingin dan sudah membekukan isinya. Ini adalah awal bulan Desember, awal musim dingin. Aku menaruh kepalaku dibahunya, sedikit susah karena aku harus memiringkan tubuh Hee Rin yang tidak terlalu tinggi.

 

Aku benar-benar menikmati waktu-waktu yang kulewati bersama Hee Rin. Waktu yang sangat-sangat jarang kutemui. Ditengah kesibukanku sebagai seorang public figure, dan ditengah kesibukannya menggapai sarjana komunikasi tingkat dua, tidak mungkin ada waktu seperti ini. Cuaca yang terasa sangat dingin, malah membuatku hangat ketika aku ada disebelahnya.

 

Pernahkah kau melihat seorang wanita dengan ribuan kesempurnaan? Ya. aku pernah melihatnya. Dia ibuku. Penuh dengan kasih sayang yang melebihi batas pikiranku.

 

Tapi, pernahkah kau melihat seorang gadis yang manis, dengan chemistry dan suara indahnya melebihi seorang penyanyi favoritmu? Ya. Dia Hee Rin. Tidakkah bahagia ketika kau menemukannya? Jika memikirkannya saja membuatmu bahagia, apalagi bertemu dengannya.. Ya. itulah yang kurasakan saat ini. Tanganku beralih menggenggam tangan kirinya, dan tangan kanannya membelai pipiku, seperti sedang memeluk wajahku. Ketika aku bertemu dengannya, aku memang tidak merasakan chemistry sedikitpun. Itu adalah sisi biology. Ya, teori biology mengarah ke penilaian fisik, kan?

 

Melihatnya memang manis. Tapi untuk berbicara dengannya, dia bisa melakukan hal gila seperti tadi. Berteriak tanpa spasi? Hahaha. Jadi, jangan bingung ketika aku memujinya dengan kata manis sesekali!

 

Tapi dengarlah suara Hee Rin, terutama suara hatinya. Untuk yang pertama kalinya, aku merasakan kelembutan dalam dirinya. Sikap yang baru kurasakan selama tujuh tahun terakhir ini. Ternyata, gadis titisan voldemort ini memang seorang manusia yang masih memiliki kasih sayang. Hm. Itulah yang membuatku mencintainya.

 

“Aku tak sabar! Natal akan segera datang, dan aku akan melihat salju pertama turun di Seoul. Ah oppa, aku bahagia sekali!” Ucapnya gembira, aku ikut gembira dibuatnya.

 

“Kau akan merayakannya disini, Rin-ah?”

 

“Ne, oppa! Ah, aku tak sabar merayakannya dengan Han Neul oppa, appa, teman-temanku di Seoul. Mengingat teman-temanku di Prancis sibuk dengan kegiatan natal bersama pacarnya.”

 

“Ya sudah, rayakan saja natalmu itu dengan pacarmu?” Melihat wajahnya yang berubah, aku malah terkekeh geli, “Ohya. Aku lupa. Mana ada laki-laki yang mendekati gadis titisan voldemort ini!”

 

“Oppa! Jahat sekali kau.”

 

“Tidak jadi masalah kan, Hee rin? Jahat sekali-kali juga menyehatkan..”  Aku merasakan pukulan tangannya yang mendarat dipahaku, lalu kembali membelai lembut pipiku. Hahaha, apa maunya?! “Aku ingin merasakan kebahagiaan salju pertama denganmu. Pasti asik!”

 

“Ne! Aku harap malam ini salju turun. Agar aku bisa melewatinya denganmu!” aku mengangguk atas kata-katanya, berharap itu memang terjadi. Kebahagiaan aku-dan-dia kan jarang kutemui. Ya, kau tahu karena apa.. “Anak-anak kecil akan gembira, menyiapkan baju-baju natal, menyiapkan kado-kado untuk orang tua mereka, pasti mengasyikkan oppa! Lagipula.. kurasa cuaca semakin dingin. Salju akan segera turun, kan? Ah.” aku merasakan tubuhnya menggigil.  Dia menengadahkan tangannya yang tadi ada dipipiku, merasakan apakah ada salju yang turun.

 

“apa kau merasa dingin, Rin-ah?” tuturku sambil duduk kembali seperti biasa.

 

“ne, sedikit lebih dingin dari sebelumnya, oppa.” tangannya menyilang, memeluk lengannya yang katanya terasa dingin.

 

“kemarilah.” Aku mendekatkan tubuhku dengan tubuhnya, lalu memeluknya dengan hangat. Tangannya memang masih terlipat, kurasakan itu didadaku. Aku tidak merasakan respon dari dirinya, entah berusaha melepaskan, atau lainnya. Apa.. dia menikmatinya?

 

Aku kembali menidurkan kepalaku dibahunya.

 

“apakah cukup hangat?”

 

“ne, oppa. gomawo jeongmal.” Aku menutup mataku setelah dia merespon pelukanku. Merasakan hatiku yang menggigil, berdebar karena pelukannya, “Saranghae..”

 

Aku sedikit bangkit dari lamunanku. Apa yang dia katakan? Ah. suaranya terlalu kecil untuk kudengar! Apa dia mengatakan.. hm. Mencintaiku?

 

“Aku mencintaimu lebih dari yang kau pikirkan.” Aku mengeratkan lagi pelukanku padanya.

 

“Oya? Apa yang kau inginkan dariku saat ini? Aku kan’ tidak lama tinggal di Seoul.”

 

“Jangan tinggalkan aku, dan bernyanyilah dengan merdu untukku saat ini, Hee Rin. Waktu kita untuk berdua seperti ini, sangat jarang kita temui.” Pintaku padanya pelan.

 

“Aku tidak dapat memetik gitarku kalau kau memelukku seperti oppa, hahaha!” serunya, aku tertawa dipelukannya.

 

“bernyanyilah. Tanpa gitar pun, suaramu sudah merdu.”

 

“mullon. Dengarlah suaraku yang pas-pasan ini.” Aku terkekeh geli. Bagaimana suara semerdu itu bisa dibilang pas-pasan?

 

I’ve waited for one entire year.
I missed winter so much.
A day seems so long. I am just waiting for the first snow. I hold your small hands and pray.
If all this love could pile up in the world, everyone would be happy.”

Sepertinya aku tahu lagu ini. Hahaha, bahkan aku tak menyangka, dia bisa hafal lagu ini dengan translate-nya yang fasih. Aku mengikuti suaranya, bernyanyi bersama dengan suara yang lebih tinggi untuk menyelaraskan suaranya yang merdu.

 

When the white snow falls,
the entire town is full of the laughter of small children.
Your mischievous smile I can’t stop loving you
I can tell Woo The first snow is coming.
When this night passes…”

 

Aku melepaskan pelukannya. Terbersit dalam pikiranku, satu hal yang pasti yeoja ini sukai.

 

“Hey, kau tahu, Kyuhyun-ssi, Ryeowook-ssi dan Yesung hyung akan mengadakan satu konser mereka. Donghae dan Sungmin hyung pasti diajak. Donghae yang memberitahukannya padaku, katanya konsernya awal Januari. Bagaimana jika.. kita menonton mereka?”

 

“Ah! Oppa! ide bagus! Aku masih tinggal sampai akhir Januari, kok! Kita masih bisa pergi ke konser mereka, kan! Yes!”

 

“Atau.. hm… Bagaimana jika kau bernyanyi bersama mereka dikonser nanti? Ah, usulku ini pasti disetujui oleh Yesung hyung. Dia kan memujimu habis-habisan waktu terakhir kita bertemu dengannya, kan?” aku melihat raut wajahnya yang berubah cemberut.

 

“Oppa, suaraku tidak terlalu baik. Jangan paksa aku. Aku lebih ingin menjadikan oppa-oppa bersuara emas itu sebagai panutanku.” Ucapnya sambil tersenyum antusias, “bagaimana jika kita ke dorm? Aku juga merindukan Kyuhyun, Ryeowook oppa dan Yesung oppa. lama tak melihat mereka secara langsung. Sillyejiman?”

 

“geugeoteun joeun saenggakimnida! Berikan gitarmu, biar aku yang membawanya!” aku dan Hee Rin berdiri, kami sama-sama membetulkan mantel dan memakai sarung tangan. Aku masih sibuk dengan asesoris yang kupakai seperti topi rajut, sarng tangan, tali di mantel, masker. Ya-ya, aku tahu itu terlalu berlebihan. Tapi apa boleh buat, kalau tidak begini, fan-service akan tiba-tiba berlangsung tanpa jadwal. Dan semua itu akan mengganggu acaraku dengan Hee Rin.

 

“Oppa!”

 

“Argh!” aku merasakan tubuhnya yang tiba-tiba berada diatas punggungku. Terpaksa aku mengangkat pahanya, “Turun Hee Rin! Kau ini berat sekali!”

 

“Ayolah oppa, gendong aku sampai mobil!” aku merasakan sakit di punggungku. Aish, baru saja aku memuji kelembutannya, sudah disambut dengan roh sialan titisan voldemort. Tidak MANIS!

 

“Lalu? Aku harus mengangkat gitarmu juga?”

 

“Ne! Hahaha, ini hukuman untuk keterlambatanmu tadi, dan jangan menolak!” aku hanya bisa mengikuti aturannya. Ya, ini kan hanya kegiatan yang tidak berlangsung sehari sekali. Toh, aku juga ikut senang jika Hee Rin bahagia. Aku berjalan sambil ‘membawa’nya, dan membawa alat paling dicintainya.

 

“Oya, kau… Hafal lagu tadi, sejak kapan? Aku tidak terlalu yakin kau mau mendengarkannya. Bukannya, kau hanya menyukai super junior, karena aku adalah salah satu membernya kan? Hahaha!”

 

“Oppa, pikir saja! Geng die-hard-ELF itu memutar dari album pertama sampai album terakhir setiap harinya. So, sudah pasti aku menghafalkannya secara tidak sengaja. Lagipula, lagu itu cukup bagus. Hanya saja, aku menyanyikannya dengan bahasa Inggris. Kau tahu kan, orang prancis dan orang asia seperti kita, punya pelafalan yang berbeda. Mereka terdengar aneh kalau bernyanyi dengan bahasa Korea. Kau pikir saja!”

 

“kalau begitu, tolong nyanyikan lagi. Aku mencintai suaramu, jeongmal!”

 

“jinjja? Baiklah.. The world reflected in your eyes is so beautiful.
I am thankful that I am able to spend this moment with you
.

 

Aku mendengar suaranya yang merdu itu sambil melintasi taman yang penuh dengan pohon-pohon cantik disekelilingnya.

 

When the white snow falls,
the entire town is full of the laughter of small children.
Your mischievous smile,
Just show it to me.”

 

Bernyanyilah terus untukku. Seperti ini, Hee Rin. Aku mohon. Teruslah bernyanyi untukku. Suaramu seperti salju pertama, indah, ditunggu semua orang. Jadi, jangan tinggalkan aku. – itulah harapanku. Hatiku yang mengatakannya, semoga gadis ini dapat mendengarnya.

 

Aku menurunkannya setelah berhasil menyebrangi jalan, dan sampai diparkiran mobil. Aku meregangkan bahuku yang terasa sakit. Lalu membuka pintu belakang untuk memasukkan gitar miliknya.

 

“Oppa, apa itu dompetmu?” Hee Rin menunjuk kearah tengah jalan. Yak! Dompetku tertinggal! Kalau hilang atau rusak.. aish.

 

“Ya sudah, masuklah kedalam mobil sebelum kau membeku. Biar aku ambil!”

 

“Andwae oppa, masukkan saja pacar tersayangku itu kedalam mobilmu. Biar aku yang ambil.” Aku mengangguk dan memasukkan dengan pelan gitarnya itu. Kalau jatuh, aku bisa dibunuh hidup-hidup oleh gadis titisan voldemort itu. Setelah memastikan gitarnya masuk, dan menutup pintu dengan benar, aku memastikan Hee Rin berhasil mengambil dompetku yang terjatuh. Bagaimana itu bisa terjadi, aku tidak merasakan sesuatu yang jatuh tadi.

 

Aku merasakan ada hal yang janggal padanya. Suara kencang, pantulan roda mobil dengan aspal yang semakin kencang.

 

‘BRAKKK! CKIIIIITTT!’

 

Suara kencang sebuah mobil mengerem secara mendadak. Aku, yang melihat secara langsung, bergetar hebat. Melihat satu sosok yang tak lagi menggenggam dompetku, sosok yang tadi berdiri kokoh, kini tertidur pulas dengan cairan merah pekat membanjiri aspal. Aku. Diam seketika.

 

“HEE RIIIN!” Aku berlari menuju yeoja manis itu. Kini tak lagi manis. Terlihat tak bernyawa. Kupeluk dia, berharap pelukanku dapat membuatnya bangun.

 

Terdengar suara ramai orang-orang berlarian menghampiri. Beberapa orang menjerit. Aku mendengar suara seorang pria berteriak menyuruh untuk menelepon ambulans. Dia tak bergerak. Kepalanya mengeluarkan cairan segar tanpa henti. Aku meraih lagi lengannya dan menyentuh pipinya. Sama sekali tanpa respons. Dia bahkan tidak bernafas.

 

Aku memanggilnya berulang kali. Tak ada respon.

Aku menepuk-nepuk pipinya. Tak ada respon.

Aku mengguncang tubuhnya. Tak ada respon.

Aku mencium ujung bibirnya seperti yang ia lakukan tadi. Masih tanpa respon.

Tak terasa debar jantungnya, hanya denyut nadi yang sangat lemah. Darah mengucur dari pelipis kirinya dan mengalir hingga ketubuhku dan lehernya. Kedua mataku basah. Melihatnya terbaring dengan darah, membuatku lemah.

 

“BANGUNLAH HEE RIN! AKU BELUM BERNYANYI UNTUKMU! HEE RIN!” kembali kuguncang tubuhnya, kupeluk dia, “BANGUNLAH! AKU MENCINTAIMU!”

 

**

 

Aku duduk diruang tunggu. Masih dengan pakaian yang penuh dengan darah segarnya. Han Neul, kakak yeoja manis itu, sedang mondar-mandir dihadapanku. Menunggu hasil pemeriksaan dokter tentang kecelakaan adiknya.

 

Aku tak mengerti apa yang dirasakannya didalam sana. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Aku memeluk diriku sendiri. Jika sesuatu –yang buruk- terjadi padanya, maka bunuhlah aku hidup-hidup. Hidup tanpanya.. seperti bernapas tanpa oksigen. Seberapa kuatkah kau hidup? Ya. itu perumpamaan.

 

Aku menangis ditempat. Menyesali semua apa yang kulakukan. Mengijinkannya mengambilkan dompetku? Dibandingkan benda kecil itu, hidupnya lebih dan jauh-jauh lebih berarti untukku. Terakhir, aku hanya dapat mengangkatnya kedalam mobilku, dan matanya sudah terpejam.

 

“Hee Rin. Mianhae.. Jeongmal mianhae…” Aku berteriak didalam hatiku sendiri. Hanya mengeluarkan sedikit suara diantara sesakku. Aku tidak menginginkan hal yang buruk menimpanya. Tapi tetap saja, jika itu terjadi.. ARGH! Aku membanting angin yang ada ditanganku.

 

“Hyuk, jangan terlalu menyesali..” Leeteuk hyung membisik dan merangkulku. Aku memang menceritakannya dijalan, tentu dengan perasaan yang tidak karuan. Hyung-ku itu langsung datang menyusul kerumah sakit. Ya, semua memberdeul merasakan keterkejutan yang luar biasa. Mereka merasakan itu, bagaimana denganku? Separuh hidupku ada di dalam sana. Kritis.

 

Seorang dokter dengan bercak darah dijas putihnya, keluar dari ruangan itu. Aku tak berani menemuinya. Hanya Han Neul yang mendekati, dan Leeteuk hyung yang juga mendekati.

 

Aku hanya dapat menggenggam kepalaku sendiri. Mencerna semuanya. Tidak! Hee Rin masih ada! Dia masih ada! Beberapa saat lalu, aku mendengar suara merdunya! Bahkan aku mendapatkan kecupan pertamanya! Ayolah Tuhan,  jangan bohongi aku! – aku hanya menangis menggigil.

 

“Hyuk.” Aku menoleh kearah hyungku yang sudah duduk disebelahku, “Ayo kita pulang.”

 

“T.. Ta.. Ttappi..”

 

“Hee Rin biar Han Neul yang urus. Dia menyuruhku untuk membawamu pulang.”

 

“Bagaimana dengan kondisinya? Hyung, aku masih mau mendengar suaranya.. ijinkan aku untuk tinggal.” Pintaku memohon sambil menunduk. Ini hidup matinya..

 

“Pulanglah hyuk, aku mohon.” Suara Han Neul memanggilku, dan kedua tangannya yang kokoh menggenggam lenganku, menyuruhku untuk berdiri, “Hee Rin, yeoja yang kita sayangi, masih ada. Aku hanya memohon. Pulanglah.”

 

Aku hanya mengangguk. Berterima kasih dengan membungkukkan tubuhku dihadapan kakak dari gadis manis itu. Aku tahu, ada rasa sakit yang dirasakan Han Neul sebagai kakak. Aku merasakannya. Keputusannya baik untuk menenangkanku. Aku berjalan keluar, menyusuri lorong sepi. Hari mulai malam, dan aku menunggu di lobby rumah sakit. Menunggu Leeteuk hyung membawakan mobilku. Aku masih memeluk tubuhku sendiri. Bau besi yang menyengat masih menyelimuti diriku.

 

Lihatlah. Salju mulai turun. Malam ini. 5 Desember. First Snow.

 

When the white snow falls,
the entire town is full of the laughter of small children.
Your mischievous smile I can’t stop loving you’

 

Suaranya mengiang. Aku kembali menangis diatas kesedihanku. Seharusnya aku melihat butiran dingin ini bersama Hee Rin. Seperti lagu kami. Lagu yang dinyanyikannya secara merdu, tanpa cacat. Suara yang selembut salju, ditunggu oleh semua orang didunia ini. Menunggu musim paling romantis ini.

 

You are more precious than anyone, like the first snow.’ Hee Rin, bangunlah.. Lihatlah, salju ini datang untukmu.. Datang untuk kita lalui bersama.. Bernyanyilah lagi.. Bahkan, aku belum bernyanyi untukmu..

 

When the first snow falls, the whole world is filled with your twinkling eyes and my heart that loves you. With that I am happy with you..’

 

Aku hanya meneruskan sedikit lirik yang Hee Rin gantungkan. Tuhan, ijinkan aku mendengar suaranya lagi..

 

**

 

Aku sudah berada disini dari dua jam lalu. Waktu menunjukkan jam 10, dan aku masih duduk diluar ruangan kritis itu. Aku hanya bisa melihatnya terbalut dengan alat-alat penting yang menempel ditubuhnya. Tahukah, aku sampai memohon dengan sangat pada tuan manager, hanya untuk hari ini saja, aku absen latihan. Aku menunggu hasil pemeriksaan Hee Rin keluar. Bagaimanapun juga, semuanya karena salahku.

 

Sayangnya, aku tak punya banyak waktu untuk menjenguknya. Besok, aku harus pergi ke konser supershow di Jepang. Jadwal yang membunuhku pelan-pelan, ditambah dengan masalah ini. Ah. rupanya, aku hidup untuk apa?

 

Aku kesini untuk melihat hasil pemeriksaan pertama Hee Rin, sekaligus mengembalikan gitar tercintanya yang ia sebut ‘pacar’ itu. Aku tak mau membuatnya menderita lagi kehilangan gitar kesayangannya.

 

Han Neul keluar dari ruangan dokter, dan aku menyambutnya sambil berdiri. Pria yang seumuran denganku itu, berjalan dengan penuh kesedihan. Tuhan. Jangan bilang ini kabar buruk.

 

“Duduklah, Hyuk.” Dengan sikapnya yang dingin, dia duduk disebelahku. Menggenggam berlembar-lembar kertas penuh dengan coretan sang dokter. Han Neul terlihat sangat terpukul, dan itu membuatku semakin ketakutan. Aku telah memberikan kehancuran dalam keluarga ini.

 

“Appa akan segera kesini. Aku menghubunginya tadi malam.” Aku menunduk. Sebuah ketakutan menyelimuti diriku, jika Hee Rin mendapatkan kondisi buruk, aku yang akan disalahkan oleh appa-nya kan?

 

“Aku hanya bilang kalau Hee Rin tertabrak mobil. Tidak ada sangkut pautnya denganmu. Aku tahu kau seorang public figure. Tapi mohon, jangan bawa Hee Rin kedalam duniamu, dunia gemerlapmu.”

 

“Wae? Kenapa kau tak jujur saja padanya? Tentang aku?”

 

“Itu akan membuat masalah ini semakin besar dan akan membuatmu terlibat dengan masalah ini. Kau tahu, Hee Rin tidak terlalu suka jika masalahnya menjadi besar. Dia lebih suka menyembunyikannya.”
“Tapi, kecelakaan ini memang.. ya.. otomatis aku sudah terlibat dengan kecelakaan ini. Biarkan aku menanggung biayanya.”

 

“Jangan terlalu..”

 

“Sudahlah. Masalah biaya, biar aku yang urus.” Aku memotong pembicaraannya. Mungkin kalimatku yang terlalu terus terang itu pastilah mengejutkannya. Aku sempat melihat kekagetan singkat di wajahnya. Namun, akhirnya dia mengangguk.

 

“Gomawo jeongmal, hyuk.. Nado gamsahamnida, untuk gitarnya.”

 

“Sudah seharusnya..” Setelah itu, dia terdiam sambil terus menunduk, seolah menghindari tatapan mataku. Aku pun tidak tahu harus bereaksi apa.

 

“Hee Rin terkena benturan keras di kepalanya. Hasil pertama sudah keluar, dan Hee Rin positif mengalami kerusakan didalam otaknya.” Aku menutup wajahku sendiri. Meratapi apa yang sudah aku lakukan. Tuhan, sekejam inikah Engkau? – Aku membuat gadis-tersayangku menderita. Jadi, yang kejam itu.. Tuhan atau aku?

 

“Dokter akan menjalani tiga kali pemeriksaan. Pemeriksaaan kedua akan dilakukan setelah masa kritisnya berakhir, untuk melihat kerusakannya dimana, dan akan menyebabkan apa.” Perkataan terakhirnya menyayatku. Aku telah menyakitinya, menyakiti keluarganya.

 

“Pemeriksaan ketiga akan dilakukan setelah Hee Rin sadar. Memastikan apa yang berbeda dari diri Hee Rin sebelumnya.”

 

“Neul-ah, aku mohon padamu. Jaga Hee Rin baik-baik, lakukan apa saja yang membuatnya sadar. Aku.. harus pergi selama beberapa hari untuk konser. Aku mohon padamu.” Ucapku berkaca-kaca, menatap wajah Han Neul yang kusam, matanya sendu terlihat habis mengeluarkan airmata yang sangatlah banyak.

 

“Ne, itu kewajibanku.”

 

“Jam-ku sudah menunjukkan jam setengah sebelas. Aku harus pergi ke-dorm, packing pakaian untuk besok. Aku harus pergi. Tolong jaga Hee Rin selama aku pergi. Aku menyayanginya seperti kau menyayanginya. Bagaimana pun, umurnya juga sama seperti dongsaengku, Kyuhyun. Aku sudah menganggapnya sebagai adik.”

 

“Lakukan yang terbaik untuk adikku, Hyuk.” Jawabnya dingin, Aku berdiri, bersiap untuk pergi.

 

“Bolehkah, aku melihatnya?” Han Neul menggeleng, aku berharap itu bukan kemarahan yang tercipta karena aku yang membuat adiknya seperti ini.

 

“Bukannya tidak boleh, Hyuk. Aku juga tidak bisa menjenguknya. Hanya dokter dan suster yang boleh masuk melihatnya.” Han Neul berdiri, tiba-tiba menepuk dadaku, “lihatlah dengan hatimu. Pergilah, kejar semua kegiatanmu. Hee Rin akan tersenyum jika melihatmu bahagia, kan? Hee Rin sangat menyayangimu. Bahkan ia memaksaku untuk mengurus kepulangannya. Dia begitu merindukanmu.” Aku terbangun dari lamunanku. Ternyata, aku dan dia merasakan hal yang sama, bukan? Rindu? Rasa yang menginginkan seseorang dan seorang lainnya –yang dia cintai- untuk bertemu?

 

“Baiklah. Aku pergi dulu. Hubungi aku jika kau perlu sesuatu.” Aku membungkukkan tubuhku lalu berjalan menuju luar rumah sakit. Sedikit membetulkan mantel dan maskerku, lalu berjalan menuju bagian pembayaran, mengurus semua kebutuhan Hee Rin. Lalu kembali berjalan keluar menuju mobil sambil melihat keadaan luar dibalik kaca dikanan-kiriku.

 

Salju dengan indahnya, menyelimuti pepohonan, jalanan.. Seandainya kau melihat ini Hee Rin, bangunlah. Aku ingin memperlihatkannya padamu, memperlihatkan bahwa Tuhan begitu baik pada kita.

 

**

 

Hee Rin POV

 

Aku membuka mataku. Kenapa ruangan ini silau sekali! Seberkas cahaya dari luar saja sudah cukup, kenapa lampunya harus dinyalakan semua? Ah. aku dimana?

 

Rumah sakit? Apa ini rumah sakit? – aku menolehkan kepalaku kesekeliling. Jam 10.43 am, 12 – 08 – 11. Apa sekarang salju sudah turun? Aku kembali menolehkan kepalaku kesekeliling. Betapa sakitnya leherku dan kepalaku ketika aku menggerakkannya. Sakit sekali. Apa yang telah terjadi?

 

Tanganku penuh dengan sambungan-sambungan yang menurutku, seperti orang sakit parah yang ada di film-film. Mulut dan hidungku juga tertutup oleh masker berwarna hijau, aku yakin ini bukan masker yang kupakai ketika terakhir aku digendong oleh Hyukjae oppa.

 

Eh? Aku hanya mengingat.. Waktu itu aku bersenang-senang dengan oppa yang berambut putih itu, bernyanyi untuknya, mencium ujung bibirnya.. saat itu dia terkejut.. dimana dia sekarang? Mengapa aku ada disini? Harusnya aku sedang ada di dorm Super Junior, tertawa-tawa bersama Yesung oppa karena aku bermain bersama ddangkoma-nya, menari-nari bersama Donghae oppa, memasak bersama Ryeowook oppa, atau bertanding dengan starcraft-nya Kyuhyun. Apa yang terjadi padaku?

 

“khhh” aku menggumam pelan. Mencoba memanggil siapapun yang ada disini. Aku tak bisa mengeluarkan suaraku, hanya angin yang keluar. Tak ada satupun yang merespon. Kemana orang-orang? kemana Eunhyuk oppa?

 

“kkkhhhh” Argh. Kepalaku sangat sakit ketika aku mencoba berteriak, seperti terbentur sesuatu yang sangat keras. Bahkan badanku bergetar ketika aku mengeluarkan suara. Siapapun didunia ini, berikan aku penjelasan! Apa yang sedang aku rasakan ini, sangat sakit! Apa yang terjadi!!

 

Tanganku berusaha menggeser masker yang terpasang, menutup mulut dan hidungku. Lalu menyentuh kepalaku yang ternyata diperban.

 

“KKH!” Sakit itu kembali datang, menyiksa tubuhku. Kenapa suaraku tak dapat keluar? Aku menggoyang-goyangkan kasur yang aku tiduri. Tiba-tiba Han Neul oppa mendatangiku. Aku terkejut, kenapa oppa ada disini.

 

“HEE RIN! Ah. Puji Tuhan, kau sadar. Tuhan, kau baik sekali!” Aku mendapat kecupannya yang mendarat di pipi kananku secara tiba-tiba, lalu pergi keluar. Yang aku dengar, Han Neul oppa berteriak ‘dokter’, dan tidak lama dari itu, dua orang suster cantik mendekatiku, melepaskan dengan benar maskerku, lalu dokter berkacamata itu membuka satu kancing dikemeja yang kupakai. Aku bahkan tak tahu, kemeja siapa ini? Milik rumah sakit-kah?

 

Aku melihat Han Neul oppa dari bawah, oppa sedang mengelus bagian kepalaku. Dokter itu memeriksa detak jantungku, lalu memeriksa denyut nadi dibelakang sikut. Setelahnya, dia sibuk dengan memeriksa telinga, lidah, mata, menggerakkan tanganku, menggerakkan kakiku, apa yang dia lakukan, coba! Dia pikir aku mannequin apa?!

 

“Apa kepalamu sakit? Seperti gejala pusing, Hee Rin?” Aku mengangguk pelan sebisanya. Aku merasakan sakit ketika aku menggerakkan kepalaku. Apa ini karena perban yang membalut dahiku?

 

“Kau dengar aku dengan jelas, kan?” Aku kembali mengangguk.

 

“Coba gerakan tangan dan kakimu.” Aku mengikuti perintah dokter tua ini. Yak! Kau pikir aku sudah mati, hah! Lihat. Tanganku baik-baik saja, kakiku juga! Bahkan aku bisa meronta! – Aku menggerakkan semua badanku, dan dokter itu hanya mengangguk dan menulis sesuatu dikertas yang dipegangnya.

 

“Siapa yang ada disebelahmu?” Aku melihat Han Neul oppa, lalu kembali menatap dokter itu.

 

“kkh, ah!” aku tak bisa mengeluarkan suara apapun, hanya angin yang keluar. Demi apapun, aku benar-benar ketakutan.

 

“coba lagi, Hee Rin.”

 

“ucap namaku, Hee Rin!” teriak Han Neul oppa dengan wajahnya yang dingin. Aku berusaha oppa, tapi sakit! Sulit!

 

“kkh!” Aku berusaha sekuat tenaga mengeluarkan suaraku. Bahkan sambil menggerakkan badanku. Berulang-ulang aku melakukannya, tapi usahaku tidak mengeluarkan hasil yang baik. Aku mulai menangis karena ketakutan ini, dan menangis karena kesakitan yang melanda kepalaku.

 

Han Neul oppa tiba-tiba mendekati dokter itu setelah dia dipanggil olehnya. Aku masih berusaha berteriak. Mereka saling berbisik-bisik. Jangan bilang ini buruk. – tidak lama kemudian, Han Neul berbalik melihatku dengan mata yang berkaca-kaca. Jangan menangis oppa, ceritakan padaku.. Aku kembali memukul kepalaku, leherku, perutku, masih berusaha untuk berteriak.

 

“Pemeriksaan terakhir ini sudah bisa dipastikan..” Aku diam. Menghentikan semua kegiatanku, dan Han Neul oppa menangis diatas perutku. Apa yang terjadi oppa.. aku menangis melihatnya menangis.

 

“Kami, tim dokter salut dengan cepatnya perubahanmu, Hee Rin.. Tiga hari yang lalu, kau masuk ke masa kritis. Esok malamnya, kau sudah melewati masa kritismu. Gadis manis sepertimu sepertinya telah mendapatkan keajaiban Tuhan, seperti salju yang turun.” Aku masih terdiam. Salju turun? Ayolah, beritahu aku, apa yang terjadi!

 

“Benturan yang terjadi pada kepalamu, sudah merusak bagian jaringan otak didaerah hipotalamus-mu.” Dokter, bisakah jangan basa-basi? Aku bukan lulusan sarjana sains yang mengerti apa itu hipotalamus!

 

“Bersyukurlah, Hee Rin manis.. Sistem gerak, pendengaran dan penglihatanmu tidak terganggu. Mianhae, aku harus menyatakan ini. Sesungguhnya, aku tak mau melihat gadis manis sepertimu, menderita karena ini..”

 

“kkh!”

 

“Jangan memaksa untuk berbicara, Hee Rin. Hal itu membuat kepalamu sangat sakit.” Han Neul oppa tiba-tiba menggenggam tanganku. Membiarkan tangisnya membanjiri tubuhku.

 

“Benturan itu sudah merusak bagian jaringan otak yang mengatur sistem wicara-mu.” Ceritaku berakhir sampai sini-kah? Bisakah aku tersenyum? Aku kehilangan.. suaraku?

 

“KKH!” Aku berteriak sangat kencang. Tapi kenapa hanya angin yang keluar? Oppa! Kau dengar aku kan? Jangan menangis! Aku sedang berbicara padamu!

 

Tuhan. Katanya Engkau baik?! Kau menukar salju dengan suaraku! Lebih baik aku tak pernah melihat salju seumur hidupku dibanding harus kehilangan suaraku seperti ini!

 

Aku tak bisa menyatakan cinta untuk Han Neul oppa, appa, Eunhyuk oppa lagi.. Aku tak bisa menyanyi lagi? Apa aku harus bersyukur akan hal itu?

 

**

 

Eunhyuk POV

 

Aku menitipkan semua barang-barangku pada Donghae setelah sampai di bandara. Aku memutuskan untuk naik taksi dan pergi menuju rumah sakit. Dua hari ini, aku tak bisa menghubungi Han Neul, bahkan Hee Rin. Aku tak mau ada hal yang buruk terjadi pada mereka. Hal kemarin pun sudah cukup buruk bagiku, bagi Hee Rin.

 

Aku berlari menuju ruang rawat. Info terakhir yang kudapatkan dari Han Neul, Hee Rin sudah melewati masa kritis dan dipindahkan ke kamar 21 lantai 4. Aku mengetuk pintu bertuliskan ‘421’ yang bisa kutebak, inilah ruang rawat Hee Rin beberapa hari ini. Aku mengecek dari kaca kecil dipintu, tak ada seorang pun yang lalu-lalang didalamnya. Aku memutuskan untuk langsung masuk saja, dan. Benar tebakanku. Tak ada satupun orang didalamnya.

 

Aku berlari menuju bagian perawat, menanyakan kemana yeoja manis itu dipindahkan.

 

“Permisi nona, pasien bernama Hee Rin dipindahkan ke ruangan mana?”

 

“Mianhae tuan, nona Hee Rin sudah keluar dari rumah sakit ini.” Aku terkejut dengan penjelasan perawat dihadapanku. Tidak mungkin Hee Rin keluar dari rumah sakit. Aku hanya beberapa hari meninggalkannya, dan terakhir dia masih kritis. Kecelakaan itu membuat benturan keras dikepalanya, kan?

 

“Lalu.. lalu, gadis itu.. Dibawa kemana?”

 

“Saya tidak tahu, tuan. Yang saya tahu, pasien memaksa untuk kembali ke Prancis dan meminta kakaknya untuk menemaninya.”

 

“P..Pr..Prancis?”

 

“Ne, pasien yang memaksa.” Aku hanya mengangguk bermaksud berterima-kasih, lalu membalikkan tubuh. Apa yang diinginkannya! Pergi ke Prancis dengan keadaan sakit? Bahkan aku tak tahu bagaimana keadaannya sekarang.

 

Aku harus cari kemana kau, Hee Rin.. Aku berjanji, takkan memanggilmu gadis titisan voldemort lagi, aku baru sadar kalau kau lebih lembut dari bidadari. – ucapku dalam hati sambil menendang angin disela-sela kegiatanku menyusuri lorong rumah sakit. Aku benar-benar benci dengan hal ini. Semua salahku. Dan Hee Rin pergi tanpa belum sempat kucegah sama sekali. Aku belum meminta maaf padanya, bernyanyi untuknya, waktuku dan waktunya harus kembali terpisah. Apa hanya dua jam kami bertemu? Aku belum bisa memastikan, kapan lagi kita akan bertemu.

 

Aku menghentikan langkahku dan diam menatap langit. Cuaca tanpa sinar matahari yang mencolok, dan butiran salju yang turun.

 

Aku tak sabar! Natal akan segera datang, dan aku akan melihat salju pertama turun di Seoul. Ah oppa, aku bahagia sekali!’ Kemana kau Hee Rin? Bukannya kau bahagia, melihat salju di Seoul? Lihatlah bersamaku, Hee Rin. Kubuktikan padamu, ini tidak lebih indah darimu.

 

‘Ne! Aku harap malam ini salju turun. Agar aku bisa melewatinya denganmu!’ Lalu dimana kau sekarang hee Rin? Tepati janjimu untuk melihat salju bersamaku!

 

Namja seperti apa aku ini, aku menangis mengerutkan dahiku. Aku tak bisa membuang perkataan terakhirnya sebelum ia pergi tanpa pamit. Aku akan merindukannya, lebih-lebih bahkan berlipat-lipat dari sebelumnya. Aku mencintainya.

 

**

 

Sejak itu, hari-hari terasa sulit untuk dijalani. Aku bahkan sulit untuk tersenyum pada bayanganku sendiri di cermin – karena saat itu aku tahu hanya aku sendiri yang terlihat disitu. Meskipun kedengarannya tak masuk akal, sering aku berharap bisa membalikkan waktu. Aku bahkan bersedia memberikan apa saja supaya bisa mengucapkan apa yang selama ini terpendam begitu saja di hati, lebih jelas dari sebelumnya.

 

Sampai saat ini, aku masih menyesali. Sisa-sisa rasa sesal itu masih ada karena semuanya tak cukup sigap untuk menahannya tetap berada disini.

 

Beberapa hari lagi menuju natal. Orang-orang terbaikku menyiapkan banyak sekali asesoris natal dalam dorm. Dari mulai merencanakan makanan apa yang akan disajikan, kado apa yang akan diberikan, siapa saja yang akan diundang, apa yang harus digantung diatas pohon natal. Banyak kegiatan mereka yang membuatku sedikit bahagia setelah kejadian itu. Tapi.. tetap saja tidak hilang.

 

Aku duduk sendiri diruang latihan yang penuh dengan kaca ini. Masih memeluk gitar, merindukan sosok Hee Rin yang beberapa hari ini hilang. Aku diajak Donghae untuk datang ke tempat latihan di gedung SM. Seperti yang kalian tahu, Donghae, Ryeowook, Kyuhyun, Sungmin hyung dan Yesung hyung akan membuka konser keduanya. Mungkin karena Donghae tahu, aku terlalu banyak menguras energiku untuk menangis karena yeoja yang aku cintai selama tujuh tahun terakhir ini.

 

Mereka –berlima- sedang ada take vocal di ruang sebelah, dan aku lebih nyaman duduk sendiri disini. Memeluk gitar, membolak-balikkkan dua tiket yang digenggamku sejak tadi. Tiket konser mereka yang akan kuberikan jika Hee Rin berhasil kutemukan. Aku cukup menyesal karena aku tak pernah menanyakan dimana alamat rumah-di Prancis-nya. Aku menghubunginya, Han Neul, bahkan mendatangi rumahnya yang di Seoul. Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana. Bahkan, aku berkali-kali memakai jasa dunia maya, tak ada satu-pun yang dibalas oleh keluarga kecil itu.

 

“Hyuk!” aku menoleh kearah pintu yang sekarang ditutup oleh Leeteuk hyung. Dia datang dan menemuiku.

 

“hm?” hyung tertua itu duduk disebelahku, lalu bersila dan melepaskan mantelnya.

 

“Cuaca dingin sekali hari ini.” Aku mengangguk sambil mengacuhkan pembicaraannya, “tadi ada kiriman untukmu. Entah dari siapa.” Leeteuk hyung mengeluarkan bungkusan berlapis kertas coklat tua dan memberikannya padaku. Aku memberikannya pertanyaan yang terpaut diwajahku.

 

“Buka sajalah. Kiriman dari.. Prancis.” Mwo? Prancis-kah? Aku membelakakan mataku lalu membuka bungkusnya dengan cepat. Sebuah kotak?

 

“Apa kau sudah makan, hyuk? Aku akan memesan mie ramyun. Sepertinya terdengar enak kalau melihat cuaca sedingin ini. Hm. Kau mau?”

 

“Ne, pesankan aku satu, hyung!” Leeteuk hyung menepuk pundakku lalu meninggalkanku sendirian lagi. Aku membuka isi kotak itu, dan hanya mengeluarkan buku tulis dan selembar kertas.

 

Hyuk, mianhae jika membuatmu kaget tentang kepergianku dan Hee Rin ke Prancis.Ini bukan kemauanku, dan aku harus menuruti permintaan Hee Rin yang terdengar sangat ‘gila’ ini. Aku harus mengurus perkuliahannya yang sudah dilepaskan oleh Hee Rin. Dia memintaku untuk mencabut beasiswanya dan tidak meneruskan S2-nya.

 

Jika kau bertanya keadaan Hee Rin, dia masih bisa berjalan dan menari. Dia masih dapat tersenyum untukku. Dia terlihat baik-baik saja. Tapi sayangnya, hingga saat ini, Hee Rin masih menyembunyikan senyum manisnya. Dia terlalu terkejut dengan keadaannya saat ini. Mianhae, Hyuk. Jika aku menghilang dan tidak bisa menepati janjiku untuk memberitahu semua keadaan Hee Rin setiap harinya.

 

Aku mengirimkan paket ini tanpa sepengetahuan Hee Rin. Dia tak mau melihatmu kehilangan semua yang membuatmu bahagia. Entah kenapa. Tapi, aku pikir lebih baik mengirim surat seperti ini padamu. Aku hanya sedih melihatnya setiap malam menuliskan namamu disemua bukunya. Dia berusaha meneriakkan namamu tapi tak bisa. Dia hanya dapat menangis. Aku tak mau kehilangan kebahagiaannya. Kebahagiaannya hanyalah bersamamu –untuk saat ini-. Bacalah semua isi tulisannya. Aku mencuri bukunya demi kebaikannya juga, kan. Ya, mungkin kau akan lebih mengerti setelah membacanya.

 

Aku akan membantumu untuk membawanya kembali ke Seoul di malam natal nanti. Setelah itu, kami benar-benar akan tinggal di Seoul dan takkan kembali ke Prancis karena urusan perkuliahannya sudah kuatur. Dia sering mencoba memberitahuku bahwa ia menginginkan malam natal bersamamu. Tapi, bantu aku juga mengembalikan senyumnya, Hyuk. Aku mohon. Ini permintaanku.

 

Regards, Kim Han Neul

 

Entah apa yang membuatku kini diam dalam kegelisahan dan keterkejutan. Apa yang diinginkan gadis ini? Melepaskan S2-nya, meninggalkanku namun menginginkanku? – Aku mengikuti saran Han Neul untuk membuka semua isi catatannya. Diawali dengan hangul ‘Kim Hee Rin’ bertinta oranye. Dan aku mulai membukanya satu-satu.

 

December 8th, 2011

Malam ini, aku sudah mendapatkan kabar bahwa aku bisu. Dan itu positif.  Aku takkan bisa berbicara dengan baik, aku tidak dapat mengeluarkan suaraku, karena itu membuat kepalaku sangat sakit. Oppa memberitahuku tentang kecelakaan itu, dan aku ditolong oleh Hyuk oppa. dimana dia? Aku sakit begini dia malah tidak ada. Ya, aku tahu, kesibukannya akan pelan-pelan membunuh dan merontokkan rambut-rambut putihnya.

 

Dokter menyuruhku untuk bersyukur dengan keadaan ini. Aku masih mencoba melakukannya. Oppa memberikanku buku ini untuk kutulis setiap harinya, agar aku tidak terlalu merasakan kehilangan. Aku masih bisa bercerita, walau tanpa suara. Tenang Tuhan, aku masih punya waktu untuk mensyukuri pemberianmu ini.

 

Hanya saja kenapa harus suaraku yang Kau ambil? Itu akan membuat Eunhyuk oppa kehilangan kebahagiaannya ketika aku tak bisa lagi bernyanyi untuknya. Namja paling kusayang setelah appa dan Neul oppa itu akan membenciku. Aku takkan bisa lagi membuatnya tersenyum.

 

Aku menghapus airmata yang jatuh dibukutulisnya. Hee Rin bisu? Dia kehilangan suaranya? Oh Tuhan. Kejamkah aku merebut sesuatu yang paling indah dari dirinya? Bahkan aku akan juga kehilangan suara-suara merdunya.. Tidak. Untuk apa dia memikirkanku ditengah kesedihannya ‘kehilangan-suara’nya?

 

Untuk kali ini, aku menyesal menyuruhnya diam. Aku akan mendengarkan semua ucapannya walaupun itu tidak penting bagiku.

 

December 9th, 2011

Ketika aku terbangun dari tidurku, aku mencoba tersenyum dan memaksa oppa untuk membawaku turun dari ranjang. Aku melihat salju begitu indah. Ya, Dokter memang benar. Tuhan punya segala macam rencana baik untukku. Buktinya, aku tidak kehilangan indra penglihatanku, kan? Salju yang turun sangat-sangat indah.

 

Aku bahagia, appa akhirnya mendapatkan ijin dari atasannya untuk menjengukku. Appa sudah tahu keadaanku. Aku tahu, dibalik wajah bahagia itu, dia juga terpukul. Dia memberiku semangat untuk terus tersenyum. Aku hanya kehilangan suara, bukan kehilangan bibir – katanya. Iya juga, tapi kan tetap saja..

 

Kemarin malam aku berpikir, kalau aku meneruskan kuliahku di Prancis, sama-saja tidak berguna. Aku kuliah di jurusan komunikasi, sudah pasti mengandalkan indra pengucapanku. Setelah aku tidak lagi memilikinya, untuk apa aku mempertahankannya? Aku sudah ijin pada appa dan dokter untuk pergi ke Prancis besok. Dokter tidak terlalu mengijinkan, tapi aku memaksa. Aku melihat oppa yang sibuk dengan packingnya dirumah sakit, dan aku juga sudah melepaskan alat-alat yang ada ditubuhku. Aku akan pergi meninggalkan Seoul dan akan kembali entah kapan. Aku akan merindukan senyumnya.

 

December 10th, 2011

Malam salju di Prancis lebih terasa dingin. Aku dan oppa sampai disini tadi sore. Saat ini, aku hanya bisa duduk diatas kursi roda karena ketika aku berjalan, kepalaku masih terasa nyeri. Aku melihat Neul oppa sedang membereskan semua pakaianku yang kusimpan di satu kamar dorm yang kutempati selama aku kuliah di Prancis. Teman-temanku sempat menjenguk, dan oppa menceritakan semuanya dengan bahasa Inggris yang fasih. Teman-temanku juga sedih, tapi aku tak boleh sedih. Tuhan memberikanku rencana yang baik kedepannya.

 

Aku memang kehilangan suaraku, tapi aku tak boleh kehilangan semangatku bukan? Ya. setiap hari aku bisa melihat salju, aku bisa mendengar suara oppa. ini bukan akhir cerita hidupku. Hanya.. aku kehilangan hal terbaik yang kumiliki, yang bisa membuatnya jatuh cinta padaku. Aku.. masih merindukan Hyukjae oppa hingga saat ini.

 

December 11th, 2011

Sejak tadi malam aku tidak bisa tidur. Aku memetik gitar kesayanganku, dan sekarang aku tak bisa menyanyi lagi. Teman-temanku masih suka datang dan menyalakan lagu kesukaan mereka. Sudah pasti lagu Super Junior. Dan itu membuatku semakin kehilangan Hyuk Jae oppa. bagaimana kabarnya, bagaimana konsernya.. aku hanya tak mau melihatnya sedih karena aku tak bisa lagi memberinya cinta disetiap nada yang kunyanyikan.

 

Aku menangis semalaman. Sudah habis buku tulisku dengan coretan namanya. Aku merindukannya. Aku ingin melihatnya tapi, ah. Tuhan, maaf kali ini aku tidak bersyukur atas pemberianmu. Ini cukup menyiksa, membuatku jadi tertekan karena tak dapat memberinya alunan nada dalam suara yang selalu dipujinya.

 

December 12th, 2011

Aku benar-benar tidak bisa tersenyum hari ini. Aku merasakan kesulitan ketika aku membutuhkan oppa. Aku harus menggerakkan tubuhku. Aku tak bisa berteriak, hanya bisa mengeluarkan angin dari dalam mulutku. Lebih terdengar seperti desahan. Untuk kali ini, aku menangis karena belum bisa menerima semua yang diberikanNya untukku.

 

Oppa membawaku kerumah sakit terdekat dari dorm-ku. Melepaskan perban dan segala macam. Aku sudah bisa berjalan, walau aku harus berpegangan agar tidak terlalu terasa sakit. Ketika kakiku melangkah, kepalaku seperti jatuh dan terasa naik turun. Oppa berkali-kali menghentikan tangisku ketika aku menyesal –telah- bersyukur. Aku menangis disetiap doaku, aku ingin suaraku kembali. Hanya itu. Tangisanku tak berlaku-kah? Entahlah. Aku ingin bernyanyi lagi untuk orang-orang tersayangku. Termasuk Eunhyuk oppa. Karena ketika aku bernyanyi untuknya, otomatis aku memberikan cintaku.

 

December 13th, 2011

TUHAN! UNTUK APA AKU BERSYUKUR JIKA PEMBERIANMU INI MENYIKSAKU! AKU BERKALI-KALI BERSYUKUR, TAPI KAU TAK MENGEMBALIKAN SUARAKU! KAU BIARKAN SALJU INDAH TURUN, MEMBUAT SEMUA ORANG BAHAGIA! TAPI AKU TIDAK BAHAGIA! AKU TAK MAU KEHILANGAN SUARAKU! TOLONG KEMBALIKAN, TUHAN!

 

Aku mohon dengan sangat. Apa yang harus kulakukan? Harus kutukar dengan apa suaraku yang kau simpan?

 

December 14th, 2011

Maaf Tuhan, kemarin aku emosi. Aku hanya ingin bernyanyi. Satu lagu saja. Aku belum memberitahu pada Hyukjae oppa bahwa aku mencintai lagunya dibanding lagu apapun. Aku ingin bernyanyi bersamanya. Aku mencintainya seperti aku mencintai suaraku.

 

Kosong.

 

Hanya berhenti ditanggal 14? Aku menutup mataku, menjatuhkan sisa air mataku yang kusimpan dipelupuk mataku sejak tadi. Dia kehilangan suaranya, dan dia sedih bukan karena kehilangan hal terindahnya itu. Melainkan tidak ingin melihatku sedih? Apa yang ada diotak gadis voldemort itu! Paboya! Aku akan lebih sedih jika dia menangis karena aku!

 

Apa dia tak mengerti bahwa aku sangat-sangat mengkhawatirkannya? – Aku kembali membaca dengan seksama tulisan Han Neul. ‘Aku akan membantumu untuk membawanya kembali ke Seoul di malam natal nanti.’ Apa benar? Semoga saja iya. Aku akan mencintai dia yang tanpa suara. Aku akan lebih mencintainya, karena Tuhan menyimpan dengan baik suara indahnya.

 

Sekarang, apa yang harus kuberikan ketika malam natal nanti?

 

**

 

Hee Rin POV

 

Kau tahu kan, sekarang aku tak memiliki suara lagi. Oppa menjelaskan, kepalaku terbentur dan tepat dimana otakku mengatur sistem wicaraku, dan sedikit merusak daerah pengaturan pita suaraku. Ada orang yang terbentur seperti itu, sampai-sampai tidak memiliki pikiran untuk menggunakan cara lain. Tapi dokter benar-benar salut padaku yang bisa pulih dengan cepat, dan masih bisa menggunakan isyarat tubuh. Dokter yang sekaligus pendeta itu berkali-kali mengingatkanku untuk bersyukur. Hah, bagaimana aku bisa bersyukur? Sedangkan orang-orang diluar sana, bernyanyi lagu natal dengan senyum terbaik mereka.

 

Dan sedihnya, appa belum boleh pulang malam ini, dia boleh pulang besok pagi. Berarti, aku dan oppa tidak akan merasakan malam natal bersama appa kali ini. Ini yang kedua kali, tahun kemarin juga begini. Mungkin, aku hanya bisa merasakannya bersama oppa saat ini. Sayang appa tidak ada, kalau ada, akan lebih lengkap malam ini!

 

Malam ini terlihat sangat-sangat spesial. Lihat, jalanan warna-warni dengan lampu yang gemerlapan. Aku dan oppa sedang menikmati salju yang tidak terlalu deras, berjalan disekitar jalan besar yang penuh dengan keramaian anak-anak kecil. Natal selalu ditunggu anak-anak kan? Dulu aku juga sama! Menunggu salam dari sinterklas. Aku baru menyadari, kenapa sinterklas banyak sekali didunia ini? Haha. Mereka semua imitasi.

 

Aku dirangkul oleh oppa. sedari tadi, Neul oppa sibuk menawarkanku makanan. Ya, jalan besar ini penuh dengan parade makanan-makanan kecil, dan diskon besar-besaran disemua super market.

 

Oppa!

 

“Ne? Waeyo?” Dia menolehku setelah aku menarik bajunya.

 

Aku ingin masuk ke toko buku, mencari buku musik.

 

“Tentu saja.” Aku tersenyum setelah oppa menanggapi isyaratku. Aku dirangkul menuju toko buku itu. Aku cukup bahagia, karena toko buku ini memberikan diskon 30% untuk setiap buku musik. Yes! Setelah aku masuk, aku berlari ke jajaran buku-buku musik. Aku mulai memilah-milih buku yang menurutku bagus. Sedangkan Oppa sibuk dengan komik Jepang kesukaannya.

 

Satu, dua, tiga.. ya. aku memilih tiga diantara beberapa macam buku musik yang bagus selama sepuluh menit. Ya, aku akan segera menuju Neul oppa yang masih bingung harus memilih yang mana. Aku berjalan menuju oppa, namun langkahku berhenti ketika melihat sebuah musicbox. Dimana aku bisa mendengarkan lagu dalam kaset tersebut secara gratis. Aku mendekati musicbox itu, karena terlihat sangat menarik. Di Prancis banyak sekali musicbox seperti ini. Tapi di Seoul, aku baru melihatnya. Aku mengecek, album siapa yang sedang dipasang.

 

Eh. Super Junior? Album kelima? Aku tersenyum. Mulai bisa bersyukur karena aku tidak kehilangan indra pendengaranku. Aku menaruh buku-buku yang sedari tadi kupeluk diatas musicbox. Aku segera memakai headphone yang tergantung disebelahnya. Ah, aku sudah hafal lagu ini!

 

Chang bakkeul bwa, nuni wa

Geureoke gidarideon hayan nuni wa

On sesageul hayake, deopeojuneun hayan nuni wa

 

Aku sudah hafal –bahkan- artinya. Semua lagu Super Junior sudah kuartikan dalam bahasa Inggris bersama teman-temanku sebelum aku meninggalkan mereka dan memutuskan tinggal di Seoul. Ya, aku baru pindah dari Prancis kesini kemarin. Teman-temanku itu memberiku kado natal yang sebenarnya terlalu cepat. Hahaha, aku menyukainya! Boneka beruang dengan pohon natal kecilnya.

 

Lagu ini bercerita tentang salju dan natal. Dan lagu ini..

 

Hyukjae oppa?

 

“Sudah selesai, jagiya?” ah. aku melepaskan headphone yang tadi kupakai, dan aku mengangguk pada orang yang sekarang merangkulku. Kami berjalan menuju kasir. Dan pikiranku mulai kacau. Aku memikirkan sosok yang selama ini kurindukan. Sangat-sangat ingin kulihat wujudnya. Biasanya, setahun dua tahun aku tidak bertemu pun, tidak seperti ini rindunya. Tapi kali ini, aku benar-benar menginginkan dirinya. Walau sebenarnya, masih ada rasa takut untuk bertemu.

 

Ya kau tahu kan? Aku tidak dapat bernyanyi lagi.

 

Sekarang aku menggenggam bungkusan berisi buku-buku yang telah kami beli. Aku berjalan mengikuti langkah oppa. Hanya saja, sepertinya aku benar-benar merindukan tempat itu. Satu jam lagi hari natal, dan sepertinya asik untuk kulalui bersama oppa tahun ini. Mengingat tahun kemarin, pesta kembang api dilakukan disana.

 

Oppa!

 

“Waeyo, Rin-ah?”

 

Aku sangat ingin pergi ke Hana Park malam ini.

 

“Ini.. sudah malam..”

 

Jebal, oppa…

 

“Hm.. Tapi, ide yang bagus. Disana pasti mengadakan pesta kembang api. Seperti tahun kemarin, kan? Kita merayakannya disana, kan?” Aku mengangguk dan memamerkan gigiku. Oppa terlihat antusias juga, hahaha. Kami berdua mulai berjalan menuju Hana Park. Tempat dimana aku bernyanyi, bahkan bercerita. Neul oppa juga sering kuajak kesini. Tapi Hyuk oppa.. Setiap kami janjian, aku pasti bertemu dengannya disana. Ya. selama aku berjalan, aku memikirkannya.

 

‘kring’ – tiba-tiba oppa meminta ijin untuk mengangkat telponnya. Aku tak tahu siapa yang sedang berbicara dengan oppa-ku yang satu itu, aku tetap berjalan sambil melihat-lihat. Ada yang berjualan kartu ucapan dan bunga-bunga yang cantik. Aku tertarik untuk membelinya.

 

“Yang ini harga bunganya, dan yang ini harga kartu ucapannya.” Seru ibu penjual sambil menunjukkan papan harga setelah melihatku sedang memilih mana yang kusuka. Aku mengambil dua kartu ucapan dan membayarnya. Aku juga meminjam spidol dari ibu itu, dan menuliskan kata-kata yang bagus didalamnya. Akan kuberikan pada oppa, dan satunya.. ya, kalau aku bertemu dengannya.

 

“Kau sedang apa?” Aku menunjukkan kartu yang akan kuberikan padanya, Neul oppa mengambilnya dan membaca sedikit keras, “Gamsahamnida untuk hari-harimu untukku. Saranghaeyo, oppa!?” aku mengangguk riang setelah oppa membacakan isinya.

 

“Ah, Hee Rin. Aku juga menyayangimu!” Oppa memelukku sambil menggoyangkan badanku, lalu melepaskanku dan tersenyum, “Aku akan memberikan kado untukmu ditaman nanti. Kajja!”

 

**

 

“Dekatilah dia.”

 

Mwo? Aku mengernyitkan dahiku. Sedari tadi, aku memang bertanya-tanya, apa yang akan diberikannya. Aku melihat sosoknya dari belakang. Dan oppa memaksaku untuk mendekatinya. Dia, Hyukjae oppa, rambut blondenya itu sangat mencerminkan! Ah. aku ingin mendekatinya tapi.. aku..

 

“Ayolah, kau merindukannya kan? Jangan bilang tidak karena kau selalu menuliskan namanya! Ayo, Rin-ah!”

 

Oppa, aku takut.

 

“Apa yang kau takutkan?” Aku menunduk setelah oppa menggenggam kedua tanganku yang terbalut sarung tangan, “ikutilah kata hatimu. Tuhan punya rencana baik atas pemberiannya. Kau sudah bersyukur atas hilangnya suaramu. Dia, orang yang menunggumu.”

 

Tapi dia akan mencari suaraku.

 

“Dia mencintaimu, dan semua kekuranganmu. Telpon aku jika malam natalmu sudah selesai.” Oppa tiba-tiba berlari pergi setelah tersenyum. Aish, oppa yang menyebalkan itu sangat-sangat misterius.

 

Aku membalikkan tubuhku, dan mulai memberanikan diri mendekatinya. Sosok yang diam-diam kusayangi melebihi apapun. Dia memetik gitarnya, bernyanyi dengan indah ditengah taman ini. Apa orang-orang tidak curiga dengan keberadaannya? Apa dia tidak melewati malam natal bersama oppadeul Super Junior? Ah hyukkie oppa. Aku tak bisa memberimu teriakan paling hebat untukmu. Ini malam natal, pertama, kita?

 

“I think of the first time that i saw you.. in a moment, my heart fell apart
although you’re cold-hearted, you’re too wonderful of a person to erase.”

 

Aku tahu itu lagunya. Dia menyanyikannya dengan bahasa yang baik. Aku berdiri dibelakangnya, mengeluarkan air mataku sebelum aku menepuk bahunya.

 

“You are my angel, whisper softly..
an affectionate whisper: I love you everyday..
The sadness of only one.. I pray that i won’t wake up from this dream.”

 

Aku menepuk bahunya, hingga dia terkejut dan menurunkan gitarnya dari pangkuannya. Aku tersenyum, menahan airmata yang kutahan daritadi.

 

“Hee Rin, kau kah ini? Aku merindukanmu..” Aku tersenyum sedih dipelukannya. Aku tak bisa mengatakan apapun padanya, dia hanya menyuruhku duduk dan tersenyum meraba pipi dan beberapa helai rambutku yang terjuntai keluar dari topi rajut yang kupakai.

 

“Ah, kenapa kau menghilang Hee Rin. Kalau kau tahu, aku menjadi namja bodoh setelah kepergianmu. Aku menangis, mencarimu itu sulit sekali! Padahal aku ingin menepati janjiku untuk bernyanyi untukmu, melewati salju pertama di Seoul. Maafkan aku jika aku tak ada disisimu ketika kau sakit. Ah, aku benar-benar menyesal tidak bisa melihat perubahanmu.” Aku tersenyum, ingin sekali kubalas pernyataannya. Tapi, apa yang dapat aku lakukan?

 

“Oh ya, dengarlah. Sekarang aku yang akan bernyanyi untukmu!” serunya tiba-tiba sambil mengambil gitarnya. Aku menahannya, dan menarik gitarnya dari tangannya. Aku tersenyum padanya, dan dia hanya melihatku dengan wajah yang terkejut. Hahaha, betapa inginnya aku memarahimu! Kenapa wajahmu jelek begitu!

 

Dengar aku. Tebak lagunya!

 

Aku memeluk gitarnya dan mulai ‘berusaha’ bernyanyi. Aku akan memberikannya kado natal spesial malam ini. Yak, Hee Rin! Kau pasti bisa!

 

“kkh..” Aku berusaha menyelaraskan suaraku yang hanya desahan ini dengan petikan gitarku. Rasa sakit itu mulai datang melanda kepalaku. Pria disebelahku ini mencoba menyuruhku untuk diam.

 

“kkkhh..” Rasa sakit itu berlipat ganda. Ayolah Hee Rin, keluarkan suaramu malam ini saja.. – airmata itu tiba-tiba jatuh dari pelupuk mataku. Ini air mata karena sakit yang kurasa, juga karena kekesalanku pada Tuhan yang tidak mengijinkan aku bernyanyi untuknya malam ini. Aku melihatnya, wajahnya lebih sendu dariku.

 

“kkh..”

 

“Berhentilah bernyanyi, Hee Rin!” Dia melepaskan gitar yang kupeluk, dan aku dipeluknya erat sekali. Tuhan, terima kasih telah memberiku indra pendengaran yang baik. Aku bisa mendengarnya menangis dipelukanku. Begitu pun aku yang tak kuasa menahan rasa perih. Aku memang tak bisa lagi bernyanyi untuknya. Dari saat itu, kali ini, besok dan selamanya. Takkan ada lagi suara yang keluar dari bibirku. Takkan ada lagi ucapan ‘cinta’ yang kukeluarkan dari mulutku. Takkan ada lagi. Aku menyadari itu.

 

“Jangan.. Jangan paksa dirimu untuk bernyanyi. Aku mohon. Itu akan membuatmu sakit..” Aku menangis semakin menjadi-jadi. Tidak lama kemudian, dia melepaskan pelukannya, lalu memperlihatkan senyumnya yang sedikit basah karena air-mata yang mengalir dan membasahi wajahnya. Hyuk oppa mengandalkan ibu jarinya untuk menghapus airmataku, memegang pipiku yang tak kalah basah darinya.

 

“Aku akan lebih mencintai seorang Hee Rin yang diam, mulai saat ini. Aku akan mencintaimu, walau tanpa nyanyian dalam hidupmu. Aku akan mencintai suara hatimu ketimbang suara mulutmu. Aku akan mencintai semua yang ada pada dirimu. Aku akan mencintai kekuranganmu. Aku berjanji akan hal itu.” Aku menatapnya. Namun beberapa detik kemudian, segala kesedihan atau beban perasaan apapun yang dipendamku selama akhir-akhir ini, akhirnya keluar lagi dalam bentuk derai air mata yang seakan tiada habisnya.

 

“Aku akan mencintai seorang Hee Rin yang penuh dengan senyuman disetiap harinya. Jadi, jangan lagi luapkan air mata didepanku, ya? Berjanjilah..” Aku mulai menampakkan senyumku setelah menghentikan acara –kesedihan penting- yang sebenarnya, aku benci sejak dulu. Aku bukan tipe gadis yang gampang menangis, kan? Aku melihat wajahnya yang juga habis menangis. Aku melakukan hal yang sama, menghapus air mata yang ada dipipinya. Kami berdua saling tersenyum dan memeluk satu sama lain. Merasakan debar hati yang sama. Walau aku tak bisa membalas perkataan cintanya, aku yakin dia tahu apa yang kurasakan saat ini. Tiba-tiba, riuh kembang api mulai terlihat. Suara terompet, suara anak-anak kecil terdengar olehku. Memberikan kebahagiaan tersendiri untukku.

 

Tak ada malam yang sebaik ini sebelumnya. Malam natal yang indah. Selamat Natal, oppa. Aku mencintaimu. – bisikku dalam hati.

 

“Selamat natal, Hee Rin-ah.” Dia mengecup dahiku setelah melepaskan pelukannya. Aku mengangguk riang sambil menggenggam satu tangannya. Tak lama kemudian, aku melihatnya mengeluarkan kotak kecil dari sakunya, “Mianhae. Aku tak bisa memberimu kado yang besar. Ini memang kado yang tidak penting. Tapi penting untuk kita lalui bersama.”

 

Aku membukanya setelah sampai ditanganku. Dua tiket konser? Ah! Aku dan Hyuk oppa akan melihatnya dan menjadi penonton? Kita tidak menonton dari backstage kan? – Aku memamerkan gigiku, mengangguk dan menggoyangkan tangannya. Memberitahu bahwa aku menyukai hadiahnya.

 

“Kau suka?” Aku mengangguk dan membelai pipinya pelan. Oya, aku juga punya hadiah kan untuknya? Aku mengeluarkan kartu ucapan yang sempat kubeli tadi, lalu kuberikan padanya.

 

‘Mianhae, aku tak bisa bernyanyi dan mengucapkan selamat natal padamu. Aku tak memiliki apapun yang bisa kujadikan hadiah natal. Kuharap kau bisa mengerti. Aku mencintaimu. Jeongmal saranghae.’

 

“Aku takkan memberimu maaf, Hee Rin-ah! Menyebalkan sekali! Aku memberimu tiket VIP mahal, tapi kau memberiku kartu ucapan ini.” Aku memajukan mulutku. Yak! Kejam sekali, titisan monyet darimana kau! Segitupun aku masih memberimu hadiah! – Aku memukul lengannya, dan dia hanya mengeluarkan lidahnya.

 

Lalu kau mau hadiah apa?

 

“Apapun, yang bisa kau beri padaku! Asal tidak menyulitkanmu.” Tantangnya. Ah, lagi-lagi tantangan. Sampai kapan dia berhenti menjahiliku. Oh, dia mau lagi ternyata. Ckckck. Ahjussi genit!

 

Hadiah?

 

“Masak kau..” Aku menutup bibirnya dengan tanganku. Lalu tanganku berpindah ke dua matanya yang indah itu, bermaksud agar dia tidak melihatnya. Aku memberikan kado spesialku, sebuah kecupan yang manis. Lebih lama dari waktu itu, dan sekarang tepat dibibirnya. Dia tidak memberi respon apapun. Haha, dia menikmatinya! Dasar genit!

 

Aku melepaskannya setelah beberapa detik kemudian. Dia masih menutup matanya. Aku mengelap bibirnya dengan jariku yang tertutup sarung tangan, lalu tersenyum padanya setelah ia membuka mata. Kami sama-sama tersenyum dan dia menggelitiki pinggangku.

 

Hei! Apa yang kau lakukan! Bersyukurlah, kau mendapatkan firstkiss-ku! Ih, dasar monyet menyebalkan!

 

Dia tertawa melihatku mulai lelah. Dan aku memukul pahanya. Haha, rasakan itu.

 

Kami kembali masuk kedalam euphoria natal yang menyenangkan. Natal yang penuh dengan kebahagiaan, penuh dengan kehangatan meskipun salju tak henti-hentinya turun dengan indahnya. Dia merangkulku dan membiarkan kepalaku bersandar didadanya.

 

“Nado saranghaeyo, Hee Rin-ah..” bisiknya tak lama dari itu. Malam ini terasa begitu indah. Aku menutup mataku dan merasakan kehangatan di malam yang dingin ini. Membuatku berbisik dalam hati,

 

Terima kasih untuk waktu yang kau berikan padaku. Kau memberiku waktu untuk merasakan hadiah natal yang indah, yang kulalui bersama lelaki yang sangat kucinta. Terima kasih atas salju dan kehangatannya. Terima kasih atas pemberianmu Tuhan, kau ambil suaraku, dan kau memberikanku suara beserta pemiliknya, seorang Lee Hyuk Jae oppa. Terima kasih atas segalanya. Aku akan menjaganya hingga aku kehilangan ragaku. Aku akan mencintainya, walau tanpa suaraku yang melengkapinya.

 

***

39 thoughts on “Your Voice is Ours

  1. Uwaa, happy ending, beneran dah aku kebawa ma ceritanya. Hee rin yg takut membuat hyuk sedh krna gabisa nyanyi lg, apalagi pas hee rin berusaha bernyanyi tpi tetep ga bisa n mereka berdua nangis. suka suka, suka. Daebak! :D.

  2. HIKS HIKS~ AKU NANGIS BACANYAAAAAA!!!!
    HEE RIN KASIAN BANGET BERUSAHA NYANYI TAPI SUARANYA GAK KELUAR.
    TP YG PENTING UNYUK TETEP CINTA SM HEE RIN!
    DAEBAK THOR! I LOVE THIS STORY!
    *CAPSLOCK KEGENCET KYU* :D

  3. ini keren bgt
    Ceritanya jg gk trlalu cepat alurnya walaupun one shot
    Ngena bgt dhati
    Jd bayangin dri sndiri jd heerin
    Untung ada hyukjae
    Tuhan kan gk prnah jahat.dia ambil 1 milik kita,trus dganti dgn yg lebih baik
    keren ff nya!semangat ya utk ff berikutnya

    • Aaaaah makasih ya chingu, jeongmal gomawo :3 aku jg suka ngebayangin jadi heerin, tapi sama leeteuk ajah wakaka *terusguecurhat

  4. huaaaaaaaaaa keren banget sumpah ini jalan ceritanya ck, HYUK OMG LO SUMPAH YEE DI BIKIN KARAKTERNYA KEREN ABIS DI CERITA INI DAEBAK hahahaha, pokok nya keren deh thor aku sukaaa :D

    terus berkarya yaaa :)

    • Kasih parcel natal buat hyuk, haha dia keliatan keren disini kan? :p aslinya sih mana nahaan *guecurhat

      thanks banget chinguuu, gomawo :3

  5. OMG!! lagi lagi dibikin suka sama abang eunhyuk gegara ff. Err lama lama pindah bias nih-_- DAEBAK thor ceritanya! Menghayati banget..

    • Tadinya mau dibikin teuk aja castnya, cuma dia sibuk sama sora! Aaa jgn pindah bias, aku kan juga jungsoo-holic kakaka
      gomawo :3

  6. Malam natal bc yg kya ginian~ berasa bnget feelnya. Aku sampe nangis :’) *srooott (?)
    Keren bngt >.<
    Neomu neomu good job bwt authornya ^_^

  7. Yess happy ending hehe yaa aku pikir Heerin bakal bisa ngomong secara tiba” lagi haha tau”a enggakk , huff .

    Tpi gpp hehe soal’a happy ending .. :D
    Nice ff .. Like this ..

  8. Aaaaaaa pengen nangis bacanya. Daebak banget ffnya thor!!!! Feelnya dapet, aku suka! Suka BANGETTT! Gak bosen aku bacanya hahaha. Sekali lagi chukkae ffnya sukses buat aku pengen nangis :’)

  9. ghanaaa………….
    apa lo mengenal gw? hahaaaa demi Tuhan!!
    gw nangis bacanyaa. kyaa ghaan berapa lama kita temenan dan gw baru baca tulisan lo. yak! siapsiap gw teror di twitter. sekian.

  10. so sweet~~
    terharu aku baca.y thor!! :’D

    ku pikir Sad ending, ternyata Happy ending.
    ga nyangka bgt..

    1 kata bwt author.
    KEREEEN!!!

Comment please? ( ื▿ ืʃƪ)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s